7 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu
Marhawati & Alam, (2013) menulis tentang Analisis Pendapatan dan Nilai Tambah Keripik Nangka pada Industri Rumah Tangga Tiara di Kota Palu, nilai tambah keripik nangka merupakan selisih antara nilai produk dan biaya bahan baku.
Agroindustri pengolahan buah nangka dapat meningkatkan nilai tambah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui besarnya penerimaan, pendapatan dan nilai tambah yang diperoleh dari pengolahan buah nangka menjadi keripik pada industri rumah tangga Tiara di Kota Palu. Penelitian ini dilakukan pada Bulan Juni-Agustus tahun 2012. Penentuan sampel ditetapkan secara purposive, karena industri rumah tangga Tiara merupakan proses produksi secara kontinyu dan produksinya besar.
Responden sebanyak 4 orang, yaitu 1 orang dari pimpinan dan 3 orang tenaga kerja.
Jenis data yang digunakan adalah data primer diperoleh dengan wawancara dan data sekunder dari instansi terkait. Data yang terkumpul selanjutnya diolah dengan analisis pendapatan dan analisis nilai tambah. Hasil penelitian menunjukan bahwa penerimaan industri rumah tangga Tiara dalam memproduksi keripik nangka selama bulan Juli tahun 2012 sebesar Rp. 58.500.000; pendapatan sebesar Rp.
36.307.614,25 dan nilai tambah sebesar Rp. 33.169/kg.
Pangemanan & Pakasi (2017) menjelaskan mengenai Analisis Nilai Tambah Buah Pisang Menjadi Keripik Pisang Pada Industri Rumah Tanggan di Desa Dimembe Kecamatan Dimembe. Rata-rata biaya bahan baku sebesar Rp
300.000. Biaya terendah yang dikeluarkan untuk pembelian garam sebesar Rp 5.000. Jumlah bahan baku penolong yang dikeluarkan sebesar Rp 275.500. Total biaya untuk pengolahan keripik pisang sebesar Rp 575.500. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Usaha Agroindustri Pengolahan Keripik Pisang memberikan keuntungan yang diterima adalah sebesar Rp 5.313.500 per bulan atau 23 kali produksi.
Nilai tambah yang dinikmati pemilik dari agroindustri sebesar Rp 2.404/kg dari bahan baku yang dimanfaatkan. Nilai tambah ini merupakan keuntungan yang diperoleh agroindustri keripik pisang dalam 1 kilogram penggunaan bahan baku.
Laeliyah, (2018) menjelaskan mengenai Analisis Nilai Tambah Keripik Nangka pada Agroindustri UD Dua Dewi di Kabupaten Jember. Analisis nilai tambah bermanfaat untuk mengetahui tambahan yang diperoleh dari jumlah kilogram bahan baku nangka untuk diolah menjadi keripik nangka dalam satu kali proses produksi perhari. Perhitungan ditunjukan oleh tabel 2 berikut :
Tabel 2. Analisis Nilai Tambah Keripik Nangka UD Dua Dewi di Kabupaten Jember
No Analisis Nilai Tambah Satuan Formula Nilai 1. Output (keripik nangka) Kg/hari 1 5
2. Input bahan baku 2
Nangka (100%) Kg /hari 75
3. Input tenaga kerja Jam/hari 3
Pengupasan 16
Penggorengan 4
Pengemasan 4
Total Input Tenaga Kerja 24
4. Faktor konversi (4)=(1)/(2) 0,07 5. Kofisien tenaga kerja Jam/kg (5)=(3)/(2) 0,32 6. Harga output (keripik nangka) Rp/kg 6 130,000 7. Upah tenaga kerja Rp/jam 7 3.958,3 Penerimaan dan keuntungan (Rp/Kg nangka )
8. Nilai input bahan baku 8
Biaya buah nangka Rp/kg 3500
9. Input lainya 9
Biaya bahan tambahan Rp 400
(minyak goreng)
Biaya bahan bakar Rp 340
Biaya pengemasan Rp 166,67
Biaya penunjang (listrik) Rp 222,22
Biaya penyusutan alat Rp 936,95
Total input lain Rp 2.065,84
10. Nilai output Rp/kg (10)=(4)x(6) 8.666,67 11. Nilai tambah Rp/kg (11a)=(10)-(8)-(9) 3100,83
Rasio nilai tambah % (11b)=(11a)/(10)x100 35,78 12. Pendapatan tenaga kerja Rp/kg (12a)=(5)x(7) 1266,67
Pangsa tenaga kerja % (12b)=(12a)/(11a)x100 40,85 13. Keuntungan Rp/kg (13a)=(11a)-(12a) 1834,16 Rasio keuntungan % (13b)=(13a)/(10)x100 21,16 Sumber : Hayami Y, et all. (1987) dalam (Laeliyah, 2018)
Berdasarkan Tabel 2. Dapat diketahui bahwa secara komersial nilai tambah sebesar Rp 3100,83 dengan rasio nilai tambah hitungan persen sebesar Rp 35,78, keuntungan yang diperoleh agroindustri untuk proses pembuatan keripik nangka UD Dua Dewi adalah sebesar Rp 1.834,16/kg dengan rasio keuntungan persen sebesar Rp 21,16. Jadi dengan pengolahan keripik nangka tersebut dapat diperoleh nilai tambah bersih, dimana rata-rata 200 kg bahan baku nangka yang diolah
menjadi 75 kg keripik dalam satu kali produksi diperoleh nilai tambah sebesar Rp 3100,83.
2.2 Kajian Teori 2.2.1 Nangka
Tanaman nangka termasuk tumbuhan tahunan (perennial). Dalam sistematika (taksnomi) tumbuhan, kedudukan tanaman nangka diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom : Plantae ( Tumbuhan )
Sub Kingdom : Tracheobionta ( Tumbuhan berpembuluh ) Super Divisi : Spermatiphyta ( Menghasilkan biji ) Divisi : Magnoliophyta ( Tumbuhan berbunga ) Kelas : Magniliopsida ( berkeping dua / dikotil ) Sub Kelas : Dilleniidae
Ordo : Urticales Famili : Moraceae Genus : Artocarpus
Spesies : Artocarpus heterophyllus
Suku beringin-beringinan (famili moraceae) mempunyai banyak kerabat dekat diantaranya adalah cempedak ( A. Integer (Thunb), Merr = A. Champeden (Lour) Spreng), keluwih (A.altilis (Park) Fosberg = A. Communis (J.R & G Ferst), teureup atau benda (A. Elastica Reinw.ex.BI), tampang atau tiwu landak (A. Glaucus BI), kerteuw (A. Pomiformis T.et B), dan tempunik (A. Rigidus BI). Di antara marga (genus) artocarpus tersebut, tanaman nangka dan cempedak sudah umum
dibudidayakan. Marga lain umumnya tumbuh liar di habitat alami kecuali keluwih yang banyak ditanam di perkebunan (Rukmana, 1998)
Kandungan nutrisi dalam buah nangka per 100 g, bagian yang diperoleh dalam energi 397 kJ (95 kcal), karbohidrat 23,25 g, gula 19,08 g, serat 1,5 g, lemak 0,64 g, protein 1,72 g, vitamin A equiv. 5 μg (1%), beta-karotin 61 μg (1%), lutein dan zeaxanthin157 μg, thiamine (vit. B1 ) 0,105 mg (9%), riboflavin (vit. B2 ) 0,055 mg (5%), niacin (vit. B3 ) 0,92 mg (6%), pantothenic acid (B5 ) 0,235 mg (5%), vitamin B6 0,329 mg (25%), folate (vit. B9 ) 24 μg (6%), vitamin C 13,7 mg (17%), vitamin E 0,34 mg (2%), Ca 24 mg (2%), Zn 0,23 mg (2%), Mg 29 mg (8%), Mn 0,043 mg (2%), P 21 mg (3%), K 448 mg (10%), Na 2 mg (0%), dan Zn 0,13 mg (1%) Dari uraian ini tampak bahwa buah nangka mengandung nutrisi yang cukup lengkap. Nangka mengandung senyawa yang mudah menguap yaitu ethyl isovalerate, 3-methylbutyl acetate, 1-butanol, propyl isovalerate, isobutyl isovalerate, 2-methylbutanol, dan butyl isovalerate. Senyawa-senyawa ini berkontribusi pada rasa manis dan aroma buah (Indriyani & Ihsan, 2015).
Selama ini tanaman nangka hanya ditanam sebagai tanaman pekarangan, jarang ada tanaman yang ditanam secara khusus dalam suatu hamparan. Demikian pula pemeliharaan tanaman yang ada sangat minim dan dapat dikatakan tidak ada.
Sebagai salah satu komoditas hortikultura, buah nangka yang sudah matang memunyai daya simpan yang cukup pendek. Untuk itu perlu adanya inovasi agar buah nangka memunyai nilai tambah yaitu dengan melakukan pengolahan buah menjadi bentuk lain seperti keripik, dodol, dan lain-lain. Selain daging buah yang dapat dikonsumsi, biji nangka dapat direbus dan dimakan sebagai sumber
karbohidrat tambahan. Selain itu buah nangka muda sangat digemari sebagai bahan sayuran di berbagai daerah (Sidhu, 2012).
2.2.2 Keripik Nangka
Keripik nangka merupakan salah satu hasil olahan yang dimasak secara khusus menggunakan mesin pengoreng hampa (Vacum Frying). Menggunakan suhu lebih rendah sekitar 50°-60 °C sehingga tidak merusak buah nangka, selain itu aroma dan warnanya tidak berubah banyak dan awet disimpan dalam jangka waktu lama walaupun tanpa menggunakan bahan pengawet tambahan. Nilai gizi dari keripik nangka per 100g dapat dilihat pada tabel 3 berikut :
Tabel 3 Nilai Gizi Dari Keripik Nangka per 100 g
Komposisi Nangka Muda Buah Masak
Air (g) 76.2 - 85.2 72.0 - 94.0
Protein (g) 2.0 - 2.6 1.2 - 1.9
Lemak (g) 0.1 - 0.6 0.1 - 0.4
Karbohidrat (g) 9.4 - 11.5 16.0 - 25.4
Serat (g) 2.6 - 3.6 1.0 - 1.5
Total gula (g) - 20.6
Total mineral (g) 0.9 0.87 - 0.9
Kalsium (g) 30.0 - 73.2 20.0 - 37.0
Magnesium (mg) - 27.0
Fosfor (mg) 20.0 - 57.2 38.0 - 41.0
Kalium (mg) 287 – 323 191- 407
Sodium (mg) 3.0 - 35.0 2.0 - 41.0
Besi (mg) 0.4 - 1.9 0.5 - 1.1
Vitamin A (IU) 30 175 – 540
Tiamin (mg) 0.05 - 0.15 0.03 - 0.09
Riboflavin (mg) 0.05 - 0.2 0.05 - 0.4
Vitamin C (mg) 12.0 - 14.0 7.0 - 10.0
Energi (KJ) 50 – 210 88 – 410
Sumber : Ranasinghe & Maduwanthi,(2019)
Berdasarkan tabel 3 tersebut dapat dilihat nilai gizi buah nangka muda lebih rendah dibandingkan dengan nangka yang sudah diolah menjadi keripik. Proses pembuatan nangka umumnya masih menggunakan cara penggorengan konvensional, dimana produk ini berbentuk irisan tipis dari buah nangka yang
digoreng dengan minyak sehingga menjadi produk kadar air yang rendah. Proses pembuatan keripik nangka dapat dilihat pada Gambar 1 berikut ini :
Bagan 1. Diagram alir proses pembuatan keripik nangka Buah Nangka
Buah Nangka Cacat
Keripik Buah Nangka
Air sisa perendaman
Minyak goreng
± 144 liter
Minyak sisa penggorenga
n Sortasi
Pengupasan dan pemotongan
Perendaman 1 jam
± 1jam Penirisan Air 15 menit
± 15 menit Penggorengan (Frying)
± 1,5 jam dengan suhu 900C Dan tekanan 80 cmgh
Penirisan Minyak (Spinning)
Grading
Pengemasan
1. Bahan baku nangka
Nangka yang umumnya digunakan dalam pembuatan keripik adalah nangka cempedak. Bahan baku yang digunakan kondisinya baik dan tidak terlalu matang, penyeleksian buah nangka harus teliti guna menghasilkan produk yang baik.
2. Pengupasan / pemotongan
Setelah penyeleksian bahan baku selanjutnya kulit nangka dikupas menggunakan pisau stainless tajam agar mempermudah pekerjaan lalu masukan nangka yang telah dikupas kedalam bak berisi air bersih.
3. Penirisan Air
Nangka yang sudah di kupas dimasukan kedalam air untuk menjaga kebersihan bahan baku dan penirisan harus dilakukan dengan benar agar tidak ada kotoran yang menempel pada buah nangka.
4. Penggorengan dan Penirisan Minyak
Penggorengan dilakukan dengan menggunakan vacum friying, kemudian goreng sampai matang, lalu angkat dan tiriskan (dapat menggunakan peniris minyak, supaya keripik tidak mudah bau).
5. Grading
Proses ini untuk mengetahui jenis-jenis buah nangka yang cacat dan berguna mengetahui kualitas buah, ukuran, berat, warna, aroma, tekstur yang akan dilakukan di proses ke pengemasan.
6. Pengemasan
Sebelum dikemas keripik nangka di dinginkan, lalu dimasukan kedalam polytilene dengan ketebalan 0.05 mm. Keripik nangka dengan berat 200 gram
dapat dikemas dalam plastik ukuran 20 x 25 cm dan pada kemasan dicantumkan label nama perusahaan, berat, netto, merk dagang, izin dinas kesehatan (Sucipto, Ardiyanti, 2018).
2.2.3 Biaya
Biaya merupakan sejumlah uang yang dikeluarkan untuk kegiatan operasi perusahaan dalam rangka menghasilkan barang atau jasa. Beban (expenses) adalah penurunan manfaat ekonomi selama suatu periode akuntansi dalam bentuk aktiva atau terjadinya kewajiban yang mengakibatkan penurunan equitas yang tidak menyangkut pembagian kepada penanam modal. Dasarnya yang diperhitungkan dalam jangka pendek adalah biaya tetap (fixed cost), biaya variabel (variable cost) dan biaya semi variabel (semi variabel cost).
1. Biaya tetap (fixed cost) adalah biaya yang jumlah totalnya tetap tidak dipengaruhi oleh perubahan volume kegiatan atau aktifitas sampai dengan tingkat tertentu.
2. Biaya variabel (variabel cost) adalah biaya yang jumlah totalnya akan berubah secara sebanding ( proporsional ) dengan perubahan volume kegiatan
3. Biaya semi variabel (semi variabel cost) adalah biaya yang jumlah totalnya akan berubah sesuai dengan perubahan volume kegiatan akan tetapi sifat perubahannya tidak sebanding (Anwar, 2010).
Biaya cost adalah pengeluaran-pengeluaran atau nilai pengorbanan untuk memperoleh barang atau jasa yang berguna untuk masa yang akan datang, atau mempunyai manfaat melebihi satu periode akuntansi sebgai nilai tambah, jenis- jenis biaya sebagai berikut :
1. Biaya tetap (fixed cost)
Biaya tetap merupakan biaya yang dikeluarkan dalam besaran yang tetapatau stabil. Biaya tetap ini keberadaannya tidak dipengaruhi oleh adanya perubahan jumlah atau aktivitas produksi pada tingkat tertentu, Jadi, biaya ini lebih dipengaruhi oleh sebuah kondisi dalam jangka panjang seperti pajak bumi dan bangunan, asuransi serta gaji karyawan.
2. Biaya variabel (variable cost)
Biaya variabel merupakan biaya yang besarannya berubah-ubah tergantung pada volume kegiatan. Jadi jika volume kegiatan mengalami peningkatan, maka biaya variabel juga akan naik. Hal ini akan berlaku sebaliknya jika volume kegiatan mengalami penurunan. Contoh biaya variabel dalam sebuah perusahaan yaitu bahan bku serta biaya periklanan.
3. Biaya semi variabel (mixed / semivariable cost)
Biaya semivariabel merupakan sebuah pengeluaran yang memiliki elemen biaya tetap maupun variabel di dalamnya. Biaya semivariabel ini akan mengalami perubahan ketika terjadi perubahan volume kegiatan.Akan tetapi, besarnya tidak selalu sebanding dengan perubahan volume. Biaya semi variabel meliputi biaya listrik, biaya air, biaya telepon (Jannah, 2018).
2.2.4 Teori Pendapatan
Pendapatan merupakan selisih antara penerimaan total dengan biaya total Teori ini dapat dicerminkan dalam bentuk imbalan untuk jasa pengelolaan yang menggunakan lahan, tenaga kerja, dan modal yang dimiliki usahatani. Persamaan penerimaan pendapatan usahatani dinyatakan dengan rumus sebagai berikut (Pebriantari, Ade, 2016):
TR = P x Q Keterangan :
π = pendapatan (Rp/musim tanam) TR = total penerimaan (Rp/musim tanam) TC = total biaya (Rp/musim tanam)
Q = produksi yang diperoleh dalam suatu usahatani (Rp) P = harga jual produksi per unit (Rp/kg)
Menurut Soekartawi (1995) dalam Kamal et al, (2016) keuntungan adalah selisih antara penerimaan total dengan biaya-biaya. Biaya-biaya yang dimaksud meliputi biaya tetap ditambah biaya tidak tetap/variabel yang dikeluarkan dalam usaha agroindustri keripik belut. Secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut :
𝜋 = TR –TC Keterangan :
𝜋 = Keuntungan usaha agroindustri keripik nenas dan keripik nangka (Rp/kg)
TR = Total penerimaan usaha agroindustri keripik nenas dan keripik nangka (Rp/kg)
TC = Total biaya usaha agroindustri keripik nenas dan keripik nangka (Rp/kg)
Analisis Break Even Point Atas Dasar Unit Perhitungan break even point atas dasar unit dapat dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
BEP (Q) = FC P/unit – VC/unit Dimana :
BEP (Q) = Jumlah unit/kuantitas produk yang dihasilkan dan dijual FC = Biaya tetap (Rp)
P = Harga jual per unit (Rp/kg) VC = Biaya variabel per unit (Rp) 1.2.5 Teori Nilai Tambah
Analisis Nilai Tambah Menentukan perhitungan terhadap nilai tambah biasanya dilakukan dengan menggunakan metode hayami. Menurut Wahyudi, Sayamar, dan Eliza (2016) dalam Kiptiah, et al (2020), perhitungan menggunakan metode hayami dapat dilakukan dengankeuntungan produksi yang dihasilkan dan output industri serta jasa yang digunakan terhadap produksi dengan pemilik produksi. Komponen dari metode hayami untuk menghasilkan produksi yang baik dapat dilihat dari hasil produksi yang dilakukan, output yang dihasilkan, bahan baku keripik, penjualan hasil keripik singkong, upah karyawan, dan sumbangan yang mempengaruhi hasil produksi keripik. Penentuan hasil perhitungan dari keuntungan keripik ditentukan oleh produksi yang dipasarkan dilihat dari timbal balik usaha yang dilakukan dengan bayaran upah karyawan melalui cara selisih antara output bruto dengan nilai konsumsi sementara. Perhitungan analisis nilai tambah dengan menggunakan metode hayami dapat dilihat sebagai berikut :
Tabel 4. Prosedur Perhitungan Nilai Tambah dengan Metode Hayami
No Variabel Nilai
Output , Input dan Harga
1 Output (kg) (1)
2 Bahan baku (kg) (2)
3 Tenaga kerja langsung (3)
4 Faktor konversi (4) = (1)/(2)
5 Koefisien tenaga kerja langusng (HOK/kg) (5) = (3)/(4) 6 Harga output (Rp/kg) (6)
7 Upah tenaga kerja (Rp) (7)
Penerimaan dan keuntungan per kg
8 Harga bahan baku (kg) (8)
9 Harga input lain (kg) (9)
10 Nilai output (kg) (10) = (4) x (6)
11 a. Nilai tambah (kg) (11a) = (10-(8)-(9) b. Rasio nilai tambah (%) (11b) = (11a)/(10) x100 12 a. Pendapatan tenaga kerja (/kg) (12a) =(5) x (7)
b. Pangsa tenaga kerja (%) (12b) = (12a)/(11a) x 100 13 a. Keuntungan (kg) (13a) = (11a) – (12a)
b. Tingkat keuntungan (%) (13b) = (13a)/(10) x 100 Balas jasa pemilik faktor produksi
14 Margin (14) = (10) – (8)
a. Pendapatan tenaga kerja (%) (14a) = (12a)/(14) x 100 b. Sumbangan input lain (%) (14b) = (9)/(14) x 100 c. Keuntungan perusahaan (%) (14c) = (13a)/(14) x 100 Sumber : (Kiptiah, Nuryati, and Yasir 2020)
Menurut Hayami Y, et all. (1987) dalam(Aninnas, Kusmiati 2018)nilai tambah dapat dilihat dengan tabel metode Hayami sebagai berikut :
Tabel 5. Prosedur Perhitungan Nilai Tambah dengan Metode Hayami
No Variabel Nilai
Output , Input dan Harga 1 Output (kg/satu hari proses produksi (1) 2 Input bahan baku (kg) (2) 3 Tenaga kerja (jam/hari) (3)
4 Faktor konversi (4) = (1)/(2)
5 Koefisien tenaga kerja (jam) (5) = (3)/(2)
6 Harga output (Rp/kg) (6)
7 Upah tenaga kerja (Rp) (7)
Penerimaan dan keuntungan per kg
8 Harga bahan baku (kg) (8)
9 Harga input lain (kg) (9)
10 Nilai output (kg) (10) = (4) x (6) 11 a. Nilai tambah (kg) (11a) = (10-(8)-(9)
b. Rasio nilai tambah (%) (11b) = (11a)/(10) x100 12 a. Pendapatan tenaga kerja (/kg) (12a) =(5) x (7)
b. Pangsa tenaga kerja (%) (12b) = (12a)/(11a) x 100 13 a. Keuntungan (kg) (13a) = (11a) – (12a)
b. Tingkat keuntungan (%) (13b) = (13a)/(10) x 100 Balas jasa pemilik faktor produksi
14 Margin (14) = (10) – (8)
a. Pendapatan tenaga kerja (%) (14a) = (12a)/(14) x 100 b. Sumbangan input lain (%) (14b) = (9)/(14) x 100 c. Keuntungan perusahaan (%) (14c) = (13a)/(14) x 100 Sumber : Hayami Y, et all. (1987) dalam (Aninnas, Kusmiati, 2018)
2.3 Kerangka Pemikiran
Agroindustri adalah perusahaan industri yang memproses hasil pertanian dari bahan nabati (yang berasal dari tanaman) atau hewani (yang dihasilkan oleh hewan) menjadi produk dalam rangka meningkatkan nilai tambahnya. Proses yang digunakan mencakup pengubahan dan pengawetan melalui perlakuan fisik atau kimiawi, penyimpanan, pengemasan dan distribusi. Dalam tujuan menghasilkan produk berupa keripik nangka dilakukan proses produksi dimana didalam proses tersebut terdapat kegiatan pengolahan. Pengolahan merupakan kegiatan mentranformasikan nangka hingga menjadi keripik nangka yang didalamnya dibutuhkan input yaitu bahan baku utama nangka, garam, air, kapur sirih, gula pasir, minyak goreng dan tenaga kerja. Kemudian dari transformasi nangka menjadi keripik nangka tersebut tentu produk akan menghasilkan nilai tambah yang nantinya akan dihitung menggunaka metode Hayami. Nilai tambah pada agroindustri adalah nilai produk dikurangi nilai input. Dengan demikian nilai tambah sama dengan pendapatan usaha atau keuntungan perusahaan ditambah dengan upah tenaga kerja, untuk mendapatkan nilai produk yang lebih besar dari pada nilai input.
Nilai tambah yang didapatkan menjadi penerimaan agroindustri, untuk mengetahui pendapatan bersih yang didapatkan akan dihitung TR-TC dimana TR (total revenue) adalah penerimaan dan TC (total cost) adalah biaya yang dikeluarkan dalam produksi. Biaya produksi meliputi seluruh input dalam proses produksi dimana setiap input memiliki nilai atau harga yang akan dijumlahkan dan didapatkan pada biaya produksi. Pendapatan merupakan hasil pengurangan penerimaan dengan biaya yang dikeluarkan untuk proses produksi. Hasil penelitian
ini diharapkan dapat membantu pelaku industri untuk mengetahui pendapatan serta nilai tambah yang didapatkanya. Berdasarkan kerangka pemikiran pada penelitan ini digambarkan pada bagan berikut :
Bagan 2. Kerangka
Agroindustri keripik nangka
Nangka
Pengolahan
Keripik nangka (output)
Penerimaan
Pendapatan
Nilai tambah
Harga keripik nangka (output)
Biaya Produksi Input :
1. Bahan baku 2. Bahan
tambahan 3. Mesin 4. Tenaga kerja 5. Peralatan
Π = TR - TC
Metode Hayami Harga input