Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara penerimaan

Teks penuh

(1)

dengan Kecenderungan Anorexia Nervosa pada Remaja

Perempuan di SMAN 1 Banjarmasin

(Relationship Between Self-Acceptance on the Physical

Condition of the Tendency of Anorexia Nervosa on Girls

Adolescents in SMAN 1 Banjarmasin)

Bunga Permatasari

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Surabaya

Korespondensi: Bunga Permatasari, Departemen Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental Fakultas Psikologi Universitas

Airlangga, Jl. Dharmawangsa Dalam Selatan Surabaya 60286, e-mail: bungapermatasari.bunga@gmail.com Abstract.

Keywords: self acceptance, anorexia nervosa, girls adolescent. Abstrak.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara penerimaan diri terhadap kondisi fisik dengan kecenderungan anorexia nervosa pada remaja perempuan di SMAN 1 Banjarmasin. Menurut Havigurst (Hurlock, 1994) salah satu tugas perkembangan remaja adalah menerima keadaan fisiknya serta menggunakan secara efektif. Tetapi apabila remaja tidak mampu menerima kondisi fisiknya, maka memungkinkan untuk munculnya gangguan makan, salah satunya yaitu anorexia nervosa (Grigg, Bowman, Redman, 1996). Penelitian ini dilakukan pada remaja perempuan yang bersekolah di SMAN 1 Banjarmasin sejumlah 100 orang. Hasil yang diperoleh yaitu ada hubungan negatif antara penerimaan terhadap kondisi fisik dengan kecenderungan anorexia nervosa pada remaja perempuan di SMAN 1 Banjarmasin.

Kata kunci: penerimaan diri, anorexia nervosa, remaja perempuan.

This research aims to determine whether there is relationship between self-acceptance on the physical condition of the tendency of anorexia nervosa among girls adolescent in SMAN 1 Banjarmasin. According to Havighurst (Hurlock, 1994), one developmental task of adolescence is to accept their physical condition and use it effectively. But if teens are not able to accept their physical condition, it allows for the emergence of eating disorders, one of which is anorexia nervosa (Grigg, Bowman, Redman, 1996). The research was conducted in girl adolescence who attend school in SMAN 1 Banjarmasin. The amounts of subjects are 100 people. The result of this research that there is a negative relationship between the acceptance (self-acceptance) on the physical condition of the tendency of anorexia nervosa among girl adolescence in SMAN 1 Banjarmasin.

(2)

PENDAHULUAN masih jauh dibawah dari yang dibutuhkan negara M a s a r e m a j a m e r u p a k a n m a s a untuk menyerap tenaga kerja yang tersedia. perkembangan transisi antara masa anak dan masa Kenyataan menunjukkan bahwa tidak semua dewasa yang mencakup perubahan biologis, orang berani memutuskan untuk menjadi seorang kognitif, dan sosio emosional (Santrock, 2003). wirausaha. Keputusan seseorang untuk terjun dan Pada remaja perempuan perubahan fisik terjadi memilih profesi sebagai seorang wirausaha s e p a n j a n g m a s a p u b e r t a s . Pe r ce p a t a n didorong oleh beberapa kondisi. Kondisi-kondisi pertumbuhan badan yang terutama nampak yang mendorong keputusan seseorang memilih sebagai pertumbuhan panjang badan berlangsung profesi wirausaha adalah sebagai berikut: (1) orang dalam periode selama dua tahun. Periode ini tersebut lahir dan/atau dibesarkan dalam keluarga berlangsung antara usia 11 dan 13 tahun dengan yang memiliki kultur atau tradisi yang kuat di permulaannya selama kira-kira 1 tahun dan bidang usaha (confidence modalities); (2) orang puncaknya pada usia 14 tahun. Pertumbuhan tersebut berada dalam kondisi yang menekan, panjang badan masih terus berjalan selama kurang sehingga tidak ada pilihan lain bagi dirinya selain lebih tiga tahun sampai kira-kira usia 16 dan 18 menjadi wirausaha (tension modalities); dan (3) tahun (Monks, 2006). Selain pertumbuhan tinggi seseorang yang memang mempersiapkan dirinya badan, terjadi pertambahan berat badan dan untuk menjadi wirausahawan (emotion bertambahnya berat badan sekitar 8.3 kg modalities) (Suryana, 2008).

pertahun, umumnya terjadi saat umur 12.5 tahun Sejumlah penelitian pernah dilakukan dan berat badan mulai stabil setelah mengalami terkait dengan situasi dan kondisi kewirausahaan. menarche. Komposisi tubuh juga mengalami Penelitian yang dilakukan Sulasmi (dalam Alma, perubahan, massa otot mengalami penurunan 2008) terhadap 22 orang wirausaha wanita di sebesar 14%, sedangkan jaringan lemak dalam Bandung menunjukkan relasi diantara para tubuh meningkat sebesar 11% (Brown, 2005). Pada wirausahawan dimana sekitar 55% wirausaha remaja perempuan bertambahnya jaringan wanita tersebut memiliki latar belakang keluarga pengikat di bawah kulit (lemak) tertama pada pengusaha, baik dari suami, orangtua, ataupun daerah paha, pantat, lengan atas dan dada (Monks, saudara-saudara. Sementara penelitian Mu'minah

2006). (dalam Alma, 2008) menunjukkan bahwa

Remaja perempuan mengalami peningkatan wirausahawan yang sukses di daerah Pangandaran jaringan lemak yang membuat tubuh mereka memulai usahanya dengan keterpaksaan. semakin jauh dari kurus ideal (Graber, Brooks- Sedangkan penelitian dari Kim (dalam Bernadete, Gunn, Paikoff & Warren, 1994; Tobin-Richards, 2004) menemukan fakta bahwa kebanyakan Boxer, Kavrell & Petersen, 1984; dalam Stice & wirausaha yang berhasil di Singapura (70%) adalah W h i te n to n , 2 0 02 ) . Pe rh a t i a n te rh a d a p mereka yang memiliki tingkat pendidikan tinggi, penampilan dan yang ada dan kebutuhan lahan yaitu lulusan universitas.

kerja. Menurut Agus Martowardojo (2008), Berdasarkan latar belakang di atas, penulis mantan Direktur Utama Bank Mandiri yang tertarik untuk menguji efektifitas pelatihan sekarang menjadi Menteri Keuangan, proporsi potency and entrepreneurship (PPE) dalam

wajar jumlah wirausaha di suatu negara minimal mengembangkan kemampuan kewirausahaan 2% dari jumlah penduduk. Di Indonesia sendiri, pada siswa sekolah menengah atas. PPE sendiri dengan jumlah penduduk usia kerja sekitar 171,02 adalah modul yang dikembangkan oleh peneliti juta, tercatat hanya ada 564.240 unit wirausaha yang disusun berdasarkan berbagai pengalaman atau berkisar pada 0,24% dari total jumlah kewirausahaan peneliti sendiri dan rekan-rekan penduduk Indonesia saat ini. Kondisi ini jauh peneliti selama ini. kondisi fisik merupakan berbeda dengan Amerika Serikat yang sudah bagian dari konsep diri remaja. Konsep diri pada mencapai 12% dari total jumlah penduduknya, mulanya adalah citra tubuh, yaitu sebuah atau China dan Jepang yang mencapai 10%, atau gambaran yang dievaluasikan mengenai diri fisik. bahkan Singapura (7%), India (7%), dan Malaysia Sosok tubuh, penampilan dan ukurannya (3%). Minimnya jumlah wirausaha di Indonesia merupakan hal teramat penting di dalam menjadikan lapangan kerja yang tersediapun mengembangkan pemahaman tentang evolusi

(3)

konsep diri seseorang (Burns, 1993). (Agustiani, 2006).

Menurut Fitts (1971) konsep diri terbagi Menurut Hill dan Monks (dalam Monks, dalam dua dimensi, yaitu dimensi internal dan 2006), remaja sendiri merupakan salah satu dimensi eksternal. Dimensi internal merupakan penilai yang penting terhadap badannya sendiri. penilaian yang dilakukan individu terhadap Apabila remaja mengerti bahwa badannya dirinya sendiri berdasarkan dunia di dalam tersebut memenuhi persyaratan, maka hal itu dirinya, dimensi ini terdiri dari tiga bentuk yaitu akan berakibat positif terhadap penilaian dirinya. diri identitas (self identity), diri pelaku Apabila ada penimpangan-penyimpangan yang (behavioral self ), dan diri penerima/penilai mereka rasa ada di tubuh mereka, maka timbulah (judging self). Dalam dimensi internal ini diri masalah-masalah yang berhubungan dengan penilai menentukan kepuasaan seseorang akan penilaian diri.

dirinya atau seberapa jauh orang menerima Penilaian mengenai tubuh yang negatif dirinya. Dimensi eksternal merupakan keadaan dapat menimbulkan adanya usaha-usaha obsesif dimana individu menilai dirinya melalui terhadap kontrol berat badan (Davidson & Birch, hubungan dan aktivitas sosialnya, nilai-nilai yang 2001; Schreiber et al., 1996; Vereecken & Maes, dianutnya serta hal-hal lain di luar dirinya. 2000; dalam Papalia, 2008). Remaja akan Dimensi eksternal dibagi atas lima bentuk yaitu cenderung melakukan pola pengontrolan berat diri fisik (physical self), diri etik-moral (moral- badan dalam bentuk apapun untuk mendapatkan ethical self), diri pribadi (personal self), diri kepuasan mengenai bentuk tubuh mereka. keluarga (family self), dan diri sosial (social self). Terdapat data dimana 57% remaja perempuan Bagian-bagian dimensi internal dan eksternal dilaporkan melakukan pola perilaku mengontrol tersebut saling berinteraksi satu sama lain, berat badan yang tidak sehat (Neumark-Sztainer sehingga membentuk lima belas kombinasi, yang et al., 2002, dalam Vander Wal, 2011). Dari mana salah satu kombinasinya membentuk penelitian yang dilakukan oleh Vander Wal kepada penerimaan diri fisik (Agustiani, 2006). 2409 remaja perempuan didapatkan data bahwa Penerimaan diri terhadap kondisi fisik pola perilaku mengontrol berat badan yang tidak merupakan kondisi dimana seseorang dapat sehat yang banyak dilakukan adalah 46.6% remaja mencintai dirinya sendiri dan mencintai fisiknya, perempuan sengaja melewatkan makan (sarapan, dalam batas apapun, dan dapat menerima keadaan makan siang, ataupun makan malam), 16% remaja dirinya apa adanya, tanpa terus-menerus perempuan berpuasa untuk menguruskan badan, mengkritik dirinya. Individu dapat menerima 12.9% remaja perempuan membatasi atau dirinya secara baik, tidak memiliki beban perasaan menolak satu jenis makanan atau lebih untuk diet terhadap dirinya sendiri (Hurlock, 1983). Selain itu y a n g k e t a t , 8 . 9 % r e m a j a p e r e m p u a n Hurlock (1990) menjelaskan bahwa seseorang menggunakan pil-pil diet atau pil-pil pengurus yang menerima dirinya sendiri, mempunyai badan, 6.6% remaja perempuan merokok untuk penilaian yang realistik terhadap keterbatasan menurunkan berat badan, dan 6.6% remaja tanpa mencela diri sendiri dan tahu akan perempuan memuntahkan makanan dengan kemampuan serta secara bebas menggunakan paksa (Vander Wal, 2011). Di Australia survey kemampuannya tersebut dan tidak menyalahkan dilakukan Wertheim kepada 606 remaja oranglain terhadap kekurangan yang dimilikinya. perempuan, ditemukan bahwa 9% remaja Menurut Havighurst penerimaan diri perempuan memuntahkan makanan yang sudah terhadap kondisi fisik ini merupakan salah satu dimakan, 6% remaja perempuan menggunakan tugas dari perkembangan yang harus dilalui. Para pil-pil diet (obat diet), 6% remaja perempuan remaja diharapkan dapat menerima keadaan diri m e n g g u n a k a n o b a t p e n c a h a r, d a n 3 % sebagaimana adanya keadaan diri mereka sendiri, menggunakan obat-obat diare untuk mengontrol dan dapat memanfaatkannya secara efektif berat badan (Grigg, Bowman, Redman, 1996). (Hurlock, 1994). Hal ini dimaksudkan agar remaja Hasil pengamatan dan wawancara yang merasa bangga atau memiliki toleransi terhadap dilakukan peneliti di Banjarmasin, khususnya di kondisi fisiknya, serta dapat menggunakan dan SMAN 1 Banjarmasin. Salah satu siswi sekolah memelihara badannya (dirinya) secara efektif tersebut pernah mengalami gangguan anorexia

(4)

nervosa, hal ini menyebabkan siswi tersebut tidak sejumlah makanan dalam porsi kecil sekalipun, dapat mengikuti pelajaran sekolah selama mereka akan segera merasa 'penuh' atau bahkan beberapa bulan. Selain itu, pihak guru (Guru BK) mual. Mereka terus menerus melakukan diet mati-SMAN 1 Banjarmasin menambahkan bahwa matian untuk mencapai tubuh yang kurus. mereka terkadang mendapati anak didik mereka Anorexia nervosa terutama menimpa perempuan melakukan perilaku diet, tetapi mereka tidak selama masa remaja dan masa awal dewasa. mendata siswa mereka yang melakukan perilaku Dalam penelitian ini, masalah yang ingin diet, hal ini mereka lihat saat dilaksanakannya diangkat oleh peneliti adalah ingin mengetahui upacara sekolah tiap hari senin, ada beberapa dari apakah terdapat hubungan antara penerimaan diri siswa mereka yang pingsan dan terkena anemia, terhadap kondisi fisik dengan kecenderung saat di konfirmasi dengan pihak siswa yang anorexia nervosa pada remaja perempuan di bersangkutan, ternyata mereka belum makan dan SMAN 1 Banjarmasin.

memang sengaja tidak makan dengan alasan

untuk membuat badan mereka menjadi kurus dan METODE PENELITIAN

langsing seperti teman-teman mereka. Variabel dalam penelitian ini yaitu Penilaian diri pada remaja perempuan penerimaan diri terhadap kondisi fisik dan tentang kelebihan berat badan yang mereka miliki kecenderungan anorexia nervosa pada remaja dan keinginan mereka untuk menjadi lebih kurus perempuan. Penerimaan diri terhadap kondisi dan langsing mengarahkan remaja pada anggapan fisik adalah keadaan dimana individu mengetahui, yang tidak realistik dan ini memungkinkan untuk dapat menerima kelebihan dan kelemahan, serta munculnya perilaku gangguan makan (Grigg, dapat mencintai, menghargai dan toleransi Bowman, Redman, 1996). Dalam sebuah terhadap kondisi fisik yang dimiliki. Sedangkan penelitian didapatkan bahwa penilaian diri yang kecenderungan anorexia nervosa adalah gangguan tidak puas dengan tubuh memiliki korelasi dengan perilaku makan yang mana penderitanya peningkatan prevalensi terjadinya gangguan membatasi asupan makanan yang dikonsumsi makan pada remaja perempuan (American (dieting), memiliki sikap perhatian yang Psychiatric Association, 1994; Keel, Mitchell, berlebihan (terpaku) terhadap makanan, dan Davis, & Grow, 2001; Mintz & Bentz, 1986 dalam adanya kontrol berlebihan terhadap berbagai Lokken, Ferraro, Kirchner, & Bowling 2003). Salah bentuk makanan yang akan dimasukkan ke dalam satu gangguan makan yang dapat muncul yaitu mulut (dikonsumsi).

anorexia nervosa. Penelitian lain juga meyebutkan Penelitian ini dilakukan pada remaja bahwa konsep diri (self concept) dan penghargaan perempuan yang berada pada rentang usia remaja diri (self esteem) adalah sebuah konstruk yang madya atau remaja tengah, yaitu 15 – 18 tahun, yang memungkinkan menjadi penyebab munculnya bersekolah di SMAN 1 Banjarmasin sejumlah 100 gangguan perilaku makan. Rendahnya level orang. Alat pengumpulan data berupa kuesioner penghargaan diri (low self esteem) merupakan penerimaan diri terhadap kondisi fisik yang faktor penyebab yang utama terhadap onset disusun oleh Bunga Permatasari, dan kuesioner terbentuknya anorexia nervosa dan gangguan kecenderungan anorexia nervosa yang diadaptasi perilaku makan yang lain (Casper, 1998; Button & dari The Eating Attitude Test 26 (EAT 26) disusun Warren, 2002; Jacobi et.al,. 2004 dalam Thrinh, oleh Garner dan Garfinkel (1982). Analisis data Marsh, & Halse). dilakukan denga teknik statistik korelasi product Anorexia nervosa dapat diartikan sebagai moment Pearson, dengan bantuan program SPSS aktivitas untuk menguruskan badan dengan 16.00 for Windows. Taraf signifikansi yang melakukan pembatasan makan secara sengaja dan digunakan dalam penelitian ini sebesar 5% atau melalui kontrol yang ketat. Penderita anorexia nilai probabilitasnya sebesar 0,05.

sadar bahwa mereka merasa lapar namun takut

untuk memenuhi kebutuhan makan mereka HASIL PENELITIAN

karena bisa berakibat naiknya berat badan. Dari hasil perhitungan korelasi, maka Persepsi mereka terhadap rasa kenyang terganggu diperoleh hasil korelasi kedua variabel adalah sehingga pada saat mereka mengkonsumsi –0,580, dimana jika dilihat dari angka probabilitas

(5)

0,000, dimana p < 0,05, maka dapat diputuskan diri sendiri (self directed). Mengembangkan bahwa hipotesis dari penelitian ini diterima, yaitu kematangan tingkah laku, belajar mengendalikan “Ada Hubungan Negatif antara Penerimaan Diri impulsivitas dan membuat keputusan-keputusan terhadap kondisi Fisik dengan Kecenderungan awal yang berkaitan dengan tujuan vokasional Anorexia Nervosa pada Remaja Perempuan di yang ingin dicapai. Selain itu penerimaan dari SMAN 1 Banjarmasin”. Selain itu, karena adanya lawan jenis menjadi penting bagi individu.

tanda negatif (-) didepan 0,580 pada tampilan Pada masa remaja ini individu mengalami output, maka hubungan kedua variabel tersebut berbagai perubahan, baik fisik maupun psikis. adalah berbanding terbalik. Hal ini menunjukkan Perubahan yang tampak jelas adalah perubahan bahwa semakin tinggi penerimaan diri, maka fisik, dimana tubuh berkembang pesat sehingga semakin rendah kecenderungan anorexia nervosa mencapai bentuk tubuh orang dewasa. pada remaja perempuan di SMAN 1 Banjarmasin. Pertumbuhan anggota-anggota badan lebih cepat Sebaliknya, semakin rendah penerimaan diri, daripada badannya; hal ini membuat remaja untuk maka semakin tinggi kecenderungan anorexia sementara waktu mempunyai proporsi tubuh yang nervosa pada remaja perempuan di SMAN 1 tidak seimbang. Remaja perempuan mengalami Banjarmasin. Dengan demikian, sifat dari skala peningkatan jaringan lemak yang membuat tubuh penerimaan diri adalah semakin tinggi skor mereka semakin jauh dari kurus ideal. Seringkali penerimaan diri, maka subjek semakin memiliki penyimpangan dari bentuk badan khas wanita penerimaan diri yang tinggi, sedangkan semakin menimbulkan kegusaran batin yang cukup rendah skor penerimaan diri, maka subjek mendalam karena pada masa ini perhatian remaja semakin memiliki penerimaan diri yang rendah. sangat besar terhadap penampilan dirinya.

Sedangkan utuk sifat skala kecenderungan Perhatian terhadap penampilan dan kondisi anorexia nervosa adalah semakin tinggi skor fisik merupakan bagian dari konsep diri remaja. kecenderungan anorexia nervosa maka subjek Konsep diri pada mulanya adalah citra tubuh, yaitu semakin mengarah pada memiliki kecenderungan sebuah gambaran yang dievaluasikan mengenai anorexia nervosa, sedangkan semakin rendah skor diri fisik. Sosok tubuh, penampilan dan ukurannya kecenderungan anorexia nervosa maka subjek merupakan hal teramat penting di dalam mengarah pada tidak memiliki kecenderungan mengembangkan pemahaman tentang evolusi anorexia nervosa. Koefisien korelasi 0,580 ini konsep diri seseorang (Burns, 1993).

berada pada rentang interval nilai r 0,50 – 1.0. Hal Menurut Fitts (1971) konsep diri terbagi ini menunjukkan bahwa adanya korelasi yang kuat dalam dua dimensi, yaitu dimensi internal dan antara penerimaan diri terhadap kondisi fisik dimensi eksternal. Dimensi internal merupakan dengan tingkat kecenderungan anorexia nervosa penilaian yang dilakukan individu terhadap pada remaja perempuan di SMAN 1 Banjarmasin. dirinya sendiri berdasarkan dunia di dalam dirinya, dimensi ini terdiri dari tiga bentuk yaitu PEMBAHASAN diri identitas (self identity), diri pelaku Masa remaja merupakan masa transisi (behavioral self ), dan diri penerima/penilai atau peralihan dari masa anak-anak menuju masa (judging self). Dalam dimensi internal ini diri dewasa. Sasaran peneliti yang mana memberikan penilai menentukan kepuasaan seseorang akan kuesioner penelitian kepada remaja yang berada dirinya atau seberapa jauh orang menerima pada usia rentang 15 – 18 tahun. Menurut Monks dirinya. Dimensi eksternal merupakan keadaan dan Knoers (2006) pada masa ini remaja mulai dimana individu menilai dirinya melalui meninggalkan peran sebagai anak-anak dan hubungan dan aktivitas sosialnya, nilai-nilai yang berusaha mengembangkan diri sebagai individu dianutnya serta hal-hal lain di luar dirinya. yang unik dan tidak tergantung pada orangtua, Dimensi eksternal dibagi atas lima bentuk yaitu tahap ini adalah penerimaan terhadap bentuk dan diri fisik (physical self), diri etik-moral (moral-kondisi fisik serta adanya konformitas yang kuat ethical self), diri pribadi (personal self), diri d e n g a n t e m a n s e b a y a . S e l a i n i t u , keluarga (family self), dan diri sosial (social self). berkembangannya kemampuan berpikir yang Bagian-bagian dimensi internal dan eksternal baru. Individu sudah lebih mampu mengarahkan tersebut saling berinteraksi satu sama lain,

(6)

sehingga membentuk lima belas kombinasi, yang Berdasarkan data tambahan yang diperoleh mana salah satu kombinasinya membentuk oleh peneliti, dari 100 orang subjek penelitian, 63 penerimaan diri fisik (Agustiani, 2006). orang yaitu 63% pernah melakukan perilaku diet Menurut Havigurst (Hurlock, 1994) ada 10 atau membatasi asupan makanan yang tugas-tugas perkembangan remaja, salah satu dikonsumsi untuk tubuh. Perempuan anoreksik diantaranya adalah menerima keadaan fisiknya mencoba untuk menghindari tubuh mereka serta menggunakan secara efektif. Para remaja bertambah berat badannya dan mencoba diet yang diharapkan dapat menerima keadaan diri ekstrim, jadi perilaku diet yang dilakukan remaja sebagaimana adanya keadaan diri mereka sendiri, perempuan untuk mendapatkan tubuh yang ideal bukan khayalan dan impian serta mampu bisa membuat mereka mengalami kecenderungan memanfaatkannya secara efektif. Hanya sedikit anorexia nervosa.

dari remaja yang mampu menerima kenyataan ini, Data subjek berupa tinggi dan berat badan, s e h i n g g a m e r e k a t i d a k p u a s d e n g a n peneliti dapat menghitung indeks massa tubuh penampilannya. Terdapat banyak alasan mengapa subjek dan mengklasifikasikannya ke dalam remaja tidak puas dengan perubahan dan bentuk kategori indeks massa tubuh. Hasil perhitungan tubuh yang mereka miliki dan mengalami IMT didapatkan 12 orang (12%) dari subjek kesulitan untuk menerimanya, salah satunya penelitian berada pada kategori kekurangan berat dalah hampir semua remaja membentuk konsep badan, 77 orang (77%) dari subjek penelitian diri fisik yang ideal berdasarkan konsep dari berada pada kategori berat badan normal, dan 11 berbagai sumber individu ideal dalam kelompok orang (11%) dari subjek penelitian berada pada seksnya.Sedikit sekali remaja yang mampu kategori kelebihan berat badan. Berdasarkan hasil mendekati keadaan fisik ideal ini. Oleh karena itu, perhitungan indeks massa tubuh ini, kebanyakan awal tidak puas dengan penampilan dirinya dan dari subjek penelitian memiliki proporsi tubuh sulit untuk menerima dirinya sendiri. Hal ini yang berada pada kategori normal.

menunjukkan penerimaan diri terhadap kondisi Hasil penelitian yang dilakukan, ada fisik yang dimiliki rendah, sehingga mereka dapat beberapa subjek yang memiliki nilai penerimaan mengalami kecenderungan anorexia nervosa. diri yang rendah dan nilai untuk kecenderungan Penilaian mengenai tubuh yang negatif anorexia nervosa yang tinggi. Jika aktivitas yang dapat menimbulkan adanya usaha-usaha obsesif dilakukan subjek yang mana merujuk pada terhadap kontrol berat badan, dan demi aktivitas apa saja yang dilakukan oleh penderita mendapatkan kepuasan mengenai bentuk tubuh anorexia nervosa pada Diagnostic and Statistic mereka, remaja akan cenderung melakukan pola Manual of Mental Disorder IV TR (4th Ed) pengontrolan berat badan dalam bentuk apapun. (American Psychiatric Association, 2000). Anorexia nervosa dapat diartikan sebagai aktivitas Beberapa subjek bisa dikatakan mengarah atau untuk menguruskan badan dengan melakukan mengalami kecenderungan anorexia nervosa. pembatasan makan secara sengaja dan melalui

kontrol yang ketat. Penderita anorexia sadar SIMPULAN

bahwa mereka merasa lapar namun takut untuk Berdasarkan hasil analisis data yang memenuhi kebutuhan makan mereka karena bisa dilakukan dalam penelitian ini, maka peneliti berakibat naiknya berat badan. Perhatian dapat menyimpulkan bahwa :

terhadap penampilan kondisi fisik mereka yang Ada hubungan negatif antara penerimaan berlebihan dapat menyebabkan adanya perasaan diri terhadap kondisi fisik dengan kecenderungan cemas dan takut penampilan kondisi fisik mereka anorexia nervosa pada remaja perempuan di menjadi tidak sempurna, ini menunjukkan SMAN 1 Banjarmasin. Semakin rendah penerimaan diri yang dimiliki rendah, sehingga penerimaan diri terhadap kondisi fisik maka r e m a j a p e r e m p u a n d a p a t m e n g a l a m i semakin tinggi kecenderungan mengalami kecenderungan anorexia nervosa. Dari penelitian anorexia nervosa pada remaja perempuan di ini membuktikan bahwa penerimaan diri remaja SMAN 1 Banjarmasin. Sebaliknya, semakin tinggi yang rendah akan kondisi fisik dirinya dapat penerimaan diri terhadap kondisi fisik, maka memunculkan kecenderungan anorexia nervosa. semakin rendah kecenderungan mengalami

(7)

Manual of Mental Disorder IV TR (4th Ed) Beberapa subjek bisa dikatakan mengarah atau (American Psychiatric Association, 2000). mengalami kecenderungan anorexia nervosa.

PUSTAKA ACUAN

Agustiani, H. (2006). Psikologi Perkembangan Pendekatan Ekologi Kaitannya dengan Konsep Diri. Bandung : PT. Refika Aditama.

American Psychiatric Association. (1994). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (4th. ed), Fourth Edition. Washington DC: American Psychiatric Association.

Azwar, S. (2004). Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta : Pustaka Belajar. Azwar, S. (2006). Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta : Pustaka Belajar.

Brown, J. E, et. al. (2005). Nutrition Through The Life Cycle 2nd edition. United States of America: Thomson Wadsworth.

Burns, R. B. (1993). Konsep Diri : Teori, Pengukuran, Perkembangan dan Perilaku. Jakarta. Arcan

Davison, Gerald C, Neale, John M, Kring, Ann M. 2006. Psikologi Abnormal. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

E.B.Hurlock, (1990). Psikologi Perkembangan Edisi 5. Jakarta: Erlangga

Garner, M. D., Olmsted, P., Bohr, Y., & Garfinkel, E. P. (1982). The Eating Attitude Test : Psychometric Feauters and Clinical Correlates. Journal of Psychological Medicine, Vol 12, 871-878

Grigg, M., Bowman, J., Redman, S. (1996). Disordered Eating and Unhealthy Weight Reduction Practice Among Adolescent Females. Article of Preventive Medicine, No. 011, 871-878

Hadi, S. (2004). Metodologi Research.Yogyakarta : Andi

Hall. C. S & Lindzey, G. (2005). Teori-Teori Holistik (Organismik-Fenomenologis). (Terjemahan). Yogyakarta : Penerbit Kanisius.

Hjelle, L. A. & Zielgar, O.J. (1992) Personality Theories Basic Assumtions, Research & Applications. Si

ngapore

: Mc Graw Hill International Book Company.

Hurlock, E. B. (1983). Personality Development. New York. Mc Graw-Hill

(8)

Hurlock, E. B. (1994). Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan.

(Terjemahan). Jakarta : Erlangga.

Johnson, David W., (1993), Reaching Out : Interpersonal Effectiveness and Self – Actualization, fith edition, USA, Allyn and Bacon

Kerlinger, F.N (1995). Azas-Azas Penelitian Behavioral (Edisi Ketiga). (Terjemahan). Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Lokken, K. dkk. (2003). Gender Differences in Body Size Dissatisfaction Among Individuals With Low, Medium, or High Levels of Body Focus. Journal of General Psychology, 130 (3), 305-310.

Monks, F.J., Knoers, A.M.P., Haditono, S.R. (2006). Psikologi Perkembangan: Pengantar dan Berbagai

Bagiannya. Yogyakarta : Gadjah Mada Universiti Press.

Nevid, J. (2005). Psikologi Abnormal. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Pallant, J. (2011). SPSS Survival Manual (4th Ed). Sydney : Midland Typesetter.

Papalia, Diane, Old, S. W., Feldman, R. D. (2008). Psikologi Perkembangan. (Terjemahan). Jakarta: Kencana Prenada Media Grup.

Santrock. J. W. (2002). Life-Span Development: Perkembangan Masa Hidup.(edisi kelima). (Terjemahan). Jakarta: Erlangga

Santrock. J. W. (2003). Adolescence. Jakarta: Erlangga

Singarimbun dan Effendi . (1995). Metode Penelitian Survei. Jakarta : LP3ES.

Stice, E. Whitenton, K. (2002). Risk Factors for Body Dissatisfaction in Adolescent Girls: A Longitudinal Investigation. Journal of Developmental Psychology, Vol 38, No. 5, 669-678

Trihn, My., Marsh, W. H, Halse, C. (2000). Adolescent Anorexia Nervosa and Self Concept [R]. SELF

Research Centre. University of Western Sydney, Australia.

Vander Wal, S. J, (2011). Unhealthy Weight Control Behaviors Among Adolescents. Journal of Health

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :