• Tidak ada hasil yang ditemukan

Meraba Peluang Stem Cell untuk Pengobatan Diabetes

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Meraba Peluang Stem Cell untuk Pengobatan Diabetes"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

Meraba Peluang Stem Cell

untuk Pengobatan Diabetes

UNAIR NEWS – Badan Kesehatan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa

(WHO) memperkirakan pada tahun 2030 terdapat 21,3 juta penduduk Indonesia mengalami penyakit diabetes melitus. Perkiraan itu sejalan dengan fakta bahwa populasi penderita diabetes melitus (DM) di Indonesia saat ini menduduki peringkat kelima terbanyak di dunia.

Kondisi ini jelas memprihatinkan. Sekitar 80% dari prevalensi diabetes di Indonesia didominasi oleh penderita yang tidak menyadari kondisinya. Problematika diabetes ini dikupas secara menyeluruh dalam acara ‘The Quadruple Joint Symposium 2016’ yang diselenggarakan oleh Pusat Diabetes dan Nutrisi Surabaya (PDN) RSUD Dr. Soetomo – Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga bekerjasama dengan Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) dan Persatuan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) di Hotel Shangri-La Surabaya 23-24 April 2016 lalu.

Simposium ini dihadiri oleh dua pembicara asal Jepang Prof. Hiroshi Taniguchi dan Prof. Naemi M. Kajiwara, serta sejumlah pakar dari 14 pusat penelitian dan pengobatan diabetes di seluruh Indonesia yang mencakup Banda Aceh, Medan, Padang, Palembang, Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Solo, Surabaya, Makassar dan Manado.

Sony Wibisono, dr., Sp.PD-KEMD, FINASIM, selaku wakil ketua acara mengungkapkan bahwa saat ini penyakit diabetes sudah banyak menjangkiti individu dari segala usia. Bahkan, penyakit diabetes itu disertai komplikasi penyakit yang beragam. Komplikasi itu disebut dengan endo-kardiometabolik.

Komplikasi diabetes sudah mengenai jantung beserta organ lainnya yang melakukan proses metabolisme sehingga kondisi ini

(2)

mengakibatkan munculnya kelainan hormon termasuk testosteron. “Dulu kebanyakan penderita diabetes mengalami luka di kaki yang tidak kunjung kering. Namun sekarang, justru yang ditakutkan adalah dampak komplikasi diabetes yang mengenai jantung. Maka dari itu perlu upaya mengobati dampak komplikasinya,” jelas dokter Sony.

Untuk mengendalikan jumlah penderita diabetes, para pakar tidak hanya berfokus pada upaya pengobatan, tetapi juga pencegahan. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan metode pengobatan sel punca (stem cell).

Seperti diketahui, metode pengobatan dengan sel punca sudah dikembangkan di banyak negara guna mengatasi berbagai persoalan penyakit. Kini, peneliti sedang disibukkan dengan potensi metode sel punca terhadap penyakit diabetes.

Tingginya gula darah pada penderita diabetes mengakibatkan fungsi organ pankreas tidak mampu bekerja dengan baik. Akibatnya, jumlah sel pankreas terus menurun. Metode pengobatan sel punca sedang diteliti sebagai solusi perbaikan pankreas.

“Mungkin dapat dibayangkan, bagaimana seandainya stem cell ‘ditempelkan’ pada pankreas yang rusak. Dengan harapan dapat memulihkan kembali fungsi pankreas seperti sediakala,” ungkap dokter Sony.

Namun, metode pengobatan diabetes dengan sel punca ini masih dalam tahap pengembangan. Pada tahun 2010, peneliti sempat melakukan uji coba pada mencit. Ternyata, hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Menurut dokter Sony, sel punca belum bisa menjadi metode pengobatan.

“Stem cell belum bisa menjadi metode pengobatan. Metode ini hanya bekerja membantu mengurangi jumlah obat yang dikonsumsi oleh penderita diabetes,” tuturnya.

(3)

Mencegah diabetes

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Pusat Diabetes dan Nutrisi Surabaya Prof. Dr. dr. Askandar Tjokroprawiro, Sp.PD, K-EMD, FINASIM, mengungkapkan pentingnya langkah pencegahan sekaligus kontrol kadar gula darah.

Dosen emeritus FK UNAIR menekankan pentingnya bagi setiap individu untuk mengontrol lingkar pinggang. Jika seorang laki-laki memiliki ukuran lingkar pinggang lebih dari 90 cm, dan seorang perempuan lebih dari 80 cm, maka orang tersebut termasuk dalam kategori obesitas. Untuk mencegah diabetes dan komplikasinya, setiap orang sebaiknya menjalankan pola hidup dan diet sehat.

Sedangkan, bagi pengidap diabetes, Prof. Askandar menyarankan penderita untuk mengonsumsi buah ketimbang olahan seperti jus. Buah yang secara langsung dikonsumsi akan mengalami proses cerna lebih lama di usus sehingga makanan lambat diserap dan gula darah tidak terlalu cepat meningkat. (*)

Penulis: Sefya Hayu Istighfarica Editor: Defrina Sukma S

Komisi XI DPR Kunjungi UNAIR

Bahas RUU Pengampunan Pajak

UNAIR NEWS – Setelah menerima kunjungan dari Komisi II DPR-RI

di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) beberapa hari lalu, UNAIR kembali menerima kunjungan dari Komisi XI DPR-RI, Kamis (21/4). Kunjungan komisi yang melingkupi urusan keuangan, perencanaan pembangunan nasional, perbankan, lembaga keuangan tersebut diterima di Fakultas Ekonomi dan Bisnis

(4)

(FEB) UNAIR. Selain ingin mendapat masukan mengenai RUU Pengampunan Pajak dari pakar di FEB, Komisi XI juga mendapat masukan pakar dari FH UNAIR dan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jawa Timur.

‘‘Kunjungan kami kali ini bermaksud untuk mendapatkan masukan dari akademisi yang hadir sebagai pertimbangan terkait RUU Pengampunan Pajak yang kita bahas,’’ ujar Ir. H. Soepriyatno, Wakil Ketua Komisi XI DPR RI di awal sambutannya.

Terkait RUU tersebut, Dr. Elia Mustikasari SE., M.Si., Ak., selaku dosen FEB UNAIR menjelaskan tiga belas poin penting yang menjadi masukan bagi Komisi XI. Salah satu poinnya menyebutkan bahwasanya RUU ini perlu disetujui untuk penguatan APBN, penguatan cadangan devisa, mengurangi tekanan nilai tukar, meningkatkan likuiditas dalam perekonomian, mendorong Direktorat Jenderal Pajak untuk mengembangkan sistem perpajakan nasional dan keterbukaan wajib pajak di masa mendatang. Di negara berkembang fenomena pajak tersebut dapat berpengaruh pada PDB negara hingga kisaran 30-40 persen dari uang negara. Untuk itu kiranya pengampunan pajak dapat mampu mengurangi angka kegagalan tersebut.

”Untuk memberlakukan undang-undang ini, perlu yang namanya sistem administrasi yang kuat dan juga basis data yang kuat pula terkait dengan hal-hal semacam transaksi bisnis,” ujarnya.

Dari segi hukum, Dr., Rr. Herini Siti Aisyah S.H., M.H., menjelaskan bahwa kendala penegakan hukum ini dapat dilihat dari empat hal, yakni perlawanan pasif, perlawanan aktif, tax avoidance dan tax evasion. Perlawaan yang dimaksud adalah perlawanan terhadap pemberlakuan peraturan baik secara langsung maupun tidak, secara pasif maupun aktif. Sedangkan dua hal terakhir dimaksudkan sebagai sebuah kendala yang melihat mengenai penghindaran terhadap pajak dengan cara melanggar maupun tidak melanggar undang-undang.

(5)

”Tax amnesty harus dipersiapkan secara matang dan hati-hati sebelum disahkan, disamping itu masyarakat juga harus mendukung,’’ jelasnya.

Dalam pembahasan mendalam mengenai masukan RUU tersebut, banyak muncul tanggapan dan masukan dari beberapa pihak yang terlibat. MM., Ir. Andreas Eddy Susetyo dari Fraksi PDIP memberikan masukan terkait masukan yang telah diberikan. Ia menilai bahwa RUU ini masih menjadi perdebatan antara kelompok yang setuju dan tidak. Baginya, RUU ini tidaklah mudah, butuh tim ahli yang tepat untuk memformulasikanya.

Sementara itu, Evi Zainal Abidin, B. Com dari Fraksi Partai Demokrat memberikan tanggapan mengenai pengesahan RUU ini. baginya, RUU ini tidak mudah, harus ada pertimbangan terkait kesejahteraan dan kemaslahatan rakyat. Ia juga menyinggung mengenai waktu yang diberikan oleh pemerintah yang terlalu singkat untuk kemudian disahkan nantinya pada bulan juni.

“RUU ini baru diberikan pada 12 April lalu oleh Pemerintah, kita (Komisi XI,-red) tidak bisa menilai apakah ini bisa diselesaikan dalam waktu singkat,” tambah salah satu Fraksi Partai Demokrat tersebut. (*)

Penulis : M. Ahalla Tsauro Editor : Nuri Hermawan

Berkat Ejekan Sejawat, Prof.

Rachmah Ida Jadi Gubes Bidang

(6)

Kajian Media Pertama di

Indonesia

UNAIR NEWS – Pada periode tahun 1997, Kajian media atau media studies belum begitu populer di Indonesia. Dibandingkan dengan studi public relation, media studies yang termasuk kajian di bidang ilmu komunikasi tersebut kurang diminati oleh mahasiswa. Namun hal tersebut tak menyurutkan semangat seorang “Kartini” asal komunikasi UNAIR ini, Prof. Dra. Rachmah Ida, M.Comms, PhD, Dosen pengajar Sarjana (S1) dan Magister (S2) Ilmu Komunikasi UNAIR yang menempuh studi medianya hingga doctoral di negeri kanguru, Australia.

Banyak rintangan yang dihadapi oleh Rachmah Ida sebelum menentukan pilihannya untuk melanjutkan pendidikan di bidang media studies. Dia bercerita, bahwa suatu saat masih menempuh p e n d i d i k a n m a s t e r m e d i a s t u d i e s d i E d i t h C o w a n University,Australia, dirinya sempat dijadikan bahan ejekan oleh teman sejawatnya, lantaran bidang studi yang ia pilih tidak akan laku di Indonesia.

“Saya pernah di olok sama senior saya, karena ilmu saya yaitu media cultural studies dianggap tidak akan pernah laku di Indonesia, saat itu saya diam saja,” kenang wanita yang telah menempuh pendidikan doctoral di Curtin University of Technology, Australia.

Namun kini, Industri media mulai berkembang dan pendidikan ilmu komunikasi di Indonesia mulai tertarik dengan media cultural studies. Ketika kajian media sedang booming, banyak orang yang beralih ke kajian media studies ini. Apa yang telah diperkirakan oleh kolega seniornya tidak terbukti. Hal ini yang kemudian menjadikan Rachmah Ida semakin mantap untuk mengajukan diri menjadi guru besar di bidang kajian media pada Desember 2014. Terlebih saat itu Rachmah Ida menjadi guru besar di bidang kajian media pertama di Indonesia.

(7)

“Ketika saya mengajukan guru besar saya, maka kajian media adalah bidang studi yang selama ini saya tekuni menjadi major saya di antara dosen-dosen Ilmu Komunikasi di tanah air yang dominannya mengambil studi Ilmu Komunikasi,” ungkap wanita yang kini masih aktif dalam penelitian dan pengabdian masyarakat tersebut.

Selain aktif di bidang penelitian dan pendidikan, Rachmah Ida juga merupakan Ibu bagi putrinya, Zahra Tiara Aisya,19 tahun. Walaupun terbilang sibuk oleh penelitian dan mengajar mahasiswanya, Rachmah Ida tak ingin perhatian kepada buah hatinya luput begitu saja. Dia bersama suaminya ingin membesarkan dan mengasuh anaknya mulai dari kecil hingga kini sebagai mahasiswi.

“Sebagai Ibu bagi seorang putri saya menjadi Ibu yang nurturing (mengasuh,-red) dan membimbing akidahnya, sekaligus “best friend” baginya,” ungkap wanita asli Surabaya tersebut.

Mengartikan Kesetaraan Gender

Menurutnya, kesetaraan gender adalah konsep di mana ada pengakuan atas hak-hak asasi yang dimiliki oleh perempuan dan laki-laki. Hak asasi ini meliputi hak untuk hidup, hak atas pendidikan, hak atas pekerjaan yang layak, hak memilih dan dipilih dalam kehidupan politik, dan pokok-pokok hak asasi lainnya.

“Selama ini memang kita berjuang untuk perempuan, karena perempuan menjadi kaum yang tidak diuntungkan oleh konstruksi budaya/kultur dan konstruksi sosial politik di masyarakat,” ujarnya.

Rachmah Ida menyayangkan masih banyak perempuan yang tidak mendapat gaji atau pendapatan yang sama dengan laki-laki di bidang pekerjaan publik. Juga masih banyak hal lainnya di mana hak-hak perempuan tidak terpenuhi sebagai makhluk sosial yang asasi.

(8)

“Jadi kesetaraan gender itu menurut saya adalah memberikan hak-hak yang proposional dan adil baik kepada perempuan dan laki-laki,” jelasnya.

Selain itu, Rachmah Ida juga mengeluhkan guyonan masyarakat yang terkadang justru mengurangi nilai dari kesetaraan gender. Cohtohnya seperti laki-laki yang bisa naik genteng memperbaiki rumah, berarti perempuan juga harus bisa naik genteng memperbaiki rumah.

“Saya selalu sedih jika pengetahuan tentang harus adilnya memperlakukan perempuan dan laki-laki dijadikan bahan guyonan, bahkan di dunia akademik,” keluhnya.

Dia berharap agar kedepan, perempuan di Indonesia memiliki kesempatan untuk memperoleh pendidikan secara menyeluruh melalui kelompok belajar masyarakat. Hal tersebut agar menjadikan perempuan tidak hanya pintar, namun juga lebih kreatif dan aktif sehingga suarannya dapat didengar. Perempuan juga harus mampu mengartikulasikan kepentingannya, dan tidak diwakili oleh pihak-pihak yang mengatasnamakan perempuan tapi tidak menyuarakan suara perempuan.

“Saya ingin perempuan Indonesia punya dignity dan self-determinism untuk menentukan identitasnya sebagai perempuan, mau menjadi ibu, istri, atau apapun identitas yang ingin disandangnya secara bebas tanpa harus dilekatkan pada peran-peran sosial dan cultural subjek lainnya,” pungkasnya. (*)

Penulis : Dilan Salsabila Editor : Nuri Hermawan

(9)

[Podcast] Beli Sayur Pakai

Popok demi Cegah Pencemaran

Sungai

RADIO UNAIR – Berawal dari keprihatinan terhadap kondisi

pencemaran sungai, keempat mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR) menggagas metode baru untuk mencegah pencemaran salah satu sungai di wilayah Gunung Anyar Tengah, Surabaya. Metode baru yang dimaksud adalah membeli sayur pakai popok bayi atau yang disingkat LISA KEPO.

Keempat mahasiswa FKM UNAIR yang mengagas ide tersebut adalah Anca Laika (FKM/2015), Elsya Vira Putri (FKM/2014), Ahmad Habibullah (FKM/2014), dan Musyayadah (FKM/2014). Ide tersebut mereka tuangkan dalam proposal Program Kreativitas Mahasiswa – Pengabdian Masyarakat (PKM – M) yang berhasil lolos seleksi pendanaan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi tahun 2016.

Mengapa menggunakan popok bayi? Metode ini berawal dari kondisi Sungai Brantas di Sidoarjo yang tercemar akibat melimpahnya limbah popok bayi. Sedangkan, wilayah Gunung Anyar Tengah terletak di lokasi yang diapit oleh dua sungai, berpotensi untuk dicemari oleh limbah sungai yang berasal dari popok bekas.

Sesuai dengan ilmu kesehatan lingkungan yang mereka dapatkan di bangku kuliah, popok bayi mengandung zat bernama Gel Sodium Polyacrylate sehingga bisa dijadikan sebagai media tanam sayuran. Bahkan, gagasan mereka telah mendapatkan apresiasi dari Dinas Pertanian Pemerintah Kota Surabaya. Pejabat dari Dinas Pertanian Pemkot Surabaya membantu pemberian bibit sayuran agar bisa ditanam di popok bekas itu.

(10)

Dalam proses implementasi gagasan, tim LISA KEPO memberdayakan para ibu anggota Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) setempat. Tim LISA KEPO mengajak para ibu PKK untuk membuat bank sampah yang cukup besar untuk menampung popok bayi bekas. Setiap warga yang membuang popok bayi bekas dianjurkan untuk mencatatkan jumlah popok yang dibuang setiap harinya ke pengurus bank sampah. Semakin banyak pembuangan popok bekas pada bank sampah, semakin banyak pula sayur hasil tanam yang didapatkan. Metode inilah yang diberi nama LISA KEPO (membeli sayur pakai popok).

Mereka berharap dengan adanya penemuan ini, intensitas pembuangan popok bayi bisa berkurang dan gagasan bisa menyebar ke daerah lain. Ingin tahu selengkapnya tentang gagasan tim LISA KEPO? Simak wawancara selengkapnya bersama kru Radio UNAIR dengan Anca Laika, Elsya Vira Putri, dan Ahmad Habibullah! (*)

Penulis: Faridah Hari Editor: Defrina Sukma S

Humas Harus Bersahabat dengan

Wartawan

UNAIR NEWS – Kinerja Humas di suatu perguruan tinggi tak akan

jauh dari dunia wartawan. Terlebih, secara keilmuan, teori kehumasan hanya beda tipis dengan teori media massa. Jadi, mulai dari akarnya, kedekatan Humas dan wartawan sudah merupakan keniscayaan.

“Makanya, ada isu apapun, sejelek apapun imbasnya bagi kampus, Humas tetap tidak boleh menghindari wartawan. Karena Humas dan

(11)

wartawan itu harus selalu dekat,” kata Anang Sujoko, praktisi kehumasan yang menjadi salah satu narasumber dalam acara Pelatihan Updating Kehumasan dan Komunikasi Publik yang diadakan Pusat Informasi dan Humas (PIH) UNAIR di Batu pada 22-24 April 2016 lalu.

Alumnus UNAIR ini menyampaikan, dalam kondisi apapun, Humas harus pandai memosisikan diri. Yang terpenting, siapkan bahan atau materi konfirmasi yang benar. Kalau sudah begitu, kabar yang diproduksi oleh insan media nantinya akan lebih terang dan tidak menggelinding liar. Humas mesti memberi data atau informasi yang terpercaya, tidak mengelabui, dan berpijak pada kebenaran.

“Di ruang Humas kampus itu harus ada kopi untuk wartawan. Humas juga mesti siap kalau diajak ngobrol oleh wartawan hingga larut malam,” ungkap Anang seraya tersenyum.

Humas dituntut pro aktif menjaga kedekatan dengan pers. Ada banyak cara yang bisa dilakukan. Misalnya, di aspek psikologis, tiap hari ulang tahun rekan wartawan, Humas memberi ucapan khusus. Kalau perlu, siapkan hadiah atau kado sederhana. Supaya, yang bersangkutan merasa di perhatikan.

Di aspek profesi, selalu rutin menyiapkan berita untuk wartawan. Kalau perlu, beri masing-masing berita ekslusif pada tiap wartawan. Dengan demikian, mereka akan lebih merasa dihargai sebagai sahabat.

Selain melakukan hubungan dengan pihak luar, Humas juga wajib kompak di dalam. Dalam tubuh lembaga Humas, pasti memiliki banyak elemen dan SDM. Mereka mesti “diopeni”. Siapa yang harus melakukannya? Pastilah itu pekerjaan pemimpin di lembaga tersebut. “Harus ada fungsi leadership di sini. Pemimpin itu adalah pendengar yang baik. Dengan mendengarkan keluhan tiap staf dan mencarikan solusi segala problem, kinerja pasti lebih maksimal,” ungkap dia.

(12)

unit-unit lain di dalam kampus juga mesti baik. Humas perlu berperan aktif dalam memecahkan masalah dan menjadi jembatan antara karyawan di suatu kampus dengan pihak manajemen. Sebab, ruang lingkup pekerjaan Humas memang luas. (*)

Penulis: Rio F. Rachman

Alumnus FEB Penerima Beasiswa

LPDP Ini Siap Studi Lanjut ke

Amerika Serikat

UNAIR NEWS – Mimpi Zahrin Haznina Qalby untuk bisa kuliah di

salah satu kampus terbaik dunia sudah di depan mata. Bulan ini, dia mendapat kabar resmi dari University of Illinois at Urbana-Champaign. Isinya, menerima alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNAIR ini menjadi civitas. Perkuliahan sedianya dimulai Agustus mendatang. Namun, persiapan belia kelahiran Jombang 20 tahun silam ini terus dimantapkan.

“Saya berterimakasih pada semua pihak yang sudah mendukung. Mulai orang tua, hingga pihak kampus. Semoga saya tidak mengecewakan mereka,” papar perempuan yang berulang tahun tiap 26 Januari tersebut.

Dia menjelaskan, selama menjalani studi sarjana di FEB dengan konsentrasi riset di manajemen keuangan, para dosen begitu perhatian. Mereka juga memberi pendampingan bagi Zahrin ketika mengirim aplikasi beasiswa.

“Saya berangkat dengan beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan, Red)” ungkap anak muda yang menyelesaikan program S1 selama 3,5 tahun ini.

(13)

Zahrin diwisuda pada Maret 2015 lalu. Perempuan yang aktif berorganisasi dan menjadi asisten dosen ini mendaftar beasiswa LPDP pada September 2015. Lantas, dinyatakan diterima pada Desember. Sejak Januari 2016, dia mulai mengirim sejumlah “lamaran” ke kampus-kampus luar negeri. Di antaranya, Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan University of Illinois at Urbana-Champaign. Akhirnya, diterima di Illinois, kampus yang memiliki kurikulum ssangat baik dan sesuai dengan keinginannya.

Lulusan perguruan tinggi tersebut termasuk hebat. Misalnya, Sri Mulyani, perempuan yang pernah menjabat sebagai menteri keuangan. Sri Mulyani juga tercatat sebagai direktur bank dunia. Sistem beasiswa LPDP pun sejatinya dirintis sejak masa jabatan Sri Mulyani menjadi menteri.

Saat ditanya apa harapannya bagi adik-adik angkatan di FEB, Zahrin mengemukakan, semua anak muda tidak boleh berhenti bermimpi. Yang tak kalah penting, fokus untuk mengejar mimpi tersebut dengan serius. “Fight for it. Live your dream. Dan kemudian, banggakan Indonesia, almamater, keluarga, dan diri kita sendiri,” urainya. (*)

Penulis: Rio F. Rachman

Kampus

Perlu

Penguatan

Lembaga Kehumasan

UNAIR NEWS – Peran lembaga kehumasan dalam setiap kampus

tergolong strategis. Unit ini merupakan jembatan antara kampus dan masyarakat. Tidak hanya masyarakat luar kampus. Bahkan sejatinya, masyarakat internal kampus sendiri memerlukan Humas untuk berkomunikasi aktif dengan pihak manajemen.

(14)

Maka itu, tiap kampus perlu memiliki Humas yang kuat. Aspek yang perlu dikuatkan setidaknya ada tiga. Yakni, struktur, fungsi tata kelola, dan Sumber Daya Manusia. Demikianlah yang dikemukakan oleh pakar komunikasi kehumasan Rachmat Kriyantono PhD saat menjadi pembicara dalam Pelatihan Updating Kehumasan dan Komunikasi Publik yang diadakan Pusat Informasi dan Humas (PIH) UNAIR di Batu pada 22-24 April 2016 lalu.

Lelaki yang mendapatkan gelar sarjana dan master dari FISIP UNAIR ini menyampaikan, penguatan struktur lembaga kehumasan kampus sifatnya sudah urgen. Lembaga kehumasan harus memiliki akses langsung ke Rektor. Pemimpinnya, mesti tepat di bawah koordinasi pemimpin tertinggi kampus. Tidak pas bila sekadar di level “Kabag” apalagi “Kasubag”. Sebab, Humas adalah corong untuk mensosialisakan segala kebijakan.

Peraih gelar doktor dari Edith Cowan University ini mencontohkan, di Pemprov Jatim, Gubernur berada di eselon 1, sedangkan Kabiro Humas eselon 2. Di Pemkot Batu, Wali Kota eselon 2, Humas eselon 3. Di Polda Jatim, Kapolda jenderal bintang 2, Kabid Humasnya, Kombespol (tepat di bawah Kapolda adalah Wakapolda yang berpangkat jenderal bintang 1).

“Di banyak instansi plat merah, posisi Humas sudah layak. Namun, tidak begitu dengan instansi pendidikan. Khususnya, kampus. Masih banyak kampus yang menempatkan Humas berada terlalu jauh dari Rektor,” kata dia.

Humas seharusnya selalu hadir dalam berbagai rapat kebijakan strategis. Terlebih, hasil rapat itu potensial untuk dikabarkan pada atau ditanyakan oleh masyarakat. Bila Humas tidak diikutsertakan, sistem keterbukaan informasi akan buntu. Sementara itu, yang dimaksud dengan penguatan fungsi tata kelola Humas adalah menjalankan kembali tugas Humas dengan komprehensif. Yakni, sebagai expert prescriber, communication facilitator, Problem Solving Facilitator, maintenance good communicator, Serve Public Interest, dan Maintain Good Moral

(15)

and Planner.

Sedangkan penguatan SDM bisa dilakukan dengan pelatihan dan pemahaman kembali tentang seluk-beluk kehumasan bagi tiap staf atau pegawai di lembaga ini. Dengan demikian, kinerja Humas kampus bisa terus dimaksimalkan.

“Tiap elemen di Humas mesti melek dengn perkembangan zaman. Jangan dipacu untuk bekerja saja tanpa diperhatikan kebutuhan moral dan materialnya. Termasuk, kebutuhan akan pengetahuan kehumasan ter-update,” papar dia.

Selain Rachmat, hadir pula sebagai narasumber Anang Sujoko. Anang adalah alumnus UNAIR yang juga pernah mengenyam pendidikan tinggi bidang komunikasi di Australia. (*) Penulis : Rio F. Rachman

Erni

Suyanti,

“Kartini”

Alumni UNAIR Sang Penyelamat

Harimau Sumatera

UNAIR NEWS – Perempuan berkulit sawo matang dengan rambut

dikuncir miring ini kembali menjejakkan kakinya di kampus almamater Universitas Airlangga. Ya, kampus ini pernah mendidiknya hingga menjadi sarjana Kedokteran Hewan pada Fakultas Kedokteran Hewan (FKH). Sekitar satu jam ia berhasil memukau ratusan peserta seminar Ekoturisme pada Minggu (10/4) ketika bertutur tentang pengalamannya menjinakkan satwa liar, terutama harimau, di hutan belantara Sumatera.

Atas prestasinya itu, tidak heran jika Erni Suyanti Musabine, sosok “Kartini” alumni UNAIR ini tengah menjadi perbincangan

(16)

aktual di media massa di Indonesia. Ia tercatat sebagai penyelamat perdana harimau Sumatera secara hidup-hidup yang ia lakukan pada tahun 2007 lalu. Di berbagai media, termasuk tayangan televisi “Kick Andy” dan “Hitam Putih”, dokter Yanti, sapaan akrabnya, dikenal sebagai sosok yang berhasil menyelamatkan harimau Sumatera dari ancaman kepunahan. Ia kini bekerja di Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Bengkulu, menangani bidang konservasi satwa liar. Hobi pada hewan liar ia tekuni ketika menjadi mahasiswa program studi Pendidikan Dokter Hewan FKH UNAIR tahun angkatan 1994. Pada saat ia menjadi mahasiswa, ia juga aktif pada Unit Kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam (WANALA) UNAIR. Ia mengakui, kesukaannya pada bidang satwa liar itu mulai timbul saat ia menonton film yang mengisahkan kehidupan satwa liar.

Dokter Yanti berkisah, saat pergi ke hutan dan melihat kondisi satwa liar, ia merasa trenyuh tentang minimnya pelayanan kesehatan terhadap satwa liar yang ada di hutan belantara. Saat hewan mengalami kesakitan karena berbagai sebab, tidak ada yang memberi pengobatan. Pikiran sederhana itu yang menginspirasi dokter Yanti untuk meniti karir di bidang konservasi satwa liar. Pada tahun 2002, dokter Yanti mulai bekerja sebagai relawan dokter hewan di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) di kawasan Petungsewu, Kabupaten Malang.

“Ketika di Malang itu, saya menangani hampir semua satwa liar yang terancam punah, dari mulai wilayah barat sampai timur Indonesia, seperti burung, reptil, mamalia (orangutan, siamang, monyet),” katanya kepada UNAIR NEWS.

Tahun 2004 ia pindah ke Sumatera untuk meniti karir sebagai pegawai negeri sipil di Kementerian Kehutanan (pada saat itu) sampai sekarang. Ia masih berkiprah di bidang yang sama yakni konservasi satwa liar. Namun ketika sudah bergabung dengan Kemenhut, ia mulai fokus menangani mamalia besar, seperti orangutan, gajah, dan harimau. Terkadang, dokter Yanti juga menangani tapir dan beruang.

(17)

Penyelamatan harimau

Dari berbagai upaya penyelamatan satwa liar yang pernah ia tangani, ada beberapa pengalaman yang masih membekas hingga sekarang. Ia ingat betul bagaimana menyelamatkan harimau Sumatera untuk pertama kalinya pada tahun 2007 itu. Ia sangat berkesan, bahwa ternyata ini merupakan upaya penyelamatan harimau yang pertama kali dilakukan selama ini.

“Bagi saya, upaya penyelamatan gajah dan orangutan selalu menjadi pengalaman menarik. Beberapa pengalaman rescuing (penyelamatan) yang selalu saya kenang adalah upaya penyelamatan harimau Sumatera untuk yang pertama kalinya, yaitu tahun 2007,” terang perempuan asal Nganjuk ini.

Erni Suyanti, dengan sampannya ia membawa harimau yang sudah dilumpuhkan untuk dibawa ke lokasi konservasi dan perawatan. (Foto: Repro Bambang Bes)

Harimau Sumatera itu berhasil diselamatkan dalam kondisi hidup-hidup. Penyelamatan harimau pada saat itu ia lakukan dengan peralatan yang sangat terbatas karena tak ada dukungan fasilitas. Dokter Yanti hanya menggunakan obat bius, tanpa alat suntik bius maupun syringe.

“Waktu itu untuk menyelamatkan harimau itu kami melakukan suntik langsung, karena desakan banyak orang,” tutur dokter

(18)

Yanti mengenang tentang harimau pertama yang ia selamatkan dan kemudian diberi nama Putri itu. Saat itu hewan naas itu terkena jerat pemburu di sebuah perkebunan karet.

Pada tahun 2011, dokter Yanti kembali menyelamatkan harimau yang kena jerat pemburu di sebuah hutan produksi di Air Rami, Kabupaten Mukomuko, Bengkulu. Lokasi penyelamatan harimau yang cukup jauh itu juga cukup membekas di benaknya. Pada saat itu, dokter Yanti sedang berupaya menyelamatkan gajah. Tiba-tiba, ia mendapatkan informasi bahwa ada seekor harimau telah terjerat.

Untuk mencapai lokasi tersebut, dokter hewan kelahiran 14 September 1975 ini melangsungkan perjalanan selama tiga hari. Di hari pertama dokter Yanti mengendarai mobil, sisanya ia harus menempuh jarak tempuh harus jalan kaki.

“Yang bikin saya terkesan adalah lokasinya yang jauh, tetapi harimau bisa diselamatkan. Kami melakukan amputasi di hutan dan dilanjutkan dengan transplantasi kulit,” tuturnya.

Pada tahun 2014, ia kembali menyelamatkan harimau Sumatera. Kali ini, ia dihadapkan pada kesulitan yang tinggi. Ia dan rekan satu timnya harus mencari harimau ke semak-semak. Harimau itu berhasil lepas dari jerat pemburu, namun kaki raja hutan itu masih terbebat kawat seling sehingga harimau berjalan ke mana-mana dan mendekam di semak-semak.

Setelah berhasil menyelamatkan belasan harimau dalam keadaan hidup, dokter Yanti dihadapkan pada kondisi serba sulit. Dari mana biaya perawatan satwa liar? Bagaimana biaya makan, pengobatan, dan perawatan kandang? Tak jarang dokter Yanti melakukan usaha sendiri, seperti menjadi pembicara seminar, presentasi, dan dukungan dana dari pihak luar.

Menepis rasa takut

Pernahkah ia dihinggapi rasa takut saat melakukan upaya penyelamatan hewan buas? Dokter Yanti tak menampiknya. Namun

(19)

sebagai dokter hewan, ia harus mengenal perilaku alami berbagai jenis hewan liar yang bisa mengancam keselamatan dirinya itu.

”Setiap hewan itu punya perilaku alami. Misalnya harimau itu kalau menerkam selalu dari belakang. Jadi kalau ketemu ya bagaimana caranya kita berjalan pelan, atau berjalan mundur untuk menghadap ke harimau. Jadi wajib mengetahui perilaku kebiasaan hewan, selain itu bagaimana agar hewan tersebut merasa tidak terganggu apalagi merasa terancam,” ujar dokter Yanti.

Para binatang buas liar, kata Erni Suyanti, sebenarnya lebih memilih untuk lari jika berpapasan dengan manusia. Harimau berani mengancam keselamatan manusia itu, ternyata karena menurut kisahnya, ada yang karena konflik dan harimau merasa terpojok dan tak bisa melarikan diri dari kepungan manusia. Hewan juga bisa menyerang karena adanya gangguan, misalnya pencurian anak harimau yang dilakukan penduduk.

“Harimau itu punya insting yang hebat. Kalau bayinya diambil, maka sampai dimana pun induk harimau akan mendatangi orang yang mengambil itu. Penciumannya tajam sekali,” tutur dokter Yanti.

Sebaliknya, hewan liar juga bisa memberikan perlindungan kepada manusia. Misalnya, ketika dokter Yanti dan tim konservasi melakukan patroli ke hutan, dengan membawa serta gajah yang sudah dididik dan jinak, maka ketika bertemu gajah lain yang liar, si gajah patrol itu bisa melindungi petugas. Yang pasti, hewan liar bukan menjadi satu-satunya ancaman bagi keselamatan dokter Yanti dan kawan-kawan. Ada dua ancaman bagi dokter Yanti dan rekan seprofesinya ketika melaksanakan tugasnya yakni pemburu dan penduduk sekitar hutan yang terlibat konflik dengan satwa. Oleh karena itu, tak jarang dokter Yanti dan rekannya dianggap sebagai ‘musuh’ pemusnahan satwa liar yang dilindungi.

(20)

Penulis : Defrina Sukma Satiti

Editor : Bambang Bes

Hikmah Sebulan Tidur di

Mushala, Vega Jadi Wisudawan

Terbaik FPK

UNAIR NEWS – Mengangkat penelitian berjudul “Pengaruh Pemberian Probiotik dengan Waktu Berbeda Terhadap Penurunan Amoniak dan Bahan Organik Total Media Pemeliharaan Udang Vaname (Litopenaeus vannamei)”, Vega Chirsnawati meraih predikat wisudawan terbaik Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) UNAIR periode Maret 2016.

Ditanya perihal perjuangannya menyelesaikan penelitiannya, mahasiswa kelahiran Kediri 15 September 1992 ini punya kisah cukup menarik. Sebab penelitian yang rencananya akan dilakukan selama 40 hari itu ternyata kandas di hari ke-35, akibat matinya benih-benih udang yang dipelihara.

“Penelitian yang saya lakukan merupakan penelitian pemeliharaan, sehingga membutuhkan waktu yang cukup serta tenaga yang ekstra. Saya harus memberi makan benih udang itu pukul 22.00 selama 40 hari,” kata peraih IPK 3,69 ini. Anak pertama dari tiga bersaudara ini menambahkan bahwa musibah yang menimpanya itu membuat ia harus mengulang penelitiannya dari awal.

Kebetulan, saat mengulang penelitian itu Vega agak trauma, sehingga selama penelitiannya bersama temannya ia harus bergantian bermalam di kampus. Padahal di kampus tidak ada

(21)

fasilitas untuk mahasiswa yang melakukan penelitian dan bermalam. “Jadi kami terpaksa tidur di mushala kampus selama hampir satu bulan,” tutur Vega.

Ternyata pengorbanannya tidak sia-sia. Gadis penghobi traveling dan memasak ini tidak punya tips dan trik khusus untuk menjadi wisudawan terbaik. Hanya fokus pada saat mengikuti perkuliahan, meluangkan waktu untuk diskusi diluar jam kuliah, dan rajin mengikuti kegiatan magang. Itu yang ia lakukan. Sebagai mahasiswi yang aktif berorganisasi dan beragam kegiatan lainnya, manajemen waktu yang baik tentu juga menjadi hal yang Vega perhatikan.

”Apabila menjadi aktivis ya harus memiliki kemampuan mengatur waktu yang baik dan mampu memprioritaskan sesuatu,” kata Vega. (*)

Penulis : Nuri Hermawan Editor : Bambang Bes

Teliti Rumah Adat di Flores,

Konfridus Jadi Wisudawan

Terbaik FISIP

UNAIR NEWS – Sa’o Ngaza adalah rumah bagi masyarakat adat

Wogo, di Ngadha, Flores, Nusa Tenggara Timur. Sa’o ngaza bukan hanya sekadar rumah ataupun shelter bagi masyarakat adat Wogo, melainkan juga rumah yang lengkap dengan atribut simbol serta makna, dan merupakan gambaran dari realitas sosial kultural masyarakat adat Wogo. Namun nilai dan makna rumah adat Sa’o Ngaza ini tereduksi seiring dengan perkembangan zaman.

(22)

Itulah yang disampaikan oleh Konfridus Roynaldus Buku, wisudawan terbaik S-2 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga. Lulus dari prodi S2 Sosiologi ini, Roynaldus meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,76. Realitas sosial kultural Sa’o ngaza ini dibentuk dari pandangan kosmologi masyarakat Wogo, yakni dunia bawah (kekuatan gaib), dunia tengah (kehidupan sehari-hari), dan dunia atas (dunia sakral). Melalui Sa’o Ngaza, masyarakat Wogo menjalin relasi dengan dunia atas yang mereka sebut dewa. Sa’o ngaza juga berfungsi sebagai tempat berlangsungnya ritus-ritus keagamaan dan sebagai gambaran tentang tanggungjawab laki-laki dan perempuan.

Dalam konteks perubahan sosiokultural, Roynaldus mencatat ada perubahan tentang makna Sa’o ngaza. Pertama, perubahan ritual keagamaan. Kedua, pergeseran tuntutan atas hak dan kewajiban terutama dalam kaitannya dengan hak atas tanah suku yang akhirnya melahirkan konflik perebutan tanah suku. Ketiga, masuknya prinsip kesetaraan mengakibatkan geseran pada praktik sistem kasta masyarakat adat Wogo.

“Umumnya, masyarakat adat Wogo saat ini masih menjaga keaslian bangunan Sa’o ngaza, tetapi realitas sosiokultural telah berubah dan bergeser. Ini dipengaruhi oleh perjumpaan dan kontaminasi dengan berbagai produk budaya global,” tutur mahasiswa asal Flores ini. (*)

Penulis : Defrina Sukma Satiti Editor : Bambang ES

Referensi

Dokumen terkait

salat telah t ba hendaklah kita melaksanakan salat sesuai dengan kemampuan. Ket ka sedang bepergian, kita blsa me aksanakan salat di dalam kendaraan, misalnya di dalam

Hasil analisis menunjukkan bahwa kandungan mineral mikro yang paling tinggi pada ubur-ubur kering adalah iodium yaitu 1800 ppm dan yang paling rendah adalah

Berdasarkan model penelitian dan hasil pengujian hipotesis dapat dijelaskan bahwa untuk meningkatkan kinerja perusahaan farmasi diperlukan tiga tahap pengembangan,

Rancangan lingkungan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial. Percobaan ini terdiri dari enam kombinasi perlakuan yang diulang sebanyak

Pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Se Dunia Tahun 2015 Tingkat Provinsi Jawa Barat yang telah disampaikan melalui (blhdjabar.go.id) bahwa pemerintah mengajak

Menurut Saryana (2003) definisi TABK yaitu: “perangkat dan teknik yang digunakan untuk menguji (baik secara langsung maupun tidak langsung) logika internal dari suatu

Menimbang : bahwa dalam rangka melaksanakan Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2020 tentang Peningkatan Disiplin dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan Dalam

1) Pencurian paspor kosong asli dan penyelesaian paspor kosong tersebut untuk membuat paspor tersebut terlihat asli namun khusus untuk paspor Indonesia hal ini tidak mungkin