OSEANOLOGI DAN LIMNOLOGI
DI
INDONESIA
Volume 41, Nomor 2, Agustus 2015
PUSAT PENELITIAN OSEANOGRAFI
PUSAT PENELITIAN LIMNOLOGI
LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA
JAKARTA – BOGOR
OLDI Vol. 41 No. 2 Hal 121-244
Jakarta-Bogor Agustus 2015
ISSN 0125 – 9830 NomorAkreditasi: 435/AU2/P2MI-LIPI/08/2012, berlaku sampai dengan 07 Agustus 2015
191
KAJIAN AWAL EFEKTIVITAS KANTUNG PENAMPUNG LIMBAH
PADA KERAMBA JARING APUNG*
PRELIMINARY STUDY OF THE EFFECTIVENESS OF WASTE CONTAINER BAGS
ON FLOATING NET CAGES*
Livia Rossila Tanjung
1dan Agus Hamdani
21
Pusat Penelitian Limnologi LIPI, 2Stasiun Limnologi dan Alih Teknologi LIPI *Sebagian isi naskah ini sudah dipresentasikan pada Seminar Nasional Limnologi 2014
Email: [email protected] Received 17 Desember 2014, Accepted 07 July 2015
ABSTRAK
Pemanfaatan Danau Maninjau sebagai area Keramba Jaring Apung (KJA) terus mengalami peningkatan hingga jauh melampaui daya dukung danau. Sejalan dengan itu, kematian massal ikan terjadi setiap tahun dan menimbulkan kerugian miliaran rupiah. Upaya untuk mengurangi pembuangan limbah KJA ke dasar danau pernah dilakukan melalui introduksi KJA berlapis di Danau Maninjau. Penggunaan kantung penampung limbah (kapel) yang dikaji dalam penelitian ini merupakan solusi lain untuk mengurangi jumlah limbah dari KJA yang terbuang ke danau. Pengujian efektivitas kapel pada KJA dilakukan dari bulan Desember 2013 hingga Februari 2014 dan bertujuan untuk mengetahui kemampuan dan efisiensi kapel dalam meminimalkan beban limbah KJA yang terbuang ke danau. Dua jenis kapel yang diuji yaitu kapel berbahan kain dan kapel berbahan kasa nilon. Uji efektivitas kapel dilakukan pada dua unit KJA untuk budidaya ikan Nila Oreochromis niloticus di Jorong Sungai Rangeh, Danau Maninjau. Satu unit KJA berkapel terdiri dari jaring dalam berukuran 3 x 3 x 3 m3 yang berfungsi sebagai tempat pemeliharaan ikan dan jaring luar berukuran 4 x 4 x 4 m3 yang berfungsi sebagai kantung penampung limbah dan dipasang 0,2 m di bawah permukaan air. Pengambilan limbah dilakukan setiap 3-5 hari, tergantung cuaca, dengan melepaskan kapel dari jaring dalam. Percobaan menggunakan kapel berbahan kain tidak bisa dilanjutkan hingga selesai karena mengalami penyumbatan yang mengganggu budidaya ikan. Dengan kapel berbahan nilon diperoleh nilai rata-rata survival rate (SR) ikan Nila sebesar 59,1% dan nilai feed conversion ratio (FCR) 1,45. Kapel berbahan nilon cukup efektif sebagai penampung sementara limbah KJA karena mampu menahan limbah basah seberat 34,9 kg dari 200 kg total pakan atau sebesar 67% dari berat total limbah selama penelitian. Efektivitas kapel dapat ditingkatkan dengan menyempurnakan desain, konstruksi dan bahan kapel, supaya limbah yang lolos dapat dikurangi.
Kata kunci: Danau Maninjau, kantung penampung limbah (kapel), efektivitas, limbah KJA.
ABSTRACT
The exploitation of Lake Maninjau as an area for floating net cages (KJA) has increased far beyond the carrying capacity of the lake. Meanwhile, mass fish deaths occur every year resulting in the loss of billions of rupiahs. Efforts to reduce the rate of waste disposal to the bottom of the lake have been attempted through the introduction of layered KJAs. This research assesses waste container bags (kapel) as another solution to reduce the amount of KJA waste disposed into the lake. The effectiveness of the waste container bags around the cages was tested from December 2013 to February 2014 to determine their capability and efficiency in minimizing the waste load discharged into the lake. There were 2 types of bags tested, one made of cloth and the other made of nylon gauze. The testing was performed on two net cages used for the cultivation of Tilapia fish (Oreochromis niloticus) in Rangeh River Village, Lake Maninjau. One cage consisted of an inner net measuring 3 x 3 x 3 m3 ana an outer net measuring 4 x 4 x 4 m3 which served as the container for waste and was placed 0.2 m below the water surface. Waste retrieval was done every 3-5 days, depending on the weather, by releasing the waste net from the cage net. The experiment using cloth could not
192
be completed due to the clogging that interfered with the fish culture. Using the nylon gauze for the waste net, the average survival rate (SR) of Tilapia was 59.1%, while the feed conversion ratio (FCR) was 1.45. The nylon waste container bag collected wet waste weighing 34.9 kg from 200 kg of total feed, or 67% of the estimated total amount of waste during the study. Thus, it was quite effective as a temporary waste container. The effectiveness of the waste net can be improved by refining the design, construction and materials used, so the escaping waste can be reduced.
Keywords: Lake Maninjau, waste container bag (kapel), effectiveness, floating net cage waste.
PENDAHULUAN
Hingga awal tahun 2000-an multifungsi yang dimiliki Danau Maninjau masih berjalan dengan selaras, yaitu sebagai pembangkit listrik (PLTA), usaha perikanan tangkap dan budidaya ikan di keramba jaring apung (KJA), area wisata alam dan untuk keperluan domestik. Namun, selama dekade terakhir, kegiatan budidaya ikan di KJA merupakan aktivitas yang sangat dominan di Danau Maninjau. Sebaliknya, kegiatan lain seperti usaha pariwisata sedikit demi sedikit berkurang yang terlihat dari kunjungan wisatawan lokal maupun mancanegara yang mengalami penurunan (Bappeda & BPS Kabupaten Agam, 2008; Antara, 2012).
Memburuknya kondisi air Danau Maninjau karena ledakan populasi fitoplankton (Tanjung, 2013), bau anyir yang tercium sampai ke pinggir jalan selingkar danau, terutama di daerah yang banyak KJA seperti Muko-muko hingga kematian massal ikan terjadi setiap tahun. Hal tersebut merupakan penyebab utama menghilangnya aktivitas pariwisata sejak sepuluh tahun terakhir. Tingginya aktivitas budidaya KJA di danau ini telah menyebabkan limbah yang terbuang ke danau semakin banyak. Limbah ini terutama berasal dari pakan yang tidak termakan, selain ekskresi dan feses
ikan, sehingga mengendap di dasar danau yang menyebabkan turunnya kualitas air danau.
Pemanfaatan danau sebagai lahan KJA yang dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, hingga saat ini belum bisa dikontrol atau dibatasi pertumbuhannya. Pada tahun 1999 KJA di Danau Maninjau masih berjumlah 2.856 unit yang dimiliki oleh 795 kepala keluarga (Lukman, 2011). Jumlah KJA mencapai puncaknya pada tahun 2008, yaitu 15.051 unit (Bappeda & BPS Kabupaten Agam., 2008). Tahun 2013 dengan jumlah 14.341 unit (Bappeda & BPS Kabupaten Agam, 2014) terlihat adanya penurunan jumlah KJA dibanding tahun 2008. Pada tahun 2014 jumlah KJA kembali meningkat hingga 18.630 unit (Lukman et al., 2015), padahal menurut Pusat
Penelitian Limnologi LIPI (2009) Danau Maninjau hanya mampu mendukung 6.500 unit KJA. Jumlah KJA saat ini hampir tiga kali lipat dari daya dukung danau. Rekomendasi tentang jumlah optimum KJA di Danau Maninjau sudah pernah disampaikan kepada Pemerintah Daerah dan DKP Kabupaten Agam, namun jumlah KJA yang berlebihan tersebut masih belum bisa dibatasi. Akibatnya, kematian massal ikan berulang kali terjadi. Pada tahun 2008 terjadi kematian massal ikan sebanyak 15.000 ton (Hamriadi, 2014). Kematian massal ikan pada tahun 2009 mengakibatkan kerugian sebesar Rp 150 milyar dari 13.413 ton ikan yang mati dan pada tahun 2010 kematian ikan yang mencapai 1.150 ton di Nagari Maninjau dan Bayur mengakibatkan kerugian sebesar Rp 13,93 milyar (Nasution et al., 2011). Tahun 2011 jumlah ikan yang mati sebanyak 500 ton. Tahun 2012 jumlah ikan yang mati turun menjadi 300 ton dan hanya 8 ton ikan yang mati pada tahun 2013 (Hamriadi, 2014). Selama tahun 2014, kematian massal ikan terjadi sebanyak lima kali dari bulan Januari hingga Agustus yang mencapai 670 ton dengan kerugian Rp 11,3 miliar (Singgalang, 2014; Syandri, 2014).
Berulangnya kejadian kematian massal ikan yang terutama disebabkan oleh limbah pakan yang menumpuk di dasar danau sangat berkaitan dengan metode pemberian pakan dengan sistem pompa yang diterapkan oleh pembudidaya di Danau Maninjau. Dalam sistem ini pakan diberikan terus-menerus sampai ikan berhenti makan. Metode ini tidak mengikuti kaidah pemberian pakan berdasarkan best management practises (Hollingsworth, 2006), yaitu pemberian pakan berdasarkan persentase berat tubuh ikan yang menurun dengan semakin bertambahnya berat ikan. Untuk ikan Nila, berat pakan cukup 3% per hari dari berat total ikan yang dipelihara (Setijaningsih et al., 2003; Azwar et al., 2004), karena ikan Nila merupakan ikan omnivora yang juga memakan tumbuhan air, fitoplankton, zooplankton, organisme bentik dan detritus (Alava, 2002).
193
Upaya untuk menekan laju pembuanganlimbah KJA ke dasar danau telah dilakukan melalui pengenalan KJA berlapis di Danau Maninjau (Triyanto et al., 2005). Penerapan KJA berlapis diharapkan dapat mengurangi jumlah pakan ikan yang terbuang karena tidak sempat dimakan oleh ikan yang dipelihara di lapisan atas, sehingga bisa dimakan oleh ikan yang dipelihara di lapisan bawah. Sayangnya, penerapan inovasi ini terkendala oleh keengganan pembudidaya setempat untuk mengeluarkan biaya tambahan pembuatan jaring (Triyanto, komunikasi pribadi) dan ketidakseriusan pemerintah daerah setempat untuk memelihara Danau Maninjau.
Penggunaan kantung penampung limbah (kapel) yang dikaji dalam penelitian ini merupakan
solusi lain untuk mengurangi jumlah limbah budidaya KJA yang terbuang ke danau. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas dan efisiensi kapel dalam menampung limbah sisa pakan dan feses ikan, sehingga limbah yang mencemari danau dapat dikurangi.
METODOLOGI Lokasi dan Waktu Penelitian
Uji coba kapel dilakukan pada dua petak KJA di area budidaya ikan di Danau Maninjau yang berlokasi di Jorong Sungai Rangeh, Nagari Bayur, selama dua bulan dari bulan Desember 2013 hingga Februari 2014 (Gambar 1).
Gambar 1. Lokasi penelitian pada KJA di Jorong Sungai Rangeh, Nagari Bayur. Figure 1. Research location at KJA in Jorong Sungai Rangeh, Nagari Bayur. Desain Penelitian
Percobaan dilakukan terhadap kantung penampung limbah yang terbuat dari dua jenis bahan yang berbeda, yaitu bahan kain dan bahan nilon. Pada uji coba pertama digunakan bahan kain yang memiliki jalinan benang yang cukup rapat dengan hitungan benang (thread count) 144. Pada
uji coba ke dua digunakan kasa nilon dengan kerapatan rendah dan hitungan benang 60 (Gambar 2 dan Gambar 3). Thread count atau hitungan benang adalah ukuran kekasaran atau kehalusan kain dengan menghitung jumlah benang dalam satu inci persegi kain.
194
(a)
(b)
Gambar 2. Bahan kapel yang diuji (a) bahan kain (b) kasa nilon. Figure 2. Waste bag material tested (a) cloth (b) nylon gauze.
(a)
(b)
Gambar 3. KJA berkapel (a) kain dan (b) kasa nilon.
Figure 3. Net cages with (a) cloth and (b) nylon gauze waste bag.
Gambar 4. Sistem KJA menggunakan kapel yang dipasang di sebelah luar jaring keramba. Figure 4. The KJA system using the waste bag mounted on the outside of the net cage.
Waste container
bag (kapel)
Cage net with
mesh size of 1.5”
195
Jaring keramba yang digunakan berukuran3 x 3 x 3 m3 dengan ukuran mata jaring 1,5 inci (3,8 cm). Kantung penampung limbah (kapel) berukuran 4 x 4 x 4 m3 (Gambar 4) dan ditempatkan di sebelah luar jaring keramba untuk menampung limbah. Kapel dipasang 0,2 m di bawah permukaan air selama 3 hingga 5 hari berturut-turut, tergantung cuaca. Setelah 5 hari, kapel ditarik keluar, limbah diambil dan ditimbang (berat basah). Lalu kapel baru dipasang selama 3-5 hari berikutnya secara berulang-ulang hingga penelitian selesai.
Antara jaring keramba dan kapel diberi jarak minimal 50 cm yang bertujuan untuk memudahkan proses pengangkatan jaring yang sudah terisi limbah yang tertampung di dasar kapel dan agar suplai oksigen dari pergerakan angin dan arus air dapat diterima ikan budidaya dengan maksimal. Parameter kualitas air seperti kandungan oksigen terlarut (DO) diamati setiap hari menggunakan WQC Horiba U 10.
Teknik Pengambilan dan Pengeringan Limbah
Limbah yang mengendap di dasar kapel diambil setiap 3-5 hari. Pengambilan limbah dilakukan dengan cara yang hampir sama dengan teknik pemanenan ikan pada kerarmba jaring berlapis di Waduk Cirata maupun Jatiluhur. Masing-
masing pemberat di setiap sudut kapel dilepaskan, kemudian jaring atas dirapatkan perlahan ke satu sisi dan jaring bawah (kapel) digeser ke sisi lainnya. Jaring kapel yang sudah menepi dibiarkan sekitar 1 jam sampai air pada kapel tersebut menyusut hingga 80%. Setelah air susut, limbah diambil dengan menggunakan serok yang terbuat dari kain dan limbah yang berbentuk seperti lumpur dimasukkan ke dalam kantung plastik (Gambar 5a). Selanjutnya, limbah dipindahkan ke dalam kantung tiris berbahan kain halus dan ditiriskan secara gravitasi di udara terbuka (Gambar 6a) hingga tidak meneteskan air lagi. Limbah ini disebut limbah basah karena masih mengandung air. Beratnya dicatat, lalu proporsinya dihitung untuk mengetahui efisiensi kapel berdasarkan konversi berat limbah basah terhadap berat pelet basah dari pelet kering yang diberikan sebagai pakan ikan budidaya. Persentase berat limbah yang bisa tertampung dari berat total limbah dihitung untuk mengetahui kemampuan dan efisiensi kapel dalam menampung limbah sisa pakan dan feses ikan budidaya. Limbah basah
akhirnya dikeringkan dengan cara digantung di luar ruangan selama minimal 18 hari (Gambar 6b) untuk mendapatkan limbah kering yang berbentuk butiran halus seperti debu dan berwarna abu-abu (Gambar 5b).
Ikan Uji dan Sistem Pemberian Pakan
Ikan yang dipelihara adalah ikan Nila yang dimasukkan ke dalam dua kolam A dan B yang masing-masing berisi 700 dan 800 ekor. Berat awal ikan rata-rata adalah 15,32 g per ekor dan biomassa awal total yaitu 23 kg. Ikan dipelihara selama 60 hari dan pakan yang diberikan adalah dari merk Mabar dengan kandungan protein 36%, lemak 5%, serat kasar 10% dan abu 12%. Pakan diberikan secara terus-menerus hingga ikan berhenti makan karena kenyang (fed to satiation). Dalam satu hari pakan diberikan hingga tiga kali, tetapi ada kalanya jumlah pakan yang diberikan dikurangi hingga sekali dalam sehari, yaitu ketika ikan Nila yang dibudidayakan tidak memiliki nafsu makan saat cuaca memburuk, seperti hujan, ombak besar atau angin kencang. Jumlah pakan yang diberikan dicatat sebelum kapel diangkat.
Penghitungan FCR dan SR Ikan Uji
Rasio konversi pakan (FCR, Feed Conversion Ratio) merupakan nilai konversi berat pakan dalam kg untuk menghasilkan pertumbuhan ikan seberat 1 kg dalam satu periode tanam. FCR dihitung dengan rumus (Sahzadi et al., 2006; Sawhney & Gandotra, 2010):
Keterangan: P = Berat pakan (kg) BI(t) = Berat akhir ikan (kg) BI(0) = Berat awal ikan (kg)
Survival Rate (SR) merupakan persentase kelangsungan hidup ikan budidaya yang dihitung pada akhir penelitian dengan rumus:
Keterangan: SR = Survival Rate (%) NI(t) = Jumlah akhir ikan (ekor) NI(0) = Jumlah awal ikan (ekor)
196
(a) (b)
Gambar 5. (a) Limbah basah (b) Limbah kering Figure 5. (a) Wet wastes (b) Dried wastes
(a) (b)
Gambar 6. (a) Proses penirisan dan (b) pengeringan Figure 6. (a) Draining and (b) drying processes
Untuk mendapatkan nilai pembanding FCR dan SR, dibudidayakan juga ikan Nila di dalam keramba lain yang tidak dilengkapi dengan kapel. Untuk itu, bibit ikan yang berjumlah 5.000 ekor dengan berat rata-rata 9,8 g per ekor dimasukkan ke dalam satu petak keramba yang berukuran 5 x 5 x 4 m3. Percobaan pembanding ini menggunakan keramba komersial yang baru akan dipanen setelah 4 bulan, berbeda dari penelitian ini yang hanya berlangsung selama 2 bulan (60 hari).
Penghitungan Efisiensi Kapel
Efisiensi kapel merupakan persentase berat limbah kering yang dihitung dari konversi berat limbah basah yang berhasil ditampung terhadap berat total limbah kering. Berat total limbah kering merupakan selisih antara berat total pelet yang diberikan dan penambahan berat biomassa ikan.
Keterangan: BLK = Berat limbah kering (kg) BP = Berat pakan (kg)
PBI = Penambahan berat ikan (kg) Penghitungan efisiensi kapel dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama yaitu menghitung konversi berat pelet kering menjadi pelet basah yang dilakukan dengan cara merendam pelet kering terlebih dahulu selama 12 jam. Kemudian, pelet ditiriskan hingga tidak meneteskan air lagi, lalu berat pelet kering dan basah dicatat (dalam kg) dan dihitung konversinya. Untuk mengetahui pengaruh gelombang dan arus air terhadap pengikisan massa limbah selama tertampung di dalam kapel dilakukan uji susut limbah pada tahap ke dua penghitungan efisiensi kapel. Untuk itu, sebanyak 3 kantung limbah yang masing-masing
197
berisi 300 g limbah basah digantung di bawahkeramba dan dibiarkan selama 4 hari terombang-ambing oleh arus dan gerakan air di bawah keramba. Setelah 4 hari berat limbah yang tersisa dicatat dan penyusutan limbah oleh gelombang dan arus air dihitung.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kapel yang terbuat dari bahan kain digunakan pada uji coba pertama. Bahan ini ternyata mengalami penyumbatan (clogging) pada semua sisi kapel. Hanya dalam beberapa hari, sebelum pengambilan berkala limbah dalam kapel dilakukan, kadar oksigen terlarut sudah sangat rendah (sekitar 2 mg/L) yang menyebabkan ikan budidaya menjadi stres. Hal ini terjadi karena tekstur bahan kain yang sangat rapat sudah tertutupi oleh endapan limbah dan menghambat arus air dan pertukaran oksigen. Oleh karena itu,
uji coba ini dihentikan dan bahan kapel diganti dengan kasa nilon yang berpori-pori lebih besar.
Kapel berbahan nilon digunakan selama 60 hari penelitian (Tabel 1). Berat total pakan yang diberikan adalah 200 kg dan berat total limbah basah yang dihasilkan yaitu 34,9 kg. Dari Tabel 1 terlihat bahwa pengangkatan ke dua (2 Januari 2014) dilakukan setelah 9 hari atau dua kali lebih lama daripada yang seharusnya. Hal ini disebabkan cuaca buruk dan hujan turun terus-menerus, sehingga berbahaya untuk turun ke bawah KJA. Dalam kondisi cuaca buruk, umumnya ikan di keramba mengalami stres, kurang nafsu makan dan terjadi kematian yang cukup tinggi. Itulah sebabnya jumlah pakan yang diberikan lebih sedikit. Setiap kali pengambilan limbah yang dilanjutkan dengan penirisan, tiap kantung tiris memerlukan waktu 3-4 hari hingga air berhenti menetes. Berat masing-masing limbah basah sesudah ditiriskan berkisar 0,4-2,5 kg (Tabel 1).
Tabel 1. Berat pakan yang diberikan dan limbah basah yang dihasilkan. Table 1. The weight of feed given and wet wastes produced.
Day Date
Pond A Pond B
Feed (kg) Wet wastes
(kg) Feed (kg) Wet wastes (kg) 0 16-12-13 0 0 0 0 4 20-12-13 5 0.7 6 1.1 13 02-01-14 6 0.4 6 0.5 15 04-01-14 3 0.5 4 0.9 20 09-01-14 4 0.8 5 0.9 26 15-01-14 3 0.5 4 0.7 31 20-01-14 6 0.8 7 0.9 36 25-01-14 8 1.3 7 1.2 39 28-01-14 8 1.1 9 1.1 42 31-01-14 9 1.9 8 1.8 46 04-02-14 8 1.2 8 1.0 49 07-02-14 9 1.9 8 1.6 52 10-02-14 8 1.6 8 1.7 56 14-02-14 10 1.9 10 2.0 60 18-02-14 11 2.5 12 2.4 Total (kg) 98 17.1 102 17.8
Hasil Panen, FCR dan SR dari KJA Berkapel dan KJA Tanpa Kapel
Ikan yang dipelihara dalam KJA berkapel pada awal penelitian berjumlah 1.500 ekor dengan berat rata-rata 15,32 g per ekor atau berat total 23 kg. Selama dua bulan pemeliharaan, berat pakan yang diberikan adalah 200 kg. Pada akhir
198
penelitian diperoleh hasil panen 161 kg. Ikan yang dipanen berukuran 5-6 ekor per kg, yaitu setara dengan 167-200 g per ekor atau rata-rata 183 g per ekor. Maka, nilai feed conversion ratio (FCR) pada budidaya dalam KJA berkapel adalah 1,45. Artinya, dibutuhkan 1,45 kg pakan untuk menghasilkan pertumbuhan ikan seberat 1 kg dalam satu periode tanam atau 69% dari berat pakan. Kelangsungan hidup atau survival rate (SR) ikan budidaya dihitung berdasarkan persentase jumlah ikan pada akhir penelitian. Dari 1.500 ekor ikan yang dimasukkan pada awal penelitian, yang dipanen berjumlah 886 ekor. Dengan demikian, kelangsungan hidup ikan budidaya dalam KJA berkapel bernilai 59,1% (Tabel 2).
Budidaya ikan Nila dalam keramba yang tidak dilengkapi dengan kapel dimaksudkan untuk mendapatkan nilai FCR dan SR pembanding. Dari 5.000 ekor bibit ikan dengan berat rata-rata 9,8 g per ekor atau berat total 49 kg, pada saat panen dihasilkan 647 kg ikan. Jumlah pakan yang diberikan selama 4 bulan pemeliharaan adalah 800 kg. Dengan demikian, nilai FCR adalah 1,34 yang berarti dibutuhkan 1,34 kg pakan untuk menghasilkan pertumbuhan ikan seberat 1 kg selama pemeliharaan atau 74,6% dari berat pakan (Tabel 2). Ikan yang dipanen berukuran 4-5 ekor per kg. Dengan demikian, total panen setara dengan 2.912 ekor. Maka, kelangsungan hidup (SR) ikan yang dibudidayakan dalam KJA tanpa kapel bernilai 58,2%.
Tabel 2. Perbandingan produksi ikan Nila di KJA berkapel dan tanpa kapel.
Table 2. Comparison of Tilapia produced from net cages with kapel and without kapel.
KJA with kapel KJA without kapel
Number of fish introduced 1,500 5,000
Fish introduced (kg) 23 49
Fish feed given (kg) 200 800
Number of fish harvested 886 2,912
Fish harvested (kg) 161 647
FCR 1.45 1.34
SR (%) 59.1 58.2
Rearing period (months) 2 4
Nilai rasio konversi pakan (FCR) yang diperoleh pada penelitian ini adalah 1,45 (Tabel 2) untuk KJA berkapel yang sedikit lebih tinggi daripada KJA tanpa kapel (1,34). Hal ini mungkin disebabkan lama pemeliharaan pada KJA berkapel yang hanya dua bulan ketika ikan masih berukuran kecil dan rentan, sehingga risiko kematian menjadi lebih tinggi. Namun, nilai ini masih lebih baik daripada nilai FCR ikan Nila yang dinyatakan oleh Nur (2007), yaitu 1,5 dan nilai FCR yang biasa diperoleh di KJA Danau Maninjau, yaitu rata-rata 1,61 (Erlania et al., 2010). FCR referensi yang cukup tinggi ini kemungkinan disebabkan oleh pemberian pakan yang berlebihan dan tidak efisien karena menerapkan sistem pompa (Garno, 2002), sehingga sebagian besar pakan terbuang dan mengendap di dasar danau. Dalam kegiatan budidaya ikan di KJA, pendataan berat ikan yang mati sangat jarang dilakukan dan nilai FCR dihitung dengan mengabaikan berat ikan yang mati tersebut. Akibatnya, nilai FCR yang dilaporkan
tidak mencerminkan kondisi sebenarnya. Pada penelitian ini, apabila berat ikan yang mati tidak diabaikan, tetapi berdasarkan penghitungan diasumsikan sebanyak 32,9 kg (Tabel 4). Maka, nilai FCR menjadi 1,17 yang mendekati nilai ideal konversi pakan.
Nilai SR pada keramba berkapel mencapai 59,1%, sedangkan pada keramba tanpa kapel hanya 58,2%. Nilai kelangsungan hidup atau sintasan (SR) pada penelitian ini jauh di bawah nilai SR yang dinyatakan Nur (2007) yang bernilai 70% untuk ikan Nila yang dibudidayakan di berbagai sistem KJA di Indonesia. Nilai SR yang rendah (rata-rata 57%) di KJA Danau Maninjau juga dilaporkann oleh Erlania et al. (2010). Hal ini mungkin disebabkan oleh faktor-faktor seperti kualitas benih yang digunakan dan kualitas lingkungan, terutama kualitas air Danau Maninjau yang tidak lagi bisa mendukung kehidupan ikan budidaya yang optimal (Tanjung, 2013).
199
Efisiensi Kapel Berdasarkan Konversi Berat Limbah Basah dari Pelet Kering
Konversi berat limbah basah dari pelet kering dihitung berdasarkan konversi berat pelet kering menjadi pelet basah yang ditunjukkan pada Tabel 3. Berat rata-rata pelet basah adalah 0,9 kg yang setara dengan 0,5 kg pelet kering. Ini berarti limbah basah 1,8 kali lebih berat daripada limbah kering karena mengandung air 80%.
Efisiensi kapel dihitung dari persentase berat limbah kering dari konversi limbah basah yang berhasil ditampung (34,9 kg) terhadap berat total limbah kering yang seharusnya bisa tertampung. Penentuan efisiensi kapel juga memperhitungkan berat ikan yang mati selama
penelitian, yaitu sebanyak 614 ekor dan berat limbah yang susut selama berada di bawah keramba dan setiap kali dipindahkan (dari kapel ke kantung plastik, lalu ke kantung tiris). Data berat ikan yang mati tidak dicatat, tetapi berdasarkan pengamatan, jumlah ikan yang mati pada bulan pertama penelitian lebih banyak daripada bulan ke dua. Untuk mempermudah penghitungan dan tidak menaksir efisiensi kapel terlalu tinggi, diasumsikan bahwa kematian hanya terjadi pada bulan pertama dengan jumlah yang mengalami penurunan setiap harinya. Berat individual ikan selama penelitian diperoleh berdasarkan data berat awal dan akhir ikan serta asumsi pertumbuhan ikan yang linear (Gambar 7, Tabel 4).
Tabel 3. Konversi berat dari pelet kering ke pelet basah(kg). Table 3. Weight conversion from dry pellets to wet pellets (kg).
Bag Dry pellets (kg) Wet pellets (kg) Weight rise (%)
1 0.5 0.9 80
2 0.5 0.9 80
3 0.5 0.9 80
Average 0.5 0.9 80
Gambar 7. Berat individual ikan selama penelitian.
200
Tabel 4. Berat individual ikan, jumlah dan berat total ikan mati berdasarkan penghitungan. Table 4. Calculated individual fish weight, number and total weight of dead fish.
Day Weight of individual fish (g) Number of dead fish Weight of dead fish (kg) 0 15.32 0 0 4 26 144 3.744 13 51 270 13.770 15 57 40 2.280 20 71 75 5.325 26 88 60 5.280 31 102 25 2.550 Total 614 32.949
Berdasarkan penghitungan, berat total ikan yang mati yaitu 32,9 kg. Dari 200 kg pelet yang diberikan, ikan yang dipanen seberat 161 kg dari 23 kg berat awal. Berat total limbah basah yang berhasil dikumpulkan (34,9 kg) setara dengan 19,4 kg pelet atau limbah kering. Maka, efisiensi kapel nilon yang diuji adalah 67%.
Kehilangan berat limbah akibat penyusutan selama berada di bawah keramba diketahui dari percobaan uji susut limbah. Dari 3 kantung limbah yang masing-masing berisi 300 g limbah basah yang digantung di bawah keramba dan dibiarkan selama 4 hari terombang-ambing oleh arus dan gerakan air di bawah keramba, berat rata-rata limbah yang tersisa adalah 160 g. Dengan demikian, terjadi kehilangan berat sebanyak 140 g atau 47% dalam 4 hari atau rata-rata 12% per hari. Berat limbah yang hilang tidak bisa dihitung berdasarkan persentase kehilangan karena pada pengangkatan ke dua masih tersisa 0,4 kg limbah setelah 9 hari (Tabel 1). Apabila penghitungan kehilangan berat limbah dilakukan berdasarkan persentase kehilangan, maka setelah 9 hari seharusnya tidak ada lagi limbah yang tersisa di kapel. Oleh karena itu, penghitungan massa limbah yang hilang dilakukan berdasarkan beratnya, yaitu 140 g dalam 4 hari atau 35 g per hari. Pada penelitian ini, berat total limbah basah yang diperoleh adalah 34,9 kg. Berdasarkan penghitungan uji susut limbah, berat limbah basah yang seharusnya bisa tertampung apabila tidak ada kehilangan massa limbah dalam kapel kolam A dan B adalah masing-masing 19,2 kg dan 19,9 kg atau berat total 39,1 kg (Tabel 5).
Apabila berat limbah yang hilang bisa diatasi, maka efisiensi kapel akan meningkat menjadi 75%, yaitu persentase berat limbah basah
yang seharusnya bisa tertampung (39,1 kg) yang setara dengan 21,7 kg pelet atau limbah kering dari 29.1 kg berat total limbah kering.
Karakteristik Limbah
Berdasarkan warna limbah dalam kantung-kantung plastik (Gambar 5a), tampak bahwa sebagian besar limbah berwarna cokelat yang mirip dengan warna pelet. Menurut Elfrida (2012), sedimen yang diambil dari Danau Maninjau di lokasi yang memiliki banyak KJA mengandung fosfat (2,68 mg/L), nitrit (0,82 mg/L), nitrat (1,80 mg/L), protein (0,45%), kalsium (26,2 mg/L) dan kalium (61,5 mg/L) yang diduga berasal dari pakan yang bersisa dan terbuang. Oleh karena itu, limbah KJA yang kaya akan unsur hara tersebut sangat potensial untuk dimanfaatkan sebagai pupuk untuk pertanian (Nasution et al., 2011; Elfrida et al., 2012), atau salah satu komponen media pemeliharaan budidaya moluska Danau Maninjau yang memiliki potensi ekonomis seperti kijing, langkitang, pensi dan tutut. Di antara kantung-kantung limbah tersebut, terlihat satu kantung limbah berwarna hitam (Gambar 5a) yang mencerminkan warna feses ikan budidaya atau telah terjadi proses pembusukan senyawa-senyawa organik di dalamnya. Menurut Elfrida et al. (2012), warna hitam pada sedimen menandakan sudah terjadi penguraian protein dari pakan yang menghasilkan senyawa amonia yang mudah larut dalam air. Pada kondisi pH tinggi (9-10) seperti yang terjadi pada bulan Mei 2011 di lima titik pengambilan sampel air permukaan Danau Maninjau (Tanjung, 2013), amonia yang tidak terionisasi akan bersifat racun, sehingga membahayakan kehidupan ikan (Wetzel, 1983; Iqbal et al., 2013).
201
Tabel 5. Berat limbah yang diperoleh dan yang diharapkan dari KJA berkapel. Table 5. The weight of waste obtained and expected from KJA with waste bag.
Day Date Pond A Pond B Obtained wet wastes (kg) Expected wet wastes (kg) Obtained wet wastes (kg) Expected wet wastes (kg) 0 16-12-13 0 0 0 0 4 20-12-13 0.7 0.84 1.1 1.24 13 02-01-14 0.4 0.715 0.5 0.815 15 04-01-14 0.5 0.57 0.9 0.97 20 09-01-14 0.8 0.975 0.9 1.075 26 15-01-14 0.5 0.71 0.7 0.91 31 20-01-14 0.8 0.975 0.9 1.075 36 25-01-14 1.3 1.475 1.2 1.375 39 28-01-14 1.1 1.205 1.1 1.205 42 31-01-14 1.9 2.005 1.8 1.905 46 04-02-14 1.2 1.34 1 1.14 49 07-02-14 1.9 2.005 1.6 1.705 52 10-02-14 1.6 1.705 1.7 1.805 56 14-02-14 1.9 2.04 2 2.14 60 18-02-14 2.5 2.64 2.4 2.54 Total (kg) 17.1 19.2 17.8 19.9
Pakan yang terbuang ke dasar danau dengan pemberian pakan yang menggunakan sistem pompa berjumlah sekitar 33% dari pakan yang diberikan (Lukman & Hidayat, 2002; Azwar et al., 2004). Hal ini menjelaskan keberadaan sedimen dengan ketebalan 2-5 m di bawah dan di sekitar area KJA di Danau Maninjau serta kandungan debu sebanyak 33-67% dalam sedimen tersebut yang terutama berasal dari bahan organik sisa pakan yang terbuang (Erlania et al., 2010). Menurut Syandri (2014), berdasarkan penghitungan jumlah keramba, padat tebar ikan, jumlah pakan yang diberikan, produksi ikan dan prediksi pakan yang terbuang, jumlah sedimen hasil limbah budidaya yang menumpuk selama dua belas tahun terakhir di dasar Danau Maninjau, terutama di bawah lokasi keramba sudah mencapai 111.890 ton.
Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Agam menyebutkan bahwa kebutuhan pakan ikan untuk KJA di Danau Maninjau mencapai 60 ton per hari (Putra, 2014). Apabila pernyataan yang dikemukakan Lukman & Hidayat (2002) dan Azwar et al. (2004) digunakan, maka
pakan yang terbuang dan menjadi limbah di dasar danau bisa mencapai 20 ton per hari. Dengan efisiensi kapel sebesar 67%, maka penerapan kapel pada kondisi ini bisa mengurangi risiko penurunan kualitas air Danau Maninjau karena bisa menghindarkan danau dari limbah sisa pakan sebanyak 13,4 ton per hari. Selain itu, apabila sistem KJA berkapel juga bisa diaplikasikan di Waduk Cirata dan Jatiluhur yang membutuhkan pakan masing-masing 4.000 ton per bulan (Guritno, 2011), maka minimal 893 ton limbah KJA per bulan bisa dikeluarkan dari masing-masing waduk tersebut.
KESIMPULAN
Kapel yang terbuat dari kain tidak bisa digunakan untuk menampung limbah karena tersumbat, sehingga pertukaran air terhambat dan kadar oksigen terlarut menjadi rendah yang membahayakan kelangsungan hidup ikan budidaya. Kapel yang terbuat dari nilon cukup efektif menampung limbah feses dan sisa pakan
202
sebesar 67% dari berat total limbah kering. Kapel nilon berpotensi untuk diterapkan pada KJA di danau dan waduk untuk mengurangi jumlah limbah organik yang mencemari danau dan waduk. Peningkatan efisiensi kerja kapel perlu dilakukan dengan menyempurnakan desain, konstruksi, bahan kapel dan melengkapi kapel dengan suatu sistem vacuum untuk meminimalkan limbah yang lolos dari kapel.
PERSANTUNAN
Penelitian ini merupakan salah satu kegiatan pendukung riset yang didanai oleh Insentif Riset SINas Ristek tahun 2013. Kami mengucapkan terima kasih kepada rekan kami Sutrisno di SLAT LIPI Maninjau yang telah banyak membantu dalam mendesain kapel pada tahap awal penelitian.
DAFTAR PUSTAKA
Alava, V. R. 2002. Management of Feeding Aquaculture Species in Nutrition in Tropical Aquaculture: Essentials of Fish Nutrition, Feeds and Feeding of Tropical Aquatic Species. O. Millamena, R. Coloso and F. Pascual (Eds.). Aquaculture Department, Southeast Asian Fisheries Development Center, Tigbauan, Iloilo, Philippines: 169-208. Antara, 2012. Wisatawan ke Agam berkurang
akibat racun belerang.
http://www.antaranews.com/
berita/297229/wisatawan-ke-agam-berkurang-akibat-racun-belerang. 14 Februari 2012. Azwar, Z. I., N. Suhenda dan O. Praseno. 2004.
Manajemen Pakan pada Usaha Budidaya Ikan di Karamba Jaring Apung. Pengembangan Budidaya Perikanan di Perairan Waduk. Pusat Riset Perikanan Budidaya, BRKP, DKP: 37-44.
Bappeda dan BPS Kab Agam. 2008. Agam dalam Angka 2008: 175-176.
Bappeda dan BPS Kab Agam. 2014. Agam dalam Angka 2014: 303-304.
Elfrida, L. Deswati dan B. Fitri. 2012. Pemanfaatan Sedimen KJA Danau Maninjau untuk Memproduksi Chlorella sp. Prosiding Seminar Nasional Limnologi VI Tahun 2012: 256-268.
Elfrida. 2012. Analisis Kandungan Organik dan Anorganik Sedimen Limbah KJA di Danau Maninjau, Provinsi Sumatra Barat.. Prosiding
Seminar Nasional Perikanan, Padang, 2012: 59-70.
Erlania, Rusmaedi, A. B. Prasetio dan J. Haryadi. 2010. Dampak Manajemen Pakan dari Kegiatan Budidaya Ikan Nila (Oreochromis niloticus) di Keramba Jaring Apung terhadap Kualitas Perairan Danau Maninjau. Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur 2010: 621-631.
Garno, Y. S. 2002. Beban Pencemaran Limbah Perikanan Budidaya dan Yutrofikasi di Perairan Waduk pada DAS Citarum. Jurnal Teknologi Lingkungan 3(2): 112-120.
Guritno, G. A. 2011. 1001 Problematika DAS Citarum. Majalah Gatra, 17(27): 47-57. Hamriadi, 2014. Puluhan Ton Ikan di Danau
Maninjau Mati. http://www.antaranews.com/ berita/416585/puluhan-ton-ikan-di-danau-maninjau-mati. 29 Januari 2014.
Hollingsworth, C. S. 2006. Best Management Practices for Finfish Aquaculture in Massachusetts. Western Massachusetts Center for Sustainable Aquaculture. UMass Extension Publication AG-BPFA. Massachusetts: 61 hlm.
Iqbal, Z., N. Ijaz and J. A. Chaudhry. 2013. Effects of Ammonia on Growth of Fingerlings of A Freshwater Fish, Cirrhinus mrigala (Hamilton). European Journal of Veterinary Medicine, 2(3): 163-170.
Lukman. 2011. Pengembangan Karamba Jaring Apung: Pertimbangan Daya Dukung dan Ancamannya terhadap Lingkungan Perairan Danau dalam Perspektif terhadap Kebencanaan dan Lingkungan di Indonesia: Studi Kasus dan Pengurangan Dampak Risikonya. H. Z. Anwar & H. Harjono (Eds.). Sub-Kegiatan Kompetitif LIPI Kebencanaan dan Lingkungan, LIPI:173-193.
Lukman dan Hidayat. 2002. Pembebanan dan Distribusi Bahan Organik di Waduk Cirata. Jurnal Teknologi Lingkungan. P3TL-BPPT, 3(2): 129-135.
Lukman, I. Setyobudiandi, I. Muchsin and S. Hariyadi. 2015. Impact of Cage Aquaculture on Water Quality Condition in Lake Maninjau, West Sumatra, Indonesia. International Journal of Sciences: Basic and Applied Research (IJSBAR), 23(1): 120-137.
Nasution, Z., Y. D. Sari dan H. M. Huda. 2011. Perikanan Budidaya di Danau Maninjau: Antisipasi Kebijakan Penanganan Dampak Kematian Massal Ikan. Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, 1(1): 19-31.
203
Nur, A. 2007. Analysis of Feeds and Fertilizers forSustainable Aquaculture Development in Indonesia. In M.R. Hasan, T. Hecht, S.S. de Silva and A.G.J. Tacon (Eds). Study and analysis of feeds and fertilizers for sustainable aquaculture development. FAO Fisheries Technical Paper No. 497. Rome, FAO: 245-267.
Pusat Penelitian Limnologi LIPI. 2009. Program Penyehatan Danau Maninjau dan Pemberdayaan Masyarakat di Sekitar Danau. Ringkasan Kegiatan LIPI di Danau Maninjau tahun 2001-2009: 51 hlm.
Putra, Y. M. P. 2014. Kebutuhan Pakan Ikan Danau Maninjau 60 Ton per Hari. http://www.republika.co.id/berita/nasional/dae rah/14/04/26/n4mhj2-kebutuhan-pakan-ikan-danau-maninjau-60-ton-per-hari.
Sahzadi, T., M. Salim, U. E. Kalsoom and K. Shahzad. 2006. Growth Performance and Feed Conversion Ratio (FCR) of Hybrid Fingerlings (Catla catla X Labeo rohita) Fed on Cottonseed Meal, Sunflower Meal and Bone Meal. Pakistan Veterinary Journal, 26(4): 163-166.
Sawhney, S and R. Gandotra. 2010. Growth Response and Feed Conversion Efficiency of Tor putitora (Ham.) Fry at Varying Dietary Protein Levels. Pakistan Journal of Nutrition, 9(1): 86-90.
Setijaningsih, L., N. Suhenda, H. Djajasewaka dan E. Tahapari. 2003. Pengaruh perbedaan persentase protein terhadap retensi protein, energi dan nilai kecernaan pakan ikan nila (Oreochromis sp.). Aplikasi Teknologi Pakan dan Peranannya bagi Perkembangan Usaha Perikanan Budidaya. Prosiding Semi-Loka, Bogor 9 September 2003: 155-158.
Singgalang. 2014. Keramba Danau Maninjau
Melebihi Ambang Batas
http://hariansinggalang.co.id/keramba-danau-maninjau-melebihi-ambang-batas. October 31, 2014.
Syandri, H. 2014. Danau Maninjau Membuat Risau. http://hariansinggalang.co.id/danau-maninjau-membuat-risau/. 4 Februari 2014. Tanjung L. R. 2013. Kondisi Terkini Kualitas Air
dan Tingkat Kesuburan Danau Maninjau. Oseanologi dan Limnologi di Indonesia, 39(1): 31-48.
Triyanto, Lukman dan A. A. Meutia. 2005. Introduksi Keramba Jaring Apung Berlapis sebagai Alternatif Sistem Pemeliharaan Ikan dalam Keramba Ramah Lingkungan di Danau Maninjau Sumatra Barat. Limnotek, 12(2): 61-67.
Wetzel, R. G. 1983. Limnology. Second Edition. Saunders College Publishing. Philadelphia: 760 hlm.