• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prosiding Seminar Inovasi Teknologi Pertanian 2012

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Prosiding Seminar Inovasi Teknologi Pertanian 2012"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS EFISIENSI FAKTOR PRODUKSI PADA USAHATANI PADI SAWAH DI BENGKULU

Hamdan

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu [email protected]

ABSTRAK

Berbagai permasalahan yang dihadapi subsektor tanaman pangan menyebabkan terjadinya penurunan produksi padi di Bengkulu. Kondisi iklim global, degradasi lahan, akses terhadap input usahatani yang semakin sulit menyebabkan turunnya motivasi pahlawan pangan dalam mengelola usahataninya. Lebih lanjut, pelandaian produksi yang terus terjadi menyebabkan perubahan orientasi usahatani utama, misalnya dari tanaman pangan ke tanaman perkebunan. Kondisi ini dipengaruhi oleh pengelolaan usahatani dan alokasi sumberdaya yang belum efektif dan ekonomis. Untuk itu perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui alokasi sumberdaya dalam usahatani padi dan pengaruhnya terhadap tingkat produksi. Selain itu juga perlu diperoleh alokasi ekonomis dari penggunaan sumberdaya tersebut. Penelitian ini dilakukan di 3 kabupaten yaitu Seluma, Bengkulu Selatan, dan Bengkulu Utara. Analisis data menggunakan fungsi produksi Cobb-Douglas yang diestimasi dengan metode Ordinary Least Square (OLS) dan fungsi keuntungan yang diturunkan dari fungsi produksi tersebut. Hasil analisis regresi menunjukkan pengaruh penggunaan benih, pupuk urea, dan pupuk NPK yang signifikan terhadap produksi padi. Secara ekonomi penggunaan input benih, pupuk urea, dan pupuk NPK belum optimal. Penambahan penggunaan masing-masing input masih memungkinkan untuk meningkatkan produksi padi sawah.

Kata kunci: faktor produksi, efisiensi, padi, sawah, usahatani

PENDAHULUAN

Sektor pertanian merupakan pengerak utama pembangunan di wilayah Provinsi Bengkulu. Share Produk Domestik Regional Bruto sektor pertanian atas dasar harga berlaku dalam 10 tahun terakhir mencapai 33%, tahun 2002 sebesar Rp 2,02 triliun dan tahun 2011 naik menjadi Rp 5,95 triliun dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 11,39% per tahun. Subsektor tanaman pangan merupakan penyumbang terbesar dengan nilai mencapai Rp 3,71 triliun (62,38%) dikuti subsektor sebesar Rp 1,58 triliun (26,60%), dan subsektor peternakan sebesar Rp 0,65 triliun (11,02%) (BPS 2011).

Hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) bulan Agustus 2011 yang dimuat dalam publikasi Bengkulu Dalam Angka 2012 oleh BPS Provinsi Bengkulu, mayoritas penduduk Bengkulu berusia 15 tahun keatas bekerja di sektor pertanian (52.24%), kemudian di sektor Perdagangan(18.43%), Jasa-jasa lainnya (15.34%), Konstruksi (4.99%), Angkutan dan komunikasi (3%), Industri(2.9%), Bank dan Lembaga (1.69%), Pertambangan (1.09%) dan paling sedikit di sektor listrik danair minum (0.32%). Penduduk Provinsi Bengkulu pada tahun 2011 berjumlah 1.742.080 dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 1.67%.

Salah satu komoditas pertanian yang diharapkan dapat bergerak positif dalam hal peningkatan produksi dan pendapatannya adalah padi. Kerberlanjutan produksi padi sangat penting untuk dijaga mengingat perannya sebagai bahan pangan pokok, juga merupakan komoditas strategis dalam menjaga ketahanan pangan. Peningkatan produksi padi hanya dapat dilakukan dengan pengelolaan usahatani yang baik dengan dukungan teknologi serta jaminan ketersediaan sarana produksi pertanian seperti benih/bibit unggul, pupuk dan obat-obatan.

(2)

Hasil penelitian yang dilakukan Notarianto (2011); Effendy (2010); Brits (2008) dalam Effendy (2010); Moses & Adebayo (2007); menyebutkan variabel yang pengaruh secara signiifikan terhadap produksi padi adalah luas lahan, jumlah benih, pupuk, tenaga kerja terhadap produksi padi sawah. Mahananto, et.al (2009), penggunaan pestisida, jarak lahan garapan dengan rumah petani, dan sistem irigasi. Sedangkan Basorun & Fasakin (2012), menyebutkan status pernikahan petani padi, luas lahan ditanami, ketersediaan pasar padi, jumlah buruh yang terlibat dalam produksi dan penggunaan agro-kimia.

Usahatani padi sawah tidak hanya sebagai penghasil bahan makanan tetapi juga mempunyai nilai multifungsi yang menghasilkan jasa lingkungan. Jasa lingkungan dari kegiatan usahatani antara lain penyedia lapangan kerja dan penyangga ketahanan pangan (Irawan at al. 2006). Oleh karenanya perlu pengelolaan yang tepat dengan menggunakan faktor produksi secara efisien guna meningkatkan produksi dan menjaga keberlanjutan produksi. Penggunaan faktor produksi yang tidak efisien dalam usahatani padi sawah akan mengakibatkan rendahnya produksi dan tingginya biaya, dan pada akhirnya mengurangi pendapatan petani. Bagi petani kegiatan usahatani yang dilakukan tidak hanya meningkatkan produksi tetapi bagaimana menaikkan pendapatan melalui pemanfaatan penggunaan faktor produksi.

Pengelolaan input produksi harus mempertimbangkan prinsip optimalisasi guna pencapaian produksi yang tinggi dengan alokasi input yang efisien dan efektif. Menurut Soekartawi (2001), efisien ini dapat digolongkan menjadi tiga macam, yaitu efisiensi teknis, efisiensi alokatif (efisiensi harga), dan efisiensi ekonomi. Petani sebagai entrepreneur akan bertindak secara rasional dan logis dalam pengelolaan usahataninya. Sumberdaya yang terbatas akan dimanfaatkan oleh petani secara efisien guna memperoleh keuntungan yang maksimum. Akan tetapi karena keterbatasan ekonomi, pengetahuan usahatani maka tingkat penggunaan sumberdaya secara optimal belum tercapai. Oleh sebab itu dalam penelitian ini selain akan diteliti tentang pengaruh faktor-faktor yang mempengaruhi produksi padi sawah juga akan diteliti tingkat efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi.

BAHAN DAN METODA

Penelitian dilakukan di daerah sentra produksi padi sawah Provinsi Bengkulu, yaitu di Kabupaten Bengkulu Utara (Kecamatan Argamakmur, Kerkap dan Padang Jaya), Bengkulu Selatan (Kecamatan Kedurang dan Seginim), dan Seluma (Kecamatan Seluma Selatan). Lokasi penelitian ditentukan secara sengaja (purposive), yaitu daerah persawahan dengan irigasi yang mengalami konversi lahan menjadi perkebunan. Pengumpulan data dilakukan dua tahap, yaitu bulan April 2011 sampai dengan Juli 2011 untuk Kabupaten Seluma, dan Kabupaten Bengkulu Selatan dan Bengkulu Utara bulan Mei 2012 sampai dengan Juni 2012 yang melibatkan 67 responden. Data yang dikumpulkan adalah keragaan usahatani padi sawah pada periode tanam musim hujan (MH) dan keragaan responden melalui wawancara dengan panduan kuesioner.

Analisis Data

Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi padi sawah menggunakan pendekatan fungsi produksi Cobb-Douglas. Agar fungsi produksi di atas dapat ditaksir, maka persamaan tersebut perlu ditransformasikan ke dalam bentuk linier sehingga menjadi:

LnY = β0 + β1LnX1 + β2LnX2 + β3LnX3+ … + β5LnX5+ ε ……… 1 Di mana: Y = Produksi padi (kg)

X1 = Penggunaan bibit (kg)

X2 = Penggunaan pupuk Urea (kg)

X3 = Penggunaan pupuk NPK (kg)

X4 = Dummy variabel Penggunaan pupuk SP-36 (1= menggunakan; 0=tidak)

X5 = Dummy variabel (1= ada kendala; 0= tidak ada) β0 = Intersep

β1… β5 = Koefisien regresi

(3)

Pengujian Model

Pengujian ini dimaksudkan untuk memperoleh kepastian tentang konsistensi model estimasi yang dibentuk berdasarkan teori ekonomi yang mendasarinya. Pengujian dilakukan terhadap nilai R2 untuk memperoleh gambaran tentang pengaruh variansi dari variabel tak bebas dapat dijelaskan oleh variansi dari variabel bebas. F-hitung untuk melihat pengaruh variabel bebas yang digunakan secara keseluruhan terhadap model yang dihasilkan dan uji dan t-hitung untuk untuk mengetahui koefisien (peubah bebas X) yang berpengaruh nyata terhadap Y.

Uji Asumsi Klasik

Model regresi linier berganda (multiple regression) dapat disebut model yang baik jika memenuhi kriteria BLUE (Best Linear Unbiased Estimator). BLUE dapat dicapai apabila model yang dihasilkan memenuhi Asumsi Klasik, yaitu uji normalitas, uji multikoliniertas, uji autokorelasi, dan uji heteroskedastisitas (Juanda 2009).

Analisi efisiensi faktor produksi

Alokasi yang efisien dari input produksi dapat tercapai pada kondisi value marginal product (NPMXi) sama dengan harga dari inputnya (pi). Nilai Produk Marginal dapat dihitung dengan

mengalikan marginal physical product (MPP) dengan harga satu-satuan unit produksi yang dihasilkan (Py), dengan formula sebagai berikut:

���

=

… … … …

.2

���

=

���

� .

……… 3

Dimana: MPPXi = Marginal Physical Product dari Xi

= Geometrik mean dari output � = Geometrik mean dari input Xi

βi = Koefisien regresi masing-masing faktor produksi (Xi)

Indeks Efisiensi Faktor Produksi

Efisiensi penggunaan faktor produksi (efficiency index) ditentukan dengan cara membandingkan Nilai Produksi Marginal (VMP) faktor produksi dengan harga faktor produksi yang ditimbulkan, dengan faomula sebagai berikut:

��=���

� = 1… … … …. .… … … …. .4

Alokasi penggunaan faktor produksi tidak efisien dapat terjadi karena dua kemungkinan yaitu: (1) alokasi masukan faktor produksi masih terlampau rendah atau (2) alokasi masukan faktor produksi sudah terlampau tinggi. Menurut Soekartawi (2003) bahwa dalam kenyataan NPMxi tidak selalu sama dengan Pxi, yang sering terjadi adalah (NPMxi/Pxi)>1, artinya penggunaan input X belum efisien, untuk mencapai efisiensi maka input X perlu ditambah. (NPMxi/Pxi)<1, artinya penggunaan input X tidak efisien, untuk menjadi efisien maka penggunaan input X perlu dikurangi.

HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Petani

(4)

Tabel 1 Keragaan karakteristik petani responden padai sawah di Provinsi Bengkulu.

Sumber : data primer (diolah), 2011.

Pengalaman rata-rata usahatani padi sekitar 19,57 tahun, artinya petani sudah sangat memahami seluk beluk usahatani padi sehingga dapat mengelolanya secara efektif dan efisien. Tingkat pendidikan bervariasi dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi dengan lama pendidikan rata-rata 8,30 tahun (tidak menamatkan SMP). Tingkat pendidikan responden tergolong rendah, faktor ini akan berpengaruh pada kemampuan adopsi teknologi dan kemampuan berinovasi serta manajerial petani dalam berusahatani padi.

Keragaan Penerapan Teknologi Usahatani

Analisis usahatani diperlukan untuk mempelajari bagaimana seseorang mengalokasikan sumberdaya yang ada (benih, pupuk, pestisida, tenaga kerja, dan input lainnya) secara efektif dan efisien untuk tujuan memperoleh keuntungan pada waktu tertentu. Secara umum analisis usahatani dapat dilakukan secara finansial dan ekonomi. Secara finansial harga-harga yang menjadi patokan/ acuan adalah harga riil atau harga pasar (Tabel 2).

Tabel 2. Rata-rata penggunaan input, biaya dan penerimaan usahatani padi per hektar di Provinsi Bengkulu.

Variabel Jumlah Nilai (Rp) Alokasi biaya (%)

Output (kg) 4.062 12.250.528,- - Tenaga kerja luar keluarga

- Tenaga borongan (olah tanah, tanam,

(5)

Artinya setiap 7 karung gabah bersih yang telah dikerjakan maka upahnya dibayarkan sebanyak 1 karung dengan berat per karung berkisar antara 45-50 kg GKP.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi Padi

Hasil analisis terhadap penggunaan faktor produksi (input) dan pengaruhnya terhadap produksi padi sawah menggunakan software SPSS 17 disajikan pada Tabel 3. Dimana berdasarkan output SPSS, maka secara matematis dapat ditulis model regresi antara variabel produksi dengan variabel yang mempengaruhinya dalam persamaan berikut:

LnY= 3,323 + 0,459LnX1 + 0,396LnX2 - 0,019LnX3 + 0,211LnX4 - 0,090LnX5

Model yang dihasilkan cukup baik, uji normalitas dengan melihat rasio Skewness dan Kurtosis diperoleh nilai – 0,56 dan – 0,66. Nilai ini berada diantara -2,00 dan 2,00 maka dapat disimpulkan distribusi data adalah normal (Santoso, 2000). Selanjutnya untuk uji autokorelasi menggunakan uji Durbin-Watson (DW-Test), diperoleh nilainya 2,020 (nilai dU= 1,768, dan dL= 1,449

dengan derajat kepercayaan 5% dan 67 observasi serta 5 variabel penjelas). Nilai DW-Test berada diantara dU sampai 4-dU, maka koefisien autokorelasi sama dengan nol (tidak ada autokorelasi).

Tabel 3 Hasil analisis regresi faktor produksi pada usahatani padi sawah di Provinsi Bengkulu.

Variabel β t sig VIF

Keterangan: *) Signifikan pada α = 0,01 Sumber : Data primer (diolah), 2011

Berdasarkan output SPSS pada Tabel di atas, maka secara matematis dapat ditulis model regresi antara variabel produksi dengan variabel yang mempengaruhinya dalam persamaan berikut:

Uji Multikolinearitas digunakan untuk mengetahui apakah terjadi korelasi yang kuat di antara variabel-variabel independen yang diikutsertakan dalam pembentukan model. Untuk mendeteksi apakah model regresi linier mengalami Multikolinearitas dapat diperiksa menggunakan Variance Inflation Factor (VIF) untuk masing-masing veriabel independen, yaitu jika suatu variabel independen mempunyai nilai VIF > 10 berarti telah terjadi multikolinearitas. Hasil analisis diperoleh nilai VIF bi bawah 10, berarti tidak terdapat multikolinieritas dalam model. Untuk uji Heteroskedatisitas dilakukan dengan Uji Glejser, hasil penggujian dengan program SPSS diperoleh nilai variabel penjelas yang tidak berpengaruh secara signifikan terhadap residual sehingga dapat disimpulkan model bebas dari masalah Heteroskedastisitas.

Nilai koefisien determinasi (R2) diperoleh sebesar 0,758, artinya 75,80% keragaman produksi padi sawah dapat dijelaskan variabel Penggunaan benih (X1), Penggunaan pupuk urea (X2),

Penggunaan pupuk SP-36 (X3), Penggunaan pupuk NPK (X4), dan Masalah Irigasi(X5), sedangkan

sisanya 24,20% dijelaskan oleh variabel lain diluar model.

Nilai Fhitung diperoleh 38,11 dan nilai signifikan 0,000, artinya bahwa variabel-variabel yang

diduga secara keseluruhan berpengaruh terhadap produksi padi. Secara parsial variabel yang berpengaruh secara significant adalah penggunaan benih (X1), penggunaan pupuk urea (X2), dan

penggunaan pupuk NPK (X4). Sedangkan penggunaan pupuk SP-36 dan kendala irigasi tidak

berpengaruh secara signifikan terhadap produksi padi.

(6)

jauh lebih tinggi dari yang direkomendasi sebanyak 30 - 35 kg/ha untuk cara pindah dan jajar legowo 35 - 40 kg/ha. Tingginya penggunaan benih disebabkan benih yang digunakan umumnya hasil penangkaran sendiri dan dalam proses penyemaian belum dilakukan sesuai anjuran terutama luas lahan semaian.

Penggunaan pupuk urea ditingkat petani sebanyak 250,79 kg/ha, jumlah ini lebih banyak dibandingkan rekomendasi yaitu 228 kg/ha untuk Bengkulu Selatan, 192 kg/ha untuk Seluma dan 150 kg/ha untuk Bengkulu Utara (BPTP 2010). Secara statistik penambahan input pupuk urea masih memungkinkan dengan nilai elatisitas sebesar 0,396, artinya penambahan 1 satuan input pupuk urea akan menaikan produksi sebesar 39,60%.

Penggunaan rata-rata pupuk NPK sebanyak 147,40 kg/ha, lebih rendah dibandingkan rekomendasi yaitu 174 kg/ha untuk Bengkulu Selatan, 186 kg/ha untuk Seluma dan 150 kg/ha untuk Bengkulu Utara (BPTP 2010). Penambahan input pupuk NPK masih memungkinkan dengan nilai elatisitas sebesar 0,211, artinya penambahan 1 satuan input pupuk NPK akan menaikan produksi sebesar 21,10,60%.

Penggunaan pupuk oleh petani belum sesuai anjuran, hal ini disebabkan rendahnya pengetahuan petani tentang pupuk dan waktu pengaplikasian yang tidak tepat. Selain itu faktor ketersediaan ditingkat petani dan harga pupuk juga ikut mempengaruhi jumlah pupuk yang digunakan.

Efisiensi Faktor Produksi

Pengukuran tingkat efisiensi penggunaan faktor produksi dapat dilakukan dengan memanfaatkan nilai koefisien regresi dari masing-masing varabel bebas (input produksi), rata-rata penggunaan input dan rata-rata harga input dan produksi (Tabel 4). Tingkat efisiensi penggunaan input sangat dipengaruhi oleh kondisi bio-fisik lahan, pola dan kebiasaan usahatani.

Penggunaan faktor produksi benih sebanyak 47,84 kg/ha, memiliki efficiency index yang lebih besar dari 1, artinya alokasi benih dalam jumlah tersebut belum efisien. Disarankan penambahan penggunaan input benih, terutama dari sisi kualitas benih dan cara penyemaian karena sebagian besar petani menggunakan benih hasil produksi sendiri tanpa proses seleksi yang baik. Anjuran penggunaan benih sebanyak 20-25 kg dengan luas pembibitan 400 meter persegi (Badan Litbang, 2007).

Tabel 4 Hasil analisis efisiensi penggunaan faktor produksi padi sawah di Provinsi Bengkulu.

Variabel koef MPP NPM Indek efisien

Penggunaan benih Penggunaan pupuk urea Penggunaan pupuk NPK

0,46 0,40 0,21

35,65 6,07 5,92

112.122,40 19.073,09 18.614,45

26,59 9,62 6,98

Sumber: data primer (diolah), 2011.

Faktor produksi pupuk urea dan pupuk NPK memiliki nilai indek efisiensi lebih besar dari 1, berarti penggunaan kedua faktor produksi pupuk ini masih dapat ditingkatkan pengggunaannya dengan waktu pemupukan yang tepat sesuai dengan kebutuhan dan tahap pertumbuhan tanaman untuk memperoleh produksi yang optimum. Menurut Pirngadi dan Abdulrachman (2005) penggunaan NPK 15-15-15 dengan dosis 300 kg/ha mampu menghasilkan 6,25 ton GKG. Pupuk diberikan diberikan tiga kali, yaitu pada umur 7 hari setelah tanam (HST), 21 HST dan saat primordial bunga.

(7)

KESIMPULAN DAN SARAN

1. Teknologi budidaya pada usahatani padi sawah didaerah penelitan telah diadopsi oleh petani, namun belum dilaksanakan sesuai rekomendasi sehingga produktivitas usahatani masih rendah, yaitu 4,062 kg/ha/musim. Sedangkan biaya usahatani yang dibutuhkan cukup tinggi sehingga keuntungan yang diperoleh juga relatif rendah sebesar Rp 5,862,048/ha/musim.

2. Hasil analisis regresi diperoleh pengaruh faktor penggunaan benih, penggunaan pupuk urea, dan penggunaan pupuk NPK yang signifikat pada α=0,01 terhadap produksi padi. Sedangkan faktor penggunaan pupuk SP-36 dan masalah ketersediaan air irigasi tidak berpengaruh terhadap produksi padi. Secara teknis penggunaan faktor-faktor produksi belum efisien, sehingga masih ada peluang untuk meningkatkan produksi melalui penambahan faktor produksi tersebut.

3. Dalam upaya mempertahankan ketersediaan pangan dan keberlanjutan usahatani padi guna meningkatkan pendapatan petani, maka disarankan peningkatan sosialisasi rekomendasi teknologi budidaya yang telah dihasilkan dengan melibatkan penyuluh pertanian. Penekanan dari sosialisasi ini adalah alokasi penggunaan input, seperti benih unggul, penggunaan pupuk sesuai kebutuhan tanaman, serta penggunaan pestisida secara tepat.

DAFTAR PUSTAKA

Basorun JO, Fasakin JO. 2012. Factors influencing rice production in Igbemo-Ekiti Region of Nigeria. Journal of Agriculture, Food and Environmental Sciences ISSN 1934-7235 Volume 5, Issue 1.

BPS Prov. Bengkulu. 2011. Provinsi Bengkulu dalam Angka. Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu. Bengkulu.

BPTP Bengkulu. 2010. Rekomendasi Pemupukan Padi Sawah Spesifik Lokasi di Provinsi Bengkulu. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu. Bengkulu.

Badan Litbang Pertanian. 2007. Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Sawah Irigasi. Pedoman bagi Penyuluh Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jakarta.

Dewi IGAC, Suamba IK dan Ambarawati IGAA. 2012. Analisis Efisiensi Usahatani Padi Sawah. Studi kasus di Subak Pacung Babakan Kecamatan Mengwi Kabupaten Badung. E-journal Agribisnis dan Agrowisata vol. 1, no. 1.

Effendy 2010. Efisiensi Faktor Produksi dan Pendapatan Padi Sawah di Desa Masani Kecamatan Poso Pesisir Kabupaten Poso. Jurnal Agroland 17 (3) :233 – 240.

Irawan, Sanim B., Siregar H. dan Kurnia U. 2006. Evaluasi Ekonomi Lahan Pertanian: Pendekatan Nilai Manfaat Multifungsi Lahan Sawah dan Lahan Kering. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia vol. 11 no. 3 hal 32-41.

Juanda B. 2009. Ekonometrika Pemodelan dan Pendugaan. IPB Press. Bogor.

Mahananto, Sutrisno S dan Ananda C.F. 2009. Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Padi Studi Kasus di Kecamatan Nogosari, Boyolali, Jawa Tengah. Wacana Vol. 12 No.1.

Moses J, Adebayo EF. 2007. Efficiency of factors determining rainfed rice production in Ganye Local Government Area, Adamawa State. Jurnal Of Sustainable Development in Agriculture & Environment Vol. 3.

Notarianto D. 2011. Analisis Efisiensi Penggunaan Faktor-Faktor Produksi Pada Usahatani Padi Organik dan Padi Anorganik (studi kasus: Kecamatan Sambirejo Kabupaten Sragen). [skripsi] Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro. Semarang

Pirngadi K dan Abdulrachman S. 2005. Pengaruh Pupuk Majemuk NPK (15-15-15) Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Padi Sawah. Jurnal Agrivigor 4 (3) hal 188-197.

Soekartawi. 2001. Ilmu Usahatani. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Gambar

Tabel 1 Keragaan karakteristik petani responden padai sawah di Provinsi Bengkulu.
Tabel 3 Hasil analisis regresi faktor produksi pada usahatani padi sawah di Provinsi Bengkulu
Tabel 4  Hasil analisis efisiensi penggunaan faktor produksi padi sawah di Provinsi Bengkulu

Referensi

Dokumen terkait

Jumlah malai merupakan salah satu karakter tanaman yang dapat menentukan produktivitas tanaman, sama halnya dengan hasil penelitian Ahmad dan Pratama (2008) menunjukkan

Dengan kondisi biofisik yang demikian, maka pengembangan lahan rawa lebak untuk usaha pertanian khususnya tanaman pangan, hortikultura, peternakan dan perikanan dalam skala

Varietas Inpara 3 dan Banyuasin beradaptasi baik pada lahan rawa pantai yang terkendala cekaman air laut dan dalam kondisi kekeringan dengan produktivitasnya 3,45 t/ha

Pengkajian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan faktor tunggal yaitu Posisi Tanaman (P): Tanaman Tengah (P1) yaitu tanaman yang terletak

Lebih lanjut Diwyanto dan Priyanti (2009) menyatakan untuk meningkatkan pendapatan peternak upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan mengelola hasil ikutan (limbah) ternak menjadi

Resiko kegagalan usaha tani tersebut dapat ditekan dengan menerapkan teknologi budidaya yang tepat sesuai dengan standar yang dianjurkan oleh Pusat Penelitian Kopi

Salah satu cara untuk meningkatkan produktivitas adalah melalui penerapan teknologi yang spesifik lokasi dengan pendekatan Pengelolaan Tanaman dan Sumber Daya Terpadu (PTT)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) sikap anggota kelompok afinitas berdasarkan komponen sikap terhadap tahap-tahap Program Aksi Desa Mandiri Pangan adalah baik; dan