PEMBAHASAN. Ikan jambal siam dapat tumbuh dengan baik di Waduk Jatiluhur dan dapat

Teks penuh

(1)

PEMBAHASAN

Pertumbuhan

Ikan jambal siam dapat tumbuh dengan baik di Waduk Jatiluhur dan dapat mencapai panjang maksimum 54 c m dengan koefisien pertumbuhan (K) sebesar 0,06 per bulan,

to

sebesar -2,8 bulan. Parameter K dapat didefinisikan sebagai parameter yang menyatakan kecepatan dalam mencapai batas atas dari pola pemunbuhan ikan jambal siam. Dengan demikian, semakin tinggi nilai koefisien pertumbuhan, ikan semakin cepat mencapai panjang maksimum. Koefisien pertumbuhan (K) merupakan suatu nilai yang menyatakan tingkat kegiatan rnetabolisme dalam proses fisiologis organisme akuatis. Dalam proses metabolisma, selisih energi anabolisme dengan energi katabolisme menghasilkan energi untuk perhunbuhan. Hasil penelitian Asyari, et a1 (1997) di Sungai Musi SUMSEL menunjukkan bahwa lkan jambal lokal yang dipellhara selama satu tahun dalam kerarnba jaring apung dapat mencapai panjang maksimum 71,5 cm dengan koefisien pertumbufian (K) 0,08 per bulan,

to

- 2,3 bulan. Pertumbuhan ikan jambal lokal yang dipelihara dalam keramba jaring apung lebih cepat, diduga I karena adanya pemberian pakan selama pemeliharaan.

Hubungan panjang - bobot dan pola pertumbuhan ikan j m b a l siam di Waduk Jatiluhur (Lampiran 6) menunjukkan bahwa ikan jambal siam mempunyai nilai b 3,2. Nilai b yang lebih besar dari 3 menunjukkan pola pertumbuhan allometrik positif, ini berarti pertarnbahan bobot ikan lebih cepat dari pertambafian panjang &an, nilai b juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan kctersediaan pakan. Sedangkan hasil penelitian Arifm, et ul(1997), menunjukkan

(2)

bahwa nilai b ikan jambal lokal yang dipelihara di dam (Sungai Musi) SUMSEL sebesar 3,06. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan bobot ikan jarnbal siam yang dipelihara di Waduk Jatiluhur iebih cepat dibanding ikan jambal lokal yang dipelihara di Sungai Musi.

Bobot ikan jambal siam yang ditebar di Waduk Jatiluhur dapat mencapai I33

gram

setelah ditebar selama 60 hari. Sedangkan ikan yang dipelihara dalam karamba jaring apung bobotnya hanya mencapai 122 gram dengan masa pemeliharaan yang sama. Hal ini menunjukkan kondisi fisika-kimia Waduk wcok bagi kehidupan &an jambal siam. Menurut Krismono (1 988) ketersediaan pakan berupa detritus dan crustacea mampu mendukung kehidupan ikan didalam Waduk Jatiluhur. Kotelat et al(1993) menyatakan bahwa pertumbuhan ikan dapat berlangsung dengan baik jika didukung oleh ketersediaan pakan yang cukup berupa detritus, crustacea, cacing, serangga air, biji-bijian dan molusca. Selairi faktor pakan, kondisi habitat waduk berupa zone mengal'ir dan zone tergenang dengan kondisi kimia air yang cukup konstan memungkinkan ikan jambal siam tumbuh dengan baik menyerupai habitat alaminya di sungai besar dan muara yang relatif tenang. Hasil penelitian Asyari, er crl (1997), di Sungai Musi SUMSEL menunjukkan bahwa ikan jambal lokal yang dipelihara s- intensif selama 24 bulan dapat mencapai bobot 2445 gram. Sedangkan hasil penelitian Legendre (2000) di kolam perwbaan ikan air tawar Sukamandi bahwa ikan jambal siam yang dipelihara dapat mencapai bobot 3000 gram setelah dipelihara secara intensif selama 21 bulan.

(3)

Data fkkuensi ukuran panjang ikan jambal siam yang tertangkap tiap bulan di berbagai lokasi (Tabel 3) menunjukkan bahwa pada awal penebaran ke dalam waduk, ikan yang tertangkap masih bedcuran kecil. Pada bulan selanjutnya ukuran ikan yang tertangkap terus bertambah panjang, mencapai ukuran 43 cm. Hal ini dapat diduga bahwa lingkungan wad& dapat mendukung pertumbuhan ikan jambal siam.

Perbandingan pertumbuhan ikan jambal siarn yang bertanda (49 ekor) dengan ikan jambal siam tidak bertanda (352 ekor) menunjukkan bahwa pertumbuhan ikan jambal siam yang tertangkap kembali dapat memberikan gambaran pertumbuhan secara keseluruhan dari 15000 ekor ikan jambal siam yang ditebar di Waduk Jatiluhur

Penyebaran

Jumlah ikan jambal siam yang ditebar baik yang bertanda dan tidak adalah 1:4, sedangkan jumlah

ikan

yang tertangkap kernbali, baik yang bertanda maupun tidak bertanda adalah 1:7 (Tabel 2). Berkurangnya jumlah ikan yang tertangkap kembali, kemungkinan karena; ikan yang diberi tanda rnati akibat luka pada waktu penandaan, tidak sampainya

ikan

ketempat penangkapan, lepasnya tanda, kemungkinan ikan yang tertangkap tidak dilaporkan oleh nelayan ke tempat yang telah ditentukan.

&an jambal siam yang ditebar ke dalam wad& menyebar secara tidak acak (Tabel 4) dan sebagian besar menempati daerah pinggir waduk. Hal ini dapat diketahui dengan tertangkapnya ikan hanya pada tujuh lokasi yaitu; Tajur Sindang, Ciganea, Cilongohar, Sukamulya, Pasir Jangkung, Pagadungan dan Sodong.

(4)

Lokasi penangkapan ikan meliputi daerah dengan habitat yang berbeda dan dapat dikelompokkan berdasarkan surnber pemasukan air (lampiran 3) yaitu; Wilayah I adalah daerah pemasukan air Sungai Cilalawi, Wilayah I1 daerah tengah perairan waduk, Wilayah I11 daerah perbatasan antara wilayah tengah dan wilayah pemasukan

air

Sungai Citarum dan wilayah I V daerah pemasukan air Sungai Citarum. Perbedaan wilayah ini rnemberikan dampak terhadap perbedaan faktor fisika-kimia air, terutilma NO3 dan PO4 Kedua

MOT

ini merupakan fakor cukup penting dalam mendukung kehidupan ikan dalam perairan.

Wilayah I merupakan daerah pemasukan air sungai Cilalawi yang meliputi Tarumasari, Ciganea dan Ubrug. Pada daerah Ciganea, ikan jambal siam bertanda yang tertangkap sebanyak sembilan ekor. Daerah ini merupakan daerah budidaya karamba jaring apung yang termasuk kedalam daerah transisi dengan konsentrasi sisa pakan lebih tinggi. Sisa pakan iniberupa senyawa organik NO3 dan PO4 mampu meningkatkan kesuburan perairan, akibatnya ikan juga terkonsentrasi d m banyak tertangkap didaerah kaya pakan ini. Sedangkan di daerah Tarumasari dan Ubmg tidak dilaporkan adanya ikan tertangkap. Hal ini disebabkan karena daerah ini mempakm daaah yang termasuk ke dalam zona mengalir (reverine) dengan arus yang cukup deras sehingga ketersediaan pakan untuk mendukung kehidupan ikan ditempat

ini

tidak cukup. alcibatnya tidak dijumpai ikan pada kedua daerah ini .

Witayah I1 merupakan daerah lakustrin yang relatif dalarn dan tenang, meliputi: Ciparos. Cibulak, Pasir Astana, Pasirkole, Pasir Jangkung dan Tajur Sindang. Lokasi penyebaran ikan di wilayah ini hanya berada disekitar daerah Tajur Sindang, sedangkan pada daerah lainnya tidak ditemukan lagi ikan bertanda

(5)

yang tertangkap. Hal ini disebabkan karena wilayah ini merupakan wilayah tengah wad& yang lebih dalam dan jauh dari sumber pemasukkan air. Pada daerah ini senyawa-senyawa pakan cendrung mengendap sehingga tejadinya sendimentasi partikel anorganik berjalan lebih lambat. Walaupun panetrasi cahaya cukup unruk memicu pertumbuhan fitoplankton secara optimal, namun unsur hara yang masih tersedia jumlahnya terbatas, karena telah dimanfaatkan oleh fitoplanton maupun rnengendap melalui proses sedimentasi (Sukimin, 1999b) . Selain itu dasar waduk yang dalam, tidak dapat menyediakan lingkungan tumbuh yang baik bagi perkembangan ikan jambal siam. Hal ini berkaitan dengan sifat ikan jambal siam yang termasuk jenis ikan dasar yang sewaktu-waktu harus muncul kepermukaan air mengarnbil oksigen untuk pernapasan. Selain itu, daerah tengah yang tergenang telah terjadi pengendapan pakan, sehingga kosentrasi pakan rendah (Sukimin,l999a). Banyaknya jumlah ikan jambaI bertanda yang dapat ditangkap di daerah Tajur Sindang (Tabel 4) yakni 11 ekor, cendmng disebabkan karena daerah ini merupakan

daerah

yang dekat dengan daerah penebaran dan dekat dengan daerah karamba jaring apung yang lebih subur. Selain itu daerah Tajur Sindang merupakan daerah yang berada pada pinggir waduk dan lebih dangkal. Faktor fisik ini memungkmkan panetrasi cahaya mencapai dasar dan suhu waduk optimum bagi berlangsungnya proses fotosintesa. Sehingga lingkungan dasar cukup subur bagi kehidupan ikan jambaI siam. Menurut Sukimin (1999a) kualitas air yang baik menentukan pertumbuhan dan penentu keberhasilan budidaya ikan selain faktor pakan.

(6)

Wilayah 111 merupakan daerah transisi yang meliputi: Kertamanan, Cilangohar, Sukamulya, Pagadungan, Sukasari, Jamaras dan Cilendi. Wilayah ini merupakan wilayah yang paling banyak ikan bertanda tertangkap yaitu; daerah Sukamulya (7 ekor), Pagadungan (5 ekor) dan Cilongohar (7 ekor). Hal ini disebabkan karena wilayah ini merupakan wilayah peralihan dengan kekeruhan air yang sudah mulai menurun dan telah terjadi pemisahan antara pakan dengan lumpur yang berasal dari air Sungai Citanun. Selanjutnya pada kedalaman tertentu, juga terjadi proses pencampuran antara produksi pakan dengan bahan organik autochonous yang cendrung lebih tebal sebagai sumber pakan pada daerah

ini.

Faktor kedalaman perairan yang tidak terIalu dalam dibandingkan dengan wilayah I1 memudahkan ikan untuk mengambil udam kepermukaan.

Wilayah IV merupakan daerah pemasukan air dari Sungai Citarum yang rneliputi: Cipinang, Cidadap, Cimanggu, Ciseuti dan Warung Jeruk. Di Zone reverine ini tempat tertangkapnya ikan dan jumlah ikan jambal siam yang tertangkap paling sedikit yaitu di daerah Sodong sebanyak 5 ekor. Hal ini disebabkan oleh tingginya konsentrasi lumpur dalam perairan sehingga pakan masih dalam bentuk yang belum tersedia bagi ikan, karena masih tercampur Iumpur. Daerah ini memiliki kecepatan arus lebih deras dan waktu tinggd air pendek, ketersediaan hara tinggi tapi kekeruhan juga lebih tinggi, sehingga kekeruhan ini membatasi panetrasi cahaya, akibatnya ketebalan lapisan fotik sangat tipis. Masih terdapamya

ikan

pada wilayah ini disebabkan oleh kondisi habitatnya berupa perairan mengalir yang disukai oleh ikan jambd siam. Menurut Robert dan Vidthyanon (1991) penyebaran alami ikan jambal siam adalah di

(7)

sungai-sungai besar dan muara sungai seperti sungai Mekong, Chaopraya dan Meklong di Thailand.

Secara keseluruhan, dapat dilihat bahwa penyebaran ikan jambal siam di Waduk Jatiluhur menyebar secara tidak acak dan sebagian besar menempati daerah dangkal di tepi waduk, kondisi ini mernudahkan ikan untuk mengambil oksigen pada waktu-waktu tertentu (Susanto dan Amri 1998). Berdasarkan tabel 4, hasil tangkapan ikan dan tempat tertangkapnya ikan, dapat diketahui bahwa ikan jambal siam tersebar menelusuri pantai waduk dan tidak menyeberang ke arah pantai berlawanan, yang merupakan daerah terdalam dari waduk yaitu dearah Ciparos, Cibulak, Pasir Gembong d m DAM Utama . Hal ini disebabkan, kurangnya pakan berupa fitoplankton didaerah ini, akibat jauh dan larnanya perjalanan air menuju daerah tersebut. Dengan demikian, pakan yang dibawa aliran air sudah semakin bakumng karena sudah dimanfaatkan didaaah hulu dan sebagian besar telah mengalami sedimentasi .

Kualitas Air

Berdasarkan karakteristik fisika kimia air Waduk Jatiluhur termasuk perairan dengan kesuburan sedang sampai tinggi (Mesoeutrofik). Sifat fisika kimia dari keempat wilayah pemasukan air secara keseluruhan berada pada batas- batas toleransi bagi kehidupan ikan.

Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui bahwa faktor lingkungan yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan dan penyebaran ikan jambal siam di Waduk Jatiluhur adalah faktor ketersediaan pakan berupa fitoplankton dan zooplankton di perairan waduk. Hal ini jelas terlihat pada d a d budidaya karamba jaring apung (KJA). Ketersediaan pakan di daerah ini sangat

(8)

dipengaruhi oleh tersedianya NO3 clan Po4 terlarut yang berasal dari sisa pakan ikan sekitar karamba. Nilai NO3 sekitar daerah KJA yakni wilayah I dan I1 berkisar antara 1,03-2,35 m g ~ l . Menurut Wetzel (1975) in Efendie (2000) menyatakan tingkat kesuburan perairan yang kadar Nitratnya 1-5 mg/l termasuk kesuburan sedang (Mesotrofik). Selanjutnya dijelaskan bahwa senyawa NO3 merupakan pendukung perturnbuhan mikroorganisme air karma b h n g s i sebagai salah satu senyawa utama dalam penyusunan dinding sel, pembentukan protein dan metabolisme seluler mikroagla.

Kadar PO4 dalam perairan disekitar daerah budidaya berkisar antara 0,11-0,44 mg/l. Menurut Wetzel (1975) in Efendi (2000) bahwa kandungan PO4 0,0514,l mg/l tergolong perairan dmgan tingkat kesuburan tinggi (eutrofik). Pada organisme air senyawa Po4 berfungsi sebagai salah satu penyusun rantai phytol pada klorofil a yang berperan dalam proses fotosintesa. Dengan dernikian ketersediaan NO3 dan Po4 yang cukup dalam perairan dapat meningkatkan aktifitas fotosintesa Hasil fotosintat yang tinggi juga mempertingi produkifitas perairan, selain meningkatkan kandungan 0 2 dan rnenurunkan konsentrasi C02

dalarn perairan.

Kisaran nilai oksigen terlarut

(9)

berkisar 0,30-7,79 ppm, kisaran oksigen ini berbeda-beda sesuai dengan keddaman air. Nilai oksigen pada permukaan sampai kedalaman 8 meter cukup tinggi 1,12-7,79 ppm. Hal ini diduga karena adanya penambahan

02

dari udara Iangsung dan hasiI fotosintesis fitoplankton, dimana fotosintesis akan terjadi apabila dalam perairan yang terdapat sinar matahari cukup, fitoplankton dan pakan.

(9)

Karbondioksida terlarut ( C a ) berkisar antara 0,52-10,3 ppm. Nilai Karbondioksida terlarut tinggi (COz) 10,3 ppm di jumpai pada kedalatnan lebih dari 8 meter, diduga hal ini erat kaitannya dengan aktivitas fotosintesis yang mulai menurun dengan meningkatnya kedalaman air. Menurut Boyd (1979) bahwa C a yang tinggi dalam air &an mengakibatkan perairan bersifat asam Kondisi ini akan meningkat dengan bertambahnya kedalaman air.

Suhu berkisar antara 28 - 30 "C pada pukul 9U0 nilai ini masih dapat berubah apabila dilakukan pengukuran pada siang atau sore hari. Nilai suhu ini masih merupakan batas toleransi kehidupan ikan jambal siam. Menurut Legendre

et a1 (1999) suhu air yang layak untuk kehidupan ikan jambal siam adalah antara suhu Suhu di Waduk Jatiluhur cenderung turun dengan bertambahnya kedalaman air. Hal ini disebabkan karena semakin menurunnya intensitas cahaya dengan bertambahnya kedalaman, sehingga air menjadi lebih dingin serta aktifitas fotosintesa tidak dapat berlangsung lagi.

Kisaran pH air di Waduk Jatiiuhur pH 7-9. Nilai tersebut masih merupakan kisaran pH yang baik untuk pertumbuhan ikan pada umumnya yaitu pH

6,s-9,

sedangkan pH 4 , 5 4 , 5 pertumbuhan ikan c e d e r u n g lambat (Boyd 1982). Menurut Widiyati et al (1992) bahwa pH yang baik untuk pertumbuhan ikan jambal siam adalah pH 6,5-8 dan pH 6,0-8,9 (Legendre et al,

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :