PotensidanPeluangInvestasiDaerah PotentialandLocalInvestmentOpportunities Tahun/Year2015

57 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Direktorat Pengembangan Potensi Daerah Directorate Of Regional Potential Development

Potensi dan Peluang Investasi Daerah

Tahun/Year 2015

Potential and Local Investment Opportunities

KABUPATEN MERAUKE

Invest in

remarkable

BADAN KOORDINASI

(2)

Pemetaan Potensi dan Peluang Investasi Daerah

The Mapping Potential and Local Investment Opportunities

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)

Indonesia Investment Coordinating Board

1

RINGKASAN EKSEKUTIF

PELUANG INVESTASI DI KABUPATEN MERAUKE: PENGEMBANGAN PERTANIAN

TANAMAN PADI DAN INDUSTRI PENGGILINGAN PADI

EXECUTIVE SUMMARY

INVESTMENT OPPORTUNITIES IN MERAUKE: AGRICULTURAL DEVELOPMENT

AND RICE MILL INDUSTRY

Kabupaten Merauke termasuk bagian wilayah dari Provinsi Papua yang terletak di paling timur wilayah Indonesia dan berbatasan langsung dengan Negara Papua Nugini. Secara geografis wilayah ini terletak antara 137° - 141° Bujur Timur dan 5° - 9° Lintang Selatan, dengan ketinggian antara 0-60 m diatas permukaan laut. Kabupaten Merauke beriklim tropis, dengan rata-rata curah hujan 212,5 mm/bulan dan kelembaban rata 80,92%, dengan suhu rata-rata adalah 26,92°C, dengan suhu terendah 22,10°C dan suhu maksimal 32,20°C.

Merauke is part of Papua Province located in the far eastern region of Indonesia and directly bordered by Papua New Guinea. Geographically, the region is located in 137°-141° East Longitude and 5°-9° South Latitude, with the altitude of 0-60 meters above sea level. Merauke has tropical climate, with the average rainfall of 212.5 mm/month and the average humidity of 80.92%, with the average temperature of 26.92°C, the lowest temperature of 22.10°C and maximum temperatures of 32.20°C.

Luas wilayah Kabupaten Merauke mencapai sekitar 46.791,63 km² atau dan luas perairan di Kabupaten Merauke mencapai 5.089,71 km². Kabupaten Merauke merupakan Kabupaten terluas di Provinsi Papua dan juga Indonesia. Kabupaten Merauke dicanangkan menjadi pusat penghasil nasional atau dikenal dengan istilah “Lumbung Pangan Nasional”. Direncanakan dalam kurun waktu 3 tahun, luas lahan pertanian di Kabupaten Merauke seluas 1,2 juta hektar dan akan diperoleh produksi padi 24 juta ton per tahun. Dengan demikian sangat mungkin untuk dikembangkan dan tingkatkan produksi pertanian khususnya tanaman padi. Hal ini dilakukan dengan upaya intensifikasi dan ekstensifikasi sesuai dengan kondisi tanah dan lahan yang masih terbuka luas dan tingkat kesuburan yang relatif tinggi pada dataran rendah dengan tetap menjaga keseimbangan ekosistem dan berwawasan lingkungan.

The total area of Merauke reached 46.791,63 km² and the water area of Merauke reached 5.089,71 km². Merauke is the largest regency in Papua and Indonesia. Merauke was declared to be the center of national producer or known by the term "National Food Barn". Planned within a period of 3 years, agricultural land in the Merauke of 1.2 million hectares and would be obtained paddy production of 24 million tons per year. Thus it is possible to develop and improve agricultural production specifically in rice plants with the intensification and extensification efforts in accordance with the conditions of the soil and the land that still wide open and relatively high fertility rates in the lowlands while maintaining the balance of the ecosystem and environment.

Peluang Investasi di Kabupaten Merauke di sektor pertanian sangat terbuka lebar dan berpotensi untuk dikembangkan lebih besar, terutama padi. Dari padi ini menghasilkan gabah yang nantinya akan menjadi beras setelah proses penggilingan. Beras merupakan kebutuhan pokok utama kebanyakan masyarakat Indonesia, nilai jual dari komoditi ini cukup menjanjikan. Kebutuhan akan komoditi ini sangatlah besar terutama dari dalam negeri sendiri. Peluang untuk ekspor cukup terbuka jika produksi beras ini mencapai surplus. Potensi komoditi padi di Kabupaten Merauke

Investment Opportunity in Merauke in the agriculture sector widely opens and has potential to be developed, especially on paddy. The paddy produces grain that will produce rice after milling process. Rice is the main staple needs of most people of Indonesia; the price this commodity is quite promising. The need for these commodities is enormous, especially from within the country itself. Possibility opportunities to export are quite open when it reaches a surplus of rice production. The potential commodity of paddy in Merauke creates business opportunities and agro-industry

(3)

2015

Ringkasan Eksekutif / Executive Summary

2

Pemetaan Potensi dan Peluang Investasi Daerah

The Mapping Potential and Local Investment Opportunities

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)

Indonesia Investment Coordinating Board

menciptakan peluang usaha dan investasi agroindustri perberasan, baik agroindustri hulu berupa industri sarana produksi pertanian yang meliputi industri benih, pupuk, pestisida serta alat dan mesin pertanian maupun industri hilir berupa industri pengolahan padi terintegrasi (rice

center).

investments, both upstream agro-industry in the form of agricultural inputs which include seed industry, fertilizers, pesticides and agricultural tools and machines, and downstream processing industry in the form of integrated paddy (rice center).

Pemerintah Kabupaten Merauke meluncurkan program Merauke Integrated Food and Energy

Estate (MIFEE). Program ini adalah suatu

pengembangan atau pengusahaan pangan dalam skala luas dengan konsep pengembangan produksi pangan yang dilakukan secara terintegrasi mencakup perkebunan, pertanian dan peternakan yang berada dalam suatu kawasan lahan yang luas. Misi utama dari program ini adalah mengejar swasembada pangan berkelanjutan serta meningkatkan kemampuan ekspor pangan. Oleh karena itu, program ini dilakukan dalam skala luas, sehingga pengusahaannya dilakukan dengan melibatkan pihak swasta bekerjasama dengan petani.

Merauke government launched a program Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE). This program is a development or exploitation of food on a large scale with the concept of the development of food production that carried out in an integrated manner include plantations, farms and ranches which are located within a large area of land. The main mission of this program is to pursuit the sustainable food security and to improve the ability of food exports. Therefore, this program is done on a large scale, so the exploitation is done by involving the private sector in collaboration with farmers.

Rencana pemerintah Kabupaten Merauke potensi lahan yang diharapkan dapat dikembangkan untuk program MIFEE seluas 1.630.869 ha yang akan dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman pangan, perkebunan, peternakan dan perikanan. Terkait dengan program tersebut, Pemerintah Kabupaten Merauke mengundang investor dari luar dan dalam negeri yang akan memanfaatkan potensi daerah sebagai upaya meningkatkan perekonomian daerah dan untuk mewujudkan tujuan MIFEE, serta mendukung pembangunan di Kabupaten Merauke.

Merauke government's plan, the potential of land expected to be developed for MIFEE program covering 1,630,869 hectares that will be used for the development of food crops, plantations, animal husbandry and fishery. Associated with the program, Merauke government inviting investor from outside and inside the country that will harness the potential of the region as an effort to improve the economy of the region and to realize the goal of MIFEE, and supporting the development of Merauke.

Maka dari itu, peluang investasi yang ditawarkan dari Kabupaten Merauke adalah pengembangan pertanian tanaman padi. Hal ini sejalan dengan besarnya kontribusi dari sektor pertanian yang mendominasi perekonomian di Kabupaten Merauke. Kontribusi dari sektor primer memberikan andil hampir dari setengah total PDRB kabupaten Merauke yaitu mencapai 44,08% dan didominasi oleh sektor pertanian yang mencapai 42,33%. Besarnya kontribusi sektor pertanian tersebut, menunjukkan bahwa ketergantungan perekonomian dan tumpuan penciptaan lapangan pekerjaan di Kabupaten Merauke berasal dari sektor ini.

Therefore, the investment opportunity offered in Merauke is agricultural development of paddy. This is in line with the magnitude of the contribution of the agricultural sector which dominates the economy in Merauke. The primary sector contributed more than half of total GDRP of Merauke which reached 44.08% and is dominated by the agricultural sector, which reached 42.33%. The amount of the contribution of the agricultural sector, showed that depedency of the economy and job creation in Merauke come from this sector.

(4)

Pemetaan Potensi dan Peluang Investasi Daerah

The Mapping Potential and Local Investment Opportunities

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)

Indonesia Investment Coordinating Board

3

Usulan peluang investasi lain yang ditawarkan di Kabupaten ini adalah pengembangan industri penggilingan padi berupa pabrik penggilingan padi modern. Pengembangan industri ini diharapkan akan dapat mempercepat proses penggilingan padi menjadi beras dan juga akan mengisi kebutuhan pasar di Kabupaten Merauke sendiri dan juga kebutuhan pangan nasional, serta penyerapan tenaga kerja di Kabupaten Merauke.

Another proposal investment opportunity offered in Merauke is the development of the rice mill industry in the form of Modern Paddy Milling. The development of this industry is expected to accelerate the process of paddy milling into rice and also will fill the needs of the market in Merauke itself and also national food needs, as well as employment in Merauke.

Kebutuhan dana investasi untuk mengakomodir Industri Penggilingan Padi Kabupaten Merauke diperkirakan sekitar Rp. 15 milyar lebih, dengan nilai Internal Rate of Return (IRR) sekitar 35,65% yang lebih besar dari suku bunga 12% per-tahun, dan Payback Period sekitar 3 tahun (3,1 tahun).

Investment funds to accommodate the needs of Paddy Milling Industry in Merauke estimated at approximately more than Rp. 15 billion, with an Internal Rate of Return (IRR) of 35.65% bigger than the interest rate of 12% per year, and a payback period of about 3 years (3 years and 1 month).

(5)

2015

Ringkasan Eksekutif / Executive Summary

4

Pemetaan Potensi dan Peluang Investasi Daerah

The Mapping Potential and Local Investment Opportunities

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)

Indonesia Investment Coordinating Board

1. GAMBARAN WILAYAH 1. DESCRIPTION AREA

1.1. Aspek Geografi Dan Administrasi 1.1. The Aspect Of Geographic And

Administrative

Kabupaten Merauke adalah sebuah wilayah yang menjadi bagian dari Provinsi Papua, yang berada di paling timur wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Secara geografis, kabupaten Merauke terletak antara 137° - 141° Bujur Timur dan 5° - 9° Lintang Selatan. Kabupaten Merauke dibatasi oleh daratan dan lautan, secara administratif kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Mappi dan Kabupaten Boven Digoel di sebelah utara, di Sebelah Timur berbatasan dengan Papua New Guninea, dan Laut Arafuru di sebelah selatan dan barat.

Merauke is a territory part of Papua province, which is located in the far eastern of the Unitary Republic of Indonesia (NKRI). Geographically, Merauke locatedin 137° - 141° East longitude and 5° - 9° South Latitude. Merauke bounded by land and sea, administratively bordered by Mappi and Digoel Regency in the north, in the east borders with Papua New Guninea and Arafuru Sea in the south and west.

Luas wilayah Kabupaten Merauke mencapai sekitar 46.791,63 km² dan luas perairan di Kabupaten Merauke mencapai 5.089,71 km². Kabupaten Merauke memiliki 20 Distrik/Kecamatan, yaitu Ulilin, Elikobel, Muting, Sota, Jagebob, Tanah Miring, Semangga, Naukenjerai, Merauke, Animha, Kurik, Kaptel, Ngguti, Tubang, Okaba, Ilwayab, Waan, Tabonji, dan Kimaam.

The total area of Merauke is 46,791.63 km² and water area of Merauke reached 5,089.71 km². Merauke has 20 Districts/Sub-Districts, which are Ulilin, Elikobel, Muting, Sota, Jagebob, Land Leaning, Semangga, Naukenjerai, Merauke, Animha, Kurik, Kaptel, Ngguti, Tubang, Okaba, Ilwayab, Waan, Tabonji, and Kimaam.

Gambar 1.1 Luas Wilayah per Kecamatan (ha) Figure 1.1 Wide Are Per Sub-district (ha)

Sumber: BPS, Kabupaten Merauke Dalam Angka 2014

(6)

Pemetaan Potensi dan Peluang Investasi Daerah

The Mapping Potential and Local Investment Opportunities

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)

Indonesia Investment Coordinating Board

5

Gambar 1.2 Peta Administrasi Kabupaten Merauke

(7)

2015

Ringkasan Eksekutif / Executive Summary

6

Pemetaan Potensi dan Peluang Investasi Daerah

The Mapping Potential and Local Investment Opportunities

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)

Indonesia Investment Coordinating Board

1.2. Topografi 1.2. Topography

Kabupaten Merauke merupakan wilayah dataran rendah yang memiliki kelas ketinggian antara 0 - 60 meter diatas permukaan laut. Sebagian besar wilayah berada pada ketinggian antara 3 - 4 meter di atas permukaan laut dan hanya tiga wilayah yang berada pada ketinggian antara 40 - 60 meter dari permukaan air laut yaitu Distrik Muting, Elikobel, dan Ulilin. Pantai selatan dibentuk oleh hutan sedimen, tergolong endapan alivium, di Utara pasir kwarsa dan batu apung. Berdasarkan data tingkat kesuburan tanah tergolong rendah sampai sedang. Jenis tanah yang terdapat di wilayah Kabupaten Merauke terdiri atas tanah organosol, alluvial dan hidromorf kelabu yang terdapat di daerah–daerah rawa dan payau. Jenis tanah ini terbentuk dari bahan induk buatan sedimen yang menyebar di wilayah distrik Okaba, Merauke dan Kimaam.

Merauke has a lowland area with the altitude between 0-60 meters above sea level. Most of the area is at an altitude of between 3-4 meters above sea level and only three regions at an altitude of between 40-60 meters above sea level which Muting, Elikobel, and Ulilin. South coast forest formed by sediment, sludge classified alivium, in the North of quartz sand and pumice. Based on data soil fertility levels are classified in low to moderate. The type of soil in Merauke consists of ground organosol, alluvial and gray hidromorf that in brackish and marsh area. This soil type is formed from the mains of artificial sediment which spread in Okaba, Merauke and Kimaam.

Tabel 1.1 Luas Wilayah dan Ketinggian Menurut Distrik di Kabupaten Merauke 2013 Table 1.1 Total Areas and the Altitude Based on District in Merauke 2013 No Distrik/ District Luas / Wide (km²)

Persentase / Percentage

(%)

Ketinggian Di atas Permukaan Air Laut/ Altitude (m) 1 Kimaam 4.630,30 9,90 4-8 2 Tabonji 2.868,06 6,13 5-7 3 Waan 5.416,84 11,58 5-7 4 Ilwayab 1.999,08 4,27 6-27 5 Okaba 1.560,50 3,34 4-40 6 Tubang 2.781,18 5,94 4-40 7 Ngguti 3.554,62 7,60 12-35 8 Kaptel 2.384,05 5,10 5-44 9 Kurik 977,05 2,09 5-30 10 Animha 1.465,60 3,13 6-44 11 Malind 490,60 1,05 3-25 12 Merauke 1.445,63 3,09 5-20 13 Naukenjerai 905,86 1,94 4-20 14 Semangga 326,95 0,70 4-20 15 Tanah Miring 1.516,67 3,24 6-44 16 Jagebob 1.364,96 2,92 10-25 17 Sota 2.843,21 6,07 5-20 18 Muting 3.501,67 7,48 40-60 19 Elikobel 1.666,23 3,56 40-60 20 Ulilin 5.092,57 10,88 40-60 Jumlah/ Total 46.791,63 100,00

Sumber: Bappeda Kabupaten Merauke, 2014

(8)

Pemetaan Potensi dan Peluang Investasi Daerah

The Mapping Potential and Local Investment Opportunities

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)

Indonesia Investment Coordinating Board

7

1.3. Kondisi Klimatologi 1.3. Climatological Condition

Kabupaten Merauke beriklim tropis. Kondisi iklim di Kabupaten Merauke berdasarkan data BPS (2014) menunjukkan suhu udara rata-rata adalah 26,92°C dengan suhu terendah Sebesar 22,10°C yang terjadi pada bulan Agustus dan suhu tertinggi terjadi pada bulan November sebesar 32,20°C. Kelembaban relatif di Kabupaten Merauke sebesar 80,92%, kondisi paling lembab terjadi pada bulan Mei sebesar 85,40%. Sementara itu, tekanan udara rata-rata sebesar 1.008,99 mb. Kecepatan angin rata-rata adalah sebesar 13 knot. Sedangkan, total jumlah hari hujan di Kabupaten Merauke adalah 194 hari. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Januari sebesar 575,50 mm dan curah hujan terendah terjadi pada bulan September sebesar 6,2 mm.

Merauke has tropical climate. Climatic conditions in Merauke based on Center Berau of Statistic data (2014) shows the average air temperature was 26.92°C, with 22.10°C was the lowest temperature which occurred in August and the highest temperatures of 32.20° Coccured in November. The relative humidity in Merauke by 80.92%, most humid conditions in May of 85.40%. Meanwhile, the average air pressure of 1,008.99 mb. The average wind speed was 13 knots. Meanwhile, the total number of rainy days in Merauke was 194 days. The highest rainfall occured in January of 575.50 mm and lowest rainfall occured in September of 6.2 mm.

Gambar 1.3 Rata-Rata Suhu Udara Tahun 2013 Figure 1.3 The Average Air Temperature in 2013

Gambar 1.4 Jumlah Curah Hujan di Kabupaten Merauke Tahun 2013 Figure 1.4 The Numbers of Rainfall in Merauke in 2013

(9)

2015

Ringkasan Eksekutif / Executive Summary

8

Pemetaan Potensi dan Peluang Investasi Daerah

The Mapping Potential and Local Investment Opportunities

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)

Indonesia Investment Coordinating Board

1.4. Kependudukan 1.4. Population

Berdasarkan data BPS (2014) jumlah penduduk pada tahun 2013 di Kabupaten Merauke sebanyak 209.980 jiwa. Dari keseluruhan penduduk, jumlah penduduk berjenis kelamin laki-laki berjumlah 110.388 jiwa dan untuk jumlah penduduk perempuan berjumlah 99.592 jiwa. Pertumbuhan penduduk rata-rata selama tiga tahun terakhir (2011 – 2013) sebesar 1,35 persen per tahun. Sementara itu, jumlah penduduk terbesar terdapat di Distrik Merauke sebanyak 93.999 jiwa, dan yang terendah terdapat di Distrik Kaptel sebanyak 1.825 jiwa. Berdasarkan Rasio Jenis Kelamin penduduk di Kabupaten Merauke sebesar 110,84. Nilai ini lebih besar dari (100), sehingga dalam hal ini di Kabupaten Merauke jumlah penduduk laki-laki lebih banyak dibanding penduduk perempuan.

Based on data from BPS (2014), the total population in 2013 of Merauke was 209,980 inhabitants. of the total population, the population of male was 110,388 inhabitants and 99.592 inhabitants of female. The average population growth over the last three years (2011 - 2013) of 1.35% per year. Meanwhile, the largest population in Merauke was 93,999 inhabitants and the lowest was in Kaptel with 1,825 inhabitants. Based on Gender Ratio, population in Merauke was 110.84 inhabitants. This value is bigger than (100), so in this case in Merauke population of male more than the female.

Tabel 1.2 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin Kabupaten Merauke 2013 Table 1.2 The Numbers of Populations Based On Gender in Merauke in 2013 Distrik/ District Laki-Laki/ Male Perempuan/ Female Jumlah/ Total Rasio Jenis Kelamin/ Gender Ratio Kimaam 3.195 2.898 6.093 110,25 Waan 2.494 2.223 4.717 112,19 Tabonji 2.705 2.671 5.376 101,27 Ilwayab 2.870 2.503 5.373 114,66 Okaba 2.713 2.424 5.137 111,92 Tubang 1.218 1.134 2.352 107,41 Ngguti 1.024 946 1.970 108,25 Kaptel 974 850 1.825 114,71 Kurik 7.428 6.624 14.052 112,14 Animha 1.072 970 2.042 110,52 Malind 4.909 4.468 9.377 109,87 Merauke 49.094 44.905 93.999 109,33 Naukenjerai 1.026 948 1.974 108,23 Semangga 7.262 6.408 13.670 113,33 Tanah Miring 9.625 8.280 17.905 116,24 Jagebob 3.855 3.531 7.386 109,18 Sota 1.648 1.410 3.058 116,88 Muting 2.814 2.570 5.384 109,49 Elikobel 2.184 1.809 3.993 120,73 Ulilin 2.277 2.020 4.297 112,72 Jumlah/ Total 147.288 140.633 287.921 105

Sumber: BPS, Kabupaten Merauke Dalam Angka 2014

(10)

Pemetaan Potensi dan Peluang Investasi Daerah

The Mapping Potential and Local Investment Opportunities

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)

Indonesia Investment Coordinating Board

9

Jumlah penduduk menurut kelompok umur di Kabupaten Merauke sebagian besar termasuk dalam usia produktif yaitu 15-64 tahun sebanyak 133.821 jiwa dan selebihnya 71.268 jiwa berusia dibawah 15 tahun dan 4.891 jiwa berusia 65 tahun keatas seperti ditunjukkan pada tabel 1.3 di bawah ini.

Number of population by age group in Merauke mostly included in the productive age (15-64 years) of 821 inhabitants and the rest 71,268 inhabitants under the age of 15 years and 4,891 inhabitants aged 65 years and above as shown in the table 1.3.

Tabel1.3 Penduduk Menurut Kelompok Umur Dirinci Per Jenis Kelamin di Kabupaten Merauke Table 1.3 Populations Based On Age Group of Gender in Merauke

Kelompok Umur/ Age Group Laki-laki/ Male Perempuan/ Female Jumlah/ Total 0 – 4 13.179 12.131 25.310 5 - 9 12.348 11.701 24.049 10 – 14 11.422 10.487 21.909 15 – 19 10.472 9.698 20.170 20 – 24 10.559 9.492 20.051 25 – 29 10.886 9.782 20.668 30 – 34 8.741 7.925 16.666 35 – 39 7.336 6.837 14.173 40 - 44 6.826 6.081 12.907 45 – 49 5.796 5.184 10.980 50 – 54 4.478 3.866 8.344 55 – 59 3.332 2.698 6.030 60 – 64 2.151 1.681 3.832 65 – 69 1.386 976 2.362 70 – 74 757 522 1.279 75+ 719 531 1.250 Jumlah/ Total 110.388 99.592 209.980

Sumber: BPS Kabupaten Merauke dalam Angka 2014

Source: BPS, Merauke In Figures 2014

Gambar 1.5 Piramida Penduduk Kabupaten Merauke, 2013 Figure 1.5 Population Pyramid in Merauke, 2013

(11)

2015

Ringkasan Eksekutif / Executive Summary

10

Pemetaan Potensi dan Peluang Investasi Daerah

The Mapping Potential and Local Investment Opportunities

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)

Indonesia Investment Coordinating Board

1.5. Ketenagakerjaan 1.5. Employment

Pada tahun 2013 tercatat sebanyak 111.317 penduduk usia 15 tahun ke atas yang termasuk dalam angkatan kerja, sedangkan sebanyak 102.260 penduduk usia 15 tahun ke atas yang telah bekerja. Dengan demikian, tingkat pengangguran terbuka sebesar 8,14%, hal ini menunjukkan bahwa dari 100 penduduk usia 15 tahun ke atas masih (usia angkatan kerja) sebanyak 8 hingga 9 penduduk yang sedang mencari pekerjaan. Tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) selama empat tahun terakhir (2010 – 2013) mengalami peningkatan rata-rata per tahun sebesar 3,87 persen, namun pada tahun 2013 mengalami penurun dari tahun sebelumnya. Sementara itu, tingkat pengangguran terbuka (TPT) mengalami peningkatan rata-rata per tahun sebesar 3,20 persen seperti ditunjukkan pada tabel 1.4 berikut:

In 2013, there were 111,317 inhabitants aged 15 years above included in the labor force, while 102,260 people aged 15 years above who have been working. Thus, the open unemployment rate amounted to 8.14%, it shows that of 100 people aged 15 years above (the age of the labor force) as much as 8 to 9 people who are job seeker. Labor force participation rate (LFPR) for four years (2010-2013) increased an average of 3.87% per year, but in 2013 decreased from the previous year. Meanwhile, unemployment rate increasedan average of 3.20% per year as shown in the table 1.4 :

Tabel 1.4 Penduduk Berumur 15 tahun Ke atas Menurut Jenis Kegiatan Utama di Merauke 2010-2013 Table 1.4 Population Age of 15 above Based on Nain Activity in Merauke 2010-2013

Jenis Kegiatan Utama/ Main Activity 2010 2011 2012 2013

Angkatan Kerja/ Labor Force 88.866 108.299 104.626 111.317 a. Bekerja/ Employe 84.095 101.362 99.080 102.260 b. Menganggur/ Unemployment 4.771 6.937 5.546 9.057 Bukan Angkatan Kerja/ Not Labor Force 41.651 39.721 38.002 41.604

Jumlah/ Total 130.517 148.020 142.628 152.921

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK)/

Labor Force Participation Level 68,09 73,17 73,36 72,79

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT)/

Open Unemployment Level 5,37 6,52 5,08 8,14

Sumber: BPS, Kabupaten Merauke Dalam Angka 2014

(12)

Pemetaan Potensi dan Peluang Investasi Daerah

The Mapping Potential and Local Investment Opportunities

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)

Indonesia Investment Coordinating Board

11

1.6. Pendidikan 1.6. Education

Salah satu faktor utama keberhasilan pembangunan suatu daerah adalah tersedianya cukup Sumber Daya Manusia (SDM). Sarana dan prasarana pendidikan seperti sekolah dan tenaga pendidikan (guru) yang memadai menjadi penunjang keberhasilan pendidikan. Pada tahun 2013 di Kabupaten Merauke terdapat sebanyak 73 Taman Kanak-Kanak dengan jumlah 4.500 murid dan 157 Guru, 203 Sekolah Dasar (SD) Negeri dan Swasta dengan jumlah 33.202 murid dan 1.264 guru, 61 Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) Negeri dan Swasta dengan jumlah 9.156 Murid dan 594 Guru, 21 Sekolah Menengah Atas (SMA) dengan jumlah 5.172 Murid dan 295 Guru, serta 15 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan jumlah 2.564 murid dan 414 Guru. Sementara itu, jumlah perguruan tinggi yang terdapat di Kabupaten Merauke sebanyak sembilan Perguruan Tinggi.

The main factor of the successful development of a region is the availability of Human Resources (HR). The good educational facilities, such as school and teachers, supporting educational success. In 2013, in Merauke Regency there were 73 Kindergartens with 4,500 students and 157 teachers, 203 Elementary School (SD) both public and private with 33,202 students and 1,264 teachers, 61 Junior high school (JSS) both public and private with 9,156 students and 594 teachers, 21 high school (SMA) with 5,172 students and 295 teachers, and 15 vocational school (SMK) with 2,564 students and 414 teachers. Meanwhile, the number of universities located in Merauke is 9 universities.

Tabel 1.5 Jumlah Sekolah Negeri dan Swasta di Kabupaten Merauke Tahun 2011-2013 Table 1.5 The Total Numbers of School in Merauke, 2011-2013

Tahun/ Year

Sekolah (Swasta & Negeri)/ School (Private and Public) TK/ Kindegarden SD/ Elementary School SLTP/ Junior High School SLTA/ Senior High School SMK/ Vocational School 2011 71 202 55 19 13 2012 70 205 59 20 13 2013 73 203 61 21 15

Sumber: Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kab. Merauke

Source: Education and Teaching Department of Merauke

Tabel 1.6 Jumlah Murid di Kabupaten Merauke Tahun 2011-2013 Table 1.6 The Total Numberof Students in Merauke in 2011-2013 Tahun/ Year Murid/ Student TK/ Kindergarden SD/ Elementary School SLTP/ Junior High School SLTA/ Senior High School SMK/ Vocational School 2011 2227 33.525 10500 5.049 3.952 2012 3686 33.695 11127 5.043 3.023 2013 4500 33.202 9156 5.172 2.564 Sumber: Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kab. Merauke

(13)

2015

Ringkasan Eksekutif / Executive Summary

12

Pemetaan Potensi dan Peluang Investasi Daerah

The Mapping Potential and Local Investment Opportunities

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)

Indonesia Investment Coordinating Board

Tabel 1.7 Jumlah Guru di Kabupaten Merauke Tahun 2011-2013 Table 1.7 The Total Number of Teachers in Merauke 2011-2013 Tahun/ Year Guru/ Teacher TK/ Kindergarden SD/ Elementary School SLTP/ Junior High School SLTA/ Senior High School SMK/ Vocational School 2011 318 2.036 804 445 299 2012 317 1415 559 442 296 2013 157 1264 594 295 414 Sumber: Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kab. Merauke

Source: Education and Teaching Department of Merauke

Tabel 1.8 Jumlah Mahasiswa Perguruan Tinggi Menurut Jenis Kelamin di Kab. Merauke 2013/2014 Table 1.8 The Total of College Student Based on Gender in Merauke 2013/2014

Perguruan Tinggi Swasta/ Private University

Mahasiswa/ College Student

Jumlah/ Total Laki-laki/ Male Perempuan/ Female

Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Karya Darma/

School of Administrative Sciences Darma Karya 287 159 446

Universitas Musamus Merauke/

Musamus Merauke University 3.166 2.443 5.609

Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam YAMRA Merauke/

School of Islamic Studies YAMRA Merauke 19 48 67

Akademi Perawat/ Academy of Nursery 73 152 225 Akademi Bank (AKBANK) Yapis Merauke/

Academy Bank Yapis Merauke 146 75 221

Politeknik Yasanto Merauke/

Politechnic of Yasanto Merauke 82 34 116

STISIPOL Yaleka Maro/ STISIPOL Yaleka Maro 950 550 1.500 STK. St. Yakobus/ STK St Yakobus 58 108 166 Sekolah Tinggi Agama Kristen/

School of Christian Studies 40 64 104

Jumlah (2013/2014)/ Total (2013-2014) 3.633 8.454

Jumlah (2012/2013) / Total (2012-2013) 3.105 7.008

Jumlah (2011/2012) / Total (2011-2012) 3.596 3.077 6.673

Sumber: Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kab. Merauke

(14)

Pemetaan Potensi dan Peluang Investasi Daerah

The Mapping Potential and Local Investment Opportunities

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)

Indonesia Investment Coordinating Board

13

1.7. Kondisi Sarana Dan Prasarana 1.7. The Condition Of Facilities And

Infrastructure

1.7.1. Transportasi 1.7.1. Transportation

Infrastrukstur adalah sarana dan prasarana pendukung yang penting dalam pengembangan suatu wilayah. Ketersediaan infrastruktur yang memadai akan meningkatkan aksesibilitas ke wilayah tersebut, sehingga hal ini akan mendorong pengembangan kegiatan ekonomi wilayah. Transportasi sebagaimana salah satu dari kebutuhan infrastuktur untuk kelancaran aktivitas masyarakat. Maka dari itu, pemerintah pusat dan pemerintah provinsi serta pemerintah Kabupaten Merauke terus melakukan perbaikan dan pembangunan sarana dan infrastruktur di Merauke. Dalam hal ini sarana transportasi berupa: transportasi darat, transportasi udara, dan transportasi laut.

Infrastructure is an important supporting means in the development of a region. The availability of adequate infrastructure will improve the accessibility to the region, so that it will encourage the development of regional economic activity. As one of basic need to support society activity, transportation has an important role. Therefore, the Central Government and the Provincial Government and Merauke Government continues to make improvements and construction of facilities and infrastructure in Merauke. In this case the means of transportation are: land transportation, air transportation, and sea transportation.

Kondisi jalan di Kabupaten Merauke sepanjang 719.439 km kondisinya telah diaspal dan sepanjang 835.678 km merupakan jalan tanah. Berikut rincian perkembangan pembangunan jalan di Kabupaten Merauke.

Condition of roads in Merauke along 719,439 km condition has been paved and 835,678 km still in the form of a dirt road. Here are the details of the development with establishment of roads in the district of Merauke.

Gambar 1.6 Kondisi Jalan di Kabupaten Merauke Figure 1.6 Road Condition in Merauke

Tabel 1.9 Perkembangan Panjang Jalan di Kabupaten Merauke 2011-2013 (km) Table 1.9 Length Road Development in Merauke 2011-2013 (km)

Jenis Jalan/ Road Type 2011 2012 2013

Jalan Negara/ State Road 271.000 271.000 273.000 Jalan Propinsi/ Provincial Road 233.407 233.407 233.407 Jalan Kabupaten/ Country Road 1.103.744 1.279.917 1.287.576

Jumlah/ Total 1.608.151 1.784.324 1.793.983

Sumber: UPTD Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Merauke

(15)

2015

Ringkasan Eksekutif / Executive Summary

14

Pemetaan Potensi dan Peluang Investasi Daerah

The Mapping Potential and Local Investment Opportunities

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)

Indonesia Investment Coordinating Board

Tabel 1.10 Panjang Jalan Menurut Jenis Permukaan di Kabupaten Merauke 2011-2013 (km) Table 1.10 Length Road Based on The Surface Type in Merauke 2011-2013 (km)

Jenis Permukaan/ Surface Type 2011 2012 2013

Diaspal/ Asphalt 828.050 863.507 719.439

Kerikil/ Gravel - - -

Tanah/ Dirt 780.101 888.517 835.678

Lainnya/ Others - - -

Jumlah/ Total 1.608.151 1.752.024 1.558.917

Sumber: UPTD Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Merauke

Source: Highways and Irrigation Unit of Merauke

Tabel 1.11 Panjang Jalan Menurut Kondisi Jalan di Kab. Merauke, tahun 2011–2013 (km) Table 1.11 Length Road Based on Road Condition in Merauke 2011-2013 (km)

Jenis Permukaan/ Surface Type 2011 2012 2013

Baik/ Good 303.210 323.233 505.045 Sedang/ Moderate 469.745 666.259 339.032 Rusak/ Damaged 646.953 382.125 336.117 Rusak Berat/ Highly Damaged 188.243 412.707 380.382

Jumlah/ Total 1.608.151 1.784.324 1.560.576

Sumber: UPTD Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Merauke

Source: Highways and Irrigation Unit of Merauke

Sementara itu, pergerakan barang dan manusia melalui transportasi udara menunjukkan aktifitas yang terus meningkat setiap tahunnya. Perkembangan jumlah pesawat dan penumpang yang datang dan berangkat melalui Bandara Mopah yang merupakan Bandara Internasional di Kabupaten Merauke terus meningkat. Berikut rincian jumlah penumpang dan pesawat di Bandara Mopah, serta beberapa bandar udara di Kabupaten Merauke.

Meanwhile, the movement of goods and people through air transportation showed the activity continues to increase every year. The number of aircraft and passengers who arrive and depart through the airport which is Mopah International Airport in Merauke continues to increase. Here are details of the number of passengers and aircraft at Mopah airport and other airports in the Merauke.

Gambar 1.7 Bandar Udara Mopah, Merauke Figure 1.7 Mopah Airtport, Merauke

Tabel 1.12 Jumlah Pesawat dan Penumpang Datang dan Berangkat Melalui Bandar Udara Mopah

Merauke, 2011-2013

Table 1.12 Numbers of Passenger and Plan at Mopah Airport Merauke, 2011-2013

Tahun/ Year Pesawat/ Aircraft Penumpang/ Passenger

Datang/ Arrive Berangkat/ Depart Datang/ Arrive Berangkat/ Depart

2011 3.200 3.245 122.078 122.884 2012 2.846 2.894 134.121 137.253 2013 2.654 2.650 144.949 140.906 Sumber: Bandar Udara Mopah Kabupaten Merauke / Source: Mopah Airport Merauke

(16)

Pemetaan Potensi dan Peluang Investasi Daerah

The Mapping Potential and Local Investment Opportunities

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)

Indonesia Investment Coordinating Board

15

Tabel 1.13 Bandar Udara di Kabupaten Merauke

Table 1.13 Airports in Merauke No NAMA BANDARA/

Airport Name

LOKASI BANDARA/

Airport Location DESKRIPSI/ Description

1 Bandara Kepi/

Kepi Airport

Kab. Merauke, Papua, Jarak dari DKI Jakarta : 3.604,34 km/ Distance

fromDKI Jakarta: 3.604,34 km

Jarak Dari Ibukota Provinsi: 481 Km

Distance from Capital Province: 481 km

Kelas : III - Bandara Domestik/

Class: III – Domestic Airport

Panjang Landasan: 605 m/

Runway Length: 605 m

Jenis Pesawat yang Bisa Mendarat: Cassa 212/

Aircraft Type that can be landed: Cassa 212

2 Bandara Kimam/

Kimam Airport

Jl. Kiworo Distrik Kimaam, Kel. Rimba Jaya, Kec. Merauke, Kab. Merauke, Papua, 99611/ Kiworo

District Kimaam, Street, Rimba Jaya Sub-district, Merauke District, Merauke, Papua 99611

Jarak dari DKI Jakarta : 3.538,22 km, jam operasi : 08:00 - 17:00 WIT/

Distance from DKI Jakarta: 3.538,22 km, Operating Hour: 08:00-17:00 WIT (Eastern Indonesia Time)

Jarak Dari Ibukota Provinsi: 640 Km

Distance from Capital Province: 640 km

Kelas : III - Bandara Domestik/

Class: III -Domestic Airport

Panjang Landasan: 600 m/

Runway Length: 600m

Jenis Pesawat yang Bisa Mendarat: DHC-6/

Aircraft Type that can be landed: DHC-6

3 Bandara Mopah/

Mopah Airport

Jl. PGT No. 1, Kel. Rimba Jaya, Kec. Merauke, Kab. Merauke, Papua, 99611 Telephone : +62 971-321764/

PGT Street No 1, Rimba Jaya Sub-district, Merauke District, Merauke, Papua 99611, Phone: +62 971-321764

Jarak dari DKI Jakarta : 3.712,17 km/ Distance

from DKI Jakarta: 3.712,17 km

Jam operasi : 07:00 - 17:00 WIT, LLU : ADC/

Operating Hour: 07:00 - 17:00 WIT, LLU : ADC

Jarak Dari Ibukota Provinsi: 667 Km/

Distance from Capital Province: 667 km

Kelas : I - Bandara Internasional/

Class: I- International Airport

Panjang Landasan: 2.500 m/

Runway Length: 2.500 m

Jenis Pesawat yang Bisa Mendarat: B-737-400/

Aircraft Type that can be landed: B-737-400

4 Bandara Okaba/

Okaba Airport

Distrik Okaba, Kel. Rimba Jaya, Kec. Merauke, Kab. Merauke, Papua, 99611 Telephone : +62 971 325024/

District Okaba, Rimba Jaya Sub-district, Merauke District, Merauke, Papua 99611, Phone: +62 971 325024

Jarak dari ibukota provinsi : 628,14 Km/ Distance

from Capital Province: 628,14 km

Jam Operasional 07.00-17.00 WIT / Operating

Hour: 07.00-17.00 WIT

Jarak Dari Ibukota Provinsi: 628 Km/

Distance from Capital Province 628 km

Kelas : III - Bandara Domestik/

Class: III- Domestic Airport

Panjang Landasan: 600 m/

Runway Length: 600 m

Jenis Pesawat yang Bisa Mendarat: DASH-6, DHC-6/

(17)

2015

Ringkasan Eksekutif / Executive Summary

16

Pemetaan Potensi dan Peluang Investasi Daerah

The Mapping Potential and Local Investment Opportunities

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)

Indonesia Investment Coordinating Board

No NAMA BANDARA/

Airport Name

LOKASI BANDARA/

Airport Location DESKRIPSI/ Description

Aircraft Type that can be landed: DASH-6, DHC-6

5

Bandara Nop Goliath Dekai Yahukimo/

Nop Goliath Dekai Yahukimo Airport

Jl. H. Palapessy, Kab. Merauke, Papua/

H. Palapessy Street, Merauke District, Papua

Jarak dari ibukota provinsi : 292,21 Km/ Distance

from Capital Province: 292,21 km

Jam Operasional 22.00 - 07.00 GMT (UTC)/

Operating: 22.00 – 07.00 GMT (UTC)

Kelas : III - Bandara Domestik/

Class: III- Domestic Airport

Panjang Landasan: 1.700 m/

Runway Length: 1.700 m

Jenis Pesawat yang Bisa Mendarat: ATR 72/

Aircraft Type that can be landed: ATR 72

Sumber: Dirjen Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan

Source: Director General of Air Transportation, Department of Transportation

Untuk transportasi laut, pada tahun 2013 terdapat sebanyak 1.810 kunjungan kapal dengan kapasitas 842.593, dan jumlah penumpang tiba dan berangkat 21.733 penumpang. Sementara itu, jumlah kunjungan kapal menurut jenis pelayarannya (Samudera, Nusantara, Lokal, Tengker, Khusus) tahun 2013 sebanyak 1.807 kunjungan kapal seperti ditunjukkan pada tabel dibawah ini.

For sea transport, in 2013 there were 1.810 ships with a capacity of 842,593 anchored and 21,733 with number of arriving and departing passengers. Meanwhile, the number of ship visits by sailing type (Ocean, Archipelago, Local, Tanker, and Private) in 2013 was 1,807 ships, as shown in the table below.

Tabel 1.14 Perkembangan Jumlah Kunjungan Kapal, Kapasitas dan Penumpang di Merauke 2011-2013 Table 1.14 Developments Number of Ships Visit, Passenger and Capacity in Merauke 2011-2013 Tahun/ Year Kunjungan/ Visit Kapasitas/ Capacity Penumpang/ Passenger

Tiba/ Arrive Berangkat/ Depart Jumlah/ Total

2011 1.714 671.840 14.535 12.553 27.088 2012 421 - 13.879 13.793 27.672 2013 1.810 842.593 11.334 10.399 866.136 Sumber: Kantor Kesyahbadaran dan Otorita Pelabuhan Merauke

Source: Port Authority Office in Merauke

Tabel 1.15 Perkembangan Jumlah Kunjungan Kapal Menurut Jenis Pelayaran di Kabupaten Merauke tahun

2011-2013

Table 1.15 The Development of Number of Ships Visit Based On Sailling Type in Merauke, 2011-2013

Jenis Pelayaran/ Sailling Type 2011 2012 2013

Samudera/ Ocean 2 11 8 Nusantara/ Archipelago 376 363 400 Lokal/ Local 692 67 685 Tangker/ Tanker 50 708 97 Khusus/ Private 580 706 622 Lainnya/ Other - - - Jumlah/ Total 1.700 1.911 1.807

Sumber: Kantor Kesyahbandaran dan Otorita Pelabuhan Merauke

(18)

Pemetaan Potensi dan Peluang Investasi Daerah

The Mapping Potential and Local Investment Opportunities

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)

Indonesia Investment Coordinating Board

17

1.7.2. Sumber Energi Listrik 1.7.2. Electricity Source

Energi listrik sudah menjadi kebutuhan dimana sejalan dengan roda perekonomian daerah. Pasokan energi listrik berasal dari PLN. Jumlah pelanggan, produksi listrik dan listrik terjual di Kabupaten Merauke tahun 2011–2013 menunjukkan perkembangan, jumlah pelanggan pada tahun 2013 sebanyak 38.942 pelanggan, nilai ini meningkat jika dibandingkan tahun 2012 dan 2011 dengan kenaikan rata-rata per tahun sebesar 12,5%. Sedangkan produksi listrik pada tahun 2013 sebesar 91.468.159 Kwh, hal ini meningkat jika dibandingkan dengan tahun 2012 dan 2011 dengan rata-rata kenaikan per tahun sebesar 8,82%.

Electrical energy has become a necessity which is in line with the economy of the region. Electricity supply comes from the PLN (State Electricity Company). The number of customers, the production of electricity and the electricity sold in Merauke in 2011-2013 showed progress, the number of subscribers in 2013 was 38,942 customers; this value increased when compared to the year 2012 and 2011 with an average of 12.5% per year. While the production of electricity in 2013 was 91,468,159 kwh, it increased if compared to 2012 and 2011 with an average of 8.82% per year.

Sementara itu, distribusi penjualan listrik ke pelanggan pada tahun 2013 menunjukkan ke pelanggan sosial sebesar 2.452.110 Kwh (2,91%), rumah tangga sebanyak 56.807.692 Kwh (67,36%), bisnis sebesar 18.291.110 Kwh (21,69%), industri sebesar 136.270 (0,16%), kantor pemerintahan dan PJU sebesar 5.830.198 Kwh (6,91%) dan multiguna sebesar 814.669 Kwh (0,97%). Rata-rata tarif listrik untuk masing-masing jenis pelanggan berbeda-beda berkisar Rp. 776/Kwh sampai Rp. 1.290/Kwh, seperti ditunjukan pada tabel-tabel berikut:

Meanwhile, the distribution of electricity sales to customers in 2013 showed to social customer of 2,452,110 kwh (2.91%), households of 56,807,692 kwh (67.36%), business of 18,291,110 kwh (21.69%), industry of 136,270 (0.16%), government offices and PJU (street lightning) of 5,830,198 kwh (6.91%) and multipurpose of 814,669 kwh (0.97%). The average electricity tariff for each different types of customers ranging from Rp. 776/kwh to Rp. 1,290/kwh, as shown in the following tables:

Gambar 1.8 Instalasi Jaringan Listrik di Kabupaten Merauke Figure 1.8 Electrical Instalation Network in Merauke

(19)

2015

Ringkasan Eksekutif / Executive Summary

18

Pemetaan Potensi dan Peluang Investasi Daerah

The Mapping Potential and Local Investment Opportunities

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)

Indonesia Investment Coordinating Board

Tabel 1.16 Jumlah Pelanggan, Daya Terpasang, Produksi, dan Distribusi Listrik di Kabupaten Merauke

2011-2013

Table 1.16 Customer Number, Installed Power, Production and Distribution of Electricity in Merauke

2011-2013 Tahun/ Year Jumlah Pelanggan/ Customer Number Daya Terpasang / Installed Power (KVA) Produksi Listrik / Electricity Production (Kwh) Listrk Terjual/ Electricity Sold Susut/Hilang / Losses (Kwh) 2011 28.319 24.093 72.333.855 64.724.046 7.609.809 2012 33.530 24.242 82.200.899 74.516.167 7.684.732 2013 38.942 25.420 91.468.159 84.332.049 7.136.110 Sumber: PT. PLN Wilayah Papua Cabang Merauke

Source: PT. PLN (State Electricity Company) Area of Papua Sub Merauke

Tabel 1.17 Distribusi Penjualan Listrik Menurut Jenis Pelanggan di Kabupaten Merauke Table 1.17 Distribution Electricity Sales by Customers Type in Merauke

No Jenis Pelanggan/ Customer Type

Penjualan Listrik/ Electricity Sales (Kwh) Presentase/ Percentage (%) Rata-rata tarif per Kwh / Average fare per Kwh(Rp/Kwh) 1 Sosial/ Social 2.452.110 2,91 776 2 Rumah Tangga/ House 56.807.692 67,36 793 3 Bisnis/ Business 18.291.110 21,69 1.117 4 Industri/ Industry 136.270 0,16 971

5

Kantor Pemerintah (P1 & P2) dan Penerangan Jalan Umum/ Government Office (P1 and P2) and Street Lighting

5.830.198 6,91 934

6 Multiguna/ Multipurpose 814.669 0,97 1.290

Jumlah (2013)/ Total (2013) 84.332.049 100 898,00

Jumlah (2012)/ Total (2012) 74.516.167 100 806,29

Jumlah (2011)/ Total (2011) 64.724.046 100 971,14

Sumber: PT. PLN Wilayah Papua Cabang Merauke

(20)

Pemetaan Potensi dan Peluang Investasi Daerah

The Mapping Potential and Local Investment Opportunities

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)

Indonesia Investment Coordinating Board

19

2. KEBIJAKAN PEMBANGUNAN DAERAH 1. THE REGIONAL DEVELOPMENT POLICY

2.1. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)

2.1. The Medium - Term Regional Development Plan

Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Merauke dijelaskan bahwa visi pembangunan daerah:

Based on the Medium - Term Regional Development Plan of Merauke, explained that the regional development vision is;

“Merauke Gerbang Andalan Manusia Cerdas dan Sehat, Gerbang Pangan Nasional, Gerbang

Kesejahteraan dan Kedamaian Hati Nusantara.”

"Merauke is the Leading Gate of Smart and Healthy People, Gate of National Food and Gate of Prosperity and Peace Heart of Archipelago."

Berdasarkan visi pembangunan tersebut, ditetapkan misi pembangunannya yaitu:

Based on the Development Vission, the Development Mission are:

1. Meningkatkan jangkauan dan kualitas pelayanan pendidikan;

2. Meningkatkan jangkauan dan kualitas pelayanan kesehatan;

3. Mengembangkan sistem pelayanan masyarakat secara terpadu;

4. Mengembangkan perekonomian wilayah kampung, distrik dan kota berbasis potensi;

5. Mengembangkan zona perdagangan dan industri serta jaringan tata niaga dan kelembagaan pasar lokal, regional, antar pulau dan internasional;

6. Memberdayakan kampung dalam pengelolaan keuangan dan perekonomian;

7. Memelihara kedamaian, kesatuan bangsa dan kehidupan sosial budaya;

8. Menata kelembagaan pemerintah kampung, distrik dan kabupaten sesuai kebutuhan mulai pemekaran wilayah, penataan ruang kawasan, penataan kelembagaan dan penataan personalia;

9. Membangun, meningkatkan dan memelihara aksesibilitas wilayah lintas kampung, distrik dan kota melalui pengembangan infrastruktur.

1. Improve the range and quality of educational services;

2. Improve the coverage and quality of health services;

3. Develop an integrated public service system;

4. Develop the economy of the area of villages, districts and cities based on potential;

5. Develop trade and industrial zones and trade system and institutional network of local markets, regional and international;

6. Empower village in the financial management and the economy;

7. Maintain peace, national unity and socio-cultural life;

8. Reform government institutions of village, district and regency as needed, starting from regional expansion, regional spatial planning, institutional arrangement and personnel arrangement;

9. Develop, improve and maintain accessibility of villages across the region, district and city through infrastructure development.

(21)

2015

Ringkasan Eksekutif / Executive Summary

20

Pemetaan Potensi dan Peluang Investasi Daerah

The Mapping Potential and Local Investment Opportunities

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)

Indonesia Investment Coordinating Board

2.2. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)

2.2. The Spatial Plans Area

1) Kebijakan penataan ruang Kabupaten Merauke terdiri atas:

a. Kebijakan Struktur Ruang; b. Kebijakan Pola Ruang; dan c. Kebijakan Kawasan Strategis.

1) The spatial policy of Merauke consists of: a. Structure of Space Policy;

b. The pattern of space policy; and

c. Strategic Area Policy.

2) Kebijakan penataan ruang, terdiri dari:

a. Pengembangan sistem pusat-pusat permukiman secara berjenjang dan merata untuk mendorong tumbuhnya keterkaitan hubungan antar kota-kampung yang saling menguntungkan; dan

b. Peningkatan jangkauan pelayanan jaringan prasarana transportasi, telekomunikasi, energi dan sumber daya air yang terpadu dan merata serta berkelanjutan dan berwawasan lingkungan di wilayah kabupaten.

2) The spatial policy consist of:

a. Development system settlement centers gradually and evenly to encourage the growth linkages between town-village relationship of mutual benefit; and

b. Increase outreach network transport

infrastructure, telecommunications, energy and water resources in an integrated, equitable and environmentally sustainable in the district.

3) Kebijakan penataan ruang, terdiri dari:

a. Optimalisasi pemanfaatan ruang untuk mendukung pengembangan sektor unggulan Kabupaten dengan memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan serta keserasian antar sektor;

b. Pelestarian dan pemantapan fungsi lindung dan konservasi pada wilayah yang sudah ditetapkan dan/atau wilayah yang direncanakan;

c. Pengembangan kawasan budidaya pertanian skala luas serta pengembangan pertanian masyarakat sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan dalam rangka mewujudkan penyediaan lahan pangan, meningkatkan investasi pertanian dan mendukung ketahanan energi nasional; dan d. Peningkatan fungsi pertahanan dan keamanan

negara melalui keikutsertaan dalam memelihara dan menjaga perbatasan antar bangsa.

3) The spatial policy consist of:

a. Optimize the use of space to support the development of the leading sectors in the district regarding to the carrying capacity and environmental capacity, and harmony between sectors;

b. Preservation and strengthen of the functions of protection and conservation in areas that have been defined and / or region that is planned; c. Development of large-scale agricultural

cultivation area and the agricultural development community in accordance with the carrying capacity and environmental capacity in order to realize the provision of food land, increase agricultural investment and support national energy security; and d. Improve functions of national defense and

security through participation in maintaining and keeping the borders between nations.

(22)

Pemetaan Potensi dan Peluang Investasi Daerah

The Mapping Potential and Local Investment Opportunities

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)

Indonesia Investment Coordinating Board

21

Kemudian beberapa stratetgi yang akan dilaksanakan dalam pengembangan wilayah sesuai dengan tujuan penataan ruang wilayah antara lain adalah:

Then some of the strategies that will be implemented in accordance with the regional development spatial planare:

1) Strategi pengembangan fungsi pusat perkotaan, terdiri atas:

a. Meningkatkan status kawasan perkotaan Merauke sebagai daerah kota;

b. Mengembangkan wilayah perkotaan baru untuk mengakomodasi penambahan pusat-pusat kegiatan wilayah yang baru;

c. Meningkatkan interaksi antar kota baik inter kota-kota distrik maupun antar kota distrik dengan ibukota kabupaten;

d. Mempercepat pembangunan kegiatan perkotaan pada kawasan-kawasan pertumbuhan ekonomi dan pusat-pusat pelayanan wilayah;

e. Memperbaiki perkampungan adat dan meningkatkan interaksi antar kampung adat yang saling sinergis dan selaras, serta meningkatkan akses perkampungan adat kepada prasarana dan sarana dasar wilayah; dan

f. Menata kawasan transmigrasi dan mengembangkan interaksi antar satuan kawasan pengembangan transmigrasi dan dengan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi.

1) Strategy development of urban centers function, consists of:

a. Improve the status of Merauke as the city areas;

b. Develop new urban areas to accommodate the addition of centers of new areas;

c. Improve the interaction between cities both intercity of citydistrict or inter citydistrict of capital city of the district;

d. Accelerate the construction of urban activities in the areas of economic growth and centers of service area;

e. Repair indigenous villages and improve the interaction between indigenous villages that are synergistic and harmony, as well as improving the access of indigenous settlements to basic infrastructure area; and

f. Reform the transmigration areas and develop interaction between units of transmigration area and with the centers of economic growth.

2) Strategi pengembangan aksebiltas sebagai

pusat pelayanan, terdiri atas:

a. Memenuhi kebutuhan prasarana yang disesuaikan dengan kebutuhan kawasan perkotaan dan kawasan perdesaan

b. Membangun, meningkatkan dan pemeliharaan jaringan jalan nasional, jalan provinsi dan jalan kabupaten;

c. Memperbaiki sarana angkutan umum dan angkutan barang;

d. Menata sistem terminal yang terintegrasi dengan transportasi laut, sungaidan penyeberangan;

e. Membuka jalur penyeberangan antar kabupaten dan antar distrik pada simpul-simpul transportasi yang strategis dengan memperbaiki teknologi perkapalan;

f. Menambah jumlah dan frekuensi armada, menambah daya tampung pelabuhan laut dan dermaga sungai, serta membangun pelabuhan khusus berupa pelabuhan peti kemas dan

2) Strategy development of accessibility as a

service center, consists of:

a. Fulfill the infrastructure needs that are adjusted to the needs of urban areas and rural areas;

b. Build, upgrade and maintain the state, provincial and district roads network;

c. Repair facilities of public transport and transport of goods;

d. Reforming integrated terminal system with sea, river and crossings transportation;

e. Open crossing between districts and between districts in the nodes of strategic transport by improving shipping technology;

f. Increase the number and frequency of the fleet, increase capacity of sea ports and docks of the river, and build a special port in the form of container ports and fish landing ports;

(23)

2015

Ringkasan Eksekutif / Executive Summary

22

Pemetaan Potensi dan Peluang Investasi Daerah

The Mapping Potential and Local Investment Opportunities

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)

Indonesia Investment Coordinating Board

pelabuhan pendaratan ikan;

g. Meningkatkan kapasitas pelayanan Bandara Mopah dan membangun bandara baru untuk mengantisipasi perkembangan pasar dalam jangka panjang;

h. Mengembangkan kerja sama dengan maskapai penerbangan yang terpercaya untuk membuka rute-rute penerbangan baru dalam rangka mendukung distribusi barang;

i. Menyediakan prasarana untuk kegiatan perhubungan, informasi, komunikasi melalui media pemancar gelombang radio, jaringan kabel, maupun jaringan nirkabel;

j. Mengembangkan pembangkit listrik berskala mikro dan berskala besar dengan basis energi tersedia setempat, seperti tenaga air (mikro hidro), matahari, sekam dan biofuel;

k. Meningkatkan kapasitas pelayanan depo logistik bahan bakar minyak untuk seluruh wilayah Kabupaten;

l. Memanfaatkan sumber daya air permukaan dan sumber air bawah tanah untuk kawasan permukiman, dengan mengutamakan pemanfaatan sumber air permukaan;

m. Mengembangkan kolam maupun saluran-saluran irigasi secara komunal untuk lahan-lahan produktif dengan pemanfaatan rawa dan sungai; dan

n. Memanfaatkan sumber daya air permukaan dan sumber air bawah tanah secara terbatas untuk kawasan industri, dengan mengutamakan pemanfaatan sumber air permukaan.

g. Increase service capacity of Mopah airport and build new airports to anticipate market developments in the long term;

h. Develop cooperation with reliable airline to open new flight routes in order to support the distribution of goods;

i. Provide infrastructure for transportation activities, information, communication through the medium of radio transmitters, cable networks, and wireless networks;

j. Develop micro-scale and large-scale power plants on the basis of locally available energy, such as hydro (micro-hydro), sun, husks and biofuels;

k. Improve logistics service capacity fuel depot for the entire area of the district;

l. Utilize the resources of surface and underground water resources for residential areas, with emphasis on the utilization of surface water sources;

m. Develop communally of pool and irrigation canals to productive lands by utilization the swamps and rivers; and

n. Utilize the resources of surface and underground water resources for industrial areas, with emphasis on the utilization of surface water sources;

3) Strategi Pengembangan perwujudan kelestarian fungsi lingkungan hidup, terdiri atas:

a. Mempertahankan dan melestarikan kawasan-kawasan lindung yang mempunyai nilai ekologis tinggi, terutama pada kawasan Taman Nasional Wasur, Suaka Margasatwa Kimaam, maupun hutan-hutan rawa di wilayah Kabupaten;

b. Menetapkan daerah penyangga kawasan konservasi minimal 500 meter dari batas luar kawasan konservasi, yang meliputi : cagar alam, taman nasional, suaka marga satwa; c. Menghentikan pembangunan kawasan

permukiman baru serta membatasi perkembangan permukiman yang sudah ada di dalam kawasan hutan Lindung, kawasan resapan air, kawasan sempadan pantai dan

3) Development strategy of embodiment of

environmental functions, consists of:

a. Maintain and conserve protected areas that have high ecological value, especially in the area of Wasur National Park, Kimaam Wildlife Reserve, and swamp forests in the district; b. Assign the buffer zones of protected areas at

least 500 meters from the outer boundary of the conservation area, which includes: Nature Reserves, National Parks, wildlife reserve; c. Stop the construction of new residential areas

and limit the development of settlements that already exist in the area of Protected Forest, Water Infiltration Area, sempadan beach and sempadan river area that assessed has

(24)

Pemetaan Potensi dan Peluang Investasi Daerah

The Mapping Potential and Local Investment Opportunities

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)

Indonesia Investment Coordinating Board

23

kawasan sempadan sungai yang dinilai telah mengganggu fungsi alamiah dan hidrologis kawasan tersebut secara bertahap;

d. Mempertahankan tutupan hutan minimal 30 % (tiga puluh persen) pada Pulau Dolok; e. Menetapkan persyaratan teknis untuk

pengembangan permukiman dan kegiatan produktif lainnya yang bersifat tidak mengubah lansekap tanah pada kawasan rawan bencana;

f. Mitigasi bencana abrasi pantai dan banjir pada pesisir pantai;

g. Menata dan menetapkan ruang-ruang yang memiliki nilai adat-istiadat masyarakat setempat sebagai kawasan pelestarian budaya; h. Menjaga konsistensi dan keterpaduan pemanfaatan kawasan lindung pada daerah-daerah perbatasan, baik dengan kabupaten tetangga maupun dengan negara tetangga; i. Mempertahankan kondisi lingkungan di luar

kawasan lindung yang memiliki keanekaragaman hayati endemis yang tinggi; dan

j. Menjaga area sepanjang sungai terutama sungai besar seperti sungai bian, kumbe, maro dan digul.

disrupted the natural and hydrological functions of these areas gradually;

d. Maintain forest cover at least 30% (thirty percent) in Dolok Island;

e. Establishe technical requirements for the development of settlements and other productive activities that not change the landscape of land in disaster-prone areas; f. Disaster mitigation of coastal erosion and

flooding in coastal areas;

g. Organize and assign spaces that have the customs value of the local community as an area of cultural preservation;

h. Maintain consistency and coherence utilization of protected areas in the border areas, both with neighboring districts and with neighboring countries;

i. Maintain environmental conditions outside of protected areas that have high endemic biodiversity; and

j. Keep the area along the river, especially large rivers such as bian river, kumbe, maro and digul

4) Strategi pengembangan pengelolaan kawasan

budidaya, terdiri atas:

a. Mengembangkan kawasan budidaya hutan melalui pengelolaan hutan produksi, agroforestry atau hutan wisata pada kawasan hutan secara berkelanjutan;

b. Mengembangkan kawasan budidaya perkebunan melalui keterpaduan pengembangan perkebunan skala besar dengan perkebunan masyarakat pada lahan-lahan perkebunan dan lahan-lahan-lahan-lahan yang memiliki kesesuaian lahan untuk perkebunan atau pertanian lahan kering;

c. Mengembangkan kawasan peternakan melalui pola penggembalaan maupun pengandangan pada lahan-lahan datar dan berumput di dalam kawasan perdesaan baik secara mandiri maupun terintegrasi dengan kawasan pertanian;

d. Mengembangkan kawasan perikanan melalui pola penangkapan di kawasan perairan laut, sungai, maupun badan air lainnya dan pola pengembangan lahan tambak atau kolam yang ramah lingkungan;

4) Development strategy of cultivation area

management, consists of:

a. Develop cultivation area of production forests through forest management, agroforestry or tourism forest in forest areas in a sustainable manner;

b. Develop a plantation cultivation area through the integration of large-scale plantation development with community plantations on land estates and lands that have the suitability of land for plantations or dry land farming;

c. Develop the region through a pattern of grazing and caginglivestockon flat lands and grassland in rural areas either independently or integrated with agricultural areas;

d. Develop the fisheries area through a catching pattern in the area of marine waters, rivers, and other water bodies, and fishpond or ponds development patterns that are environmentally friendly;

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :