• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Akuntabilitas Kinerja

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Laporan Akuntabilitas Kinerja"

Copied!
48
0
0

Teks penuh

(1)

L aporan Akuntabilitas

Kinerja

t t a a h h u u n n 2 2 0 0 2 2 0 0

BALAI PENGAMANAN

FASILITAS KESEHATAN

MAKASSAR

(2)

K K a a t t a a P P e e n n g g a a n n t t a a r r

aporan Akuntabilitas Kinerja Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan Makassar Tahun Anggaran 2020 merupakan tindak lanjut dari Undang-undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme; Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah, Peraturan Presiden No. 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, dan Permenpan dan RB No. 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara reviu atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan Makassar merupakan pertanggungjawaban Kepala Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan Makassar kepada Sekretaris Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan atas pelaksanaan tugas pokok dan fungsi sepanjang tahun 2020 sesuai dengan penetapan kinerja yang telah ditetapkan.

Laporan ini menggambarkan hasil pelaksanaan Tugas Pokok dan Fungsi BPFK Makassar yang mengacu Permenkes Nomor 2351/Menkes/Per/2011 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor Nomor 530/MENKES/PER/IV/2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan.

Melalui Laporan Akuntabilitas Kinerja ini juga diharapkan dapat mengkomunikasikan hal- hal riil dan obyektif dari pelaksanaan tugas dan fungsi Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan Makassar terkait dengan DIPA Tahun 2020, maupun pengelolaan sumber daya yang ada dan dalam wewenangnya yang pada akhirnya diharapkan dapat menjadi bahan masukan untuk penyusunan LAKIP dan penyempurnaan serta pembinaan selanjutnya di lingkungan Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan.

Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam proses penyusunan laporan ini. Selanjutnya kami harapkan masukan serta umpan balik dari semua pihak demi peningkatan kinerja BPFK Makassar di masa mendatang.

Makassar, 29 Januari 2021 Kepala BPFK Makassar

Tuti Jumriah Alwi, S.Si, M.Kes NIP. 197302051999032002

L L

(3)

D D a a f f t t a a r r I I s s i i

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

IHKTISAR EKSEKUTIF ... iii

BAB I : PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG ………. ... 1

B. MAKSUD DAN TUJUAN ………... ... 2

C. TUGAS POKOK DAN FUNGSI ………. ... 2

D. ORGANISASI DAN TATA LAKSANA ………. ... 3

E. SUMBER DAYA ... 4

F. HAMBATAN DAN KENDALA ... 8

G. SISTIMATIKA PENULISAN………... 8

BAB II : PERENCANAAN KINERJA A. RENCANA KERJA TAHUNAN ... 10

B. PENETAPAN KINERJA ... 13

BAB III : AKUNTABILITAS KINERJA A. CAPAIAN KINERJA ORGANISASI ... 16

B. REALISASI ANGGARAN ... 20

BAB IV : PENUTUP ... 25 LAMPIRAN

Lampiran 1: Rencana Kinerja Tahunan Lampiran 2: Kontrak Kinerja

Lampiran 3: Penetapan Kinerja

(4)

I I k k h h t t i i s s a a r r E E k k s s e e k k u u t t i i f f

aporan Akuntabilitas Kinerja Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan Makassar Tahun Anggaran 2020 memuat gambaran secara garis besar tentang tugas pokok dan fungsi serta pelaksanan kegiatan tahun 2020 dalam mendukung Program Kebijakan dan Manajemen Pembangunan Kesehatan dan Program Penerapan Kepemerintahan Yang Baik. Selain itu Laporan kinerja ini juga merupakan bentuk akuntabilitas dari pelaksanaan tugas dan fungsi yang dipercayakan kepada BPFK Makassar atas penggunaan anggaran.

Secara umum untuk tahun 2020 realisasi pencapaian target untuk masing-masing indikator kinerja rata-rata tercapai dengan baik namun ada sejumlah indikator terutama yang terkait dengan pelayanan pengujian dan kalibrasi yang merupakan tugas pokok BPFK Makassar pencapaiannya sedikit menurun karena adanya kondisi pandemi covid-19 sehingga berdampak pada menurunnya jadwal kunjungan ke fasilitas pelayanan kesehatan. Dari capaian tahun 2020 dapat disimpulkan sebagai berikut: Tingkat produktifitas alat yang dikalibrasi dengan persentase capaian 70% dari target, Pekerja radiasi yang termonitor radiasinya tercapai 125%

dari target, Terlaksananya MOU dengan Fasyankes sebesar 113% dari target, Peningkatan PNBP tercapai 104%, serta Jumlah Fasyankes yang dilayani terealisasi sebesar 126% dari target yang ditetapkan. Tidak tercapainya tingkat produktifitas alat yang dikalibrasi lebih banyak dipengaruhi karena adanya kondisi pandemic covid-19 yang menyebabkan perubahan jadwal kunjungan ke sejumlah fasyankes. Selain itu faktor eksternal terutama faktor dari pihak fasyankes sendiri yang cukup berpengaruh antara lain permintaan pengujian dan kalibrasi yang terlambat diterima dari fasyankes pada saat menjelang akhir tahun juga ketika masa akhir kalibrasi ulang hampir selesai, pembatalan mendadak oleh pihak fasyankes, dan sejumlah faktor-faktor lainnya.

Dari segi keuangan, alokasi anggaran yang tersedia dalam Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan Makassar Tahun Anggaran 2020 sebesar Rp25.186.192.000,- dengan realisasi pada Tahun 2020 sebesar Rp18.986.009.943,- atau sebesar 75,38%. Sementara untuk Penerimaan Negara Bukan Pajak terealisasi sebesar Rp4.702.469.591- atau sebesar 104,50% dari target sebesar Rp4.500.000.000,-.

Adapun hambatan utama yang ditemui dalam proses pencapaian kinerja secara umum masih lebih didominasi oleh adanya kondisi pandemic covid-19 sehingga berdampak pada pelayanan ke fasilitas pelayanan kesehatan.

L L

(5)

P P E E ND N DA AH HU U LU L U AN A N

A. LATAR BELAKANG

embangunan kesehatan pada dasarnya menjalankan amanat UUD 1945 yang merupakan kehendak dari seluruh rakyat Indonesia.

Pembangunan kesehatan dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, pembangunan kesehatan dilaksanakan secara sistematis dan berkesinambungan.

Tercapainya tujuan pembangunan nasional merupakan tanggung jawab dan kehendak seluruh rakyat Indonesia. Dalam menghadapi makin ketatnya persaingan bebas pada era global, upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia harus dilakukan. Salah satu faktor yang mempengaruhi peningkatan kualitas sumberdaya tersebut adalah kesehatan. Dengan adanya perubahan paradigma dalam pembangunan kesehatan yang dikenal dengan paradigma sehat serta kebijakan pembangunan yang berwawasan kesehatan maka hal tersebut di atas diharapkan dapat diwujudkan.

Masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat adalah suatu kondisi di mana masyarakat Indonesia menyadari, mau dan mampu untuk mengenali, mencegah dan mengatasi permasalahan kesehatan yang dihadapi, sehingga dapat bebas dari gangguan kesehatan, baik yang disebabkan karena penyakit termasuk gangguan kesehatan akibat bencana, maupun lingkungan dan prilaku yang tidak mendukung untuk hidup sehat.

Kementerian Kesehatan harus mampu sebagai penggerak dan fasilitator pembangunan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah bersama masyarakat termasuk swasta, untuk membuat rakyat sehat, baik fisik, sosial, maupun mental/jiwanya.

Untuk mewujudkan keadaan tersebut investasi sarana, prasarana dan peralatan kesehatan telah banyak dilakukan, dengan berbagai persyaratan diantaranya persyaratan mutu, keselamatan dan kemanfaatan.

BPFK Makassar sebagai salah satu UPT Vertikal Direktorat Jenderal Pelayanan

P P

BAB

-I-

(6)

kesadaran kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.

Guna mendukung terwujudnya tujuan Kementerian Kesehatan, perlu tersedianya sarana, prasarana dan peralatan kesehatan yang bermutu, aman bagi petugas, masyarakat dan sarana pelayanan, melalui kalibrasi, pengujian dan proteksi radiasi.

B. MAKSUD DAN TUJUAN

aksud penyusunan Lakip BPFK Makassar Tahun 2020 adalah sebagai penjabaran dari visi dan misi BPFK Makassar yang

terwujud dalam tingkat keberhasilan/kegagalan pelaksanaan kegiatan-kegiatan sesuai dengan program dan kebijakan yang telah ditetapkan.

Tujuan penyusunan Lakip BPFK Makassar Tahun 2020 adalah untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan/kegagalan pelaksanaan misi BPFK Makassar dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan melalui alat pertanggungjawaban secara periodik.

Laporan memuat pencapaian kinerja selama Tahun Anggaran 2020 yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang tercantum dalam Daftar Isian Pelaksanaan Kegiatan (DIPA) Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan Makassar.

Selain tersebut di atas, penyusunan Laporan Akuntabilitas ini juga disusun berdasarkan Penetapan Kinerja Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan Makassar tahun 2020 yang telah ditetapkan. Penetapan kinerja tersebut didalam tahun berjalan mengalami perubahan dengan adanya revisi DIPA.

C. TUGAS POKOK DAN FUNGSI

erdasarkan Permenkes Nomor 2351/Menkes/Per/2011 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor Nomor

530/MENKES/PER/IV/2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan. Tugas pokok Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan Makassar adalah melaksanakan pengamanan fasilitas kesehatan meliputi sarana, prasarana dan peralatan kesehatan melalui pengujian, kalibrasi dan proteksi radiasi di lingkungan pemerintah maupun swasta.

M M

B B

(7)

Dalam pelaksanaan Tugas Pokok BPFK menyelenggarakan fungsi:

a. Pengujian dan kalibrasi alat kesehatan.

b. Pengujian dan kalibrasi sarana dan prasarana kesehatan.

c. Pengamanan dan pengukuran paparan radiasi.

d. Pelayanan monitoring dosis radiasi perorangan.

e. Pengukuran luaran radiasi terapi.

f. Pengendalian mutu dan pengembangan teknologi pengamanan fasilitas kesehatan.

g. Pelaksanaan kegiatan monitoring dan evaluasi pengujian, kalibrasi, proteksi radiasi, sarana dan prasarana kesehatan.

h. Pelaksanaan jejaring kerja dan kemitraan.

i. Pelaksanaan bimbingan teknis dibidang penagamanan fasilitas kesehatan j. Pelaksanaan ketatausahaan

D. ORGANISASI DAN TATALAKSANA

usunan organisasai Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan

Makassar berdasarkan Permenkes Nomor 2351/Menkes/Per/2011 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor Nomor 530/MENKES/PER/IV/2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan adalah sebagai berikut:

a.a. SuSubbbbaagg TTaattaa UUssaahhaa Subbag Tata Usaha mempunyai tugas melakukan urusan ketatausahaan, kepegawaian, keuangan, rumah tangga dan perlengkapan.

b.b. SeSekkssii PPeellaayyaannaann TTeekknniiss Seksi Pelayanan Teknis mempunyai tugas melakukan penyiapan koordinasi perencanaan, pelaksanaan pelayanan pengujian dan kalibrasi alat kesehatan, pengujian dan kalibrasi sarana dan prasarana kesehatan, pengamanan dan pengukuran paparan radiasi, pelayanan monitoring dosis radiasi personal dan pengukuran luaran radiasi terapi serta jejaring kerja dan kemitraan di bidang pengamanan fasilitas kesehatan.

c.c. SeSekkssii TTaattaa OOppeerraassiioonnaall Seksi Tata Operasional mempunyai tugas melakukan

S S

(8)

prasarana kesehatan serta bimbingan teknis di bidang pengamanan fasilitas kesehatan.

d

d.. KeKeppaallaa IInnssttaallaassii Kepala Instalasi mempunyai tugas mengkoordinasikan dan bertanggung jawab pada penyelenggaraan kegiatan dan fasilitas pelayanan pada Instalasi.

e

e.. KeKelloommppookk JJaabb.. FFuunnggssiioonnaall Kelompok Jabatan Fungsional mempunyai tugas melakukan kegiatan sesuai dengan jabatan fungsional masing-masing berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Selain dari Subbag, Seksi, Instalasi dan Kelompok Jabatan Fungsional tersebut di atas terdapat juga Unit Pelaksana Fungsional Pengamanan Fasilitas Kesehatan (UPF PFK) di Papua yang melayani Papua dan Papua Barat sesuai Surat Keputusan Kepala Pusat Sarana, Prasarana dan Peralatan Kesehatan Departemen Kesehatan Nomor OT.01.01.XII.500.2007 tentang Penetapan Unit Fungsional Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan, yang mempunyai tugas melaksanakan pengamanan fasilitas kesehatan pada peralatan kesehatan melalui pengujian, kalibrasi dan proteksi radiasi di lingkungan pemerintah dan swasta.

(9)

E. SUMBER DAYA

1. Sumber Daya Manusia

Uraian Jan-20 +/- Des-20

A. Menurut Jabatan BPFK Makassar

1. Struktural 3 1 4

a. Eselon III 1 1

b. Eselon IV 3 0 3

2. Fungsional 57 -1 58

a. Fungsional Teknis 27 0 31

b. Fungsional Umum 31 -1 27

3. Honorer 28 0 28

a. Honor Non PNS 14 0 14

b. Penyuluh Non PNS 0 0 0

c. Peramu 2 0 2

d. Satpam 6 0 6

e. Pengemudi 2 0 2

f. Cleaning 4 0 4

Jumlah 89 1 90

UPF-PFK Jayapura 0

1. Struktural 0 0 0

a. Eselon III 0 0 0

b. Eselon IV 0 0 0

2. Fungsional 11 0 10

a. Fungsional Teknis 0 0 0

b. Fungsional Umum 11 0 10

3. Honorer 4 0 4

a. Tenaga Bantu 1 0 1

b. Satpam 2 0 2

c. Cleaning 1 0 1

Jumlah 15 0 14

TOTAL JUMLAH 104 1 104

B. Menurut Golongan BPFK Makassar

Gol IV 7 2 9

Gol III 41 0 41

Gol II 13 -1 12

Jumlah 61 1 62

UPF-PFK Jayapura

Gol IV 0 0 0

(10)

Uraian Jan-20 +/- Des-20 C. Menurut Pendidikan BPFK Makassar 0

1. PNS 61 1 62

a. S2 4 3 7

b. S1 37 -2 35

c. D.IV 3 0 3

d. D.III 16 0 17

e. SMA 1 0 1

2. Honorer 28 0 28

a. S1 8 0 8

b. D.III 6 0 6

c. SMA 13 0 13

d. SMP 1 0 1

Jumlah 83 1 90

UPF-PFK Jayapura 0

1. PNS 11 -1 10

a. S1 2 2 4

b. D.III 9 -3 6

2. Honorer 4 0 4

a. S1 0 0 0

b. D.III 1 0 1

c. SMA 2 0 2

d. SMP 1 0 1

Jumlah 15 0 14

TOTAL JUMLAH 104 0 104

2. Sumber Daya Anggaran

Berdasarkan DIPA Tahun Anggaran 2020 BPFK Makassar memperoleh sumber daya anggaran sebesar Rp25.186.192.000,- yang bersumber dari Rupiah Murni dan PNBP. Dari total anggaran tersebut,

sebanyak Rp21.323.392.000,- bersumber dari Rupiah Murni dan sisanya sebesar Rp3.862.800.000,- bersumber dari PNBP. Adapun target Penerimaan PNBP untuk tahun 2020 adalah sebesar Rp4.500.000.000,-.

No Uraian Anggaran

1 Pendapatan Negara dan Hibah 4.500.000.000 - Penerimaan Negara Bukan Pajak 4.500.000.000 2 Realisasi Belanja Negara 25.186.192.000 - Belanja Rupiah Murni 21.323.392.000

- Belanja PNBP 3.862.800.000

(11)

3. Sumber Daya Sarana dan Prasarana

a. Lahan, Gedung dan Bangunan Kantor

Luas Lahan 4000m2 terdiri dari:

a. Gedung/Bangunan = 1.896,99 M2 terdiri dari : Gedung Administrasi 2 Lt : 810 m2 Gedung Laboratorium : 1093 m2

Genset/Gudang : 25 m2

Pos Jaga : 16 m2

b. Taman/Parkir/Jalanan = 2056 M2 b. Daya/Listrik

Daya Listrik = 55.000 Kwatt Genset = 60 KVA

c. Sumber Air

Sumber Air = Air PDAM dan Sumur Bor

(12)

Posisi Neraca Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan Makassar pada periode per 31 Desember 2020 terdiri dari Aset, Kewajiban dan Ekuitas Dana. Adapun Komposisi Neraca per 31 Desember 2020 adalah sebagai berikut:

URAIAN TA 2020 TA 2019

ASET

ASET LANCAR

Kas di Bendahara Penerimaan 33.697.100 35.994.223

Piutang PNBP 521.150.000 683.672.000

Penyisihan Piutang Tak Tertagih - Piutang Jangka Pendek

- 2.605.750 -3.418.360

Persediaan 125.931.583 112.433.640

Jumlah Aset Lancar 678.172.933 828.681.503

ASET TETAP

Tanah 12.942.000.000 12.942.000.000

Peralatan dan Mesin 53.465.833.217 50.036.663.249 Gedung dan Bangunan 8.018.801.000 8.034.240.000 Jalan, Irigasi, dan Jaringan 375.607.750 375.607.750 Aset Tetap Lainnya 6.141.120 6.141.120 Konstruksi dalam pengerjaan 261.320.100 261.320.100 Akumulasi Penyusutan Aset

Tetap - 35.604.109.009 -30.955.179.492

Jumlah Aset Tetap 39.465.594.178 40.700.792.727

ASET LAINNYA

Aset Tak Berwujud 232.665.000 232.665.000

Aset Lain-Lain 402.288.000 785.287.604

Akumulasi

Penyusutan/Amortisasi Aset lainnya

- 648.524.250 -984.488.770 Jumlah Aset Lainnya - 13.571.250 33.463.834

JUMLAH ASET 40.130.195.861 41.562.938.064

KEWAJIBAN

KEWAJIBAN JANGKA PENDEK

Utang kepada pihak ketiga 3.104.084 36.986.211 Pendapatan diterima muka 4.316.200 16.896.500 Jumlah Kewajiban Jangka

Pendek 7.420.284 53.882.711

JUMLAH KEWAJIBAN 7.420.284 53.882.711

EKUITAS

Ekuitas 40.122.775.577 41.509.055.026

JUMLAH EKUITAS 40.122.775.577 41.509.055.026 JUMLAH KEWAJIBAN DAN

EKUITAS 40.130.195.861 41.562.937.737

(13)

Nilai Aset per 31 Desember 2020 dicatat dan disajikan sebesar Rp40.130.195.861 yang terdiri dari: Aset Lancar sebesar Rp678.172.933; Aset Tetap (neto) sebesar Rp39.465.594.178; dan Aset Lainnya (neto) sebesar Rp(13.571.250). Total jumlah aset tersebut menurun sebesar Rp(1.432.741.876) atau (3,44) persen jika dibandingkan dengan posisi di awal tahun yaitu sebesar Rp41.562.937.737. Adapun Nilai Kewajiban dan Ekuitas masing-masing sebesar Rp7.420.284 dan Rp40.122.775.577.

- Laporan BMN

A. BMN INTRAKOMPTABEL

Posisi Awal (01 Januari 2020) Rp. 72.179.939.723

Penambahan Rp. 3.484.405.968

Pengurangan Rp. 453.674.604

Posisi Akhir (31 Desember 2020) Rp. 75.210.671.087

B. BMN EKSTRAKOMPTABEL

Posisi Awal (01 Januari 2020) Rp. 39.304.929

Penambahan Rp. 12.770.000

Pengurangan Rp. 17.123.238

Posisi Akhir (31 Desember 2020) Rp. 34.951.691

C. BMN GABUNGAN INTRA DAN EKSTRA

Posisi Awal (01 Januari 2020) Rp. 72.219.244.652

Penambahan Rp. 3.497.175.968

Pengurangan Rp. 470.797.842

Posisi Akhir (31 Desember 2020) Rp. 75.245.622.778

D. BMN ASET TAK BERWUJUD

Posisi Awal (01 Januari 2020) Rp. 232.665.000

Penambahan Rp. -

Pengurangan Rp. -

Posisi Akhir (31 Desember 2020) Rp. 232.665.000

E. KONSTRUKSI DALAM PENGERJAAN

Posisi Awal (01 Januari 2020) Rp. 261.320.100

Penambahan Rp. -

Pengurangan Rp. -

Posisi Akhir (31 Desember 2020) Rp. 261.320.100

(14)

- Laporan Mutasi Barang Persediaan

Kode Uraian Nilai s/d 31

Desember 2019

Mutasi Nilai s/d 31 Desember

2020 Tambah Kurang

117111 Barang Konsumsi 105.112.163 9.676.700 114.788.863 117113 Bahan Untuk Pemeliharaan 6.345.450 3.574.670 9.920.120

117114 Suku Cadang 865.700 130300 996.000

117121 Pita Cukai, Materai, dan Leges 0 0 0

117131 Bahan Baku 0 100000 100.000

117199 Persediaan Lainnya 110.000 16.600 126.600

Jumlah 112.433.313 13.498.270 0 125.931.583

Sementara itu untuk Laporan BMN Tahun 2020 tercatat untuk BMN Intrakompatibel dalam tahun 2020 terdapat peningkatan sebesar Rp. 75.210.671.087 yang terdiri dari Penambahan sebesar Rp. 3.484.405.968,- dan Pengurangan sebesar Rp.

453.674.604,- dari posisi awal sebesar Rp. 72.179.939.723,-. Sementara untuk BMN Ekstrakompatabel dari Posisi Awal Tahun 2020 sebesar Rp. 39.304.929 dan Posisi Akhir sampai dengan 31 Desember 2020 sebesar Rp.34.951.691.

F. HAMBATAN DAN KENDALA

Luas wilayah BPFK Makassar yang terdiri dari pulau-pulau (Propinsi Sulsel, Sulteng, Sulbar, Sultra, Sulut,

Gorontalo, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat) sehingga kunjungan dan jangkauan pelayanan sangatlah terkendala oleh ketersediaan transportasi kepulauan

atau sulitnya jalur transportasi dari Makassar ke lokasi fasyankes.

Hingga saat ini proses pelembagaan UPF PFP Papua untuk menjadi Loka PFK yang difokuskan untuk melayani wilayah Papua dan Papua Barat demi efisiensi dan efektifitas layanan, saat ini pelembagaannya belum menemukan titik terang.

Mendorong Pemerintah Daerah untuk membentuk Unit Pelayanan Pengujian/

Kalibrasi Internal.

Adanya keterbatasan Sumber Daya Manusia BPFK Makassar.

Masih kurangnya kemampuan alat kalibrasi/pengujian yang dimiliki BPFK Makassar untuk memenuhi kebutuhan Fasilitas Pelayanan Kesehatan, sampai saat ini BPFK

Ket. Gambar: Wilayah Kerja BPFK Makassar

(15)

Makassar masih memiliki kemampuan 87 jenis alat dari 125 alat yang wajib dikalibrasi sesuai Permenkes No. 54 Tahun 2015 Tentang Pengujian Dan Kalibrasi Alat Kesehatan.

Masih belum meratanya kompetensi SDM di BPFK Makassar sehingga perlu adanya Peningkatan SDM secara berkesinambungan terlebih mengingat perkembangan teknologi alat kesehatan sangatlah pesat saat ini.

Adanya kondisi pandemi covid 19 yang menyebabkan terhambatnya beberapa kegiatan di BPFK Makassar termasuk pelayanan kalibrasi / pengujian yang cukup mempengaruhi capaian pendapatan fungsional dan realisasi anggaran.

G. SISTEMATIKA PENULISAN istematika penulisan Laporan Akuntabilitas Kinerja Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan Makassar Tahun 2020 adalah sebagai berikut :

- Kata Pengantar ˉ Ikhtisar Eksekutif ˉ Daftar Isi

BAB I Pendahuluan

Menjelaskan tentang gambaran umum organisasi, terutama dalam sapek strategis organisasi serta permasalahan utama (strategic issued) yang sedang dihadapi organisasi.

BAB II Perencanaan Kinerja

Menjelaskan tentang ringkasan/ikhtisar perjanjian kinerja tahun 2020.

BAB III Akuntabilitas Kinerja

Menguraikan Capaian Kinerja Organisasi dengan menyajikan capaian kinerja organisasi untuk setiap pernyataan kinerja sasaran strategis organasasi dengan melihat perbandingan antara target dan realisasi, kinerja tahun sebelumnya, target jangka menengah, standar nasional, analisa penyebab keberhasilan/kegagalan atau peningkatan/penurunan. Juga menguraikan Realisasi Anggaran yang digunakan dalam kurun waktu tahun 2020.

BAB IV Penutup

Menguraikan Simpulan umum atas capaian kinerja organisasi serta langkah di masa mendatang yang akan dilakukan organisasi untuk meningkatkan kinerja.

S S

(16)

P E E RE R E NC N CA AN N AA A AN N K IN I N ER E RJ JA A

A. RENCANA KERJA TAHUNAN erencanaan Kinerja merupakan proses penetapan kegiatan tahunan dan indikator kinerja berdasarkan program, kebijakan

dan sasaran yang telah ditetapkan dalam sasaran strategis, dalam Rencana Strategis Bina Penunjang Pelayanan Medik dan Sarana Kesehatan BUK Kementerian Kesehatan yang telah ditetapkan dalam Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2015 – 2020 untuk mencapai sasaran organisasi.

Secara singkat dapat digambarkan sasaran strategis dan sasaran program/kegiatan yang ingin dicapai selama kurun waktu 5 tahun sebagai berikut.

SASARAN, INDIKATOR, OUPUT, dan TARGET BPFK MAKASSAR TAHUN 2020 – 2024

NO PERSPEKTIF SASARAN STRATEGIS

NO

KPI KPI SATUAN BASE

LINE 2020 2021 2022 2023 2024 1 Perspektif

Financial

Terwujudnya

Efisiensi 1 Peningkatan PNBP Miliar

Rupiah 4 4,5 5,0 6,0 7,0 8,0 2 Perspektif

Stakeholder

Terwujudnya

Kepuasan Pelanggan 2 Indeks Kepuasan

Pelanggan Indeks 76,61 95% 76,61 76,61 76,61 76,61

3

Perspektif Proses Bisnis Internal

Terwujudnya Peningkatan Mutu Pelayanan

3 Komplain yang

Ditindaklanjuti Persentase 100 100 100 100 100 100

Terwujudnya Peningkatan Cakupan Pelayanan

4 Jumlah Fasyankes yang dilayani

Jml

Fasyankes 500 600 650 720 790 865 5 Tingkat Produktifitas Alat

yang dikalibrasi Jml Alat 25000 25000 30000 36000 44000 53000

6 Jumlah TLD yang

dievaluasi Jml TLD 1975 2270 2600 3000 3400 3900

Terwujudnya Standardisasi

7 Jenis Standarisasi Laboratorium

Jenis

Standarisasi 2 2 3 3 3 3

P P

BAB

-Ii-

(17)

NO PERSPEKTIF SASARAN STRATEGIS

NO

KPI KPI SATUAN BASE

LINE 2020 2021 2022 2023 2024 Laboratorium 8 Tingkat Temuan yang

ditindaklanjuti Persentase 100 100 100 100 100 100

Terwujudnya keamanan dan keselamatan fasilitas kesehatan

9

Jumlah Pesawat Sinar-X yang Diukur Paparan Radiasinya

Jml Alat 0 25 30 35 40 45

10 Pekerja radiasi yang

termonitor radiasinya Jml Petugas 800 1250 1450 1550 1650 1750 Terwujudnya

Jejaring dan Kemitraan

11 Terlaksananya MoU

dengan Fasyankes Jml MoU 26 30 35 40 45 50

Terwujudnya peningkatan kemampuan layanan

12 Jenis Kemampuan Layanan Jenis

Pelayanan 107 70 109 110 112 113

Terwujudnya Peningkatan Keandalan Sarpras

13 Tingkat Keandalan Alat

Ukur Standar Persentase 85 85 85 85 85 85

4

Perspektif Pengembangan Personil dan Organisasi

Terwujudnya Peningkatan Kompetensi dan Kemampuan SDM

14 Tingkat kompetensi dan

kemampuan SDM teknis Persentase 96 96 96 96 96 96

Terwujudnya

Budaya Kerja 15 Tingkat penilaian budaya

kerja pegawai Persentase 87 83 83 83 83 83

Terwujudnya layanan berdasarkan IT terintegrasi

16 Jenis kegiatan berbasis IT Jenis

Aplikasi 2 2 2 4 4 4

1. TUJUAN DAN SASARAN a. Tujuan

i) Tujuan Umum

a. Terlaksananya kebijakan dan manajemen pengelolaan sarana, prasarana dan peralatan kesehatan guna mendukung terselenggaranya pembangunan kesehatan secara berhasil-guna dan berdaya-guna dalam rangka mendukung peningkatan mutu pelayanan kesehatan..

b. Terwujudnya fasilitas pelayanan kesehatan yang memiliki sarana, prasarana dan

(18)

b. Terlaksananya bimbingan teknis, monitoring dan evaluasi di bidang sarana, prasarana dan peralatan kesehatan radiasi dan non radiasi.

c. Tersedianya sumberdaya manusia yang kompeten di bidang sarana, prasarana dan peralatan kesehatan.

d. Meningkatnya cakupan pengujian, kalibrasi dan proteksi radiasi

e. Terselenggaranya keamanan dan keselamatan kerja bagi petugas pada sarana pelayanan.

b. Sasaran

Meningkatnya fasilitas pelayanan kesehatan yang memiliki sarana, prasarana dan peralatan kesehatan yang sesuai standar, aman dan bermutu, melalui Kalibrasi, Pengujian, Sarana dan Prasarana serta peralatan kesehatan radiasi dan non radiasi.

Tujuan dan sasaran dari Misi BPFK Makassar merupakan salah satu rangkaian dalam proses tersedianya sarana, prasarana dan alat kesehatan yang aman dan bermutu sesuai standar, dengan fokus utama berupa tindakan kalibrasi/pengujian dan pengembangan kompetensi SDM, penyiapan sarana laboratorium yang terakreditasi oleh KAN serta pengembangan organisasi BPFK Makassar melalui penetapan UPFPFK Papua menjadi satker untuk wilayah Propinsi Papua dan Papua Barat.

Dalam mencapai tujuan dan sasaran tentunya akan dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal organisasi. BPFK sebagai UPT Kemenkes selaku Laboratorium Kalibrasi, Pengujian dan Proteksi Radiasi pada sarana pelayanan dalam keberhasilannya sangat dipengaruhi oleh tingkat partisipasi dari seluruh pelaku pembangunan bidang kesehatan baik yang ada dilingkungan pemerintah maupun diluar pemerintah.

Hal-hal yang dapat mempengaruhi pencapaian tujuan dan sasaran :

a. Partisipasi: Partisipasi para pengelola sarana pelayanan kesehatan dalam rangka Kalibrasi, Pengujian serta Proteksi Radiasi sarana, prasarana dan alat kesehatan secara berkala sesuai amanat Undang-Undang No. 44 tentang Rumah Sakit sangat diperlukan.

b. Sumber Daya Manusia: Berdasarkan tugas pokok dan fungsi BPFK Makassar haruslah memiliki sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dan pengetahuan serta jumlah SDM yang memadai, sehingga kualitas alat kesehatan yang bermutu dan aman dapat tersedia.

c. Dana: BPFK Makassar dalam melakukan kegiatan kalibrasi, pengujian dan proteksi radiasi pada sarana pelayanan yang ada di wilayah Indonesia Bagian Timur (10

(19)

Propinsi) memerlukan biaya cukup besar mengingat geografi wilayah kerja BPFK Makassar terdiri dari Pulau-pulau.

d. Kemampuan Kalibrasi BPFK Makassar: dalam melakukan kalibrasi dan pengujian sarana, prasarana dan alat kesehatan pada sarana pelayanan kesehatan diperlukan alat kalibrasi yang lengkap untuk memenuhi permintaan kalibrasi dan pengujian dari sarana pelayanan kesehatan yang semakin banyak jumlah dan jenisnya.

e. Akreditasi Laboratorium: untuk mengantisipasi persaingan global dan memberikan tingkat kepercayaan dan menjamin mutu pelayanan Kalibrasi dan Pengujian kepada sarana pelayanan maka BPFK Makassar akan selalu berupaya meningkatkan laboratorium agar dapat terakareditasi oleh lembaga akreditasi atau KAN.

B. PENETAPAN KINERJA a. Perjanjian Kinerja

No Sasaran Program/Kegiatan Indikator Kinerja Target

(1) (2) (3) (4)

1 Terwujudnya Efisiensi 1 Peningkatan PNBP 4,5 M

2 Terwujudnya Kepuasan Pelanggan 2 Tingkat Kepuasan Pelanggan 95%

3

Terwujudnya Pelayanan Prima 3 Komplain yang ditindaklanjuti 100%

Terwujudnya Peningkatan Cakupan Pelayanan

4 Jenis Pelayanan Kalibrasi sesuai

Permenkes 70%

5 Jumlah Fasyankes yang dilayani 600 Faskes 6 Tingkat Produktifitas Alat yang

dikalibrasi

25.000 Alat 7 Pekerja radiasi yang termonitor radiasinya 1.250

Personil Terwujudnya Standardisasi

Laboratorium

8 Jenis Akreditasi KAN 2 Jenis 9 Temuan yang ditindaklanjuti 100%

4

Terwujudnya Budaya Kerja 10 Terlaksananya Budaya Kerja oleh

seluruh Pegawai 90%

Terwujudnya Peningkatan

Kompetensi 11 Kompetensi Staff 80%

Terwujudnya Peningkatan

Keandalan Sarpras 12 Tingkat Keandalan Alat Ukur Standar 85%

(20)

b. Kebijakan dan Program 1. Kebijakan

a.

Pelaksanaan kebijakan dan manajemen pengelolaan sarana, prasarana dan peralatan kesehatan radiasi dan non radiasi diarahkan untuk meningkatkan ketersediaan dan penggunaan sarana, prasarana dan peralatan kesehatan radiasi dan non radiasi pada sarana pelayanan sesuai standar mutu dan keamanan serta keselamatan kerja bagi masyarakat dan petugas, oleh karena itu BPFK Makassar akan lebih meningkatkan kerjasama lintas sektor maupun program melalui kegiatan sosialisasi/

seminar/desiminasi, membangun jejaring dan kemitraan dalam pelayanan pengujian, kalibrasi dan proteksi radiasi khususnya dengan pihak Pemprov dan Dinkes Propinsi serta Dinkes Kab/Kota dalam wilayah kerja BPFK Makassar serta seluruh stake holder yang bertujuan agar pelaksanaan kalibrasi pada sarana pelayanan (RSUP/RSUD, RB, RSB. LABORATORIUM, KLINIK, BALAI, dan PUSKESMAS/PUSTU) milik pemerintah dan swasta dapat lebih ditingkatkan, selain itu BPFK Makassar akan meningkatkan kerja sama dengan Dinkes Propinsi Papua serta Pihak Pemprov Papua dalam rangka pengembangan UPFPFK Papua agar dapat menjadi satuan kerja Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan Papua untuk wilayah Papua dan Papua Barat.

b.

Untuk menjamin ketersediaan layanan Kalibrasi dan Pengujian yang bermutu baik berupa layanan teknis Kalibrasi dan Pengujian maka BPFK Makassar senantiasa melakukan peningkatan Laboratorium yang dimiliki melalui standar-standar nasional maupun internasional dengan memperoleh Akreditasi KAN-ISO/IEC 17025:2017, sedangkan untuk layanan Administrasi BPFK memperoleh Sertifikasi ISO-9001:2015 dari Badan Sertifikasi PT TUV SUD INDONESIA.

c.

Melakukan Interkomparasi antar Laboratorium Kalibrasi dan Pengujian milik Pemerintah dan Swasta yang telah diakui baik secara nasional dan internasional.

d.

Untuk menjaga mutu layanan serta mengantisipasi perkembangan teknologi khususnya dalam bidang Pengujian dan Kalibrasi Alat Kesehatan BPFK Makassar juga terus berupa meningkatkan kapasitas personil dengan mengikuti sejumlah pelatihan- pelatihan teknis yang terkait dan mendukung pelaksanaan tugas masing-masing personil.

(21)

e.

Untuk menjamin kepuasan pelanggan terhadap pelayanan BPFK Makassar, manajemen BPFK Makassar secara berkesinambungan juga terus melakukan evaluasi berupa survey kepuasan pelanggan serta melaksanakan pengawasan dan evaluasi secara internal dalam bentuk audit internal, kaji ulang manajemen, serta kaji ulang dokumen mutu.

2. Program

Pembinaan Upaya Kesehatan

Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Sekretariat Ditjen Pelayanan Kesehatan.

(22)

2.1. Rencana Kegiatan Tahun 2020

RENCANA KERJA TAHUN 2020

BALAI PENGAMANAN FASILITAS KESEHATAN MAKASSAR

NO SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA

TARGET

KINERJA KEGIATAN PIC JADWAL KEGIATAN

TW1 TW2 TW3 TW4

1 Terwujudnya Efisiensi Peningkatan PNBP 4,5 M

Penagihan Piutang PNBP Kasubag TU

1 M 2,5 M 3 M 4,5 M

Penagihan Piutang PNBP pada Propinsi

Papua dan Papua Barat Kasubag TU 2 Terwujudnya

Kepuasan Pelanggan

Tingkat Kepuasan

Pelanggan 95% Temu Pelanggan BPFK Makassar di

Propinsi Sulawesi Tengah Kasie TOP 50% 65% 85% 95%

3 Terwujudnya Pelayanan Prima

Komplain yang

ditindaklanjuti 100%

Kaji Ulang Manajemen, Kaji Ulang Dokumen, dan Penyusunan Metode Kerja

Kasie TOP

50% 75% 85% 100%

Rapat/Pertemuan/Konsultasi Lintas

Sektor dan Instansi Terkait Kasubag TU Monitoring Sarana dan Prasarana

Fasilitas Pelayanan Kesehatan Kasie Yantek

4

Terwujudnya

Peningkatan Cakupan Pelayanan

Jenis Pelayanan Kalibrasi Sesuai Permenkes

70%

Uji Banding/Uji Profisienasi

Laboratorium Kalibrasi Kasie TOP

40% 50% 60% 70%

Pengembangan UPF dan Instalasi/Unit

Penguji Alat Kesehatan Kasie Yantek

Jumlah Fasyankes

yang dilayani 600 Faskes

Pelayanan Pengujian dan Kalibrasi

untuk Faskes Lokus Prioritas Kasie Yantek

200 Faskes 350 Faskes 450 Faskes 600 Faskes Jejaring dan Kemitraan dalam

Pelayanan Pengujian, Kalibrasi dan Proteksi Radiasi

Kasie Yantek Jejaring dan Kemitraan dalam

Pelayanan Pengujian, Kalibrasi dan Proteksi UPF Papua

Kasie Yantek

(23)

Tingkat

Produktifitas Alat yang dikalibrasi

25.000 Alat

Pemeliharaan, Perbaikan dan

Rekalibrasi Alat Pengujian/Kalibrasi Kasie TOP

7500 Alat 10000 Alat 17500 Alat 25000 Alat Pengembangan SDM Laboratorium

Kalibrasi Kasie TOP

Pekerja radiasi yang termonitor radiasinya

1250 Personel

Interkomparasi Laboratorium PDP dan

KAUR Kasie TOP 500

Personel

750 Personel

1000 Personel

1250 Personel

5

Terwujudnya Standardisasi Laboratorium

Jenis Akreditasi

KAN 2 Jenis Pemantapan Mutu dan Akreditasi

Laboratorium Kasie TOP - 1 - 2

Temuan yang

ditindaklanjuti 100%

Monitoring, Evaluasi dan Bimtek Pengendalian Mutu Pengujian, Kalibrasi, dan Proteksi Radiasi

Kasie TOP 50% 75% 85% 100%

6 Terwujudnya Budaya Kerja

Terlaksananya Budaya Kerja oleh seluruh Pegawai

90%

Pembinaan dan Pendampingan

Kegiatan oleh Instansi Pusat/Terkait Kasubag TU

60% 70% 80% 90%

Pemantapan Kinerja Pegawai BPFK

Makassar dan UPF Papua Kasubag TU Kebutuhan Sehari-hari Perkantoran Kasubag TU Honorarium Satpam, Pengemudi,

Petugas Kebersihan, dan Pramubakti Kasubag TU Pemeliharaan Sarana Prasarana,

Kendaraan Bermotor, Peralatan dan Mesin

Kasubag TU Pertemuan Rutin / Berkala Kasubag TU Honorarium Pegawai Pemerintah Non

Pegawai Negeri Kasubag TU

Operasional Perkantoran UPF PFK

Papua Kasubag TU

Penyusunan RSB Kasubag TU

Persiapan BLU Kasubag TU

Pembinaan dan Pendampingan UPF

(24)

Administrasi

Pelatihan dan Sertifikasi Pengadaan

Barang dan Jasa Kasie TOP

Peningkatan SDM Instalasi PKSPK Kasie TOP Peningkatan SDM UPF Papua Kasie TOP Pelatihan Tenaga Ahli Uji Kesesuaian Kasie TOP Rekualifikasi PPR Medik Kasie TOP Pelatihan Uji Kesesuaian Pesawat

Sinar-X Kasie TOP

Peningkatan SDM Lainnya Kasie TOP Audit Internal BPFK Makassar dan UPF

PFK Papua Kasie TOP

8

Terwujudnya Peningkatan Keandalan Sarpras

Tingkat Keandalan

Alat Ukur Standar 85%

Pengadaan Peralatan Pengujian,

Kalibrasi dan Proteksi Radiasi Kasubag TU

- - 25% 85%

Pengadaan Perangkat Pengolah Data dan Komunikasi DAN Peralatan Fasilitas Perkantoran

Kasubag TU Perjalanan Dinas dalam rangka Proses

Pengadaan Barang dan Jasa Kasubag TU

(25)

2.2. Indikator Kegiatan

1. Peningkatan PNBP

2. Tingkat Kepuasan Pelanggan 3. Komplain yang ditindaklanjuti

4. Jenis Pelayanan Kalibrasi sesuai Permenkes 5. Jumlah Fasyankes yang dilayani

6. Tingkat Produktifitas Alat yang dikalibrasi 7. Pekerja radiasi yang termonitor radiasinya 8. Jenis Akreditasi KAN

9. Temuan yang ditindaklanjuti

10. Terlaksananya Budaya Kerja oleh seluruh Pegawai 11. Kompetensi Staff

12. Tingkat Keandalan Alat Ukur Standar

(26)

A KU K U N N TA T AB B IL I L I I TA T AS S K IN I N E E RJ R JA A

A. CAPAIANKINERJA ORGANISASI Pengukuran kinerja digunakan sebagai dasar untuk menilai keberhasilan/kegagalan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan sasaran dan

tujuan yang telah ditetapkan dalam rangka mewujudkan visi dan misi BPFK Makassar.

Pengukuran dimaksud merupakan hasil dari suatu penilaian yang sistematik dan didasarkan pada kelompok indikator kinerja kegiatan. Penilaian tersebut merupakan kegiatan yang dianggap penting dan berpengaruh terhadap pencapaian sasaran dan tujuan.

Pengukuran kinerja kegiatan BPFK Makassar telah menggunakan indikator kuantitatif, hal ini dilakukan supaya lebih terukur dan mudah dievaluasi. Penetapan indikator yang digunakan dalam setiap kegiatan disesuaikan dengan sifat kegiatan masing- masing, sehingga kegiatan-kegiatan tersebut dapat diukur pencapaiannya.

Analisis Pencapaian Kinerja

Analisis pencapaian kinerja sasaran merupakan tingkat pencapaian target dari masing-masing indikator sasaran yang telah ditetapkan dalam dokumen rencana kerja.

Pengukuran tingkat pencapaian sasaran didasarkan pada data hasil pengukuran kinerja kegiatan. Secara umum pencapaian kinerja BPFK Makassar dapat dilihat pada tabel perbandingan target dan realisasi sesuai Penetapan Kinerja BPFK Makassar Tahun 2020 di bawah ini:

NO PERSPEKTI F

SASARAN STRATEGIS

NO

KPI KPI SATUAN

2020

% PIC

TARGET REALISASI 1 Perspektif

Financial

Terwujudnya

Efisiensi 1 Peningkatan PNBP

Miliar

Rupiah 4,5 4,7 104% TU

2 Perspektif Stakeholder

Terwujudnya Kepuasan Pelanggan

2

Indeks Kepuasan Pelanggan

Indeks 95 100 105% TOP

3

Perspektif Proses Bisnis Internal

Terwujudnya Peningkatan Mutu Pelayanan

3 Komplain yang

Ditindaklanjuti Persentase 100 100 100% TOP

Terwujudnya Peningkatan Cakupan Pelayanan

4

Jumlah Fasyankes yang dilayani

Jml

Fasyankes 600 757 126%

YANTEK

5

Tingkat Produktifitas Alat yang dikalibrasi

Jml Alat 25000 17426 70%

YANTEK

6 Jumlah TLD

yang dievaluasi Jml TLD 2270 2358 104%

YANTEK

BAB

-Iii-

(27)

Terwujudnya Standardisasi Laboratorium

7

Jenis Standarisasi Laboratorium

Jenis

Standarisasi 2 2 100%

TOP

8

Tingkat Temuan yang ditindaklanjuti

Persentase 100 100 100%

TOP

Terwujudnya keamanan dan

keselamatan fasilitas kesehatan

9

Jumlah Pesawat Sinar- X yang Diukur Paparan Radiasinya

Jml Alat 25 43 172%

YANTEK

10

Pekerja radiasi yang termonitor radiasinya

Jml Petugas 1250 1558 125%

YANTEK

Terwujudnya Jejaring dan Kemitraan

11

Terlaksananya MoU dengan Fasyankes

Jml MoU 30 34 113%

YANTEK

Terwujudnya peningkatan kemampuan layanan

12

Jenis Kemampuan Layanan

Jenis

Pelayanan 70 132 189%

YANTEK

Terwujudnya Peningkatan Keandalan Sarpras

13

Tingkat Keandalan Alat Ukur Standar

Persentase 85 86 101%

TOP

4

Perspektif Pengembang an Personil dan Organisasi

Terwujudnya Peningkatan Kompetensi dan

Kemampuan SDM

14

Tingkat

kompetensi dan kemampuan SDM teknis

Persentase 96 86 90% TOP

Terwujudnya Budaya Kerja 15

Tingkat penilaian budaya kerja pegawai

Persentase 83 89 107% KEPEGAWAIAN

Realisasi pencapaian target untuk masing-masing indikator kinerja rata-rata tercapai dengan baik namun ada sejumlah indicator terjadi penurunan yang disebabkan adanya kondisi pandemic selama Tahun 2020: Tingkat Produktifitas Alat yang dikalibrasi dengan persentase capaian 70% dari target, Pekerja radiasi yang termonitor radiasinya tercapai 125% dari target, Terlaksananya MOU dengan Fasyankes sebesar 113% dari target, Peningkatan PNBP tercapai 104%, serta Jumlah Fasyankes yang dilayani terealisasi sebesar 126% dari target yang ditetapkan.

1) Peningkatan PNBP

Realisasi Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) Tahun 2020 adalah sebesar Rp. 4.702.469.591,- atau sebesar 104% dari target Penerimaan sebesar Rp. 4.500.000.000,-. Dari perolehan ini dapat dilihat bahwa ada

(28)

Covid-19 yang berdampak pada menurunnya jadwal kunjungan pengujian/kalibrasi ke fasilitas pelayanan kesehatan.

Adapun grafik realisasi PNBP dari tahun 2016 – 2020 dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Grafik realisasi PNBP dari tahun 2016 – 2020 (Dalam Juta Rupiah)

2) Tingkat Kepuasan Pelanggan

Tingkat Kepuasan Pelanggan diukur berdasarkan Persentase Jumlah Pelanggan yang menyatakan puas terhadap pelayanan yang ada dibandingkan dengan jumlah pelanggan

yang menjadi responden. Untuk tahun 2020 seluruh pelanggan (100%) yang menjadi sampel atau memberikan responnya terhadap pelayanan BPFK Makassar kepuasaannya terhadap pelayanan BPFK Makassar. Nilai ini melebihi target yang telah ditetapkan untuk untuk periode yang sama yaitu 95%.

Kebehasilan ini tidak terlepas dari berbagai usaha BPFK Makassar untuk meningkatkan mutu pelayanan dengan terus menyempurnakan sistem pelayanan dan mutu pengujian dan kalibrasi seperti penyempurnaan SOP pelayanan, peningkatan efisiensi dan efektivitas sumber daya yang ada, meningkatkan komunikasi dengan pelanggan, pemanfaatan IT, serta usaha-usaha lainnya. Dengan peningkatan mutu tersebut maka pelanggan dapat menerima pelayanan BPFK Makassar sesuai dengan ekspektasi mereka sehingga semua responden yang telah dilakukan survey menyatakan kepuasan atas pelayanan BPFK Makassar.

(29)

3) Komplain yang ditindaklanjuti

Dalam rangka meningkatkan pelayanan serta kepuasan pelanggan terhadap pelayanan BPFK Makassar maka BPFK Makassar terus berusaha untuk selalu responsif terhadap pelanggan, baik respon terhadap permintaan layanan demikian juga dengan komplain

dari pelanggan atas layanan BPFK Makassar. Untuk itu maka BPFK Makassar terus berkomitmen untuk selalu menindaklanjuti jika terdapat komplain dari pelanggan BPFK Makassar baik komplain yang secara langsung disampaikan ke manajemen BPFK Makassar melalui media-media yang telah disiapkan seperti via email, surat, atau kotak saran, maupun penyampaian yang disampaikan tidak secara langsung ke manajemen BPFK Makassar seperti penyampaian secara lisan melalui personil BPFK Makassar (tetap dianggap sebagai komplain) untuk selanjutnya direkam dan ditindaklanjuti.

Untuk Tahun 2020 seluruh komplain yang diterima (100%) telah ditindaklanjuti.

Seperti halnya pada tahun 2019, semua komplain (100%) juga ditindaklanjuti oleh manajemen BPFK Makassar. Angka ini diharapkan dapat dipertahankan hingga periode target jangka menengah dengan target yang sama.

4) Jenis Pelayanan Kalibrasi sesuai Permenkes

Dalam Permenkes No. 54 Tahun 2015 Tentang Pengujian dan Kalibrasi Alat Kesehatan telah ditetapkan 125 jenis alat kesehatan yang wajib untuk dikalibrasi. Oleh karena itu BPFK Makassar yang telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai institusi pengujian dan kalibrasi

alat kesehatan juga dituntut agar dapat melayani pengujian dan kalibrasi terhadap 125 jenis alat yang telah ditetapkan. Untuk dapat melaksanakan pengujian dan kalibrasi terhadap satu jenis alat kesehatan maka dibutuhkan setidaknya tiga hal yaitu peralatan, SDM, serta metode pengujian dan kalibrasi.

Sampai dengan tahun 2020 jumlah kemampuan pelayanan BPFK Makassar baru di angka 71% dari 125 jenis alat yang ditetapkan dalam Permenkes. Angka ini masih sama dengan hasil capaian hingga tahun 2019 dimana angka ini melebihi target yang ditetapkan untuk tahun 2020 yaitu sebesar 70%. Hal ini tidak lepas dari faktor dukungan anggaran untuk pengadaan alat, dan peningkatan kemampuan SDM serta referensi metode

(30)

5) Jumlah Fasyankes yang dilayani

Dari Aspek Pelayanan Pengujian, Kalibrasi, dan Proteksi Radiasi/Uji Kesesuaian Alat Kesehatan pencapaiannya tidak mencapai target yang telah ditetapkan. Tahun 2020 BPFK Makassar telah melayani 757 fasilitas pelayanan kesehatan yang melakukan Pengujian, Kalibrasi, dan Proteksi Radiasi/Uji Kesesuaian Alat Kesehatan.

Angka ini melebihi target yaitu sebanyak 600 fasilitas pelayanan kesehatan atau 126% dari target, dan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebanyak 696 fasyankes, jumlah ini mengalami peningkatan yaitu sebanyak 61 fasyankes atau mengalami peningkatan sebesar 9% dari tahun sebelumnya. Adapun grafik realisasi cakupan pelayanan fasyankes tahun 2016 – 2020 dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Grafik Cakupan Fasilitas Palayanan Kesehatan tahun 2016 – 2020

Tabel Realisasi Cakupan Pelayanan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tahun 2016 – 2020.

NO PROPINSI 2016 2017 2018 2019 2020

1 SULAWESI

SELATAN 193 225 282 281 369

2 SULAWESI BARAT 6 10 37 39 33

3 SULAWESI

TENGGARA 9 31 31 54 94

4 SULAWESI TENGAH 91 19 75 128 59

5 SULAWESI UTARA 10 19 20 37 35

6 GORONTALO 28 32 30 9 41

7 MALUKU 12 11 8 44 40

8 MALUKU UTARA 17 4 19 30 35

9 PAPUA 16 37 31 49 38

10 PAPUA BARAT 10 9 13 12 4

11 LUAR WILAYAH

KERJA 14 22 12 13 9

JUMLAH 408 419 558 696 757

Tabel Cakupan Fasilitas Palayanan Kesehatan tahun 2016 – 2020 berdasarkan wilayah

(31)

Dari tabel di atas terlihat bahwa realisasi cakupan fasyankes sama dengan tahun- tahun sebelumnya dimana tahun 2020 juga masih tetap didominasi oleh fasilitas pelayanan kesehatan yang terdapat di wilayah propinsi Sulawesi Selatan yaitu sebanyak 369 Fasyankes atau 49% dari keseluruhan fasyankes yang dilayani. Jumlah ini meningkat dari capaian tahun sebelumnya. Besarnya realisasi di wilayah Propinsi Sulawesi Selatan dibandingkan dengan wilayah lainnya ini tentunya tidak lepas dari kemudahan akses dan jarak jangkauan dari BPFK Makassar serta besarnya populasi fasyankes yang terdapat di wilayah ini jika dibandingkan dengan wilayah propinsi lainnya. Sementara untuk Propinsi Papua dan Papua Barat perlu adanya dukungan dalam rangka penguatan UPF Papua agar dapat lebih meningkatkan pelayanannya, terutama dalam hal kelembagaan UPF Papua agar didorong untuk menjadi satker sendiri.

6) Tingkat Produktifitas Alat yang dikalibrasi

Untuk alat kesehatan yang dikalibrasi/diuji dalam kurun waktu tahun 2020 adalah sebanyak 17.426 alat. Angka ini tidak mencapai dari target yang ditetapkan yaitu sebanyak 25.000 alat atau hanya pada angka 70% dari target, dan jika dibandingkan

dengan jumlah alat yang diuji/kalibrasi pada tahun sebelumnya tercatat mengalami penurunan sebanyak 9.464 alat dari 26.890 pada tahun 2019 yang dicapai pada tahun 2020 sebanyak 17.426 alat. Adapun grafik realisasi pengujian dan kalibrasi alat kesehatan periode tahun 2016 – 2020 dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

(32)

Adapun realisasi pengujian dan kalibrasi alat kesehatan berdasarkan wilayah propinsi dalam kurun waktu 2016 – 2020 dapat dilihat pada tabel berikut:

NO PROPINSI 2016 2017 2018 2019 2020

1 SULAWESI SELATAN 7443 8476 9.808 11.197 9.081

2 SULAWESI BARAT 890 765 1.044 1.186 642

3 SULAWESI

TENGGARA 258 500 400 786 1550

4 SULAWESI TENGAH 1745 773 2.113 3.995 1.324

5 SULAWESI UTARA 1355 1860 2.096 2.649 631

6 GORONTALO 891 407 729 396 414

7 MALUKU 555 827 296 1.359 819

8 MALUKU UTARA 631 255 895 965 747

9 PAPUA 696 1538 1.661 2.283 1.715

10 PAPUA BARAT 1117 436 935 742 112

11 LUAR WILAYAH

KERJA 211 704 662 1.332 391

JUMLAH 15.792 16.541 20.639 26.890 17.426 Tabel Realisasi Pengujian dan Kalibrasi Alat Kesehatan tahun 2016 – 2020 berdasarkan wilayah

Dari tabel Realisasi Pengujian dan Kalibrasi Alat Kesehatan di atas terlihat tren peningkatan realiasi Pengujian dan Kalibrasi Alat Kesehatan dari tahun ke tahun.

Namun pada tahun 2020 terjadi penurunan yang disebabkan adanya pandemi covid-19 yang berdampak pada menurunnya jadwal kunjungan ke Fasyankes. Jika ditinjau berdasarkan wilayah, maka Sulawesi Selatan menjadi kontributor terbesar terhadap realisasi Pengujian dan Kalibrasi Alat Kesehatan. Dari total 17.426 alat kesehatan yang dikalibrasi dalam kurun waktu tahun 2020, sebanyak 9.081 atau sekitar 52% adalah alat kesehatan yang berada di wilayah propinsi Sulawesi Selatan.

Sementara untuk Propinsi Papua dan Papua Barat perlu adanya dukungan dalam rangka penguatan UPF Papua agar dapat lebih meningkatkan pelayanannya, terutama dalam hal kelembagaan UPF Papua agar didorong untuk menjadi satker sendiri.

7) Pekerja radiasi yang termonitor radiasinya

Salah satu layanan unggulan lainnya dari BPFK Makassar adalah pelayanan Pemantaun Dosis Perorangan (PDP) melalui TLD (Thermoluminescence Dosimeter). Dengan layanan ini diharapkan para pekerja radiasi dapat bekerja dengan aman melalui

sistem pemantaun dosis radiasi yang diperoleh para pekerja radiasi yang dilakukan

(33)

secara berkala. Selain itu layanan ini juga menjadi salah satu sumber pemasukan PNBP yang diandalkan oleh BPFK Makassar.

Dalam rangka usaha untuk terus meningkatkan pelayanan PDP maka BPFK Makassar terhadap para pekerja radiasi di wilayah kerja BPFK Makassar maka dari tahun ke tahun BPFK Makassar telah menetapkan target Pekerja radiasi yang termonitor radiasinya dimana pada tahun 2020 ditargetkan sebanyak 1250 petugas. Namun BPFK Makassar berhasil merealisasikan sebanyak 1.558 Pekerja radiasi yang termonitor radiasinya. Ini berarti realisasi untuk indikator kinerja ini adalah sebesar 125% dari target yang ditetapkan. Capaian ini juga meningkat 107% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu sebanyak 1.453 pekerja radiasi.

Adanya kerusakan pada TLD Reader di tahun 2020 menyebabkan pencapaian tidak terlalu maksimal namun kegiatan sosialisasi tetap dilakukan oleh BPFK Makassar kepada fasilitas pelayanan kesehatan yang memiliki instalasi radiasi medik untuk terus menjaga keamanan dan keselamatan kerja dengan penggunaan alat pemantau dosisi radiasi (yang dalam hal ini adalah TLD), disamping semakin bertambahnya populasi pekerja radiasi yang menjadi konsekuensi dari pertumbuhan sarana pelayanan kesehatan, serta adanya regulasi yang mewajibkan dilakukannya pemantauan dosis perorangan terhadap pekerja radiasi.

Adapun pertumbuhan jumlah Pekerja radiasi yang termonitor radiasinya dapat dilihat pada grafik berikut:

(34)

8) Jenis Akreditasi KAN

Jumlah Jenis Sertifikasi yang dimaksud adalah jenis pelayanan

yang telah mendapatkan pengesahan oleh KAN terkait dengan kompetensi BPFK Makassar untuk melaksanakan tugas-tugas penilaian kesesuian tertentu. Sejak tahun 2015 BPFK Makassar telah memperoleh dua jenis akreditasi KAN yaitu sebagai lembaga penguji dan lembaga kalibrasi. Hingga target jangka menengah di tahun 2020, BPFK Makassar menargetkan jumlah jenis yang sama mengingat jenis pelayanan BPFK Makassar yang utama adalah Pengujian dan Kalibrasi Alat Kesehatan. Di samping itu menjaga atau mempertahankan sertifikasi KAN adalah merupakan salah satu hal yang tidak mudah, dimana dituntut adanya konsistensi manajemen dan seluruh personil untuk terus menerapkan sistem manajemen mutu berdasarkan akreditasi KAN.

Untuk indikator Jenis Akreditasi KAN, pada tahun 2020 BPFK Makassar menargetkan untuk tetap mempertahankan 2 jenis akreditasi dan berhasil direalisasikan (dipertahankan) 2 jenis akreditasi tersebut, sama dengan tahun sebelumnya.

9) Temuan yang ditindaklanjuti

Dalam rangka menjaga kesesuaian, kecukupan, efektifitas, dan efisiensi sistem manajemen, maka manajemen BPFK Makassar terus melakukan monitoring dan evaluasi sistematik yang teratur baik yang dilaksanakan secara internal atau pihak eksternal untuk mengkaji sistem

manajemen dan penerapannya dalam kegiatan pelayaan pengujian dan/atau kalibrasi.

Diantara kegiatan monitoring dan evaluasi yang dimaksud antara lain adalah kegiatan Audit internal, kaji ulang manajemen, serta asesmen oleh institusi eksternal seperti KAN, BAPETEN, dan TUV.

Adapun salah satu output dari monitoring dan evaluasi ini adalah catatan atas ketidaksesuain yang menjadi temuan berupa tindakan perbaikan dan tindakan pencegahan, ditambah dengan rekomendasi-rekomendasi peningkatan (improvements).Untuk itu maka dalam rangka menjaga konsistensi penerapan prinsip-prinsip sistem manajemen yang baik maka seluruh temuan atau catatan ketidaksesuaian yang muncul dari kegiatan monitoring dan evaluasi secara eksternal maupun internal harus ditindaklanjuti dengan upaya-upaya perbaikan atas ketidaksesuaian tersebut oleh manajemen BPFK Makassar.

Untuk tahun 2020 BPFK Makassar menargetkan dan berhasil merealisasikan 100%

atau keseluruhan temuan yang ditindaklanjuti dimana semua catatan ketidaksesuaian yang menjadi hasil audit, kaji ulang, serta asesmen telah ditindaklanjuti dan diselesaikan sesuai dengan tenggat waktu yang telah ditetapkan. Angka capaian ini sama dengan tahun sebelumnya dan tetap menjadi target tahunan pada periode renstra berikutnya.

(35)

10) Terlaksananya Budaya Kerja oleh seluruh Pegawai

Budaya Kerja adalah nilai-nilai yang telah ditetapkan bersama dan menjadi pedoman dalam rangka menjalankan tugas dan tanggung jawab masing-masing pegawai. Oleh karena itu untuk mewujudkan tercapainya cita-cita dan tujuan organisasi

maka BPFK Makassar senantiasa dituntut untuk memastikan bahwa seluruh personil melaksanakan Budaya Kerja yang dimaksud. Adapaun realisasi pelaksanaan budaya kerja diukur melalui penilaian sasaran kinerja masing-masing personil dimana pada tahun 2020 secara keseluruhan rata-rata capaian SKP adalah sebesar 89%. Angka ini sesuai dengan target yang telah ditetapkan untuk tahun 2020 yaitu pada angka yang sama sebesar 88%.

Keberhasilan ini tidak terlepas dari usaha dari manajemen BPFK Makassar untuk terus menerapkan sistem pengawasan dan pembinaan terhadap seluruh personil secara konsisten. Dimana diharapkan dengan meningkatnya budaya kerja maka kinerja institusi secara keseluruhan juga dapat terus ditingkatkan.

11) Kompetensi Staff

Semakin meningkatnya perkembangan teknologi termasuk di bidang kesehatan serta semakin meningkatnya permintaan layanan pengujian dan kalibrasi dari fasilitas peayanan kesehatan yang berada dalam wilayah kerja BPFK

Makassar juga semakin menuntut BPFK Makassar untuk terus mengikuti, menyesuaikan diri, dan merespon kondisi tersebut dengan baik. Oleh karena itu BPFK Makassar harus memastikan mampu mengikuti kondisi perkembangan teknologi dan permintaan dari pelanggan.

Salah satu unsur yang paling penting adalah tersedianya SDM yang memenuhi seluruh persyaratan minimal standar kompetensi untuk menduduki dan menjalankan tugas dalam suatu jabatan tertentu. Sebagai usaha untuk menyiapkan SDM yang berkualitas maka BPFK Makassar terus berusaha untuk meningkatkan kompetensi staff terutama untuk personil teknis dimana pada tahun 2020 BPFK Makassar menargetkan persentase kompetensi staf sebesar 80% namun berhasil direalisasikan kompetensi staf sebesar 86%. Angka ini juga meningkat dibandingkan dengan realisasi tahun 2019 yaitu sebesar 66%. Keberhasilan peningkatan kompetensi staf ini tidak terlepas dari tercukupinya anggaran yang disediakan

(36)

12) Tingkat Keandalan Alat Ukur Standar

Semakin meningkatnya permintaan layanan pengujian dan kalibrasi alat kesehatan menuntut BPFK Makassar untuk selalu siap memberikan pelayanan dan merespon permintaan-permintaan tersebut. Untuk itu maka BPFK Makasar harus terus memastikan

ketersediaan, kesiapan, dan keandalan segala sumber daya yang dibutuhkan untuk mendukung pelaksanaan layanan pengujian dan kalibrasi. Salah satu sumber daya utama yang harus dipastikan kesiapan dan keandalannya adalah alat ukur standar. Seluruh alat ukur standar yang akan digunakan untuk pelayanan harus dipastikan dalam kondisi yang dapat diandalkan.

Tingkat Keandalan alat ukur standar yang dimaksud dalam hal ini adalah Persentase Alat ukur standar yang berada dalam kondisi laik dan siap pakai dibandngkan dengan Alat Ukur Standar yang ada dimana pada tahun 2020 BPFK Makassar menargetkan Tingkat Keandalan Alat Ukur Standar sebesar 85% dan berhasil direalisasikan sebesar 86%. Angka ini mengalami kenaikan dari realisasi tahun sebelumnya.

Salah satu faktor pendukung keberhasilan realisasi tingkat keandalan alat ukur standar adalah ketersediaan anggaran yang dibutuhkan serta berjalannya sistem manajemen peralatan dengan baik sehingga seluruh informasi alat ukur standar dapat dipantau terus keandalannya dengan baik dan diperlakukan sebagaimana mestinya sesuai dengan SOP yang ada.

B. REALISASI ANGGARAN Berdasarkan DIPA Tahun Anggaran 2020 BPFK Makassar memperoleh sumber daya anggaran sebesar Rp.25.186.192.000,- yang bersumber dari Rupiah Murni dan PNBP. Dari Total anggaran tersebut

hingga akhir tahun 2020 besaran anggaran yang terealisasi adalah sebesar 75,38% atau sebesar Rp. 18.986.009.943,-. Besaran persentase realisasi keuangan ini mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Menurunnya persentase realisasi anggaran pada tahun 2020 disebabkan adanya kondisi pandemi covid-19 sehingga banyak kegiatan yang tidak terlaksana.

Gambar

Grafik realisasi PNBP dari tahun 2016 – 2020  (Dalam Juta Rupiah)
Tabel Cakupan Fasilitas Palayanan Kesehatan tahun 2016 – 2020  berdasarkan wilayah

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Serat-serat tersebut banyak berasal dari dinding sel berbagai jenis sayuran dan buah. Secara kimiawi dinding sel tersebut terdiri atas beberapa jenis karbohidrat seperti

Adapun dari hasil wawancara yang peneliti lakukan di sekolah SMP Negeri 2 Lalan tepatnya tanggal 10 Oktober 2014 terhadap 2 siswa mengungkapkan bahwa “belajar

Tujuan dari tugas akhir ini adalah merancang produk S-LUCY agar dapat dikontrol secara online serta jarak jauh dengan menggunakan tiga modul pendukung sebagai

Untuk itu, dalam bagian pertama akan dijelaskan munculnya gerakan reformasi, pemahaman masyarakat indonesia tentang reformasi,di mana gereja-gereja di indonesia menjadi bagian

1) APBN merupakan wujud pengelolaan keuangan negara yang ditetapkan tiap tahun dengan undang- undang. 2) APBN terdiri atas anggaran pendapatan, anggaran

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 115 ayat (2) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan Pasal 52 Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun

Didukung oleh penelitian yang dilakukan Correia dan Kozak (2016) menyatakan bahwa pengaruh persepsi nilai terhadap kepuasan tidak signifikan, karena produk imitasi

Selain itu bangkitnya raksasa China sebagai salah satu negara adi-daya di wilayah Asia ditambah disetujuinya ASEAN-China Free Trade Assosiation (AC-.. FTA) membuat kita semua