Psikologi Konseling. Psikologi Konseling. Psikologi Psikologi

Teks penuh

(1)

MODUL PERKULIAHAN

MODUL PERKULIAHAN

MODUL PERKULIAHAN

MODUL PERKULIAHAN

Psikologi

Psikologi

Psikologi

Psikologi

Konseling

Konseling

Konseling

Konseling

Psikologi Konseling

Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh

Psikologi Psikologi

0

0

0

05

5

5

5

61033 Agustini, M.Psi., Psikolog

Abstract

Kompetensi

Dalam perkuliahan ini akan

didiskusikan mengenai Ketrampilan Dasar Konseling: Mendengar Aktif

Mampu memahami Ketrampilan Dasar Konseling: Parafrase, membuat

kesimpulan, hal-hal yang harus dihindari dalam mendengar aktif.

(2)

Pendahuluan

Manusia mempunyai cara sendiri dalam memproses informasi melalui indera mereka. Konselor dapat meningkatkan keefektifannya dengan mengingat bahwa daya terima individual berbeda satu sama lain dan bahwa gaya yang digunakan dapat mempengaruhi persepsi dan tingkah laku. Beberapa klien merasakan dunia secara visual, yaitu mereka melihat apa yang terjadi. Sementara lainnya merasakan dengan suara, yaitu mereka mendengarkan dunia di sekitar mereka. Ada juga beberapa yang berorientasi konetis, yaitu mereka merasakan suatu situasi seolah bersentuhan secara fisik dengan situasi tersebut. Dua dari tiga individu merasakan dari aroma atau bau, yaitu mereka menila lingkungan melalui aroma.

Ivey dan Ivey (2007) serta Lazarus (2000) berpendapat bahwa menyelaraskan diri dengan cara mempersepsi dan mempelajari klien penting untuk mendatangkan perubahan, karena banyak klien yang mempunyai lebih dari satu cara untuk memahami dunia. Konselor harus menvariasikan tanggapannya dan memasukkan kata-kata yang menunjukkan bahwa ia memahami dunia klien. Sebagai contoh: konselor dapat mengatakan kepada klien yang menggunakan lebih dari inderanya. ''Saya melihat maksud Anda dan mendengar apa yang Anda risaukan. Saya merasakan bahwa Anda benar-benar kesal''. Pentingnya memberikan tanggapan dalam bahasa klien itu sendiri juga sangat bermanfaat. Konselor perlu membedakan antara cara bicara yang dominan, afektif, perilaku, dan kognitif. Tanggapan afektif berfokus pada perasaan klien, tanggapan perilaku berfokus pada tindakan, dan tanggapan kognitif berfokus pada pola pikir. Jadi konselor yang bekerja dengan individu yang berorientasi afeksi harus memilih kata-kata yang akan diucapkannya dengan tepat. Mengubah persepsi klien membutuhkan tingkat keahlian persuasif yang tinggi dan beberapa arahan dari konselor. Masukan semacam itu dikenal dengan arahan. Istilah tersebut diterapkan oleh Francis Robinson (1950) untuk menggambarkan tingkah laku tertentu yang dilakukan dengan sengaja oleh konselor demi kepentingan klien. Mengarahkan panjangnya bervariasi dan beberapa lebih tepat pada satu tahap konseling dibanding yang lain. Welfel dan Patterson (2005) mendaftarkan sejumlah arahan yang dapat digunakan konselor untuk kliennya. Beberapa di antaranya seperti: diam, menerima, dan mengulangi pernyataan adalah yang paling tepat pada awal proses konseling. Sedangkan lainnya persuasi sifatnya mengarahkan dan lebih tepat digunakan pada tahap pemahaman dan tindakan.

(3)

Mendengarkan Aktif

Dalam konseling yang baik pasti terjadi pembicaraan antara konselor dengan klien. Hal ini terjadi jika konselor memiliki ketrampilan mendengarkan aktif yang merupakan ketrampilan dasar yang harus dimiliki konselor. Mendengarkan aktif (active listening) berbeda dengan mendengarkan (hearing). Mendengarkan aktif merupakan sebuah proses yang komplek yang melibatkan semua panca indera dan bagian-bagian tubuh lainnya secara aktif sehingga pesan yang disampaikan menjadi bermakna. Sedangkan mendengar merupakan respon fisiologis saat menerima stimulus yang berupa suara dengan menggunakan indera pendengaran.

Mendengarkan aktif berarti konselor menaruh minat pada persoalan klien dan peduli dengan apa yang dipikirkan atau dirasakannya. Konselor menganggap klien adalah penting dan berharga tanpa menghakimi atau menilai. Konselor berusaha memahami dan menerima sudut pandang klien, namun tidak berarti konselor menyetujui pendapat klien. Mendengarkan aktif akan membantu konselor dan konseli memahami mengenai permasalahan yang terjadi karena dalam kondisi bermasalah sehingga klien tidak selalu dapat berpikir jernih. Mendengarkan aktif dapat meningkatkan hubungan interpersonal antara konselor dengan klien menjadi lebih rileks, bebas, dan akrab. Mendorong konseli berbicara dengan bebas, meluapkan emosi, menurunkan ketegangan, kemarahan, agresi, frustasi yang dialami dapat tersalurkan. Pada akhirnya akan membuat pikiran klien menjadi lebih jernih sehingga dapat memahami dirinya dan persoalan yang dihadapinya dengan lebih dan realistik.

Dalam mendengar aktif terjadi tiga proses yang berjalan bersamaan (Ivy dan Ivy, 2007):

1. Mengamati yaitu memperhatikan dengan seksama pesan verbal dan nonverbal yang

nampak maupun tersembunyi.

2. Memahami yaitu menganalisa dan menerima apa yang dirasakan dan dialami klien.

3. Menanggapi yaitu memberikan umpan balik secara verbal dan nonverbal dengan tepat

yang menunjukkan konselor mendengarkan dengan baik dan memahami pesan yang

(4)

Ketrampilan mendengarkan aktif yang dibutuhkan oleh seorang konselor sebagai berikut:

a. Mendengar dengan Jelas

Penting bagi konselor untuk mendengarkan. Kesulitan utama medengarkan jika konselor berpikir tentang apa yang dikatakan klien sehingga konselor tidak akan mengetahui dengan tepat apa yang dikatakan klien. Penting bagi konselor untuk mendengarkan tanpa menilai atau menghakimi apa yang dikatakan klien dan tanpa berusaha mengoreksi apa yang dipikirkan klien.

b. Refleksi

Ketika klien berbicara kepada konselor, merefleksikan adalah menyimpulkan dan mengulang secara sederhana apa yang dipikirkan dan dirasakan klien. Refleksi membantu menjernihkan masalah yang timbul pada kedua belah pihak. Jika konselor salah mengartikan terhadap permasalahan klien, maka klien dapat mengoreksi konselor. Jika konselor mengulangi pikiran dan perasaan klien, konselor harus menggunakan pernyataan bukan pertanyaan.

Berikut Beberapa ketrampilan dasar dalam proses Konseling (Ivy, 2007):

1. Parafrase

Tanggapan konselor dengan menyatakan kembali isi dari pernyataan konseli yang terakhir. Parafrase memusatkan perhatian pada isi tentang kejadian, esesnsi kalimat yang digunakan atau kata-kata terakhir klien. Kadang-kadang cukup mengulang kata-kata yang sama digunakan klien tetapi dengan sejumlah perkataan yang lebih sedikit.

2. Memberi Pertanyaan Terbuka

Jangan memberi pertanyaan tertutup yang dapat dijawab ''ya'' atau ''tidak''. Gunakan pertanyaan yang membuat klien menggali alasan-alasannya berpikir, berperasaan, atau bertindak. Jangan menggunakan pertanyaan ''Mengapa''. Klien tidak akan mengerti karena jika ia tahu alasannya tentu tidak akan melakukan hal itu. Dengan bertanya ''Mengapa'', klien akan membela diri dan membuat alasan untuk membenarkan tindakannya. Akan tetapi, jika bertanya ''Apa", konselor berusaha membuat klien memusatkan perhatiannya pada hal-hal yang dilakukannya.

(5)

3. Menggunakan Bahasa Tubuh

Bahasa tubuh konselor pada saat proses konseling tidak menyilangkan kaki dan lengan, duduk agak bersandar ke depan, dan mengadakan kontak mata. Hal ini menunjukkan konselor menaruh minat kepada apa yang dikatakan klien dan menaruh perhatian kepadanya. Jika konselor rileks dan nyaman, maka klien akan merasakan rileks dan nyaman juga.

4. Kontak Mata

Kontak mata yang efektif menunjukkan minat dan keinginan untuk mendengarkan. Hal ini memungkinkan klien menghargai penerimaan konselor terhadap dirinya dan pesan-pesannya. Hal ini juga menunjukkan bahwa klien merasa aman bersama konselor. Kontak mata adalah melihat dengan tatapan mata lembut kepada klien. Kadang-kadang berpindah dari wajah ke bagian tubuh lain klien. Kontak mata yang buruk terjadi apabila konselor berulang-ulang membuang muka, melihat dengan melotot, atau membuang muka ketika klien menatap konselor.

5. Memperhatikan Tanda-Tanda Nonverbal

Perhatikan dengan baik apabila klien merasa tegang, menggerakkan kakinya berulang-ulang, melihat sekeliling ruangan, membuang muka, dan sebagainya. Kadang bahasa nonverbal berbicara lebih lugas apabila dibandingkan dengan pernyataan yang disampaikan oleh klien. Konselor harus memahami klien dengan mengetahui makna yang dirasakannya.

Dalam berbagai kasus, ketrampilan konselor dalam mendengarkan aktif tidak berjalan dengan lancar karena mengalami berbagai hambatan seperti misalnya:

1. Tidak sabar atau kekurangan waktu. Konselor menunjukkan terburu-buru dan tidak

mempunyai waktu bagi klien.

2. Secara dini memberi pendapat tentang pribadi klien dan bagaimana masalah itu dapat

diatasi.

3. Membuat komentar atau penilaian, mengkritik, kurang pemahaman atau insight, dan

(6)

4. Tidak sependapat, berdebat, dan memotong pembicaraan.

5. Memberi nasehat yang menunjukkan bahwa konselor mengetahui jawaban dari

masalah klien.

6. Memberikan kesan bahwa konselor tidak menanggapi masalah klien secara sungguh-

sungguh dengan membuat pernyataan sarkatis atau sinis.

7. Konselor ingin berbicara tentang pengalamannya sendiri daripada mendengarkan.

8. Konselor bersikap pasif, menunjukkan ketidaktertarikan.

9. Ketidakmampuan berkonsentrasi pada permasalahan klien karena sibuk dengan

persoalan sendiri atau tidak memperhatikan permasalahan klien.

10. Situasi lingkungan yang tidak kondusif seperti misalnya: terganggu adanya

kehadiran orang lain atau telepon.

Menurut Ivy dan Ivy (2007), mendengarkan aktif melibatkan empat aspek berikut:

1. Mengerti seseorang. Konselor yang baik akan mendapatkan kesan (impresi) sebagai tahap awal pemahaman tentang klien yang diajak berbicara. Semakin sungguh-sungguh konselor mendengarkan pembicaraan klien, semakin mengerti tentang permasalahan klien.

2. Menikmati percakapan. Keinginan sungguh-sungguh mendengarkan membuat percakapan menjadi menyenangkan, konselor meminimalisir kebosanan dan kejenuhan selama mendengarkan.

3. Belajar sesuatu. Tidak hanya klien yang mendapatkan sesuatu dari proses menceritakan, konselor juga mendapatkan kesempatan untuk belajar dari pengalaman yang dibagikan oleh klien.

4. Memberikan bantuan. Ketika konselor mendengarkan sungguh-sungguh pembicaraan klien, maka akan sangat membantu klien. Bantuan dapat berupa dukungan dan kesediaan konselor untuk mendegarkan cerita klien.

(7)

Parafrase dalam Konseling

Dalam kegiatan konseling, konselor harus memiliki ketrampilan-ketrampilan untuk menggali informasi agar masalah dalam konseling dapat diselesaikan dengan keputusan yang tepat. Salah satu keterampilan itu merupakan parafrase. Konselor harus mempunyai ketrampilan ini karena parafrase merupakan cara efektif untuk menunjukan pemahaman dan membangun kesepakatan. Ini juga dapat digunakan untuk menghentikan klien mengulang ucapannya. Parafrase merupakan kesimpulan dari hal yang telah dikatakan klien kepada konselor yang diutarakan dengan kata-kata sendiri. Parafrase ini dapat menimbulkan hal-hal seperti dibawah ini :

1. Dengan melakukan parafrase, konselor akan menunjukkan bahwa ia telah mendengarkan dengan seksama apa yang dibicarakan oleh klien dan membangun empati dengan klien yang ingin di dengar.

2. Apabila konselor telah mengalami kesalahpaham, akan dikoreksi dengan segera. 3. Hal itu mendorong konselor untuk mendengarkan secara aktif. Konselor akan

tampak tertarik dan klien akan merespons secara positif minat yang tampak jelas. 4. Dengan melakukan parafrase, konselor dapat mengingat informasi yang

disampaikan oleh klien.

Tindakan untuk melakukan parafrase perlu dilakukan dengan hati-hati. Apabila konselor mengulangi apa yang dikatakan klien, maka konselor akan terdengar seperti sebuah mesin otomatis yang tidak tulus. Konselor harus bersikap tulus, menggunakan kata-kata sendiri untuk menyimpulkan yang telah dikatakan klien. Dengan demikian akan menunjukan bahwa konselor telah mendengarkan dengan seksama dan menyimak apa yang telah dikatakan oleh klien. Bagi konselor keterampilan melakukan parafrase ini sangat berguna dalam melakukan konseling terutama konseling individu.

Ketrampilan Membuat Paraprase

Menurut Ivey dan Ivey (2007) parafrase adalah menangkap pesan (paraphrasing) yaitu teknik untuk menyatukan kembali esensi atau inti ungkapan klien dengan teliti, mendengarkan pesan utama klien, dan mengungkapkan kalimat yang mudah dan sederhana. Kathryan Geldard & David Geldard (2011) mengatakan bahwa parafrase merupakan sebuah ketrampilan dasar yang sangat berguna untuk melakukan parafrase, konselor harus menyimak dengan cermat dan kemudian mengulang kembali inti dari

(8)

perkataan klien dengan kata-kata konselor sendiri. Parafrase adalah cara merefleksikan (menegaskan) kembali pada klien yang penting tetapi secara lebih jelas dan menggunakan kata-kata konselor sendiri. Dan parafrase akan berjalan dengan sendirinya mengikuti aliran pemikiran konselor.

Parafrase yang bagus adalah yang tidak mengganggu klien yaitu parafrase yang mengalihkan konsentrasi klien dari persoalan yang sedang diselesaikannya. Yang terpenting disini adalah konselor bisa menjalin hubungan nyata berlandaskan kepercayaan, kepedulian, dan empatik kepada klien. Gladding (2007) menyatakan bahwa parafrase yaitu menyatakan kembali kata-kata atau pikiran-pikiran pokok klien. Dalam parafrase konselor menyatakan ide pokok klien dengan kata-kata sendiri, tidak sekedar menirukan kata-kata yang di ucapakan oleh klien. Konselor hendaknya menggunakan pilihan kata yang tepat sehingga membantu menekankan kata atau ide penting yang di ungkapkan oleh klien.

Memparafrase pada dasarnya menyatakan kembali esensi dari pembicaraan klien, sehingga klien akan lebih terdorong untuk menyatakan makna pembicaraannya, melalui ketermpilan ini klien akan merasa dalam suasana kebersamaan dan pemahaman dengan konselor. Disamping itu, parafrase yang cermat dapat membantu mengarahkan jalannya wawancara serta dapat dipakai sebagai cara untuk melihat kecermatan persepsi konselor. Perlakuan parafrase yang tepat dari konselor akan mendapat persetujuan dari klien. Perlu dicatat bahwa dalam parapfrase ini bukan berarti melakukan analisis ataupun interpretasi terhadap pembicaraan klien, melainkan merupakan upaya untuk memperoleh klarifikasi secara cermat. Berikut beberapa tujuan di gunakannya parafrase yang akan mempengaruhi klien:

1. Menyatakan pada klien bahwa konselor memahami pembicaraan.

2. Mendorong klien untuk mengungkapkan ide atau pikiran-pikirannya.

3. Membantu klien memusatkan pembicaraan pada situasi, kejadian, ide, atau tingkah

laku tertentu.

4. Membantu klien yang membutuhkan kesimpulan.

(9)

Membuat Kesimpulan

Menurut Kathryan dan Geldard (2011) merangkum atau membuat kesimpulan adalah merefleksikan inti dari percakapan. Rangkuman berfungsi mengumpulkan poin-poin penting dari isi pembicaraan serta melibatkan perasaan-perasaan yang telah di utarakan oleh klien. Seringkali klien dalam berbicara kurang sistematis, banyak ide-ide, dan mengungkapkan perasaannya tidak secara jelas, sehingga apabila dibiarkan konselor akan kehilangan fokus pembicaraan, karena konselor sering dituntut untuk dapat meringkaskan pembicaraan klien. Meringkas pembicaraan akan berguna baik bagi konselor maupun bagi klien itu sendiri yaitu timbulnya kejelasan fokus pembicaraan serta membantu dalam menentukan arah wawancara.

Ringkasan dapat dilakukan secara pereodik, dapat pula dilakukan klarifikasi, atau untuk mengakhiri suatu wawancara. Membuat ringkasan atau rangkuman adalah sesuatu yang perlu dilakukan dari waktu ke waktu selama sesi konseling supaya klien dapat mengutarakan gagasan mereka. Ketrampilan meringkas pembicaraan banyak bergantung pada ketrampilan parafrase dan refleksi perasaan. Tujuan dari meringkas adalah supaya klien merasa ada kemampuan dalam mengadakan eksplorasi tentang ide dan perasaan, dan juga menyadari adanya kemajuan dalam belajar dan memecahkan masalah. Bagi konselor meringkas berfungsi sebagai bukti yang efektif tentang ketepatan pengamatan.

(10)

Daftar Pustaka

Gladding, Samuel T. (2014). Counseling: A Comprehensive Profession 7 th

edition.California. Pearson International.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :