Diplomasi Publik Amerika Serikat Melalui

102 

Teks penuh

(1)

Diplomasi Publik Amerika Serikat Melalui Program

The

Kennedy

Lugar Youth Exchange and Study

(YES) ke

Indonesia Pasca Peristiwa 9/11 Periode Tahun 2003

2013

SKRIPSI

Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Gelar Sarjana Program Studi Ilmu Hubungan Internasional dengan Peminatan International Social and Cultural

Development

Oleh:

Zuma Qoyuma

105120400111006

PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL ILMU POLITIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

(2)

2

DIPLOMASI PUBLIK AMERIKA SERIKAT MELALUI PROGRAM THE

KENNEDY LUGAR YOUTH EXCHANGE AND STUDY (YES) KE INDONESIA PASCA PERISTIWA 9/11 PERIODE TAHUN 2003 – 2013

SKRIPSI

Disusun Oleh: Zuma Qoyuma

NIM. 105120400111006

Telah Disetujui oleh Dosen Pembimbing:

Pembimbing Utama Pembimbing Pendamping

Asih Purwanti, S.IP., M.IP M. Riza Hanafi, S.IP., MIA

NIK. 77102911120116 NIK. 800207 1111 0413

Tanggal: 20 November 2014 Mengetahui,

Ketua Program Studi Hubungan Internasional

(3)

3

DIPLOMASI PUBLIK AMERIKA SERIKAT MELALUI PROGRAM THE

KENNEDY LUGAR YOUTH EXCHANGE AND STUDY (YES) KE INDONESIA PASCA PERISTIWA 9/11 PERIODE TAHUN 2003 – 2013

SKRIPSI

Disusun Oleh: Zuma Qoyuma NIM. 105120400111006

Telah diuji dan dinyatakan lulus dalam ujian Sarjana pada tanggal 19 Oktober 2014 Tim Penguji:

Ketua Majelis Penguji Sekretaris Majelis Penguji

Mely Noviryani, S.Sos, MM Achmad Fathoni K., S.IP., MA NIP. 74110911120007 NIK. 82012311110025

Pembimbing Utama Pembimbing Pendamping

Asih Purwanti, S.IP., M.IP M. Riza Hanafi, S.IP., MIA NIK. 77102911120116 NIK. 80020711110413

Malang, 19 Oktober 2014

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya

(4)

4

LEMBAR PERNYATAAN KEABSAHAN SKRIPSI

Nama : Zuma Qoyuma Nim : 105120400111006

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang berjudul DIPLOMA“I PUBLIK AMERIKA SERIKAT MELALUI PROGRAM THE KENNEDY LUGAR YOUTH EXCHANGE AND STUDY (YES) KE INDONESIA PASCA PERISTIWA 9/11 PERIODE TAHUN 2003

adalah benar-benar hasil karya sendiri. Hal-hal yang bukan karya saya, dalam skripsi tersebut diberi tanda citasi dan ditunjukkan dalam daftar pustaka. Apabila kemudian hari terbukti pernyataan saya tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan skripsi dan gelar yang saya peroleh dari skripsi tersebut.

Malang, 21 November 2014 Yang Membuat Pernyataan

(5)

5

LEMBAR PERSEMBAHAN

The mind is everything. What you think, you become!

Remember the two benefits of failure. First, if you do fail, you learn what doesn’t work; and second, the failure gives you the opportunity to try a new approach.

- Roger Von Oech

I dedicate this part of sacrifices to those who might assist and fill my life until

right now. There are so many incredible things I’ve been troughed and I honor

to say many many thanks which I am really concerned in. Because I think that

life goe

s with imperfections and to be in this spot is very long journey. So that’s

why this is the big reason why I must keep my gratitude to all of you who really

accept me as I am and tell me what is happiness means for.

Terimakasih teruntuk Rabb-ku yang Maha Hebat, Allah SWT, Sang Khalik

yang Maha Rahmat dan Rahim. Sehingga di umur yang ke-21 tahun ini, saya telah

menempuh kehidupan berlimpah syukur atas rahmat terbaik yang selalu Kau

(6)

6

Teruntuk Almarhum kedua Kakek saya, Alm. Mbah Kakung Masni dan Alm.

Mbah Soleh, yang sudah meninggalkan saya dan keluarga di keabadian yang

sudah dijanjikan oleh Allah SWT. Terima kasih Mbah untuk cinta dan kasih sayang

yang selalu tercurahkan dengan tulus dari hati yang tak terbatas untuk saya.

Teruntuk kedua orang tua Kayo  yang amat hebat serta luar biasa, Papa,

Drs. Ilyas, M. Sc. dan Mama, Ir. Endang Widayati, yang mengajarkan banyak hal

akan makna hidup sehingga Kayo dapat menjadi pribadi yang baik hingga saat ini

dan Insya Allah seterusnya. Terima kasih untuk dukungan, doa, cinta dan kasih

sayang yang selalu kalian berikan tak terhingga untukku. Doakan Kayo juga agar

dapat menjadi insan yang selalu dapat membuat bangga dan bahagia, serta dapat

selalu memberikan segalanya yang terbaik yang Kayo miliki bagi Papa dan Mama.

Selanjutnya terima kasih untuk satu-satunya kakakku, Gabriella Dirnanda, yang

selalu memberikan kekuatan, dukungan dan hiburan untukku. Semoga kita

berdua selalu menjadi “The Best Sister Ever” yah Mbaak! :D

Teruntuk dosen pembimbingku Ibu Asih Purwanti, S. IP., M. IP. dan Bapak

M. Riza Hanafi, S.IP, MIA, yang telah menyumbangkan pemikiran, ide, waktu dan

ilmunya dalam proses penyusunan skripsi ini. Genap sudah setahun membimbing

saya dalam lika-liku kehidupan skripsi ini. Terima kasih banyak telah menguatkan

saya untuk menempuh penelitian skripsi ini dan nasihat-nasihat untuk “real life” kedepannya.

Dosen-Dosen Hubungan Internasional Universitas Brawijaya Malang. Ibu

Erza Killian, Ibu Desy Arya Pinatih, Ibu Henny Rosalinda, Bapak Achmad Fathoni,

Bapak Joko, Bapak Aswin Ariyanto Azis, Ibu Mely Noviryani, Ibu Lia Nihlah, Ibu

Dian Mutmainah, Bapak Yustika Citra Mahendra, Bapak Yusli Effendi telah sudi

membukakan ilmu dan pengetahuan yang begitu besar bagi saya selama

menempuh perkuliahan sehingga memberikan saya perspektif berbeda dalam

melihat kehidupan ini, lebih baik daripada sebelumnya.

Bagi mereka sahabat-sahabat hebatku yang selalu memberikan waktu,

kesempatan, nasihat, dukungan dan tawa keceriaan akibat kepelehan kalian

(7)

7

berjalannya waktu selalu gonta ganti nama sesuka hati. But, kita selalu bersama melewati 4 tahun yang tentunya ga luput dari suka maupun duka. Diana Ratry

Purwa Wana Lestari, Novia Primaditya, Masyita Adha, Chrisant Raisha

Panggabean, Ardhian Bayu Herdianta, Adha Adika, Ivory Kraska Taruna,

Gunansyah Ambri Budi, Kharis Prima Almi. Semoga kita bisa bertemu lagi yah

gaees di umur-umur selanjutnya. Amiin :”)

Ukm-ku selama dari awal masuk kuliah hingga lulus kuliah ini, terima kasih

banyaaak FORMASI (Forum Studi Bahasa Inggris). Dimana disini banyak banget

pelajaran serta keseruan yang aku dapatkan. Teman-teman FORIENT 24th ku: Queentries Regar, Fatimah A. Ghaniem, Muhammad Nur Rizki Oceano Puritanical,

Aditya Janu Perdana, Nony Wahyuningtyas, Nadya Ayuning Wuryanto dan Bagus

Prasetyo. Serta teman-teman FORMASI yang lainnya: Bayu Hadi Siswoyo, Renny

Fitria Nuraini, Haris Apriyanto, Leiditya Naristi, Kak Viky Febriansyah, Kak Abdul

Aziz, Kak Benedicta Ika, Kak Dwi Arum Ariani, Kak Novi Indriana, Kak Slovenia

Istiani Mandala, Fatimah Fahri.

Bagi keluarga kedua, teman menggila di kosan Bunga Andong Barat Kav.

21, terima kasih Ririn Dwi Rakhmawati, Prista Rhiendy Erfrinova, Mawardha

Agustina, Fillya, Ira Febrianty. Terima kasih telah menjadi keluarga kecilku di kota

ini serta menjadi tempat curhat yang memberikan tawa canda serta dukungan

untuk saya.

Teman-teman tercinta sekitaran komplek Halim Perdana Kusuma, dari SMP

hingga SMA: Dian Andriani Budianti, Novia Clara Bianca, Geasella Febry Bramanti.

Selanjutnya teman-teman Primagama yang kalau ada kesempatan kita selalu

meet up hingga saat ini: Nurcahyati, Andra Dian Daulay, Guruh Saputra, Santi Nur Sabrina.

Bagi mereka yang sama-sama menempuh serta berjuang dalam proses

skripsi ini, terima kasih telah memberikan semangat dan keceriaan : Adi Dwi

Novanto, Gusti Rafangga, Fillanta Diny Juwita Kasih, Fabrina Juliani, Prasetyani

(8)

8

Bagi mereka yang berada di angkatan 2010 Hubungan Internasional,

Universitas Brawijaya Malang. Lika-liku cerita kalian yang menjadikan saya kuat

dan bertahan di jurusan ini. Semoga kebahagiaan selalu berada dalam hidup

kalian masing- masing. Saya tak akan pernah lupa dan pastinya akan sangat

merindukan persahabatan kita semua yang sangat kompak selama kurang lebih 4

tahun di HI 2010 ini.

Terimakasih banyak atas cerita, perjalanan serta memori selama ini. Semoga

persembahan ini mampu mengantarkan kepada Anda yang tertulis sebagai

bentuk secuil apresiasi dari saya bahwa Anda adalah orang-orang hebat yang

telah diturunkan Allah SWT untuk mewarnai kehidupan saya ini.

Zuma Qoyuma

(9)

9

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat ALLAH SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul Diplomasi Publik Amerika Serikat Melalui Program The Kennedy Lugar Youth Exchange and Study (YES) ke Indonesia Pasca Peristiwa 9/11 Periode Tahun 2003 – . Skripsi ini dibuat sebagai syarat untuk

menyelesaikan pendidikan sarjana (S1) pada program studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya.

Dalam proses menyelesaikan skripsi ini, penulis dibantu oleh berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih pada :

1. Kedua orang tua penulis, Bapak Drs. Ilyas, M. Sc. dan Ibu Ir. Endang Widayati.

2. Bapak Prof. Dr. Ir. H. Darsono Wisadirana, MS, selaku dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya;

3. Ibu Asih Purwanti, S. IP., M. IP., selaku dosen pembimbing pertama penulis yang banyak memberikan masukan dan motivasi selama proses penulisan;

4. Bapak M. Riza Hanafi, S.IP., MIA, selaku dosen pembimbing kedua penulis atas perbaikan yang diberikan untuk kebaikan penulisan skripsi ini dan penyemangat untuk menyelesaikannya secepat mungkin;

5. Ibu Mely Noviryani, S. Sos, MM, selaku ketua majelis penguji sidang skripsi;

6. Bapak Achmad Fathoni K., S. IP., MA, selaku sekretaris majelis penguji dalam sidang skripsi penulis;

7. Bagi seluruh dosen program studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya Malang atas ilmu dan pengalaman yang dibagi selama penulis menempuh pendidikan.

8. Mas Kholis dan Mas Dadang yang selalu membantu penulis dalam bidang proses administratif sejak penyusunan Magang hingga Skripsi.

Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itulah penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun. Akhirnya, penulis mengharapkan agar skripsi ini dapat bermanfaat bagi jurusan, masukan bagi para dosen, serta bagi teman-teman pada tahun-tahun mendatang.

Malang, 21 November 2014

(10)

10 ABSTRAKSI

Program The Kennedy Lugar Youth Exchange and Study (YES) merupakan program pertukaran pelajar yang dikeluarkan oleh Amerika Serikat ke negara-negara Muslim di dunia tepat pasca peristiwa 9/11. Negara Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbanyak di dunia, pun tak luput dari pengimplementasian diplomasi publik Amerika Serikat ini. Perbedaan pandangan yang terjadi akibat kesalahpahaman dunia Muslim terhadap kebijakan Global War On Terrorism yang dikeluarkan oleh Amerika Serikat, menyebabkan negara adidaya ini mengimplementasikan aspek development of lasting relationships-nya melalui diplomasi publik. Salah satunya ialah dengan menggunakan program YES ini. Penelitian ini sendiri merupakan penelitian Deskriptif. Metode penelitian menggunakan pengambilan data sekunder.

(11)

11 ABSTRACT

The Kennedy Lugar Youth Exchange and Study (YES) program is an exchange students program sponsored by United States. Indonesia, as the most populous with Muslim citizen in the world, also included on this United States public diplomacy implementation. Differences which occurs misunderstanding to Muslim world because Global War On Terrorism (GWOT) from United States, caused this superpower country implement the development of lasting relationships aspect through public diplomacy. One of them is using YES program. This research is a descriptive research. The method on this research use secondary datas.

(12)

12

DAFTAR ISI

Halaman Persetujuan ... i

Halaman Pengesahan ... ii

Lembar Pernyataan Keabsahan Skripsi ... iii

Lembar Persembahan ... iv

Kata Pengantar ... v

Abstraksi ... vi

Abstract ...vii

DAFTAR ISI ... viii

Daftar Tabel ... xi

Daftar Bagan ... xii

Daftar Grafik ... xiii

BAB I ... 1

PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 7

1.3 Tujuan Penelitian ... 7

1.4 Manfaat Penelitian ... 8

BAB II ... 9

KERANGKA PEMIKIRAN ... 9

2.1 Studi Terdahulu ... 9

2.2 Perangkat Analisis ... 17

(13)

13

2.3.1 Konsep Diplomasi Publik ... 18

2.4 Operasionalisasi Konsep ... 27

2.5 Argumentasi Utama ... 31

BAB III ... 32

METODE PENELITIAN ... 32

3.1 Jenis Penelitian ... 32

3.2 Ruang Lingkup Penelitian ... 32

3.3 Teknik Pengumpulan Data ... 33

3.4 Teknik Analisa Data ... 34

3.5 Metode Penulisan ... 34

BAB IV ... 33

PEMBAHASAN... 37

4.1 Sejarah 9/11 ... 37

4.1.1 Peristiwa 9/11 yang Terjadi di Amerika Serikat ... 37

4.2 Citra Amerika Serikat ... 40

4.2.1 Image Amerika Serikat Pasca Peristiwa 9/11 ke Indoenesia ... 40

4.2.2 U.S. National Strategy for Strategic Communication and Public Diplomacy ... 46

4.3 Diplomasi Publik Amerika Serikat Pasca Peristiwa 9/11 ... 50

4.3.1 Asal Usul Program YES ... 65

KESIMPULAN DAN SARAN ... 72

5.1 Kesimpulan ... 72

(14)

14

DAFTAR TABEL

Tabel 1 : Perbedaan Diplomasi

Tabel 2 : Taxonomy of Time/Flow of Information/Infrastructure in Public Diplomacy

(15)

15

DAFTAR BAGAN

Bagan 1: Alur Pemikiran Penelitian

(16)

16

DAFTAR GRAFIK

Grafik 1: Favorabilty Views Indonesia terhadap Amerika Serikat Sebelum 9/11 dan Dua Tahun Pasca 9/11.

Grafik 2: Favorability Views Indonesia Terhadap Amerika Serikat Setelah Pengimplementasian Diplomasi Publik.

(17)

17 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Seiring perkembangan zaman yang semakin kompleks, munculnya transnational crime sebagai isu dunia dari dinamika internasional tidak dapat terbantahkan. Terjadinya peristiwa 11 September pada tahun 2001 yang menimpa Amerika Serikat sebagai negara super power, menunjukkan eksistensi transnational crime dalam lingkup terorisme yang saat ini telah berkembang dan menjadi isu internasional. Jika sebelumnya terorisme bukanlah perhatian utama, pasca peristiwa tersebut terorisme telah menjadi nation‘s first priority bagi Amerika Serikat.1

11 September 2001 sendiri merupakan peristiwa serangan teroris yang melakukan aksinya dengan meledakkan menara kembar di pusat kota, yakni World Trade Center (WTC) dan juga gedung Pentagon Amerika Serikat. Dalam serangan ini, diperkirakan sekitar 3000 orang tewas dalam peristiwa 9/11 yang terjadi di New York, Amerika Serikat tersebut yang berasal dari 94 bangsa.2 Peristiwa ini kemudian dikenal dengan sebutan 9/11 – nine eleven.

1

Stephen D. Biddle, American Grand Strategy After 9/11: An Assessment, (April 2005), hal. 5, diambil dari sumber <http://www.strategicstudiesinstitute.army.mil/pdffiles/pub603.pdf>, diakses pada tanggal 30 Desember 2014.

2

(18)

18

Kejadian ini jelas menciptakan pergeseran-pergeseran yang dilakukan oleh pemerintah Amerika Serikat dalam kebijakan-kebijakannya. Hal ini diimplementasikan melalui kebijakan ―Global War On Terrorism‖ yang dikemukakan oleh Presiden Amerika Serikat, George W. Bush Jr., pada 8 Oktober 2001.3 Sejak peristiwa tersebut, Amerika Serikat mengasosiasikan peristiwa 9/11 ini dengan eksistensi umat Muslim di dunia. Hal ini dikarenakan kelompok jaringan terorisme pelaku tindak kejahatan terorisme di Amerika Serikat pada 11 September 2001 yang didalangi oleh Osama Bin Laden tersebut mengatasnamakan agama Islam sebagai latar belakang tindakannya.4 Amerika Serikat juga memandang bahwa dunia Islam itu sebagai dunia yang fanatik terhadap agamanya, penuh kekerasan dan kurang akan toleransi.5

Oleh karena itu, pasca peristiwa 9/11 membuat hubungan Amerika Serikat dengan dunia Islam kian memburuk, dimana agama Islam dinilai dari sudut pandang yang berbeda oleh kacamata Amerika Serikat6. Persepsi terhadap Amerika Serikat beragam, namun terdapat stereotipe yang melekat secara mendalam, yaitu Amerika Serikat identik dengan kesombongan (arrogant), memaksakan dirinya sendiri (self-indulgent), munafik atau bermuka dua (hypocritical), kurang memperhatikan

3 BBC Home, 2001: US Declares War on Terror, diambil dari sumber 4

Newsweek, The Politics Of Rage: Why Do They Hate Us?, diambil dari sumber

<http://www.newsweek.com/politics-rage-why-do-they-hate-us-154345>, diakses pada tanggal 29 Oktober 2013.

5

Pew Research Global Attitude Projects, The Great Divide: How Westerners and Muslims View Each Other, diambil dari sumber <http://www.pewglobal.org/2006/06/22/the-great-divide-how-westerners-and-muslims-view-each-other/>, diakses pada tanggal 6 Februari 2014.

6 Diana L. Eck, Amerika Baru yang Religius; Bagai a a “e uah Negara Kriste Beru ah Me jadi

(19)

19

(inattentive), dan tidak mempunyai keinginan atau tidak bisa mengikutsertakan dirinya dalam dialog lintas budaya (cross-cultural dialogue).7

Persepsi yang telah berkembang tersebut tidak memungkiri bahwa konflik internasional dapat muncul dari perbedaan dalam nilai-nilai dan keyakinan yang telah dimiliki suatu negara.8 Oleh karena itu, Amerika Serikat berusaha memperbaiki hubungannya dengan dunia Islam melalui negara-negara Muslim di dunia, yang mana salah satunya adalah Indonesia. Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Pew Research Global Attitudes Project, jumlah opini publik positif terhadap Amerika Serikat mengalami penurunan cukup signifikan di beberapa negara. Hal ini terjadi pula pada Indonesia dimana pada tahun 2000 angka favorable opinions terhadap Amerika Serikat berjumlah 75%, namun pada tahun 2002 turun ke angka 61%.9 Terlebih rangkaian peristiwa pengeboman yang telah terjadi di Indonesia beberapa tahun pasca 9/11, seperti yang terjadi di Bali Night Clubs (October 2002), hotel J. W. Marriot di Jakarta (Agustus 2003), di depan Kedutaan Filipina,10 Kedutaan Australia (September 2004), serta restoran turis di Bali (Oktober 2005)11. Rangkaian peristiwa

7

Peter G. Peterson, Public Diplomacy and The War on Terrorism, (Foreign Affairs, 2002), diambil dari sumber <http://www.foreignaffairs.com/articles/58247/peter-g-peterson/public-diplomacy-and-the-war-on-terrorism> , diakses pada tanggal 12 Februari 2014.

8 Aminata M. Kone, Ameri a's Misguided 'War o Terror’: Contrasting Samuel Huntington's Clash of

Civilizations with Ibn Khaldun's Theory of Social Solidarity, diambil dari sumber

< http://www.studentpulse.com/articles/753/2/americas-misguided-war-on-terror-contrasting-global-attitudes-project/>, diakses pada tanggal 26 Oktober 2014.

10

Sukawarsini Djelantik, Ph. D., Terorisme: Tinjauan Psiko-Politis, Peran Media, Kemiskinan, dan Keamanan Nasional (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2010), hal.1.

11 John T. Sidel, It is Not Getting Worse: Terrorism is Declining in Asia, GLOBAL ASIA Vol.2, No.3, Hal.

(20)

20

pengeboman tersebut telah menarik perhatian dari dunia internasional yang cukup besar, terutama Amerika Serikat.12

Bagi Amerika Serikat, memperbaiki hubungan dengan umat Muslim, tidak dapat dihentikan oleh aksi militer karena melalui pertempuran dan kekerasan (hard power) tidak akan mengatasi masalah.13 Justru dengan cara tersebut lebih cenderung akan terus meningkatkan operasi militer atas jumlah serangan teroris yang semakin meningkat pula.14 Penggunaan soft power adalah salah satu cara pendekatan yang diterapkan oleh Amerika Serikat dan dirasa lebih efektif dalam menghambat atau bahkan menghentikan pergerakan terorisme melalui perbaikan hubungan dengan umat Muslim di Indonesia.15 Jika sebelumnya soft power yang dilakukan Amerika Serikat menggunakan cara diplomasi tradisional, yakni diplomasi antar pemimpin negara,16 justru sejak Perang Dingin menggunakan jenis diplomasi yang modern, yakni diplomasi publik. Begitu pula pada pasca peristiwa 9/11, Amerika Serikat meningkatkan intensitas penggunaan diplomasi publiknya.

Arah diplomasi publik Amerika Serikat sendiri terbagi menjadi 3 kajian pokok, yakni (1)Amerika Serikat dapat menyebarkan nilai-nilai negaranya, (2)Memberantas kelompok ekstrimis yang dapat mengancam perdamaian dunia, serta

U.S. Department Of State: National Strategy for Combating Terrorism, diambil dari sumber <http://2001-2009.state.gov/s/ct/rls/wh/71803.htm>, diakses pada tanggal 4 Februari 2014.

16 Siobhán McEvoy-Levy, American Exceptionalism and US Foreign Policy: Public Diplomacy At The

(21)

21

(3)Dapat memelihara hubungan yang telah dibentuk antara masyarakat Amerika Serikat dengan masyarakat negara lain yang memiliki perbedaan keyakinan maupun kebudayaan.17 Berkaitan dengan arah diplomasi publik Amerika Serikat tersebut, pasca peristiwa 9/11 diproyeksikan ke Indonesia melalui fokus target Muslim Outreach.18 Dimana diplomasi publik ini dilakukan penerapannya melalui beberapa pelaksanaan, baik pertukaran pelajar, presentasi kebudayaan, media sosial, pengadaan tempat-tempat di Indonesia yang dapat menyebarkan nilai negara adidaya tersebut hingga ke ranah media massa.19

Salah satu pencapaian diplomasi publik Amerika Serikat pasca peristiwa 9/11 tersebut ialah dengan membuat berbagai program pertukaran, termasuk salah satunya ialah program pertukaran pelajar dalam rangka menjalankan diplomasi publiknya dengan negara Indonesia. Berlandaskan pada pembentukan mutual understanding dan mutual respect dengan negara-negara muslim, maka dari itu melalui Bureau of Educational and Cultural Affairs (ECA), Amerika Serikat mengeluarkan kebijakan

program-program pertukaran pelajarnya tersebut.20 Program-program pertukaran

17

U.S. National Strategy for Public Diplomacy and Strategic Communication, diambil dari sumber <http://www.nyu.edu/brademas/pdf/publications-moving-forward-strategic-communication-public-diplomacy.pdf>, diakses pada tanggal 25 Oktober 2014.

18

Atu Yudhistira Indarto, Reflection of the U.S. Public Diplomacy in Indonesia post 9/11: A Case of Concerted Muslims Outreach , diambil dari sumber

<http://www.publicdiplomacycouncil.org/sites/default/files/users/LisaHeyn/AtuIndato-Reflectionof theUSPublicDiplomacyinIndonesiapostSeptember11.pdf> diakses pada tanggal 26 Oktober 2014.

19

Ibid.

20Educational and Cultural Exchange Programs, diambil dari sumber

(22)

22

pelajar yang dilakukan oleh Amerika Serikat sendiri diwadahi oleh AMINEF (The American Indonesian Exchange Foundation) yang bergerak sejak tahun 199221.

Dari salah satu program, yaitu yang bernama YES, merupakan program yang dihasilkan pada tahun 2002 dan baru diimplementasikan di negara-negara Muslim, termasuk Indonesia pada tahun 2003.22 Program YES merupakan program pertukaran pelajar yang menyediakan beasiswa bagi para pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) berumur 15 hingga 17,5 tahun dari negara-negara Muslim yang memiliki populasi cukup signifikan.23 Program ini memang dibentuk dan ditujukan secara khusus bagi negara-negara Muslim di dunia pasca peristiwa 9/11, termasuk negara Indonesia.24

Dikeluarkannya program khusus tersebut pasca peristiwa 9/11 bagi negara-negara Muslim di dunia menjadikan urgensi penelitian yang dilakukan oleh penulis. Penelitian ini juga menjadi menarik untuk diteliti sebab fenomena serangan terorisme yang terjadi justru menyebabkan negara adidaya Amerika Serikat menargetkan Indonesia sebagai salah satu objek dalam pengimplementasian diplomasi publik. Dari pemaparan diatas pula, penulis ingin menjelaskan mengenai diplomasi publik oleh Amerika Serikat terhadap Indonesia, salah satunya melalui program YES, yang mana

21AMINEF Info, diambil dari sumber

<http://www.aminef.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=20:aminef-info-article&catid=8&Itemid=153>, diakses pada tanggal 28 Maret 2014.

22Kennedy-Lugar Youth Exchange and Study: Indonesia, diambil dari sumber

<http://yesprograms.org/country/indonesia>, diakses pada tanggal 28 Maret 2014.

23

Bureau of Educational and Cultural Affairs (ECA); Request for Grant Proposals: Kennedy-Lugar Youth Exchange and Study Program (YES): "US YES Inbound Placement and YES Abroad

Recruitment Components , diambil dari sumber

<http://search.proquest.com/docview/189954568?accountid=46437>, diakses pada tanggal 15 April 2014.

24 U.S. Department of State, Evaluation of The Youth Exchange & Study Program; Final Report, (New

(23)

23

hal tersebut pada akhirnya akan berdampak mendukung restorasi hubungan antara Muslim Indonesia dan Westerners Amerika Serikat pasca 9/11.

1.2 Rumusan Masalah

Dari latar belakang masalah yang telah dijelaskan di atas, timbul pertanyaan yang mendorong penulis melakukan riset mengenai kasus ini. Bagaimana Amerika Serikat menerapkan program The Kennedy-Lugar Youth Exchange and Study (YES) sebagai instrumen diplomasi publik ke Indonesia pasca peristiwa 9/11 periode tahun 2003-2013?

I.3 Tujuan Penelitian

(24)

24 I.4 Manfaat Penelitian

(25)

25 BAB II

KERANGKA PEMIKIRAN

2.1 Studi Terdahulu

Dalam upaya menjawab rumusan masalah yang ada pada bab 1, penulis melakukan kajian terhadap studi terdahulu maupun dokumen lain yang memiliki keterkaitan dengan kasus ini. Keterkaitan yang dimaksud berupa kesamaan penerapan soft power dalam kasus ini melalui pola dan bentuk diplomasi publik serta dampaknya pada situasi sosial, maupun berupa kajian tentang bagaimana implementasinya yang menjadi salah satu fokus dalam penelitian ini. Kajian tentang penelitian terdahulu dapat memastikan validitas suatu penelitian sosial. Oleh karena itu penulis mengharapkan bahwa studi terdahulu ini dapat membantu penulis menyelesaikan penelitian ini, lebih jauh lagi dapat dijadikan referensi lebih lanjut memahami kasus maupun variabel yang serupa.

(26)

26

DPRK Educational Exchanges: Assesment and Future Strategy” yang ditulis oleh Gi-Wook Shin dan Karin J. Lee.25

Buku yang ditulis oleh Shin dan Lee ini menjelaskan bahwa meskipun terbatasnya hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Democratic People‘s Republic of Korea (DPRK) atau Korea Utara, Amerika Serikat terus berupaya untuk meningkatkan interaksi diantara kedua negara.26 Baik melalui akademisi Amerika Serikat, organisasi persahabatan maupun Non-Governmental Organization (NGO) untuk mengembangkan dan meningkatkan interaksi serta pertukaran pendidikan antara masyarakat di kedua negara tersebut.27

Tujuan dilakukannya pertukaran pendidikan antar kedua negara tersebut ialah untuk meningkatkan standar hidup yang berkelanjutan, mendorong hubungan yang damai serta terbuka dengan masyarakat internasional.28 Amerika Serikat berharap dengan melalui kontak person-to-person, dalam hal ini dengan program pertukaran pendidikan, akan memberikan kesempatan untuk masing-masing individu dalam memperoleh first-hand experience pada kehidupan masyarakat yang berbeda.29

Meskipun terdapat perbedaan pandangan politik, hubungan people-to-people melalui knowledge sharing akan lebih memungkinkan bagi kedua negara untuk tetap berhubungan. Hal ini dipercaya dapat membangun ikatan kepercayaan dan lebih familiar dengan dunia luar, yang mana akan menjadi penting sebagai fondasi

25

Gi-Wook Shin dan Karin J. Lee, U.S. – DPRK Educational Exchanges: Assesment and Future Strategy, (Stanford University: The Walter H. Shorenstein Asia-Pacific Research Center, 2011)

(27)

27

hubungan jangka panjang kedua negara untuk bekerjasama lebih lanjut dalam peningkatan hubungan politik. Penting bagi DPRK dalam melakukan transisi ekonomi dan masyarakat yang lebih terbuka, karena selama bertahun-tahun, Korea Utara telah dianggap sebagai negara yang paling tertutup dalam masyarakat internasional.30

Alasan penulis memilih penelitian Gi-Wook Shin dan Karin J. Lee sebagai studi terdahulu yang relevan dengan penelitian ini adalah kesamaan topik yang mengangkat Amerika Serikat sebagai pelaksana program pertukaran pendidikan dengan negara lainnya, dalam hal ini dengan DPRK/Korea Utara. Persamaan dengan karya yang ditulis oleh penulis ialah, Shin dan Lee melihat educational exchanges sebagai instrumen bagi Amerika Serikat dalam membangun serta meningkatkan interaksi diplomasi publik dengan DPRK.

Kemudian, distingsi atau jarak antara penulis dengan penelitian Shin dan Lee terletak pada ruang lingkup penelitian. Perbedaan pandangan politik Amerika Serikat dengan DPRK, menyebabkan Amerika Serikat berupaya untuk berbagi pengalaman, pemikiran, opini dan pengetahuan untuk kepentingan agenda politik negara adidaya tersebut pasca Perang Dunia II. Sedangkan pada penelitian penulis lebih berfokus pada upaya Amerika Serikat berbagi hal-hal yang telah disebutkan sebelumnya terhadap Indonesia guna memperbaiki hubungan dengan umat Muslim di tanah air pasca 9/11.

Selanjutnya, studi terdahulu kedua berasal dari paper yang ditulis oleh Melanie Ciolek yang berjudul “Understanding Social Media‘s Contribution to Public

30

(28)

28

Diplomacy: How Embassy Jakarta‘s Facebook Outreach Illuminates the Limitations and Potential for the State Department‘s Use of Social Media.”31

Penelitian yang dilakukan oleh Ciolek ini menjelaskan bahwa pihak Amerika Serikat melalui Kedutaan Besar (Kedubes)-nya yang berlokasi di Jakarta, telah memahami arus informasi yang semakin berkembang untuk mengembangkan strategi yang efektif dengan menggunakan Facebook dalam upaya diplomasi publik yang lebih besar.32 Diterangkan pula oleh Ciolek bahwa diplomasi publik termasuk upaya untuk melibatkan, menginformasikan dan mempengaruhi publik asing dalam rangka untuk mempromosikan pemahaman antar budaya dan mendorong dukungan bagi kebijakan AS.33 Platform media sosial seperti Facebook, Twitter, dan YouTube tidak merubah tujuan diplomasi publik, justru merupakan cara-cara baru untuk memfasilitasi keterlibatan dan dialog dengan khalayak dalam arus informasi berkembang.34

Kedubes Amerika Serikat menggunakan Facebook sebagai “force multiplier”

untuk program-program kebijakan luar negeri Amerika Serikat lainnya melalui kampanye media terpadu, yang akhirnya membangkitkan konten-konten baru bagi Facebook Kedubes tersebut.35 Seperti contohnya, dijelaskan konten tambahan

“Amerika-ku”, dokumentari tentang pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA)

Indonesia yang berpartisipasi dalam program pertukaran pelajar Youth Education and

31

Melanie Ciolek, U dersta di g “o ial Media’s Co tri utio to Public Diplomacy: How Embassy

Jakarta’s Fa e ook Outrea h Illu i ates the Li itatio s a d Pote tial for the “tate Depart e t’s Use

of Social Media, (USC Center Public Diplomacy at the Annenberg School, 2010)

(29)

29

Study (YES) di Amerika Serikat.36 Pengalaman para partisipan tersebut kemudian diteruskan dari link yang hanya di-post di Facebook menjadi program yang selanjutnya disiarkan ke channel-channel televisi nasional, yaitu: O‟Channel dan TVRI.37

Namun pada penelitian ini, Ciolek lebih banyak membahas dan berfokus pada penggunaaan media sosial ini sebagai sarana untuk meningkatkan antusiasme masyarakat Indonesia terkait kunjungan Presiden Obama dengan menggunakan kontes perlombaan sebagai dorongan untuk menarik pengguna mengunjungi akun Kedubes Amerika Serikat. Dimana pengguna Facebook dapat memenangkan hadiah produk-produk ternama buatan Amerika Serikat yang turut mengikutsertakan para peserta dalam interaksi dua arah mengenai visitasi Obama ke Indonesia. Interaksi seperti ini tentunya membangun komunitas yang mana berorientasi terhadap berbagai kesempatan online maupun offline untuk mengikutsertakan dalam dialog yang berkaitan dengan Amerika Serikat.

Alasan penulis memilih penelitian Melanie Ciolek sebagai studi terdahulu yang relevan dengan penelitian ini adalah kesamaan tipe topik, yaitu peningkatan citra positif. Persamaan dengan karya yang ditulis oleh penulis ialah, Ciolek melihat Facebook sebagai instrumen diplomasi publik Amerika Serikat ke Indonesia yang paling memberikan dampak positif dibandingkan sosial media lainnya, sedangkan penulis menaruh perhatian pada instrumen program pertukaran pelajar Amerika

36Op. cit. Melanie Ciolek, hal.9. 37

(30)

30

Serikat terhadap Indonesia sebagai amunisi terkait upaya diplomasi publik ke Indonesia.

Kemudian, distingsi atau jarak antara penulis dengan penelitian Ciolek terletak pada ruang lingkup penelitian. Ciolek berfokus pada upaya diplomasi publik Amerika Serikat terkait kunjungan yang akan dilakukan Presiden Obama pada saat ke Indonesia, sedangkan penulis lebih berfokus pada implementasi diplomasi publik dari Amerika Serikat ke Indonesia pasca 9/11.

Studi terdahulu yang ketiga, berasal dari artikel yang dibuat oleh Utpal Vyas yang berjudul “The Japan Foundation in China: An Agent of Japan's Soft Power?‖.38

Dalam penelitiannya, Vyas menganalisis dari aktivitas Japan Foundation sebagai agen level negara yang diawasi oleh Ministry of Foreign Affairs of Japan (MOFA) di Cina. Tujuan Japan Foundation adalah untuk meningkatkan pemahaman ke berbagai negara mengenai bangsa Jepang, meningkatkan mutual understanding, mendorong persahabatan dan goodwill antar negara internasional, serta secara efisien melaksanakan kegiatan pertukaran internasional, sehingga berkontribusi terhadap peningkatan budaya dunia dan kesejahteraan manusia.39

Diterangkan pula bahwa dalam penelitiannya, selama tiga puluh tahun terakhir di Cina, Japan Foundation telah berkonsentrasi secara khusus pada dorongan permintaan yang ada untuk belajar bahasa Jepang dan penelitian tentang Jepang.40

38

Utpal Vyas, The Japan Foundation in China: An Agent of Japan's Soft Power?, (Electronic Journal of Contemporary Japanese Studies, Article 5 in 2008), diambil dari sumber

<http://www.japanesestudies.org.uk/articles/2008/Vyas.html>, diakses pada tanggal 21 Januari 2014.

39Ibid. 40

(31)

31

Terkait dengan hal ini, yaitu dengan diadakannya pertukaran pelajar, pada siswa tertentu dan cendekiawan, serta dukungan untuk penerbitan buku pelajaran.41 Selain kegiatan utama, Japan Foundation juga telah memberikan dukungan untuk pameran, pertunjukan seni dan kegiatan media serta mengatur konferensi di Cina dan Jepang.42 Kegiatan ini berhubungan erat dengan cara utama instrumentalisasi soft power.

Vyas berasumsi bahwa jika negara mampu menambahkan soft power, dapat menjadikannya sebagai strategi jangka panjang untuk memungkinkan hubungan kedua negara tersebuut untuk terus tumbuh.43 Relevansi penelitian Vyas dengan penelitian ini terletak pada lingkup pemanfaatan dan pemberdayaan diplomasi publiknya melalui soft power. Dalam penelitiannya, Vyas menjadikan Jepang dan Cina sebagai pembelajaran tentang bagaimana memanfaatkan strategi diplomasinya tersebut melalui program pendidikannya.

Dari ketiga studi terdahulu diatas, maka research position dari penelitian ini terhadap studi terdahulu diatas adalah penelitian ini memanfaatkan diplomasi publik yang berkaitan dengan soft power resources sebagai amunisi bagi praktik diplomasi publik Amerika Serikat terhadap Indonesia, sedangkan penelitian Ciolek yang berjudul “Understanding Social Media‘s Contribution to Public Diplomacy: How

Embassy Jakarta‘s Facebook Outreach Illuminates the Limitations and Potential for the State Department‘s Use of Social Media‖ berfokus pada upaya diplomasi

Amerika Serikat melalui media sosial, khususnya Facebook saja.

41

Op. cit. Utpal Vyas.

42Ibid. 43

(32)

32

Kemudian dalam buku yang ditulis oleh Gi-Wook Shin dan Karin J. Lee yang berjudul “U.S. DPRK Educational Exchanges: Assesment and Future Strategy”

berupaya pada peningkatan hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dengan Korea Utara/DPRK melalui pertukaran pendidikan sebagai bridge-building hubungan kedua negara. Terlebih perbedaan pandangan politik Amerika Serikat dengan DPRK, sehingga Amerika Serikat berupaya untuk berbagi pengalaman, pemikiran, opini dan pengetahuan untuk kepentingan agenda politik negara adidaya tersebut pasca Perang Dunia II. Sedangkan pada penelitian yang ditulis oleh penulis lebih berfokus pada upaya Amerika Serikat berbagi hal-hal yang telah disebutkan sebelumnya terhadap Indonesia guna penyebaran paham memerangi terorisme pasca 9/11.

(33)

33 2.2 Perangkat Analisis

Perangkat analisis merupakan elemen-elemen yang diteliti untuk memperoleh hasil atau kesimpulan dari penelitian yang dilakukan. Dalam menentukan peringkat analisis yang digunakan dalam suatu penelitian, penulis diharuskan untuk mengetahui secara jelas unit analisa yang harus digunakan. Dalam penelitian ini penulis menggunakan penelitian deskriptif yang mana sangatlah penting dalam ilmu-ilmu sosial. Dari penelitian deskriptif, terutama bagi ilmu-ilmu sosial, banyak hal-hal yang nampaknya tidak penting, tetapi yang pada hakikatnya sangat berperan seperti nilai-nilai, dan sebagainya, yang dapat dideskripsikan dan tidak muncul dalam suatu penelitian eksplanasi.44

Dalam kajian tersebut tentunya penulis menyajikan fenomena yang digambarkan secara terperinci, yakni berupa kebijakan diplomasi publik yang dilakukan pihak Amerika Serikat terhadap Indonesia melalui pertukaran pelajar pasca peristiwa 9/11. Analisis yang dilakukan pada penelitian ini adalah analisis pada level tataran negara.

2.3 Kerangka Konseptual

Pemilihan konsep sangatlah krusial dalam melakukan analisis atas suatu kasus dalam ilmu sosial. Konsep yang dipilih akan digunakan untuk menelaah kasus yang dibahas secara empiris sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu sosial. Untuk menganalisis

44

(34)

34

kasus dalam penelitian ini, penulis menggunakan konsep Diplomasi Publik sebagai instrumen soft approach suatu negara terutama pada era globalisasi seperti sekarang ini.

2.3.1 Konsep Diplomasi Publik

Perkembangan zaman yang semakin kompleks, mencakup aktor, isu-isu dunia maupun teknologi informasi membuat pilihan-pilihan instrumen diplomasi pun menjadi beragam. Semakin berkembangnya hal-hal tersebut menyebabkan pergeseran diplomasi yang pada awalnya ialah diplomasi tradisional (government to government)45 menjadi diplomasi yang lebih modern, yang dapat disebut sebagai diplomasi publik. Konsep Diplomasi Publik pertama kali dikenalkan oleh Edward Murrow pada tahun 1963 sebagai salah satu cara untuk menangani pengaruh perilaku publik terhadap proses pengambilan serta pelaksanaan kebijakan luar negeri.46

Berikut ini beberapa definisi pengertian diplomasi publik, yang pertama menurut Gifford Malone, diplomasi publik adalah komunikasi langsung dengan publik asing dengan tujuan mempengaruhi pemikiran mereka dan pada akhirnya berpengaruh pula terhadap pemerintah mereka.47 Sedangkan menurut Hans Tuch, diplomasi publik merupakan proses pemerintah dalam berkomunikasi dengan publik

45

Philip Seib, ed., Toward A New Public Diplomacy; Redirecting US Foreign Policy, (United States of America, New York: Palgrave Macmillan, 2009), hal.233.

46

Nancy Snow dan Phillip M. Taylor, Routledge Handbook of Public Diplomacy, (New York & London: Routledge Taylor & Francis Group, 2009), hal. 19.

47 Gyorgi Szondi, Public Diplomacy and Nation Branding: Conceptual Similiraties and Differences, hal.

(35)

35

asing sebagai bentuk upaya untuk membawa pemahaman atas ide-ide dan cita-cita bangsa, institusi dan budayanya, serta tujuan dan kebijakan nasional.48

Kemudian Nicholas J. Cull berpendapat, diplomasi publik adalah proses sejak berakhirnya Perang Dingin, dimana aktor-aktor internasional berusaha untuk mencapai tujuan kebijakan luar negeri mereka dengan melibatkan publik asing.49 Menurut Howard H. Frederick, diplomasi publik merupakan kegiatan yang diarahkan langsung ke luar negeri dalam berbagai lingkup informasi, pendidikan maupun budaya, yang bertujuan untuk mempengaruhi pemerintah asing melalui warga negaranya.50

Menurut Signitzer dan Coombs, diplomasi publik adalah suatu cara bagi pemerintah, perusahaan maupun kelompok dalam mempengaruhi secara langsung atau tidak langsung sikap dan opini masyarakat yang berhubungan langsung dengan keputusan kebijakan luar negeri pemerintah negara lain.51 Sedangkan menurut Congressional Research Service Report 2009, istilah yang digunakan untuk mendesripsikan upaya pemerintah untuk melakukan kebijakan luar negeri dan

48

Anna Tiederman, U.S. Public Diplomacy in the Middle East: Lessons Learned from the Charlotte Beers Experience, diambil dari sumber

<http://usc.publicdiplomacy.org/pdfs/Anna_Tiedeman_Beers.pdf>, diakses pada tanggal 5 Desember 2013.

49

Nicholas J. Cull, Public Diplomacy: Taxonomies and Histories, (The Annals of the American Academy of Political and Social Science: Sage, 2008), hal. 31

50

Axel Heck dan Gabi Schlag, HumanitarianbyPi torial For e , (New York: Visual Representations and the Public Diplomacy Strategy of the European Union in Africa, 2009), Hal. 4

51

(36)

36

mempromosikan kepentingan nasionalnya, melalui direct outreach dan pengkomunikasian secara langsung dengan penduduk negara asing.52

Jika dalam diplomasi publik yang lama atau tradisional lebih menekankan kepada aktor pemerintahan saja. Berbeda dengan konsep diplomasi publik yang baru atau modern, dimana terdapat banyak aktor di luar pemerintahan yang justru lebih berperan besar dalam pembentukan image suatu negara. Pembedaan antara kedua jenis diplomasi tersebut dapat dilihat melalui tabel di bawah ini:

Tabel 1. Perbedaan Diplomasi

Diplomasi

Karakteristik Diplomasi tradisional Diplomasi modern Struktur First track diplomacy Second track diplomacy

Proses Tertutup (negara) Terbuka (multi aktor)

Agenda Isu tradisional (high

politic)

Isu kontemporer (low politic)

Sumber: John Baylis, 1998.53

Diplomasi publik dapat dikatakan sebagai instrumen dalam soft power yang berusaha untuk menarik perhatian publik melalui berbagai hal dalam bidang yang sangat potensial, baik melalui bidang broadcasting, pertukaran budaya maupun pertukaran pelajar.54 Karena diplomasi publik yang efektif ialah yang menggunakan pertukaran informasi secara dua arah.55 Melalui cara tersebut, tentunya dapat

52

H. Nakamura Kennon dan Matthew C. Weed, U.S. Public Diplomacy: Background and Current Issues, (Washington, D. C.: Congressional Research Service, December 18, 2009), hal.1.

53

John Baylis dan Steve Smith, The Globalization of World Politics; An Introduction to International Relations, (Oxford University Press, 1998), hal. 251-254.

54

Joseph S. Nye Jr, Public Diplomacy and Soft Power, (The Annals of the American Academy of Political and Social Science: Sage, 2008), hal. 94-95.

55

(37)

37

menciptakan pemahaman lebih baik yang berpengaruh terhadap opini publik serta dapat memberikan negara untuk menyebarkan nilai atau ideologi yang dimiliki ke negara-negara lainnya.56 Diplomasi publik sendiri merupakan salah satu cara yang dapat meningkatkan soft power suatu negara dan dapat memberikan proyeksi terhadap suatu ngera untuk merumuskan kebijakan luar negerinya.57

Pada diplomasi publik sendiri memiliki 3 dimensi penting dalam penerapannya tersebut. Pertama adalah daily communications atau komunikasi rutin, bagaimana pemerintah mengelola informasi yang ada di dalam negeri, mana yang diperbolehkan dan mana yang tidak diperbolehkan untuk diedarkan ke publik maupun ke luar negara.58 Sehingga, dapat dikatakan bahwa hal ini menjelaskan proses bagaimana aktor-aktor negara dalam negeri berperan untuk melihat informasi dari berbagai sisi guna membuat strategi dalam menginformasikan isu-isu utama mengenai negaranya ke dunia luar.59

Selanjutnya, dimensi yang kedua yaitu, strategic communications atau komunikasi strategis. Strategic communications sendiri ialah membangun theme caption kebijakan khusus pemerintah untuk diinformasikan ke masyarakat luar negara.60 Tujuan strategic communications adalah untuk menanamkan atau

56

Op. cit. Nye, Public Diplomacy and Soft Power.

57

Toshiya Nakamura, Ph. D., Soft Power and Public Diplomacy: How Cool Japan Will Be, (Brisbane: 2011)

58

Op. cit. Nye, hal 101.

59

Mark Leonard, Catherine Stead dan Conrad Smewing, Public Diplomacy, (London: The Foreign Policy Centre, 2002), hal.12.

60

(38)

38

membentuk nilai-nilai atau pesan yang ingin disampaikan dapat dimaksimalkan dan meminimalisir persepsi pesan negatif yang telah beredar pada target yang dituju.61

Kemudian dimensi yang terakhir yakni, development of lasting relationships atau pembangunan hubungan yang berkesinambungan. Negara melakukan berbagai macam program dengan elit-elit melalui pertukaran pelajaran, seminar, pelatihan maupun konferensi, untuk membangun jaringan hubungan secara nyata.62 Terdapat pernyataan bahwa “Actions speak louder than words”63, yang menjelaskan bahwa

tanpa aksi yang nyata, negara tidak akan bisa menjalankan diplomasi publiknya. Tentunya jika dikaitkan dengan penelitian ini, aksi Amerika Serikat dilakukan dengan mengakses serta menggerakkan masyarakat Indonesia untuk turut berpartisipasi secara nyata dalam program pertukaran pelajar, yakni program YES yang diadakan oleh Amerika Serikat. Tujuannya tentu saja, agar dapat terus meningkatkan pembangunan hubungan jangka panjang dengan Indonesia, peningkatan nation branding maupun restorasi hubungan dengan umat Muslim Indonesia pasca peristiwa 9/11.

Contoh penggunaan dari ketiga dimensi tersebut, pertama-tama dari daily communications, seperti pada penggunaan aktif media jejaring sosial melalui akun Twitter yang dimiliki oleh Presiden Amerika Serikat, Barrack Obama. Contoh dari dimensi kedua, yaitu strategic communications ialah „Shared Values Initiative yang

61

Stanley A. Renshon, ed., The Political Psychology of The Gulf War: Leaders, Publics, and The Process of Conflict, (Pittsburgh: University of Pittsburgh Press, 1993).

62

Op. cit. Leonard, hal. 18

63 Joseph S. Nye J., Soft Power: The Means to Success in World Politics, (New York: Public Affairs,

(39)

39

dikampanyekan pasca peristiwa 9/11 oleh Charlotte Beers.64 „Shared Values Initiative' dikampanyekan melalui iklan audio visual hingga iklan di media massa.65 Dimana dalam iklan-iklan tersebut, menggambarkan kehidupan masyarakat Muslim Amerika yang hidup bahagia serta damai di Amerika Serikat.66 Kemudian Korea Selatan dengan Gastrodiplomacy, yang mana pemerintah Korea Selatan gencar melakukan diplomasi publik melalui makanan khas Korea.67

Selanjutnya, contoh terakhir pada dimensi development of lasting relationship seperti pada penjelasan penulis sebelumnya, mengenai implementasi nyata pada program pertukaran pelajar hingga aktivitas-aktivitas pendukung lainnya. Seperti pada halnya dalam kegiatan program pertukaran pelajar J. William Fulbright yang dilakukan oleh Amerika Serikat sejak tahun 1961.68 Dimana exchange programs atau program pertukaran pelajar termasuk dalam dimensi diplomasi publik development of lasting relationship ini. Kemudian, simposium yang diadakan pada tahun 1999 oleh Lawrence dan Samuel Huntington dengan mengundang para akademisi papan atas

64

Study Shows Advertising Can Affect Attitudes About America; Controversial Campaign by Charlotte Beers Shown Effective In Experiment, diambil dari sumber

<http://www.publicdiplomacy.org/32.htm>, diakses pada tanggal 13 November 2014.

65

Ibid.

66

Ibid.

67

Public Diplomacy Magazine: Gastrodiplomacy, diambil dari sumber

<http://publicdiplomacymagazine.com/wp-content/uploads/2014/02/GASTRODIPLOMACY-PDF.pdf>, diakses pada tanggal 16 November 2014, hal. 29.

68

J. William Fulbright Foreign Scholarship Board (FFSB), diambil dari sumber

(40)

40

untuk menganalisis seberapa penting peran budaya sebagai kesuksesan pembangunan ekonomi hingga demokrasi politik di suatu negara.69

Penerapan pertukaran pelajar sebagai sarana diplomasi publik pun diimplementasikan dalam hubungan bilateral Perancis dan Jerman tahun 1945 hingga tahun 1988.70 Kurang lebih selama kurun 43 tahun tersebut, Perancis dan Jerman berusaha melakukan rekonsiliasi sebagai agenda pokok negara mereka. Untuk menciptakan pemahaman antara kedua negara, maka dilakukan proses diplomasi publik dengan cara melalui pertukaran individu. Program pertukaran pelajar dinilai sebagai sarana yang paling tepat dalam penggunaan pertukaran individu tersebut.

Dengan memegang prinsip mutual understanding dalam diplomasi publik, menurut Nicholas J. Cull, aspek sumber diplomasi publik terbagi dalam 5 (lima) bagian. Berikut tabel taksonomi diplomasi publik tersebut:

Tabel 2. Taxonomy of Time/Flow of Information/Infrastructure in Public Diplomacy71

Type of Public

Diplomacy Time Frame Flow of Information

Typical

Jeffrie Geovanie, The Pluralism Project: Potret Pemilu, Demokrasi, dan Islam di Amerika, (Bandung: Mizan Media Utama, 2013), hal. 197.

70Op.cit. Nancy Snow. 71

(41)

41

Long term Proximity to cultural authorities

Cultural center and/or library 4. Exchange

Diplomacy

Very long term Perception of mutuality

(42)

42

pikiran publik asing. Namun, utilitas jangka pendek atas elemen ini seringkali menyebabkan banyak persepsi yang tidak diharapkan dari diplomasi publik itu sendiri.

Lalu, elemen ketiga ialah cultural diplomacy, merupakan upaya aktor untuk mengelola lingkungan internasional melalui pembuatan cultural resources dan pencapaian prestasi yang dikenal hingga mancanegara maupun memfasilitasi cultural transmission ke luar negeri. Tergolong akan berdampak cukup lama dalam diplomasi publik, karena dapat dikatakan juga bahwa culural diplomacy merupakan kebijakan suatu negara untuk memfasilitasi ekspor jenis-jenis budayanya.

Kemudian elemen keempat yang merupakan penulis ambil lebih dalam lagi sebagai kajian penelitian, yaitu exchange diplomacy. Elemen ini merupakan upaya untuk mengelola lingkungan internasional dengan cara mengirimkan warga negaranya ataupun sebaliknya untuk studi atau akulturasi dalam jangka waktu yang telah ditentukan. Unsur resiprokal atau timbal balik cenderung membuat elemen ini sebagai dasar konsep ―mutuality‖ yang terdapat dalam diplomasi publik. Mutuality disini dapat diartikan sebagai visi dari pengalaman pendidikan internasional, dimana kedua belah pihak saling memperoleh manfaat serta mulai merubah cara pandang dan berfikirnya.

(43)

43

tumpang tindih dengan elemen diplomasi publik lainnya dan hanya bersifat medium-term dalam utilitasnya.

Dari penjelasan diatas, penulis memilih bahwa melalui exchange diplomacy yang memiliki dampak positif dalam rentang waktu yang sangat lama dibandingkan dengan keempat elemen diplomasi publik lainnya. Sehingga dalam penelitian ini, exchange memberikan kontribusi dalam penerapan development of lasting relationship yang digunakan oleh Amerika Setikat pasca peristiwa 9/11. Aspek ini, memberikan dorongan untuk tercapainya diplomasi publik suatu negara. Sehingga negara dapat mengkomunikasikan informasi secara langsung, baik ke dalam maupun ke luar, serta meningkatkan perception of mutuality antar negara yang terkait.

2.4 Operasionalisasi Konsep

Dalam melakukan analisis terhadap suatu kasus hubungan internasional, peneliti harus mampu mengoperasionalisasikan teori dan konsep yang telah dipilih guna memperoleh hasil yang empiris. Operasionalisasi konsep yang salah akan menyebabkan tidak teraturnya analisis dalam penelitian yang dilakukan dan menjadikan kesimpulan yang didapatkan tidak bisa diuji validitasnya.72 Pada sub bab ini, penulis akan menghubungkan konsep yang dipilih untuk membuat suatu rancangan analisis yang akan digunakan dalam melakukan penelitian ini.

72Mohtar Mas’oed, Ilmu Hubungan Internasional: Disiplin dan Metodologi, (Yogyakarta: LP3S, 1990),

(44)

44

Studi Hubungan Internasional bersifat multi-disiplin, dengan artian terdapat banyak ilmu pengetahuan lain yang dapat diaplikasikan untuk memahami fenomena hubungan internasional. Berdasarkan pertimbangan tersebut, penulis memutuskan untuk menggunakan konsep diplomasi publik, mengingat bahwa terdapat berbagai aktor yang berperan dalam kegiatan diplomasi publik itu sendiri.

Diplomasi publik agar berjalan secara efektif dan maksimal, harus diterapkan melalui komunikasi secara dua arah (two-way street) yang mana memasukkan unsur listening sama halnya dengan talking.73 Komunikasi dua arah ini dilakukan agar negara yang menerapkan diplomasi publiknya, dapat memahami lebih baik apa yang sebenarnya ada pada pemikiran masyarakat asing mengenai negaranya, sehingga dapat mengimplementasikannya secara tepat dan efektif. Dalam penelitian ini memaparkan bagaimana program pertukaran pelajar YES dilakukan sebagai salah satu instrumen bagi Amerika Serikat menerapkan diplomasi publiknya secara komunikasi dua arah pula. Sehingga program pertukaran pelajar YES dapat dikatakan efektif sebagai salah satu katalisator amunisi diplomasi publik Amerika Serikat pasca peristiwa 9/11 ke Indonesia.

Budaya merupakan salah satu sumber daya soft power yang dapat digunakan oleh negara. Dimana budaya dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu: high culture yang terdapat pada bidang kesusastraan, seni hingga pendidikan yang ditujukan bagi kaum elit (atau tidak semua orang mendapatkannya) dan popular culture yang

73

(45)

45

memiliki sasarannya ialah masyarakat umum melalui mass entertainment.74 Pada penelitian ini dapat dikategorikan ke dalam bagian high culture dimana Amerika Serikat menggunakan program pertukaran pelajar YES yang memiliki seleksi ketat sehingga tidak semua orang dapat menerima beasiswa tersebut.

Globalisasi yang terbentuk di dunia ini pun tidak terlepas dari peran budaya yang diciptakan oleh negara, sedangkan globalisasi sendiri dapat mempengaruhi jutaan orang, tempat atau organisasi dimana mereka bekerja hingga komunitas masyarakat sekitar mereka tinggal.75 Sehingga dapat dikatakan bahwa budaya merupakan aset penting bagi suatu negara dalam mengimplementasikan diplomasi publiknya. Penyebaran nilai budaya yang dilakukan Amerika Serikat ke Indonesia pasca peristiwa 9/11 yang mana salah satunya melalui program pertukaran pelajar YES pun turut berkontribusi dalam penyebaran nilai budaya yang dimiliki oleh Amerika Serikat sendiri.

Dimana exchange programs atau program pertukaran pelajar termasuk dalam salah satu dari tiga dimensi diplomasi publik yang telah dijelaskan penulis sebelumnya. Pada penelitian ini juga akan melihat bagaimana perkembangan program YES sebagai salah satu instrumen diplomasi publik Amerika Serikat pasca peristiwa 9/11 di Indonesia dan dampak apa yang ditimbulkan setelah program tersebut diterapkan ke Indonesia. Berikut penulis paparkan pula bagan kerangka pemikiran atas karya tulis ini:

74

Op. cit. Nye, Public Diplomacy and Soft Power, hal. 96.

75 Helmut K. Anheier dan Yudhishthir Raj Isar, The Cultures And Globalization Series 1: Conflicts and

(46)

46

Bagan 1. Alur Pemikiran Penelitian

Peristiwa 9/11

Image Amerika Serikat Menurun

Diplomasi Publik

Output:

- Citra Amerika Serikat - Indonesia Memandang

Amerika Serikat

- Pertukaran Nilai Maupun Kebudayaan Melalui Bidang Pendidikan Program pertukaran

pelajar YES sebagai program exchange yang memperkuat development

of lasting relationships. Development Of

Lasting Relationships

Strategic Communications

(47)

47 2.5 Argumentasi Utama

(48)

48 BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Dalam mencapai kesimpulan dari penelitian ini, penulis menggunakan jenis penelitian yang bersifat deskriptif. Alasan pemilihan penelitian jenis ini adalah didasari oleh penelitian ini sendiri yang lebih banyak mengkaji mengenai implementasi salah satu instrumen diplomasi publik Amerika Serikat. Sehingga akan lebih tepat apabila yang digunakan adalah penelitian kualitatif untuk menjelaskan dan mengkaitkan fakta yang terjadi berdasarkan fenomena yang ada. Jenis penelitian ini diharapkan mampu membantu penulis dalam memahami fenomena yang dibahas dalam penelitian ini.

3.2 Ruang Lingkup Penelitian

(49)

49 3.3 Teknik Pengumpulan Data

Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat kualitatif, dalam artian tidak menggunakan indikator yang bersifat numerik untuk menjelaskan fenomena ataupun menarik kesimpulan dari penelitian. Sekalipun ada hasil survey dan statistik yang digunakan dalam penelitian ini, pada akhirnya hasil tersebut akan digunakan untuk menjelaskan fenomena yang ada secara kualitatif. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan data kepustakaan yang mana penulis gunakan dengan memadukan data berupa studi-studi terdahulu tentang kasus yang relevan dengan kasus yang dibahas oleh penulis dan beberapa data kualitatif yang dipakai penulis untuk menarik kesimpulan dari hasil penelitian ini.

(50)

50 3.4 Teknik Analisa Data

Setelah data-data dikumpulkan dan diseleksi, penulis kemudian melakukan analisis yang bersifat kualitatif. Analisis kualitatif digunakan bukan untuk mencari kebenaran absolut yang dapat disimpulkan dari penelitian kuantitatif melalui data yang bersifat numerik, namun analisis ini digunakan untuk mencari pemahaman tentang masalah yang diangkat. Teknik analisa data yang dipergunakan merupakan teknik analisa yang bersifat non statistik. Hal ini menyebabkan berbagai macam data yang diperoleh baik data berupa tabel ataupun grafik angka, akan diuraikan kedalam bentuk paragraf dan kalimat yang sistematis. Terdapat beberapa tahapan yang dilakukan agar memperoleh hasil yang sistematis tersebut. Tahapan-tahapan tersebut adalah klasifikasi data, mereduksi dan memberikan interpretasi pada data yang telah diseleksi dengan berdasar pada konsep yang digunakan.

3.5 Metode Penulisan

Penelitian kali ini akan disusun kedalam lima bab yang sistematika penulisannya akan digambarkan dibawah ini:

1. Bab I Pendahuluan, yang berisikan latar belakang masalah,

rumusan masalah serta tujuan dan manfaat penelitian.

2. Bab II Kerangka Pemikiran, bab ini berisikan tentang

(51)

51

yang berfungsi sebagai acuan dalam melakukan penelitian, kerangka teoritis berupa penjelasan tentang konsep yang digunakan oleh penulis yaitu konsep diplomasi publik, operasionalisasi konsep yang digunakan, dan perumusan argumentasi utama yang masih akan diuji kebenarannya. 3. Bab III Metode Penelitian, bab ini menerangkan alur

penelitian yang akan digunakan mencakup jenis penelitian, ruang lingkup penelitian, teknis pengumpulan dan analisis data, serta sistematika penulisan.

4. Bab IV Pembahasan dan Hasil Data, menjelaskan tentang

pengkajian data yang menguraikan tentang operasionalisasi dari konsep diplomasi publik atas adanya pengimplementasian development of lasting relationship diplomasi publik Amerika Serikat pasca peristiwa 9/11 melalui program pertukaran pelajar yang dinamakan The Kennedy-Lugar Youth Exchange and Study (YES) ke Indonesia. Di bab ini pula, dipaparkan hasil analisis penulis terhadap kasus yang diangkat dengan menggunakan konsep yang dipakai.

5. Bab V Kesimpulan dan Saran, menjelaskan tentang

(52)

52

(53)

53 BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Sejarah 9/11

Dalam meneliti pengaruh dari kebijakan diplomasi publik Amerika Serikat pasca peristiwa 9/11 melalui pertukaran pelajar, penting untuk mengetahui proses peristiwa 9/11 dan dampak yang diimbulkan pasca peristiwa tersebut. Perhatian terhadap dunia Muslim yang dilakukan oleh Amerika Serikat, menjadikannya sebagai salah satu amunisi diplomasi publik Amerika Serikat termasuk dalam memperbaiki kondisi hubungannya dengan masyarakat Indonesia. Bab ini akan membahas tentang proses perubahan image yang terjadi pada Amerika Serikat serta implementasinya di Indonesia. Bab ini juga sekaligus akan menjadi pengantar dalam memahami pengaruh yang ditimbulkan antara masyarakat Amerika Serikat dengan masyarakat Indonesia melalui diplomasi publik yang diimplementasikan.

4.1.1 Peristiwa 9/11 yang Terjadi di Amerika Serikat

(54)

54

3000 orang.76 Sejumlah empat pesawat dibajak oleh para anggota militan Al-Qaeda dalam peristiwa peledakan gedung WTC dan Pentagon di Amerika Serikat.77 Gedung WTC ditabrak oleh dua pesawat, sedangkan satu pesawat ditabrakkan ke gedung Pentagon dan satu pesawat lainnya jatuh ke lapangan Pennsylvania.78

Gambar 1. Peristiwa 9/11 - Serangan Gedung WTC

Pasca peristiwa tersebut, perhatian Amerika Serikat terhadap dunia Muslim pun meningkat. Hal ini ditunjukkan pula dengan meningkatnya jumlah berita maupun artikel khusus yang membahas mengenai dunia Muslim sebanyak tujuh kali dibandingkan sebelum peristiwa 9/11.79 Terlebih perbedaan sudut pandang yang terjadi pada penduduk Muslim dunia dengan

76

9/11 Attacks, diambil dari sumber <http://www.history.com/topics/9-11-attacks>, diakses pada tanggal 16 November 2014.

77

Ibid.

78Ibid. 79

(55)

55

masyarakat Amerika Serikat setelah dikeluarkannya kebijakan Global War On Terrorism (GWOT).

Seperti yang telah penulis bahas di latar belakang, bahwa pasca peristiwa 9/11, isu terorisme telah menjadi agenda utama negara Amerika Serikat. Tidak hanya pada era Bush saja, pada era kepemimpinan Obama pun terorisme tetap menjadi isu penting yang tidak boleh lepas untuk ditangani. Dalam memberantas terorisme secara luas dan bertahan lama, tentu saja dibutuhkan proses waktu yang tidak sebentar dan dukungan dari masyarakat dunia. Strategi diplomasi publik yang dipergunakan oleh Amerika Serikat akan menarik simpatik dari masyarakat internasional lebih luas.80

Perbedaan nilai dan cara pandang antara penduduk Muslim dengan penduduk Westerners juga turut menyebabkan Amerika Serikat berusaha memperbaiki hubungan antar kedua belah pihak.81 Proses rekonsiliasi yang dilakukan tersebut, tentunya membutuhkan waktu yang lama bukan hanya dalam hitungan tahun saja.82 Pendekatan demi pendekatan yang dilakukan oleh Amerika Serikat terhadap dunia Muslim, berfungsi pula untuk

80

Joseph Nye, America Needs To Use Soft Power, diambil dari sumber

<http://search.proquest.com/docview/249527755?accountid=46437>, diakses pada tanggal 8 Februari 2014, hal.4.

81

John L. Espito, The Future of Islam and U.S. – Muslim Relations, diambil dari sumber <http://search.proquest.com/docview/902754304?accountid=46437>, diakses pada tanggal 8 Februari 2014, hal.4.

82

(56)

56

menentukan pengambilan arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat kedepannya.83

Begitu pentingnya diplomasi publik bagi Amerika Serikat, berkaitan dengan penelitian ini, Amerika Serikat menggunakan diplomasi publiknya melalui pengimplementasian development of lasting relationship-nya. Dimana pasca 9/11 dikeluarkan program pertukaran pelajar yang khusus ditujukan bagi negara-negara Muslim di dunia, termasuk Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbanyak. Mengenai program tersebut, akan dijelaskan oleh penulis pada sub bab lainnya.

4.2 Citra Amerika Serikat

4.2.1 Image Amerika Serikat Pasca Peristiwa 9/11 ke Indonesia

Berangkat dari kebijakan ―Global War On Terrorism‖ (GWOT) yang dikemukakan oleh George W. Bush Jr. menyebabkan perbedaan sudut pandang antara masyarakat Muslim di dunia dengan masyarakat Westerners. Umat Muslim di dunia menganggap bahwa war on terrorism merupakan war on Islam.84 Hal ini diperkuat pula dengan misunderstanding yang sering terjadi antara umat Muslim dengan kebijakan yang dikeluarkan olah para petinggi Amerika Serikat.

83

Op. cit. John L. Espito, hal. 20.

(57)

57

Many Muslims say they find the style and tone of communication often used by senior U.S. officials arrogant, patronizing, and needlessly confrontational. Unfortunately, they are right.‖85

Kutipan diatas menunjukkan bahwa banyak umat Muslim yang memiliki persepsi negatif atas statement yang telah dikeluarkan oleh aktor-aktor senior pemerintahan Amerika Serikat. Sedangkan pilar utama yang harus dibangun Amerika Serikat agar dapat meyukseskan GWOT-nya ialah dengan membangun citra Amerika Serikat di mata masyarakat internasional dunia. Untuk menopang pilar ini, Amerika Serikat harus fokus terhadap hubungannya dengan dunia Muslim.86 Kebijakan luar negeri yang dikeluarkan Amerika Serikat pun dapat dikatakan sukses tidak terlepas dari bagaimana Amerika Serikat dapat bekerja sama dengan negara lain serta bagaimana upayanya dalam membentuk persepsi yang ditimbulkan oleh masyarakat asing.87

Peran masyarakat asing sangatlah penting bagi suatu negara, mengingat bahwa suatu negara dapat memperoleh hasil yang ingin didapatkan. Hal tersebut diperoleh melalui diplomasi publik dengan cara negara lain mengagumi kemudian ingin mengikuti nilai-nilai negara yang dikaguminya, sehingga mereka menirunya untuk diterapkan.88 Soft power sendiri merupakan kemampuan dalam mempengaruhi orang lain agar

Figur

Tabel 1. Perbedaan Diplomasi
Tabel 1 Perbedaan Diplomasi . View in document p.36
Tabel 2. Taxonomy of Time/Flow of Information/Infrastructure in Public
Tabel 2 Taxonomy of Time Flow of Information Infrastructure in Public . View in document p.40
Gambar 1. Peristiwa 9/11 - Serangan Gedung WTC
Gambar 1 Peristiwa 9 11 Serangan Gedung WTC . View in document p.54
Grafik 1. Favorability Views Indonesia terhadap Amerika Serikat Sebelum
Grafik 1 Favorability Views Indonesia terhadap Amerika Serikat Sebelum . View in document p.59
Grafik 2. Favorability Views Indonesia Terhadap Amerika Serikat Setelah
Grafik 2 Favorability Views Indonesia Terhadap Amerika Serikat Setelah . View in document p.60
Grafik 3. Jumlah Siswa Asing yang Datang ke Amerika Serikat Pasca Peristiwa 9/11128
Grafik 3 Jumlah Siswa Asing yang Datang ke Amerika Serikat Pasca Peristiwa 9 11128. View in document p.72
Tabel 3. Fourth Joint Commission Meeting Amerika Serikat dan Indonesia141
Tabel 3 Fourth Joint Commission Meeting Amerika Serikat dan Indonesia141. View in document p.77

Referensi

Memperbarui...