• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERATURAN NOMOR: PER-01/AAIPI/DPN/2021 TENTANG STANDAR AUDIT INTERN PEMERINTAH INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PERATURAN NOMOR: PER-01/AAIPI/DPN/2021 TENTANG STANDAR AUDIT INTERN PEMERINTAH INDONESIA"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

I. Latar Belakang dan Tujuan PER-01/AAIPI/DPN/2021

PERATURAN NOMOR: PER-01/AAIPI/DPN/2021 tentang Standar Audit Intern Pemerintah Indonesia (SAIPI) dikeluarkan oleh Dewan Pengurus Nasional Asosiasi Auditor Intern Pemerintah Indonesia (AAIPI). Peraturan ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk menjaga mutu hasil pengawasan intern pemerintah. Hal ini sejalan dengan poin ‘a’ dalam bagian ‘Menimbang’, yang menyatakan "bahwa dalam rangka menjaga mutu hasil pengawasan intern AAIPI menerbitkan Standar;". Tujuan utama peraturan ini, sebagaimana tertuang dalam Pasal 2, adalah untuk memberikan panduan dalam pemenuhan unsur-unsur yang diwajibkan dalam Kerangka Praktik Profesional Pengawasan Intern Pemerintah (KP3IP). Lebih lanjut, peraturan ini bertujuan untuk menetapkan ukuran mutu minimal dalam melaksanakan dan meningkatkan layanan pengawasan internal, menjadi dasar evaluasi kinerja pengawasan internal, dan mendorong peningkatan proses dan operasional organisasi. Keempat tujuan ini saling berkaitan dan menekankan pentingnya SAIPI dalam meningkatkan efektivitas dan efisiensi pemerintahan. Dengan adanya standar yang jelas, diharapkan kualitas audit intern pemerintah dapat ditingkatkan, sehingga dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap tata kelola pemerintahan yang baik dan akuntabel. Peraturan ini juga merujuk pada Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah sebagai landasan hukumnya, menunjukkan komitmen untuk mengintegrasikan SAIPI dengan sistem pengendalian intern yang lebih luas.

II. Ruang Lingkup dan Jenis Standar SAIPI

Pasal 3 menjelaskan ruang lingkup dan jenis standar yang tercakup dalam PER-01/AAIPI/DPN/2021. Standar ini mencakup prinsip dan persyaratan wajib (mandatory) yang terdiri dari pernyataan persyaratan pokok, interpretasi, dan implementasi. "Standar mencakup serangkaian prinsip dan persyaratan wajib (mandatory) yang terdiri dari: a. Pernyataan persyaratan pokok, yang berisi persyaratan dasar praktik profesional Pengawasan Intern dan pedoman evaluasi efektivitas kinerja pada tingkatan organisasi dan individual; b. Interpretasi, yang menjelaskan lebih lanjut istilah dan konsep yang digunakan dalam Standar; dan c. Implementasi, yang menjelaskan penerapan standar untuk kegiatan asurans dan konsultansi." Struktur ini memastikan pemahaman yang komprehensif dan penerapan yang konsisten. SAIPI dibagi menjadi dua kelompok utama: Standar Atribut dan Standar Kinerja. Standar Atribut (Pasal 3 ayat (3)) mengatur atribut organisasi dan individu yang melaksanakan pengawasan internal, menekankan pentingnya kompetensi dan integritas para auditor. Sementara itu, Standar Kinerja (Pasal 3 ayat (4)) mengatur sifat pengawasan internal dan menetapkan kriteria mutu untuk mengukur kinerja jasa pengawasan internal, memastikan kualitas hasil audit. Pembagian ini memberikan kerangka kerja yang sistematis untuk menilai baik aspek kualitatif maupun kuantitatif dari pengawasan internal.

III. Contoh Standar Atribut: Independensi dan Objektivitas

Bagian Standar Atribut (halaman 4-6) memberikan contoh konkret bagaimana standar tersebut diterapkan. Salah satu contoh yang penting adalah Standar 1100 tentang Independensi dan Objektivitas. "Aktivitas Pengawasan Intern harus independen dan auditor harus objektif dalam melaksanakan tugasnya." Interpretasi lebih lanjut menjelaskan bahwa independensi berarti bebas dari situasi yang dapat mengancam kemampuan APIP untuk melaksanakan tugasnya secara objektif, sementara objektivitas adalah sikap mental tidak memihak. Standar ini juga membahas bagaimana ancaman terhadap independensi dan objektivitas harus dikelola pada berbagai tingkat (individu, penugasan, fungsional, dan organisasi). Lebih lanjut, Standar 1110 menekankan pentingnya laporan langsung Pimpinan APIP kepada Pimpinan K/L/D dan dukungan pimpinan atas berbagai hal seperti persetujuan piagam pengawasan internal, rencana pengawasan, dan anggaran. "Independensi APIP secara efektif dicapai ketika Pimpinan APIP dapat melaporkan langsung kepada Pimpinan K/L/D dan memperoleh dukungan dari Pimpinan K/L/D." Pernyataan ini sangat penting karena memastikan bahwa APIP dapat menjalankan fungsinya tanpa tekanan dari pihak lain. Contoh-contoh standar atribut lainnya (misalnya, 1130 tentang pelemahan independensi atau objektivitas) juga memberikan detail tentang bagaimana potensi konflik kepentingan harus diidentifikasi dan dikelola, menunjukkan komitmen terhadap transparansi dan akuntabilitas.

IV. Nilai dan Penerapan Praktis SAIPI

PER-01/AAIPI/DPN/2021 memiliki nilai dan penerapan praktis yang signifikan bagi peningkatan kualitas pengawasan intern di pemerintahan Indonesia. Dengan menyediakan standar yang komprehensif dan terstruktur, peraturan ini memberikan kerangka kerja yang jelas bagi APIP untuk melaksanakan tugasnya. Penerapan SAIPI dapat meningkatkan kualitas audit, mengurangi risiko penyimpangan, dan meningkatkan efisiensi dan efektivitas penggunaan anggaran negara. Pasal 4 tentang penyempurnaan dan evaluasi standar secara periodik, sekurang-kurangnya 5 tahun sekali, menunjukkan komitmen untuk menjaga SAIPI tetap relevan dan adaptif terhadap perubahan lingkungan dan kebutuhan. Namun, keberhasilan implementasi SAIPI bergantung pada komitmen dari berbagai pihak, termasuk pimpinan K/L/D, Komite Audit, dan para auditor itu sendiri. Pelatihan dan pengembangan kapasitas bagi para auditor juga menjadi faktor penting untuk memastikan pemahaman dan penerapan standar yang efektif. Meskipun peraturan ini memberikan kerangka kerja yang kuat, keberhasilan implementasinya membutuhkan komitmen yang berkelanjutan dan kolaborasi yang erat antar stakeholders untuk memastikan tata kelola pemerintahan yang baik dan akuntabel. Penerapan yang konsisten dari standar ini dapat meningkatkan kepercayaan publik terhadap transparansi dan akuntabilitas pemerintah.

Referensi

Dokumen terkait

Evaluasi dilaksanakan terhadap kegiatan unit kerja yang telah dilakukan penilaian risiko dan mempunyai rancangan pengendalian yang tercantum dalam Rencana Tindak

Auditor adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Kementerian Perumahan Rakyat yang mempunyai jabatan fungsional auditor dan/pihak lain yang diberi tugas, wewenang,

Keterkaitan antara tujuan pada masing-masing unit kerja (organisasi) dengan tingkat penilaian risiko disajikan pada Gambar 3.6. Tujuan dari tahap penetapan

Dalam rangka melaksanakan ketentuan pasal 16B ayat (1) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang pajak pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas

Status, peringkat, dan nilai program studi untuk program pendidikan sarjana sebagaimana tercantum pada Lampiran I Keputusan ini, ditetapkan sebagai hasil penilaian

(6) Angka Kredit sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dinilai dan ditetapkan dari tugas jabatan dengan mempertimbangkan pengalaman dalam pelaksanaan tugas di bidang Kurasi

“konteks/ tujuan”. Dalam tahap ini akan ditetapkan tujuan-tujuan pada tingkat strategis Pemerintah Provinsi, tingkat strategis Perangkat Daerah, dan tingkat

Sehubungan dengan hal tersebut dan untuk memenuhi ketentuan Undang-undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak perlu ditetapkan tarif atas jenis Penerimaan