OPTIMASI PEMASAKAN PROSES SODA TERBUKA DAN PENGGILINGAN PULP BAMBU BETUNG DAN BAMBU KUNING
Oleh :
Widya Fatriasari, Faizatul Falah, Dede Heri Yuli Yanto, dan Euis Hermiati UPT. BPP Biomaterial LIPI, Cibinong
ABSTRACT
Telah dilakukan penelitian pembuatan pulp bambu betung dan bambu kuning menggunakan proses soda terbuka. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi larutan natrium hidroksida (NaOH) serta pengaruh waktu penggilingan menggunakan beater hollander dan frekuensi penggilingan menggunakan stone refiner terhadap kualitas pulp yang dihasilkan. Penelitian dilakukan dalam dua tahap, yaitu optimasi proses pemasakan dan optimasi proses penggilingan. Pada penelitian tahap pertama, pemasakan serpih bambu betung dan bambu kuning tanpa kulit (250 g berat kering oven/BKO) dilakukan dengan proses soda panas terbuka dengan 3 taraf konsentrasi NaOH yaitu 20%, 25%, dan 30%, dengan perbandingan berat kering bahan (L) dan volume larutan pemasak (W) = 1 : 10, dan suhu pemasakan 1000C yang
dipertahankan selama 2 jam. Serpih bambu yang telah dimasak kemudian digiling dengan beater Hollander selama 45 menit dan stone refiner satu kali. Parameter yang diuji meliputi rendemen pulp, bilangan kappa (TAPPI 236 cm-85) dan derajat freeness. Hasil penelitian menunjukkan secara umum peningkatan konsentrasi NaOH cenderung menurunkan nilai bilangan kappa, rendemen dan lignin klason, sedangkan freenessnya justru cenderung meningkat. Hasil analisa keragaman menunjukkan bahwa konsentrasi NaOH hanya berpengaruh nyata terhadap rendemen pulp. Konsentrasi NaOH 20% sudah cukup optimal digunakan dalam proses pembuatan pulp bambu betung dan bambu kuning, karena pada konsentrasi ini nilai rendemen pulp kedua jenis bambu tertinggi, derajat
freenessnya terendah meskipun bilangan kappanya relatif masih cukup tinggi. Pada
penelitian selanjutnya, yaitu optimasi proses penggilingan, serpih segar bambu betung dan bambu kuning tanpa kulit dimasak dengan proses soda panas terbuka dengan konsentrasi NaOH 20%, perbandingan L dan W= 1: 10, suhu 1000C yang dipertahankan 2
jam. Serpih kemudian digiling dengan beater Hollander selama 60, 75, 90, dan 105 menit, dan digiling dengan stone refiner 1x, 2x, dan 3x. Pengujian meliputi rendemen dan derajat kehalusan serat (degree of freeness). Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum bertambahnya waktu penggilingan beater hollander dan bertambahnya frekuensi penggilingan stone refiner cenderung menyebabkan terjadinya penurunan rendemen pulp. Perlakuan penggilingan beater Hollander 90 menit dan stone refiner 1 kali cukup optimal untuk mendapatkan freeness yang relatif rendah dibandingkan dengan kombinasi perlakuan lain.
Kata Kunci: optimasi, konsentrasi NaOH, pulp, bambu betung, bambu kuning, rendemen, bilangan kappa, freeness, penggilingan, beater Hollander, stone refiner
I. PENDAHULUAN
Pulp merupakan bahan berserat yang diperoleh dari hasil pengolahan bahan berlignoselulosa dengan cara mekanis, kimia ataupun semi kimia yang digunakan sebagai bahan dasar kertas, karton, papan serat, rayon serta turunan selulosa lainnya. Kualitas
pulp tergantung dari bahan baku yang digunakan dan cara pembuatannya (Pasaribu dan Roliadi, 1989). Salah satu cara atau metoda pembuatan pulp yang sederhana adalah dengan proses soda panas terbuka.
Pemasakan serpih dalam larutan soda panas terbuka merupakan proses semi kimia. Proses ini menggabungkan kebaikan hasil proses mekanis dan sebagian dari proses kimia yang berkualitas tinggi. Serpih bambu direndam dalam cairan kimia pemasak, kemudian serpih lunak dimasukkan dalam mesin penghalus mekanis untuk memisahkan serat-serat penyusunnya. Fungsi cairan pemasak ini adalah untuk merombak sebagian ikatan lignin (Haygreen dan Bowyer, 1989).
Dalam proses pemasakan serpih ini ada beberapa faktor pemasakan yang berpengaruh terhadap hasil akhir pulp antara lain keseragaman ukuran serpih, waktu pemasakan, suhu pemasakan, perbandingan antara berat serpih dan larutan pemasak serta konsentrasi bahan kimia pemasak. Keseragaman ukuran serpih (terutama tebalnya) berkaitan dengan laju penetrasi bahan kimia pemasak dalam serpih dalam waktu yang sama. Waktu pemasakan berhubungan dengan kemampuan bahan kimia pemasak untuk terpenetrasi sempurna dalam serpih sehingga mampu mendegradasi lignin dalam dinding sel. Lignin yang ada dalam bahan tidak seluruhnya dapat didegradasi dan dilarutkan melalui proses pemasakan. Sebagian tetap tinggal dalam pulp (Brown et al., 1952). Sisa lignin dalam pulp ini mempunyai pengaruh yang kurang baik terhadap sifat fisik pulp akibat terhambatnya aktivitas selulosa dan hemiselulosa dalam pembentukan ikatan antar serat. Selain itu lignin menyulitkan dalam proses penggilinggan karena bersifat hidrofobik dan kaku. Disamping itu, banyaknya lignin mempengaruhi konsumsi bahan kimia pemasak (Casey, 1980 dalam Fatriasari 2001). Suhu pemasakan berkaitan dengan kondisi ideal untuk mempermudah delignifikasi lignin dengan cairan pemasak. Suhu pemasakan maksimum 1000C dipertahankan selama 2 jam (Siagian, 1987). Perbandingan antara
berat serpih kering oven (L) dan berat larutan pemasak (W), perlu diketahui untuk mendapatkan kondisi minimal dimana serpih terendam sempurna dalam larutan pemasak sehingga bahan kimia pemasak mampu bereaksi sama dalam mendegradasi lignin. Konsentrasi bahan kimia pemasak berpengaruh pada energi yang dibutuhkan pada saat penggilingan dan ukuran serat yang dihasilkan. Peningkatan penggunaan bahan kimia akan menurunkan scattering coefficient dan opasitas, menurunkan rendemen dan tingkat kecerahan (Kurdin, 1980 dalam Massijaya, 1992). Penurunan rendemen dan kekuatan pulp disebabkan oleh laju penyerangan selulosa yang lebih tinggi dibandingkan dengan laju delignifikasi pada pemisahan serat.
Dari ke lima faktor di atas, konsentrasi bahan kimia pemasak merupakan salah satu faktor yang dirasa paling berpengaruh terhadap kualitas pulp, biaya produksi, konsumsi energi dan proses daur ulang limbah. Oleh karena itu, pada penelitian ini akan dipelajari pengaruh tingkat konsentrasi bahan kimia pemasak (NaOH) terhadap rendemen dan kualitas (bilangan kappa dan derajat freeness) pulp bambu betung dan bambu kuning sehingga dapat diperoleh informasi konsentrasi optimum NaOH untuk pemasakan pulp kedua jenis bambu ini.
Dalam pembuatan pulp semi-kimia perlakuan mekanis yaitu fibrilasi serat memegang peranan yang cukup penting pada kualitas pulp yang dihasilkan sesuai dengan tujuan penggunaannya. Tujuan utama perlakuan mekanis ini adalah untuk memisahkan serat dari serpih yang lunak menjadi serat individu (MacDonald dan Franklin, 1969 dalam Wardoyo, 2001). Perlakuan mekanis ini dapat menambah luas areal tenun serat satu dengan lainnya melalui ikatan hidrogen dan proses penggilingan yang baik
mekanis yang dilakukan dengan cara penggilingan mengakibatkan terjadinya pemendekan serat, terbentuknya fines, fibrilisasi dan delaminasi serat sehingga faktor ketajaman permukaan alat penggiling, konsistensi pulp, suhu penggilingan dan pH pulp yang digiling harus diperhatikan (Casey, 1960 ;Biermann, 1993; Scott dan Abbott, 1995
dalam Wistara, 2000). Dengan demikian, penggilingan mengakibatkan terjadinya
perubahan fisik dalam struktur sifat koloid serat-serat pulp, namun hanya mengakibatkan sedikit terjadinya perubahan kimia dalam bentuk peningkatan reaktifitas permukaan dan bertambahnya luas permukaan serat. Perubahan kondisi akibat penggilingan dilakukan dengan cara mengukur derajat freenessnya, yaitu laju suspensi larutan pulp melepaskan air atau kemampuan pulp memegang air (Wistara, 2000).
Pada proses penggilingan ini ada 2 alat yang berperan yaitu beater Hollander dan
stone refiner. Hasil penelian sebelumnya yang dilakukan oleh Fitria, et al.(2006)
menunjukkan bahwa penggilingan dengan beater Hollander selama 45 menit dan stone
refiner 1 x menghasilkan pulp bambu betung dan bambu kuning dengan derajat kehalusan
serat 783.56 - 791.33 ml CSF (Canadian Standarad of Freeness). Adapun untuk pembuatan kertas diperlukan kehalusan serat 300 ml CSF. Oleh karena itu, melalui penelitian ini juga ingin diketahui pengaruh waktu penggilingan menggunakan beater
Hollander dan frekuensi penggilingan menggunakan stone refiner terhadap derajat
rendemen dan derajat kehalusan serat pulp bambu, agar dapat ditentukan kombinasi perlakuan penggilingan yang optimal.
II. METODOLOGI Bahan
Sesuai dengan hasil penelitian sebelumnya (Fatriasari dan Hermiati, 2006), bahan baku yang digunakan adalah bambu kuning (Bambusa vulgaris Schard var. Vitata) dan bambu betung (Dendrocalamus asper (Schult.f.) Backer ex Heyne) yang berumur kurang lebih 2 tahun dari Nanggewer, Cibinong, Bogor. Bahan kimia yang digunakan adalah natrium hidroksida (NaOH) teknis.
Metoda
Bambu betung dan kuning segar dikuliti kemudian dibuat menjadi serpih berukuran 1.6 cm menggunakan drum chipper dan hammermill. Untuk mencegah pertumbuhan mikroorganisme kontaminan, serpih bambu ini disimpan dalam lemari pendingin hingga siap digunakan. Sehari sebelum digunakan, bambu dikeluarkan dari lemari pendingin dan dibiarkan sampai mencapai suhu ruang. Selanjutnya sebanyak 250 g (BKO) serpih bambu dikukus selama 30 menit untuk mengurangi kontaminasi jamur dan melunakkan serpih bambu sehingga memudahkan penetrasi larutan alkali ke dalam serpih bambu. Setelah itu serpih bambu dimasak menggunakan proses soda panas terbuka dengan 3 taraf konsentrasi NaOH (20%, 25%, dan 30% terhadap BKO bambu), perbandingan berat serpih (L) dan volume larutan pemasak (W) 1:10 dan lama pemasakan 2 jam pada suhu 100oC. Serpih bambu kemudian dicuci sampai bebas alkali
dan serpih lunak selanjutnya digiling selama 45 menit dengan beater Hollander (berdasarkan penelitian sebelumnya (Fitria, et al, 2006.) dilanjutkan dengan stone refiner 1 kali. Masing-masing perlakuan dilakukan 3 kali ulangan. Pulp hasil penggilingan tersebut dihitung rendemennya, diukur derajat kehalusan seratnya dengan freeness tester dan ditentukan bilangan kappanya (TAPPI 236 cm-85).
Setelah mendapatkan konsentrasi pemasakan bambu betung dan bambu kuning yang optimal maka dilakukan variasi waktu penggilingan menggunakan beater Hollander (60, 75, 90 dan 105 menit) dan penggilingan menggunakan stone refiner (1, 2 dan 3 kali), masing-masing dengan 3 kali ulangan. Pulp yang diperoleh ditentukan rendemen dan derajat kehalusan seratnya.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Optimasi pemasakan
Rendemen
Rendemen mencerminkan jumlah pulp yang dihasilkan dari bahan baku yang dimasak. Besarnya rendemen yang diperoleh dapat dijadikan sebagai salah satu kriteria dalam menentukan efektifitas proses pulping yang dilakukan. Semakin efektif proses, semakin tinggi nilai rendemen.
Nilai rendemen rata-rata untuk 3 taraf konsentrasi yang dicobakan berkisar 51.00-65.67%. Hasil ini relatif lebih rendah daripada rendemen pulp pengolahan secara semi kimia yang biasanya berkisar 75-85%. Tabel 1 menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi NaOH cenderung menurunkan rendemen baik pada bambu betung maupun pada bambu kuning. Hasil uji keragaman menunjukkan bahwa jenis bambu dan konsentrasi NaOH berpengaruh nyata terhadap rendemen pada taraf nyata 10%. Hasil uji pembedaan menunjukkan bahwa rendemen yang dihasilkan dari pemasakan dengan konsentrasi NaOH 20% berbeda nyata dengan yang dihasilkan dari konsentrasi 25% dan 30% Hal ini karena adanya peningkatan jumlah NaOH yang berpenetrasi dalam serpih sehingga semakin banyak fraksi rantai selulosa yang terdegradasi terutama pada bagian amorf yang mudah terjangkau oleh pereaksi kimia atau pada selulosa yang berderajat polimerasi rendah, serta semakin banyak hemiselulosa yang terlarut. Selain itu, hal tersebut juga dipengaruhi oleh proses penggilingan yang tidak optimum sehingga banyak serat yang patah.
Pada dasarnya penggunaan NaOH sebagai larutan pemasak adalah untuk melunakkan lignin sehingga memudahkan dalam pemisahan serat. Tetapi pada proses pelunakkan lignin, sebagian lignin, hemiselulosa maupun selulosa ikut terlarut sehingga berpengaruh terhadap rendemen yang dihasilkan. Hal ini sesuai dengan pendapat Sjostrom (1981) yang menyatakan bahwa bersamaan dengan pelunakan lignin maka sedikit banyak karbohidrat ikut larut dalam bahan kimia pemasak.
Bilangan Kappa
Bilangan kappa menunjukkan tingkat kematangan dan daya terputihkan atau derajat delignifikasi pulp. Bilangan ini dapat dijadikan sebagai alat untuk membandingkan kadar lignin antar perlakuan. Pulp dengan derajat kematangan yang baik akan memberikan nilai bilangan kappa yang rendah dalam pengujiannya.
Tabel 1 menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi NaOH cenderung menurunkan bilangan kappa kecuali pada pulp bambu betung konsentrasi NaOH 25%. Hal ini berarti semakin banyak lignin dalam dinding sel serpih bambu yang mampu didegradasi oleh NaOH. Penurunan nilai bilangan kappa ini sekaligus menurunkan lignin klasonnya karena lignin klason merupakan fungsi dari bilangan kappa. Hasil analisa keragaman menunjukkan bahwa jenis bambu, konsentrasi NaOH dan interaksi keduanya tidak berpengaruh nyata terhadap bilangan kappa, pada tingkat kepercayaan 10%.
Derajat Kehalusan Serat (Degree of Freeness)
Derajat freeness pulp adalah jumlah (ml) air yang ditampung melalui saluran samping pada alat freeness tester. Jika air melewati pulp dengan cepat maka sebagian besar air akan melewati saluran samping, sehingga akan memberikan nilai freeness yang tinggi, tetapi jika lembaran pulp menahan air (laju keluarnya air lambat) maka sebagian kecil air akan melewati saluran samping, sehingga nilai freeness pulp yang diperoleh rendah.
Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa secara umum terdapat kecenderungan kenaikan derajat freeness dengan semakin tingginya konsentrasi NaOH pada pulp bambu betung dan bambu kuning kecuali pada konsentrasi NaOH 25% pada bambu kuning. Meskipun demikian, hasil analisa keragaman terhadap degree of freeness menunjukkan bahwa konsentrasi dan jenis bambu serta interaksi keduanya tidak berpengaruh nyata terhadap derajat freeness pada tingkat kepercayaan 10 %. Dalam artiaan bahwa dengan semakin tingginya konsentrasi larutan pemasak, pulp yang dihasilkan cenderung semakin kasar. Peningkatan konsentrasi NaOH diharapkan mampu meningkatkan derajat kehalusan serat melalui peningkatan kemampuan NaOH untuk mendegradasi lignin yang lebih banyak, sehingga serpih lunak semakin mudah difibrilasi pada waktu penggilingan. Akan tetapi, faktor yang lebih menentukan derajat kehalusan serat adalah proses penggilingan/fibrilasi. Derajat freeness yang diperoleh pada penelitian ini masih cukup tinggi, artinya serat masih cukup kasar, sehingga perlu penambahan lama proses penggilingan untuk menurunkan derajat freeness atau meningkatkan kehalusan serat.
Tabel 1. Pengaruh konsentrasi NaOH terhadap rendemen, bilangan kappa, lignin klason dan freeness pulp bambu betung dan bambu kuning
Bambu KonsentrasiNaOH (%) Rendemen(%) Bilangankappa klasonLignin Freeness (ml)
Betung 20 65.67 ± 10.31 82.72 ±10.27 10.75 783.6 ± 7.7 25 56.55 ± 3.80 87.96 ± 4.73 11.43 786.1 ± 3.9 30 57.36 ± 4.41 79.28 ±11.08 10.31 788.7 ± 9.5 Kuning 20 57.38 ± 2.13 83.57 ± 4.32 10.86 785.7 ± 2.9 25 53.63 ± 3.24 80.74 ±13.22 10.50 778.9 ± 10.1 30 51.00 ± 1.50 78.73 ± 1.41 10.23 791.3 ± 6.2 Pemilihan konsentrasi NaOH yang optimal
Pengaruh perbedaan tingkat konsentrasi NaOH terhadap beberapa parameter kualitas pulp kedua jenis bambu yang disajikan pada Tabel 1 menunjukkan bahwa secara umum peningkatan konsentrasi NaOH sebagai bahan kimia pemasak cenderung menurunkan nilai bilangan kappa, rendemen dan lignin klason, dan meningkatkan derajat
freeness. Secara statistika konsentrasi dan jenis bambu hanya berpengaruh nyata
terhadap rendemen, sehingga rendemen merupakan faktor yang paling diperhatikan. Pemakaian konsentrasi NaOH 20% dalam proses pembuatan pulp bambu betung dan kuning tampaknya sudah cukup optimal, karena pada konsentrasi ini nilai rendemen pulp kedua jenis bambu tertinggi, sedangkan derajat freeness-nya terendah. Meskipun pada pemakaian konsentrasi NaOH 20% ini bilangan kappanya relatif cukup tinggi, secara statistika perbedaannya tidak nyata pada tingkat nyata 10%. Oleh karena itu, dengan
waktu fibrilasi yang sama maka pemakaian konsentrasi NaOH 20% dapat dipilih sebagai konsentrasi optimum dalam proses pembuatan pulp bambu.
B. Optimasi Penggilingan Rendemen
Pada Gambar 1 dapat dilihat pengaruh penggilingan menggunakan beater hollander dan stone refiner terhadap rendemen pulp bambu kuning dan bambu betung. Semakin lama waktu penggilingan menggunakan beater hollander, semakin rendah rendemen pulp bambu kuning, namun kecenderungan ini ternyata tidak terjadi pada rendemen pulp bambu betung. Rendemen pulp bambu betung tidak menunjukkan pola hubungan tertentu dengan waktu penggilingan menggunakan beater hollander.
Penggilingan pulp menggunakan stone refiner cenderung menurunkan rendemen pulp, baik yang berasal dari bambu kuning maupun dari bambu betung. Rendemen pulp semakin menurun dengan meningkatnya frekuensi penggilingan menggunakan stone refiner.
Gambar 1. Pengaruh frekuensi penggilingan menggunakan beater Hollander dan stone refiner terhadap rendemen pulp bambu kuning dan bambu betung
Berdasarkan uji keragaman, waktu penggilingan menggunakan beater Hollander, frekuensi stone refiner serta interaksi antara waktu penggilingan menggunakan beater hollander dan jenis bambu berpengaruh nyata terhadap nilai rendemennya pada tingkat nyata 10%. Hasil uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa rendemen pulp yang digiling menggunakan beater Hollander selama 90 dan 105 menit berbeda nyata dengan rendemen pulp yang digiling selama 75 menit. Hasil uji Duncan juga menunjukkan terdapat perbedaan nyata rendemen pulp bambu akibat perbedaan frekuensi penggilingan menggunakan stone refiner.
Derajat Kehalusan Serat (Degree of Freeness)
Dengan meningkatnya waktu penggilingan menggunakan beater Hollander dan meningkatnya frekuensi penggilingan menggunakan stone refiner, diharapkan diperoleh pulp yang lebih halus yang dicerminkan dengan derajat freenessnya. Namun, dari penelitian ini ternyata tidak diperoleh korelasi tersebut. Pengaruh waktu penggilingan menggunakan beater Hollander terhadap derajat freeness pulp hanya terlihat pada pulp
32 37 42 47 52 1 2 3 Bam bu Kuning R e n d e m e n p u lp (% ) 1 2 3 Bam bu Betung 60 menit 75 menit 90 menit 105 menit
dihasilkan (Gambar 2). Dari Gambar 2 juga terlihat bahwa secara umum derajat freeness pulp bambu kuning relatif lebih rendah dari derajat freeness pulp bambu betung.
Hasil uji keragaman menunjukkan bahwa selain faktor interaksi antara waktu beater hollander dan frekuensi stone refiner serta interaksi antara frekuensi stone refiner dan jenis bambu, semua faktor berpengaruh nyata terhadap nilai derajat kehalusan serat pada tingkat nyata 10%. Uji lanjut Duncan menunjukan bahwa derajat freeness pulp yang dihasilkan dari penggilingan menggunakan beater hollander. 90 dan 105 menit berbeda dengan derajat freeness yang dihasilkan dari penggilingan 60 dan 75 menit, sedangkan derajat freeness pulp yang dihasilkan dari penggilingan menggunakan stone refiner 1 kali berbeda nyata dengan derajat freeness yang dihasilkan oleh penggilingan 2 dan 3 kali. Meskipun demikian, secara keseluruhan nilai derajat kehalusan serat dari berbagai kombinasi perlakuan yang diperoleh masih jauh dari yang diharapkan (derajat freeness minimal untuk pembuatan kertas karton adalah 300-400 ml). Jika dibandingkan dengan derajat freeness pulp dengan waktu penggilingan beater hollander 45 menit dan 1 kali stone refiner (Tabel 1), peningkatan waktu penggilingan menggunakan beater hollander dan frekuensi penggilingan menggunakan stone refiner mampu memperbaiki derajat
freeness.
Gambar 2. Pengaruh frekuensi penggilingan menggunakan beater Hollander dan stone refiner terhadap derajat freeness pulp bambu kuning dan bambu betung Pemilihan kondisi optimal
Derajat freeness yang rendah pada pulp bambu kuning diperoleh pada kondisi penggilingan beater hollander 105 menit dan stone refiner 1 kali, sedangkan pada pulp bambu betung pada penggilingan beater hollader 90 menit dan stone refiner 1 kali. Uji lanjut Duncan menunjukan bahwa nilai freeness pada penggilingan 90 dan 105 menit tidak berbeda (dalam grup yang sama), sehingga penggilingan menggunakan beater hollander 90 menit dan stone refiner 1 kali cukup untuk mendapatkan freeness yang relatif rendah dibandingkan dengan kombinasi perlakuan lain. Rendemen pulp bambu kuning dan bambu betung pada kondisi tersebut adalah 44.52% dan 41.84%, sedangkan derajat
freenessnya masing-masing 726.7 ml dan 745.0 ml.
IV. KESIMPULAN
Hasil penelitian menunjukkan secara umum peningkatan konsentrasi NaOH pada proses pemasakan serpih bambu cenderung menurunkan nilai bilangan kappa, rendemen dan lignin klason pulp bambu yang dihasilkan, sedangkan nilai freenessnya justru cenderung meningkat.. Hasil analisa keragaman menunjukkan bahwa konsentrasi NaOH
720 730 740 750 760 770 780 790 1 2 3 Bam bu Kuning D e g re e o f F re e n e s s (m l) 1 2 3 Bam bu Betung 60 menit 75 menit 90 menit 105 menit
hanya berpengaruh nyata terhadap rendemen pulp bambu. Pemakaian konsentrasi NaOH 20% sudah cukup optimal digunakan dalam proses pembuatan pulp bambu betung dan bambu kuning, karena pada konsentrasi ini diperoleh rendemen pulp tertinggi dan derajat
freeness terendah pada kedua jenis bambu, meskipun bilangan kappanya masih cukup
tinggi. Penggilingan menggunakan beater hollander 90 menit dan stone refiner 1 kali cukup untuk mendapatkan freeness yang relatif rendah dibandingkan dengan kombinasi perlakuan lain. Rendemen pulp bambu kuning dan bambu betung pada kondisi tersebut adalah 44.52% dan 41.84%, sedangkan derajat freenessnya masing-masing 726.7 ml dan 745.0 ml.
DAFTAR PUSTAKA
Brown, H.P., A.J. Phanshin dan C.C. Forsaith. 1952. Text Book of Wood Technology Vol 1. John Wiley and Sons. New York.
Fatriasari, W dan E. Hermiati. 2006. Analisis Morfologi Serat dan Sifat Fisis Kimia Beberapa Jenis Bambu Sebagai Bahan Baku Pulp dan Kertas. Prosiding Mapeki IX. Banjarbaru
Fatriasari, W. 2001. Pengaruh Perlakuan Alkali pada Pulp Tandan Kosong Kelapa saawit (Elaeis guineensis Jacq.) Terhadap Morfologi Serat dan Sifat Fisis Mekanis Papan Serat Berkerapatan Sedang (MDF). Fakultas Kehutanan IPB. Bogor
Fitria, R. A.Ermawar., W. Fatriasari, T. Fajriutami, D.H.Y. Yanto, F. Falah dan E. Hermiati. 2006. Biopulping Bambu Menggunakan Jamur Pelapuk Putih. Laporan Teknik Akhir Tahun 2006. UPT BPP Biomaterial LIPI. Cibinong
Haygreen, J.G dan J.L. Bowyer. 1996. Hasil Hutan dan Ilmu Kayu, Suatu Pengatar. Terjemahan. Gajahmada University Press. Hal 598-599
Massijaya, M.Y. 1992. Pengaruh Perlakuan Uap Air Panas (Steam Treatment) pada Pulp kayu Sengon (Paraserianthes falcataria L.Nielsen) dan Akasia (Acacia mangium Willd.,) Terhadap Kualitas Papan Serat Berkerapatan Sedang (MDF). Thesis Ilmu Pengetahuan Kehutanan. Fakultas Pasca Sarjana IPB. Bogor.
Pasaribu, R.A dan H. Roliadi. 1989. Pengolahan Pulp Semi Kimia. Disajikan dalam Alih Ilmu Pengetahuan Teknologi Industri Pulp dan Kertas dan Papan serat. Pusat Litbang Hasil Hutan. Bogor.
Siagian, E.M. 1987. Pengaruh Penambahan Fenol Formaldehida Terhadap Sifat Hardboard Kayu Campuran Berdasarkan Pengelompokan Berat Jenis. Jurnal Penelitain Hasil Hutan Vol 4(2) : 10-15.
Sjostrom, E. 1981. Wood Chemistry: Fundamental and Applications. Academic Press Inc. New York.
Saddler,J.N. 1993. Bioconversion of Forest and Agricultural Plant Residues. Biotechnology in Agriculture No 9.University of British Columbia. Canada. Page 36
Wardoyo, A.2001. Pengaruh Pemakaian Bahan Kimia dalam Pelunakan serpih Terhadap Sifat Pulp Semikimia Acacia mangium Wild. Skripsi Fateta IPB. Bogor.
Wistara, N. 2000. Sifat Penyerapan Air oleh Pulp Akibat Perbedaan Konsistensi Penggilingan dan Pendauran. Jurnal Teknologi Hasil Hutan Vol XII (1). Bogor.