• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II RITUAL, SIMBOL, DAN RUANG BERSAMA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II RITUAL, SIMBOL, DAN RUANG BERSAMA"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

12 BAB II

RITUAL, SIMBOL, DAN RUANG BERSAMA

Ritual, simbol dan ruang bersama merupakan tiga pokok besar yang menjadi perhatian penulis dalam bab ini. Ketiga pokok ini, terkait satu dengan yang lain dalam upaya membangun perdamaian di dalam masyarakat, khususnya masyarakat Mamasa. Pembangunan perdamaian tidak cukup hanya dengan menggunakan lembaga formal seperti kepolisian dan peradilan, melainkan membutuhkan pendekatan adat yang dapat membangun perdamaian secara berkelanjutan.

Pendekatan adat sebagai kearifan lokal masyarakat merupakan salah satu pendekatan yang efektif digunakan dalam proses penyelesaian masalah atau konflik. Pendekatan ini efektif karena dekat dan tumbuh dalam komunitas masyarakat setempat. Hampir setiap komunitas yang disebut dengan masyarakat, memiliki kearifan lokal yang dapat dieksplorasi dalam membangun perdamaian. Salah satu kearifan lokal yang perlu didalami dalam konteks dunia yang terus berubah dan sering mengakibatkan konflik adalah perdamaian berbasis adat. Perdamaian yang memberi perhatian pada nilai-nilai kemanusiaan, seperti keadilan dan kesetaraan.

Sampai sekarang, masyarakat Mamasa sebagai masyarakat yang sedang berkembang masih menggunakan tradisi adat yakni Ritual Mebulle Bai dalam proses membangun perdamaian di tengah-tengah masyarakat. Ritual yang mengandung berbagai macam makna seperti keadilan, kesetaraan dan kerendahan hati. Makna yang terkandung dalam ritual ini perlu untuk dikaji lebih jauh berdasarkan teori yang ada. Karena itu, penulis menggunakan beberapa teori yang diyakini dapat membantu dalam mengeksplorasi Ritual Mebulle Bai secara tepat.

(2)

13

Adapun beberapa teori yang dimaksud adalah teori ritual, simbol dan ruang bersama. Ketiga pokok ini akan dijelaskan secara terpisah, sebagai berikut:

2. 1. Ritual

Ritual merupakan bagian esensial dari kehidupan manusia. Manusia mengirim dan menerima berbagai pesan melalui ritual. Tindakan ritual turut berpengaruh pada kehidupan manusia, sebaliknya kehidupan manusia ikut mengisi berbagai tindakan ritual di dalam kehidupan sosial masyarakat. Emile Durkheim sebagai seorang sosiolog menyelidiki dasar dari kehidupan beragama dan menemukan bahwa agama terdiri dari kenyakinan dan ritus.1 Penyelidikan tersebut membangun suatu pemahaman tentang ritual sebagai aksi atau tindakan di mana kenyakinan dan cita-cita kolektif secara bersama dihasilkan, dialami dan diakui sebagai nyata oleh masyarakat. Bagi Durkheim, ritual adalah aturan prilaku yang meresapkan bagaimana manusia harus melakukan hal-hal sakral.2 Sakralitas yang dimaksud adalah sakralitas yang terkait dengan kenyakinan, sementara ritual dipahami terkait dengan tindakan. Keyakinan dipahami sebagai opini atau pikiran, sementara ritual sebagai aksi atau tindakan. Dengan demikian, Durkheim membangun suatu pemahaman terhadap ritual sebagai perilaku religius, yang terwujud dalam aksi atau tindakan seseorang atau masyarakat.

Durkheim memperlihatkan pemisahan atau dikotomi antara kenyakinan dan ritual. Sementara Victor Turner sebagai seorang antropolog sosial mengatakan bahwa ritual merupakan wujud dari kenyakinan suatu kelompok masyarakat.3 Turner mengintegrasikan kenyakinan dengan aksi melalui pemahaman ritual sebagai wujud dari kenyakinan suatu kelompok masyarakat. Turner menunjukkan bagaimana ritual terintegrasi di dalam kehidupan sosial dan individu, baik secara internal maupun eksternal.

1Emile Durkheim, The Elementary Forms of Religious Life (America: The Free Press, 1995), 34.

2Durkheim, The Elementary, 38.

3Victor Turner, The Ritual Process: Structure and Anti-Structure (New York: Cornel University Press,

(3)

14

Pelaksanaan ritual selalu dibangun dalam sebuah kenyakinan atau kesadaran akan arti dan makna ritual terhadap individu atau masyarakat. Ritual dipahami tidak pernah terlepas dari konteks prilaku yang dilakukan di dalam masyarakat. Bagi Turner ritual setidaknya memiliki empat peranan dalam masyarakat,4 yakni; (1) Ritus menghilangkan konflik. Dalam ritus, orang-orang yang mengikuti ritus merasakan adanya kesamaan dan relasi antar pribadi. Dalam hal ini ritus menjadi penyalur rasa cemburu, iri hati, kemarahan, dan ketakutan. Perasaan-perasaan itu diekspresikan ke dalam simbol-simbol. Dalam kehidupan sehari-hari Perasaan- perasaan-perasaan negatif itu ditekan. (2) Ritus dapat mengatasi perpecahan dan membangun solidaritas masyarakat. Masyarakat itu terdiri dari orang-orang yang beraneka ragam. Perbedaan kadang memunculkan perpecahan yang tragis, karena masing-masing mau mempertahankan keadaannya. Ritus menawarkan nilai baru dalam kehidupan masyarakat yang mampu menggugah rasa solidaritas rakyat. Tidak hanya bagi pribadi-pribadi, tetapi juga bagi kelompok masyarakat tertentu. Caranya dengan memperkuat kembali nilai-nilai utama dan prinsip-prinsip organisasi sosial. (3) Ritus mempersatukan dua prinsip-prinsip yang bertentangan dalam masyarakat. Dengan ritus prinsip yang berbeda dalam masyarakat dapat diperdamaikan. (4) Dengan ritus orang mendapatkan kekuatan dan motivasi baru untuk hidup dalam masyarakat. Dengan demikian masyarakat semakin menjadi baik dan menjadi kelompok yang kuat. Nilai-nilai kelompok semakin diperdalam dan semakin diinternalisasi.

Keempaat peranan ritus di atas memperlihatkan betapa kayanya dan pentingnya ritual dalam suatu masyarakat. Ritual di dalam masyarakat dapat mempertemukan dan mengintegrasikan berbagai pihak, khususnya pihak yang sedang berkonflik. Dengan ritual setiap pihak dapat dipulihkan dari berbagai rasa dendan dan benci untuk membangun hubungan yang baru yaitu hubungan damai dalam masyarakat.

4Y.W.Wartaya Winangun, Masyarakat Bebas Struktur: Liminalitas dan Komunitas Menurut Victor

(4)

15

Sosiolog lain, seperti Catherine Bell memahami ritual sebagai aksi atau tindakan sosial.5 Bell menggunakan istilah ritualisasi sebagai cara strategis budaya untuk bertindak

dalam situasi sosial tertentu. Tindakan sosial sangat ditentukan oleh konteks di mana ritual dilaksanakan. Bagi Bell, tindakan ritual harus dipahami dalam kerangka semantik di mana signifikansi suatu tindakan tergantung pada tempat dan hubungannya dalam konteks dari semua cara bertindak yang lain: apa yang digemakan, apa yang dibalikkan, apa yang disinggung, apa yang disangkalnya.6 Pengertian ini menegaskan tentang pentingnya

membangun pemahaman secara menyeluruh tentang ritual. Bell berusaha untuk mengatasi kesenjangan pemikiran dan tindakan dalam deskripsi ritual. Bagi Bell, ritual yang berhasil adalah perpaduan antara aspek budaya dan sosiologis.7 Bahwa suatu ritual tidak hanya diinterpretasi sesuai dengan apa yang nampak, melainkan memahami tentang ritual berarti berusaha mendalami konteks sosial yang membangunnya. Roy A Rappaport, dalam buku

‘Ritual and Religion In The Making of Humanity’, menggunakan istilah ritual untuk

menunjukkan kinerja lebih atau kurang rangkaian invarian dari tindakan formal dan tidak sepenuhnya dikodekan oleh para pemain.8 Rappaport berusaha mengelaborasi agama dan kemanusiaan untuk menunjukkan bahwa kebenaran agama dan sosial dapat ditemukan di dalam ritual. Ritual merupakan tindakan yang kompleks dan statis yang perlu diinterpretasi sesuai dengan pelaku ritual.

Dhavamony, dalam buku fenomenologi agama, membagi empat jenis ritual,9 yakni:

Pertama, tindakan magis. Tindakan magis memiliki kaitan dengan adanya pemakaian

benda-benda tertentu yang memiliki kekuatan magis. Kedua, Tindakan religius. Tindakan religius terdapat kekuatan-kekuatan yang berasal dari para leluhur. Ketiga, ritual konstitutif. Ritual ini

5Catherine Bell, Ritual Theory, Ritual Practice (New York: Oxford University Press.1992), 67.

6Bell, Ritual Theory, 220.

7Bell, Ritual Theory, 34.35.

8Roy A. Rappaport, Ritual and Religion in the Making of Humanity (United Kingdom: Cambridge

University Press, 1999), 24.

(5)

16

dapat mengubah hubungan sosial dengan merujuk pada hal-hal yang mistis. Keempat, ritual faktitif yakni dilakukan dalam bentuk kelompok dengan tujuan untuk mengingatkan produktifitas dan kesejahteraan masyarakat. Ritual faktitif dapat dipadukan dengan ritual konstitutif dengan menyatukan tindakan-tindakan yang dapat membawa perubahan sosial.

Beberapa sosiolog dan antropolog mengemukakan konsep ritual yang berbeda. Ritual tidak hanya bersifat religius, tetapi juga merupakan bagian dari peristiwa sosial yang terjadi di dalam masyarakat. Perbedaan pengertian tentang ritual, sangat ditentukan oleh orang yang membangunnya dan dalam konteks di mana ritual dilakukan. Secara umum ritual tidak dapat dipisahkan dari manusia dan aktivitas sosialnya. Artinya, belajar tentang ritual berarti juga harus mempelajari aktivitas budaya di mana ritual dilaksanakan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Bell, bahwa untuk memahami ritual mesti memahami konteks yang membangunnya. Konteks merupakan bagian esensial dari ritual. Tindakan ritual dalam masyarakat selalu mengandung nilai dan makna yang besar terhadap masyarakat itu sendiri. Karena itu, ritual diungkapkan dalam berbagai cara dalam menata kehidupan umat manusia, baik dalam relasinya dengan Tuhan maupun dengan sesama ciptaan.

Secara khusus Schrich dalam buku, ‘Ritual and Simbol in Peacebuilding’ mengungkapkan bahwa ritual menggunakan tindakan simbolis untuk mengkomunikasikan pesan pembentuk atau transformasi dalam ruang sosial yang unik.10 Pengertian ini memperlihatkan tiga karakteristik ritual. Pertama, ritual merupakan tindakan yang dikomunikasikan melalui simbol, indra dan emosi daripada mengandalkan negosiasi melalui kata-kata dan pemikiran rasional. Kedua, ritual dapat mengubah pandangan dunia, identitas dan hubungan dengan orang lain. Ketiga, ritual dilakukan dalam ruang sosial yang unik, terpisah dari kehidupan sehari-hari. Ritual dan simbol adalah alat penting dalam membangun

(6)

17

perdamaian. Ritual melibatkan komunikasi simbolis dan ruang sosial yang unik, dan memiliki kemampuan untuk mengatasi identitas dan pandangan dunia. Dengan demikian, ritual adalah alat yang berguna dalam transformasi konflik yang didasarkan pada budaya setempat. Schirch mengungkapkan bahwa ritual harus dipahami sebagai tindakan fisik simbolik yang memerlukan interpretasi.11 Pesan-pesan yang disampaikan ritual tidak secara langsung membahas orang-orang atau peristiwa yang ada di tangan. Sebaliknya, mereka berkomunikasi secara tidak langsung melalui simbol, mitos, metafora, dan emosi. Sebagai contoh, jabat tangan tidak mengkomunikasikan pesan langsung, tetapi lebih menjadi mewakili atau melambangkan persahabatan. Komunikasi yang dibangun di dalam ritual umumnya menggunakan benda yang dapat dipahami oleh penggunanya. Pemahaman itu terbangun karena dilakukan secara berulang-ulang, sehingga dari generasi ke generasi selalu terbangun pemahaman tentang tindakan simbolis dalam ritual.

Tindakan simbolis yang diulang dalam tradisi dianggap sebagai ritual. Ritual-ritual ini sering terjadi di ruang-ruang unik yang terpisah dari kehidupan sehari-hari dan bertujuan untuk mengubah pandangan dunia dan hubungan manusia. Pengaruh mereka yang mendalam terdiri dari kemampuan mereka untuk menembus yang tampaknya tak dapat ditembus, menguasai pertahanan, dan menyampaikan pesan-pesan rumit tanpa mengucapkan sepatah kata pun.12

Tindakan ritual tidak banyak menggunakan kata-kata, tetapi lebih pada tindakan simbolis yang dapat dipahami dan diterima oleh masyarakat secara menyeluruh.

Selain mendefinisikan tentang ritual, Schrich juga mengungkapkan berbagai tipe aktivitas ritual. Type ritual diungkapkan dalam berbagai cara, yakni; ritual mungkin religius atau sekuler, tradisional atau improvisasi, formal atau informal, membentuk atau mengubah

11Schrich, Ritual and Symbol, 4.

(7)

18 dan destruktif atau konstruktif. 13

Pertama, antara religius dan sekuler. Beberapa ritual lebih berkaitan dengan

kepercayaan agama atau kosmologi, bagaimana orang memahami tempat mereka dalam tatanan alam semesta, dan gagasan mereka tentang kekuatan yang lebih tinggi. Ritual keagamaan meliputi pernikahan dan pemakaman yang diadakan di tempat ibadah, seperti meditasi dalam Budha, doa muslim, misa Katolik, atau cuci kaki Mennonite. Beberapa teori ritual awal seperti Emil Durkheim menggambarkan ritual dalamm istilah religius. Selain itu, Driver mencatat hubungan antara ritual dan simbol didasarkan pada sifat pesan ritual terhadap kekuatan kosmologis atau supernatural yang tak terlihat. Turner juga menambahkan bahwa tanpa ritual, agama akan mati karena agama-agama bersosialisasi baru dan lama anggota terhadap nilai, kepercayaan, dan gaya hidup budaya mereka melalui ritual.14 Sementara Ritual sekuler memberlakukan beberapa aspek nilai dan kepercayaan masyarakat tanpa secara eksplisit mengacu pada kepercayaan agama. Ritual sekuler mencakup hari libur nasional seperti hari kemerdekaan, pelantikan politik, dan pernikahan di pengadilan perdamaian berbasis negara. Bell mencatat bahwa ritual sekarang merupakan kategori tindakan sosial yang lebih merangkul, dengan aktivitas keagamaan pada satu etnik ekstrim dan sosial.

Kedua, tipe tradisional

dan improvisasi. Ritual ini, berdasarkan tradisi dan pengulangan ritual masa lalu versus yang diciptakan untuk keadaan baru. Ritual sering didefinisikan sebagai tindakan yang bersifat tradisional dalam arti bahwa itu merupakan seperangkat mana yang diulang dari waktu ke waktu. Antropolog Margaret Mead mencatat bahwa ritual menghubungkan aktivitas saat ini dengan kejadian masa lalu melalui tindakan berulang, misalnya beberapa ritual kematian berhubungan dan menghubungkan kematian tertentu dengan semua kematian yang terjadi

13Schrich, Ritual and Symbol, 19-24.

(8)

19

sebelumnya. Sementara beberapa orang melihat ritual

sebagai “antitesis kreativitas”, Bateson mengatakan bahwa orang berimprovisasi ritual baru yang berarti dalam kehidupan mereka melalui “penciptaan kinerja bersama” dalam banyak ritual interaksi manusia. Ritual mencoba untuk memberikan persatuan melalui waktu dengan menghubungkan kejadian masa lalu dengan keadaan sekarang. Dengan berbagai cara, ritual improvisasi merekontruksi dan menenun simbol simbol yang familiar atau tradisional dengan simbol baru yang mewakili konteks baru yang berubah.

Ketiga, formal dan informal. Kata ritual sering dikaitkan dengan

formalitas. Meed menekankan pentingnya menjadi sadar diri atau memiiki “ritual awarensess”,. tindakan bukanlah ritual jika peserta tidak sadar bahwa itu adalah ritual. Ritual kesadaran, orang biasanya tahu misalnya mereka berpartisipasi dalam ritual saat mereka menerima persekutuan, menikah, atau menghadiri pemakaman. Jika formalitas adalah persyaratan ritual , maka ritual informal seperti makan atau menari mungkin lebih baik disebut tindakan simbolis. Ritual bisa formal karena peserta sadar bahwa mereka berpartisipasi dalam ritual, atau informal karena peserta kurang atau bahkan tidak sadar bahwa mereka berpartisipasi dalam sebuah ritual. Ritual improvisasi seperti upacara yang dibangun sendiri untuk meredakan kehilaangan orang tua, seringkali bersifat formal. Peserta secara sadar membuat konteks ritual dan berharap bisa berubah dan berarti. Namun ritual improvisasi lainnya kurang formal. Ritual makan dan menari tradisional dalam arti bahwa mereka mengikuti sebuah struktur yang ditetapkan berdasarkan pengalaman sebelumnya. Namun ritual ini biasanya bersifat informal karena biasanya tidak ada kesadaran bahwa tindakan tersebut bersifat ritual atau ritual.

Keempat, sosialisasi dan transformasi. Ritual berdasarkan dukungan untuk status quo

atau nilai/struktur budaya yang ada versus ritual yang menantang dan mengubah nilai/struktur budaya yang ada. Bukanlah kebetulan bahwa ritual ada di semua budaya. Orang menggunakan ritual untuk mengonfirmasi dan menciptakan rasa komunitas. Ritual membantu proses

(9)

20

sosialisasi untuk mengajarkan peraturan, nilai, dan struktur masyarakat kepada anggota masyarakat yang baru. Ritual juga menegaskan kembali nilai-nila yang diajarkan orang dewasa di masa muda mereka. Beberapa ritual membantu membentuk dan mengabadikan status quo di masyarakat. Misalnya, banyak negara di seluruh dunia merayakan “hari kemerdekaan” ketika negara atau masyarakat membebaskan dirinya dari peraturan luar atau kolonial. Hari kemerdekaan mengajar dan meningkatkan warga, baik tua maupun muda, tentang sejarah perjuangan dan kemuliaan mereka yang penuh kemenangan. Ritual umum yang menyertai hari kemerdekaan seperti kembang api dan festival publik, meningkatkan rasa patriotisme dan komitmen untuk melindungi negara yang ada. Ritual informal seperti parade menjaga, membenarkan dan mengumpulkan dukungan untuk status quo. Mengubah ritual , di sisi lain, menantang dan mengubah status quo. Bila sejumlah orang kritis dalam perubahan keinginan masyarakat, mereka mungkin menggunakan ritual untuk bertindak sebagai ritus perjalanan menuju sebuah visi baru, seperangkat nilai baru atau struktur baru dalam sebuah komunitas. Selama transisi Afrika Selatan dari apartheid ke demokrasi, sejumlah ritual pubik termasuk momen nasional diam, nyanyian nyanyian damai secara nasional, dan bahkan ritual yang lebih fungsional untuk pergi ke pemilihan untuk memilif berfungsi sebagai ritus peralihan dari apartheid berdasarkan nilai dan struktur nilai dan struktur demokrasi. Baik sosialisasi dan transformasi ritual diperlukan untuk pembangunan perdamaian. Semua budaya telah ada, ritual tradisional untuk membangun hubungan, membatasi kekerasan, dan memecahkan masalah. Sementara ritual tradisional ini sering mensosialisasikan dan mempertahankan status quo, terkadang dapat membantu menghidupkan kembali atau menggambar pada ritual yang ada dalam budaya yang dapat membantu menyiapkan panggung untuk kegiatan dan proses pembangunan perdamaian.

Kelima, kontras/konstruktif dan merusak. Ritual berdasarkan kebutuhan memuaskan

(10)

21

mengorbankan orang lain. Baik ritual maupun konflik adalah bagian dari pengalaman manusia. Mereka ada di setiap budaya, setiap saat. Konflik dapat menjadi konstruktif mengarah pada perubahan sosial yang positif atau destruktif berakhir dalam perang atau trauma. Seperti konflik, ritual adalah alat yang netral dan orang bisa menggunakan untuk kemajuan atau kehancuran umat manusia, pelecehan dan pengorbanan ritual dan penyerahan memberikan pesan yang menindas dan memiliki hasil yang mengerikan dan merusak. Namun jenis ritual lainnya dapat memberi efek positif dan konstruktif pada individu, masyarakat, organisasi dan negara. Ritual itu konstruktif bila ingin memperbaiki kehidupan orang-orang yang menggunakannya, tanpa membahayakan orang lain. Ritual dapat memainkan peran penting dalam berkomunikasi antara kelompok-kelopok dalam konflik, dalam mengubah identitas yang didefinisikan oleh konflik, dan dalam membentuk dan mengubah hubungan antar kelompok. Meskipun Schrich berfokus pada ritual pesan konstruktif dan tindakan simbolis lainnya dapat dimainkan dalam proses peacebuilding, namun dia memberi catatan penting bahwa tindakan ritual dan simbolis tidak secara inheren bersifat damai. Seperti alat sosial lainnya, mereka bisa digunakan untuk kebaikan dan keburukan.

2.2. Simbol

Simbol merupakan alat atau sarana yang digunakan manusia untuk menyampaikan satu atau beberapa pesan. Manusia sebagai makhluk sosial, selalu terhubung dengan yang lain dalam berbagai aktivitas kehidupan. Hubungan antara individu yang satu dengan individu yang lain atau antara kelompok dengan kelompok, membutuhkan simbol sebagai alat komunikasi. Simbol membantu manusia untuk menyampaikan pesan yang tidak dapat dikomunikasikan secara langsung.

Hubungan antara manusia dan simbol sangat erat, sebab manusia berkomunikasi atau menghubungkan dirinya dengan yang lain dalam berbagai cara. Ersnst Caissier, mengatakan

(11)

22

bahwa manusia pada hakikatnya adalah animal symbolicum.15 Caissier menandaskan bahwa manusia itu tidak pernah melihat, menemukan dan mengenal dunia secara langsung tetapi melalui berbagai simbol. Kenyataan adalah selalu lebih daripada hanya tumpukan fakta- fakta, tetapi ia mempunyai makna yang bersifat kejiwaan, di mana baginya di dalam simbol terkadang unsur pembebasan dan perluasan pemandangan. Artinya bahwa manusia pada umumnya tidak hanya hidup di dunia fisik saja, tetapi juga hidup di alam simbolis. Bahasa, mitos, seni dan agama adalah bagian yang tidak terpisahkan dengan dunia simbol.

Cassier, mengatakan bahwa pikiran simbolis dan prilaku simbolis adalah salah satu ciri paling khas dari kehidupan manusia, dan bahwa seluruh kemajuan budaya manusia didasarkan pada simbol.16 Simbol membantu manusia untuk menyampaikan pesan yang sulit disampaikan

dengan kata-kata. Pemaknaan terhadap simbol, sangat ditentukan oleh komunitas di mana simbol diungkapkan. Simbol merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan alam dan lingkungan sekitar. Dengan demikian, Simbol merupakan bagian esensial dari kehidupan manusia.

Sepanjang sejarah perjalanan kehidupan manusia, simbolisme telah mewarnai pengalaman manusia dalam berhubungan dengan yang lain. Simbolisme pada hakikatnya merupakan warisan kebudayaan yang diungkapkan secara turun temurun. Setiap suku bangsa memiliki simbol sebagai kekayaan dalam mengungkapkan pengalaman manusia. Pengalaman manusia menunjukkkan bahwa simbol ditemukan di berbagai tempat dan dengan makna yang khusus. Dengan demikian melalui simbol, warisan atau nilai budaya dapat terpelihara dengan baik. Jonathan G. Katz, Architecture as Symbol and Self-Identity menyebutkan bahwa dalam kebudayaan, simbol memiliki kaitan dengan cara berprilaku, perasaan, pemikiran, hubungan

15Ernst Cassirer, An Essay on Man, (New York: Yale University Press, 1944), 44.

(12)

23

dan pemahaman yang diakui oleh suatu kelompok.17 Pengertian ini menegaskan bahwa simbol merupakan bagian penting dari kehidupan manusia yang tidak bisa dilepaskan dari konteksnya. Prilaku simbol yang nampak dalam suatu komunitas terbangun dalam suatu nilai yang terhubung dengan masyarakat itu sendiri. Karena itu, untuk menemukan arti dan makna simbol dalam masyarakat sangat perlu untuk mendalami konteks pelaksanaan simbol itu sendiri yakni masyarakat dan prilakunya.

Simbol mempunyai arti penting dalam kehidupan manusia. F.W. Dillistone mengungkapkan bahwa sejauh menyangkut defenisi kamus, simbol tidak berusaha untuk mengungkapkan keserupaan yang persis atau untuk mendokumentasikan suatu keadaan yang setepatnya. Malahan, fungsi simbol ialah merangsang daya imajinasi, dengan menggunakan sugesti, asosiasi dan relasi.18 Dillistone meneliti berbagai definisi tentang simbol, baik yang bersifat mistis atau rohani, intelek dan emotif dan mengungkapkan bahwa simbol merupakan alat yang kuat untuk memperluas penglihatan kita, merangsang daya imajinasi kita, dan memperdalam pemahaman kita.19 Bagi Dillistone fungsi simbol adalah untuk menghubungkan atau menjembatani jurang antara hal-hal yang konkret dengan transenden, berupa nilai atau makna. Setiap simbol mempunyai sifat mengacu kepada apa yang tertinggi atau ideal.20 Simbol dalam berbagai bentuknya, membantu manusia untuk memahami realitas dan lingkungan sekitarnya. Simbol dapat berupa sebuah kata atau tindakan atau gambaran atau drama. Dengan simbol, manusia akan lebih mudah memahami dan mencapai hidup yang ideal. Hubungan manusia yang satu dengan yang lainnya akan semakin mudah dipahami melalui simbol.

Berbagai pengertian tentang simbol, memberi pemahaman dan penghayatan bahwa simbol memilik arti yang luas dalam kehidupan manusia. Raymond Firth, dalam buku Symbols:

17Jonathan G.Katz, Architecture as Symbol and Self-Identity (Philadelphia: Aga Khan Awards, 1980), 2.

18F.W. Dillistone, The Power of Symbols, (Yogyakarta: Kanisius, 2002), 20.

19Dillistone, The Power, 20.

(13)

24

Public and Private, mengungkapkan bahwa manusia menata dan menafsirkan realitasnya

dengan simbol-simbol dan bahkan merekonstruksinya realitasnya itu dengan simbol.21 Dengan

demikian, dapat dikatakan bahwa simbol merupakan perwujudan yang nampak di dalam ritual. Ritual dan simbol merupakan dua hal yang tidak dipisahkan, dalam arti bahwa belajar tentang ritual juga harus belajar tentang simbol-simbol yang digunakan di dalam tindakan ritual. Victor Turner dalam penelitiannya tentang simbol dan ritus di masyarakat Ndembu, menemukan tiga dimensi arti simbol yaitu arti eksegetik, arti operasional, dan arti posisional.22 Pertama, Arti

eksegetik meliputi penafsiran yang diberikan oleh informan asli kepada peneliti. Eksegesisnya adalah apa yang disampaikan oleh pelaku ritual terhadap peneliti. Arti dan makna ritual dapat ditemukan melalui pelaku ritual akan maksud dan tujuan dilaksanakan. Hal ini memperlihatkan bahwa ritual dan konteks sosial masyarakat merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain. Kedua, dimensi operasional meliputi tidak hanya penafsiran yang diungkapkan secara verbal, tetapi juga apa yang ditunjukkan pada pengamat dan peneliti.23 Artinya bahwa setiap simbol yang digunakan dalam ritual perlu diteliti dalam rangka apa simbol itu digunakan dan bagaimana pelaku ritual mengekspresikannya. Ketiga, dimensi posisional berarti bahwa setiap simbol yang digunakan di dalam ritual mempunyai relasi satu dengan yang lain. Bahwa suatu simbol terkadang mempunyai banyak arti, sehingga perlu diamati hubungan arti simbol yang ada.

Ketiga dimensi arti simbol di atas memperlihatkan bahwa setiap simbol yang terdapat di dalam ritual perlu diteliti secara mendalam. Bukan hanya pada simbol itu sendiri, tetapi lebih pada pengguna dan konteks di mana ritual dilaksanakan. Arti sebuah simbol sangat ditentukan oleh tujuan pelaksanaan ritual dalam masyarakat. Sebuah simbol terkadang memiliki lebih dari

21Raymond Firth, Symbols: Public and Private, (Allen and Unwin, 1973), 20.

22Y.W. Wartaya Winangun, Masyarakat Bebas Struktur: Liminalitas dan Komunitas menurut Victor

Turner (Yogyakata: Kanisius, 1990),18.

(14)

25

satu makna. Karena itu, seorang peneliti tidak bisa hanya memberi perhatian terhadap tindakan ritual, tetapi mesti mendalami tindakan simbolis yang ada di dalam ritual. Sebab di dalam simbol itulah terungkap budaya dan nilai-nilai sosial yang ada di dalam masyarakat.

Cliford Geertz dalam buku Kebudayaan dan Agama, memperlihatkan berbagai konsepsi tentang simbol. Ada yang menggunakan simbol untuk apa saja yang memiliki arti bagi orang lain, seperti awan gelap sebagai tanda simbolis hujan akan datang, ada yang menggunakan simbol sebagai tanda-tanda konvensional eksplisit dari sesuatu, seperti benderah merah sebagai tanda bahaya, ada yang menggunakan simbol terbatas pada sesuatu yang tak langsung dan figuratif, seperti puisi, dan ada juga yang dipakai untuk obyek, tindakan, peristiwa, kualitas, atau relasi yang berlaku sebagai sebuah wahana untuk sebuah konsep.24

Pengertian terakhir ini, digunakan Geertz dalam mengartikan tentang simbol. Dia mengatakan bahwa sesuatu dapat disebut sebagai simbol karena mengandung unsur-unsur simbolis, yakni rumusan-rumusan yang kelihatan dari pandangan-pandangan, abstraksi-abstraksi dari pengalaman yang ditetapkan dalam bentuk-bentuk yang dapat diindrai, perwujudan-perwujudan konkret dari gagasan-gagasan, sikap-sikap, putusan-putusan, kerinduan-kerinduan, atau kenyakinan-kenyakinan.25 Tindakan simbolis dalam suatu masyarakat, terkait dengan kebudayaan setempat. Artinya bahwa belajar tentang simbol tidak dapat dipisahkan dari budaya masyarakat yang ada didalamnya.

2.3. Ritual dan Simbol dalam Membangun Perdamaian.

24Clifford Geertz, Kebudayaan dan Agama (Yogyakarta: Kanisius, 1992), 5-6.

(15)

26

Ritual dan simbol adalah alat yang penting dalam membangun perdamaian. Ritual melibatkan komunikasi simbol dalam ruang sosial yang unik, dan memiliki kemampuan untuk mengatasi identitas dan pandangan dunia. Dengan demikian ritual adalah alat yang berguna dalam transformasi konflik yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.

Berbagai sumber dan pendapat tentang ritual dan simbol, menolong penulis untuk memahami secara mendalam tentang arti dan makna serta fungsi ritual dan simbol dalam kehidupan manusia. Pendalaman terhadap ritual dan simbol memberi kesadaran baru bahwa betapa pentingnya menggunakan ritual dan simbol dalam relasi kemanusiaan, secara khusus dalam membangun perdamaian di tengah-tengah masyarakat. Karena itu, bagian di bawah ini akan memberi perhatian pada tulisan Schrich yang menghubungkan ritual dan simbol dalam membangun perdamaian.

Selain mengungkapkan tentang pengertian dan type ritual, schrich juga mengemukakan empat pendekatan dalam membangun perdamaian yang didalamnya ritual berfungsi. Keempat pendekatan tersebut adalah; mengobarkan konflik tanpa kekerasan, mengurangi kekerasan langsung, transformasi hubungan dan membangun kapasitas.26 Pendekatan pertama adalah upaya penyelesain konflik tanpa kekerasan. Para pembangun perdamaian akan melakukan berbagai upaya, seperti menggunakan ritual untuk menyelesaikan konflik secara damai. Pendekatan kedua mencakup proses dan program yang berorientasi pada krisis untuk menangani korban dan pelaku kekerasan langsung.27 Para pembangunan perdamaian akan menangani korban konflik dan berusaha mencegah konflik berlanjut. Ritual dapat menciptakan ruang di mana pihak yang berkonflik dapat melampiaskan emosi dan trauma secara damai. Pendekatan ketiga merupakan tahap peralihan yang mencakup serangkaian proses yang luas

26Schrich, Ritual and Symbol, 57.

(16)

27

untuk mengubah hubungan dan mengatasi akar konflik.28 Para pembangun perdamaian akan berusaha mentransformasi konflik untuk membangun hubungan baru dalam masyarakat. Ritual sebagai salah satu alternatif penyelesaian konflik akan mengkomunikasikan berbagai emosi dan ide yang sulit, kompleks untuk membangun perdamaian. Pendekatan keempat merupakan strategi jangka panjang seperti pendidikan, pengembangan, konversi dan transformasi militer, dan penciptaan struktur sosial baru untuk memenuhi kebutuhan manusia.29 Membuat dan melaksanakan ritual adalah alat kunci bagi komunitas untuk memberdayakan diri mereka, terlibat dengan struktur sosial yang menindas dan mentransformasi konflik. Ritual berguna bagi pihak yang berkonflik untuk meningkatkan kapasitas, membangun perdamaian.

Dinamika ritual berguna dalam berbagai konflik, membangun perdamaian. Schrich mencatat beberapa fungsi ritual dalam konflik,30 yakni: Pertama, ritual menciptakan ruang yang aman bagi pihak yang berkonflik. Sikap saling bermusuhan dapat dihilangkan melalui tindakan ritual. Pihak-pihak yang berkonflik akan memandang yang lain sebagai sesama. Kedua, ritual mengkomunikasikan pesan simbolis. Pesan atau nilai yang disampaikan dalam tindakan simbolis mengandung berbagai makna yang memungkinkan berbagai interpretasi. Seseorang atau pihak yang berkonflik akan mengekspresikan dan menyalurkan emosi dengan cara yang sama dan berbagi pengalaman melaui tindakan simbolis.

Ketiga, membantu peserta memahami dunia melalui menumbuhkan nilai dan membentuk

ingatan. Membantu transisi dan pandangan dunia, identitas dan hubungan yang mendukung nilai dan struktur komunitas. Membangun menegaskan dan menyembuhkan identitas yang mungkin berisiko atau rusak dalam konflik. Meningkatkan harga diri peserta, memungkinkan mereka untuk melihat dan merasakan kemampuan mereka dan bertindak di dunia. Membangun jembatan dan batasan di sekitar hubungan, memberi orang cara terstruktur berinteraksi satu

28Schrich, Ritual and Symbol, 59.

29Schrich, Ritual and Symbol, 59

(17)

28

sama lain. Keempat, memperbaiki masalah sehingga orang-orang yang berkonflik lebih mampu menemukan cara yang saling memuaskan dalam menangani kebutuhan manusia mereka. Minta transisi dalam identitas pandangan dunia, hubungan dan struktur sosial yang menantang dan mengubah status dan struktur status quo. Ritual memperkuat identitas bersama untuk kelompok-kelompok dalam konflik yang menciptakan jembatan di seluruh kemanusiaan bersama mereka. Menghidupkan kembali orang-orang yang tidak manusiawi melalui proses perseptual yang dipicu oleh polisi. Menyediakan jalur untuk mentransformasi, ritus peralihan dari satu negara ke negara lain.

2.4. Ruang Bersama Menurut Pandangan Jeffrey Alexander

Ruang bersama merupakan wadah di mana semua pihak dalam konflik dapat terlibat memikirkan dan mencari solusi atas peristiwa konflik. Semua pihak hadir dalam ruang khusus untuk membahas dan mencari solusi atas setiap peristiwa konflik yang terjadi di dalam masyarakat. Kehadiran berbagai pihak dipandang dan diberlakukan secara sama, tanpa memandang latar belakang sosial, agama suku, ras, dan status sosial dalam masyarakat.

Alexander dalam buku The Civil Sphere, menyebut ruang bersama sebagai ‘ruang sipil’, di mana didalamnya semua orang dapat berpartisipasi secara aktif, tanpa memandang perbedaan agama, suku, ras dan budaya. Ruang sipil dipahami sebagai lingkup solidaritas, di mana universalitas dan partikular terjalin dengan baik. Solidaritas yang dimaksud adalah solidaritas yang melestarikan lingkungan hidup di kompleks yang sangat kontroversial dari kehidupan masa kini yang berasal dari budaya dan tradisi yang telah bertahan lama yang telah mempertahankan kewajiban individu dan kolektif.31 Bagi Alexander, masyarakat sipil perlu dipahami sebagai suatu lingkup yang secara analitis independen, dan secara empiris terdiferensiasi, dan secara moral bersifat universal.

(18)

29

Menurut Alexander solidaritas hanya bersifat sipil jika menggabungkan kolektif dengan kewajiban individu.32 Solidaritas sipil hanya dapat ditopang oleh bahasa demokrasi,

sebuah wacana yang memungkinan upaya-upaya abstrak dan universal dari lingkup sipil untuk mengambil bentuk-bentuk konkret dan imajinatif.33 Keadilan dimungkinkan jika ada solidaritas sipil, yang tergantung pada vitalitas wacana moral yang provokatif. Bagi Alexander bukan hanya perbedaan dan antagonisme yang menopang demokrasi, tetapi solidaritas dan kesamaan. Menurut Alexander kita perlu mengembangkan model masyarakat demokrasi yang lebih memperhatikan perasaan bersama dan komitmn simbolik, untuk apa dan bagaimana orang berbicara, berpikir dan merasa tentang politik dan, lebih umum, tentang kehidupan sosial yang demokrasi.34 Suatu teori yang lebih responsif terhadap ide-ide orang dikepala mereka, kebiasaan dan hati mereka.

Peran penting solidaritas sosial adalah untuk berusaha responsif terhadap apa yang dikatakan, dan dialami oleh orang lain. Solidaritas sebagai arena, di mana solidaritas diungkapkan secara universal. Ini adalah sifat komunitas rasional, regional atau internasional, perasaan keterhubungan dengan “setiap anggota” dari komunitas itu, melalui kontingen tertentu.

Bagi Alexander bukan hanya perbedaan dan antagonisme yang menopang demokrasi, tetapi solidaritas dan kesamaan. Karena itu, kita perlu mengembangkan model masyarakat demokrasi yang lebih memperhatikan perasaan bersama dan komitmen simbolik, untuk apa dan bagaimana orang berbicara, berpikir, dan merasa tentang politik dan, lebih umum, tentang kehidupan sosial yang demokrasi. Sebuah teori yang berbeda dengan konsep masyarakat sipil sebelumnya yang menekankan pada struktur sosial dan distribusi kekuasaan. Konsep yang

32Alexander, The Civil, 38

33Alexander, The Civil, 38.

(19)

30

lebih responsif terhadap pikiran (ide) dan perasaan (hati) orang lain. Hanya solidaritas yang Universal yang dapat memberikan sebuah benang, bukan identitas dalam arti sempit, tetapi dari jenis identifikasi timbal balik yang menyatukan individu yang disebarkan oleh kelas, ras, agama, etnis, atau ras.

2.5. Kesimpulan

Ritual merupakan bagian esensial dari kehidupan manusia. Manusia mengirim dan menerima berbagai pesan melalui tindakan ritual. Makna dan arti pesan di dalam ritual, sangat ditentukan oleh komunitas masyarakat yang sedang melakukan ritual. Hal ini sejalan dengan ungkapan Bell yang mengatakan bahwa memahami ritual berarti berusaha memahami konteks yang membangunnya.

Ritual mencakup arti yang yang sangat luas, bukan hanya dalam lingkup keagamaan tetapi juga dalam berbagai konteks relasi kemanusiaan. Umumnya ritual digunakan dalam membangun hubungan dengan yang Ilahi dan dengan sesama ciptaan. Secara khusus Schrich menghubungkan ritual dengan transformasi konflik membangun perdamaian. Schrich mengatakan bahwa ritual adalah tindakan simbolis yang dapat mengubah pandangan seseorang untuk membangun perdamaian melalui ruang dan tempat tertentu.

Ritual dilakukan dan dikembangkan dalam kehidupan manusia dengan berbagai cara, ada yang bersifat religius atau sekuler, tradisional atau improvisasi, formal atau informal, membentuk atau mengubah, serta dekonstruktif atau konstruktif. Semua ini dijalankan dan dikembangkan dalam kehidupan manusia untuk mewujudkan dan memperoleh nilai dalam membangun relasi dengan yang Ilahi dan dengan sesama.

Ritual dan simbol adalah dua hal yang selalu terhubung dengan aktivitas kehidupan manusia. Caissier mengatakan bahwa manusia pada hakikatnya adalah animal symbolicum. Ungkapan ini memperlihatkan bahwa manusia adalah makhluk yang tidak bisa dipisahkan dari

(20)

31

simbol. Simbol merupakan alat komunikasi secara non verbal yang biasa digunakan dalam mengungkapkan berbagai nilai-nilai kemanusiaan, seperti keadilan dan perdamaian. Karena itu, setiap simbol yang terdapat di dalam ritual harus diinterpretasi sesuai dengan fungsi penggunaan dan konteks di mana simbol itu dilakukan.

Schrich dalam bukunya, Ritual and Symbol in Peacebuilding memperlihatkan bahwa fungsi ritual dan simbol, keduanya dibutuhkan dalam mentransformasi konflik membangun perdamaian. Schrich mengemukakan sedikitnya empat fungsi ritual dalam membangun perdamaian, yakni (1) ritual menciptakan ruang yang aman bagi pihak yang berkonflik, (2) ritual mengkomunikasikan pesan simbolis, (3) membantu peserta memahami dunia melalui menumbuhkan nilai dan membentuk ingatan, (4) memperbaiki masalah sehingga orang-orang yang berkonflik lebih mampu menemukan cara yang saling memuaskan dalam menangani kebutuhan manusia mereka.

Keempat fungsi ritual di atas akan tercipta ketika terdapat ruang bersama bagi berbagai pihak untuk membangun perdamaian. Ruang bersama yang dimaksud adalah ruang sipil yang didalamnya setiap orang dapat berpatisipasi secara aktif tanpa dibatasi oleh latar belakang tertentu. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan Alexander bahwa di dalam masyarakat terdapat ruang bersama berupa solidaritas dari berbagai pihak untuk menciptakan perdamaian dan keadilan.

Referensi

Dokumen terkait

Edisi 2. Jakarta: Salemba Empat. Akad Dan Produk Bank Syariah. Jakarta: Rajawali Pers. 54 Rivai, Veithzal dan Arifin, Arviyan. Jakarta: Bumi Aksara.. Kedua belah pihak antara

Variabel random adalah sebuah fungsi X yang memetakan setiap elemen dalam ruang sampel c∈ , pada satu dan hanya satu bilangan riil , dimana ruang sampel dari X adalah

Bell berpendapat dalam perubahan ritual di dalam masyarakat, selalu ditandai dengan penolakan terhadap tradisi ritualnya sendiri atau karena pihak lain, yang

2) Kawasan budidaya adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potenssi sumber daya alam, sumber daya manusia,

Fungsi pelaporan adalah sebagai salah satu sumber informasi bagi pemerintah/instansi yang berwenang dalam memantau dan mengevaluasi pemanfaatan ruang sebagaimana yang telah

digunakan aman dan layak untuk pelaksanaan Ujian Nasional; Kedua, setiap ruang ditempati paling banyak 20 peserta, dan 2 (dua) meja untuk dua orang pengawas Ujian Nasional; Ketiga,

Fungsi dari seorang humas/PR adalah melaksanakan komunikasi dua arah atau timbal balik antara suatu lembaga/perusahaan dengan pihak public yang bertujuan untuk menciptakan

2) HMN Purwosutjipto mengemukakan bahwa pihak-pihak dalam pengangkutan yaitu pengangkut dan pengirim. Pengangkut adalah orang yang mengikatkan diri untuk