TINJAUAN INTERVENSI SOSIAL PANTI ASUHAN ELIDA TERHADAP ANAK ASUH

Teks penuh

(1)

TINJAUAN INTERVENSI SOSIAL PANTI ASUHAN ELIDA

TERHADAP ANAK ASUH

Yoanne Simarmata & Mastauli Siregar

Abstract

The study of research focus on how the social intervention by Elida Orphanage to the children. To get information about this, researchers collect data both form the children and Elida Orphanage Officials as the samples. They are 29 children and 6 officials. The researchers analyzed data and information descriptively and gave information, that generally social intervention by Elida Orphanage was not so good. The indicators that is used to made conclusion are hoe the institution meet their primary need, formal education need, social need, and spiritual need. It’s very essential to know that there is different information or data given by the children than Elida Orphanage officials. The information given by officials was better than by the children.

Keywords: social intervention, children need, social welfare Pendahuluan

Setiap manusia yang hidup di bumi ini menginginkan kehidupan yang sejahtera dan bahagia, di mana mereka dapat memenuhi kebutuhannya masing-masing, baik kebutuhan jasmani, rohani, dan sosial. Namun pada kenyataanya tidak semua orang memiliki kesempatan untuk menikmati hidup sejahtera seperti yang diharapkan, karena adanya permasalahan yang dihadapinya dalam menjalani kehidupan. Masalah ini biasanya timbul karena adanya ketidakmampuan untuk menjalankan fungsi-fungsi sosialnya seperti rintangan maupun hambatan-hambatan dalam mewujudkan nilai-nilai, aspirasi, serta pemenuhan kebutuhan-kebutuhannya (Nurdin, 1990: 57)

Di Indonesia usaha-usaha pembangunan terlihat dengan jelas dalam sistematika GBHN yang memuat secara konseptual segala proses pembangunan, mulai dari tujuan pembangunan, azas pembangunan, landasan pembangunan dan sebagainya. Dengan demikian bangsa Indonesia telah mempunyai arah dan sasaran yang akan dicapai melalui pembangunan sebagai usaha dan proses yang secara sadar dilakukan, dengan demikian dapat terwujud masyarakat Indonesia yang damai, demokratis, berkeadilan, berdaya

saing, maju, dan sejahtera.

Demikian halnya dengan anak-anak terlantar, sebagai kelompok penyandang masalah kesejahteraan sosial yang selalu eksis dari masa ke masa. Harus diakui bahwa terdapat berbagai faktor penyebab keterlantaran anak. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar keterlantaran anak berkaitan langsung dengan kemiskinan. Jumlah penduduk miskin pada tahun 2004 adalah 36,3 juta jiwa, tahun 2005 meningkat menjadi 70 juta jiwa penduduk Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan (Indo. Pos, 31 Desember 2005). Dari jumlah jiwa yang hidup di bawah garis kemiskinan dan serba kekurangan tersebut sebagian besar anak-anak mengalami gizi yang rendah dengan tingkat kesehatan yang rendah pula. Jika ditinjau secara teoretis, maka kemungkinan besar anak yang tidak cukup mendapat asuhan, kasih sayang, dan perhatian orang tua akan menjadi anak-anak yang perkembangannya kurang sempurna (Wirawan, 1982: 58). Kondisi ini tentunya amat kontradiktif dengan bunyi pasal 2 ayat 2 UU No. 4 tahun 1979 yang menegaskan bahwa anak berhak atas kesejahteraan, perwatan, asuhan, dan bimbingan berdasarkan kasih sayang baik dalam keluarganya maupun dalam asuhan khusus untuk tumbuh berkembang dengan wajar.

(2)

Kenyataan ini menunjukkan bahwa banyak anak-anak yang tidak mempunyai kesempatan yang memadai untuk tumbuh dan berkembang secara wajar karena adanya keadaan di mana salah satu atau kedua orang tuanya meninggal dunia, perceraian, kemiskinan, atau kedua orang tuanya bekerja sepanjang hari sehingga tidak dapat menjalankan fungsi sebagaimana mestinya. Melihat fenomena yang dialami anak-anak terlantar tersebut perlu dicari solusi untuk membantu mereka keluar dari masalahnya terutama membebaskan mereka dari kekurangannya.

UU No. 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak Republik Indonesia yang dimaksud dengan kesejahteraan adalah suatu tata kehidupan dan penghidupan anak yang dapat menjamin pertumbuhan dan perkembangan dengan wajar baik secara jasmani, rohani, maupun sosialnya. Sedangkan usaha kesejahteraan anak adalah usaha kesejahteraan sosial yang ditujukan untk menjamin terwujudnya kesejahteraan anak terutama terpenuhinya kebutuhan pokok anak.

Dari pengertian kesejahteraan anak tersebut, dapat kita ketahui bahwa kesejahteraan anak berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan yang bersifat rohani melalui orang tuanya sendiri maupun dari asuhan khusus di luar orang tua. Misalnya adanya kesempatan memperoleh pendidikan formal maupun informal, rekreasi, bermain, serta sosialisasi.

Untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat jasmaniah seperti gizi, kesehatan, dan kebutuhan fisik lainnya serta santunan atau peningkatan kemampuan menjalankan fungsi sosial dengan baik terutama bagi anak-anak miskin dan terlantar. Dalam hal ini orang tualah yang menjadi orang pertama yang harus bertanggung jawab atas terwujudnya kesejahteraan anak, akan tetapi jika diperhatikan keadaan yang ada, tidak semua orang tua dapat menjalankan fungsi dan peranannya dalam keluarga sebagaimana seharusnya. Untuk hal inilah, dalam rangka menyelamatkan anak-anak terlantar tersebut dicari solusi seperti memasukkan mereka ke dalam panti asuhan, agar anak-anak terlantar tersebut dapat tumbuh dan berkembang secara wajar, agar nantinya mereka dapat membantu dirinya sendiri terutama dalam memenuhi kebutuhan dirinya sendiri. Dalam hal ini dapat dilihat bahwa panti asuhan berfungsi sebagai tempat membantu, mendidik, merawat, dan membina anak-anak terlantar.

Di dalam panti asuhan tersebutlah anak-anak terlantar diberi pelayanan kesejahteraan sosial sebagaimana pelayanan yang seharusnya mereka dapatkan dari keluarga mereka, jika keluarga itu mempunyai kemampuan. Dari sisi ini jelaslah bahwa panti asuhan itu berfungsi sebagai pengganti keluarga yang tidak mampu untuk mengemban tanggung jawab untuk mensejahterakan keluarganya terutama anak-anaknya. Sehubungan dengan penanganan masalah anak terlantar ini, salah satu upaya intervensi kesejahteraan adalah melalui sistem panti, di mana salah satu panti tersebut adalah Panti Asuhan Elida yang terdapat di jalan Flamboyan Raya IV No. 2 Tanjung Selamat Medan. Panti asuhan ini berdiri pada bulan Januari 1990 dengan cikal bakal 3 orang anak terlantar kakak beradik yang diserahkan kepada Pdt. Domianus dan Ibu Devi oleh seorang yang tak dikenal agar dirawat dan diasuh oleh mereka. Padahal pada saat itu usia pernikahan mereka kurang lebih 2 minggu, kemudian pada hari-hari berikutnya ada saja anak-anak terlantar yang diserahkan oleh orang yang berbeda serta asal daerah yang berbeda pada keluarga hamba Tuhan ini, bahkan pada usia pernikahan mereka yang ke-3 bulan, keluarga ini sudah memiliki 15 orang anak yatim dan terlantar.

Meski dengan susah payah untuk menghidupi anak-anak terlantar ini, Tuhan membuktikan kuasa dan anugerah-Nya sehingga setiap kebutuhan anak-anak terlantar ini dapat terpenuhi. Panti asuhan ini sudah terdaftar pada tanggal 6 Oktober 1990, pemerintah provinsi daerah Tingkat I Sumatera Utara Cabang Dinas Sosial Medan mengeluarkan surat izin dengan nomor: 467-6/ 1471. Jadi panti asuhan ini adalah suatu lembaga kesejahteraan sosial yang merupakan pengganti fungsi keluarga sekaligus tempat tinggal bagi anak-anak asuh. Adapun pelayanan kesejahteraan sosial yang diberikan Panti Asuhan Elida ini adalah pelayanan yang meliputi asuhan anak, pendidikan formal, pembinaan rohani, kegiatan olahraga seperti bermain bola kaki, latihan bermain musik, paduan suara, rekreasi, dan bermain sebagai kegiatan sosialisasi mereka.

Pada umumnya anak asuh yang ada di panti ini berasal dari berbagai latar belakang masalah antara lain: yatim, piatu, yatim piatu, ketidakmampuan keluarga khususnya orang tua dan berbagai masalah lainnya seperti adanya korban bencana alam tsunami yang terjadi pada 26 Desember 2004 yang lalu yang menimpa

(3)

Aceh dan Nias. Untuk memenuhi semua kebutuhan anak-anak asuhnya maka Panti Asuhan Elida menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan sebab mereka meyakini Dialah Bapa bagi anak yatim. Di samping itu dana tersebut bisa datang melalui anak-anak Tuhan yang dijamah hatinya oleh Tuhan, baik secara pribadi, keluarga, gereja, persekutuan doa, perkantoran, dll.

Pada kenyataannya pelayanan kesejah-teraan sosial yang diberikan oleh panti mempunyai keterbatasan baik dari pelayanan panti asuhan maupun anak asuh itu sendiri. Masalah dan hambatan dalam pelayanan kesejahteraan sosial dipanti tersebut adalah keadaan prasarana panti yang dapat digunakan oleh anak-anak asuhnya seperti (sapu, kain pel, peralatan mandi, handuk, brush, dll) dan pengurus panti atau staf panti yang khusus mengawasi anak-anak asuh dengan intens, tidak ada. Hal inilah yang menyebabkan ketidakmaksimalan panti dalam melaksanakan pelayananya sehingga dapat menimbulkan pengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan bagi anak-anak asuh. Berdasarkan dari penjabaran di atas maka penulis tertarik untuk meneliti dan mengetahui permasalahan yang mereka alami sebagai fasilitas pendukung.

Metode Penelitian

Dalam penulisan ini metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif analisis. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran atau melukiskan kenyataan yang ada tentang masyarakat atau kelompok orang tertentu di lapangan secara analisis yang prosesnya meliputi penguraian hasil observasi dari suatu gejala yang diteliti atau lebih (Irawan, 2004: 35). Metode ini bertujuan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan suatu objek yang diteliti, dalam hal ini adalah untuk menggambarkan intervensi yang diberikan yayasan panti asuhan Elida terhadap anak asuhnya.

Penelitian ini dilaksanakan di Panti Asuhan Elida, yang berlokasi di Jl. Flamboyan Raya IV No. 2, Tanjung Selamat, Kecamatan Medan Tuntungan. Alasan penulis memilih panti asuhan ini adalah karena panti asuhan ini memiliki latar belakang yang unik dan memiliki visi dan misi memperkenalkan kasih Allah kepada mereka (anak-anak) yang tidak

mendapatkan kasih, tanpa membedakan suku, asal, dan agama yang membentuk manusia yang bermoral yang dapat mencintai Tuhan dan sesama sehingga mereka bukan lagi anak terlantar yang tidak dipedulikan dan pada akhirnya dapat menjadi berkat di tengah-tengah masyarakat.

Populasi adalah jumlah keseluruhan unit analisis atau objek yang akan diteliti yang memenuhi karakteristik yang menjadi perhatian peneliti (Irawan, 2004: 57). Maka populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan anak-anak yang terdapat di Panti Asuhan Elida yakni 85 orang. Penarikan sampel dilakukan secara purposive sampling yaitu penarikan sampel secara sengaja. Penarikan sampel secara sengaja dilakukan dengan cara memilih tiap responden sedemikian rupa sehingga sampel yang dipilih mempunyai sifat yang sesuai dengan sifat pribadi. Pemilihan responden dilakukan dengan cara menghubungi beberapa nama-nama yang dianggap dapat memberikan informasi yang diinginkan sesuai dengan tujuan penelitian dengan pertimbangan waktu dan tenaga. Sampel dari penelitian ini adalah anak-anak yang berada di Panti Asuhan Elida dengan batasan usia 11 tahun ke atas sebanyak 19 orang. Alasannya karena pada usia ini lebih dianggap mampu untuk memberikan pendapat dan dapat menggunakan bahasa Indonesia dengan baik (anak asuh yang ada di Panti Asuhan Elida masih ada yang belum dapat menggunakan/mengerti bahasa Indonesia) untuk mengisi bahan pertanyaan-pertanyaan kuesioner yang diberikan. Dalam penelitian ini, data yang diperlukan oleh peneliti diambil dengan menggunakan teknik wawancara dilengkapi dengan kuesioner dan observasi.

Teknik analisis data yang dipergunakan pada penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan cara mentabulasi data yang berhasil dijaring melalui keterangan yang diperoleh dari responden. Kemudian dilakukan analisa data dengan menggambarkan kenyataan yang ada di tempat penelitian dan dicari frekuensi serta persentase dari jawaban yang terkumpul yang kemudian disusun dalam bentuk tabel yaitu tabel tunggal, selanjutnya diberi keterangan sesuai dengan gejala yang diamati.

Hasil Penelitian dan Pembahasan

Untuk mengawali analisis data, terlebih dahulu kita ketahui distribusi anak asuh di Panti

(4)

Asuhan Elida berdasarkan Pendidikan, seperti yang disajikan pada tabel berikut.

Tabel 1.

Distribusi Anak Asuh Panti Asuhan Elida Berdasarkan Pendidikan No Pendidikan Jumlah 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Belum Sekolah Taman Kanak-kanak SD SLTP SLTA Tamat SLTA Perguruan Tinggi 22 orang 10 orang 46 orang 5 orang - - -Jumlah 85 orang

Sumber: Data Primer

Panti Asuhan Elida sebagai suatu badan atau lembaga sosial, intervensi yang dapat dilakukan adalah berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan anak-anak asuh. Adapun bidang intervensi tersebut: bidang asuhan anak, bidang pendidikan termasuk pendidikan formal maupun kegiatan keterampilan sebagai pendukung untuk anak asuh apabila sudah keluar dari panti asuhan dan pembinaan rohani.

Panti Asuhan Elida sebagai lembaga substitusi keluarga melaksanakan peran orang tua untuk mengasuh dan mendidik anak. Hal ini berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Dalam hal memenuhi kebutuhan ini sepanjang pengamatan penulis, Panti Asuhan Elida tidak mengalami kesulitan karena para donatur yang datang ke panti ini di samping memberi bantuan dalam bentuk uang, juga memberikan bantuan berupa bahan makanan. Sandang dan bahan makanan ini banyak berasal dari sumbangan-sumbangan seperti: baju, beras, indomie, telur, gula. dan lain sebagainya. Di luar kebutuhan sandang, pangan, dan tempat tinggal, anak-anak yang ada di panti ini sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari pihak panti asuhan karena kebutuhan ini merupakan kebutuhan yang mendasar. Tetapi kebutuhan inilah yang masih perlu ditingkatkan di Panti Asuhan Elida karena anak-anak asuh yang dibina di sana memiliki rasa takut yang berlebihan terhadap pimpinan panti. Hal ini sangat jelas bagi peneliti ketika melakukan observasi pada lokasi penelitian.

Seharusnya keadaan seperti ini tidak terjadi karena pihak panti sepantasnya memelihara mereka dengan kasih sayang dan kekeluargaan yang tinggi agar anak asuh pun merasa dihargai dan pekembangannya tidak berbeda jauh dengan anak-anak yang tinggal

bersama keluarganya. Dengan demikian tugas dan fungsi dari panti asuhan tersebut benar-benar dirasakan oleh anak asuh, yang nantinya apabila keluar dari panti asuhan Elida mereka dapat melaksanakan fungsi sosialnya dengan baik di masyarakat.

Dalam hal ini bidang pendidikan yang penulis maksudkan adalah bidang pendidikan formal anak asuh kecuali mereka yang belum memasuki usia sekolah. Anak asuh yang berada di Panti Asuhan Elida ini dimasukkan ke berbagai jenis dan tingkatan pendidikan yang sesuai dengan usianya, dimulai dari taman kanak-kanak hingga ke perguruan tinggi bagi yang ingin melanjutkan pendidikan mereka di bidang keagamaan/kerohanian.

Panti Asuhan Elida sebagai lembaga yang berada di bawah suatu naungan satu agama, yakni Kristen maka pembinaan rohani yang diterapkan bagi anak-anak asuh yang ada di panti ini adalah ajaran Kristen yaitu kharismatik. Pembinaan ini diterapkan melalui kebaktian yang dilaksanakan 2 x sehari yakni saat teduh pada pagi hari pukul 05.00 WIB dan kebaktian pada sore hari tepatnya pada pukul 18.00 WIB serta adanya doa kelompok yang dilakukan secara bergantian pada sore hari. Kebaktian ini meliputi: acara menyanyikan lagu pujian penyembahan, berdoa bersama dan pembacaan alkitab, dan renungan Firman Tuhan.

Anak-anak yang berada di Panti Asuhan ini secara bergiliran bertugas memimpin pujian yang diawasi oleh staf panti. Namun pada saat tertentu, kebaktian dan renungan Firman Tuhan langsung dibawakan oleh Ketua Panti Asuhan yaitu Ev. Sarah Devi. Kebaktian pada hari Minggu, anak-anak yang berada di panti ini tidak pergi ke gereja karena tidak adanya supir yang mengantar dan menjemput mereka, hal inilah yang menyebabkan mereka pada hari Minggu hanya beribadah bersama di panti asuhan saja.

Latihan keterampilan yang penulis maksudkan di sini adalah kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh panti asuhan untuk mengikutsertakan anak asuh. Keikutsertaan anak asuh anak asuh dalam hal ini dapat dikatakan sebagai kegiatan mengisi waktu luang anak asuh tetapi juga disertai harapan apabila anak asuh sudah keluar dari panti ini keterampilan yang mereka peroleh selama di panti dapat dijadikan modal untuk memulai hidup mandiri.

Bidang kegiatan yang masih ditekuni anak asuh pada Panti Asuhan Elida ini adalah bidang pertanian untuk anak asuh yang laki-laki dan masak-memasak pada anak asuh

(5)

perempuan. Keterampilan yang lain seperti kerajinan tangan, melukis, menggambar, dan beternak untuk saat ini sudah tidak aktif lagi (terhenti) disebabkan karena ketiadaan tenaga pembimbing kegiatan tersebut.

Aktivitas rutin bagi anak asuh yang berada di Panti asuhan Elida adalah sepak bola dan renang. Kegiatan ini biasanya dilaksanakan pada sore hari setelah selesai melaksanakan tugas rutin yang sudah ditentukan staf panti seperti membersihkan kamar tidur, kamar mandi, pekarangan, dll. Untuk sarana pendukung seperti fasilitas masih kurang memadai. Akan tetapi dari olahraga renang, anak Panti Asuhan Elida cukup berprestasi hal ini terlihat dari seorang anak asuhnya yang meraih juara renang di tingkat sekolahnya.

Kegiatan yang dilakukan oleh Panti Asuhan Elida untuk mengembangkan bakat anak asuhnya dalam bidang seni adalah dengan menyediakan alat musik gitar. Dengan demikian anak asuh baik laki-laki ataupun perempuan dapat berlatih memainkan gitar, sehingga mereka dapat berlatih vocal group atau paduan suara tanpa diawasi oleh staf panti. Selain itu mereka juga nantinya dapat mengiringi lagu pujian pada kebaktian yang dilaksanakan di panti dan acara peringatan hari-hari besar keagamaan.

Adapun gambaran responden berdasarkan usia dapat diketahui dari data yang disajikan pada Tabel 2 berikut.

Tabel 2.

Distribusi Berdasarkan Umur Responden Anak Asuh

No Usia F % 1. 2. 3. 4. 5. 11 tahun 12 tahun 13 tahun 14 tahun 15 tahun 2 6 7 3 1 10,5 31,6 36,8 15,8 5,3 Jumlah 19 100,0

Sumber: Data Primer

Temuan data umur responden menggambarkan bahwa panti asuhan ini mengasuh anak-anak dari berbagai tingkat usia, mulai dari anak-anak, remaja, hingga usia dewasa. Tetapi pada saat penelitian ini dilaksanakan, anak-anak yang diasuh di panti ini didominasi oleh anak-anak yang masih belum sekolah dan anak-anak yang masih duduk di sekolah dasar.

Adapun alasan responden masuk panti tergambar pada Tabel 3 berikut.

Tabel 3.

Distribusi Responden Anak Asuh Berdasarkan Alasan Masuk Panti

No Alasan Masuk Panti F %

1 2 3 4 5 Yatim Piatu Yatim Piatu Terlantar Pra-sejahtera 3 1 3 1 11 15,8 5,3 15,8 5,2 57,9 Jumlah 19 100,0

Sumber: Data Primer

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa terdapatnya variasi data, hal ini menunjukkan bahwa anak-anak asuh yang berada di Panti Asuhan Elida terdiri dari anak-anak yatim, piatu, yatim piatu, anak terlantar, dan anak-anak yang berasal dari keluarga yang ekonomi lemah atau dapat disebut pra-sejahtera. Jika disoroti lebih lanjut, dapat diketahui bahwa persentase anak asuh yang masih memiliki orang tua walaupun tidak lengkap tidak menjadi faktor utama anak masuk ke Panti Asuhan Elida tetapi, kemiskinanlah yang menjadi faktor utamanya. Hal ini terlihat dari persentase alasan responden masuk ke Panti Asuhan Elida karena faktor kemiskinan sangat tinggi (57,89%), sementara karena tidak memiliki orang tua atau memiliki orang tua tetapi tidak lengkap hanya sebesar (42,11%)

Sementara data tentang pekerjaan orang tua adalah sebagai berikut.

Tabel 4.

Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan Orang Tua

No Pekerjaan Orang Tua F %

1 2 3 4 Bertani Buruh Pedagang Tidak tetap 12 - 3 4 63,1 - 15,8 21,1 Jumlah 19 100,0

Sumber: Data Primer

Dari tabel di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa sumber mata pencaharian orang tua dari responden masih rendah sehingga sangat kesulitan untuk mencukupi segala kebutuhan anaknya. Mayoritas pekerjaan orang tua anak

(6)

asuh yang ada di Panti Asuhan Elida adalah sebagai petani (63,15%) kemudian pekerjaan tidak tetap (21,05%), dan sebagai pedagang (15,78%). Dari data di atas menunjukkan bahwa kurangnya kemampuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan anaknya karena kekurangan maksimal dari orang tua untuk bekerja keras dan kurangnya semangat untuk maju, jika ditinjau dari segi pendidikan, maka orang tua responden mayoritas sudah mengecap pendidikan di SLTA (42,10%).

Sisi lain yang perlu dikaji adalah pendidikan responden, di mana datanya disajikan pada Tabel 5 berikut.

Tabel 5.

Distribusi Berdasarkan Tingkat Pendidikan Anak Asuh

No Tingkat Pendidikan F % 1 2 3 4 SD SLTP SMU PT 12 7 - - 63,2 36,8 - - Jumlah 19 100,0

Sumber: Data Primer

Dari hasil penelitian dapat diketahui dengan jelas bahwa Panti Asuhan Elida untuk saat penelitian ini hanya memiliki anak asuh yang duduk di tingkat sekolah dasar (63,15%) dan SLTP (36,84%) karena pada kenyataannya anak-anak yang ada di panti ini mayoritas belum mengecap pendidikan karena usianya yang masih belum mencukupi untuk masuk sekolah. Untuk tingkat SMU dan perguruan tinggi juga tidak ada karena sebagian besar dari mereka sudah meninggalkan panti asuhan dan hidup mandiri di masyarakat.

Bagaimana proses responden masuk ke panti dapat kita ketahui dari data yang disajikan pada Tabel 6 berikut.

Tabel 6.

Distribusi Responden Berdasarkan Pihak yang Membawa ke Panti Asuhan Elida

No Yang Membawa F % 1 2 3 Orang tua Keluarga Pihak Gereja 2 13 4 10,5 68,4 21,1 Jumlah 19 100,0

Sumber: Data Primer

Dari hasil penelitian ditemukan bahwa kepedulian orang tua untuk kesejahteraan anaknya jika dilihat dari kesediaan untuk menyerahkan anaknya ke panti asuhan masih rendah (10,52%) hal ini mungkin disebabkan karena orang tua tidak rela berpisah dengan anaknya ini menunjukkan bahwa adanya hubungan yang dekat antara orang tua dan anak, kepedulian pihak keluarga sangat tinggi (68,42%) hal ini disebabkan karena keluarga (paman, bibi, dan keluarga lainnya) lebih rasional dan mengutamakan pendidikan demi masa depan daripada hubungan emosional dan pihak gereja (21,05%) ini menunjukkan wujud kepedulian dari pihak gereja untuk membantu jemaatnya yang tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya khususnya kebutuhan akan pendidikan.

Hubungan anak-anak asuh yang berada di Panti Asuhan Elida dengan pihak panti baik pimpinan dan stafnya perlu untuk dianalisa untuk melihat dan mengetahui bagaimana pihak panti melakukan pendekatan dalam mengintervensi anak asuh agar mereka dapat mengikuti program yang sudah dibuat untuk memajukan anak asuh agar mencapai target yang sudah ditetapkan. Data mengenai hubungan ini dapat diketahui dari Tabel 7 berikut.

Tabel 7.

Distribusi Jawaban Responden tentang Hubungan dengan Pihak Panti Asuhan

No Sikap Pihak Panti F %

1 2 3 4 Sangat Baik Baik Cukup Baik Tidak Baik 6 9 4 - 31,6 47,3 21,1 - Jumlah 19 100,0

Sumber: Data Primer

Dari hasil penelitian diketahui bahwa dari keseluruhan responden terdapat 9 orang responden (47,36%) menjawab sikap pihak panti baik, 6 orang (31,57%) merasa sangat baik, dan

(7)

4 orang (21,05%) cukup baik. Dari hal tersebut dapat diasumsikan bahwa sikap dari pihak panti, baik pimpinan maupun stafnya terhadap anak asuhnya sudah baik terlihat dari jawaban responden yang positif bahkan mereka pun memanggil bapak dan ibu pimpinan dengan sebutan bapak dan mama, merupakan sebutan yang sangat dekat seperti layaknya orang tua kandung. Tetapi ketika peneliti mengadakan penelitian di panti tersebut penulis melihat adanya ketidaksesuaian antara jawaban responden dengan kenyataan yang ada. Peneliti melihat sikap dari staf panti yang kurang baik ketika menghukum mereka yang melakukan kesalahan sehingga ada ketakutan dari anak asuh terhadap orang tertentu.

Hal ini kemungkinan terjadi karena adanya sugesti dari pihak panti terhadap anak asuhnya, karena terlihat adanya kejanggalan ketika responden menjawab pertanyaan sepertinya takut untuk mengatakan hal yang sebenarnya, takut apabila diketahui oleh staf panti, di samping itu pula sikap dari ibu asrama yang baik dan ramah terhadap responden sehingga mereka kesulitan untuk memberikan tanggapan.

Interaksi anak asuh dengan masyarakat sekitar perlu untuk diketahui, untuk menganalisa bagaimana hubungan komponen panti asuhan dengan masyarakat luar sekitar panti apakah anak asuh kenal dengan mereka atau tidak. Untuk melihat bagaimana interaksi ini dapat dilihat dari tabel di bawah ini:

Tabel 8.

Distribusi Jawaban Responden Interaksi dengan Masyarakat Sekitar Panti

No Interaksi F %

1 2

Kenal dan bergaul Tidak kenal/bergaul 4 15 21,1 78,9 Jumlah 19 100.0

Sumber: Data Primer

Dari tabel di atas dapat diketahui dengan jelas bahwa anak-anak Panti Asuhan Elida sebagian besar tidak kenal dan tidak bergaul dengan masyarakat di luar panti. Hal ini jelas terlihat bahwa dari keseluruhan responden terdapat 15 orang (78,94%) menjawab bahwa mereka tidak kenal dengan masyarakat sekitar panti dan 4 orang (21,05%) menyatakan kenal dan bergaul dengan mereka.

Jika dilihat dari alasan mereka yang tidak mengenal dan bergaul dengan masyarakat sekitar yang berjumlah 15 orang, maka 12 orang (80%) mereka menjawab tidak diizinkan oleh pihak panti asuhan dan 3 orang responden (20%) menjawab kalau mereka lebih senang bergaul dengan sesama anak panti asuhan. Untuk data lebih jelas dapat diperhatikan pada Tabel 9 berikut.

Tabel 9.

Distribusi Jawaban Responden tentang Alasan Tidak Berinteraksi dengan Masyarakat Sekitar Panti

No Penyebab F %

1 2

Tidak diizinkan Tidak suka ke luar

12 3

80,0 20,0

Jumlah 15 100,0

Sumber: Data Primer

Data pada tabel di atas menggambarkan bahwa sebab anak asuh tidak berinteraksi atau bergaul dengan masyarakat sekitar panti adalah karena tidak diizinkan oleh pihak panti, hal ini kemungkinan besar dilakukan karena adanya tugas rutin yang harus dilaksanakan responden sehingga tidak mempunyai kesempatan untuk bermain dengan masyarakat sekitar panti. Hal ini diketahui peneliti setelah mengamati aktivitas yang responden lakukan setiap harinya, untuk jawaban responden lebih senang bermain dengan sesama anak asuh karena mereka sudah memiliki hubungan emosional yang dekat seperti layakya saudara kandung sehingga mereka sering mengungkapkan masalah yang mereka alami di sekolah maupun di panti.

Data mengenai pelatihan keterampilan yang diselenggarakan di panti asuhan untuk anak asuh sangat diperlukan untuk melihat intervensi yang dilakukan oleh pihak panti untuk mempersiapkan anak asuhnya ketika tahap terminasi berlangsung. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat penting terhadap kesiapan anak asuh untuk memasuki dunia luar dan hidup mandiri tidak tergantung kepada pihak panti asuhan. Data ini diperlukan untuk mengetahui apakah ada pelatihan keterampilan di Panti Asuhan Elida atau tidak, lebih jelasnya dapat diperhatikan pada Tabel 10 berikut ini.

(8)

Tabel 10.

Distribusi Jawaban Responden tentang Pelatihan Keterampilan No Pelatihan Keterampilan F % 1 2 Ada Tidak Ada 17 2 89,5 10,5 Jumlah 19 100,0

Sumber: Data Primer

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa dari keseluruhan responden, terdapat 17 orang responden (89,47%) mengatakan pihak Panti Asuhan Elida menyelenggarakan pelatihan keterampilan untuk mempersiapkan anak asuhnya memasuki tahap terminasi dan 2 orang responden (10,52%) mengatakan tidak ada pelatihan keterampilan yang diselengarakan di panti.

Data jawaban responden dengan kenyataan yang peneliti temukan di lapangan bertolak belakang, karena selama peneliti berada di lokasi penelitian, peneliti tidak pernah melihat pihak panti memberikan pelatihan keterampilan terhadap anak asuhnya. Tetapi hal ini dapat diasumsikan bahwa kemungkinan besar pada tahun-tahun sebelumnya pihak panti pernah memberikan pelatihan, tetapi karena staf yang berpotensi untuk membimbing anak asuh pada saat ini tidak ada lagi, maka kegiatan ini sudah terhenti beberapa tahun karena belum ada penggantinya. Pada saat kegiatan ini terhenti berketepatan pula peneliti mengadakan penelitian sehingga jawaban responden dan kenyataan yang ditemukan peneliti berbeda.

Dari responden yang menjawab adanya pelatihan keterampilan yang pernah diselenggarakan di Panti Asuhan Elida yang berjumlah 17 orang (89,47%) menyatakan pelatihan yang pernah diikuti disajikan pada tabel berikut.

Tabel 11.

Distribusi Tanggapan Responden terhadap Pelatihan yang Pernah Diikuti

No Jenis Keterampilan F % 1 2 3 4 5 Kerajinan Tangan Peternakan Pertanian/berkebun Melukis Masak-memasak 3 3 6 4 1 17,6 17,7 35,3 23,5 5,9 Jumlah 17 100,0

Sumber: Data Primer

Dari tabel di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa anak-anak asuh yang ada di Panti Asuhan Elida lebih banyak mengikuti kegiatan keterampilan yaitu berkebun (35,29%). Hal ini terlihat jelas dari data yang diperoleh melaui angket yang sudah diisi oleh responden, kemudian keterampilan melukis (23,52%), kerajinan tangan dan peternakan masing-masing (17,64%), dan yang paling sedikit diminati adalah kegiatan masak-memasak (5,88%).

Setelah dilakukan penelitian di Panti Asuhan Elida maka dapat diketahui kemampuan anak asuh untuk menerapkan keterampilan yang pernah mereka ikuti. Untuk melihat kemampuan tersebut dapat diperhatikan pada tabel di bawah ini.

Tabel 12.

Distribusi Tanggapan Responden terhadap Bermanfaat tidaknya Kegiatan Keterampilan yang Diikuti di Panti

Asuhan Elida No Tanggapan F % 1 2 3 4 Sangat bermanfaat Bermanfaat Kurang bermanfaat Tidak bermanfaat - 17 2 - - 89,5 10,5 - Jumlah 19 100,0

Sumber: Data Primer

Dari tabel di atas terlihat adanya kecenderungan dari respondden anak asuh yang menyatakan bahwa kegiatan keterampilan yang penah mereka ikuti selama di Panti Asuhan Elida bermanfaat ketika mereka memasuki tahap terminasi (hidup mandiri) di masyarakat. Hal ini dapat diketahui dari jawaban responden, di mana 17 orang responden (89,47%) menyatakan bermanfaat dan hanya 2 orang responden (10,52%) yang memberi jawaban kurang bermanfaat. Perbedaan pendapat ini terjadi karena kegiatan keterampilan yang diadakan di Panti Asuhan Elida pada saat sekarang ini vakum, sehingga sebagian responden memberi tanggapan bahwa keterampilan yang diselenggakan kurang bermanfaat, karena apa yang mereka dapatkan tidak menunjukkan sesuatu yang mengagumkan.

Adapun arah pilihan responden yang berhubungan dengan bidang keterampilan dapat diperhatikan pada tabel di bawah ini.

(9)

Tabel 13.

Distribusi Pilihan Responden Berhubungan dengan Bidang Keterampilan No Pilihan Keterampilan F % 1 2 3 4 Menekuni pertanian Menekuni Peternakan Wiraswasta Lainnya 5 3 10 1 26,3 15,8 52,6 5,3 Jumlah 19 100,0

Sumber: Data Primer

Data di atas dapat dilihat bahwa arah pilihan responden yang berhubungan dengan bidang keterampilan mayoritas ke arah wiraswasta yaitu sebayak 10 orang responden (52,63%), menekuni pertanian sebanyak 5 orang (26,31%), menekuni peternakan sebanyak 3 orang (15,78%) dan yang lainnya sebanyak 1 orang (5,26%) ingin menjadi seorang penyanyi. Arah pilihan responden ini didasarkan kepada minat masing-masing anak asuh. Data yang diperoleh dari jawaban responden terjadi perbedaan antara pelatihan yang pernah diikuti dengan minat untuk menekuni keterampilan. Dengan demikian dapat diasumsikan, bahwa meskipun responden sebagian besar mengikuti kegiatan keterampilan berkebun tetapi jika diberikan kebebasan untuk memilih, mereka lebih menyukai wiraswasta.

Dalam hal kegiatan kerohanian, arah pilihan anak asuh juga bervariasi, ada yang ingin menjadi seorang pendeta, menjadi penginjil, dan menjadi guru sekolah Minggu. Untuk lebih jelasnya dapat di gambarkan melalui tabel di bawah ini.

Tabel 14.

Distribusi Pilihan Responden Berhubungan dengan Bidang Kerohanian No Pilihan Kerohanian F % 1 2 3 Pendeta Penginjil

Guru sekolah Minggu

6 3 10 31,6 15,8 52,6 Jumlah 19 100,0

Sumber: Data Primer

Apabila dilihat dari pilihan responden yang berhubungan dengan bidang kerohanian, anak-anak asuh lebih meminati untuk menjadi seorang guru sekolah Minggu, hal ini terlihat dari keseluruhan responden terdapat 10 orang responden (52,63%) yang memilih menjadi guru sekolah Minggu, kemudian 6 orang (31,57%)

ingin menjadi seorang pendeta, dan 3 orang (15,78%) ingin menjadi seorang penginjil.

Data kebutuhan yang berhubungan dengan pendidikan formal anak asuh diperlukan untuk melihat sejauh mana pihak panti asuhan memperhatikan kebutuhan anak asuhnya, apakah keseluruhan kebutuhan ditanggung oleh pihak panti atau sebagian dibantu oleh donatur. Kebutuhan yang dimaksud peneliti di sini adalah seragam sekolah, uang sekolah, sepatu sekolah, tas sekolah, alat tulis, buku-buku pelajaran, dan ongkos. Untuk melihat bagaimana tanggapan responden terhadap kebutuhan ini dapat diperhatikan tabel berikut ini.

Tabel 15.

Tanggapan Responden tentang Pemenuhan Kebutuhan Pendidikan Formal No Jawaban Responden F % 1 2 Panti Asuhan Donatur 12 7 63,2 36,8 Jumlah 19 100,0

Sumber: Data Primer

Dari tabel di atas terlihat jelas bahwa dari keseluruhan responden yang menjawab angket, terdapat 12 orang (63,15%) mengatakan bahwa kebutuhan mereka yang berhubungan dengan pendidikan formal seperti seragam sekolah, buku-buku pelajaran, dan yang lainnya ditanggung oleh panti asuhan seluruhnya, tetapi 7 responden (36,84%) mengatakan kebutuhan pendidikan formal mereka tidak ditanggung oleh panti asuhan secara keseluruhan melainkan sebagian karena dibantu oleh tamu/donatur.

Jika diperhatikan data yang diperoleh dari responden staf panti maka dapat diketahui bahwa kebutuhan anak asuh ditanggung oleh pihak panti seluruhnya terlihat dari jawaban responden pada angket yang dibagikan, untuk lebih jelasnya dapat diperhatikan pada tabel di bawah ini:

Tabel 16.

Distribusi Jawaban Responden (Staf Panti) terhadap Kebutuhan Formal Anak Asuh

No Jawaban Responden F % 1 2 Panti Asuhan Donatur 5 1 83,3 16,7 Jumlah 6 100,0

Sumber: Data Primer

Dari data yang telah diperoleh dapat ditarik kesimpulan bahwa semua kebutuhan

(10)

anak panti ditangani seluruhnya oleh panti asuhan meskipun sumber dari kebutuhan seperti sepatu, tas, dan yang lainnya diperoleh dari tamu/donatur.

Apabila dilihat dari pendampingan yang dilakukan untuk anak asuh pada saat belajar, maka pihak panti juga mengintervensi sampai ke tahap ini, terlihat pada saat anak asuh belajar untuk mempersiapkan diri mengikuti pelajaran di sekolah pada keesokan harinya, staf panti juga mendampingi (mengawasi) mereka, tetapi apabila staf berhalangan untuk mendampingi, maka anak panti yang lebih dewasa akan menggantikan tugas untuk mengawasi adik-adiknya terutama untuk pekerjaan rumah mereka.

Ketika penelitian ini berlangsung, peneliti melihat adanya kerinduan anak asuh untuk melanjutkan pendidikan mereka ke jenjang yang lebih tinggi hal ini dapat diketahui dari hasil penyebaran angket, di mana seluruh responden menyatakan ingin untuk melanjutkan pendidikan mereka, tetapi dalam hal ini pihak panti tidak memberikan kesempatan kepada semua anak panti untuk melanjutkan pendidikan mereka setelah tamat SLTA kecuali mereka yang ingin menjadi pendeta (Hamba Tuhan) karena panti asuhan hanya bersedia membiayai pendidikan dalam bidang keagamaan saja (tidak bebas dalam menentukan jurusan) misalnya sesuai bakat anak asuh. Untuk lebih jelasnya dapat diperhatikan pada tabel di bawah ini.

Tabel 17.

Distribusi Jawaban Responden tentang Minat untuk Melanjutkan Pendidikan No Tanggapan F % 1 2 Berminat Tidak berminat 19 - 100,0 - Jumlah 19 100,0

Sumber: Data Primer

Data yang diperoleh dari tabel di atas menunjukkan bahwa (100%) responden berminat untuk melanjutkan pendidikan mereka, tetapi keinginan mereka menjadi terkendala karena tidak semua responden memiliki keinginan untuk menlanjutkan pendidikan di sekolah theologia, dengan demikian terlihat adanya kecenderungan responden setelah tamat SMA hidup mandiri di masyarakat sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Panti Asuhan Elida.

Panti Asuhan Elida merupakan panti yang berada di bawah naungan suatu agama yaitu agama kristen protestan (kharismatik). Demikian halnya dengan cara mereka membina anak-anak asuh yang berada di panti tersebut dengan pembinaan rohani. Data yang jelas mengenai kegiatan pembinaan rohani ini dan kegiatan apa saja yang dilakukan untuk pembinaan kerohanian ini, dapat diperhatikan pada tabel berikut ini.

Tabel 18.

Distribusi Pembinaan Rohani

No Pembinaan Rohani F % 1 2 Ada Tidak 19 - 100,0 - Jumlah 19 100,0

Sumber: Data Primer

Data di atas dapat memberikan penjelasan bahwa di panti asuhan pembinaan rohani sudah terlaksana dengan baik dan diikuti oleh semua responden (100%). Adapun kegiatan yang dilakukan untuk pembinaan rohani ini adalah: melaksanakan kebaktian pada pagi dan sore hari, memimpin pujian dan penyembahan, berdoa, membaca Alkitab (setiap hari), renungan Firman Tuhan (khotbah) menelaah Alkitab, dan jam doa kelompok.

Frekuensi pembinaan rohani yang diikuti responden sangat penting diketahui untuk melihat peran dan tanggung jawab dari panti untuk memperkenalkan kasih Tuhan kepada anak asuhnya sesuai dengan visi dari panti asuhan ini, untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari tabel berikut ini:

Tabel 19.

Distribusi Frekuensi Pembinaan Rohani yang Diikuti Responden No Pembinaan Rohani F % 1 2 3 Sering Jarang Tidak pernah 17 2 - 89,5 10,5 - Jumlah 19 100,0

Sumber: Data Primer

Tabel di atas memberikan penjelasan bahwa pihak Panti Asuhan Elida benar-benar memberikan perhatian dalan hal kerohanian anak asuhnya, jelas terlihat dari frekuensi

(11)

pembinaan rohani yang diberikan dan yang diikuti oleh anak asuh dan banyaknya kegiatan yang berhubungan dengan kerohanian. Demikian halnya dengan jawaban responden staf panti berikut ini.

Kebaktian pada hari Minggu penting pula untuk diamati karena hal ini juga berhubungan dengan pembinaan kerohanian yang diberikan kepada anak asuh, selain itu wadah ini pula merupakan kesempatan bagi anak asuh untuk bersekutu bersama dengan orang-orang di luar anak panti asuhan untuk memuji dan menyembah Tuhan. Frekuensi kebaktian pada hari Minggu dapat diamati melaui tabel di bawah ini.

Tabel 20.

Distribusi Frekuensi Ibadah Hari Minggu

No Jawaban Responden F %

1 2 3

Setiap hari Minggu 2 Minggu sekali Tidak Pernah 4 1 14 23,5 5,9 73,6 Jumlah 19 100,0

Sumber: Data Primer

Data tabel di atas memberikan gambaran bahwa setiap hari Minggu sebagian besar anak asuh tidak beribadah ke gereja, terlihat dari jawaban responden yang menjawab tidak pernah sebanyak 14 orang (73,68%) dari 19 responden, 4 orang (23,52%) mengatakan setiap hari Minggu, dan satu orang responden (5,88%) mengatakan 2 Minggu sekali. Jadi dapat disimpulkan bahwa terjadi keragaman jawaban responden. Demikian halnya dengan tabel jawaban responden/staf panti di bawah ini.

Tabel 21.

Distribusi frekuensi Kebaktian/Ibadah pada Hari Minggu

No Pembinaan Rohani F %

1 2 3

Setiap hari Minggu 2 Minggu sekali Tidak Pernah 3 - 3 50,0 - 50,0 Jumlah 6 100,0

Sumber: Data Primer

Data yang diperoleh dari angket yang diperoleh dari angket yang diisi oleh staf panti 3 orang (50%) menyatakan bahwa anak-anak asuh yang berada di panti setiap hari Minggu beribadah ke gereja tetapi, 3 orang (50%) lagi menyatakan bahwa anak asuh yang berada di panti tidak pergi ke gereja pada hari Minggu.

Dalam hal ini terjadi perbedaan jawaban antara staf panti yang sudah lama bekerja di panti dan berasal dari anak panti dengan staf yang tidak berasal dari anak panti dan yang baru bekerja di bawah satu tahun. Setelah mengadakan penelitian di Panti ini maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa anak-anak asuh yang berada di Panti ini tidak pergi ke gereja untuk beribadah pada hari Minggu berdasarkan hasil wawancara dengan responden yang dalam hal ini adalah anak asuh dan beberapa staf panti, hal ini terjadi karena tidak adanya supir yang mengantar mereka ke gereja, tetapi peneliti melihat bahwa staf panti yang bertugas sebagai supir yang biasa mengantar mereka (anak panti) pergi ke sekolah berada di panti atau dengan kata lain tinggal di panti. Sehingga alasan tidak adanya supir pada hari Minggu kurang tepat.

Data mengenai pembinaan di luar pembinaan rohani diperlukan untuk mengetahui ataupun memberikan gambaran apakah panti asuhan menyelenggarakan pembinaan lain seperti pembinaan sosial (cara bergaul), etika, mental, dan sebagainya.

Tabel 22.

Distribusi Tanggapan Responden tentang Pembinaan di Luar Pembinaan Rohani

No Jawaban Responden F % 1 2 Ada Tidak ada 14 5 73,7 26,3 Jumlah 19 100,0

Sumber: Data Primer

Dari tabel di atas terlihat jelas bahwa dari keseluruhan responden terdapat 14 orang responden (73,68%) mengatakan bahwa pihak panti asuhan menyelenggarakan pembinaan lain di luar pembinaan rohani. Adapun pembinaan yang diselenggakankan adalah: pembinaan sosial seperti cara bergaul dan etika, serta pembinaan dalam hal pendidikan seperti bahasa Inggris. Frekuensi pembinaan ini jarang sekali kecuali dalam hal pendidikan bahasa Inggris yang dilaksanakan 2 x dalam seminggu.

Data ini berhubungan dengan tanggapan dari responden anak asuh terhadap sistem atau cara pihak panti untuk membimbing anak-anak asuhnya setiap hari, baik pada saat melakukan pekerjaan rutin, maupun yang berhubungan dengan pendidikan agar nantinya dapat menjadi orang yang berdisiplin dan berguna.

Berikut ini adaah data tentang tempat berobat bilamana responden mengalami sakit.

(12)

Tabel 23.

Distribusi Jawaban Responden (Anak Asuh)

No Tempat berobat F %

1 2 3

Dokter (rumah sakit) Di rumah Puskesmas - 12 7 -63,7 33,3 Jumlah 19 100,0

Sumber: Data Primer

Dari data yang diperoleh 12 responden (63,15%) mengatakan apabila sakit di rumah saja, 7 responden (36,84%) mengatakan dibawa ke Pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas). Tetapi jika dibandingkan dengan jawaban yang diberikan oleh staf panti 4 orang (66,66%) mengatakan apabila anak asuh sakit dibawa ke dokter atau ke rumah sakit dan 2 orang (33,33%) mengatakan di rumah saja. Jadi dapat disimpulkan bahwa jawaban staf panti dengan anak asuh terdapat perbedaan, tetapi yang peneliti amati bahwa anak-anak panti asuhan yang sakit tidak dibawa ke rumah sakit apabila penyakitnya biasa saja tetapi di rumah saja diberi makan obat yang ada, apabila penyakitnya tidak dapat diatasi lagi tetapi harus memerlukan pertolongan dokter, dibawa ke dokter, seperti kasus anak asuh yang masih kecil jatuh dari lantai dua ketika bermain-main, langsung dibawa ke dokter.

Dengan demikian diketahui bahwa pihak panti asuhan tidak pernah membiarkan anak asuhnya apabila sedang sakit, melainkan memberikan obat dan membawa ke rumah sakit apabila penyakitnya sudah parah atau di luar penyakit ringan. Hal ini menunjukkan bahwa pihak panti sudah memberikan intervensi terhadap kesehatan anak asuhnya.

Sedangkan pemenuhan kebutuhan makanan sehari-hari yang diterima responden dapat kita lihat datanya pada Tabel 24 berikut.

Tabel 24.

Distribusi Tanggapan Responden tentang Pemenuhan Kebutuhan Makanan Sehari-hari

No Tingkat Gizi F % 1 2 Baik Kurang baik 17 2 89,5 10,5 Jumlah 19 100,0

Sumber: Data Primer

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa semua responden yang mengisi angket, terdapat 17 orang responden (89,47%) meyatakan bahwa

makanan yang dinikmati setiap hari sudah memenuhi tingkat gizi yang baik dan 2 orang responden (10,52%) menyatakan masih belum memenuhi tingkat gizi yang baik.

Tabel 25.

Distribusi Tanggapan Responden Variasi Makanan yang Dinikmati Sehari-hari

No Variasi Makanan F % 1 2 3 Tetap Tidak tentu Berganti-ganti - 1 18 - 5,3 94,7 Jumlah 19 100,0

Sumber: Data Primer

Data di atas memberi gambaran bahwa makanan yang dinikmati setiap hari menunya berganti-ganti atau dapat dikatakan bervariasi sesuai dengan jawaban responden, di mana 18 responden (94,73%) menyatakan menu makanan setiap harinya bervariasi hanya 1 responden (5,26%) yang menyatakan menu makanan setiap harinya tidak tentu.

Tabel 26.

Distribusi Tanggapan Responden Menu Makanan yang Dinikmati Sehari-hari No Menu Makanan F % 1 2 Memuaskan Tidak memuaskan 19 - 100,0 - Jumlah 19 100,0

Sumber: Data Primer

Data pada tabel di atas memberikan gambaran bahwa seluruh responden menyatakan menu makanan yang dinikmati setiap harinya sudah memuaskan, terlihat pada jawaban responden di mana seluruhnya menyatakan puas dengan menu makanannya.

Sedangkan data tentang frekuensi minum susu dapat dilihat pada Tabel 27 berikut.

(13)

Tabel 27.

Distribusi Tanggapan Responden Frekuensi Minum Susu No Minum susu F % 1 2 3 4 Setiap hari 1 x 2 hari 1 x 3 hari > 1 x 4 hari 4 4 2 9 21,1 21,0 10,5 47,4 Jumlah 19 100,0

Sumber: Data Primer

Dari hasil penjabaran tabel di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa Panti Asuhan Elida, dari segi pemenuhan kebutuhan pangan sudah baik terlihat dari jawaban-jawaban responden dari hasil penyebaran angket baik dari tingkat gizi, variasi makanan yang berganti-ganti, dan tingkat kepuasan anak asuh terhadap menu makanan yang disajikan sudah memuaskan terlihat dari semua responden (100%) mengatakan puas dengan menu makanan setiap harinya, tetapi dalam hal frekuensi untuk minum susu masih kurang terlihat dari jawaban responden sebanyak 9 orang (47,36%) yang mengatakan frekuensi minum susu di atas 4 hari sekali.

Jika ditinjau dari segi pemenuhan kebutuhan akan air dan lampu apakah sudah dapat dinikmati oleh semua anak asuh menurut responden anak asuh dan staf panti, berbeda dengan hasil penelitian (observasi) peneliti. Hasil observasi dari peneliti kebutuhan ini masih kurang memadai karena untuk mandi saja anak asuh kesulitan dengan ketersediaan air di kamar mandi, di mana mereka harus mengangkat air untuk mandi. Sementara jawaban responden kebutuhan ini sudah memadai meskipun ada 6 responden anak asuh (31,57%) dan 2 orang staf panti (33,33%) mengatakan kurang memadai. Untuk lebih jelasnya dapat diperhatikan dari data tabel berikut ini:

Tabel 28.

Distribusi Tanggapan Responden Anak Asuh Kebutuhan Air dan Listik/Lampu

No Pemenuhan F % 1 2 Terpenuhi Tidak terpenuhi 13 6 68,4 31,6 Jumlah 19 100,0

Sumber: Data Primer

Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa kebutuhan akan air dan listrik sudah terpenuhi sesuai dengan jawaban ke-13 responden (68,42%) semetara 6 responden (31,57%) menyatakan kebutuhan air dan listrik belum terpenuhi. Perbedaan jawaban ini terjadi karena responden didominasi oleh anak asuh yang laki-laki, di mana kebutuhan mereka untuk air dan listrik tidak bermasalah. Hal ini hanya berlaku untuk responden yang perempuan di mana, kondisi kamar mandi yang tidak berlampu, ventilasi udara yang tidak ada, dan air yang tidak lancar serta WC yang tumpat.

Data mengenai sarana pendukung bakat perlu untuk dianalisis karena dapat memberikan gambaran intervensi yang diberikan oleh panti asuhan terhadap anak asuhnya khusus untuk mendukung bakat mereka. Untuk lebih jelasnya dapat diperhatikan tabel di bawah ini mengenai tanggapan responden terhadap sarana pendukung bakat.

Tabel 29.

Distribusi Tanggapan Responden Sarana Pendukung Bakat No Sarana Pendukung F % 1 2 Ada Tidak ada 16 3 84,2 15,8 Jumlah 19 100,0

Sumber: Data Primer

Setelah dilakukan penelitian dapat disimpulkan bahwa panti asuhan peduli dengan bakat mereka khususnya dalam bidang olahraga dan seni. Sarana yang mendukung untuk kedua bidang ini juga disediakan walaupun masih yang sederhana seperti: olahraga hanya untuk sepak bola dan renang, dan bidang seni yaitu musik yang dalam hal ini panti menyediakan alat musik gitar. Kegiatan hiburan yang pernah diadakan di Panti Asuhan Elida adalah: koor, vocal group, drama rohani, menari, lomba menyanyi, scrable, nonton TV (setiap hari Sabtu dan Minggu serta hari libur), jalan-jalan, berenang.

Data mengenai pemenuhan kebutuhan anak asuh akan pakaian, baik pakaian yang dipakai sehari-hari, bepergian atau undangan, serta akomodasi (sandal, sepatu, selimut, kasur, dll.) di perlukan karena data-data ini dapat memberi gambaran untuk mengukur intervensi Panti Asuhan Elida terhadap anak asuhnya. Tabel 30 di bawah ini menunjukkan intervensi

(14)

panti terhadap pemenuhan kebutuhan pakaian dan akomodasi.

Tabel 30.

Distribusi Tanggapan Responden Anak Panti terhadap Pemenuhan Kebutuhan Pakaian dan Akomodasi

No Pemenuhan F % 1 2 3 4 Sangat terpenuhi Terpenuhi Kurang terpenuhi Tidak terpenuhi - 15 4 - - 78,9 21,1 - Jumlah 19 100,0

Sumber: Data Primer

Data di atas menunjukkan bahwa kebutuhan anak asuh dalam hal kebutuhan pakaian dan akomodasi seperti sandal, sepatu, selimut, bantal, dan yang lainnya sudah terpenuhi sesuai dengan jawaban angket yang diisi oleh 15 responden (78,94%) dan 4 orang responden (21,05%) menyatakan kebetuhan ini masih kurang terpenuhi.

Tabel 31.

Distribusi Tanggapan Responden Staf Panti terhadap Pemenuhan Kebutuhan Pakaian dan Akomodasi

No Pemenuhan F % 1 2 3 4 Sangat terpenuhi Terpenuhi Kurang terpenuhi Tidak terpenuhi 1 4 1 - 16,7 66,6 16,7 - Jumlah 6 100,0

Sumber: Data Primer

Data yang diperoleh dari 6 responden staf panti menunjukkan bahwa 4 orang responden (66,66%) kebutuhan akan pakaian dan akomodasi anak asuh sudah terpenuhi, 1 orang responden (16,66%) sangat terpenuhi, dan 1 orang responden menyatakan kurang terpenuhi (16,66%). Kenyataan yang peneliti temukan pada saat penelitian di Panti Asuhan Elida, bahwa kebutuhan anak asuh akan pakaian dan akomodasi sudah terpenuhi tetapi belum seperti yang diharapkan karena, khusus untuk anak asuh yang laki-laki terutama yang kecil-kecil kebutuhan ini sangat kurang. Fakta ini terlihat dari hasil observasi peneliti, di mana anak asuh yang laki-laki sering sekali memakai baju yang

sama dari hari ke hari sampai warna dari pakaian tersebut sangat kumal sementara persediaan baju di gudang cukup banyak. Hal ini tidak dialami anak asuh yang perempuan karena adanya peluang untuk mengambil pakaian dari gudang. Di dalam asrama puteri terdapat gudang pakaian yang diberikan oleh tamu.

Perbedaan jawaban responden dengan kenyataan yang ada terjadi karena kekurangan pakaian dan akomodasi hanya dialami oleh anak asuh yang kecil, sementara responden yang memberikan jawaban sudah remaja yang berusia 11 tahun ke atas yang sedang duduk di bangku SD dan SLTP yang tidak mengalami hal yang sama dengan anak asuh yang kecil. Dalam hal ini, intervensi panti asuhan seharusnya lebih ditingkatkan karena sepertinya keadaan ini luput dari perhatian pihak panti asuhan.

Data mengenai pembagian kerja yang dilakukan di panti asuhan untuk anak-anak asuhnya perlu untuk dianalisa karena hal ini dapat memberikan gambaran apakah pihak panti melibatkan anak asuhnya dalam hal pekerjaan sehari-hari atau tidak dan membantu mereka dalam hal memberikan contoh yang baik atau dapat dikatakan membimbing mereka ketika melaksanakan tugasnya. Hal ini diperlukan untuk mempersiapkan mereka memasuki tahap terminasi dari Panti Asuhan Elida.

Tabel 32.

Distribusi Pembagian Tugas di Panti Asuhan Elida

No Pembagian Tugas F % 1 2 Ada Tidak ada 19 100,0 - Jumlah 19 100,0

Sumber: Data Primer

Dari tabel di atas dapat diketahui dengan jelas bahwa di Panti Asuhan Elida, terdapat adanya pembagian tugas terhadap anak asuhnya terlihat dari semua responden (100%) mengatakan adanya permbagian tugas pada angket yang sudah disebarkan, untuk pembagian tugas ini dilakukan oleh staf panti sendiri. Adapun jenis pekerjaan yang ditugaskan kepada anak asuhnya adalah:

• Membersihkan kamar tidur, teras, membersihkan kaca dan tangga

• Membersihkan kamar mandi • Menyiram bunga

(15)

• Menyapu halaman

• Mencuci piring dan membantu mempersiapkan makanan di dapur

• Mempersiapkan ruang kebaktian (menyusun kursi, memimpin pujian, dan memainkan gitar)

• Berkebun.

Semua jenis pekerjaan yang sudah dibagikan kepada setiap anak asuh, maka staf panti tidak membiarkan mereka melaksanakan tugasnya, tetapi mengawasi sampai mereka menyelesaikan pekerjaannya dengan baik (Hasil Penyebaran Angket 2006).

Data mengenai hubungan sesama anak panti juga di perlukan karena dapat memberikan gambaran pihak panti berusaha untuk membimbing adik-adiknya agar benar-benar memiliki hubungan yang dekat lebih dari seorang sahabat misalnya dalam hal mengungkapkan permasalahan yang mereka hadapi, untuk lebih jelasnya dapat di perhatikan pada Tabel 33 di bawah ini:

Tabel 33.

Distribusi Kesan dan Perasaan dengan Teman Satu Kamar

No Kesan dan Perasaan F %

1 2 3 4 Seperti saudara Teman akrab Teman biasa Tidak tahu-menahu 13 1 5 - 68,4 5,3 26,3 - Jumlah 19 100,0

Sumber: Data Primer

Data tentang jawaban responden terhadap kesan dan perasaan anak asuh terhadap teman sekamarnya sudah cukup baik, hal ini terlihat dari seluruh responden yang mengisi angket terdapat 13 orang (68,42%) menyatakan bahwa hubungan mereka layaknya seperti saudara kandung (kakak beradik), 5 orang (26,31%) menyatakan seperti teman biasa saja, dan yang terakhir 1 orang responden menyatakan bahwa hubungan dengan sesama anak asuh seperti teman akrab. Untuk mengetahui data yang lebih jelas dapat diperhatikan pada tabel berikut ini.

Tabel 34.

Distribusi Jawaban Reponden Ketika Mempunyai Kesulitan No Sharing F % 1 2 3 4

Sesama anak Panti Staf/Petugas Ibu Asrama/asuh Pimpinan Panti 7 10 - 2 36,9 52,6 - 10,5 Jumlah 19 100,0

Sumber: Data Primer

Data di atas memberikan gambaran bahwa anak asuh yang berada di panti memiliki keterbukaan yang tinggi, hal ini terlihat dari kesediaan mereka untuk mengungkapkan permasalahan yang mereka alami kepada orang lain misalnya kepada sesama anak panti asuhan dan staf panti. Tetapi dalam hal ini anak-anak Panti Asuhan Elida lebih terbuka kepada staf panti karena 10 orang dari antara mereka (52,63%) lebih memilih staf panti sebagai tempat untuk mengungkapkan permasalahan yang mereka alami. Untuk itu pula hubungan antara sesama anak asuh perlu lebih ditingkatkan lagi.

Tabel 35.

Distribusi Jawaban Reponden Perasaan Selama di Panti Asuhan

No Perasaan F % 1 2 Senang Tidak senang 12 7 63,2 36,8 Jumlah 19 100,0

Sumber: Data Primer

Data pada tabel di atas memberikan gambaran bahwa anak asuh yang berada di panti, 12 orang (63,15%) meyatakan bahwa mereka senang untuk tinggal di panti asuhan dan 7 orang (36,84%) menyatakan tidak. Hal ini terjadi karena anak-anak yang berada di Panti lebih memikirkan masa depannya karena mereka memanfaatkan kesempatan yang diberikan oleh pihak panti untuk membiayai pendidikan mereka tanpa menghiraukan hambatan yang ada seperti rindu kepada keluarga dan kebosanan tinggal di panti.

Kesimpulan

Panti asuhan Elida merupakan lembaga sosial yang mengasuh anak-anak penyandang

(16)

masalah kesejahteraan sosial yang berasal dari latar belakang keluarga yang tidak mampu melaksanakan fungsi dan peranannya dengan baik seperti: anak-anak terlantar, anak yatim, piatu, yatim piatu, dan anak-anak pra-sejahtera (ekonomi keluarga lemah).

Intervensi yang diberikan oleh Panti Asuhan Elida terhadap anak asuhnya mencakup: peningkatan kebutuhan pokok, peningkatan pendidikan formal, pemenuhan kebutuhan rohani melalui penyediaan fasilitas-fasilitas pemenuhan kebutuhan sandang, pangan dan papan, bimbingan rohani, sosial dan mental, keterampilan, olahraga, dan kesenian.

Program-program yang dilaksanakan pihak panti asuhan terhadap anak asuhnya menunjukkan hal yang positif terlihat dari jawaban-jawaban responden, hal ini juga dapat dilihat dari hubungan anak asuh dengan staf panti yang baik, di mana terdapat kesediaan anak asuh untuk mengungkapkan masalah yang dihadapinya lebih dominan kepada staf panti daripada kepada sesama anak asuh.

Fasilitas yang tersedia di Panti Asuhan Elida untuk mendukung pemenuhan kebutuhan anak asuhnya sudah cukup memadai meskipun masih ada beberapa kondisi bangunan yang harus diperbaiki, tetapi dalam hal ini etika penelitian berlangsung bangunan yang membutuhkan penanggulangan sedang direnovasi, hal ini menunjukkan adanya kepedulian pihak panti terhadap kebutuhan anak asuhnya.

Sebaiknya pihak Panti Asuhan lebih memperhatikan perlunya mengikuti kebaktian di gereja pada hari Minggu selain anak asuh dapat menyembah Tuhan di gereja mereka juga dapat berinteraksi dengan teman-teman di luar anak panti.

Panti Asuhan Elida sebagai lembaga substitusi orang tua/keluarga sudah cukup baik melaksanakan tugasnya, hal ini terlihat dari terpenuhinya kebutuhan pokok, pendidikan, kesehatan, akomodasi, serta perawatan kesehatan anak asuh.

Saran

Pihak panti asuhan sebaiknya menggalakkan kembali kegiatan keterampilan yang sempat terhenti karena tidak adanya staf yang berpotensi karena hal ini dapat membantu anak asuh untuk memasuki tahap terminasi dan hidup mandiri di luar Panti Asuhan Elida.

Sebaiknya pihak Panti Asuhan Elida lebih menekankan program-program yang jelas untuk meningkatkan prestasi anak asuh terutama dalam bidang pendidikan dan disiplin didukung dengan staf panti yang berpotensi dari berbagai spesialisasi ilmu, khususnya memiliki kualifikasi di bidang kesejahteraan sosial.

Bakat dan talenta anak asuh dapat lebih ditingkatkan lagi dengan sarana yang dimiliki oleh Panti Asuhan Elida.

Sebaiknya program pengasuhan kepada anak-anak panti lebih diperhatikan, agar terjadi hubungan yang lebih baik lagi antara pihak panti asuhan dengan anak-anak asuh dan didukung oleh jumlah staf panti yang cukup.

Sebaiknya pihak panti asuhan lebih memperhatikan pentingnya mengikuti kebaktian di gereja pada hari Minggu selain anak asuh dapat menyembah Tuhan di gereja mereka juga dapat berinteraksi dengan teman-teman di luar anak panti.

Program intervensi dan kegiatan-kegiatan Panti Asuhan Elida agar diintensifkan dan ditingkatkan agar kesejahteraan sosial anak asuh dapat terpenuhi dengan baik seperti: kebutuhan pangan, sandang dan akomodasi, perawatan kesehatan, kesempatan untuk melanjutkan pendidikan, latihan keterampilan, serta pembinaan rohani kepada anak-anak yang mengalami keterampilan.

Daftar Pustaka

Adi, Isbandi Rukminto, 2003. Pemberdayaan, Pengembangan Masyarakat dan Intervensi Komunitas, edisi Revisi. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

____ , Isbandi Rukminto, 2004. Ilmu Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial: Pengantar pada Beberapa Pengertian dan Beberapa Pokok Bahasan. Jakarta: Fisip UI Press.

Arikunto, Suharsimi, 2002. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Amirin, Tatang, 2000. Menyusun Rencana Penelitian. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Budiraharjo, Paulus. 1997. Mengenal Teori Kepribadian Mutakhir

(17)

Hermawati, Istiana, 2001. Metode dan Teknik dalam Praktik Pekerjaan Sosial. Yogyakarta: Adicita

Lubis, Suwardi, 1997. Metodologi Penelitian Sosial USU PRESS

Nasution, Arif, 2001. Metode Penyusunan Proposal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial. Medan: Unit Pengembangan Riset FISIP USU dan Monora.

Nurdin, M. Fadhil, 1989. Pengantar Studi Kesejahteraan Sosial. Bandung: Angkasa. Poedarminta, W.J.S. 2005. Kamus Besar Bahasa

Indonesia, edisi ketiga. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Balai Pustaka.

Soehartono, Irawan, 2004. Metode Penelitian Sosial. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Singarimbun, Masri dan Sofyan Effendi. 1989.

Metode Penelitian Survei. Jakarta: LP3ES.

Soetarso, 1982. Kesejahteraan Sosial, Pelayanan Sosial dan Kebijakan Sosial, Bandung: STKS

Sumarnugroho, T. 1991. Sistem Intervensi Kesejahteraan Sosial, Yogyakarta: Hanindita.

Suparlan, T. B. 1990. Kamus Istilah Kesejahteraan Sosial. Jakarta: Kanisius. Thoha, Miftah, 1997. Pembinaan Organisasi

Proses Diagnosa dan Intervensi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Undang-Undang No. 4 Tahun 1979. Tentang Kesejahteraan Anak Republik Indonesia. Sumber-sumber lain:

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :