Habitat Kukang Jawa
Spesifikasi Habitat Kukang Jawa
Spesifikasi habitat kukang jawa dapat ditentukan dengan mengamati struktur dan komposisi vegetasinya. Struktur dan profil vegetasi suatu talun menunjukkan perkembangan atau fase talun. Oleh karena itu spesifikasi talun yang menjadi habitat kukang jawa dapat diketahui dari struktur dan profil vegetasi, serta fase talun tersebut.
1. Jumlah jenis vegetasi
Jumlah vegetasi yang terdapat di seluruh transek vegetasi di habitat kukang jawa yaitu sebanyak 172 spesies. Dari seluruh spesies, 114 spesies di antaranya merupakan kategori tumbuhan tinggi tipe pohon (tingkat pertumbuhan pohon, pancang, dan semai) dan 58 spesies lainnya merupakan vegetasi penutup lantai (herba, rumput, dan semak belukar) (Gambar 9). Jumlah spesies dalam transek vegetasi menunjukkan keanekaragaman vegetasi dalam habitat tersebut.
Gambar 9 Jumlah spesies vegetasi di habitat kukang jawa
Secara umum di tiap transek, jumlah spesies vegetasi pohon lebih tinggi dibandingkan dengan vegetasi penutup lantai (Gambar 10), namun komposisi dalam kategori tingkat tumbuh pohon bervariasi (Tabel 9). Jumlah spesies vegetasi pohon paling banyak terdapat di Desa Raksajaya (60 spesies) dan Kawungsari (42 spesies) dan (34 spesies). Jumlah spesies vegetasi lantai paling banyak terdapat di Desa Sarimanggu (19 spesies).
Gambar 10 Komposisi jumlah spesies vegetasi pohon dan vegetasi lantai di transek vegetasi
Komposisi vegetasi pohon secara umum semakin menurun pada tiap sub kategori atau tingkat tumbuhnya (Tabel 9). Spesies pohon di tiap transek lebih banyak daripada pancang dan lebih banyak dari semai. Kondisi ini terdapat di delapan transek yaitu B, Cm, Ct, PP, PR, PCu, dan P. Namun di transek Al, spesies semai lebih banyak daripada pancang. Sedangkan di transek PCi spesies pancang lebih banyak daripada pohon dan semai.
Tabel 9 Komposisi vegetasi pohon pada setiap tingkat pertumbuhan
Lokasi Transek Σ Spesies
Pohon Pancang Semai Desa Sukamaju Lebak Pari (LP) 10 15 8 Balangendong (B) 12 8 2 Desa Raksajaya Cimencek (Cm) 22 11 7 Ciamiang (Ct) 19 11 6 Desa Kawungsari Pasir Pari (PP) 12 5 2 Pasir Raweuy (PR) 10 7 3
Pasir Cupu (PCu) 14 9 6
Desa Sarimanggu
Pasir Ciputat (PCi) 8 7 8
Pojok (P) 9 6 1
Desa Sukakerta
Awilega (Al) 13 5 8
Vegetasi pohon yang secara umum dijumpai di lokasi ada tujuh spesies. Sengon Paraserianthes falcataria (L) I. C. Nielsen terdapat di seluruh lokasi transek. Beberapa jenis vegetasi lainnya yang sekurangnya terdapat di delapan transek yaitu aren Arenga pinnata Merr., mahoni Swietenia mahagonii Jacq., pisang Musa paradisiaca L., nangka Artocarpus heterophyllus Lmk., tisuk
Hibiscus macrophyllus Roxb., dan bambu tali Gigantochloa apus Kurz. Vegetasi
penutup lantai yang sekurangnya terdapat di lima lokasi transek ada empat yaitu ki rinyuh Eupathorium odoratum L., singkong Manihot utilisima Pohl., rumput famili Graminae, dan kapol Amomum cardamomum Wild.
Berdasarkan data sekunder diketahui bahwa delapan dari sebelas spesies yang umum ditemukan di transek merupakan vegetasi yang memiliki nilai ekonomi bagi pemilik talun dan sengaja dibudidayakan atau diatur perawatannya. Delapan spesies tersebut adalah sengon Paraserianthes falcataria (L) I. C. Nielsen, mahoni Swietenia mahagonii Jacq., pisang Musa paradisiaca L., nangka
Artocarpus heterophyllus Lmk., tisuk Hibiscus macrophyllus Roxb., dan bambu
tali G. apus Kurz., singkong Manihot utilisima Pohl., rumput famili Graminae, dan kapol Amomum cardamomum Wild.
Jumlah spesies yang tinggi menunjukkan keanekaragaman vegetasi yang tinggi. Keanekaragaman vegetasi yang paling tinggi terdapat di Desa Raksajaya (Ct dan Cm) dan Sukamaju (LP) sedangkan keanekaragaman vegetasi yang paling rendah terdapat di Desa Kawungsari (PCu dan PR) dan Sarimanggu (P).
2. Struktur vegetasi pohon (DBH >10 cm)
Struktur vegetasi yang diamati adalah vegetasi pohon muda dan dewasa, yaitu pohon dengan diameter setinggi dada (DBH) minimal 10 cm. Struktur vegetasi pohon di habitat kukang jawa dapat terlihat dari jumlah dan struktur fisiknya (Tabel 10). Jumlah pohon dihitung dalam area satu hektar untuk mengetahui kerapatan individu pohon. Struktur fisik pohon diketahui dari rata-rata tinggi, rata-rata DBH, basal area, dan penutupan kanopi.
Kerapatan pohon yang tertinggi terdapat di transek Ct (0,54 individu/ha), PCu (0,53 individu/ha), dan Al (0,5 individu/ha), dan yang terendah terdapat di transek P (0,24 individu/ha). Pohon di seluruh lokasi transek memiliki kisaran tinggi sebesar 1,7-30 m. Rerata pohon yang tertinggi terdapat di transek Ct (17,29 m) dan Cm (13,97 m), dan yang terendah di transek PCu (9,27 m), Al (9,69 m), dan PR (9,77 m). Pohon tertinggi (tinggi 30 m) terdapat di transek PCi yaitu sengon Paraserianthes falcataria (L) I. C. Nielsen yang berumur sekitar 6-7
tahun. Kukang jawa pernah dijumpai beristirahat di sengon Paraserianthes
falcataria (L) I. C. Nielsen tersebut pada saat pengamatan malam hari.
Tabel 10 Struktur vegetasi pohon (DBH >10 cm) Lokasi Transek Individu pohon/ha Tinggi (m) DBH (m)* Basal Area (m2) Kanopi (%) Rentang Rerata Rentang Rerata
LP 0,33 3-18 12,42 0,11-3 0,72 35,53 73,82% B 0,49 2-25 11,79 0,1-3 0,27 14,51 79,87% Cm 0,38 2-22 13,97 0,1-6 0,5 43,3 50,86% Ct 0,54 2,5-26 17,29 0,1-2 0,26 1364 58,26% PP 0,42 3-22 8,02 0,1-1,43 0,29 4,48 33,53% PR 0,47 2-19 9,77 0,1-3 0,27 9,03 37,19% PCu 0,53 2-18 9,27 0,1-1 0,21 2,62 37,52% PCi 0,38 2-30 12,39 0,1-6 1,33 164,3 51,77% P 0,24 3-16 11,25 0,1-0,8 0,29 2,95 26,72% Al 0,5 1,7-19 9,69 0,22-6 0,35 36,63 51,77% Rerata 0,43 - 11,59 - 0,45 167,74 50,13% Keterangan
*.= DBH atau diameter setinggi dada, yaitu diameter batang diukur pada ketinggian batang +130 cm. DBH rumpun bambu dihitung sebagai DBH individu
DBH pohon berkisar antara 0,11-6 m (Tabel 10). DBH terbesar di setiap transek pada umumnya dimiliki oleh rumpun bambu. DBH pohon terbesar berukuran 6 m terdapat di tiga transek, yaitu bambu surat G. pseudoarundinaceae (Steud.) Widjaja di transek Cm dan bambu tali G. apus Kurz di transek PCi dan Al.
Basal area berkisar antara 2,62-1364 m2 (Tabel 10). Basal area terbesar terdapat di transek Ct (1364 m2) dan PCi (164,3 m2), sedangkan yang terkecil terdapat di PCu (2,62 m2), P (2,95 m2), dan PP (4,48 m2). Penutupan kanopi pohon berkisar antara 26,72-79,87%. Kanopi pohon terluas terdapat di transek B (79,87%) dan LP (73,82%), sedangkan yang tersempit terdapat di P (26,72%). Seperti juga DBH, basal area dan kanopi terluas di seluruh transek dimiliki oleh rumpun bambu.
Struktur vegetasi habitat kukang jawa di Desa Raksajaya secara umum memiliki nilai tertinggi. Vegetasi di talun Desa Raksajaya lebih rapat dibandingkan dengan talun lainnya (0,54 individu/ha di Ct), rata-rata pohon yang tinggi (17,29 m di transek Ct dan 13,97 m di Cm), dan basal area yang paling besar (1364 m2 di Ct). Pohon-pohon di transek Desa Raksajaya memiliki rerata DBH yang cukup besar dibandingkan dengan rerata DBH di empat desa lainnya
(0,5 m di transek Ct). Lebih dari separuh transek Desa Raksajaya tertutup oleh kanopi pohon (50,86% di Cm dan 58,26% di Ct). Struktur vegetasi yang cenderung terbuka diperlihatkan oleh transek vegetasi Desa Kawungsari (PCu, PR, dan PP) dan Sarimanggu (P) (Tabel 10).
3. KR, DR, FR, dan INP Vegetasi Pohon
KR, DR, dan FR serta INP tertinggi di seluruh transek pada umumnya ditunjukkan oleh vegetasi pohon (Tabel 11). Secara keseluruhan vegetasi pohon tingkat semai memiliki jumlah yang tinggi dan selalu ditemukan di setiap plot dalam transek. INP tertinggi di setiap transek dimiliki oleh jenis bambu (genus
Gigantochloa), kecuali di transek PP dan PCu (Tabel 12).
Tabel 11 Tiga vegetasi dengan INP tertinggi di tiap transek
Nama latin Nama lokal Tipe*
KR FR DR INP (%) (%) (%) (%) Transek Lebak Pari (Desa Sukamaju)
Gigantochloa apus Kurz. Bambu talia,c Po (po) 33,33 97,11 14,29 144,73
Eupathorium odoratum L. Ki rinyuh La 66,67 6,14 42,86 109,52
Paraserianthes falcataria (L) I. C. Nielsen Sengonb, c Po (pa) 30 37,68 17,39 85,07
Transek Balangendong (Desa Sukamaju)
Swietenia mahagonii Jacq. Mahonic Po (pa) 77,08 70,51 37,50 185,10
Gigantochloa apus Kurz. Bambu talia,c Po (po) 17,02 88,26 9,09 113,41
Swietenia mahagonii Jacq. Mahonic Po (se) 40,00 5,39 66,67 106,67
Transek Cimencek (Desa Raksajaya)
Dysoxylum aliaceum Bl. Pisitan
monyetc
Po (pa) 45,83 28,86 36,84 111,54
Baccaurea racemosa Muell. Bencoy Po (se) 56,52 21,51 20 76,52
Gigantochloa pseudoarundinaceae
(Steud.) Widjaja
Bambu surata,c Po (po) 2,63 62,37 3,13 68,13
Transek Citamiang (Desa Raksajaya)
(famili Graminae) Rumput La 54,35 10,28 19,44 73,79
Boehmeria nivea Gaud. Hantap
heulang
Po (pa) 9,09 46,12 9,09 64,3
Paraserianthes falcataria (L) I. C. Nielsen Bambu surata,c Po (po) 5,56 35,65 2,5 43,7
Keterangan
a = vegetasi untuk tidur, b = vegetasi pakan, c = tumbuhan yang digunakan untuk istirahat atau
bridging (berpindah tempat), 1 = idenfikasi saat survei pendahuluan
* = habitus (vegetasi pohon atau vegetasi lantai) dan tingkat pertumbuhan pohon (semai, pancang, & pohon)
Tabel 11 Tiga vegetasi dengan INP tertinggi di tiap transek (lanjutan)
Nama latin Nama lokal Tipe*
KR FR DR INP (%) (%) (%) (%) Transek Pasir Pari (Desa Kawungsari)
Thea cinensis Teh Po (se) 83,33 53,32 80 163,33
Paraserianthes falcataria (L) I. C. Nielsen Sengonb,c Po (pa) 50 59,79 16,67 126,45
Arenga pinnata Merr. Arena1,b,c Po (po) 28,57 37,49 17,24 83,3
Transek Pasir Raweuy (Desa Kawungsari)
Alpinia galanga L. Laos La 50 32,89 50 100
Capsicum frutescens L Cabe rawit La 50 67,11 50 100
Gigantochloa apus Kurz. Bambu talia,c Po (po) 6,38 82,52 10 98,91
Transek Pasir Cupu (Desa Kawungsari)
Thea cinensis Teh Po (se) 58,33 95,1 58,33 116,67
Manihot utilisima Pohl. Singkong La 50 59,02 50 100
Capsicum frutescens L Cabe rawit La 50 40,98 50 100
Transek Pasir Ciputat (Desa Sarimanggu)
Gigantochloa apus Kurz. Bambu talia,c Po (po) 65,79 99,18 44,44 209,42
(famili Graminae) Rumput La 30,19 64,56 23,81 118,56
Litsea sp. Huru Po (pa) 11,11 73,96 12,5 97,57
Transek Pojok (Desa Sarimanggu)
Ficus infectiora Roxb. Puru Po (se) 100 100 100 200
Gigantochloa apus Kurz. Bambu talia,c Po (po) 20,83 85,13 6,25 112,21
(famili Graminae) Rumput La 65,56 5,20 3,85 103,02
Transek Awilega (Desa Sukakerta)
Swietenia mahagonii Jacq. Mahonic Po (pa) 59,09 43,85 42,86 145,8
Gigantochloa apus Kurz. Bambu talia,c Po (po) 6 96,96 7,69 110,65
(famili Graminae) Rumput La 80 1,59 26,67 106,67
Keterangan
a = vegetasi untuk tidur, b = vegetasi pakan, c = tumbuhan yang digunakan untuk istirahat atau
bridging (berpindah tempat), 1 = idenfikasi saat survei pendahuluan
* = habitus (vegetasi pohon atau vegetasi lantai) dan tingkat pertumbuhan pohon (semai, pancang, & pohon)
Bambu tali G. apus Kurz. merupakan tumbuhan yang memiliki kerapatan relatif tertinggi (6,38%-65,79%), frekuensi relatif tertinggi (43,06%-99,18%), dan dominansi relatif tertinggi (44,44%) di seluruh transek. Dominansi relatif tertinggi diperlihatkan oleh sengon Paraserianthes falcataria (L) I. C. Nielsen dan cangcaratan Nuclea excelsa Bl. dengan nilai 25,00%. Sengon Paraserianthes
falcataria (L) I. C. Nielsen juga merupakan tumbuhan dengan kerapatan relatif ke
dua tertinggi setelah bambu tali G. apus Kurz., yaitu dengan nilai 46,81% (Tabel 12).
Genus Gigantochloa terutama bambu tali G. apus Kurz. menjadi tumbuhan dengan INP tertinggi di enam transek, yaitu di transek LP, B, PR, P dan Al. Bambu tali G. apus Kurz. juga masih termasuk tumbuhan dengan INP tertinggi di transek Ct. Bambu surat G. pseudoarundinaceae (Steud.) Widjaja menjadi tumbuhan dengan INP tertinggi di transek Cm dan Ct. Aren Arenga pinnata Merr. dan sengon Paraserianthes falcataria (L) I. C. Nielsen termasuk tumbuhan dengan INP tertinggi di transek yang sama dengan bambu tali G. apus Kurz.
Secara keseluruhan bambu tali G. apus Kurz., aren Arenga pinnata Merr., dan sengon Paraserianthes falcataria (L) I. C. Nielsen merupakan tumbuhan yang bernilai penting bagi habitat di Desa Sukamaju (LP, B), Kawungsari (PP, PR, PCu) dan Sukakerta (Al). Sedangkan bambu surat G. pseudoarundinaceae (Steud.) Widjaja memilliki nilai penting di Desa Raksajaya (Cm, Ct).
Tabel 12 Tiga vegetasi pohon dengan INP tertinggi di tiap transek
Nama Latin Nama lokal KR
(%) FR (%) DR (%) INP
Transek Lebak Pari (Desa Sukamaju)
Gigantochloa apus Kurz. Bambu talia,c 33,33 97,11 14,29 144,73
Arenga pinnata Merr. Arena1,b,c 18,18 1,80 19,05 39,03
Paraserianthes falcataria (L) I. C. Nielsen Sengonb,c 18,18 0,42 19,05 37,65
Transek Balangendong (Desa Sukamaju)
Gigantochloa apus Kurz. Bambu talia,c 17,02 88,26 8,70 113,41
Paraserianthes falcataria (L) I. C. Nielsen Sengonb,c 23,40 1,22 17,39 41,52
Arenga pinnata Merr. Arena1,b,c 12,77 6,63 13,04 32,16
Transek Cimencek (Desa Raksajaya)
Gigantochloa pseudoarundinaceae
(Steud.) Widjaja
Bambu surata,c 2,63 62,37 3,13 68,13
G. atroviolaceae Widjaja Bambu hitama,c 2,63 27,72 3,13 33,48
Lansium aquaeum Jack Kokosan 10,53 0,50 9,38 20,40
Transek Citamiang (Desa Raksajaya)
Gigantochloa pseudoarundinaceae
(Steud.) Widjaja
Bambu surata,c 5,56 35,65 2,50 43,70
Manglietia glauca Bl. Manglidc 16,67 10,45 15,00 42,12
Cocos nucifera L. Kelapac,c1 11,11 10,07 15,00 36,18
Keterangan
a = vegetasi untuk tidur, b = vegetasi pakan, c = tumbuhan yang digunakan untuk istirahat atau
bridging (berpindah tempat), 1 = idenfikasi saat survei pendahuluan
Tabel 12 Tiga vegetasi pohon dengan INP tertinggi di tiap transek (lanjutan)
Nama Latin Nama lokal KR
(%) FR (%) DR (%) INP
Transek Pasir Pari (Desa Kawungsari)
Arenga pinnata Merr. Arena1,b,c 28,57 37,49 17,24 83,30
Gigantochloa apus Kurz. Bambu talia,c 4,76 43,06 6,90 54,72
Paraserianthes falcataria (L) I. C. Nielsen Sengonb,c 23,81 5,98 20,69 50,48
Transek Pasir Raweuy (Desa Kawungsari)
Gigantochloa apus Kurz. Bambu talia,c 6,38 82,52 10,00 98,91
Paraserianthes falcataria (L) I. C. Nielsen Sengonb,c 46,81 9,06 25,00 80,87
Musa paradisiaca L. Pisangc1 25,53 2,68 20,00 48,21
Transek Pasir Cupu (Desa Kawungsari)
Musa paradisiaca L. Pisangc1 35,85 42,34 19,35 97,67
Paraserianthes falcataria (L) I. C. Nielsen Sengonb,c 22,64 6,06 22,58 51,30
Arenga pinnata Merr. Arena1,b,c 9,43 11,22 12,90 33,60
Transek Pasir Ciputat (Desa Sarimanggu)
Gigantochloa apus Kurz. Bambu talia,c 65,79 99,18 44,44 209,42
Paraserianthes falcataria (L) I. C. Nielsen Sengonb,c 13,16 0,59 16,67 30,42
Cocos nucifera L. Kelapac,c1 5,26 0,04 11,11 16,42
Transek Pojok (Desa Sarimanggu)
Gigantochloa apus Kurz. Bambu talia,c 20,83 85,13 6,25 112,21
Nuclea excelsa Bl. Cangcaratan 9,09 61,01 9,09 79,19
Nuclea excelsa Bl. Cangcaratan 25,00 2,09 25,00 52,09
Transek Awilega (Desa Sukakerta)
Gigantochloa apus Kurz. Bambu talia,c 6,00 96,96 7,69 110,65
Swietenia mahagonii Jacq. Mahonic 30,00 0,90 23,08 53,97
Musa paradisiaca L. Pisang c1 28,00 0,76 11,54 40,29
Keterangan
a = vegetasi untuk tidur, b = vegetasi pakan, c = tumbuhan yang digunakan untuk istirahat atau
bridging (berpindah tempat), 1 = idenfikasi saat survei pendahuluan
Vegetasi pohon yang memiliki INP tertinggi di tiap transek ada sebelas spesies yaitu bambu tali G. apus Kurz., sengon Paraserianthes falcataria (L) I. C. Nielsen, aren Arenga pinnata Merr., pisang Musa paradisiaca L., bambu surat G.
pseudoarundinaceae (Steud.) Widjaja, cangcaratan Nuclea excelsa Bl., mahoni Swietenia mahagonii Jacq., kelapa Cocos nucifera L., manglid Manglietia glauca
Bl., bambu hitam (G. atroviolaceae Widjaja), dan kokosan Lansium aquaeum Jack (Tabel 12). Tiga spesies pohon yang selalu memiliki INP tertinggi di tiap transek yaitu bambu tali G. apus Kurz., sengon Paraserianthes falcataria (L) I. C. Nielsen, dan aren Arenga pinnata Merr.
4. Indeks H’dan D
Indeks keanekaragaman (H') vegetasi pohon di tiap transek lebih rendah daripada H’ vegetasi lantai, kecuali di transek Cm, Ct, PP, dan P. Sebaliknya,
indeks dominansi (D) vegetasi pohon di seluruh transek lebih tinggi daripada D vegetasi lantai kecuali di empat transek tersebut (Tabel 13).
Tabel 13 Indeks H’ dan D vegetasi pohon dan lantai di tiap transek Transek Vegetasi H’ D Transek Vegetasi H’ D Desa Sukamaju LP Lantai 0,6154 0,0588 B Lantai 0,4830 0,1081 Pohon 0,1206 0,5739 Pohon 0,1239 0,5653 - Semai 0,9165 0,0147 - Semai 1,4742 0,0011 - Pancang 0,5185 0,0918 - Pancang 0,4919 0,1038 - Pohon 0,4471 0,1111 - Pohon 0,5011 0,0995 Desa Raksajaya Cm Lantai 0,2419 0,3282 Ct Lantai 0,1803 0,5484 Pohon 0,3694 0,1824 Pohon 0,4689 0,1154 - Semai 0,9731 0,0134 - Semai 1,5420 0,0369 - Pancang 0,9186 0,0145 - Pancang 1,2788 0,0505 - Pohon 0,7191 0,0365 - Pohon 0,5878 0,2021 Desa Kawungsari
PP Lantai 0,2237 0,3570 PCu Lantai 1,6385 0,0005 Pohon 0,3952 0,1620 Pohon 0,0101 0,9546 - Semai 1,1222 0,0057 - Semai 0,8603 0,0190 - Pancang 1,2014 0,0040 - Pancang 0,6385 0,0528 - Pohon 0,5781 0,0698 - Pohon 0,3711 0,3711 PR Lantai 1,5250 0,0009 Pohon 0,0132 0,9412 - Semai 0,8718 0,0180 - Pancang 0,8718 0,0180 - Pohon 0,1540 0,4921 Desa Sarimanggu
PCi Lantai 0,3171 0,2321 P Lantai 0,1477 0,5065 Pohon 0,2855 0,2685 Pohon 0,5402 0,0831 - Semai 1,0414 0,0083 - Semai 2,0453 0,0001 - Pancang 1,0872 0,0067 - Pancang 1,2002 0,0040 - Pohon 0,4616 0,1193 - Pohon 0,6651 0,0467 Desa Sukakerta Al Lantai 0,2323 0,5050 Pohon 0,2856 0,2684 - Semai 0,0071 0,0934 - Pancang 0,0176 0,1896 - Pohon 0,0907 0,2704
Di antara kategori tingkat pertumbuhan vegetasi pohon, indeks H’ yang tertinggi di tiap transek pada umumnya ditunjukkan oleh semai (Tabel 13). Semai memiliki nilai H’ tertinggi dibandingkan dengan pancang dan pohon, kecuali di transek PP dan PCi. Indeks H’ tertinggi adalah semai di transek P (2,0453) dan yang terendah adalah semai di Al (0,0071). Di antara kategori tingkat pertumbuhan vegetasi pohon, indeks D pohon lebih lebih tinggi daripada semai dan pancang, kecuali di B. Kisaran nilai D pohon di seluruh transek adalah 0,0001 (semai di P) – 0,4616 (pohon di PR).
5. Profil Vegetasi
Profil vegetasi merupakan gambaran struktur vertikal dan stratifikasi kanopi pohon (Gambar 11-20). Habitat kukang jawa di seluruh lokasi penelitian memperlihatkan daerah bukaan (gap horizontal) dan kanopi yang tidak bersambungan antarlapisan kanopinya (gap vertikal). Gap di talun dapat terjadi secara alami maupun buatan atau akibat perbuatan manusia, antara lain karena pohon tumbang, atau pembukaan lahan untuk rotasi pertanian sistem kebun-talun. Luas gap diukur pada pengamatan di lapangan dan penafsiran gambar profil vegetasi.
Gap horizontal dengan tinggi vegetasi yang pendek terdapat di transek Ct,
PR, PCu, PCi, dan P. Vegetasi semak di transek Ct dan PCi mengisi gap horizontal berupa ruang di bawah rumpun bambu dan sela-sela pohon. Sedangkan vegetasi pengisi kolom gap pada PR, PCu, dan P adalah tanaman teh Thea
cinensis, singkong Manihot utilisima Pohl., dan ki rinyuh Eupathorium odoratum
L. Transek PCu hampir seluruh lantainya diisi oleh teh Thea cinensis dan P hampir seluruhnya tertutup oleh singkong Manihot utilisima Pohl. dan ki rinyuh
Lebak Pari (LP) merupakan lereng bagian selatan dari Pasir Pareang di Dusun Leuwinanggung Desa Sukamaju (Gambar 11). Kisaran tinggi LP adalah 400-564 m dpl. Kemiringan lokasi tergolong curam jika dibandingkan dengan delapan transek lainnya, kecuali transek Pasir Cupu di Desa Kawungsari. LP merupakan talun sempurna dan sudah jarang dikunjungi. Di LP terdapat beberapa area yang dibuka menjadi kebun singkong Manihot utilisima Pohl. Gap horizontal lainnya adalah lahan yang dipersiapkan untuk ditanami tanaman kayu keras berupa mahoni Swietenia mahagonii Jacq.dan sengon Paraserianthes falcataria (L) I. C. Nielsen. Sepanjang jalur transek terdapat tiga kolom gap atau bukaan vegetasi dengan kisaran luas 4-15 m2. Secara umum kanopi vegetasi LP bersambungan kecuali di tiga kolom gap tersebut.
Gambar 11 Profil vegetasi habitat kukang jawa di Lebak Pari
Balangendong (B) merupakan area pertanian di tengah pemukiman Dusun Balangendong Desa Sukamaju (Gambar 12). Kisaran tinggi B lebih rendah daripada LP, yaitu adalah 350-395 m dpl. B merupakan talun kebun dimana hampir sebagian besar area merupakan kebun mahoni Swietenia mahagonii Jacq.
Gambar 12 Profil vegetasi habitat kukang jawa di Balangendong
Di talun B juga terdapat beberapa area kebun singkong Manihot utilisima Pohl. Sepanjang jalur transek terdapat enam kolom gap dengan kisaran luas 2-12 m2. Kanopi vegetasi tidak bersambungan di area kebun mahoni Swietenia
mahagonii Jacq. Kebun tersebut diperkirakan berumur 1-2 tahun sehingga
kanopinya belum luas lebih kurang 1-2 m2/pohon.
Cimencek (Cm) merupakan area pertanian di tengah pemukiman Kampung Gembor Dusun Cimencek Desa Raksajaya (Gambar 13). Topografi Cm datar dengan kisaran ketinggian 515-550 m dpl. Cm merupakan talun kebun yang jarang dikunjungi dan jarang digarap. Struktur vegetasi Cm lebih mirip fase talun sempurna namun masih terdapat lahan yang ditanami dengan singkong Manihot
utilisima Pohl. Di beberapa area Cm juga merupakan bekas kebun kapol Amomum cardamomum Wild.namun sekarang sudah tidak digarap lagi. Secara umum tidak terdapat gap yang luas di lokasi ini. Kanopi vegetasi di transek Cm bersambungan. Kolom gap horizontal yang luas ada pada area kebun singkong
Gambar 13 Profil vegetasi habitat kukang jawa di Cimencek
Citamiang (Ct) merupakan area perbukitan Pasir Pongporang di Dusun Citamiang Desa Raksajaya (Gambar 14). Kisaran tinggi Ct adalah 525-608 m dpl. Ct merupakan talun sempurna dan jarang dikunjungi. Di transek Ct tidak terdapat lahan yang masih digarap. Vegetasi pohon di transek Ct tinggi, namun kanopinya tidak bersambungan. Kolom gap terdapat di sepanjang jalur dengan kisaran luas 1-4m2.
Gambar 14 Profil vegetasi habitat kukang jawa di Citamiang
Pasir Pari (PP) merupakan bukit di Dusun Parakan Kawung Desa Kawungsari (Gambar 15). Kisaran tinggi PP adalah 800-975 m dpl. PP merupakan talun sempurna yang jarang dikunjungi. Di transek PP tidak terdapat
lahan garapan, hanya ada kebun singkong Manihot utilisima Pohl. yang sudah tidak dirawat di beberapa area. Sepanjang jalur transek terdapat enam kolom gap dengan kisaran luas 3-15 m2. Secara umum kanopi vegetasi LP bersambungan kecuali di enam kolom gap tersebut.
Gambar 15 Profil vegetasi habitat kukang jawa di Pasir Pari
Pasir Raweuy (PR) merupakan bukit di Dusun Cicantel Desa Kawungsari (Gambar 16). Transek PR berada di area puncak bukit sehingga topografinya tidak curam. PR paling tinggi dibandingkan dengan sepuluh lokasi transek lainnya, yaitu 925-990 m dpl. PR merupakan talun kebun dengan area pertanian tumpangsari berupa tanaman kayu keras pada kebun teh Thea cinensis dan kebun singkong Manihot utilisima Pohl. Di beberapa area terdapat lahan garapan berupa kebun palawija. Secara umum struktur vegetasi PR terbuka dan banyak gap horizontal dan vertikal. Kanopi yang bersambungan hanya terdapat pada area rumpun bambu saja.
Pasir Cupu (PCu) merupakan bukit perkebunan teh Thea cinensis di Dusun Sodong Desa Kawungsari (Gambar 17). PCu Kisaran tinggi PCu adalah 900-975 m dpl. Kemiringan lokasi tergolong curam jika dibandingkan dengan delapan transek lainnya, kecuali transek LP di Desa Sukamaju. Seperti juga PR, PCu merupakan talun kebun yang menjadi bagian dari area perkebunan teh Thea
cinensis dengan sistem tumpangsari. Tanaman kayu keras seperti yang terdapat di
transek PCu antara lain sengon Paraserianthes falcataria (L) I. C. Nielsen, cengkeh Syzygium aromaticum, damar Agathis dammara (Lamb.) Rich. serta tanaman palawija seperti singkong Manihot utilisima Pohl., cabe rawit Capsicum
frutescens L., dan leunca Solanum nigrum L. Secara umum struktur vegetasi PCu
terbuka dengan banyak gap horizontal dan vertikal. Kanopi vegetasi PCu bersambungan di separuh bagian dari transek.
Gambar 17 Profil vegetasi habitat kukang jawa di Pasir Cupu
Pasir Ciputat (PCi) merupakan bukit di Dusun Cimanggu Desa Sarimanggu (Gambar 18). Transek PCi berada di kaki bukit sehingga topografinya landai. Kisaran tinggi PCi adalah 300-371 m dpl. PCi merupakan talun sempurna yang jarang dikunjungi. Terdapat beberapa area kebun bambu dan sisa kebun singkong
Manihot utilisima Pohl. dan jahe Zingiber aromaticum Vahl. Sepanjang jalur
transek terdapat enam kolom gap dengan kisaran luas 3-15 m2. Di transek PCi terdapat sengon Paraserianthes falcataria (L) I. C. Nielsen yang tinggi dan mencuat. Kanopi vegetasi PCi bersambungan di area kebun bambu saja.
Gambar 18 Profil vegetasi habitat kukang jawa di Pasir Ciputat
Pojok (P) merupakan bagian dari area bukit Pasir Kerud di Dusun Pojok Desa Sarimanggu (Gambar 19). P terletak paling rendah dibandingkan dengan sepuluh lokasi transek lainnya, yaitu 237-433 m dpl. P merupakan talun kebun di kaki bukit yang yang sudah tidak diurus. Hampir seluruh lahan di lokasi P tertutup oleh tanaman singkong Manihot utilisima Pohl. dan ki rinyuh Eupathorium
odoratum L. Hanya sedikit tegakan pohon di P. Secara umum struktur vegetasi P
terbuka dan banyak gap horizontal dan vertikal.
Gambar 19 Profil vegetasi habitat kukang jawa di Pojok
Awilega (Al) merupakan area pertanian di tengah pemukiman Dusun Cidoyang (Gambar 20). Ketinggian Al adalah 436-536 m dpl. Al merupakan talun sempurna dengan beberapa area kebun singkong Manihot utilisima Pohl. Pada
saat penelitian ini dilakukan, gap horizontal terdapat pada lahan yang dipersiapkan untuk ditanami tanaman kayu keras berupa suren Toona sureni (Bl.) Merr.) dan sengon Paraserianthes falcataria (L) I. C. Nielsen. Secara umum vegetasi di transek Al bersambungan kecuali pada kolom gap horizontal tersebut yang dibuka untuk ditanami tanaman kayu keras.
Gambar 20 Profil vegetasi habitat kukang jawa di Awilega
Berdasarkan rentang tinggi vegetasi dan kanopi vegetasi habitat kukang jawa (Gambar 11-20), terdapat empat strata vegetasi sebagai berikut:
- strata atas
Strata atas merupakan lapisan dengan kanopi tertinggi. Strata ini terdiri atas vegetasi dengan tinggi lebih besar dari 12 m atau pohon kategori dewasa. Spesies yang umum terdapat pada strata ini yaitu terdapat sekurangnya di lima transek vegetasi, adalah sengon Paraserianthes falcataria (L) I. C. Nielsen, aren Arenga pinnata Merr., bambu tali Gigantochloa apus Kurz., dan tisuk
Hibiscus macrophyllus Roxb. Spesies yang dominan berdasarkan penutupan
kanopinya dalam strata ini adalah bambu tali G. apus Kurz. Jumlah jenis vegetasi yang termasuk strata atas paling sedikit dibandingkan dengan strata lainnya. Penutupan dominansi oleh kanopi bambu mengakibatkan vegetasi lain tidak dapat tumbuh dan berkembang baik di dalam naungan bambu. Hal ini menyebabkan terjadinya gap vertikal dengan strata tengah pada area talun yang terdapat rumpun bambu. Akan tetapi pada umumnya gap horizontal tidak
terdapat karena kanopi bambu yang berkembang mencapai kanopi vegetasi sekitarnya, baik vegetasi di strata yang sama maupun dengan vegetasi di strata bawahnya.
- strata tengah
Strata tengah terdiri atas vegetasi dengan tinggi lebih besar dari 5 m hingga 12 m. Jenis yang umum mengisi strata ini adalah mahoni Swietenia
mahagonii Jacq., bambu tali G. apus Kurz., pisang Musa paradisiaca L.,
sengon Paraserianthes falcataria (L) I. C. Nielsen, aren Arenga pinnata Merr., dan raksania Maesopsis eminii Engl. Tiga spesies di antaranya, yaitu bambu tali, sengon, dan aren merupakan vegetasi yang juga secara umum terdapat di strata atas. Spesies yang dominan berdasarkan penutupan kanopi dalam strara ini adalah bambu tali G. apus Kurz. dan aren Arenga pinnata Merr.
- strata bawah
Strata bawah terdiri atas vegetasi dengan tinggi lebih kecil dari 1-5 m. Strata bawah secara dominan diisi oleh vegetasi semak tinggi dan anakan pohon (semai). Spesies yang umum mengisi strata bawah adalah pisang Musa
paradisiaca L., mahoni Swietenia mahagonii Jacq. dan aren Arenga pinnata
Merr. - strata lantai
Strata lantai terdiri atas vegetasi dengan tinggi sekurangnya sebesar 1 m, yaitu vegetasi penutup lantai berupa herba, rumput, dan semak rendah serta anakan pohon yang masih kecil. Strata lantai umumnya memiliki penutupan kanopi yang dominan karena jumlahnya yang banyak dan mengelompok. Tabel 14 Komposisi spesies di tiap strata
Transek Σ spesies di tiap strata Σ Spesies
lantai bawah tengah Atas Total
LP 24 34 30 7 58 B 26 19 16 11 45 Cm 33 15 19 14 51 Ct 25 27 34 18 63 PP 14 15 9 10 31 PR 11 13 23 6 29 PCu 11 15 15 8 27 PCi 31 37 10 3 50 P 19 15 20 6 37 Al 28 36 17 11 50
Semakin tinggi strata, keanekaragaman spesies semakin menurun (Tabel 14). Jumlah spesies terbanyak di transek B, Cm, dan AL terdapat pada strata lantai, di transek LP, PP, PCi, jumlah spesies terbanyak terdapat pada strata bawah, dan di transek Ct, PR, dan P terdapat pada strata tengah. Jumlah spesies yang sama ditunjukkan oleh strata bawah dan tengah pada transek PCu.
6. Fase talun
Fase talun ditentukan dari struktur, komposisi, serta campur tangan manusia yang ditunjukkan dari ada tidaknya lahan garapan berupa kebun. Lokasi penelitian yang berada dalam yaitu fase talun kebun (fase II) adalah B, Cm, PP, PR, PCu, dan P. Sedangkan lokasi yang vegetasinya mendekati struktur hutan sekunder atau fase talun sempurna adalah LP, Ct, PCi, dan Al (Tabel 15).
Tabel 15 Fase talun habitat kukang jawa
Lokasi Transek
Lahan Garapana
Fase
talun Lokasi HR yang memiliki fase talun sama
b
LP ks* III Pasir Pareang, Pasir Salam, Lembur sawah
B km, ks II Pasir Gunung putri, Sangulat, Pasir Pencut huni, Pasir Pencut kondang, Pasir Nangka, Pasir Gunung Limbung Cm kk, ks II+ Pasir Gedogan, Banyuwaras, Pasir Awiluhur
Ct - III Pasir Pongporang
PP ks* III- Sukamukti**
PR kt, ks, kp II Gunung licin, Bojongnangka
PCu kt, ks II
PCi ks* III- Area utara desa**
P ks II Pasir Kerud, area barat daya desa** Al ks*, ksu III -
a. ks = kebun singkong, km = kebun mahoni, kk = kebun kapol, kt = kebun teh, dan kp = kebon palawija, ksu = kebun suren. Tanda * = di luar transek, tapi masih di area yang sama
b. HR = habitat representatif berdasarkan pengamatan langsung. Tanda ** = berdasarkan intrepretasi peta RBI, data desa, dan informasi penduduk
Preferensi Habitat Kukang Jawa
Preferensi habitat pada kukang jawa diketahui dari spesies vegetasi yang memiliki pengaruh terhadap habitat dan kehidupan kukang jawa, yaitu vegetasi untuk tidur dan vegetasi pakan.
Vegetasi untuk tidur
Kukang jawa menggunakan bambu, pohon, dan liana untuk tidur yaitu bambu tali Gigantochloa apus Kurz., bambu surat G. pseudoarundinaceae (Steud.) Widjaja, bambu haur Dencrocalamus asper, bambu gombong G.
gigantae, aren Arenga pinnata Merr., bungur Lagerstroemia speciosa (L.) Pers,
dan areuy kawao Milletia sericea (Vent.) W. et A. (Tabel 16). Dari keempatnya, bambu genus Gigantochloa merupakan vegetasi yang paling sering digunakan kukang jawa untuk tidur. Tinggi posisi tidur kukang jawa berkisar antara 3-18 m dari permukaan tanah (Tabel 16). Tinggi minimal posisi tidur kukang jawa di bambu tali G. apus Kurz. lebih rendah dibandingkan dengan di bambu surat G.
pseudoarundinaceae (Steud.) Widjaja.
Tabel 16 Vegetasi untuk tidur di habitat kukang jawa
Nama latin Nama lokal
Famili Tinggi posisi tidur (m) Keterangan Gigantochloa apus Kurz. Bambu tali
Poaceae 5 – 18 Paling sering (78
perjumpaan). Rata-rata tinggi posisi tidur 9,13 m Gigantochloa pseudoarundinaceae (Steud.) Widjaja Bambu surat Poaceae 8 – 18 10 perjumpaan.
Rata-rata tinggi posisi tidur 11,75 m
Dencrocalamus asper
Bambu haur
Poaceae 3 – 12 Sangat jarang
(4 perjumpaan). Rata-rata tinggi posisi tidur 7,5 m
Gigantochloa gigantae
Bambu gombong
Poaceae 7 – 10 Sangat jarang
(2 perjumpaan). Rata-rata tinggi posisi tidur 8,5 m
Arenga pinnata Merr. Aren* Arecaceae 5 Sangat jarang (hanya satu
kali perjumpaan). Aren ada di area rumpun bambu tali.
Lagerstroemia speciosa (L.) Pers.
Bungur Myrtaceae 5 Sangat jarang (hanya satu kali perjumpaan). Bungur ada di area rumpun bambu tali.
Milletia sericea
(Vent.) W. et A.
Areuy Kawao*
Liana 5 Sangat jarang (hanya satu kali perjumpaan). Areuy melilit di tengah-tengah rumpun bambu tali. Keterangan
* = vegetasi untuk tidur yang teridentifikasi saat survei pendahuluan
Vegetasi pakan
Jumlah vegetasi pakan kukang jawa sebanyak lima jenis dari lima famili. Sumber pakan tersebut adalah nira dari aren Arenga pinnata Merr) famili Arecaceae, getah kulit dari sengon Paraseserianthes falcataria (L) I. C. Nielsen
famili Fabaceae, pete Parkia speciosa Hassk famili Fabaceae, dan nangka
Artocarpus heterophyllus Lmk famili Moraceae, dan sari bunga pisang Musa paradisiaca L. famili Musaceae.
Tabel 17 Vegetasi pakan di habitat kukang jawa
Nama latin Nama
lokal
Famili Bagian yang dimanfaatkan
Arenga pinnata Merr. Aren Arecaceae nira
Paraseserianthes falcataria (L) I. C. Nielsen Sengon Fabaceae getah
Parkia speciosa Hassk. Pete Fabaceae getah
Artocarpus heterophyllus Lmk. Nangka* Moraceae getah
Musa paradisiaca L. Pisang Musaceae sari bunga
Keterangan
* = vegetasi pakan yang teridentifikasi saat survei pendahuluan
Populasi Kukang Jawa
Kepadatan Populasi Kukang Jawa
Rerata kepadatan individu kukang jawa di talun secara keseluruhan adalah 25,52 individu/km2. Kepadatan individu kukang jawa pada pengamatan siang lebih tinggi daripada kepadatan individu pada pengamatan malam (Tabel 18), kecuali di transek PP dan Al. Di beberapa lokasi, pengamatan di transek garis tidak berhasil menjumpai kukang jawa yaitu pengamatan malam hari di transek LP dan B, serta pengamatan siang hari di PP.
Tabel 18 Kepadatan individu kukang jawa di tiap transek populasi
Transek Siang Malam Rerata
Lebak Pari (LP) 14,57 0,00 7,28 Balangendong (B) 59,77 0,00 25,61 Cimencek (Cm) 54,47 30,17 42,32 Citamiang (Ct) 101,21 43,38 72,30 Pasir Pari (PP) 0,00 22,62 11,31 Pasir Raweuy (PR) 8,84 8,46 8,65
Pasir Cupu (PCu) 54,11 14,12 34,11
Pasir Ciputat (PCi) 61,09 14,84 37,96
Pojok (P) 2,92 2,16 2,54
Awilega (Al) 9,69 19,82 13,14
Rerata 36,67 15,56
Secara keseluruhan, kepadatan individu kukang jawa di talun sempurna (fase III) lebih besar daripada kepadatan individu di talun kebun (fase II) yaitu
28,72 individu/km2 dan 24,036 individu/km2. Kepadatan individu kukang jawa di talun kebun lebih tinggi daripada di talun sempurna terdapat di Desa Sukamaju dan Kawungsari.
Tabel 19 Kepadatan individu kukang jawa di tiap fase talun (individu/km2)
Desa Talun kebun Talun sempurna Rerata
Sukamaju 29,88 4,86 18,58 Raksajaya 42,32 72,30 57,31 Kawungsari 21,38 11,31 16,35 Sarimanggu 2,54 37,96 20,25 Sukakerta - 14,76 13,14 Rerata 24,03 28,24
Komposisi Kelompok Tidur
Berdasarkan waktu pengamatan efektif pada siang hari berturut-turut di transek di tiap desa yaitu 2364 menit (Sukamaju), 3384 menit (Raksajaya), 6234 menit (Kawungsari), 4864 menit (Sarimanggu), dan 2890 menit (Sukakerta), diketahui jumlah perjumpaan dan jumlah individu kukang jawa (Tabel 20). Total jumlah perjumpaan kukang jawa pada siang hari dan malam hari adalah 53 dan 46 perjumpaan. Total jumlah kukang jawa yang dijumpai pada siang dan malam hari adalah 85 dan 51 individu.
Tabel 20 Perjumpaan kukang jawa di tiap transek
Transek
Perjumpaan siang Perjumpaan malam
Jumlah Jumlah
kukang jawa Jumlah
Jumlah kukang jawa Lebak Pari (LP) 2 2 0 0 Balangendong (B) 7 7 0 0 Cimencek (Cm) 11 12 8 8 Citamiang (Ct) 15 32 8 12 Pasir Pari (PP) 0 0 5 5 Pasir Raweuy (PR) 2 2 4 4
Pasir Cupu (PCu) 7 13 6 6
Pasir Ciputat (PCi) 7 13 5 6
Pojok (P) 1 1 1 1
Awilega (Al) 1 3 9 9
Perjumpaan kukang jawa dan jumlah individu yang dijumpai lebih banyak terjadi pada siang hari, kecuali di transek PP Desa Kawungsari (Tabel 20). Kukang jawa tidak dijumpai pada pengamatan malam hari di transek LP dan B (Desa Sukamaju) serta pada pengamatan siang hari di transek PP (Desa Kawungsari). Kisaran perjumpaan kukang jawa di transek pada siang dan malam hari adalah 0-3 individu/perjumpaan dan 0-2 individu/perjumpaan.
Kukang jawa lebih banyak dijumpai talun sempurna daripada di talun kebun (Gambar 21). Rerata perjumpaan kukang jawa di talun sempurna lebih tinggi daripada di talun kebun, baik pada siang hari maupun pada malam hari.
Gambar 21 Rerata perjumpaan kukang jawa di tiap fase talun
Jumlah individu dalam setiap perjumpaan di siang hari menggambarkan jumlah individu satu kelompok tidur. Jumlah kukang jawa dalam satu kelompok tidur adalah 1-3 individu. Perjumpaan kukang jawa juga terjadi di luar transek, baik di lokasi yang sama ataupun di lokasi lainnya di desa tersebut. Di seluruh talun contoh kecuali talun Al, terdapat individu kukang induk dengan infan, baik di dalam maupun di luar transek.
Komposisi kelompok tidur kukang jawa yang dijumpai di seluruh transek bervariasi, terdiri atas individu dewasa, juvenil, dan infan. Terdapat empat komposisi kelompok tidur yaitu A) satu individu dewasa, B) satu individu dewasa dan satu individu infan, C) dua individu dewasa dan satu individu infan, serta D) dua individu dewasa dan satu individu juvenil. Perjumpaan kelompok tidur terbanyak adalah kelompok tidur dengan komposisi A dan B (Tabel 21).
Tabel 21 Perjumpaan kukang jawa berdasarkan komposisi kelompok tidur di tiap transek Komposisi kelompok tidur Transek populasi Jumlah LP B Cm Ct PP PR PCu PCi P Al A. dewasa 2 7 10 2 1 1 23
B. dewasa dan infan 1 13 6 3 23
C. 2 dewasa dan
1 infan 2 1 3
D. 2 dewasa dan
1 juvenil 1 1
Kelompok tidur di talun sempurna lebih bervariasi daripada di talun kebun (Gambar 22). Kelompok tidur dengan infan dan juvenil (C dan D) tidak dijumpai di talun kebun.
Gambar 22 Komposisi kelompok tidur kukang jawa di habitat talun
Individu dewasa paling banyak dijumpai dalam kelompok tidur kukang jawa (Tabel 22). Total perjumpaan kukang jawa dalam kelompok tidur di seluruh transek adalah 60 individu dewasa, 1 individu juvenil, dan 24 individu infan. Tabel 22 Kategori umur kukang jawa dalam kelompok tidur
LP B Cm Ct PP PR PCu PCi P Al Jumlah
Dewasa 2 7 9 19 0 2 7 9 1 2 60
Juvenil 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1
Infan 0 0 1 13 0 0 6 4 0 0 24
Jumlah 3 7 10 32 0 2 13 13 1 3
Pada penelitian ini dijumpai beberapa perilaku unik kukang yaitu ride/carry atau interaksi menggendong pada induk dan infan di transek Cm, PCu, dan PCi, serta infant parking di transek PCi yaitu induk meninggalkan infan-nya sementara untuk mencari makan. Induk dengan infan di sembilan lokasi kecuali transek Al kembali ke vegetasi tidur yang sama atau area sekitarnya (minimal radius lebih
kurang 7 m dan dalam lokasi yang sama) apabila tidak ada gangguan. Induk dan
infan di transek Ct masih berada pada vegetasi untuk tidur yang sama hingga 7
hari, induk dan infan di talun Berecek di Desa Kawungsari masih berada di area yang sama hingga 5 hari, serta induk dan infan di talun PCi masih berada di area yang sama hingga 9 hari.
Individu kukang jawa dengan kisaran kelas umur dewasa berganti vegetasi untuk tidur atau berpindah lokasi dengan ataupun tanpa gangguan. Individu dewasa di talun PR sudah tidak berada di lokasi yang sama setelah 5 hari, dan individu di talun PCi sudah tidak berada di lokasi yang sama setelah 4 hari.
Estimasi Populasi Kukang Jawa
Estimasi populasi kukang jawa di tiap desa diperoleh dengan mengalikan nilai kepadatan individu kukang jawa di talun dengan luas Habitat Representatif (HR) yang memiliki fase talun yang sama. Luas total HR di seluruh lokasi adalah 19,49 km2, terdiri atas 11,01 km2 talun kebun dan 8,48 km2 talun sempurna (Tabel 23). HR terluas terdapat di Desa Kawungsari, dan tersempit di Desa Sukakerta. Tabel 23 Luas habitat representatif (km2) di tiap desa
Desa Talun kebun Talun sempurna Total
Sukamaju 2,88 1,55 4,43 Raksajaya 1,99 1,24 3,23 Kawungsari 4,07 2,89 6,96 Sarimanggu 2,07 1,41 3,48 Sukakerta - 1,39 1,39 Jumlah 11,01 8,48 19,49
Estimasi populasi kukang jawa di seluruh desa berjumlah 466,52 individu. Berbanding lurus dengan luas habitatnya, estimasi populasi kukang jawa di talun kebun lebih banyak daripada di talun sempurna (Tabel 24). Total estimasi populasi terbanyak terdapat di Desa Raksajaya dan Kawungsari (173,79 individu dan 119,78 individu) dan yang paling sedikit terdapat di Desa Sukakerta (20,45 individu).
Tabel 24 Estimasi populasi kukang jawa (individu) di tiap desa
Desa Talun kebun Talun sempurna Total
Sukamaju 86,15 7,52 93,67 Raksajaya 84,00 89,79 173,79 Kawungsari 87,08 32,70 119,78 Sarimanggu 5,27 53,56 58,83 Sukakerta - 20,45 20,45 Jumlah 262,49 204,02 466,52
Sebaran Kukang Jawa
Koordinat perjumpaan kukang jawa di dalam dan di seluruh talun di setiap desa serta posisi habitat talun kebun dan talun sempurna diproyeksikan dalam peta sebaran. Sebaran perjumpaan kukang jawa tidak hanya mengikuti sebaran talun yang menjadi habitatnya, tetapi tersebar di seluruh area desa. Berdasarkan ketinggian lokasi, sebaran kukang jawa berada pada ketinggian 220-985 m dpl.
Kukang jawa di Desa Sukamaju Kabupaten Tasikmalaya hanya dijumpai di dua lokasi yang menjadi lokasi transek, yaitu Lebak Pari (LP) di Dusun Leuwinanggung dan Balangendong (B) di Dusun Balangendong (Gambar 23). Lebak Pari merupakan area di kaki bukit bernama Pasir Pareang. Topografi LP berbukit-bukit sedangkan B landai dan terletak antara pemukiman dan pesawahan.
Gambar 23 Sebaran habitat dan perjumpaan kukang jawa di Desa Sukamaju Tasikmalaya
Luas habitat kukang jawa di Desa Sukamaju seluruhnya lebih kurang 443,19 ha. Habitat tersebar di seluruh area desa (315-562 m dpl), akan tetapi sebaran kukang jawa bersifat mengelompok, yaitu di transek LP dan B (363-400 m dpl). Jarak vegetasi untuk tidur kukang jawa dengan lokasi aktifitas manusia terdekat (pemukiman atau jalan) adalah 10-244 m, sedangkan jarak perjumpaan kukang jawa pada malam hari dengan lokasi aktifitas manusia terdekat adalah 25-204 m.
Area habitat kukang jawa di Raksajaya berada di utara desa yakni di area kaki bukit Pasir Pongporang hingga kaki bukit Pasir Awi luhur dan kaki bukit Pasir Gedogan, talun di tengah-tengah pemukiman yakni di Dusun Cimencek, dan di pinggir desa bagian barat yakni di area kaki Pasir Gedogan hingga Dusun Banyuwaras. Seluruh topografi habitat kukang jawa di Desa Raksajaya cenderung berbukit, sedangkan talun Cm yang berada di tengah-tengah kampung Gembor Dusun Cimencek memiliki topografi landai. Luas total habitat seluruhnya lebih
kurang 322,70 ha. Berdasarkan ketinggiannya, sebaran habitat kukang jawa di Raksajaya adalah 500-604 m dpl dan sebaran kukang jawa adalah 521-604 m dpl.
Gambar 24 Sebaran habitat dan perjumpaan kukang jawa di Desa Raksajaya Tasikmalaya
Habitat dan perjumpaan kukang jawa di Raksajaya tersebar di seluruh area desa (Gambar 24). Kukang jawa dijumpai di beberapa lokasi di empat dusun, yaitu di Dusun Cimencek (Cm) dan Citamiang (Ct) yang merupakan lokasi transek, serta Dusun Cikole, Cikole 4, Burujul, dan Banyuwaras. Jarak vegetasi untuk tidur kukang jawa dengan lokasi aktifitas manusia terdekat adalah 2-70 m, sedangkan jarak perjumpaan kukang jawa pada malam hari `dengan lokasi aktifitas manusia terdekat adalah 2-200 m.
Habitat dan perjumpaan kukang jawa di Kawungsari tersebar di seluruh area desa (Gambar 25). Kukang jawa ditemui di beberapa lokasi di empat dusun, yaitu Pasir Pari di Dusun Parakan kawung, Dusun Cipari, Pasir Raweuy, pemukiman, dan talun di Berecek di Dusun Cicantel, serta Pasir Cupu di Dusun Sodong. Topografi habitat kukang jawa di Desa Kawungsari seluruhnya berbukit-bukit.
Beberapa perjumpaan kukang jawa terdapat di lokasi dengan topografi datar yakni di area pemukiman Dusun Cipari dan Cicantel.
Berdasarkan survei langsung dan informasi penduduk, habitat representatif kukang jawa di Desa Kawungsari berada hingga ketinggian 1438 m dpl. Luas total habitat seluruhnya lebih kurang 686,49 ha. Berdasarkan ketinggiannya, sebaran kukang jawa adalah 820-985 m dpl. Lokasi perjumpaan kukang jawa di Desa Kawungsari paling tinggi di antara semua desa lokasi penelitian ini.
Gambar 25 Sebaran habitat dan perjumpaan kukang jawa di Desa Kawungsari Tasikmalaya
Jarak area habitat kukang jawa di Desa Kawungsari dengan pemukiman bervariasi, yaitu 10-600 m. Dibandingkan dengan desa lainnya, jarak habitat dan perjumpaan kukang jawa dengan pemukiman ataupun jalan terdekat, baik siang maupun malam, terletak paling jauh. Jarak vegetasi untuk tidur kukang jawa dengan lokasi aktifitas manusia adalah 10-420 m, sedangkan jarak perjumpaan kukang jawa pada malam hari dengan lokasi aktifitas manusia terdekat adalah 50-600 m.
Kukang jawa di Desa Sarimanggu Kabupaten Tasikmalaya hanya terdapat di beberapa lokasi di empat dusun, yaitu area kaki Pasir Ciputat (PCi) di Dusun
Cimanggu dan Cikukulu, bukit Pasir Wangun di Dusun Cacaban, serta talun Pojok (P) dan area bukit Pasir Kerud di Dusun Pojok (Gambar 26). PCi berada pada ketinggian 220-287 m dpl, sedangkan Pasir Wangun dan P berada pada ketinggian 268-306 m dpl.
Gambar 26 Sebaran habitat dan perjumpaan kukang jawa di Desa Sarimanggu Tasikmalaya
Sebaran habitat dan perjumpaan kukang jawa di Desa Sarimanggu bersifat mengelompok. Luas total habitat seluruhnya lebih kurang 348,47 ha. Berdasarkan ketinggiannya, sebaran habitat kukang jawa di Desa Sarimanggu adalah 220-350 m dpl dan sebaran kukang jawa adalah 220-306 m dpl. Lokasi perjumpaan kukang jawa paling rendah di antara semua desa terdapat di Sarimanggu (220 m dpl). Jarak vegetasi untuk tidur kukang jawa dengan lokasi aktifitas manusia terdekat adalah 10-288 m, sedangkan jarak perjumpaan kukang jawa pada malam hari dengan lokasi aktifitas manusia terdekat adalah 100-291 m.
Kukang jawa di Desa Sukakerta dijumpai di sebelah timur desa berbatasan dengan Desa Golat. Awilega (Al) merupakan talun di sepanjang jalan kecil beraspal dengan beberapa area pemakaman di dalamnya. Sebaran habitat dan perjumpaan kukang jawa bersifat mengelompok (Gambar 27). Luas total habitat
seluruhnya lebih kurang 443,19 ha. Berdasarkan ketinggiannya, sebaran habitat dan perjumpaan kukang jawa di Desa Sukakerta adalah 436-547 m dpl.
Gambar 27 Sebaran habitat dan perjumpaan kukang jawa di Desa Sukakerta Ciamis
Pada saat penelitian di Desa Sukakerta (Mei 2008) sedang dilakukan pembuatan jalan berupa jalan batu membelah area talun yang menjadi habitat kukang. Luas talun yang menjadi habitat kukang jawa di desa ini paling kecil daripada luas talun habitat di desa yang menjadi lokasi penelitian ini. Pembuatan jalan kecil yang membagi talun menjadi dua mengakibatkan penyusutan luas habitat serta meningkatkan aktifitas manusia yang melewati talun tersebut. Fragmentasi kemungkinan akan menurunkan daya dukung talun sebagai habitat serta mengancam kehidupan kukang jawa di talun Desa Sukakerta.
Jarak vegetasi untuk tidur kukang jawa dengan lokasi aktifitas manusia terdekat sebesar 3-15 m, sedangkan jarak perjumpaan kukang jawa pada malam hari dengan lokasi aktifitas manusia terdekat adalah 1-15 m. Jarak ini paling dekat dibandingkan dengan keempat desa lainnya.