PERBANDINGAN ETOS KERJA ANTARA
TOKOH WANITA DALAM SERAT PRANA CITRA
DAN WANITA MASA KINI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Judul
Serat Pranacitra,adalah karya sastra Jawa berbentuk roman
( Subalidinata 1994:68 ).. Sebagai karya satra klasik, cerita ini disusun
dalam bentuk tembang macapat oleh juru tulis kraton Surakarta di
bawah pemerintahan Paku Buana V, menjadi buku bacaan untuk
mengisi waktu bagi para abdi dalem kraton yang sedang libur
( Hendrato, 1978:9 ). Serat Pranacitra digemari oleh masyarakat
banyak, karena dengan tema percintaannya menyiratkan nilai sosial
budaya yang dapat dijadikan teladan bagi kehidupan masyarakat. Di
antara nilai yang dapat menjadi teladan adalah sikap seorang
tokoh wanita yang mempunyai etos kerja tinggi. Sikap etos kerja
wanita itu tampak pada Rara Mendut, seorang wanita boyongan dari
Pati yang diserahkan kepada Tumenggung Wiraguna.
Mengenai keberadaan Serat Pranacitra, cerita ini berawal
dengan ditundukkannya pemerintahan Pati oleh Mataram di bawah
mempunyai hak merampas seluruh harta kekayaan dan
masyarakatnya, termasuk didalamnya adalah empat putri
boyongan. Kemudian , Kanjeng Sinuhun bermaksud
menghadiahkan hasil tersebut kepada para abdinya sebagai
penghargaan atas jasa-jasanya. Wiraguna pada kesempatan ini
mendapat hadiah yang terbanyak, bahkan keempat wanita
boyonganpun dianugerahkan kepadanya. Oleh Kanjeng Sinuhun ,
dia dinilai begitu besar jasanya dalam perjuangan menundukkan
Pati. Selain itu, dia juga dipercaya menjadi bupati Mataram dan
sekaligus menjadi orang yang paling disegani oleh Kanjeng
Sinuhun.
Tumenggung Wiraguna sebagai orang yang dipercaya oleh
Kanjeng Sinuhun, berhasrat mengangkat salah satu dari keempat
wanita boyongan menjadi istrinya. Wanita itu bernama Rara
Mendut. Namun , menurut informasi Rara Mendut tidak bersedia
diperistri olehnya, karena selain sudah tua, Wiraguna juga tidak
menarik simpatinya, walaupun Wiraguna sebenarnya meskipun sudah
tua tetapi masih besus atau pandai bersolek ataupun memelihara
tubuh, akan tetapi apa dikata kalau hati sudah tidaklah cinta walau
bagaimanapun tetap tidaklah mau jua.
Tumenggung setelah mendengar lamarannya ditolak, ia langsung
marah - marah dan merasa sangat terhina. Kemudian Wiraguna
tiga reyal setiap harinya. Hal itu dilakukan dengan harapan agar
Rara Mendut merasa keberatan dan secara langsung harus bersedia
diperistrinya.
Akan tetapi kenyataannya lain, Rara Mendut justru
memilih menjalani hukuman daripada harus diperistri Wiraguna.
Kemudian dia mohon ijin kepada Tumenggung supaya ia
diperbolehkan berjualan rokok di pasar Kaprawiramantren.
Permintaan itu dikabulkan oleh Tumenggung, bahkan ia juga
memberi uang sebesar 10 reyal sebagai modal. Pekerjaan ini terus
dilakukan Mendut, sampai akhirnya ia menemukan seorang laki –
laki yang mana akhirnya dengan pandangan pertama Mendut
bisa merasakan jatuh hati walau baru pertama kali mereka
bertemu.
Dalam pertemua dengan laki – laki pujaan hatinya itu Rara
Mendut punya pikiran untuk mencari jalan keluar dari
permasalahannya.
Pelukisan etos kerja Rara Mendut dalam Serat Pranacitra
, menggambarkan bahwa pada masa itu telah terjadi perubahan
budaya, di mana wanita sudah tidak lagi terbatas aktifitasnya.
Meskipun wanita bekerja di luar rumah waktu itu masih dinilai
tidak etis, tetapi Mendut telah berani mendobraknya, hanya
karena Mendut ingin mempertahankan haknya dan ingin menentang
akhirnya sampai sekarang masih berlangsung. Bahkan pada masa
sekarang ini wanita juga dituntut untuk berperan aktif dalam
pembangunan bangsa. Oleh karena itu, kaum wanita bekerja
bukan lagi hal asing. Bahkan pada masa sekarang ini wanita
dibudayakan dengan bekerja. Hal ini disebabkan antara lain oleh
perkembangan jaman yang terus mengikuti arus globalisasi sehingga
sektor industri yang semakin meningkat menuntut kaum wanita
untuk berperan serta. Banyak tenaga, pikiran kaum wanita
diperlukan bahkan sangat penting dalam bidang industri. Selain itu
kaum wanita zaman sekarang dituntut untuk membantu
meningkatkan perekonomian Bangsa, serta ekonomi dalam rumah
tangganya masing- masing.
Mengingat adanya kelangsungan terhadap sikap etos kerja
pada kaum wanita , seperti dilukiskan dalam cerita sampai
sekarang ini, penulis tertarik untuk mengkaji perbandingan antara
etos kerja yang ada pada diri Mendut dan kaum wanita pada masa
sekarang ini, di mana keberadaan kaum wanita sekarang banyak
mendapat perhatian dari beberapa ahli. Kaitannya dengan Serat
Pranacitra, sampai seberapa jauh cerita itu melukiskan keberadaan
tokoh Rara Mendut pada masa itu. Dengan cara menghubungkan
antara etos kerja wanita dalam kehidupan nyata sekarang ini, maka
disusunlah skripsi dengan judul “ Perbandingan Etos Kerja Antara
Etos kerja pada diri Rara Mendut tumbuh karena adanya
tekanan dalam dirinya karena ia tidak bersedia diperistri oleh
Tumenggung Wiraguna serta mempertahankan haknya sebagai
manusia yang bebas tanpa kekangan dari siapapun. Kebulatan
tekadnya untuk menolak lamaran dari Tumenggung, membuatnya
semakin berani mengambil resiko. Dengan kenyakinannya, ia tetap
teguh dalam berpendirian. Oleh karena itu, ia memutuskan berjualan
untuk memperoleh sejumlah uang guna membayar pajak. Dalam
dirinya tidak ada lagi pandangan yang bersifat negative terhadap
aktifitas kaum wanita di luar rumah. Walau memang zaman dulu
wanita masih dianggap menentang akan tradisi apabila ke luar rumah
untuk beraktivitas atau melakukan suatu pekerjaan, apalagi yang bias
menghasilkan uang ataupun keuntungan. Jadi, meskipun harus
bekerja kasar atau pekerjaan yang bersifat tradisional, ia tetap
bersemangat dalam menjalaninya. Harapannya, dengan usaha
tersebut dapat mempertahankan keinginan hatinya. Mendut bisa
merasa bebas tanpa kekangan ataupun merdeka tanpa ada ikatan –
ikatan tertentu walaupun dia juga sadar kalau dirinya adalah putri
boyongan yang telah menjadi hak milik Tumenggung Wiraguna, dan
dia juga sadar kalau Wiraguna bisa berbuat apapun pada dirinya,
namun dia tidak punya rasa ngentar sedikitpun.
Namun, wanita sekarang berbeda dengan yang dulu. Jika
wanita sekarang justru diarahkan supaya mampu berperan sejajar
dengan kaum pria. Padahal jika ditinjau dari segi kodratnya,
antara wanita di zaman dulu dan sekarang sama, yakni sebagai wanita
yang mempunyai tanggung jawab di dalam mengurus rumah
tangga. Berdasarkan pada pelukisan sikap etos kerja pada tokoh
Rara Mendut dalam Serat Pranacitra dan sikap etos kerja wanita
dalam kehidupan nyata dewasa ini, tentunya akan memberi corak
sendiri sesuai dengan latar belakang budaya yang
melatarbelakanginya. Keadaan yang bagaimanakah yang dapat
membedakan kedua etos kerja tersebut? Berdasarkan pada
permasalahan ini maka muncul masalah-masalah seperti berikut ini.
B. Batasan Masalah
Untuk membatasi permasalahan agar tidak terlalu meluas,
maka perlu dijelaskan batsan objek kajian. Hal ini dimaksudkan
untuk memudahkan dan membantu dalam penelitian terutama dalam
menganalisa data, dalam kaitannya dengan penelitian ini. Masalah
dibatasi pada istilah etos kerja tokoh wanita dalam Serat Pranacitra.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, maka dalam penelitian
dapat dirumuskan masalah sebagai berikut.
2. Bagaimanakah perbandingan etos kerja antara Rara Mendut dan
wanita masa kini?
D. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
1. Menggali etos kerja Rara Mendut dalam Serat Pranacitra
2. Membandingkan etos kerja antara Rara Mendut dan wanita masa kini.
E. Manfaat Penelitian
Penelitian yang dilakukan diharapkan dapat memberikan manfaat
secara teoritis dan praktis.
1. Memberikan sumbangan pengetahuan tantang karya sastra Jawa
klasik, khususnya mengenai nilai etos kerja yang tersirat dalam Serat
Pranacitra.
2. Memberikan sumbangan pengetahuan tentang fungsi etos kerja wanita
dalam kehidupannya.
3. Memberika mitovasi kepada kaum wanita untuk mengembangkan
potensi yang dimikinya.
F. Sistematika Penulisan.
Secara keseluruhan skripsi ini terdiri dari lima bab. Pemyajian
kelima tersebut dengan sistimatika sebagai berikut :
Bab pertama Pendahuluan, terdiri dari Alasan Pemilihan Judul,
Pembatasan Masalah, Rumusan masalahan, Tujuan Penelitian,
Bab dua Landasan Teori, terdiri dari Hakikat Karya Sastra Jawa
Klasik, Perkembangan Sastra Jawa, Unsur-Unsur Pembangun Fiksi,
Hakikat Etos Kerja, dan Pandangan Hidup Masa Kini.
Bab tiga Metode Penelitian, bab ini berisi jenis penelitian, data
dan sumber penelitian, metode pengumpulan data metode, dan
metode penyajian hasil analisa data.
Bab empat Pembahasan Serat Pranacitra, terdiri dari Ringkasan
Cerita, Alur cerita, Karakter dan Karakterisasi, dan Latar atau
tempat terjadinya cerita dan waktu terjadinya cerita, Perbandingan
Etos Kerja antara Rara Mendut dalam Serat Pranacitra dan Wanita
Masa Kini.
Bab lima Penutup, terdiri dari Simpulan dan Saran.
Penelitian ini dilengkapi pula daftar pustaka dari beberapa
BAB II
LANDASAN TEORI
Landasan teori di sini maksudnya adalah dasar atau
landasan bersifat teoretis yang relevan dengan pokok
permasalahan yang diangkat dalan penelitian ini. Konsep-konsep
teoritis yang berkaitan dengan penelitian ini antara lain sebagai
berikut
A. Hakikat Karya Sastra Jawa Klasik
Sastra Jawa merupakan karya sastra yang menggunakan
bahasa Jawa, dalam hal ini si pengarang biasanya menggunakan
bahasa jawa kuna atau sansekerta sebagai media penulisannya .
Sedangkan klasik adalah karya sastra kuno yang bermutu tinggi
( adi luhung ) dan dijadikan ukuran nilai suatu karya sastra serta
bersifat abadi . Jadi, berdasarkan dua definisi tersebut dapat
dikatakan bahwa karya sastra Jawa klasik adalah karya sastra yang
berbahasa Jawa, ( Jawa kuna atau bahasa sansekerta ) untuk
memperindah bentuk kata dan kalimat dalam sebuah karya sastra
Berdasarkan pada sifatnya yang adiluhung maka karya
sastra itu selalu menarik kegemaran pembaca dari masa ke masa.
Keberadaan karya sastra Jawa klasik di tengah masyarakat
tradisional benar-benar merupakan alat penting untuk
mempertahankan model dunia yang sesuai dengan adat istiadat
dan pandangan dunia konvensional pada masa itu serta untuk
menanamkan pada angkatan muda tentang kode tingkah laku
dan kode etik ( Teeuw, 1983:8 ). Menurut peneliti dalam sebuah
karya sastra menanamkan kode etik atau tingkah laku pada
generasi muda maksudnya untuk pelajaran agar bisa intropeksi
dan mawas diri serta menyesuaikan kode etik bangsa kita yaitu
bangsa timur yang penuh dengan tata karma dan sopan santun.
Karena karya sastra adalah cerminan dari tingkah laku kehidupan
yang nyata ( kenyataan ). Seorang pengarang akan mencerikan atau
akan menulis sebuah karya sastra mestinya pelajaran dan
pengalaman apalagi menghadapi kenyataan hidup yang dianggap
pantas dan baik untuk diangkat menjadi sebuah karya sastra.
Selain dari pengalaman dan kenyataan hidup yang dihadapi namun
kata-kata yang digunakan pun harus selaras dengan suasana.
Biasanya pengarang menggunakan kata-kata yang puitis agar
masyarakat mau membaca dan memahami isi dari karya sastra
Selain itu, Teeuw juga menjelaskan lebih lanjut bahwa dalam
bentuk roman, penulis dengan sengaja atau tidak membiarkan
pembaca kembali mengenal banyak apa yang pembaca ketahui
dari dunia nyata dimasukkan dalam penafsiran sebuah roman.
Sedangkan menurut Mulder ( 1985:72 ), bahwa pengarang
seringkali membentangkan struktur pemikiran, yakni
klasifikasi-klasifikasi setengah sadar yang mendasarinya dan yang
menerangkan kehidupan sehari-hari di masyarakat melalui karya
sastranya. Jadi, berdasarkan beberapa pendapat itu dapat
dikatakan bahwa pada dasarnya keberadaan karya sastra pada
zaman dahulu secara tidak langsung melukiskan kehidupan
masyarakatnya. Pandangan yang manghubungkan antara karya
sastra dengan kehidupan nyata seperti ini disebut dengan
pendekatan mimetik, yaitu pendekatan yang menitikberatkan
semesta atau menjelaskan hubungan karya sastra dengan
kenyataan ( Teeuw,1988:50 ).
Kaitannyan dengan teori mimetik, Aristoteles yang
menyangkal pendapat dari Plato yang berpendapat bahwa pada
dasarnya penyair tidak meniru kenyataan, tidak mementaskan
manusia yang nyata atau peristiwa sebagai mana adanya. Tetapi,
seniman menciptakan dunia sendiri, dunia sastra merupakan
kontraksi, perpaduan yang berdasarkan unsur-unsur dunia nyata
menurutnya menjadi saran pengatahuan yang khas, cara yang unik
untuk membayangkan pemahaman tentang aspek atau tahap
situasi manusia yang tidak dapat diungkapkan dan
dikomunikasikan dengan jalan lain ( Teeuw, 1988:222 ). Jadi, seperti
yang dijelaskan lebih lanjut bahwa pada prinsipnya teori mimetik
adalah menganggap karya seni sebagai pencerminan , peniruan
ataupun pembayangan realitas. Sehubungan dengan kenyataan ini
maka perbandingan seorang tokoh atau suatu gejala alam dengan
lukisan atau gambaran adalah perbandingan yang terjadi di
mana-mana, sehingga norma keindahan yang diakui oleh masyarakat
tertentu terungkap dalam karya seni, yang kemudian dipakai
sebagai tolak ukur untuk kenyataan. Dengan adanya karya sastra
masyarakat akan bisa intropreksi diri , karena karya sastra adalah
bayangan kehidupan diri kita sendiri. Walau kenyataannya tidak
semua karya sastra itu adalah cerminan namun dengan adanya
beberapa karya sastra yang menggambarkan kenyataan hidup ini
kita sebagai masyarakat yang mengetahuinya harus sadar dan
tanggap dengan semua ini.
Salah satu contoh mengenai penggambaran kehidupan
masyarakat dalam sastra Jawa klasik adalah keberadaan seorang
wanita. Di mana wanita pada zaman dahulu mempunyai karakter
tersendiri untuk mempertahankan keberadaannya. Seperti dalam
Kuna oleh Paku Buana V mengupas masalah wanita yang cukup
berarti ( Sudewa, dalam Susanto 1992:40 ). Begitu juga pada Serat
Pranacitra, cerita ini bersumber dari cerita lisan yang kemudian
ditulis menjadi buku oleh juru tulis kraton Surakarta dalam
bentuk tembang macapat ( Hendrato, 1978:9 ). Di zaman Mataram
sampai ada peninggalan candi yang bernama Candi Mendut,
dengan demikian pendapat dari Hendrato ada benarnya sebab
cerita itu mungkin adalah kenyataan zaman itu dan kemudian
dibuat oleh seseorang yang waktu itu masih tergolong kerabat
kraton dijadikan sebuah karangan atau karya sastra dan
dijadikan bacaan di kalangan kraton itu sendiri di kala
senggang.
Serat Pranacitra termasuk karya sastra klasik, telah
mengalami beberapa kali pembaharuan. Misalnya, oleh Ajib Rosidi
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berjudul Roro Mendut:
Sebuah cerita klasik Jawa, sedangkan Y. B. Mangunwijaya
mengubah dengan versi baru menjadi cerita Trilogi : Roro Mendut,
Genduk Duku, dan Lusi Lindri ( Santoso, 1993:43 ).
Terjadinya beberapa usaha tranformasi sastra klasik ini,
menujukkan bahwa sastra Jawa klasik jauh lebih tinggi
dibandingan sastra Jawa modern ( Pradopo, 1993:33 ). Menurutnya,
karya sastra Jawa klasik dipandang mempunyai kedudukan
peminat sastra Jawa cenderung tertarik membahas bentuk-bentuk
karya sastra Jawa klasik. Ketertarikan ini disebabkan oleh
estetika sastra Jawa yang selalu berdasarkan pada kekuatan
imaji-imaji sastranya yang berakar pada kepribadian Jawa. Oleh sebab
itu, pada umumnya sastra Jawa menggambarkan falsafah hidup
orang Jawa, di mana di samping sebagai alat hiburan juga sebagai
sarana pendidikan yang bersifat filosofis dan mengakar pada
kepribadian masyarakat Jawa. Sehingga karya sastra sangatlah
bermanfaat bagi bagi generasi masa kini ataupun yang akan datang,
karena karya sastra ataupun karya seni adalah tuntunan ataupun
contoh untuk anak-anak muda zaman sekarang, walaupun sedikit
sekali generasi sekarang yang mau mempelajari bahkan membaca
saja tidak akan mau, karena generasi zaman sekarang lebih
senang melihat dan tidak mau berusaha mempelajari sendiri.
Apalagi karya sastra klasik biasanya berbentu tembang dan
kata-katanya menggunakan bahasa jawa kuna ataupun sansekerta
paling tidak menggunakan kata- kata yang rinengga artinya kata –
kata bahasa jawa yang diperindah sehingga generasi sekarang
tidak tahu makna dan artinya.
Adapun merupakan ciri khas bentuk dari sastra Jawa klasik
adalah selalu terikat oleh patokan-patokan yang ditaati secara
turun-temurun dari generasi ke generasi. Bentuk sastra ini
1985:4 ). Oleh karena itu, dalam bentuk sastra ini sering digunakan
kata-kata puitis dan segala jenis akraisme sehingga memungkinkan
adanya konvensi yang mengatur perpanjangan atau perpendekan
kata-kata yang menyimpang dari kaidah bahasa agar dapat
memenuhi kebutuhan irama atau mantra. Selain itu, dalam setiap
pemilihan mantra juga memiliki pola lagu sendiri-sendiri
tergantung pada isinya, misal didaktik, teguran, nasehat, serius,
cinta asmara, nada keras, dan sebagainya. Berdasarkan latar
belakang seperti ini maka masyarakat pada zaman dulu lebih
menyukai bentuk puisi, karena menurut mereka bentuk prosa
dianggap hanya sekedar apa adanya sehingga sastra klasik banyak
yang berbentuk puisi.
B. Perkembangan Sastra Jawa
Karya sastra Jawa dalam perkembangannya mengalami
berbagai proses sehingga sastra Jawa ini dinamis untuk dapat
meneruskan kehidupannya. Dengan adanya satu bentuk bahasa
Jawa maka ada istilah yang memisahkan bahasa Jawa menjadi tiga
bagian, yakni kuno, pertengahan, dan baru. Oleh karena itu,
perkembangan sastra Jawa secara tidak langsung mengikuti
perkembangan bahasa. Jadi, menurut perkembangannya sastra
Jawa terbagi menjadi tiga kelompok juga dan masing-masing
Pergeseran dalam sastra Jawa sebagai dinamika untuk dapat
melanjutkan kehidupannya adalah bentuk kelanjutan sastra Jawa.
Sastra Jawa Kuno yang ada pada masa awal abad IX a khirnya
tergeser sejalan dengan keadaan masyarakat Jawa yang berganti
kerajaan. Dalam perjalanan selanjutnya, kerajaan Majapahit
merupakan tonggak dimulainya sastra Jawa. Bahasa dan budaya
Jawa Kuno dalam sastra Jawa ini banyak dipengaruhi oleh
bahasa dan budaya Sansekerta sehingga terlihat dominasi masa
Sansekerta dalam kehidupan Jawa Kuno. Dengan demikian
masyarakat Jawa pada masa ini perlu napas baru dalam budaya
maupun sastranya.
Napas baru dalam sastra Jawa mampu menggeser sastra
Jawa Kuno, yang kemudian dinamakan sastra Jawa pertengahan.
Pada masa ini penggunakan bahasanya tidak lagi menghitung
panjang pendek vocal dalam kata-katanya. Selain itu, isinya
mempunyai berbagai keunikan tersendiri, yakni lebih banyak
mengungkapkan masalah manusia pada umumnya, baik di kalangan
kerajaan atau kalangan masyarakat biasa. Yang tergolong sastra
tengahan ini misalnya Pararaton, Calon Arang, Sudamaladan Panji.
Setelah Majapahit runtuh, sastra Jawa terus bergeser
mengikuti perjalanan kerajaa yang berkembang setelah
Majapahit, yakni kerajaan Demak. Sastra Jawa pada periode ini
menggunakan bahasa Jawa baru ini cenderung bernafaskan
keislaman. Jadi, sastra Jawa bukan saja berisi tentang masalah
kehidupan masyarakat dan kerajaan, tetapi juga berisi tentang
keagamaan terutama keislaman dengan rukun Islam dan sejarah
Nabi, karya sastra pada masa ini, misalnya Suluk, Primbon, dan
buku-buku Babad.
Kemudian dalam perkembangan selanjutnya, sastra Jawa baru
mengalami masa puncaknya ketika kerajaan beralih ke Kartasura
sampai pada zaman kerajaan Surakarta. Pada masa ini sastra Jawa
memiliki pemikir dan penulis yang sangat terkenal baik di kalangan
masyarakat maupun di kerajaan, yakni Yasadipuro dan
Ronggowarsito. Kedua pujangga ini banyak menghasilkan karya
sastra Jawa baru dan sekaligus menulis kembali karya sastra
Jawa Kuno ke dalam bahasa Jawa baru.
C. Unsur- Unsur Pembangun Fiksi
Keberadaan karya sastra dalam suatu masa merupakan hasil
kreatifitas pengarang. Pengarang dalam menciptakan karyanya
sering tidak terlepas dari pengalaman hidupnya. Adapun diantara
faktor yang mempengaruhinya adalah latar belakang masyarakat,
tingkat pendidikannya, agamanya, dan sebagainya. Faktor-faktor
tersebut sangat menentukan corak dari karya sastra dan akan
sastra terdapat golongan karya sastra yang bermutu tinggi dan
bermutu rendah.
Penggolongan karya sastra yang dapat dikatakan bermutu
atau tidak, dapat dianalisis berdasarkan tingkat kemampuan
pengarang dalam mengolah unsur-unsur pembentuk secara
proposional. Jadi, pada umumnya karya sastra terlahir berdasarkan
unsur-unsur pembentuknya. Sejalan dengan pembahasan ini,
penulis mengacu pada teori Raminah ( 1985:9 ) yang menyebutkan
bahwa karya fiksi memiliki struktur atau yang disebut segi-segi
intrinsik, yakni unsur-unsur yang membangun dari dalam.
Unsur-unsur tersebut terdiri dari:( 1 ) perwatakan; (2) tema dan amanah; (3)
alur atau plot; (4) latar dan gaya bahasa; (5) pusat pengisahan. Jadi
pada dasarnya semua karya sastra itu mempunyai nilai mutu yang
bertingkat-tingkat tinggal siapa yang membaca atau yang bisa
memahami karya tersebut.
Dalam rangka membatasi pambahasan unsur-unsur intrinsik
karya fiksi seperti tersebut di atas maka penulis mengacu pada teori
Wellek dan Austin Werren dalam ( Budianta, 1993:283 ) yang
menjelaskan bahwa pada umumnya dalam menganalisis unsur-unsur
intrinsik karya fiksi hanya membedakan tiga unsur saja, yakni plot
atau alur,penokohan atau perwatakan, dan latar. Jadi, melalui
pembahasan tiga unsur ini, penulis mengalisis salah satu aspek dalam
Mengenai pembahasan tiga unsur intrinsik tersebut di atas maka
yang disebut alur adalah struktur rangkaian kejadian dalam cerita
yang disusun secara logis (Raminah,1985:61). Secara umum alur cerita
terdiri dari:
a. Alur buka, yakni situasi mulai terbentang sebagai suatu kondisi
mulaan yang akan dilamjutkan dengan kodisi berikutnya.
b. Alur tengah, kondisi sudah mulai bergerak dan bergerak ke arah
kondisi yang memuncak.
c. Alur puncak, yakni kondisi mencapai titik puncak sebagai klimaks
peristiwa.
d. Alur tutup, yaitu kondisi memuncak sebelumnya mulai menampak –
kan pemecahan atau penyelesaian.
Kemudian menurut pendapat Sudjiman (1992:29,33 ). Bahwa
berdasarkan pada susunan peristiwa dalam cerita, alur dapat
dibedakan menjadi dua, yakni alur linier dan alur alih balik atau sorot
balik. Alur linier adalah alur dengan susunan peristiwa yang
kronologis, yakni peristiwa yang dialami tokoh cerita disusun
menurut urutan waktu terjadinya. Sedangkan alur sorot balik adalah
alur dengan urutan kronologis peristiwa yang disajikan di dalam
karya sastra, disela dengan peristiwa terjadi sebelumnya.
Perwatakan termasuk unsur intrinsik disebutkan setelah alur.
Perwatakan ini dalam karya sastra merupakan unsur yang amat
dapat dipahami ceritanya. Kaitannya dengan hal ini, Raminah
( 1985:54 ) menjelaskan bahwa ada dua pengertian mengenai
perwatakan, yakni 1; mengacu pada orang atau tokoh yang bermain
dalam cerita, 2; adalah mengacu pada pembawaan dari minat,
keinginan, emosi, dan moral yang membentuk individu yang bermain
dalam suatu cerita. Kemudian disebutkan juga bahwa dalam usaha
memahami perwatakan, dapat dilakukan dengan dua cara, yakni
secara analitik dan secara dramatic. Secara analitik berarti pengarang
langsung memaparkan watak atau karakter tokoh, misal keras kepala,
penyayang, dan sebagainya. Sedangkan secara dramatic, yakni
penggambaran perwatakan tidak diceritakan secara langsung, tetapi
hal ini disampaikan melalui:
1. pemilihan nama tokoh;
2. penggambaran fisik atau postur tubuh;
3. dialog antar tokoh.
Unsur pembangun yang ke tiga adalah latar. Menurut pendapat
Raminah (1985:63), yang dimaksud latar atau setting adalah
lingkungan tempat peristiwa terjadi. Termasuk dalam latar ini adalah
tempat atau ruang yang diamati, seperti di hotel, di pasar, dan
sebagainya. Kemudian, termasuk di dalam unsur latar adalah waktu,
hari, bulan, tahun, musim atau periode sejarah, misalnya di zaman
Berdasarkan pada latar ini maka kadang-kadang ditemukan bahwa
latar ini banyak mempengaruhi penokohan dan kadang-kadang juga
membentuk tema.
D. Hakikat Etos Kerja
Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia, Etos kerja adalah
semangat kerja menjadi ciri khas dan keyakinan seeorang atau suatu
kelompok. Sedangkan menurut Anoraga ( 1992:29 ), etos kerja adalah
suatu pandangan dan sikap suatu bangsa atau umat terhadap kerja.
Jadi, dapat dikatakan bahwa etos kerja adalah semangat yang dimiliki
seseorang atau kelompok terhadap pekerjaan yang dipengaruhi oleh
konvensi tertentu.
Anogara dalam penjelasan lebih lanjut mengemukakan bahwa
adanya pandangan dan sikap yang melihat pekerjaan merupakan
suatu hal yang luhur untuk eksitensi manusia maka etos kerja tersebut
akan tinggi. Sebaliknya, kalau melihat kerja sebagai suatu hal yang
tidak berarti bagi kehidupan manusia, apalagi kalau sama sekali tidak
ada pandangan dan sikap terhadap kerja maka etos kerja tersebut
dengan sendirinya rendah.
Kaitannya dengan sikap manusia terhadap kerja, manusia yang
secara esensial adalah berjiwa maka dengan jiwanya manusia mampu
beraksi, meramalkan hasil-hasil perilakunya, dan membuat keputusan
yang serasi ( Soekanto, 1983:130 ).
Oleh karena itu, manusia tidaklah digerakkan oleh kognisinya, akan
tetapi oleh perasaannya yang merupakan dasar dinamika kepribadian
maupun perilakunya.
E. Hakikat Pandangan Hidup Wanita Masa Kini
Kedudukan wanita di masa modern ini, merupakan salah satu
wujud adanya pengaruh dari arus globalisasi yang berkembang.
Berdasarkan ketetapan GBHN, secara singkat peran perempuan dapat
disimpulkan menjadi 6, yaitu peran sebagai :
1. Istri yang mendampingi suami dengan baik dan mampu menompang
karier suami.
2. Ibu yang mampu mendidik dan membimbing generasi muda, baik
secara rokhani maupun jasmani agar kelak mampu menghadapi
tantangan zaman dan menjadi manusia yang berguna bagi nusa dan
bangsa.
3. Pengaturan rumah tangga yang mampu menciptakan suasana aman
dan damai untuk seluruh anggota keluarga.
4. Tenaga kerja yang mampu menambah pandapatan keluarga untuk
mencapai keluarga sehat sejahtera.
5. Anggota masyarakat yang aktif dalam kegiata sosial.
6. Manusia pembangunan yang berkemampuan mengembangkan karier
Berdasarkan pada ketetapan GBHN, keberadaan wanita dalam
era globalisasi ini memperoleh perhatian yang lebih sehingga
pemerintah berusaha semaksimal mungkin meningkat keberadaan
wanita dari segala bentuk diskriminasi yang merugikannya ( Hemas,
1992:14 ). Menurut penjelasannya lebih lanjut, bahwa kenyataan ini
terjadi tidak hanya karena semangat emansipasi, akan tetapi
adanya dorongan dari berbagai faktor dalam kaitannya dengan
tuntutan zaman. Selain itu, keadaan ini berlangsung sejalan
dengan kenyataan sejarah, di mana wanita tidak hanya dituntut
sebagai pengatur rumah tangga, tetapi juga sebagai tenaga kerja
pencari nafkah sebagai penghasilan tambahan. Sedangkan menurut
Sadli ( 1991:45 ), wanita memasuki pasaran kerja formal, tidak
hanya didorong oleh keharusan membantu ekonomi keluarga,
tetapi memang merupakan suatu perkembangan baru di
tengah-tengah masyarakat sekarang.
Jadi, dapat dikatakan bahwa berada dalam era globalisasi
seperti sekarang ini, wanita memperoleh kesempatan untuk
berperan mengembangkan potensi yang dimilikinya. Oleh karena
itu, wanita cenderung mendapat tantangan yang cukup banyak
dalam mengantisipasi hidupnya, karena selain masih dituntut
untuk menunjukkan sifat kodratnya sebagai wanita yang
bertanggung jawab atas keluarga, juga dituntut mampu berperan
Kaitannya dengan hal ini, muncul suatu konsep tentang wanita
ideal seperti yang dikemukakan oleh Jatman ( 1995:151 ), yaitu
sebagai berikut :
….wanita yang berhasil berperan ganda tidak bisa dilepaskan harapan
makin menguatnya kelas menengah dari masyarakat kita yang tidak
terlalu memusingkan produktivitas dan wiraswatawan yang tinggi serta
masih kuatnya gagasan tentang para wanita tradisional untuk mengurus
rumah tangga.
Kaitannya dengan peran ganda wanita, tentunya terdapat
beberapa kriterial mengenai pekerjaan yang dapat dilakukan oleh
kaum wanita. Hal ini disebabkan oleh adanya konsep yang
memandangn bahwa wanita adalah kaum yang lemah. Oleh karena
itu, wanita akan selalu mengalami hambatan di dalam kehidupan
sosialnya, sehingga kaitannya dengan masalah status kerja antara
wanita dan pria terdapat berbagai macam ketimpangan. Berdasarkan
pada kondisi masyarakat yang beraneka ragam dan berbagai masalah
maka analisis kritis mengenai konsep marginalisasi pun terdapat
kerancuan di kalangan peneliti tentang berbagai bentuk marginalisasi,
yaitu :
a. sebagai proses pengucilan, yakni perempuan dikucilkan dari kerja
upahan
b. sebagai proses penggeseran perempuan ke pinggiran dari pasar
tenaga kerja, yakni kecenderungan bagi perempuan untuk bekerja
pada jenis-jenis pekerjaan yang mempunyai kelangsungan hidup yang
tidak stabil; yang upahnya rendah ; atau yang dinilai tidak trampil.
c. sebagai proses feminisasi atau segregasi, yaitu dengan adanya
pemusatan tenaga kerja perempuan ke dalam jenis-jenis pekerjaan
tertentu, bisa dikatakan bahwa jenis-jenis pekerjaan tersebut sudah
ter”feminisasi” (dilakukan semata-mata oleh perempuan). Segregasi
di sini adalah pemisahan pekerjaan yang semata-mata dilakukan
oleh laki-laki dan perempuan.
d. sebagai proses ketimpangan ekonomi yang makin meningkat,
yaitu marginalisasi menunjuk pada ketimpangan upah antara
laki-laki dan perempuan ( Saptari, 1997:8-9 ).
Berdasarkan pada beberapa ketentuan di atas maka mengenai
deskriminasi wanita sampai sekarang masih tetap ada, hanya
saja tidak separah yang dulu. Yang jelas, setinggi apapun kedudukan
wanita tidak akan lepas dari konsep kewanitaannya yang lemah.
Oleh karena itu, di masa sekarang ini muncul istilah peran ganda,
yakni selain tugas kodratnya mengurus rumah tangga juga dituntut
untuk ikut serta dalam mengisi pembangunan negara. Dengan
demikian, kaum wanita harus mampu menyelaraskan segala
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Dalam metode penelitian akan dijelaskan mengenai beberapa
hal, antara lain; (1) jenis penelitian, (2) sasaran penelitian, (3) data
penelitian, (4) teknik pengumpulan data, (5) teknik analisis data, (6)
metode penyajian hasil analisis data.
A. Jenis Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah telaah
pustaka, yaitu berasal dari kata telaah yang artinya penyelidikan;
kajian; penelitian, dan kata pustaka yang berarti kitab atau buku.
Jadi, telaah pustaka adalah suatu kegiatan meneliti atau mengkaji
sebuah buku atau lebih. Buku yang akan di telaah oleh peneliti
adalah buku karya sastra Jawa Klasik ( kuno ).
Dalam penelitian ini, penulis melakukan beberapa langkah
secara berurutan. Langkah-langkah yang dimaksud adalah sebagai
B. Sasaran Penelitian
Sasaran penelitian adalah pemahaman terhadap teks sastra
berjudul Serat Pranacitra yang telah dialihaksarakan oleh
Suyamto, kemudian disunting oleh Slamet Riyadi dan Sri Widati
dan diterbitkan oleh Balai Penelitian Bahasa Yogyakarta pada tahun
1987. Sedang peneliti akan meneliti dua buku yang judulnya sama
yaitu Serat Pranacitra, yang satu dikarang oleh Hendrato pada tahun
1978 dan yang satunya pengarangnya tidak menyebutkan
namanya jadi Anonim dibuat pada tahun 1956.
Penelitian ini berusaha mencari aspek etos kerja wanita
yang tersirat dalam cerita tersebut dan mencerminkannya dalam
kehidupan nyata di masa modern ini.
C. DataPenelitian
Data dalam penelitian ini diambil dari teks Serat Pranacitra
seperti tersebut di atas. Teks ini masih berbentuk tembang, yakni
tembang tengahan dan tembang macapat. Tembang tengahan
meliputi: Balabak, Dudukwuluh, dan Wirangrong. Sedangkan
tembang macapat meliputi : Dhandhanggula, Kinanthi, Sinom,
Pocung, Pangkur, Gambuh, Asmaradana, Mijil, dan Maskumambang,
serta Durma. Jadi, jumlah seluruhnya ada 13 tembang yang
masing-masing terdiri dari beberapa pada ( Bait ). Misalnya yang berbentuk
( bait ), wirangrong terdiri dari 48 pada. Sedang yang berbentuk
tembang macapat seperti Dhandhanggula terdiri dari 206 pada
(bait) , Kinanthi terdiri dari 97 pada (bait), sinom terdiri dari 26
pada (bait), pocung terdiri dari 111 pada (bait), Pangkur terdiri
dari 104 pada (bait), Gambuh terdiri dari 137 pada (bait),
asmaradana terdiri dari 79 pada (bait), mijil terdiri dari 112 pada
(bait), dan maskumambang terdiri dari 60 pada (bait), durma
terdiri dari 51 pada (bait). Namun begitu setiap gubahan satu
dengan yang lain kan berbeda jumlah pada pada tiap-tiap
tembang .
Berdasarkan pada sumber data ini, sebagai datanya adalah etos
kerja Rara Mendut yang dilukiskan melalui serangkaian peristiwa
dalam cerita.
D. TeknikPengumpulan Data
Ada beberapa cara yang dilakukan untuk mengumpulkan data
dalam penelitian ini. Cara yang pertama, peneliti melakukan kegiatan
membaca teks Serat Pranacitra untuk memahami isi cerita, yakni
dengan cara menganalisis unsur-unsur pembentuknya. Unsur-unsur
tersebut meliputi: alur, karakteritis, latar, dan tema serta amanat.
Cara kedua, peneliti membaca lagi isi cerita dengan tujuan
memusatkan perhatiannya pada aspek etos kerja wanita yang tersirat
pengkodean atau memberi kode pada peristiwa-peristiwa yang
menyiratkan etos kerja wanita dengan cara memberi tanda silang.
Setelah itu, dari hasil pengkodean ditafsirkan sebagai kriterial
etos kerja wanita. Kemudian peneliti pencatatan itu, yang kemudian
menjadi data yang akan dibandingkan dengan etos kerja wanita masa
kini.
Kemudian merupakan tahap pemeriksaan kelayakan data maka
peneliti mengadakan pemahaman secara cermat mengenai kriteria
etos kerja tersebut berdasarkan teori-teori yang berkaitan dengan
masalah itu, yakni meliputi: pribadi masyarakat di Jawa, kebudayaan
Jawa yang dilukiskan dalam beberapa karya fiksi jawa.
E. Teknik Analisis Data
Membahas masalah perbandingan etos kerja antara Rara
Mendut yang tersirat dalam Serat Pranacitra dan wanita masa kini
maka data penelitian ini dianalisis menggunakan teori mimetik, yakni
teori yang menjelaskan hubungan karya sastra dengan kenyataan
( Teeuw, 1988:50 ).
Menurut teori ini, pada dasarnya karya sastra adalah dunia
yang diciptakan oleh pengarang berdasarkan pengetahuan dan
penafsirannya mengenai kenyataan hidup. Sehingga hal-hal yang
dilukiskan dalam karya sastra, seakan-akan merupakan cerminan
pembentuknya, pengarang berusaha membangun dunia ciptaannya
menjadi cerita yang hidup.
Berdasarkan pada halis penafsiran terhadap kehidupan nyata
maka karya sastra di zaman dulu sering dijadikan sarana untuk
menyampaikan pengetahuan, amanat, petuah, atau teladan mengenai
hidup dan kehidupan masyarakat. Dengan demikian, karya sastra
juga menjadi alat untuk memahami tentang falsafah kehidupan,
misalnya falsafah kehidupan masyarakat Jawa.
Oleh karena itu, Serat Pranacitra dalam penelitian ini dijadikan
sumber data yang sekaligus mewakili kondisi kehidupan masyarakat
Jawa pada zaman kerajaan Mataram, khusus mengenahi etos kerja
wanita yang terjadi pada masa itu.
Kaitannya dengan perbandingan etos kerja antar Rara Mendut
dan wanita masa kini maka dari data yang terkumpul, langsung
dibandingkan dengan keadaan etos kerja wanita dalam kehidupan
nyata sekarang ini. Adapun data mengenai etos kerja wanita masa
kini, langsung mengacu pada kenyataan yang terjadi di masa sekarang
ini dan beberapa hasil penelitian serta uraian-uraian mengenai
kehidupan wanita masa kini, baik yang termuat dalam buku ,
majalah , surat kabar dan sebagainya.
Metode penyajian hasil analisis data menggunakan metode
formal dan metode informal. Hasil analisis data dalam penelitian ini
disajikan secara informal yaitu merode penyajian hasil analisis data
yang menggunakan kata-kata biasa atau sederhana agar mudah
dipahami. Analisis metode informal dalam penelitian ini agar
mempermudah pemahaman terhadap setiap hasil penelitian. Selain itu
juga disajikan secara formal melalui perumusan dengan tanda dan
BAB IV
PEMBAHASAN SERAT PRANACITRA
A .Ringkasan cerita
Sawuse Mataram kasil ngalahke Pati, Tumenggung Wiraguna
kanugrahan sawernaning bandha jarahan saka Pati. Klebu ing kana,
yaiku para wanita kang sejatine kagungane Adipati Pragola. Kajaba
iku, Wiraguna uga dadi kapitadosane Kanjeng Sinuhun, amarga
sanajan wis setengah luwih yuswane, penjenengane tansah isih
prigel lan nyampurnani anggone tandang gawe.
Tumenggung Wiraguna suwe-suwe kesengsem karo salah
sijining wanita boyongan kang aran Rara Mendut. Wiraguna duwe
karep ngangkat dheweke dadi selire, nanging miturut kabare, Rara
Mendut ora saguh dad selire Tumenggung Wiraguna. Mula
Wiragung banjur nguda rasa marang Nyai Ajeng ngenani perkara
mau. Nyai Ajeng ora kabotan manawa garwane ngersakake selir,
malahan Nyai Ajeng uga kersa mbujuk Rara Mendut supaya gelem
Nanging , sanajan Nyai Ajeng nganti kuwalahan anggone
mbujuk, Rara Mendut tetep ora owah saka prinsip awake dhewe.
Dadi, sanajan mung dadi wanita boyongan kang sejatine wis hake
Tumenggung Wiraguna, Rara Mendut kanthi anteping ati wani
nampik kersane Tumenggung Wiraguna. Malahan, menawa isih
tetep dipeksa, Rara Mendut angur milih mat i nelangsa tinimbang
dadi garwane Tumenggung Wiraguna.
Wiraguna sawuse mireng laporane saka Nyai Ajeng , banjur
duka lan ngedalake wadal kanggo Rara Mendut kang wujude
pajeg telung reyal, kang kudu dibayar ing saben dinane. Kanthi
anane pajeg iki, Wiraguna nduwen i ancas supaya Rara Mendut
ngrasa kebotan anggone nglakoni.
Rara Mendut tetep ora owah saka pangucape . Dheweke tetep milih
mbayar pajeg, nanging dheweke nyuwun diparengake dodolan rokok ing
pasar Kawiramantren. Panyuwune Rara mendut iki, diparengake dening
Tumenggung Wiraguna. Kajaba iku , Tumenggung maringi dhuit
sepuluh reyal kanggo modal lan para punggawa cacah papat kanggo
ngrewangi Rara Mendut anggone dodolan.
Suwene dodolan ing Kawiramantren Rara Mendut ora ngira
menawa arep ketemu karo priya kang dadi idamane. Priya iku arane
Pranacitra, yaiku putra otang-antinge randha ing Batakenceng kang wis
kondhang sugihe. Dheweke wektu iku arep adu jago menyang
kang dietutake Blendheng lan Jagung mampir ing warunge Rara
Mendut. Wektu iku, antarane Rara Mendut lan Pranacitra padha tuwuh
rasa tresna. Kadadeyan iki mau, miturut firasate Rara Mendut bisa dadi
dalane dheweke owal saka Wiraguna . Mula, rikala Pranacitra netepi
janjine Rara Mendut , yaiku wis rampung anggone adu jago, arep
mampir tuku rokok maneh, Rara Mendut wis nyedhiakake rokok mligi
kanggo Pranacitra. Ing njerone rokok mau wis ditulisi ngenani lelakone
dheweke. Layang iki ana gegayutane karo kekarepane njaluk tulung
supaya Pranacitra gelem memba-memba dadi abdi ing Kawiragunan.
Dene Rara Mendut uga arep ngapusi menawa dheweke saguh dadi
garwane Tumenggung Wiraguna. Kanthi dalan iki, miturut ancase Rara
Mendut supaya dheweke bisa kerep ketemu karo Pranacitra.
Nyatane pancen bener , dheweke saben dina bisa ketemu kanggo
ngrasakake tuwuhing katresnan. Amarga Pranacitra dhewe banjur
dipercaya dening Wiraguna supaya dadi lurahe para punggawa. Dadi ,
tansaya bisa migunakake kalodhangan. Sawise iku , Pranacitra banjur
duwe krenteg arep mlayokake Rara Mendut saka Kawiragunan. Kanggo
nggampangake lakon , Pranacitra njaluk tulung marang para punggawa
supaya melu ngamanake lakune. Saben punggawa diwenehi dhuwit
ngrongatus reyal dening Pranacitra minangka upahe.
Nanging , lelakone durung mujur. Rikala dheweke isih leren ing
omahe Pak Bekel , utusane Wiraguna kasil ngonangi. Wektu iku, Rara
nerusake lakune. Nanging, sakdurunge wis janji menawa arep methuk
Rara Mendut ing wayah wengi.
Sawise tekan Kawiragunan , Rara Mendut banjur diajar dening
Tumanggung nganti babak belur lan memelas sambate. Dheweke wis ora
sabar nunggu tekane Pranacitra. Mula , kira-kira wis meh tekan titi
wancine dipethuk , dheweke nyiapake awake kang isih krasa lara . Dadi ,
rikala wengi tekane Pranacitra, dheweke wis sumadiya. Nyatane pancen
ngono , bareng Pranacitra wis teka , Rara Mendut banjur dibopong
alon-alon lan digawa mlayu menyang sajabaning tlatah Jawa. Rara
Mendut kasih digawa mlayu amarga saka pambiyantune para punggawa
Kawiragunan. Mula , Pranacitra banjur ngendum dhuwit ngrongatus
reyal saben wong.
Nanging, lelakone tansah mrangguli alangan. Merga
Tumenggung pirsa kedadean iku, kanthi muntabing rasa banjur ngutus
para bala tentara Mataram supaya nangkep Pranacitra lan Rara
Mendut. Dene Pranacitra lan Rara Mendut kasil ditemokake rikala
dheweke lagi nyebrang kali Oya. Wong loro iku sawuse ketangkep banjur
dibanda dadi siji lan diarak rame-rame menyang Wiragunan. Bareng wis
tekan Wiragunan, wong loro iku diaturake marang Tumenggung
Wiraguna. Amarga Wiraguna wis ora sabar arep ngenteki Pranacitra,
mula rikala pirsa wujude wong loro kang tansah asih kinasihan tanpa
ngelingi kahana ing sekitare, Tumenggung karo rasa gregeten ndhawuhi
Pranacitra banjur dibukake keris pusakane lan dicublesake ing
dhadhane wong bagus mau. Pranacitra sanalika njerit kanthi nyebut
arane Rara Mendut. Krungu swara mau, Rara Mendut metu nyedhaki
asale swara mau. Ngerteni kahanane Pranacitra kang wis diperjaya
dening Wiraguna, dheweke banjur nerjangake awake ing kerise
Wiraguna kang isih kebukak ing astane. Rara Mendut ambruk ing
sandhinge Pranacitra lan ora suwe wong loro mati bebarengan.
Tumenggung Wiraguna mersani kedadean mau banjur rumangsa
salah lan getun. Dheweke lagi wae bisa nglengganani maknane tuhune
katresnan. Mula, dheweke banjur duwe niyat arep mujudake kekarepane
wong loro mau, yaiku dikubur sakluwangan.
B. Alur
Alur cerita Serat Pranacitra terjadi secara kronologis, yakni
serangkaian peristiwa yang dilukiskan terjadi secara berurutan
dari waktu ke waktu. Serangkaian peristiwa ini terjadi menjadi
beberapa bagian, yakni bagian yang membentangkan munculnya
masalah, bagian yang melukiskan bahwa peristiwa sudah mulai
pada perkembangan masalah ke arah masalah berikutnya, bagian
memuncaknya masalah yang terjadi , dan bagian yang merupakan
penyelesaian dari masalah yang ada. Adapun uraian bagian-bagian
alurnya sebagai berikut :
Peristiwa yang melukiskan latar belakang munculnya masalah
waktu menundukkan Pati. Akibatnya, Wiraguna yang dinilai oleh
Kanjeng Sinuhun banyak berperan dalam peperangan itu maka ia
dianugrahi sejumlah harta benda jarahan dari Pati, termasuk di
dalamnya adalah wanita boyongan yang juga diserahkan kepada
Wiraguna sebagai hadiah. Selain itu, ia juga dipercaya menjadi bupati
dan menjadi orang yang paling disegani oleh Kanjeng Sinuhun.
Peristiwa kemenangan Mataram itulah yang kemudian
menjadi latar belakang terjadinya masalah. Masalah yang muncul
adalah keinginan Wiraguna mengangkat salah satu dari keempat
wanita boyongan yang diserahkan kepadanya, yaitu Rara Mendut
menjadi selirnya. Tetapi, menurut informasi, Rara Mendut tidak
bersedia. Sedangkan Wiraguna tetap mengharapkannya. Keadaan
cerita yang seperti ini, akhirnya menjadi pangkal bergeraknya
masalah menuju pada masalah yang berikutnya.
Wiraguna masih belum menyerah untuk mempersunting Rara
Mendut. Kemudian, beliau meminta kepada istrinya supaya
membujuk Rara Mendut. Ternyata istrinya tidak keberatan untuk
menjalankan perintah suaminya. Sebagai istri yang setia dan sangat
patuh terhadap suaminya, Nyai Ajeng merelakan suaminya
mempersunting wanita lain, bahkan Nyai Ajeng menghimbau
kepada suaminya agar Rara Mendut jangan hanya dijadikan selir,
tetapi sekalian diangkat menjadi istri saja. Dengan harapan supaya
Wiraguna, karena selama menjalani bahtera dengannya, ia belum
juga memberikan keturunan. Oleh kerana itu, Nyai Ajeng dengan
semangat berusaha membujuk Rara Mendut supaya bersedia
menjadi istri Tumenggung Wiraguna.
Namun, usaha Nyai Ajeng pun tidak membuahkan hasil,
karena Rara Mendut masih tetap pendiriannya. Bahkan ia
mengatakan bahwa ia rela mati jika tetap dipaksa menjadi istri
Tumenggung Wiraguna . Meskipun dia sendiri juga menyadari bahwa
dirinya hanya wanita boyongan yang telah menjadi hak Tumenggung
Wiraguna, tetapi ia berani mempertahankan keinginan diri sendiri.
Maka karena jengkelnya, ia berani mencaci maki Tumenggung.
Caci makian Rara Mendut itu membuat Nyai Ajeng merasa
tersinggung. Akhirnya, ia langsung melaporkan kegagalannya dalam
membujuk Mendut. Mendengar berita itu Tumenggung marah dan
merasa terhina, karena Mendut berani menolak lamarannya.
Karena sangat marah Tumenggung menjatuhkan hukuman kepada
Mendut berupa pembayaran pajak sebesar tiga reyal setiap
harinya. Harapan Tumenggung dengan jalan ini Mendut akan merasa
keberatan sehingga secara tidak langsung ia harus mau dijadikan
istrinya.
Kenyataannya meleset dari dugaan Tumenggung. Mendut
justru memilih menjalani hukuman daripada menjadi istri
buatannya sendiri di Kawiramantren. Akhirnya permohonan Mendut
dikabulkan bahkan, Mendut mendapat uang supaya digunakan untuk
modal jualan rokok sebanyak 10 reyal.
Selama Mendut berjualan di Kawiramantren, peristiwanya
melukiskan alur yang mulai bergerak mengarah pada peristiwa
yang sengit. Peristiwa ini dipenuhi dengan kisah pertemuan Mendut
dengan Pranacitra. Pertemuan mereka waktu Pranacitra akan
pergi mengadu ayam di Kawiramantren, Pranacitra singgah untuk
beristirahat di warung Mendut. Dengan pandangan pertama Mendut
jatuh hati kepada Pranacitra, ungkapan rasa cinta Mendut
diutarakan melalui gulungan rokok yang dibeli Pranacitra. Dalam
suratnya pula Mendut bercerita tentang Tumenggung Wiraguna dan
Mendut bermaksud minta tolong kepada Pranacitra untuk
melepaskan dirinya dari cengkeramannya Tumenggung Wiraguna.
Yaitu dengan cara Pranacitra berpura-pura mengabdi kepada
Tumenggung, sementara Mendut sendiri pura-pura bersedia
manjadi diperistri Wiraguna.
Keinginan Mendut dipenuhi oleh Pranacitra. Akhirnya
Pranacitra berhasil menjadi abdi pada Tumenggung malah Pranacitra
dipercaya menjadi lurah dari para punggawa Kawiragunan, dengan
demikian Mendut mudah untuk bertemu dengan Pranacitra. Sampai
akhirnya mereka bisa melarikan diri dari Kawiragunan. Selama
Mendut. Peristiwa ini melukiskan alur yang memuncak, karena dilihat
dari kemarahan Tumenggung mengarah ke klimaks.
Tetapi akhirnya usaha Mendut dan Pranacitra untuk melarikan
diri bisa diketemukan, kemudian mereka berusaha melarikan diri
yang kedua kalinya, namun usaha yang terakhir ini diketahui oleh
Tumenggung. Kemudian Tumenggung mengarahkan semua bala
tentara Mataram untuk menangkapnya. Yang akhirnya Mendut dan
Pranacitra bisa ditangkap waktu akan menyeberang sungai Oya.
Tumenggung Wiraguna tidak dapat menahan emosinya dan beliau
sudah tidak sabar lagi ingin membunuh Pranacitra. Waktu peristiwa
itu berlangsung tentunya suasana menjadi tegang.
Pranacitra akhirnya diikat tangannya dan Mendut dibawa ke
kamar. Semantara itu Wiraguna ingin membunuh Pranacitra dengan
tangannya sendiri, menggunakan keris pusakanya. Bersamaan dengan
itu Pranacitra menjerit memanggil Mendut. Mendut kemudian lari ke
luar dari kamar dan menghampiri Pranacitra, akan tetapi Pranacitra
sudah terkapar karena hunusan keris Tumenggung. Melihat
Pranacitra mati terbunuh, Mendut menerjang pada keris Tumenggung
yang masih terbuka belum disarungakan kembali ke warangkanya
yang digenggam Wiraguna. Akhirnya pun Mendut tergeletak
mennghembuskan nafasnya yang terakhir di samping Pranacitra
Kematian Pranacitra dan Mendut marupakan penyelesaian dari
perkembangan masalah yang terjadi dalam serangkaian peristiwa
yang digambarkan. Dengan demikian cerita ini berakhir dengan
kesedihan. Akibatnya dari peristiwa ini Tumenggung menyadari
bahwa cinta dan kesetiaan itu tidak dapat dipaksakan dan Pranacitra
dan Mendut adalah cinta sejati. Pranacitra dan Mendut dikubur
dalam satu liang.
Berdasarkan peristiwa yang kronologis maka alur cerita Serat
Pranacitra ini dinamakan alur linier . Sedangkan tema yang tersirat
di dalamnya adalah kisah percintaan sepasang muda-mudi yang
mengalami perjuangan.
C. Karakter dan Karakterisasi
Berdasarkan pada alur cerita Serat Pranacitra maka termasuk
tokoh sentral di dalamnya adalah Rara Mendut dan Pranacitra yang
berperan sebagai protagonis. Masih termasuk sentral Tumengung
Wiragunan berperan sebagai antagonis. Sedangkan Nyai Ajeng
Wiraguna dan beberapa nama lainnya merupakan tokoh bawahan
tambahan.
Sehubungan dengan beberapa tokoh di atas maka masing-masing
tokoh mempunyai watak dan karakter sendiri-sendiri.
Watak atau sifat Tumenggung Wiraguna dalam cerita ini dilukiskan
sebagai orang yang mempunyai kewibawaan , keuletan, dan
kesempurnaan dalam menjalankan tugasnya. Maka dari itu ia
dipercaya oleh Kanjeng Sinuwun untuk menjadi bupati di Mataram.
Selain itu, Tumenggung berpenampilan rapi, walaupun sudah
setengan baya, ia masih rajin merawat badan sehingga masih
kelihatan lebih muda bila disbanding dengan umurnya. Kaitannya
dengan gagasan ini,tersirat dalam kutipan berikut :
Telas sadaja mung kantun kalih, djuga sisih mung nginggil
kewala. Wus gumapila remane, nging maksih meses besus,
awiraga. Prijaji, ngatingalaken berkah- : dalem Djeng Sinuwun,
dennja Nggung lah kamuktyan ,dasar dadya kekasih-dalem Sang
Aji, Tu menggung Wiraguna.(SP, 1956 :8)
Semua giginya habis tinggal dua, yakni bagian atas saja, rambutNya juga sudah berwarna putih, tetapi karena ia masih rajin merawat dirinya maka ia masih selalu tampak muda. Sepertinya ia memang berbakat jadi priyayi sehingga dapat menunjukkan bahwa ia pantas menjadi orang kepercayaan Kanjeng Sinuwun.
Namun, dalam hal beberapa peristiwa selanjutnya, watak
Wiraguna berubah, yakni dari watak yang bijaksana menjadi watak
yang sombong dan jahat, tidak mengenal perasaan. Dikatakan jahat
belur dan membunuh Pranacitra dengan cara yang keji, karena
Tumenggung tidak bisa menguasai emosinya.
2. Nyai Ajeng Wiraguna
Peran Nyai Ajeng sebagai istri Tumenggung dilukiskan sebagai
istri yang sabar dan setia terhadap suami. Sebagai istri ia rela
suaminya mengangkat selir, bahkan ia menyarankan agar dijadikan
istri saja. Saran itu agar Tumenggung mendapatkan keturunan, dan ia
juga merasa bila selama ia menjadi istri Tumenggung belum
membarikan keturunan. Menurutnya yang pantas menjadi istri
Tumenggung dan agar memberikan keturunan yaitu Mendut.
Njai Adjeng mesem matur aris : “ Kados leres ing petek
sampejan. Kula ggih metek tjeteke, madep uritanipun,sawangane
pan sarwa. Isi, kendo walitira, ula-ula munggul, abentet
sesalangira, kadi datan inang dukun amastani, metek jen sugih
anak.(SP,1956:16)
3. Rara Mendut
Mendut digambarkan seorang perawan yang hidup di zaman
kerajaan, di mana pada waktu itu masih berlaku aturan konvensi
budaya yang mengikat keterlibatan wanita dalam suatu aktivitas.
Tetapi, pada waktu itu Mendut sudah beran menentang dengan
berani manolak untuk dijadikan selir oleh seorang bupati yang
saat itu yang berkuasa atas wanita-wanita boyongan termasuk
dirinya. Dengan kepercayaan dan kepribadian dalam diri Mendut
tumbuh etos kerja dengan motivasi untuk mempertahankan
keinginannya. Rasa percaya dirinya untuk mendobrak kondisi
budaya itu, dapat juga disebabkan oleh kelebihan secara fisik yang
dimiliki, misalnya kecantikan, keluwesan, dan keanggunannya.
Sehingga akan memungkinkan dirinya untuk mencari jalan
alternatif. Jadi, meskipun dirinya tidak mengenal pendidikan
secara formal, tetapi ia telah berpandangan yang lebih maju secara
alami.
Gambaran seorang Mendut seperti di bawah ini kutipan dalam
Serat Pranacitra sebagai berikut.
Wadja tetesing warih aradin, anapak – palu pilinganira, anglunging- gadung djanggane, ati-ati ngudup, kagatengan ing otot wilis, sesinoman mitjis-pamdjrah, gemuh ing pambajun, widjang pamidanganira, sarwa rurus kang astane nggendewa gading, djaridji muntjuk – tandjang.( SP. 1956 ; 25 )
Giginya rapi, dahi sampimg ( pilingan )nya rata , lehernya
panjang, bulu matanya lentik, otot-ototnya kelihatan hijau,
rambut( sinomnya) bagus, bahunya turut ( apik ), tangannya
Asengkang bapang panunggul sidji, inten-bumi tinom
gebjar-gebjar, awewida njenar aden, geganda amrik arum, netra ndjait
nawang alimdri, idep tumenggeng miyat, uwang
njangkul-putung, alise nanggal sapisan, grsns rungih kang pipi
nduren-sadjurimg, lati manggis-karenget.( SP. 1956 ; 25 )
4. Pranacitra
Pranacitra dalam cerita ini digambarkan sebagai seorang
pemuda yang gagah dan rupawan. Karena ketampanannya maka
banyak wanita, baik yang sudah menikah maupun yang masih
perawan terpesona karena ketampanannya dan ingin sekali
bersanding dengannya. Namun, Pranacitra tidak pernah
menghiraukan ulah mereka itu. Dia justru berkonsentrasi pada
kegemarannya memelihara dan beradu jago. Dia anak tunggal dari
seorang janda yang kaya raya, ia gemar sekali bermain taruhan dalam
mengadu jago. Meskipun sering menang , tetapi uang yang
diterimanya untuk menyenangkan orang lain atau membagi dengan
rekan-rekannya. Sikap dermawan itu tumbuh dalam dirinya, karena
ia merasa keadaannya lebih.
Sikap dermawan Pranacitra tampak pada waktu ia
membagi-bagikan uang kepada para punggawa Mataram yang telah membantu
mempermudah jalan untuk melarikan Mendut. Uang yang ia bagikan
teramat besar bagi para punggawa, sehingga sudah semestinya jika