• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ta’wil sufi Al-Ghazali dan Ibn ‘Arabi terhadap ayat-ayat al-qur’an : studi komparatif.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Ta’wil sufi Al-Ghazali dan Ibn ‘Arabi terhadap ayat-ayat al-qur’an : studi komparatif."

Copied!
127
0
0

Teks penuh

(1)

TA’WI>L SUFI AL-GHAZALI DAN IBN ‘ARABI> TERHADAP

AYAT-AYAT AL-QUR’AN

(Studi Komparatif)

Tesis

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Magister dalam

Program Studi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir

Oleh:

WAHYUDI F02515130

PASCASARJANA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)

Abstraks

Dalam perkembangan tafsir al-Qur’an ditemui suatu moment tradisi

penafsiran al-Qur’an bersinggungan dengan tradisi tasawwuf. Persinggungan ini

kemudian memunculkan dua aliran tasawuf, sunny dan naz}ari. Persinggungan ini

melahirkan ittijah penafsiran al-Qur’an khas kaum sufi yang biasa dikenal dengan

tafsir sufi. Corak tafsir sufistik ini cukup kontroversial dan kurang mendapatkan atensi (little-studied genre), namun corak ini telah diakui sebagai corak tafsir yang berdiri sendiri secara utuh. Di kalangan tokoh tafsir sufi, muncul nama Abu

Hamid al-Ghaza>li> representatif sufi sunni dan Ibn ‘Arabi>> sufi naz}ari. Keduanya

menggunakan metode ta’wi>l dalam menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an. Merupakan

hal yang menarik untuk dikaji, perihal epistemologi ta’wi>l keduanya, titik

temunya, dan perbedaannya serta mengetahuai posisi bangunan ta’wil mereka

dalam epistemologi, baya>ni, ‘irfa>ni dan burha>ni.

Epistemologi ta’wil al-Ghaza>li> dan Ibn ‘Arabi dibangun atas dasar

dikotomis zahir dan batinn al-Qur’an. Dari sini al-Ghaza>li membuat tingkatan

ilmu al-Qur’an menjadi al-s}adaf dan ilmu al-lub>ab. Dikotomi ini merupakan

sistematika membumbung dari partikuar ke universal dan dari bunyi ke makna.

Jalan untuk menuju ke sana adalah suluk. Sedang dalam perspektif Ibnu ‘Arabi

kala>m terdapat dua tingkatan, kala>m yang tidak perlu substansi (medium yang dipakai untuk mengungkapkan bahasa), dan kala>m yang terikat dengan substansi. Ilmu dapat diperoleh melalui kala>m esesnsial. Adapun kala>m yang terikat dengan substansi hanya melahirkan pemahaman (al-fahm) semata. Untuk menembus

makna batin diperlukan semacam ‚kepolosan‛ (ummy) sebagaimana yang

dimiliki oleh Nabi agar mampu menembus dan menangkap makna-makna hakiki dari firman-Nya dengan menanamkan taqwa. Dalam timbangan epistemologi,

al-Ghazali menggunakan kolaborasi baya>ni dan ‘irfa>ni. Sementara Ibn ‘Arabi

menggunakan burha>ni dan ‘irfa>ni.

Kata kunci : ta’wi>l, ilm al-s}adaf, ilm al-luba>b, baya>ni, burha>ni, irfa>ni.

(9)

DAFTAR ISI

SAMPUL DALAM ... i

PERNYATAAN KEASLIAN ... ii

HALAMAN PERSETUJUAN ... iii

HALAMAN PENGESAHAN TIM PENGUJI ... iv

MOTTO ... v

PERSEMBAHAN ... vi

UCAPAN TERIMA KASIH ... vii

PEDOMAN TRANSLITERASI ... viii

ABSTRAK ... xi

DAFTAR ISI ... xii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi dan Batasan Masalah ... 6

C. Rumusan Masalah ... 7

D. Tujuan Penelitian ... 7

E. Manfaat Penelitian ... 7

F. Kerangka Teori ... 8

G. Penelitian Terdahulu ... 13

H. Metode Penelitian ... 16

I. Sistematika Penulisan ... 19

BAB II TAFSIR SUFI DAN PARADIGMANYA A. Karakteristik Tafsir Sufi ... 21

1. Menggunakan Metode Ta’wi>l ... 23

(10)

3. Dilakukan oleh Arba>b sulu>k/sufi... 36

B. Asumsi dan Paradigma Tafsir Sufi ... 42

C. Tafsir Sufi Dalam Epistemologi Nalar Arab ... 45

BAB III RIWAYAT HIDUP AL-GHAZA>LI> DAN IBN ‘ARABI> A. Setting Sosio-Histori dan Karir Intelektual ... 48

1. Al-Ghaza>li ... 48

2. Ibn ‘Arabi> ... 56

B. Pemikiran Al-Ghaza>li dan Ibn ‘Arabi> tentang al-Qur’an ... 63

C. Bangunan epistemologi ta’wi>l al-Ghaza>li> dan Ibn ‘Arabi> ... 68

BAB IV ANALISIS EPISTEMOLOGI TA’WI>>L AL-GHAZA>LI> DAN IBN ‘ARABI> A. Komparasi Epistemologi Tafsir al-Ghazali dan Ibn ‘Arabi> ... 85

1. Tidak Mengingkari z{ahir ayat ... 86

2. Mengakui Penafsiran yang bersumber dari intuisi ... 91

B. Posisi bangunan epistemologi al-Ghaza>li dan Ibn ‘Arabi> dalam perspektif epistemologi burhani, bayani dan ‘irfani> ... 96

BAB V PENUTUP C. Simpulan ... 108

D. Saran ... 109

(11)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam al-Naba>’ al-‘Az}i>m, Abdullah Dara>z mengibaratkan al-Qur’an

dengan batu intan yang setiap sudutnya memancarkan cahaya berbeda.1 Dengan

demikian al-Qur’an merupakan kitab suci yang memiliki muatan multi

-perspektif. Pada gilirannya, dalam perkembangan tafsir al-Qur’an ditemui suatu

moment tradisi penafsiran al-Qur’an bersinggungan dengan tradisi tasawwuf.

Hasil dari persinggungan ini melahirkan ittijah penafsiran al-Qur’an khas kaum

sufi yang biasa dikenal dengan tafsir sufi atau sufistik.

Tradisi sufi yang muncul di Islam menurut Ignaz Goldziher bukan berasal

dari ajaran Islam. Berdasarkan asumsinya tradisi sufisme dalam Islam

berlangsung secara gradual. Pertama gerakan ini muncul sebagai sikap zuhud

secara total dan menjauhi kehidupan dunia. Selanjutnya terpengaruh pemikiran

emanasi yang populer di kalangan neo-platonisme dan akhirnya sampai pada

perasaan (emosi) yang naik ke atas dan berujung pada perasaan rindu kepada

Allah. Ignaz juga beranggapan bahwa ajaran sufisme tidak bersumber dari

al-Qur’an tetapi sumber rujukan dari sufisme adalah paham emanasi

Neo-Platonisme. Munculnya tafsir-tafsir al-Qur’an yang bercorak sufi merupakan

upaya para pelaku sufi untuk mencari legitimasi kebenaran atas paham sufi yang

(12)

2

dianutnya. Meskipun menurut Ignaz proses pencarian pembenaran ini tidaklah

mudah.2

Berbeda dengan Ignaz yang menyatakan bahwa tafsir sufi merupakan

hasil olah pikir kaum sufi guna mencari justifikasi kebenaran pemikirannya,

Massignon seorang pengkaji Islam asal Prancis menyatakan bahwa sumber utama

tafsir sufi adalah riya>d}ah dan laku spiritual. Pengetahuan dalam perspektif

tasawuf adalah limpahan ilahiyah (al-fayd} al-Ilahiyyah) yang bersifat

transendental, diturunkan kepada jiwa manusia sesuai dengan tingkatan dan

kesiapan jiwa mereka.3 Dalam hal ini para sufi membangun teori maqa>ma>t dan

ah}wa>l, yang menyatakan bahwa jiwa manusia memiliki maqa>m-maqa>m (check

points) yang didaki satu persatu untuk mencapai ma’rifat.4

Menurut H}usayn al-Dha>haby, kontak teks al-Qur’an dengan sufisme

berlangsung dalam aktifitas exegenis dan eisegesis sekaligus. Hal ini didasarkan

pada pembagian tasawuf menjadi dua ragam, yakni tasawuf naz}ari (teoritis) dan

tasawuf amali (praktis). 5

Pendapat ini didukung oleh penjelasan Abu> al-Wafa> al-Taftaza>ni6 yang

menyebutkan ada dua varian orientasi sufisme yang berkembang mulai abad ke-3

dan 4 Hijriyah ketika status sufisme bergeser dari praktek asketis murni kepada

2Ignaz Goldziher, Madha>hib al-Tafsi>r al-Isla>my, Terj. ‘Abd al-H}ali>m al-Najja>r (Kairo: Maktabah

al-Kha>nja>, 1955), 201.

3Louis Massignon dan Muhammad ‘Abd al-Ra>zaq, al-Tas}awwuf (Beirut: Da>r al-Kitab al-Lubnani,

1984), 55.

4Annemarie Schimmel, Mystical Dimensions of Islam (Chapel Hill : The University of North

Carolina Press, 1975), 98.

5Husayn al-Dhaha>by, al-Tafsi>r wa al-Munfasiru>n, Vol II (t.t. : Maktabah Mus}’ab bin ‘Amr

al-Islamiyah, 2004), 82.

(13)

3

wacana keilmuan yang terkodifikasi. Orientasi pertama adalah aliran tasawuf

moderat (mu’tadilu>n) yang melandasi doktrinya dengan konfirmasi kepada teks

atau ajaran al-Qur’an dan sunah. Aliran ini selanjutnya dikenal dengan tasawuf

sunny karena para pengikut tasawuf ini berasal dari golongan ahl al-sunnah wa

al-jama’ah atau disebut tasawuf akhla>qy, karena didominasi dengan karakteristik

moralitas. Salah satu perwakilan aliran ini adalah Junayd al-Baghda>dy (w. 298

H). Selanjutnya orientasi ini terus berkembang di abad ke-5 H dengan

al-Qushayry (w. 465 H) dan al-Ghaza>li (w. 505 H).

Orientasi tasawauf lainnya adalah aliran semi-filosofis (shibh falsafy)

yang terpesona dengan konsep fana> (annihilation) dan mengembangkan konsep

terkait hubungan manusia dengan Tuhan seperti hulu>l. Tokoh utama aliran ini

adalah Abu Yazid al-Bustamy (w. 261 H) dan al-Hallaj (w. 301 H). Memasuki

abad ke-5 dan ke 6 H, orientasi ini kemudian menjadi lebih filosofis dengan

masuknya pengaruh ajaran neo-platonisme. Dalam hal ini, orientasi yang

semi-filosofis menjadi seluruhnya semi-filosofis, sehingga disebut dengan tasawuf falsafy.

Aliran ini merupakan suatu aliran sufisme yang memadukan antara visi mistis

dan visi rasional. Tasawuf ini menggunakan terminologi filosofis dalam

pengungkapannya yang berasal dari berbagai macam ajaran filsafat.7Suhra>wardi

(w. 638 H) dengan teori ishra>qiyyah (illuminasi) dan Ibn ‘Arabi>> (w. 638 H)

dengan teori wah}dah al-wuju>d (kesatuan eksistensi) merupakan perwakilan

varian ini.

(14)

4

Sebagaimana yang dijelaskan oleh al-Dhaha>by di atas, terdapat dua varian

corak tafsir sufistik, tafsir sufi naz}ari> dan sufi ishari atau fayd}y. Dalam kasus sufi

naz}ari>, seorang sufi terlebih dahulu membangun dasar-dasar teori sufismenya,

kemudian ia mencari ayat al-Qur’an dan menafsirkannya sesuai dengan

pandangannya tersebut. Tokoh utama aliran ini adalah Ibn ‘Arabi>> dengan paham

wah}dah wuju>d-nya. Tafsir isha>ri atau fayd}y, seorang sufi menakwilkan

al-Qur’an dengan berdasarkan kepada beberapa simbol/allegori yang tersembunyi

(isha>rah al-khafiyah) yang hanya bisa dicapai oleh para pengembara rohani

(sa>lik). Kontras dengan sufi naz}ari>, dalam sufi isha>ri seorang sufi berusaha

mendeterminasi makna suatu ayat dengan proses asketis tertentu sampai pada

tahap kashaf, tanpa didahului oleh suatu teori tertentu.8

Dalam sejarah perkembangan tafsir al-Qur’an tafsir dengan pendekatan

esoterik (sufi), tidak begitu menarik perhatian para ulama Islam. Hal ini terbukti

dengan banyak munculnya kitab-kitab tafsir yang membahas al-Qur’an melalui

pendekat eksoterik dari pada kitab-kitab tafsir yang menggunakan pendekat

esetorik. Selain jumlah produk tafsir eksoterik yang lebih dominan dari pada

produk tafsir esoterik, keberhasilan para ulama Muslim merumuskan beragam

metodologi (manhaj) dan kaidah penafsiran eksoterik dapat menjadi barometer

dominasi pendekatan eksoterik. Para ahli semisal Jala>l al-Di>n al-Suyu>t}i> (849-911

H/1445-1505 M) dengan al-Itqa>n fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n, Zamakhsary dengan

al-Burha>n fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n banyak memuat aturan-aturan jelas yang dapat

dikatakan standar baku dalam pendekatan eksoterik. Buku lain misalnya,

(15)

5

Mana>hil al-‘Irfa>n yang ditulis oleh Abd al-‘Az}i>m al-Zarqa>ny (w.1367 H/1948 M)

menjelaskan metodologi penafsiran pada lafaz al-Qur’an secara jelas,

syarat-syarat dan kriteria mufassir.

Bagi kalangan ulama Islam sendiri, penafsiran sufistik masih menjadi hal

yang diperdebatkan. Sebagain ulama seperti al-Zarkashi> tidak mengakui bahwa

hasil penafsiran ulama sufi sebagai produk tafsir al-Qur’an.9 Meskipun corak

tafsir sufistik ini cukup kontroversial dan kurang mendapatkan atensi

(little-studied genre), corak tafsir sufi telah diakui sebagai corak tafsir yang berdiri

sendiri secara utuh. Tafsir sufi telah memiliki skema historis dan epistemologi

tafsir yang kemudian menjadikannya pantas disebuat sebagai corak tafsir

tersendiri.10

Di kalangan tokoh tafsir sufi, nama Abu Hamid al-Ghaza>li> dan Ibn ‘Arabi>

sudah tidak asing lagi. Baik Abu Hamid al-Ghaza>li> maupun Ibn ‘Arabi>

sama-sama menggunakan metode ta’wi>l dalam menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an.

Meskipun kedua tokoh ini menggunakan metode yang sama, keduanya berbeda

dalam aliran tasawuf. Abu Hamid merupakan representatif dari tasawuf sunny

amaly sedangkan Ibn ‘Arabi> adalah representatif dari sufi naz}ari> falsafi.

Abu Hamid al-Ghaza>li> adalah tokoh sufi yang mengkritik para filosof

dalam buku Taha>fut al-Fala>sifah. Al-Ghaza>li> memberikan dua puluh kritik

terhadap para filosof yang termaktub dalam bukunya tersebut. Sedangkan Ibn

‘Arabi> merupakan seorang sufi naz}ari> yang setuju dengan filsafat.

(16)

6

Oleh karenanya, penulis beranggapan bahwa penelitian komparatif

terhadap metode ta’wi>l al-Ghaza>li> representatif dari sufi sunni yang cenderung

amaly dan Ibn ‘Arabi> yang merupakan tokoh dari sufi naz}ari> yang pro dengan

pemikiran filsafat menarik untuk diteliti.

B. Identifikasi dan Batasan Masalah

Dari penjelasan di atas penulis mengidentifikasi masalah sebagai berikut:

1. Epistemologi ta’wi>l al-Qur’a>n al-Ghaza>li> dan Ibn ‘Arabi> dalam

menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an.

2. Metodologi ta’wi>l al-Qur’an menurut al-Ghaza>li> dan Ibn ‘Arabi> dalam

menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an.

3. Metode ta’wi>l perspektif al-Ghaza>li> dan Ibn ‘Arabi> dalam menjelaskan

ayat-ayat al-Qur’an.

4. Kerangka teoritik yang digunakan al-Ghaza>li> dan Ibn ‘Arabi> untuk

menjelaskan sisi bathin ayat-ayat al-Qur’an.

5. Persamaan dan berbedaan epistemologi ta’wi>l al-Ghaza>li> dan Ibn ‘Arabi>

dalam menjelaskan makna batin yang dikandung al-Qur’an.

Dari identifikasi masalah di atas, penulis menfokuskan permasalahan secara

spesifik tentang epistemologi ta’wi>l al-Ghaza>li> dan Ibn ‘Arabi>> serta komparasi

antara keduanya agar dapat dilihat secara jelas perbedaan dan persamaan dari

(17)

7

C. Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang akan dibahas berdasarkan identifikasi masalah di atas

adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana epistemologi ta’wi>l al-Ghazali dan Ibn ‘Arabi dalam

menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an?

2. Bagaimana persamaan dan perbedaan antara epistemologi ta’wi>l

al-Ghazali dan Ibn ‘Arabi> dalam menjelaskan sisi batin ayat-ayat al-Qur’an?

D. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini untuk menjawab rumusan masalah, sebagaimana

berikut:

1. Untuk menjelaskan epistemologi ta’wi>l al-Ghazali dan Ibn ‘Arabi dalam

menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an.

2. Untuk menemukan titik persamaan dan perbedaan dari epistemologi

ta’wi>l al-Ghaza>li> dan Ibn ‘Arabi> dalam menjelaskan sisi batin ayat-ayat

al-Qur’an.

E. Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian ini, diharapkan dapat bermanfaat, sekurang kurangnya

dalam 2 (dua) hal di bawah ini:

1. Aspek teoritis

Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan bagi peneliti selanjutnya

(18)

8

metodologi ta’wi>l ala kaum sufi, serta diharapkan juga sebagai rujukan

ilmiah terkait dengan kajian tafsir sufi.

2. Aspek praktis

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi

para calon mufassir dan ulama’ kontemporer memperkaya kazanah ilmu

untuk memahami dan mengkaji maksud Allah pada setiap ayat dalam

al-Qur’an. dan mampu memberi motivasi untuk selalu ingin menjadi

mufassir dan ulama’ yang ideal sebagai mana para salafuna> al-s}a>lih.

F. Kerangka Teori

Dalam sebuah penelitian ilmiah, kerangka teori sangat diperlukan antara

lain untuk membantu memecahkan dan mengidentifikasi masalah yang hendak

diteliti. Selain itu, kerangka teori juga dipakai untuk memperlihatkan kriteria

yang dijadikan dasar untuk membuktikan sesuatu.11

Para ulama berbeda pendapat mengenai apakah ta’wil atau penjelasan

para sufi mengenai ayat-ayat al-Qur’an dapat diterima sebagai tafsir atau tidak.

Sebagain berpendapat tidak dapat diterima, pendapat ini di antaranya

diungkapkan oleh Ibn al-S}ala>h dan al-Zarkashi.12

Al-T}aba>t}aba>’i berpendapat bahwa panfasiran esoterik (ta’wi>l) kaum sufi

dapat diterima dengan syarat:

1. Tidak menafikan makna eksoterik (pengertian tekstual) ayat al-Qur’an.

Persyaratan ini diperlihatkan Al-T}aba>t}aba>’i ketika menjelaskan nisbah

11Abdul Mustaqim, Epistemologi Tafsir Kontemporer (Yogyakarta : L-Kis, 2012), 20.

(19)

9

(persentase) antara makna al-Quran yang bersifat esoterik dan eksoterik

(lahir).

2. Penafsiran itu diperkuat dalil syara’ lain. Persyaratan ini dirumuskan dari

metode tafsir esoterik yang dilakukan Al-T}aba>t}aba>’i ketika menafsirkan

ayat antropomorfisme yang diperkuat dengan ayat lainnya.

3. Makna esoterik tidak bertentangan dengan makna esoteriknya, syarat ini

dirumuskan dari pandangan Al-T}aba>t}aba>’i tentang keserasian antara

kedua dimensi makna itu, terutama kritiknya terhadap pendapat yang

mengartikan ta’wi>l sebagai kontradiksi dengan makna eksoterik.

4. Tidak mengacaukan pemahaman orang awam. Syarat ini dirumuskan dari

pandangan Al-T}aba>t}aba>’i tentang perlunya menyampaikan penjelasan

tentang pesan al-Quran kepada orang awam sesuai dengan tingkat

pemahamannya.13

Quraish Shihab berpendapat, tafsir ishari dapat diterima selama :

1. Maknanya lurus, tidak bertentangan dengan hakikat-hakikat keagamaan,

tidak juga dengan lafal ayat.

2. Tidak menyatakan bahwa itulah satu-satunya makna untuk ayat yang

ditafsirkan.

3. Ada korelasi antara makna ishari yang ditarik dengan ayat al-Qur’an

4. Ada dukungan dari sumber ajaran agama yang mendukung makna ishari

tersebut.14

(20)

10

Perlu dicatat bahwa bisa jadi makna yang ditarik oleh penafsir sufi benar

adanya, namun tidak bisa diterima oleh lafaz}. Dalam kasus seperti ini tafsir ishari

tidak dapat diterima oleh sementara ulama. Sebagai contoh, penjelasan sebagian

ulama sufi tentang firman Allah surat al-‘Ankabut ayat 69:

                 

dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan

Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.15

Sebagian ulama sufi memahami kata lama’a dalam arti memberi cahaya,

padahal kata tersebut bukanlah kata kerja, tetapi ia terdiri dari huruf lam yang

berfungsi sebagai tawkid (pengukuh) dan ma’a yang berarti bersama. Sehingga

ayat tesebut menyatakan bahwa sungguh Allah bersama para pelaku kebaikan.

Seandainya yang dimaksud adalah pemberi cahaya, tentu ayat tersebut berbunyi

lamm’a dangan tashdi>d pada huruf mim.16

Untuk menjelaskan kerangka metode ta’wi>l yang digunakan oleh para sufi

dalam menjelaskan maksud al-Qur’an penulis menggunakan teori al-‘aql al-‘arabi

(nalar Arab) yang disusun oleh Muhammad ‘A>bid al-Ja>biri>.

Dalam kebudayaan Arab-Islam, ada tiga epistemologi yang berkembang

yaitu, baya>ni, burha>ni dan ‘irfa>ni yang memiliki kriteria berbeda satu sama lain.

Baya>ni menggunakan teks suci, ijma’ dan ijtihad sebagai sumber otoratif utama

yang bertujuan mengkonstruksi konsepsi tentang alam dengan menggunakan

15

(21)

11

akidah Islam. Burha>ni menggunakan kekuatan pengetahuan alamiah manusia

berupa indera, eksperimen dan hukum akal murni untuk mendapatkan

pengetahuan secara universal atau partikular untuk mengkonstruksi tentang

alam.17 Sedangkan ‘irfa>ni secara umum menggunakan kashf dan ilha>m sebagai

metode memperoleh pengetahuan serta bertujuan menyatu dengan Tuhan.18

Tiga epistemologi ini saling berbenturan satu sama lain,

benturan-benturan epistema ini merupakan perdebatan antagonistik seperti : fuqaha’ vis a

vis kaum sufi (baya>ni bs ‘irfa>ni), fuqaha’ vis a vis filosof (baya>ni vs burha>ni),

filosof vis a vis kaum sufi (burha>ni vs ‘irfa>ni). Benturan-benturan itu dianggap

sebagai ekspresi basis epistemologi pada abad ke-5 Hijriah.19

Untuk meredam dan menjembatani krisis basis epistemologi ini, kaum

sufi sunni dan kaum filosof berupanya melakukan harmonisi elektik. Suhrawardi

mencoba mensintesikan antara tradisi burha>ni dan ‘irfa>ni dengan hikmah

al-Ishra>qiyyah-nya yang kemudian dikenal dengan madhhab tasawuf falsafi-nya.

Muha>sibi juga mencoba mengharmonisasikan secara elektif antara nalar baya>ni

dan ‘irfa>ni yang kemudian dikenal dengan madhhab tasawuf sunni.

Upaya harmonisasi ini tidak melepaskan nalar ‘irfa>ni sebagai basic utama

epistemologi kaum sufi. Pengetahuan ‘irfa>ni tidak diperoleh berdasarkan analisa

teks tetapi dengan olah rohani dan dengan kesucian hati, diharapkan Tuhan akan

melimpahkan pengetahuan secara langsung kepadanya. Secara umum

17Muhammad Subhan Zamzami, ‚Pendekatan Burha>ni dalam Studi al-Qur’an‛, El-Furqania, Vol

2, No 01, (Februari 2016), 2.

18Muhammad ‘Abid al-Ja>biri>, Bunyah ‘Aql ‘Araby> (Bairut: Markaz Dira>sa>t Wah}dah

al-‘Arabiyyah, 2009), 251.

(22)

12

pengetahuan ‘irfa>ni diperoleh melalui tiga tahapan, persiapan, penerimaan dan

pegungkapan dengan lisan atau tulisan (takhalli, tah}alli dan tajalli).20

Dalam khazanah filsafat Barat pengetahun ‘irfa>ni ini disbeut dengan

istilah knowledge of (pengetahuan tentang) yaitu pengetahuan intuitif yang

diperoleh secara langsung. Berbeda dengan knowledge about (pengetahuan

mengenai) yang merupakan pengetahuan diskursif yang diperoleh melalui

perantara indra atau rasio.21

Pengalaman-pengalaman batin yang amat mendalam, otentik, fitri,

hanafiyyah samhah dan hampir-hampir tak terkatakan oleh logika dan bahasa

inilah yang disebut dengan istilah al-‘ilm al-hudury (direct experince) oleh tradisi

ishraqy di Timur atau preverbal, prereflective consciousness atau prelogical

knowledge oleh tradisi eksistensial Barat. Validitas kebenaran epistemologi irfa>n

hanya dapat dirasakan dan dihayati secara langsung (direct experience), intuisi

atau psiko-gnosis.22

Ada tiga cara untuk mengungkapkan makna atau dimensi batin yang

diperoleh dari kashf, yakni :

Pertama, diungkapkan dengan cara i’tibar atau qiyas ‘irfa>ni. Yakni

analogi makna batin yang ditangkap dalam kashf kepada makna zahir yang ada

dalam teks. Kedua diungkapkan dengan shat}ah}at suatu ungkapan lisan tentang

perasaan (al-wijdan) karena limpahan pengetahuan langsung dari sumbernya.

20Ibid.

21Loius O. Kattsoff, Pengantar Filsafat, Terj. Soejono Soemargono (Yogyakarta: Tiara Wacana,

2004), 141.

(23)

13

Pendekatan ini kemudian yang penulis gunakan sebagai landasan teori dalam

meneliti pemikiran ta’wi>l al-Ghaza>li dan Ibn ‘Arabi>. Ketiga, dengan

menggunakan simbol-simbol. Menurut al-Ghaza>li> pengungkapan pengetahuan

irfan dengan simbol-simbol ini dilakukan berdasarkan adanya kesulitan

menjelaskan pengalaman spiritual kepada orang lain yang belum tentu ada

padanannya dalam dunia empirik. Menurutnya, pengelaman spiritual sufisme

sangat dalam rumit sehingga kata-kata yang berusaha menjelaskannya pasti akan

salah dan tidak tepat.

G. Penelitian Terdahulu

Penulis sebenarnya bukanlah orang pertama yang mengkaji tentang

pemikiran ta’wi>l al-Ghaza>li> dan Ibn ‘Arabi>. Penelitian mengenai dua tokoh ini

telah dilakukan oleh para peneliti sebelum penulis, berikut penelitian yang

berkaitan dengan kedua tokoh ini :

1. Abu Sujak, Metode dan Corak Tafsir al-Qur’an al-Karim Muhyiddin Ibnu

‘Arabi, skripsi Jurusan Ilmu Syariah pada fakultas Syariah IAIN Sunan

Ampel tahun 1986. Secara umum, skripsi ini menjelaskan tentang

metodologi serta corak tafsir Ibn ‘Arabi>, tidak dijelaskan bagaimana

proses penyebrangan dari zahir teks ke batin teks (metode ta’wi>l Ibn

‘Arabi>).

2. Ibn Ali, Konsep Emanasi dalam Tasawuf Ibnu ‘Arabi : Studi

Hermeneutika dalam Kitab Shajarat al-Kawn, tesis prodi Ilmu Keislaman

(24)

14

Dalam tesis ini uraian tentang metode ta’wi>l Ibn ‘Arabi tidak diuraikan,

mengingat kajian pada penelitian ini terbatas pada satu karya Ibn ‘Arabi>.

3. Nihayatul Husna, Tafsir Sufistik Ibn ‘Arabi> : Kajian Semantik Terhadap

Ayat-Ayat Hubb dalam Kitab al-Futuhat al-Makiyyah, tesis Prodi Studi

Agama dan Filsafat Kosentrasi al-Qur’an dan Hadis, pasca UIN Sunan

Kalijogo tahun 2015. Dalam tesis ini dijelaskan makna hubb yang

merupakan maqa>m ila>hi> yang tidak terbatas pada hal-hal yang bersifat

material, melainkan cinta natural dan spiritual dan belum menyinggung

tentang metode ta’wi>lIbn ‘Arabi>.

4. Skripsi di IAIN Sunan Ampel Surabaya dengan judul Manhaj Ta’wi>l

al-Qur’a>n ‘Inda al-Ima>m al-Ghaza>li>. Ditulis oleh Mahbub Ghazali, tahun

2011, jurusan Tafsir Hadis kelas khusus. Skripsi ini menguraikan tentang

metode ta’wi>l yang ditawarkan al-Ghaza>li>. Dalam skripsi ini dijelaskan

lima wujud perspektif al-Ghaza>li>. Yakni wujud esensial (dhati), indra

(hissi), khayal, rasional (aqli), dan wujud metaforis (shibhi). Menurut

al-Ghaza>li> barang siapa yang mengakui apa yang diberitakan oleh Rasulullah

dengan salah satu segi wujud dari wujud yang lima ini, maka ia bukan

tergolong orang yang mendustakan Rasulullah. Dalam Skripsi ini tidak

dibahas mengenai klasifikasi ilmu sebagai dasar pemahamana metode

ta’wi>l al-Gha>zali>.

5. Tesis UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan judul Hermeneutika

al-Ghaza>li> dan Ricoeur (Studi Komparatif Teori Makna dan Pemahaman

(25)

15

Pemahaman Kitab Suci). Ditulis oleh Ari Hendri tahun 2011 program

studi Agama dan Filsafat konsentrasi Studi al-Qur’an dan Hadis. Dalam

pembahasannya, dia berupaya merelevansikan hermeneutika al-Ghaza>li>

dan Ricoeur terhadap pengembangan penafsiran kitab suci. Meskipun

sama-sama menggunakan metode komperatif, akan tetapi objek yang

dijadikan perbandingan berbeda. Dalam tesis ini Ari Hendri

membandingkan antara Ricour dan al-Ghaza>li> sedang penulis

membandingkan antara al-Ghaz>ali> dan Ibn ‘Arabi> yang notabenya

sama-sama dari kalangan sufi.

6. Skripsi UIN Sunan Ampel Surabaya dengan judul Hermeneutika

Imajinasi Sufistik; Studi Terhadap Metodologi Ta’wi>l Ibnu ‘Arabi>.

Ditulis oleh Nur Qamari tahun 2016 program studi ilmu al-Qur’an dan

Tafsir. Dalam skripsi ini dijelaskan bagaimana metodologi ta’wi>l Ibn

‘Arabi>> yang berciri khas pendekatan nalar ‘irfa>ni. Namun dalam skripsi

ini Nur Qomari tidak melakukan upaya komparatif ta’wi>l sufi Ibn ‘Arabi>

dengan tokoh lain yang sama-sama berangkat dari pemahaman kaum sufi,

semisal al-Ghaza>li>.

Dari telaah pustaka yang telah penulis lakukan, terlihat belum ada

pemikir yang mencoba membahas secara khusus mengenai metode ta’wi>l kaum

sufi yang digunakan oleh al-Ghaza>li> dan Ibn ‘Arabi> dengan perspektif analisis

komparatif. Oleh karena itu, penelitian ini menjadi penting untuk dilakukan guna

melihat secara komparatif tentang model ta’wi>l sufi perspektif dua tokoh

(26)

16

H. Metode Penelitian

1. Model Penelitian

Penelitian ini menggunakan model penelitian kualitatif yaitu jenis

penelitian berkaitan dengan aspek kualitas, nilai atau makna yang terdapat

di balik fakta. Kualitas hanya dapat diungkapkan dan dijelaskan melalui

linguistic atau bahasa.

2. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan library research (penelitian kepustakaan).

yaitu penelitian yang memanfaatkan sumber perpustakaan untuk

memperoleh data penelitiannya.23. dalam hal ini data-data yang diteliti

berupa bahan-bahan kepustakaan, khususnya yang terkait dengan metode

ta’wi>l al-Ghaza>li> dan Ibn ‘Arabi>.

3. Sumber Data

Sebagaimana diketahui penelitian ini termasuk kepustakaan (library

research) yang berisi buku-buku sebagai bahan bacaan dan bahasan serta

sumber datanya. Sehingga data kepustakaan yang diambil dalam penelitian

ini terdiri dari:

a. Bahan primer yaitu sumber yang berfungsi sebagai sumber utama yang

terpenting dalam penelitian ini. Bahan primer yang dalam penelitian ini

adalah Jawa>hir al-Qur’a>n karya Abu> Ha>md al-Ghaza>li>, Qa>nu>n al-Ta’wi>l

karya Abu> Ha>md al-Ghaza>li, Ihya’ ‘Ulu>m al-Di>n karya Abu> Ha>md

(27)

17

Ghaza>li, Fus}u>s} al-H}ikam karya Ibn ‘Arabi>, Futu>hat al-Makiyyah karya Ibn

‘Arabi> dan Tafsir al-Qur’an al-Karim karya Ibn ‘Arabi>>.

b. Bahan sekunder yaitu buku penunjang yang dapat melengkapi data

sumber bahan primer dan dapat membantu dalam studi analisis. Dalam

hal ini adalah buku referensi yang berkaitan dengan pokok permasalahan.

Sumber data yang dimaksud antara lain sebagai berikut:

1) Qa>nu>n al-Ta’w>il karya Abi> Bakr Muhammad bin Abdullah

1) Teks Otoritas Kebenaran karya Nasr Hamid Abu Zaid

2) Hermenutika Al-Qur’an dan Hadis karya Kurdi dkk.

3) Tekstualitas Al-Qur’an: Kritik Terhadap Ulum Al-Qur’an karya Nasr

Hamid Abu Zaid

4) Risa>lah fi> Haqi>qah al-Ta’wi>l karya Abdurahman bin Yahya

5) Ibn ‘Arabi> Hayatuhu wa madhabuhu karya Miguel Asin Palacios

Terj. Abd Rahman Badawi

6) Demikian Kaum Sufi Berbicara karya Sara Sviri terj. Ilyas Hasan

7) Tafsir wa al-Munfasirun karya Husayn al-Dhahaby

8) Falsafah Ta’wi>l karya Nasr Hamd Abu> Zaid

4. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah

dengan teknik dokumentasi.24 mengumpulkan data-data yang berkaitan

dengan fokus pembahasan berupa buku, kitab, catatan dan lain sebagainya.

Dengan teknik pengumpulan data dokumentasi, diperoleh data-data yang

(28)

18

berkaitan dengan penelitian berdasarkan konsep-konsep kerangka penulisan

yang telah dipersiapkan sebelumnya.

5. Teknik Pengolahan Data

a. Editing, yaitu memeriksa kembali secara cermat data-data yang diperoleh

terutama dari segi kelengkapan, kejelasan, kesesuaian, relevansi, dan

keragamannya.

b. Pengorganisasian data, yaitu menyusun dan mensistematikakan data-data

yang diperoleh dalam kerangka paparan yang sudah direncanakan

sebelumnya sesuai dengan rumusan masalah.

6. Teknis Analisis Data

Analisa data merupakan proses pengorganisasian dan mengurutkan data

kedalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan

tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh

data. Analisis dengan mempelajari seluruh data dari berbagai sumber setelah

itu mengadakan reduksi data dengan membuat rangkuman inti, langkah

selanjutnya menyusun dalam satuan-satuan yang kemudian dikategorikan

dalam satu kelompok yang sama, kemudian pemeriksaan keabsahan data dan

tahap yang terakhir disimpulkan. 25

Mengingat data yang dikumpulkan adalah data kualitatif, maka data

tersebut akan dianalisis secara kualitatif pula. Data kualitatif yang telah

didiskripsikan ditelaah menggunakan teknik content analysis, yaitu teknik

sistematik untuk menganalisis isi pesan dan mengelolahnya. Data kualitatif

(29)

19

yang diteliti dengan teknik content analysis tersebut kemudian di

komparasikan sehingga dapat diketahui secara jelas perbedaan dan

persamaan dari epistemologi ta’wi>l al-Ghaza>li> dan Ibn ‘Arabi>. Dengan

demikian dapat diketahui kelebihaan dan kekurangan epistemologi yang

dibangun oleh al-Ghaza>li> dan Ibn ‘Arabi>.

I. Sistematika Penulisan

Untuk lebih memudahkan pembahasan dalam tesis ini, maka penulisan ini

disusun atas lima bab sebagai berikut :

Bab pertama berisikan pendahuluan yang meliputi; latar belakang

masalah, identifikasi masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian manfaat

penelitian, kerangka teori, penelitian terdahulu, metodologi penelitian, lalu

kemudian dilanjutkan dengan sistematika pembahasan.

Bab kedua secara umum berisikan tentang landasan teori, dalam hal ini

penulis akan menjelaskan tentang karakteristik tafsir sufi, asumsi paradigma

tafsir sufi dan terakhir tafsir sufi dalam timbangan epistemologi nalar arab

(baya>ni, Burha>ni dan ‘irfan>i).

Bab ketiga gambaran umum tentang riwayat hidup al-Gaza>li dan Ibn

‘Arabi> meliputi, biografi, latar belakang intelektual dan karya-karyanya,

pembahasan tentang pemikiran-pemikiran kedua tokoh tentang al-Qur’an dan

ta’wi>l al-Qur’an. Selanjutnya membahas tentang epistemologi ta’wi>l al-Ghaza>li>

(30)

20

Bab keempat berisikan analisis tentang epistemologi ta’wi>l al-Ghaza>li

dan Ibn ‘Arabi> guna mengemukakan perbedaan dan titik temu diantara dua tokoh

(31)

BAB II

TAFSIR SUFI DAN PARADIGMANYA

A. Definisi Tafsir Sufi dan Karakteristiknya

Dalam mengidentifikasi karakteristik tafsir sufi hal yang perlu dilakukan

adalah dengan mengetahui definisi tafsir sufi menurut para ulama.

Definisi-definisi tersebut kemudian dijadikan barometer dalam menentukan karakteristik

tafsir sufi yang membedakan dengan corak tafsir lainnya. Banyak definisi yang

diungkapkan ulama untuk mendiskripsikan pengertian tafsir sufi. Diantaranya

menurut al-Zarqa>ni> :

بو اهنيب عمجا كمو ف لاو ا لسلا اابرْ رهلت ةيف ةرا ا ر اظ ب نآر لا و ت

ا أ اارماو ر اللا

1

Menakwilkan al-Qur’`an secara batin dengan bertumpu pada isyarat samar

yang hanya dapat ditangkap oleh ahli suluk dan tasawuf kemudian

mengkompromikan makna antar keduanya.

Husayn al-Dhahabi:

اهنم رهل ام فا لع مركلا نآر لا تا آ و ت

اابرْ رهلت ةيف تارا

اهنيب قيبط لا كمو ،ا لسلا

بو

ةاارما ر اللا

2

1Muhammad ‘Abd ‘Az}im al-Zarqa>ni, Mana>h}il al-‘Irfan, Vol. II (Bairut: Dar al-Fikr, 1988), 78. 2Muhammad Husayn al-Dhahabi, al-Tafsi>r wa al-Munfassiru>n, Vol. II (ttp: Maktabah Mus}’ab ibn

(32)

22

Menakwilkan al-Qur’`an dengan sesuatu di balik makna dzahir sesuai

dengan isyarat samar yang ditangkap oleh ahli suluk kemudian berusaha

memadukan antara keduanya.

Nurudin ‘Itr :

نآر لا تا آ و ت

مركلا

اابرْ رهلت ةيف تارا ،اهنم رهل ام غ ىعم لع

ةاارما ر ا للا بو اهنيب قيبط لا كمو ،ا لسلا

3

Menakwilkan al-Qur’`an dengan sesuatu di balik makna dzahir sesuai

dengan isyarat samar yang ditangkap oleh ahli suluk kemudian berusaha

memadukan antara keduanya.

‘Ali al-S{abuni mendefinisikan tafsir sufi atau tafsir ishari lebih rinci jika

dibanding dengan tiga ulama sebelumnya, beliau mendefinisikannya dengan:

ُرِهْلَت ْوَأ ِمْلِعلا ِِْوُأ ِضْعَ بل ُرِهْلَت ِةيِفَ ِتاَراَ ِِ ِ ِرِاَظ ِف َاِ َلَع ِنَأْرُ ْلا ُ ْ ِوْ َت َ ُ

ِْ ِ ِراَعْلِل

ْوَا ِمْيِلَعلا ِنَأْرُ لا َراَرْسَأ اْ ُ َرْاَ َ ْمَُرِئاَ َب ُها َر َ ن ْ ِِ ِسْف نلِل ِةَ ََا ُما َو ِاْ ُلُسلا ِااَبْرَا ْ ِم ِهِاب

ِعْمَجا ِناَكْما َعَم ِِاَبَرلا ِحْ َفلا ِوَا ََِِ ا ِ اََْ ِ ا ِةَطِساَ ِب ِةَ ْ يِ َلا ِِاَعَما ضْعَ ب ْمِِِاَْ أَ ِِ تح ن

ِةْمِرَكلا ِتاَ َْا َ ِم ِااَرُما ِرِاَظ َْ َ ب َو اَهَ نْ يَ ب

4

Men-ta’wi>l-kan al-Qur’an berbeda dengan z}ahirnya tentang isyarat -isyarat tersembunyi yang hanya tampak bagi orang yang memiliki ilmu

laduni atau orang-orang yang arif billah seperti ahli suluk dan

bermujahadah dengan menundukkan nafsunya sehingga mereka

(33)

23

memperoleh cahaya Allah yang menyinari serta menembus rahasia

al-Qur’an al-Az{im. Atau mereka yang telah digoresi fikirannya dengan

sebagian makna yang dalam melalui ilham ilahi atau futuh{ rabbani yang

memungkinkan baginya untuk memadukan dengan yang z{ahir yang dimaksut dari ayat-ayat yang mulia.

Dari definisi di atas dapat diketahui diantara karakteristik dari tafsir sufi

adalah :

1. Menggunakan metode Ta’wi>l

Ta’wi>l secara etimologi merupakan bentuk mas{dar dari kata awwala

yang berarti ruju>’ ila as}l (kembali kepada pokok).5 Makna ini diambil dari

penjelasan Nabi Muhammad saw ketika ditanya mengenai surat al-An’am ayat

656:

ْمُكِلُ ْرَأ ِتََْ ْ ِم ْوَأ ْمُكِ ْ َ ْ ِم اًباَ َع ْمُكْيَلَع َ َعْ بَ ْنَأ َلَع ُرِااَ ْلا َ ُ ْ ُ

Katakanlah: Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu,

dari atas kamu atau dari bawah kakimu.7

Rasul menjelaskan ayat di atas dengan:

ُ ْعَ ب اَهُل ِوْ َت ِتْ َ َََْو ،ٌةَنِئاَ اَه نِ اَمَأ

Ingatlah, hal itu pasti terjadi tetapi masih belum tiba masa ta’wi>l-nya.8

Penjelasan Rasulullah tentang surat al-An’am ayat 65 di atas, kata

ta’wi>l bermakna al-marji’ dan al-mas{ir.9

5Manna’ Al-Qat{t{an, Maba>his f>i Ulu>m (Kairo: Maktabah Wahbah, 2000), 317.

6Muhammad bin Abd Allah ibn al-Arabi, Qa>nu>n al-Ta’wi>l (Bairut: Muassasah ‘Ulu>m al-Qur’an,

1986), 232.

7Depag

, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Surabaya: Karya Agung, 2006), 182.

(34)

24

Ta’wi>l dengan arti al-tarji’ berarti menggiring kembali atau membawa

kembali kepada asalnya. Maka orang yang mempraktikan ta’wi>ladalah orang

yang membelokan apa yang ditampakan sisi zahirnya (aspek eksoterik) dan

mengembalikannya kepada kebenaran hakikatnya. Inialah ta’wi>l sebagai

tafsir spiritual batiniah, sebuah tafsir yang simbolik dan esoterik10

Sebagain pakar juga menyatakan bahwa takwil berasal dari kata ma’al

yang berarti berkesudahan.11 Dalam kamus Lisa>n al-‘Ara>b disebutkan, awwal

al-kala>m wa ta’awwalahu yang artinya adalah merenungkannya,

memperkirakan maknanya. Awwalahu dan ta’awalahu sama artinya dengan

fassarahu.12

Ada yang menyatakan bahwa asal usul kata ta’wi>l adalah iyalah yang

berarti siyasah. Dengan begitu orang yang men-ta’wi>l-kan sebuah perkataan

adalah orang yang mensiasati perkataan itu dan menempatkannya pada posisi

selayaknya. 13 Menurut al-Zarqa>ni>ta’wi>l secara etimologi memiliki arti sama

dengan tafsir.14 Makna ta’wi>l yang serupa dengan tafsir ini sudah dikenal dan

digunakan sejak masa Rasulullah,15 sebagaiamana sabda Rasulullah ketika

mendoakan Ibn ‘Abbas:

َ ِوْ لا ُهْمِلَعَو ،ِ ِ لا ِِ هِ َ مُهللا

9Ibn al-‘Arabi, Qa>nu>n al-Ta’wi>l (Bairut: Muassasah Ulu>m al-Qur’an, 1986.) 232.

10 Henry Corbin, History of Islamic Philosophy Terj. Liadain Sherrard (London: The Institute of

Ismaili Studies, t.th), 12.

11M. Quraish Shihab, Kaidah Tafsir (Tangerang, Lentera Hati, 2013), 219. 12Ibn Manz}u>r, Lisa>n al-Ara>b, Vol. XXI (Bairut: Da>r S}a>dr, t.th), 33.

13Ali Ahmad al-Salus, Ensiklopedi Sunnah-Syiah: Studi Perbandingan Aqidah & Tafsir, penj.

Bisri Abdussomad, dkk (Jakarta: Pustaka al-Kautsar,2001), 346.

14al-Zarqa>ni>, Mana>hil al-Irfa>n, Vol, II, 4.

15Muhammad bin Abd Allah ibn al-‘Arabi, Qa>nu>n al-Ta’wi>l (Bairut: Muassasah Ulu>m al-Qur’an,

(35)

25

Ya Allah pahamkanlah dia akan ilmu agama dan ajarilah diata’wi>l.16

Menurut Nas}r Hamd Abu Zaid istilah ta’wi>l sudah dikenal pada masa

pra-Islam. Namun dalam perkembangannya istilah ta’wi>l menjadi menjadi

istilah ‚yang tidak disukai‛ demi menjaga kemurnian istilah ‚tafsir‛.17 Dan

memberi kesan seolah-olah ta’wi>l adalah sesuatu yang buruk jika diterapkan

pada firman-firman Allah dengan dalih :

ِهِل ِوْ َت َ اَ ِ ْباَو ِةَنْ ِفْلا َ اَ ِ ْبا ُهْنِم َهَباَشَت اَم َن ُعِب َيَ ٌغْ َ ْمِِِ ُلُ ِِ َ ِ لا امَ َ

Adapun orang-orang yang yang dalam hatinya cenderung kepada

kesesatan, maka mereka mengikuti dengan sungguh-sungguh sebagian ayat-ayat yang mustashabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk

mencari-cari dengan sungguh-sungguh ta’wi>-lnya.18

Kata ta’wi>l dalam al-Qur’an muncul tujuh belas kali19 sebaliknya kata

tafsir dalam al-Qur’an hanya disebut satu kali. Hal ini menunjukan bahwa kata

ta’wi>l lebih populer pemakaiannya dalam bahasa pada umumnya dan dalam

teks pada khususnya dibanding dengan kata tafsir.20

Sedang ta’wi>l secara terminologis terdapat perbedaan pendapat di

antara ulama mutaqaddimin (salaf) dan ulama muta’akhirin (khalaf). Menurut

ulama mutaqaddimin ta’wi>l memiliki dua pengertian;

Pertama, menjelaskan kalam dan menerangkan maknanya baik

penjelasan itu sesuai ataupun tidak dengan z}ahirnya.21 Dengan demikian

16Ahmad bin Hambal, Musnad Ahmad (Riyad}: Bait al-Afkar al-Dauliyah, 1998), 271.

17Nasr Hamid Abu Zaid, Tekstualitas Al-Qur’an : Kritik Terhadap Ulumul Qur’an, terj. Khoiron

Nahdliyyin (Yogyakarta: Lkis, 2011), 297.

18Kemenag, Al-Qur’an dan Terjemahnya ,63.

19Nasr Hamid Abu Zaid, Teks Otoritas Kebenaran, terj. Sunarwoto Dema (Yogyakarta: Lkis,

2012), 192.

(36)

26

dalam pandangan ulama mutaqaddimin ta’wi>l dan tafsir memiliki kedekatan

makna dan hakikatnya sama saja.22 Kedua, ta’wi>l adalah makna atau subtansi

yang dimaksud dalam sebuah perkataan. Jika perkataan bernada t{alab

(permintaan) maka ta’wi>l -nya adalah pekerjaan diminta. Apabila perkataan

itu berbentuk berita maka yang dimaksud adalah subtansi dari suatu yang di

informasikan.23

Menurut ulama mutaakhiri>n dari kalangan ahli fikih, ahli kalam, ahli

hadis dan kaum sufi, ta’wi>l adalah memalingkan makna dari yang ra>jih

kepada marju>h karena ada indikasi untuk itu. Dalam definisi ini tampak

dengan jelas bahwa para ulama mutaakhiri>n lebih banyak memberikan

peranan akal dibanding ulama salaf, sebab kata memalingkan pada definisi

tersebut melibatkan peran rasio.24

Al-Said al-Jurjany mendefinisikan ta’wi>lSelaras dengan definisi ta’wi>l

yang diungkapkan ulama mutaakhiri>n akan tetapi al-Jurjany memberi batasan,

ia mendefinisikan ta’wi>l dengan:

ظْفللا ُفْرَص

ِ ِرِاللا ُ اَنْعَم ِ َع

ِ

اً ِ ا ُم ُ اَرَ ْ ِ لا ُ ِمَ حُمْلا َناَ اَ ِ ُهُلِمَ ُُْ ُ اَنْعَم

ِةنسلاو اا ِكْلِاب

25

22Taqiyuddin Ahmad bin Taimiyah, Ikli>l fi> Muta>shabih wa Ta’wi>l (Iskandariayah: Dar

al-Iman, t.th.), 28.

23al-Dhahabi, al-Tafsi>r wa al-Mufassiru>n Vol I., 15.

24Nasarudin baidan, Wawasan Baru Ilmu Tafsir (Yogyakarta: pustaka pelajar, 2011), 69.

25M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah Dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an Dan Tafsir (Semarang:

(37)

27

Mengalihkan lafaz{ dari maknanya yang z}ahir kepada makna lain

(bat{in) yang terkandung di dalamnya, apabila makna yang lain itu

sesuai dengan al-Qur’an dan al-Sunnah.

Dari berbagai macam terminologi di atas, maka dapat ditarik

kesimpulan bahwa pengertian ta’wi>l adalah memalingkan lafaz{ dari makna

yang z{ahir kepada lafadz yang muh{tamil, yang maknanya tidak bertentangan

dengan al-Qur’an dan al-Sunah. Jadi ta’wi>l adalah upaya mengambil makna

dari konteks lafaz{ yang dimuat oleh banyak makna yang terkandung dalam

teks ayat al-Qur’an. Ta’wi>l biasanya digunakan untuk menyingkap makna

ayat-ayat yang mutashabih, penafsiran yang bersifat kontekstual ataupun

bersifat esoterik, (bat{iyah/ishary), baik yang bersumber dari rasio (ra’y)

maupun intuitif (kashf)26

Ulama berbeda pendapat mengenai apakah ta’wi>l sama dengan tafsir.

Sebagian ulama menyamakan antara nomenklatur tafsir dan ta’wi>l, tidak ada

perbedaan di antara keduanya. Pendapat ini dianut oleh golongan ulama

mutaqadimin. Diantara ulama yang menyatakan bahwa tafsir sama dengan

ta’wi>l adalah Mujahid, Abu Abidah dan Ibn Jarir al-Thabari.

Adapun sebagian ulama lainnya, membedakan antara tafsir dan ta’wi>l.

Namun mereka berbeda-beda dalam menjelaskan perbedaan antara tafsir dan

ta’wi>l, diantaranya :

Menurut ‘Ali al-S{abunitafsir dan ta’wi>lmemiliki perbedaan yang jelas.

Menurutnya tafsir hanya menjelaskan makna z{ahir dari ayat-ayat al-Qur’an,

(38)

28

sedangkan ta’wi>l adalah men-tarjih{ sebagian makna-makna dari beberapa

makna yang dikandung oleh ayat-ayat al-Qur’an.27 Lebih spesifikasi lagi ‘Ali

al-S{abuni menjelaskan perbedaan antara tafsir dan ta’wi>ldengan:

علا ُهَطَبْنَ ْسا اَم ُ ْ ِوْ َ لاَو ِةَرِالَلا ِنأَرْ ُلا ِِاَعَم ُفْشَ َ ٌ ٌ ِسْفَ لا

َا

ِةْيِفَََا ِِاَعَما َ ِم َنْ ُ ِر

ِةْمِرَكْلا ِةَ َْ ا اَهِلِمََْ ِ ْلا ِةَفْ يِطَلْلا ِةيَنِاَبرلا ِراَرْسَْ اَو

.28

Tafsir adalah mengungkap makna-makna dhahir al-Qur’an sedang

ta’wi>l adalah makna-makna yang terselebung dan bersifat spiritual

yang dimuat dalam oleh ayat al-Qur’an yang mulia, yang diistimbat{kan

oleh ulama dan arif.

Menurut al-Raghib tafsir itu lebih umum dari ta’wi>l dan lebih sering

digunakan di dalam lafadz, sedang ta’wi>l lebih banyak digunakan di dalam

makna sebagaimana contoh ta’wi>l mimpi. Ta’wi>l lebih banyak digunakan

pada kitab-kitab suci, sedang tafsir digunakan juga pada selain kitab suci.

Tafsir lebih banyak digunakan pada makna mufradat lafadz.29

Al-Mat}uridi> menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan tafsir adalah

menerangkan apa yang dikehendaki ayat dan menetapkan seperti yang

dikehendaki Allah. Sedang ta’wi>l menyeleksi salah satu makna yang mungkin

27al-S}abuni, al-Tiby>an f>i Ulu>m al-Qur’a>n, 66. 28Ibid.

(39)

29

diterima oleh suatu ayat tanpa menyakinkan bahwa itulah yang dikehendaki

oleh Allah.30

Menurut Abu Thalib al-Tha‘labi yang dimaksud dengan tafsir adalah

menerangkan makna lafadz baik majaz maupun hakikat. Seperti menafsirkan

al-S{irat dengan al-t{ariq. Sedangkan ta’wi>l adalah menafsirkan batin lafaz{.31

Sebagian ulama berpendapat bahwa tafsir adalah menerangkan lafadz

melalui pendekatan riwayat, sedang ta’wi>l adalah menerangkan lafaz{ dengan

pendekatan dirayah (kemampuan ilmu) dan berfikir rasional.32

Tafsir umumnya didominasi oleh naql dan riwayat, sementara ta’wi>l

berkaitan dengan istinbat. Dalam perbedaan ini terkandung salah satu dimensi

penting dari proses ta’wi>l, yaitu peran pembaca dalam menghadapi teks dan

dalam upaya menemukan maknanya. Peran pembaca atau pen- ta’wi>l

bukanlah peran mutlak yang mengubah ta’wi>l menjadi teks tunduk pada

kepentingan subjektif, tetapi ta’wi>l harus berdasarkan pada pengetahuan

mengenai ilmu-ilmu yang berkaitan dengan teks. Pen-ta’wi>lharus mengetahui

benar tentang tafsir yang memungkinkannya memberikan “ta’wi>l‛ yang

diterima dalam teks, yaitu ta’wi>l yang tidak menundukkan teks pada

kepentingan subjektif dan idiologisnya.33

Karena ta’wi>l berhubungan erat dengan istimbat terhadap sebuah teks,

maka pen-ta’wi>l harus memenuhi syarat-syarat yang berakaitan dengan

30Abu> Mans{u>r al-Maturidi,Ta’wi>la>t Ahl al-Sunnah, Vol. I (Bairut: Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyah,

2005), 349.

31al-Dzahabi, al-Tafsir wa al-Mufassiru>n Vol. I, 17 32Ibid.

(40)

30

dengan bahasa. Tujuannya adalah agar ayat-ayat yang di-ta’wi>l-kan tidak

digiring ke dalam subjektivisas dan mengalihkan makna ayat sesuai dengan

prakonsepsinya. Oleh karena itu setiap pen-ta’wi>l adalah mufassir namun

setiap mufassir belum tentu pen-ta’wi>l.34 Hal ini disinggung dalam oleh

al-Zarkashi dalam al-Burha>n fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n :

Barang siapa yang mengaku telah memahami rahasia-rahasia al-Qur’an,

sedang ia belum piawai dalam menafsirkan makna yang zahir maka ia

bagaikan mengaku telah masuk dalam ruang utama sebuah rumah padahal ia

belum masuk ke pintu. Yang zahir itu adalah pengetahuan bahasa yang

dibutuhkan untuk memahami lafal, karena al-Qur’an turun dalam bahasa Arab

maka dibutuhkan pengetahuan tentang bahasa ini, paling tidak yang populer

darinya karena itulah pengantar membuka pintu.35

Nasr Hamid Abu Zaid juga menyatakan bahwa ta’wi> lyang tidak

berdasarkan tafsir adalah ta’wi>l yang tertolak lagi buruk. Karena istimbat

tidak hanya berdasarkan perkiraan, tidak juga memaksakan teks untuk tunduk

kepada dorongan nafsu sang mufassir atau ideologinya, betapapun niatnya

baik, tetapi istimbat harus berdasarkan hakikat teks dari satu sisi dan

pengertian kebahasaan dari sisi lain, lalu setelah itu bisa saja beralih dari

petunjuk makna yang dikandung teks menuju makna yang lebih dalam tanpa

melakukan loncatan yang bertentangan dengan teks.36

34Quraish Shihab, Kaidah Tafsir, 222.

35 Al-Zarkashi, al-Burha>n fi> ‘Ulum al-Qur’a>n, 96.

(41)

31

Selain berbeda pendapat mengenai tafsir dan ta’wi>l para ulama juga

berbeda pendapat mengenai penerapan ta’wi>l dalam al-Qur’an. Baik yang

setuju penggunaan ta’wi>l dan yang tidak setuju sama-sama menggunakan

dalil al-Qur’an surat ‘Ali ‘Imran ayat 7 :

َ ِ لا امَ َ ٌتاَِِاَشَ ُم ُرَ ُأَو ِااَ ِكْلا ُأ ُ ٌتاَمَكُُْ ٌتاَ آ ُهْنِم َااَ ِكْلا َكْيَلَع َ َ ْ نَأ ِ لا َ ُ

ُهللا ِ ُهَل ِوْ َت ُمَلْعَ اَمَو ِهِل ِوْ َت َ اَ ِ ْباَو ِةَنْ ِفْلا َ اَ ِ ْبا ُهْنِم َهَباَشَت اَم َن ُعِب َيَ ٌغْ َ ْمِِِ ُلُ ِِ

ِااَبْلَْْا ُلوُأ ِ ُر َ اَمَو اَنِ بَر ِ ْنِع ْ ِم ٌ ُ ِهِب انَمآ َن ُل ُ َ ِمْلِعْلا ِِ َن ُخِسارلاَو

Dia-lah yang menurunkan al-Kitab (al-Qur’an) kepada kamu. Di antara

(isi)nya ada ayat-ayat yang muh}kama>t, Itulah pokok-pokok isi

al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasha>biha>t. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasha>biha>t dari padanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta'wi>l-nya, Padahal tidak ada yang mengetahui ta'wi>l-nya melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasha>biha>t, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang

berakal.37

Bagi ulama yang setuju ta’wi>l Mereka memaknai frasa al-ra>sikhu>na fi>

‘ilm sebagai kalangan yang mengetahui ta’wi>l. Ulama yang setuju ta’wi>l

menyakini bahwa huruf waw pada ayat tersebut adalah waw at}af yang berarti

menggandengkan dengan kata sebelumnya.

sedang ulama yang tidak setuju penggunaan ta’wi>l dalam al-Qur’an

beranggapan bahwa waw dalam frasa wa al-ra>sikhu>na fi> ‘ilm adalah waw

(42)

32

isti’naf atau waw permulaan. Selain itu mereka melandasi pendapatnya

dengan sabda Nabi Muhammad saw :

ْمُوُرَ ْحاَ ُهللا َ َ ِ لا ِكِ َلوُ َ ُهْنِم َهَباَشَت اَم َن ُعِب َ َ ِ لا ِتْ َأَر اَ ِ َ

Jika engkau mendapati orang-orang yang mengikuti yang mutashabih

dalam al-Qur’an mereka itulah yang dimaksud oleh Allah untuk itu,

waspada pada mereka.38

2. Berdasarkan Isyarat khafiyah

Para sufi mengakui bahwa hasil penafsirannya terhadap al-Qur’an

adalah sebagai iluminasi, bukan bersumber original dari jiwa mereka.

Pengetahuan mereka tidak berdasarkan teks akan tetapi kepada isharat

kahfiyat, kashf atau intuisi yang dikaruniakan Allah kepada seseorang dan

dipatrikan ke dalam qalb-nya sehingga tersingkap olehnya sebagian rahasia

dan sebagaian realitas. Metodologi yang mendasari pendekatan menurut

mereka sebagaimana yang dikatakan al-Dhahabi> adalah metode ilmu

pemberian langsung dari Allah (given/mauhibah).39

Di dunia akademis Barat sebenarnya juga mengenal jenis pengetahuan

intuitif ini. Henry Bergson (1859-1941) seorang filsuf Perancis beraliran

intuisionisme membagi pengetahuan menjadi dua macam, yaitu,

‚pengetahuan mengenai‛ (knowledge about) dan ‚pengetahuan tentang‛

(knowledge of). Pengetahuan pertama disebut pengetahuan diskursif atau

simbolis, dan pengetahuan kedua disebut pengetahuan langsung atau intuitif

karena diperoleh secara langsung. Atas dasar pembagian ini, Bergson

38Abu> Muhammad al-Husayn bin Mas’u>d al-Baghawi, Ma’a>lim al-Tanzi>l fi> Tafsi>r al-Qur’a>n, Vol.

I, (Bairut: Da>r ‘Ihya>’ al-Tura>th al-‘Araby>, 1420 H), 411.

(43)

33

menjelaskan bahwa ilmu pengetahuan diskursif diperoleh melalui

simbol-simbol yang mencoba menyatakan pada kita ‚mengenai‛ sesuatu dengan

jalan berlaku sebagai terjemahan bagi sesuatu itu. Oleh karenanya, ia

tergantung pada pemikiran dari sudut pandang atau kerangka acuan tertentu

yang dipakai dan sebagai akibatnya, hasilnya pun sangat ditentukan oleh

sudut pandang ataupun kerangka acuan yang digunakan itu. Sebaliknya

pengetahuan intuitif adalah pengetahuan langsung yang mutlak dan bukan

pengetahuan nisbi atau lewat perantara.40

Pengetahuan para sufi akan ta’wi>l al-Qur’an berdasarkan atas

limpahan pengetahuan secara langsung dari Tuhan, ketika qalb atau hati

sebagai sarana pengetahuan para sufi siap untuk menerimanya. Untuk itu

diperlukan persiapan-persiapan tertentu sebelum seorang sufi mampu

menerima limpahan pengetahuan secara langsung tersebut. Persiapan yang

dimaksud adalah seoarang sufi harus menempuh perjalanan spiritual melalui

tahapan-tahapan tertentu (maqam) dan mengalami kondisi batin tertentu

(hal).41

Setidaknya ada tujuh tingkatan (maqa>mat) yang harus dilalui oleh

seorang yang hendak memperoleh ilmu limpahan secara langsung dari Tuhan.

Pertama, taubat yaitu meninggalkan segala perbuatan yang tidak baik disertai

penyesalan yang mendalam, kemudian menggantinya dengan

40Lois O Katsoff, Pengantar Filsafat, terj. Sujono Soemargono (Yogyakarta:Tiara Wacana, 1992),

145-146.

41Dalam pandangan Suhrawardi, pengetahuan ini melalui empat tahapan, yaitu, persiapan,

(44)

34

perbuatan baru yang terpuji. Perilaku taubat terdiri atas beberapa tingkatan.

Awalnya taubat dilakukan dari perbuatan dosa dan makanan haram,

kemudian taubat dari ghaflah (lalai mengingat Tuhan) dan puncaknya adalah

taubat dari klaim bahwa dirinya telah melakukan taubat. Menurut

al-Qusyairi, taubat adalah landasan dan tahapan pertama bagi perjalanan

spiritual berikutnya.42 Jika seseorang tidak berhasil membersihkan dirinya

pada tahapan ini, ia akan sulit untuk naik pada jenjang berikutnya.

Kedua, wara’ yakni menjauhkan diri dari segala sesuatu yang tidak

jelas statusnya (subhat). Dalam tasawuf wara’ terbagi menjadi dua tingkatan,

yakni wara’ secara lahir dan wara’ secara batin. Wara’ lahir berarti tidak

melakukan sesuatu kecuali untuk beribadah kepada Tuhan, sedang wara’

batin adalah tidak memasukan sesuatu apapun ke dalam hati kecuali Tuhan.43

Ketiga, zuhud yakni tidak tamak dan tidak mementingkan kehidupan

dunia. Zuhud merupakan sikap yang lebih tinggi tingkatannya dibanding

dengan wara’, karena di sini tidak hanya meninggalkan yang subhat bahkan

yang halal. Meskipun demikian, zuhud bukan berarti meninggalkan harta

benda sama sekali. Menurut al-Shibli> seseorang tidak dianggap zuhud jika hal

itu terjadi lantaran ia memang tidak memiliki harta. Zuhud adalah sikap hati

yang tidak tersibukan oeh sesuatu apapun kecuali dengan Tuhan.44

Keempat, faqir yakni mengosongkan seluruh fikiran dan harapan dari

kehidupan masa kini dan masa yang akan datang dan tidak menghendaki

42Abu> al-Qa>sim al-Qushairy>, al-Risa>lah al-Qushairiyah (Kairo: Da>r al-Sha’b, 1989), 178. 43Ibid., 210-211.

44Abu Bakr Muhammad bin Isha>q al-Kala>ba>dhi>, Kita>b Ta’arruf li> Madhab Ahl

(45)

35

sesuatu apapun kecuali Tuhan. Sehingga ia tidak terikat dengan apapun dan

hati tidak menginginkan apapapun jua. Dengan demikian, jika pada tingkatan

wara’ seseorang berusaha meninggalkan perkara subhat, pada tingkatan

zuhud seseorang mulai meninggalkan segala keinginginan yang bersifat

duniawi, maka pada tingkatan faqir ini seseorang sudah berada pada

puncaknya, mengkosongkan hati dari seluruh ikatan kecuali kepada Tuhan.

Tingkat faqir adalah realisasi dari dari upaya penyucian hati secara

keseluruhan dari segala yang selain Allah (tathir al-qalbi bi al-kulliyah ‘an ma>

siwa> Alla>h).45

Kelima, sabar yakni menerima segala cobaan dan bencana dengan rela,

tanpa menunjukan rasa kesal atau marah.46 Menurut al-Junaidi, sabar berarti

rela menanggung beban, kesulitan dan yang sejenisnya semata-mata demi

untuk mendapat ridha Allah hingga saat-saat sulit itu berlalu. Keenam,

tawakal yakni percaya atas segala apa yang ditentukan Tuhan. Tahap awal

dari tawakal adalah menyerahkan diri kepada Tuhan seperti mayat dihadapan

orang yang memandikan. Namun menurut al-Qushairy> hal tersebut bukan

berarti fatalisme (jabariyah), karena tawakal adalah kondisi dalam hati dan

itu tidak menghalangi seseorang untuk bekerja mencari nafkah demi

kelangsungan hidup. Begitu juga sebaliknya apa yang dikerjakan tidak

menafikan tawakal dalam hatinya, sehingga jika mengalami hal sulit ia akan

menyadari bahwa itu berarti taqdir dari Allah dan jika berhasil itu adalah

45al-Kala>ba>dhi>, Kita>b al-Ta’arruf li> al-Madhab Ahl al-Tas}awwuf, 56-67. 46

(46)

36

kemudahan dari-Nya.47 Tujuh, rid}a yakni hilangnya rasa ketidak senangan

dalam hati sehingga yang diterima hanya rasa gembira dan sukacita terhadap

apa yang diberikan dan ditentukan oleh Tuhan kepadanya.48

Setelah mencapai tingkatan tertentu dalam olah spiritual seorang sufi

akan mendapatkan limpahan pengetahuan langsung dari Tuhan secara

illuminatif atau yang biasa disebut dengan kashf. Dalam kajian filsafat Mehdi

Yazdi, pada tahap ini seseorang akan mendapatkan realitas kesadaran diri

yang demkian mutlak (kashf), sehingga dengan kesadaran itu ia mampu

melihat realitas dirinya sendiri (musha>hadah) sebagai objek yang diketahui.49

3. Dilakukan oleh Arba>b sulu>k/sufi

Para ulama berbeda pendapat mengenai asal usul atau akar kata

tasawuf. Ada banyak pendapat mengenai akat kata dari tasawuf. Pertama,

tasawuf berasal dari shuf (bulu domba), disebut demikian karena orang

orang-orang yang ahli ibadah dan zahid pada masa dahulu menggunakan pakaian

yang sederhana terbuat dari bulu domba.50 Tradisi berpakaian sederhana ini

dimaksudkan agar para ahli ibadah tidak timbul rasa riya’, ujub atau

sombong.

Kedua, kata tasawuf dinisbatkan kepada ahl al-shuffah, yakni nama

yang diberikan kepada orang-orang fakir miskin di kalangan umat Islam pada

masa awal Islam. mereka merupakan sebagian orang yang tidak mempunyai

47Ibid., 295.

48al-Kala>ba>dhi>, Kita>b al-Ta’arruf li> al-Madhab Ahl al-Tas}awwuf, 72.

49A. Khudori Sholeh, ‚Mencermati Epistemologi Tasawuf‛, Ulumuna, Vol. XIV, No. 02,

(Desember 2010), 9.

(47)

37

rumah, yang dijadikan tempat tinggal bagi mereka adalah gubuk yang telah

dibangun Rasulullah di luar masjid Madinah.51

Ketiga tasawuf berasal dari kata al-s}afa’ yang artinya orang yang

mensucikan diri dari hal-hal yang bersifat keduniaan.52 Mereka memiliki

ciri-ciri khusus dalam aktifitas dan ibadah mereka. Hal ini merupakan upaya

merka dalam mendekatkan diri kepada Allah. Mereka selalu menjauhkan diri

dari berbuat dosa dan maksiat. Pendapat yang selanjutnya mengatakan

bahwa tasawuf berasal dari kata s}af, yaitu menggambarkan orang –orang

yang selalu berada di barisan depan dalam beribadah kepada Allah dan dalam

melaksanakan kebajikan.53

Sejarah perkembangan tafsir al-Qur’an yang bercorak tasawuf tidak

lepas dari perkembangan aliran ini. Munculnya tasawuf dilatar belakangi oleh

sekelompok umat Islam yang merasa belum puas mendekatkan diri kepada

Tuhan melalui ritual lahiriyah seperti puasa, salat dan haji. Mereka merasa

ingin dekat kepada Allah dengan cara hidup menuju Allah dan membebaskan

diri dari keterikatan mutlak pada kehidupan duniawi, sehingga tidak

diperbudak oleh kesenangan yang bersifat duniawiah.54

Praktik hidup sederhana ini telah dipraktekan sejak generasi awal

Islam,55 Rasulullah merupakan orang yang pertama kali mencontohkan

praktik hidup sederhana. Dari kalangan sahabat pun banyak yang

51Abu> ‘Ula> ‘Afi>fi>, fi> Tas}awauf Isla>m wa Ta>ri>khih,(Iskandariyah: Lajnah Ta’lif wa

al-Tarjamah wa al-Nashr, t.th ), 66.

52Al-Dhahabi,al-Tafsi>r wa al-Mufassiru>n, Vol. II, 81.

53Yasir Nasution, Cakrawala Tasawuf (Jakarta: Putra Grafika, 2007), 3.

(48)

38

mempraktekan pola hidup zuhud menjauhi hiruk pikuk keduniawian.

Meskipun perilaku tasawuf telah ada sejak masa awal Islam, namun secara

ekspisit istilah tasawuf belum dikenal ketika itu. Secara eksplisit istilah

tasawuf muncul dalam dunia Islam pada kisaran abad ke II H.56 Dimana pada

masa ini, secara berangsur-angsur terjadi pergeseran nilai sehingga orientasi

kehidupan umat Islam semakin berat. Ketika masa inilah angkatan pertama

umat Islam yang mempertahankan pola hidup sederhana disebut dengan

kaum sufiah.57 Orang yang pertama kali secara ‚s}arh}‛ disebut sebagai sufi

pada periode ini berdasarkan data yang diperoleh al-Dhahabi adalah Abu>

Ha>shim al-S}u>fi>. (w. 150 H)58. Sedang menurut data yang diperoleh oleh

Henry Corbin, kata sufi pertama kali disematkan kepada Abdak al-S}ufi (w.

210 H/825 M). Ia merupakan anggota mistisisme syi’ah di kufah.59

Perilaku zuhud yang dilakukan oleh ulama Islam angkatan I dan II

berlanjut sampai pada masa perintahanan imperium Abbasiyah (abad IV H),

ketika itu umat Islam mengalami kemakmuran dan kejayaan yang membawa

pada perilaku hidup mewah di kalangan atas dan menengah. Pada masa ini

perkembangan tasawuf tidak hanya pada aspek praktikal saja, akan tetapi

sudah mulai ditandai dengan berkembangannya penjelasan secara teoritis

yang kelak menjadi disiplin ilmu tasawuf. Pada masa ini pula, mulai terjadi

56Ibid., 82.

57Leni Lestari, ‚Epistemologi Corak Tafsir Sufistik‛, 9. 58Ibid.

(49)

39

persinggungan antara tasawuf dengan filsafat dan kalam,60 sehingga muncul

aliran tasawuf naz}ar>i dan tasawuf amaly>.

Aliran tasawuf naz}ari/tasawuf teoritis adalah aliran tasawuf yang

berusaha membangun paham-paham tasawufnya berdasarkan teori dan

doktrin filsafat. Pola bangunan ini juga digunakan aliran tasawuf nazari

dalam memahami al-Qur’an. Mereka mengkaji al-Qur’an dengan kajian yang

sejalan dengan teori mereka dan sesuai dengan doktrin mereka. Adapun aliran

tasawuf amaly> adalah aliran tasawuf yang mempraktekan hidup zuhud dan

tidak melandasi peri

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkan al-T{abari> dalam tafsirnya mengemukakan bahwa, berkaitan dengan qira>’ah ganda pada lafadz ‚la>mastum‛ beliau memilih sikap untuk mentarjih

Sedangkan perbedaannya tafsir Al-Misbâh mengatakan bahwa Allah menciptakan langit dan bumi dalam dua hari dan Allah menciptakan segala keaneka ragaman makanan yang dapat

Temuan dalam penelitian ini adalah: (1) Penafsiran al-T{abari> tentang term h}adi>th dalam Ja>mi‘ al-Baya>n bukan hanya berdasarkan makna kata perkata, tetapi

64 Abd Mu’im an-Namir, Ilmu at-Tafsir (Kairo: Dar Kutub al-Mis}ri, 1985), cet.. 53 ayat sesudahnya. Tidak hanya menyebut munasabah antar ayat saja, akan tetapi al-Ra>zi

ii LEMBAR PENGESAHAN Skripsi dengan judul “Titik Temu Al-Qur`an dan Alkitab Studi Komparatif Dalam Bidang Muamalah Pada Ayat-Ayat Jual Beli dan Riba” yang disusun oleh Latifatur

Hal tersebut tidak logis apabila kita yakini bahwaz Allah adalah benda yang mampuz diangkat oleh makhluk-Nya sendiri, sebagaimana pendapat Hujjatul Islam Al-Imam Abu Hamid Muhammad bin