Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah swt yang telah. memberikan limpahan hidayat dan taufiq serta karunianya sehingga

15  20  Download (0)

Teks penuh

(1)

Histori Ummat Islam Nusantara : Problematika dan Tantangan

(Disampaikan dalam Sarasehan Internasional ”Pertemuan Para Peneliti Islam Asia Tengara”, 29-30 Desember 2013 diselenggarakan oleh

LPPM UIN Suska Riau, di Hotel Ibis, Jln. Soekarno-Hatta, Pekanbaru)

Oleh Prof DR H Budi Sulistiono, M.Hum Universitas Islam Negri, Syarif Hidayatullah Jakarta-Indonesia

ملاسلا

مكيلع

و

محر

ة

الله

هتاكربو

Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah swt yang telah memberikan limpahan hidayat dan taufiq serta karuniaNya sehingga kita semua dapat berjumpa dan berkumpul di tempat yang bahagia ini. Semoga dengan segala aktivitas yang mukhlish menjadi kebaikan kita bersama. Amien

Tema ”Histori Ummat Islam Nusantara : Problematika dan

Tantangan” yang diminta oleh penyelenggara Sarasehan Internasional

”Pertemuan Para Peneliti Islam Asia Tengara”, setidaknya menjadi ide tentang perlunya wacana pemahaman ke arah pengertian bersama, memang tepat, mendesak dan perlu. Hal yang mendasari dipilihnya tema ini – dan mudah-mudahan kita masih dalam satu persepsi, adalah kenyataan bahwa bentangan wilayah Nusantara di masa lalu merupakan salah satu wilayah yang memiliki kedudukan penting. Secara geografis Indonesia, Malaysia, Brunei, Philippines, Thailand, Myanmar, dipisahkan oleh bentangan laut. Saat ini mungkinkah kita

(2)

sepakati bahwa eksistensi bentangan laut sebagai tanda pemersatu kita ? Semoga.

Kiprah Ulama dan Pesantren

Sungguh aneh, jika kita sering membicarakan “Kesultanan” (dan peninggalan-peninggalannya) tak sesering mengingat apalagi membicarakan proses : bagaimana kesultanan itu dibentuk, dibangun ? Paling tidak, dari soal awal kedatangan masyarakat Muslim, kemudian berkembang, hingga terwujudnya sebuah kekuatan politik dalam wujud Kesultanan adalah hasil jerih payah dan upaya dari banyak profesi, (a.l. ekonom, agamawan/ulama, politikus, saudagar, dsb). Untuk sampai terwujudnya Sumber Daya Manusia (SDM) professional Muslim itu tentu tidak sedikit pernah terselenggara untuk

menimba ilmu pengetahuan melalui wadah dalam wujud

pesantren/surau/dayah/madrasah. Pondok Pesantren/ surau / dayah, dan atau yang semisal adalah lembaga pendidikan Islam tertua di Nusantara yang telah berfungsi sebagai salah satu benteng pertahanan Ummat Islam, pusat dakwah, pusat menimba ilmu pengetahuan, dan pusat pengembangan masyrakat Muslim, dan sekitarnya di Nusantara, sebagai wujud nyata peran aktif dakwah islamiyyah.

Terkait peran aktif dakwah islamiyyah adalah sesuai dengan ajaran agama Islam, setiap Muslim adalah “da’i”/ muballigh. Para muballigh, guru agama Islam mempunyai tugas khusus menyiarkan agama Islam. Melalui suasana keteladanan, kontinuitas antara penerima dan penyebar terus terpelihara dan dimungkinkan sebagai sistem

(3)

pembinaan calon-calon pemberi ajaran tersebut, adalah santri-santri pandai, yang telah lama belajar seluk-beluk agama Islam di suatu pesantren/surau/dayah/madrasah kemudian kembali ke daerahnya, akan menjadi pembawa dan penyebar ajaran Islam yang telah diperolehnya. Keberadaan mereka secara khusus telah mempercepat proses berkembangnya wilayah pengaruh Islam. Mereka kemudian mendirikan pondok-pesantren, rangkang, surau, dan atau semisalnya.

Dalam konteks keberadaan pesantren/ dayah/ surau, dan yang semisalnya, menunjukkan bahwa proses belajar mengenali dan memahami tentang Islam telah diajarkan melalui pendidikan yang diajarkan dan di bawah pengelolaan atau bimbingan seorang guru, ustadz, teungku, ulama, ajeungan, kyai, dan sebagainya. Tempat-tempat pendidikan tersebut biasanya didirikan di dekat masjid atau rumah guru, pelajaran yang diberikan di antaranya : baca-tulis Arab.

Sebagai lembaga tempat penggemblengan calon guru, ulama, intelectual, kini sudah saatnya ditulusuri sejumlah potensi arkeologi yang dimilikinya (masjid, rumah kyai, rumah guru, pondok santri, dsb). Sasaran yang mendesak adalah pesantren/dayah/pondok dalam kategori “induk”. Seberapa jauh kita memiliki data mereka dalam wujud budaya materialnya ?

Di tiap pesantren hampir pasti ada tokoh teladan. Keteladanan mereka bisa berwujud antara lain melalui ide/pemikiran untuk kemudian dituangkan dalam tulisan. Varian karya tulis apa saja yang pernah mereka tulis ? Bagaimana corak bentangan varian karya tulis

(4)

melesat berkembang di antara santri alumninya di berbagai daerah ? Bagaimana corak pemilihan lokasi, tata ruang pesantren ?

Semoga saja di antara kita telah berhasil himpun data mereka baik berupa materiel mau pun non materielnya. Apa pun kondisinya, dari masa ke masa Muslim Nusantara adalah mayoritas. Suasana mayoritas ini setidaknya sebagai wujud nyata dari nilai strategis dari dakwah Islamiyah masa lalu melalui "keteladanan" hingga mendorong terjadinya konvensi massal kepada Islam, muncul kemudian aktivitas bukan hanya di sektor perdagangan, melainkan juga dalam bidang politik, dan diplomatik. Fakta historis inilah yang kemudian menghantarkan terwujudnya kekuatan politik dalam bentuk Kesultanan, secara bertahap berdiri di bentangan wilayah geografis Nusantara.

Tumbuh & Berkembang Kesultanan

Boleh jadi, informasi sejumlah aktivitas keulamaan masyarakat dalam wilayah Kesultanan Jeumpa, Kesultanan Peureulak, (Nanggroe Aceh Darussalam) dan lain-lain akan bisa dijadikan indikasi pertumbuhan hingga perkembangan masyarakat Muslim dalam sejumlah kelompok dari masa ke masa yang sangat berpengaruh dalam berbagai wilayah Nusantara.

Perkembangan masyarakat Muslim Nusantara secara besar-besaran pada abad 13 M – kian memiliki kekuatan politik yang berarti, yaitu ditandai dengan berdirinya beberapa Kesultanan Islam seperti

(5)

Kesultanan Melaka, Samudera Pasai, Aceh Darussalam, Demak, Cirebon, serta Ternate-Tidore. Dari Melaka, Islam didakwahkan antara lain ke daerah Kampar, Indragiri, dan Riau, Jawa, Kalimantan Barat, Brunei, Sulu dan Mindanau (Filipina Selatan).. Dari Aceh, Islam meluas sampai ke Minangkabau, Bengkulu, dan Jambi. Melalui Riau, Islam membentang hingga wilayah Kalimantan Barat. Di Pulau Jawa, penyiaran agama Islam dilakukan terutama oleh para wali yang dikenal dengan sebutan Walisongo. Strategi dakwah yang mereka terapkan telah berhasil meluaskan wilayah pengaruh Islam dari Demak ke Banjarmasin. Sultan Samudra – atas bantuan Demak, sebagai raja pertama kerajaan Banjarmasin masuk Islam. Ia kemudian memakai gelar Maharaja Suryanullah. Ketika Suryanullah naik tahta, beberapa daerah sekitarnya sudah mengakui kekuasaannya, yakni daerah Sambas

(Kalimantan Barat), Batang Lawai (Kalimantan Barat)1, Sukadana2

(Kalimantan Barat), Kotawaringin3 (Kalimantan Tengah), Sampit4

(Kalimantan Tengah). Adapun Lombok, menurut tradisi diislamkan oleh Sunan Prapen, dari Giri, Gresik, Jawa Timur. Banten yang diislamkan oleh Demak meluaskan dan menyebarkan Islam ke Sumatra Selatan.

1 Kesultanan Banjar menyebutnya Batang Lawai yang mengacu pada nama daerah Lawie

atau Lawai (sekarang Kabupaten Melawi) sehingga nama sungai yang mengalir dari Kabupaten Melawi hingga muaranya di sekitar kota Pontianak disebut Sungai/Batang Lawai.

2 abad 17 M di Sukadana merupakan pusatnya pelabuhan terbesar dan memiliki pasar besar

di Kalbar, bahkan terkenal sebagai sumber intan berliannya.

3 Kotawaringin merupakan nama yang disebutkan dalam Hikayat Banjar dan Kakawin

Negarakretagama, seringpula disebut Kuta-Ringin, karena dalam bahasa Jawa, ringin berarti beringin. Lihat John Crawfurd, A descriptive dictionary of the Indian islands & adjacent countries, Bradbury & Evans.

4 salah satu kota terpenting di Provinsi Kalimantan Tengah Saat ini Sampit sebagai ibu kota

(6)

Kesultanan terbesar di Kepulauan Maluku abad ke 14-16 M adalah Kesultanan Ternate. Sejak abad ke-10 M terkenal sebagai pusat perdagangan rempah-rempah. Kapal-kapal dari Jawa, Malaka, dan Arab secara teratur berlayar ke sana. Pada awalnya, Kesultanan itu menganut animisme. Namun setelah Sultan Zainal Abidin (1486-1500), raja Ternate ke-19 kembali dari Giri, Gresik, Jawa Timur dan menyandang gelar Sultan, agama Islam menjadi agama resmi Kesultanan. Dari Ternate semakin meluas meliputi pulau-pulau di seluruh Maluku, daerah pantai timur Sulawesi, Hitu, Buton, Selayar, serta Lombok.

Sejak Gowa-Tallo5 atau Makassar tampil sebagai pusat

perdagagan laut, kerajaan ini menjalin hubungan yang baik dengan Ternate, suatu Kesultanan pusat cengkeh, yang telah menerima Islam dari Giri / Gresik, di bawah kekuasaan Sultan Babullah, Ternate mengadakan perjanjian persahabatan dengan Gowa Tallo. Pada saat yang sama, raja Ternate berusaha mengajak penguasa Gowa Tallo untuk

ikut menganut agama Islam, tetapi gagal. Pada waktu Dato’ ri Bandang6

5 Letak Kerajaan Goa Tallo di semenanjung barat daya pulau Sulawesi sangat

strategis dilihat dari sudut perdagangan rempah-rempah di Kepulauan Nusantara ini. Sebagai suatu daerah pelabuhan transito, Kerajaan Goa-Tallo memainkan peranan penting. Di sekitar tahun 1600 M, rempah-rempah yang dapat dibeli di pelabuhan ini seringkali lebih murah daripada di Maluku sendiri. Lihat Meilink Roelofs, Asian Trade and European

Influences in the Indonesian Archipelago Between 1500 and about 1630, (The Hague : Martinus

Nijhoff, 1962)

6 Tokoh yang kemudian dikenal Dato’ ri Bandang ini adalah salah seorang tokoh

Ulama asal Minangkabau bernama Abdul Ma’mur Chotib Tunggal (Abdurrazak Daeng Patunru, Sedjarah Gowa, (Makassar, Jajasan Kebudajaan Sulawesi Selatan,1969). Dua temannya Chotib Sulaiman yang kemudian bergelar Dato’ri Pattimang, mengislamkan daerah Luwu dans eorang temannya lagi, Chotib Bungsu mengajarkan Tasawuf dan mengislamkan daerah Tiro, sehingga ia lebih dikenal dengan nama Dato’ ri Tiro (Ibid). Nama Dato’ri Bandang juga dikenal di Buton, Selayar, dan Lombok sebagai penyebar Islam

(7)

datang ke Gowa-Tallo, agama Islam masuk ke kerajaan ini. Sultan Alauddin (1591-1636) adalah sultan Gowa-Tallo yang pertama

menganut Islam pada tahun 16057. Dua tahun berikutnya, rakyat Gowa

dan Tallo diislamkan seperti terbukti dengan dilakukannya sembahyang

Jum’at bersama di Tallo pada 19 Rajab 1068 H/ November 1607 M8.

Selain gerak estafet yang pernah dipentaskan oleh sejumlah kesultanan tersebut menarik untuk kita lebih mencermati keberadaan dan fungsi pelabuhan-pelabuhan yang ditumbuh kembangkan oleh masyarakat Muslim, juga tahapan pemberdayaan varian komoditas yang menjadi kehidupan masyarakat agraris. Dalam sejarah pelayaran Nusantara, jauh sebelum kedatangan orang-orang Eropa di perairan Nusantara pada paruh pertama abad XVI, pelaut-pelaut negeri ini telah menguasai laut dan tampil sebagai penjelajah samudra. Kronik China serta risalah-risalah musafir Arab dan Persia menorehkan catatan agung tentang tradisi besar kelautan nenek moyang bangsa Indonesia. Sebutan kalimat dalam judul lagu “nenek moyangku seorang pelaut“, siapa mereka sebenarnya ? Bukti-bukti yang tidak dapat dielakkan adalah pertumbuhan lokasi-lokasi persinggahan secara geografis tumbuh menjadi perkotaan lebih cepat dibandingkan dengan lokasi-lokasi yang jarang disinggahi atau hanya sebagai lokasi lintasan pelayaran saja. Inilah proses pertumbuhan baik

di daeah tersebut (Hasan M Ambary, Menemukan Peradaban :Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia, (Jakarta ; Logos, 1998).

7 Mattulada,”Sulawesi di Sulawesi Selatan”, dalam Taufik Abdullah, (ed.), Agama

dan Perubahan Sosial, (Jakarta : Rajawali Press, 1985).

(8)

kota-kota di pantai Selat Malaka, pantai utara Jawa dan lainnya. Kehadiran dan keberadaan kota-kota Muslim, sudah saatnya untuk dicermati, utamanya di seputar Tataruang kota.

Tatakota, menurut Wertheim9, dibuat secara tradisional dan

direncanakan oleh penguasa yang lebih tinggi atas perintah raja. Tata kota yang masih asli itu mudah dikenal pada sejumlah denah kota-kota Kesultanan di Jawa, yaitu adanya alun-alun yang terletak di tengah-tengah kota, bagunan-bangunan terpenting didirikan secara tradisional di jalan-jalan lurus berpotongan membentuk bujur sangkar. Demikian halnya dengan arah hadap Kesultanan - pada masa pertumbuhan dan perkembangan Islam di Jawa umumnya mengarah ke utara, Kesultanan Banten, di Surosowan, misalnya. Bangunan-bagunan lain yang didirikan di sisi barat alun-alun adalah Masjid. Sesuai dengan fungsinya sebagai masjid yang terletak di pusat kota dan dipergunakan untuk sholat lima waktu, sholat Jum'at dan sholat hari-hari raya Islam, maka masjid semacam itu dinamakan masjid Jami', masjid Agung, masjid Raya. Di Banten, kecuali masjid Agung didapatkan juga masjid di dekat kampung Pacinan yang kini tinggal reruntuhannya.

Kecuali tempat peribadatan yang biasanya juga menjadi ciri penting bagi kota adalah adanya pasar, meskipun tidak hanya terdapat di kota-kota. Jika kota merupakan tempat himpunan masyarakat dari berbagai tempat yang kehidupannya lebih menitik beratkan pada perdagangan , maka jelaslah fungsi pasar sebagai pusat

(9)

perekonomian kota, sangat penting. Di dalam kota, ada lebih dari satu pasar dan letaknya tidak selalu dekat dengan alun-alun tetapi ada juga yang dibuat dekat dengan perkampungan para pedagang. Di Banten, sekitar abad ke-16 M terdapat beberapa pasar, di antaranya ada yang terletak di Pacinan dan Karangantu.

Di dalam kota, selain terdapat tempat peribadatan, pasar,

bangunan untuk penguasa, terdapat juga

perkampungan-perkampungan. Perkampungan itu ada yang didasarkan pada status sosial-ekonomi, status keagamaan, status kekuasaan dalam pemerintah. Biasanya tempat perkampungan untuk para pedagang Asing ditentukan oleh masing-masing penguasa kota. Di Banten, terdapat perkampungan pedagang dari Persia, Arab, Turki, kemudian untuk menyebut lokasi pemukiman itu muncul istilah "Pakojan"10.

Juga datang pedagang dari Cina, kemudian muncul istilah "Pecinan" - di tempat ini ditemukan dan masih dapat dikenali sisa rumah kuno bercorak Cina dan sejumlah orang-orang Cina. Di lokasi pemukiman ini juga ditemukan keramik dari masa Sung (960-1280), Yuan (1280-1368), Ming (1368-1643), Ching (1644-1912)11. Selain orang Asing,

masyarakat pribumi di Banten juga membentuk semacam perkampungan pedagang yang berasal dari berbagai daerah : Melayu, Ternate, Banda, Banjar, Bugis, Makassar. Kenyataan ini membuktikan bahwa Banten merupakan pusat perdagangan yang ramai dikunjungi

10 Istilah "Pakojan" bahasa Persia untuk menyebutkan tempat-tempat pedagang

besar Muslim asal Cambay-Gujarat, Mesir,Turki,Goa.

11 Mundardjito, Hasan Muarif Ambary, dan Hasan Djafar, "Laporan Penelitian

(10)

para pedagang dari berbagai wilayah Nusantara, dan dari negeri Asing.

Perkampungan-perkampungan tersebut ada yang ditempatkan di dalam pagar tembok kota dan ada pula di luarnya. Di Banten, hingga kini masih dapat disaksikan kampung Pakojan, meskipun tempat itu sudah tidak dihuni, terletak di sebelah barat bekas pasar kuno Karangantu, atau timur laut keraton Surosowan. Sampai akhir abad ke-19 M, Serrurier yang datang ke Kota Banten Lama - walaupun telah ditinggal penduduknya - masih dapat dicatat adanya 33 pemukiman penduduk Islam, menurut hasil klasifikasi yang dibuatnya : (1) pengelompokan atas dasar ras dan suku, terdiri dari

kebalen (pemukiman orang Bali), karoya (pemukiman orang Koga,

dari India), dan karangantu (pemukiman orang Asing lainnya); (2) pengelompokkan atas dasar keagamaan, terdiri dari kapakihan (pemukiman kaum ulama), dan kasunyatan (pemukiman orang suci); (3) pengelompokan atas dasar sosial-ekonomi, terdiri dari Pamarican (tempat menyimpan lada), pabean (tempat menarik pajak);

panjaringan (pemukiman nelayan), pasulaman (tempat kerajinan

sulam), kagongan (tempat pembuatan gong), pamaranggen (tempat pembuatan keris), pawilahan (tempat kerajinan bambu), pakawatan (tempat pembuatan jala), pratok (tempat pembuatan obat), kepandean (tempat pembuatan alat-alat senjata); (4) Pengelompokan atas dasar status dalam pemerintahan dan masyarakat, terdiri dari kawangsan (tempat pemukiman Pangeran Wangsa), kaloran (tempat pemukiman

(11)

Pangeran Lor), kawiragunan (tempat pemukiman Pangeran Wiraguna), kapurban (pemukiman Pangeran Purba), kabantenan (pemukiman pejabat pemerintah), kamandalikan (pemukiman Pangeran Mandalika), keraton (pemukiman Sultan dan keluarganya), dan kesatrian (pemukiman tentara)12.

Dengan mencontoh tataruang dan klasifikasi hunian di kota Banten, adakah persamaan dan perbedaan tataruang kota di pusat-pusat pemerintahan Kesultanan yang lain ?

Melalui sejumlah aktivitas penelitian di berbagai lokasi/ kota kian akan mendekatkan ke arah mendapatkan limpahan data. Jika situs Kesultanan, Situs Pemukiman, Situs Masjid, Situs Benteng, Situs Pasar, situs kampung Kerajinan (al.tradisi ukir, arsitektur, batik), Industri (Senjata, desain kapal-kapal, dsb), berhasil ditemukan, maka pantaslah Kota-kota tersebut sesuai dengan kapasitasnya sebagai pusat pemerintahan (Kesultanan), juga dapat disebut pusat perdagangan, ramai dikunjungi para pedagang domestik maupun luar negeri. Dan bagi siapa saja yang pernah berwisata atau berziarah ke kota-kota itu, sudah pasti semakin yakin bahwa kota-kota itu, benar-benar sebuah Kota Metropolitan, Pusat Kekuasaan, Kota Maritim, Kota Pelabuhan. Bahkan kota-kota itu dapat disebut sebagai salah satu pusat dakwah Islam, kondisi ini dapat ditelusuri dari suasana feedback limpahan peziarah dari hari ke hari yang berdatangan dari berbagai kota di luar wilayah kota-kota tersebut.

(12)

Feedback limpahan peziarah ditandai adanya komplek makam. Di dalam komplek makam masih banyak disaksikan varian bangunan Nisan Makam. Kehadiran nisan-nisan di komplek pemakaman Islam di Nusantara merupakan semacam atribut atau tanda pemakaman orang Islam. Makam-makam Islam awal di berbagai tempat merupakan data arkeologi. Sebagai data arkeologi umumnya tidak dapat dihindari sebagai konsekuensi data yang berkesinambungan dengan konteks sistem perilaku pada masa-masa berikutnya. Tatalaku, laku dan hasil laku penguburan (disposal off the death atau corpse disposal) bersumber pada gagasan atau idea (concepta) baik yang bersifat realitas masyarakat (sociology) maupun religius-ideologis (Macro-Micro cosmos, dan persepsi mengenai hidup setelah hidup atau hidup sesudah mati). 13

Prasasti masa Islam terdapat pada beberapa batu nisan, yang ditemukan hampir di seluruh situs bekas kerajaan bercorak Islam. Data yang tertuang pada prasasti tersebut, antara lain pesan yang merujuk pada datang dan berkembang Islam di Indonesia. Sebagai prasasti masa Islam, tulisan Arab mendominasi di dalamnya, dan merupakan ciri khas yang menunjukkan pengaruh Islam di Indonesia.

Di antara jenis huruf Arab yang ditemukan : Kufi.14 Makam di Pulau

13 Hasan Mu'arif Ambary, 1991, ”Makam-Makam Kesultanan dan Para Wali

Penyebar Islam di Pulau Jawa", Aspek-Aspek Arkeologi Indonesia, No.12, Jakarta : Pusat Penelitian Nasional

14 Secara historis, tidak diketahui persis kapan aksara (huruf) Arab kian gencar dipakai di

berbagai bahasa daerah, terutama Melayu dan Jawa. Sejumlah ahli, sementara itu hanya bisa mengatakan, hal itu terjadi seiring dengan sosialisasi Islam di wilayah Nusantara. Dan sejak kapan

(13)

Serangan, Bali ada yang berinskripsi huruf Arab dan Bugis. Sedang bahasa yang dituliskan adalah Arab, Melayu/ Indonesia, dan Bugis. Ada yang berangka tahun, berhias medalion motif ceplok kembang, Arabesque (hiasan suluran di dalam panil)15. Di komplek makam

Troloyo16 , terdapat sekitar 10 makam dengan nisan berprasasti aksara

Arab, selain yang beraksara Jawa Kuna. Menurut LC Damais 17(1957

:392-408), angka tahun tertua yang termuat dalam sejumlah nisan yang beraksara Jawa Kuna itu, menunjuk angka tahun 1203 Caka atau 1281 Masehi, sementara angka tahun termuda adalah 1533 Caka atau 1611 Masehi. sebuah makam yang memuat nama tokoh, angka tahun wafatnya dengan aksara dan bahasa Arab, yang menunjukkan pada nama ”Zainuddin, wafat tahun 874 Hijriah”. Selain kaligrafi Arab dan Jawa Kuna, di kompleks makam ini juga dijumpai pola hias "Sinar", dan karena bertempat di lokasi bekas kerajaan Majapahit, maka sangat dikenal dengan pola hias "Sinar Majapahit".

Melalui uraian di atas semakin mendekatkan keyakinan bahwa peninggalan yang penting bagi arkeologi sebagai hasil tindakan masa lampau masyarakat Muslim Indonesia tidak hanya berupa : masjid, situs

Islam terserap di varian wilayah Nusantara ini, juga masih menjadi pembicaraan hangat, meski bisa dipastikan antara abad ke-7 dengan berpedoman pada berita aksara Arab yang terukir pada nisan makam Fatimah binti Maimun, yang wafat tahun 1080 Masehi

15 Nampaknya Bugis merupakan etnis dominan yang hadir di tempat ini, karena orang-orang

Bugis lebih dikenal mempunyai keahlian berlayar dan suka merantau. Jika asumsi ini dapat diterima, sejak abad ke-16 M orang Bugis sudah mengenal bahkan melakukan kontak dengan pulau Bali. Dan sejarah mencatat, bahwa pada abad ke-17 M meletus perang antar kerajaan Gowa dengan VOC. Kampung Bugis, Wajo, Bajo, dapat dijumpai di Bali, misalnya di Jembrana.

16 Komplek makam ini terletak di desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Mojokerto. 17 L.C.Damais, 1957, "Etudes Javanais I, Les Tombes Musulmanes Detees de Tralaya",

(14)

perkotaan, kompleks makam, keraton, melainkan juga pernaskahan, situs dermaga, situs pasar, situs pemukiman, situs pesantren, dan sebagainya.

Namun, keberadaan sejumlah situs di atas hingga kini masih banyak permasalahan :

Masalah pertama, ialah lemahya informasi yang diperoleh dari laporan-laporan inventarisasi di Indonesia khususnya mengenai situs-situs masa Islam, berikut kelengkapan lampiran petanya. Sebenarnya, sejak masa penjajaahan Belanda, para ahli arkeologi dan filologi banyak memberikan perhatian yang besar dan telah melakukan survai secara berkesinambungan dengan intensitas tinggi terhadap situs-situs pusat dakwah Islamiyah. Tanpa bermaksud mengurangi jasa dan keberhasilan para ahli arkeologi pendahulu, wajarlah kita dapat menganggap bahwa informasi yang mereka himpun tersebut dalam batas-batas tertentu memiliki nilai data yang cukup dapat dipercaya dan bermanfaat. Namun, dalam kenyataannya masih banyak nama tempat / lokasi pusat Dakwah Islamiyah yang belum dikenali apalagi disurvai.

Masalah kedua, banyak nama tempat/ lokasi yang disebut-sebut dalam sejumlah naskah, seringkali tidak disebutkan dimana letaknya/ keberadaannya ? Ada sebagian naskah yang menyebut nama tempat yang terletak di suatu wilayah atau daerah tertentu. Tapi untuk rentang waktu yang panjang (hingga masa kini) ada sejumlah nama tempat/

(15)

lokasi yang sama, nyatanya nama tempat itu juga ada dalam wilayah yang berbeda.

Masalah ketiga, banyak nama tempat/ lokasi yang disebut-sebut dalam naskah, tapi tidak tercantum dalam lembaran peta topografi. Sekalipun ada sebagian yang dicantumkan dalam lembaran peta topografi, tapi masih banyak kesulitan menjumpainya di lokasi karena ada sebagian nama tempat/ lokasi yang dimaksud telah mengalami perubahan bukan saja nama melainkan status dan kedudukannya di daerah/ wilayah (hirarki administrasi wilayah).

Allahu a’lam bish-showab, fastabiqul khoirot

ملاسلاو

مكيلع

ةمحرو

الله

هتاكربو

Tebet, Jakarta, 25-12-2013

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di