TEST POWER OF SOYBEAN IN BENGKULU
Yong Farmanta, Yartiwi dan Yulie Oktavia
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bengkulu Jl. Irian km. 6,5 Kota Bengkulu
Email : [email protected]
ABSTRAK
Rendahnya produktivitas tanaman kedelai disebabkan banyak faktor, diantaranya penetuan varietas yang ditanam tidak sesuai dengan musim.Penggunaan varietas yang adaptif sangat berpengaruh terhadap keberhasilan dibidang usaha tani. Pengkajian ini dilakukan bertujuan untuk menguji daya hasil dan mendapatkan varietas kedelai yang adaptif pada agroekosistem yang berbeda di Propinsi Bengkulu.Pengkajian di dua Kabupaten yaitu Kabupaten Seluma dan Kabupaten Rejang Lebong Propinsi Bengkulu pada bulan Agustus-Oktober2013. Rancangan yang digunakan dalam pengkajian Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 faktor yaitu faktor pertama tipe lahan (L): Lahan dataran tinggi (L1)dan Lahan dataran rendah(L2). Sedangkan faktor kedua varietas (V): Anjasmoro (V1) dan Argomulyo (V2), masing perlakuan diulang sebanyak 6 kali. Data dianalisis menggunakan Analisis Sidik Ragam (ANOVA) dan untuk melihat pengaruh pertumbuhan dan hasil kedelai dilakukan dengan uji l Tukey Test taraf 0.5 %.Hasil pengkajian menunjukkan Varietas anjasmoro lebih adaptif ditanam pada lahan dataran tinggi dibandingkan yang rendah, sedangkan varietas argomulyo lebih adaptif didataran tinggi dibandingkan didataran rendah.Hal itu ditunjukan dari tinggi tanaman, jumlah polong isi/tanaman, jumlah polong kosong/tanaman, berat 100 butir dan produktivitas yang dihasilkan.
Kata kunci :kedelai, agroekosistem, varietas
PENDAHULUAN
Kedelai merupakan salah satu komoditas utama kacang-kacangan yang menjadi andalan nasional karena merupakan sumber protein nabati penting untuk diversifikasi pangan dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Produksi kedelai saat ini belum mampu memenuhi kebutuhan nasional.Produksi kedelai nasional cenderung menurun sejak tercapainya produksi tertinggi pada tahun 1992 yang mencapai sekitar 1,6 juta ton (BPS, 2010). Berkurangnya luas areal tanam adalah penyebab utama menurunnya produksi sekalipun produktivitas dapat ditingkatkan. Namun peningkatan produktivitas pun sangat lambat dan sulit karena belum ditemukannya varietas unggul baru yang mampu meningkatkan produktivitas secara nyata.
Masalah utama dari sub-sektor tanaman pangan khususnya kedelai,padi, jagung, dan kacang tanah adalah adanya senjang produktivitas (yield gap) di tingkat petani yang cukup besar. Sumber permasalahan tersebut diantaranya akibat dari berbagai perubahan dan perkembangan lingkungan strategis di luar sektor pertanian yang sangat berpengaruh dalam peningkatan produksi pangan. Konversi lahan produktif tidak dapat dihindarkan dan bahkan secara nasional diperkirakan lajunya mencapai 100.000 ha/tahun (Ditjen Tanaman Pangan, 2008).
Pada tahun 2010 propinsi Bengkulu mempunyai luas tanam 2.654 ha dengan prouksi 2.178 Ton.Luas panen dan produksi kedelai didominasi Kabupaten Rejang Lebong yaitu seluas 1.672 ha atau 76.77 % dari luas panen Propinsi Bengkulu dengan produksi sebanyak 1.711 Ton, sedangkan Kabupaten Seluma luas panen kedelai hanya 54 ha atau 2.48 % dengan produksi sebanyak 55 Ton (BPS, 2011).
BPTP Bengkulu mendapat mandat dari Badan Litbang Pertanian untuk mendiseminasikan dan menguji varietas unggul baru (VUB) kedelai yang telah dilepas. VUB yang telah dilepas oleh Litbang Pertanian mempunyai potensi hasil yang berkisar antara 2.0-2.5 ton biji kering/ha. Rendahnya produktivitas di tingkat petani antara lain disebabkan oleh penggunaan varietas lokal setempat dengan hasil rendah dan penggunaan benih produksi sendiri oleh petani. Di sisi lain, belum tersedianya benih bermutu secara luas dan belum diadopsinya teknologi spesifik lokasi secara luas turut berperan menyulitkan upaya peningkatan produktivitas kedelai.
METODOLOGI
Tempat dan Waktu
Pengkajian dilakukan pada lokasi kegiatan demfarm kedelai di dua Kabupaten yaitu Kabupaten Seluma Kecamatan Sukaraja Desa Bukit Peninjauan II dan Kabupaten Rejang Lebong Kecamatan Curup Selatan Desa Teladan Propinsi Bengkulu pada bulan Agustus sampai dengan Oktober2013.
Rancangan Pengkajian
Pengkajian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan faktor tunggal yaitu tipe lahan:lahan dataran rendahdan lahan dataran tinggi, perlakuan diulang sebanyak 6 kali.
Parameter yang diukur adalah: a) data komponen pertumbuhan (tinggi tanaman, jumlah cabang), dan b)komponen hasil (jumlah polong isi dan hampa, jumlah buku ruas utama, berat 100 butir dan produktivitas).Data dianalisis secara deskriptif dan untuk melihat pertumbuhan dan hasil dibandingkan dengan deskripsi varietas kedelai.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Keragaan Tanaman
1.
Keragaan Vegetatif Tanaman
Tinggi Tanaman
Pengukuran terhadap tinggi tanaman dilakukan pada umur tanaman 30 hari setelah tanam (hst), 45 hst, 60 hst dan 75 hst. Adapun rata-rata hasil pengukuran tinggi tanaman kedelai varietas anjasmoro dan argomulyo yang ditanam di dua agroekosistem berbeda dapat dilihat pada Tabel 1 berikut:
Tabel 1. Rata-rata tinggi tanaman kedelai pada umur 30 hst, 45 hst, 60 hst dan 75 hst tanaman kedelai varietas anjasmoro dan argomulyo di dua lahan agroekosistem berbeda di Propinsi Bengkulu.
Perlakuan Tinggi Tanaman (TT) Umur
30 hst 45 hst 60 hst 75 hst
Lahan dataran rendah varietas anjasmoro 35.72 46.02 54.00 55.21 Lahan dataran rendah varietas argomulyo 26.70 42.65 48.62 50.40 Lahan dataran tinggi varietas anjasmoro 30.26 55.21 58.89 60.24 Lahan dataran tinggi varietas argomulyo 33.67 50.23 55.97 56.40
Tabel 2 menunjukkan bahwa parameter tinggi tanaman pada dua lokasi pengkajian dan dengan 2 varietaskedelai bahwa pada awal pertumbuhan (30 hst) sampai umur 75 hst terlihat penambahan tinggi yang normal. Perlakuan lahan dataran tinggi dengan varietas anjasmoro merupakan tinggi tanaman tertinggi yaitu rata-rata 60.24 cm dan sedangkan varietas argomulyo yang ditanam dilahan dataran rendah bahwatinggi tanaman terendah yaitu rata-rata 50.40 cm. Berdasarkan hasil tersebut sesuai dengan genetisnya pada deskripsi varietas kedelai (Balitkabi, 2011) bahwa tinggi tanaman varietas anjasmoro lebih tinggi daripada varietas argomulyo.Perbedaan karakter tinggi tanaman dipengaruhi oleh kondisi lokasi pengkajian, kesuburan tanah dan iklim.
Jumlah Cabang dan Jumlah Buku Batang Utama
Hasil pengukuran jumlah cabang dan jumlah buku utama pada pada varietas
anjasmoro dan argomulyo di lahan yang berbeda dapat dilihat pada Tabel 2 berikut:
Tabel 2. Rata-rata jumlah cabang dan jumlah buku utama pada pada varietas anjasmoro dan argomulyo di lahan yang berbeda.
Perlakuan Jumlah Cabang
(cabang/tanaman)
Jumlah Buku Utama (buku/tanaman)
Lahan dataran rendah varietas anjasmoro 6.64 13.00
Lahan dataran rendah varietas argomulyo 5.86 7.00
Lahan dataran tinggi varietas anjasmoro 7.64 12. 00
Lahan dataran tinggi varietas argomulyo 6.00 8. 00
Berdasarkan Tabel 2jumlah cabang,tanaman kedelai varietas anjasmoro dan argomulyo yang ditanam padalahan dataran tinggi cabang yang terbentuk lebih banyak dari pada yang ditanam di lahan dataran rendah. Adapun rata-rata jumlah cabang kedelai anjasmoro yang ditanam didataran tinggi dan didataran rendah yaitu 7.64 cabang/tanaman dan 6.64 cabang/tanaman.Untuk rata-rata jumlah cabang tanaman kedelai varietas argomulyo yaitu 6 cabang/tanaman dan 5.6 cabang/tanaman.
Jumlah buku utama pada tanaman kedelai varietas anjasmoro yang ditanam di lahan datara rendah lebih banyak dibandingkan dengan yang ditanam dilahan dataran tinggi, sebaliknya kedelai varietas argomulyo jumlah cabang utamanya lebih banyak yang ditanam didataran tinggi dibandingkan dengan yang ditanam pada lahan dataran rendah.Adapun rata-rata jumlah buku utama kedelai anjasmoro yang ditanam didataran rendah dan didataran tinggi yaitu 13 buku/tanaman dan12 buku/tanaman.Untuk rata-rata jumlah cabang tanaman kedelai varietas argomulyo yang ditanam pada lahan dataran tinggi dan lahan dataran rendah yaitu 8buku/tanaman dan 7buku/tanaman.
Jumlah buku utama yang dihasilkan per tanaman merupakankomponen yang erat kaitannya dengan tingginya produksi yang dihasilkan karena semua buku utama biasanyaakan menghasilkan polong, sehingga semakin banyak buku utama pada tanaman kedelai maka polong yang dihasilkan juga semakin banyak.
2.
Keragaan Generatif Tanaman
Rata-rata hasil pengukuran untuk komponen hasil kedelai varietas anjasmoro dan argomulyo yang ditanam di dua agroekosistem berbeda dapat dilihat pada Tabel 3 berikut:
Tabel 3. Komponen hasil kedelai varietas anjasmoro dan argomulyo yang ditanam di dua agroekosistem berbeda.
Berdasarkan Tabel 3 bahwa keragaan komponen hasil kedelai yang dihasilkan oleh kedua varietas anjasmoro dan argomulyo yang ditanam di dua agroekosistem berbeda pada parameter jumlah polong isi pertanaman dan polong kosong pertanaman.Pada tanaman kedelai varietas anjasmoro yang ditanam pada lahan dataran rendah jumlah polong yang isi lebih banyak dibandingkan dengan yang ditanam dilahan dataran tinggi, sebaliknya polong yang hampa lebih banyak pada kedelai yang ditanam didataran tinggi dibanding yang ditanam dilahan datara rendah. Adapun rata-rata jumlah polong isi dan polong hampa pada tanaman kedelai varietas anjasmoro yang ditanam pada lahan dataran rendah dan dilahan dataran tinggi yaitu 37.30 dan 24.30 polong isi/tanaman, 2.20 dan 11.45 polong hampa/tanaman.
Untuk kedelai varietas argomulyo yan ditanam pada lahan dataran tinggi polong isi per tanaman lebih tinggi daripada yang ditanam pada lahan dataran rendah, begitu juga dengan jumlah polong hampa per tanaman kedelai yang dilahan dataran tinggi lebih sedikit dibanding dengan yang ditanam dilahan dataran rendah. Adapun rata-rata jumlah polong isi dan polong hampa pada tanaman kedelai varietas argomulyo yang ditanam pada lahan dataran tinggi dan dilahan dataran rendah yaitu 28.85 dan 20.50 polong isi/tanaman, 6.25 dan 13.25 polong hampa/tanaman.
Perbedaan berat biji per tanaman dan berat 100 butir pada kedelai varietas anjasmoro lebih ringan dibandingkan dengan varietas argomulyo, hal ini ditunjukkan karena faktor genetiknya pada deskripsi varietas unggul kedelai (Balitkabi, 2011).Seiring pendapat Hidajat (1985) bahwa hasil tanaman kedelai ditentukan oleh ukuran biji, jumlah dan bobot biji.Sebaliknya jumlah biji ditentukan oleh jumlah buku utama dan jumlah polong yang dihasilkan.
Produktivitas yang dihasilkan masing-masing varietas yang ditanam didua agroekosistem berbeda yaitu pada lahan dataran rendah dan dataran tinggi terdapat perbedaan yang jauh.Kedelai varietas anjasmoro yang ditanam dilahan dataran rendah lebih tinggi dibandingkan yang ditanam dilahan dataran tinggi.Sedangkan produktivitas yang dihasilkan varietas argomulyo yang ditanam pada lahan dataran tinggi lebih tinggi daripada yang ditanam pada lahan dataran rendah.
Perbedaan produktivitas yang dihasilkan masih dibawah rata-rata potensi hasil baik varietas anjasmoro maupun varietas argomulyo. Rendahnya produktivitas yang dihasilkan diduga karena saat tanaman berumur 30-50 hst terjadi serangan hama ulat yang mengganggu pertumbuhan tanaman terutama daun.
Menurut Oemar (1997), faktor lingkungan yang beda, misalnya musim tanam, jenis tanah dan pola tanam yang digunakan dalam budidaya kedelai sangat mendorong sehingga diperlukan teknologi yang spesifik yakitu penggunaan varietas unggul. Seiring dengan hasil penelitian Maryanto (2002), bahwa jarak tanam mempengaruhi jumlah cabang/tanaman, jumlah biji dan berat biji.
Selain itu rendahnya produksi dikarenakan saat pengkajian dilakukan, dimana pada fase vegetatif dan fase generatif terjadi musim hujan yang berpanjangan, sehingga mengakibatkan tanaman rusak dan pengisian polong tidak sempurna.
Untuk melihat pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai yang ditanam maka keragaan dari hasil pengkajian dibandingkan dengandeskripsi varietaskedelai yaitu pada Tabel 4 berikut:
Tabel 4. Perbandingan hasil pengkajian dengan deskripsi varietas kedelai anjasmoro dan argomulyo.
Varietas Kedelai T. Tanaman
Pada hasil pengkajian untuk tinggi tanaman, jumlah cabang dan jumlah buku tanaman lebih tinggi dari deskripsi varietas kedelai, sedangkan untuk berat 100 butir dan produktivitas yang dihasilkan dari pengkajian jauh lebih rendah dari deskripsi varietas kedelai. Hal ini berarti produktivitas dari masing-masing varietas dapat ditingkatkan lagi dengan penanganan teknologi yang lebih optimal.
KESIMPULAN
Dari hasil pengkajian yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Kedelai varietas anjasmoro lebih adaptif ditanam dilahan dataran rendah dibandingkan dengan ditanam pada dataran tinggi. Sedangkan kedelai varietas argomulyo lebih adaptif ditanam didataran tinggi dibandingkan jika ditanam pada dataran rendah.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2010. Profil Desa Bukit Peninjauan II Tahun 2011. Kecamatan Sukaraja. Kabupaten Seluma. Propinsi Bengkulu.
Balitkabi. 2011. Deskripsi Varietas Unggul Kacang-kacangan dan Umbi-umbian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Kementerian Pertanian. Malang.
BPP Lubuk Ubar. 2014. Programa Penyuluhan Pertanian. Kecamatan Curup selatan. Kabupaten Rejang Lebong. Propinsi Bengkulu.
BPS Provinsi Bengkulu. 2010. Provinsi Bengkulu dalam Angka. Bappeda dan BPS Provinsi Bengkulu. Bengkulu 402 p.
Ditjen Tanaman Pangan. 2008. Pedoman Umum: Peningkatan Produksi dan Produktivitas Padi, Jagung, dan Kedelai melalui pelaksanaan SL-PTT. Dirjen Tanaman Pangan. 72 p.
Hidajat., O.O. 1985. Morfologi Tanaman Kedelai, hal 73-101. Dalam Somatmadja, M. Ismunadji, Sumarno, M. Syam, SO. Manurung, Yuswadi (Edisi). Kedelai. Badan Pengembangan Pertanian. Bogor.
Maryanto, E., D. Suryati, dan N. Setyowati.Pertumbuhan dan Hasil Beberapa Galur Harapan Kedelai pada Kerapatan Tanam Berbeda. Jurnal Akta Agrosia. 5(2):47-52.