pencaharian lain selain bertani, maka mereka akan menanaminya dengan tanaman pangan misalnya ketela pohon atau jagung dan bukan tanaman pohon-pohonan.

Teks penuh

(1)

2 TINJAUAN PUSTAKA

Sistem pengelolaan hutan oleh masyarakat memiliki performansi atau kinerja yang berbeda-beda. Performansi yang dimaksud adalah produktivitas, keberlanjutan, dan keadilan. Pada satu kasus hutannya sangat produktif, sebaliknya pada kasus yang lain kurang produktif. Pada satu kasus, keberadaannya bermanfaat secara adil di antara anggota masyarakat, sebaliknya pada kasus yang lain ketidakadilan dirasakan oleh anggota masyarakat. Menurut Suharjito et al. (2000), performansi tersebut antara lain dipengaruhi oleh :

1. Sistem pengelolaan, yaitu sistem penguasaan dan pengambilan keputusan apakah secara individual atau komunal. Sistem penguasaan dan pengambilan keputusan pengelolaan mempengaruhi responsibilitas terhadap ekonomi pasar dan model ekonomi sosialnya.

2. Orientasi usaha, apakah subsisten atau komersial. Tingkat subsistensi dan komersialisasi merupakan ukuran responsibilitas terhadap ekonomi pasar. 3. Jenis dan keragaman produk yang dikonsumsi atau dipasarkan merupakan

respons terhadap kebutuhan dan pasar yang sekaligus mempengaruhi performansi pengelolaannya.

Balai Pemantapan Kawasan Hutan Wilayah XI dan Multistakeholder Forestry Programme (MFP) (2009) menyatakan bahwa salah satu hal yang menjadi kendala dalam pengembangan hutan rakyat yang berkelanjutan yaitu masyarakat desa sebagian besar tingkat hidupnya subsisten, yaitu memproduksi untuk keperluan sendiri terutama pangan. Luas kepemilikan lahan setiap keluarga umumnya sempit, kurang dari 1,0 ha dan bahkan di beberapa desa kurang dari 0,25 ha. Sudah barang tentu dengan luas lahan milik sekecil itu tidak cukup untuk menghidupi keluarga, apalagi kalau akan ditanami pohon yang hasilnya harus menunggu sampai umur tertentu. Menurut Soedarwono (1976) dalam Balai Pemantapan Kawasan Hutan Wilayah XI dan Multistakeholder Forestry Programme (MFP) (2009), sebuah keluarga tani akan hidup berkecukupan kalau memiliki lahan sawah (tadah hujan) seluas minimal 1 bahu (0,64 ha) dan pekarangan 0,3 ha. Oleh karena itu apabila petani tidak memiliki mata

(2)

pencaharian lain selain bertani, maka mereka akan menanaminya dengan tanaman pangan misalnya ketela pohon atau jagung dan bukan tanaman pohon-pohonan. 2.1 Agroforestry dan Pengusahaannya

Pengertian Agroforestry

Istilah agroforestry banyak dikemukakan berbagai pihak, sampai dengan saat ini belum ada kesatuan pendapat di antara para ahli tentang definisi “agroforestry”. Hampir setiap ahli mengusulkan definisi yang berbeda satu dari yang lain. Salah satu definisi agroforestry yang digunakan oleh lembaga penelitian agroforestry internasional (ICRAF = International Centre for Research in Agroforestry) adalah (Huxley, 1999 dalam Hairiah et al. 2003) :

….. sistem penggunaan lahan yang mengkombinasikan tanaman berkayu (pepohonan, perdu, bambu, rotan dan lainnya) dengan tanaman tidak berkayu atau dapat pula dengan rerumputan (pasture), kadang-kadang ada komponen ternak atau hewan lainnya (lebah, ikan) sehingga terbentuk interaksi ekologis dan ekonomis antara tanaman berkayu dengan komponen lainnya.

Prinsip penting yang harus dipegang adalah: apakah kombinasi suatu bentuk pemanfaatan lahan tersebut memenuhi ciri-ciri dan tujuan agroforestry, yaitu meningkatkan kesejahteraan petani dan konservasi alam? Hal tersebut akan berbeda dengan ciri-ciri dan tujuan kegiatan murni kehutanan/pertanian yang lebih menekankan pada konservasi alam saja atau peningkatan produksi tanaman saja (Hairiah et al. 2003).

Jenis dan Manfaat Agroforestry

Beberapa ciri penting agroforestry yang dikemukakan oleh Lundgren dan Raintree (1982) dalam Hairiah et al. (2003) adalah:

1. Agroforestry biasanya tersusun dari dua jenis tanaman atau lebih (tanaman dan/atau hewan). Paling tidak satu di antaranya tumbuhan berkayu.

2. Siklus sistem agroforestry selalu lebih dari satu tahun.

3. Ada interaksi (ekonomi dan ekologi) antara tanaman berkayu dengan tanaman tidak berkayu.

4. Selalu memiliki dua macam produk atau lebih (multi product), misalnya pakan ternak, kayu bakar, buah-buahan, obat-obatan.

(3)

5. Minimal mempunyai satu fungsi pelayanan jasa (service function), misalnya pelindung angin, penaung, penyubur tanah, peneduh sehingga dijadikan pusat berkumpulnya keluarga/masyarakat.

6. Untuk sistem pertanian masukan rendah di daerah tropis, agroforestry tergantung pada penggunaan dan manipulasi biomassa tanaman terutama dengan mengoptimalkan penggunaan sisa panen.

7. Sistem agroforestry yang paling sederhanapun secara biologis (struktur dan fungsi) maupun ekonomis jauh lebih kompleks dibandingkan sistem budidaya monokultur.

Sebagaimana pemanfaatan lahan lainnya, agroforestry dikembangkan untuk memberi manfaat kepada manusia atau meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Agroforestry diharapkan dapat memecahkan berbagai masalah pengembangan pedesaan dan seringkali sifatnya mendesak. Agroforestry utamanya diharapkan dapat membantu mengoptimalkan hasil suatu bentuk penggunaan lahan secara berkelanjutan guna menjamin dan memperbaiki kebutuhan hidup masyarakat. Sistem berkelanjutan ini dicirikan antara lain oleh tidak adanya penurunan produksi tanaman dari waktu ke waktu dan tidak adanya pencemaran lingkungan. Kondisi tersebut merupakan refleksi dari adanya konservasi sumber daya alam yang optimal oleh sistem penggunaan lahan yang diadopsi.

Agroforestry merupakan salah satu alternatif bentuk penggunaan lahan terdiri dari campuran pepohonan, semak dengan atau tanpa tanaman semusim dan ternak dalam satu bidang lahan. Melihat komposisinya yang beragam, maka agroforestry memiliki fungsi dan peran yang lebih dekat kepada hutan dibandingkan dengan pertanian, perkebunan, lahan kosong atau terlantar. Sampai batas tertentu agroforestry memiliki beberapa fungsi dan peran yang menyerupai hutan baik dalam aspek biofisik, sosial maupun ekonomi. Agroforestry merupakan salah satu sistem penggunaan lahan yang diyakini oleh banyak orang dapat mempertahankan hasil pertanian secara berkelanjutan. Agroforestry memberikan kontribusi yang sangat penting terhadap jasa lingkungan (environmental services) antara lain mempertahankan fungsi hutan dalam mendukung DAS (daerah aliran sungai), mengurangi konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer, dan

(4)

mempertahankan keanekaragaman hayati. Mengingat besarnya peran Agroforestry dalam mempertahankan fungsi DAS dan pengurangan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer melalui penyerapan gas CO2 yang telah ada di atmosfer oleh tanaman dan mengakumulasikannya dalam bentuk biomassa tanaman (Hairiah dan Utami, 2002 dalam Widianto et al. 2003).

Agroforestry dapat dikelompokkan menjadi dua sistem, yaitu sistem agroforestry sederhana dan sistem agroforestry kompleks. Sistem agroforestry sederhana adalah suatu sistem pertanian di mana pepohonan ditanam secara tumpangsari dengan satu atau lebih jenis tanaman semusim. Pepohonan bisa ditanam sebagai pagar mengelilingi petak lahan tanaman pangan, secara acak dalam petak lahan, atau dengan pola lain misalnya berbaris dalam larikan sehingga membentuk lorong/pagar (Hairiah et al. 2003).

Berdasarkan jaraknya terhadap tempat tinggal, sistem agroforestry kompleks dibedakan menjadi dua, yaitu kebun atau pekarangan berbasis pohon (home garden) yang letaknya di sekitar tempat tinggal dan ‘agroforest’, yang biasanya disebut ‘hutan’ yang letaknya jauh dari tempat tinggal. Pekarangan atau kebun adalah sistem bercocok-tanam berbasis pohon yang paling terkenal di Indonesia selama berabad-abad. Kebun yang umum dijumpai di Jawa Barat adalah sistem pekarangan, yang diawali dengan penebangan dan pembakaran hutan atau semak belukar yang kemudian ditanami dengan tanaman semusim selama beberapa tahun (fase kebun). Pada fase kedua, pohon buah-buahan (durian, rambutan, pepaya, pisang) ditanam secara tumpangsari dengan tanaman semusim (fase kebun campuran). Pada fase ketiga, beberapa tanaman asal hutan yang bermanfaat dibiarkan tumbuh sehingga terbentuk pola kombinasi tanaman asli setempat misalnya bambu, pepohonan penghasil kayu lainnya dengan pohon buah-buahan (fase talun). Pada fase ini tanaman semusim yang tumbuh di bawahnya sangat terbatas karena banyaknya naungan. Fase perpaduan berbagai jenis pohon ini sering disebut dengan fase talun. Dengan demikian pembentukan talun memiliki tiga fase yaitu kebun, kebun campuran dan talun.

Agroforest biasanya dibentuk pada lahan bekas hutan alam atau semak belukar yang diawali dengan penebangan dan pembakaran semua tumbuhan. Pembukaan lahan biasanya dilakukan pada musim kemarau. Pada awal musim

(5)

penghujan, lahan ditanami padi gogo yang disisipi tanaman semusim lainnya (jagung, cabe) untuk satu-dua kali panen. Setelah dua kali panen tanaman semusim, intensifikasi penggunaan lahan ditingkatkan dengan menanam pepohonan misalnya karet, damar atau tanaman keras lainnya. Pada periode awal ini, terdapat perpaduan sementara antara tanaman semusim dengan pepohonan. Pada saat pohon sudah dewasa, petani masih bebas memadukan bermacam-macam tanaman tahunan lain yang bermanfaat dari segi ekonomi dan budaya, misalnya penyisipan pohon durian atau duku. Tanaman semusim sudah tidak ada lagi. Tebang pilih akan dilakukan bila tanaman pokok mulai terganggu atau bila pohon terlalu tua sehingga tidak produktif lagi (Hairiah et al. 2003).

Sosial Ekonomi Agroforestry Pengetahuan Lokal Masyarakat

Petani telah mempraktekkan agroforestry selama berabad-abad. Tidak jarang mereka berpedoman bahwa lebih baik menerapkan teknik yang sudah biasa mereka lakukan dibandingkan dengan menerapkan sesuatu yang masih baru (dan dibawa oleh orang luar). Petani akan lebih mudah mengadopsi agroforestry jika mereka terbiasa dengan penggunaan pohon dalam sistem pertanian, dan mengetahui bahwa integrasi pohon ke dalam proses produksi pangan telah sukses dilakukan oleh petani yang lain. Memang, risiko kegagalan akan lebih besar pada petani dengan teknik ilmiah baru daripada dengan teknik tradisional. Jadi inovasi penyesuaian terhadap teknik tradisional akan mengurangi risiko kegagalan agroforestry (Suharjito et al. 2003).

Pengetahuan lokal merupakan konsep yang lebih luas yang merujuk pada pengetahuan yang dimiliki oleh sekelompok orang yang hidup di wilayah tertentu untuk jangka waktu yang lama. Pengetahuan lokal suatu masyarakat petani yang hidup di lingkungan wilayah yang spesifik biasanya diperoleh berdasarkan pengalaman yang diwariskan secara turun-temurun. Adakalanya suatu teknologi yang dikembangkan di tempat lain dapat diselaraskan dengan kondisi lingkungannya sehingga menjadi bagian integral sistem bertani mereka. Karenanya teknologi eksternal ini akan menjadi bagian dari teknologi lokal mereka sebagaimana layaknya teknologi yang mereka kembangkan sendiri. Pengetahuan praktis petani tentang ekosistem lokal, tentang sumberdaya alam dan

(6)

bagaimana mereka saling berinteraksi, akan tercermin baik di dalam teknik bertani maupun ketrampilan mereka dalam mengelola sumber daya alam (Suyarno et al. 2003).

Pengetahuan lokal merupakan hasil dari proses belajar berdasarkan pemahaman petani sebagai pelaku utama pengelola sumberdaya lokal. Dinamisasi pengetahuan sebagai suatu proses sangat berpengaruh pada corak pengelolaan sumberdaya alam khususnya dalam sistem pertanian lokal (Sunaryo dan Joshi 2003 dalam Hilmanto 2009). Pengetahuan lokal juga dapat sebagai masukan dalam meningkatkan kehidupan petani, baik dari segi ekonomi, ekologi dan sosialnya (Mulyoutami et al. 2004 dalam Hilmanto 2009).

Ekonomi Agroforestry

Menurut Gold dan Garrett (2009) dalam Ranjith et al. (2010), agroforestry adalah pengelolaan lahan yang intensif di mana praktek pohon yang sengaja terintegrasi dengan tanaman, padang rumput, dan/atau dengan hewan untuk lingkungan dan manfaat ekonomi.

Agroforestry berbasis buah dapat berpotensi dikembangkan dari buah-buahan asli yang sekarang banyak ditemukan di alam liar sebanyak sumber buah eksotis. Kontribusi buah-buahan lokal untuk pengurangan kemiskinan dan peran vital dalam mata pencaharian masyarakat semakin banyak mendapat pengakuan yang baik (Garrity 2004; Ndoye et al 2004;. Schreckenberg et al. 2006 dalam Fentahun dan Hager 2010).

Berdasarkan penelitian Prasad et al. (2010), tumpangsari pada tanaman Eucalyptus memberikan keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan hanya tanaman Eucalyptus saja. Tumpangsari tahunan di pohon-pohon kayu dibandingkan dengan kumpulan pohon kayu tunggal menawarkan keuntungan mengurangi biaya pembentukan pohon, peningkatan pendapatan selama fase tidak produktif pohon, efisien pemanfaatan sumberdaya alam, dan pengurangan risiko dari bencana kebakaran (Garrity dan Mercado 1994 dalam Prasad et al. 2010). Couto dan Gomes (1995) dalam Prasad et al. (2010) melaporkan bahwa hasil tumpangsari lebih tinggi dan adanya interaksi yang saling melengkapi dalam sistem Eucalyptus-kacang. Salah satu tumpangsari baris berupa jagung tidak mempengaruhi kelangsungan hidup dan pertumbuhan kayu putih dan

(7)

mengurangi biaya perkebunan dengan 60%. Sistem berbasis Eucalyptus tidak hanya menyediakan pendapatan reguler untuk kelangsungan petani sebelum kayu putih dipanen (4 tahun), tetapi juga pakan untuk ternak.

Budidaya tanaman yang berbeda dalam kebun dianggap sebagai strategi petani untuk mendiversifikasikan kebutuhan hidup dan kebutuhan uang tunai mereka. Keberlanjutan sosio-ekonomi dalam pemenuhan subsisten dan tanaman harus dipertimbangkan, seiring dengan penyempurnaan pemenuhan jenis tanaman. Dalam rangka memenuhi kebutuhan makanan dan uang tunai rumah tangga, tanaman pangan terdiri dari karbohidrat, protein, lemak, vitamin, serta tanaman tunai harus cukup terwakili dalam sistem (Abebe et al. 2010).

Menurut Suharjito et al (2003), Sistem agroforestry dapat dikatakan menguntungkan apabila 1) dapat menghasilkan tingkat output yang lebih banyak dengan menggunakan jumlah input yang sama, atau 2) membutuhkan jumlah input yang lebih rendah untuk menghasilkan tingkat output yang sama. Kondisi ini dicapai apabila ada interaksi antar komponen yang saling menguntungkan baik dari segi biofisik, maupun ekonomi. Interaksi biofisik sebenarnya mencerminkan interaksi ekonomi, apabila output fisik per satuan lahan diubah menjadi nilai uang per satuan biaya faktor produksi.

2.2 Kebun Campuran

Kebun campuran bisa diartikan dalam berbagai arti tergantung pada orang yang menerjemahkannya. Kata ‘campuran’ yang terbubuhi di belakang kata ‘kebun’ bisa menjadi berbeda-beda tergantung pada jenis dominan yang terpadu di dalamnya. Secara sederhana, kebun campuran berarti kebun yang ditanami berbagai jenis tanaman dengan minimal satu jenis tanaman berkayu. Beberapa tanaman jenis lain, berupa tanaman tahunan dan atau tanaman setahun yang tumbuh sendiri maupun ditanam, dibiarkan hidup di kebun campuran selama tidak mengganggu tanaman pokok (Martini et al. 2010).

Fithriadi et al. (1997) menyebutkan bahwa tanaman tahunan tumbuh di antara tanaman umur panjang yang belum dewasa. Sifat kebun campuran yang terdiversifikasi juga meningkatkan konservasi tanah dan air. Dalam kebun campuran tanaman-tanaman yang tahan naungan seperti talas menempati ruang di

(8)

bawah satu meter. Ubi kayu merupakan lapisan kedua dari satu sampai dua meter, dan lapisan ketiga ditempati oleh pisang dan pepohonan.

Sistem kebun pekarangan di Pulau Jawa terutama Jawa Barat merupakan contoh pengolahan lahan yang berasal dari daerah tropika, dimana kebun campuran ini dalam bahasa sunda disebut juga dengan talun. Kebun ini memadukan tanaman berkhasiat asal hutan dengan tanaman khas pertanian. Kehadiran dan campur tangan manusia secara terus menerus, membuat kebun itu menjadi sistem yang benar-benar buatan, meskipun tetap bisa ditemukan sifat khas vegetasi hutan (Foresta et al. 2000).

Jika dilihat dan dibandingkan antara kebun campuran dengan kebun monokultur (satu jenis), satu jenis produk pertanian yang dihasilkan kebun campuran umumnya lebih rendah produksinya dari kebun monokultur. Itulah sebabnya kebun campuran biasanya dimiliki oleh petani yang tidak mengandalkan hasil dari satu jenis tanaman saja. Hal ini berbeda dengan kebun monokultur yang lebih banyak dimiliki oleh petani yang sangat mengandalkan hasil yang banyak dari satu jenis tanaman yang memiliki nilai jual tinggi di pasar. Padahal harga komoditas pertanian cukup sering berubah-ubah tergantung pada permintaan dan pasokan di pasar, yang bisa berbeda di waktu dan tempat yang berbeda. Contohnya sewaktu harga karet jatuh pada tahun 2008, petani dengan sistem monokultur mengalami kerugian yang lebih banyak dibandingkan petani dengan sistem kebun campuran yang memiliki produk pertanian lain yang bisa dijual seperti pinang, durian, dan aren (Martini et al. 2010).

Ukuran-ukuran Kelestarian Kebun Campuran

Kelestarian dalam kebun campuran ini identik dengan kelestarian hutan rakyat. Dengan demikian ukuran-ukuran kelestarian yang digunakan adalah ukuran/kriteria pengelolaan hutan lestari yakni mengikuti standar pedoman Lembaga Ekolabel Indonesia dalam Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat Lestari (PHBML).

Pengelolaan hutan berbasis masyarakat (PHBM) lestari diartikan sebagai segala bentuk pengelolaan hutan dan hasil hutan yang dilakukan oleh masyarakat dengan cara-cara tradisional baik dalam bentuk unit komunitas, unit usaha berbasis komunitas (koperasi dalam arti luas), maupun individual berskala kesil

(9)

sampai sedang, yang dilakukan secara lestari. Penilaian PHBML dilakukan terhadap seluruh masukan (input), aktivitas (kegiatan), dan keluaran (output) dari suatu praktek PHBM. Penilaian tersebut ditujukan untuk menunjukkan pencapaian kelestarian dari suatu unit manajemen (UM) PHBM. Pencapaian kelestarian praktek PHBM ditentukan oleh seluruh upaya, yaitu masukan, kegiatan, dan keluaran yang mempunyai tingkat kontribusi yang berbeda-beda terhadap pencapaian kelestarian tersebut (LEI 2001).

Pencapaian kelestarian PHBM tersebut dinilai dengan indikator yang dapat diukur secara kuantatif maupun kualitatif. Setiap indikator diukur skala intensitasnya (baik, cukup, jelek). Seluruh nilai indikator akan mencerminkan pencapaian performance kelestarian praktek PHBM. Karena perbedaan kontribusi masing-masing kriteria dan indikator terhadap pencapaian kelestarian praktek PHBM telah dicerminkan pada tipologi PHBM, maka seluruh kriteria dan indikator ditetapkan mempunyai bobot yang sama. Dengan demikian nilai total yang merupakan penjumlahan dari nilai seluruh indikator dapat mencerminkan performansi praktek PHBM yang dinilai (LEI 2001).

2.3 Tataniaga

2.3.1 Pengertian Tataniaga

Definisi tataniaga menurut Kohls, R.L. (1967) adalah keragaan dari semua aktivitas bisnis dalam upaya menyalurkan produk atau jasa mulai dari titik produksi sampai ke tangan konsumen.

Pengertian tataniaga dapat dilihat dengan pendekatan manajerial (aspek pasar) dan aspek ekonomi. Berdasarkan aspek manajerial, tataniaga merupakan analisis perencanaan organisasi, pelaksanaan dan pengendalian pemasaran untuk menentukan kedudukan pasar. Sedangkan berdasarkan aspek ekonomi, tataniaga merupakan distribusi fisik dan aktivitas ekonomi yang memberikan fasilitas-fasilitas untuk bergerak, mengalir dan pertukaran komponen barang dan jasa dari produsen ke konsumen. Selain itu tataniaga merupakan kegiatan produktif karena meningkatkan, menciptakan nilai guna bentuk, waktu, tempat dan kepemilikan. Dengan demikian tataniaga pertanian dapat diartikan sebagai semua bentuk kegiatan dan usaha yang berhubungan dengan perpindahan hak milik dan fisik dari barang-barang hasil pertanian dan kebutuhan usaha pertanian dari tangan

(10)

produsen ke konsumen, termasuk di dalamnya kegiatan-kegiatan tertentu yang menghasilkan perubahan bentuk dari barang untuk mempermudah penyalurannya dan memberikan kepuasan yang lebih tinggi kepada konsumen (Limbong 1985).

Pemasaran adalah suatu proses sosial dan manajerial dengan mana individu-individu dan kelompok-kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui penciptaan dan pertukaran nilai dengan yang lain (Kotler 2008). Menurut Sudiyono (2002), pemasaran dianggap sebagai proses aliran barang yang terjadi dalam pasar. Dalam pemasaran ini barang mengalir dari produsen sampai kepada konsumen akhir yang disertai penambahan guna bentuk melalui proses pengolahan, guna tempat melalui proses pengangkutan dan guna waktu melalui proses penyimpanan.

2.3.2 Lembaga dan Saluran Tataniaga

Hanafiah dan Saefudin (1983), menjelaskan bahwa lembaga tataniaga adalah badan-badan yang menyelenggarakan kegiatan atau fungsi tataniaga dimana barang bergerak dari produsen sampai ke konsumen. Lembaga tataniaga ini bisa termasuk golongan produsen, pedagang perantara, dan lembaga pemberi jasa. Saluran tataniaga merupakan cara yang digunakan untuk menyampaikan produk oleh produsen kepada konsumen. Saluran tataniaga sangat penting terutama untuk melihat tingkat harga pada masing-masing lembaga pertanian dan harga jual produk di pasaran. Panjang pendeknya saluran tataniaga suatu produk pertanian tergantung kepada beberapa faktor yaitu :

1. Jarak dari produsen ke konsumen

Semakin jauh jarak antara produsen dan konsumen akan cenderung menciptakan saluran tataniaga yang panjang dengan aktivitas dan pelaku bisnis yang banyak.

2. Sifat komoditas

Produk yang cepat rusak membutuhkan saluran tataniaga yang relatif pendek agar dapat segera sampai ke konsumen untuk diolah atau dikonsumsi.

3. Skala produksi

Skala produksi yang semakin besar menyebabkan saluran tataniaga akan semakin banyak melibatkan sejumlah lembaga tataniaga. Dengan demikian

(11)

kehadiran pedagang perantara diharapkan dalam penyaluran produk sehingga saluran yang akan dilalui cenderung lebih panjang.

4. Kekuatan modal yang dimiliki

Produsen dengan modal yang besar cenderung memiliki saluran tataniaga yang pendek karena fungsi tataniaga yang dapat dilakukan lebih banyak dibandingkan dengan produsen yang modalnya lemah. Dengan kata lain, pedagang dengan modal yang besar cenderung memperpendek saluran tataniaga.

Lembaga pemasaran adalah badan usaha atau individu yang menyelenggarakan pemasaran, menyalurkan jasa dan komoditi dari produsen kepada konsumen akhir serta mempunyai hubungan dengan badan usaha atau individu lainnya. Lembaga pemasaran ini timbul karena adanya keinginan konsumen untuk memperoleh komoditi yang sesuai dengan waktu, tempat dan bentuk yang diinginkan konsumen. Tugas lembaga pemasaran ini adalah menjalankan fungsi-fungsi pemasaran serta memenuhi keinginan konsumen semaksimal mungkin. Konsumen memberikan balas jasa kepada lembaga pemasaran ini berupa margin pemasaran (Sudiyono 2002).

Menurut penguasaannya terhadap komoditi yang diperjualbelikan lembaga pemasaran dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu: Pertama, lembaga yang tidak memiliki tapi menguasai benda, seperti agen perantara, makelar (broker, selling broker dan buying broker). Kedua, lembaga yang memiliki dan menguasai komoditi-komoditi pertanian yang diperjualbelikan, seperti pedagang pengumpul, tengkulak, eksportir dan importir dan Ketiga, lembaga pemasaran yang tidak memiliki dan menguasai komoditi-komoditi pertanian yang diperjualbelikan, seperti perusahaan-perusahaan penyediaan fasilitas-fasilitas transportasi, asuransi pemasaran dan perusahaan penentu kualitas produk pertanian (surveyor) (Sudiyono 2002).

Lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat dalam proses pemasaran ini lebih lanjut dapat diidentifikasikan sebagai berikut:

1. Tengkulak, yaitu lembaga pemasaran yang secara langsung berhubungan dengan petani, tengkulak ini melakukan transaksi dengan petani baik secara tunai, ijon maupun kontrak pembelian. Pedagang pengumpul, komoditi yang

(12)

dibeli dari tengkulak dan petani biasanya relatif lebih kecil sehingga untuk meningkatkan efisiensi, misalnya dalam pengangkutan, maka harus ada proses konsentrasi (pengumpulan) pembelian komoditi oleh pedagang pengumpul. Jadi pedagang pengumpul ini membeli komoditi pertanian dari tengkulak. 

2. Pedagang besar, untuk meningkatkan efisiensi pelaksanaan fungsi-fungsi pemasaran, maka jumlah komoditi yang ada pada pedagang pengumpul harus dikonsentrasikan lagi oleh lembaga pemasaran yang disebut dengan pedagang besar. Pedagang besar ini selain melakukan proses konsentrasi (pengumpulan) komoditi dari pedagang-pedagang pengumpul, jika melakukan proses distribusi (penyebaran) ke agen penjualan ataupun penggeser. Oleh jarak petani ke pedagang besar cukup jauh dan membutuhkan waktu lama, maka pada saat komoditi sampai di tangan pedagang besar ini sudah melibatkan lembaga pemasaran lainnya, seperti perusahaan pengangkutan, perusahaan pengolahan dan perusahaan asuransi. 

3. Agen penjualan, produk pertanian yang belum ataupun sudah mengalami proses pengolahan di tingkat pedagang besar harus didistribusikan kepada agen penjualan maupun pengecer. Agen penjualan ini biasanya membeli komoditi yang dimiliki pedagang dalam jumlah banyak dengan harga yang relatif murah dibandingkan pengecer. 

4. Pengecer, merupakan lembaga pemasaran yang berhadapan langsung dengan konsumen. Pengecer ini sebenarnya merupakan ujung tombak dari suatu proses produksi yang bersifat komersil, artinya kelanjutan proses produksi yang dilakukan oleh lembaga-lembaga pemasaran sangat tergantung dari aktivitas pengecer dalam menjual produk kepada konsumen. 

2.3.3 Struktur Pasar dan Prilaku Pasar

Struktur pasar (marketing structure) adalah suatu dimensi yang menjelaskan pengambilan keputusan oleh perusahaan atau industri, jumlah perusahaan dalam suatu pasar, distribusi perusahaan menurut berbagai ukuran seperti size atau concentration, deskripsi produk dan diferensiasi produk, syarat-syarat entry dan sebagainya (Limbong 1985). Struktur pasar dicirikan oleh konsentrasi pasar, differensiasi produk, dan kebebasan keluar masuk pasar. Dalam analisis sistem tataniaga, struktur pasar sangat diperlukan karena secara otomatis

(13)

akan dijelaskan bagaimana perilaku penjual dan pembeli yang terlibat (market conduct) dan selanjutnya akan menunjukan keragaan yang terjadi dari struktur dan perilaku pasar (market performance) yang ada dalam sistem tataniaga tersebut.

Hammond dan Dahl (1977), menetapkan empat faktor penentu dari karakteristik struktur pasar, yaitu; Jumlah atau ukuran perusahaan, Kondisi atau keadaan komoditas, Kondisi keluar masuk perusahaan, dan tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh partisipan dalam tataniaga. Berdasarkan strukturnya, pasar digolongkan menjadi dua yaitu pasar bersaing sempurna dan bersaing tidak sempurna. Pasar bersaing sempurna jika terdapat banyak pembeli dan penjual setiap pembeli maupun penjual hanya menguasai sebagian kecil dari barang dan jasa, sehingga tidak dapat mempengaruhi harga pasar (price taker), barang atau jasa homogen serta pembeli dan penjual beban keluar masuk pasar (freedom to entry and to exit). Sedangkan pasar tidak bersaing sempurna dapat dilihat dari dua sisi, yaitu sisi penjual dan pembeli. Dari sisi pembeli terdiri dari pasar monopsoni, oligopsoni, dan sebagainya. Dari sisi penjual terdiri dari pasar persaingan monopolistik, monopoli, oligopoli, dan sebagainya.

Dalam menganalisis efisiensi pemasaran yang dimaksud dengan tingkah laku pasar adalah bagaimana peserta pasar, yaitu produsen, konsumen dan lembaga pemasaran menyesuaikan diri terhadap situasi penjualan dan pembelian yang terjadi. Dalam menganalisis tingkah laku pasar ini, terdapat tiga pihak peserta pasar yang mempunyai kepentingan berbeda. Produsen menghendaki harga yang tinggi, pasar output secara lokal, menghendaki pilihan beberapa pembeli (tidak terjadi struktur monopsonis ataupun oligopsonistik), tersedia waktu dan informasi pasar yang cukup dan adanya kekuatan tawar menawar yang lebih kuat. Lembaga pemasaran menghendaki keuntungan yang maksimal, yaitu selisih marjin pemasaran dengan biaya untuk melaksanakan fungsi-fungsi pemasaran relatif besar. Sedangkan konsumen menghendaki tersedianya produk pertanian sesuai kebutuhan konsumen dengan harga wajar (Sudiyono 2002).

Keragaan pasar adalah hasil keputusan akhir yang diambil dalam hubungannya dengan proses tawar menawar dan persaingan pasar. Dengan demikian, keragaan pasar ini dapat digunakan untuk melihat seberapa jauh pengaruh struktur dan tingkah laku pasar dalam proses pemasaran suatu komoditi

(14)

pertanian. Keragaan pasar ini secara praktis dapat dikatakan dengan melihat beberapa indikator efisiensi pemasaran. Indikator-indikator yang biasanya digunakan untuk menentukan efisiensi pemasaran adalah marjin pemasaran, harga di tingkat konsumen, tersedianya fasilitas fisik pemasaran dan intensitas persaingan pasar (Sudiyono 2002).

2.3.5 Efisiensi Tataniaga

Kohls (1967), menjelaskan bahwa untuk memahami efisiensi tataniaga harus terlebih dahulu memahami tataniaga sebagai suatu aktivitas bisnis yang ditujukan untuk menyampaikan suatu produk kepada konsumen. Output dari aktivitas tataniaga adalah kepuasan konsumen terhadap suatu produk dan jasa, sedangkan input-nya adalah semua sumberdaya usaha yang meliputi tenaga kerja, kapital, dan manajemen yang digunakan perusahaan dalam proses produksi. Sehingga efisiensi tataniaga dapat diartikan sebagai suatu perubahan yang menyebabkan berkurangnya biaya input pada suatu pekerjaan tanpa mengurangi kepuasan konsumen dari keluaran suatu produk atau jasa.

Efisiensi dalam pengertian sederhana merupakan keluaran (output) yang optimum dari penggunaan seperangkat masukan (input). Hanafiah dan Saefudin (1983), menjelaskan bahwa pengertian efisiensi tataniaga akan berbeda tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Pengertian efisiensi tataniaga yang dimaksud oleh pengusaha tentunya akan berbeda dengan yang dimaksudkan oleh konsumen. Perbedaaan ini timbul karena adanya perbedaan kepentingan antara pengusaha dan konsumen. Pengusaha menganggap suatu sistem tataniaga efisiensi apabila penjualan produknya mendatangkan keuntungan yang tinggi baginya, sebaliknya konsumen menganggap sistem tataniaga tersebut efisien apabila konsumen mudah mendapatkan barang yang diinginkan dengan harga rendah. Suatu perubahan yang dapat meningkatkan kepuasan konsumen akan output barang atau jasa menunjukkan suatu perbaikan tingkat efisiensi tataniaga. Sebaliknya suatu perubahan yang dapat mengurangi biaya input tetapi juga mengurangi kepuasan konsumen menunjukkan suatu penurunan tingkat efisiensi tataniaga. Banyak cara yang digunakan untuk meningkatkan efisiensi tataniaga yaitu dengan cara sebagai berikut :

(15)

1. Menghilangkan persaingan yang tidak bermanfaat, 2. Mengurangi jumlah pedagang perantara pada saluran, 3. Membuka metode cooperative,

4. Memberi bantuan kepada konsumen, 5. Standarisasi dan implikasi,

Untuk melihat efisiensi dapat dengan dua konsep yaitu pertama, dengan konsep analisis struktur, perilaku dan keragaan pasar serta konsep kedua yaitu dengan konsep rasio input-output. Penggunaan konsep yang kedua yaitu dengan rasio input-output menghadapi kesulitan dalam pengukuran kepuasan konsumen, sehingga pengukuran tingkat efisiensi tataniaga dilakukan melalui pendekatan lain yaitu melalui efisiensi operasional dan efisiensi harga. Efisiensi operasional menekankan pada keterkaitan harga dalam mengalokasikan komoditas dari produsen ke konsumen akibat perubahan tempat, bentuk dan waktu yang diukur melalui keterpaduan pasar yang terjadi akibat pergerakan komoditas dari satu pasar ke pasar lainnya. Sedangkan efisiensi harga menekankan kepada kemampuan meminimumkan biaya yang dipergunakan untuk menggerakkan komoditas dari produsen ke konsumen atau kemampuan meminimumkan biaya untuk menyelenggarakan fungsi-fungsi tataniaga. Efisiensi harga dapat didekati dengan perhitungan biaya dan marjin tataniaga. Istilah biaya tataniaga yang dimaksud adalah mencakup jumlah pengeluaran yang dikeluarkan oleh pelaku tataniaga untuk pelaksanaan kegiatan pemasaran produk. Biaya tataniaga suatu produk biasanya diukur secara kasar dengan marjin. Pada pengukuran efisiensi ekonomis, marjin tataniaga sering digunakan sebagai alat ukur untuk mengetahui efisiensi dari sistem tataniaga tersebut (Hanafiah dan Saefudin 1983).

2.3.6 Marjin Pemasaran

Marjin adalah suatu istilah yang digunakan untuk menyatakan perbedaan harga yang terjadi pada suatu tingkat yang berbeda dalam sistem tataniaga. Pada suatu perusahaan istilah marjin merupakan uang yang ditentukan secara internal accounting, yang diperlukan untuk menutupi biaya dan laba, dan ini merupakan perbedaan antara harga pembelian dan penjualan (Hanafiah dan Saefudin 1983).

Marjin pemasaran merupakan selisih harga yang dibayar konsumen akhir dan harga yang diterima petani produsen. Dengan menganggap bahwa selama

(16)

proses pemasaran terdapat beberapa lembaga pemasaran yang terlibat dalam aktivitas pemasaran ini, maka dapat dianalisis distribusi marjin pemasaran di antara lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat ini (Sudiyono 2002).

Hammond dan Dahl (1977) mendefinisikan marjin tataniaga sebagai perbedaan harga di tingkat petani (Pf) dengan harga pedagang pengecer (Pr). Marjin tataniaga menjelaskan perbedaan harga dan tidak memuat pernyataan mengenai jumlah produk yang dipasarkan.

Dengan menggunakan definisi pertama yang menyebutkan bahwa marjin pemasaran merupakan perbedaan antara harga yang dibayarkan konsumen dengan harga yang diterima petani, maka lebih lanjut dapat dianalisa sebagai berikut: Harga yang dibayarkan konsumen merupakan harga di tingkat pengecer, yaitu merupakan perpotongan kurva permintaan primer (primary demand curve) dengan kurva penawaran turunan (derived supply curve). Sedangkan harga di tingkat petani merupakan potongan antara kurva permintaan turunan (derived demand curve) dengan kurva penawaran primer (primary supply curve). Permintaan konsumen atas suatu produk di tingkat pengecer disebut permintaan primer. Sedangkan permintaan suatu produk di tingkat petani disebut permintaan turunan, sebab permintaan ini diturunkan dari permintaan konsumen di tingkat pengecer.

Pada analisis pemasaran komoditi pertanian tentu dipertimbangkan pada sisi penawaran dan permintaan ini secara simultas, sehingga terbentuk harga di tingkat pengecer dan harga di tingkat produsen. Dengan demikian marjin pemasaran dapat disusun oleh kurva penawaran permintaan sebagai berikut:

Gambar 3 Kurva penawaran permintaan primer dan turunan serta marjin pemasaran.

(17)

Gambar di atas menginformasikan kurva permintaan primer yang berpotongan dengan kurva penawaran turunan, membentuk harga di tingkat pengecer Pr. Sedang kurva permintaan turunan berpotongan dengan kurva penawaran primer membentuk harga di tingkat petani Pf. Marjin pemasaran sama dengan selisih harga di tingkat pengecer dengan harga di tingkat petani (M = Pr – Pf). Perlu diperhatikan, penentuan marjin pemasaran cara ini harus dipenuhi asumsi bahwa jumlah produk yang ditransaksi di tingkat petani sama dengan jumlah produk yang ditransaksikan di tingkat pengecer, yaitu sebesar Q*.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :