BAB II KESENIAN TOPENG BARONG SUNDA. Seni tradisional Bangbarongan Ujungberung di Kota Bandung dahulu terkait atau

Teks penuh

(1)

BAB II

KESENIAN TOPENG BARONG SUNDA

A. KONSEP SENI TRADISI

Seni tradisional Bangbarongan Ujungberung di Kota Bandung dahulu terkait atau lebih dikenal dengan nama benjang atau seni gelut (dalam bahasa Sunda) yang khusus menerapkan fungsi seni beladiri gulat di dalam arena seperti dalam olahraga tinju, yakni ring tinju.

Tulisan yang berkaitan dengan seni Bangbarongan adalah skripsi karya Jajat Sudrajat saat studi penelitian dalam mencapai tingkat sarjana tari Strata-1 (S-1) pada Program Studi Seni Tari di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung dengan judul “Bangbarongan“ (1997). Jajat mengungkapkan bahwa pertunjukan Bangbarongan (memakai topeng) dan seni Benjang yang ditampilkan pada malam hari merupakan media upacara adat. Pertunjukan tersebut sangatlah unik dan menarik. Keunikan tersebut dapat dilihat dari fungsi ganda yang dimiliki, yaitu seni Bangbarongan yang ditampilkan pada siang hari selain sebagai sarana untuk memuja atas rasa syukur pada alam atas hasil tani yang telah didapatkan, juga sekaligus sebagai sarana hiburan yang diumumkan lewat arak-arakan keliling kampung.

Tulisan tentang Bangbarongan lainnya dibukukan oleh Anto Sumiarto Widjaya, dalam penelitian ilmiah yang diterbitkan oleh Panitia Festival Benjang Anak dengan judul Benjang, dari Seni Terebangan ke Bentuk Seni Beladiri dan Pertunjukan (November 2006). Anto mengatakan bahwa seni Benjang yang telah dibukukan tersebut merupakan sebuah harapan agar dapat memperkaya apresiasi masyarakat Ujungberung, khususnya tentang karya seni tradisional (Wawancara, April 2011).

Produk seni budaya adalah bentukan perspektif identitas kehidupan masyarakat. Berkurangnya perpsektif seni budaya tersebut sama halnya dengan hilangnya satu sel memori

(2)

masyarakat dan hilangnya satu identitas kita sendiri yang hidup bersama seni budaya tersebut.

Karya Seni Bangbarongan menurut fungsinya kini di Ujungberung menemukan sentuhan akulturasi budaya secara signifikan. Mengingat Ujungberung adalah daerah yang dipenuhi oleh masyarakat pendatang dari berbagai pelosok seperti pendatang dari daerah Cianjur, Ciamis, Cirebon, Indramayu, bahkan orang-orang pendatang dari sekitar wilayah Jawa Tengah, maka pada beberapa bentuk sajian karya tradisi pun mengalami berbagai adaptasi, yaitu: 1) Seni Benjang/Gulat, 2) Seni Topeng Benjang, 3) Seni Bangbarongan/ Helaran.

Begitu pula Bebegig Sukamantri sebagai karya seni tradisional masyarakat di Kecamatan Sukamantri, Kabupaten Ciamis, merupakan seni tradisi yang berfungsi untuk dihelarkan atau diarak keliling kampung. Berdasarkan sumber tulisan berupa artikel yang ditulis oleh Redi Mulyadi dan Endang Sutrisno mengenai Bebegig Sukamantri yang penulis temukan dari media internet dari situs http://beritaredi.blogspot.com/2010/05/kesenian-bebegig-sukamantri-meriahkan.html (Mei 2010), dikatakan bahwa Bebegig Sukamantri merupakan seni tradisi yang awalnya berupa bebegig sawah (dalam bahasa Sunda) atau orang-orangan sawah yang berbentuk boneka orang-orangan sawah pengusir hama. Bebegig dalam bahasa Sunda (Tim, 2008: 5) yaitu “Jajalmaan tina jarami paranti nyingsieunan

manuk”. Kalau diartikan dalam bahasa Indonesia, bebegig adalah sejenis

patung/boneka/benda lain yang menyerupai manusia terbuat dari bahan jerami (pohon padi yang sudah kering) yang digunakan untuk menakut-nakuti burung di sawah menjelang musim panen.

Di Kecamatan Sukamantri, Kabupaten Ciamis, bebegig sukamantri sengaja dibuat untuk menakut-nakuti manusia. Sampai sekarang, belum ada nama atau istilah lain yang membedakan antara bebegig sawah dan bebegig yang ada di Kecamatan Sukamantri. Artefak

(3)

ini oleh orang-orang Sukamantri dinamai bebegig dengan alasan fungsinya sama, yakni untuk menakut-nakuti. Supaya tidak tertukar dengan bebegig sawah, orang-orang di daerah tersebut memberi nama ‘Bebegig Sukamantri’ dengan alasan bahwa artefak tersebut hanya lahir dan berkembang di Kecamatan Sukamantri serta tidak ada di daerah lain di Kabupaten Ciamis, begitu pula di Jawa Barat.

Sukamantri termasuk kecamatan baru di Kabupaten Ciamis, hasil pengembangan dari Kecamatan Panjalu. Wilayah tersebut merupakan batas sebelah Barat antara Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Majalengka. Daerah Sukamantri merupakan daerah persawahan yang dikelilingi pegunungan. Dengan demikian, mata pencaharian masyarakat tersebut adalah bertani dan berladang. Dalam perkembangannya, Bebegig Sukamantri sekarang menjadi kesenian yang biasa dipentaskan dalam kegiatan helaran, seperti yang sudah rutin selalu tampil dalam helaran pada bulan Agustus (pada hari raya Kemerdekaan Republik Indonesia). Lahir serta berkembangnya kesenian tersebut mengalami proses yang sangat panjang serta mengandung nilai sejarah yang sejalan dengan zaman Kerajaan Pajajaran, Galuh, dan Panjalu di Kabupaten Ciamis.

Berkenaan dengan kesenian yang secara eksplisit memiliki nilai historis sebagai ikon dalam tatanan budaya tradisional yang berpijak pada akar tradisi daerah lahirnya suatu kesenian, maka seni Bangbarongan dan seni Bebegig Sukamantri merupakan ikon dari budaya tradisi yang bermuatan karakter, sosiologi, dan kultural.

Dalam budaya tradisi, frame primordial wacana berpikir mengenai kedaerahan sangat bertolak belakang dengan budaya modern hingga menemukan jurang pemisah yang lebar. Hal yang bersifat tradisi dapat dikatakan sebagai awal terbentuknya pikiran manusia untuk menciptakan artefak berdasarkan pada kepercayaan animisme dan dinamisme, bahkan fondasi dari agama baru masyarakat saat itu sebelum mengenali agama Hindu. Setelah itu, pada perkembangan berikutnya munculah norma dan adat yang berlaku bagi tatanan

(4)

kehidupan masyarakat secara otonom untuk diikuti tanpa adanya pengecualian untuk membelakanginya. Selain artefak yang dapat dijadikan sebagai acuan atau pedoman hukum bagi kehidupan masyarakat, kekuatan alam pun dipadukan untuk dijadikan sebagai motor penggerak dalam mengenali jati diri manusia sebagai mikrokosmos dengan media artefak sebagai makrokosmos menuju metakosmos atau kekuatan ‘Yang Ada’ (Sumardjo, 2006: 6). Sesuatu dari Yang Ada inilah kemudian dipetakan oleh manusia dalam struktur tatanan kehidupan bermasyarakat yang diiringi dalam doktrin norma serta nilai-nilai religi budaya setempat.

Hal ini kemudian menjadi adat kebiasaan seiring perkembangan zaman. Pakem-pakem tentang pengenalan agama pertama masyarakat, yaitu kepercayaan pada animisme dan dinamisme adalah suatu hal yang tabu untuk ditinggalkan, apalagi sampai dihilangkan. Dengan demikian, pola pikir yang sudah ditanamkan seperti sebuah bola kristal padat yang tidak akan pernah mencair sebagai bentukan baru.

Menurut pengertiannya, kata tradisi berasal dari kata tradisional. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Tim, 1995: 1069), tradisional adalah sikap dan cara berpikir serta bertindak yang selalu berpegang teguh pada norma dan adat kebiasaan yang ada secara turun-temurun. Jadi, pengertian tradisional adalah suatu hal yang memiliki ciri-ciri turun-temurun, mempunyai aturan yang ketat, usianya tua, dan orisinil (Ruchimat dalam Sutrisno, 2008: 22). Berdasarkan uraian di atas, maka kesenian tradisional adalah kesenian yang lahir dan berkembang dari akar budaya daerah tersebut.

Dalam eksistensi budaya tradisi berlabel karya seni yang menjadi dominator otonomi tradisi daerah, secara umum Hartoko (1992: 9) membagi kehidupan manusia menjadi empat nilai dasar, yaitu:

“Pertama, pada dunia material yang mencari kebenaran; kedua, pada dunia material tanpa mengejar keuntungan dengan mencari keindahan; ketiga, mengatasi dunia material mencari kaidah etik dan moral; keempat, mengatasi dunia material yang mencari nilai-nilai rohani sejati, ketuhanan”.

(5)

Seluruh elemen tersebut dalam lingkaran kehidupan masyarakat tradisi menjadi jembatan estetika komunal dengan alam material. Keseimbangan alam menjadi kebutuhan primer agar aksentuasi inti ajaran filsafat seni menjadi koridor utama. Seperti halnya pada poin keempat telah dijelaskan bahwa getaran penetrasi antara alam dan manusia memiliki kedudukan konatural (persamaan dalam sifat dan tabiat). Manusia dapat merasakan getaran alam, kemudian mengadakan semacam identifikasi spiritual, dan bahkan alam memasuki kalbu manusia (1992: 12). Dalam kaitannya dengan seni pertunjukan Indonesia, pada dasarnya penyampaian seni itu mula-mula berupa ekspresi komunikasi masyarakat mesolitik yang berburu dan seni masyarakat neolitik yang agraris. Pada masyarakat agraris, obsesi utama mereka adalah kesuburan tanah dan kehadiran air di lingkungan hidup mereka. Namun, perlu dibedakan adanya dua kebudayaan pertanian di Indonesia. Yang pertama adalah masyarakat ladang dan yang kedua adalah masyarakat sawah. Dari hal inilah kemudian akan ditemukan analisis terhadap akar tradisi budaya Indonesia dalam seni pertunjukan.

Secara konseptual, karya tradisi memerlukan contoh-contoh karya yang elegan dalam upaya generalisasi berupa catatan empiris untuk mengkaji lebih dalam mengenai sasana budaya daerah. Seperti yang diungkapkan oleh Kaplan dan Manners (1999: 29) dalam bukunya tentang teori budaya, untuk menilik karya tradisi yang ada, perlu adanya telaah mendalam terlebih dahulu melalui konsep warga budaya (pendekatan emik) dan atau kategori konsep dalam antropologi (pendekatan etik). Konsep tersebut dalam pandangan antropologi merupakan prinsip yang digunakan untuk menyingkapkan infiltrasi budaya agar mampu mengenal dan menjelajahi artefak seni tradisi daerah.

Selanjutnya, penjelajahan artefak tradisi dikaji kemudian lewat maknawi simbolisasi karya. Simbol dapat diungkap lewat pengejawantahan terhadap aspek-aspek wanda dalam wayang atau topeng. Kerutan dahi, bentuk mata, mulut, hidung, hingga warna merupakan

(6)

penelitian utama dalam studi simbol. Untuk memahami simbol, Langer (dalam Sumardjo, 2006: 43) mengatakan bahwa “simbol tidak mewakili objeknya, tetapi wahana bagi konsep tentang objek”. Seperti dikatakan pula oleh Sumardjo (2006: 45) bahwa “Acuan simbol bukan konotasi gagasan (rasio) dan pengalaman manusia (rasa), akan tetapi hadirnya daya-daya (power) atau energi adikodrati. Simbol adalah tanda kehadiran ‘yang absolut’ itu tanpa memperdulikan seni itu ‘indah’ ”.

Masyarakat Sunda adalah bentukan manusia pra-modern yang masih kental dengan tradisi ritual sesaji yang mengupayakan hadirnya daya adikodrati. Sehingga untuk menemukan daya-daya transenden, “acuan simbol bukanlah sekedar konsep, tetapi sesuatu yang transenden, sesuatu yang lebih besar, konsep, makna, nilai, dan kepercayaan” (Sumardjo, 2006: 44).

Dalam simbolisasi karya berkaitan dengan daya transenden, sesuatu yang sifatnya irrasional bukan dikaji dari estetis karya yang indah, melainkan pada fungsinya dalam ritualisasi lewat mediasi artefak yang “berisi”. Dengan begitu, “cara berpikir perlu disesuaikan untuk memahami secara rasional (konsep) pada komunitas penghasil simbol seni” (Sumardjo, 2006: 47). Benda yang memiliki nilai “pusaka”, “jimat”, atau “bertuah” merupakan jenis dari karya artefak manusia pra-modern. Benda-benda tersebut akan memiliki perhatian lebih terutama aplikasi masyarakat dalam tatanan norma dan nilai kehidupan. Sehingga muncul adat istiadat kebiasaan untuk “memandikan” atau “membungkus”-nya bahkan menggunakannya dalam upacara ritual sesuai dengan cara-cara yang diberikan secara tradisi.

B. TOPENG SEBAGAI KRIYA TRADISIONAL 1. Arti Topeng

(7)

Pembuatan topeng sudah dimulai sejak zaman prasejarah. Berdasarkan dari penelitian yang ada, pakar arkeologi menemukan banyak jenis topeng dari zaman prasejarah yang telah berumur sekitar ribuan tahun. Sebagai contoh, topeng peninggalan Yunani dan Mesir berasal dari sekitar 6000 tahun yang lalu. Penelitian sejarah menemukan manuskrip-manuskrip lama yang mengandung banyak informasi mengenai topeng (Suwanda, 2004). Dalam penelitian antropologi, etnografi, dan kesenian ditemukan bahwa sekarang ini berbagai jenis topeng dan praktik pemakaiannya ada di mana-mana. Persebaran karya topeng di dunia tidak terbatas pada model karya dari berbagai ukuran, bentuk, bahan, cara memainkan, hingga pada fungsi yang berkaitan dengan adat kepercayaan agama tertentu.

Di Indonesia, topeng lebih berkembang lagi setelah berkenalan dengan kebudayaan Hindu. Perkenalan dengan nama agama baru membuka kemungkinan lahirnya berbagai jenis topeng. Tidak hanya pada jenisnya, masing-masing daerah di Indonesia memiliki istilah tersendiri untuk kata topeng tersebut. Di antaranya, dalam bahasa Sunda, tepung yang berarti bertemu atau bersambung dan napel yang berarti melekat atau menempel, tapuk (dalam bahasa Jawa Kuno), dalam bahasa Bali tapel atau topeng yang berarti terbentuk dari asal kata pel yang artinya melekat pada sesuatu; menempel kepada sesuatu (Bali, Lombok), kedok (Jawa, Sunda), hudok (Dayak), toping (Batak Simalungun), gundala-gundala (Karo), tuping (dalam bahasa Lampung) merupakan istilah dari kata tup yang artinya tutup dan kata ping yang artinya merapatkan kepada sesuatu atau menekan kepadanya (Kustiawan, 1996: 70).

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tertulis bahwa topeng atau kedok adalah penutup muka yang terbuat dari kayu dan ada yang menggunakan bahan kertas, dengan karakter bentuk berupa orang, binatang, dan sebagainya (Poerwadarminta, 1967: 1087). Kata topeng dalam Ensiklopedia Tari Indonesia berasal dari kata “tup” yang berarti tutup. Kemudian, karena gejala bahasa yang disebut pembentukan kata (formative form), kata tup ini ditambah dengan kata eng yang kemudian menjadi tupeng. Tupeng kemudian mengalami

(8)

beberapa perubahan sehingga menjadi topeng. Kata lain topeng di Indonesia dalam bahasa Sunda adalah kedok yang berdekatan dengan wedak sebagai sesuatu yang diletakkan pada muka seseorang (Ensiklopedia Tari Indonesia, 1986: 1996-1997).

2. Karakterisasi Topeng

Poerwadarminta (dalam Suryana, 2002: 35) mengatakan bahwa “karakter atau watak dapat diartikan sebagai sifat batin yang memengaruhi segenap pikiran dan perbuatan, biasa juga disebut tabiat, budi pekerti”, dan secara visual watak dari topeng sudah tergambar dalam rautnya. Ciri umum yang menandai watak dapat dilihat dari unsur-unsur raut seperti pada mata, hidung, mulut, alisnya, maupun warna wajah, sikap kepala (tunduk-tengadah). Mata besar, bulat, dan menonjol, atau pada bentuk mulut yang dihiasi oleh sederetan gigi-gigi tajam berukuran besar dan menonjol, merupakan bentuk watak yang dimiliki oleh tokoh buta (raksasa) dalam wayang golek. Penggambaran tadi dibentuk sedemikian dengan ukuran besar yang dapat disaksikan langsung secara detail karakter yang dimiliki topeng.

Wanda yang dimiliki topeng dalam penelitian ini menjauhi bentukan raut dalam tokoh satria, putri, dan atau ponggawa yang ada pada wayang golek. Karakter buta (raksasa) lebih tepat disebutkan untuk menganalisis bentuk dan makna simbolis yang ada dalam topeng, “karena memiliki rerengon (kerutan dahi), hidung berukuran besar, mata melotot, dan terutama bertaring” (Suryana, 2002: 88).

(9)

Gambar 2.1 Tokoh Buta Rambutgeni

Sumber: Dokumentasi Penulis, Maret 2010

Bagian-bagian wajah seperti alis, mata, hidung, kumis, mulut, warna wajah, serta sikap kepala merupakan unsur-unsur yang menjadi ciri raut. Uraian mengenai bagian-bagian tersebut mengacu pada tiga buah buku yang ditulis Sagio dan Samsugi; Widodo; dan Soekatno (dalam Suryana, 2002: 102) sebagai berikut:

a. Bentuk mata

1) Mata gabahan: bentuk mata ini menyerupai gabah, biasa disebut mata liyepan. Bentuk mata ini biasa dipakai untuk wayang satria dan putri. Mata ini dipadukan dengan alis tulis tipis, yang digambarkan dengan garis lengkung dari ujung hidung bagian atas, melengkung menjauhi bidang mata pada bagian tengah, memperlebar bidang kelopak mata, yang menambah kesan mata sipit, menggambarkan mata yang tajam dan hati-hati. 2) Mata kedhelen: biji mata seperti biji kedelai. Mata ini lebih “terbuka” dibanding mata

gabahan, biji matanya digambarkan agak membulat di tengah bidang mata yang hitam, mengesankan mata penuh curiga.

(10)

3) Mata thelengan: biji mata bulat dengan bentuk mendekati mata melotot yang dilengkapi alis tulis agak besar, dan mengesankan mata awas. Bentuk mata ini sejalan dengan cara-gerak tokoh yang gesit, kasar.

4) Mata plelengan/tholongan: seperti mata thelengan, tetapi idep atau bulu mata digambarkan dengan garis yang lebih tebal. Mata ini menggambarkan sifat bengis.

5) Mata peten: biji mata menyerupai biji petai. Menggambarkan sifat penuh curiga, seperti mata kedhelen.

6) Mata kiyeran: bidang mata menyerupai bulan sabit, biasanya disebut mata penanggalan. Mata ini menggambarkan mata tua.

7) Mata rembesan: bidang matanya separuh lonjong. Menggambarkan mata tua yang terpejam.

TABEL 2.1 BENTUK MATA

Mata Gabahan/Liyepan Mata Kedhelen Mata Kedondong/Peten

Mata Thelengan Mata Plelengan Mata Kriyipan

(11)

Sumber: Suryana, 2002: 102

b. Bentuk Hidung

1) Hidung ambangir: menggambarkan hidung yang mancung, runcing pada bagian ujungnya. Biasanya merupakan ciri kelompok wayang putri, bambangan dan jangkahan. Jenis hidung ini dipadukan dengan mata gabahan. Jarak antara mata dengan ujung hidung biasanya lebih pendek, sehingga kesan mata sipit lebih kentara.

2) Hidung sembada: ukurannya lebih besar tetapi hampir sama dengan hidung ambangir. Hidung sembada berpadu dengan mata kedhelen yang menggambarkan sifat agak loba dan mudah marah.

3) Hidung dhempok: membulat pada bagian ujung seperti ujung ibu jari tangan. Bentuk hidung ini tidak digambarkan secara persis seperti ujung ibu jari. Hidung ini melebar pada bagian ujungnya.

4) Hidung mungkal gerang: lebih meruncing daripada hidung dhempok, bentuknya seperti batu asahan yang telah aus.

5) Hidung nyanthik palwa: bentuknya sama dengan hidung dhempok tetapi ukurannya lebih besar. Ujungnya seperti haluan perahu (nyanthik palwa)

6) Hidung medhang: bentuknya seperti ujung pedang yang mencuat ke atas

7) Hidung bunder: terdapat pada tokoh wayang panakawan seperti Gareng. Bentuknya diterapkan kepada buta, ukurannya tinggal diperbesar.

Figur

Gambar 2.1  Tokoh Buta Rambutgeni

Gambar 2.1

Tokoh Buta Rambutgeni p.9
TABEL 2.1  BENTUK MATA

TABEL 2.1

BENTUK MATA p.10

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :