• Tidak ada hasil yang ditemukan

Belajar, Pembelajaran, dan Desain Pembelajaran

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Belajar, Pembelajaran, dan Desain Pembelajaran"

Copied!
44
0
0

Teks penuh

(1)

TPEN4303

Edisi 1

MODUL 01

Belajar, Pembelajaran,

dan Desain

Pembelajaran

Dr. Uwes Anis Chaeruman, M.Pd. Dr. Cecep Kustandi, M.Pd.

(2)

Modul 01

1.1

Belajar, Pembelajaran, dan Desain

Pembelajaran

Kegiatan Belajar 1

Belajar

1.4

Latihan 1.16

Rangkuman 1.17

Tes Formatif 1

1.17

Kegiatan Belajar 2

Pembelajaran

1.20

Latihan 1.28

Rangkuman 1.29

Tes Formatif 2

1.29

Kegiatan Belajar 3

Desain Pembelajaran

1.32

Latihan 1.37

Rangkuman 1.38

Tes Formatif 3

1.38

Kunci Jawaban Tes Formatif 1.41

(3)

odul Belajar, Pembelajaran dan Desain Pembelajaran dibuat untuk memudahkan Anda dalam mengetahui tentang konsep belajar, pembelajaran dan desain pembelajaran itu sendiri. Pemahaman secara konseptual akan digunakan untuk mendesain suatu pelajaran. Secara konseptual modul ini dirancang untuk memfasilitasi Anda agar mampu menganalisis karakteristik konseptual Belajar dan Pembelajaran beserta implikasinya terhadap proses pembelajaran. Secara umum setelah mempelajari modul ini, Anda diharapkan mampu menganalisis karakteristik konseptual dan penerapan konsep belajar dan pembelajaran secara komprehensif.

Setelah mempelajari modul ini, Anda diharapkan dapat menganalisis konsep Belajar, Pembelajaran dan Disain Pembelajaran. Secara lebih terperinci Anda diharapkan dapat:

1. menjelaskan konsep belajar; 2. menjelaskan konsep pembelajaran;

3. menganalisis berbagai konsep desain pembelajaran.

Modul ini akan memfasilitasi Anda dalam proses pembelajaran mandiri. Untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut harus menyelesaikan 3 kegiatan belajar dalam modul ini, sebagai berikut.

1. Belajar 2. Pembelajaran 3. Desain Pembelajaran

Setelah Anda selesai mempelajari materi dari kegiatan belajar, sebaiknya Anda lanjutkan dengan mengerjakan kegiatan Latihan, membaca rangkuman, dan mengerjakan Tes Formatif, dan diakhiri dengan memeriksa tindak lanjut dari proses belajar yang telah Anda lakukan.

Selain itu Anda disarankan untuk melaksanakan kegiatan lainnya seperti: 1. membaca buku literatur tentang belajar, pembelajaran atau berbagai sumber

tentang materi ini;

2. melakukan diskusi dengan rekan terdekat dan nara sumber belajar untuk mendukung penguasaan materi yang memadai;

3. isi materi maupun contoh-contoh yang ada dalam modul hanya sebagai penguatan dalam pemahaman. Anda dianjurkan juga untuk dapat mengembangkan contoh-contoh lain yang relevan sebagai pengayaan dalam memahami isi dan kedalaman materi modul secara keseluruhan.

Selamat Belajar

(4)

Belajar

Kegiatan

Belajar

1

elajar dan Pembelajaran merupakan dua konsep yang saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan. Keduanya merupakan aktivitas utama dalam Pendidikan. Tanpa disadari, kata Belajar dan Pembelajaran sering tumpang tindih dalam penyebutannya. Kata-kata belajar sering kita dengar dan kita ucapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk dapat mengenal belajar dengan lebih mendalam, Kegiatan Belajar 1 pada modul ini akan mempelajari tentang konsep belajar, yang dapat dikembangkan secara mendalam dengan tujuan berikut.

1. Menjelaskan defenisi belajar dari para ahli dengan berbagai referensi sehingga Anda dapat memahami dasar pemikiran konsep belajar tersebut.

2. Menjelaskan hakikat belajar yang merupakan gambaran dari aktivitas-aktivitas belajar dengan berbagai sudut pandang.

3. Menjelaskan prinsip-prinsip belajar yang dapat dipertimbangkan untuk dijadikan pedoman dalam melaksanakan belajar

A. APA YANG DIMAKSUD DENGAN BELAJAR?

Saudara mahasiswa, istilah belajar bukanlah sesuatu hal yang baru. Kita sudah sangat mengenal kata belajar ini bahkan sejak dahulu kala. Mengapa demikian? Karena belajar tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Sejak kita lahir kita sudah mengalami belajar.

B

Tetapi apakah Anda mengetahui makna belajar yang tepat secara konseptual? Apakah pembelajaran juga dimaknakan sama dengan belajar? Berikan pendapat Anda …..

(5)

Kegiatan atau aktivitas belajar terjadi pada semua orang orang tanpa mengenal batasan umur, jenis kelamin, agama dan strata sosial. Belajar dapat diartikan dengan berbagai macam pengertian, tergantung siapa yang mendefinisikannya.

Banyak aktivitas yang disepakati banyak orang termasuk kegiatan belajar, seperti menghafal, mengumpulkan fakta, mengikuti latihan dan sebagainya. Banyak hal yang dilakukan manusia untuk menghasilkan capaian belajar, sehingga para ahli memiliki pemahaman dan definisi yang berbeda tentang konsep belajar.

Berikut beberapa kutipan tentang definisi belajar untuk dipahami.

1. Belajar adalah proses alamiah yang dapat membawa perubahan pada pengetahuan, tindakan dan perilaku seseorang. Belajar bukan sebagai hasil dari pertumbuhan dalam konteks tumbuh kembangnya seseorang (Gagne et. al., 2005).

2. Belajar didefinisikan sebagai perubahan yang relatif menetap dalam kinerja manusia yang diakibatkan oleh pengalaman (Heinich, Molenda dan Russel,1982)

3. Belajar adalah sesuatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme, manusia atau hewan yang disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku organisme tersebut (Hintzman, 1978).

4. Belajar adalah suatu proses bukan produk. Namun, hasil dari proses belajar tersebut akan terlihat dari suatu produk yang dihasilkan (Mayer dalam Ambrose; 2010).

5. Barth (2001) bahwa “learning frequently a social activity. Working in schools is depleting. Working alone in schools is even more depleting. Working and learning together in schools can be replenishing” (Belajar pada dasarnya merupakan aktivitas sosial yang dilakukan secara terus menerus yakni dengan melakukan kerjasama secara terus menerus).

6. Briggs dan Sommefeldt (2002) bahwa “lerning is as a process of acquiring prescribed subject matter” (belajar diartikan sebagai proses memperoleh materi-materi pelajaran).

7. De Corte dalam Knight dan Yorke (2004) bahwa “learning is a constructive, cumulative, self regulated, goal oriented, situated, collaborative, and individually different process of knowledge building and meaningconstruction” (belajar bersifat konstruktif, kumulatif, mandiri, berorientasi tujuan, yang merupakan proses kolaboratif dan masing-masing individu berbeda dalam membangun pengetahuan dan mengkontruksi pemahaman).

8. Kimble dan Garmezy dalam Sims dan Sims (2009) bahwa “learning is defined as a relatively permanent change in an attitude or behavior that accurs as a result of repeated experience” (belajar diartikan sebagai perubahan yang relatif permanen dalam sikap atau perilaku yang terjadi sebagai hasil dari pengalaman berulang.

(6)

9. Wherington dalam Sudjana (1998) menjelaskan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku yang meliputi ketrampilan, kebiasaan, sikap, pengetahuan, pemanahaman dan apresiasi.

10. Dean (2002) yaitu “learning is involves mental activity on the part of the learner in linking new learning with past knowledge and experience” (Belajar melibatkan aktivitas mental peserta didik dalam menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan dan pengalaman yang lalu).

11. Dale (H. Schunk, 2011) “Learning is an enduring change in behavior, or in the capacity to behave in a given fashion, which results from practice or other forms of experience”. Peryataan ini belajar menekanan pada perubahan berperilaku dari hasil praktek atau pengalaman

12. Taylor dan Mackenney (Taylor & MacKenney, 2008) learning is a change in performance through conditions of activity, practice, and experience.

13. Ellington dan Harris (Prawiradilaga, 2012) adalah bahwa belajar perubahan perilaku menetap (permanen) akibat pengalaman dan pembelajaran yang terarah. Peryataan tersebut belajar ditekankan pada adanya perubahan performa melalui aktivitas, prakter dan pengalaman dan pembelajaran.

14. Mayer dalam Richey, Klein dan Tracey (2011) bahwa “learning is relatively permanent change in a persons knowledge or behavior due experience. This definition has three component : 1) the duration of the change is long-term rather than short-term; 2) the locus of the change is content and structure of knowledge in memory or the behavior of the learner; 3) the couse of the change is the learners experience in the environment rather than fatique, motivation. Drugs, physical condition or psychological intervention”. (belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif permanen dalam pengetahuan atau perilaku seseorang karena pengalaman. Definisi ini terdiri dari tiga komponen, yaitu: 1) perubahan yang terjadi dalam waktu yang panjang; 2) fokus perubahan adalah isi dan struktur pengetahuan dalam memori atau perilaku peserta didik; 3) perubahan disebabkan oleh pengalaman dan lingkungan peserta didik.

15. Spector(2009) bahwa: “Learning is fundamentally about change persistent change in a person’s abilities, attitudes, beliefs, knowledge, mental models, and skills (belajar terjadi secara terus-menerus yang akhirnya secara kumulatif membentuk pengetahuan baru yang paling berguna ketika terintegrasi dengan pengetahuan sebelumnya.

16. Mengutip pendapat Schunk (2012), belajar adalah perubahan makna perilaku, atau dalam kapasitas untuk berperilaku dengan cara tertentu, yang hasil dari praktek atau bentuk lain dari pengalaman. Artinya bahwa hasil belajar terjadi karena adanya perubahan kemampuan yang diperoleh dari pengalaman-pengalaman dan sifatnya relatif menetap.

(7)

Bila ditelaah masing-masing rumusan para ahli tentang definisi belajar, dapat dipahami bahwa belajar diartikan tergantung pandangan aktivitas belajar yang dilakukan manusia dan juga perolehan hasil sebagai perubahan dari belajar tersebut.

Berdasarkan beberapa definisi belajar yang telah dikemukakan oleh para ahli,

dapat dirumuskan arti belajar adalah sebagai berikut.

1. Belajar merupakan suatu aktivitas yang dilakukan seseorang dengan sengaja dalam keadaan sadar untuk memperoleh pengetahuan baru (Gagne (2005), Dean (2002), Wherington dalam Sudjana (1998), De Corte dalam Knight dan Yorke dan Mayer dalam Richey dkk (2011).

2. Perubahan karena belajar bersifat menetap (permanen) dan bukan sementara atau akibat pertumbuhan (Heinich, Molenda dan Russel (1982), Kimble dan Garmezy dalam Sims dan Sims (2009),

3. Perubahan perilaku sebagai hasil belajar yang diperoleh akibat dari interaksi dengan lingkungan (Mayer dalam Richey, Klein dan Tracey (2011),

4. Perubahan dalam diri sesorang sifatnya berkesinambungan dan tidak statis, di mana satu perubahan terjadi akan menyebabkan perubahan berikutnya sebagai hasil belajar (Kimble dan Garmezy dalam Sims dan Sims (2009),

5. Belajar ditunjukkan adanya perubahan tingkah laku yang terjadi sebagai akibat dari pengalaman. Perubahan karena pengalaman sifatnya relatif permanen atau menetap. Contoh yang dapat ditunjukkan bila seorang pernah mengalami belajar Bahasa Inggris, maka akan dapat pengalaman bagaimana berbicara dalam Bahasa Inggris, bagaimana menuliskannya ungkapan Bahasa Inggris tersebut.

B. HAKIKAT BELAJAR

Penggunaan kata belajar sudah dikenal luas oleh berbagai kalangan dan lapisan masyarakat. Dalam berkomunikasi umumnya, kata belajar sering digunakan secara sembarangan. Maknanya sekedar dipahami masing-masing pihak yang menggunakan. Misalnya seorang ayah meminta anaknya “Kau belajar dulu sebelum tidur, Nak”, maksudnya mungkin membaca dulu buku pelajaran sebelum tidur.

Belajar dalam arti luas merupakan suatu proses yang memungkinkan timbulnya perubahan perilaku sebagai hasil belajar. Perubahan ini bukan karena kematangan perkembangan dari fungsi-fungsi dalam perkembangan manusia, tetapi karena kegiatan yang disengaja untuk mengubah kemampuan tertentu dan bersifat permanen. Kegiatan belajar terjadi karena adanya interaksi dengan lingkungan di mana manusia dapat menggunakannya.

(8)

Belajar pada setiap orang dapat dilakukan dengan cara berbeda. Ada belajar dengan cara melihat, menemukan dan juga meniru. Melalui belajar seseorang akan mengalami pertumbuhan dan perubahan dalam dirinya baik secara psikis maupun fisik. Secara fisik jika yang dipelajari berkaitan dengan dimensi motorik.

Secara psikis jika yang dipelajari berupa dimensi afeksi. Secara kognitif jika yang dipelajari berupa pengetahuan baru. Jadi pada hakikatnya belajar pada ranah kognitif juga akan bersinggungan dengan ranah afektif dan juga dengan ranah psikomotorik. Ketiga ranah ini saling berhubungan satu sama lainnya.

Belajar diidentikkan dengan proses perubahan, tidak semua perubahan tingkah laku dapat disebut sebagai belajar. Dikutip dalam Eveline dan Hartini ciri-ciri belajar adalah sebagai berikut (Siregar & Nara, 2010).

1. Adanya kemampuan baru atau perubahan dalam aspek pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor) maupun nilai dan sikap (afektif).

2. Perubahan tidak berlangsung sesaat atau bersifat menetap.

3. Perubahan tidak terjadi begitu saja melainkan dengan usaha serta interaksi dengan lingkungan.

4. Perubahan tidak semata-mata disebabkan oleh pertumbuhan fisik, tidak karena kelelahan, penyakit atau pengaruh obat-obatan.

Perubahan terjadi sebagai hasil belajar pada diri manusia banyak sekali, baik sifatnya maupun jenisnya. Akan tetapi tidak semua perubahan tersebut merupakan hasil dari belajar. misalnya seseorang yang kakinya bengkok akibat kecelakaan bukan termasuk perubahan dalam arti belajar. Perubahan yang diharapkan sebagai hasil belajar yaitu:

1. perubahan terjadi secara sadar

Belajar dilakukan dalam keadaan sadar dan seseorang akan merasakan perubahannya. Contohnya kita merasa bahwa pengetahuan kita bertambah setelah belajar tentang cara bercocok tanam, kebiasaan baru kita untuk mencuci tangan selama pandemi Covid-19, dan lain-lain;

(9)

2. perubahan yang bersifat fungsional, artinya perubahan terjadi pada individu itu berlangsung terus menerus, tidak statis dan berkembang menuju kesempurnaan. Kemampuan seseorang dapat menyelesaikan aktivitas hidupnya secara fungsional. Contohnya seperti kemampuan memahami kata-kata, yang digunakan untuk belajar dalam mengenal kalimat dan bahkan dapat menggunakan kalimat untuk mengungkapkan sesuatu. Contoh lain, seseorang bisa mengenal fungsi benda seperti sepeda, bagaimana gerak sepeda agar berjalan, dan akhirnya seseorang dapat menggunakan sepeda dengan baik;

3. perubahan bersifat positif dan aktif, yaitu perubahan yang menjadikan individu menjadi lebih baik, karena adanya usaha individu tersebut. Kegiatan belajar akan berdampak pemilikan suatu pengetahuan baru, kemampuan baru dan pemilikan sikap positif;

4. perubahan yang bukan bersifat sementara, karena perubahan tingkah laku yang terjadi akibat belajar bersifat menetap dan permanen;

5. perubahan yang bertujuan dan terarah, Perubahan bertujuan dan terarah artinya kegiatan belajar harus diusahakan untuk perolehan dan capaian tertentu;

6. perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku, artinya perubahan yang didapatkan itu akan berhubungan erat dengan perubahan yang lain.

Selanjutnya belajar mempunyai beberapa bentuk, menurut Gagne terdapat lima bentuk belajar adalah sebagai berikut.

1. Belajar Respon. Dalam belajar ini, suatu respon dikeluarkan oleh suatu stimulus yang telah dikenal. Jadi, terjadinya proses belajar dikarenakan adanya stimulus. Misalnya Maya bisa menjawab pertanyaan yang diberikan oleh pendidiknya dengan benar. Kemudian pendidik tersebut memberikan senyuman dan pujian kepadanya. Akibatnya Maya semakin giat belajar. Senyum dan pujian pendidik ini merupakan stimulus tak terkondisi. Tindakan pendidik ini menimbulkan perasaan yang menyenangkan pada diri Maya sehingga ia membuat dia lebih giat lagi dalam belajar.

2. Belajar Kontiguitas. Belajar dalam bentuk ini tidak memerlukan hubungan stimulus tak terkondisi dengan respons. Asosiasi dekat (contiguous) sederhana antara stimulus dan respons dapat menghasilkan suatu perubahan dalam perilaku individu. Hal ini disebabkan secara sederhana manusia dapat berubah karena mengalami peristiwa-peristiwa yang berpasangan. Belajar kontiguitas sederhana bisa dilihat jika seseorang memberikan respon atas pertanyaan yang belum lengkap, seperti ”dua kali dua sama dengan?” Maka pasti bisa menjawab ”empat”. Itu adalah contoh asosiasi berdekatan antara stimulus dan respon dalam waktu yang sama.

3. Belajar Operant. Belajar bentuk ini sebagai akibat dari reinforcement, bukan karena adanya stimulus, sebab perilaku yang diinginkan timbul secara spontan ketika organisme beroperasi dengan lingkungannya. Maksudnya perilaku individu dapat ditimbulkan dengan adanya reinforcement segera setelah adanya respon. Respon ini bisa berupa pernyataan, gerakan dan tindakan. Misalnya

(10)

respon menjawab pertanyaan pendidik secara sukarela, maka reinforcer bisa berupa ucapan pendidik “bagus sekali”, “kamu dapat satu poin”, dan sebagainya. 4. Belajar Observasional. Konsep belajar ini memperlihatkan bahwa orang dapat

belajar dengan mengamati orang lain melakukan apa yang akan dipelajari. Misalnya anak kecil belajar makan itu dengan mengamati cara makan yang dilakukan oleh ibunya atau keluarganya.

5. Belajar Kognitif. Bentuk belajar ini memperhatikan proses-proses kognitif selama belajar. Proses semacam itu menyangkut “insight” (berpikir) dan “reasoning” (menggunakan logika deduktif dan induktif). Bentuk belajar ini mengindahkan persepsi peserta didik, insight, kognisi dari hubungan esensial antara unsur-unsur dalam situasi ini. Jadi belajar tidak hanya timbul dari adanya stimulus-respon maupun reinforcement, melainkan melibatkan tindakan mental individu yang sedang belajar.

Dari penjelasan di atas, bisa disimpulkan bahwa Gagne membagi bentuk-bentuk belajar menjadi lima bentuk, yang merupakan inti dari teori belajar, yaitu bentuk responden, kontiguitas, operant, observasional dan kognitif. Respon merupakan belajar yang dibentuk dengan adanya hubungan antara stimulus dengan respon. Kontiguitas sama dengan responden, akan tetapi untuk responden waktunya dilakukan secara bersamaan. Observasional merupakan bentuk belajar yang paling sederhana karena individu hanya mengamati orang lain kemudian meniru perbuatannya. Sedangkan kognitif merupakan bentuk yang tertingggi karena sudah memasuki wilayah insight.

Mendapatkan pengetahuan, keterampilan dan menanamkan sikap mental sebagai upaya dari pencapaian tujuan belajar akan diperoleh hasil dari belajaritu sendiri. Sedangkan tentang Perubahan tingkah laku/sikap pemelajar sebagai hasil belajar lebih banyak dipengaruhi olehlingkunganya.

C. PRINSIP BELAJAR

Prinsip belajar adalah suatu hubungan yang terjadi antara peserta didik dengan pendidik agar peserta didik mendapat motivasi belajar yang berguna bagi dirinya sendiri. Perhatikan prinsip-prinsip belajar berikut beserta penjelasannya.

(11)

Lebih lanjut, prinsip belajar dapat digunakan sebagai landasan berfikir, landasan berpijak, dan sumber motivasi agar proses belajar dan pembelajaran dapat berjalan dengan baik antara pendidik dan peserta didik.

1. Prinsip Kesiapan (Readiness). Proses belajar sangat dipengaruhi oleh kesiapan individu sebagai subyek yang melakukan kegiatan belajar. Kesiapan belajar adalah kondisi fisik psikis (jasmani-mental) individu yang memungkinkan subyek dapat belajar. Berdasarkan prinsip kesiapan ini, dapat dikemukakan beberapa hal yang terkait dengan pembelajaran, yaitu: 1) individu akan dapat belajar dengan baik, apabila tugas yang diberikan kepadanya sesuai dengan kesiapan (kematangan usia, kemampuan, minat, dan latar belakang pengalamannya); 2) kesiapan peserta didik harus dikaji terlebih dahulu untuk mengetahui kemampuannya; 3) jika individu kurang siap untuk belajar, maka akan menghambat proses pengaitan pengetahuan baru ke dalam struktur kognitif yang dimilikinya; 4) kesiapan belajar menentukan taraf kesiapan untuk menerima sesuatu yang baru; 5) bahan serta tugas-tugas belajar akan sangat baik apabila divariasi sesuai dengan faktor kesiapan kognitif, afektif dan psikomotorik. 2. Prinsip Motivasi. (Motivation). Menurut Morgan (1986), motivasi adalah tenaga

pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku ke arah tujuan tertentu. Ada tidaknya motivasi individu dapat diamati dari tingkah lakunya. Apabila peserta didik mempunyai motivasi yang tinggi, maka ia akan: 1) bersungguh-sungguh menunjukkan minat dan perhatiannya yang besar, 2) berusaha keras dan menyediakan waktu yang cukup untuk kegiatan belajar, dan 3) terus bekerja sampai tugas-tugasnya terselesaikan. Berdasarkan sumbernya, motivasi terbagi menjadi dua, yaitu motivasi instrinsik (yang datang dari dalam diri peserta didik) dan motivasi ekstrinsik (yang datang dari lingkungan/luar dirinya).

3. Prinsip Perhatian. Perhatian merupakan strategi kognitif yang mencakup empat keterampilan, yaitu: 1) berorientasi pada suatu masalah, 2) meninjau sepintas isi masalah, 3) memusatkan diri pada aspek-aspek yang relevan, dan 4) mengabaikan stimulus yang tidak relevan. Dalam proses pembelajaran, perhatian merupakan factor yang sangat besar pengaruhnya. Perhatian dapat membuat peserta didik untuk: a) mengarahkan diri pada tugas yang akan diberikan, b) melihat masalah-masalah yang akan diberikan, 3) memilih dan memberikan fokus pada masalah-masalah yang harus diselesaikan, dan 4) mengabaikan hal-hal lain yang tidak relevan. Untuk mempengaruhi perhatian peserta didik, Chield mengajukan beberapa prinsip, yaitu: 1) harus memperhatikan faktor-faktor internal yang mempengaruhi belajar, meliputi minat, kelelahan, karakteristik peserta didik, dan motivasi; 2) memperhatikan faktor-faktor eksternal, meliputi intensitas stimulus, kemenarikan stimulus yang baru, keragamannya dan sebagainya.

(12)

4. Prinsip Persepsi. Persepsi adalah sesuatu yang bersifat kompleks yang menyebabkan orang dapat menerima atau meringkas informasi yang diperoleh dari lingkungannya. Semua proses belajar selalu dimulai dari persepsi. Persepsi dianggap sebagai kegiatan awal struktur kognitif seseorang. Perspesi bersifat relatif, selektif, dan teratur. Oleh karena itu, sejak dini ditanamkan kepada peserta didik memiliki persepsi yang baik dan akurat terhadap apa yang dipelajari, karena hal itu akan mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan kegiatan belajarnya. Agar persepsi berfungsi secara efektif, maka kemampuan untuk mengadakan persepsi tentang sesuatu dijadikan sebagai kebiasaan dalam memulai pembelajaran. Prinsip-prinsip umum yang perlu diperhatikan dalam menggunakan persepsi adalah 1) makin baik persepsi mengenai sesuatu, makin mudah peserta didik belajar mengingat sesuatu tersebut, 2) dalam pembelajaran, perlu dihindari persepsi yang salah karena akan memberikan pengertian yang salah pula pada peserta didik tentang apa yang dipelajari, 3) dalam pembelajaran perlu diupayakan berbagai sumber belajar yang dapat mendekati benda sesungguhnya sehingga peserta didik mempunyai persepsi yang akurat.

5. Prinsip Retensi. Retensi adalah apa yang tertinggal dan dapat diingat kembali setelah individu mempelajari sesuatu. Retensi membuat apa yang dipelajari individu tertinggal lebih lama dalam struktur kognitifnya dan dapat diingat kembali apabila diperlukan. Untuk meningkatkan retensi belajar, Thomburg dan Chauham (1979) mengemukakan beberapa prinsip yang harus diperhatikan, yaitu 1) isi pembelajaran yang bermakna akan lebih mudah diingat, 2) benda yang jelas dan kongkrit akan lebih mudah diingat dibandingkan yang abstrak, 3) retensi akan lebih baik untuk isi pembelajaran yang bersifat kontekstual atau kata-kata yang memiliki kekuatan asosiatif, 4) berikan resitasi, untuk meningkatkan aktifitas peserta didik, 5) susun konsep yang jelas, dan 6) berikan latihan pengulangan terutama pembelajaran keterampilan motorik. Ada tiga faktor yang dapat mempengaruhi retensi belajar yaitu apa yang dipelajari di permulaan (original learning), belajar melebihi penguasaan (over learning) dan pengulangan dengan interval waktu (spaced review).

6. Prinsip Transfer. Transfer merupakan suatu proses dimana sesuatu yang pernah dipelajari dapat mempengaruhi proses dalam mempelajari sesuatu yang baru. Dengan demikian, transfer berarti pengaitan pengetahuan yang sudah dipelajari dengan pengetahuan yang baru dipelajari. Atau aplikasi pengetahuan, keterampilan, kebiasaan, sikap, respon lain dari satu situasi kepada situasi yang lain. Terdapat beberapa bentuk transfer, yaitu transfer positif, transfer negatif dan transfer nol. Transfer positif terjadi apabila pengalaman sebelumnya dapat membantu dalam unjuk kerja dalam tugas-tugas baru. Transfer negatif terjadi apabila pengalaman yang diperoleh sebelumnya menghambat unjuk kerja dalam tugas-tugas baru sedang transfer nol terjadi apabila pengalaman yang diperoleh sebelumnya tidak memberikan pengaruh sama sekali terhadap unjuk kerja yang

(13)

baru. Adapun proses yang terjadi dalam transfer yaitu: a) pengelompokan, generalisasi, dan strukturisasi materi, b) terdapat hubungan dalam berbagai bentuk maupun ukuran, c) adanya struktur dalam, dan d) adanya proses berpikir yang konsisten.

Selanjutnya, Nana Syaodih dalam bukunya Landasan Psikologi Proses Pendidikan mengemukakan terdapat sepuluh prinsip-prinsip belajar yaitu; 1) belajar merupakan bagian dari perkembangan, 2) belajar berlangsung seumur hidup, 3) keberhasilan belajar dipengaruhi oleh faktor-faktor bawaan, faktor lingkungan, kematangan serta usaha individu itu sendiri, 4) belajar mencakup semua aspek kehidupan; meliputi kognitif, afektif dan psikomotorik, 5) kegiatan belajar berlangsung pada setiap tempat dan waktu, 6) belajar berlangsung dengan atau tanpa pendidik, 7) belajar yang berencana dan disengaja menuntut motivasi yang tinggi, 8) perbuatan belajar berfariasi dari yang paling sederhana sampai dengan yang sangat kompleks, 9) dalam belajar dapat terjadi hambatan-hambatan.

Dari dua pendapat di atas, pendapat yang pertama merupakan prinsip belajar dalam proses pembelajaran, sedangkan pendapat yang kedua merupakan belajar secara umum. Maka, prinsip-prinsip belajar meliputi kesiapan peserta didik dalam dalam proses pembelajaran, motivasi peserta didik untuk senantiasa mengikuti pembelajaran, perhatian, persepsi, kekuatan retensi, dan transfer agar pengetahuan yang telah dipelajari dapat diaplikasikan pada situasi yang lain.

D. GAYA BELAJAR DAN TEORI BELAJAR

1. Gaya Belajar

Seseorang memiliki tiga tipe belajar atau kombinasi dari ketiganya yaitu tipe visual, tipe auditorial dan kinestetik. Ketiga tipe ini memiliki ciri khas dan penanganan khusus pula.

a. Gaya belajar tipe visual

Belajar tipe visual merupakan gaya belajar yang dominan mengandalkan visual/penglihatan.

Orang dengan gaya belajar visual memiliki ciri seperti: berbicara dengan cepat, pengeja yang baik, teliti terhadap yang detail, pembaca cepat dan tekun, lebih suka membaca ketimbang dibacakan, mengingat apa yang dilihat daripada yang didengar, pelupa dalam menyampaikan pesan verbal, sering menjawab pertanyaan dengan jawaban singkat, senang terhadap seni daripada musik, sukar atau

tidak pandai memilih kata-kata ketika berbicara, senang memperhatikan melalui demonstrasi daripada ceramah, pembawaannya rapi dan teratur, sering mengantuk bila

(14)

mendengarkan penjelasan yang panjang lebar. Adapun penanganan belajarnya adalah dengan penggunaan kombinasi peraga visual, gambar atau simbol-simbol.

b. Gaya belajar tipe auditorial

Belajar tipe auditorial merupakan gaya belajar yang dominan mengandalkan auditori atau pendengaran. Ia memiliki ciri seperti: berbicara dengan diri sendiri, pandai dalam menyampaikan pesan verbal, dapat mengulangi dan meniru nada, birama atau warna suara tertentu ketika bercerita, memiliki kesulitan ketika menulis tapi pandai bercerita dan fasih ketika berbicara, senang berdiskusi, berbicara dan menjelaskan sesuatu dengan panjang lebar, lebih senang musik dari pada seni yang melibatkan visual. Adapun penanganan belajarnya adalah sering diajak diskusi atau menyampaikan sesuatu atau pendapatnya mengenai pelajaran.

c. Gaya belajar tipe kinestetik

Belajar tipe kinestetik merupakan gaya belajar yang dominan praktek atau eksperimen atau yang dapat diujicoba sendiri. Ia memiliki ciri seperti: berbicaranya dengan perlahan dan cermat, berorientasi pada fisik dan banyak gerak, menghafal sambil berjalan dan melihat, belajar melalui manipulasi atau praktik, senang berkreasi, tidak dapat duduk diam dalam waktu yang lama, tertantang dengan suatu aktivitas yang menyibukkan dan selalu ingin mencoba atau bereksperimen sendiri.

Adapun penanganan belajarnya sering dibantu dengan melibatkan mereka dalam belajar secara langsung atau praktik. Khusus untuk tipe ini biasanya prestasi mereka di bawah rerata dan kompensasinya biasanya mereka agak sedikit sebagai pembuat keributan tetapi mereka menonjol di bidang seni/art, olahraga atau keterampilan.

(15)

2. Teori Belajar

Teori adalah suatu pola yang disusun dan diarahkan kepada praktik, dengan harapan praktik itu lebih baik karena didasarkan pada teori. Di samping itu, teori juga dapat diartikan sebagai prinsip umum yang dikemukakan dengan maksud gejala-gejala tertentu, suatu prinsip yang didasarkan pada penalaran, walaupun secara nyata belum tentu dapat dipraktikkan. Kaitannya dengan belajar, maka teori belajar merupakan gejala-gejala atau prinsip yang berkaitan dengan peristiwa belajar. Dalam hal ini teori belajar merupakan proses bagaimana individu itu belajar, yang menurut Popper tidak hanya mengumpulkan informasi, melainkan lebih kepada melakukan perubahan pandangan individu tersebut

Secara garis besar, teori belajar dapat diklasifikasikan menjadi tiga kategori, yaitu: 1) teori belajar behavioristik, yang lebih mengedepankan hubungan antara stimulus dengan respon; 2) teori belajar kognitif, yang lebih mengedepankan aspek insight dan perilaku mental individu; 3) teori belajar humanistik, yang berpandangan bahwa belajar adalah proses memanusiakan manusia, karena manusia mempunyai potensi yang harus dikembangkan.

a. Teori Belajar Behavioristik

Menurut teori behavioristik, belajar adalah suatu perubahan tingkah laku yang dapat diamati secara langsung, yang terjadi melalui hubungan stimulus-stimulus dan respon-respon menurut prinsip-prinsip mekanistik. Para penganut teori ini berpendapat bahwa sudah cukup bagi peserta didik untuk mengasosiasikan stimulus-stimulus dan respon-respon yang diberi reinforcement apabila ia memberikan respon yang benar. Mereka tidak mempersoalkan apa yang terjadi dalam pikiran peserta didik sebelum dan sesudah respon dibuat.

Behavioris berkeyakinan bahwa setiap anak manusia lahir tanpa warisan kecerdasan, warisan bakat, warisan perasaan dan warisan yang bersifat abstrak lainnya. Semuanya itu timbul setelah manusia mengalami kontak dengan alam dan lingkungan social budayanya dalam proses pendidikan. Dan menurut mereka, segenap perilaku manusia itu bisa dipelajari dan dibentuk oleh lingkungannya. Maka individu akan menjadi pintar, terampil, dan mempunyai sifat abstrak lainnya tergantung pada apakah dan bagaimana ia belajar dengan lingkungannya.

b. Teori Belajar Kognitif

Teori ini muncul sebagai wujud dari ketidakpuasan terhadap teori belajar behavioristik. Karena menurut psikolog kognitif, tingkah laku manusia yang tampak dari luar tidak bisa diukur dan diterangkan tanpa melibatkan proses mental, yaitu motivasi, kesengajaan, keyakinan, insight, dan sebagainya. Belajar dalam perspektif psikolog kognitif pada dasarnya adalah proses internal atau peristiwa mental bukan peristiwa behavioral (yang bersifat jasmaniah) sehingga tidak dapat diamati secara langsung. Sedangkan perubahan yang terjadi dalam kemampuan seseorang dalam

(16)

bertingkah laku dan berbuat sesuatu dalam situasi tertentu, hanyalah suatu refleksi dari perubahan internal. Jadi tingkah laku individu itu muncul karena adanya dorongan dari dalam dirinya, bukan karena kebiasaan atau latihan. Kalaupun tingkah laku tersebut merupakan hasil dari latihan, maka hal tersebut juga bergantung pada mental individu tersebut, apakah mau melakukannya ataukah tidak. Sumadi Suryabrata memberikan ciri-ciri teori belajar kognitifistik, yaitu:

1) lebih mementingkan keseluruhan daripada bagian-bagian, 2) mementingkan kognisi terutama insight,

3) mementingkan dynamic aquilibrium, dan

4) lebih mementingkan masa kini dalam tingkah laku manusia dan dalam menyelesaikan problem.

c. Teori Belajar Humanistik

Psikologi humanistik memahami tingkah laku dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut tinjau pengamatnya (observer). Menurut aliran humanistik, materi pelajaran yang diberikan dalam proses pembelajaran harus disesuaikan dengan perasaan dan perhatian peserta didik. Tugas pendidik dalam hal ini adalah membantu peserta didik untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sebagai manusia yang unik.

Teori ini memberikan kebebasan bagi peserta didik, karena menurut mereka tiap individu itu berhak menentukan perilaku mereka sendiri dan bebas dalam memilih kualitas hidup mereka dan tidak terikat oleh lingkungannya.

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut!

1) Belajar dapat mengubah perilaku seseorang! Berikan 2 contoh perubahan perilaku tersebut!

2) Lakukan observasi ketika seseorang mengajar! Tentukan teori pembelajaran apa yang mereka gunakan saat mengajar!

Petunjuk Jawab Latihan

1) Untuk memeriksa apakah contoh yang Anda buat merupakan perilaku hasil belajar, Anda harus memperhatikan ciri-ciri atau karakteristik proses belajar. Suatu perilaku dianggap sebagai hasil belajar apabila perilaku tersebut diperoleh melalui pengalaman dan perilaku tersebut bersifat permanen

(17)

2) Untuk menjawab pertanyaan ini Anda harus menguasai tentang karakteristik kegiatan belajar yang dilakukan pendidik dapat dianggap sebagai kegiatan pembelajaran apabila kegiatan tersebut mendukung proses belajar peserta didik yang ditunjukkan oleh adanya perubahan perilaku yang bersifat permanen, serta seluruh kegiatan yang dilaksanakan pendidik tersebut mengandung komponen tujuan, materi, proses, dan evaluasi.

1. Belajar mengacu pada perubahan perilaku individu sebagai akibat dari proses pengalaman baik yang dialami ataupun yang sengaja dirancang.

2. Ciri-ciri belajar adalah adanya perubahan perilaku. Perubahan perilaku tersebut merupakan hasil interaksi individu dengan lingkungan, serta perilaku tersebut bersifat relatif menetap.

3. Masing-masing teori belajar memiliki asumsi dasar, komponen dasar dan kontribusi yang khas.

4. Teori belajar di antaranya adalah Behavioristik, Kognitif dan Humanistik.

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat! 1) Berikut ini adalah ciri-ciri belajar, kecuali ....

A. adanya perubahan perilaku

B. adanya interaksi dengan lingkungan

C. pembentukan perilaku yang bersifat menetap D. mengikuti proses pertumbuhan

2) Belajar merujuk pada proses psikologis .... A. pengenalan objek di luar diri B. perubahan perilaku individu C. rangsangan lingkungan D. penataan respon

3) Belajar konsep menurut Gagne merujuk pada proses belajar yang menekankan pada ....

A. keterampilan B. pengertian

(18)

C. wawasan D. perasaan

4) Belajar pemecahan masalah lebih banyak melibatkan proses psikologis .... A. membandingkan

B. menganalisis C. menerapkan D. mengenal

5) Manakah dari perilaku berikut yang bukan merupakan perilaku sebagai hasil belajar?

A. Dimas dapat menghitung perkalian tiga angka setelah mengerjakan soal latihan berkali-kali.

B. Setelah berlatih beberapa hari, Dimas dapat berlari terus-menerus sepanjang 3 KM.

C. Dengan mencicipi Gula, Dimas mengetahui bahwa rasa garam itu Manis. D. Pada usia 24 bulan, Dimas sudah dapat merangkai dua kata yang

mengandung arti.

6) Belajar observasional adalah belajar .... A. mementingkan hasil belajaran B. memperhatikan proses kognitif C. memperhatikan lingkungan sekitar D. memerlukan stimulus

7) Seseorang dengan gaya belajar audititorial lebih suka .... A. melihat gambar

B. mendengarkan C. melakukan/praktek D. melihat menonton

8) Seseorang dengan gaya belajar kinestektik lebih suka .... A. melihat gambar

B. mendengarkan C. melakukan/praktek D. melihat menonton

(19)

9) Sesorang dengan gaya belajar visual lebih suka .... A. melihat gambar

B. mendengarkan C. melakukan/praktek D. melihat memotret

10) Proses belajar sangat dipengaruhi oleh kesiapan individu sebagai subyek yang melakukan kegiatan belajar, merupakan prinsip belajar ....

A. transfer B. readines C. retensi D. persepsi

Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 1 yang terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 1.

Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan dengan Kegiatan Belajar 2. Bagus! Jika masih di bawah 80%, Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 1, terutama bagian yang belum dikuasai.

(20)

Pembelajaran

Kegiatan

Belajar

2

ada Kegiatan Belajar 1 (satu), Anda telah mempelajari tentang konsep belajar. Selanjutnya pada kegiatan belajar ini, kita akan membahas konsep dan pola dasar pembelajaran, yang secara pedagogis merupakan wahana pendidikan untuk menghasilkan proses belajar. Kata pembelajaran sering digunakan bergantian dengan kata belajar. Untuk mengetahui perbedaannya, silakan simak dan pahami penjelasan pada Kegiatan Belajar 2. Adapun materi yang dibahas pada Kegiatan Belajar 2 yaitu, hakikat pembelajaran, prinsip pembelajaran dan komponen sistem pembelajaran

A. HAKIKAT PEMBELAJARAN

Pembelajaran merupakan terjemahan dari kata instruction yang berarti self instruction (dari internal) dan external instructions (dari eksternal). Pembelajaran yang bersifat eksternal antara lain datang dari pendidik yang disebut pengajaran. Dalam pembelajaran yang bersifat eksternal, prinsip-prinsip belajar dengan sendirinya akan menjadi prinsip-prinsip pembelajaran. Proses pembelajaran merupakan merupakan hal berbeda dari belajar. Istilah pembelajaran berhubungan dengan pengertian belajar dan mengajar. Hakikat belajar, mengajar dan pembelajaran terjadi bersama-sama. Belajar dapat terjadi tanpa pebelajar (pendidik) atau tanpa kegiatan mengajar dan pembelajaran formal lain.

Richard (2011) menyatakan pembelajaran adalah: “instruction is a set of event that affect leaners in such as a way that learning is facilitated” (pembelajaran adalah seperangkat peristiwa yang mempengaruhi cara belajar peserta didik”). Pembelajaran merupakan suatu aktivitas yang disengaja dengan menggunakan pengetahuan profesional untuk memodifikasi berbagai kondisi yang diarahkan tercapainya tujuan kurikulum. Sejalan dengan pendapat tersebut, Banathy (1986) menyatakan “any interaction between the learner and his environment throught which the learner is making progress toward the attainment of specific and purposed knowledge, skill and attitude”.

Dalam Undang-undang No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dinyatakan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Definisi ini ditekankan pada proses interaksi antara peserta didik dan pendidik. Pembelajaran merupakan tugas pendidik bagaimana

(21)

mengkondisikan proses belajar untuk menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi peserta didik. Aktivitas pembelajaran berupa rangkaian kegiatan pembelajaran yang merupakan interaksi antara peserta didik dengan lingkungan belajar. Pendapat Sharon E Smaldino, James D Rusell Robert Heinich dan Michael Molenda dalam Atwi Suparman (2012) menyatakan bahwa: “An instructional system consist of interrelated components that work together, effectively and reliably, within a particular framework to provide learning activities necessary a accomplish a learning goal.”

Selanjutnya Robert M. Gagne dkk (2001) menyatakan bahwa “Instructional as a set of events embeded in purposeful activities that facilitate learning. An instructional system may be defined as an arrangement of resources and procedures used to facilitate learning. Definisi ini menyebutkan tujuan yang spesifik dengan istilah purposeful activities, dimana kegiatan instruksional harus mempunyai tujuan.

Proses pembelajaran dapat terselenggara secara lancar, efisien, dan efektif berkat adanya interaksi yang positif dan konstruktif, antar komponen dalam sistem pembelajaran. Salah satu komponen yang terkait dengan proses pembelajaran adalah strategi pembelajaran. Seels & Richey (1994) mengatakan bahwa strategi pembelajaran adalah spesifikasi untuk memilih dan mengurutkan proses dan kegiatan-kegiatan dalam suatu pelajaran.

Sejalan dengan itu, Gagne & Briggs dalam Dick & Carey (2005) menyatakan bahwa kegiatan pembelajaran dapat memberikan: (1) memberikan motivasi atau menarik perhatian; (2) menjelaskan tujuan pembelajaran; (3) mengingatkan kompetensi pra-syarat; (4) memberi stimulus (masalah, topik, konsep); (5) memberi petunjuk belajar (cara mempelajari); (6) menimbulkan penampilan peserta didik; (7) memberi umpan balik; (8) menilai penampilan; dan (9) penyimpulkan. Aspek ini semua digunakan dalam pelaksanaan startegi pembelajaran praktik yang dikembangkan dalam pengembangan model pembelajaran. Strategi pembelajaran biasanya menjelaskan komponen umum dari satu set materi dan prosedur pembelajaran yang akan digunakan dengan bahan pembelajaran untuk menghasilkan hasil belajar tertentu.

Selanjutnya Rusman (Rusman, 2017) mendefinisikan pembelajaran sebagai suatu proses interaksi komunikasi antara sumber belajar, pendidik dan peserta didik. Interaksi komunikasi itu dilakukan baik secara langsung dalam kegiatan tatap muka maupun secara tidak langsung dengan menggunakan media. Definisi yang diungkapkan Rusman memberikan gambaran bahwa interaksi antara pendidik dan peserta didik tidak harus dilakukan secara tatap muka, memberikan ruang untuk pendidik melakukan suatu usaha penkodisisan belajar yang dilakukan secara tidak tatap muka dalam kelas. Gagne dan Briggs (1979), mengartikan instruction atau pembelajaran ini adalah suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajar peserta didik, yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang, disusun sedemikian rupa untuk mempengaruhi dan mendukung terjadinya proses belajar peserta didik yang bersifat internal.

(22)

Sementara Miarso (Pribadi, 2009) menyatakan pembelajaran adalah aktivitas atau kegiatan yang berfokus pada kondisi dan kepentingan belajar. Senada dengan Miarso, Reigeluth dan Chellman (Reigeluth & Carr-Chellman, 2009) instruction as anything that is done purposely to facilitate learning. Defenisi ini menujukkan bahwa pembelajaran harusnya berpusat pada kegiatan si pembelajar. Pengajar harus bisa membuat atau mengkondisikan segala prosesnya agar bisa berpusat pada pembelajar.

Berdasarkan pemaparan dan pengertian para ahli di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran adalah suatu kondisi eksternal yang dirancang sedemikian rupa dengan tujuan tertentu untuk mendukung proses internal dalam setiap peristiwa belajar. Pembelajaran merupakan proses relatif panjang yang menekankan pada set sistem, terdiri dari komponen-komponen seperti: tujuan, media, bahan, strategi dan lainnya. Semua komponen pembelajaran yang ada tersebut, saling berhubungan dan saling mempengaruhi dengan terintegrasi dalam satu tujuan pembelajaran.

B. PRINSIP-PRINSIP PEMBELAJARAN

Dalam melaksanakan pembelajaran, agar dicapai hasil yang lebih optimal perlu diperhatikan beberapa prinsip pembelajaran. Prinsip pembelajaran dibangun atas dasar prinsip-prinsip yang ditarik dari teori psikologi terutama teori belajar dan hasil-hasil penelitian dalam pembelajaran. Prinsip pembelajaran bila diterapkan dalam proses pengembangan pembelajaran dan pelaksanaan pembelajaran akan diperoleh hasil yang lebih optimal. Oleh karena itu untuk mencapai kegiatan pembelajaran yang efektif dan efisien, pendidik harus memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran yang dikemukakan oleh Gagne dan Atwi Suparman.

Pembelajaran yang efektif dan bermakna dapat dilakukan dengan prosedur pemanasan dan apersepsi, eksplorasi, konsolidasi pembelajaran, pembentukan kompetensi; sikap dan perilaku, penilaian formatif. Pada dasarnya prinsip-prinsip belajar adalah perhatian, motivasi, keaktifan peserta didik, keterlibatan langsung, pengulangan belajar, materi belajar yang merangsang dan menantang, penguatan kepada peserta didik dan aspek psikologi lain.

Perhatian, dalam pembelajaran pendidik hendaknya tidak mengabaikan masalah perhatian. Sebelum pembelajaran dimulai pendidik hendaknya menarik perhatian peserta didik agar peserta didik berkonsentrasi dan tertarik pada materi pelajaran yang sedang diajarkan. Motivasi, Jika perhatian peserta didik sudah terpusat maka langkah pendidik selanjutnya memotivasi peserta didik. Walaupun peserta didik udah termotivasi dengan kegiatan awal saat pendidik mengkondisikan agar perhatian peserta didik terpusat pada materi pelajaran yang sedang berlangsung. Namun pendidik wajib membangun motivasi sepanjang proses belajar dan pembelajaran berlangsung agar peserta didik dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Keaktifan peserta didik, pembelajaran yang bermakna apabila peserta didik aktif dalam proses belajar dan pembelajaran. Peserta didik tidak sekedar menerima dan menelan konsep-konsep yang

(23)

disampaikan pendidik, tetapi peserta didik beraktivitas langsung. Dalam hal ini pendidik perlu menciptakan situasi yang menimbulkan aktivitas peserta didik.

Keterlibatan langsung, pelibatan langsung peserta didik dalam proses pembelajaran adalah penting. Peserta didiklah yang melakukan kegiatan belajar bukan pendidik. Supaya peserta didik banyak terlibat dalam proses pembelajaran, pendidik hendaknya memilih dan mempersiapkan kegiatan-kegiatan sesuai dengan tujuan pembelajaran. Pengulangan belajar, Penguasaan materi oleh peserta didik tidak bisa berlangsung secara singkat. Peserta didik perlu melakukan pengulangan-pengulangan supaya meteri yang dipelajari tetap ingat. Oleh karena itu pendidik harus melakukan sesuatu yang membuat peserta didik melakukan pengulangan belajar. Materi pelajaran yang merangsang dan menantang, kadang peserta didik merasa bosan dan tidak tertarik dengan materi yang sedang diajarkan. Untuk menghindari gejala yang seperti ini pendidik harus memilih dan mengorganisir materi sedemikikan rupa sehingga merangsang dan menantang peserta didik untuk mempelajarinya. Balikan atau penguatan kepada peserta didik, penguatan atau reinforcement mempunyai efek yang besar jika sering diberikan kepada peserta didik. Setiap keberhasilan peserta didik sekecil apapun, hendaknya ditanggapi dengan memberikan penghargaan. Aspek-aspek psikologi lain, setiap peserta didik memiliki karakteristik yang berbeda. Perbedaan individu baik secara fisik maupun secara psikis akan mempengaruhi cara belajar peserta didik tersebut, sehingga pendidik perlu memperhatikan cara pembelajaran yang diberikan kepada peserta didik tersebut misalnya, mengatur tempat duduk, mengatur jadwal pelajaran, dll.

1. Prinsip Pembelajaran Menurut Gagne

Dalam buku Condition of Learning, Gagne (1997) mengemukakan sembilan prinsip yang dapat dilakukan pendidik dalam melaksanakan pembelajaran (Nine Events of Instruction),

(24)

Mari kita bahas Sembilan Prinsip dari Gagne berikut.

a. Menarik perhatian (gaining attention): hal yang menimbulkan minat peserta didik dengan mengemukakan sesuatu yang baru, aneh, kontradiksi, atau kompleks.

b. Menyampaikan tujuan pembelajaran (informing learner of the objectives): memberitahukan kemampuan yang harus dikuasai peserta didik setelah selesai mengikuti pelajaran.

c. Mengingatkan konsep/prinsip yang telah dipelajari (stimulating recall or prior learning): merangsang ingatan tentang pengetahuan yang telah dipelajari yang menjadi prasyarat untuk mempelajari materi yang baru.

d. Menyampaikan materi pelajaran (presenting the stimulus): menyampaikan materi-materi pembelajaran yang telah direncanakan.

e. Memberikan bimbingan belajar (providing learner guidance): memberikan pertanyaan-pertanyaan yamng membimbing proses/alur berpikir peserta didik agar memiliki pemahaman yang lebih baik.

f. Memperoleh kinerja/penampilan peserta didik (eliciting performance): peserta didik diminta untuk menunjukkan apa yang telah dipelajari atau penguasaannya terhadap materi.

g. Memberikan balikan (providing feedback): memberitahu seberapa jauh ketepatan performance peserta didik.

h. Menilai hasil belajar (assessing performance): memberitahukan tes/tugas untuk mengetahui seberapa jauh peserta didik menguasai tujuan pembelajaran.

i. Memperkuat retensi dan transfer belajar (enhancing retention and transfer): merangsang kamampuan mengingat-ingat dan mentransfer dengan memberikan rangkuman, mengadakan review atau mempraktekkan apa yang telah dipelajari.

2. Prinsip Pembelajaran Menurut Atwi Suparman

Beberapa prinsip pembelajaran yang dikemukakan oleh Atwi Suparman dengan mengadaptasi pemikiran Fillbeck (1974), dapat dijelaskan sebagai berikut.

a. Respons-respons baru (new responses) diulang sebagai akibat dari respons yang terjadi sebelumnya. Implikasinya adalah perlunya pemberian umpan balik positif dengan segera atas keberhasilan atau respon yang benar dari peserta didik, peserta didik harus aktif membuat respons, tidak hanya duduk diam dan mendengarkan saja.

b. Perilaku tidak hanya dikontrol oleh akibat dari respons, tetapi juga dibawah pengaruh kondisi atau tanda-tanda di lingkungan peserta didik. Implikasinya adalah perlunya menyatakan tujuan pembelajaran secara jelas kepada peserta didik sebelum pelajaran dimulai agar peserta didik bersedia belajar lebih giat. Juga penggunaan berbagai metode dan media agar dapat mendorong keaktifan peserta didik dalam proses belajar.

c. Perilaku yang ditimbulkan oleh tanda-tanda tertentu akan hilang atau berkurang frekuensinya bila tidak diperkuat dengan akibat yang menyenangkan.

(25)

Implikasinya adalah pemberian isi pembelajaran yang berguna pada peserta didik di dunia luar ruangan kelas dan memberikan balikan (feedback) berupa penghargaan terhadap keberhasilan mahapeserta didik. Juga peserta didik sering diberikan latihan dan tes agar pengetahuan, keterampilan dan sikap yang baru di kuasainya sering di munculkan pula.

d. Belajar yang berbentuk respon terhadap tanda-tanda yang terbatas akan di transfer kepada situasi lain yang terbatas pula. Implikasinya adalah pemberian kegiatan belajar kepada peserta didik yang melibatkan tanda-tanda atau kondisi yang mirip dengan kondisi dunia nyata. Juga penyajian isi pembelajaran perlu diperkaya dengan penggunaan berbagai contoh penerapan apa yang telah dipelajarinya. Penyajian isi pembelajaran perlu menggunakan berbagai media pembelajaran seperti gambar, diagram, film, rekaman audio/ video, computer, serta berbagai metode pembelajaran seperti stimulasi, dramatisasi dan lain sebagainya.

e. Belajar menggeneralisasikan dan membedakan adalah dasar untuk belajar sesuatu yang kompleks seperti yang berkenaan dengan pemecahan masalah. Implikasinya adalah perlu digunakan secara luas bukan saja contoh-contoh yang positif, tetapi juga yang negatif.

f. Situasi mental peserta didik untuk menghadapi pelajaran akan mempengaruhi perhatian dan ketekunan peserta didik selama proses peserta didik belajar. Implikasinya adalah pentingnya menarik perhatian peserta didik untuk mempelajari isi pembelajaran, antara lain dengan menunjukkan apa yang akan dikuasai peserta didik setelah selesai proses belajar, bagaimana menggunakan apa yang dikuasainya dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana prosedur yang harus diikuti atau kegiatan yang harus dilakukan peserta didik agar mencapai tujuan pembelajaran dan sebagainya.

g. Kegiatan belajar yang dibagi menjadi langkah-langkah kecil dan disertai umpan balik, akan membantu peserta didik dalam belajar. Implikasinya adalah pendidik harus menganalisis pengalaman belajar peserta didik menjadi kegiatan-kegiatan kecil, disetai latihan dan balikan terhadap hasilnya.

h. Memecah materi yang kompleks menjadi kegiatan-kegiatan kecil dengan mewujudkannya dalam suatu model. Implikasinya adalah penggunaan media dan metode pembelajaran yang dapat menggambarkan materi yang kompleks kepada peserta didik seperti model, realia, film, program video, komputer, drama, demonstrasi dan lain-lain.

i. Keterampilan tingkat tinggi (kompleks) terbentuk dari keterampilan dasar yang lebih sederhana. Implikasinya adalah tujuan pembelajaran harus dirumuskan dalam bentuk hasil belajar yang operasional. Demonstrasi atau model yang digunakan harus dirancang agar dapat menggambarkan dengan jelas komponen-komponen yang termasuk dalam perilaku / keterampilan yang kompleks itu. j. Belajar akan lebih cepat, efisien dan menyenangkan bila peserta didik diberi

informasi tentang kualitas penampilannya dan cara meningkatkannya. Urutan pembelajaran harus dimulai dari yang sederhana secara bertahap menuju kepada

(26)

yang lebih kompleks kemajuan peserta didik alam menyelesaikan pembelajaran harus di informasikan kepadanya.

k. Perkembangan dan kecepatan peserta didik sangat bervariasi, ada yang maju dengan cepat ada yang lebih lambat. Implikasinya adalah pentingnya penguasaan peserta didik terhadap materi prasyarat sebelum mempelajari materi pembelajaran selanjutnya, peserta didik mendapat kesempatan maju menurut kecepatannya masing-masing.

l. Dengan persiapan, peserta didik dapat mengembangkan kemampuan mengorganisasi kegiatannya sendiri dan menimbulkan umpan balik bagi dirinya untuk membuat respon yang benar. Implikasinya adalah pemberian kemungkinan bagi peserta didik untuk memilih waktu, cara dan sumber-sumber di samping yang telah ditentukan, agar dapat membuat dirinya mencapai tujuan pembelajaraan.

C. KOMPONEN SISTEM PEMBELAJARAN

Sistem pembelajaran terdiri dari beberapa komponen yang saling berinteraksi hingga diperoleh interaksi yang efektif. Dick dan Carey menjelaskan komponen dalam sistem, yaitu pembelajaran adalah pebelajar, instruktur (pendidik), bahan pembelajaran dan lingkungan pembelajaran. Dengan kata lain komponen dalam pembelajaran merupakan upaya menciptakan kondisi (lingkungan eksternal) yang konduktif agar terjadi proses belajar (kondisi internal) pada diri peserta didik (pebelajar).

Pembelajaran akan berhasil guna dan berjalan secara efektif bila dalam perancangan dan pengembangan bertitiktolak pada karakteristik pebelajar, mata pelajaran dan pedoman pada kompetensi dasar, tujuan-tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan atau indikator keberhasilan belajar. Belajar akan berhasil jika pebelajar (peserta didik) secara aktif melakukan sendiri proses belajar melalui berinteraksi dengan berbagai sumber belajar. Sedangkan pembelajaran itu sendiri merupakan suatu sistem yang membantu individu belajar dan berinteraksi dengan sumber belajar dan lingkungan.

Menurut Reigeluth, dalam menunjang proses pembelajaran ada tiga variabel pembelajaran yaitu variabel kondisi pembelajaran, metode dan variabel hasil pembelajaran. Ketiga variabel pembelajaran yang dikemukan Reigeluth diperlihatkan pada Gambar 1.1 berikut ini.

(27)

Gambar 1.1

Varibael Pembelajaran Reigluth

Gambar 1.1

Variabel Pembelajaran dari Reigeluth

Variabel pembelajaran Reigeluth menunjukkan bahwa kondisi pembelajaran menjadi awal dari strategi pembelajaran untuk mencapai hasil pembelajaran. Sedangkan metode pembelajaran menekankan pada komponen-komponen strategi pembelajaran, penyampaian dan pengelolaan pembelajaran. Dan untuk mencapai hasil pembelajaran Reigeluth, lebih mengarahkan model pembelajaran yang efektifitas, efesiensi dan mempunyai daya tarik.

Ketiga variabel pembelajaran di atas saling berinteraksi, interaksi dari variabel-variabel tersebut membangun dua bentuk hubungan antar variabel-variabel yang dikenal dengan teori deskriptif dan teori preskriptif, sebagaimana Gambar 1.2 di bawah ini:

(28)

Gambar 1.2

Interaksi Variabel Kondisi Pembelajaran, Metode dan Hasil Pembelajaran dari Reigeluth

Pendekatan atau sistem pembelajaran menjadi konteks dalam penulisan ini sebagaimana Dick dan Carey menjelaskan dalam sistem pembelajaran terdapat juga strategi pembelajaran yang terdiri dari 5 (lima) komponen yaitu: (a) aktivitas pra-pembelajaran, meliputi pemberian motivasi, gambaran tujuan pembelajaran dan menginformasikan keterampilan, (b) presentase pembelajaran bagian dari inti, meliputi tahapan pembelajaran, materi dan contoh, (c) melibatkan partisipasi peserta didik dalam pembelajaran, meliputi praktek dan pemberian umpan balik (d) melakukan penilaian, meliputi tes awal dan tes akhir, (e) aktivitas lanjutan meliputi pengulangan dan penyampaian kesimpulan.

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut!

1) Temukanlah prinsip-prinsip pembelajaran yang terjadi di sekolah Anda. Lakukan observasi dan temukan apakah prinsip-prinsip pembelajaran telah digunakan dalam mengajar di sekolah Anda!

2) Lakukan analisis pada sistem pembelajaran sekolah, apakah sudah memenuhi semua komponen sistem pembelajaran!

(29)

Petunjuk Jawaban Latihan

1) Untuk menjawab pertanyaan ini Anda harus menguasai tentang prinsip pembelajaran yang dilakukan pendidik dapat dianggap sebagai kegiatan pembelajaran apabila kegiatan tersebut mendukung

2) Untuk mengecek apakah analisis sistem pembelajaran yang dilakukan sekolah sudah benar, Anda harus melihat 3 komponen sistem pembelajaran terdapat dalam komponen yang sekolah gunakan.

1. Pembelajaran adalah suatu kondisi eksternal yang dirancang sedemikian rupa dengan tujuan tertentu untuk mendukung proses internal dalam setiap peristiwa belajar.

2. Dalam melaksanakan pembelajaran, agar dicapai hasil yang lebih optimal perlu diperhatikan beberapa prinsip pembelajaran. Prinsip pembelajaran dibangun atas dasar prinsip-prinsip yang ditarik dari teori psikologi terutama teori belajar dan hasil-hasil penelitian dalam pembelajaran.

3. Prinsip-prinsip pembelajaran dikemukakan oleh Gagne dan Atwi Suparman 4. Komponen pembelajaran adalah pemelajar, instruktur (pendidik), bahan

pembelajaran dan lingkungan pembelajaran.

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!

1) Pembelajaran didefinisikan suatu kondisi yang …. A. seperti apa adanya

B. dirancang sedemikian rupa C. diadakan apa adanya

D. dirancang sesuai keinginan pendidik

2) Fokus utama dalam pembelajaran yang dikemukakan oleh Miarso adalah .... A. kondisi dan kepentingan belajar

B. keadaan peserta didik C. sarana dan prasarana

(30)

3) Prinsip pembelajaran diperlukan untuk …. A. tujuan belajar

B. adminitrasi pembeljaran

C. pencapaian hasil yang lebih optimal D. analisis belajar

4) Seorang pendidik memberikan pujian kepada peserta didiknya merupakan implikasi dari prinsip ….

A. perhatian dan motivasi B. keaktifan

C. keterlibatan langsung D. pengulangan

5) Pada pembelajaran IPA, pendidik menyiapkan laboratorium untuk praktikum peserta didik merupakan implikasi dari prinsip ….

A. perhatian dan motivasi B. keaktifan

C. keterlibatan langsung D. pengulangan

6) Pendidik menanggapi keberhasilan peserta didik dengan memberi penghargaan disebut ….

A. perhatian B. motivasi

C. keterlibatan langsung D. penguatan

7) Prinsip belajar menurut Gagne yaitu gaining attention, artinya pendidik …. A. menimbulkan minat peserta didik agar tertarik dalam belajar

B. merangsang ingatan peserta didik

C. memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada peserta didik D. memberitahukan kemampuan yang harus dikuasai peserta didik 8) Terdapat 12 prinsip yang dikemukakan oleh Atwi Suparman, kecuali ….

A. perkembangan dan kecepatan peserta didik sangat bervariasi B. pemberian bimbingan belajar

C. respon-respon baru

(31)

9) Berikut adalah komponen sistem pembelajaran, kecuali …. A. pebelajar

B. pendidik

C. bahan pembelajaran D. dinas

10) Variabel pembelajaran menjadi awal dari strategi pembelajaran untuk mencapai hasil pembelajaran. Sedangkan metode pembelajaran menekankan pada komponen-komponen ....

A. strategi pembelajaran B. analisis pembelajaran C. hasil pembelajaran D. model pembelajaran

Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 2 yang terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 2.

Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan dengan Kegiatan Belajar 3. Bagus! Jika masih di bawah 80%, Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 2, terutama bagian yang belum dikuasai.

(32)

Desain Pembelajaran

Kegiatan

Belajar

3

ada kegiatan belajar sebelumnya Anda telah mempelajari konsep dalam belajar dan pembelajaran. Dalam implementasi pembelajaran yang baik dan efektif, sebaiknya seorang pendidik membuat desain pembelajaran. Pada kegiatan ini, Anda akan mempelajari tentang definisi desain pembelajaran dan model-model desain pembelajaran.

A. HAKIKAT DESAIN PEMBELAJARAN

Desain pembelajaran dapat dimaknai dari berbagai sudut pandang, misalnya sebagai disiplin, sebagai ilmu, sebagai sistem, dan sebagai proses. Sebagai disiplin, desain pembelajaran membahas berbagai penelitian dan teori tentang strategi serta proses pengembangan pembelajaran dan pelaksanaannya. Sebagai ilmu, desain pembelajaran merupakan ilmu untuk menciptakan spesifikasi pengembangan, pelaksanaan, penilaian, serta pengelolaan situasi yang memberikan fasilitas pelayanan pembelajaran dalam skala makro dan mikro untuk berbagai mata pelajaran pada berbagai tingkatan. Sebagai sistem, desain pembelajaran merupakan pengembangan sistem pembelajaran dan sistem pelaksanaannya termasuk sarana serta prosedur untuk meningkatkan mutu belajar.

Sementara itu, desain pembelajaran sebagai proses menurut Syaiful Sagala (2005) adalah pengembangan pengajaran secara sistematik yang digunakan secara khusus teori-teori pembelajaran unuk menjamin kualitas pembelajaran. Pernyataan tersebut mengandung arti bahwa penyusunan perencanaan pembelajaran harus sesuai dengan konsep pendidikan dan pembelajaran yang dianut dalam kurikulum yang digunakan.

Ada beberapa ahli yang mengeluarkan pendapat mereka tentang definisi Desain Pembelajaran antara lain sebagai berikut.

1. Reigeluth, mendefinisikan desain pembelajaran adalah kisi-kisi dari penerapan teori belajar dan pembelajaran untuk memfasilitasi proses belajar seseorang (Reigeluth, 1999).

2. Rothwell dan Kazanas, merumuskan desain pembelajaran terkait dengan peningkatan mutu kinerja seseorang dan pengaruhnya bagi organisasi (Rothwhell, Kazanas, 1992).

(33)

3. Gagne dkk, menyatakan bahwa desain pembalajaran adalah sebuah usaha dalam membantu proses belajar seseorang, di mana proses belajar itu sendiri mempunyai tahapan segera dan jangka panjang (Gagne, 1992).

4. Dick and Carey, mendefinisikan desain pembelajaran sebagai seluruh proses yang dilaksanakan pada pendekatan sistem yang terdiri dari analisis, desain, pengembangan, implementasi dan evaluasi (Dick and Carey, 1992).

5. Seels and Richey, mendefinisikan desain pembelajaran adalah prosedur yang terorganisasi yang meliputi langkah-langkah penganalisaan, perancangan, pengembangan, pengaplikasian, dan penilaian pengembangan. (Seels and Richey, 1994).

Dengan demikian dapat disimpulkan desain pembelajaran adalah praktek penyusunan media teknologi komunikasi dan isi untuk membantu agar dapat terjadi transfer pengetahuan secara efektif antara pendidik dan peserta didik. Proses ini berisi penentuan status awal dari pemahaman peserta didik, perumusan tujuan pembelajaran, dan merancang "perlakuan" berbasis-media untuk membantu terjadinya transisi. Idealnya proses ini berdasar pada informasi dari teori belajar yang sudah teruji secara pedagogis dan dapat terjadi hanya pada peserta didik, dipandu oleh pendidik, atau dalam latar berbasis komunitas

B. MODEL-MODEL DESAIN PEMBELAJARAN

Dalam mendesain pembelajaran terdapat banyak model yang dapat digunakan seperti Dick and Carey, Kemp, Assure, IDI dan sebagainya. Dalam Kegiatan Belajar ini, dibahas dua model yang sering digunakan dalam proses desain pembelajaran yaitu model pembelajaran Dick and Carey dan Kemp.

Dengan menggunakan kerangka berpikir sistem, Dick & Carey (1978, 1985) menyusun model desain instruksional seperti berikut.

1. Mengidentifikasi tujuan pembelajaran. Mengidentifikasi tujuan pembelajaran adalah menentukan apa yang dikehendaki oleh pendidik agar dapat dilakukan oleh peserta didik selesai mereka mengikuti pembelajaran. Batasan tujuan dapat dilihat dari standar kompetensi, kebutuhan kurikulum, kesulitan belajar, karakteristik peserta didik, dan lain-lain.

2. Melakukan analisis pembelajaran. Setelah mengetahui tujuan pembelajaran, pendidik hendaknya menentukan jenis pembelajaran yang bagaimana yang dikehendaki oleh peserta didik. Tujuan pembelajaran perlu dianalisis untuk mengenali ketrampilan-ketrampilan awal atau subordinat yang mengharuskan peserta didik menguasai materi dan langkah-langkah prosedural awal untuk mengikuti proses pembelajaran tertentu.

3. Mengidentifikasi perilaku awal dan karakteristik. Di samping mengenali ketrampilan-ketrampilan awal dan langkah-langkah prosedural yang harus

(34)

dimasukkan dalam pembelajaran, maka perlu untuk mengenali ketrampilan-ketrampilan tertentu yang harus dimiliki peserta didik sebelum pembelajaran dimulai. Hal ini bukan berarti menyusun daftar semua hal yang dapat dilakukan oleh peserta didik, melainkan mengenali ketrampilan-ketrampilan tertentu yang harus dimiliki peserta didik untuk memulai pembelajaran.

4. Merumuskan tujuan pembelajaran. Atas dasar analisis pembelajaran dan keterangan tentang tingkah laku peserta didik, perancang menyusun pernyataan spesifik tentang ketrampilan apa yang akan dimiliki oleh peserta didik ketika menyelesaikan proses pembelajaran. Penjabaran ketrampilan-ketrampilan ini dikenal dengan melakukan analisis pembelajaran. Dalam kegiatan ini perlu disebutkan ketrampilan-ketrampilan yang harus dimiliki oleh peserta didik, kondisi perbuatan yang menunjukkan ketrampilan tersebut, dan kriteria performa yang diinginkan.

5. Mengembangkan butir tes acuan kriteria. Berdasarkan tujuan khusus atau kompetensi dasar yang telah dirumuskan, pendidik menyusun butir-butir penilaian yang dapat mengukur kemampuan peserta didik untuk mencapai apa yang dicantumkan dalam kompetensi dasar atau tujuan pembelajaran. Fokus utama diletakkan pada mengaitkan pada jenis tingkah laku yang disebutkan dalam tujuan dengan apa yang diminta dari butir-butir tersebut.

6. Mengembangkan strategi pembelajaran. Dengan berbagai informasi dari langkah-langkah sebelumnya, pendidik harus menentukan strategi yang akan digunakan dalam pembelajaran dan menentukan media apa yang cocok untuk dapat digunakan dalam mencapai tujuan akhir. Bagian-bagaian strategi pembelajaran dapat dilihat dari kegiatan prapembelajaran, inti, dan penutup. 7. Mengembangkan dan memilih bahan pembelajaran. Langkah ini didasarkan atas

strategi pembelajaran, kegiatan mengembangkan dan memilih bahan pembelajaran meliputi buku petunjuk peserta didik, bahan ajar, tes, dan buku pegangan pendidik. Keputusan untuk mengembangkan bahan ajar pada dasarnya tergantung pada jenis pembelajaran yang akan dilakukan.

8. Merancang dan melakukan evaluasi formatif. Kegiatan ini adalah melakukan serangkaian penilaian dengan maksud mengumpulkan data yang digunakan untuk mengidentifikasi bagaimana teknik-teknik dalam menyempurnakan rencana pembelajaran.

9. Merevisi Pembelajaran. Data dari penilaian formatif dianalisis sebagai usaha untuk mengenali kesulitankesulitan yang dialami peserta didik dalam mencapai tujuan dan untuk menghubungkan kesulitan-kesulitan tersebut dengan kekurangan tertentu dalam proses pembelajaran.

10. Melakukan evaluasi sumatif. Langkah ini mempunyai arti mengadakan tindakan penilaian secara keseluruhan yang dimulai dari pertemuan pertama sampai terakhir. Oleh karena itu, idealnya penilaian ini tidak hanya melibatkan pendidik, namun juga tim evaluator yang independen.

Gambar

Gambar 1.3  Model Dick and Carey

Referensi

Dokumen terkait

Lingkungan belajar siswa merupakan faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa. Disamping faktor lingkungan belajar, motivasi belajar siswa juga dapat

Dalam perkuliahan ini dibahas konsep dasar umum belajar dan pembelajaran, faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajaran, konsep pembelajaran untuk ABK, dampak ABK

Faktor yang mempengaruhi hasil belajar…... Faktor

Dari hasil pengamatan dan wawancara di atas, dapat diambil kesimpulan bahwasanya faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar siswa dalam membaca permulaan di kelas II

Faktor intern adalah faktor yang ada dalam diri peserta didik, diantaranya motivasi, sedangkan faktor yang mempengaruhi Ketuntasan Belajar yang datang dari luar peserta

Sardiman A.M (2007:55) menyatakan bahwa salah satu faktor psikologis yang mempengaruhi belajar adalah faktor motivasi. Motivasi merupakan faktor psikologis dalam

Bakat adalah kemampuan untuk belajar, bakat mempengaruhi hasil belajar anak karena bila bahan yang dipelajari anak sesuai dengan bakat anak maka hasil akan lebih

Bakat adalah kemampuan untuk belajar, bakat mempengaruhi hasil belajar anak karena bila bahan yang dipelajari anak sesuai dengan bakat anak maka hasil akan lebih baik, anak