• Tidak ada hasil yang ditemukan

DERI YENDRI 2007/89588

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DERI YENDRI 2007/89588"

Copied!
106
0
0

Teks penuh

(1)

i SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Pada Fakultas Ilmu Keolahragaan

Universitas Negeri Padang

Oleh :

DERI YENDRI

2007/89588

JURUSAN KEPELATIHAN OLAHRAGA

FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN

UNIVERSITAS NEGERI PADANG

2012

(2)
(3)
(4)

i

Pelatihan Tenis Lapangan (PTL) UNP

Masih banyak terdapat kekurangan atau kelemahan dalam melakukan pukulan service pada atlet Klub Pelatihan Tenis Lapangan (PTL) UNP dan banyak faktor yang memperngaruhi kemampuan Service. Penelitian ini termasuk jenis penelitian korelasional yang bertujuan untuk mengetahui kontribusi daya tahan kekuatan otot lengan (X2) dan kelentukan (X3) terhadap kemampuan service atlet Klub Pelatihan Tenis Lapangan (PTL) UNP (X1).

Populasi penelitian ini adalah atlet Klub Pelatihan Tenis Lapangan (PTL) UNP yang aktif mengikuti latihan tenis lapangan berjumlah 21 orang. Penarikan sampel dengan purposive sampling berjumlah 15 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan cara mengukur daya tahan kekuatan otot lengan menggunakan tes Push-up dan kelentukan melalui tes kayang. Selanjutnya kemampuan service dilakukan dengan tes kemampuan service tenis.

Analisa data dan pengujian hipotesis 1 dan 2 menggunakan teknik analisis korelasi sederhana dan sedangkan hipotesis 3 menggunakan teknik analisis korelasi ganda dengan taraf signifikan α = 0,05. Untuk melihat kontribusi dengan menggunakan rumus koefisien determinasi KD = r2X100%.

Dari analisis data dapat diperoleh hasil :

1. Terdapat kontribusi daya tahan kekuatan otot lengan terhadap kemampuan service atlet Pelatihan Tenis Lapangan (PTL) UNP sebesar 30,7%

2. Terdapat kontribusi kelentukan terhadap kemampuan service atlet Pelatihan Tenis Lapangan (PTL) UNP sebesar 20,9%

3. Terdapat kontribusi antara daya tahan kekuatan otot lengan dan kelentukan terhadap kemampuan service atlet Pelatihan Tenis Lapangan (PTL) UNP sebesar 51,6%

Kata kunci : Daya Tahan Kekuatan Otot Lengan, Kelentukan, dan Kemampuan Service.

(5)

ii

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi ini dengan judul “Kontribusi Daya Tahan Kekuatan Otot Lengan Dan Kelentukan Terhadap Kemampuan Service Atlet Pelatihan Tenis Lapangan (PTL) UNP

Skripsi ini dibuat untuk melengkapi persyaratan guna memperoleh gelar sarjana pada Jurusan Pendidikan Kepelatihan Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Universitas Negeri Padang (UNP). Dalam penyusunan Skripsi ini penulis menyadari masih banyak kekurangan, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca demi kesempurnaan.

Dalam pelaksanaan penyusunan Skripsi ini penulis banyak mendapatkan bantuan dan bimbingan baik moril maupun materil dari berbagai pihak. Untuk itu melalui ini penulis menyampaikan terima kasih kepada :

1. Bapak Drs. Arsil, M.Pd selaku Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan

2. Bapak Drs. Maidarman, M.Pd selaku Ketua Jurusan Pendidikan Kepelatihan 3. Bapak Drs. Hendri Irawadi, M.Pd selaku pembimbing akademik dan sekaligus

pembimbing I

4. Bapak Drs. Masrun, M.Kes, AIFO selaku pembimbing II

5. Bapak Drs. Maidarman, M.Pd, Drs. M.Ridwan, dan Padli, S.Si, M.Pd sebagai penguji.

(6)

iii

7. Kepada kedua orang tua yang telah memberikan dorongan dan do’a sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi ini.

8. Rekan-rekan mahasiswa, terutama atlet klub Pelatihan Tenis Lapangan (PTL) UNP

Akhirnya penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu, semoga Allah SWT memberikan balasan yang setimpal dan skripsi ini dapat diselesaikan.

Padang, Mei 2012

(7)

iv

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iii

DAFTAR TABEL ... iv

DAFTAR GAMBAR ... v

DAFTAR LAMPIRAN ... vi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Identifikasi Masalah... 6

C. Pembatasan Masalah... 6

D. Perumusan Masalah ... 7

E. Tujuan Penelitian ... 7

F. Kegunaan Penelitian ... 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori... 9

1. Olahraga tenis lapangan ... 9

2. Teknik bermain tenis... 9

3. Kemampuan Service... 13

4. Daya tahan ... 27

B. Kerangka Konseptual... 39

C. Hipotesis... 41

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 43

B. Tempat dan Waktu Penelitian ... 43

C. Populasi dan Sampel ... 43

D. Defenisi Operasional... 44

E. Jenis dan Sumber Data... 45

F. Teknik Pengumpulan Data ... 46

(8)

v A. Analisis Deskriptif ... 55 B. Analisis Induktif. ... 60 C. Pembahasan ... 66 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 71 B. Saran ... 71 DAFTAR PUSTAKA... 74 LAMPIRAN ... 76

(9)

vi

1. Distribusi frekuensi kemampuan Service (Y)... 13

2. Distribusi frekuensi daya tahan kekuatan otot lengan (X1)... 30

3. Distribusi frekuensi Kelentukan Pinggang (X2) ... 35

4. Rangkuman uji normalitas sebaran data dengan uji lilliefors ... 52

5. Analisis korelasi antara daya tahan kekuatan otot lengan (X1) dengan kemampuan service atlet Klub Pelatihan Tenis Lapangan (PTL) UNP (Y) ... 65

6. Analisis korelasi antara kelentukan (X2) dengan kemampuan service atlet Klub Pelatihan Tenis Lapangan (PTL) UNP (Y) ... 67

7. Analisis korelasi antara daya tahan kekuatan otot lengan (X1) dan kelentukan (X2) dengan kemampuan service atlet Klub Pelatihan Tenis Lapangan (PTL) UNP (Y) ... 68

(10)

vii

1. Lapangan tenis ... 10

2. Posisi Bola ... 14

3. Konsentrasi dan Posisi Siap... 14

4. Cara memegang raket dan memegang dua bola untuk melakukan sevis ... 15

5. posisi tangan saat persiapan... 16

6. mengayun raket hingga perkenaan bola dengan raket ... 17

7. Gerakan lanjut ... 18

8. Posisi siap puul Pada servis ... 20

9. Titik impact service ... 20

10. Follow trough ... 21

11. Struktur otot lengan kanan dan kiri ... 32

12. Kerangka Konseptual. Kontribusi daya tahan kekuatan otot lengan dan kelentukan pinggang terhadap kemampuan service atlet klub pelatihan tenis lapangan (PTL) UNP ... 40

13. Bridge-up(kayang) ... 47

14. Sasaran service dan skornya ... 49

15. Histogram daya tahan kekuatan otot lengan (X1) ... 55

16. Histogram kelentukan pinggang (X2) ... 56

(11)

viii

Lampiran Halaman

1. Data Penelitian... 75

2. Analisis Uji normalitas data Push Up melalui uji liliefors (X2) ... 76

3. Analisis uji normalitas Sebaran data Kelentukanmelalui uji liliefors (X3)... ... 77

4. Analisis uji normalitas data Service melalui uji liliefors (X3)... 78

5. Pengolahan Data Mentah Dengan T-Score Sebaran Data Pull up (X1) ... 79

6. Pengolahan Data Mentah Dengan T-ScoreSebaran Data Kelentukan (X2 ) ... 80

7. Pengolahan Data Mentah Dengan T-ScoreSebaran Data kemampuan Servis (Y)... 81

8. Analisis korelasi sederhana dan korelasi berganda variabel Pull Up test (X1,) Kelentukan (X2)dan Kemampuan Servis (Y) ... 82

9. Daftar Nilai Kritis L Untuk Uji Lilliefors ... 87

10. Tabel Dari Harga Kritik Dari Product-Moment ... 88

11.

Daftar Luas Dibawah Lengkungan Normal Standar Dari 0 Ke Z ... 89

(12)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Permainan tenis merupakan latihan fisik di lapangan (outdoor) yang menimbulkan kegembiraan bagi pria dan wanita semua umur, antara 6-60 tahun untuk semua tingkat kemahiran. Tetapi dalam perkembangannya olahraga tenis tidak hanya untuk dapat meningkatkan kesehatan tetapi dapat juga untuk mencapai prestasi yang optimal.

Sesuai dengan tujuan prestasi yang dijelaskan dalam UU. RI No. 3 Pasal 27 ayat 4 (2005:2) bahwa : "Pembinaan dan pengembangan olahraga prestasi dilakukan dengan memberdayakan perkumpulan olahraga prestasi yang dilakukan secara terpusat dan menumbuhkembangkan sentral pembinaan olahraga yang bersifat nasional dan daerah dan menyelenggarakan kompetisi secara berjenjang dan berkelanjutan".

Berdasarkan penjelasan di atas, tenis telah menarik perhatian sebagian orang sejak dimulainya acara pertandingan tingkat dunia. Banyak turnamen yang diselenggarakan dari tingkat daerah, nasional dan internasional digelar setiap tahun. Maka usaha pengembangan dan pembinaan untuk prestasi yang optimal tidak lepas dari pengetahuan secara ilmiah, adanya sarana prasarana yang menunjang dan membuat metode latihan yang tepat. Dengan pengetahuan ilmiah diharapkan pelatih dan orang yang berperan aktif dalam olahraga tenis dapat membantu memecahkan permasalahan yang berkaitan

(13)

dengan kepelatihan tenis agar prestasi optimal dapat tercapai, salah satunya pada pelatihan tenis lapangan (PTL) UNP.

Dalam permainan tenis, penguasaan teknik dasar merupakan penentu bagi kelanjutan keberhasilan dalam menguasai permainan tenis. Teknik dasar harus diketahui, dipelajari, dimengerti dan dipraktekkan dengan benar sehingga dapat menghindari kesalahan-kesalahan cara memukul bola dalam bermain tenis. Dalam permainan tenis seorang pemain harus menguasai teknik dasar yaitu teknik pukulan. Teknik pukulan dalam tenis dibagi 4 macam yaitu : service, ground stroke (forehand drive, backhand drive), volley dan smash (Maghetti, 1990:32). Pemain yang menguasai teknik-teknik pukulan tersebut dengan baik dapat berpeluang untuk memenangkan pertandingan.

Service adalah salah satu jenis pukulan dalam permainan tenis, menurut Hendri (2009:58) “Service merupakan pukulan yang diawali dengan melambungkan bola terlebih dahulu sebelum dipukul, setelah dipukul bola harus masuk kotak service daerah permainan lawan”. Service ini sangat penting dalam permainan tenis, karena tanpa melakukan service permainan tidak akan berlangsung dan service merupakan teknik atau cara memperoleh point yang efektif, serta seorang pemain harus bisa melakukan service dengan benar sehingga bisa memperoleh point. Begittu juga sebaliknya jika seorang pemain tdak bisa melakukan service dengan baik atau gagal dalam melakukan service maka pemain tersebut akan kehilangan angka atau point.

Permainan tenis lapangan yang memiliki sistem penilaian poin yang memungkinkan kemenangan akhir hingga set ke 5 merupakan waktu yang

(14)

cukup lama. Untuk itu seorang pemain harus bisa bermain dengan cara mengatur service agar tidak kehilangan point, hal ini bisa dilakukan pemain saat bertanding melalui pengamatan terhadap kemampuan lawan dalam menerima service, maka pemain bisa memberikan service yang bisa memperoleh hasil yang maksimal. Hal tersebut bisa dilakukan pemain dengan cara melakukan service yang keras. Service yang cepat sangat efektif untuk mendapatkan poin terutama di lapangan keras. Menurut Hendri (2009:81) menyatakan bahwa “lebih kurang 26% service menjadi poin”.

Dari pendapat di atas dapat dipahami bahwa service sangat penting dalam permainan tenis. Untuk dapat melakukan service dibutuhkan unsur kondisi fisik yang baik juga dari pemain, salah satu unsur kondisi fisik yang dibutuhkan dalam melakukan service adalah kekuatan dan proses dalam melakukan kemampuan pukulan service di sepanjang waktu permainan secara berulang-ulang dalam tempo waktu yang relatif lama dibutuhkan ketahanan seorang pemain yaitu unsur daya tahan otot lengan.

Dan unsur kondisi fisik pendukung lain dalam melakukan service adalah ketinggian jangkauan. Agar service berhasil dituntut jangkauan atau raihan yang tinggi, agar bola setelah dipukul melewati net, begitu juga sebaliknya jika jangkauan rendah maka akan sulit memperoleh hasil yang baiak. Koordinasi mata-tangan juga berperan dalam keberhasilan seorang pemain dalam melakukan service, agar perkenaan bola dengan raket dan penempatan bola yang baik setelah dipukul bisa diatur sedemikian rupa oleh

(15)

pemain dibutuhkan koordinasi mata-tangan yang baik dari pemain tenis tersebut.

Kemudian unsur kondisi fisik yang juga sangat berperan dalam melakukan service adalah Kelentukan tubuh dari seorang pemain tersebut. Karena kelentukan tubuh sangat berperan pada saat mengambil awalan untuk melakukan service dengan melentikan badan kebelakang agar lebih mudah memberikan tenaga dan gesekan waktu memukul bola, karena keberhasilan suatu teknik dipengaruhi oleh kelentukan. Seorang pemain dikatakan memiliki kelentukan tubuh yang baik dalam melakukan service, apabila pemain itu dapat mengambil awalan yang baik sebelum melakukan service ke lapangan lawan, sehingga dapat menghasilkan service yang baik, keras dan akurat. Artinya, selama pertandingan berlangsung diduga seorang pemain akan dapat melakukan kemampuan pukulan service dengan baik apabila memiliki unsur daya tahan kekuatan otot lengan, tinggi jangkauan, koordinasi mata tangan dan kelentukan tubuh yang bagus.

Berdasarkan penjelasan di atas, diduga bahwa apabila pukulan service dilakukan dengan teknik yang benar dan didukung dengan kondisi fisik yang baik dan didukung dengan kondisi fisik yang baik maka akan menghasilkan pukulan service yang baik. Kondisi fisik dan teknik yang baik memegang peranan yang sangat penting untuk dapat berprestasi.

Berdasarkan pemantauan peneliti bahwa atlet pelatihan tenis lapangan (PTL) UNP masih banyak terdapat kekurangan atau kelemahan dalam melakukan kemampuan pukulan service. Dari setiap kejuaraan tenis pada

(16)

babak pertama atlet dapat melakukan kemampuan pukulan service dengan baik, namun setelah pergantian set kemampuan pukulan service atlet sudah mulai berkurang kualitasnya, sehingga sering kali bola yang dipukul keluar dari kotak service lawan dan juga service yang dilakukan mental dari net dan jatuh di daerah sendiri, kemudian service yang dilakukan atlet terlalu lemah sehingga mudah dikembalikan oleh lawan akhirnya mengalami kekalahan. Hal ini diduga salah satu diakibatkan kurangnya unsur daya tahan kekuatan otot lengan, tinggi jangkauan, koordinasi mata-tangan dan kelentukan tubuh yang dimiliki atlet pelatihan tenis lapangan (PTL) UNP. Diduga apabila kurangnya unsur daya tahan kekuatan otot lengan dan kelentukan tubuh dapat mempengaruhi penampilan atlet khususnya pada kemampuan service tenis lapangan. Hal tersebut juga diduga akan dapat menghambat pencapaian prestasi atlet.

Bertolak dari uraian-uraian di atas, diduga untuk dapat mempertahankan kemampuan pukulan service yang baik dalam olahraga tenis lapangan dipengaruhi oleh unsur daya tahan kekuatan otot lengan dan kelentukan tubuh seseorang. Oleh sebab itu peneliti tertarik untuk melihat dan membuktikan secara ilmiah sejauh mana kontribusi daya tahan kekuatan otot lengan dan kelentukan tubuh dengan kemampuan service atlet Pelatihan Tenis Lapangan (PTL) UNP, maka perlu adanya penelitian lebih lanjut.

(17)

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka peneliti dapat mengidentifikasi masalah sebagai berikut :

1. Seberapa besar daya tahan kekuatan otot lengan memberikan kontribusi terhadap kemampuan service atlet Pelatihan Tenis Lapangan (PTL) UNP. 2. Seberapa besar tinggi jangkauan memberikan kontribusi terhadap

kemampuan service atlet Pelatihan Tenis Lapangan (PTL) UNP.

3. Seberapa besar koordinasi mata-tangan memberikan kontribusi terhadap kemampuan service atlet Pelatihan Tenis Lapangan (PTL) UNP.

4. Seberapa besar kelentukan tubuh memberikan kontribusi terhadap kemampuan service atlet Pelatihan Tenis Lapangan (PTL) UNP.

5. Seberapa besar kekuatan memberikan kontribusi terhadap kemampuan service atlet Pelatihan Tenis Lapangan (PTL) UNP.

C. Pembatasan Masalah

Mengingat banyaknya masalah yang diidentifikasi dan peneliti merasa pentingnya unsur kondisi fisik seperti daya tahan kekuatan otot lengan dan Kelentukan tubuh serta penulis menduga bahwa unsur kondisi tersebut di atas merupakan faktor yang dominan dalam peningkatan kemampuan service pada permainan tenis lapangan, maka peneliti merasa perlu untuk membuktikan secara ilmiah masalah :

1. Daya tahan kekuatan otot lengan atlet Pelatihan Tenis Lapangan (PTL) UNP sebagai Variabel bebas (X2)

(18)

2. Kelentukan pinggang atlet Pelatihan Tenis Lapangan (PTL) UNP sebagai Variabel bebas (X3)

3. Kemampuan servis atlet Pelatihan Tenis Lapangan (PTL) UNP sebagai Variabel terikat (X1)

D. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah identifikasi masalah di atas maka peneliti merumuskan sebagai berikut :

1. Seberapa besar daya tahan kekuatan otot lengan memberikan kontribusi terhadap kemampuan service?

2. Seberapa besar kelentukan tubuh memberikan kontribusi terhadap kemampuan service?

3. Seberapa besar daya tahan kekuatan otot lengan dan kelentukan tubuh secara bersama-sama memberikan kontribusi terhadap kemampuan service?

E. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui seberapa besar daya tahan kekuatan otot lengan memberikan kontribusi terhadap kemampuan service?

2. Untuk mengetahui seberapa besar kelentukan tubuh memberikan kontribusi terhadap kemampuan service?

(19)

3. Untuk mengetahui seberapa besar daya tahan kekuatan otot lengan dan kelentukan tubuh secara bersama-sama memberikan kontribusi terhadap kemampuan service?

F. Kegunaan Penelitian

Sesuai dengan tujuan dalam penelitian ini nantinya diharapkan berguna sebagai bahan masukan yang berarti yaitu :

1. Untuk memenuhi salah satu syarat bagi penulis demi memperoleh gelar Sarjana Pendidikan di Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Padang.

2. Sebagai bahan acuan bagi dosen-dosen staf pengajar di Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Padang.

3. Sebagai bahan acuan bagi pelatih, pembina dan guru-guru olahraga yang akan mengajarkan tenis lapangan.

4. Sebagai bahan bacaan pada perpustakaan Jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga dan Perpustakaan Pusat Universitas Negeri Padang.

5. Dapat memberikan informasi serta menjadi sumbangan bagi khasanah ilmu pengetahuan dan bagi para pelatih.

(20)

BAB II

KERANGKA TEORITIS A. Kajian Teori

1. Olahraga Tenis Lapangan

Tenis berasal dari bahasa Perancis Utara (Picardi) dan dikembangkan oleh Scots sebelum abad XV. Pada waktu itu tenis merupakan suatu permainan masyarakat Perancis yang dikenal dengan istilah "cache" "jeudepaune", atau "jeude bonde". Dari Perancis "cache" ini berkembang ke daratan Eropa lainnya seperti di Belanda dengan menggunakan istilah "Keatsspel". Pada mulanya olahraga ini dilakukan dengan memukul bola melalui telapak tangan ke dinding di dalam suatu ruangan yang berukuran 30 x 100 x 7 meter. Kemudian pada abad pertengahan XV Inggris dan Perancis menggunakan alat (raket) yang berasal dari kayu sebagai perpanjangan tangan untuk memukul bola yang kemudian berkembang menjadi suatu cabang olahraga yang digemari oleh masyarakat hampir di seluruh dunia (Damrah, 2007:4). Mukholid (2004:74) menyatakan bahwa: "Tenis lapangan adalah olahraga memukul bola dengan raket khusus melalui net di lapangan tertentu dan biasanya dimainkan oleh 2 orang untuk nomor tunggal atau 4 orang untuk nomor ganda".

PB. PELTI (1995:10) mengemukakan bahwa :

Olahraga tenis adalah permainan olahraga dengan menggunakan raket dan bola. Dalam olahraga yang disebut Lawn tennis ini raket dipukulkan ke bola sambut menyambut oleh sepasang pemain yang saling berhadapan ke seberang jaring yang sengaja dipasang di

(21)

sebuah lapangan empat persegi panjang dengan ukuran panjang 23,77 m dan ukuran lebar lapangan tunggal 8,23 m, kemudian lebar lapangan ganda 10,97 m. lapangan terbagi menjadi dua bagian yang sama panjang dengan dipisahkan oleh net yang melintang di tengah-tengah lapangan dengan tinggi di bagian tengah 91,4 m dan pada tiap-tiap tiang net 1,067 m. permainan ini dilakukan di atas lapangan dengan permukaan keras (hard court), tanah liat (gravel), maupun lapangan rumput (grass court).

Gambar 1 : Lapangan Tenis

Sumber : (Pendidikan Jasmani Kelas I SMA (Kurikulum Berbasis Kompetensi 2004), Mukholid, 2004:38).

Berdasarkan pendapat-pendapat para ahli di atas dapat dikemukakan bahwa olahraga tenis merupakan salah satu cabang permainan bola kecil dalam lapangan yang berbentuk empat persegi panjang dengan menggunakan alat bantu raket, bola tenis dan jaring pembatas lapangan yang dapat dimainkan oleh 2 orang atau 4 orang dengan aturan memantulkan bola ke daerah lawan terlebih dulu.

Seorang pemain tenis yang baik adalah pemain yang mampu melakukan teknik dasar pukulan. Menurut Agus (2008:46) mengatakan bahwa : ada enam teknik dasar dalam pukulan pada permainan Tenis seperti : Backhand, Forehand, Grip, groundstruoke,Service dan Voli. Service merupakan salah satu kemampuan teknik dasar yang harus

(22)

dimiliki oleh pemain tenis agar bisa bermain dengan baik dan memenangkan pertandingan. Agar dapat melakukan service dengan baik dibutuhkan beberapa hal seperti : teknik, daya tahan kekuatan otot lengan, kelentukan, keseimbangan, dan kekutan genggaman tangan.

Bermain tenis bukan hanya sekedar memukul bola agar melintasi net dan mengayuhkannya dalam batas-batas permainan tenis, melainkan untuk melakukan pukulan terhadap bola dengan ringan, memukul bola dengan berirama dan menjaga keseimbangan badan. Olahraga tenis juga merupakan suatu permainan yang memerlukan kemampuan kondisi fisik dan kemampuan teknik, antisipasi, ketepatan hati (determination) dan kecerdikan.

Tujuan bermain tenis adalah memukul bola ke dalam lapangan lawan dengan teknik-teknik yang baik dan benar. Untuk dapat menghasilkan pukulan sesuai dengan yang diharapkan maka seorang pemain harus menguasai teknik-teknik dasar dan teknik-teknik pukulan yang baik. Teknik dasar tersebut antara lain adalah teknik smash, lob, forhand, backhand dan service.

Dalam permainan tenis, teknik dapat merupakan teknik penentu bagi kelanjutan keberhasilan dalam menguasai permainan tenis. Teknik pukulan dasar harus dipelajari, dimengerti, diketahui dan dilatih dengan benar sehingga dapat menghindari kesalahan pada saat memukul bola dalam bermain tenis. Agar dapat bermain dengan baik dan benar ada

(23)

bermacam-macam jenis pukulan yang harus dikuasai, sehingga dapat mencapai prestasi optimal sesuai yang diharapkan.

Teknik dasar dalam permainan tenis yaitu meliputi pegangan /grip, sikap berdiri, ayunan raket, kontak poin, foot work. Pegangan dalam tenis menurut Yudoprasetio (1981:13) ada tiga cara, yaitu memegang dari Amerika bagian timur (eastern grip), cara memegang dari Eropa (continental grip) dan cara Amerika sebelah barat (western grip). Sedangkan teknik pukulan dalam tenis merupakan teknik paling utama karena untuk bermain tenis harus memukul bola dengan raket.

Pukulan dalam permainan tenis menurut Katili (1977:21) pukulan tenis dapat dibagi dalam tiga kategori, yaitu ground stroke, volley dan overhead strokes. Sedangkan menurut Maghetti (1990:32) menyatakan bahwa: "pukulan dalam tenis dibedakan menjadi empat macam yaitu service, forehand drive, backhand drive, dan volley. Lardner (1996:35) juga berpendapat bahwa ada enam macam pukulan dasar dalam permainan tenis yaitu : forehand, backhand, service, volley, lob dan smash. Dari beberapa jenis pukulan yang dibutuhkan dalam bermain tenis tersebut di atas,service merupakan pukulan yang paling penting dalam permainan tenis, karena service merupakan pukulan yang penting dalam memperoleh poin. Service selain merupakan pukulan pertama memulai pertandingan, service juga merupakan serangan utama untuk menyulitkan lawan dan merupakan senjata untuk mendapatkan point.

(24)

2. Kemampuan Service a. Pengertian Service

Service adalah satu-satunya pukulan yang sepenuh tergantung pada orang yang melakukan servis, tampa pengaruh lawan sama sekali. Agus (2008:32) “serve adalah memukul bola dengan raket untuk melewati net dan masuk ke areal lapangan servis yang benar kelapangan permainan lawan”. Selanjutnya Loman (1992:81) menjelaskan “ servis adalah pukulan bola yang paling penting dalam pertandingan tenis merupakan satu-satunya pukulan yang harus dikuasai dan tidak diperngaruhi oleh atau tergantung dari pukulan bola lawannya”. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa servis merupakan teknik dasar yang sangat penting dikuasai oleh atlet dalam olahraga tenis lapangan. Servis juga dapat menjadi kesempatan bagi pemain untuk menghasilkan point dalam pertandingan, karena servis tidak diperngaruhi oleh apapun. Dengan arti kata, service itu tergantung kepada orang yang melaksanakanya dan juga merupakan serangan pertama dalam pertandingan karena point bisa diperoleh berdasarkan service bola yang masuk dan tidak bisa dikembalikan lawan. Pelaksanaan service dapat diuraikan menjadi beberapa tahap.

1. Persiapan Awal

Ada berbagai cara memegang bola servis, Mhurpy, dan Mhurpy (1978:60) menjelaskan agar servis konsisten, pelaksanaan toss harus akurat. Servis dengan cara memegang dua buah bola:

(25)

letakan bola pertama pada bahagian bawah telapak tangan dengan diapit oleh dua jari. Kemudian bola kedua diatasnya dengan diapit ketiga jari lainya (tripod). Untuk melakukan toss bola pertama, luncurkan dari tripod dengan membuka jari disaat pergerakan tangan ke atas. Untuk toss bola kedua, pindahkan bla tersebut keposisi tripod byang sebelumnya.

Gambar: Posisi Bola (Murphy dan mhurpy, 1978:60)

Kemudian konsentrasi untuk melakukan gerakan servis dalam posisi siap.

Gambar : Konsentrasi dan Posisi Siap (Loman, 1992:89) Hal yang dilakukan selanjutnya dalam servis (Loman, 1992:89)

(26)

1) Pegangan raket sedemikian longgar dan ringan, hingga raket itu akan turun dengan lengan bawah anda, apabila tangan kiri, yang menyanggga raket pada lehernya, melepaskannya.

2) Tapakan kedua kaki sedemikian rupa, hingga garis antara ujung kedua kaki mengarah ketempat dimana anda akan mengarahkan bola servis.

3) Pegang raket dan bola dimuka bahu kanan dan lihat melewati raket anda ke titik seberang net, dimana anda akan mengarahkan servis sedemikian hingga posisi mata anda, raket dan sasaran ada dalam satu garis. Toss bola juga ke atas garis ini ±40 cm dimuka anda...

Gambar:Cara memegang raket dan memegang dua bola untuk melakukan sevis (1992:81)

2. Ball Toss dan Wind Up

Dalam tahap ini bola dilepaskan ke atas dengan tangan kiri dan raket diayunkan memutar kebelakang kepala. Tahap ini dapat dikatakan tahap persiapan, kedua tangan bergerak turun secara beriringan kemudian bersamaan pula naik.

(27)

Gambar: posisi tangan saat persiapan (Loman,1992:41)

Brown memberikan penjelasan servis tahap pertama ini, dengan Toss :

Toss untuk servis sama bagi semua pemain. Sebagian pemain mungkin mengganti toss dengan melakukan servis yang khas, tapi pada dasarnya tetap sama. Untuk mengukur tinggi toss yang pas, pegang raket pada salah satu jenis pegangan servis dan bentangan tangan dan mengangkat raket sejauh yang bisa dijangkau. Disaat posisi kepala raket di depan, sehingga jika sesuatu jatuh dari puncak raket, maka akan jatuh sekitar30 sentimeter di dalam baseline di depan kaki. Dengan lengan dan raket terbuka penuh di depan, bola yang akan di toss dapat diraih pada puncak dan tepat di tengah senar raket. Jika kelihatannya sedikit salah, itu mungkin saja terjadi. Jika toss tidak sesuai dengan yang diinginkan, tangkap kembali bola atau biarkan jatuh dan ulang lagi.

Tossing untuk servis selalu melibatkan teknik,. Pegang bola pada jari-jari dan bentangkan tangan ke arah net. Kemudian angkat tangan tampa terlalu banyak membengkokan siku. Disaat mengangkat lengan, lepaskan bola dengan mengembangkan jari-jari, bola akan lepas tampa spin. Jika bola tertahan paada jari dengan mengembangkannya disaat toss, putaran akan berkurang dan akurasi toss akan meningkat. (1978:33).

3. Forward Swing (Ayunan ke Depan)

Tahap foward swing yang merupakan fase utama ini berlangsung dari trophy pose pause atau dari saat tangan

(28)

dengan raket memutar kebelakang kepala, yakni dari ready for the hit sampai dengan impact.

Dalam tahap ini Loman (1992 : 86) menjelaskan, disaat kedua kaki dari gerakan servis, tanag kanan dengan dengan raket diayunkan ke atas dan ke depan dari belakang kepala melalui backscratch position untuk melakukan pukulan servis yang diperkuat dengan menempatkan daya gerak dan berat badan ke bola yang dipukul.

Sesuai dengan pendapat di atas, Adnan (1992 : 60) juga menjelaskan “fase utama dari servis terdiri dari dua unsur utama yaitu gerakan memukul yang raih ke atas dan titik perkenaan antara bola dengan raket, kedua terdapat dalam suatu gerakan yang harmonis dan tidak terputus-putus.

Gambar:gerakan mengayun raket hingga perkenaan bola dengan raket(Loman,1992:41)

4. Follow Through (gerak lanjutan)

Dalam tahap akhir dari gerakan servis ini, tangan kanan dengan raket bergerak terus ke muka dan ke bawah, menyilang dada

(29)

dan bahu kanan menunjuk ke muka, pergelangan tanagan menukik terus.

Dalam follow trough ini Loman (1992:88) menguraikan, “kaki kanan melangkah lewat baseline dan berat badan pindah kekaki yang melangkah ini. Follow trough yang cermat dan tepat perlu juga dilaksanakan pada pukulan servis untuk memantapkan pukulannya dan untuk mengontrol arah bola servis”.

Gambar:Gerakan lanjut(Loman,1992:42)

b. Jenis service

Memperhatikan cara pemain melakukan service dan jalannya bola setelah bola dipukul, ternyata ada perbedaan. Ada hasil service dimana bolanya berputar ke atas dan memantul tinggi. ada pula jalan bolanya lurus, cepat dan tajam. Bahkan ada juga bola hasil service yang memantul rendah. Perbedaan dari hasil service tersebut bisa dimamfaatkan pemain dalam memperoleh kemenangan agar service

(30)

yang dilakukan membuat lawan susah menerima bola hasil service pemain tersebut.

Berdasarkan dari cara memukul dan jalannya bola tersebut, Hendri (2009:58-63) membedakan service dalam tiga jenis:

1) Flat service 2) Twice service 3) Slice Service

Sesuai dengan pendapat diatas ada tiga jenis service yang dapat dilakukan oleh seorang pemain tenis untuk lebih jelasnya dapat dilihat dibawah ini :

1) Flat service

Flat service adalah service yang dilakukan dengan cara tertentu sehingga bola hasil pukulan tersebut bergerak lurus tampa putaran. Laju pergerakan bolanya relativ lebih cepat, karena bola melaju tampa putaran. Sudut pantulan service relatif sama dengan dengan sudut datang. Artinya bola hasil pukulan dengan service ini akan memantul sesuai dengan arah dan kecepatan laju bola sebelum jatuh di lapangan. Biasanya pantulan bola lurus (tidak berbelok), dan tidak pula bertambah tinggi maupun bertamabah rendah.

Teknik Flat service adalah sebagai berikut :

Kegiatan service diawali dengan mengatur cara berdiri (posisi siap untuk siap service). Tangan kanan memegang raket dengan teknik continental grip atau eastren Blakhand dan kaki kanan dibelakangnya dengan jarak kira-kira satu jengkal. Bahu kiri mengarah ke net, pikiran

(31)

terpusat pada gerakan yang akan dilakukan. Berikut ini adalah cara pelaksanaan Flat service sebagai berikut :

a) Gerakan dimulai dengan menekuk kedua lutut dan tangan kiri melambungkan bola ke atas (posisi bola sejajar bahu kanan), bersamaan dengan itu tanagan kanan membawa raket kebelakang melewati bahu kanan, dan berakhir dengan daun raket menghadap kebawah, siku mengarah ke atas.

Gambar:Posisi siap puul Pada servis (Hendri,2009:60)

b) Dari posisi ini gerakan memukul dimulai dengan menggerakan raket ke atas (seperti melempar) dengan cara meluruskan siku sambil memutar bahu untuk menabrak bola, sejalan dengan meluruskan kembali kedua lutut. Mata dan pikiran benar-benar tertuju pada bola agar perkenaan antara raket dan bola dapat diatur sedemikian rupa. Genggaman raket tetap kuat, dan posisi daun raket diatur sedemikian rupa (saat perkenaan permukaan daun raket lurus menghadap

(32)

lapangan) sehingga bola melaju lurus dan cepat setelah dipukul. Agar bola melewati net jaga posisi kepala supaya tidak menunduk.

Gambar: Titik impact service (Hendri,2009:560)

c) Setelah terjadi tabrakan antara raket dengan bola terjadi, gerakan raket diteruskan ke depan, lalu mendarat dengan kedua kaki di dalam lapangan. Setelah itu kembali ke posisi siap.

Gambar: Follow trough (Hendri,2009:61) 2) Twice service

Twice service sering juga disebut dengan tospin service. Tospin service adalah service yang dilakukan dengan cara tertentu sehingga

(33)

bola hasil pukulan tersebut bergerak melengkung parabol dan brputar. Laju pergerakan bolanya relatif lebih lambat dibanding service flat. Pentulannya cendrung tinggi dan berbelok.

Keberhasilan sangat ditentukan oleh kemampuan memberikan gesekan senar raket pada bola, dan relatif tidak terlalu menuntut postur tubuh yang tinggi. Agar dapat memberikan gesekan yang banyak pada bola saat memukul, pemain dituntut melenikan pinggangnya sedemikian rupa. Service twice ini relatif membutuhkan tenaga yang lebih banyak untuk pelaksanannya dibanding dengan service lain.

Service ini sangat cocok bagi pemain-pemain yang yang bertubuh pendek, karena tingkat keberhasilannya lebih tinggi dari pada service flat. Oleh sebab itu service ini sering digunakan oleh petenis sebagai service kedua. Service ini sangan penting untuk dikuasai terutama bagi pemain-pemain yang bertubuh pendek.

Teknik twice service

Pada dasarnya teknik dasar twice service hampir sama dengan service lainya. Perbedaannya terletak dari arah lambungan bola yang akan dipukul, titik impact, dan posisi tubuh waktu pelaksanaan. Ciri utama dari twice service adalah jalan dan putaran bola setelah dipukul cendrung melengkung dan bola bergerak dalam keadaan berputar ke depan atas. Pantulanya cendrung tinggi dan tidak teratur. Teknik twice service adalah sebagai berikut :

(34)

a) Kegiatan service diawali dengan mengatur cara berdiri (posisi siap untuk siap service). Tangan kanan memegang raket dengan teknik continental grip atau eastren Blakhand dan kaki kanan dibelakangnya dengan jarak kira-kira satu jengkal. Bahu kiri mengarah ke net, pikiran terpusat pada gerakan yang akan dilakukan.

b) Gerakan dimulai dengan menekuk kedua lutut dan tangan kiri melambungkan bola ke atas (posisi bola sejajar bahu kanan), bersamaan dengan itu tangan kanan membawa raket kebelakang melewati bahu kanan, dan berakhir dengan daun raket menghadap kebawah, siku mengarah ke atas. Saat ini posisi tubuh agak melentik, sehingga lebih mudah memberikan tenaga dan gesekan waktu memukul.

c) Dari posisi ini gerakan memukul dimulai dengan menggerakan raket ke atas (seperti melempar) dengan cara meluruskan siku sambil memutar bahu untuk menabrak bola, sejalan dengan meluruskan kembali kedua lutut. Mata dan pikiran benar-benar tertuju pada bola agar perkenaan antara raket dan bola dapat diatur sedemikian rupa. Genggaman raket tetap kuat, dan posisi daun raket diatur sedemikian rupa (saat perkenaan permukaan daun raket sedikit terbuka) sehingga bola melaju dalam keadaan berputar dan cendrung melengkung setelah dipukul. Agar bola melewati net jaga posisi kepala supaya tidak menunduk.

(35)

d) Setelah terjadi tabrakan antara raket dengan bola terjadi, gerakan raket diteruskan ke depan, lalu mendarat dengan kedua kaki di dalam lapangan. Setelah itu kembali ke posisi siap.

3) Slice service

Slice service adalah service yang dilakukan dengan cara tertentu sehingga bola hasil pukulan tersebut bergerak melengkung kearah samping rendah dan berputar. Laju pergerakan bolanya relatif lebih lambat dibanding service flat. Pantulannya cendrung rendah dan relatif cepat, karena bola dipukul dari samping atas, sehingga menimbulkan gesekan kearah sisi bola. Service ini cocok untuk membuka daerah pertahanan lawan karena pantulannya cendrung bergerak rendah kearah samping.

Keberhasilan service sangat ditentukan oleh kemampuan memberikan gesekan senar raket pada bola, dan relatif tidak terlalu menuntut postur tubuh yang tinggi dan tenaga yang banyak. Service ini sangat cocok bagi pemain-pemain yang bertubuh pendek dan pemula, karena selain tingkat keberhasilanya tinggi dari pada service flat, pelaksanaannya lebih mudah. Jika pada service twice pemain harus melentikan pinggannya pada saat memukul, maka pada service slice tidak banyak membutuhkan lentikan pinggang. Service ini juga sering digunakan oleh petenis sebagai service kedua. Oleh sebab itu service ini sangat penting untuk dikuasai terutama bagi pemain-pemain pemula.

(36)

Teknik slice service

Pada dasarnya teknik dasar twice service hampir sama dengan service lainya. Perbedaannya terletak dari arah lambungan bola yang akan dipukul, titik impact, dan posisi tubuh waktu pelaksanaan. Ciri utama dari twice service adalah jalan dan putaran bola setelah dipukul cendrung melengkung kesamping dan bola bergerak dalam keadaan berputar ke depan samping. Pantulanya cendrung rendah dan tidak teratur. Menurut Irawadi (2009:61-62) mengatakan Teknik twice service adalah sebagai berikut :

a) Kegiatan service diawali dengan mengatur cara berdiri (posisi siap untuk siap service). Tangan kanan memegang raket dengan teknik continental grip atau eastren Blakhand dan kaki kanan dibelakangnya dengan jarak kira-kira satu jengkal. Bahu kiri mengarah ke net, pikiran terpusat pada gerakan yang akan dilakukan.

b) Gerakan dimulai dengan menekuk kedua lutut dan tangan kiri melambungkan bola ke atas (posisi bola sejajar bahu kanan), bersamaan dengan itu tangan kanan membawa raket kebelakang melewati bahu kanan, dan berakhir dengan daun raket menghadap kebawah, siku mengarah ke atas. Saat ini posisi tubuh agak melentik, sehingga lebih mudah memberikan tenaga dan gesekan waktu memukul. c) Dari posisi ini gerakan memukul dimulai dengan

menggerakan raket ke atas (seperti melempar) dengan cara meluruskan siku sambil memutar bahu untuk menabrak bola, sejalan dengan meluruskan kembali kedua lutut. Mata dan pikiran benar-benar tertuju pada bola agar perkenaan antara raket dan bola dapat diatur sedemikian rupa. Genggaman raket tetap kuat, dan posisi daun raket diatur sedemikian rupa (saat perkenaan permukaan daun raket miring sedikit ke arah lapangan) sehingga bola melaju dalam keadaan berputar dan cendrung melengkung arah ke samping setelah dipukul. Agar bola melewati net jaga posisi kepala supaya tidak menunduk

d) Setelah terjadi tabrakan antara raket dengan bola terjadi, gerakan raket diteruskan ke depan, lalu mendarat dengan

(37)

kedua kaki di dalam lapangan. Setelah itu kembali ke posisi siap.

Dibandingkan dengan flat service dan twice service, slice service lebih mudah dikuasai, dan efektif terutama bagi pemain-pemain yang tingginya kurang dari 170 cm.

c. Faktor-faktor yang memperngaruhi kebutuhan service

Keberhasilan seorang petenis melakukan service diperngaruhi oleh beberapa faktor yaitunya faktor teknik, kondisi fisik, taktik dan mental. Adapun menurut Agus (2008:61-64) keberhasilan seorang pemain dalam melakukan service diperngaruhi oleh teknik yang dimiliki pemain tersebut yaitu posisi berdiri untuk melakukan service, dimana posisi yang baik adalah dekat dengan pusat sasaran sehinggga mendapatkan posisi yang baik agar dapat mengembalikan service dengan baik pula. Teknik yang kedua yaitu kapan seorang pemain memukul bola (timing), waktu yang baik memukul bola adalah sebelum melayang, tujuannya adalah untuk melemparkan bola ke atas dengan pelan. Teknik yang ketiga adalah bagaimana untuk mengembangkan aksi, untuk mengembangkan aksi ini juga dibagi menjadi tiga bagian yaitu back swing dimulai, raket menjadi posisi backscratch, dan service selalu berkhir melewati net yang bagus. Teknik yang keempat adalah pegangan saat melakukan service. Pegangan dalam service seorang pemain bisa memegang raket dengan pegangan normal yaitu forehand eastern, dan kemudian mengubah pegangan menjadi pegangan kontinental atau chopper.

(38)

Kemudian menurut Hendri(2009:88-93) mengatakan bahwa “tenis menuntut kemampuan unsur kondisi fisik, unsur-unsur tersebut antara lain: daya tahan, kecepatan, kekuatan, power, kelenturan, daya tahan kecepatan, kelincahan, keseimbangan, dan koordinasi”. Menurut pelaksanaan service dapat disimpulkan bahwa ada beberapa kondisi fisik yang mendukung kemampuan service yaitu kelenturan, kondisi daya tahan kekuatan otot lengan, power, keseimbangan dan koordinasi. 3. Daya Tahan

Daya tahan secara umum menunjukkan kemampuan menahan kelelahan dari organ-organ tubuh manusia. Menurut Maidarman (2011:25) "Daya tahan adalah kemampuan organ atlet untuk melawan kelelahan yang timbul saat menjalankan aktivitas olahraga dalam waktu lama". Daya tahan diartikan sebagai waktu bertahan yaitu lamanya seseorang dapat melakukan suatu intensitas kerja atau jauh dari keletihan. Tujuan utama dari latihan daya tahan adalah meningkatkan kemampuan kerja jantung disamping meningkatkan kerja paru-paru dan sistim peredaran darah.

Selanjutnya Pate dalam Arsil (1999:20) membagi daya tahan menjadi dua jenis yaitu :

1. Daya tahan otot ditunjukan pada kemampuan untuk menampilkan kontraksi otot yang berulang-ulang isotonik dan isometrik atau untuk mendukung kontraksi isometrik terhadap tahanan yang signifikan. Daya tahan otot berhubungan dengan kekuatan otot.

2. Daya tahan kardiorespirasi, adalah kemampuan untuk menggunakan seluruh tubuh, aktifitas dengan intensitas moderat untuk periode waktu yang sama.

(39)

Secara umum kemampuan daya tahan dibutuhkan dalam semua cabang olahraga yang membutuhkan gerak fisik. Daya tahan adalah kemampuan organisme pemain untuk mengatasi kelelahan yang timbul setelah melakukan aktivitas tubuh berolahraga dalam waktu lama.

Banyak para ahli mengemukakan pengertian daya tahan, dari beberapa pengertian daya tahan yang dikemukakan para ahli disimpulkan, “bahwa daya tahan otot adalah kemampuan otot untuk melakukan kontraksi berulang-ulang tanpa timbul kelelahan. Sedangkan daya tahan kardiorespirasi adalah kemampuan seluruh tubuh untuk melakukan aktivitas pada jangka waktu yang lama tanpa timbulnya kelelahan”.

Dalam perlombaan antar kejuaraan seorang pemain di tuntut mampu berlomba selama perlombaan berlangsung tanpa mengalami kelelahan yang berarti dalam melaksanakan teknik dan taktik. Tujuan utama dari latihan daya tahan adalah meningkatkan kemampuan kerja jantung di samping itu meningkatkan kerja paru-paru pada sistem peredaran darah secara umum kemampuan daya tahan di butuhkan semua cabang olahraga yang membutuhkan gerak fisik seperti, pelaksanaan service dalam tenis lapangan. Dalam permainan tenis lapangan yang berlangsung selama lima set pertandingan, hal ini memungkinkan seorang pemain tenis akan melakukan service yang berulang kali. Oleh sebab itu dalam pelaksanaan service pada permainan tenis membutuhkan unsur Daya tahan.

a. Jenis Daya Tahan 1) Daya Tahan Umum

(40)

Daya tahan umum adalah kemampuan kelompok otot, sistem saraf pusat (CNS), jantung dan pernafasan. Daya tahan umum akan melibatkan aktivitas otot-otot yang luas serta diarahkan pada daya tahan jantung dan pernafasan, karena itu dikenal sebagai daya tahan jantung dan paru (cardiorspiratory endurance) atau aerobic endurance yang ditentukan oleh:

a) Kemampuan organ pernafasan untuk mengambil oksigen dalam jumlah yang besar dan mengeluarkan zat asam arang dalam jumlah yang besar pula.

b) Kemampuan jantung untuk menambah keluaran darah dan mengangkut oksigen dan zat asam arang ke dan dari otot melalui darah (Bompa dalam Arsil, 1999:22).

2) Daya tahan khusus

Daya tahan khusus identik dengan kemampuan tahan otot. Menurut Bowers dalam Arsil (1999:24) daya tahan otot merupakan kemampuan otot atau menyokong kerja (beban) selama waktu tertentu (muscular endurance), yang ditentukan oleh :

a) Kekuatan otot

b) Jumlah bahan bakar yang ada dalam otot dan hati c) Istirahat yang cukup

Dalam beberapa cabang olahrga seperti ; tinju, gulat, panahan, yudo dan lainnya dibutuhkan ketahanan otot untuk bekerja lebih lama. Otot-otot yang kuat walaupun mempunyai daya

(41)

ledak yang tinggi belum cukup apabila otot-otot tersebut kurang mempunyai daya tahan, khususnya pada pemain tenis lapangan.

b. Daya Tahan Kekuatan Otot Lengan

Pasurnay (2001:18) menjelaskan daya tahan kekuatan pada hakekatnya "merupakan gabungan dua kemampuan yakni kekuatan dan dayatahan". Selanjutnya Syafruddin (1999:37) mengatakan bahwa: Daya tahan kekuatan merupakan kombinasi antara kekuatan dan daya tahan. Daya tahan kekuatan adalah kemampuan otot untuk mempertahankan atau mengatasi kelelahan yang disebabkan pembebanan kekuatan dalam waktu yang relatif lama. Oleh karena kekuatan membicarakan tentang kemampuan otot, maka daya tahan kekuatan sering juga disebut dengan daya tahan otot (muscle endurance).

Kemampuan daya tahan kekuatan akan dapat menghindari timbulnya kelelahan yang cepat pada penggunaan kekuatan dalam waktu lama dalam permainan tenis lapangan, sehingga dapat mempertahankan kemampuan prestasi sampai akhir pertandingan. Ini berarti penurunan prestasi fisik dapat dihindari.

Syafruddin (2004:23) menyatakan bahwa : "daya tahan kekuatan dapat diraih melalui pengembangan kekuatan dan melalui peningkatan kemampuan daya tahan. Oleh sebab itu untuk kekuatan dan daya tahan (daya tahan kekuatan) sangat dibutuhkan dalam olahraga permainan tenis lapangan.

Daya tahan ternyata jauh lebih kompleks dari kekuatan, bahkan faktor kekuatan itu sendiri ada keterlibatannya dengan daya tahan otot

(42)

lokal, seperti yang dibutuhkan oleh pemain tenis yang membutuhkan gerakan forehand berulangkali selama lima set. Oleh sebab itu pemanfaatan latihan memakai beban dengan repetisi yang banyak akan positif hasilnya bagi peningkatan daya tahan yang terjadi karena pertambahan ukuran otot, cadangan glycogen, pembesaran pembuluh-pembuluh darah dan peningkatan myoglobin (Nurhasan, 1984:75).

Dari pendapat-pendapat para ahli di atas dapat dikemukakan bahwa daya tahan kekuatan pada hakekatnya merupakan kemampuan organisme tubuh mengatasi kelelahan pada pembebanan kekuatan yang berlangsung lama. Artinya, kemampuan untuk mempertahankan prestasi kekuatan dalam waktu tertentu atau kemampuan untuk dapat mempertahankan penurunan prestasi, kekuatan sekecil mungkin.

Hal ini berlaku dalam kemampuan service yang sering dilakukan selama lima set permainan berlangsung. Dalam hal ini seorang atlet harus memiliki daya tahan kekuatan yang cukup bagus agar dapat bermain maksimal dalam waktu lama. Daya tahan kekuatan yang dimaksudkan adalah daya tahan kekuatan otot lengan yang sangat dibutuhkan pada kemapuan forehand. Pada saat melakukanservice, daya tahan kekuatan otot lengan harus bagus dan kuat agar dapat menghasilkan pukulan yang baik.

Berbicara masalah daya tahan kekuatan otot lengan, merupakan salah satu komponen kondisi fisik yang sangat menentukan dalam permainan tenis lapangan, khususnya pada kemampuanservice. Atlet yang memiliki daya tahan

(43)

kekuatan otot lengan yang bagus, akan dapat melakukan service yang baik secara berulang-ulang tanpa mengalami kelelahan dan tanpa terjadinya penurunan fisik ataupun mempengaruhi penampilan servicenya. Hal ini merupakan suatu keuntungan bagi atlet. Akibat daya tahan kekuatan yang bagus yang dimiliki, atlet lebih mudah mengarahkan service pada daerah pertahanan lawan sesuai dengan arah yang diinginkannya. Dalam hal ini lengan leluasa dapat bergerak bebas mengayunkan pukulan dan dengan unsur kekuatan dapat memukul bola dengan kuat, cepat, tepat dan terarah pada sasaran sehingga perolehan poin dapat diraih dengan mudah. Oleh sebab itu besar manfaatnya daya tahan kekuatan otot lengan dalam kemampuan service tenis lapangan. Seperti yang dikemukakan oleh Hendri (2009:81) bahwa “lebih kurang 26% service menjadi poin, dan 6% di lapangan grafel”. Oleh sebab itu, apabila unsur daya tahan kekuatan otot lengan yang dimiliki atlet bagus dan ditambah dengan teknik kemampuan service yang baik maka memungkinkan pencapaian service yang lebih baik dapat dilakukan sehingga memudahkan untuk pencapaian prestasi.

Adapun otot-otot lengan yang terlibat untuk melakukan service yang baik dalam permainan tenis lapangan adalah :

1) Untuk menggerakkan extensor siku, yaitu saat melakukan ayunan dari belakang adalah otot triceps.

2) Untuk menggerakkan lengan pada saat ayunan ke depan yaitu toto teres mayor, scapularis, latisimus dorsi dan pectoralis mayor.

(44)

3) Untuk menggerakkan lengan sebagai pendorong saat melakukan gerakan lanjutan (follow through) yaitu otot latisimusdorsi, pectoralis major, teres major dan biceps (Arianto, 2007: 23-24).

Agar lebih jelasnya untuk mengembalikan otot-otot lengan yang terlibat dalam pelaksanaan kemampuanservice dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

Gambar 6 : Struktur otot lengan kanan dan kiri Sumber : (Evelyn C Pearce, 1999 : 111-112).

Dari uraian di atas dapat dikemukakan bahwa lengan manusia terdiri bermacam-macam otot, dimana dalam suatu gerakan otot-otot tersebut saling mendukung antara otot yang satu dengan otot yang lain. Selanjutnya otot-otot bekerja sesuai dengan aktifitas yang dibutuhkan juga sesuai bagian-bagiannya, karena tanpa saling keterkaitan otot-otot

(45)

tersebut tidak dapat mencapai hasil yang maksimal. Oleh sebab itu ada bagian otot yang paling dominan saat melakukan gerakan, maka jelaslah bahwa dalam melakukan gerakan otot tidak dapat berdiri sendiri. Jika ingin mencapai suatu hasil gerakan yang maksimal dalam kemampuan service juga harus memperhatikan otot-otot yang mendukung saat melakukan gerakan tersebut.

Dari pendapat-pendapat para ahli di atas, dapat dikemukakan bahwa daya tahan kekuatan otot lengan pada hakekatnya merupakan gabungan unsur kondisi fisik daya tahan dengan kekuatan dimana kemampuan otot untuk mempertahankan atau mengatasi kelelahan yang disebabkan pembebanan kerja fisik dalam waktu yang relatif lama. Daya tahan kekuatan yang dimaksudkan dalam hal ini adalah daya tahan kekuatan otot lengan yang dibutuhkan untuk membantu pelaksanaan kemampuan service tenis lapangan.

Daya tahan kekuatan otot lengan berkaitan dengan kemampuan otot lokal baik gerakan bersifat aerobik ataupun anerobik. Arsil (1999:40-41) mengemukakan bahwa :

Faktor-faktor yang mempengaruhi daya tahan kekuatan meliputi; keturunan, usia, jenis kelamin, kebutuhan energi secara kimia, sistem persyarafan, kemauan dan ketekunan, kapasitas aerobik dan anaerobic serta aktivitas fisik. Kemudian prinsip-prinsip latihan daya tahan kekuatan otot lengan dapat dibedakan berdasarkan karakteristik lamanya waktu dan karakteristik kemampuan seseorang. Sedangkan metode latihan daya tahan kekuatan otot lengan dapat dilakukan dengan metode durasi, metode interval, metode repetisi dan metode kompetitive.

(46)

Untuk menentukan tingkatan daya tahan kekuatan otot lengan yang dimiliki seseorang dapat dilakukan dengan tes daya tahan kekuatan otot lengan seperti push-up ataupun pull-up.

4. Hakekat Kelentukan

Kelentukan merupakan salah satu komponen kondisi fisik yang sangat penting untuk dipertimbangkan dalam suatu penampilan gerak, terutama sekali yang menyangkut kapasitas fungsional suatu persendian dan keluwesan gerak. Kelentukan merupakan kemampuan suatu persendian beserta otot-otot disekitarnya untuk melakukan gerak secara maksimal. Dilihat dari kesehatan, kurangnya kelentukan sering menimbulkan masalah pada sikap badan. Seseorang yang kurang memiliki kelentukan biasanya gerakannya akan kaku, kasar dan lamban. Dalam cabang olahraga tenis lapangan kelentukan tubuh sangat diperlukan Untuk memperoleh hasil yang baik dalam penguasaan teknik tenis lapangan yang optimal.

Menurut Philips dalam Arsil, (1999:23) menyatakan bahwa ”kelentukan dapat didefinisikan sebagai gerak diantara tulang dan sendi atau rangkaian tulang dan sendi”. Sedangkan Soekarman, (1987:19) menyatakan bahwa ”kelentukan ditentukan oleh kondisi tulang, otot, ligament, jaringan ikat dan kulit”.

Lentuk berarti mudah dibengkokkan atau lentur. ”Kelentukan suatu sifat dari benda yang mudah dibengkokkan” Poerwadarminto (1986:15). Kelentukan pinggang adalah sifat dari pinggang manusia

(47)

yang mudah dikelukkan, kelentukan meliputi seluruh sendi manusia. Dengan demikian kelentukan terdapat dibeberapa lokasi dari tubuh manusia. Dari beberapa lokasi kelentukan, yang akan diteliti pada penelitian ini adalah kelentukan di daerah pinggang. Karena yang paling menentukan untuk semua gerakan adalah kelentukan di daerah pinggang. Pinggang merupakan daerah gerak di togok manusia, maka kelentukan pinggang disebut kelentukan togok. Kelentukan togok adalah sifat dari togok manusia yang mudah dikelukkan.

Menurut Syafruddin (1999: 58) mengatakan bahwa ”kelentukan adalah salah satu komponen kondisi fisik yang menentukan dalam:

1. Mempelajari keterampilan-keterampilan gerakan. 2. Mencegah cedera.

3. Mengembangkan kemampuan kekuatan, kecepatan, daya tahan dan koordinasi.

Dengan demikian jelas bahwa kelentukan memegang peranan yang sangat besar dalam mempelajari keterampilan-keterampilan dan dalam mengoptimalkan kemampuan fisik yang lain, bahkan untuk mengembangkan kemampuan kecepatan, kelentukan merupakan unsur yang menentukan keberhasilan kecepatan. Dengan kata lain tanpa kelentukan, kecepatan tidak berkembang secara optimal. Di samping itu, kelentukan juga sangat menentukan

(48)

kualitas gerakan seseorang seperti dalam olahraga lempar cakram, senam dan loncat indah.

Dilihat dari pendapat para ahli di atas maka sangat jelaslah bahwa kelentukan sangat manentukan keberhasilan seseorang atlet pada setiap cabang olahraga pada umumnya dan olahraga tenis lapangan pada khususnya terutama pada saat melakukan service. Kelentukan merupakan salah satu kompenen kondisi fisik yang tidak bisa dipisahkan dengan unsur kondisi fisik lainnya dalam melakukan suatu keterampilan gerak.

a. Faktor-faktor yang membatasi kelentukan

Untuk menampilkan gerak yang baik, dipengaruhi oleh banyak faktor. Menurut Syahara (2004: 91-94) menyatakan ada beberapa faktor yang mempengaruhi kelentukan itu antara lain adalah: “1)Jenis dan struktur sendi, 2)Otot yang melewati persendian 3)Usia dan jenis kelamin 4)Suhu tubuh keseluruhan dan otot khusus 5)Kelentukan akan berbeda sesuai dengan waktu dalam sehari 6)Kekuatan otot”

Menurut Jonath dan Krempel (1981:27) dalam Syafruddin (1999:23), kemampuan kelentukan dibatasi oleh beberapa faktor antara lain:

a)Koordinasi otot sinergis dan antagonis. b)Bentuk persendian c)Temperatur otot d)Kemampuan otot dan lilgament e)Kemampuan proses pengendalian pisiologi persyarafan f)Usia dan jenis kelamin. Dengan demikian, kelentukan sangat erat kaitannya dengan bakat dan potensi yang dimiliki seorang atlet tersebut.

(49)

Berdasarkan pendapat di atas dapat dilihat bahwa ada beberapa hal yang dapat memperngaruhi kelentukan yang dimiliki oleh seseorang seperti : jenis dan stuktur otot dan sendi, usia, jenis kelamin, suhu tubuh dan lain sebagainya.

b. Prinsip-prinsip latihan kelentukan

Untuk mengembangkan kemampuan kelentukan perlu diperhatikan prinsip-prinsip latihan sebagai berikut:

1) Dimulai dengan latihan kelentukan umum.

2) Kelentukan-kelentukan khusus suatu cabang olahraga harus di latih dan dicapai dengan amplitudo gerakan seoptimal mungkin, karena diperlukan untuk pertandingan dan peningkatan prestasi.

3) Lakukan kesemua arah secara optimal sesuai dengan fungsi dan kemampuannya.

4) Latihan-latihan kelentukan harus diberikan sebelum dan sesudah latihan kekuatan dan kecepatan guna menghindari kekakuan dan membantu pemulihan.

5) Program pengembangan kelentukan perlu juga dikombinasikan dengan latihan kekuatan karena tanpa kekuatan amplitudo gerakan yang besar tidak dapat dicapai.

Dari beberapa pendapat para ahli diatas, maka dapat disimpulkan bahwa kelentukan yang baik dapat mempermudah mempelajari teknik-teknik yang rumit, berarti kelentukan dapat mempertinggi keterampilan dalam berbagai cabang olahraga. Dengan demikian kelentukan akan dapat

(50)

mempertinggi keterampilan Service dalam tenis lapangan terutama pada saat melentikan pinggang kebelakang dan mendorong tubuh kedepan saat memukul bola sehingga lebih memudahkan memberikan tenaga dan gesekan waktu memukul.

B. Kerangka Konseptual

Sesuai dengan kajian teori terdahulu dapat dipahami bahwa unsur daya tahan kekuatan otot lengan dan kelentukan pinggang diduga memiliki hubungan dengan kemampuan service atlet tenis lapangan. Hal ini dapat dilihat sebagai berikut :

1) Daya tahan kekuatan otot lengan memiliki hubungan terhadap kemampuan service Tenis.

Daya tahan kekuatan otot lengan merupakan gabungan antara unsur kekuatan dengan unsur daya tahan (Pasurnay, 2001:18). Untuk melakukan sebuah service diperlukan kekuatan otot lengan keseluruhan yaitu otot bisep, otot triceps dan otot digitorum. Apabila service yang dilakukan secara berulangkali, maka sangat dibutuhkan unsur daya tahan seorang atlet. Dalam hal ini daya tahan kekuatan otot lengan merupakan kemampuan otot untuk mempertahankan atau mengatasi kelelahan yang disebabkan pembebanan kerja fisik dalam waktu yang relatif lama. Kerja fisik yang dimaksudkan dalam hal ini adalah melakukan service dalam bermain tenis lapangan secara berulangkali.

(51)

2) Kelentukan Pinggang memiliki hubungan terhadap kemampuan service Tenis

Kelentukan pinggang adalah sifat dari pinggang manusia yang mudah dikelukkan, kelentukan meliputi seluruh sendi manusia (Poerwadarminto, 1986:15). Kelentukan pinggang juga sangat berperan pada saat mengambil awalan untuk melakukan service dengan melentikan badan kebelakang agar lebih mudah memberikan tenaga dan gesekan waktu memukul bola, karena keberhasilan suatu teknik dipengaruhi oleh kelentukan. Seorang pemain dikatakan memiliki kelentukan pinggang yang baik dalam melakukan service, apabila pemain itu dapat mengambil awalan yang baik sebelum melakukan service, sehingga dapat menghasilkan service yang baik, keras dan akurat. Kemampuan service merupakan salah satu teknik dasar pukulan dalam permainan tenis lapangan untuk mencapai kemenangan, dimana teknik gerakannya terdiri dari persiapan, pelaksanaan dan gerakan lanjutan.

3. Daya tahan kekuatan otot lengan dan kelentukan memiliki hubungan terhadap kemampuan service Tenis

Servis adalah pukulan bola yang paling penting dalam pertandingan tenis merupakan satu-satunya pukulan yang harus dikuasai dan tidak diperngaruhi oleh atau tergantung dari pukulan bola lawannya (Loman, 1992:81) Daya tahan kekuatan otot lengan dan kelentukan pinggang yang dimiliki oleh atlet juga akan memperngaruhi kemampuan service yang

(52)

dimiliki oleh atlet dalam

atlet mempunyai unsur kondisi kelentukan pinggang

oleh atlet juga bagus. Jadi

antara daya tahan kekuatan otot lengan kemampuan service

Berpedoman pada

daya tahan kekuatan oeot lengan dengan kemampuan

variabel di atas ada baiknya dijelaskan dengan suatu model

variabel bebas dengan variabel terikat seperti pada gambar berikut ini :

Gambar 7 : Kerangka Konseptual lengan

atlet pelatihan tenis lapangan (PTL) UNP. C. Hipotesis

Berdasarkan kajian teori dan kerangka konseptual di atas, diajukan hipotesis penelitian sebagai berikut :

1. Daya tahan kekuatan otot lengan service.

dimiliki oleh atlet dalam permainan tenis lapangan. Yaitu apabila seorang atlet mempunyai unsur kondisi daya tahan kekuatan otot lengan

ukan pinggang yang bagus maka kemampuan service yang dimiliki oleh atlet juga bagus. Jadi dapat diduga bahwa terdapat sumbangan

antara daya tahan kekuatan otot lengan dan kelentukan pinggang service tenis lapangan.

Berpedoman pada uraian di atas dapat dimengerti hubungan antara daya tahan kekuatan oeot lengan dan kelentukan pinggang dalam penelitian dengan kemampuan service. Untuk lebih jelasnya gambar keterkaitan ke variabel di atas ada baiknya dijelaskan dengan suatu model sumbangan variabel bebas dengan variabel terikat seperti pada gambar berikut ini :

Kerangka Konseptual. Kontribusi daya tahan kekuatan otot dan kelentukan pinggang terhadap kemampuan

atlet pelatihan tenis lapangan (PTL) UNP.

Berdasarkan kajian teori dan kerangka konseptual di atas, maka is penelitian sebagai berikut :

Daya tahan kekuatan otot lengan berkontribusi terhadap kemampuan Yaitu apabila seorang aya tahan kekuatan otot lengan dan yang dimiliki sumbangan berarti dan kelentukan pinggang dengan

uraian di atas dapat dimengerti hubungan antara dalam penelitian . Untuk lebih jelasnya gambar keterkaitan ketiga

mbangan antara variabel bebas dengan variabel terikat seperti pada gambar berikut ini :

daya tahan kekuatan otot kemampuan service

maka dapat

(53)

2. Kelentukan pinggang berkontribusi terhadap kemampuan service.

3. Daya tahan kekuatan otot lengan dan Kelentukan Pinggang secara bersama-sama berkontribusi terhadap kemampuan service.

(54)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian Kuantitatif dengan jenis Korelasional yang bertujuan untuk melihat hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Sesuai dengan pendapat Umar (1998:15) bahwa penelitian korelasional adalah suatu penelitian yang dirancang untuk menentukan tingkat hubungan variabel-variabel dalam suatu populasi yang bertujuan untuk mengetahui berapa besar kontribusi variabel bebas terhadap variabel terikat serta besarnya kaitan hubungan yang terjadi. Variabel bebas terdiri dari daya tahan kekuatan otot lengan dan kelentukan pinggang, sedangkan variabel variabel terikat adalah kemampuan service atlet klub pelatihan tenis lapangan (PTL) UNP.

B. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di lapangan tenis lapangan FIK UNP Padang, sedangkan waktu pelaksanaan penelitian ini adalah pada tanggal 3-15 Februari 2012.

C. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2002:108). Dalam penelitian ini yang dijadikan populasi adalah atlet

(55)

persatuan tenis lapangan (PTL) UNP sebanyak 21 orang, yang terdiri dari 15 orang putera dan 6 orang puteri, dimana klub PTL UNP merupakan salah satu klub tenis yang perkembangannya pesat dengan pembinaan yang baik dan mampu menunjukkan perstasinya baik pada tingkat daerah, wilayah maupun nasional dan klub PTL UNP didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai dan pelatih yang berkualitas.

2. Sampel

Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto, 2002:109). Berdasarkan populasi di atas, pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Purposive sampling merupakan pengambilan sampel bersyarat, dalam penelitian ini yang dijadikan sampel adalah atlet yang sudah bisa melakukan teknik Service dengan baik. Jumlah sampel adalah sebanyak 15 orang khusus atlet putera saja yang berusia 14-20 tahun.

D. Defenisi Operasional

Untuk menghindari kesalahpahaman dalam menginterprestasikan istilah-istilah yang dipakai, maka istilah yang perlu dijelaskan sebagai berikut: 1. Service adalah memukul bola dengan raket untuk melewati net dan masuk ke areal lapangan service yang benar pada lapangan permainan lawan. Kemampuan service adalah hasil service yang dilalukan oleh pemain dengan usaha yang maksimal, kemampuan service diukur dengan Service Test. Jenis tes service yang dipakai dalam penelitian ini adalah slice

(56)

service. Hal ini disesuaikan dengan bentuk pelaksanaan service yang mudah dan cocok untuk bagi atlet pemula.

2. Daya tahan kekuatan pada hekakatnya merupakan gabungan unsur kondisi fisik daya tahan dengan kekuatan, dimana kemampuan otot untuk mempertahankan atau mengatasi kelelahan yang disebabkan pembebanan kerja fisik dalam waktu yang relatif lama. Daya tahan kekuatan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah daya tahan kekuatan otot lengan yang dibutuhkan untuk membantu pelaksanaan kemampuan service dalam permainan tenis lapangan. Daya tahan kekuatan otot lengan diukur dengan Push-up tes.

3. kelentukan dapat didefinisikan sebagai gerak diantara tulang dan sendi atau rangkaian tulang dan sendi. Sedangkan Kelentukan pinggang adalah sifat dari pinggang manusia yang mudah dikelukkan. Kelentukan pinggang juga sangat berperan pada saat mengambil awalan untuk melakukan service dengan melentikan badan kebelakang agar lebih mudah memberikan tenaga dan gesekan waktu memukul bola. Kelentukan diukur dengan Bridge-up tes (kayang).

E. Jenis dan Sumber Data 1. Jenis Data

Sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai, maka jenis data dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diambil

(57)

dari tes dan pengukuran terhadap atlet yang terpilih menjadi sampel, data tersebut meliputi :

a. Daya tahan kekuatan otot lengan b. Kelentukan pinggang

c. Kemampuan service

Sedangkan data sekunder diperoleh dari dokumen-dokumen yang diberikan oleh pelatih tenis lapangan yang bersangkutan seperti biodata pemain dan lain-lain.

2. Sumber Data

Data yang diperoleh bersumber dari hasil tes daya tahan kekuatan otot lengan, tes kelentukan pinggang dan hasil kemampuan service tenis lapangan bersumber dari atlet putera usia 12-18 tahun dari Persatuan Tenis Lapangan (PTL) UNP yang terpilih menjadi sampel.

F. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dalam bentuk tes pengukuran. Tes pengukuran ini dilakukan terhadap daya tahan kekuatan otot lengan, tes kelentukan pinggang dan kemampuan service atlet putera usia 12-18 tahun dari Persatuan Tenis Lapangan (PTL) UNP yang terpilih menjadi sampel.

G. Instrumen Penelitian

Gambar

Gambar 1 :  Lapangan Tenis
Gambar : Konsentrasi dan Posisi Siap (Loman, 1992:89) Hal yang dilakukan selanjutnya dalam servis (Loman, 1992:89)
Gambar 6 : Struktur otot lengan kanan dan kiri Sumber : (Evelyn C Pearce, 1999 : 111-112).
Gambar 7 :  Kerangka  Konseptual lengan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Evaluasi Dokumen Prakualifikasi yang dikumpulkan peserta dilakukan pada : Hari/ Tanggal : Diumumkan selanjutnya.. Waktu :

Bab IX pasal 24 undang-undang tersebut menyatakan: (1) Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan

Terima kasih Bapak Nanang, berkat bimbingan, saran, dukungan dan kesabaran yang Bapak berikan kepada saya dan anak-anak bimbingan yang lain, saya dan teman-teman dapat

Dan seteah dihitung besar koefisien elastisitasnya, sifat elastisitas pada tahun 2007 adalah elastis, yang artinya persentase ( % ) perubahan kuantitas daging sapi lebih besar

pada ayat (1) merupakan suatu siklus yang tercakup dalam aktivitas analisis kebutuhan yang kemudian dilanjutkan dengan aktivitas perancangan dengan menggunakan

Identifikasi Penyajian Aspek Literasi Sains Buku Teks Pelajaran Ipa Kelas V Sekolah Dasar.. Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu DAFTAR

Untuk melengkapi plasmid vektor pemotong kro- mosom tersebut maka fragmen XhoI (3,1 kb) dari plasmid pCSV1 yang membawa inverted repeat ujung Tr yang dipisahkan oleh fragmen 1,7 kb

Presiden Recep Tayyip Erdogan, memberikan banyak kemudahan kepada pengungsi Suriah. Erdogan dikenal sebagai pendukung Revolusi Suriah untuk menumbangkan Presiden Bashar