INTEGRASI-INTERKONEKSI
Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK)
untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)
Oleh:
Rizkia Suci Hadiyanti NIM. 11150162000069
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2020
ii
Sains Madrasah 2018-2019 pada Bidang Kimia Terintegrasi Berdasarkan Paradigma Integrasi-Interkoneksi” disusun oleh Rizkia Suci Hadiyanti, NIM 11150162000069. Program Studi Pendidikan Kimia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Telah melalui bimbingan dan dinyatakan sah sebagai karya ilmiah yang berhak untuk diujikan pada sidang munaqasah sesuai ketentuan yang ditetapkan oleh fakultas.
Jakarta, 20 Februari 2021
Yang mengesahkan,
Pembimbing I Pembimbing II
Nanda Saridewi, M.Si Munasprianto Ramli, Ph.D
NIP. 19841021 200912 2 004 NIP. 19791029 200604 1 001
Mengetahui,
Ketua Program Studi Pendidikan Kimia
Burhanudin Milama, M.Pd NIP. 19770201 200801 1 011
iv
Rizkia Suci Hadiyanti, “Analisis Integrasi Keislaman dalam Soal Kompetisi Sains Madrasah 2018-2019 pada Bidang Kimia Terintegrasi Berdasarkan Paradigma Integrasi-Interkoneksi”, Program Studi Pendidikan Kimia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2021.
Integrasi Islam pada proses pembelajaran kimia sangatlah penting dalam rangka mewujudkan peserta didik yang beriman dan bertaqwa serta berakhlak mulia. Salah satu pengimplementasian integrasi Islam yakni dalam soal-soal kimia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui integrasi keislaman pada soal Kompetisi Sains Madrasah (KSM) 2018-2019 pada bidang kimia terintegrasi berdasarkan paradigma integrasi-interkoneksi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dan data diperoleh dari analisis dokumen. Sampel dalam penelitian ini adalah dokumen soal KSM tahun 2018 (tingkat kab/kota, provinsi, dan nasional), 2019 (tingkat kab/kota dan provinsi). Hasil penelitian menunjukkan integrasi keislaman didominasi oleh model integrasi dengan model paralelisasi dan konten integrasi yang berdasarkan dari al-Qur‟an dan hadist. Presentase konten integrasi keislaman yang terdiri dari 14% konten SKI, 13% konten Fiqih, 19% konten Akidah Akhlak, dan 54% konten al-Qur‟an dan hadist. Sedangkan untuk presentase model integrasi keislaman terdiri dari 16% model informatif, 11% model konfirmatif, 6% model korektif, 9% model similarisasi, 26% model paralelisasi, 16% model komplementasi, 1% model komparasi, 0% model induktifikasi, dan 15% model verifikasi.
Kata Kunci: Integrasi Keislaman, Soal KSM, Kimia Terintegrasi, Paradigma Integrasi-Interkoneksi
v
ABSTRACT
Rizkia Suci Hadiyanti, "Analysis of the Islamic Integration in Madrasah
Science Competition Question 2018-2019 in the Level of Integrated Chemistry Based on Integration-Interconnection Paradigm", Chemistry Education Study
Program, Faculty of Tarbiya and Teacher‟s Training, Syarif Hidayatullah State Islamic University Jakarta, 2021.
Integration of Islam in chemistry learning process is very important in order to create students who are faithful and piety and have good character. One of the implementations Islamic integration is in practice chemistry questions. This study aims to determine the integration of Islam in the Madrasah Science Competition Question (KSM) 2018-2019 in the level of integrated chemistry based on the integration-interconnection paradigm. The method that used in this research is descriptive and the data were obtained by document analysis. The sample in this study is the document about KSM in 2018 (district / city, provincial and national levels), 2019 (district / city and province levels). The results showed that the Islamic integration was dominated by the integration model with the parallelization model and the integration content based on the Qur'an and hadith. The percentage of Islamic integration content consists of 14% SKI content, 13% Fiqh content, 19% Akidah Akhlak content, and 54% al-Qur'an and hadith content. Meanwhile, the percentage of the Islamic integration model consists of 16% informative model, 11% confirmative model, 6% corrective model, 9% similarization model, 26% parallelization model, 16% complementation model, 1% comparative model, 0% inductification model, and 15 % verification model.
Keywords: Islamic Integration Model, KSM Questions, Integrated Chemistry,
vi
Alhamdulillah segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat serta salam tak lupa tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita semua dari zaman jahiliyah ke zaman yang penuh dengan cahaya ilmu seperti saat ini.
Dalam menyelesaikan skripsi yang berjudul “Analisis Integrasi Keislaman dalam Soal Kompetisi Sains Madrasah 2018-2019 pada Bidang Kimia Terintegrasi Berdasarkan Paradigma Integrasi-Interkoneksi”, tentunya banyak kesulitan yang penulis alami. Akan tetapi, dengan adanya bantuan dan partisipasi dari berbagai pihak skripsi ini pun dapat selesai sesuai dengan harapan penulis. Oleh karena itu, dengan tulus penulis ingin sampaikan terima kasih kepada:
1. Dr. Sururin, M.Ag., selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
2. Burhanudin Milama, M.Pd., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Kimia.
3. Nanda Saridewi, M.Si., selaku Dosen Pembimbing I yang telah memberikan waktu, ilmu, bimbingan, dan arahan kepada penulis selama penyusunan skripsi ini.
4. Munasprianto Ramli, Ph.D., selaku Dosen Pembimbing II yang telah memberikan waktu, ilmu, bimbingan, dan arahan kepada penulis selama penyusunan skripsi ini.
5. Dr. Akhmad Sodiq, M.Ag., selaku Pengamat Ahli I (Reviewer). Terima kasih atas waktu, ilmu, dan saran dalam membantu penulis dalam proses menganalisis data skripsi.
vii
6. Abdul Ghofur, S.Pd., Guru MAN 6 Jakarta selaku Pengamat Ahli II (Reviewer). Terima kasih atas waktu, ilmu, dan saran dalam membantu penulis dalam proses menganalisis data skripsi.
7. Seluruh Dosen dan jajaran jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Terima kasih atas segala ilmu dan perhatian Bapak/Ibu selama penulis menuntut ilmu di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
8. Kedua orang tua tercinta, Ummi dan Ayah yang selalu mendoakan, memberikan perhatian, kasih sayang, nasihat, dukungan, serta semua yang penulis butuhkan selama penulisan skripsi ini.
9. Kakak – kakak dan adikku tersayang, yang selalu memberikan perhatian kasih sayang, dan semangat kepada penulis dalam mengerjakan skripsi ini.
10. Sahabatku, Muthia, Jihan, Ayu, dan Zaqi, yang selalu menemani dan memberikan perhatian, dukungan, serta bantuan kepada penulis selama perkuliahan hingga mengerjakan skripsi ini.
11. Teman – teman seperjuangan Pendidikan Kimia 2015 B yang telah memberi warna selama beberapa tahun ini. Terima kasih sudah berbagi semangat dan ilmu kepada penulis.
12. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan dan ketulusan semua pihak yang telah membantu penulis menyelesaikan skripsi ini. Penulis menyadari banyak kekurangan pada skripsi ini. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangatlah berarti. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi para pembaca. Aamiin.
Jakarta, Januari 2021
viii
SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI ... iii
ABSTRAK ... iv
ABSTRACT ... v
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR TABEL ... x
DAFTAR GAMBAR ... xi
DAFTAR LAMPIRAN ... xii
BAB I PENDAHULUAN ... 1 A. Latar Belakang ... 1 B. Identifikasi Masalah ... 5 C. Batasan Masalah... 5 D. Rumusan Masalah ... 5 E. Tujuan Penelitian ... 6 F. Manfaat Penelitian ... 6
BAB IIKAJIAN PUSTAKA ... 7
A. Integrasi Islam dan Kimia ... 7
B. Integrasi Islam dan Kimia dalam Pembelajaran... 9
C. Model Integrasi Islam dan Kimia ... 11
D. Kompetisi Sains Madrasah ... 31
E. Penelitian yang Relevan ... 35
F. Kerangka Berpikir ... 37
BAB IIIMETODOLOGI PENELITIAN ... 40
A. Waktu dan Tempat Penelitian ... 40
B. Metode Penelitian dan Prosedur Penelitian ... 40
C. Sampel dan sumber data... 43
ix
E. Instrumen Penelitian... 44
F. Teknik Analisis Data ... 45
BAB IVHASIL DAN PEMBAHASAN ... 51
A. Hasil Penelitian ... 51 B. Pembahasan ... 60 BAB VPENUTUP ... 94 A. Kesimpulan ... 94 B. Saran ... 94 DAFTAR PUSTAKA ... 95 LAMPIRAN ... 102
x
Tabel 2.1 Materi Kimia Terintegrasi KSM 2018 ... 34 Tabel 3.1 Format Instrumen Konten Integrasi Keislaman pada Soal Kompetisi
Sains Madrasah ... 45 Tabel 3.2 Format Instrumen Model Integrasi Keislaman pada Soal Kompetisi
Sains Madrasah ... 45 Tabel 3.3 Format Gabungan Data Hasil Pengamatan antara Pengamat I dan
Pengamat II pada Kategorisasi Konten Integrasi KeIslaman Item Soal Kompetisi Sains Madrasah ... 46 Tabel 3.4 Format Gabungan Data Hasil Pengamatan antara Pengamat I dan
Pengamat II pada Kategorisasi Model Integrasi KeIslaman Item Soal Kompetisi Sains Madrasah ... 46 Tabel 3.5 Format Tabel Kontingensi Kesepakatan Pengamatan pada
Kategorisasi Konten Integrasi KeIslaman Item Soal Kompetisi Sains Madrasah ... 47 Tabel 3.6 Format Tabel Kontingensi Kesepakatan Pengamatan pada
Kategorisasi Konten Integrasi KeIslaman Item Soal Kompetisi Sains Madrasah ... 47 Tabel 3.7 Interpretasi Kappa ... 49 Tabel 4.1 Nilai Koefisien Kesepakatan (KK) Pengamatan pada Hasil Analisis
xi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Model Integrasi Keilmuan IFIAS ... 12
Gambar 2.2 Model Monadik ... 17
Gambar 2.3 Model Diadik Komplementer ... 17
Gambar 2.4 Model Diadik Dialogis ... 18
Gambar 2.5 Model Triadik ... 18
Gambar 2.6 Jaring Laba-Laba Integrasi-Interkoneksi ... 23
Gambar 2.7 Pohon Ilmu ... 28
Gambar 2.8 Model Integrasi Sains dan Islam Tipe Buchori ... 30
Gambar 2.9 Tahapan Pelaksanaan KSM ... 34
Gambar 2.10 Kerangka Berpikir ... 39
Gambar 3.1 Prosedur penelitian analisis model integrasi pada soal kompetisi sains madrasah 2018-2019 bidang kimia terintegrasi ... 42
Gambar 4.1 Presentase soal yang terintegrasi keislaman dalam soal KSM ... 52
Gambar 4.2 Presentase konten integrasi keislaman dalam soal KSM tahun 2018 ... 53
Gambar 4.3 Presentase konten integrasi keislaman dalam soal KSM tahun 2019 ... 54
Gambar 4.4 Presentase model integrasi pada soal KSM tingkat kab/kota tahun 2018 ... 55
Gambar 4.5 Presentase model integrasi pada soal KSM tingkat provinsi tahun 2018 ... 56
Gambar 4.6 Presentase model integrasi pada soal KSM tingkat nasional tahun 2018 ... 57
Gambar 4.7 Presentase model integrasi pada soal KSM tingkat kab/kota tahun 2019 ... 58
Gambar 4.8 Presentase model integrasi pada soal KSM tingkat provinsi tahun 2019 ... 59
xii
Lampiran 2 Lembar Gabungan Data Hasil Pengamatan Konten Integrasi Keislaman antara Pengamat I aan Pengamat II dalam Soal Kompetisi Sains Madrasah Bidang Kimia Terintegrasi Tahun 2018 ... 104 Lampiran 3 Lembar Gabungan Data Hasil Pengamatan Konten Integrasi
Keislaman antara Pengamat I dan Pengamat II dalam Soal Kompetisi Sains Madrasah Bidang Kimia Terintegrasi Tahun 2019 ... 110 Lampiran 4 Lembar Gabungan Data Hasil Pengamatan Model Integrasi
Keislaman antara Pengamat I dan Pengamat II dalam Soal Kompetisi Sains Madrasah Bidang Kimia Terintegrasi Tahun 2018 ... 115 Lampiran 5 Lembar Gabungan Data Hasil Pengamatan Model Integrasi
Keislaman antara Pengamat I dan Pengamat II dalam Soal Kompetisi Sains Madrasah Bidang Kimia Terintegrasi Tahun 2019 ... 121 Lampiran 6 Tabel Kontingensi Kesepakatan Pengamatan antara Pengamat I
dan II dalam Soal KSM Tahun 2018 ... 126 Lampiran 7 Tabel Kontingensi Kesepakatan Pengamatan antara Pengamat I
dan II dalam Soal KSM Tahun 2019 ... 130 Lampiran 8 Analisis Konten Dan Model Integrasi Keislaman dalam Soal
Kompetisi Sains Madrasah Bidang Kimia Terintegrasi Tahun 2018-2019 ... 133 Lampiran 8 Lembar Uji Referensi ... 135
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Secara yuridis, di dalam rumusan pembukaan UUD 1945, Pasal 28 ayat 1 UUD 1945, Pasal 31 UUD 1945, dan Pasal 3 dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 menjelaskan bahwa Pendidikan Nasional bertujuan mengembangkan potensi peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Permendikbud, 2016). Untuk mencapai tujuan pendidikan nasional tersebut, penyelenggaraan pendidikan di sekolah tidak hanya memiliki kewajiban untuk menanamkan pengetahuan dan konsep kepada siswa saja, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menumbuhkan nilai-nilai ataupun karakter siswa (Sudrajat, 2016).
Aspek nilai-nilai keislaman seperti iman, akhlak mulia, dan juga takwa saat ini sudah terdapat di dalam Kurikulum 2013, yang merupakan tujuan pembelajaran di seluruh mata pelajaran termasuk kimia. Selain itu, ketiga aspek tersebut merupakan kompetensi inti utama yang harus dicapai oleh semua mata pelajaran. Dengan adanya aspek tersebut, diharapkan dapat mengembangkan emosional dan spiritual siswa (Yusuf, 2015, hlm. 93). Kurikulum merupakan “jiwa” pendidikan dianggap harus mencakupi nilai dan pesan Islam dalam setiap kegiatan sekolah. Desain kurikulum juga dituntut untuk mengintegrasikan nilai keislaman berupa ayat kauniyah dan qauliyah, materi yang diimplementasikan tidak hanya untuk mempelajari mata pelajaran agama Islam secara konteks sebagai ilmu-ilmu keislaman (fiqh, ibadah, akhlak, dan aqidah), melainkan digunakan sebagai pelajaran agama Islam yang diharapkan bisa memberikan kerangka pengetahuan, sikap, dan tingkah laku yang dibutuhkan dalam konteks kehidupan sehari-hari (Fiteriani, 2014).
Berbicara mengenai integrasi Islam dengan ilmu pengetahuan, pada akhir abad ke-20 muncul ide integrasi Islam dan sains. Munculnya integrasi Islam dilandasi adanya cara pikir dikotomi. Cara berpikir ini muncul dari ketidaksadaran masyarakat yang masih menganggap bahwa Islam dan sains tidak dapat disatupadukan karena keduanya memiliki wilayah pembahasan yang berbeda dan tidak dapat dipertemukan (Zain, 2017). Selain itu, banyak yang menganggap bahwa sains adalah semata-mata hasil penemuan ilmuwan Eropa, sehingga tidak ada hubungannya dengan agama Islam. Namun, jika ditinjau dari sejarah, perkembangan ilmu pengetahuan pertama kali dikembangkan oleh ilmuwan muslim (Hidayat, 1982).
Perdebatan mengenai pengintegrasian Islam dan sains juga terjadi di kalangan ilmuwan Muslim. Beberapa dari mereka menganggap hubungan antara ilmu dan agama (Islam) tidak jelas. Sebaliknya, beberapa lainnya menganggap adanya keterkaitan yang jelas antara sains dan Islam melalui ayat-ayat al-Qur‟an (Munadi, 2016). Al-Qur‟an dan as-Sunnah pada dasarnya tidak membedakan antar ilmu, yaitu ilmu agama Islam dan ilmu lainnya. Dalam al-Qur‟an dijelaskan mengenai ilmu dan semua cabang ilmu dalam Islam berasal dari satu yaitu Allah SWT. Sebagai sumber ilmu, Allah memberikan ilmu-Nya kepada manusia melalui ayat qauliyah (Al-Qur‟an dan hadits) dan ayat kauniyah (fenomena alam) (Zainuddin, 2008; Yusuf, 2015).
Kajian tentang integrasi Islam di Indonesia mengemuka bersamaan dengan perubahan IAIN menjadi UIN. Pada tahun 2002 hingga 2004 tiga IAIN di Indonesia berubah menjadi UIN atau Universitas Islam Negeri, yakni: (1) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, (2) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, (3) UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang (Bagir, 2005; Suprayogo, 2006). Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta berubah dari IAIN menjadi UIN pada tahun 2002 (Kusmana, 2006). Jika pada masa IAIN lebih fokus pada kajian ilmu agama (religious science), seperti al-din, jinayah siyasah, tafsir hadist, tarbiyah, dan dakwah, maka di masa UIN tidak ada lagi pembahasan mengenai satu bidang ilmu agama
3
Islam. Namun, cakupan kajian lebih harus luas dan lebih umum lagi di bidang ilmu pengetahuan lainnya (Fauzan, 2017).
Kajian integrasi sains dan Islam dilakukan oleh banyak ilmuwan Islam yang ada di Indonesia, salah satunya adalah Amin Abdullah. Amin Abdullah adalah Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (2001-2010) yang merupakan salah satu pelopor paradigma keilmuan yang dikenal sebagai Paradigma Integrasi-Interkoneksi (Siswanto, 2013). Paradigma integrasi-interkoneksi merupakan salah satu paradigma yang ingin membuka dialog antar ilmu pengetahuan dan menutup peluang dikotomi ilmu. Integrasi-interkoneksi ini memperkenalkan beberapa model kajian, diantaranya model informatif, konfirmatif, korektif, similarisasi, paralelisasi, komplementasi, komparasi, induktifikasi, dan verifikasi (Abdullah, 2006).
Sains atau Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) adalah suatu kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematik dan secara umum menjelaskan terbatas pada gejala atau fenomena alam (Trianto, 2010, hlm. 136). Kimia adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan alam (IPA) yang mempelajari materi dan perubahannya (Chang, 2005, hlm. 3). Materi kimia dapat diintegrasikan dengan cara memasukkan nilai-nilai keislaman ke dalam buku pelajaran kimia dan dapat dilakukan melalui pengutipan ayat-ayat al-Qur‟an yang berkaitan dengan tema materi kimia disertai penjelasan maknanya pada awal atau di dalam isi uraian materi pelajaran (Saputro, 2011). Dalam al-Qur‟an terdapat lebih dari 750 ayat yang menunjukkan fenomena alam dan memerintahkan manusia untuk mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan penciptaan alam dan merenungkan isinya (Syafi‟i, 2000, hlm. 85). Sebagai salah satu contoh terdapat penjelasan secara kimia maupun agama bahwa alam adalah ciptaan Allah SWT yakni dalam QS. Al Anbiyaa‟ ayat 30 yang menjelaskan Teori Big Bang. Allah swt. berfirman:
ۖ اَوُهاٌَْقَتَفَف اًقْتَر اَتًَاَك َضْرَأْلاَو ِتاَواَوَسّلا َىَأ اوُزَفَك َيٌِذَلا َزٌَ ْنَلَوَأ
َىوٌُِهْؤٌُ اَلَفَأ ۖ ًٍَح ٍءًَْش َلُّك ِءاَوْلا َيِه اٌَْلَعَجَو
Artinya: “Dan Apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi itu keduanya dahulu menyatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya; dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air; maka mengapa mereka tiada juga beriman?” (QS. Al-Anbiya: 30)
Ayat di atas menjelaskan asal-muasal penciptaan alam dan kehidupan. Proses penciptaan alam dalam ilmu sains dikenal dengan teori Big Bang. Studi menemukan bahwa Big Bang menghasilkan sekitar 75% atom hidrogen dan 25% atom helium (Cicilia, 2020, hlm. 111). Ayat tersebut juga merupakah salah satu bukti bahwa dalam al-Qur‟an terdapat kandungan ayat-ayat ilmiah. Unsur kimia yang telah ditemukan dan teridentifikasi di alam kurang lebih 118 unsur, unsur-unsur tersebut terbentuk secara alami melalui peristiwa-peristiwa alam, dimulai dari peristiwa dentuman besar (big bang) yang sesuai dengan QS. Al-Anbiyaa‟ ayat 30, cahaya-cahaya kosmik (cosmic rays), Bintang-bintang berukuran kecil (small stars), Bintang-bintang berukuran besar (large stars), Supernova atau ledakan bintang, dan non-alamiah atau buatan manusia (Muslim, 2016).
Implementasi integrasi Islam dan kimia dalam pembelajaran saat ini telah didukung oleh Kementerian Agama, salah satunya dalam penyusunan soal Kompetisi Sains Madrasah (KSM) 2018 (www.ksm.kemenag.go.id). Kompetisi Sains Madrasah (KSM) merupakan ajang kompetisi di bidang sains yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Kompetisi Sains Madrasah dilaksanakan pertama kali pada tahun 2012, dan hanya dapat diikuti oleh siswa MI, MTs, dan MA. Namun, pada tahun 2016 KSM bisa diikuti oleh sekolah umum lainnya yakni SD, SMP, dan SMA dengan seleksi tingkat satuan, kab/kota, provinsi, hingga nasional. Pada teks soal KSM 2018 melekat materi Agama Islam dalam mata pelajaran sains yang dilombakan. Kimia Terintegrasi merupakan salah satu bidang yang dilombakan pada tingkat SMA/MA. Dengan demikian, soal kimia yang terintegrasi baru diadakan pada soal Kompetisi Sains Madrasah (KSM) tahun 2018, oleh karena itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Analisis Integrasi Keislaman dalam Soal Kompetisi Sains Madrasah
5
2018-2019 pada Bidang Kimia Terintegrasi berdasarkan Paradigma Integrasi-Interkoneksi.”
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang sudah diuraikan sebelumnya, maka dapat teridentifikasi beberapa masalah sebagai berikut:
1. Adanya tuntutan Tujuan Pendidikan Nasional yang harus mengembangkan nilai-nilai ataupun karakter keislaman siswa dengan mengkaji ilmu keislaman dalam pembidangan ilmu pengetahuan, akan tetapi panduan atau model integrasi yang diterapkan di sekolah masih kurang memadai. 2. Adanya pola pikir dikotomistik antara Islam dan sains sehingga masih
banyak yang beranggapan bahwa integrasi antara Islam dan sains tidak dapat dipadukan.
3. Kimia terintegrasi diadakan pertama kali pada tahun 2018 pada Kompetisi Sains Madrasah (KSM) sehingga menarik untuk dianalisis mengenai integrasi antara kimia dan keislaman.
C. Batasan Masalah
Agar permasalahan yang ditinjau tidak terlalu luas dan sesuai dengan maksud dan tujuan yang ingin dicapai, maka penelitian ini dibatasi pada analisis soal Kompetisi Sains Madrasah (KSM) tahun 2018-2019 pada bidang kimia terintegrasi yang kemudian ditinjau berdasarkan Paradigma Integrasi-Interkoneksi dan juga dari aspek Konten Keislaman.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah yang telah diuraikan, maka dapat dirumuskan masalah dalam penelitian ini yaitu “Bagaimana Integrasi Keislaman pada soal Kompetisi Sains Madrasah (KSM) 2018-2019 pada Bidang Kimia Terintegrasi berdasarkan Paradigma Integrasi-Interkoneksi?”
E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui integrasi keislaman pada soal Kompetisi Sains Madrasah (KSM) 2018-2019 pada bidang kimia terintegrasi berdasarkan paradigma integrasi-interkoneksi.
F. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini akan memberikan tambahan literatur dan referensi mengenai model integrasi keislaman yang digunakan pada soal Kompetisi Sains Madrasah (KSM) 2018-2019 pada bidang kimia terintegrasi.
2. Manfaat Praktis a. Guru
1. Diharapkan informasi yang dihasilkan dari penelitian ini akan membantu para guru dan sekolah dalam meningkatkan dan menguasai cara mengintegrasikan Islam pada materi ajar kimia dan menelaah soal-soal dalam Kompetisi Sains Madrasah.
2. Dapat memotivasi guru dalam melatih siswa dalam pembelajaran kimia terintegrasi dengan menggunakan soal-soal Kompetisi Sains Madrasah yang terintegrasi.
b. Peneliti
1. Menambah pengetahuan dan pengalaman mengenai analisis butir soal untuk model integrasi keislaman dalam soal Kompetisi Sains Madrasah.
2. Menghasilkan informasi mengenai integrasi yang dapat dijadikan bahan atau rujukan untuk pengembangan penelitian berikutnya.
7 BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Integrasi Islam dan Kimia
Kata integrasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti pembauran hingga menjadi kesatuan yang utuh atau bulat (https://kbbi.web.id/integrasi). Integrasi juga mengandung arti keseluruhan yaitu meliputi bagian yang perlu untuk dijadikan lengkap; utuh, bulat, sempurna; tidak terpisah, terpadu. Integrasi artinya digabungkan menjadi satu kesatuan yang utuh, yang tidak dapat diubah lagi. Sedangkan integrasi ilmu berarti menyatukan cara pandang atau model pendekatan tertentu dengan ilmu pengetahuan (Maman, 2012, hlm. 76-77).
Integrasi menurut Sanusi (1987) adalah suatu kesatuan yang utuh, tidak terpecah belah dan bercerai berai. Integrasi meliputi keutuhan atau kelengkapan anggota-anggota yang membentuk suatu kesatuan dan terdapat hubungan yang erat, harmonis dan inti antara anggota kesatuan itu (Muspiroh, 2014). Sedangkan integrasi nilai dalam pembelajaran adalah proses menggabungkan nilai – nilai tertentu dengan konsep lain sehingga menjadi satu kesatuan yang koheren dan tidak terpisahkan atau proses peleburan sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh dan bulat (Sauri; Muspiroh, 2014).
Munculnya integrasi Islam dilandasi adanya cara pikir dikotomi. Cara berpikir ini muncul dari ketidaksadaran masyarakat yang masih menganggap bahwa Islam dan sains tidak dapat disatupadukan karena keduanya memiliki wilayah pembahasan yang berbeda dan tidak dapat dipertemukan, baik dari segi objek formal material, metode penelitian, kriteria kebenaran, peran yang dimainkan oleh ilmuwan (Zain, 2017). Padahal jika diamati mengenai hubungan Islam dan sains terdapat dua pendapat, yang pertama adalah integrasi, yaitu Islam memberikan jalan dan stimulus untuk mempelajari sains, dan sains berperan penting dalam meningkatkan keimanan. Kedua adalah dialog, yaitu Islam dan sains dapat berjalan searah dalam satu aspek,
akan tetapi Islam bisa membatasi sains dalam aspek-aspek tertentu, sehingga tidak ada kata pemisahan (Turgut, 2016).
Dalam kajian filsafat ilmu ada tiga hal yang menjadi dasar sebagai tolak ukur sebuah objek dikatakan sebagai ilmu pengetahuan, yakni ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Pertama, ontologi adalah bidang pokok filsafat yang mempersoalkan hakikat keberadaan segala sesuatu yang ada. Ontologi dapat pula diartikan sebagai ilmu atau teori tentang wujud hakikat yang ada. Kedua, epistemologi kalau pada ontologi membahas sesuatu yang ada. Namun epistemologis lebih membahas tentang terjadinya dan kebenarananya ilmu. Epistemologi mengkaji mengenai apa sesungguhnya ilmu, dari mana sumber ilmu, serta bagaimana proses terjadinya. Ketiga, aksiologi adalah ilmu yang membicarakan tentang tujuan ilmu pengetahuan itu sendiri atau aksiologi merupakan ilmu yang mempelajari hakikat dan manfaat yang sebenarnya dari ilmu pengetahuan (Sholeh, 2017).
Konflik utama antara agama dan sains (terutama kimia) tidak terletak pada gagasan ilmiah tertentu, tetapi bagaimana para ilmuwan mencapai pada kesimpulan. Oleh karenanya, ketika memperdebatkan hubungan antara agama dan sains terutama kimia, hendaknya kita mempertimbangkan dengan cermat mengenai orientasi epistemologis dan ontologisnya terlebih dahulu. Dengan demikian, tidak ada lagi yang menganggap bahwa antara agama dengan kimia bertentangan, dan membuat seseorang yang religius tidak akan minat dalam belajar kimia (Mansour, 2015). Dalam Islam, ilmu agama dan ilmu umum tidak ada pemisahan. Dengan kata lain, tidak ada istilah dikotomis mengenai ilmu pengetahuan (Lubis, 2015). Integrasi antara sains (kimia) dan Islam dipahami sebagai upaya menggabungkan ilmu kimia dengan ilmu agama agar keduanya menjadi searah. Ketika menggabungkan ilmu kimia dan Islam harus mengacu pada ayat kauliyah (al-Qur‟an dan Hadist) dan ayat kauniyah (fenomena alam) (Fauzan, 2017).
Secara ilmiah, proses integrasi Islam dengan sains didasarkan pada alasan-alasan berikut: pertama, Islam memerintahkan manusia untuk merenungkan ciptaan Tuhan dan dapat melihat kebesaran Tuhan melalui
ayat-9
ayat, baik ayat kauniyah maupun ayat kauliyah. Sebaliknya, tanpa dipikirkan, manusia tidak bisa mengetahui ciptaan Tuhan. Kedua, materi pembelajaran IPA (salah satunya kimia) adalah materi yang menguraikan banyak tentang kejadian atau fenomena alam dan keberlanjutan, baik biotik maupun abiotik. Ketiga, keberhasilan dan tolak ukur pada pendidikan agama Islam adalah keimanan dan pengabdian peserta didik kepada Tuhan. Proses pembentukan keimanan dan ketaqwaan dalam beragama dapat dilakukan dengan bertafakur dan tadhabur tentang fitrah bahwa alam adalah ciptaan Tuhan, dan melalui keimanan muncullah perilaku keimanan. Salah satu karakteristik yang meningkatkan keyakinan seseorang adalah tindakannya yang berkomitmen untuk amal dan kesalehan (Sunhaji, 2016).
Dari pemaparan di atas, integrasi ilmu merupakan proses menyatukan berbagai cabang ilmu yang ada. Berbagai cabang ilmu sebagaimana yang diklasifikasikan oleh para intelektual, disatukan melalui proses integrasi dengan suatu asumsi bahwa semua cabang ilmu berasal dari Tuhan (Miftahuddin, 2018). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa integrasi Islam dan kimia adalah upaya menyatukan dua kajian ilmu yang berbeda melalui ayat kauliyah (Al-Qur‟an dan hadits) dan ayat kauniyah (fenomena alam) sehingga menjadi satu pemahaman yang utuh dan dapat menjadi hubungan yang koheren dan tidak bisa dipisahkan.
B. Integrasi Islam dan Kimia dalam Pembelajaran
Menurut Ahmad Tafsir yang dikutip oleh Gunawan, proses pengintegrasian pendidikan agama ke dalam pembelajaran kimia dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain dengan pengintegrasian materi, pengintegrasian proses pembelajaran, pengintegrasian dalam memilih bahan ajar, dan pengintegrasian dalam memilih media pembelajaran (Gunawan, 2012, hlm. 215).
a. Pengintegrasian materi berarti memadukan konsep atau ajaran agama ke dalam materi (teori/konsep) yang akan diajarkan. Contoh seorang guru IPA ingin menjelaskan mengenai kehidupan di alam semesta, maka
nilai-nilai yang dapat dimasukkan ke dalam pembelajaran adalah kepedulian, keindahan, dan lain sebagainya.
b. Pengintegrasian dalam proses pembelajaran berarti guru dapat menanamkan nilai-nilai dalam proses pembelajaran dengan memberikan teladan kepada siswa dengan nilai-nilai karakter.
c. Pengintegrasian dalam memilih bahan ajar. Contohnya guru kimia yang hendak mengajar dapat memilih bahan ajar yang didalamnya terdapat nilai-nilai keislaman sehingga siswa dapat meneladaninya.
d. Pengintegrasian dalam memilih media pembelajaran. Media pembelajaran yang akan digunakan dalam proses pembelajaran dapat diintegrasikan nilai-nilai keislaman dan dipilih berdasarkan kebutuhan yang sesuai dengan materi yang akan diajarkan. Contohnya guru IPA ingin menjelaskan media pembelajaran berupa video proses penciptaan manusia, kemudian dapat disisipkan nilai-nilai keislaman.
Sedangkan menurut Saputro (2011), metode penyampaian nilai-nilai keislaman yang dimasukkan ke dalam pembelajaran kimia dapat dilakukan dengan berbagai cara sesuai dengan kreativitas guru yang mengajar. Salah satu metode yang dapat digunakan yaitu dengan cara mengutip ayat-ayat al-Qur‟an terkait dengan topik/materi pelajaran yang akan dipelajari dan dijelaskan maknanya terlebih dahulu sebelum materi pelajaran dimulai. Selain itu, dapat dengan cara memasukkan nilai-nilai religius dalam materi pelajaran, contohnya setelah selesai menjelaskan sub pokok bahasan tertentu, mengkaitkan kesimpulan materi pelajaran dengan nilai-nilai religius dengan merujuk kepada ayat – ayat al-Qur‟an maupun Hadits, memberikan suatu kasus yang mengandung nilai-nilai religius untuk dihayati dan direnungkan secara mendalam oleh siswa.
Dapat disimpulkan, peran guru dalam pengintegrasian ilmu-ilmu agama dengan sains dalam pembelajaran sangatlah penting. Proses integrasi dapat bermasalah jika pendidik dalam mengintegrasikan ilmu agama memiliki pemahaman yang kurang mengenai ilmu al-Quran dan strategi pengajaran.
11
Oleh karena itu, kolaborasi dari kedua belah pihak yaitu antara guru pendidikan Islam dan sains sangat diperlukan (Iksan, 2016).
C. Model Integrasi Islam dan Kimia
Model integrasi Islam dan kimia sudah banyak yang dikembangkan di dunia, menurut Anas (2013)umodel-modelypengintegrasiantIslam dan sains yang telahgdigagaskanuoleh cendekiawan-cendekiawanuMuslim dari seluruh dunialterdapathsepuluh model, yakni: IFIAS Model, ASASI Model, Islamic Worldview Model, Structure of Islamic Knowledge Model, Bucaillisme Model, Knowledge Integration based on Classical Philosophy Model, Knowledge Integration based on Tasawuf Model, Knowledge Integration based on Fiqh Model, Ijmali Group Model, Aligargh Group Model.
Model-model di atas merupakan model yang dibuat untuk menjawab westernisasi dan sekularisme sains. Menurut Huzni Thoyyar (2008) tidaklah mudah dalam merumuskan model-model integrasi keilmuan secara konsepsional. Hal ini dikarenakan berbagai ide dan gagasan integrasi keilmuan muncul secara tak menentu baik konteks tempat, waktu, maupun argumen yang melatarbelakanginya. Terdapat beberapa faktor yang melatarbelakangi gagasan ini, diantaranya yaitu sejarah hubungan sains dengan agama; adanya tekanan yang kuat dari kelompok ilmuwan yang menolak doktrin “bebas nilainya” sains; krisis sains dan teknologi; dan ketertinggalan umat Islam dalam bidang iptek. Dari faktor-faktor tersebut, maka secara umum dapat dikelompokkan model-model integrasi keilmuan sains-agama sebagai berikut:
1. Model IFIAS
Model integrasi keilmuan IFIAS (International Federation of Institutes of Advance Study) pertama kali muncul dalam sebuah seminar yang diselenggarakan di Stickholm pada September 1984 mengenai “Knowledge and Values”. Model ini dirumuskan dalam Gambar 2.1.
Berdasarkan Gambar 2.1 dapat dijelaskan Bahwa iman kepada Tuhan membuat ilmuwan muslim lebih sadar akan segala aktivitasnya. Mereka menempatkan akal di bawah otoritas Tuhan dan menjadi bertanggungjawab atas segala perilakunya. Dalam Islam tidak ada pemisahan antara sarana dan tujuan sains, sehingga keduanya tunduk pada tolak ukur etika dan nilai keimanan. Dengan begitu, seorang ilmuwan muslim harus mempertanggungjawabkan seluruh aktivitasnya kepada Tuhan, dan ia harus menjalankan fungsi sosial, serta meningkatkan institusi etika dan moralnya.
2. Model Akademi Sains Islam Malaysia (ASASI)
Model integrasi keilmuan ASASI (Akademi Sains Islam Malaysia) pertama kali muncul pada Mei 1977. Para ilmuwan muslim di Malaysia bergabung dan membentuk integrasi keilmuan yang berdasarkan pada ajaran kitab suci al-Qur‟an. Melalui model ASASI ini menjelaskan bahwa ilmu tidak akan terpisah dari prinsip Islam, dan ingin mendukung penggabungan nilai-nilai dan ajaran Islam dalam kegiatan ilmiah; menggalakan kajian keilmuan di kalangan masyarakat; menjadikan
al-Nilai-Nilai Positif Nilai-Nilai Negatif
13
Qur‟an sebagai sumber inspirasi dan petunjuk serta rujukan dalam kegiatan keilmuan. Dengan adanya model ini, berharap bisa menyatukan ilmuwan-ilmuwan muslim untuk memajukan masyarakat Islam dalam bidang sains dan teknologi.
3. Model Islamic Worldview
Model ini terbentuk dimulai dari pandangan dunia Islam (Islamic Worldview) yang merupakan dasar epistemology keilmuan Islam secara menyeluruh dan integral. Model ini dikembangkan dan digagas oleh dua pemikir muslim, salah satunya yaitu Alparslan Acikgenc yang merupakan Guru Besar Filsafat pada Fatih University, Istanbul Turki. Alparslan mengembangkan empat pandangan dunia Islam sebagai kerangka komprehensif keilmuan Islam, yaitu: iman sebagai dasar struktur dunia, ilmu sebagai struktur pengetahuan, fiqih sebagai struktur nilai, dan kekhalifahan sebagai stuktur manusia.
Pandangan dunia Islam menurut Alparslan Acikgenc didasarkan pada epistemolog keilmuan pada umumnya, yakni kerangka yang paling umum, kerangka pemikiran medukung seluruh aktivitas epistemolgi yang disebut dengan struktur pengetahuan, rencana konseptual keilmuan secara umum maupun secara spesifik.
4. Model Struktur Pengetahuan Islam
Model Struktur Pengetahuan Islam (SPI) dikembangkan oleh Osman Bakar, Professor of Philosophy of Science pada University of Malaya. Osman Bakar mengembangkan model ini berdasarkan pada kenyataan bahwa ilmu telah diorganisasikan secara sistematik dalam berbagai disiplin akademik. Menurut Osman, model SPI merupakan upaya mengembangkan hubungan antara ilmu dan agama.
Osman Bakar mengembangkan empat komponen yang disebut sebagai struktur pengetahuan teoritis. Komponen pertama ialah subjek dan objek ilmu yang membentuk tubuh pengetahuan dalam bentuk konsep
(concepts), fakta (facts), teori (theories), dan hukum atau kaidah ilmu (laws). Komponen kedua terdiri dari asumsi-asumsi dasar yang menjadi dasar epistemologi keilmuan. Komponen ketiga berkenaan dengan metode-metode pengembangan ilmu. Komponen terakhir berkenaan dengan tujuan yang ingin dicapai. Menurut Osman, dalam membangun kerangka pengetahuan keislaman, keempat komponen tersebut perlu dihubungkan dengan tradisi keilmuan Islam, seperti teologi, metafisika, kosmologi, dan psikologi.
5. Model Bucaillisme
Model ini menggunakan nama seorang ahli medis Perancis bernama Maurice Bucaille, yang pernah menggegerkan dunia Islam dengan tulisan bukunya yang berjudul “La Bible, le Coran et la Science”, yang juga telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Model ini ditujukan untuk mencari kesesuaian penemuan ilmiah dengan ayat al-Qur‟an.
Model ini mendapat banyak kritikan, hal ini dikarenakan penemuan ilmiah yang bersifat sementara dan dapat berubah di masa depan, sehingga al-Qur‟an dianggap juga masih bisa berubah. Model ini disebut “Model Remeh” di kalangan ilmuwan muslim Malaysia, karena tidak mengindahkan sifat ketidakkekalan penemuan teori sains Barat disbanding dengan sifat mutlak dan abadi al-Quran.
6. Model Integrasi Keilmuan Berbasis Filsafat Klasik
Model integrasi keilmuan berbasis filsafat klasik ini digagas oleh Seyyed Hossein Nasr. Menurut Seyyed, pemikir muslim klasik berusaha memasukkan prinsip Tauhid ke dalam skema teori. Prinsip Tahuhid merupakan Kesatuan Tuhan yang dijadikan sebagai prinsip kesatuan alam tabi‟i. Pendukung model ini juga meyakini bahwa alam tabi‟i merupakan tanda atau ayat bagi adanya wujud dan kebenaran yang mutlak. Sementara itu, hanya Allah lah kebenaran yang sebenar-benarnya, dan alam tabi‟i hanyalah kebenaran di wilayah terbawah. Seyyed Hossein Nasr
15
berpendapat bahwa untuk mencapai tujuan integrasi keilmuan keislaman, ilmuwan Islam modern harus mengimbangi dua pandangan yaitu antara tanzih dan tasybih.
7. Model Integrasi Keilmuan Berbasis Tasawuf
Pemikir muslim yang terkenal sebagai penggagas model ini ialah Syed Muhammad Naquib Al-Attas, kemudian model tersebut diistilahkan dengan konsep Islamisasi Ilmu Pengetahuan (Islamization of Knowledge). Model ini muncul pertama kali pada saat konferensi Al-Attas mengenai “Islamisasi Ilmu Pengetahuan” di Makkah.
8. Model Integrasi Keilmuan Berbasis Fiqh
Model ini digagas oleh Ismail Raji al-Faruqi. Pada tahun 1982, ia menulis sebuah buku berjudul Islamization of Knowledge: General Principles and Work Plan yang diterbitkan oleh International Institute of Islamic Thought, Washington. Al-Faruqi merupakan salah satu pemikir muslim pertama yang mencetuskan perlu adanya gagasan Islamisasi Ilmu Pengetahuan, sehingga tidaklah mudah menjadikan al-Faruqi sebagai tokoh penggagas model integrasi keilmuan berbasis fiqh ini. Selain itu, pemikiran al-Faruqi juga tidak berakar pada tradisi sains Islam yang dikembangkan oleh tokoh-tokoh muslim lainnya, seperti al-Biruni, Ibnu Sina, al-Farabi, dan lain-lain. Melainkan berpedoman pemikiran ulama fiqh untuk menjadikan al-Quran dan as-Sunnah sebagai puncak kebenaran. Kaidah fiqh adalah kaidah penentuan hukum dalam ibadah yang dikemukakan oleh para ahli fiqh Islam melalui keseluruhan deduksi al-Qur‟an dan korpus al-Hadist. Model ini tidak menggunakan warisan sains Islam terdahulu yang dipelopori oleh al-Biruni, Ibnu Sina, dan al-Farabi, karena menurut al-Faruqi sains Islam yang seperti itu tidak Islami dan tidak bersumber dari teks al-Qur‟an dan Hadist. Kelemahan model ini adalah dikarenakan menggunakan kaidah fiqh yang hanya menentukan status sains berdasarkan hukum saja dan oleh karenanya hanya mampu
melakukan Islamisasi pada level aksiologis saja. Akan tetapi, pengembangan model al-Faruqi mengenai Islamisasi Ilmu Pengetahuan ini mendapat respon yang baik dari beberapa pemikir Islam.
9. Model Kelompok Ijmali (Ijmali Group)
Model Ijmali digagas oleh Ziauddin Sardar yang merupakan pemimpin sebuah kelompok dengan nama Kumpulan Ijmali (Ijmali Group). Menurut Sardar tujuan sains Islam bukan hanya untuk mencari kebenaran akan tetapi untuk melakukan penyelidikan sains berdasarkan etos Islam yang berpedoman dengan al-Qur‟an. Sardar meyakini sains merupakan syarat nilai dan sudah umum dijalankan dalam pemikiran dan paradigma tertentu. Sardar menggunakan konsep „adl dan zulm sebagai kriteria dalam menentukan bidang sains yang perlu dikaji. Sardar juga menggunakan beberapa istilah dari al-Qur‟an seperti tauhid, ibadah, khilafah, halal, haram, taqwa, „ilm, dan istislah. Tidak jauh berbeda dengan al-Faruqi, Sardar mengemukakan konsep-konsep yang tidak merujuk pada tradisi sains Islam klasik. Menurut Sardar sains adalah is a basic problem-solving tool of any civilization (perangkat pemecahan masalah utama setiap peradaban).
10. Model Kelompok Aligargh (Aligargh Group)
Model ini digagas oleh Zaki Kirmani yang merupakan seorang pemimpin Kelompok Aligargh University, India. Model ini menjelaskan bahwa sains Islam berkembang dengan „ilm dan tasykir untuk menghasilkan gabungan antara ilmu dan etika. Zaki mengembangkan model ini berdasarkan wahyu dan taqwa, dan juga mengembangkan struktur sains Islam dengan konsep paradigma Thomas Kuhn. Selain itu, Zaki menggagas makroparadigma mutlak, mikroparadigma mutlak, dan paradigma bayangan.
17
Selain model integrasi ilmu yang dijelaskan oleh Husni Thoyyar, Terdapat konsep integrasi Islam-sains yang ditentukan berdasarkan jumlah konsep dasar yang menjadi komponen utama model tersebut, diantaranya sebagai berikut (Hamzah, 2015):
1. Model Monadik
Model ini dijelaskan oleh fundamentalis religius dan fundamentalis sekuler. Menurut fundamentalis religius, sains hanyalah suatu bagian dari kebudayaan agama adalah satu-satunya kebenaran. Sebaliknya, menurut pandangan fundamentalis sekuler menyatakan bahwa agama yang merupakan suatu bagian dari kebudayaan dan sains adalah satu-satunya kebenaran. Dengan demikian, model ini memberikan penegasan bahwa sains dan agama memiliki eksistensi masing-masing dan keduanya tidak dapat disatupadukan.
2. Model Diadik
Model ini menjelaskan bahwa sains dan agama merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Model diadik disebut juga dengan model diadik komplementer.
Gambar 2.2 Model Monadik
3. Model Diadik Dialogis
Model ini digambarkan dengan dua buah diagram lingkaran sama besar dengan saling berpotongan. Dua diagram tersebut menggambarkan agama dan sains yang memiliki kesamaan dan berhubungan.
4. Model Triadik
Model ini menjelaskan bahwa terdapat unsur ketiga yang menjadi penghubung di antara sains dan agama. Unsur penghubung tersebut adalah filsafat. Dengan demikian, model triadik ini merupakan model perkembangan dari model diadik komplementer, dikarenakan terdapat filsafat diantara sains dan agama.
Sedangkan menurut Anshori dan Zaenal Abidin (2016) terdapat tiga model paradigma atau konsep dasar keilmuan ketika seseorang membangun sains Islam, antara lain:
1. Islamisasi Ilmu Pengetahuan
Paradigma islamisasi ilmu pengetahuan dikemukakan oleh Seyyed Seyyed Hossein Nasr, Naquib al-Attas dan Ismail Raji Al-Faruqi. Menurut al-Attas, islamisasi ilmu pengetahuan adalah Pembebasan manusia dari tradisi magis, mitologis, animistis, kultur nasional yang bertentangan dengan Islam dan dari belenggu paham sekuler. Atau dapat disimpulkan bahwa usaha islamisasi ilmu harus dimulai melalui kajian mendalam
Gambar 2.4 Model Diadik Dialogis
19
terhadap asas-asas metafisika dan epistemologi Islam yang telah dirumuskan dengan elegan oleh pemikir Islam klasik (Anshori & Abidin, 2016). Menurut Al-Faruqi, Islamisasi adalah usaha untuk mendefinisikan kembali, menyusun ulang data, memikirkan kembali argumen dan rasionalisasi yang berkaitan dengan data itu, menilai kembali kesimpulan dan tafsiran, memproyeksikan kembali tujuan-tujuan dan melakukan semua itu sedemikian rupa sehingga disiplin-disiplin ini memperkaya wawasan Islam dan bermanfaat bagi cita-cita (Sholeh, 2017).
Dari pengertian Islamisasi pengetahuan diatas dapat disimpulkan bahwa Islamisasi dilakukan dalam upaya membangun kembali semangat umat Islam dalam mengembangkan ilmu pengetahuan melalui kebebasan penalaran intelektual dan kajian-kajian rasional, empirik dan filosofis dengan tetap merujuk kepada kandungan al-Quran dan Sunnah Nabi. Sehingga umat Islam akan bangkit dan maju menyusul ketinggalan dari umat lain, khususnya Barat. Islamisasi ilmu pengetahuan ini bisa dilaksanakan dengan dua cara. Yakni yang pertama, dengan cara mengislamkan ilmu-ilmu pengetahuan yang ada maupun yang sedang berkembang. Yang kedua, dengan cara mengilmukan Islam. Berdasarkan dua gagasan tentang Islamisasi pengetahuan di atas, setidaknya ada tiga model Islamisasi pengetahuan yang dapat dikembangkan dalam pembaharuan madrasah yaitu (Mukhibat, 2013):
a. Model Purifikasi
Purifikasi berarti pembersihan atau penyucian. Dengan kata lain, proses Islamisasi berupaya memberikan pendidikan yang sesuai dengan nilai-nilai dan norma Islam secara kaffah, lawan dari Islam yang parsial. Kemudian berkomitmen untuk menjunjung tinggi dalam menjaga dan memelihara ajaran dan nilai-nilai Islam dalam segala aspek kehidupan.
Adapun empat langkah kerja model Islamisasi yang dikembangkan oleh Al-Faruqi dan Al-Attas, meliputi penguasaan khazanah ilmu pengetahuan muslim, penguasaan khazanah ilmu
pengetahuan masa kini, indentifikasi kekurangan-kekurangan ilmu pengetahuan itu dalam kaitannya dengan ideal Islam, dan rekonstruksi ilmu-ilmu itu sehingga menjadi suatu paduan yang selaras dengan wawasan dan ideal Islam.
b. Model Modernisasi Islam
Modernisasi berarti proses perubahan menurut fitrah atau sunnatullah. Model ini berangkat dari kepedulian terhadap keterbelakangan umat Islam yang disebabkan oleh sempitnya pola pikir dalam memahami agamanya, sehingga sistem pendidikan Islam dan ilmu pengetahuan agama Islam tertinggal jauh dari bangsa non-muslim. Islamisasi disini cenderung mengembangkan pesan Islam dalam proses perubahan sosial, perkembangan IPTEK, adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa harus meninggalkan sikap kritis terhadap unsur negatif dan proses modernisasi (Mujib, 2010, hlm. 3).
Modernisasi berarti berfikir dan bekerja menurut fitrah atau sunnatullah yang hak. Untuk melangkah modern, umat Islam dituntut memahami hukum alam (perintah Allah swt) sebelumnya yang pada giliran berikutnya akan melahirkan ilmu pengetahuan. Modern berarti bersikap ilmiah, rasional, menyadari keterbatasan yang dimiliki dan kebenaran yang didapat bersifat relatif, progresif dinamis, dan senantiasa memiliki semangat untuk maju dan bangun dari keterpurukan dan ketertinggalan.
c. Model Neo-Modernisme
Model ini mejelaskan suatu ajaran-ajaran dan nilai-nilai mendasar yang terkandung dalam al-Quran dan al-Hadits dengan memlihat kepada khazanah intelektual Muslim klasik serta mencermati kesulitan-kesulitan dan kemudahan-kemudahan yang ditawarkan iptek (Gofur, 2010, hlm. 48).
21
Islamisasi model ini bertolak dari landasan metodologis, diantaranya persoalan-persoalan kontemporer umat harus dicari penjelasannya dari tradisi, dari hasil ijtihad para ulama terdahulu hingga sunnah yang merupakan hasil penafsiran terhadap al-Quran, bila dalam tradisi tidak ditemukan jawaban yang sesuai dengan kehidupan kotemporer, maka selanjutnya menelaah konteks sosio-historis dari ayat-ayat al-Quran yang dijadikan sasaran ijtihad ulama tersebut, melalui telaah historis akan terungkap pesan moral al-Quran sebenarnya yang merupakan etika sosial al-al-Quran, dari etika sosial al-Quran itu selanjutnya diamati relevansi dengan umat sekarang berdasarkan bantuan hasil studi yang cermat dari ilmu pengetahuan atas persoalan yang dihadapi umat tersebut (Baihaki, 2010, hlm. 28).
Dari ketiga model Islamisasi pengetahuan di atas, semuanya bertujuan untuk memutuskan mata rantai dikotomi ilmu pengetahuan guna menghindari keberlanjutan praktik dikotomi ilmu ini dalam dunia pendidikan yang berakibat pada terhambatnya kebebasan melakukan penalaran intelektual dan kajian-kajian rasional empirik. Model paradigma atau konsep dasar keilmuan ketika seseorang membangun sains Islam selanjutnya ialah pengilmuan Islam.
2. Pengilmuan Islam
Secara harfiah, “Pengilmuan Islam” berarti menjadikan Islam sebagai ilmu. Dengan “Pengilmuan Islam”, yang ingin ditujunya adalah aspek universalitas klaim Islam sebagai rahmat bagi alam semesta, bukan hanya bagi pribadi-pribadi atau masyarakat Muslim (Mukhlis, 2013). Pengilmuan Islam lahir dari keprihatinan terhadap ilmu modern Barat yang melenceng dari semangat Renaissans yang pada mulanya bertujuan memanusiakan manusia, malah yang terjadi dehumanisasi dan sekularisasi (Raharjo & Laily, 2018). Pengilmuan Islam juga bermaksud merespons gagasan Islamisasi ilmu, yang dipandang sebagai sebuah tekstualisasi,
yakni menjadikan ilmu-ilmu Barat selaras dengan Islam. Pengilmuan Islam bermaksud menempatkan Islam sebagai sebuah paradigma dalam memotret realitas. Kuntowijoyo membandingkan pengilmuan Islam dengan kodifikasi Islam dan Islamisasi Ilmu. Pengilmuan Islam (yang dalam konteks ini disebutnya sebagai demistifikasi Islam) adalah gerakan dari teks ke konteks; Islamisasi adalah sebaliknya, dari konteks ke teks; sementara kodifikasi berkutat di sekitar eksplorasi teks, nyaris tanpa memperhatikan konteks (Mukhlis, 2013).
Kuntowijoyo menawarkan dua langkah yang harus diambil sebagai upaya mengimplemantasikan pengilmuan Islam, yaitu integralisasi dan objektivikasi. Integralisasi ialah pengintegralisasian kekayaan keilmuan manusia dengan wahyu (petunjuk Allah dalam Al-Qur‟an beserta pelaksanannya dalam Sunnah Nabi). Sedangkan objektivikasi ialah menjadikan pengilmuan Islam sebagai rahmat untuk semua orang (Anshori & Abidin, 2016). Pada integralisasi, Kuntowijoyo menyusun tahapan dari kelahiran ilmu-ilmu integralistik sebagai berikut:
Terdapat empat tahapan dalam menghasilkan ilmu-ilmu yang integralistik. Pertama dimulai dari pandangan agama, yang berlanjut pada lahirnya teo-antroposentrisme yang merupakan perpaduan dari pandangan ketuhanan dan sekaligus kemanusiaan. Hasilnya, maka lahirlah dediferensiasi atau perekatan kembali ilmu-ilmu yang terpisah. Dediferensiasi merupakan lawan dari diferensiasi. Pada akhirnya, lahirlah ilmu-ilmu yang disebut dengan ilmu integralistik atau ilmu yang terpadu (Raharjo & Laily, 2018).
Selanjutnya paradigma keilmuan yang dikembangkan oleh M. Amin Abdullah, Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang disebut dengan paradigma integrasi-interkoneksi.
23
3. Paradigma Integrasi-Interkoneksi
Paradigma keilmuan integrasi-interkoneksi adalah paradigma yang peneliti gunakan dalam penelitian ini. Paradigma ini merupakan paradigma yang digagas oleh M. Amin Abdullah yang mentrialogikan antara nilai-nilai subjektif, objektif, dan intersubjektif. Amin Abdullah menyatakan bahwa integrasi-interkoneksi adalah trialektika antara tradisi teks (hadarat an-nas), tradisi akademik ilmiah (hadarat al-„ilm), dan tradisi etik kritis (hadarat al-falsafah). Epistemologi integrasi-interkoneksi dijelaskan melalui jaring laba-laba yang dapat dilihat pada Gambar 2.6 (Abdullah, 2006).
Berdasarkan Gambar 2.2 layer pertama pada jaring laba-laba tersebut menjelaskan bahwa al-Qur‟an dan al-Hadist merupakan sumber normatif Islam dan akar dari segala ilmu. Selanjutnya melalui berbagai metode dan pendekatan lahirlah layer kedua yang berisikan berupa ilmu-ilmu tradisional Islam, yakni ilmu fiqh, hadist, tafsir, tasawuf, falsafah, tarikh, kalam, dan lughah. Pada layer ketiga yang merupakan ilmu-ilmu teoritik yakni terdiri dari mathematic, physic chemistry biology, hermeneutics,
philology, archeology, anthropology sociology, history, philosophy, psychology, phenomenology, dan ethics. Perkembangan ilmu modern seperti ilmu-ilmu alam dan ilmu sosial-humaniora yang terdapat pada layer ketiga dibutuhkan untuk memperkaya makna dan kontekstual ilmu-ilmu pada layer kedua. Sebaliknya, ilmu-ilmu keislaman pada layer kedua dibutuhkan untuk memperkaya pengembangan ilmu-ilmu yang ada pada layer ketiga. Dengan adanya komunikasi antar layer maupun antar disiplin ilmu dalam satu layer tersebut akan menjadikan ilmu-ilmu baru. Layer terakhir merupakan layer yang berisi pengetahuan aplikatif, yakni isu-isu aktual seperti hukum internasional, pluralism agama, hak asasi manusia, teknologi, ekonomi, politik, budaya, gender, dan juga lingkungan (Abdullah, 2006).
M. Amin Abdullah memperkenalkan beberapa model kajian yang terdapat dalam kajian paradigma integrasi-interkoneksi, antara lain:
a. Model Informatif
Model informatif yaitu jika suatu disiplin ilmu diperkaya informasi yang dimiliki oleh disiplin ilmu lainnya agar siswa memperoleh wawasan yang lebih luas. Ciri khas dari model informatif adalah menuntut siswa dan guru untuk menggali dan memahami informasi tidak hanya dari satu mata pelajaran saja, tetapi juga menggunakan informasi yang dimiliki mata pelajaran lainnya untuj memperkaya informasi.
b. Model Konfimatif/Klarifikasi
Model konfirmatif ialah jika disiplin ilmu tertentu perlu memperoleh penegasan dari disiplin ilmu lainnya agar dapat membangun teori yang kokoh. Materi pelajaran tidak diberikan secara langsung kepada siswa, tetapi guru mengajak siswa untuk menemukan suatu konsep dengan untuh secara mandiri.
c. Model Korektif
Model korektif merupakan model yang didalamnya terdapat suatu teori ilmu tertentu yang mendapatkan pengkoreksian dari ilmu lainnya
25
atapun sebaliknya, sehingga menghasilkan teori yang lebih dinamis. Adanya korektif antar satu disiplin ilmu dengan disiplin ilmu lainnya tentu bertujuan untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan taraf berpikir siswa, dan bisa menjadi refleksi atas suatu disiplin ilmu tersebut.
d. Model Similarisasi
Model similarisasi diartikan sebagai model yang adanya penyamaan konsep antara konsep sains dan konsep keislaman meskipun belum tentu sama. Dalam praktiknya, konsep-konsep yang ada di dalam al-Qur‟an dapat dilihat dari struktur kata dan tafsirannya. Kemudian dari sanalah disamakan dengan konsep-konsep kimia.
e. Model Paralelisasi
Model paralelisasi adalah model yang berisikan konsep sains yang dianggap sejalan dengan konsep yang berasal dari al-Qur‟an karena adanya kemiripan konotasi tanpa menyamakan maknanya.
f. Model Komplementasi
Model komplementasi yaitu jika ilmu sains dan ilmu agama saling melengkapi dan memperkuat satu sama lain, akan tetapi tetap mempertahankan eksistensi masing-masing. Contohnya, siswa memberikan pendapat dengan siswa lainnya agar saling melengkapi. Dengan demikian, saling bertukar informasi untuk melengkapi kekurangan materi sehingga didapatkan konsep yang bulat.
g. Model Komparasi
Model Komparasi adalah model yang didalamnya berisi perbandingan konsep/teori sains dengan konsep/wawasan yang berasal dari agama mengenai gejala/fenomena yang sama. Proses perbandingan ini tidak sampai menimbulkan konflik mengenai benar atau salahnya konsep sains dengan Islam.
h. Model Induktifikasi
Model induktifikasi adalah model yang berisikan asumsi-asumsi dasar teori ilmiah kemudian didukung dengan temuan-temuan empirik,
kemudian dilanjutkan dengan pemikiran secara teoritis abstrak ke arah pemikiran metafisik/ghaib dan dihubungkangdengan prinsip-prinsiphagama dan al-Qur‟an mengenai hal tersebut.
i. Model Verifikasi
Model verifikasi adalah model yang mengungkapkan hasil-hasil penelitian ilmiah yang menunjang dan membuktikan kebenaran ayat-ayat al-Qur‟an.
Model integrasi keilmuan yang dikembangkan di beberapa Universitas Islam lainnya yaitu sebagai berikut:
1. Integrasi Keilmuan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Integrasi sains dan Islam juga diterapkan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sejak UIN Syarif Hidayatullah Jakarta diresmikan menjadi UIN pada tahun 2002. Implementasi integrasi ilmu agama dan sains, UIN Jakarta mendesain konsep integrasi ilmu agama dengan sains. Dengan konsep demikian, diharapkan dapat terjadi integrasi antara ilmu agama dengan ilmu-ilmu umum (humaniora, sosial, alam, formal, dan terapan) (Pedoman Integrasi Ilmu UIN Syarif Hidayatullah, 2018). Integrasi sains dan Islam tercantum dalam visi dan misi Universitas. Visi yang berisikan “sebuah Lembaga yang terkemuka dalam mengembangkan dan mengintegrasikan aspek keislaman, keilmuan, kemanusiaan, dan keindonesiaan”. Selain Visi, Misi juga dibutuhkan untuk mengintegrasikan sains dan Islam, yaitu:
1. Menghilangkan dikotomi antara ilmu-ilmu umum dan ilmu agama dengan melakukan reintegrasi keilmuan pada tingkat epistemologi, ontologi, dan juga aksiologi.
2. Menanamkan moral dan melakukan pembinaan iman dan takwa pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi agar dapat jalan beriringan.
3. Menginterpretasikan nilai-nilai Islam secara ilmiah akademis ke dalam konteks kehidupan sosial, agar tidak terjadi pemisahan antara nilai perspektif agama, dan juga pandangan masyarakat.
27
4. Integrasi ilmu yang terdapat dalam visi dan misi tersebut dibuat secara operasional dalam kebijakan kurikulum, dimulai dari susunan silabus, rumusan pokok bahasan, hingga ke cara penyajian materi kuliah (Batubara, 2016).
Pengimplementasian integrasi di UIN Jakarta dilakukan dengan mengembangkan kurikulum terintegrasi, yaitu dengan cara materi kuliah keagamaan harus mencakup: konten sejarah, konten teoritis, konten praktis, konten kasus, dan juga konten sains dan teknologi. Sedangkan untuk materi kuliah umum harus ditambahkan dengan konten keislaman.
Konten sejarah merupakan konten yang menjelaskan sejarah lahir perkembangan ilmu pengetahuan sampai saat ini. Konten teoritis merupakan serangkaian teori yang dikemukakan oleh para ahli. Konten praktis merupakan konten yang menjelaskan manfaat setiap ilmu untuk kehidupan. Konten kasus adalah konten yang memberikan contoh kasus realita di kehidupan yang relevan dengan materi kuliah. Konten sains dan teknologi merupakan konten yang akan dipadukan dengan konten keislaman untuk menjelaskan makna ayat al-Qur‟an dan Hadist dalam segi sains dan teknologi dengan tujuan untuk memajukan pengambangan ilmu. Sedangkan konten keislaman merupakan prinsip dasar tauhid yang menjelaskan bahwa segala ilmu bersumber dari Allah SWT, sehingga ilmu agama dengan ilmu umum sebenarnya integral (Karni, 2009).
Selain itu, untuk mengimplementasikan gagasan integrasi, UIN Jakarta mewajibkan bagi seluruh mahasiswa belajar sejumlah mata kuliah tertentu, seperti Studi Islam, Bahasa Arab, Praktikum Qiraat dan Ibadah, Islam dan Ilmu Pengetahuan, Islam dan Teknologi Informasi, dan lain-lainnya, sebagai komitmen pada Islamic values (Saifudin, 2020).
2. Integrasi Keilmuan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Integrasi keilmuan UIN Malang dikenal dengan konsep "pohon ilmu" yang dipelopori oleh Imam Suprayogo. Menurut Imam Suprayogo, model integrasi keilmuan ini berangkat dari sebuah konsepsi bahwa adanya
dikotomi ilmu selama ini merupakan pengaruh dari pola pikir yang menempatkan ilmu agama Islam yang bersumber dari al-Quran disejajarkan dengan rumpun keilmuan lainnya, semestinya al-Quran dan hadith diposisikan sebagai sumber ilmu pengetahuan. Al-Quran dan Hadis dalam pengembangan ilmu harus diposisikan sebagai sumber ayat-ayat qauliyyah, sedangkan hasil observasi, eksperimen dan penalaran logis diposisikan sebagai sumber ayat-ayat kauniyyah. Metafora “pohon ilmu” ini adalah sebuah pohon yang kokoh, bercabang rindang, berdaun subur, dan berbuah dan berbuah lebat karena ditopang oleh akar yang kuat yang dapat dilihat pada Gambar 2.7 (Hanifah, 2018).
Berdasarkan Gambar 2.7 akar dari pohon tersebut terdapat keilmuan yang diantaranya yaitu Pancasila, Bahasa Arab, dan Inggris, ilmu logika, filsafat ilmu, ilmu dasar kealaman dan ilmu dasar sosial. Dengan makna agar pohon tidak mudah roboh, maka akarnya harus kuat dan kokoh. Artinya, semakin bagus dasar keilmuan tersebut dimiliki oleh seorang, maka akan memiliki peluang untuk mampu mengembangkan dan
29
memahami batang pohon. Sedangkan pada Batang pohon digambarkan dengan seperangkat keilmuan yang bersumber langsung dari ilmu-ilmu Islam (dirasah al-Islamiyah), yaitu al-Quran dan Hadits, pemikiran Islam, sejarah Nabi Muhammad, dan sejarah peradaban Islam. Dengan akar yang kokoh, maka ia akan menumbuhbesarkan batang pohon yang kokoh pula. Jika batang bagus dan kokoh, maka akan memunculkan cabang dan ranting serta dedaunan yang indah dan segar Pada cabang dan ranting serta dedaunan dalam gambar di atas adalah ilmu-ilmu modern; seperti ilmu kedokteran, filsafat, psikologi, ekonomi, sosiologi, teknik serta cabang-cabang ilmu lainnya. Disinilah setiap mahasiswa diwajibkan untuk memilih dan memiliki kemampuan salah satu dari cabang keilmuan ini (Arbi, Hanafi, Hitami, & Helmiati, 2018). Dari model integrasi keilmuan yang dikembangkan, dapat diambil kesimpulan bahwa integrasi di UIN Malang memiliki corak metode, yaitu;
a. Bersumber ayat al-qur'an dan hadis (model deduktif), dengan sumber al-Quran dan hadis sebagai pedoman sumber ilmu pengetahuan. b. Model Verifikasi dengan memakai pola fikir induktif dengan
memverifikasikan berupa exsperimen, observasi, penalaran logis (Hanifah, 2018).
Selain beberapa model di atas, terdapat juga model integrasi yang dapat mengembangkan materi ajar kimia yang diintegrasikan dengan materi keislaman yakni:
Model Integrasi Sains dan Islam Tipe Buchori
Menurut Muslim (2017) model ini terdiri dari 5 tahap yang dapat digunakan untuk mengintegrasikan sains dengan Islam, dapat dilihat pada Gambar 2.8.
1. Menentukan Materi
Dalam menentukan materi ajar yang akan diintegrasikan, maka materi tersebut harus bersumber dari referensi utama. Setelah itu, tentukan kompetensi dan indikator yang ingin dicapai dengan mengacu pada standar isi dan kurikulum yang berlaku.
2. Analisis Konsep
Analisis konsep dilakukan dengan mengidentifikasi dasar-dasar pokok yang akan disajikan dengan mengacu pada kompetensi dan indikator yang telah ditetapkan. Selain itu, analisis konsep juga dapat dilakukan dengan mengidentifikasi karakteristik yang dimiliki suatu konsep, yang meliputi: label konsep, definisi konsep, jenis konsep, atribut konsep (kritisi, variabel), posisis/hierarki konsep (superordinat, koordinat, subordinat), contoh dan non contoh.
3. Struktur Makro/Peta Konsep
31
Hasil identifikasi dari analisis konsep dapat membentuk struktur makro atau peta konsep yang kemudian akan diintegrasikan dengan keislaman. 4. Integrasi Sains dan Islam
Integrasi Sains dan Islam merupakan gabungan konsep-konsep sains (kimia, fisika, biologi) dengan konsep Islam (ayat Qauliyah, ayat Kauniyah, nilai-nilai keislaman atau karakter) yang kemudian dilakukan validasi ahli untuk mendapat CVR (Content Validity Ratio). 5. Kontruk Materi Terintegrasi
Setelah integrasi/gabungan konsep-konsep sains dan Islam dinyatakan valid oleh ahli, maka dibuatlah kontruk materi terintegrasi Islam. Produk bahan ajar ini merupakan hasil akhir dari proses integrasi Islam pada materi sains (kimia, fisika, biologi) (Muslim, 2017).
Dari beberapa model integrasi yang telah dijelaskan di atas, model integrasi Islam dan sains yang akan digunakan dalam penelitian ini yakni berdasarkan paradigma integrasi-interkoneksi oleh M. Amin Abdullah. Alasan menggunakan paradigma integrasi-interkoneksi dikarenakan paradigma ini sudah banyak digunakan dalam penelitian-penelitian mengenai integrasi dan sudah banyak yang mengimplementasikan pada pembelajaran kimia di sekolah, seperti pada penelitian yang dilakukan oleh Abdi Yanuar mengenai “Penerapan Integrasi Islam dalam Pembelajaran Kimia di MAN Tegalrejo Magelang” dan juga penelitian yang dilakukan oleh M.Ihsanuddin Ali yang berjudul “Integrasi-Interkoneksi Sains dan Agama dalam Pembelajaran al-Quran Hadis pada Peserta Didik Kelas VII di MTsN 1 Yogyakarta”.
D. Kompetisi Sains Madrasah
Kompetisi Sains Madrasah (KSM) merupakan ajang kompetisi di bidang sains yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Kompetisi Sains Madrasah dimulai sejak tahun 2012 yang berawal hanya diperuntukkan bagi siswa madrasah (MI, MTs, MA) saja, namun pada tahun
2016 KSM dapat diikuti oleh siswa yang berasal dari sekolah umum (SD, SMP, SMA) yang berada dibawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Lahirnya KSM terintegrasi didorong oleh adanya dikotomi pengelompokkan ilmu menjadi ilmu agama dengan ilmu umum. Akibat dikotomi tersebut, maka ditingkat sekolah madrasah perlu adanya konsep integrasi antara kedua bidang ilmu. Integrasi inilah yang menjadi dasar dalam menjaring siswa-siswi berprestasi tingkat madrasah (www.ksm.kemenag.id).
Kajian tentang integrasi Islam di Indonesia mengemuka berbarengan dengan beralihnya status beberapa IAIN menuju UIN. Integrasi keIslaman sebagai keniscayaan sebagai pembeda kampus umum dan kampus keagamaan terutama Islam. Integrasi sains dan Islam tidak cukup sekedar diwacanakan, maka integrasi yang ditawarkan dalam penyusunan soal KSM yang terintegrasi dengan ilmu keislaman.
Menteri Agama (2018) membedakan tiga konsep integrasi dalam penyusunan naskah soal. Konsep integrasi pertama, soal sains yang terintegrasi dengan keIslaman dengan menggali konsep-konsep sains yang nantinya akan dituangkan dalam soal yang ada dalam Al Qur‟an. Konsep integrasi kedua, soal sains dengan menggali konsep serta terapan yang ada dalam Islam semisal zakat, falak, dan tema lainnya yang dihubungkan dengan sains ini dimaksudkan agar siswa tetap mengkaji konsep keIslaman dengan sains yang holistik. Konsep integrasi ketiga, soal keilmuan sains murni, ini dilakukan sebagai upaya tetap mensejajarkan siswa-siswa madrasah dengan siswa-siswa olimpiade sains di luar sana.
Secara umum Kompetisi Sains Madrasah (KSM) Tahun 2018 bertujuan untuk peningkatkan mutu pendidikan sains di madrasah secara komprehensif melalui penumbuhkembangan budaya belajar, kreativitas, dan motivasi meraih prestasi terbaik dengan kompetisi yang sehat dan menjunjung tinggi sportivitas dan nilai-nilai Islam dalam mempelajari dan memahami sains. Secara khusus tujuan KSM tahun 2018 adalah sebagai berikut: