• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN PASAL 916A DALAM HUKUM WARIS P (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENERAPAN PASAL 916A DALAM HUKUM WARIS P (1)"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

[1]

PENERAPAN PASAL 916A DALAM HUKUM WARIS

Pasal 916

Legitieme portie dan anak yang lahir di luar perkawinan tetapi telah diakui dengan sah, ialah seperdua dari bagian yang oleh undang-undang sedianya diberikan kepada anak di luar kawin itu pada pewarisan karena kematian.

Pasal 916a

Dalam hal untuk menghitung legitieme portie harus diperhatikan para ahli waris yang menjadi ahli waris karena kematian tetapi bukan legitimaris1) (ahli waris menurut undang-undang), maka bila kepada orang-orang lain daripada ahli waris termaksud itu2) dihibahkan, baik dengan akta semasa hidup maupun dengan surat wasiat, jumlah yang lebih besar daripada bagian yang dapat dikenakan penetapan bila para ahli waris demikian tidak ada3), hibah-hibah yang dimaksud itu harus dipotong sampai sama dengan jumlah yang diperbolehkan4) tersebut dan tuntutan untuk itu harus dilancarkan oleh dan untuk kepentingan para legitimaris dan para ahli waris mereka atau pengganti mereka.

Pemahaman Dasar : Pasal 916a ditujukan untuk melindungi Ahli Waris

Non-LP

Pasal 916a ini terkait dengan penghitungan LP untuk ALKDS (Anak Luar Kawin yang Diakui Sah), dimana tujuan dari pasal 916a ini adalah untuk melindungi hak waris dari ahli waris non legitimaris (Non LP)

Hal ini terlihat dari kalimat dalam Pasal 916 a tersebut di atas : 1)

harus diperhatikan para ahli waris yang menjadi ahli waris karena kematian tetapi bukan legitimaris

(2)

[2]

Kasus lain misalnya jika seseorang meninggal dan memiliki ALKDS

sebagai ahli waris serta orang tua dan kakak/adik, maka dalam kasus seperti ini, ALKDS dan Orang tua memiliki LP sedangkan saudaranya (kakak/adiknya) akan menjadi ahli waris Non-LP

Mengapa harus dilindungi?

Bunyi pasal 916a berikutnya menunjukkan dua kondisi apa yang menyebabkan Ahli Waris Non LP harus dilindungi :

2)

bila kepada orang-orang lain

Berdasarkan bunyi kalimat tersebut, maka jelas kondisi pertama yang menyebabkan ahli waris Non-LP harus dilindungi adalah ketika ADA PIHAK KETIGA yang menjadi penerima warisan berdasarkan hibah atau wasiat.

3)

jumlah yang lebih besar daripada bagian yang dapat dikenakan penetapan bila para ahli waris demikian tidak ada

Berdasarkan bunyi kalimat di atas ini, kondisi kedua yang menyebabkan ahli waris Non-LP harus dilindungi adalah ketika KEPADA PIHAK KETIGA tersebut diberikan hibah atau wasiat yang melebihi jumlah tertentu.

Jumlah tertentu yang bagaimana?

Perhatikan kalimat “bagian yang dapat dikenakan penetapan bila para ahli waris demikian tidak ada“

Yang dimaksud dengan “para ahli waris” dalam kalimat di atas adalah ahli waris Non-LP

Dengan demikian kalimat tersebut akan menunjukkan “bagian yang dapat diberikan pada pihak ketiga adalah dengan menganggap ahli waris non LP tidak ada” atau berarti hanya menghitung hak LP dari anak sah dan ALKDS.

Kalimat tersebut dirumuskan secara matematis maka :

(3)

[3]

Lho? Jika Bagian maksimum untuk Pihak Ketiga itu misalnya

dirumuskan dengan 1 – LP ANAK + LP ALKDS, lalu ahli waris non LP dapat apa?

Perhatikan gambar skema berikut :

Gambar 1

Terlihat jelas dari skema tersebut. Jika bagian maksimum untuk Pihak Ketiga (Y) hanya dilakukan dengan mengurangi harta waris dengan LP Anak Sah dan ALKDS, maka harta akan habis dan Ibu (Ahli Waris Non-LP) akan gigit jari karena tidak mendapat apa-apa.

Lalu Bagaimana cara Undang-Undang melindungi ahli waris Non-LP?

Karena sebab perhitungan seperti di atas maka bunyi pasal “penetapan bila para ahli waris demikian tidak ada” kemudian diartikan dalam perumusan penghitungan LP bagi anak sah dan ALKDS, maka ahli waris non LP harus dianggap tidak ada terlebih dahulu.

Mengapa?

Karena dengan menganggap ahli waris Non-LP tidak ada saat penghitungan LP Anak Sah dan ALKDS maka nanti bagian maksimum untuk pihak ketiga akan menjadi lebih kecil dari perhitungan semula.

(4)

[4]

Gambar 2

Perhatikan gambar 2 di atas.

Kasusnya kepada Y diwasiatkan 5/9 bagian (atau 20/36)

PERHITUNGAN NORMAL PERHITUNGAN MENGESAMPNGKAN AHLI WARIS NON-LP

LP C dan X dihitung TANPA mengesampingkan ahli waris Non-LP (B) LP C = 1/2 x 1/2 = 1/4 ==> 9/36

LP X = 1/3 x 1/3 = 1/9 ==> 4/36

Bagian Maksimum Y = 1 – ( LP C + LP X ) = 1 – ( 9/36 + 4/36 ) = 36/36 – 13/36 = 23/36

LP C dihitung DENGAN mengesampingkan ahli waris Non-LP (B)

LP C = 1/2 x 1 = 1/2 ==> 18/36 LP X = 1/3 x 1/2 = 1/6 ==> 6/36

Bagian Maksimum Y = 1 – ( LP C + LP X ) = 1 – ( 18/36 + 6/36 ) = 36/36 – 24/36 = 12/36

Terbukti bahwa dengan mengesampingkan Non-LP dalam perhitungan LP Anak Sah dan ALKDS, Maka Bagian Maksimum Y AKAN MENJADI LEBIH KECIL (12/36) dibandingkan perhitungan semula (23/36)

Jika dilihat selisihnya ada 11/36 (23/36 – 12/36 = 11/36)

Sehingga secara logika jika pada Y diberikan Bagian Maksimumnya (12/36), dan pada C dan X diberikan bagian LP-nya yang sesungguhnya (9/36 + 4/36 = 13/36) maka ada sisa 11/36 yang masih bisa diberikan untuk Ahli Waris Non LP

(5)

[5]

Lalu Bagaimana cara Penghitungan bagian ahli waris Non-LP?

Cara yang ditetapkan Undang-undang (BW) adalah dengan mengurangi dahulu bagian maksimum dari Pihak Ketiga agar harta Peninggalan yang menjadi bagian bebas lebih besar.

Apakah bisa dilakukan pengurangan bagian maksimum pihak ketiga di akhir saja?

Tidak.

Karena dengan cara seperti itu jelas bagian bebasnya akan berubah.

Benarkah? Mari Kita Buktikan.

Gambar 2 Perhatikan gambar 2 di atas.

Kasusnya kepada Y diwasiatkan 5/9 bagian (atau 20/36)

CARA 1

MENGHITUNG BAGIAN MAKSIMUM Y TERAKHIR

CARA 1

MENGHITUNG BAGIAN MAKSIMUM Y DI AWAL

1. Laksanakan Wasiat

Y = 5/9 ==> 20/36

Sisa HP = 4/9 ==> 16/36

1. Laksanakan Wasiat

Y = 5/9 ==> 20/36

(6)

[6]

CARA 1

MENGHITUNG BAGIAN MAKSIMUM Y TERAKHIR

CARA 1

MENGHITUNG BAGIAN MAKSIMUM Y DI AWAL Berarti ada kelebihan 2/9

PADA Y DIBERIKAN 3/9

SEHINGGA SISA HP MENJADI 6/9

DARI LANGKAH INI SUDAH TERLIHAT SISA HP MENJADI BERBEDA DAN INI AKAN BERPENGARUH PADA PERHITUNGAN SELANJUTNYA

2. Hitung A.I X DAN KELUARKAN

Bagian X sebagai ALKDS adalah 4/81

3. Hitung A.I X DAN KELUARKAN

Bagian X sebagai ALKDS adalah 6/81

DARI LANGKAH INI PERHITUNGAN BAGIAN X MENJADI BERBEDA

3. Bagikan Sisa HP pada ahli waris yaitu C dan B secara merata

- A.I keduanya 1/2 sehingga bagian masing-masing adalah sisa HP setelah dikurangi bagian X dikali 1/2

4. Bagikan Sisa HP pada ahli waris yaitu C dan B secara merata

(7)

[7]

CARA 1

MENGHITUNG BAGIAN MAKSIMUM Y TERAKHIR

CARA 1

MENGHITUNG BAGIAN MAKSIMUM Y DI AWAL

Bagian C dan B masing-masing = ( Sisa HP – Bagian X ) x 1/2 = ( 4/9 – 4/81 ) x 1/2

= ( 36/81 – 4/81 ) x 1/2 = 32/81 x 1/2

= 32/162 ===> 64/324

Bagian C dan B masing-masing = ( Sisa HP – Bagian X ) x 1/2 = ( 6/9 – 6/81 ) x 1/2

= ( 54/81 – 6/81 ) x 1/2 = 48/81 x 1/2

= 48/162 ===> 96/324

DEMIKIAN PULA PERHITUNGAN BAGIAN C DAN B AKAN BERBEDA

4. Cek LP

Yang memiliki LP X dan C, dimana : - LP X = 1/2 x 1/9 = 1/18 ==> 18/324 - LP C = 1/2 x 1/2 = 1/4 ==> 81/324

- LP X 18/324 dan dia mendapat 16/324 Berarti kekurangan 2/324

- LP C 81/324 dan dia mendapat 64/324 Berarti kekurangan 17/324

Total Kekurangan = 19/324

5. Cek LP

Yang memiliki LP X dan C, dimana : - LP X = 1/2 x 1/9 = 1/18 ==> 18/324 - LP C = 1/2 x 1/2 = 1/4 ==> 81/324

- LP X 18/324 dan dia mendapat 24/324 Berarti tidak ada kekurangan

- LP C 81/324 dan dia mendapat 96/324 Berarti tidak ada kekurangan

PERBEDAAN PERHITUNGAN KARENA SISA HP YANG BERBEDA AKHIRNYA AKAN MENYEBABKAN PADA CARA 1 LP X DAN C PERLU

INKORTING SEMENTARA PADA CARA 2 TIDAK, DAN INKORTING SELALU DARI PIHAK NON-LP SEHINGGA AHLI WARIS NON LP AKAN

DIRUGIKAN

5. Inkorting dari pihak Non-LP

Bagian B (Non LP) = 64/324 = 64/324 – 19/324

= 45/324

(8)

[8]

CARA 1

MENGHITUNG BAGIAN MAKSIMUM Y TERAKHIR

CARA 1

MENGHITUNG BAGIAN MAKSIMUM Y DI AWAL

6. Resume [Sementara] :

-

Y = 5/9 = 180/324

-

X = 18/324

-

C = 81/324

-

B = 45/324

________________+

Total = 324/324

7. RESUME AKHIR :

-

Y = 108/324

-

X = 24/324

-

C = 96/324

-

B = 96/324

________________+

Total = 324/324

7. Hitung Bagian Maksimum Y

Bagian Maksimum Y = 1 – ( LP C + LP X ) = 1 – ( 18/36 + 6/36 ) = 36/36 – 24/36

= 12/36 ===> 108/324

Bagian Wasiat Y = 5/9 ===> 180/324

Berarti ada kelebihan 72/324

Pertanyaannya bagaimana cara kita membagikan kelebihan ini jika perhitungan bagian maksimum Y dilakukan terakhir?

Gambar

Gambar 1
Gambar 2                      Perhatikan gambar 2 di atas.
Gambar 2 Perhatikan gambar 2 di atas.

Referensi

Dokumen terkait

secara jelas dalam pasal 173 tentang terhalangnya untuk menjadi ahli waris adalah perbedaan agama bukan berarti ahli waris beda agama mendapat bagian dari harta pewaris

 Hidupnya Ahli Waris harus jelas  pada  saat Pewaris meninggal dunia. Dengan

Anak angkat tidak mendapatkan warisan, karena dia bukan termasuk dalam golongan ahli waris, akan tetapi dia bisa mendapatkan wasiat wajibah sebagaimana diatur dalam pasal 209

Ketentuan lain yang kontradiktif dalam konsep legitieme portie adalah bahwa waris perdata barat hanya dapat diberikan kepada ahli waris bila telah dianggap

secara jelas dalam pasal 173 tentang terhalangnya untuk menjadi ahli waris adalah perbedaan agama bukan berarti ahli waris beda agama mendapat bagian dari harta pewaris

Pasal 913 KUHPerdata: “ Legitieme portie atau bagian warisan menurut undang-undang ialah suatu bagian dari harta benda yang harus diberikan kepada para ahli waris dalam

Akan tetapi terdap permasalahan bagi orang-orang yang seharusnya menjadi ahli waris namun terhijab tertutup oleh saudara pewaris, seperti cucu-cucu yang bapaknya lebih dahulu meninggal

Apabila janda dalam sistem patrilineal bukan merupakan ahli waris dari suami tetapi merupakan penghubung atau jembatan pewarisan dari ayah kepada anak-anaknya yang lelaki, maka begitu