• Tidak ada hasil yang ditemukan

Oleh, Lela Monita Br Kemit TUGAS AKHIR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Oleh, Lela Monita Br Kemit TUGAS AKHIR"

Copied!
44
0
0

Teks penuh

(1)

Studi Metode dan Media Pembelajaran Sekolah Minggu di GBKP (Gereja Batak Karo Protestan) Runggun Bida Ayu-Tanjung Piayu dari Teori Lawrance

O. Richards

Oleh,

Lela Monita Br Kemit 712015131 TUGAS AKHIR

Diajukan kepada Program Studi: Ilmu Teologi, Fakultas: Teologi guna memenuhi sebagian dari persyaratan untuk mencapai gelar Sarjana.

Program Studi Ilmu Teologi

Fakultas Teologi

Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

vi

Kata pengantar

Segala puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini dengan baik. Penulis sangat bersyukur atas kesempatan untuk berproses sebagai mahasiswa di fakultas Teologi, Universitas Kristen Satya Wacana. Penulis banyak mengalami peristiwa dalam menyelesaikan tugas akhir tersebut. Ada rasa bahagia ketika dimampukan untuk menyelesaikan tugas akhir, walapun dalam penyelesaiannya memiliki banyak kecawa, sedih bahkan meneteskan air mata. Setiap proses yang dilakukan dengan perjuangan akan mendapatkan hasil yang baik dan penulis percaya bahwa betapa besar kasih Tuhan yang dinyatkan melalui peristiwa yang sudah dilewati.

Dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada lembaga maupun personal yang ikut serta dalam membantu penulis sebagai sivitasi akademika UKSW secara khusus dalam penyelesaian tugas akhir tersebut.

1. Kedua orang tua saya, Mamak dan Bapak, terimakasih buat kasih, cinta dan semangat yang luar biasa, terimakasih buat doa dan nasihat-nasihatnya, terimakasih atas kepercayaan yang telah diberikan kepada Lela, terimakasih juga buat kiriman tiap bulannya yang dapat membantu pertahanan hidup lela di salatiga. Kalian sangat luar biasa, setiap keluh kesah yang Lela sampaikan kepada bapak & mamak kalian tetap memberi respon baik dan memberi kata-kata semangat. Lela tau mak & pak, sering merepotkan dan meminta uang jajan lebih tetapi semua itu mamak dan bapak perjuangkan buat lela… tidak bisa diucapkan dengan kata-kata bagaimana perjuangan, tetesan keringat, bahkan air mata yang kalian keluarkan untuk mencukupkan kebutuhan lela. Mamak dan bapak pasti Rindu juga dgn Lela sama hal nya dengan lela yang sangat merindukan kalian…. Doa Lela yang terbaik buat mamak & bapak dan keluarga. Lebih dari 3000 sayang Nya Lela ke mamak dan Bapak bahkan gak terhitung 

(7)

vii

2. Kepada adekku Rada Elovani Br Kemit dan Deo Ridotha Kemit. Terimakasih buat doa dan nasihat-nasihatnya. Terimakasih buat barang-barang yang sudah dikirim dari jauh untuk penyemangat kakak dalam mengerjakan Tugas Akhir tersebut. Termakasih untuk setiap waktunya dalam berkomunikasi dengan kakak. Rasa sayang kakak dan rasa bersyukur kakak memiliki adik yang sangat pengertian, setiap tetesan air mata yang menetes kalian selalu berusaha membuat suatu hal yang membuat air mata itu menjadi suatu penyemangat. Love you dekuuuhh

3. Kepada pembimbing penulis yaitu Pdt. Agus Supratikno dan Pdt. Nimali Fidelis Buke terimakasih atas segala arahan dan bimbingan yang sudah diberikan kepada saya, walaupun terkadang saya malas untuk bimbingan dan sering menunda tugas yang sudah diberikan, bapak tetap membimbing saya dengan baik bahkan menurut saya sangat luar biasa.

4. Kepada para dosen dan staf tata usaha yang telah membantu saya dalam menyelesaikan tugas akhir tersebut.

5. Kepada Ketua (Pt. Serkana Tarigan) Majelis GBKP (Gereja Batak Karo Protestan) Runggun Bida Ayu-Tanjung Piayu yang telah mengizinkan saya untuk melakukan penelitian serta membantu proses penelitian saya dengan baik. Saya juga berterimakasih kepada sekretaris umum (Pt. Samuel Tarigan) yang telah membantu dalam penyelesaian tugas akhir ini mulai dari informasi tentang sejarah gereja dan bagian dari administrasi gereja tersebut. Saya juga berterimakasih kepada majelis Dk. Noak Ginting, Pt. Marta Br Tarigan, Pt. Edi Ginting yang sudah mau menjadi narasumber dalam penyelesaian tugas akhir tersebut. Saya juga berterimakasih kepada pendeta (Pdt. Sri Ate Br Surbakti) yang sudah memberikan saya motivasi untuk mengerjakan tugas akhir ini.

(8)

viii

6. Kepada seluruh guru sekolah minggu GBKP Runggun Bida Ayu-Tanjung Piayu, Ekel Br Tarigan, makasih dekku buat waktu dan partisipasinya udah rela pulang kerja langsung nanya-nanya apalagi yang kurang dalam penelitian kakak, semangat buat kerja dan pelayanan di sekolah minggu dan Permata ya dekku. Triphonny Anggy Ginting, Thank dekku udah bantu dalam menyelesaikan tugas akhir kakak, makasih atas tanggapan yang sungguh luar biasa. Kakak kagum sm Anggy banyak talenta yang Anggy miliki terus berkarya yaa dekku sukses buat cita dan cintaNya wkwkwkwk. Elga Rasya, makasih ya pak guru, udah banyak sharing tetang keadaan sekolah minggu dan memberi semangat buat lela dalam menyelesaikan tugas akhir ini, walaupun kebanyaan cerita tentang Do’i hahahaah.. tapi gpp lah, tetap semangat pak guru dan jangan berhenti berkarya. Eva Br Sitepu, maacih kakak ku atas support kam selama ini, banyak hal yang sudah kam berikan mulai dari waktu sampai tindakan-tindakan yang membantu pengerjaan tugas akhir tersebut, rela pulang kerja nanya lela, padahal masih belum ada istirahat sayang x lah lela kak e. Setiap proses pengerjaan tugas akhir ini mereka sangat memberi sumbangsih yang sangat besar. Terimakasih atas waktu, doa dan informasi tentang sekolah minggu GBKP Bida Ayu-Tanjung Piayu. I Love You  7. Teman terdekat yang sudah memberi motivasi dan doa kepada penulis,

Noza Anggray Ginting . terimakasih buat setiap waktu, doa dan kata-kata motivasi yang kam berikan, walapun terkadang Lela suka malas-malasan untuk mengerjakan, kecewa karena dosen pembimbing PHP, sering nangis, sering marah-marah, tetapi kam selalu sabar dan selalu memberi kata semangat untuk mengerjakan tugas akhir tersebut. Lela bangga punya teman special kayak Noza, tetap berjuang buat cita-cita kita dan mimpi kita.. jangan lupa juga berjuang untuk Cinta nya… hahahhaha… makasih buat semuanya. I Love You 

(9)

ix

8. Terima kasih buat teman-teman yang sudah membantu Lela dalam mengerjakan Tugas Akhir ini, walaupun setiap kita punya beban yang banyak tetapi kita tetap saling mendukung dan berjuang sama-sama. Ella Novita Tarigan, Okni Nopriana Ginting, Harini Natalia Sembiring, Putri Lestari Barus, Wenta Mery Brahmana, Fransiska Hutajulu, Rano Oktavianus Ginting, Monica Seles Purba, Apriliani Sembiring, Esterlita Meliala, Sri ateta Surbakti, Andro Ginting, Ray Deo Ginting, Valentine Brahma Putri, Veronica Tarigan, Riskandi Sitepu, Paulus Ginting, Yabez Yada Elroi Sinukaban. Sekali lagi terimakasi buat teman dan sahabat seperjuangan kuuuu… I love you….. 

9. Terimakasih buat anak sekolah minggu Runggun Bida Ayu-Tanjung Piayu. Dores, adek kakak yang manis terimakasih atas waktu dan ketersediaan menjadi salah satu narasumber kakak, banyak yang harus di kagumi dari mu dek.. hahaha kepribadian yang sangat unik dan memiliki banyak talenta. Joy, terimasih adek ganteng atas doa dan dukungannya, walapun kakak tau saat itu km sangat malas menjadi narasumber, tetapi karna segan dengan kakak jadinya mau deh… hahahhaha. Merin maacih dekku udah rela begadang cuman demi penelitian kakak….doa kakak yang terbaik buat kam. Billy, maacih dekku semua waktu dan jawaban yang kam berikan sagat bermanfaat bagi kakak.. hehehe walaupun kam lumayan gak ngerti dengan apa yang kakak tanyakan tetapi tetap berusaha.. hahaha. Tetap semgat dekku doa kakak semua yang baik untuk mu. Mita dan Nike Makasih adek manis udah sempatkan waktu dan meluangkan tanggapannya. Walaupun kalian masih cilik-cilik hahahaha…. Tapi kalian luar biasa setiap jawaban dan tanggapan yang kalian berikan sangat berarti buat kakak. Intinya kakak sayang bgtttt sama kalian

10. Terimakasih juga buat kakak senior yang sudah mengajari dan membimbing Lela.. kalian menjadi dosen pembimbing ke-3. Buat bg

(10)

x

Andryan Sembiring yang selalu lela repotkan, selalu lela tanya2 sampe tengah malam, buat kak Rachel Pinem makasih kakak terbaikku… selalu ada waktu buat lela, selalu nanya lela udah sampe bab brapa, selalu kasih masukan yang membangun, buat bg Riaulan Sembiring , Sadrah Barus makasih masukan dan motivasiya abang ku, buat kak esa juga terima kasih banyak kak buat motivasinya, buat kak Sarah Sembiring terimakasih kak buat semangat dan dukungan nya…

11. IGMK (Ikatan Generasi Muda Karo Salatiga) dan PERMATA. Terimasih untuk semua dukungan dan doanya. Setiap proses yang saya jalani selalu ada kata semangat dari kalian. Ternyata kata-kata “semangat” mampu membuat seseorang bangkit dari setiap kegagalan dan kekecewaan. Buat makasihhh adik kuu.. Remia, Chalerin, Dita, Ita, Dio, Novini, Lucy, Brantika, Ero, Sinta, Ekerina, Edo, Dolat, Oky, Brema, Dhandy, dan adik/teman yang lain. Terimakasih juga buat BAJEM USA atas dukungan dan kasih yang sudah diberikan kepada Lela, sehingga bisa menyelesaikan Tugas Akhir ini dengan baik. Tidak hanya sebatas itu saja, terimakasih juga untuk wadah yang sudah diberikan kepada Lala untuk belajar dari hal terkecil dan mampu memotivasi Lela. Terkhusus terimakasi buat bibik (Dk. Cristina br Sembiring) motivasi dan dorongan yang bibik berikan sangat berarti buat Lela, bibik sama seperti mamak lela di salatiga. Begitu juga terimakasih buat Bapak (Pt. Irwan Sembiring) setiap proses yang kami jalani bapak selalu dukung dan menanyakan kebutuhan kami, kepedulian bapak sangat berarti buat kami. I love you BAJEM USA, PERMATA & IGMK 

(11)

xi

Motto

Jangan pernah menyerah tetap berjuang

dan berproses yakinlah semua akan indah

pada waktunya…. 

Filipi 4:6

Janganlah hendaknya kamu kuatir

tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah

dalam segala hal keinginanmu kepada

Allah dalam doa dan permohonan dengan

ucapan syukur.

(12)

xii

Daftar Isi

Halaman judul ……….. i

Lembar Pengesahan ………. ii

Pernyataan Tidak Plagiat ……… iii

Persetujuan Akses ………... iv

Persetujuan Publikasi ………... v

Kata Pengantar ……… vi

Motto ……….…………...xi

Daftar Isi ……….... xii

Abstrak ………..………... 1

Pendahuluan ………. 3

Pengertian Gereja ... 9

Sekolah Minggu sebagai Tempat Kebaktian Anak ... 10

Metode dan Media Pembelajaran dalam Sekolah Minggu ... 11

Teori Lawrance O. Richards ... 15

Pendekatan dalam Pengajaran dalam Teori Lawrance O. Richards ... 16

Sejarah Umum GBKP Runggun Bida Ayu-Tanjung Piayu ... 17

Pelayanan Sekolah Minggu GBKP Bida Ayu-Tanjung Piayu ... 18

Metode Pembelajaraan Sekolah Minggu di GBKP Runggun Bida Ayu - Tanjung Piayu ... 19

Media Pembelajaran Sekolah Minggu di GBKP Runggun Bida Ayu-Tanjung Piayu ... .22

Menganalisa Metode dan Media Pembelajaran Sekolah Minggu di GBKP (Gereja Batak Karo Protestan) Runggun Bida Ayu-Tanjung Piayu di Tinjau dari Teori Lawrance O. Richards ... 25

Kesimpulan ... 29

Saran ... 30

(13)

xiii

Abstrak

Sekolah Minggu merupakan wadah bagi anak-anak untuk belajar dan memupuk spiritual anak. Oleh karena itu di dalam pembelajaran Sekolah Minggu dibutuhkan metode dan media. Metode dan media memiliki pengaruh besar terhadap keaktifan dan kehadiran anak dalam mengikuti Sekolah Minggu. Metode dan media mempermudah proses pembelajaran dan menjadikan dialog antara guru dan anak secara efektif. Penelitian ini difokuskan untuk mengetahui metode dan media pembelajaran Sekolah Minggu di GBKP Runggun Bida Ayu-Tanjung Piayu. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan metode dan media yang digunakan oleh guru Sekolah Minggu di GBKP Ringgun Bida Ayu-Tanjung Piayu, serta mengkajinya dari teori Lawrance O Richards. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan observasi langsung ke tempat penelitian.

(14)

1

Pendahuluan

Pendidikan adalah suatu sarana yang di dalamnya terdapat proses yang dilakukan seseorang untuk mengembangkan potensi atau pembelajaran yang menunjang pengetahuan terhadap seseorang agar dapat memahami dan mengetahui segala sesuatu. John Dewey berpendapat bahwa pendidikan adalah proses tanpa akhir dan proses pembentukan kemampuan dasar yang fundamental, baik menyangkut daya pikir maupun daya emosional yang diarahkan kepada tabiat manusia dan kepada sesamanya.1 Pendidikan bukan hanya menyangkut aspek intelektual tetapi juga spiritual salah satunya pendidikan agama Kristen. Pendidikan Agama Kristen seharusnya diberikan kepada seseorang sejak anak-anak sampai dewasa.2 Dalam kitab Amsal 22:6 juga dtuliskan “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu”. Pendidikan pada masa muda ternyata sangat penting bagi masa depan seorang anak. Oleh karena itu, banyak organisasi masyarakat, pemerintah dan komunitas yang mengorbankan pikiran, waktu, tenaga dan materi untuk pendidikan anak-anak.

Gereja telah membuka mata dan mengambil bagian dalam pendidikan kepada anak-anak. Gereja bukan hanya tempat mendengar dan menerima firman, tetapi tempat dimana manusia menjawab dan memberi secara materi, waktu, fisik bahkan ilmu.3 Gereja saat ini sudah memberikan wadah bagi anak-anak untuk dapat beribadah melalui pelayanan Sekolah Minggu.

Sejarah berdirinya Sekolah Minggu dimulai dari kota Gloucester di Inggris. Robert Raikes menjadi pemeran utama dalam pengadaan Sekolah Minggu. Sekolah Minggu terbentuk dari kehidupan kaum anak-anak yang awalnya diisi dengan kejahatan dan krisis moral. Hal itu disebabkan karena faktor ekonomi, di mana orang

1 Syaiful Sagala, Etika & Moralitas Pendidikan (Jakarta: Kencana Prenada Media Grup,

2013), 38.

2 Harianto, Pendidikan Agama Kristen dalam Alkitab & Dunia Pendidikan Masa Kini

(Yogyakarta: Andi, 2012), 52.

3 Jan S. Aritonang, chr. De Jonge, Apa & Bagaimana Gereja Pengantar Sejarah Eklesiologi

(15)

2

tua tidak mampu menyekolahkan anak-anak mereka sehingga pertumbuhannya menjadi liar. Oleh karena itu, Robert Raikes mengumpulkan anak-anak yang terlantar itu dalam pendidikan Sekolah Minggu. Pada hari minggu mereka diajarkan membaca, menulis, serta belajar agama. Pada abad ke-20 muncul materi Sekolah Minggu yang berjenjang.4 Oleh karena itu gereja mengambil alih model pelayanan Sekolah Minggu dan tersebar di dunia. Sehingga sampai saat ini Sekolah Minggu sudah ada di beberapa gereja dan memberikan fasilitas sesuai dengan kebutuhan anak-anak yang disetarakan dengan kesanggupan gereja pada saat ini.

Sekolah Minggu adalah suatu wadah yang disediakan oleh gereja untuk anak-anak yang menitikberatkan pada pendidikan dibidang kerohanian. Di Sekolah Minggu bukan saja mengajar pengetahuan tentang Alkitab tetapi mengartikan pengajaran itu benar-benar menjadi pengalaman pribadi dari anak Sekolah Minggu.5 Sekolah Minggu termasuk dalam pendidikan non-formal bisa dikatakan berbeda dengan pendidikan secara umum atau formal. Pendidikan formal adalah jalur dalam sistem pendidikan nasional biasanya disediakan oleh pemerintah atau yayasan sedangkan pendidikan non-formal dilaksanakan secara terstruktur, berjenjang, fleksibel dan berlangsung sepanjang hayat.6

Di dalam pendidikan atau pengajaran sangat dibutuhkan metode dan media untuk mempermudah proses pembelajaran. Metode adalah cara atau teknik yang digunakan untuk mengaplikasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan agar tujuan dapat tercapai secara optimal. Martinis Yamin menyebutkan bahwa metode pembelajaran merupakan bagian dari strategi pembelajaran, metode pembelajaran berfungsi sebagai cara untuk menyajikan, menguraikan, memberi contoh, dan memberi latihan kepada siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu.7 Metode

4 Paulus Lie, Mereformasi Sekolah Minggu (Yogyakarta: Andi, 2003), 110. 5

Paulus Daun, Pengantar Ke dalam Sekolah Minggu Anak-anak (1989), 14.

6 Tim Pengembang Ilmu Pendidikan FIP-UPI, Ilmu & Aplikasi Pendidikan (Bandung:

Imperial Bhakti Utama , 2007),13.

7 Andi Prastowo, Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Tematik Terpadu (Jakarta:

(16)

3

digunakan untuk merealisasikan strategi yang telah ditetapkan. Keberhasilan pengamplikasian strategi pembelajaran sangat tergantung pada cara guru menggunakan metode pembelajaran. Di dalam penggunaan metode juga dibutuhkan media dalam suatu pembelajaran. Media adalah suatu sarana atau alat yang digunakan untuk membantu proses pembelajaran dan media identik dengan alat peraga yang mampu membantu proses belajar mengajar baik dalam kelas maupun luar kelas.8

Efektifitas metode dan media juga sangat diperlukan dalam proses pembelajaran. Efektifitas dapat diartikan sebagai suatu keadaan tercapainya tujuan yang diharapkan. Suatu metode dan media pembelajaran dikatakan efektif ketika sudah mampu memberikan pengaruh, perubahan dan dapat membawa hasil yang baik. Semakin banyak tujuan tercapai maka semakin efektif media atau metode yang digunakan.

Gereja menjadi wadah bagi anak-anak untuk menumbuhkan kehidupan iman dan kerohaniannya sampai mereka mampu menjadi pribadi yang dewasa. Gereja sudah menunjukkan tanggung jawab itu melalui pendidikan agama dalam Sekolah Minggu. Dalam hal ini juga GBKP (Gereja Kristen Batak Karo) sebagai gereja yang dikaruniakan Tuhan menyadari hal tersebut. GBKP merupakan perwujudan dari gereja Kristen yang Esa, Kudus, Am, dan Rasuli yang dipanggil Allah untuk melaksanakan misinya dalam kerangka karya penyelamatan Allah di dunia sampai akhir zaman.9

GBKP memiliki Sekolah Minggu yang disebut sebagai KA/KR (Kebaktian Anak/Kebaktian Remaja) yang termasuk dalam pelayanan kategorial. KA-KR GBKP adalah wadah beribadah dan pengembangan iman para anak dan remaja. Pelayanan kebaktian anak dan remaja GBKP adalah tugas gereja yang harus menjadi perhatian gereja di semua wilayah pelayananya (moderamen, klasis, majelis, jemaat dan sektor). Wadah KA/KR bertujuan agar anak dan remaja dapat dibimbing untuk datang kepada Tuhan agar mereka mengenal Tuhan sehingga suatu ketika secara

8 H. Darmadi, Pengembangan Model Metode Pembelajaran dalam Dinamika Belajar Siswa

(Yogyakarta: Budi Utama 2017), 81.

(17)

4

mandiri mereka akan mengikrarkan pengakuan imannya dengan demikian anak-anak dan remaja GBKP diharapkan menjadi generasi penerus gereja dan masyarakat yang berkualitas dan bertanggung jawab.10

Peneliti ingin meneliti di GBKP Runggun Bida Ayu-Tanjung Piayu gereja ini memiliki pelayanan kategorial Permata (pemuda), Moria (kaum ibu), Mamre (kaum bapak) dan KA/KR (Kebaktian Anak/Kebaktian Remaja). KA/KR GBKP Runggun Bida Ayu-Tanjung Piayu memiliki kurang lebih 200 anak yang terbagi atas 6 (enam) kelas mulai dari Batita (0-3 tahun), Balita (4-6 tahun ), Anak Kecil (7-9 tahun), Anak Tanggung (10-12 tahun), anak Pra Remaja (13-15 tahun) dan Remaja (16 tahun-sebelum sidi). KA/KR GBKP Runggun Bida Ayu-Tanjung Piayu memiliki 16 guru. Sejauh ini yang menjadi permasalahan ialah ketidaktertarikan anak Sekolah Minggu hadir dalam ibadah dan kegiatan lainnya yang berkaitan dengan pelayanan Sekolah Minggu serta kurangnya keaktifan anak dalam proses pembelajaran. GBKP Runggun Bida Ayu-Tanjung Piayu saat ini masih kekurangan guru dalam proses mengajar, melihat kapasitas anak-anak yang cukup banyak. Di dalam setiap kelas pastinya memiliki daya tangkap yang berbeda-beda mulai dari anak Batita, anak Balita, anak Kecil, Tanggung, Pra Remaja dan Remaja. Oleh karena itu penggunaan metode dan media sangat penting bagi anak sesuai dengan usia mereka.

Seperti yang dikemukakan oleh Lawrance O. Richards bahwa Sekolah Minggu membutuhkan guru sebagai pendidik dan membutuhkan bahan ajar yang efektif sesuai dengan kelas anak-anak. Banyak guru yang mengasihi dan membangun hubungan komunitas iman, banyak juga guru-guru berbagi ilmu dengan penuh kepedulian terhadap anak-anak, bekerja dalam cara apa saja untuk membangun suatu

10 Moderamen GBKP, Dikutip dari website (http://gbkp.or.id/sejarah-gbkp/) diunduh pada 18 maret

(18)

5

pelayanan komunitas iman dan gereja penting untuk mengakomodasi perubahan supaya pelayanan terhadap anak-anak dalam gereja lebih berhasil.11

Para guru Sekolah Minggu perlu dilatih untuk suatu pendekatan yang lebih Alkitabiah tentang pelayanan mereka. Pelatihan guru-guru Sekolah Minggu sudah banyak dilakukan di berbagai Gereja. Program ini memanfaatkan KA/KR (Kebaktian Anak/Kebaktian Remaja) pelajaran demonstrasi dan berbagai aktivitas yang dibimbing melalui buku pedoman untuk menolong para guru menerima suatu gambaran yang baru mengenai pengajaran Sekolah Minggu. Proses ini mungkin bisa membantu para guru ke dalam suatu gaya mengajar yang sesuai untuk komunikasi iman.

Proses pelatihan dapat diringkas secara sederhana. Pertama, para guru dilibatkan pemahaman Alkitab secara baik. Mereka menentukan sasaran mengajar dalam pertumbuhan kearah keserupaan dengan Kristus tidak hanya menyampaikan informasi. Tetapi mereka melihat mencapai sasaran ini terkait dengan sasaran untuk mengembangkan suatu hubungan persahabatan dengan para pembelajar dan berbagi kebenaran yang dialaminya tidak hanya memberi tahu orang lain apa yang dikatakan Alkitab. Setelah satu ceramah mini yang ringkas, para guru dipinpin sebagai pelajar melalui suatu pelajaran demonstrasi. Hal itu memampukan para guru itu untuk secara harafiah melihat peran yang akan mereka penuhi ketika mereka mengajar, dan menjadikan proses itu sebagai pembelajaran.12

Lawrance O. Richards juga mengemukakan pendekatan dalam pengajaran. Dalam mengajarkan Alkitab berupaya mengkomunikasikan firman Allah dengan satu cara yang menyentuh anak-anak seutuhnya, membentuk persepsinya terhadap hidup, sikap, tata nilai, dan perilakunya di dalam konteks komitmen bersama dari komunitas iman yang vital. Sungguh menarik untuk menyadari bahwa kita memiliki banyak sarana yang memampukan kita untuk membuat pengajaran Alkitab yang bervariasi, merangsang dan bersemangat. Berdasarkan pemaparan di atas maka judul penulis ini adalah:

11 Lawrence O. Richards, Pelayanan Kepada Anak-anak (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2007),

418-419.

(19)

6

Studi Metode dan Media Pembelajaran Sekolah Minggu di GBKP (Gereja Batak Karo Protestan) Runggun Bida Ayu-Tanjung Piayu dengan Teori Lawrance O. Richards

Berdasarkan penejelasan di atas maka rumusan masalah yang diajukan yaitu: Metode dan media yang dipakai dalam pendidikan Sekolah Minggu di GBKP (Gereja Batak Karo Protestan) Runggun Bida Ayu-Tanjung Piayu dan bagaimana penggunaan metode dan media dalam pengajaran Sekolah Minggu di GBKP (Gereja Batak Karo Protestan) Runggun Bida Ayu-Tanjung Piayu dikaji dari teori PAK anak Lawrance O. Richards.

Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan metode dan media apa saja yang digunakan dalam pendidikan Sekolah Minggu di GBKP (Gereja Batak Karo Protestan) Runggun Bida Ayu Tanjung Piayu dan mendeskripsikan kajian metode dan media dalam pengajaran Sekolah Minggu di GBKP Runggun Bida Ayu Tanjung Piayu dikaji dari teori Lawrance O. Richards. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih pemikiran tentang media dan metode dalam pengajaran Sekolah Minggu khususnya di GBKP (Gereja Batak karo Protestan) dan gereja-gereja lainnya. Penelitian ini menambah sumber pengetahuan tentang media dan metode pembelajaran, secara khusus berkaitan dengan teori Lawrance O. Richards mengenai peranan guru terhadap metode dan media dalam suatu pengajaran serta memberikan dampak dari penggunaan suatu metode dan media terhadap peserta didik yang diterapkan ketika mengajar di Sekolah Minggu.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Pendekatan kualitatif adalah penelusuran secara intensif menggunakan prosedur ilmiah untuk menghasilkan kesimpulan naratif baik tertulis maupun lisan berdasarkan analisis data tertentu. Metode ini sangat efektif digunakan karena mampu mendeskripsikan atau mengambarkan suatu keadaan. Data akan diperoleh melalui wawancara dengan majelis gereja, guru Sekolah Minggu dan anak-anak Sekolah Minggu. Pemerolehan data juga dilakukan melalui observasi langsung dalam proses pembelajaran Sekolah Minggu di GBKP (Gereja Batak Karo Protestan) Runggun Bida Ayu-Tanjung Piayu.

(20)

7

Penulisan penelitian ini dibagi menjadi lima bagian. Bagian pertama, berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode penelitian, dan sistematika penulisan. Bagian kedua, berisi landasan teori tentang gereja, Sekolah Minggu, metode, media pengajaran Sekolah Minggu dan teori dari Lawrance O. Richards. Bagian ketiga, berisi tentang hasil wawancara penelitian. Bagian keempat, berisi analisa dari data hasil wawancara dengan teori. Bagian kelima, berisi penutup dan saran.

Pengertian Gereja

Kata“gereja”berasal dari kata portugis “igreya” jika mengingat akan cara pemakaiannya sekarang adalah terjemahan dari kata Yunani “kuriake” yang berarti“Yang menjadi milik Tuhan”artinya adalah para orang yang percaya kepada Tuhan Yesus sebagai JuruselamatNya. Jadi gereja merupakan persekutuan orang percaya. Dalam Perjanjian Baru persekutuan para orang yang percaya disebut jemaat yang dalam bahasa Yunani “Ekklesia” yaitu kumpulan orang yang dipanggil. Pengakuan iman rasuli menyebutkan bahwa gereja adalah kudus dan am.13 Gereja harus menjadi tali yang mampu menyatukan dunia serta bertanggung jawab atas ketidakadilan dan ketidakmampun. Sebagaimana Miller, mengatakan bahwa gereja memiliki enam fungsi gereja yang di kutip oleh Boehlke (hlm.692) yaitu:

- Gereja adalah persekutuan yang beribadah. Seseorang yang hadir dan mengambil bagian dalam proses berlangsungnya kebaktian.

- Gereja adalah persekutuan yang menebus. Artinya kebutuhan anggota dapat terpenuhi dan hubungan yang terpisah dapat dipersatukan dan di sembuhkan kembali.

- Gereja sebagai persekutuan belajar mengajar. Gereja memberikan wadah belajar bagi orang dari berbagai katagori usia.

13

(21)

8

- Gereja adalah persekutuan yang peduli akan kebutuhan orang lain terutama yang sakit, miskin, lemah dan kesepian. Gereja harus siap melayani suka maupun duka.

- Gereja adalah persekutuan yang ingin membagikan iman kepada orang yang belum menerima kabar baik. Gereja adalah persekutuan yang bekerja sama dengan kelompok lain. Kerja sama ini dapat dilakukan dengan sesama orang Kristen atau berbeda agama demi pendidikan, untuk tujuan hak asasi manusia, keadilan sosial, perdamaian dengan masyarakat setempat dan perdamaian antar bangsa.14

GBKP (Gereja Batak Karo Protestan) adalah salah satu Gereja yang berada di indonesia, gereja ini ialah gereja kesukuan. GBKP juga menyadari bahwa sebagai Gereja yang hidup harus mampu menumbuhkan nilai-nilai untuk menyatakan kasih Allah bagi seluruh manusia. Dasar utama pengajaran GBKP adalah Alkitab. Sebagai persekutuan yang belajar dan mengajar GBKP bertujuan untuk mendidik warga gereja agar mampu menjadi manusia yang dewasa secara iman sehingga dapat menjadi garam dan terang dunia dalam praktik hidup sehari-hari. Pengajaran GBKP senantiasa mempertimbangkan aspek perkembangan manusia seutuhnya yang mengacu kepada filosofi pengajaran GBKP.15 Pengajaran GBKP senantiasa memperhatikan keseimbangan teori dan praktik. Hal tersebut juga diterapkan dalam pelayanan Sekolah Minggu.

Sekolah Minggu sebagai tempat Kebaktian Anak

Sekolah Minggu sebagai tempat proses belajar mengajar dan tempat anak-anak mendengarkan firman Tuhan serta mengenal Yesus Kristus. Melalui Sekolah Minggu anak-anak juga menerima pendidikan dan pembinaan sehingga mereka bukan saja bertambah pengetahuan Alkitab-nya tetapi juga terbentuk karakter-nya. Oleh karena itu, gereja harus lebih memperhatikan pelayanan di bidang Sekolah Minggu, seperti

14 Dien Sumiyatiningsih, Mengajar dengan Kreatif dan Menarik (Yogyakarta: Andi, 2006),

28.

15

(22)

9

memberikan fasilitas, bantuan dalam hal pembiayaan dan pengkaderan guru-guru Sekolah Minggu untuk lebih terampil dalam pelayanan tersebut. 16

Saat ini gereja harus membuka mata bahwa Sekolah Minggu ialah tempat di mana anak-anak berkembang khususnya perkembangan dalam iman sehingga anak-anak dapat menjadi penerus bangsa dan gereja. Sekolah minggu ini adalah badan pelayanan yang utama bagi anak-anak. Gereja perlu memfokuskan diri pada pelayanan ini untuk mendorong pengembangan Sekolah Minggu sebagai tempat untuk pelayanan perkembangan iman bagi anak-anak.17

Metode dan Media Pembelajaran dalam Sekolah Minggu

Kata metode berasal dari bahasa latin yakni kata meta dan hodos. Meta berarti sesuatu yang belum diketahui sedangkan hodos berarti cara. Jadi pengertian metode secara etimologis adalah sebagai suatu cara yang perlu ditempuh untuk mengetahui sesuatu. Pengertian metode tidak terlepas dari teknik, pola, pendekatan, dan strategi.18

Metode adalah cara atau tahapan yang digunakan sebagai pedoman untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sesuai dengan materi dan mekanisme metode pembelajaran. Di setiap proses pembelajaran pasti membutuhkan metode dan media karena akan mempermudah proses belajar. Media adalah sarana atau alat yang digunakan untuk mendukung metode pembelajaran, media mampu membuat suasana belajar hidup dan dinamis karena media dapat mengatasi keterbatasan indra, ruang dan waktu.

Dalam pengunaan metode dan media juga harus memperhatikan isi atau substansi materi pembelajaran karena cara berpikir serta kemampuan anak berbeda-beda. Materi atau substansi itu sendiri harus memperhatikan tingkat perkembangan anak dan memperhatikan komponen tujuan yang dicapai. Penguasaan metode atau media

16 Paulus, Pengantar Sekolah Minggu, 5. 17 Lawrence, Pelayanan Anak, 418. 18

(23)

10

yang dibawakan sangat penting untuk memajukan perkembangan anak.19 Beberapa jenis metode pembelajaran yang bisa digunakan yaitu :

Metode Bermain Peran, teknik ini lebih melibatkan anak-anak dalam proses

pembelajaran dan dapat membantu rasa ingin tahu, minat dan respon anak-anak terhadap pembelajaran yang dibawakan.20 Metode bermain peran menurut Frank dan Theresia Caplan membantu pertumbuhan anak, kegiatan yang dilakukan secara sukarela, memberi kebebasan bagi anak untuk bertindak, memberikan dunia khayal yang dapat dikuasai, meletakkan pengembangan bahasa, mempunyai pengaruh unik dalam pembentukan hubungan antar pribadi, cara dinamis untuk belajar, cara anak untuk menyelidiki sesuatu, memperkuat minat dan pemusatan perhatian. Melalui bermain anak-anak dapat mengekspresikan dan mengembangkan potensi-potensi yang ada pada diri anak-anak. 21

Metode Bernyanyi, dengan metode ini anak dapat mengekspresikan rasa gembira

dan senang. Metode bernyanyi ini sangat mudah dipahami oleh anak dan secara cepat dicerna dengan baik. Metode ini juga harus disesuaikan dengan pembelajaran yang dibawakan sehingga ada kesinambungan dari materi pembelajaran. Metode bernyanyi ialah mengekpresikan perasaan, menolong rasa kepercayaan anak, mengembangkan rasa humor, meningkatkan keeratan dalam sebuah kelompok.22

Metode Kunjungan dan Karyawisata, mengunjungi lokasi-lokasi tertentu atau

kelompok orang termasuk keluarga yang jarang dikunjungi merupakan cara yang dapat ditempuh untuk pengembangan moral. Metode ini juga dapat meningkatkan rasa ingin tahu serta pemahaman mereka tentang suatu pembelajaran Sekolah Minggu yang dibawakan karena situasi dan lokasi yang berbeda membuat minat serta keaktifan anak meningkat.23

19

Cyurs, Kartini, Metode Pengembangan Moral, 79-80.

20Tim Pelayanan Efata, 80 Aktivitas Kreatif (Yogyakarat: Andi, 2001), 6-8. 21 Cyurs, Kartini, Metode Pengembangan Moral, 81.

22 Cyurs, Kartini, Metode Pengembangan Moral, 88. 23

(24)

11

Metode Bercerita, metode tersebut sering dilakukan oleh pendidik. Teknik

bercerita dapat dilakuan dengan menggunakan ilustrasi, membaca langsung dari buku pembelajaran, bercerita menggunakan media seperti boneka. Metode ini akan lebih menarik jika tidak terlalu monoton pada cerita, tetapi akan lebih baik diperhatikan cara penyampaian seperti intonasi, raut wajah serta penegasan dari setiap cerita yang ingin disampikan sehingga cerita tersebut tidak kehilangan makna dan tetap didengar dengan baik. 24

Metode Pemberian Tugas, metode pemberian tugas atau resitasi merupakan

salah satu metode penting untuk pengembangan moral anak. Metode ini dilakuan dengan memberikan penugasan kepada anak, baik perorangan maupun secara kelompok. Tugas ini dapat dilakukan secara langsung dalam kelas maupun di kerjakan di rumah (PR). Manfaat metode ini membiasakan atau melatih anak untuk memperhatikan dan menangkap materi yang diberikan kepadanya, membiasakan anak untuk melaksanakan tugas yang diberikan sekaligus melatih anak agar bertanggungjawab dan mampu bekerja sama satu sama lain.25

Metode Ceramah, metode ceramah ialah menjelaskan materi kepada anak-anak.

Metode ini memang dalam kalangan anak-anak sangat membosankan karena pada umumnya anak-anak ingin selalu ada kegiatan yang diberikan kepadanya karena mereka sangat sulit memahami sesuatu jika hanya dengan mendengarkan penjelasan akan membosankan atau kurang menarik.26

Media diartikan sebagai pengantar. Media digunakan untuk menyalurkan pesan dan merangsang terjadinya proses belajar pada naradidik dan mempertinggi efektivitas dan efesiensi dalam mencapai tujuan pembelajaran. Tujuan dalam pengunaan media pembelajaran ialah memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu verbalistis, mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan daya indra, memperlancar jalannya proses pembelajaran, menimbulkan kegairahan belajar, memberi kesempatan

24 Cyurs, Kartini, Metode Pengembangan Moral, 103-106. 25 Cyurs, Kartini, Metode Pengembangan Moral, 118. 26

(25)

12

kepada naradidik untuk berintraksi langsung dengan lingkungan dan kenyatan, mengatasi sikap pasif peserta, memberi kesempatan pada siswa untuk belajar secara mandiri sesuai kemampuan dan minatnya.27

Prinsip pembuatan media pembelajaran yaitu mudah dilihat, menarik, sederhana, tepat sasaran, bermanfaat bagi pelajar dan tersusun secara baik. Pengunaan media juga tidak boleh berlebihan karena terkadang pengunaan media sudah sebagai pengisian waktu pembelajaran dan sudah tidak sejalan dengan materi atau sudah meninggalkan makna materi yang dibawakan oleh pendidik.28 Ada beberapa media pembelajaran yang dapat digunakan yaitu:

Pertama, Media audio yaitu media yang digunakan sebagai alat bantu

pembelajaran yang mempunyai sifat dapat di dengar seperti radio. Kedua, Media visual yaitu media yang gunakan sebagai alat bantu dalam pembelajaran yang mempunyai sifat dapat dilihat oleh siswa seperti peta dan gambar yang mengambarkan isi dari suatu informasi atau pembelajaran. Ketiga, Media audio visual yaitu media yang digunakan sebagai sarana dalam suatu pembelajaran yang mempunyai sifat dapat dilihat dan di dengar oleh siswa seperti video.29

Dalam pengunaan metode dan media PAK tidak hanya menuntut peserta didik untuk mendengarkan informasi atau pembelajaran yang disampaikan, tetapi dibutuhkan juga emosional dari anak didik. Emosional tersebut dapat merangsang kemampuan, mengontrol, menilai dan merasakan. Sehingga metode dan media dapat berjalan dengan baik dan mampu menggambarkan berbagai macam kegiatan pembelajaran serta membantu anak-anak untuk memandang kebenaran.

Pengajaran kepada anak-anak banyak memanfaatkan berbagai kegiatan pembelajaran yang menyediakan banyak latar belakang berisi kebenaran yang dapat dirasakan dan mendorong anak-anak untuk berpikir kreatif terhadap apa yang

27 Zainal Aqib, Model-model, Media dan Strategi Pembelajaran Kontekstual (Bandung:

Yrama Widya, 2013), 100.

28 Zainal, Media dan Strategi, 52-53. 29

(26)

13

diajarkan. Sarana yang di berikan itu harus berupaya untuk menghubungkan inti kebenaran dengan emosi yang terkait dengan situasi di mana hal itu di terapkan. Ketika seseorang berada dalam situasi dan merasakan suatu emosi tertentu, maka emosi itu secara situasional akan memicu daya ingat akan kebenaran dan membentuk persepsi untuk situasi tersebut. 30

Teknik kreatif memang sangat dibutuhkan dalam suatu pembelajaran, suatu acara, dan lain sebagainya. Kreativitas adalah berpikir yang menghasilkan cara-cara baru, konsep baru, pengertian baru, penemuan baru, dan karya seni yang baru. Di dalam kreativitas juga menumbuhkan proses perubahan yang tidak dapat terjadi secara sederhana, tetapi membutuhkan waktu, usaha, dan kerja keras. Beberapa tips untuk menjadi pribadi yang kreatif yaitu bersedia untuk mencoba hal-hal baru, mendesain lingkungan yang kreatif, mengusahakan memiliki rasa ingin tahu, berusaha untuk tertarik pada setiap hal, selalu mencari cara yang alternatif. 31

Dalam proses belajar para murid hanya datang, mendengar, duduk, dan melihat, mungkin bagi para guru dan orang tua kurang efektif atau bahkan bisa membuat pendidik dan nara didik bosan. Oleh karena itu harus ada kesempatan bagi para pendidik dan nara didik untuk berkarya atau berekspresi. Mengajar efektif adalah proses mengajar yang mampu menambah pengertian, membuat suasana yang nyaman, menyenangkan, menggairahkan siswa dalam mengikuti pembelajaran.32

Teori Lawrance O. Richards

Di dalam teori Lawrance O Richards menyatakan ada beberapa proses penting dalam pelayanan kepada anak-anak. Pertama, proses yang mengkomunikasikan rasa memiliki, artinya pentingnya hubungan kasih dan pengembangan suatu rasa aman yang datang bersamaan dengan rasa percaya kepada orang lain. Hal ini mampu membuat anak-anak bertumbuh dan berkembang.

30 Lawrence, Pelayanan kepada Anak, 586. 31 Dien, Mengajar dengan Kreatif, 136-138. 32

(27)

14

Kedua, proses yang mencakup peran serta, artinya anak-anak juga perlu di

libatkan dalam proses pembelajaran karena mampu bertumbuh melalui keterlibatan secara aktif. Peran serta itu memberi kesempatan bagi anak-anak untuk mencoba perilaku yang berbeda dimana mereka akan diperkuat, baik secara positif maupun negatif, oleh karena itu anak-anak perlu dilibatkan dalam proses pembelajaran tentang alkitab atau hal lain bukan hanya sebagai pendengar dan penonton saja.

Ketiga, proses yang memfasilitasi panutan, artinya proses ini menggambarkan suatu hal yang membawa anak untuk mengembangkan sikap dan nilai.

Keempat, proses yang menyediakan pengajaran sebagai penafsiran hidup, artinya

setiap pembelajaran harus diartikan sesuai dengan kemampuan anak-anak atau pemahaman anak-anak, agar mereka mudah mengerti serta mampu menerima dan meneladani apa yang diberikan kepada mereka.

Kelima, proses yang mendorong terjadinya proses memilih, artinya mendorong

anak-anak untuk berprilaku baik dan membenahi moral mereka.33

Pendekatan dalam Pengajaran dalam Teori Lawrance O. Richards

Pertama, Pendekatan yang terikat dengan perasaan. Pendekatan ini akan

menolong anak-anak menjadi sensitif kepada perasaan, membantu anak-anak untuk mempelajari kata-kata yang tepat. Hal ini juga membantu mereka memahami dan mengembangkan kemampuan untuk menyatakan emosinya sendiri dan memahami emosi orang lain. Pendekatan ini sangat membantu anak-anak dalam cara berindak dan melakukan hal yag benar.

Kedua, Pendekatan pengambilan peran. Pendekatan ini mencoba membantu

anak-anak memahami dan mengidentifikasi emosi dan mendapatkan pandangan tentang tindakan-tindakan yang terkait dengan emosi. Oleh karena itu setiap proses pembelajaran anak-anak harus dilibatkan agar suasana pembelajaran tersebut dapat

(28)

15

hidup dan di maknai oleh anak dan bisa direalisasikan dalam kehidupan anak-anak.

Ketiga, Pendekatan generatif. Pendekatan ini mengarah kepada pengalaman

nyata yang disampaikan kepada anak-anak sesuai dengan materi atau pembelajaran yang di bawakan kepada mereka. Hal ini juga mendorong mereka menghubungkan peristiwa atau pembelajaran dalam kehidupan mereka ataupun dalam konteks yang sekarang terjadi.

Keempat, Pendekatan keteladanan. Pendekatan ini mengarah berdasarkan

pengalaman-pengalaman yang nyata dari guru atau anak-anak yang ada dalam kelas, melalui pengalaman yang diberikan mampu membuat setiap orang yang mendengarnya bisa terinspirasi. 34

Sejarah Umum GBKP Runggun Bida Ayu-Tanjung Piayu

GBKP Bida Ayu-Tanjung Piayu merupakan gereja sinodal dimana sinodenya terletak di Kabanjahe, Sumatra Utara. Sinode GBKP merupakan pusat pelayanan gereja-gereja GBKP, menurut pembagian dan letaknya wilayah pelayanan GBKP Bida Ayu-Tanjung Piayu merupakan Klasis Kepr (Kepulauan Riau). Pelayanan yang terdapat di GBKP Runggun Bida Ayu-Tanjung Piayu meliputi pelayanan Permata (pemuda), Mamre (kaum bapak), Moria (kaum ibu), KA/KR (Kebaktian Anak/ Remaja).

Pada tanggal 8 November 1996 GBKP Tanjung Piayu sudah mengadakan kebaktian walapun bangunan gereja belum mempunyai dinding dan masih berlantaikan tanah. Pada tanggal 8 Desember 1996 dilaksanakan acara buka kunci gedung GBKP Tanjung piayu dengan mengelar tikar karena kursi belum ada pada saat itu. Setelah selesai buka kunci, jemaat sepakat mengambil bagian untuk membeli kursi sesuai kemampuan masing-masing supaya pada perayaan Natal 25 Desember 1996 jemaat sudah duduk di kursi dan hal ini terpenuhi sebagaimana yang

(29)

16

diharapkan. GBKP Tanjung Piayu terus berkembang sehingga pada tanggal 16 Oktober 2005, GBKP Bida Ayu resmi menjadi Runggun yang definitif. Saat GBKP Bida Ayu Tanjung Piayu sudah memiliki gedung gereja yang permanen, gedung sekolah minggu, rumah dinas pendeta, juga pernah ada sekolah TK, dengan jumlah jemaat 944 jiwa, 230 kk dan terbagi atas delampan sektor (kelompok). Pendeta yang pernah melayani di GBKP Bida Ayu Tanjung Piayu yaitu; Pdt. Dewi Ekawati Br. Sembiring dari tahun 2006-2010, Pdt. Frida Debora Br Purba dari tahun 2010-2015 dan Pdt. Sri Ate Br. Surbakti dari tahun 2015-sekarang.35

Majelis Gereja juga terlibat dalam setiap pelayanan baik menjadi koordinator setiap komisi yang menghubungkan jemaat dengan gereja. Komisi marturia (bersaksi) bertugas sebagai pengkabaran Injil dan menyaksikan berita keselamatan. Komisi diakonia (melayani) merupakan pelayanan kasih dan melayani jemaat yang sedang dalam keadaan duka, suka, sakit, komisi ini lebih mengarah kepada tindakan sosial. Komisi koinonia (persekutuan) bertugas sebagai mempererat persekutuan dalam tubuh Kristus.36

Pelayanan Sekolah Minggu GBKP Bida Ayu-Tanjung Piayu

GBKP Runggun Bida Ayu-Tanjung Piayu memiliki pelayanan Sekolah Minggu yang disebut KA/KR terbagi atas enam kelas yakni: kelas Batita dimulai dari umur 0-4 tahun, kelas Balita dimulai dari 4-6 tahun, kelas Kecil dimulai dari 6-8 tahun, kelas Tanggung dimulai dari 8-11 tahun, kelas Pra Remaja dimulai dari 11-13, kelas Remaja di mulai dari 13- sebelum baptis. Ibadah Sekolah Minggu dilakukan setiap hari Minggu pukul 08.30-11.00 WIB dan dilakukan secara bersamaan dari seluruh kelas.37

Pengajar (guru) sudah dibagi dalam setiap kelasnya satu minggu sebelum ibadah dilaksanakan. Majelis gereja juga mengambil bagian dalam mengajar anak Sekolah

35

Hasil wawancara dengan Pt. Samuel Tarigan, Sekretaris umum GBKP Runggun Bida Ayu-Tanjung Piayu 03- Mei- 2019, Pukul 20.00 WIB

36 Moderamen GBKP, Tata Gereja GBKP 2015-2025, (Kabanjahe: Abdi Karya, 2015) 37 Hasil wawancara dengan Ekel Br Tarigan, Guru sekolah minggu GBKP Runggun Bida

(30)

17

Minggu yang dilaksanakan setiap awal bulan. Guru Sekolah Minggu di GBKP Runggun Bida Ayu-Tanjung Piayu yang tercatat aktif ada 16 guru, 4 guru yang masih permata (pemuda) 10 guru sudah moria (kaum ibu) 2 guru sudah mamre (kaum bapak). Guru-guru Sekolah Minggu juga memiliki jadwal Sermon setiap minggunya yang dilaksanakan setelah selesai kebaktian Sekolah Minggu dan dipimpin oleh Pendeta dan majelis yang ada di GBKP Bida Ayu-Tanjung Piayu.38

Metode Pembelajaraan Sekolah Minggu di GBKP Runggun Bida Ayu - Tanjung Piayu

Di pelayanan Sekolah Minggu GBKP Bida Ayu-Tanjung Piayu memiliki buku pedoman dari Moderamen (sinode) yang sudah dicantumkan materi, metode dan media yang akan di gunakan dalam penyampaian pembelajaran Sekolah Minggu, tetapi semua metode tersebut belum bisa diaplikasikan di pelayanan Sekolah Minggu GBKP Bida Ayu-Tanjung Piayu. Beberapa metode yang bisa diaplikasikan sebagai berikut:

Metode Bercerita, metode ini sering digunakan dalam pemberitaan firman Tuhan.

Metode ini di senangi oleh anak-anak yang berusia 6-8 tahun (kelas anak kecil), serta dengan memakai metode ini keseriusan anak dalam mendengarkan firman Tuhan terlihat. Tetapi metode ini juga menimbulkan kebosanan bagi anak-anak dimana guru Sekolah Minggu sering lupa dengan jangka waktu yang di gunakan. Dalam pengaplikasian metode ini maksimal waktu hanya 10 menit, lebih dari itu maka anak-anak sudah mulai gelisah dan mulai membuat keributan.39

Metode Tanya Jawab, menurut pendapat anak tanggung metode ini memiliki

pengaruh besar bagi keaktifan anak di dalam kelas dan membuat anak fokus dalam mendengarkan. Penyajian metode ini dilakukan dengan mengajukan pertanyaan ataupun menjawab pertanyaan. Di dalam sekolah minggu guru sering mengajukan

38 Hasil wawancara dengan Pt. Edi Supianto Ginting, Majelis GBKP Runggun Bida

Ayu-Tanjung Piayu 05 Mei 2019, Pukul 18:30 WIB.

39 Hasil wawancara dengan Rismawati Br Barus, Orang tua anak sekolah minggu GBKP Bida

(31)

18

pertanyaan untuk anak, dan bagi siapa yang mampu menjawab pertanyaan tersebut akan mendapatkan hadiah. Oleh karena itu anak-anak tetap fokus serta kelas akan hidup karena anak-anak akan tetap berpikir serta merangsang anak agar tetap mendengarkan dengan baik. 40

Metode Bermain, menurut pendapat dari guru Sekolah Minggu metode ini

dilakukan di kelas anak batita-balita di usia yang masih dini maka metode ini yang mampu membuat anak merasa senang dan aktif dalam melakukan sesuatu. Metode ini mampu merangsang emosional anak dan menarik perhatian anak, sehingga materi yang ingin disampaikan bisa dipahami dan tidak merasa bosan.41

Metode Ceramah, guru Sekolah Minggu mengatakan bahwa metode ini sering di

gunakan di kelas anak Tanggung, Pra Remaja, dan Remaja. Dalam penyajian materi dengan mengunakan metode ini terlihat respon anak-anak yang kurang serius. Penggunaan metode tersebut para guru merasa kesulitan karena kebanyakan anak-anak jika memakai metode tersebut ada yang tertidur, keluar masuk, bercerita dengan yang lain, bermain gadget dan lain-lain.42

Metode Diskusi, pandangan guru terhadap metode tersebut cukup baik digunakan

hanya saja metode ini tidak intens digunakan dalam proses pembelajaran Sekolah Minggu GBKP Runggun Bida Ayu-Tanjung Piayu. Metode ini menimbulkan keributan dan memerlukan waktu yang lama karena anak-anak akan dibagi kelompok kecil dan saling bertukar pikiran dalam menjawab pertanyaan atau memecahkan suatu masalah. Dalam pertukaran pikiran sering berbeda pendapat sehingga menimbulkan perdebatan yang tidak terkontrol akibatnya akan mengganggu proses pembelajaran Sekolah Minggu. 43 Metode tersebut sangat di senangi oleh anak karena akan dibagi

40

Hasil wawancara dengan Yiyin Br Ginting, 06 Mei 2019, Pukul 13:30 WIB.

41 Hasil wawancara dengan Ema Br Karo, 06 Mei 2019, Pukul 15:30 WIB.

42 Hasil wawancara dengan Triphonny Ginting, Guru Sekolah Minggu GBKP Bida

Ayu-Tanjung Piayu 07 Mei 2019, Pukul 14:30 WIB.

43

(32)

19

kelompok dan berpindah-pindah tempat sehingga proses belajar tidak terlalu monoton.44

Metode Debat, guru Sekolah Minggu mengatakan bahwa metode ini dilakukan

dalam waktu-waktu tertentu saja atau materi-materi tertentu. Metode ini biasanya dilakukan di kelas anak Remaja dan pra-Remaja, respon mereka terhadap pengunaan metode ini cukup baik dan mempengaruhi proses keaktifan anak. Tetapi metode tersebut membuat para guru merasa lelah karena bisa membuat anak menjadi adu argument sehingga menimbulkan keributan dan terjadi pertengkaran antar anak. Metode ini mampu melatih keberanian anak sehingga materi yang di sampaikan lama di ingat. 45

Metode Drama, guru Sekolah Minggu mengatakan bahwa metode ini dilakukan

sesuai dengan materi dan waktu tertentu saja karena tidak semua materi bisa di lakukan dengan mengunakan metode tersebut. Misalnya materinya membahas tentang paskah atau tentang bencana alam. Pengaplikasianya membutuhkan waktu dan persiapan yang cukup lama, tetapi metode tersebut sangat disukai anak-anak karena tidak menimbulkan rasa bosan dan mudah dipahami.46

Metode Pemberian Tugas, menurut anak dari kelas kecil bahwa pemberian tugas

membuat anak merasa tidak nyaman serta takut untuk datang ke Sekolah Minggu karena kebanyaan anak tidak mengerjakan di rumah ada yang lupa mengerjakan dan sebagainya.47 Pemberian tugas merupakan suatu aktivitas/pekerjaan yang diberikan guru kepada anak-anak tetapi di kebanyakan anak-anak terbebani oleh tugas tersebut. Faktor-faktor yang menyebabkan anak-anak terbebani ialah tugas dari sekolah mereka yang sudah banyak dan tugas dari les juga banyak, oleh karena itu anak-anak merasa terbebani sampai lupa mengerjakan aktivitas yang diberikan guru Sekolah

44 Hasil wawancara dengan Billy Hagas Tarigan, 10 Mei 2019, Pukul 16:30 WIB. 45 Hasil wawancara dengan Elraysa Ginting, 11 Mei 2019, Pukul 09:30 WIB. 46 Hasil wawancara dengan Eva Br Sitepu, 11 Mei 2019, Pukul 11:30 WIB. 47

(33)

20

Minggu. Anak-anak merasa aktivitas tersebut bisa dilakukan jika dikerjakan di waktu berlangsungnya Sekolah Minggu.48

Media Pembelajaran Sekolah Minggu di GBKP Runggun Bida Ayu-Tanjung Piayu

Di Sekolah Minggu GBKP Bida Ayu-Tanjung Piayu memiliki berbagai media pembelajaran. Media merupakan suatu alat yang berupa benda yang digunakan dalam menghasilkan suatu karya. Media juga mampu membantu dalam proses pembelajaran Sekolah Minggu, pengunaan media juga sangat membantu dalam proses mengajar karena mempermudah dalam pemahaman setiap orang atau anak dalam mencerna suatu yang di sampaikan.49

Buku Pedoman, penggurus Sekolah Minggu mengatakan bahwa buku

pedoman juga salah satu media yang digunakan dalam proses pembelajaran karena di dalamnya sudah tercatat materi-materi yang harus di sampaikan mulai dari anak Batita-anak Remaja. Buku ini juga sangat berguna bagi pendidik karena tidak membutuhkan waktu, pikiran atau ide untuk memikirkan materi yang akan disampaikan di Sekolah Minggu. Materi-materi yang dicantumkan di buku pedoman juga sangat teratur dan di dalam nya juga memiliki penjelasan. 50

Gambar dan Poster, orang tua mengatakan bahwa media ini sering

digunakan, karena sangat membantu pengajar untuk menarik minat atau perhatian anak. Di dalam penyajiannya juga sangat mudah serta tidak membutuhkan waktu yang cukup lama tetapi membutuhkan dana yang banyak. Melihat pengunaan media tersebut dapat membangkitkan minat anak serta mempermudah pemahaman anak dalam mencerna materi yang di sampaikan oleh pendidik oleh karena itu media ini di aplikasikan di kelas anak batita, balita dan anak kecil.51

48 Hasil wawancara dengan Tiar Br Pinem, 13 Mei 2019, Pukul 18:30 WIB. 49 Hasil wawancara dengan Destriani Br Kaban, 18 Mei 2019, Pukul 21:00 WIB. 50 Hasil wawancara dengan Helen Br Ginting, 05 Mei 2019, Pukul 18:30 WIB. 51

(34)

21

Video/Film, menurut pandangan dari anak remaja media ini menarik

dikalangan anak-anak karena dapat merangsang emosional anak serta pemahaman anak juga lebih jelas. Pelayanan Sekolah Minggu GBKP Bida Ayu-Tanjung Piayu media ini lebih sering di gunakan di kelas anak balita dan anak kecil. Hal ini di sebabkan kurangnya alat untuk menerapkan media tersebut. Sekolah Minggu Bida Ayu hanya memiliki 1 (satu) LCD oleh karena itu sulit diaplikasikan di semua kelas jika di sediakan juga membutuhkan banyak.52

Boneka Tangan/boneka, majelis Gereja mengatakan bahwa media ini juga

hampir setiap minggu digunakan di kelas anak batita dan balita. Penggunaan media ini sangat mudah hanya membutuhkan ekspresi yang menunjukkan kelucuan, serta gerekan tubuh yang menarik dan memakai bahasa yang mudah dipahami sesuai usia anak, agar perhatian anak tertuju kepada orang yang mengunakan media tersebut.

Media ini juga dalam pengaplikasiannya juga sudah cukup intens hanya saja membutuhkan lebih banyak lagi, supaya tidak hanya itu saja yang digunakan di setiap minggunya, agar ada perbedaan bentuk atau warna di setiap minggu karena anak-anak biasanya sangat suka dengan hal-hal yang berbeda ataupun jarang dilihat oleh anak.53 Sebagian dari orang tua mengatakan bahwa metode dan media yang digunakan di pelayanan anak Sekolah Minggu belum menarik bagi anak-anak karena metode dan media tersebut terus menerus dibawakan di setiap minggunya.54

Dari penelitian yang dilakukan ada beberapa pendapat anak kecil yang mengatakan bahwa metode yang digunakan dalam pembelajaran Sekolah Minggu Runggun Bida Ayu cukup baik, namun hal itu akan lebih baik lagi apabila metode yang digunakan lebih inovatif dan kreatif. Seperti membawakan hal-hal yang baru agar tidak ada rasa bosan pada saat berlangsungnya pembelajaran Sekolah Minggu. Hal ini dirasakan oleh anak-anak yang merasa bahwa datang ke Sekolah Minggu harus memakai baju baru, sepatu baru, memiliki smartphone, tas baru dan sebagainya.

52 Hasil wawancara dengan Dores Sinuraya, 14 Mei 2019, Pukul 15:30 WIB. 53 Hasil wawancara dengan Destriani Br Kaban,18 Mei 2019, Pukul 16.00 WIB.

54 Hasil wawancara dengan Normiana Br Sebayang, Orang tua dari anak sekolah minggu 12

(35)

22

Hal ini terkadang yang membuat anak Sekolah Minggu malas datang ke pelayanan Sekolah Minggu.55

Dilihat dari pendapat anak tanggung bahwa metode dan media pembelajaran Sekolah Minggu yang digunakan saat ini kurang maksimal. Hal ini di karenakan setiap minggunya guru Sekolah Minggu hanya membawa buku paduan dan Alkitab. Metode yang digunakan guru Sekolah Minggu memang tidak terlepas dari metode bercerita dan ceramah, tetapi metode yang digunakan ini kurang mengaktifkan atau menarik perhatian anak, bahkan membuat anak-anak ribut, saling bercerita dengan teman-teman dan bermain.56 Guru-guru Sekolah Minggu tidak memiliki banyak waktu untuk mempersiapkan metode dan media pembelajaran. Hal ini disebabkan karena guru Sekolah Minggu yang terlalu sedikit, media yang tidak terlalu banyak dan kurangnya pengetahuan guru dalam memakai media yang sudah difasilitasi oleh Runggun.57

Melihat kepeduliaan dari Runggun/Majelis GBKP Bida Ayu-Tanjung Piayu terhadap Pelayanan Sekolah Minggu sudah cukup difasilitasi, tetapi semua kebutuhan tersebut belum secara keseluruhan bisa dipenuhi. Penyebabnya ialah kurangnya dana dari Runggun sendiri untuk mencukupkan semua kebutuhan Sekolah Minggu karena kebutuhan Sekolah Minggu juga sangat besar, oleh karena itu Runggun sendiri satu per satu dipenuhi. Tetapi saat ini yang sangat dibutuhkan oleh Sekolah Minggu ialah guru tambahan, alat musik, serta alat peraga, alat-alat tulis, laptop, LCD, dan papan tulis. Diliihat dari proses berlangsungnya ibadah Sekolah Minggu anak-anak sangat suka dan ceria jika memakai alat musik seperti piano dan gitar dengan adanya alat musik anak-anak semakin semangat dalam bernyanyi sehingga terlihat bahwa kelas tersebut hidup atau tidak kaku. Maka guru Sekolah Minggu menyimpulkan bahwa

55 Hasil wawancara dengan Nike Br Ginting, 12 Mei 2019, Pukul 16:00 WIB. 56 Hasil wawancara dengan Mita Br Kaban,13 Mei 2019, Pukul 16:00 WIB. 57

(36)

23

alat musik memiliki pengaruh besar bagi proses berlangsungnya ibadah, serta mampu membuat anak-anak lebih aktif dalam bernyanyi.58

Guru Sekolah Minggu dituntut untuk lebih kreatif dalam pemakaian suatu metode dan media dalam mengajar. Dalam pelayanan Sekolah Minggu tujuan utama ialah untuk menanamkan firman Tuhan kepada anak, tetapi hal ini juga dibutuhkan metode yang mampu mengekspresikan serta mengaplikasikan kepada anak-anak sehingga tidak hanya bertumpu pada firman Tuhan saja.59

Menganalisa Metode dan Media Pembelajaran Sekolah Minggu di GBKP (Gereja Batak Karo Protestan) Runggun Bida Ayu-Tanjung Piayu di Tinjau dari Teori Lawrance O. Richards

Pada bagian ini akan menganalisa metode dan media pembelajaran di Sekolah Minggu di GBKP Bida Ayu-Tanjung Piayu berdasarkan pendapat guru Sekolah Minggu, anak-anak Sekolah Minggu, majelis gereja serta orang tua anak Sekolah Minggu di tinjau dari teori Lawrance O. Richards. Proses belajar dan mengajar harus mampu merangsang emosi anak didik serta mampu menggunakan metode dan media sesuai konteks anak-anak. Dalam perkembangan iman anak harus memfokuskan diri pada proses pembelajaran yang terlihat dalam kitab suci yang mempengaruhi perkembangan iman dan yang sepenuhnya selaras dengan apa yang kita ketahui tetang bagaimana anak-anak belajar.60

Teori Lawrance O Richards mengatakan bahwa: Pertama, proses belajar-mengajar yang mengkomunikasikan rasa memiliki, artinya setiap pendidik dan anak didik harus memberikan kesan positif sehingga menimbulkan rasa memiliki satu sama lain. Berdasarkan penelitian yang dilakukan penulis di pelayanan Sekolah Minggu GBKP Runggun Bida Ayu-Tanjung Piayu hal tersebut belum bisa dilakukan sebagaimana mestinya. Para guru hanya menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai guru saja. Hal tersebut yang menjadi salah satu kekurangan dari proses

58 Hasil wawancara Pt. Serkana Tarigan,14 Mei 2019, Pukul 18:00 WIB. 59 Hasil wawancara dengan Yona Br Surbakti, 16 Mei 2019, Pukul 15:00 WIB. 60

(37)

24

belajar mengajar di Sekolah Minggu Bida Ayu-Tanjung Piayu sehingga anak-anak Sekolah Minggu juga hadir hanya sebagai rutinitas saja.

Kedua, proses yang mencakup peran serta. Proses tersebut sudah cukup baik

di lakukan dimana para guru dan anak Sekolah Minggu saling berperan atau terlibat dalam proses belajar-mengajar. Keterlibatan tersebut membuat anak-anak menjadi tidak pasif, tidak kaku dan tidak monoton. Keterlibatan ini menjadikan suatu peluang bagi guru dan anak-anak saling bertukar pikiran, saling mengemukakan kreativitas masing-masing.

Ketiga, proses yang memfasilitasi panutan. Proses ini belum secara

keseluruhan bisa dilakukan di pelayanan Sekolah Minggu GBKP Bida Ayu-Tanjung Piayu dimana guru dan anak-anak belum mampu mengkontekskan sikap. Seharusnya guru harus memberikan sikap yang baik dan membangun sehingga anak-anak bisa melihat serta meniru dan menjadikan suatu panutan dalam kehidupannya.

Keempat, proses yang menyediakan pengajaran sebagai penafsiran hidup.

Proses tersebut sebagian sudah dilakukan di pelayanan Sekolah Minggu GBKP Bida Ayu-Tanjung Piayu. Penyediaan proses belajar-mengajar yang kreatif ternyata sangat memiliki pengaruh besar bagi minat anak dimana anak-anak akan menjadi aktif dan tidak bosan dalam mengikuti proses belajar. Masalah terbesar di pelayanan Sekolah Minggu GBKP Bida Ayu-Tanjung Piayu ialah metode dan media yang digunakan dalam pembelajaran belum mampu menjawab kebutuhan anak.

Hal tersebut dikarenakan dalam penyampaiannya kurang maksimal sehingga anak-anak merasa bosan dan kurangnya daya tarik dari metode yang digunakan. Sebagai contoh metode bercerita, metode ini sangat sering digunakan di kelas anak kecil-remaja. Pengunaan metode ini sangat di sukai oleh guru, tetapi cara penyampaainnya kepada anak-anak belum menarik sehingga anak-anak merasa bosan, jenuh dan terjadi keributan. Metode tersebut sebenarnya bisa dilakukan, tetapi dilakukan tidak secara berterus-terusan dan penyampaiannya juga harus melihat situasi kelas anak-anak. Penggunaan metode tersebut harus memperhatikan waktu,

(38)

25

mimik wajah, intonasi, serta kostum yang digunakan, agar dalam penyampaiannya juga tidak terlalu monoton.

Beberapa anak Sekolah Minggu khususnya di kelas anak remaja metode dan media yang digunakan masih kurang membangkitkan semangat anak-anak. Melihat kapasitas anak-anak yang sangat banyak, tetapi hanya sedikit yang beratusias untuk datang ke Sekolah Minggu. Bukan hanya hal itu saja yag membuat anak-anak tidak datang atau tidak aktif di Sekolah Minggu, salah satu faktor juga disebabkan oleh orang tua dan diri sendiri. Dukungan dari orang tua sangat besar pengaruhnya untuk mendorong anak anak supaya datang dan aktif di Sekolah Minggu. Faktor diri sendiri juga besar pengaruhnya dalam keaktifan anak, dimana setiap anak memiliki berbagai karakter ada yang sulit bergaul, pendiam dan sebagainya. Banyak anak yang tidak hadir dalam Sekolah Minggu karena tidak memiliki teman, karena anak-anak zaman sekarang sudah memiliki kelompok masing-masing.

Dalam kelas anak remaja ternyata memiliki harapan besar terhadap Sekolah Minggu GBKP Bida Ayu-Tanjung Piayu sendiri. Mereka sangat menginginkan adanya iringan musik di kelas anak remaja dalam proses berlangsungnya ibadah tersebut. Saat ini alat musik di GBKP Bida Ayu-Tanjug Piayu masih sangat kurang, bahkan di Sekolah Minggu sendiri hanya memiliki 1 (satu) gitar, 1 (satu) piano dan 1 (satu) drum. Dalam pemakaiannya tidak terlalu intens karena hanya sedikit yang bisa dalam penggunaannya. Teori Lawrance O. Richards juga mengatakan bahwa proses belajar yang mampu memfasilitasi kebutuhan dapat mengambarkan suatu hal yang membawa anak untuk mengembangkan sikap dan nilai.61 Fasilitas yang mencukupi berpengaruh besar bagi perkembangan anak dan minat anak dalam proses pembelajaran anak Sekolah Minggu.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan penulis ada beberapa metode dan media yang dilakukan serta digunakan oleh guru Sekolah Minggu dalam mengajar, sama seperti yang di kemukakan oleh Lawrance O. Richards. Tetapi masih banyak

61

(39)

26

juga yang belum digunakan seperti kunjungan dan karya wisata, puisi dan lain-lain. Metode ini tidak digunakan karena waktu dalam mempersiapkan sangat terbatas, dimana para guru sibuk dalam mengurus pekerjaan masing-masing, mengurus keluarga, perkuliahan dan sebagainya. Di GBKP Bida Ayu-Tanjung Piayu media yang ada saat ini belum cukup untuk memenuhi kebutuhan anak, dimana media merupakan salah satu alat dalam proses belajar. Adanya media maka anak-anak akan semakin tertolong dalam pemahaman tentang materi serta membuat anak-anak menjadi lebih tertarik. Pengunaan media terkadang tidak digunakan sebagaimana mestinya, hal ini disebabkan karena para guru yang kurang paham dalam pemakaiaannya. Seperti yang di katakana oleh Laurance O. Richards bahwa guru-guru Sekolah Minggu juga harus mengikuti pelatihan-pelatihan para guru-guru Sekolah Minggu agar memiliki bekal atau pengetahuan terhadap teknik mengajar.

Sebagai guru Sekolah Minggu, seharusnya memiliki mekanisme yang baik agar pengaplikasian metode dan media dapat memberikan perubahan yang baik dalam proses pembelajaran. Guru Sekolah Minggu harus menerapkan hal tersebut atas dasar teori dan praktik. Metode yang diterapkan oleh guru hendaknya dapat menimbukan hasil dari metode tersebut dan harus memiliki pengaruh besar bagi anak misalnya meningkatkan cara berpikir yang kreatif, kritis dan mempengaruhi minat anak untuk tetap hadir serta aktif di dalam kelas. Di dalam pengaplikasian metode dan media harus melihat situasi dan kondisi anak, di mana setiap anak pasti memiliki minat dan daya tarik yang berbeda.

Di GBKP Bida Ayu-Tanjung Piayu majelis gereja dan pengurus KA/KR sudah sangat memperhatikan pelayanan Sekolah Minggu, mulai dari penyediaan media, ruangan, para guru untuk mengajar, serta memberikan dana setiap bulannya kepada pelayanan anak Sekolah Minggu yang digunakan untuk membeli snack dan hadiah-hadiah kecil. Gereja juga sudah memberikan tanda terima kasih kepada guru Sekolah Minggu berupa materi sebesar Rp.10.000 setiap minggunya. Di lihat dari hal-hal tersebut gereja sudah menunjukkan kepeduliannya terhadap pelayanan

(40)

27

Sekolah Minggu, hanya saja ada yang kurang dalam pemenuhan media Sekolah Minggu.

Setelah melakukan observasi ke Sekolah Minggu Bida Ayu-Tanjung Piayu maka hal-hal yang belum bisa di penuhi oleh gereja akan dicatat dan gereja sendiri berharap kekurangan tersebut bisa secepatnya terlaksana dan terpenuhi. Bukan hanya itu saja gereja juga sudah mengusulkan bahwa para guru Sekolah Minggu harus mengikuti pelatihan-pelatihan mengajar dengan kreatif, ini biasanya dilaksanakan di Klasis atau pun di Runggun (jemaat) dengan menghadirkan tamu yang berbasis kepada pelatihan-pelatihan para guru untuk mengajar dengan kreatif.

Gereja, guru Sekolah Minggu dan orang tua sudah cukup memperhatikan proses belajar anak, dilihat dari sebagian anak yang sangat giat untuk hadir dalam pelayanan Sekolah Minggu. Disamping itu ada juga beberapa orang tua berpendapat bahwa Sekolah Minggu hanya sebagai rutinitas saja dimana para anak datang hanya untuk bertemu dengan teman-teman, agar bisa bermain, tanpa ada perkembangan spiritual yang dirasakan dan dilihat oleh orang tua tersebut. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa setiap anak memiliki minat yang berbeda atau tujuan yang berbeda, hanya saja di dalam pelayanan ini para guru harus lebih aktif dalam menggunakan metode dan media secara kreatif untuk mengajar anak Sekolah Minggu atau membuat anak-anak tersebut tertarik dengan proses belajar yang dilaksanakan dan tidak bertumpu pada hal itu saja anak Sekolah Minggu juga harus berkembang secara spiritual dan ilmu pengetahuan lainnya.

Kesimpulan

Setelah melakukan penelitian terhadap metode dan media pembelajaran Sekolah Minggu di GBKP Bida Ayu-Tanjung Piayu dan melakukan analisa dengan memakai teori Lawrance O. Richards, maka penulis menyimpulkan bahwa metode dan media dalam proses pembelajaran Sekolah Minggu sudah cukup baik, tetapi kurang variatif, serta kurangnya keterlibatan anak dalam proses belajar sehingga mengakibatkan hubungan guru dan anak kurang akrab. Metode dan media sebagai

Referensi

Dokumen terkait

Asistensi penugasan kesehatan turbin dan penjelasan materi oleh pembimbing 18 28 September 2020 Pembelajaran mandiri 19 29 September 2020 Asistensi penugasan

Bagian Ring Detektor terdiri dari opto coupler H11AA1 di mana pada saat sinyal dering masuk melalui J1 (konektor ke saluran telephone) menuju ke J2 (konektor ke pesawat

Pelaksanaan tindakan siklus II pada pertemuan II sebagai tindak lanjut dan perbaikan proses pembelajaran dan pemahaman siswa pada pertemuan I, maka pada pelaksanaan

Pembuatan perangkat lunak dengan cara kerja sistem dimulai ketika sensor loop mendeteksi mobil yang tepat berada diatas kawat lilitan, data dari sensor itu dikirim ke

Berdassarkan hasil penelitiandan pembahasan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa tingkat kreativitas mahasiswa prodi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia denngan

Pada menu input laporan penjadwalan order adalah menu yang bisa digunakan untuk mengakses tambah data laporan penjadwalan order. Berikut ini adalah tampilan

Dengan penggunaan metode bermain peran diharapkan dapat menjadi salah satu bahan masukan untuk menurunkan perilaku agresif anak usia 5-6 tahun di TK Ar-Ridho Kecamatan Tampan

Pada bagian-bagian selanjutnya akan diturunkan bahwa parameter mean dan variansi pada distribusi tersebut di dasarkan kepada hasil pendekatan bagi matriks korelasi R, dan..