CATATAN RAPAT PROSES PEMBAHASAN RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA II

Teks penuh

(1)

CATATAN RAPAT

PROSES PEMBAHASAN RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG

PERADILAN TATA USAHA NEGARA

Tahon Sidang Masa Persidangan Rapat ke Jenis Rapat Dengan Sifat Rapat Hari, tanggal Pukul Tempat Ketua Rapat Sekretaris Rapat Acara Rapat Hadir I. ANGGOTA TETAP: 1. DR. A. A. Baramuli, S.H. 2. Qamciwar, S.H. 3. Soelaksono, S.H. 1986 - 1987 II 8

Rapat Kerja Panitia Khusus ke-5 Menteri Kehakiman

Terbuka

Selasa, 21 Oktober 1986 09.00 - 11.55 WIB

Ruang Sidang Panitia Khusus DPR-RI DR. A. A. Baramuli, S.H.

Ors. Noer Fata

Melanjutkan pembahasan Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) Rancangan Undang-undang tentang Peradilan Tata Usaha Negara

I. PANITIA KHUSUS

29 dari 38 orang Anggota Tetap 11 dari 19 orang Anggota Pengganti. II. PEMERINTAH :

Menteri Kehakiman dan Staf.

4. Dudy Singadilaga, S.H. MPA. 5. H.M. Munasir

(2)

6. Imam Sukarsono, S.H.

7. M. Said Wijayaatmadja, S.H.

8. Harry Suwondo, S.H.

9. Ors. F. Harefa, S.H.

10. M.S. Situmorang

11. A.S.S. Tambunan, S.H.

12. Mohammad Noer Madjid, S.H.

13. Prof. Soehardjo Sastrosoehardjo, S.H.

14. Warsito Puspoyo, S.H.

15. Suhadi Hardjosutarno, S.H.

16. Soeboeh Reksojoedo, S.H

17. Ors. Rivai Siata

18. M. Zainuddin Wasaraka

19. Muljadi Ojajanegara, S.H.

20. Ors. Sawidago Wounde

21. A. Madjid Ewa, S.H.

22. J. Soedarko Prawirojoedo

23. Soetomo HR, S.H.

24. H. Adnan Kohar S.

25. H. M. Ojohan

Barhanuddin

A, S.H.

26. Tgk. H.M. Saleh

.

27. H. Ojamaluddin Tarigan

28. Ors. H. Mustafa Hafas

29. Ors. Ruhani Abdul Hakim.

II. ANGGOTA PENGGANTI

1.

Soeharto

2. Amir Yudowinamo

3. Sutjipto, S.H.

4. A. Latief, S.H.

5. H.R. Soedarsono

6. Ny. Ora. H. Nasjarah M. Effendi

7. Ors. I Made Tantra

8. Ibnu Saleh

9. Suparman Adiwidjaja, S.H.

10. Ors. H. Y ahya Chumaidi Hasan

11. Abdul Hay Jayamenggala

III. PEMERINTAH :

l. Ismail Saleh, S.H

2. lndroharto, S.H.

3. Roeskamdi, S.H.

4. Anton Soedjadi, S.H.

5. Marianna Sutadi, S.H.

- Menteri Kehakiman

Staf

Staf

Staf

Staf

(3)

6. Setiawan

7. Ny. Fatimah Achyar

8. Ny. Mariatulazma Saleh, S.H. 9. Dr. Paulus Effendi L, S.H. 10. Amarullah Salim l 1. Wicipto

Setiadi,_ S.H.

12. Dewi Maryun 13. Rahardjo 14. S u d j ad i Staf Staf Staf Staf Staf. Staf Staf Karo Humas

- Staf Humas Dep. Keh.

KETUA RAPAT (DR. A. A. BARAMULI, S.H.):

Saudara-saudara sekalian, berdasarkan laporan dari Sekretariat maka semua unsur sudah hadir, sehingga lanjutan rapat Panitia Khusus yang terakhir kita lakukan pada tanggal 3 Oktober 1986 dapat kita buka hari ini pada tanggal 21 Oktober 1986 pukul 09.05 WIB, dengan ini rapat Pansus saya buka, saya nyatakan terbuka untuk umum.

Berdasarkan keputusan daripada rapat Panitia Khusus waktu yang lalu kita telah menerima notulen/risalah yang telah dibagikan kepada Saudara-saudara, yaitu risalah pada tanggal 30 September, tanggal 1 Oktober, tanggal 2 Oktober dan tanggal 3 Oktober, jadi ada 4 risalah, yang saya harapkan sudah diterima oleh Sauara-saudara sekalian dan dalam hal ini juga oleh Pemerintah. Berdasarkan ketentuan dari Tata Tertib; maka setelah 4 hari berada di tangan Saudara-saudara bilamana tidak ada perubahan, maka risalah ini dianggap telah diterima, sehingga kami menempuh jalan, yaitu bilamana ada ingin menyampaikan perubahan supaya menyampaikannya kepada Pimpinan untuk dapat diselesaikan dengan Sekretariat. Jadi tidak memerlukan pembicaraan khusus untuk risalah ini. Apakah Saudara-saudara menyetujui cara begini?

(RAPAT SETUJU)

Dengan demikian perkenankanlah kami untuk memasuki pembicaraan tentang Daftar Inventarisasi Masalah yang telah kita bicarakan bersama pada tanggal 3 Oktober yang lalu dan telah kita selesaikan sampai dengan Pasal 3. Dan dengan demikian pada hari ini dapat kita lanjutkan untuk bagian kedua tentang kedudukan Pasal 4 dan seterusnya. Dengan permintaan dari Pimpinan supaya diperhatikan oleh Saudara-saudara sekalian apa yang hendak kita capai dalam rapat Panitia Khusus yang sudah kita sepakati akan selesai selambat-lambatnya tanggal 4 Nopember sesuai dengan acara yang telah kita susun bersama. Bilamana dapat diselesaikan sebelumnya, maka itu tidak menjadi halangan, tetapi diharapkan dapat diselesaikan selambat-lambatnya tanggal 4 Nopember.

Dengan mengucapkan : Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, salam sejahtera dan tetap Merdeka, marilah kita meneruskan pembahasan kita di

(4)

Pasal 4 dari pada DIM halaman 8. Sebagaimana biasa sistemnya tidak berubah, mekanismenya tetap seperti yang telah kita sepakati, maka perkenankan Pimpinan untuk membacakan isi Pasal 4 bagian kedua adalah Kedudukan. Pasal 4 : "Peradilan Tata Usaha Negara adalah salah satu pelaksana kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan terhadap sengketa Tata Usaha Negara".

Dari FABRI tidak ada komentar. Dari FKP kami silakan, ada komentar. Silakan FKP.

FKP (DRS. SA WIDAGO WOUNDE) :

Saudara Ketua, Saudara Menteri, rekan-rekan yang saya hormati, dalam Pasal 4 ini FKP merasakan atau melihat bahwa yang menjadi pencari keadilan itu nantinya bukan hanya rakyat biasa, oleh sebab itu di sini diusulkan supaya kata "rakyat" itu dihapuskan, sehingga seluruhnya berbunyi : "Peradilan Tata Usaha Negara adalah salah satu pelaksanaan kekuasaan kehakiman bagi pencari keadilan terhadap sengketa Tata Usaha Negara".

Demikian pendapat FK.P, terima kasih.

KETUA RAPAT:

Saya kira jelas yang dimaksud. Jadi selain "rakyat" juga ada yang lain, misalnya badan hukum lainnya.

FKP (DRS. SA WIDAGO WOUNDE) :

Maksudnya yang akan bisa menuntut di Peradilan Tata Usaha Negara itu nanti bukan hanya rakyat Indonesia (Warga Negara Indonesia) tetapi juga bisa Warga Negara Asing.

KETUA RAPAT :

Itu lebih jelas. Saya persilakan sekarang dari FPDI.

FPDI (SOETOMO HR, S.H.) :

Saudara Ketua, Saudara-saudara Anggota Panitia Khusus dan Saudara W akil Pemerintah, Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Dari FPDI pada kesempatan ini ingin menyisipkan satu kata atau dua suku kata, yaitu "yang merdeka". Biasanya kata "merdeka" itu kita sukai bersama terutama Pak Karsono, yaitu : "Peradilan Tata Usaha Negara adalah salah satu pelaksana kekuasaan kehakiman yang merdeka bagi rakyat pencari keadilan terhadap sengketa Tata Usaha Negara".

Saudara Ketua, Saudara Wakil Pemerintah dan Saudara-saudarn yang terhormat, di dalam hal ini mengapa FPDI mengajukan tambahan "yang merdeka", dua suku kata yang indah. Dalam hal ini kami mengambil juga dari penjelasan Undang-undang Pokok Kekuasaan Kehakimanan, yaitu bahwa kekuasaan

(5)

kehakiman yang merdeka ini mengandung pengertian di dalamnya kekuasaan kehakiman yang bebas dari campur tangan pihak kekuasaan negara lainnya dan kebebasan dari paksaan, direktifa atau rekomendasi yang datang dari pihak ekstra judisiil kecuali dalam hal-hal yang diijinkan oleh undang-undang. Jadi dalam hal ini menurut fraksi kami, kekuasaan kehakiman ini seyogianya dipertegas, yaitu "kekuasaan kehakiman yang merdeka".

Demikianlah Saudara Ketua, terima kasih. KETUA RAPAT:

Kalau mengenai pendapat dari FKP, dari FPDI ada usul atau pendapat. Kami silakan.

FPDI (SOETOMO HR, S.H.) :

Mengenai usul dari rekan kami FKP karena motivasinya juga jelas, ini agak berbeda dengan peradilan umum, sebab ini rupanya juga diambil dari undang-undang Peradilan Umum, maka dari kami pun tidak keberatan mana kala "rakyat" itu dihapus "bagi pencari keadilan". Jadi kalau itu dikombinir dengan usul dari FPDI, jadi: "Peradilan Tata Usaha Negara adalah salah satu pelaksana kekuasaan kehakiman yang merdeka bagi pencari keadilan terhadap sengketa Tata Usaha Negara".

Demikianlah Saudara Ketua, terima kasih. KETUA RAPAT:

Jelas dari FPDI, kami silakan dari FPP.

FPP (H.M. DJOHAN BURHANUDDIN A, S.H.) :

Saudara Ketua dan Saudara W akil Pemerintah yang kami hormati dan Saudara-saudara sekalian di dalam DIM memang FPP tidak mencantumkan permasalahan, tetapi tertarik memang apa yang diungkapkan pada pembicaraan sekarang ini fraksi kami dapat menerima usul dari FKP, yaitu kata "rakyat" dihilangkan.

Selanjutnya menanggapi apa yang dikemukakan oleh FPDI kami tidak berkeberatan, jadi dapat menyetujui apa yang diusulkan FKP dan kami tidak ke beratan atas usul FPDI.

Terima kasih. KETUA RAPAT :

Jadi jelas juga dari FPP, terima kasih. Saya silakan dari FABRI. F ABRI (IMAM SUKARSONO, S.H.) :

Terima kasih Saudara Ketua dan SaudaraWakil Pemerintah. Di dalam DIM FABRI tidak mencantumkan usul, berarti sama dengan apa yang dicatat oleh Pemerintah. Di sini kalau saya ditanyakan, bagaimana pendapat FABRI terhadap saran dari FKP untuk menghilangkan kata "rakyat" ini saya ingin meninjau kembali

(6)

bahwa di dalam undang-undang kita lihat, bahwa yang dimaksud dengan "rakyat pencari keadilan ialah setiap orang, Warga Negara Indonesia atau bukan yang mencari keadilan pada pengadilan Indonesia". Jadi Undang-undang Peradilan Umum mencantumkannya demikian. Jadi kalau kita mengacu kepada peradilan umum ini sudah sama tanpa dihilangkan kata "rakyat" yang dimaksud seperti tadi. Demikian Saudara Ketua, lalu barangkali akan ditanyakan kepada Saudara dari FPDI. Kalau semua setuju tidak keberatan ditambahkan "kekuasaan kehakiman yang merdeka".

Terima kasih Saudara Ketua. KETUA RAPAT :

Terima kasih FABRI. Jadi FABRI menunjuk kepada penjelasan dari Undang-undang Nomor 2 Tahun 1986 tentang arti "rakyat pencari keadiJan".

Jadi kalau demikian halnya, tentunya secara sistematis interpretasi atau analogi interpretasi itu tidak bisa begitu saja mesti ada sistematikanya. Sehingga memang pengertian ini saya serahkan kembali sebeJum Pemerintah memberikan jawaban, apakah FKP mau memberikan komentar atas usu] ini? Dari FKP apakah ada tambahan sebelum Pemerintah memberikan penjelasannya?

FKP (DRS. SA WIDAGO WOUNDE) :

Untuk sementara FKP masih tetap pada usulnya. Jadi ada dua alasan yang tadi sudah saya kemukakan, karena bukan hanya rakyat warga negara. Dan yang kedua, karena juga dalam Rancangan Undang-undang ini badan hokum juga diperbolehkan untuk menuntut itu. Badan hukum menurut kita bukan rakyat, jadi dia badan hukum, oleh sebab itu kami untuk sementara masih tetap pada usu! ini sambil menunggu pendapat dari Pemerintah. Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Saya kira jelas yang dimaksud, jadi rakyat dan badan hokum dus badan pri vat lainnya.

Saya persilakan Saudara Menteri Kehakiman yang saya hormati.

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ISMAIL SAl..EH, S.H.) : Saudara Pimpinan dan para Anggota Panitia Khusus yang kami hormati, menanggapi usul dari FKP agar kata "rakyat" dihapuskan, yaitu pertimbangan dari FKP adalah karena yang menggugat itu tidak hanya r~yat Indonesia tetapi juga warga negara asing. Itu alasan yang pertama tadi sebelum mendapatkan tanggapan dari FABRI. Tetapi kemudian ditambah lagi penjelasan oleh FKP bahwa aJasan dihapuskannya kata "rakyat" itu dihubungkan dengan adanya kemungkinan gugatan yang diajukan oJeh badan hukum. Jadi kata "rakyat pencari keadilan" ini kita temukan di dalam Undang-undang Nomor 2 Tahun 1986. Dan memang benar sebagaimana tadi dikemukakan oleh FABRI, arti "rakyat pencari keadilan" itu

(7)

tidak hanya Warga Negara Indonesia, tetapi juga Warga Negara Asing. Jadi kata "rakyat pencari keadilan" itu adalah kata yang bersifat umum. Jadi warga negara asingpun juga bisa menggugat di Peradilan Umum demikian juga di Peradilan Tata Usaha Negara, karena kata "rakyat pencari keadilan" itu kalau juga kita rumuskan di dalam Undang-undang Nomor 2 Tahun 1986. Di sini di dalam kolom FKP itu dicantumkan Pasal 1 sub 4 yang tadi di dalam kesempatan pertama dari FKP belum dijelaskan latar belakangnya, tetapi kemudian di dalam kesempatan yang kedua baru dikaitkan pada masalah badan hukum. Jadi mungkin penjelasan dari FKP ini bisa ditambah, oleh karena di dalam kolom ini ada Pasal 1 sub 4 yang dimasukkan, sebagai alasan bukan hanya rakyat saja yang mencari keadilan. Jadi kamipun juga tidak jelas Pasal 1 sub 4 ini kaitannya dengan penghapusan kata "rakyat" itu.

Mengenai FPDI, itu Pemerintah berpendapat agar tetap konsisten dengan perumusan yang terdapat di dalam Undang-undang Nomor 2 Tahun 1986, sehingga kata "yang merdeka" itu kiranya tidak perlu dimasukkan.

Demikian Saudara Pimpinan untuk sementara tanggapan kami. Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Terima kasih kepada W akil Pemerintah. Kami persilakan dari FKP mengenai penjelasan dari Pasal 1 butir 4 dalam hubungan ini.

FKP (DRS. SA WIDAGO WOUNDE) :

Terima kasih atas kesempatan lagi. Sebenarnya hal itu sudah kami jelaskan tadi, yang ditunjuk dalam Pasal 1 butir 4 itu di sana dijelaskan bahwa Keputusan Tata Usaha Negara adalah suatu penetapan tertulis yang dikeluarkan -0leh Badan atau Pejabat Tata Usah~ Negara yang berisi tindakan hukum Tata Usaha Negara berdasarkan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku yang bersifat konkret, individual dan final yang menimbulkan akibat hukum bagi seseorang ... . "seseorang" ini yang kita maksudkan "rakyat pencari keadilan", jadi "seseorang" itu "rakyat dan badan hukum privat", karena badan hukum privat itu tadi saya kemukakan kita dari FKP menganggap badan hukum itu bukan rakyat. Oleh sebab itu kita usulkan supaya pencari keadilan saja, jadi pencari keadilan itu terdiri dari dua kemungkinan :

1. seseorang;

2. badan hukum privat.

Itu maksudnya dikaitkan dengan Pasal I butir 4. Terima kasih.

KETUA RAPAT :

(8)

pendapat Pemerintah tadi.

FPDI (SOETOMO

HR,

S.H.) :

Saudara Ketua, Saudara Wakil Pemerintah dan Saudara-saudara Anggota Panitia Khusus, dari FPDI dalam rangka kita menyusun Undang-undang Peradilan Tata Usaha Negara ini sesudah kita merampungkan dua undang-undang terdahulu sudah tentu dalam benak kami atau dalam pemikiran kami, hal-hal yang sekiranya masih perlu diperbaiki saya pikir akan sangat relevan manakala pada kesempatan di mana kita bersama menyusun Peraturan Perundang-undangan baru yang bersumber kepada Undang-undang Pokok Kekuasaan Kehakiman Nomor 14 Tahon 1970 itu penjabarannya kita lebih terapkan secara meyakinkan.

Dalam hal itu setelah kami pertimbangkan masak-masak, maka memang terdapat, menurut · anggapan fraksi kami kekurangan di dalam hal mengenai pelaksanaan kekuasaan kehakiman ini. Semestinya kalau hal ini akan sangat bagus kalau sejak awal kita membicarakan masalah Undang-undang Mahkamah Agung, Undang-undang Peradilan Umum itu sudah tertuang, tetapi sifat manusia itu adalah juga alpa. Oleh karena itu di saat kita membahas sekarang ini FPDI menginginkan untuk penyempurnaannya, oleh karena itu timbbulah rumusan baru. Sesungguhnya bukan baru, tetapi hanya sebagai suatu penjabaran untuk melaksanakan lebih konkret lagi Undang-undang Nomor 14 Tahon 1970.

Jadi demikianlah pendapat FPDI. Jadi fraksi kami masih tetap tidak berubah, masih menginginkan adanya tambahan kata-kata "yang merdeka", yang dalam hal ini keempat fraksi yang ada di Dewan ini rupanya sependapat dengan kami.

Terima kasih Saudara Ketua.

KETUA RAPAT :

Saya kembalilcan kepada Pemerintah, karena dua fraksi tadi sudah menyetujui atau barangkali dari FKP ada sesuatu? Dari FKP sudah tidak ada apa-apa Bapak Menteri, hanya menjelaskan mengenai arti pencari keadilan perorangan itu yang dimaksudkan juga badan. Hanya itu kaitannya dengan butir 4. Dan butir 4 itu sudah setuju untuk dimasukkan ke dalam Panitia Kerja ditambah penjelasan pasal sesuai keterangan Bapak Menteri pada waktu yang lalu.

Saya persilakan.

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN /ISMAIL SALEH, S.H.): Yang saya tanyakan tadi dari FKP mengenai usul dari FPDI mengenai kata "merdeka" apakah juga FKP sudah menyetujui.

KETUA RAPAT : Silakan dari FKP.

FKP (DRS. SA WIDAGO WOUNDE) :

(9)

memberikan pendapat yang tegas. Jadi singkatnya kalau tokh akan ditampung saya kira apa dalam penjelasan, tetapi tidak dalam pasal ini.

Sekian, terima kasih. KETUA RAPAT:

Sebenamya di dalam Undang-undang Nomor 14 tahun 1970 disebutkan Pasal "Kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan negara yang merdeka ... "

Saya silakan Pemerintah.

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN I ISMAIL SALEH, S.H.): Saudara Pimpinan dan para Anggota Pru:iitia Khusus yang kami hormati, landasan Pemerintah mengajukan rancangan ini, yaitu khususnya rumusan dalam Pasal 4 adalah Pemerintah ingin konsisten terhadap undang-undang yang telah dikeluarkan, yaitu Undang-undang Nomor 2 Tahun 1986. Jadi Undang-undang Nomor 2 Tahun 1986 tersebut Tahun 1986, kurang lebih baru berjalan 8 bulan. Undang-undang Nomor 2 Tahun 1986 ditetapkan pada bulan Maret 1986 sehingga kurang lebih baru 8 bulan. Dan sementara itu diajukanlah Rancangan Uw:iang-undang tentang Peradilan Tata Usaha Negara ini, sehingga asas konsistensi yang ingin dipegang oleh Pemerintah. Itulah sebabnya mengapa rumusan Pasal 4 itu kita ambil rumusan yang sama dengan Undang-undang Peradilan Umum.

Jadi untuk diketahui bahwa di peradilan umum, kata "rakyat pencari keadilan" itupun juga berlaku bagi badan hukum. Jadi seperti Perseroan Terbatas badan hukumpun juga menggugat, dapat menggugat di pengadilan-pengadilan negeri. Jadi kata "rakyat pencari keadilan" yang kita temukan di dalam Undang-undang Nomor 2 Tahun 1986 dan diberikan penjelasannya juga di dalam penjelasan itu tidak berarti bahwa hanya rakyat biasa saja yang menggugat di pengadilan negeri, tetapi juga badan hukum menggugat juga di Pengadilan Negeri, seperti Perseroan

Terbatas. ·

Jadi kalau alasannya itu sekarang di dalam Rancangan Undang-undang Peradilan Tata Usaha Negara karena ada badan hukum privat, sesungguhnya inipun 'di Pengadilan Negeri badan-badan hukum itu dapat juga menggugat. ladi sama kedudukan Pengadilan Negeri dengan pengadilan Tata Usaha Negara ini. Namun demikian apabila seluruh fraksi itu menginginkan agar kata "rakyat" dihapuskan Pemerintahpun dapat menyetujui, yaitu tidak sama jadi meninggalkan asas konsistensi, tetapi tidak dengan alasan bahwa bad.an hukum privat itu di sini dijadikan alasan oleh karena di dalam Peradilan Umum badan hukum itupun bisa menggugat. Apabila kata "rakyat" kita hapuskan di dalam Pasal 4 ini, maka alasannya adalah mencari sesuatu kata yang netral, yaitu "pencari keadilan". Jadi jangan sampai dikaitkan kepada masalah badan hukum privat, oleh karena di dalam Peradilan Umum, Pengadilan Negeri badan hukum privatpun juga bisa menggugat. Jadi kata "rakyat" ini adalah kata umum, tidak hanya rakyat orang tetapi juga badan hukum, itu berlaku hingga sekarang. Tetapi andaikata sekarangpun

(10)

juga disepakati kata "rakyat" dihapuskan sehingga ada perubahan sejak Undang-undang Nomor 2 Tahun 1986 ini diUndang-undangkan 8 bulan yang lalu dan sekarang 8 bulan kemudian ada pemikiran kata "rakyat" yang tadinya disetujui di dalam Peradilan Umum sekarang dihapuskan di dalam Peradilan Tata Usaha Negara Pemerintah bisa menerima. Hanya tentu alasannya adalah bahwa kata "pencari keadilan" ini adalah kata yang netral yang berlaku bagi siapa saja.

Jadi singkatnya Pemerintah dapat menyetujui usul dari FKP kata "rakyat" dihapuskan. Hanya di dalam notulen atau kesepakatan kita bersama penghapusan kata "rakyat" itu adalah untuk mencari suatu istilah yang netral, yang umum, yang tidak menimbulkan salah tafsir atau salah pengertian.

Sedangkan usul dari FPQI yaitu mengenai tambahan "yang merdeka" Pemerintah menyetujui pertimbangan dari FKP agar hal itu ditampung di dalam penjelasan undang-undang ini.

KETUA RAPAT:

Ditanyakan kepada FKP apakah penjelasan dari Pemerintah sudah dapat diterima? Kami persilakan.

FKP (DRS. SA WIDAGO WOUNDE) :

Mengucapkan terima kasih atas persetujuan Pemerintah dan FKP sependapat kalau dalam notulen ditiadakan alasan tersebut. Juga sependapat untuk tidak terlalu konsisten dengan peradilan umum, karena ini adalah peradilan khusus. Jadi kita mencari kelainan sedikit sehingga itu yang menjadi alasan yang terakhir, mengenai "rakyat pencari keadilan "menjadi" pencari keadilan".

KETUA RAPAT :

Jadi Pemerintah menyetujui dimasukkan di dalam penjelasan usul FPDI, kalau memang diadakan penjelasan dalam Pasal 4. Kami persilakan FPDI.

FPDI (SOETOMO HR, S.H.) :

Dijelaskan bahwa FPDI tidak terlalu mempersulit dan juga FPDI mengakui bahwa Pemerintah memegang prinsip konsistensi, sekalipun ini peraturan perundangan peradilan khusus, namun apa yang diusulkan FPDI suatu hal yang sangat prinsipil dan mendasar, hanya kalau terungkap di dalam pasal sebetulnya ya kurang enak, oleh karena itu apa yang pernah diusulkan baik oleh FKP kemudian mendapat respon dari Pemerintah yang menyetujui dimasukkan di dalam penjelasan FPDI bisa menerima. Jadi apa yang FPDI kemukakan tadi adalah penjabaran dari Pasal 1 Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970 dan bunyi Jengkapnya yang FPDI kemukakan tadi adalah di penjelasannya dan kami harapkan di penjelasan dikemukakan mengenai masalah ini.

KETUA RAPAT :

(11)

kalau Pasal 4 hanya dicantumkan "pencari keadilan" dan semua sudah menyetujui. Dan kami persilakan FABRI.

FABRI (IMAM SUKARSONO, S.H.):

Dikatakan bahwa semua telah setuju kalau menghilangkan kata rakyat, namun F ABRI belum setuju untuk menghilangkan kata rakyat ini. Menurut F ABRI menghendaki tetap, hanya di dalam penjelasan kita cantumkan apa yang dimaksud dengan rakyat itu.

Di dalam Rancangan Undang-undang Pasal 4 belum ada penjelasan dan nanti di sanalah diberikan penjelasan, apa yang dimaksud dengan rakyat.

Untuk selanjutnya menyetujui mengenai penjelasan dari FPDI tentang kalimat yang menyebutkan merdeka dan sedikit dari rekan saya Situmorang kami persilakan.

FABRI (MS. SITUMORANG):

Memberikan penjelasan tentang yang dijelaskan Saudara Sukarsono, bahwa kita ketahui bahwa bahasa kita ini adalah suatu lembaga politik, di sana dikaLakan bahwa Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan yang akan menjabarkan amanat penderitaan rakyat dari MPR, dengan demikian kita sebenarnya perkataan rakyat mempunyai konotasi politik yang sangat mendalam bagi F ABRI karena kita melaksanakan amanat penderitaan rakyat dan kita sengaja tonjolkan di sana. Dan kalau bicara masalah politik, sekali kita tuliskan di dalam tulisan yang berbentuk hukum musti ada sistematiknya dari keseluruhan yang kita capai dan apa yang dibicarakan sekarang adalah sebagai sub sistem daripada sistem peradilan sebagai penjabaran Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970 jadi merupakan suatu bagian. Oleh sebab itu apa yang telah kita capai dahulu hendaknya jangan sampai mematikan yang ada sekarang dan sebagainya.

Kalau tadi dikatakan bahwa bahasa, ini adalah sesuatu pengkhususan, memang pengkhususan di dalam arti peradilan itu sendiri, tidak di dalam arti seperti rakyat seolah-olah kita khususkan di sini. Akan berlainan kita bikin karena ini memang khusus, sebenarnya tidak demikian, harus arti yang khusus kita masukkan jangan sampai di dalam rakyatnya.

Dengan demikian latar belakang pemikiran dari FABRI menyetujui apa yang termaktub dalam Rancangan Undang-undang seperti latar belakang yang FABRI uraikan tadi. Namun tadi pembicaraan perlu ada penjelasan, F ABRI juga dapat menyetujui, termasuk penjelasan daripada apa yang dikatakan rakyat itu. sebagaimana tercantum di dalam penjelasan daripada Undang-undang Nomor .2 Tahun 1986, hanya di sana tidak dikatakan badan-badan perdata/hukum perdata dan sebagainya. Tetapi perkataan "rakyat" di dalam batang tubuh daripada undang-undang seyogyanya tetap kita pertahankan.

(12)

Persoalan perkataan "merdeka" FABRI memang jika kita terima bersama unruk di penjelasan mari kita bikinkan, tetapi sebenamya seperti yang dikatakan Pak Menteri tadi bahwa di dalam Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970 sudah dikatakan bahasa Peradilan itu yang merdeka dan ini sebagai penjabaran dari peradilan yang termaktub dalam Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970 itu, jadi tanpa kita nyatakan di sana sudah dengan sendirinya berlaku bagi undang-undang yang kita kerjakan ini.

KETUA RAPAT :

Dikatakan bahwa sebelum dikembalikan kepada Pemerintah. maka kami persilakan kepada FKP terlebih dahulu bagaimana tanggapannya terhadap apa yang diusulkan FABRI.

FKP (PROF. SOEHARDJO SASTROSOEHARDJO, S.H.) :

Menyatakan maksudnya bahwa bukan FKP ingin bertahan diri, namun FKP hanya ingin menyempumakan perumusan dan menanggapi yang dikemukakan rekan F ABRI, sebetulnya di sini konsekwensinya ada 2·.

Kalau yang dipakai adalah istilah pencari keadilan tidak perlu pakai penjelasan. Dan Pasal 4 cukup jelas.

Tetapi kalau yang akan digunakan itu "rakyat" pencari keadilan itu perlu memakai penjelasan. Terserah, FKP juga melihat penjelasan cukup jelas ya pencari keadilan itu sudah mencakup, tetapi bagaimana pun FKP tidak akan menolak ajakan dari F ABRI, hanya dalam penjelasannya FKP ingin menekankan bahwa apa yang dikemukakan oleh rekan Saudara Wounde mengenai pengkhususan ini ada. Karena ada suatu definisi mengenai apa itu Keputusan Tata Usaha Negara. Sudah jelas yang memberi akibat hokum kepada seseorang atau badan hukum, yang di pcradilan umum tidak ada.

Di situlah adanya kekh~susan bukan kita mencari-cari, tetapi kita melihat dari pengertian umum itu sendiri bahwa di situ jelas-jelas yang memberi akibat hukum kepada seseorang atau badan hukum privat. Konsisten dengan itu, maka FKP nienyetujui "pencari keadilan". Ada kekhususannya, memang dalam sistimatika ada, tetapi dalam kekhususan kita harus memberi jalan pada hal-hal · yang khusus.

Akhirnya bahwa FKP bisa memilih 2 alternatif, kalau istilahnya "pencari keadilan", maka FKP menyetujui Rancangan Undang-undang, penjelasannya cukup jelas. Kalau toh nanti kitajuga tidak menolak "rakyat pencari keadilan", harus ada penjelasan.

KETUA RAPAT :

Mempersilakan kepada FPP untuk memberikan pendapatnya.

FPP (TGK. HM. SALEH) :

(13)

setelah FKP menarik alasannya setelah mendengar penjelasan dari Pemerintah, yaitu alasan mengenai badan hukum, seakan-akan kata rakyat sama dengan pendirian Pemerintah yaitu mencakup badan hukum privat.

Oleh karena demikian FPP melihat adanya relevansi adanya kata "rakyat" di sini, apa sebab? Keputusan Tata Usaha Negara memang yang kena adalah rakyat, oleh karena demikian alasan yang paling pokok adalah apa sebab adanya pengadilan Tata Usaha Negara ini.

Dan juga dalam teori yang dikemukakan dalam buku yang dibagikan oleh pihak Pemerintah alasannya untuk itu juga. Ada bermacam-macam pengawasan yang dapat dilakukan oleh Pemerintah, tetapi juga ada satu pengawasan yang telah setelah terjadi. Ada yang sebelum terjadi ada yang sedang terjadi, ada yang setelah terjadi.

Jadi Pengadilan Tata Usaha Negara adalah pengawasan Pemerintah terhadap aparatnya, setelah terjadi. Jadi oleh karena demikian FPP melihat pendirian yang dikemukakan FABRI ini kemudian sekarang dijadikan suatu mode oleh FKP, dan FKP nampaknya tidak a cut dengan pendiriannya. Boleh pencari keadilan, tapi dengan penjelasan, cukup jelas. Boleh dengan rakyat pencari keadilan dengan penjelasannya bahwa pengertian rakyat termasuk yang menyangkut badan-badan hukum dan sebagainya, yang samajuga pendirian FABRI yang mengutip peradilan um um.

Oleh karena demikian FPP merasa, jalan keluar yang diberikan oleh FKP bisa ditampung pihak Pemerintah dengan demikian bisa mencakup semua fraksi yaitu altematif ke 2, rakyat pencari keadilan dengan penjelasannya, dengan demikian semua pihak bisa menerima. Dan dengan demikian masih juga tetap berpegang teguh dengan prinsip-prinsip yang telah kita kemukakan dalam Undang-undang Nomor 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum, sehingga dengan demikian semua pihak masih tetap kita pelihara sebaik-baiknya dengan demikian juga amanat penderitaan rakyat yang dikehendaki oleh F ABRI akan tetap manunggal antara ABRI dan Rakyat.

KETUA RAPAT:

Menarik kesimpulan bahwa seluruhnya menyetujui Rancangan Undang-undang ini dus tidak ada perubahan asal dalam penjelasan dijelaskan tentang arti rakyat, pertama sebagai rakyat dalam arti luas, terrnasuk orang asing, kedua rakyat di sini dalam pengertian badan hukum lainnya.

Lain soal supaya pengertian kekuasaan kehakiman merdeka itu diuraikan, dengan demikian sudah mencakup seluruhnya. Jadi yang Rancangan Undang-undang asli disetujui sepenuhnya, ditambah penjelasan.

Kami persilakan kepada Pemerintah, namun FKP hendak bicara silakan. FKP (A.S.S TAMBUNAN, S.H.) :

(14)

satu segi lagi FKP mohon pendapat dari Pemerintah dalam rangka menjawab nanti yaitu rakyat pencari keadilan, kalau tidak salah rekan Rahardjo mengatakan mengingat kekhususan daripada peradilan ini, di mana para pencari keadilan bukan hanya rakyat, tetapi juga aparatur Pemerintah, kalau tidak salah dengan proses pemeriksaan yang dilakukan oleh Pengadilan Tata Usaha Negara, ini Pejabat Tata Usaha Negara atau Badan Tata Usaha yang bersangkutan, juga kalau tidak salah mencari keadilan ini terhadap tuntutan daripada warga masyarakat yang meminta supaya suatu Keputusan Tata Usaha Negara dibatalkan atau ditiadakan. Sehingga pejabat yang bersangkutan tentu berusaha untuk membuktikan bahwa ini demi keadilan juga.

Jadi dalam segi ini FKP mohon apakah hal ini sudah tercakup, kalau tercakup maka FKP tidak ada komenter apa-apa lagi.

KETUA RAPAT:

Kami persilakan Pemerintah.

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.):

Dijelaskan bahwa, kita bersama-sama ingin menghasilkan suatu undang-undang yang baik, walaupun disadari bahwa usaha itu kadang kala kurang sempuma, oleh karena tidak ada kesempumaan, tetapi dalam batas-batas kemauan kita masing-masing, kita berusaha untuk menyajikan suatu undang-undang yang sesempuma mungkin. Sesungguhnya dalam waktu kita membahas Undang-undang Peradilan Umum, rumusan asli dari rumusan itu rakyat pada umumnya, kemudian disisipkan kata pencari keadilan. Dus ini sekedar kita mundur membahas kembali undang-undang yang telah ditetapkan 6 bulan yang lalu. Jadi kata "pencari keadilan itu" kita sisipkan, oleh karena pasalnya pada waktu itu hanya berbunyi rakyat pada umumnya. Kemudian disepakati untuk disebut diberikan penjelasan apa arti rakyat pencari keadilan. Dan itu telah kita laksanakan.

Sekarang kita membahas Rancangan Undang-undang Tata Usaha Negara kita temukan lagi kata-kata itu. Apabila yang dipilih oleh semua fraksi nanti tetap mempertahankan rakyat pencari keadilan sesuai dengan Rancangan Undang-undang ini dengan pengertian bahwa penjelasannya nanti harus ada. Yaitu apa yang dimaksud dengan rakyat pencari keadilan, maka kita semuanya termasuk para pengguna undang-undang ini, akan menemukan 2 pengertian.

Pertama, rakyat pencari keadil3!1 yang ada pada Undang-undang Nomor 2 Tahun 1986 dan pengertian rakyat pencari keadilan yang kita temukan nanti pada Undang-undang Tata Usaha Negara yang rumusannya berbeda. Kata rakyat pencari keadilan sama, tetapi rumusannya berbeda, karena ingin dibedakan. Di sini perlu kita renungkan kembali apakah ini baik.

Undang-undang ini Pemerintah harapkan keluar nanti bulan Januari jadi I 0 bulan setelah bulan Maret 1986 atau Januari 1987 kita harapkan. Dan di situ mereka para praktisi hukum menemukan kata rakyat pencari keadilan yang lain

(15)

rumusannya dengan Undang-undang Nomor 2 Tahun 1986. Ini kita juga harus siap, untuk menampung sesuatu nanti yang akan terjadi apabila undang-undang ini sudah berlaku.

Selanjutnya Pemerintah mengajak bersama-sama mencari apakah di dalam Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970 ada kata rakyat pencari keadilan. Di dalam Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970 dalam penjelasan Pasal 4 memang hanya disebut kata pencari keadilan tanpa kata rakyat. Sehingga kalau dipilih kata pencari keadilan jelas tidak salah, oleh karena Undang-undang Pokoknya mempergunakan kata pencari keadilan, tanpa kata rakyat. Dan apabila kita pilih pencari keadilan justru kita berikan penjelasan. Kata cukup jelas di sini diusahakan dengan memberikan penjelasan juga sekaligus menunjukkan kekhususan dari Peradilan Tata Usaha Negara ini.

Jadi apabila rakyat pencari keadilan dipertahankan dalam Rancangan Undang-undang ini, maka ada akibat lain yang timbul apabila dalam penjelasan rumusan penjelasan tidak dengan Undang-undang Nomor 2 Tahun 1986. Apabila kata rakyat dihapuskan dan hanya kata pencari keadilan yang kita sepakati, maka apabila ada penjelasan nanti apa yang dimaksud pencari keadilan tidak terlalu menimbulkan sesuatu hal dihubungkan dengan pengertian rakyat pencari keadilan yang ada pada Undang-undang Nomor 2 Tahun 1986. Disamping itu kata Pencari Keadilan memang sudah dipergunakan oleh Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970.

Selanjutnya dikatakan bahwa Pemerintah lebih condong yaitu kata "rakyat" dihapuskan dan itu tidak salah, karena Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970 dipakai.

Hanya perlu ada penjelasan, apa yang dimaksud pencari keadilan, sehingga menunjukkan kekhususan atau sifat-sifat yang lain dari peradilan ini. Apabila hal ini disepakati dan sebagai suatu bahan saja untuk disepakati yang dapat dikembangkan lebih lanjut nanti di dalam forum Panitia Kerja.

KETUA RAPAT :

Dikemukakan bahwa Pemerintah menghendaki supaya istilah rakyat tidak dicantumkan dalam batang tubuh, dengan demikian ada penjelasan. Mengenai persoalan yang dikemukakan FABRI dikatakan prinsipiil kami kembalikan apakah bisa menerima?

Kami persilakan F ABRI.

FABRI (IMAM SUKARSONO, S.H.) :

F ABRI setuju ini digunakan sebagai bahan untuk dibicarakan di dalam Panitia Kerja.

KETUA RAPAT :

Dengan demikian semua fraksi telah setuju. Jadi dapat dirumuskan bahwa Pasal 4 masuk Panitia Kerja dan penjelasannya akan dipertimbangkan mengenai

(16)

kalau di dalam batang tubuh tidak masuk arti "rakyat", maka dalam penjelasannya harus disesuaikan dengan penjelasan yang seluas-luasnya. Penjelasan ini harus mencakup penjelasan Pasal 4 daripada Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970 dan penjelasan Pasal 2 Undang-undang Nomor 2 Tahun 1986 dan juga penjelasan daripada rapat Panitia Khusus yang mengartikan arti "Qrang" itu lebih luas daripada orang asing tetapi juga termasuk badan hukum. Karena di dalam penjelasan Pasal 2 itu tidak demikian, terbatas pengertiannya. Jadi lebih luas pembicaraan di dalam Panitia Khusus, juga pengertian "kehakiman yang merdeka" seperti yang terdapat di dalam Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970. ·

Berikutnya ditanyakan persetujuan fraksi-fraksi.

(FPP, FABRI, FKP, FPDI, Pemerintah : Setuju masuk Panitia Kerja). Selanjutnya beralih ke Pasal 5.

Ditegaskan bahwa Pasal 5 dari fraksi-fraksi tidak ada tanggapan, juga dari Pemerintah, maka dimintakan persetujuannya untuk Pasal 5 diterima secara bulat.

(RAP AT SETUJU)

Selanjutnya beralih ke Pasal 6, dan FABRI dipersilakan menyampaikan pendapatnya.

FABRI (IMAM SUKARSONO, S.H.) :

F ABRI mengusulkan Pasal 6 di ayat (l) diubah menjadi : Pengadilan pun berkedudukan di Kotamadya atau lbukota Kabupaten dan daerah hukumnya meliputi wilayah kotamadya atau kabupaten.

Jadi penalarannya seperti yang berkali-kali diutarakan yakni tentu kalau hanya di beberapa tempat saja itu kurang dapat memenuhi keperluan rakyat pencari keadilan. Oleh karena itu pada prinsipnya harus dicantumkan dahulu secara tegas-tegas bahwa di tiap ibukota kabupaten atau di kotamadya itu ada, ini secara prinsip dikemukakan dulu di dalam pasal ini. Kemudian nanti pelaksanaannya secara bertahap, itu diatur di tempat yang lain.

KETUA RAPAT : Mempersilakan FKP.

FKP (A.S.S. TAMBUNAN, S.H.) :

Usul FABRI kelihatannya sama dengan usul FKP. Tegasnya, FKP sependapat bahwa prinsipnya perlu ditetapkan bersama bahwa kedudukan atau tempat kedudukan daripada Tata Usaha Negara adalah di ibukota kabupaten atau kotamadya. Kemudian melihat realita karena kekurangan tenaga dan sebagainya untuk sementara prinsip ini belum dapat terlaksana, maka FKP untuk jelasnya nanti akan diuraikan sewaktu kita membahas ketentuan peralihan.

(17)

Ditegaskan bahwa FKP menghendaki prinsipnya. Memang dalam Rancangan Undang-undang prinsip ini telah terdapat, tetapi dalam penjelasan. Kiranya kalau sesuatu hal yang prinsip lebih tepatlah kalau itu dimasukkan dalam batang tubuh.

KETUA RAPAT : Mempersilakan FPDI.

FPDI (SUTOMO HR, S.H.) :

FPDijuga mengusulkan bahwa Pengadilan Tata Usaha Negara berkedudukan di kotamadya dan ibukota kabupaten dan daerah hukumnya meliputi wilayah kotamadya dan kabupaten.

Menurut FPDI seyogyanya dalam undang-undang ini sudah lebih dulu ditetapkan secara konkret situs daripada Peradilan Tata Usaha Negara. Adapun outvoerennya nanti itu dibicarakan kemudian. Lebih lanjut sebagaimana diketahui Undang-undang Peradilan Tata Usaha yang ditarik oleh Pemerintah itu pun tahun 1982 situsnya itu jelas yaitu juga kotamadya dan kabupaten, itu jelas-jelas di dalam tempat kedudukannya itu. Hanya sekarang ini rupanya Pemerintah memindahkan ini di penjelasan sebagai disebutkan oleh FKP, sedangkan Pasal 6 langsung disebutkan di ibukota propinsi. Menurut FPDI ini kurang tepat, seyogyanya ditetapkan saja lebih dulu situs daripada Peradilan Tata Usaha Negara ini di kotamadya atau pun kabupaten.

KETUA RAPAT :

Memang tentu para Anggota telah melihat penjelasan Pasal 6 ayat ( 1) oleh Pemerintah.

Berikutnya mempersilakan FPP.

FPP (H.M. DJOHAN BURHANUDDIN A., S.H.) :

Usulan FPP mengenai pasal ini adalah agar Peradilan Tata Usaha Negara ini memang diharapkan kedudukannya itu di ibukota kabupaten dan kotamadya di seluruh Indonesia.

KETUA RAPAT :

Mempersilakan pihak Pemerintah.

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.): Latar belakang Pemerintah mengajukan rumusan Pasal 6 adalah didasarkan kepada sikap Pemerintah yang ingin melaksanakan sesuatu secara bertahap. Hal ini oleh karena Peradilan Tata Usaha Negara di Indonesia adalah suatu hal yang masih baru, sehingga situs pun juga prinsipnya itu dinyatakan hanya berkedudukan di ibukota propinsi dan daerah hukumnya meliputi wilayah propinsi tersebut. Apabila FPDI tadi mengatakan situsnya ditetapkan terlebih dahulu, ini pun juga

(18)

sudah ditetapkan. Hanya situsnya yang ditetapkan di sini, itu berbeda dengan pendapat-pendapat dari fraksi-fraksi.

Jadi itulah sesungguhnya latar belakang Pemerintah mengapa situs ditetapkan yaitu berkedudukan di ibukc:a propinsi dan tidak di ibukota kabupaten atau kotamadya.

Semua fraksi berpendapat agar kedudukan Pengadilan Tata Usaha Negara ini tidak di ibukota propinsi, tetapi di ibukota kabupaten atau kotamadya dan daerah hukumnya meliputi wilayah kotamadya atau kabupaten.

Apabila ini memang pendapat semua fraksi, maka Pemerintah tentu bisa mengerti. Untuk itu kiranya tidak perlu kita bahas ini sampai akhir Panitia Khusus atau kita lempar pada Panitia Kerja. Kita putuskan saja bahwa apabila itu memang kehendak semua fraksi, hanya saja bagi Pemerintah memang berat andaikata nanti ada semacam resolusi atau permintaan agar di satu kabupaten atau kotamadya diminta untuk dibentiik suatu Pengadilan Tata Usaha Negara. Maka melihat dari segi kemampuan Pemerintah dan desakan-desakan dari rakyat itu mungkin tidak dapat dipenuhi dan hal ini akan menimbulkan sesuatu hal yang juga psikologis tidak baik. Maka memang penetapan situs di kabupaten dan kotamadya sebagai prinsip clan pada dasarnya istilahnya itu yang dipergunakan juga di Peradilan Umum, itu dapat diterima oleh Pemerintah dengan catatan bahwa nanti hal ini di dalam penjelasan bisa diuraikan lebih baik sehingga tidak lalu nanti begitu dibentuk tiap-tiap daerah minta dibentuk suatu apabila ini nanti undang-undang sudah keluar, tiap-tiap daerah tidak meminta untuk m~mbentuk Pengadilan Tata Usaha Negara.

KETUA RAPAT:

Dengru;i dernikian maka rumusan Pasal 6 adalah : Pengadilan Tata U saha Negara berkedudukan di ibukota kabupaten/kotamadya dan daerah hukurnnya meliputi wilayah kotamadya atau kabupaten.

Sedangkan dalam penjelasan akan ditambahkan seperti yang diharapkan Pemerintah yaitu penjelasan kemampuan dan sebagainya.

Jadi tidak usah lagi dimasukkan dalam Panitia Kerja, hanya Tim Perumus rnengenai penjelasan, dan batang tubuhnya sudah diterima bulat seperti rumusan tadi.

FPP (H. ADNAN KOHAR S. ) :

Rumusan FPP agak berbeda dengan rurnusan Pimpinan Rapat. Secara konkret FPP rnengusulkan kalau akan diputuskan dalarn forum ini suatu rurnusan, ialah usul yang dikemukakan dalarn DIM yang rumusannya sebagai berikut :

Pengadilan Tata Usaha Negara berkedudukan di kotamadya atau di ibukota kabupaten dan daerah hukurnnya meliputi wilayah kotarnadya atau kabupaten.

(19)

KETUA RAPAT :

Jadi usulnya sama dengan rumusan Pasal 4 Undang-undang Nomor 2 Tahun 1986, dan yang dimaksud oleh Ketua demikian juga.

(Fraksi-fraksi setuju masuk Tim Perumus).

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.) : Rumusan FABRI sesungguhnya mengambil Pasal 4 Undang-undang Nomor 2 Tahun 1986. Jadi yang mungkin berbeda adalah FKP oleh karena disebut ibukota kabupaten lebih dahulu, baru kotamadya. Sedangkan FABRI mengambil Pasal 4 Undang-undang Nomor 2 Tahun 1986 itu kotamadya lebih dahulu, kemudian ibukota kabupaten.

Jadi yang berbeda adalah masalah pilihan mana, apakah kotamadya lebih dahulu ataukah kabupaten lebih dahulu. Karena sudah ada Undang-undang Nomor 2 Tahun 1986, kalau itu sebagai prinsip dasar dipakai, maka untuk tidak merepotkan lagi nanti di Timus, maka diputuskan sekarang sesuai Pasal 4 Undang-undang Nomor 2 Tahun 1986 begitu saja ayat (1) nya.

KETUA RAPAT:

Itu usul dari Pemerintah. Jadi FKP tidak ada urutannya kotamadya atau kabupaten, itu tidak prinsipiil.

(FKP menerima).

Ini tentunyajangan dilupa, ini Pengadilan Tata Usaha Negara. Jadi bunyinya sama dengan Pasal 4, tetapi kalimatnya adalah Pengadilan Tata Usaha Negara.

(Rapat menerima Pasal 6 ayat ( 1) ).

Selanjutnya beralih ke Pasal 6 ayat (2) dan dipersilakan FABRI untuk menyampaikan pendapatnya.

FABRI (IMAM SUKARSONO, S.H.) :

Ayat (2) Pengadilan Tata Usaha Negara berkedudukan di ibukota propinsi dan daerah hukumnya meliputi wilayah propinsi.

Penalarannya sudah pemah diutarakan, jadi kalau meratanya pemenuhan kebutuhan bagi pencari keadilan itu diwujudkan dalam bentuk Pengadilan Tata Usaha Negara yang ada di tiap-tiap ibukota kabupaten, kemudian cocok sudah kalau perlu banding ke Pengadilan Tinggi yang sesuai dengan prinsip pemerintahan itu ada di ibukota propinsi.

KETUA RAPAT : Mempersilakan FKP.

FK.P (A.S.S. TAMBUNAN, S.H.) : Uraian FKP sama dengan uraian FABRI.

(20)

KETUA RAPAT: Mempersilakan FPDI.

FPDI (SOETOMO HR, S.H.):

Di DIM FPDI tercantum "tetap", itu salah. Dan usulan FPDI adalah sama dengan FABRI.

KETUA RAPAT: Mempersilakan FPP.

FPP (H.M. DJOHAN BURHANUDDIN A, S.H.) :

Sesuai Pasal 6 ayat (1) maka konsekwensi usul FPP untuk Pengadilan Tata Usaha Negara berkedudukan di kotamadya dan kebupaten, maka dengan sendirinya Pasal 6 ayat (2) yaitu Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara berkedudukan di ibukota propinsi dan daerah hukumnya meliputi wilayah propinsi.

KETUA RAPAT :

Mempersilakan pihak Pemerintah.

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.): Pemerintah menyetujui pendapat dari fraksi-fraksi.

KETUA RAPAT :

Dengan demikian rumusannya seperti yang disetujui bersama, yaitu : Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara berkedudukan di ibukota propinsi dan daerah hukumnya meliputi wilayah propinsi.

ltu sama dengan Undang-undang Nomor 2 Tahun 1986 ayat (2).

Dijelaskan mengenai ayat (I) tadi, itu masih ada Tim Perumus untuk penjelasan.

Sehingga dengan demikian dapat disepakati seluruh Pasal 6 ini diterima, dan ayat (2) tidak ada Tim Perumus.

(RAPAT SETUJU)

Selanjutnya beralih ke Pasal 7. Pasal 7 ini bagian ke-4 mengenai pembinaan dan sekaligus Pasal 7 ayat ( 1) Pembinaan teknis peradilan bagi pengadilan dilakukan oleh Mahkamah Agung.

Semua fraksi sarna yaitu setuju dengan apa yang ditentukan dalam Rancangan Undang-undang.

(21)

Selanjutnya Pasal 7 ayat (2) adalah Pembinaan organisasi, administrasi dan keuangan pengadilan dilakukan oleh Menteri Kehakiman.

Mempersilakan FKP untuk menyampaikan pendapatnya. FKP (DRS. SA WIDA GO WOUNDE) :

Dalam pembinaan organisasi, administrasi dan keuangan pengadilan, untuk peradilan ini FKP melihatnya mengenai perkembangan ketatanegaraan kita dalam pembentukan kabinet.

Menurut pengalaman, departemen-departemen itu ada perubahan-perubahan. Misalnya saja dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 mengenai Undang-undang Pokok Agraria, di sana tetap dan masih disebut dan masih berlaku sampai sekarang itu, Departemen Agraria dan. Menteri Agraria, yang sekarang tidak dibaca begitu lagi. Kata "Menteri Agraria'; atau "Departemen Agraria" di situ sudah harus dibaca "Departemen Dalam Negeri - Menteri dalam Negeri".

Demikian juga misalnya Undang-undang Transmigrasi yaitu Undang-undang N omor 3 Tahun 1972, undang-undang itu sekarang masih tetap terbaca "Departemen Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Koperasi" dan menterinya juga demikian.

Oleh sebab itu FKP berpendapat, sebaiknya dalam Rancangan Undang-undang ini tidak terlalu tegas ditentukan departemen apa atau menteri mana.

Di sini diusulkan agar dilakukan · oleh Menteri yang bertanggung jawab dibidang pembinaan aparatur negara. Entah itu nanti departemen mana atau menteri apa, itu nanti dilihat waktu kabinet dibentuk. Lalu sementara belum ada menteri yang dimaksud, pembinaan ini memang disetujui oleh FKP supaya diserahk:an kepada Menteri atau Departemen yang telah biasa menangani pembinaan peradilan ini.

Jadi untuk sementara tegasnya disetujui untuk Depanemen Kehakiman. KETUA RAPAT:

Mempersilakan FPDI.

FPDI (SOETOMO HR, S.H.) :

Mengemukakan bahwa dari FPDI telah mendengar usul dari FKP yaitu kesimpulan akhir yang dikemukakan ialah pembinaan kepada Menteri siapapun yang akan membina Peradilan Tata Usaha Negara.

Dari FPDI berpend.apat bahwa menginginkan adanya suatu alur pembinaan yang konsisten terutama di bidang peradilan ini, terutama yang sudah terbiasa di dalam pembinaan peradilan umum dalam hal ini adalah Menteri Kehakiman. Maka Peradilan Tata Usaha ini pun FPDI sependapat diserahkan kepada Mniteri Kehakiman. Jadi FPDI belum berpikir untuk menyerahkan pembinaan organisasi administrasi dan keuangan Peradilan Tata Usaha Negara kepada departemen lain,

(22)

sebab sampai sekarang FPDI belum mempunyai gambaran departemen apa itu. Oleh karena undang-undang ini akan berlaku Insya Allah permulaan tahun depan, maka sudah barang tentu sudah harus ada kesepakatan dari semua Anggota Panitia Khusus siapa yang akan membina Peradilan Tata Usaha Negara yang akan datang, oleh karena itu secara tegas dalam hal ini belum bisa menerima usul dari FKP, dan menyetujui Rancangan Undang-undang sebagaimana yang dihadapi bersama.

FKP (H.M. DJOHAN BURHANUDDIN A, S.H.) :

Mengemukakan bahwa FPP berpendapat bahwa mengenai masalah pembinaan organisasi administrasi dan keuangan Peradilan Tata Usaha Negara karena konsideran dari Rancangan Undang-undang ini sudah disetujui bahwa ini merupakan pelaksanaan daripada Undang-undang Nomor 14 Tahon 1970 tentang Pokok-pokok Kekuasaan Kehakiman. Jadi FPP tetap pada perumusan ini dan adapun ada hal-hal yang berkembang itu hak prerogatif Presiden jadi tidak berwenang membicarakan itu.

KETUA RAPAT:

Menanggapi FPP yang dimaksud berkembang kemudian kalau ada departemen baru.

F ABRI (IMAN SUKARSONO, S.H.) :

Mengemukakan .sama dengan apa yang dikemukakan oleh FPP.

FKP (DRS. SA WIDAGO WOUNDE) :

Mengemukakan bahwa FKP menyadari bahwa dalam Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970 itu memang diterangkan bahwa pembinaan organisasi administrasi dan keuangan di bawah departemen yang bersangkutan jadi bukan Mentefi. Oleh karena itu usul FKP berbunyi : Pembinaan organisasi administrasi dan keuangan pengadilan dilakukan · oleh departemen yang bertanggung jawab di bidang pembinaan aparatur negara. Mengapa demikian, FKP tambahkan kalau FKP hanya berpendapat bahwa karena sudah digariskan dalam Undang'-undang Nomor 14 Tahun 1970 di bawah Departemen Kehakiman misalnya, tapi keanggotaan peradilan-peradilan khusus yang lain tidak di bawah Departemen Kehakiman. Sebab ada empat lingkungan dalam Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970 itu hanya lingkungan Departemen Peradilan Umu.m yang berada di bawah Departemen Kehakiman, dua lingkungan peradilan khusus yang lain temyata tidak berada di bawah Departemen Kehakiman.

FKP bukan berarti tidak setuju, karena mengharapkan undang-undang ini akan lama dan diperkirakan mungkin apa yang bisa terjadi pada waktu mendatang, sehingga ada kemungkinan apalagi setelah adanya lingkungan peradilan umum ini nanti mungkin ada satu departemen khusus yang dibentuk yang menangani seluruh aparatur yang akan menjadi tergugat ini, menangani pembinaan para aparatur yang nantinya bisa tergugat dalam peradilan.

(23)

Oleh karena itu FKP mengusulkan supaya di bawah departemen yang bertanggung jawab di bidang pembinaan aparatur negara. Lalu dalam penjelasan : sementara belum ada departemen yang dimaksud pembinaan diserahkan kepada Menteri yang biasa menangani pembinaan ini dalam hal ini Departemen Kehakiman.

KETUA RAPAT:

Menanggapi usul FKP, artinya penjelasan itu kalau Presiden tidak membentuk departemen, tetap seperti biasa.

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ISMAIL

SALEH,

S~H.)

:

Materi bidang Tata Usaha Negara memang sangat luas dan kita memang belum pengalaman. Tetapi ada empat pertimbangan yang dapat diajukan oleh Pemerintah, mengapa pembinaan organisasi administrasi dan keuangan pengadilan dilakukan oleh Menteri Kehakiman :

1. Bahwa pengalaman Departemen Kehakiman selama ini dalam pembinaan organisasi administrasi dan keuangan Peradilan Umum menunjukkan bahwa pembinaan ini makin lama makin mantap dan pengalaman inilah yang dapat dijadikan suatu dasar untuk juga membina organisasi administrasi dan keuangan Pengadilan Tata Usaha Negara.

2. Bahwa kerja sama Departemen Kehakiman dan Makamah Agung sesuai ketentuan Undang-undang Nomor· 14 Tahun 1970 juga menunjukan suatu perkembangan yang lebih memantapkan dan ini sangat penting, sehingga apabila pembinaan organisasi administrasi dan keuangan Pengadilan Tata Usaha Negara ini dilakukan oleh bukan Menteri Kehakiman maka departemen yang baru FKP menyebutkan departemen yang bertanggung jawab di bidang pembinaan aparatur negara, di mana departemen itu hingga sekarang belmn ada, dan. iuga belum. tahu bagaimana perk~mbangannya yang akan datang, maka jelas kerja sama antara pembina ini dengan MahRamah Agung menierlukan suatu hal yang perlu diperhatikan bersama. Di dalam kerja sama pada waktu permulaan akan canggung karena tidak biasa, sedangkan Departemen Kehakiman selama ini sudah melakukan kerja sama yang erat dengan Mahkamah Agung.

3. Bahwa dalam pembinaan organisasi administrasi dan keuangan ini tidak hanya dilakukan di pusat tetapi juga di daerah. Di daerah ada Kantor Wilayah-Kantor Wilayah , dan Wilayah-Kantor Wilayah-Wilayah-Kantor Wilayah inilah yang diberi tugas untuk menyelenggarakan organisasi administrasi dan keuangan pengadilan-pengadilan di daerah-daerah. Dan pengalaman Kantor Wilayah-Kantor Wilayah ini di dalam membina organisasi administrasi dan keuangan pengadilan umum jelas akan sangat bermanfaat untuk membina organisasi adrninistrasi dan keuangan Peradilan Tata Usaha Negara.

(24)

4. Bahwa sejak proldamasi kemerdekaan dan sejak kabinet

pertama

Depaftemen Kehakiman selalu ada. Tidak pemah di dalam kabinet sejak tahun 1945

hingga sekarang Departemen Kehakiman itu tidak a1la, selamanya ada. Sehingga itulah pertimbangannya mengapa ayat (2) pembinaan organisasi administrasi dan keuangan diserahkan kepada Menteri Kehakiman. Apabila diserahkan kepada departemen lain atau Menteri yang

masih

akan dibentuk dan belum tentu kapan akan dibentuk dan andaikata dibentuk itu pada suatu saat mengalami perubahan, maka kita dihadapkan akan tidak kepastian, sedangkan apabila diserahkan kepada Departemen Kehakiman unsur kepastian itu ada, karena di dalam kabinet-kabinet selanjutnya Departemen Kehakiman itu selalu.

Demikian pertimbangan Pemerintah.

KETUA RAPAT :

Mengemukakan bahwa inijelas kedudukan. FPP, FPDI, FADRI setuju dengan Pemerintah.

Kemudian mempersilakan FKP.

FKP (PROF. SOEHARDJO SASTROSOEHARDJO, S.H.) :

Mengusulkan kalau mungkin itu dibicarakan di Panitia Kerja, kalau bisa pending sebentar besok pagi atau lusa.

KETUA RAPAT :

Mengulangi usul FKP bahwa FKP supaya diberi waktu untuk berunding lagi di fraksinya.

Ditanyakan kepada Menteri apa dapat menerima bahwa ayat (2) Pasal 7 diberikan waktu besok atau pada akhir

Panitia Khusus

yaitu

pada

tanggal

4

~1986.

PEMERINTAB (MENTERI KEllAKIMANllSMAIL SALEH, S.H.) :

Pemerintab telah menunjubn pada waktu

membahas

Pasal 6 ayat ( l) yaitu untuk langsung menyetujui pendapat-pendapat fraksi dan tidak menunda sampai akhir Panitia Khusus atau pada Panitia Kerja

Demikian niat Pemerintah untuk membantu agar pembahasan ini benar-benar akan lancar. Dan oleh karena di dalam Pasal 7 ayat (2) ini tiga fraksi menyetujui ayat (2) demikian juga Pemerintah. Maka apabila FKP minta pending atau ingin di-Panja-kan maka tentu barns minta persetujuan dari FABRI, FPDI, FPP.

FPDI (SOETOMO HR, S.H.) :

Mengemukakan bahwa untuk memberikan kesempatan kepada FKP berpikir, untuk besok pagi dapat disetujui.

FPP (H.M. DJOHAN BURHANUDDIN A, S.H.):

(25)

F ABRI (IMAM SUKARSONO, S.H.) :

Setuju diberikan kesempatan kepada FKP.

KETUA RAPAT :

Menanyakan kepada Pemerintah apakah tidak keberatan kalau dirumuskan sampai besok pagi.

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.) :

Menyetujui.

KETUA RAPAT :

Mengemukakan bahwa hal ini FPP akan menyetujui (FPP SETUJU)

J adi sampai besok pagi dari FKP pada sidang pertama akan memberikan pendapat mengenai ayat (2).

Kemudian beralih ke ayat (3) dan ayat (3) mutlak diterima·oteh semua fraksi. Kemudian Bab II susunan Pengadilan bagian pertania tetap. Mengenai Pasal 8 pengadilan terdiri dari : ·

a. Pengadilan Tata Usaha Negara yang merupakan pengadilan tingkat pertama. b. Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara yang merupakan pengadilan tingkat

banding.

FPDI (SOETOMO HR, S.H.) :

Menurut pengamatan FPDI Pasal 8 Rancangan Undang-undang ini sudah benar dan ini juga sama dengan Undang-undang Nomor 2 Tahun 1986 mengenai susunan pengadilan juga demikian.

Di dalam hal ini FPDI hanya ingin kliren saja, masalahnya untuk Peradilan Tata Usaha Negara ini agak ada kelainannya, sebab kalau dihubungkan dengan Pasal 51 ayat (3) yang menyebutkan pengadilan Tinggi turut bertugas dan berwenang mengadili di tingkat pertama dalam sengketa Tata Usaha Negara sebagaimana dimaksud Pasal 48, sedangkan di sini tingkat banding.

FPDI tahu bahwa Pasal 48 mengenai administrative beroep. Jadi kalau menurut Pasal 48 itu jelas kalau peraturan Perundangan itu memang mengaturnya harus melalui administrative beroep itu harus diselesaikan melalui upaya administrasi yang tersedia.

Kalau Peradilan Tinggi Tata Usaha Negara ini juga peradilan tingkat pertama bagi administrative beroep. Dalam hal ini masalahnya mengenai pasal yang disebutkan FPDI itu mengenai kekuasaan pengadilan, namun dalam hal ini sebagian besar itu nanti masalah-masalah itu menyangkut administrative beroep yang dalam

(26)

hal ini Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara bertugas dan berwenang merupak:an Pengadilan Tingkat Pertama.

FPDI menanyak:an apak:ah ini tidak: perlu di dalam susunan ini dinyatak:an dengan jelas, misalnya Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara merupak:an pengadilan tingkat pertama bagi ... (seterusnya) sekalipun menurut sistematikanya Pengadilan Tinggi mestinya adalah Pengadilan Tingkat Banding. Jadi FPDI ingin minta kliren saja dari Pemerintah. Sebab permasalahannya yang ak:an timbul nanti akan banyak: hal-hal administrative beroep yang diselesaikan baru sudah itu menginjak: ke tingkat pertama di Pengadilan Tinggi, apak:ah tidak perlu di sini dinyatak:an secara jelas andaikan itu demikian. Hal ini supaya nampak bedanya susunan pengadilan ini dengan pengadilan umum.

FPP (H. M. DJOHAN BURHANUDDIN A, S.H.) :

Mengemukakan FPP dalam hal ini berpendirian bahwa Rancangan Undang-undang yang dibuat oleh Pemerintah ini cukup memadai, oleh karena itu tetap seperti yang tercantum dalam Rancangan Undang-undang.

FADRI (M.S. SITUMORANG):

Prinsipnya apa yang termaktup di dalam pasal 8 FABRI menyetujuinya dan tidak ada komentar. Tetapi karena tadi FPDI mengkaitkan kepada Pasal 5 J ayat (3) sedangkan masalah Pasal 51 ayat (3) itu akan dibicarakan nanti tersendiri dan di dalam Pasal 51 ayat (3) itu ada catatan dari FABRI maka ini nanti akan dibicarakan.

Hanya satu hal yang bersangkut paut dengan penjelasan dari pada Pasal 8 ini, bagi F ABRI ini sudah jelas betul, tapi ada sesuatu seolah-olah pemberian wewenang dalam penjelasan itu kepada pengadilan tinggi untuk pada waktu tertentu akan mengadili dalam tingkat pertama pengadilan tinggi itu. Ini dikaitkan dengan Pasaf 51 ayat (3) dan nanti akan dibicarakan. Tapi Pasal 8 a maupun b nya itu secara tuntas FABRI dapat menyetujuinya, hanya mohon pemikiran dalam penjelasan ini dikaitkan dengan Pasal 53 nanti.

KETUA RAPAT:

Jadi maksud F ABRI Pasal 8 ini sudah jelas, tetapi kalau mau dibicarakan Pasal 51 ayat (3) nanti maka harus dikaitkan dengan Pasal 8 ini. Begitu pengertiannya?

FABRI (M.S. SITUMORANG):

Pengertiannya demikian, tadi oleh FPDI dikaitkan dengan Pasal 51 ayat (3) apakah memang mau kita kaitkan demikian, karena ada sesuatu hal sebenarnya yang menjadi pertanyaan juga bagi FABRI. Dan di dalam penjelasan ini memberikan wewenang seolah-olah kepada Peradilan Tinggi daripada Tata Usaha Negara ini untuk mengadili dalam Tingkat I. Ini suatu hal sebenarnya yang tidak

(27)

lazim dalam pembuatan penmdang-undangan penjelasan memberikan wewenang, mestinya penjelasan berfungsi untuk memberikan penjelasan terhadap hal-hal yang belum jelas dan bukan pemberian wewenang. Ini Bapak Pimpinan, yang kita sangkutkan dengan Pasal 51 ayat (3).

KETUA RAPAT :

Baik, jadi ini jelas kalau di-Panja-kan nanti dibicarakan hal ini. Saya kira mengenai istilah "hal-hal tertentu" itu istilahnya Pak Menteri ; istilah Pak Menteri itu "dalam hal-hal tertentu". Ingat Pasal 6 daripada Undang-undang tentang · Mahkamah Agung. Ini saya. hanya mengingatkan saja.

Saya persilakan dari FKP kalau masih ada pendapat.

FKP (PROF. SOEHARDJO SASTROSOEHARDJO, S.H.) :

FKP di dalam DIMnya tidak ada, berarti sementara ini juga bisa menerima. Namun dengan mengikuti uraian daripada rekan dari FPDI dan mengikuti uraian dari F ABRI, maka mengenai Pasal 8 agaknya yang menjadi masalah adalah butir b, butir a itu tidak ada masalah. Butir b ini di dalam penjelasan atas Pasal 8 dalam Rancangan Undang-undang disebut bahwa "dalam hal tertentu" Pengadilan Tmggi Tata Usaha Negara dapat merupakan pengadilan tingkat I". Jadi saya juga sependapat dengan rekan FABRI, FKP juga sependapat bahwa sebetulnya penjelasan tidak bisa memberikan sesuatu kewenangan yang lain daripada batang tubuh. Andaikan itu dalam hal tertentu memang diberikan wewenang kepada Pengadilan Tinggi maka harus disebutkan dalam batang tubuh juga. Jadi Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara yang merupakan pengadilan tingkat banding, "dalam hal tertentu" itu ditambahkan dalam batang tubuh.

Namun demikian karena FABRI saya lihat di dalam DIM Pasal 51 ayat (3) itu ada sesuatu yang masih belum sreg, jadi ini nanti perlu dibicarakan kalau kita sudah sampai kepada Pasal 51 ayat (3). Sementara ini FKP bisa mengerti apa yang dikemukakan oleh'rekan FPDI dan permintaannya itu sangat sederhana yaitu minta clearence.

Demikian Saudara Ketua.

KETUA RAPAT :

Saya kira jelas. Saya persilakan Pemerintah.

PEMERINTAH (MENTERI KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.) :

Saudara Pimpinan dan para Anggota Panitia Khusus yang kami hormati, FPDI meminta clearence yaitu Pasal 8 ayat (2) terutama dikaitkan dengan Pasal 51, oleh karena di dalam Pasal 8 ayat (2) posisi dari pengadilan tinggi di sini adalah tingkat banding. Sesungguhnya posisi dari pengadilan tinggi itu tidak hanya tingkat banding tetapi juga tingkat pertama. Jadi pada suatu saat pengadilan tinggi itu bisa tingkat pertama dan bisa tingkat banding.

(28)

Dalam hal apa tingkat pertama? Itu kita bisa baca di dalam pasal-pasal yang mengatur mengenai masalah wewenang dan kekuasaan. Jadi di dalam bah mengenai kekuasaan di situ kita Iihat sesungguhnya ada sesuatu kedudukan yang diberikan oleh Pengadilan Tinggi tidak hanya sebagai pengadilan tingkat banding tetapi juga tingkat pertama, yaitu di dalam hal ada sengketa tentang kewenangan mengadili. Itu kita jumpai dalam Pasal 51 ayat (2) dan kita jumpai juga di dalam Undang-undang Nomor 2 Tahun 1986. Dalam Undang-undang Nomor 2 Tahun 1986 susunan pengadilan juga sama dengan ini, yaitu Pengadilan Tinggi adalah Pengadilan Tingkat Banding. Tetapi dalam Pasal 51 ayat (2) dari Undang-undang Peradilan Umum dinyatakan di situ bahwa pengadilan tinggi juga bertugas dan berwenang mengadili di tingkat pertama dan terakhir. Jadi ada dua kata di situ dipergunakan, dalam Undang-undang Peradilan Umum, yaitu tingkat pertama dan tingkat terakhir "sengketa kewenangan mengadili antar pengadilan negeri di daerah hukumnya". Di dalam Pasal 51 ayat (2) dari Rancangan Undang-undang ini juga kita temukan rumusan yang demikian, yaitu bahwa Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara bertugas dan berwenang mengadili di tingkat pertama dan terakhir sengketa wewenang mengadili antar Pengadilan Tata Usaha Negara di dalam daerah hukumnya. Jadi susunan memang kedudukannya adalah pengadilan tingkat band-ing, tetapi di dalam kekuasaan kita temukan sesuatu wewenang yang diberikan kepada pengadilan Tinggi tidak hanya tingkat banding tetapi tingkat pertama. Dalam hal apa? Di sini ditentukan secara khusus. Itulah latar belakangnya mengapa di dalam penjelasan disebut "dalam hal-hal tertentu". Tetapi "tertentu" ini tidak bisa terlepas dari batang tubuh dan batang tubuh kita baca Pasal 51 ayat (2) tingkat pertama dan terakhir. Tetapi ditambah lagi tidak hanya di dalam sengketa wewenang mengadili, tetapi juga tingkat pertama sengketa Tata Usaha Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48. Jadi apabila itu clearence yang dim:iksudkan oleh FPDI bahwa tingkat banding itu bisa tingkat pertama dan kita temokan wewenang itu di dalam bab mengenai kekuasaan, maka demikianlah sesungguhnya clearence yang diberikan oleh Pemerintah. Bagaimana jadinya nanti apakah Pasal 51 itu sebagai demikian, apakah Pasal 48 nanti seperti demikian, maka marilah kita nanti tunggu pembahasan di dalam Pasal 51 dan Pasal 48, yaitu dikaitkan pada administrative beroep.

Jadi kalau ayat (3) nanti mungkin berubah -- saya belum tahu apakah berubah atau tidak, sebab ayat (3) ini dikaitkan pada Pasal 48 yaitu administrative beroep itu langsung ke Pengadilan Tinggi, dari Pengadilan Tinggi lalu ke Mahkamah Agung tidak lagi melalui Pengadilan Tata Usaha Negara Tingkat pertama. Sebab kalau tingkat pertama lalu masih ada tingkat banding kemudian kasasi ke Mahkamah Agung. Tetapi mungkin di dalam pembahasan Pasal 48 atau 51 nanti ada ·pemikiran-pemikiran yang lain, sehingga Pasal 51 ayat (3) ini akan berubah. Tetapi andaikata itu berubah ayat (2) tetap tidak berubah, oleh karena pengadilan tinggi mempunyai wewenang mengadili di tingkat pertama dan tingkat terakhir sengketa kewenangan mengadili, sebagaimana juga kita temukan ketentuan ini di

(29)

dalam Pasal 51 ayat (2) Undang-undang Nomor 2 Tahun 1986. Demikian Saudara Pimpinan, terima kasih.

KETUA RAPAT :

Saudara-saudara sekalian, jadi kalau demikian maka yang diusulkan oleh FABRI telah dijawab oleh Pemerintah bahwa Pasal 8 ini berbeda dengan Pasal-pasal 51 dan 48. Dus fungsi pengadilan tinggi itu berbeda. Itu secara tegasnya, karena itu juga penjelasannya dijelaskan perbedaannya kenapa, karena itu mempergunakan kata-kata "tertentu".

Sekarang kalau masih ada dari FABRI dan FKP saya silakan. FABRI (M.S. SITUMORANG):

Saudara Pimpinan, sebenarnya kami tadinya mengatakan akan membicarakan hal itu waktu mau membicarakan Pasal 51 ayat (3), akan tetapi memang sangat erat hubungannya dengan itu. Kami katakan tadi tidak lazim di dalam sesuatu perundang-undangan seolah-olah memberikan wewenang di dalam penjelasan. Apa yang termaktub di dalam Pasal 51 ayat (3) dan sebagainya yang telah diuraikan oleh Bapak Menteri tadi itu nanti kita bicarakan tidak masalah. Hanya yang kami perbincangkan tadi, apakah tidak seyogianya cukup jelas dibikin di sini, karena sudah dibuka tadi mengenai Pasal 53. Karena melihat kepada penjelasan dari Undang-undang Nomor 2 Tahun 1985, susunan itu sebenarnya cukup jelas.

Kalaupun ada nanti keistimewaan diberikan kepada Pengadilan Tinggi "wewenang-wewenang" sebagaimana termaktub dalam Pasal 53 dan 51 ayat (3) dan sebagainya yang telah diuraikan oleh Bapak menteri tadi saya rasa bisa saja umpamanya kita ambil stand point bisa saja, karena itu dinyatakan dalam diktum bukan dalam penjelasan, hanya ini saja perbedaan sedikit. Marilah kita bicarakan karena kita mau meml?uat satu Perundang-undangan yang baik yang menjadi milik kita bahkan anak cucu kita nanti yang agak kritis menganalisa ini.

Terima kasih. KETUA RAPAT :

Jadi sebelum saya salah mengartikan, jadi Pasal 8 butir 4 b ini masih perlu dibicarakan berhubungan dengan penjelasannya.

FABRI (M.S. SITUMORANG) :

Sebenamya Pasal 8 secara tuntas "a dan b" itu diterima. KETUA RAPAT :

Jadi secara tuntas diterima tetapi kenapa ada penjelasan lagi. FABRI (M.S. SITUMORANG):

Hanya mohon perhatian kita di dalam penjelasan itu yang seolah-olah di dalam penjelasan memberikan wewenang kepada peradilan itu, apakah tidak

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di