• Tidak ada hasil yang ditemukan

KATA PENGANTAR. Assalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KATA PENGANTAR. Assalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh"

Copied!
80
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

`

ii

KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena kami masih dikaruniai kesempatan untuk berkarya dan bekerja sebaik-baiknya agar tercapainya tugas dan fungsi Direktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang, khususnya di bidang pengawasan pangan risiko rendah dan sedang, yang dilakukan sepanjang tahun 2020. Laporan Tahunan Direktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang merupakan salah satu bentuk pertanggungjawaban Direktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang dalam pelaksanaan anggaran pemerintah.

Selama tahun 2020 dengan situasi dan kondisi yang cukup berat, masih merebaknya pandemic Covid-19, namun hal tersebut tidak menghalangi terselenggaranya kegiatan dan menjalankan program yang sudah ditetapkan.

Dalam laporan tahunan ini disampaikan program dan kegiatan serta hasil capaian kinerja Direktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang selama tahun 2020, yang mencakup fungsi penyusun dan pelaksana kebijakan, penyusunan NSPK, pemberian bimbingan teknis dan supervisi, pelaksanaan inspeksi sarana produksi dan distribusi, sampling di sarana produksi dan distribusi, pelaksanaan surveilan, pelaksanaan pemantauan, evaluasi dan pelaporan inspeksi serta pelaksanaan urusan tata operasional Direktorat. Laporan tahunan ini juga merupakan gambaran umum dari Direktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang meliputi ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM) dan sarana prasarana.

Terima kasih kami haturkan kepada seluruh jajaran Direktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang dan semua pihak, atas sinergi yang terjalin serta hasil capaian selama tahun 2020. Semoga pencapaian Direktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang dalam Laporan Tahunan ini menjadi titik tumpu bagi kami untuk bekerja lebih baik lagi dalam upaya melindungi masyarakat terhadap pangan olahan risiko rendah dan sedang yang tidak memenuhi persyaratan keamanan, mutu, dan gizi.

April 2020

(3)

`

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…... ii

DAFTAR ISI…... iii

DAFTAR TABEL…... v

DAFTAR GAMBAR…... vii

RINGKASAN EKSEKUTIF... ix

HIGHLIGHT KEGIATAN………. xii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Organisasi……….. 1

1.2 Struktur Organisasi……… 2

1.3 Rencana Strategis 2015-2020………. 3

1.4 Rencana Kinerja Tahun 2020……….. 4

1.5 Perjanjian Kinerja Tahun 2020……….. 4

BAB II PENGELOLAAN SUMBER DAYA 2.1 Sumber Daya Manusia………. 7

2.2 Kebutuhan Pegawai……….. 7

2.3 Pengembangan Kompetensi Pegawai………... 9

2.4 Sarana dan Pra Sarana……… 9

2.5 Realisasi Anggaran dan Akuntabilitas Keuangan……… 12

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA 3.1 Pemeriksaan Sarana Produksi dan Distribusi Pangan Risiko Rendah dan Sedang……… 14

3.2 Sampling dan Pengujian Pangan Olahan Risiko Rendah dan Sedang……… 16

3.3 Sampling dan Pengujian Kemasan Pangan………. 19

3.4 Sampling dan Pengujian Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS)…. 21 3.5 Pengujian DNA Babi………. 21

3.6 Pengawasan Label Selama Beredar………... 22 3.7 Intensifikasi Pengawasan Pangan Menjelang Ramadhan dan Idul Fitri

Tahun 2020 ...

24

(4)

`

iv

3.8 Intensifikasi Pengawasan Pangan Menjelang Natal 2020 dan Tahun Baru 2020 ...

29 3.9 Keterangan Impor (SKI), Surat Keterangan Ekspor (SKE) Pangan

Olahan dan Sertifikasi Sarana Produksi ...

35 3.10 Reviu Pedoman Sampling Pangan dan Kemasan Pangan TA 2020 42 3.11 Pengawasan Iklan ... 44 3.12 Forum Komunikasi Iklan Pangan dan Bimbingan Teknis Pengawasan

Iklan Pangan Olahan Tahun 2020 ... 45 3.13 Pemberdayaan Masyarakat dalam Mewijudkan Keaman Pangan 48 3.14 Sampling dan Pengujian Produk Pangan Fortifikasi ... 50 3.15 Forum Grup Discussion Dalam Rangka Implementasi Fortifikasi

Pangan ...

54 3.16 Pengawasan Pangan Fortifikasi di Tingkat Produksi... 57

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan ... 59 4.2 Saran ... 61

(5)

`

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Hasil Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang

Tahun 2020………. ix

Tabel 2. Hasil Intensifikasi Pengawasan Tahun 2020………. x Tabel 3. Pelayanan Publik Direktorat Pengawasan Pangan Risiko

Rendah dan Sedang……….. xi Tabel 1.1 Perjanjian Kinerja Direktorat Pengawasan Pangan Risiko

Rendah dan Sedang Tahun 2020………... 5 Tabel 2.1 Jumlah Kebutuhan Pegawai Jabatan Pemeriksa Farmasi dan

Makanan………... 8 Tabel 2.2 Jumlah Kebutuhan Pegawai Jabatan Pendukung………. 8 Tabel 2.3 Data Invertarisir Kantor Tahun 2020... 10 Tabel 2.4 Realisasi Anggaran Kegiatan Terhadap Pagu Tahun 2020.... 12 Tabel 3.1 Data Hasil Sampling dan Pengujian Tahun 2020 (data

19/03/2021 ………. 17

Tabel 3.2 Sampel yang Dicurigai Mengandung DNA Babi ... 22 Tabel 3.3 Temuan Intensifikasi Pengawasan Pangan Menjelang

Ramadhan dan Idul Fitri 2020 di Sarana Peredaran ... 25 Tabel 3.4 Sebaran Temuan Produk Tidak Memenuhi Ketentuan……… 28 Tabel 3.5 Temuan Produk Pada Intensifikasi Pengawasan Pangan

Menjelang Hari Raya Natal dan Tahun Baru 2020 di Sarana

Peredaran Pangan ………. 30

Tabel 3.6 Sebaran Temuan Produk Tidak Memenuhi Ketentuan (TMK) 32 Tabel 3.7 Lima Besar Wilayah tempat temuan tahun 2018 - 2020 …….. 34 Tabel 3.8 Lima Besar Jenis Pangan Tidak Memenuhi Ketentuan ………. 34 Tabel 3.9 Jumlah dan Pencapaian Surat Keterangan Ekspor (SKE) …… 36 Tabel 3.10 Rekapitulasi Jenis Pangan dan Tujuan Ekspor Tertinggi Bulan

Januari-Desember 2020 ... 36 Tabel 3.11 Rekapitulasi Surat Keterangan Ekspor (SKE) Kemasan

Pangan Bulan Januari - Desember 2020…... 37 Tabel 3.12 Rekapitulasi Surat Keterangan Impor (SKI) per Komoditi

Bulan Januari - Desember 2020... 38

(6)

`

vi

Tabel 3.13 Rekapitulasi Pencapaian Timeline Surat Keterangan Impor (SKI) Pangan Bulan Januari - Desember 2020 ………

38 Tabel 3.14 Rekapitulasi 10 Besar Pangan Impor Beserta Negara Asalnya 39 Tabel 3.15 Rekapitulasi Surat Keterangan Hygiene dan Sanitasi Bulan

Januari - Desember 2020 ……….. 39 Tabel 3.16 Rekapitulasi Sertifikasi CPPOB Bulan Januari - Desember

2020 ……….. 40

Tabel 3.17 Penerbitan SKI/SKE di 12 Balai Besar/Balai POM Tahun

2020 ………. 40 Tabel 3.18 Penerbitan Surat Rekomendasi Pemasukan (SRP) Produk

Pangan Olahan Asal Hewan ... 41 Tabel 3.19 Rentang Kadar Fortifikan Tidak Memenuhi Syarat ………….. 53 .

(7)

`

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Struktur Organisasi Direktorat Pengawasan Pangan Risiko

Rendah dan Sedang……… 3

Gambar 1.2 Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran Strategis Direktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang…………. 3 Gambar 1.3 Peta Strategis BSC Level 2 Direktorat Pengawasan Pangan

Risiko Rendah dan Sedang………... 4 Gambar 2.1 Persentase Sumber Daya Manusia Direktorat Pengawasan

Pangan Risiko Rendah dan Sedang Berdasarkan Tingkat Pendidikan, Jenis Kelamin, dan Golongan………... 7 Gambar 2.2 Data Monitoring Pengembangan Kompetensi Pegawai……. 9 Gambar 3.1 Profil Hasil Pemeriksaan Sarana Produksi Pangan Tahun

2020………. 14 Gambar 3.2 Profil Hasil Pemeriksaan Sarana Distribusi Produk Pangan

Tahun 2020……… 15

Gambar 3.3 Profil Hasil Pemeriksaan Sarana Importir Produk Pangan

Tahun 2020……… 16

Gambar 3.4 Profil Hasil Sampling dan Pengujian Pangan Olahan (Sampel Rutin) Tahun 2020 ………... 18 Gambar 3.5 Profil Hasil Sampling dan Pengujian Pangan Olahan (sample

targeted) Tahun 2020 ………. 18 Gambar 3.6 Hasil Sampling Pengujian Kemasan Pangan Tahun 2020

... 20 Gambar 3.7 Perbandingan Hasil Sampling Pengujian Kemasan Pangan

Tahun 2018-2020 ………... 20 Gambar 3.8 Profil Hasil Pengujian Pangan Jajanan Anak Sekolah Tahun

2020 ………

21 Gambar 3.9 Hasil Sampling dan Pengujian DNA Babi Tahun 2020 ... 22 Gambar 3.10 Hasil Pengujian Kandungan DNA Babi pada produk Pangan

Tahun 2017-2020... 23 Gambar 3.11 Data Pengawasan Label PIRT Tahun 2020 ………. 24 Gambar 3.12 Temuan Intensifikasi Pengawasan Pangan Menjelang

Ramadhan dan Idul Fitri 2020 di Sarana Peredaran ……….. 26

(8)

`

viii

Gambar 3.13 Profil Temuan Produk Tidak Memenuhi Ketentuan di Sarana

Peredaran Pangan ……… 26

Gambar 3.14 Profil Hasil pengawasan pangan Buka Puasa (Takjil) Tahun 2020 ... 29 Gambar 3.15 Rincian Total Sarana diperiksa pada Pengawasan Pangan

Menjelang Hari Raya Natal 2020 dan Tahun Baru 2021 di

Sarana Distribusi Retail ………. 30 Gambar 3.16 Temuan Produk pada Intensifikasi Pengawasan Pangan

Menjelang Hari Raya Natal 2020 dan Tahun Baru 2021 di

Sarana Peredaran Pangan ……… 30 Gambar 3.17 Temuan Intensifikasi Pengawasan Pangan Menjelang Hari

Raya Natal 2020 dan Tahun Baru 2021 di Sarana Peredaran

Pangan ………. 31

Gambar 3.18 Temuan Intensifikasi Pengawasan Pangan Menjelang Hari Raya Natal 2020 dan Tahun Baru 2021 di Sarana Peredaran

Pangan ………. 31

Gambar 3.19 Tren Temuan Produk TMK Tahun 2016 – 2020 ……… 33 Gambar 3.20 Diagram Pengawasan Iklan Pangan Tahun 2020 …………. 44 Gambar 3.21 Diagram Sebaran Media Iklan Tahun 2020 ……… 44 Gambar 3.22 Forum Komunikasi Label dan Iklan Pangan ……….. 47 Gambar 3.22 Grafik Hasil Pengujian Pangan Fortifikasi Tahun 2020 …….. 50 Gambar 3.23 Persentase pangan fortifikasi yang memenuhi syarat dan

trend pangan fortifikasi per komoditi periode tahun 2016 –

2020 ……… 51

Gambar 3.24 Grafik Hasil Pengujian Garam Konsumsi Beryodium ………. 51 Gambar 3.25 Grafik Hasil Pengujian Tepung Terigu Tahun 2016-2020

(berdasarkan kadar fortifikan) ……… 52 Gambar 3.26 Grafik Hasil Pengujian Minyak Goreng Sawit Tahun 2016-

2020 (berdasarkan kadar fortifikan) ……….. 54 Gambar 3.27 Pengawasan Pangan Fortifikasi di tingkat Produksi ………... 58

(9)

`

RINGKASAN EKSEKUTIF

Pengawasan pangan risiko rendah dan sedang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pengawasan Obat dan Makanan yang dilakukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan. Dalam rangka mewujudkan salah satu misi Badan POM yaitu meningkatkan sistem pengawasan Obat dan Makanan yang berbasis risiko untuk melindungi masyarakat, Direktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang mempunyai peran strategis mendukung pengawasan produk pangan beredar di pasaran, melalui pengawasan sarana produksi, sarana distribusi serta pengawasan produk pangan yang beredar. Selama tahun 2020, hasil pemeriksaan sarana industri pangan MD memperlihatkan 1.753 sarana (63,88%) sudah menerapkan CPPOB, 899 sarana (32,76%) belum menerapkan CPPOB secara konsisten dan 92 sarana (3,36%) Tutup atau Tidak Dapat Diperiksa. Hasil pemeriksaan IRTP diketahui 400 sarana (26,01) telah menerapkan CPPOB dan 1125 sarana (73,15%) belum menerapkan CPPOB dan 13 sarana (0,85%) Tutup atau Tidak Dapat Diperiksa.

Pengawasan pangan dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu pengawasan kesesuaian label edar dan pengawasan keamanan dan mutu pangan melalui uji laboratorium, dengan parameter uji yang diprioritaskan berdasarkan kajian risiko. Pada tahun 2020 telah dilakukan pengawasan produk pangan yang beredar di pasaran berupa pengawasan label; sampling dan pengujian (i) pangan rutin, (ii) kemasan pangan, (iii) pangan mengandung fragmen DNA babi, (iv) pengujian pangan fortifikasi; dan monitoring iklan (Tabel 1).

Tabel 1. Hasil Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang Tahun 2020 Pengawasan Kategori MK/MS TMK/TMS Jumlah Total Label Pangan MD/ML 7.016

(87,77%)

978 (12,23%)

7.994 (100%)

9.116

PIRT 376

(33,51%)

746 (66,49%)

1.122 (100%)

Pangan Random 9.816

(93,39%)

2.503 (6,61%)

12.319 (100%)

17.763

Targeted 3.852 (75,74%)

1.592 (24,26%)

5.444 (100%)

(10)

`

x

Catatan: MS: Memenuhi Syarat, TMS: Tidak Memenuhi Syarat, MK: Memenuhi Ketentuan Badan POM berkomitmen untuk melindungi masyarakat kejahatan Obat dan Makanan, termasuk dari peredaran pangan yang tidak aman, baik melalui pengawasan rutin maupun pengawasan khusus seperti intensifikasi pengawasan pangan selama ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri Tahun 2020, serta intensifikasi pengawasan pangan menjelang Hari Raya Natal 2020 dan Tahun Baru 2021 (Tabel 2).

Tabel 2. Hasil Intensifikasi Pengawasan Tahun 2020 Pengawasan Kategori MK/MS TMK/TM

S

Jumlah Total

Kemasan - 80 0 80 80

Pangan (100%) (0%) (100%)

PJAS - 481 121 602 602

(79,90%) (20,10%) (100%)

Pangan - 113 7 120 120

fragmen DNA (94, 17%) (5,83%) (100%) Babi

Pangan Garam 1.109 208 1.317 2.125

Fortifikasi konsumsi (84,21%) (15,79%) (100%) beryodium

Tepung 272 38 310

Terigu (87,74%) (12,26%) (100%)

Minyak 468 30 498

Goreng (94,00%) (6,00%) (100%) Sawit

Iklan - 6.560 3.354 10.013 10.013

(66,51%) (33,50%) (100%)

Uraian hasil intensifikasi pengawasan

Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri

Tahun 2020

Hari Raya Natal 2020 dan Tahun Baru 2021 Sarana Peredaran Pangan

TMK

40,14 % 37,50 %

Kemasan Pangan TMK 349.422 131.973

Nilai Ekonomi Pangan TMK Rp 1.090.900.000,- Rp. 2.771.328.000,-

Pangan Kedaluwarsa 80,99% 64,72%

Pangan Tanpa Izin Edar (TIE)

13,81% 29,92%

Pangan Rusak 5,20% 5,36%

(11)

`

Disamping itu, terdapat beberapa capaian terkait inovasi selama tahun 2020 antara lain review pedoman sampling pangan dan kemasan pangan tahun anggaran 2020 yang telah disesuaikan dengan keterwakilan produk beredar, inisiasi pengusulan alokasi DAK Non Fisik Bidang Pengawasan Obat dan Makanan tahun 2020, inisiasi pembentukan Satuan karya Pramuka Pengawasan Obat dan Makanan (SAKA POM).

Dalam rangka ikut mendorong ekspor dan mendukung impor produk pangan, Badan POM telah menerbitkan Surat Keterangan Ekspor (SKE) untuk produk pangan dan kemasan pangan, Surat Keterangan Impor (SKI) bahan pangan, bahan tambahan pangan (BTP), produk pangan, serta komoditi non pangan. Penerbitan SKE/SKI merupakan bentuk pelayanan publik yang dilakukan oleh Direktorat Pengawasan Pangan Olahan Risiko Rendah dan Sedang. Penerbitan SKE/SKI Tahun 2020 dengan hasil pada Tabel 3.

Tabel 3. Pelayanan Publik Direktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang

Jenis Pelayanan Publik

Jumlah Item Target SLA (Jam)

Timeline rata- rata (Jam) SKE Produk Pangan 19.051 54.655 16 4.21 SKE Kemasan

Pangan

7 18 16 15.04

SKI a. Bahan Pangan 20.370 32.530 Sebelumnya 8 jam dan per

Juli 2020 menjadi 6 jam

3.87

b. BTP 12.476 41.698

c. Produk Pangan

13.981 62.371 d. Non Pangan 2.063 2.583

(12)

`

xii

HIGHLIGHT KEGIATAN

MEI

Konferensi Pers Virtual Intensifikasi Pengawasan Pangan (selama bulan Ramadhan dan menjelang Hari Raya Idul Fitri)

Konferensi Pers terkait Intensifikasi Pengawasan selama bulan Ramadhan dan menjelang Hari Raya Idul Fitri dilaksanakan secara virtual di Command Center Badan POM pada tanggal 15 Mei 2021.

Intensifikasi Pengawasan ini dilakukan terhitung sejak tanggal 27 April 2020 hingga 22 Mei 2020 dan berfokus pada 3 (tiga) kategori yaitu pengawasan sarana distribusi, termasuk sarana ritel; pengawasan pangan olahan seperti pangan Tanpa Izin Edar (TIE)/ilegal, kedaluwarsa, dan rusak; serta pengawasan pangan jajanan buka puasa/takjil terhadap kemungkinan kandungan bahan berbahaya di dalamnya.

Selama 2 minggu pelaksanaan intensifikasi pengawasan pangan terdapat 38,10%

temuan produk pangan TMK dari 1.197 sarana distribusi pangan yang diperiksa dengan total temuan sebanyak 290.681 pieces dengan nilai keekonomian Rp 654.300.000,-.

Hasil ini mengalami penurunan jika dibandingkan dengan hasil pengawasan tahun sebelumnya. Terbatasnya ruang, beralihnya ke metode pembelian online serta menurunnya daya beli masyarakat selama pandemi ini turut berpengaruh terhadap penurunan temuan produk TMS maupun TMK selama intensifikasi pengawasan pangan ramadhan tahun ini. Dilaporkan hasil pengawasan jajanan berbuka puasa (takjil) menunjukkan dari 6.677 sampel yang diperiksa, sebanyak 73 sampel (1,09%) mengandung bahan yang disalahgunakan dalam pangan (formalin, boraks, rhodamin B, methanyl yellow).

(13)

`

JULI

Dukungan Ekspor ke Korea Selatan

Sehubungan dengan situasi pandemik COVID-19, MFDS menyampaikan perubahan sistem inspeksi sarana produksi pangan luar negeri yang akan dilakukan pada tahun 2020, yaitu dari sistem on-site inspection menjadi dokumen review atau peninjauan dokumen. Peninjauan dokumen dilakukan dengan melihat kelengkapan dokumen inspeksi yang akan diverifikasi oleh otoritas pengawas pangan atau inspeksi mandiri oleh fasilitas produksi pangan. MFDS mempercayakan verifikasi sarana produksi pangan tersebut kepada Badan POM. Dalam rangka mendukung ekspor pangan maka Direktorat Pengawasan Risiko Rendah dan Sedang melakukan sosialisasi terkait perubahan tersebut serta melakukan pendampingan untuk proses registrasi sarana produksi dan peninjauan dokumen dalam rangka ekspor ke Korea Selatan melalui pertemuan pada tanggal 10 Juli 2020 yang dilakukan secara daring dan luring

(14)

`

xiv

Dukungan Ekspor ke Arab Saudi

Saudi Arab Food and Drug

Authority (SFDA)

memberlakukan regulasi baru yaitu SFDA Decision 124/35 date: 30110/1435 H yaitu diwajibkan untuk adanya registrasi pabrik dan produk bagi produsen pangan turunan daging, unggas, susu dan ikan serta perlunya pengajuan otoritas kompeten dari suatu negara. Pada Desember 2019 Badan POM (Direktorat Pengawasan Risiko Rendah dan Sedang) ditunjuk sebagai Otoritas Kompeten di Indonesia untuk melakukan autorisasi kuesioner self assessment dalam rangka registrasi pabrik dan ekspor ke Arab Saudi. Dalam proses pengajuan sebagai otoritas kompeten Badan POM berkoordinasi bersama lintas sektor seperti Kemendag, KKP, Kementan, dan BKPM.

Sosialisasi terkait regulasi baru tersebut dilakukan terhadap pelaku usaha yaitu pada Bulan Februari 2020 dan Bulan Juli 2020. Pada Bulan Februari dilakukan pendampingan kepada pelaku usaha dalam mengisi kuesioner self assessment yang akan digunakan dalam registrasi pabrik, sedangkan pada bulan

Juli 2020 dilakukan pembahasan terkait NIB sebagai approval number dalam pengisian kuisioner self assessment dan juga registasi pabrik di website SFDA. Hasil pembahasan tersebut disepaki bahwa NIB digunakan sebagai approval number dan akan difasilitasi oleh BKPM dalam penerbitan NIB dalam bahasa Inggris.

Berbagai dukungan Badan POM telah dilakukan dalam mendorong ekspor Pangan ke Arab Saudi yaitu otoritasi kuisioner self assessment, sosialisasi kepada pelaku usaha, kooordinasi antar Kementerian/Lembaga terkait, videoconference dengan SFDA, dan pengiriman list perusahaan yang kredibel untuk ekspor ke Arab Saudi.

(15)

`

AGUSTUS

Dukungan Ekspor ke Amerika Serikat

Badan POM selaku otoritas pengawas yang selalu mendukung ekspor Produk Pangan ke luar negeri, selalu berupaya untuk mengatasi berbagai kendala yang dihadapi oleh eksportir salah satunya adalah notifikasi

Red List US Food and Drug Authority (FDA). Sebagaimana diketahui Red List yang dimaksud merupakan bentuk import alert yang mengakibatkan eksportir dikenakan Detention Without Physical Examination (DWPE) atau DWPE with surveillance. DWPE yang lazim dikenal dengan istilah automatic detention, memungkinkan FDA menahan suatu produk tanpa memeriksanya secara fisik pada saat masuk di seluruh pelabuhan laut maupun udara Amerika Serikat. Pelanggaran ini dapat terkait dengan produk, pabrikan maupun pengirim/shipper.

Sebagai tindak lanjut atas kendala tersebut, pada 14 Agustus 2020 dilakukan pertemuan dengan pelaku usaha, Atase Perdagangan Indonesia di Washington DC, dan Kementerian/Lembaga terkait, guna mencari solusi bagi perusahaan agar dapat dihapuskan dari daftar notifikasi Red List USFDA, sehingga memberikan kemudahan kepada pelaku usaha untuk melakukan eksportasi ke Amerika Serikat.

(16)

`

xvi

SEPTEMBER

Kegiatan Advokasi kepada Pemerintah Daerah (Pemda) dan Bimbingan Teknis (Bimtek) kepada Pelaku Usaha Mikro dan Kecil Garam Konsumsi.

Kegiatan Advokasi kepada Pemerintah Daerah (Pemda) dan Bimtek kepada Pelaku Usaha Mikro dan Kecil Garam Konsumsi diadakan pada tanggal 17 September 2020 bertempat di Jakarta yang diselenggarakan secara Luring dan Daring. Advokasi diikuti oleh 271 peserta yang terdiri dari perwakilan K/L Pusat (Kementerian Perindustrian, Kementerian Kesehatan, Kementrian Kelautan dan Perikanan, Kementrian Dalam Negeri dan Kementrian Perdagangan), Kepala Dinas/Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) atau Struktural Disperindag/Dinkes /Bappeda dari 42 Kab/ Kota yang tersebar di 16 Propinsi, dan 24 UPT BPOM di 42 Kab/

Kota tersebut, perwakilan dari PT. Kimia Farma, serta perwakilan dari seluruh unit kerja di Kedeputian III. Tindak lanjut pertemuan yaitu Kemenko PMK akan mengkoordinasikan mengenai kemajuan tindak lanjut yang dilakukan oleh lintas K/L/D utamanya Kementrian sebagai load dalam SNI wajib garam konsumsi dan Instansi pemrakarsa untuk revisi Keputusan Presiden No. 69 Tahun 1994 tentang Pengadaan Garam BerIodium. Advokasi diakhiri dengan penyerahan fortifikan secara simbolis kepada 100 pelaku usaha garam konsumsi yang tersebar di 42 Kab/Kota

(17)

`

OKTOBER

Focus Group Discussion (FGD) Sinkronisasi Pelaksanaan Dana Alokasi Khusus (DAK) Nonfisik Pengawasan Obat Dan Makanan Tahun

Anggaran 2020

FGD Sinkronisasi Pelaksanaan DAK Nonfisik POM dilakukan dalam rangka Sinergisme Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam pengawasan Obat dan Makanan serta upaya nyata untuk melindungi masyarakat dari produk obat dan makanan yang tidak memenuhi syarat keamanan, mutu, dan gizi pangan. Untuk melakukan percepatan realisasi pelaksanaan DAK Non Fisik Subbidang Pengawasan Obat dan Makanan, kegiatan dilaksanakan di Aula Gedung C dengan mekanisme kombinasi luring dan daring.

Kegiatan dibuka oleh Kepala Badan POM dan dihadiri oleh 1.937 peserta baik secara luring di Aula C Badan POM ataupun secara daring pada platform pertemuan online. Peserta berasal dari unsur Bappeda Provinsi, Dinas Kesehatan dan Bappeda Kab/Kota, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kab/Kota, dan Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah yang mewakili 319 Pemerintah Kabupaten/Kota penerima DAK Nonfisik POM TA 2020. Kegiatan juga diikuti oleh perwakilan Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) di 149 wilayah dan 64 Kepala Unit Pelaksana Teknis BPOM yang di wilayah kerjanya terdapat daerah penerima DAK Nonfisik POM TA 2021 serta perwakilan unit teknis terkait di BPOM Pusat.

Narasumber dalam kegiatan FGD adalah:

1. Deputi Bidang Pengawasan Pangan Olahan

2. Plt Deputi Bidang Pangwasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor dan Zat Adiktif

3. Perwakilan Dinas Kesehatan Kab/ Kota 4. Perwakilan BPKD Kab/Kota

5. Ditjen Bina Bangda Kemendagri 6. Direktur KGM Bappenas

7. Direktur Dana Transfer Khusus Kementrian Keuangan 8. Kepala Biro Perencanaan dan Anggaran Kemenkes

(18)

`

xviii

DESEMBER

Konfrensi Pers Intensifikasi Pengawasan Pangan (Jelang Natal dan Tahun Baru)

Konferensi Pers terkait Intensifikasi Pengawasan Jelang Natal 2020 dan Tahun Baru 2021 dilaksanakan dengan mekanisme kombinasi yaitu luring di Aula Gedung C dan daring melalui zoom meeting yang dilaksanakan pada tanggal 23 Desember 2021. Intensifikasi pengawasan pangan dilakukan untuk mengantisipasi produk pangan TMK yang cenderung meningkat sebagai akibat meningkatnya permintaan (demand) dan pasokan (supply) kebutuhan pangan Jelang Hari Raya Natal 2020 dan Tahun Baru 2021.

Intensifikasi pengawasan tersebut dilakukan dalam 5 (lima) tahap, dimulai pada akhir November 2020 hingga awal Januari 2021. Berfokus pada pangan olahan Tanpa Izin Edar (TIE)/ilegal, Kedaluwarsa, dan Rusak Sampai minggu ke-4 Desember, Badan POM melalui Unit Pelaksana Teknis di seluruh Indonesia telah memeriksa 2.687 sarana distribusi pangan, berupa importir, distributor, grosir, dan ritel.

Hasilnya, 982 sarana distribusi TMK (36,55%). Pelanggaran tersebut didominasi oleh temuan pangan kedaluwarsa, yaitu sebanyak 60.656 kemasan (63,07%). Diikuti dengan pangan ilegal sebanyak 31.316 kemasan (32,56%) dan pangan rusak sebanyak 4.201 kemasan (4,37%).

Berdasarkan lokasi temuan, pangan kedaluwarsa banyak ditemukan di Baubau, Bengkulu, Sofifi, Manggarai Barat, dan Banda Aceh. Pangan ilegal banyak ditemukan di Baubau, Surakarta, Tangerang, Bengkulu, dan Tarakan. Sementara pangan rusak banyak ditemukan di Kendari, Baubau, Manado, Sorong, dan Sofifi.

(19)

`

BAB I PENDAHULUAN

1.1 GAMBARAN UMUM ORGANISASI

Badan Pengawas Obat dan Makanan berdiri pada tahun 2001 melalui Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen. Keputusan tersebut telah diubah beberapa kali dan terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 80 Tahun 2017 tentang Badan Pengawas Obat dan Makanan. Selanjutnya Kepala Badan POM menerbitkan Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 26 Tahun 2017 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengawas Obat dan Makanan sebagai tindak lanjut adanya perubahan struktur organisasi di lingkungan Badan POM.

Berdasarkan Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 26 Tahun 2017 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengawas Obat dan Makanan, Direktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang merupakan salah satu unit kerja di lingkungan Deputi Bidang Pengawasan Pangan Olahan yang mempunyai peran strategis mendukung pengawasan pangan yang beredar di pasaran, melalui pengawasan sarana produksi, sarana distribusi serta pengawasan produk yang beredar. Direktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang mempunyai tugas sebagai berikut:

“melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, kriteria, pelaksanaan bimbingan teknis dan supervisi, serta evaluasi dan pelaporan di bidang pengawasan pangan risiko rendah dan sedang.

TUGAS

(20)

`

2

Sementara itu dalam menjalankan tugasnya, Direktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang mempunyai fungsi sebagai berikut:

1.2 STRUKTUR ORGANISASI

Direktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang merupakan salah satu unit eselon II yang dipimpin oleh direktur yang bertanggung jawab langsung kepada Deputi Bidang Pengawasan Pangan Olahan. Struktur organisasi Direktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang adalah sebagai berikut:

1. Penyiapan penyusunan kebijakan di bidang inspeksi pangan risiko rendah, risiko sedang, bahan tambahan pangan, ekspor impor, dan iklan pangan;

2. Penyiapan pelaksanaan kebijakan di bidang inspeksi pangan risiko rendah, risiko sedang, bahan tambahan pangan, ekspor impor, dan iklan pangan;

3. Penyiapan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang inspeksi pangan risiko rendah, risiko sedang, bahan tambahan pangan, ekspor impor, dan iklan pangan;

4. Penyiapan pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang inspeksi pangan risiko rendah, risiko sedang, bahan tambahan pangan, ekspor impor, dan iklan pangan;

5. Pelaksanaan inspeksi dan penilaian sarana/fasilitas produksi dan/atau distribusi pangan risiko rendah dan sedang;

6. Pengambilan contoh (sampling) di sarana/fasilitas produksi dan/atau distribusi pangan risiko rendah dan sedang;

7. Pelaksanaan surveilan pangan risiko rendah dan sedang;

8. Pelaksanaan pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang inspeksi pangan risiko rendah, risiko sedang, bahan tambahan pangan, ekspor impor, dan iklan pangan; dan

9. Pelaksanaan urusan tata operasional Direktorat.

FUNGSI

(21)

`

1.3 RENCANA STRATEGIS 2020 – 2024

Dalam mewujudkan visi misi Badan POM dan sejalan dengan adanya perubahan struktur organisasi sesuai Peraturan Badan POM Nomor 26 Tahun 2017 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengawas Obat dan Makanan, Direktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang telah Menyusun Rencana Strategis (Renstra) Direktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang tahun 2020-2024. Penyusunan Renstra tersebut telah mempertimbangkan faktor lingkungan strategis yang sangat dinamis serta memperhitungkan potensi, peluang dan kendala yang dihadapi selama lima tahun sebelumnya.

Gambar 1.2. Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran Strategis Direktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang

Gambar 1.1.Struktur Organisasi Direktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang

(22)

`

4

Gambar 1.3. Peta Strategis BSC Level 2 Direktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang

Kegiatan Direktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang mendukung tiga Sasaran Strategis Badan POM tahun 2020, yaitu:

1. Terwujudnya Obat dan Makanan yang Aman dan Bermutu,

2. Meningkatnya Kepatuhan dan Kepuasan Pelaku Usaha serta Kesadaran Masyarakat terhadap Keamanan, Manfaat dan Mutu Obat dan Makanan, serta 3. Meningkatnya Efektivitas Pengawasan Obat dan Makanan Berbasis Risiko.

1.4 RENCANA KINERJA TAHUN 2020

Mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2019 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2019, termuat arah kebijakan nasional satu tahun yang merupakan komitmen pemerintah untuk memberikan kepastian kebijakan, pendanaan, kerangka regulasi, kerangka pelayanan umum, dan investasi dalam melaksanakan pembangunan nasional yang berkesinambungan. Berdasarkan hal tersebut, Direktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang menyusun matriks Rencana Kinerja Tahun 2020 yang dapat dilihat pada Lampiran 3.

1.5 PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2020

Berdasarkan Peraturan Presiden RI Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) dan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014

(23)

`

tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja, dan Tata Cara Reviu atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah, Direktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang menyusun Perjanjian Kinerja Tahun 2019 yang disahkan sebagaimana dapat dilihat pada Lampiran 2. Perjanjian Kinerja merupakan pernyataan komitmen yang merepresentasikan tekad dan janji untuk mencapai kinerja yang jelas dan terukur dalam waktu satu tahun. Perjanjian Kinerja disusun setiap tahun berdasarkan Rencana Kinerja Tahunan yang telah disesuaikan dengan ketersediaan anggaran. Perjanjian Kinerja Direktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang tahun 2020 dapat dilihat pada Tabel 1.1 berikut:

Tabel 1.1. Perjanjian Kinerja Direktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang Tahun 2020

SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA

Kualitas pengawasan Pangan Olahan Risiko Rendah dan Sedang di Daerah yang Optimal

1. Persentase instansi pemerintah yang berperan aktif dalam pengawasan Pangan Olahan

2. Jumlah Kab/Kota yang melaksanakan pengawasan pangan olahan sesuai standar

3. Persentase hasil pengawasan UPT BPOM yang dilakukan sesuai standar Meningkatnya kepatuhan

pelaku usaha di bidang Pangan Olahan Risiko Rendah dan Sedang

1. Persentase sarana produksi dan distribusi pangan olahan risiko rendah dan sedang yang dilakukan pendalam mutu, dan memenuhi ketentuan

2. Persentase sampel pangan fortifikasi yang diambil dan memenuhi syarat Pelayanan publik di bidang

pengawasan Pangan Olahan RIsiko Rendah dan Sedang yang prima

1. Indeks kepuasan pelayanan publik di bidang pengawasan Pangan Olahan RIsiko Rendah dan Sedang

Pelayanan publik di bidang pengawasan Pangan Olahan RIsiko Rendah dan Sedang yang prima

1. Indeks kepuasan pelayanan publik di bidang pengawasan Pangan Olahan RIsiko Rendah dan Sedang

(24)

`

6

SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA

Meningkatnya efektivitas pengawasan pangan olahan yang dilakukan oleh

Kab/Kota, dan Lintas Sektor

1 Jumlah wilayah yang dilakukan pengawasan terpadu lintas sektor

Meningkatnya efektivitas pengawasan Pangan Olahan berbasis risiko

1. Persentase keputusan hasil pengawasan risiko rendah dan sedang yang

diselesaikan sesuai standar Meningkatnya ketepatan

waktu pelayanan publik di bidang Pangan Olahan

1. Indeks pelayanan publik di Direktorat Pengawasan PRRS

2. Persentase ketepatan waktu pelayanan publik terkait saranan dan produk pangan risiko

3. Persentase permohonan ekspor/impor yang diselesaikan tepat waktu

Terwujudnya organisasi yang efektif di Direktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang

1. Indeks RB Direktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang

Terwujudnya SDM yang berkinerja optimal di Direktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang

1. Indeks Profesionalitas ASN Direktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang

Menguatnya Data dan Informasi Direktorat

Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang

1. Indeks Pengelolaan Data dan Informasi Direktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang

Terkelolanya Keuangan secara Akuntabel di Direktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang

1. Tingkat efisiensi penggunaan anggaran Direktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang yang baik

(25)

`

BAB II

PENGELOLAAN SUMBER DAYA

2.1. SUMBER DAYA MANUSIA

Dalam melaksanakan tugas fungsinya, Direktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang memiliki sumber daya manusia sejumlah 46 pegawai ASN terdiri dari 1 orang Direktur, 3 orang Kasubdit, 7 orang Kepala Seksi, 31 orang pejabat fungsional dan 4 orang Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Selain itu, unit juga didukung oleh 22 orang Pegawai Pemerintah Non Pegawai Negeri (PPNPN) yang terdistribusi di 3 subdirektorat. Gambaran alokasi Sumber Daya Manusia (SDM) di Direktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang

Gambar 2.1. Persentase Sumber Persentase Sumber Daya Manusia Direktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang Berdasarkan Tingkat Pendidikan, Jenis Kelamin, dan Golongan.

2.2. KEBUTUHAN PEGAWAI

Penetapan kebutuhan pegawai Direktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang dihitung berdasarkan Perhitungan Analisis Beban Kerja (ABK). Berdasarkan perhitungan beban kerja, jumlah kebutuhan pegawai Direktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang adalah sebanyak 116 pegawai

Pada Tahun 2020, pegawai Direktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang berjumlah 46 pegawai. Maka Gap Kebutuhan Pegawai Direktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang berjumlah 70 pegawai.

Adapun rincian kebutuhan pegawai Direktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang berdasarkan perhitungan beban kerja

(26)

`

8

Tabel 2.1. Jumlah Kebutuhan Pegawai Jabatan Pemeriksa Farmasi dan Makanan

Seksi di Direktorat Pengawasan PanganRisiko Rendah dan Sedang

PFM Pertama

PFM Muda

PFM Madya

PFM Utama Seksi Inspeksi Peredaran Pangan

Risiko Rendah

6 3 3 0

Seksi Inspeksi Produksi Pangan Pangan

Risiko Rendah

5 4 2 0

Seksi Inspeksi Produksi dan Peredaran

Bahan Tambahan Pangan dan Bahan Kontak Pangan

11 8 2 0

Seksi Inspeksi Produksi dan Peredaran

Pangan Risiko Sedang

11 10 3 0

Seksi Inspeksi Ekspor, Impor 2 12 2 0

Seksi Inspeksi Iklan Pangan 10 3 1 0

JUMLAH 44 40 13 0

97 Tabel 2.2. Jumlah Kebutuhan Pegawai Jabatan Pendukung

Jabatan Fungsional

Ahli Pertama Ahli Muda Ahli Madya Ahli Utama Pelaksana Pelaksana Lanjutan Terampil Mahir Penyelia

Perencana 1 0 0 0 - - - - -

Analis Kebijakan 1 - - - -

Analis Kepegawaian 1 1 0 - - - - 1 0

Arsiparis 1 0 - - - - 3 1 0

Pranata Komputer 0 0 0 0 - - 2 1 -

Analis Anggaran 1 0 0 0 - - - - -

Pranata Laksana Barang - - - - 1 - 0 0 0 Pranata Keuangan APBN 1 - 1 - - - 2 - - Pejabat Pengadaan Barjas 1

JUMLAH 19

(27)

`

2.3. PENGEMBANGAN KOMPETENSI PEGAWAI

Pengembangan kompetensi Pegawai merupakan hak pegawai yang mutlak dan diperlukan. Pengembangan kompetensi pegawai menjadi sangat diperlukan mengingat tuntutan lingkungan strategis, seperti perkembangan teknologi informasi, globalisasi, peningkatan daya saing bangsa, serta harapan

masyarakat terhadap kinerja Instansi Pemerintah, dalam hal ini Direktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang yang memiliki tugas dan fungsi sebagai unit yang melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, kriteria, pelaksanaan bimbingan teknis dan supervisi, serta evaluasi dan pelaporan di bidang pengawasan pangan risiko rendah dan sedang.

Sebagaimana yang telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara, menyebutkan secara tegas bahwa setiap ASN berhak mendapatkan pengembangan kompetensi minimum 20 jam pelajaran per tahun. Sejalan dengan hal itu Dirktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang melakukan monitoring dan evaluasi terhadap kegiatan Pengembangan Kompetensi yang dilaksanakan Pegawai Direktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang. Adapun data pegawai yang telah mencapai jumlah minimum jam pelajaran seperti yang diamanatkan oleh undang-undang

Gambar 2.2. Data Monitoring Pengembangan Kompetensi Pegawai

2.4. SARANA DAN PRASARANA

Sarana dan Prasarana merupakan hal yang penting guna menunjang berlangsungnya dan kesuksesan kegiatan unit. Sarana dan prasarana di Direktorat Pengawasan Risiko Rendah dan Sedang terdiri atas ruangan dan juga Inventarisir

(28)

`

10

Kantor. Ruangan yang ditempati oleh Direktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang berlokasi di Gedung F Timur Lantai 2 Badan POM, terdiri dari 8 ruangan yaitu 1 ruangan Direktur, 3 ruangan KaSubdit, 1 ruangan Subdit Inspeksi Pangan Risiko Rendah, 1 ruangan Subdit Inspeksi Pangan Risiko Sedang dan Bahan Tambahan Pangan, 1 ruangan Subdit Inspeksi Ekspor, Impor dan Iklan Pangan, serta 1 ruang rapat.

Untuk melaksanakan fungsi pelayanan publik yang meliputi kegiatan sertifikasi ekspor dan impor pangan olahan, Sertifikasi Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB), Sertifikasi Higiene dan Sanitasi, serta konsultasi seluruh layanan dilaksanakan di Gedung Pelayanan Publik Badan Pengawas Obat dan Makanan di Gedung B lantai 4.

Inventaris kantor sebagai sarana penunjang terlaksananya kegiatan meliputi, meja, kursi, lemari dan alat pengolah data. Pada tahun 2020 inventarisir kantor Direktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang.

Tabel 2.3. Data Inventarisir Kantor Tahun 2020

No. Nama Barang Jumlah

Barang

1 Lemari Penyimpanan 14

2 Mesin Ketik Elektronik 1

3 Mesin Penghitung Uang 1

4 Lemari Kayu 19

5 Filling cabinet Besi 1

6 Lemari Display 4

7 CCTV 1

8 Alat Penghancur Kertas 3

9 Box display sampel pangan 1

10 LCD Proyektor 3

11 Bracket Proyektor 1

12 Meja Kerja Kayu 57

13 Kursi besi metal 51

14 Meja Rapat 15

15 Meja komputer 1

16 Meja Resepsionis 1

(29)

`

No. Nama Barang Jumlah

Barang 17 Staff Workstation untuk 4 orang,

multipleks, HPL

2

18 Lemari Es 2

19 Portable Air Conditioner (Alat Pendingin)

1

20 Kitchen Set 1

21 Mic Converence 12

22 Televisi 3

23 Speaker dan Standing 2

24 Dispenser 3

25 Handy Cam 1

26 Standing Bracket Peralatan 2

27 Power Amplifie 1

28 Digital Audio Taperecorder 1

29 Voice Recorder 3

30 Tripod Camera 1

31 Layar Film/Projector 1

32 Camera Digital 2

33 Facsimile 1

34 Kursi Zeis 4

35 Personal Computer 7

36 Meja Kerja (Alat Laboratorium) 2

37 Uninterupted Power Supply (UPS) 4

38 Barcode Reader 1

39 P.C Unit 56

40 Laptop 3

41 Tablet Survey Kepuasan Pelanggan 36

42 Personal Komputer lainnya 1

43 Printer 3

44 Scanner 10

45 Server 2

46 Eksternal Portable hardisk 5

47 Notebook 36

(30)

`

12

No. Nama Barang Jumlah Barang

48 Modem 6

49 shredder 1

50 Monografi 14

51 Kursi Tamu 1

52 Meja Tamu 1

53 Sofa 1 set 2

54 Workstation 26

55 Papan tulis 3

2.5. REALISASI ANGGARAN DAN AKUNTABILITAS KEUANGAN

Pada tahun 2020 Direktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang memperoleh anggaran sebesar Rp. 8.371.652.000,-, dengan realisasi anggaran sebesar Rp. 8.358.255.035,- Dengan demikian, persentase realisasi terhadap pagu adalah 99,84%. Realisasi anggaran terhadap pagu setiap kegiatan yang dilaksanakan pada tahun 2020

Tabel 2.4 Realisasi Anggaran Kegiatan Terhadap Pagu Tahun 2020

Sasaran Strategis

Nama Indikator

Target Realisasi Persentase Capaian

(%)

Kualitas Pengawasan Pangan Olahan Risiko Rendah dan Sedang di Daerah yang Optimal

Persentase Instansi

Pemerintah yang Berperan Aktif

Dalam Pengawasan Pangan Olahan

Rp.370.190.000 Rp. 369.884.227 99,92

Jumlah Kab/Kota yang Melaksanakan Pengawasan Pangan Olahan Sesuai Standar

Rp. 1.134.530.000 Rp. 1.132.080. 99,78

Persentase Hasil Pengawasan UPT

BPOM yang

Dilakukan Sesuai Standar

Rp. 519.380.000

Rp. 517.270.811 99,59

(31)

`

Meningkatnya Kepatuhan Pelaku Usaha di Bidang Pangan Olahan Risiko Rendah dan Sedang

Persentase Sarana Produksi Dan Distribusi Pangan Olahan Risiko Rendah dan Sedang yang Dilakukan Pendalaman Mutu dan Memenuhi Ketentuan

Rp. 241.249.000 Rp. 240.576.508 99,72

Terwujudnya SDM yang Berkinerja Optimal di Direktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang

Indeks

Profesionalitas ASN Direktorat

Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang

Rp. 147.537.000 Rp. 147.471.313 99,96

Menguatnya Data dan Informasi Direktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang

Indeks Pengelolaan Data dan Informasi Direktorat

Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang

Rp. 717.091.000 Rp. 715.881.185 99,83

Terkelolanya Keuangan secara Akuntabel di Direktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang

Tingkat Efisiensi Penggunaan Anggaran Direktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang

Rp. 74.460.000 Rp. 74.390.000 99,91

(32)

`

14 BAB III

AKUNTABILITAS KINERJA

3.1 PEMERIKSAAN SARANA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI PANGAN RISIKO RENDAH DAN SEDANG

Di tingkat produksi pangan, pada tahun 2020 telah dilakukan pemeriksaan terhadap 2.744 sarana. Pemeriksaan sarana produksi ini difokuskan pada penerapan Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB) dan kepatuhan terhadap perundang-undangan, antara lain bahwa produk pangan yang diproduksi telah memiliki surat persetujuan pendaftaran.

Gambar 3.1. Profil Hasil Pemeriksaan Sarana Produksi Pangan Tahun 2020 Hasil pemeriksaan sarana industri pangan MD memperlihatkan bahwa 1.753 sarana (63,88%) sudah menerapkan CPPOB, sedangkan 899 sarana (32,76%) belum menerapkan CPPOB secara konsisten dan 92 sarana (3,36 %) Tutup atau Tidak Dapat diperiksa. Ketidaksesuaian CPPOB untuk industri MD antara lain pencegahan serangga, burung, tikus dan binatang lain tidak efektif;

pertemuan antara dinding dan dinding tidak mudah dibersihkan; tidak ada program pengecekan Kesehatan karyawan; konstruksi tidak sesuai persyaratan teknik sanitasi dan higiene (tidak rata,tidak kuat, retak atau licin); pelatihan pekerja dalam hal sanitasi dan higiene tidak cukup; tidak ada program sanitasi yang efektif di unit pengolahan; dan tidak ada program pemantauan untuk membuang wadah dan peralatan yang sudah rusak/tidak digunakan. Terhadap hasil pemeriksaan yang belum menerapkan CPPOB tersebut telah dilakukan tindak lanjut berupa pembinaan, peringatan tertulis sampai dengan sanksi administratif.

1753

400 899

1125

92 13

0 500 1000 1500 2000

MD PIRT

Jumlah Sarana

HASIL PEMERIKSAAN SARANA PRODUKSI PANGAN TAHUN 2020

Memenuhi Ketentuan Tidak Memenuhi Ketentuan

(33)

`

Hasil pemeriksaan IRTP diketahui bahwa 400 (26,01%) sarana telah menerapkan CPPOB dan 1125 (73,15%) sarana belum menerapkan CPPOB dan 13 (0,85 %) tutup atau tidak dapat diperiksa. Ketidaksesuaian CPPOB untuk IRTP antara lain adalah belum adanya sistem dokumentasi yang memadai; Fasilitasi dan implementasi higene dan sanitasi sarana yang masih kurang; personal higiene karyawan yang kurang baik; Konstruksi sarana IRTP yang belum sesuai dengan aspek GMP dan Sistem Quality Assurance/ Quality Control yang belum optimal.

Terhadap sarana yang Tidak Memenuhi Ketentuan (TMK) tersebut, telah dilakukan tindak lanjut berupa pembinaan dan atau peringatan tertulis dengan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat.

Gambar 3.2. Profil Hasil Pemeriksaan Sarana Distribusi Produk Pangan Tahun 2020

Di tingkat distribusi pangan, pada tahun 2020 telah dilakukan pemeriksaan secara rutin terhadap 7239 sarana distribusi pangan, dengan hasil 4929 (68,09%) sarana MK dan 2302 (31,80%) sarana TMK terhadap penerapan Cara Ritel Pangan yang Baik (CRPB). Ketidaksesuaian CRPB yang sering ditemukan pada sarana distribusi antara lain penyimpanan produk pangan yang masih tercampur dengan produk non pangan ataupun pangan kedaluarsa, sanitasi sanitasi dan kebersihan sarana yang kurang baik, pencegahan binatang pengerat yang tidak efektif, tidak dilakukan monitoring suhu penyimpanan dingin dan penyimpanan produk pangan yang masih menempel dinding/lantai. Selain itu juga, pelanggaran yang ditemukan pada saat pemeriksaan antara lain adanya produk rusak, kemasan rusak atau penyok, kedaluwarsa, pangan tanpa izin edar, repacking dan pangan mengandung Bahan Berbahaya/Bahan Tambahan Pangan mengandung Bahan Berbahaya

4929

2302

8 0

1000 2000 3000 4000 5000 6000

MK TMK TA

Jumlah Sarana n = 7239

Hasil Pemeriksaan Sarana Distribusi Tahun 2020

Memenuhi Ketentuan

Tidak Memenuhi Ketentuan

(34)

`

16

Gambar 3.3 Profil Hasil Pemeriksaan Sarana Importir Produk Pangan Tahun 2020

Hasil pemeriksaan sarana importir diketahui bahwa 45 (76,27%) sarana importir telah memenuhi ketentuan dan 7 (11,86%) sarana Tidak Memenuhi Ketentuan pada formulir pemeriksaan sarana distribusi (form B), selain itu 7 (11,85%) sarana tidak dapat dinilai. Pelanggaran yang ditemukan antara lain adanya produk rusak, kemasan rusak atau penyok, kedaluwarsa, pangan tanpa izin edar atau habis masa izin edar dan TMK label. Pelanggaran terhadap produk yang tidak mempunyai izin edar dan produk yang Tidak Memenuhi Ketentuan label dilakukan pemusnahan dengan disaksikan oleh importir dan petugas Badan POM.

3.2 SAMPLING DAN PENGUJIAN PANGAN OLAHAN RISIKO RENDAH DAN SEDANG

Kegiatan sampling dan pengujian pangan yang dilakukan Badan POM merupakan bagian dari upaya pengawasan keamanan dan mutu produk pangan di peredaran, baik dalam rangka surveilan untuk melihat pemenuhan persyaratan (compliance) terhadap regulasi maupun tindak lanjut penanganan kasus pelanggaran pangan. Selain itu juga dapat dilakukan di sarana produksi, baik dalam rangka penerimaan dan verifikasi lot sebelum diedarkan, verifikasi terhadap pemenuhan Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB), termasuk keamanan kemasan pangan, klaim halal, dan kesesuaian penandaan, serta tindak lanjut penanganan pelanggaran pangan. Kegiatan sampling dan pengujian juga ditujukan untuk fasilitasi UMKM dalam rangka pendaftaran.

Pengawasan pangan melalui kegiatan sampling dan pengujian pangan dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu pengawasan kesesuaian penandaan/label dan pengawasan keamanan dan mutu pangan melalui uji laboratorium, dengan

45

7 7

0 10 20 30 40 50

MK TMK TA

Jumlah Sarana n = 59

Hasil Pemeriksaan Sarana Importir Produk PanganTahun 2020

Memenuhi Ketentuan Tidak Memenuhi Ketentuan TA (Tutup, Tidak dapat diperiksa)

(35)

`

parameter uji yang diprioritaskan berdasarkan kajian risiko. Sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 80 Tahun 2017 tentang Badan Pengawas Obat dan Makanan, pada tahun 2018 terdapat restrukturisasi organisasi di Badan POM yang berdampak pada kebijakan sampling dan pengujian tahun anggaran 2020. Oleh karena itu, sampling dan pengujian terhadap pangan dilakukan secara menyeluruh.

Dalam rangka pengawasan keamanan dan mutu produk pangan yang beredar di masyarakat, selama tahun 2020 dilakukan pengambilan sampel dan pengujian laboratorium sejumlah 17.763 sampel pangan olahan yang terdaftar di Badan POM (MD/ML), termasuk sampel pangan PIRT, dan pangan tidak terdaftar.

Tabel 3.1. Data Hasil Sampling dan Pengujian Tahun 2020 (data 19/03/2021)

No Keterangan Hasil Pengujian

(jumlah sampel) Kesimpulan 1. Sampel Rutin (Total) 12.319

e. TIE 37 TMS

f. Kedaluwarsa 23 TMS

g. Rusak 13 TMS

● h

h. Baik 12.246

h.1. TMK Label 1.863 TMS

h.2. MK Label 10.383 MS

h.2.1. MS Pengujian 9.816 MS

h.2.1. TMS Pengujian 567 TMS

2. Sampel Bertarget (Total) 5.444

a. MS Pengujian 3.852 MS

b. TMS Pengujian 1.592 TMS

Teknik sampling pangan dibagi menjadi 2 (dua) sesuai dengan tujuan sampling, yaitu:

a. Random Sampling

Random sampling adalah metode pengambilan sampel dilakukan secara random/acak pada tahapan pengambilan sampel paling akhir (pemilihan merek), baik produk MD/ML/PIRT/TIE/rusak atau kedaluwarsa, terhadap sampel pangan rutin. Dalam perhitungan persentase pangan yang memenuhi syarat dengan metode random sampling, hasil evaluasi penandaan berpengaruh terhadap kesimpulan

(36)

`

18 MS/TMS produk pangan.

Berdasarkan data yang masuk melalui pelaporan SIPT pada tahun 2020, jumlah sampel baik yang masuk dalam proses pengujian adalah 12.246 sampel rutin. Dari seluruh data sampel baik yang masuk ke pengujian, sebanyak 15,21% (1.863 sampel) yang labelnya Tidak Memenuhi Ketentuan (TMK). Berikut persentase sampel pangan dengan metode random sampling yang Memenuhi Persyaratan (MS) dan Tidak Memenuhi Persyaratan (TMS) tahun 2020:

n = 12.319

Gambar 3.4 Profil Hasil Sampling dan Pengujian Pangan Olahan (Sampel Rutin) Tahun 2020

b. Targeted sampling

Targeted sampling adalah metode pengambilan sampel dilakukan secara sengaja/non-random terhadap produk pangan yang diduga tidak memenuhi syarat atau ketentuan yang berlaku. Pada tahun 2020, berdasarkan data yang masuk melalui pelaporan SIPT, jumlah sampel yang telah selesai dilakukan pengujian sebanyak 5.444 sampel.

Hasil perhitungan persentase pangan yang memenuhi syarat dengan metode targeted sampling sebagai berikut:

n = 5.444

Gambar 3.5 Profil Hasil Sampling dan Pengujian Pangan Olahan (sample targeted) Tahun 2020

(37)

`

Perhitungan sampel pangan MS dan TMS sampel purposive (targeted sampling) dapat dilihat dari gambar 4.57 Proporsi sampel pangan dari 5.444 sampel yang telah diuji, diketahui bahwa sampel pangan MS sebesar 71% (3.852 sampel) sedangkan sampel pangan TMS sebesar 29% (1.592 sampel).

Targeted sampling ditujukan untuk mengakomodir pelaksanaan kegiatan sampling dan pengujian dalam rangka pengawasan dengan prioritas khusus seperti pengawalan pangan yang ditetapkan dalam program nasional, penelusuran kasus, pengawalan mutu dan keamanan Pangan Jajanan Anak Sekolah, pengawasan terhadap pangan yang diduga mengandung DNA Porcine, dll.

Selain dalam hal pengawasan, targeted sampling juga mengakomodir pelaksanaan kegiatan sampling dan pengujian dalam rangka pembinaan seperti pendampingan UMKM. Hal ini sebagai bentuk dukungan sesuai dengan Misi Badan POM yaitu mendorong kapasitas dan komitmen pelaku usaha khususnya UMKM. Pada kegiatan sampling dan pengujian produk pangan dalam rangka pembinaan UMKM, Balai Besar/Balai/Loka POM dapat melakukan pengambilan dan pengujian sampel pangan UMKM yang di bawah binaannya yang mana selanjutnya hasil pengujian tersebut dapat digunakan sebagai data dukung proses pendaftaran pangan di Direktorat Registrasi Pangan Olahan Badan POM.

3.3 SAMPLING DAN PENGUJIAN KEMASAN PANGAN

Sampling dan pengujian kemasan pangan dilakukan dalam rangka pengawasan keamanan kemasan pangan, dengan mengacu pada Pedoman Sampling Obat dan Makanan Tahun 2019 dan Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor HK.03.1.23.07.11.6664 Tahun 2011 tentang Pengawasan Kemasan Pangan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 16 Tahun 2014 dan terakhir diubah menjadi Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 20 Tahun 2019 tentang Kemasan Pangan.

Sampling dan pengujian kemasan pangan dilakukan terhadap kemasan pangan dari produk pangan terdaftar dan kemasan pangan produk wajib SNI yaitu peralatan makan minum melamin dan keramik. Jumlah sampel kemasan pangan sebanyak 80 sampel, yang terdiri 6 sampel kemasan pangan dari produk pangan

(38)

`

20

terdaftar, dan 74 sampel kemasan pangan produk wajib SNI yaitu sampel peralatan makan minum melamin dan keramik. Kemasan pangan dari produk pangan terdaftar terdiri dari 1 sampel polikarbonat dan 5 sampel polipropilena, sedangkan 74 sampel kemasan pangan produk wajib SNI terdiri dari 30 sampel keramik dan 44 sampel melamin. Hasil pengujian terhadap 80 sampel tersebut seluruhnya memenuhi syarat.

Gambar 3.6. Hasil Sampling Pengujian Kemasan Pangan Tahun 2020 Perbandingan hasil pengawasan kemasan pangan tahun 2018-2020 dapat dilihat pada Gambar 4.90. Hasil sampling dan pengujian kemasan pangan tersebut menunjukkan trend peningkatan kemasan pangan yang memenuhi syarat, dimana pada tahun 2020 seluruh sampel memenuhi syarat.

Gambar 3.7. Perbandingan Hasil Sampling Pengujian Kemasan Pangan Tahun 2018-2020

3.4 SAMPLING DAN PENGUJIAN PANGAN JAJANAN ANAK SEKOLAH (PJAS)

Sampling dan pengujian kemasan pangan dilakukan dalam rangka

Melamin; 44 Keramik; 30

Polipropilen; 5

polikarbonat; 1

HASIL SAMPLING DAN PENGUJIAN KEMASAN PANGAN TAHUN 2020

n = 80

97% 98,2% 100%

3% 1,8% 0%

2018 2019 2020

n = 109

Hasil Sampling Pengujian Kemasan Pangan Tahun 2018-2020

MS TMS

n = 80 n = 123

(39)

`

pengawasan Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS), dengan mengacu pada Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor HK.02.02.1.22.02.20.58 Tahun 2020 tentang Pedoman Sampling dan Pengujian Obat dan Makanan Tahun Anggaran 2020.

Gambar 3.8 Profil Hasil Pengujian Pangan Jajanan Anak Sekolah Tahun 2020 Pada tahun 2020, telah dilakukan sampling dan pengujian terhadap 1378 sampel PJAS, dengan hasil sampel PJAS yang memenuhi persyaratan sebanyak 310 sampel (82,45%), sedangkan sampel PJAS yang Tidak Memenuhi Syarat sebanyak 66 sampel (17,55%). Adapun 4 jenis pangan dengan TMS terbanyak pada produk Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS) adalah Es, Jeli/ Agar, Bakso/Pentol/Siomay/Batagor/Cilok dan Minuman Berwarna. Sedangkan 4 parameter pengujian TMS terbanyak adalah adanya cemaran mikroba seperti e.coli, bacillus cereus s. aureus, Salmonella Sp, Kapang Khamir; Cemaran Logam berat Pb; BTP berlebih seperti siklamat, sakarin, benzoat; dan Bahan berbahaya:

Rhodamin B, Methanyl yellow, formalin dan boraks.

3.5 PENGUJIAN DNA BABI

Badan POM dan Balai Besar POM/Balai POM di seluruh Indonesia melakukan sampling dan pengujian laboratorium terhadap pangan yang dicurigai mengandung DNA babi. Sampel diambil berdasarkan prioritas sampling yang telah ditetapkan.

Selama tahun 2020 dan telah dilakukan uji sebanyak 120 produk dari jenis pangan berikut:

310

66

0 50 100 150 200 250 300 350

Memenuhi Syarat Tidak Memenuhi Syarat

Jumlah Sampel n = 376

Hasil Pengujian PJAS Tahun 2020

(40)

`

22

Tabel 3.2 Sampel yang Dicurigai Mengandung DNA Babi

Olahan Daging Mie Instan Kembang gula lunak

Mie/bihun kering

Bakso Daging Bumbu Gelatin Sosis Daging

Cokelat dan olahannya

Dendeng Daging Permen lunak Kornet Daging

Hasil pengujian terhadap parameter uji Fragmen DNA Babi menunjukkan bahwa dari 120 sampel yang diuji (Gambar 4.81), terdapat sebanyak 7 sampel (6%) mengandung fragmen DNA Babi yaitu produk kembang gula lunak dan olahan daging.

Gambar 3.9 Hasil Sampling dan Pengujian DNA Babi Tahun 2020

Terhadap pelaku usaha yang ditemukan produknya mengandung DNA babi tersebut, kemudian dilakukan penerbitan surat peringatan dan perintah untuk melakukan penarikan terhadap bets produk yang terdeteksi mengandung DNA babi, merekomendasikan pelaku usaha untuk mengekspor atau mereekspor produk ke negara yang tidak mewajibkan ketentuan halal, dan atau memusnahkan produk.

Untuk produk impor dilakukan penghentian impor produk untuk bets yang bermasalah dan meminta pelaku usaha untuk memberikan jaminan bahwa produk serupa yang akan diimpor telah memenuhi persyaratan.

Berdasarkan tabel perbandingan hasil pengujian kandungan DNA babi tahun 2017-2020, dapat dilihat bahwa pada tahun 2020 terjadi penurunan produk yang ditemukan mengandung DNA Babi yaitu menjadi sebesar (6%) dibandingkan tahun 2019 (13%). Sedangkan, hasil pengujian tahun 2020 memiliki kemiripan dengan hasil pengujian tahun 2018.

(41)

`

Gambar 3.10 Hasil Pengujian Kandungan DNA Babi pada Produk Pangan Olahan Tahun 2017–2019

Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (JPH) dan Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2019 tentang Peraturan Pelaksana Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (JPH) mengamanatkan pengawasan terhadap jaminan produk halal. Tugas Pokok dan Fungsi Badan POM yang beririsan dengan Undang-Undang Jaminan Produk Halal dalam hal pengawasan post-market adalah melakukan pengawasan sampling dan pengujian produk (pangan) dan pengawasan kesesuaian antara label yang telah disetujui di pre-market. Direktorat Pengawasan Pangan Risiko Rendah dan Sedang melakukan koordinasi dengan lintas sektor seperti Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Lembaga Pengkaji Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI), Badan Standarisasi Nasional (BSN) dan Pakar dari Lembaga Ilmu dan Penelitian Indonesia (LIPI), Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) khususnya dalam rangka menindaklanjuti dispute terkait hasil uji produk mengandung DNA Babi. Beberapa tindak lanjut telah disepakati antara lain merekomendasikan harmonisasi pengujian DNA Babi, uji bersama dengan Lembaga Pengkaji Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia/Lembaga Pemeriksa Halal (LPPOM MUI/LPH) untuk produk yang telah bersertifikasi atau berbahan baku halal.

3.6 PENGAWASAN LABEL SELAMA BEREDAR

Masyarakat perlu memperoleh informasi yang benar, jelas dan lengkap baik mengenai kuantitas, isi, kualitas maupun hal-hal lain yang diperlukan terkait pangan yang beredar di pasaran. Informasi pada label pangan sangat diperlukan bagi masyarakat agar masing-masing individu secara tepat dapat menentukan pilihan sebelum membeli dan atau mengkonsumsi pangan. Tanpa adanya informasi yang jelas maka kecurangan-kecurangan dapat terjadi. Untuk mengantisipasi hal

89% 96% 87% 94%

11% 4% 13% 6%

2017 2018 2019 2020

Hasil Pengujian Kandungan DNA Babi

MS TMS

(42)

`

24

tersebut, Badan POM melakukan pengawasan label produk pangan sesuai dengan amanat dari Undang-undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan dan Peraturan Pemerintah Nomor 69 tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan.

Pada tahun 2020 pengawasan label pangan dilakukan terhadap 12.319 produk pangan yang terdiri dari 985 produk yang terdaftar sebagai MD/ML dengan rincian sebanyak 919 label (93.30%) MK dan sebanyak 66 label (6,70%) TMK serta 2259 produk yang terdaftar sebagai PIRT dengan rincian Sebanyak 1095 (48, 45%) MK dan sebanyak 1164 label (51,55%) TMK. Dengan TMK pelanggaran terbanyak adalah Tidak mencantumkan Kode Produksi.

Gambar 3.11 Data Pengawasan Label PIRT Tahun 2020 3.7 INTENSIFIKASI PENGAWASAN PANGAN MENJELANG RAMADHAN DAN

IDUL FITRI TAHUN 2020

Dalam rangka melindungi masyarakat dari peredaran produk pangan olahan yang Tidak Memenuhi Ketentuan, khususnya menjelang Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri 2020, BPOM dan melalui seluruh UPT Badan POM di Kab/Kota di seluruh Indonesia melakukan perkuatan pengawasan untuk menjamin pangan aman selama Bulan Ramadhan dan menjelang Idul Fitri Tahun 2020. Perkuatan pengawasan post market tersebut, dilakukan melalui Intensifikasi Pengawasan Pangan Selama Ramadhan dan menjelang Idul Fitri Tahun 2020 yang bertujuan untuk melindungi kesehatan masyarakat dari peredaran produk pangan olahan yang tidak memenuhi ketentuan.

Intensifikasi Pengawasan dilaksanakan serentak diseluruh wilayah Indonesia oleh perwakilan UPT BPOM dengan target pengawasan yaitu:

1. Importir/ Distributor/ Hypermarket yang memiliki track record pelanggaran/

temuan TIE

1095

1164

MEMENUHI KETENTUAN TIDAK MEMENUHI KETENTUAN Jumlah Produk n = 2259

Hasil Pengawasan Label PIRT Tahun 2020

Gambar

Tabel 2. Hasil Intensifikasi Pengawasan Tahun 2020 Pengawasan Kategori MK/MS TMK/TMS  Jumlah  Total Kemasan - 80 0 80 80 Pangan (100%) (0%) (100%) PJAS - 481 121 602 602 (79,90%) (20,10%) (100%) Pangan - 113 7 120 120 fragmen DNA   (94, 17%) (5,83%) (100%)
Tabel  3.  Pelayanan  Publik  Direktorat  Pengawasan  Pangan  Risiko  Rendah  dan  Sedang
Gambar 1.1.Struktur Organisasi Direktorat Pengawasan Pangan    Risiko  Rendah dan Sedang
Gambar 1.3. Peta Strategis BSC Level 2 Direktorat Pengawasan Pangan Risiko  Rendah dan Sedang
+7

Referensi

Dokumen terkait

Isi pada latar belakang meliputi latar belakang penelitian, tinjauan pustaka penelitian sebelumnya, permasalahan pada studi kasus, penggunaan data, hipotesis, metode

c) Palem, penempatan tanaman tertentu pada taman sedemikian rupa dapat menjadi penunjuk arah dan dapat mengarahkan gerak kegiatan, semisal deretan pohon palem raja di

Untuk menunjukkan peubahan persona dan jender digunakan prefiks, sedangkan untuk perubahan pada jumlah digunakan sufiks.dapat disimpulkan bahwa dalam verba Imperfect 3

Pemasaran yang dilakukan Simply Homy Guest House Yogyakarta menggunakan strategi pemasaran bauran pemasaran 4P ( Product, Place, Price and Promotion) marketing mix

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan Model Pembelajaran biologi berbasis Praktikum Virtual untuk membangun karakter bangsa. Karakter bangsa yang diukur meliputi komponen

Bertugas untuk melakukan pembelian barang dan jasa yang sesuai dengan kebutuhan operasional perusahaan, mulai dari bahan baku, spareparts mesin, ATK, dan jasa-jasa dari pihak

perkara pencurian yang dilakukan oleh terdakwa, dikatakan juga bahwa seseorang baru dapat dikatakan terdakwa pencurian apabila telah diperiksa oleh penyidik, jaksa

Gambar 2, Gambar 3 dan Gambar 4 memperlihatkan perbandingan anta- ra produksi aktual, effort aktual, dan rente da- lam pengelolaan ikan karang sebagai ikan de- mersal