BAB I PENDAHULUAN. dalam Pasal 1 angka 1 Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 1 Tahun 2006

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) merupakan pejabat umum yang telah diberikan kewenangan oleh peraturan perundang-undangan untuk membuat akta otentik. Sebagaimana dalam Pasal 1 angka 1 Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 1 Tahun 2006 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998 tentang Peraturan Jabatan Pejabat Pembuat Akta Tanah (selanjutnya disebut Perkaban Nomor 1 Tahun 2006), menyebutkan, “PPAT adalah pejabat umum yang diberi kewenangan untuk membuat akta-akta

otentik mengenai perbuatan hukum tertentu mengenai hak atas tanah atau Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun”.1

PPAT merupakan pejabat umum yang telah ditunjuk oleh undang-undang berwenang menuangkan kehendak para pihak dalam bentuk akta otentik. Akta otentik yang dimaksud telah ditentukan baik syarat-syarat dan bentuknya oleh undang-undang, sehingga akta otentik yang telah dibuat oleh PPAT dapat menjadi suatu kepastian hukum dan alat bukti bagi para pihak yang telah sepakat menuangkan kehendaknya dalam bentuk akta otentik.

Akta otentik merupakan alat bukti terkuat dan terpenuh, mempunyai peranan penting dalam setiap hubungan hukum dalam kehidupan masyarakat. Dalam berbagai hubungan bisnis, kegiatan di bidang perbankan, pertanahan, kegiatan sosial dan lain-lain, kebutuhan akan

1Lihat di dalam Pasal 1 angka 1 Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 1 Tahun 2006 tentang

Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998 tentang Peraturan Jabatan Pejabat Pembuat Akta Tanah.

(2)

pembuktian tertulis berupa akta otentik makin meningkat sejalan dengan berkembangannya tuntutan akan kepastian hukum dalam berbagai hubungan ekonomi dan sosial.

Akta otentik yang dibuat oleh PPAT memiliki kekuatan hukum yang sangat kuat mengingat akta otentik merupakan alat bukti yang sempurna, maka tidak jarang berbagai peraturan perundangan mewajibkan peraturan hukum tertentu dibuat dalam bentuk akta otentik, seperti dalam Pasal 95 ayat (1) Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 tahun 1997 jo. Pasal 2 Perkaban Nomor 1 Tahun 2006, menyebutkan:2

(1) PPAT bertugas pokok melaksanakan sebagian kegiatan pendaftaran tanah dengan membuat akta sebagai bukti telah dilakukannya perbuatan hukum tertentu mengenai hak atas tanah atau Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun yang akan dijadikan dasar bagi pendaftaran perubahan data pendaftaran tanah yang diakibatkan oleh perbuatan hukum itu.

(2) Perbuatan hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah sebagai berikut : a. jual beli;

b. tukar menukar; c. hibah;

d. pemasukan ke dalam perusahaan (inbreng); e. pembagian hak bersama;

f. pemberian Hak Guna Bangunan/ Hak Pakai atas tanah Hak Milik; g. pemberian Hak Tanggungan;

h. pemberian kuasa membebankan Hak Tanggungan.

Berdasarkan Pasal 2 Perkaban Nomor 1 Tahun 2006 yang merupakan pelaksanaan dari Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998 dan tindak lanjut dari ketentuan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah dijelaskan tugas pokok dan kewenangan PPAT yakni melaksanakan sebagian dan kegiatan pendaftaran tanah dengan membuat akta sebagai bukti telah dilakukannya perbuatan hukum tertentu mengenai hak atas tanah atau hak milik atas satuan rumah susun yang akan dijadikan dasar bagi pendaftaran dan perubahan data pendaftaran tanah tersebut.

2Lihat di dalam Pasal 2 ayat (1) dan (2) Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 1 Tahun 2006

tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998 tentang Peraturan Jabatan Pejabat Pembuat Akta Tanah.

(3)

PPAT dalam melakukan suatu tindakan hukum harus senantiasa bertindak secara hati-hati agar PPAT sebelum membuat akta, harus meneliti semua fakta yang relevan dalam pertimbangannya berdasarkan kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku. Meneliti semua kelengkapan dan keabsahan alat bukti atau dokumen yang diperlihatkan kepada PPAT, serta mendengar keterangan atau pernyataan para penghadap wajib dilakukan sebagai dasar pertimbangan untuk dituangkan di dalam akta. Apabila PPAT kurang teliti dalam memeriksa fakta-fakta penting, itu berarti PPAT bertindak tidak hati-hati.

Prinsip kehatian-hatian PPAT hanya dijelaskan dalam Pasal 22 Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998 bahwa Akta PPAT harus dibacakan/dijelaskan isinya kepada para pihak dengan dihadiri oleh sekurang-kurangnya 2 (dua) orang saksi sebelum ditandatangani seketika itu juga oleh para pihak, saksi-saksi dan PPAT. Sementara dalam perjalanannya PPAT tidak hanya memastikan bahwa para pihak menghadap kepada PPAT sebagai Pejabat yang membuat, membacakan, dan menjelaskan akta akan tetapi sesuai prinsip kehati-hatian PPAT dapat menghindari dan mencegah terjadinya kesalahan yang menyebabkan munculnya permasalahan dalam pembuatan akta otentik.

Apabila seorang PPAT tidak membacakan dan menjelaskan isi akta yang mana para pihak tidak hadir di hadapan PPAT, sehingga PPAT tidak hati-hati dalam menjalankan jabatannya. Selain itu dalam Pasal 23 ayat (1) dijelaskan mengenai prinsip kehati-hatian yakni, “PPAT dilarang membuat akta, apabila PPAT sendiri, suami atau istrinya, keluarganya

sedarah atau semenda, dalam garis lurus tanpa pembatasan derajat dan dalam garis ke samping sampai derajat ketiga, menjadi pihak dalam perbuatan hukum yang bersangkutan, baik dengan cara bertindak sendiri maupun melalui kuasa, atau menjadi kuasa dari pihak lain.”

(4)

PPAT berkewajiban untuk membacakan dan menjelaskan isi akta adalah untuk memastikan bahwa para penghadap telah sepenuhnya memahami apa yang tertuang di dalam akta. Menurut R. Soegondo Notodisoerjo, pembacaan ini harus dilakukan dengan jelas sehingga dapat ditangkap oleh para penghadap dan saksi-saksi.3 Tujuan pembacaan akta tersebut dikatakan oleh J.C.H. Melis sebagaimana dikutip oleh Tan Thong Kie adalah untuk: 1) jaminan kepada para penghadap bahwa apa yang mereka tanda tangani adalah sama dengan apa yang mereka dengar dari pembacaan itu; dan 2) kepastian bagi para penghadap bahwa apa yang ditulis dalam akta adalah benar kehendak dari penghadap.

Tan Thong Kie selanjutnya juga menyimpulkan 3 manfaat pembacaan akta, yaitu: 1) Pada saat detik-detik terakhir dalam proses meresmikan (verlijden) akta, pejabat yang berwenang membuat akta masih diberi kesempatan memperbaiki kesalahan-kesalahan dalam penulisan yang sebelumnya tidak terlihat; 2) Para penghadap diberikan kesempatan untuk bertanya apa yang kurang jelas bagi mereka sebelum akta tersebut ditandatangani; 3) Untuk memberi kesempatan pada pejabat yang berwenang membuat akta dan para penghadap dalam detik-detik terakhir mengadakan pemikiran ulang, bertanya dan jika perlu mengubah bunyi akta.4

PPAT dalam menjalankan tugas harus profesional, yaitu menjalankan tugas selalu mengutamakan keahlian berlandasan kode etik dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, kinerjanya dapat dipercaya dan amanah, bekerja sesuai aturan hukum yang berlaku dari memulai pekerjaan, menjalankan dan menghasilkan hasil yang akurat. Selain

3R. Soegondo Notodisoerjo, Hukum Notariat Di Indonesia; Suatu Penjelasan (Jakarta: Rajawali Pers,

1982), hlm. 164.

4Tan Thong Kie, Studi Notariat Dan Serba Serbi Praktek Notaris (Jakarta: Ichtisar Baru Van Hoeve, 2007),

(5)

profesional, PPAT juga harus mampu memberikan penyuluhan hukum yang tepat dan baik untuk para penghadap.

Aspek-aspek wewenang PPAT tidak bisa dipakai melebihi apa yang sudah ditentukan dalam peraturan yang berlaku. Artinya tidak mencampuradukkan kewenangan ini menghendaki agar PPAT tidak menggunakan wewenangnya untuk tujuan lain, selain yang telah ditentukan dalam peraturan yang berlaku atau menggunakan wewenang yang melampaui batas.

Akta PPAT harus memberikan kepastian bahwa sesuatu kejadian dan fakta tersebut dalam akta betul-betul dilakukan oleh PPAT atau diterangkan oleh pihak-pihak yang menghadap pada saat yang tercantum dalam akta sesuai dengan prosedur yang sudah ditentukan dalam pembuatan akta. Secara formal untuk membuktikan kebenaran dan kepastian tentang hari, tanggal, bulan, tahun, pukul (waktu) menghadap, dan para pihak yang menghadap, paraf dan tanda tangan para pihak/penghadap, dan saksi-saksi, serta membuktikan apa yang dilihat, disaksikan, didengar oleh PPAT (pada akta pejabat/berita acara), dan mencatatkan keterangan atau pernyataan para pihak/penghadap (pada akta pihak).

Menjalankan tugas dan jabatan PPAT selain harus tunduk dan patuh kepada Peraturan Perundang-undangan, Perkaban, dan kode etik tentunya harus memperhatikan asas, salah satunya adalah asas kehati-hatian. Dalam hal mengenal para penghadap yang hadir ke kantor, PPAT harus benar-benar dapat mengenal para penghadap, supaya tidak terjadi kesalahan dalam mengenal dan menjalankan tugasnya dalam hal membuat akta. Pembacaan akta penting artinya agar para pihak yang menandatangani dan menyaksikan lahirnya akta tersebut benar-benar sepenuhnya sadar akan hal-hal yang diperjanjikan dan dinyatakan dan juga akibat-akibat hukumnya.5

(6)

Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2017 tentang Penerapan Prinsip Mengenali Pengguna Jasa Bagi Notaris, Pasal 2 ayat (1) dalam Peraturan ini mewajibkan Notaris untuk lebih hati-hati dalam mengenal penghadap6 dan wajib menyampaikan laporan transaksi mencurigakan kepada Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) seperti tercantum di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2015 tentang Pihak Pelapor dalam pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang. Peraturan ini pun berlaku untuk seorang yang menjabat sebagai PPAT, menjadi permasalahan ketika PPAT harus memeriksa dan melaporkan transaksi mencurigakan, bagaimana cara PPAT untuk mengetahui transaksi yang akan dilakukan penghadap merupakan hasil dari pencucian uang.

Dokumen palsu dan keterangan palsu dari para penghadap menjadi permasalahan bagi PPAT. Meskipun PPAT tidak bertanggungjawab atas dokumen palsu dan keterangan palsu yang dibuat oleh para penghadap, akan tetapi ini dapat merugikan PPAT. Ketika terjadi sengketa PPAT akan dipanggil dan dimintai keterangan sebagai saksi. Tidak sedikit waktu dan kerugian secara materi yang akan dihabiskan.

PPAT dalam pembuatan akta otentik harus memegang teguh prinsip kehati-hatian, memastikan kebenaran waktu, lokasi, identitas para pihak, dan isinya, sehingga sama seperti fakta yang ada di lapangan. Tidak terpenuhinnya syarat formil tersebut dapat membuat APHT yang notabene merupakan akta otentik turun derajatnya menjadi akta di bawah tangan. Akta-akta yang demikian ini tidak lagi bersifat otentik, dengan demikian maka Akta-akta-Akta-akta tersebut tidak bernilai sebagai Akta Pejabat (PPAT) yang berfungsi sebagai alat untuk peralihan atau

6Lihat di dalam Pasal 2 ayat (1) Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia

(7)

pembebanan hak atas tanah. Kesimpulannya bahwa akta-akta yang demikian itu tidak dapat dijadikan alat bukti terjadinya peralihan atau pembebanan hak atas tanah.7

Apabila Kantor Pertanahan mengetahui terjadinya hal yang demikian maka Kantor Pertanahan berhak untuk menolak pendaftaran peralihan atau pembebanan haknya (karena bukan akta otentik). Sudah tentu hal tersebut akan merugikan para pihak yang berkepentingan terhadap APHT tersebut dan sudah tentu bagi PPAT itu sendiri selaku pejabat yang berwenang membuat APHT dapat dituntut pertanggungjawabannya.

Oleh sebab itu, dalam praktiknya PPAT dituntut selalu memperhatikan prinsip kehati-hatian. Bertindak sesuai amanat dari ketentuan perundang-undangan harus menjadi kewajiban PPAT. Mengingat dalam proses peradilan perdata, kebenaran yang dicari dan diwujudkan oleh hakim adalah cukup kebenaran formil (formeel waarheid) dari sanubari hakim, tidak dituntut keyakinan. Para pihak yang berperkara dapat mengajukan pembuktian berdasarkan kebohongan dan kepalsuan, namun fakta yang demikian secara teoritis harus diterima oleh hakim untuk melindungi atau mempertahankan hak perseorangan atau hak perdata pihak yang bersangkutan.8

Penulis akan mengadakan penelitian mengenai penerapan prinsip kehati-hatian PPAT dalam pembuatan Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT) serta tanggungjawab terhadap akta pemberian hak tanggungan yang yang tidak terpenuhi syarat formilnya.

B. Rumusan Masalah

7Mustofa, Tuntutan Pembuatan Akta-Akta PPAT, Cetakan Ketiga (Yogyakarta: Penerbit Karya Media,

2014), hlm. 10.

8M. Yahya Harahap, Hukum Acara Pedata Tentang Gugatan, Persidangan, Penyitaan, Pembuktian dan

(8)

Rumusan masalah yang penulis ambil dari latar belakang masalah tersebut yaitu: 1. Bagaimana penerapan prinsip kehati-hatian dalam pembuatan Akta Pemberian Hak

Tanggungan?

2. Bagaimana tanggungjawab PPAT dalam pembuatan Akta Pemberian Hak Tanggungan yang tidak terpenuhi syarat formilnya?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan dua poin rumusan masalah di atas, penelitian ini bertujuan untuk:

1. Untuk menganalisa penerapan prinsip kehati-hatian PPAT dalam pembuatan Akta Pemberian Hak Tanggungan.

2. Untuk menganalisa tanggungjawab PPAT dalam pembuatan Akta Pemberian Hak Tanggungan yang tidak terpenuhi syarat formilnya.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini yang penulis harapkan antara lain:

1. Secara teoritis penelitian yang akan dilakukan penulis diharapkan dapat memberi masukan dan sumbangan pemikiran baik dalam bidang ilmu hukum, khususnya dalam ilmu hukum perdata yang berhubungan dengan pembuatan akta autentik.

2. Secara praktis penulis mengharapkan penelitian ini dapat memberikan masukan dan informasi bagi PPAT sebagai pejabat umum, pihak-pihak yang berperkara, instansi pemerintahan terkait baik dari aparat penegak hukum yaitu Penyidik, Jaksa, Hakim, Majelis Pengawas Daerah, dan Ikatan Pejabat Pembuat Akta Tanah Indonesia (selanjutnya

(9)

disebut, IPPAT) untuk bertindak lebih profesional di bidangnya masing-masing. Selain itu bagi penulis dan masyarakat guna memberikan sumbangan pemikiran, pemahaman dan pengetahuan pada umumnya.

E. Orisinalitas Penelitian

Setelah penulis mencari belum ada tesis yang membahas mengenai Penerapan Prinsip Kehati-hatian Dalam Pembuatan Akta Pemberian Hak Tanggungan. Tesis sebelumnya yang membahas atau terkait tentang penerapan prinsip kehati-hatian PPAT yang telah terdaftar adalah:

1. Prinsip Kehati-hatian Notaris Sebagai Pejabat Umum Dalam Melaksanakan Jabatannya. Oleh Sam Dwi Zulkarnaen. 2015, Pasca Sarjana Program Megister Kenotariatan UI. Pembahasannya mengenai praktek prinsip kehati-hatian notaris dalam melaksanakan jabatannya, serta akibat akta yang tidak menggunakan prinsip kehati-hatian dalam pembuatannya.

2. Asas Proposionalitas dan Prinsip Kehati-hatian Pada Perjanjian Kredit. Oleh Ziyad, 2017, Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta. Penelitian Ini Untuk mengetahui menerapkan Asas Proposionalitas pada pembuatan perjanjian kredit di bank dan menerapkan prinsip kehati-hatian terhadap perjanjian kredit perbankan.

3. Penerapan Prinsip Kehati-hatian Notaris Dalam Mengenal Para Penghadap. Oleh Fikri Ariesta Rahman, S.H., 2018, Pasca Sarjana Megister Kenotariatan Universitas Islam Indonesia. Pembahasan penerapan prinsip kehati-hatian Notaris dalam mengenal para

(10)

penghadap, serta akibat hukum akta otentik dan Notaris tidak menerapkan prinsip kehati-hatian dalam mengenal para penghadap.

4. Penerapan Asas Kehati-hatian Dalam Pembuatan Akta Otentik. Oleh Farma, 2016, Program Magister Program Studi Kenotariatan Universitas Islam Sultan Agung Semarang. Pembahasan mengenai penerapan asas kehati-hatian dalam pembuatan akta otentik oleh notaris, serta kelemahan-kelemahan dan solusinya penerapan asas kehatihatian dalam pembuatan akta otentik oleh Notaris.

5. Penerapan Prinsip Kehati-hatian Notaris/ Ppat Dalam Perjanjian Kredit Bank Dengan Jaminan Hak Atas Tanah Dalam Bentuk Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan (Skmht) (Studi Di Kantor Notaris/PPPAT Noor Saptanti, S.H., M.H.). Oleh Nesia Zara Ferina, 2011, Fakultas Hukum UNS. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui secara mendalam mengenai bagaimana penerapan prinsip kehati-hatian Notaris/PPAT dalam pembuatan perjanjian kredit bank dengan jaminan hak atas tanah dalam bentuk SKMHT.

Dalam penelitian ini, Penulis akan membahas mengenai bagaimana penerapan prinsip kehati-hatian dalam pembuatan Akta Pemberian Hak Tanggungan dan bagaimana tanggungjawab PPAT dalam pembuatan Akta Pemberian Hak Tanggungan yang tidak terpenuhi syarat formilnya.

F. Kerangka Teori

1. Asas Kepastian Hukum

Kepastian hukum mengutamakan landasan peraturan perundang-undangan, kepatutan dan keadilan yang wajib dipatuhi PPAT dalam menjalankan tugas dan jabatannya yang berhubungan dengan segala tindakannya dalam pembuatan akta otentik.

(11)

Kepastian hukum mengenai akta otentik yang telah dibuat harus memberikan manfaat serta keadilan untuk melindungi kepentingan bagi para pihak yang terikat dalam akta otentik tersebut.

Asas kepastian hukum merupakan salah satu asas terpenting dalam negara hukum. Menurut Radbruch hukum, memiliki tujuan yang berorientasi pada hal-hal berikut:9

a. Kepastian hukum; b. Keadilan; dan,

c. Daya guna atau kemanfaatan.

Kepastian hukum memberi hak kepada yang berkepentingan untuk mengetahui dengan tepat apa yang dikehendaki dari padanya sebagaimana yang tertuang di dalam akta otentik. Unsur ini mengandung peran, misalnya pada pemberian kuasa secara tepat dan tidak mungkin adanya berbagai tafsiran yang dituju harus dapat terlihat serta kewajiban-kewajiban apa yang dibebankan kepadanya.

Keberadaan hukum yang hidup di dalam masyarakat sebagai pedoman dalam melakukan kontrak sosial atau hubungan satu dengan yang lain. Menurut J.M. Otto yang dikutip oleh Sri Djatmiati, Kepastian Hukum (rechtszekerheid) memiliki unsur-unsur sebagai berikut:10

a. Adanya aturan yang konsisten dan dapat diterapkan yang ditetapkan Negara; b. Aparat pemerintah menerapkan aturan hukum tersebut secara konsisten dan

berpegang pada aturan hukum tersebut; c. Rakyat pada dasarnya tunduk pada hukum;

d. Hakim yang bebas dan tidak memihak secara konsisten menerapkan aturan hukum tersebut; dan,

e. Putusan hakim dilaksanakan secara nyata.

9O. Notohamidjojo, Soal-Soal Pokok Filsafat Hukum (Salatiga: Griya Media. 2011), hlm. 33.

10Tatiek Sri Djatmiati, Prinsip Izin Usaha Industri di Indonesia, Disertasi Program Pasca Sarjana,

(12)

Apabila PPAT tidak jujur dalam menjalankan jabatannya, maka akta PPAT tidak dapat memberikan kepastian hukum kepada para pihak. PPAT yang bertindak dengan tidak seksama sehingga aktanya akan menimbulkan potensi konflik. Karena akta yang dibuat tersebut tidak dapat memberikan kepastian hukum kepada para pihak yang menghadap.

Begitu juga apabila PPAT dalam menjalankan jabatannya tidak mandiri, dengan maksud PPAT cenderung berpihak kepada salah satu pihak yang menghadap. PPAT yang melanggar hal tersebut, tidak akan bisa menjaga kepentingan para pihak yang terkait. Bukannya kepastian hukum yang akan didapat oleh para pihak, justru sebaliknya akan menyebabkan para pihak atau salah satu pihak kehilangan hak karena tidak adanya kepastian hukum yang didapat.11

2. Asas Kehati-hatian

Seringnya terjadi permasalahan hukum pidana dalam praktik PPAT disebabkan karena kurangnya kehati-hatian PPAT dalam membuat akta otentik terhadap data para pihak terkait subyek ataupun obyek yang dibawa oleh para pihak untuk membuat akta otentik sehingga menyebabkan sering terjadinya tindak kejahatan seperti dokumen palsu atau keterangan palsu yang dilakukan oleh para pihak dalam akta otentik yang dibuat oleh PPAT. Meneliti semua kelengkapan dan keabsahan alat bukti atau dokumen yang diperlihatkan kepada PPAT, serta mendengar keterangan atau pernyataan para penghadap wajib dilakukan sebgai dasar pertimbangan untuk dituangkan di dalam akta. Apabila PPAT kurang teliti dalam memeriksa fakta-fakta penting, itu berarti PPAT bertindak tidak hati-hati. Prinsip kehatian-hatian PPAT hanya dijelaskan dalam Pasal 22 Peraturan Pemerintah

11Habib Adjie, Sanksi Perdata dan Administratif Terhadap Notaris Sebagai Pejabat Publi (Bandung:

(13)

Nomor 37 Tahun 1998 tentang Peraturan Jabatan Pejabat Pembuat Akta Tanah, “bahwa Akta

PPAT harus dibacakan/dijelaskan isinya kepada para pihak dengan dihadiri oleh sekurang-kurangnya 2 (dua) orang saksi sebelum ditandatangani seketika itu juga oleh para pihak, saksi-saksi dan PPAT.”12

Asas kehati-hatian adalah suatu asas yang menyatakan bahwa PPAT dalam menjalankan fungsi dan jabatannya wajib menerapkan prinsip kehati-hatian dalam rangka melindungi kepentingan masyarakat yang dipercayakan padanya. Tujuan diberlakunya prinsip kehati-hatian tidak lain adalah agar PPAT selalu dalam rambu-rambu yang benar. Dengan diberlakukannya prinsip kehati-hatian, diharapkan agar kepercayaan masyarakat terhadap PPAT tetap tinggi, sehingga masyarakat bersedia dan tidak ragu-ragu menggunakan jasa PPAT.

3. Asas Tanggungjawab

Suatu konsep, Ridwan Halim mendefinisikan tanggungjawab sebagai suatu akibat lebih lanjut dari pelaksanaan peranan, baik peranan itu merupakan hak maupun kewajiban atau kekuasaan. Secara umum tanggungjawab diartikan sebagai kewajiban untuk melakukan sesuatu atau berperilaku menurut cara tertentu.13

Berdasarkan pengertian di atas, maka pertanggungjawaban merupakan sikap atau tindakan untuk menanggung akibat dari segala perbuatan atau sikap yang dilakukan untuk

12Lihat di dalam Pasal 22 Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 1 Tahun 2006 tentang

Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998 tentang Peraturan Jabatan Pejabat Pembuat Akta Tanah.

(14)

menanggung segala resiko ataupun konsekuensi yang ditimbulkan dari suatu perbuatan. Bahwa PPAT dapat dimintakan pertanggungjawabannya secara perdata berdasarkan tuntutan adanya perbuatan melanggar hukum, artinya walaupun PPAT hanya mengkonstatir keinginan dari para pihak atau penghadap, bukan berarti PPAT tidak melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hukum. Dalam mempertanggungjawabkan perbuatanya, PPAT dapat bertanggungjawab secara pidana, perdata, maupun andministratif sesuai dengan pelanggaran ataupun kelalaiannya.

Untuk menentukan pertanggungjawaban tersebut ada beberapa tolak ukur yaitu harus adanya unsur-unsur yang tegas dalam undang-undang tentang perbuatan PPAT ataupun hal-hal yang dilarang dalam Pasal 28 ayat (1) ayat sampai ayat (4) Perkaban Nomor 1 Tahun 2006.14

a. Pertanggungjawaban Administrasi PPAT

PPAT adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta otentik. Sebagai pejabat umum, PPAT diberi kewenangan oleh undang-undang untuk membuat akta otentik mengenai semua perbuatan hukum sebagaimana telah diatur dalam Pasal 2

Perkaban Nomor 1 Tahun 2006, ketetapan yang diharuskan oleh peraturan perundang-undangan dari atau yang dikehendaki oleh yang berkepentingan untuk dinyatakan dalam akta otentik. Sebagai pejabat umum, PPAT dalam menjalankan jabatannya harus memiliki kriteria sebagai berikut:

1) Berjiwa Pancasila;

2) Taat kepada hukum, sumpah jabatan, Kode Etik PPAT; dan,

(15)

3) Berbahasa Indonesia yang baik.

Korelasi terhadap teori pertanggungjawaban administrasi PPAT karena melakukan pelanggaran Pasal 28 ayat (1) sampai ayat (4) Perkaban Nomor 1 Tahun 2006, menyatakan:15

(1) PPAT diberhentikan dengan hormat dari jabatannya oleh Kepala Badan karena: a. permintaan sendiri;

b. tidak lagi mampu menjalankan tugas karena keadaan kesehatan badan atau kesehatan jiwanya, setelah dinyatakan oleh tim pemeriksa kesehatan berwenang atas permintaan Kepala Badan atau pejabat yang ditunjuk; c. melakukan pelanggaran ringan terhadap larangan atau kewajiban sebagai

PPAT;

d. diangkat sebagai PNS atau anggota TNI/POLRI.

(2) PPAT diberhentikan dengan tidak hormat dari jabatannya oleh Kepala Badan, karena:

a. melakukan pelanggaran berat terhadap larangan atau kewajiban sebagai PPAT;

b. dijatuhi hukuman kurungan/penjara karena melakukan kejahatan perbuatan pidana yang diancam hikuman kurungan atau penjara paling lama 5 (lima) tahun atau lebih berat berdasarkan putusan pengadilan yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap;

c. melanggar kode etik profesi.

(3) Pelanggaran ringan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c antara lain : a. memungut uang jasa melebihi ketentuan peraturan perundang-undangan; b. dalam waktu 2 (dua) bulan setelah berakhirnya cuti tidak melaksanakan

tugasnya kembali sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (5);

c. tidak menyampaikan laporan bulanan mengenai akta yang dibuatnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62;

d. merangkap jabatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1); dan, e. lain-lain yang ditetapkan oleh Kepala Badan.

(4) Pelanggaran berat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a, antara lain: a. membantu melakukan permufakatan jahat yang mengakibatkan sengketa

atau konflik pertanahan;

b. melakukan pembuatan akta sebagai permufakatan jahat yang mengakibatkan sengketa atau konflik pertanahan;

c. melakukan pembuatan akta di luar daerah kerjanya kecuali yang dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 6 ayat (3);

d. memberikan keterangan yang tidak benar di dalam akta yang mengakibatkan sengketa atau konflik pertanahan;

15Pasal 28 ayat (1) sampai (4) Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 1 Tahun 2006 tentang

Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998 tentang Peraturan Jabatan Pejabat Pembuat Akta Tanah.

(16)

e. membuka kantor cabang atau perwakilan atau bentuk lainnya yang terletak di luar dan atau di dalam daerah kerjanya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46;

f. melanggar sumpah jabatan sebagai PPAT;

g. pembuatan akta PPAT yang dilakukan, sedangkan diketahui oleh PPAT yang bersangkutan bahwa para pihak yang berwenang melakukan perbuatan hukum atau kuasanya sesuai peraturan perundang-undangan tidak hadir dihadapannya; h. pembuatan akta mengenai hak atas tanah atau Hak Milik Atas Satuan Rumah

Susun yang oleh PPAT yang bersangkutan diketahui masih dalam sengketa yang mengakibatkan penghadap yang bersangkutan tidak berhak melakukan untuk perbuatan hukum yang dibuktikan dengan akta;

i. PPAT tidak membacakan aktanya dihadapan para pihak maupun pihak yang belum atau tidak berwenang melakukan perbuatan sesuai akta yang dibuatnya; j. PPAT membuat akta dihadapan para pihak yang tidak berwenang melakukan

perbuatan hukum sesuai akta yang dibuatnya;

k. PPAT membuat akta dalam masa dikenakan sanksi pemberhentian sementara atau dalam keadaan cuti;

l. lain-lain yang ditetapkan oleh Kepala Badan.

Kesalahan prosedur/administrasi dalam pembuatan akta otentik akan berpengaruh terhadap nilai kekuatan pembuktian akta otentik tersebut. Untuk itu, PPAT tidak hanya bertanggungjawab secara administrasi apabila dalam proses pembuatan akta otentik melanggar ketentuan peraturan.

b. Pertanggungjawaban Perdata PPAT

KUHPerdata mengatur tanggungjawab hukum secara perdata, pertanggungjawaban itu muncul dari undang-undang maupun dari perjanjian-perjanjian, sebagaimana juga dengan KUHPerdata di negara-negara lain dalam sistem hukum Eropa Kontinental. Dengan demikian, model tanggungjawab hukum yang muncul akibat perbuatan melawan hukum menurut KUHPerdata adalah:

1 ) Tanggungjawab dengan unsur kesalahan (kesengajaan dan kelalaian) sebagaimana yang terdapat dalam Pasal 1365 KUHPerdata;

(17)

2) Tanggungjawab dengan unsur kesalahan, khususnya unsur kelalaian sebagaimana yang terdapat dalam Pasal 1366 KUHPerdata;

3) Tanggungjawab mutlak (tanpa kesalahan) dalam arti yang sangat terbatas ditemukan dalam Pasal 1367 KUHPerdata. Dalam pengertian dan penggunaan praktis, istilah

liability menunjukkan pada pertanggungjawaban hukum, yaitu tanggung gugat

akibat kesalahan yang dilakukan oleh subyek hukum. Pasal 1365 KUHPerdata yang lazim dikenal sebagai pasal tentang perbuatan melawan hukum, mengharuskan terpenuhinya empat unsur pokok, yaitu :

a) Adanya perbuatan; b) Adanya unsur kesalahan; c) Adanya kerugian yang diderita;

d) Adanya hubungan kausalitas antara kesalahan dan kerugian.

Kesalahan yang dimaksud di dalam Pasal 1365 KUHPerdata adalah unsur yang bertentangan dengan hukum. Pengertian hukum tidak hanya bertentangan dengan undang-undang tetapi juga kepatutan, kesusilaan, dan kebiasaab dalam masyarakat. Teori pertanggungjawaban menjelaskan bahwa seorang bertanggungjawab secara hukum atas suatu perbuatan tertentu atau bahwa dia memikul tanggungjawab hukum. Ini berarti bahwa dia bertanggungjawab atas suatu sanksi dalam hal perbuatan yang dilakukan itu bertentangan.

c. Pertanggungjawaban Pidana PPAT

Pertanggungjawaban pidana terhadap PPAT dapat dimintakan jika ketiga syarat sebagaimana tersebut di atas terpengaruhi secara kolektif, artinya di satu sisi PPAT

(18)

memenuhi unsur telah melakukan suatu pelanggaran terhadap KUHP dan di sisi lain PPAT juga melakukan pelanggaran terhadap peraturan. Sementara itu untuk menentukan suatu pertanggungjawaban PPAT secara pidana, maka perbuatan PPAT tersebut harus sudah terpenuhi 3 (tiga) syarat berikut ini:16

1) harus ada perbuatan PPAT yang dapat di hukum karena melanggar unsur-unsur dalam pembuatan suatu akta otentik yang secara tegas dirumuskan oleh undang-undang;

2) Perbuatan PPAT tersebut bertentangan dengan hukum, dan perbuatan tersebut dilakukan dengan kesalahan (baik sengaja maupun kelalaian); 3) Kesalahan atau kelalaian dalam tindak pidana meliputi unsur-unsur yang

bertentangan dengan hukum dan harus ada perbuatan melawan hukum pidana.

Mengenai bentuk tanggungjawab, Abdulkadir Muhammad mengatakan, bahwa bentuk-bentuk tanggungjawab dapat diberi pengertian sebagai berikut:17

1) dituntut melakukan perbutan akta dengan baik dan benar artinya akta yang dibuat itu memenuhi kehendak hukum dan permintaan pihak yang berkepentingan karena jabatannya;

2) dituntut menghasilkan akta yang bermutu artinya akta yang dibuatnya itu sesuai dengan aturan hukum dan tidak mengada-ada;

3) berdampak positif artinya siapapun akan mengakui akta itu mempunyai kekuatan bukti sempurna.

4. APHT (Akta Pemberian Hak Tanggungan)

a. Hak Tanggungan

Hak Tanggungan adalah lembaga jaminan untuk benda tidak bergerak yang berupa tanah. Menurut Boedi Harsono, hak tanggungan adalah penguasaan hak atas tanah berisi kewenangan bagi kreditor untuk berbuat sesuatu mengenai tanah yang dijadikan agunan, tetapi bukan untuk dikuasai secara fisik dan digunakan, melainkan untuk menjualnya jika debitor cedera janji dan mengambil dari hasil seluruhnya atau sebagian

16Abdulkadir Muhammad, Etika Profesi Hukum (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2001), hlm. 93-94. 17Ibid., hlm. 95-96.

(19)

sebagai pembayaran lunas utang debitor kepadanya. Menurut C.S.T Kansil hak tanggungan adalah:18

Jaminan atas tanah untuk pelunasan utang tertentu, yang memberikan kedudukan diutamakan kepada kreditor tertentu terhadap kreditor-kreditor lain. Dalam arti bahwa jika debitur cedera janji kreditor pemegang Hak Tanggungan berhak menjual melalui pelelangan umum tanah yang dijadikan jaminan menurut ketentuan peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan, dengan hak mendahului dari kreditor-kreditor yang lain.

Definisi Hak Tanggungan dirumuskan dalam Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-Benda yang Berkaitan dengan Tanah (selanjutnya disebut UUHT). Pasal 1 angka 1 UUHT merumuskan:19

“Hak Tanggungan adalah Hak Jaminan yang dibebankan pada hak atas tanah sebagaimana yang dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria berikut atau tidak berikut benda-benda lain yang merupakan satu kesatuan dengan tanah itu untuk pelunasan utang tertentu yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditor tertentu terhadap kreditor-kreditor lain.“

Dari rumusan pasal di atas, maka dapat ditarik unsur-unsur dari Hak Tanggungan tersebut antara lain:

1) Jaminan yang dibebankan adalah hak atas tanah;

2) Hak atas tanah berikut atau tidak berikut benda-benda lain yang merupakan satu kesatuan dengan tanah itu;

3) Untuk pelunasan utang tertentu;

4) Memberikan kedudukan-kedudukan yang diutamakan kepada kreditor tertentu terhadap kreditor-kreditor lainnya.

18C.S.T. Kansil dan Christine S.T. Kansil, Pokok-Pokok Hukum Hak Tanggungan Atas Tanah (Jakarta:

Pustaka Sinar Harapan, 1997), hlm. 7.

19Lihat di dalam Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas

(20)

APHT berdasarkan Pasal 1 angka 5 Undang-Undang Hak Tanggungan adalah

“Akta Pejabat Pembuat Akta Tanah yang berisi pemberian Hak Tanggungan kepada kreditor tertentu sebagai jaminan untuk pelunasan piutangnya.”20 Bentuk APHT diatur

dalam Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Agraria/Kepala Badan pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah. APHT dibuat oleh pejabat yang berwenang yaitu PPAT.

Hak Tanggungan memiliki asas yang mendasarinya. asas-asas ini didasari oleh ketentuan yang terdapat dalam Undang-Undang Hak Tanggungan. Asas-asas tersebut antara lain;

1) Asas Droit De Preference

Hak Tanggungan memberikan kedudukan hak yang diutamakan dibandingkan kreditur yang lain. Asas ini dirumuskan dalam Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Hak Tanggungan. Asas droit de preference berarti hak tanggungan memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditor tertentu dengan kreditor-kreditor lainnya.21 Hak Tanggungan bisa dibebankan lebih dari satu kreditor. Penentuan peringkat Hak Tanggungan hanya dapat ditentukan berdasarkan pada saat pendaftarannya. Apabila pendaftarannya dilakukan pada saat yang bersamaan barulah peringkat Hak

20Lihat di dalam Pasal 1 angka 5 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas

Tanah Beserta Benda-Benda yang Berkaitan dengan Tanah.

(21)

Tanggungan ditentukan berdasarkan pada saat pembuatan APHT. Hal ini sebagaimana dirumuskan dalam Pasal 5 Undang-Undang Hak Tanggungan yang merumuskan:22

(1) Suatu obyek Hak Tanggungan dapat dibebani dengan lebih dari satu Hak Tanggungan guna menjamin pelunasan lebih dari satu utang.

(2) Apabila suatu obyek Hak Tanggungan dibebani dengan lebih dari satu Hak Tanggungan, peringkat masing-masing Hak Tanggungan ditentukan menurut tanggal pendaftarannya pada Kantor Pertanahan.

(3) Peringkat Hak Tanggungan yang didaftar pada tanggal yang sama ditentukan menurut tanggal pembuatan Akta Pemberian Hak Tanggungan yang bersangkutan.”

2) Hak Tanggungan adalah Perjanjian Accesoir

Perjanjian Hak Tanggungan bukan merupakan perjanjian yang berdiri sendiri. Keberadaannya adalah karena adanya perjanjian lain yang disebut dengan perjanjian pokok. Perjanjian pokok bagi perjanjian Hak Tanggungan adalah perjanjian utang-piutang yang menimbulkan utang yang dijamin.23 APHT ditandatangani setelah dilakukan penandatanganan perjanjian pokok yang berupa utang piutang atau perjanjian kredit. Sifatnya sebagai perjanjian accecoir, dimana keberadaan Hak Tanggungan sangat bergantung pada keberadaan perjanjian kredit sebagai perjanjian pokoknya. Apabila kredit yang dijamin dengan Hak Tanggungan tersebut telah lunas, maka hak tanggungan tersebut menjadi hapus.

G. Metode Penelitian

1. Obyek dan Subyek Penelitian

22Lihat di dalam Pasal 5 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah

Beserta Benda-Benda yang Berkaitan dengan Tanah.

(22)

Penelitian dengan judul Penerapan Prinsip Kehati-hatian Dalam Pembuatan Akta Pemberian Hak Tanggungan adalah merupakan penelitian yuridis empiris, yaitu penelitian hukum mengenai pemberlakuan atau implementasi ketentuan hukum normatif secara perilaku nyata pada setiap peristiwa hukum yang terjadi dalam masyarakat.

Penelitian ini didasarkan pada penelitian kepustakaan tetapi untuk melengkapi data yang diperoleh dari penelitian kepustakaan, dilakukan penelitian lapangan. Hal ini dilakukan karena penelitian kepustakaan untuk lengkapnya perlu didukung dengan penelitian lapangan. Oleh karena itu penelitian ini menggunakan dua jenis penelitian hukum, yaitu penelitian kepustakaan dan penelitian lapangan. Penelitian kepustakaan untuk memperoleh data sekunder dan penelitian lapangan untuk memperoleh data primer.24

Penelitian hukum empiris menurut Soerjono Soekanto terdiri dari penelitian terhadap identifikasi (tidak tertulis), dan penelitian terhadap efektivitas hukum. Jika penelitian empiris mengadakan pengukuran terhadap peraturan perundangan-undangan tertentu mengenai efektivitasnya, maka definisi-definisi operasionalnya dapat diambil dari peraturan perundangan-undangan tersebut.

Berdasarkan judul dalam penelitian ini maka objek penelitian yang dijadikan fokus adalah Penerapan Prinsip Kehati-hatian Dalam Pembuatan Akta Pemberian Hak Tanggungan. Subjek penelitian ini adalah semua pihak yang terkait dan berhubungan dengan masalah penelitian ini, yang terdiri dari Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) dan akademisi

2. Data Penelitian

(23)

Data yang digunakan dalam penelitian ini, berupa data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh dengan cara langsung dari sumber di lapangan melalui penelitian. Data primer ini diperoleh dengan cara mengadakan penelitian lapangan

(field research) dengan mengadakan wawancara secara langsung kepada subjek penelitian

yang telah ditentukan sebelumnya. Sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh dari hasil penelusuran kepustakaan terhadap berbagai literatur atau bahan pustaka yang berkaitan dengan masalah atau materi penelitian yang sering disebut sebagai bahan hukum. Bahan hukum yang digunakan dalam penelitian ini yaitu :

a. Bahan hukum primer, yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat yang terdiri dari: 1) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

2) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA).

3) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-Benda yang berkaitan dengan Tanah.

4) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris.

5) Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.

6) Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemeritah Nomor 37 Tahun 1998 tentang Peraturan Jabatan Pejabat Pembuat Akta Tanah.

7) Peraturan Menteri Negara Agrarian/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.

(24)

8) Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 1 Tahun 2006 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998 tentang Peraturan Jabatan Pejabat Pembuat Akta Tanah.

9) Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 08 Tahun 2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Agraria/Kepala Badan pertanahan Nasional Nomor 03 Tahun 1997 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.

10) Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2017 tentang Penerapan Prinsip Mengenali Pengguna Jasa Bagi Notaris. b. Bahan hukum sekunder yaitu bahan hukum yang memberikan penjelasan terhadap bahan

hukum primer seperti buku-buku teks ilmiah, hasil penelitian terdahulu, jurnal ilmiah, makalah-makalah seminar, dan bahan bacaan ilmiah dari internet yang terkait dengan penelitian.

c. Bahan hukum tersier yaitu berupa kamus dan ensiklopedia.25

3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan dan pengolahan data dalam penelitian ini meliputi:

a. Wawancara (Interview), yakni tanya jawab yang dilakukan dengan seseorang untuk memperoleh informasi yang merupakan data primer dalam penelitian ini. Teknik wawancara yang dilakukan dalam penelitian ini dilakukan dengan cara tanya jawab

25Mukti Fajar dan Yulianto Ahmad, Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan Empiris (Yogyakarta:

(25)

langsung dengan pihak-pihak yang menjadi subjek penelitian ini. Pedoman wawancara

(interview guide)26, merupakan alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini.

b. Penelusuran kepustakaan yakni dilakukan dengan cara menyeleksi data sekunder atau bahan hukum, kemudian melakukan klasifikasi menurut penggolongan bahan hukum, serta menyusun data hasil penelitian secara runtut, sistematis, dan logis. Dengan demikian dapat terlihat hubungan dan keterkaitan antara bahan hukum satu dengan bahan hukum lainnya sehingga mendapatkan gambaran umum dari hasil penelitian.

4. Pendekatan Penelitian

Metode pendekatan yang digunakan dalam membahas masalah penelitian ini adalah metode pendekatan yuridis empiris dan pendekatan perundang-undangan (statue approach). Yuridis empiris adalah sebuah metode penelitian hukum yang berupaya untuk melihat hukum dalam artian yang nyata atau dapat dikatakan melihat dan meneliti bagaimana bekerjanya hukum di masyarakat.

Dalam hal ini pendekatan yuridis digunakan untuk menganalisa berbagai peraturan yang terkait dengan Penerapan Prinsip Kehati-hatian Dalam Pembuatan Akta Pemberian Hak Tanggungan, sedangkan pendekatan empiris digunakan untuk menganalisa hukum yang dilihat dari perilaku PPAT dalam realita, karena hukum (peraturan) selalu berhubungan dengan aspek kemasyarakatan.27 Sedangkan pendekatan perundang-undangan (statute

approach) ialah suatu pendekatan yang dimana pendekatan tersebut dilakukan dengan

26Sartono Kartodirdjo, Metodologi Penelitian Masyarakat (Jakarta: Gramedia, 1983), hlm. 56.

(26)

menelaah semua undang-undang dan regulasi yang bersangkut paut dengan isu hukum yang sedang ditangani.28

5. Analisis Penelitian

Pengolahan data yang terkumpul dari penelitian ini diolah melalui penelitian kepustakaan dan penelitian lapangan, kemudian diolah dengan langkah-langkah tahapan pemeriksaan data, penandaan data, rekonstruksi data, dan sistemasi data. Menurut Abdulkadir Muhammad, pengolahan data penelitian hukum umumnya dilakukan dengan cara:29

a. Pemeriksaan data (editing), yaitu mengoreksi apakah data yang terkumpul sudah lengkap, sudah benar serta sudah relevan dengan permasalahan yang diteliti. b. Penandaan data (coding), yaitu memberikan catatan atau tanda khusus terhadap data

yang telah terkumpul berdasarkan klasifikasi tertentu.

c. Rekonstruksi data (reconstructing), yaitu menyusun ulang secara teratur, berurutan dan sistematis sehingga mudah dipahami dan diinterpretasikan.

d. Sistematis data (systematizing), yaitu menempatkan data menurut kerangka sistematik pembahasan berdasarkan urutan masalah.

Dalam penelitian ini seluruh data diperoleh dari penelitian, baik penelitian kepustakaan maupun penelitian lapangan akan dianalisa dengan metode analisa deskriptif kualitatif. Metode analisa deskriptif kualitatif maksudnya yaitu analisis data mengungkapkan dan mengambil kebenaran yang diperoleh dari kepustakaan dan lapangan yaitu dengan menggabungkan antara peraturan-peraturan, buku-buku ilmiah yang ada hubungannya dengan judul penelitian. Dengan mendapat responden yang diperoleh dengan

28Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Cetakan Keduabelas (Jakarta: Prenadamedia Group, 2016),

hlm. 133.

(27)

wawancara (interview), kemudian dianalisa secara kualitatif sehingga mendapatkan suatu pemecahannya dan dapat ditarik kesimpulan.

H. Sistematika Penulisan

Penulisan tesis ini penulis akan membaginya dalam bab-bab yang masing-masing akan mengkaji secara sistematis permasalahan yang tertuang dalam judul tesis ini. Bab-bab yang dibahas antara lain:

BAB I: Pendahuluan

Dalam bab ini diuraikan mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian dan tinjauan pustaka yang merupakan bekal awal penulis dalam menyusun tesis ini. Dalam bab ini juga diuraikan mengenai metode penelitian dan sistematika penulisan tesis.

BAB II: Tinjauan Umum Mengenai Pejabat Pembuat Akta Tanah, Prinsip Kehati-hatian, dan Jaminan Tanah Dalam Hak Tanggungan

Dalam bab ini diuraikan mengenai teori-teori mengenai Prinsip Kehati-hatian, Tanggungjawab, dan Pembuatan Akta Pemberian Hak Tanggungan.

BAB III: Penerapan Prinsip Kehati-hatian Dalam Pembuatan Akta Pemberian Hak Tanggungan.

Dalam bab ini diuraikan hasil penelitian dan pembahasan mengenai Penerapan Prinsip Kehati-hatian Dalam Pembuatan Akta Pemberian Hak Tanggungan. Adapun uraian tersebut adalah: A. Penerapan prinsip kehati-hatian dalam pembuatan Akta Pemberian Hak Tanggungan, B. Tanggungjawab PPAT dalam pembuatan Akta Pemberian Hak Tanggungan yang Tidak

Terpenuhi Syarat Formilnya.

(28)

Dalam bab ini diuraikan mengenai kesimpulan yang merupakan jawaban dari permasalahan dalam penelitian ini, juga disampaikan saran yang berkaitan dengan Penerapan Prinsip Kehati-hatian Dalam Pembuatan Akta Pemberian Hak Tanggungan.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :