I. PENDAHULUAN. Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) adalah komoditas perkebunan yang

30  Download (0)

Full text

(1)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) adalah komoditas perkebunan yang cukup penting di Indonesia dan masih memiliki prospek pengembangan yang cukup cerah.

Peningkatan jumlah kebutuhan dan semakin beragamnya pemanfaatan produk olahan kelapa sawit menyebabkan kelapa sawit terus berkembang. Bahkan, tanaman penghasil minyak nabati ini menjadi penyumbang devisa non-migas terbesar ketiga setelah karet dan kopi.

Prospek pasar dunia untuk minyak sawit beserta produknya cukup bagus. Dengan total produksi 16 juta ton, pada tahun 2006 indonesia telah mengungguli produksi kelapa sawit Malaysia yang berkisar pada angka 15,88 juta ton. Oleh Oil World, produksi kelapa sawit Indonesia untuk beberapa tahun ke depan diprediksi tetap akan memimpin di urutan teratas (Hartanto, 2011).

Melihat perkembangan dan prospek kelapa sawit yang menjanjikan, saat ini usaha perkebunan kelapa sawit banyak diminati oleh investor. Masyarakat, terutama di sekitar lokasi perkebunan, dengan swadaya sendiri juga semakin banyak yang mengushakan kelapa sawit. Pemerintah dalam upaya menungkatakan kesejahteraan rakyat dan menyediakan lapangan kerja, sejak tahun 2006 telah mencanangkan Program Revitalisasi Perkebunan, di mana kelapa sawit adalah salah satu komoditas yang masuk di dalam program revitalisasi

(2)

tersebut. Perkembangan kelapa sawit yang konsisten dan berkelanjutan akan menjadikan Indonesia sebagai produsen minyak kelapa sawit nomor satu di dunia.

Keberhasilan budidaya kelapa sawit di smping faktor tanaman dan lingkungan juga tidak terlepas dari faktor pemeliharaan. Untuk mendapatkan untung yang tinggi diperlukan pemeliharaan yang intensif baik ketika tanaman belum menghasilkan (TBM) maupun tanaman menghasilkan (TM). Salah satu pemeliharaan adalah pengendalian gulma (Hartanto, 2011).

Gulma yang selalu tumbuh disekitar pertanaman mengakibatkan lajur pertumbuhan menurun. Dengan adanya gulma sangat membahayakan dan merugikan baik dari segi pertumbuhan dan ekonomi. Gulma menjadikan tanaman pokok berkompetisi dalam memperoleh air unsur hara dan cahaya maupun CO2. Selain itu gulma dapat berperan sebagai tanaman inang bagi hama dan penyakit Usaha manusia dalam pembrantasan dan pengendalian gulma tergantung padakeadaan pertanaman tujuan pertanaman dan biaya (Fauzi dkk, 2008).

Upaya pengendalian gulma telah dilaksanakan dengan menanami tanah diantara tanaman kelapa sawit (gawangan) dengan menanami tanaman kacangan penutup tanah dan membuat piringan disekeliling tiap individu tanaman. Pengendalian gulma di TM dimaksukan untuk menguragi terjadinya saingan terhadap tanaman pokok memudahkan pelaksanaan pemeliharan, dan mencegah berkembangnya penyakit dan hama ( Setyamidjaja, 2006).

Pemberantasan gulma pada TM ditunjukan pada dua sasaran, yaitu gawangan serta piringan serta pasar pikul. Piringan sbagai tempat penyebaran

(3)

pikul terletak diantara dua barisan tanaman yang dipakai untuk jalan panen, jalan kontrol serta dipakai sebagi untuk pemupukan serta pemberantasan hama/penyakit. Gawangan harus dikendalikan dari gulma yang menjadi penghambat tanaman pokok, tanaman inang hama dan penyakit, serta menciptakan kondisi yang tidak terlalu lembab hingga penyerbukan tandan dapat lebih lancer dan penyakit tidak berkembang (Pardamean, 2011).

Pemeliharaan piringan dilakukan dengan menggukan larutan herbisida dengan atuomizer sprayer, setiap tiga bulan.Selain itu, perlu dilakukan pembasmian terhadap tanaman liar dengan rotasi satu bulan sekali.

Peleksanaan pengendalian gulma (weeding) membutuhkan banyak tenaga kerja, bahan kimia (herbisida), serta peralatan lainnya, sehingga secara total biaya yang dibutuhkan menjadi sangat besar. Dari total biaya pemeliharaan tanaman maka biaya pengendalian gulma menduduki posisi kedua terbesar setelah biaya pemupukan. Dengan demikian peleksanaan pengendalian gulma harus di upayakan secara efektif dan se-efesien mungkin dengan mencari alternative teknis pengendalian yang baik (Barus,2001).

(4)

B. Perumusan Masalah

Kerugian yang disebabkan gulma antara lain menurunkan pertumbuhan vegatatif tanaman, dapat menjadi inang (host) bagi hama dan patogen yang menyerang tanaman, menganggu tata guna air, dan gulma juga dapat meningkatkan biaya usaha perkebunan.

Dalam bisnis perkebunan khususnya perkebunan kelapa sawit dibutuhkan cara pengendalian gulma yang efektif dan efisien untuk mengurangi biaya pemeliharaan. Salah satu tujuan pengendalian gulma adalah untuk menghindarkan persaingan antara tanaman utama dengan gulma dalam hal zat hara, air dan ruang tumbuh yang terdapat pada piringan pohon, pasar pikul dan gawangan (Pahan, 2011).

Efisiensi pengendalian gulma tergantung efektivitas tindakan yang memadai untuk mencapai batas minimum pengendalian tertentu. Pengendalian gulma secara penuh di bawah semua kondisi mungkin tidak di perlukan dan tidak dianjurkan (Situmeang, 2011).

Pengendalian gulma harus memperhatikan teknik pelaksanaanya di lapangan (faktor teknis), biaya yang diperlukan (faktor ekonomis), dan kemunginan dampak negatip yang di timbulkan (Sukman dan Yakup, 2002).

(5)

C. Tujuan Penelitian

1. Mengetahui jenis-jenis pekerjaan, cara dan rotasi pada pengendalian gulma di areal TM kelapa sawit.

2. Mengetahui anlisa biaya pengendalian gulma pada perkebunan kelapa sawit fase Tanaman menghasilkan

3. Mengetahui prestasi kerja pengendalian gulma pada perkebunan kelapa sawit fase Tanaman menghasilkan

D. Manfaat penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi dan masukan dalam menganalisa biaya pengendalian gulma pada Tanaman menghasilkan (TM) kelapa sawit.

(6)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan Produksi Kelapa Sawit. Banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan produksi kelapa sawit, antara lain; bahan tanaman (bibit), kondisi iklim dan pemeliharaan tanaman (pemupukan, pengendalian gulma). Tanaman kelapa sawit akan berproduksi optimal tentunya tidak terlepas dari adanya pemeliharaan tanaman yang baik dan benar pada tanaman sudah menghasilkan (TM) maupun tanaman sebelum menghasilkan (TBM). Dari beberapa faktor yang berpengaruh tersebut, pengendalian gulma merupakan pekerjaan yang sangat penting karna gulma bersifat menganggu, merugikan dan merusak kalau ditinjau dari segi keberadaanya (Djafarudin, 1996).

Untuk meningkatkan pertumbuhan vegetatif dan hasil produksi kelapa sawit maka diperlukan pengolahan gulma yang baik. Dalam dunia perkebunan keberadaan gulma sangat menjadi masalah karna membutuhkan tenaga, biaya dan waktu untuk pengendalian gulma.

Gulma yang tumbuh disekitar tanaman pokok perlu diberantas karna dapat merugikan tanaman pokok bahkan menurunkan produksi. Gulma menjadikan tanaman pokok berkompetisi dalam memperoleh air, unsur hara, cahaya maupun CO2. Selain itu gulma dapat menjadi inang bagi hama dan penyakit (Fauzi dkk, 2008).

(7)

B. Defenisi Gulma

Dari segi botani atau ilmu tumbuhan gulma adalah sejenis tumbuhan tingkat tinggi yang tidak diinginkan untuk tumbuh atau hidup pada suatu tempat, sesuatu waktu atau periode, serta pada suatu keadaan tertentu pula, yang bersifat atau berdampak merugikan bagi umat manusia, baik langsung, maupun tidak langsung (Djafarudin, 1996).

Menurut Lubis dkk, (2011), gulma merupakan tumbuhan yang tumbuh pada waktu, tempat, kondisi yang tidak diinginkan oleh manusia.

Menurut Fauzi (2008), gulma merupakan tumbuhan yang mengangu yang menjadikan tannaman pokok berkompetisi dalam memperoleh air, unsur hara, cahaya maupun CO2, selain itu gulma berperan sebagai tanaman inang dari hama dan penyakit.

Gulma adalah tumbuhan yang tumbuh salah tempat. Sebagai tumbuhan gulma selalu berda disekitar tanaman yang dibudidayakan dan berasosiasi denganya secara khas. Gulma dapat tumbuh pada tempat yang miskin nutrisi sampai yang kaya nutrisi. Umumnya gulma, gulma mudah melakukan regenerasi sehingga unggul dalam persaingan dengan tanaman budi daya, secara fisik gulma bersaing dengan tanaman budidaya dalam memperoleh ruang, cahaya air, nutrisi, gas-gas penting, serta zat kimia (aleopati) yang disekresikan (Pahan, 2011).

Menurut Soesanto, (2008), gulma atau tumbuhan pengangu merupakan tumbuhan yang keberadaanya tidak diharapkan oleh manusia karena sifatnya yang mengangu pertumbuhan tanaman pokok. Kehilangan produk tanaman

(8)

perkebunanyang disebabkan oleh ganguan gulma cukup besar, belum lagi adanya tambahan anggaran biaya untuk pengendalianya.

Dari beberapa pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa, gulma adalah segala tumbuhan tingkat tinggi yang mampu hidup pada kondisi paling berat dan paling ringanyang mengangu tanaman pokok serta menjadikan tanaman pokok berkompetisi dalam mendapatkan air, unsur hara, CO2 cahaya, dll, dan keberadaanya tidak diinginkan manusia, dan yang merugikan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung.

C. Pemeliharan Tanaman Menghasilkan

Tanaman kelapa sawit mulai menghasilakn pada umur 24-30 bulan. Bulan yang pertama keluar masih dinyatakan sebagai buah pasir. Artinya, buah tersebut belum dapat diolah di pabrik (PKS) karena kandungan minyaknya masih rendah.

Pemeliharaan tanaman menghasilkan harus dilakukkan dengan cara intensif, termasuk pengawasan yang terus–menerus terhadap serangan gulma, hama dan penyakit. Pemeliharaan pada tanaman menghasilkan dapat juga dibagi berdasarkan kelompok umur, sebagai berikut (Pardamean, 2011).

a. Tanaman muda : 4-5 tahun b. Tanaman remaja : 6-12 tahun c. Tanaman tua : >13 tahun

Berikut Kegiatan-kegiatan yang pada TM yang menunjang dalam pengendalian gulma,

(9)

1. Pemangkasan

Daun tua dan pelepah perlu dipotong untuk tetap mendapatkan produktivitas yang tinggi. Selain itu, gulma yang tumbuh di pohon perlu dibersihkan secara teratur. Hal ini untuk mempermudah terjadinya penyerbukan bunga secara alami maupun dengan bantuan serangga penyerbuk. Keuntungan lainya, pemangkasan daun tua mampu mengurangi kelembapan sehingga dapat menangkal bahaya penyakit busuk buah (bunchrot). Daun yang telah dipangkas sebaiknya dikumpulkan sebagai bahan baku pupuk nabati.

2. Penimbuhan Pelepah dan sampah

Pelepah daun dan sampah organik sebaiknya jangan dibuang. Sampah tersebut dapat dimanfaatkan sebagai kompos. Caranya, buat lubang di antara tanaman kelapa sawit. Masukan pelepah daun atau sampah organik lainnya. Timbun kembali lubang yang telah terisi penuh oleh berbagi bahan organik. Setelah itu, sampah akan membusuk dan menjadi kompos (pupuk organik).

3. Penyiangan

Penyiangan merupakan proses kegiatan membuang gulma atau tumbuhan penggangu (OTP), khususnya alang-alang dan tumbuh berduri. Untuk mempertahankan atau meningkatkan produksi, gulma harus segera dibasmi.pasalnya, gulma dapat merebut jatah nutrisi kelapa sawit di dalam tanah. Karena itu, kehadiran gulma harus dibasmi (Lubis dkk, 2011).

Bersihkan piringan di daerah perakaran tanaman dari gulma, kacangan, dan sampah. Untuk alang-alang, lakukan pendongkelan dan penjepitan akar pada tanaman dapat tercabut beserta akarnya. Penyiangan bisa lakukan sebaiknya

(10)

dilakukan pada awal musim kemarau. Penyeprotan dilakukan setiap dua bulan, tergantung pada kondisi lapangan.

4. Pengendalian alang-alang

Pengendalian alang-alang dilakuakan secara dioles (wiping), dengan rotasi tiga bulan sekali. Pada areal tanaman mudah dan tanaman remaja dilakukan penyenprotan terhadap pakis kawat dengan menggunakan herbisida. Di samping itu, dilakukan pembasmian tanaman liar dengan rotasi bulan sekali (Pardamean, 2011).

5. Perawatan Tempat Pengumpulan Hasil

TPH (Tempat Pengumpulan Hasil) adalah tempat yang dibuat kusus untuk pengumpulan hasil panen dari dalam blok, sehinga panen terkumpulkan dan mempercepat pengangkutan.

Standar :

- THP harus bersih dari gulma.-

- Rawat THP dilakukan bersamaan dengan kegiatan rawat piringan dan jalan panen

6. Perawatan Piringan

Piringan adalah areal disekeliling pohon yang dibersihkan guna memberikan ruangan pertumbuhan tanaman, meamudahkan pelaksanaan panen maupun sebagai tempat manaburukan pupuk.

(11)

Standar :

- Rawat piringan dilalukan 6 kali setahun (Rotasi 60 hari) selektif, dengan 3 kali manual dan 3 kali chemist secara bergantian.

- Piringan harus bersih dari gulma

D. Klasifikasi dan Pengolongan Gulma

Menurut Sembodo (2010), klasifikasi dan pengolongan gulma diperlukan untuk memudahkan dalam mengenali atau mengidentifikasi gulma. Dasar suatu pengelompokan suatu jenis gulma ditentukan menurut kebutuhan tertentu. Oleh karna itu, dalam buku-buku pustaka tentang gulma pengolongan tersebut sangat beragam. Berikut ini akan diuraikan tentang pengolongan gulma berdasarkan aspek tertentu.

a. Berdasarkan panjang hidup

Yang dimaksutkan dengan panjang atau rentang hidup suatu gulma adalah jangka waktu yang diperlukan oleh gulma untu menjalani suatu siklus hidupnya, yaitu berawal dari biji gulma berkecambah – tumbuh dewasa- menghasilkan buah – dan kemudian mati. Berdasarkan pada batasan atau pengertian tersebut maka gulma dapat digolongkan menjadi ;

1. Gulma semusim (annual weeds)

Gulma semusim atau gulma setahun adalah gulma yang melekapi satu siklus hidupnya dalam sutu musim atau dalam waktu kurang dari 12 bulan. Gulma yang termasuk dalam kelompok ini memiliki ciri-ciri utama pertumbuhan yang

(12)

cepat dan menghasilkan biji dalam jumlah banyak beberapa contoh gulma semusim antara lain:

 Bayam berduri (Amaranthus spinosus)  Wedusan (Ageratum conyzoides)  Tuton (Echinochola coloum)  Kentangan (Borreria alata)

 Genjoran (Digitaria adscendens). 2. Gulma dua musim (Biannual weeds)

Gulma dua musim melengkapi satu siklus hidupnya selama dua muasim atau dua tahun. Perkecambahan dan pembentukan roset pada musim atau tahun pertama. Selepas semusim dingin, roset mengalami vernalisasi, berbunga, berbiji, dan mati pada musim kedua atau tahun kedua. Secara umum dapat dikatakan bahwa perkembangan vegetatif gulma dua musim terjadi pada musim atau tahun pertama dan pertumbuhan generatip pada tahun ke dua. Dengan demikian, dalam satu siklus hidupnya membutuhkan waktu antara 1-2 tahun. Contoh gulma yang termasuk dalam pengolongan gulma ini adalah;

 Kiurast (Plantango sp)  Jukut pendul (Cyperus difformis) 3. Gulma musiman (Perennial weeds)

Gulma yang menghasilkan organ vegetatif secara terus menerus sehingga memungkinkannya hidup lebih dari dua musim atau dua tahun disebut juga gulma musiman atau gulma tahunan. Gulma yang memiliki organ perkembangbiakan

(13)

ganda, yaitu secara generatip dengan biji dan vegetative dengan rizom atau rimpang, umbi, dauan atau stolon. Contoh gulma musiman adalah;

 Kremah (Choromoleanea odorata)  Teki (Cyperus rotundus)  Rumput pait (Axonopus comperessus)  Alang-alang (Imperata cylindrical)  Kalamenta (Leersia hexandra) b. Berdasarkan habitat atau tempat hidup

Corak pertumbuhan suatu gulma ditentukan oleh kondisi lingkungan tumbuhnya. Tempat gulma tersebut tumbuh disebut habitat gulma. Berdasarkan tempat hidupnya, maka gulma dapat digolongkan menjadi :

1. Gulma air (Aquatic weeds)

Gulma air adalah gulma yang memiliki sifat sebagian atau seluru siklus hidupnya berada di air. Habitat air dapat berupa rawa, kolam., bendungan, ataupun sawah, contoh gulma air adalah:

 Eceng gondok (Eichornia crassipes)  Kiyangbang (Salvinia molesta)  Azola (Azolla piñata)  Keladi air (Sagitaria pigmaea)  Genjer (Limnocharis flava)  Mata yuyu (Lindernia procombens)

(14)

2. Gulma darat (Terrestrial weeds)

Gulma darat adalah gulma yang seluruh siklus hidupnya berlangsung di daratan, seperti ;

 Alang-alang (Imperata cylindrica)  Kentangan (Borreria alata)  Kuncingan (Mimosa invissa)  Teki (Cyperus rotundus)  Paku kawat (Gleichenia linearis)

3. Gulma menumpang pada tumbuhan lain (Aerial weeds)

Gulma golangan ini bersifat epifit atau parasit dengan cara tumbuhan menempel pada tumbuhan lain. Contoh gulma yang tergolong dalam aerial adalah:

 Tali putri (Cuscuta sp.),  Duduwita (Desmedium sp,).  Benalu

c. Berdasarkan respon gulma terhadap herbisida

Pengolongan gulma menurut kesamaan responya paling banyak digunakan bila dikaitkan dengan upaya pengendalian gulma. Kesamaan respon terhadap herbisida adalah sifatatau gejala umum yang ditunjukan gulma apabila dikenai suatu jenis herbisida. Berdasarkan respon gulma terhadap herbisida tersebut, maka gulma dapat digolongkan menjadi;

1. Gulma rerumputan (grasses)

(15)

gulma berdaun sempit untuk gulma golongan rerumputan ini. Contoh gulma rerumputan;

 Alang-alang (Imperata cylindrica)  Rumput pait (Paspalium conjugatum)  Genjoran (Digitaria adscendens)  Rumput merak (Themeda arguens) 2. Gulma golongan tekian

Semua jenis gulma yang termasuk dalam family cyperaceae adalah gulma golongan tekian. Gulma yang memiliki ciri utama letak daun berjejal pada pangkal bantang, bentuk daun seperti pita, tangkai batangtidak beruas dan berbentuk silindris, segi empat, atau silindris

Contoh gulma yang termasuk dalam golongan teki-tekian adalah;  Teki (Cyperus rotundus)

 Wudelan (Cyperus kyllingia)  Babawangan (Scirpus juncoides)  Jembungan (Cyperus difformis) 3. Gulma berdaun lebar

Anggota gulma berdaun lebar paling banyak dijumpai dilapangan dan paling banyak jenisnya. Ciri-ciri yang dimiliki gulma tersebut juga sangat beragam tergantung pada familinya. Sebagai gambaran umum, bentuk daun gulma ini adalah lonjong, bulat, menjari atau berbentuk hati.

(16)

Contoh gulma berdaun lebar adalah;  Wedusan (Ageratum conyzoides)  Sembung rambat (Mikania micrantha)  Kentangan (Borirea alata)

 Gewor (Commelina benghalensis)  Pakis kadal (Cyclosorus aridus)

 Paku harupat (Nephrolepis biserrata schott)

Menurut Djafaruddin (1996), gulma dapat digolongkan dalam beberapa golongan menjadi beberapa pengolongan. Berikut pengolongan dari gulma yaitu; 1. Secara botani dan morfologinya

Menurut botani dan morfologi gulma dibedakan menjadi 4 yaitu;  Kelompok gulma rumput rumputan (Greminiae)

 Klompok gulma keluarga teki-tekian (Cyperaceae)  Klompok gulma berdaun lebar

 Klompok gulma keluarga paku-pakuan (filicinae)

Menurut Lubis (2008), gulma dapat diklasifikasikan berdasarkan kerugian yang di timbulkan dan tindakan diperkebunan. Klasifikasi tersebut disajikan pada Table 1.

(17)

Tabel 1. Klasifikasi Gulma Dan Tindakan Pengendalian Dikebun Kelapa Sawit.

E. Cara Gulma Merusak

Menurut Djafarudin (1996), peristiwa gulma atau mengangu tanaman budidaya perkebunan yaitu;

a. Persaingan dalam penyerapan hara didalam tanah. b. Persaingan dalam penyerapan air didalam tanah.

c. persaingan dalam memanfaatkan cahaya matahari dari udara atau bagian diatas tanah.

d. Persaingan dalam ruang tempat tumbuhnya, baik untuk bagian diatas tanah atau akar

e. Ada diantara jenis gulma itu mengeluarkan zat yang bersifat racun dari akarnya yang disebut alleopati, serta dapat pula menghambat pertumbuhan tanaman. Tindakan dilakukan Nama botani (nama local) Kerugian yang ditimbulkan 1. Pemberantasan menyeluruh I.cylindrica (lalang) Mikania sp. (S. rambat) Mimosa sp. (kucingan Pesaing/ alleopati Pesaing/ alleopati Penghambat. 2. Pemberantasan pengendalian menyeluruh Melastoma sp. (senduduk) Lantana cemara (tembelekan) Charomolaena ordorata (babanjaran)

Brachiaria nutica (sukat kelanjang) Clidemia hirta (harendong)

Stachytarpeta indicate Colocasia sp. (keladi) Pesaing Pesaing pesaing pesaing pesaing pesaing pesaing 3. Pemberantasan dipiringanjalan pikul

Cyclosorus aridus (pakis kadal) Nephhrolrpis biserata (paku harupat)

Ottochloa nodosa (r. sarang buaya)

Pesaing Pesaing Pesaing 4. Pemberantasan dipiringan Axonopus sp. (paitan) Elusina indica (r. belulang)

paspalium sp. (paitan)

(18)

f. Adanya ganguan lain, baik secara langsung, maupun tidak langsung antara lain;

1) Tempat bersarangnya atau inang dari penyebab hama atau penyakit dari tanaman

2) Tempat perkembangbiakan hama dan penyakit untuk sementara yang kelak menyerang tanaman budidaya kita.

3) Mencemari biji atau benih tanaman budidraya kita. g. Dapat menimbukan keracunan pada ternak yang memakanya

h. Dapat meracuni ikan yang hidup didalam air yang ditumbuhi oleh gulma tersebut

i. Dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas produksi j. Dapat merusak estetika tempat pertanaaman

k. Dapat mengangu dalam pekerjaan panen l. Dapat mematikan tanaman secara langsung

F. Kerugian yang Dikibatkan oleh Gulma

Mangunsoekarjo (1984), gulma seperti halnya pada penyakit dan hama yang menyerang tanaman perkebunan, menyebabkan penurunan hasil dan penghambat pertumbuhan. Kerugian yang terjadi karena gulma, secara umum disebabkan antara lain;

a. Menekan pertumbuhan dan menurunya hasil akibat persingan tanaman pokok dengan gulma

(19)

c. Menurunkan kualitas hasil

Sembodo (2010), menyatakan bahwa tumbuhan yang berstatus gulma selalu dinilai merugikan manusia. Perlu diingat kembali bahwa batsan gulma yang paling tepat adalah tumbuhan yang merugikan manusia. Kerugian yang disebabkan oleh gulma meliputi

a. Bidang pertanian

1) Gulma akan menurunkan jumlah hasil tanaman. 2) Gulma akan menurunkan mutu dan hasil tanaman. 3) Gulma dapat meracuni tanaman.

4) Gulma deapat menurunkan nilai tanah

5) Gulma dapat merusak atau menghambat pengunaan alat mekanik 6) Gulma dapat menjadi inang dan penyakit tumbuhan

7) Keberadaan gulma akan menambah biyaya produksi b. Dampak social

1) Keberadaan gulma akan menyita waktu petani untuk mengendalikanya

2) Gulma dapat mengurangi nilai keindahan/estetika tanaman c. Dampak lingkungkungan

1) Terjadi pencemaran lingkungan akibat pengunaan herbisida yang terus menerus dan tidak terkendali

2) Gulma invasive akan merusak habitat asli

(20)

4) Hilangnya plasma nutfa atau sumberdaya hayati akibat pemberantasan gulma yang tidak bijaksana

G. Tujuan Pengendalian Gulma

Menurut Hartanto (2011), pengendalian gulma bertujuan untuk menghindari terjadinya persaingan tanaman kelapa sawit dengan gulma dalam pemanfaatan unsur hara, air, dan cahaya. Bila pertumbuhan gulma tidak dikendalikan dengan baik, Maka berbagai macam gulma dapat tumbuh subur dan mengangu atau menyaingi pertumbuhan tanaman pokok. Akibatnya, lahan perkebunan menjadi kotor dan lembab.

Selain itu pengendalian gulma juga bertujuan untuk mempermudah kegiatan panen, dan proses pemupukan.

Menurut Lubis dkk, (2011), pengendalian gulma bertujuan untuk menghindari persaingan antara tanaman kelapa sawit dengan gulma, serta memudahkan pekerjaan pemeliharan lainya. Berikut beberapa akibat yang ditimbulkan jika terjadi keterlambatan dalam pengendalian gulma;

 Pertumbuhan gulma menjadi terhambat  Penurunan kuantitas dan kualitas produksi  Produktivitas kerja menjadi tergangu  Menjadi sarang hama dan penyakit

(21)

H. Metode Pengendalian Gulma

Menurut lubis dkk, (2011), pengendalian gulma dapat berupa pencegahan atau pemberantasan. Mencegah biasanyya lebih muara, tetapi tidak selalu lebih mudah. Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan berbagai cara sebagai berikut.

a. Preventif (pencegahan)

Cara ini ditujukan untuk jenis gulma yang sangat merugikan dan belum tumbuh. Spesies gulma asing yang cocok tumbuh di tempat baru dapat menjadi penggangu yang dahsyat (eksplosif). Misalnya kaktus di Australia, eceng gondok di Asia- Afrika. Berikut Beberapa cara pencegahan gulma baru.  Membersihkan bibit dari kontaminasi biji gulma.

 Mencegah penggunaan pupuk kandang yang belum matang.

 Mencegah pengangkutan jarak jauh jeramidan rumput makanan ternak.  Memberantas gulma di pinggir sungai dan saluran-saluran pengairan.  Membersihkan ternak yang akan diangkut.

 Mencegah pengangkutan tanaman berserta tanahnya.

Selain itu, perkembangbiakan gulma dapat dicegah dengan mencabut gulma yang sudah berbuah dan berbunga.

b. Pengendalian gulma secara fisik  Pengelolahan Tanah

Pengolahan tanah mengunakan bantuan alat seperti cangkul, garuk, bajak, traktor dapat membantu dalam pengendalian gulma. Efektivitas alat-alat pengelolahan tanah tergantung pada beberapa faktor, seperti

(22)

siklus hidup, penyebaran akar, topografi tanah, jenis, iklim, jenis tanaman utama, serta umur dan ukuran investasi. Pembabatan atau pemangkasan (mowing) hanya efektif untuk mematikan gulma setahun dan kurang efektif untuk gulma tanaman. Efektivitas pembabatan atau pemangkasan tergantung pada waktu pemangkasan dan internal (ulangan). Pembabatan biasanya dilakukan di perkebunan yang tanaman utamanya berupa pohon yang berada dihalaman, tepi jalan umum, jalan kreta api, dan padang rumput. Pembabatan sebaiknya dilakukuan pada waktu menjelang gulma berbunga atau saat daun gulma sedang tumbuh.

 Penggenangan

Penggenangan efektif untuk gulma tahunan. Caranya dengan menggenangi sedalam 15-25 cm selama 3-8 minggu. Gulma yang digenangi harus terendam. Jika sebagian daunya muncul di atas air, gulma masih mampu untuk hidup.

 Pembakaran

Suhu kritis yang menyebabkan kematian sel adalah 45-55 derajat selsus. Kematian dari sel yang hidup pada suhu tersebut disebabkan oleh koagulasi protoplasmanya.

Pembakaran secara tebatas masih sering dilakukan untuk membersihkan lahan dari sisa-sisa tumbuhan setelah di pangkas, khususnya di lahan-lahan luar pulau jawa. Pembakaran umum nya

(23)

banyak dilakukan ditanah non-pertania, seperti di pingir jalan, pinggir kali, hutan, dan tanah milik industri.

Keuntungan pembakaran untuk pemberantasan gulma dibandingkan dengan pemberantasan secara kimiawi yaitu tidak terdapat efek residu di tanah dan tanaman. Selain itu, golongan insekta, hama, dan penyakit mati akibat pembakaran.

Kelemahan metode pembakaran di antaranya dapat membahayakan bagi lingkungan, mengurangi kandungan mikroorganisme tanah, memperbesar erosi efek untuk manusia untuk di daerahpembakaran berupa asap yang dapat menimbulkan alergi sesak napas.

 Mulsa

Penggunaan mulsa (mulching) bertujuan untuk mencegah agar cahaya matahari tidak sampai ke gulma. Tidak adanya cahaya matahari dapat mematikan gulma akibat tidak mampu berfotosintesis. Bahan yang dapat digunakan untuk mulsa di antaranya jerami, pupuk hijau, sekam, serbuk gergaji, kertas, dan plastik.

c. Pengendalian Gulma dengan Sistem Budi Daya

Metode penggendalian menggunakan system budi daya juga disebut pengendalian secara ekologis karena menggunakan prinsip ekologi, yaitu mengelola lingkungan sedemikian rupa sehinga mendukung dan menguntungkan tananman, tetapi merugikan bagi gulma. Berikut beberapa teknis pengendalian gulma yang menggunakan prinsip ekologi.

(24)

 Teknis Pengendalian

Penggunaan varietas tanaman yang cocok untuk suatu daerah merupakan tindakan yang sangat membantu mengatasi gulma. Penanaman rapat agar tajuk tanaman dapat menutupi ruang-ruang kosong merupakan cara yang efektif untuk menekan gulma.

Pemupukan yang tepat merupakan cara untuk mempercpat pertumbuhan tanaman sehingga mempertinggi daya saing tanaman terhadap gulma. Teknis penanaman yang mendahulukan peberantasan gulma dengan pengelolah tanah atau herbisida. Setelah itu, tanaman kelapa sawit ditanam di tanah bekas gulma.

 Penaungan dengan Tumbuhan penutup (Cover Crops)

Seperti yang telah disebutkan pada bab penanaman kelap sawit, tanaman penutup seperti kacang-kacangan dapat mencegah percambahan dan pertumbuhan guma. Setelah itu, kacang-kacangan dapat membantu tanaman dengan menyediakan nitrogen yang dihasilkanya.

d. Pengendalian Gulma Secara Biologis

Pengendalian gulma secara biologis merupakan metode pengendalian gulma menggunakan organisme lain, seperti insekta, ternak, dan ikan. Pengendalian biologis secara intensif menggunakan insekta atau fungi biasanya hanya ditujukan terdahap suatu spesies gulma asing yang telah menyeba secara luas. Penggunaan organisme tersebut harus melalui proses penelitian yang lama

(25)

Contoh keberhasilan pengendalian biologis mengunakan insekta adalah pengendalian kaktus (Opuntia spp). Menggunakan Cytablastis cactorum di Australia dan pengendalian eceng gondok (Eichhornia crassipes) ternyata dapat dikendalikan secara biologis menggunakan kumbang penggerek Neochetina bruchi dan Neocsecarahetina eichhorniae. Sementara itu, jenis jamur atau fungi yang berpotensi mengendalikan gulma secara biologis ataranya uredo eichhosniae untuk gulmaeceng gondok, Myrothesium roridum untuk gulma kiambang, dan Cerospora sp untuk gulma kayu apu.

e. Pengendalian Gulma secara Kimiawi

Pengendalian gulma secara kimiawi merupakan pengendalian gulma meanggunakan herbisida. Herbisida merpilakukan senyawa kimia yang dapat digunakan untuk mematikan gulma, baik secara selektif maupun non-selektif. Penggunaan herbisida bisa dilakuakan saat pratanam, pratumbuh atau pascatumbuh.

Keuntungan pengendalian gulma secara kimiawi adalah cepat dan efektif, khususnya untuk areal luas. Sementara itu, kerugian menggunakan herbisida di antaranya risiko keracunan tanaman serta adanya efek residu terhadap alam dan lingkungan sekitarnya. Pengendalian gulma secara kimiawi sebaiknya sebagai alternatif pilihan terakhir apabila cara pengendalian gulma lainya tidak berhasil.

f. Pengendalian Gulma secara Terpadu

Pengendalian gulma secara terpadu merupakan pengendalian gulma menggunakan beberapa cara secara bersama dengan tujuan untuk mendapatkan hasil yang optimal. Pasalnya, tidak satu pun teknis pengendalian gulma di atas

(26)

yang mampu mengendalian gulma secara tuntas Untuk dapat mengandalikan gulma secara tuntas biasanya dibutuhkan lebih dari satu metode pengendalian. Pengombinasian metode pengemdalian tergantung pada situasi, kondisi, dan tujuanya. Umumnya, kombinasi metode pengendalian diarahkan agar mendapatkan interaksi yang positif. Misalnya, perpaduan antara pengelolah tanah dan pengguna herbisida, perpaduan jarak tanam dengan penyianga, dan perpaduan pemupukan dengan herbisida.

I. Pengertian dan Klasifikasi Herbisida

Sembodo (2010), herbisida adalah bahan kimia atau kultur hayati yang dapat menghambat pertumbuhan atau mematikan gulma, herbisida mempengaruhi satu atau lebih proses-proses (misalnya proses pembelahan sel, dll) yang sangat diperlukan gulma untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya

Ada lima cara pengelompokan atau pengklasifikasian herbisida, berikut akan diuraikan di bawah ini.

1. Klasifikasi berdasarkan pada perbedaan drajat respon tumbuh-tumbuhan terhadap herbisida

 Herbisida selektif, adalah herbisida yang bersifat lebih beracun untuk tumbuhan tertentu dari pada tumbuhan lainya. Contoh ; 2,4-D, Ametrin  Herbisida non selektif, adalah herbisida yang beracun bagi semua

(27)

2. Klasifikasi berdasarkan pada waktu aplikasi herbisida

 Aplikasi pratanam, yaitu dilakukan sebelum tanaman ditanam, tidak ditentukan oleh keadaan gulmanya.

 Aplikasi pratumbuh, yaitu dilakukan pada permukaan tanah atau air sebelum gulma tumbuh. Contoh ; imazapik.

 Aplikasi pasca tumbuh, yaitu dilakukan setelah gulma tumbuh. Contoh ; paraquat

3. Klasifikasi berdasarkan media atau jalur aplikasi herbisida

 Herbisida yang diaplikasi melalui daun atau tajuk gulma. Contoh ; glifosat.

 Herbisida yang diaplikasi melalui tanah. Contoh ; Diuron. 4. Klasifikasi berdasarkan tipe translokasi herbisida dalam tumbuhan

 Herbisida sistemik, yaitu herbisida yang dialirkan atau di translokasikan dari tempat terjadinya kontak pertama dengan herbisida kebagian lainya, biasanya akan menuju titik tumbuh karna pada bagian tersebut metabolisme pada tumbuhan paling aktif berlangsung. Contoh ; glifosat, sulfosat.

 Herbisida kontak, yaitu herbisida yang mengendalikan gulma dengan cara mematikan bagian gulma yang terkena langsung dengan herbisida karena sifat herbisida ini tidak ditranslokasikan. Contoh ; Oksadiazon 5. Klasifikasi berdasarkan golongan bahan aktif

 Alifatik, yaitu herbisida yang tida memiliki cincin benzene pada rumus bagunanya. Contoh ; TCA, Dalpon

(28)

 Amida, yaituherbisida yang aktif bila diaplikasikan pada permukaan tanah sebagai herbisida pratumbuh. Contoh : Pfopanil

 Bipiridilum, yaitu herbisida yang termaksuk dalam herbisida pasca tumbuh.

(29)

III. METODOLOGI

A. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Afdeling III kebun Dolok Sinumbah PTP Nusantara IV yang berlokasi di Dolok Sinumbah, Provinsi Sumatra Utara, pada bulan Mei sampai dengan Juni 2013.

B. Metode Penelitian

Penelitian dilaksanakan dengan metode analisis deskriftif dengan cara mengetahui jumlah biaya yang dikeluarkan pada kegiatan pengendalian gulma tanaman menghasilkan kelapa sawit.

C. Pelaksanaan Penelitian

Pelaksanaan penelitian dilakukan dengan cara mengamati data yang sudah ada atau tersedia dikebun PTPN IV Dolok Sinumbah, data yang akan diamati dan jenis kegitan yang akan dilakukan yaitu;

 Informasi umum yang meliputi informasi kebun dan curah hujan

 Jenis pekerjaan pengendalian gulma yang dilakukan pada Tanaman Menghasilkan di perkebunan Kelapa sawit.

 Cara kerja pengendalian gulma  Norma kerja

 Rotasi

(30)

Figure

Updating...

References

Related subjects :

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in