EFEKTIFITAS PEMBERIAN BEBERAPA JENIS MIKORIZA TERHADAP OSMOREGULASI TANAMAN KARET (Hevea brasiliensis Muell Arq) PADA LAHAN DENGAN CEKAMAN
KEKERINGAN YANG TELAH DIBERI BAHAN ORGANIK DI DESA AEK GODANG, KECAMATAN HULU SIHAPAS, KABUPATEN PADANG LAWAS UTARA
SKRIPSI
OLEH:
AMIR MAHMUD MANURUNG 110301159
AET - ILMU TANAH
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2016
EFEKTIFITAS PEMBERIAN BEBERAPA JENIS MIKORIZA TERHADAP OSMOREGULASI TANAMAN KARET (Hevea brasiliensis Muell Arq) PADA LAHAN DENGAN CEKAMAN
KEKERINGAN YANG TELAH DIBERI BAHAN ORGANIK DI DESA AEK GODANG, KECAMATAN HULU SIHAPAS, KABUPATEN PADANG LAWAS UTARA
SKRIPSI
OLEH:
AMIR MAHMUD MANURUNG 110301159
AET - ILMU TANAH
Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2016
Judul Penelitian : Efektifitas pemberian beberapa jenis mikoriza terhadap osmoregulasi tanaman Karet (Hevea brasiliensis Muell Arq) pada lahan dengan cekaman kekeringan yang telah diberi bahan organik di desa Aek Godang, Kecamatan Hulu Sihapas, Kabupaten Padang Lawas Utara
Nama : Amir Mahmud Manurung
NIM : 110301159
Program Studi : Agroekoteknologi
Minat : Ilmu Tanah
Disetujui oleh Komisi Pembimbing
Prof. Dr. Ir. Asmarlaili S, MS, DAA. Ir. Hardy Guchi, MP
Ketua Anggota
Mengetahui.
Prof. Dr. Ir. T. Sabrina. M.Sc Ketua Program Studi Agroekoteknologi
ABSTRAK
AMIR MAHMUD MANURUNG. “Efektifitas Pemberian Beberapa Jenis Mikoriza Terhadap Osmoregulasi Tanaman Karet Pada Lahan Dengan Cekaman Kekeringan Yang Telah Diberi Bahan Organik Di Desa Aek Godang, Kecamatan Hulu Sihapas, Kabupaten Padang Lawas Utara . Di bawah bimbingan Asmarlaili Sahar dan Hardy Guchi.
Karet (Hevea brasiliensis Muell Arq) merupakan salah satu komoditas perkebunan unggulan yang memiliki potensi yang sangat besar di Indonesia.
Pengembangan karet berpusat pada daerah dengan curah hujan 2500-4000 mm/tahun. Pada daearah tersebut karet banyak dihadapkan pada masalah persaingan lahan dan banyaknya serangan penyakit sehingga perlu memaksimalkan potensi daerah bercurah hujan rendah. Namun daerah tersebut juga memiliki masalahnya tersendiri terutama ketersediaan air, Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan pemberian Mikoriza dan bahan organik untuk meningkatkan kemampuan tanaman menghindari kekeringan. Penelitian ini dilaksanakan di perkebunan milik warga di Desa Aek Godang, Kecamatan Hulu Sihapas, Kabupaten Padang Lawas Utara, Sumatera Utara, pada bulan Maret-April 2016, bertujuan untuk menguji pengaruh pemberian mikoriza terhadap Osmoregulasi bibit karet klon PB260 pada lahan dengan cekaman kekeringan yang telah diberi bahan organik. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Non-faktorial dengan perlakuan mikoriza dengan simbol M yang terdiri dari 3 taraf; M0= tanpa mikoriza, M1= Acaulospora 100g/tanaman, M2= Glomus+Acaulospora (1:1)100g/tanaman, dengan setiap taraf perlakuan terdapat 10 Ulangan. Variabel yang diamati terdiri atas potensial air daun, tekanan osmosis, dan tekanan turgor. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian mikoriza memberikan pengaruh nyata terhadap peningkatkan potensial air daun namun tidak memberikan pengaruh nyata terhadap peningkatan tekanan turgor tanaman karet.
Kata Kunci : karet, mikoriza, bahan organik.
ABSTRACT
AMIR MAHMUD MANURUNG. “The Effectiveness of giving some type of Mycorrhizae toward Osmoregulation Rubber Plant In the Land with Drought Stress that has given an Organic Matter In Aek Godang village, Sihapas Hulu, North Padang Lawas”.
Rubber (Hevea brasiliensis Muell Arg) is one of the superior plantation commodities that has a huge potential in Indonesia. Rubber development is centered on the areas with rainfall 2500-4000 mm / year. In that area the rubber faces a lot of land competition issues and also the disease that need to maximize the potential of the low annual rainfall area. But that area also has its own problems , especially the availability of water, One of the effort that can be done to solve that problem is by giving Mycorrhiza and organic matter to improve the ability of plants to avoid water stress. This research was conducted on citizen plantations in Aek Godang village, Sihapas Hulu, North Padang Lawas , North Sumatra, on March-April 2016, aimed to test the influence of giving mycorrhiza toward Osmoregulation PB260 clone rubber seedlings on lands with drought stress that has given an organic matter. This research using random sampling in non-factorial, with mycorrhiza treatment with M symbol that consists of 3 levels ; M0 = without mycorrhiza, M1 = Acaulospora 100g / plant, M2 = Glomus + Acaulospora (1: 1) 100g / plant, with each level of treatment has 10 reiteration.
The Variables observed were consist of leaf water potential, osmotic pressure and turgor pressure. The results showed that the distribution of mycorrhiza has a significant effect on the improvement of leaf water potential, but it has no a significant effect on the improvement of turgor pressure of rubber plant.
Keyword : rubber, mycorrhiza, organic matter.
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Medan pada tanggal 27 Maret 1994 dari ayah M. Safii Manurung dan Ibu Pariem. Penulis merupakan putra pertama dari tiga
bersaudara.
Tahun 2011 penulis lulus dari SMA Swasta Dharma Pancasila Medan dan pada tahun yang sama masuk ke Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara melalui jalur ujian tertulis Seleksi Masuk Nasional Perguruan Tinggi Negeri.
Penulis memilih Program Studi Agroekoteknologi minat Ilmu Tanah.
Penulis melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di PT. Sarana Tetap Perkasa di Kecamatan Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan proposal ini.Adapun judul dari proposal ini adalah “Efektifitas Pemberian Beberapa Jenis Mikoriza Terhadap Osmoregulasi Tanaman Karet Pada Lahan dengan Cekaman Kekeringan yang Telah diberi Bahan Organik Di Desa Aek Godang, Kecamatan Hulu Sihapas, Kabupaten Padang Lawas Utara”. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk dapat memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Prof. Dr. Ir. Asmarlaili S, MS, DAA.selaku ketua komisi pembimbing dan Bapak Ir. Hardy Guchi, MP selaku anggota komisi pembimbing yang telah membimbing membantu dalam menyelesaikan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa penyelesaian skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun demi kesempurnaan skripsi ini.Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.
Medan, Oktober 2016
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
RIWAYAT HIDUP ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL ... vi
DAFTAR LAMPIRAN ... vii
PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1
Tujuan Penelitian ... 4
Hipotesis Penelitian ... 4
Kegunaan Penelitian ... 4
TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Karet ... 5
Syarat Tumbuh Tanaman Karet ... 6
Iklim ... 6
Tanah ... 7
Kondisi Umum Wilayah Penelitian ... 7
Kondisi Daerah dengan Cekaman Kekeringan ... 7
Pengaruh Cekaman Kekeringan Terhadap Tanaman ... 8
Osmoregulasi Pada Tanaman Karet ... 9
Cendawan Mikoriza Arbuskular (CMA) ... 11
Peran KomposTandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) ... 13
BAHAN DAN METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian ... 15
Bahan dan Alat Penelitian ... 15
Metode Penelitian ... 15
PELAKSANAAN PENELITIAN Perbanyakan Mikoriza ... 17
Persiapan Pembibitan dan Pemberian Perlakuan ... 17
Persiapan Lahan ... 18
Pemancangan dan Pembuatan Lubang Tanam ... 18
Penanaman Bibit Karet ... 18
Pemeliharaan Tanaman ... 18
Penyiangan ... 19
Pengendalian Hama dan Penyakit ... 19
Parameter Pengamatan ... 19
Potensial Air Daun (ᴪ) ... 20
Tekanan Osmotik (π) ... 20
Tekanan Turgor (MPa) ... 20
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil ... 21
Potensial Air Daun (ᴪ) ... 21
Tekanan Osmotik (π) ... 21
Tekanan Turgor (MPa) ... 22
Pembahasan ... 23
KESIMPULAN DAN SARAN ... 27
DAFTAR PUSTAKA ... 28
LAMPIRAN ... 31
DAFTAR TABEL
No Judul Hlm
1. Nilai rataan potensial air daun tanaman karet pada lahan dengan cekaman
kekeringan yang telah diberi bahan organik ... 21 2. Nilai rataan tekanan osmosis daun tanaman karet pada lahan dengan cekaman
kekeringan yang telah diberi bahan organik ... 21 3. Nilai rataan tekanan turgor daun tanaman karet pada lahan dengan cekaman
kekeringan yang telah diberi bahan organik ... 22
DAFTAR LAMPIRAN
No Judul Hlm
1. Bagan Percobaan ... 31
2. Deskripsi Tanaman Karet Klon PB260 ... 32
3. Hasil Analisis Potensial Air Daun Tanaman Karet ... 33
4. Daftar Analisis Sidik Ragam Potensial Air Daun Tanaman Karet ... 33
5. Hasil Analisis Tekanan Osmosis Daun Tanaman Karet ... 33
6. Daftar Analisis Sidik Ragam Tekanan Osmosis Daun Tanaman Karet ... 33
7. Nilai Tekanan Turgor Daun Tanaman Karet ... 34
8. Daftar Analisis Sidik Ragam Tekanan Turgor Daun Tanaman Karet ... 34
9. Data Curah Hjan Bulanan 10 Tahun Terakhir (mm) ... 35
10. Data Kelembapan Udara Bulanan 10 Tahun Terakhir (%) ... 35
PENDAHULUAN Latar Belakang
Karet termasuk salah satu komoditas pekebunan unggulan di Indonesia.
Karet merupakan komoditi ekspor yang mampu memberikan konstribusi di dalam upaya peningkatan devisa Indonesia. Pendapatan devisa dari komoditi ini pada tahun 2004 mencapai US$ 2.25 milyar, yang merupakan 5% dari pendapatan Negara (Anwar, 2006). Menurut Ditjenbun (2013) pada tahun 2012 areal penanaman karet di Indonesia merupakan yang terluas di dunia yaitu mencapai 3,48 juta Ha, yang meliputi 85 % di antaranya perkebunan rakyat, selebihnya, 7 % merupakan perkebunan besar negara dan 8 % perkebunan besar swasta dengan produksi karet alam mencapai 3,04 juta ton tetapi produktivitas nasional hanya 1.080 Kg/Ha/Tahun.
Selama ini pengembangan komoditi karet banyak berpusat di daerah yang memiliki iklim sedang sampai basah dengan curah hujan tahunan berkisar antara 2500-4000 mm(Anwar, 2006). Pada daerah tersebut tanaman karet dihadapkan pada masalah persaingan penggunaan lahan,adanya persaingan penggunaan lahan yang semakin ketat, baik dengan tanaman perkebunan maupun tanaman pangan menyebabkan pengembangan tanaman karet semakin tertekan. Ini terbukti dengan berkurangnya lahan karet karena di konversi dengan kelapa sawit. Selain itu serangan penyakit gugur daun (Colletotrichum gloeosporioides) dan jamur akar putih (Rigidoporus lignosus)umumnya sangat tinggi, terutama dengan curah hujan lebih dari 3000 mm/thn yang menyebabkan produksi karet menurun (Karyudi et al., 2004).
Untuk mengurangi masalah penanaman karet yang disebabkan persaingan lahan antar komoditas serta tingginya resiko serangan penyakit gugur daun serta jamur akar putih pada daerah basah dapat ditempuh dengan memaksimalkan potensi daerah-daerah yang memiliki curah hujan rendah untuk dijadikan lahan pertananaman karet. Namun pada daerah kering ketersediaan air menjadi faktor pembatas utama yang menyebabkan terhambatnya pertumbuhan serta produktivitas tanaman. Hal ini dikarenakan kekeringan mengakibatkan berkurangnya laju fotosintesis serta terbatasnya perkembangan akar, sehingga mengganggu penyerapan unsur hara oleh akar tanaman (Pangaribuan, 2001).
Selain itu lahan kering dihadapkan dengan sifat fisik dan kimia tanah yang kurang baik, solum dangkal, curah hujan rendah, dan distribusi hujan tidak merata sehingga ketersediaan air merupakan masalah utama (Karyudi et al., 2004).
Masalah-masalah yang terjadi pada daerah kering tersebut dapat diatasi melalui upaya penambahan input dari luar yang membantu meningkatkan kemampuan tanaman menghindari kekeringan tersebut. Salah satu diantaranya adalah upaya pemanfaatanCendawan Mikoriza dan Pemberian bahan organik berupa kompos Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS).
Mikoriza dilaporkan mampu bersimbiosa dengan akar tanaman karet , asosiasi mikoriza dengan akar tanaman inang memungkinkan tanaman memperoleh air dan hara dalam kondisi tanah kering marginal.Hasil penelitian Hanafiah et al.(2014) mengungkapkan bahwa pemberian mikoriza jenis glomus pada tanaman karet dalam kondisi cekaman kekeringan mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman dan potensial air tanaman karet yang ditanam pada 60%
kapasitas lapang.
Namun pada lahan kering perkembangan mikoriza akan terhambat karena umumnya lahan kering memiliki kandungan bahan organik rendah yang merupakan sumber energi bagi perkembanganmikroorganisme. Oleh sebab itu perlu ditambahkan bahan organik berupa kompos Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) sebagai sumber bahan organik untuk mendukung meningkatkan pertumbuhan dan aktifitas mikoriza.
Hanafiahet al. (2015) mengungkapkan bahwa Pemberian kompos TKKS300 g/tanaman dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman karet pada kondisi cekaman kekeringan dan tidak berbeda nyata pada perlakuan TKKS 900 g/tanaman meskipun pada dosis ini menujukkan hasil yang tertinggi. Kombinasi kompos TKKS denganmikoriza Acaulosporamerupakan perlakuan yang tahan pada cekaman kekeringan yang ditandai tinginya tekanan potensial daun dan tekanan turgor tanaman.
Salah satu daerah di Sumatera Utara yang memiliki curah hujan cukup rendah adalah desa Aek Godang, Kecamatan Hulu Sihapas, Kabupaten Padang Lawas Utara.
Menurut Stasiun Klimatologi Sampali Medan, Aek godang memiliki curah hujan 1980 mm/tahundan curah hujan bulanan 169 mm dengan penumpukan intensitas curah hujan tertinggi terjadi pada bulan september - desember. Jumlah curah hujan tersebut berada dibawah curah hujan optimal yang dibutuhkan tanaman karet yaitu sekitar 2500-4000 mm/tahun (Anwar, 2006) terutama jika melihat intesitas curah hujan pada fase awal tahun.
Berdasarkan uraian diatas dirasa perlu diadakan percobaan untuk mengetahui pengaruh pemberianmikorizapada lahan dengan cekaman kekeringan di desa Aek Godang Kecamatan Hulu Sihapas, Kabupaten Padang Lawas Utarayang
diharapkan berdampak pada pemanfaatan daerahdengan curah hujan minim lainnya yang semakin luas.
Tujuan Penelitian
Untuk menguji pengaruh pemberian mikoriza terhadap Osmoregulasi bibitkaret klon PB260 pada lahan dengan cekaman kekeringan yang telah diberi bahan organik.
Hipotesis Penelitian
Pemberian mikoriza dapat meningkatkan potensial air daun dan tekanan turgor bibit karet klon PB260 pada lahan dengan cekaman kekeringan yang telah diberi bahan organik sebagai respon ketahanan tanaman terhadap cekaman kekeringan.
Kegunaan Penelitian
Penelitian ini berguna untuk mendapatkan data penyusunan skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara dan sebagai informasi bagi petani/perkebunan karet mengenai pemanfaatan lahan dengan cekaman kekeringan untuk dikembangkan menjadi pertanaman karet.
TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Karet
Klasifikasi tanaman karet adalah sebagai berikut Divisi : Spermatophyta, Subdivisi : Angiospermae, Kelas : Dicotyledoneae, Ordo : Euphorbiales, Famili:
Euphorbiaceae, Genus: Hevea, Spesies : Hevea brassiliensis Muell. Arg.
(Setiawan dan Andoko, 2005).
Tanaman karet berupa pohon, ketinggiannya dapat mencapai 30-40 meter.
Sistem perakarannya padat/kompak, akar tunggangnya dapat menghunjam tanah hingga kedalaman 1-2 meter, sedangkan akar lateralnya dapat menyebar sejauh 10 meter (Syamsulbahri, 1996).
Batang tanaman karet biasanya tumbuh lurus dan memiliki percabangan yang tinggi di atas.Tinggi pohon dewasa mencapai 15-25 m. Di beberapa kebun karet ada kecondongan arah tumbuh tanaman agak miring ke arah utara. Batang tanaman ini mengandung getah yang dikenal dengan nama lateks (Setiawan dan Andoko, 2005).
Daun karet berselang-seling, helai daunnya panjang dan terdiri dari 3 anak daun yang licin berkilat. Petiola tipis, hijau, berpanjang 3,5-30 cm. Helaian anak daun berhelai pendek dan berbentuk lonjong-oblong atau oblong-obovate, pangkal sempit dan tegang, ujung runcing, sisi atas daun hijau tua dan sisi bawah agak cerah, panjangnya 5-35 cm dan lebar 2,5-12,5 cm (Sianturi, 2001).
Tanaman karet adalah tanaman berumah satu (monoecus).
Penyerbukannya dapat terjadi dengan penyerbukan sendiri dan penyerbukan silang. Pada satu tangkai bunga yang berbentuk bunga majemuk terdapat bunga betina dan bunga jantan (Setyamidjaja, 1993).
Buah karet dilapisi oleh kulit tipis berwarna hijau dan didalamnya terdapat kulit yang keras dan berkotak. Tiap kotak berisi sebuah biji yang dilapisi tempurung, setelah tua warna kulit buah berubah menjadi keabu-abuan dan kemudianmengering. Pada waktunya pecah dan jatuh, bijinya tercampak lepas dari kotaknya. Tiap buah tersusun atas 2-4 kotak biji. Pada umumnya berisi 3 kotak biji dimana setiap kotak terdapat satu biji. Tanaman karet mulai menghasilkan buah pada umur lima tahun dan akan semakin banya setiap pertambahan umur tanaman (Budiman, 2012).
Bijikaretbesar, bulatbersegi 4, tertekanpadasatuatauduasisinya, berkilat, berwarnacokelatmudadengannoda – nodacokelattua, panjang 2-3,5 cm danlebar 1,5-3 cm setra tebal 1,5-2,5 cm (Sianturi, 2001).
Syarat Tumbuh Tanaman Karet Iklim
Pada dasarnya tanaman karet tumbuh optimal pada dataran rendah dengan ketinggian 200 m dari permukaan laut. Ketinggian > 600 m dari permukaan laut tidak cocok untuk tumbuh tanaman karet. Suhu optimal diperlukan berkisar antara 25oC sampai 35o
Kelembaban nisbi (RH) yang sesuai untuk tanaman karet adalah rata-rata berkisar diantara 75-90 %. Angin yang bertiup kencang dapat mengakibatkan patah batang, cabang atau tumbang. Lama penyinaran dan intensitas cahaya matahari sangat menentukan produktivitas tanaman. Di daerah yang kurang hujan yang menjadi faktor C.Tanaman karet memerlukan curah hujan optimal antara 2.500 mm sampai 4.000 mm/tahun,dengan hari hujan berkisar antara 100 sd. 150 HH/tahun. Namun demikian, jika sering hujan pada pagi hari, produksi akan berkurang(Anwar, 2006).
pembatas adalah kurangnya air, sebaliknya di daerah yang terlalu banyak hujan, cahaya matahari menjadi pembatas (Sianturi, 2001).
Tanah
Sifat-sifat tanah yang cocok untuk tanaman karet pada umumnya antara lain : Solum tanah sampai 100 cm, tidak terdapat batu-batuan dan lapisan cadas, Aerase dan drainase cukupTekstur tanah remah, poreus dan dapat menahan air, Struktur terdiri dari 35% liat dan 30% pasir, Tanah bergambut tidak lebih dari20 cm, Kandungan hara NPK cukup dan tidak kekurangan unsur hara mikro, Kemiringan tanah < 16% dan Permukaan air tanah < 100 cm (Anwar, 2006).
Tanaman karet bukanlah tanaman manja, dapat tumbuh pada tanah-tanah yang mempunyai sifat fisik baik, atau sifat fisiknya dapat diperbaiki. Tanah yang dikehendaki adalah bersolum dalam, jeluk lapisan padas lebih dari 1 m, permukaan air tanah rendah yaitu ± 1m. Sangat toleran terhadap kemasaman tanah, dapat tumbuh pada pH 3,8-3,0, tetapi pada pH yang lebih tinggi sangat menekan pertumbuhan (Sianturi, 2001).
Kondisi Umum Wilayah Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Deasa Aek Godang, Kecamatan Hulu, Sihapas Kabupaten Padang Lawas Utara yang terletak pada 1º20'45"-1º38'39"
Lintang utara dan 99º23'25"-99º23'31" Bujur Timur dengan lokasi lahan percobaan berada pada titik 1,37888º Lintang Utara dan 99,44431º Bujur Timur.
Aek Godang terletak pada ketinggian 285 m diatas permukaan laut dengan luas wilayah mencapai 3,5 km. Memiliki topografi datar sehingga cocok di taanami berbagai jenis tanaman baik tanaman pangan maupun perkebunan (BPS, 2015).
Desa Aek Godang di dominasi oleh jenis tanah Inseptisol dengan Ultisol yang
hanya terdapat dibeberapa tempat. Menurut data BMKG 10 tahun terakhir Aek Godang memiliki curah hujan 1980 mm/tahun dengan penumpukan intensitas curah hujan tertinggi terjadi pada bulan September – Desember dan menurun drastis pada periode Maret-Agustus. Aek godang memiliki suhu harian rata-rata 30 ℃ dengan suhu harian tertinggi mencapai 33℃ dan terendah mencapai 19℃.
Desa Aek Godang menurut klasifikasi Iklim Oldeman termasuk daerah dengan tipe iklim C3 sementara menurut klasifikasi iklim Schemidt – Ferguson memiliki tipe iklim Tipe Byang merupakan daerah basah dengan ciri vegetasi hutan hujan tropika.
Kondisi Daerah dengan Iklim Kering
Kekeringan atau ketidak tersediaan air merupakan faktor pembatas utama pada lahan kering yang menyebabkan rendahnya pertumbuhan dan produktivitas tanaman (Fisher dan Turner, 1978). Rendahnya pertumbuhan dan produktifitas ini disebabkan oleh rendahnya luas permukaan daun untuk berfotosintesis. Tanah kering dibatasi oleh ketersediaan air sehingga tanaman mengalami cekaman kekeringan. Cekaman kekeringan merupakan istilah untuk menyatakan bahwa tanaman mengalami kekurangan air akibat keterbatasan air dari lingkungan media tanam. Cekaman kekeringan pada tanaman disebabkan oleh (1) Ketersediaan air dalam media tidak cukup (2) Laju transpirasi yang berlebihan, atau kombinasi kedua faktor tersebut. Walaupun didalam tanah air cukup tersedia, tanaman bukan tidak mungkin dapat mengalami cekaman. Hal ini terjadi jika kecepatan laju absorbsi tidak dapat mengimbangi kehilangan air melalui transpirasi (Efendy, 2008).
Cekaman kekeringan akan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang mencakup aspek morfologi dan anatomi, fisiologi dan biokimia tanaman. Cekaman kekeringan pada karet dapat menghambat pertumbuhan tinggi, berkurangnya stomata, penghambatan laju transpirasi, penurunan Laju Tumbuh Relatif (LTR), Laju Asimilasi Bersih (LAB), berat kering tajuk dan akar, menghambat pertumbuhan akar dan meningkatnya kandungan asam amino prolina (Nurhayati, 2007).
Pengaruh Cekaman Kekeringan Terhadap Tanaman
Toleransi tanaman terhadap cekaman kekeringan memiliki keragaman yang berbeda. Mekanisme yang dikembangkan oleh masing-masing tanaman tersebut seperti kemampuan tanaman menyelesaikan siklus hidupnya dengan mempercepat munculnya bunga jantan pada jagung sebelum mengalami kekurangan air yang parahadalah mekanisme yang pertama (Sutoro et al., 1999).
Mekanisme kedua, Tanaman menunjukkan toleransi dengan menciptakan potensial air yang tinggi, yaitu kemampuan tanaman tetap menjaga potensial jaringan dengan meningkatkan penyerapan air atau menekan kehilangan air. Pada mekanisme ini tanaman mempunyai kemampuan untuk meningkatkan sistem perakaran, mengatur stomata, mengurangi absorbsi radiasi surya dengan pembentukan lapisan lilin atau bulu rambut yang tebal, dan menurunkan permukaan evapotranspirasi melalui penyempitan daun serta pengurangan luas daun (Aggraeni, 2009).
Mekanisme ketiga yaitu tanaman menunjukkan toleransi dengan pengaturan osmotik sel. Terjadi mekanisme mempertahankan turgor agar tetap berada diatas nol, sehingga potensial jaringan tetap rendah dibandingkan dengan
potensial air eksternalnya sehingga tidak terjadi plasmolisis. Pada mekanisme ini terjadi sintesis dan akumulasi senyawa organik yang dapat menurunkan potensial air dalam sel tanpa membatasi fungsi enzim serta menjaga turgor sel. Beberapa senyawa yang berperan dalam penyesuaian osmotik sel antara lain prolina, glisin,
betain, glutamin, valin, gula, osmotik dan asam absisik (ABA) (Toruanet al.,2004).
Sifat tanaman toleran kekeringan merupakan sifat komplek karena dicerminkan oleh beberapa karakteristik morfofisiologi tanaman. Indikator tanaman toleran kekeringan diantaranya adalah nisbah akar- tajuk, kuatnya daya penetrasi akar, serta perakaran yang panjang, merupakan suatu cara untuk dapat mengefisienkan penggunaan air demi keperluan pertumbuhan tanaman. Varietas toleran kekeringan dapat diperoleh dengan mengevaluasi adaptasi tanaman terhadap kekeringan yaitu memperhatikan perakaran terutama panjang akar (Sutoro et al., 1999).
Osmoregulasi Pada Tanaman Karet
Osmoregulasi merupakan karakter adaptasi yang sangat penting terhadap kondisi kekeringan. Tanaman yang memiliki osmoregulasi tinggi dapat memberikan pertumbuhan dan produksi yang tinggi pada kondisi kekeringan.
Tanaman karet memiliki variasi osmoregulasi yang cukup tinggi.Osmoregulasi disebabkan oleh peningkatan akumulasi solut pada jaringan tanaman. Berdasarkan percobaan yang dilakukan Karyudi(2005) disimpulkan bahwa solut untuk osmoregulasi tanaman karet terutama berasal dari hasil fotosintesis .
Tanaman dengan kapasitas osmoregulasi yang tinggi dilaporkan mampu mempertahankan tekanan turgor pada kondisi kekeringan, yang dianggap sebagai
daya dorong pertumbuhan dan difernsiasi sel. Tanaman yang mempunyai kapasitas osmoregulasi yang tinggi diduga bermanfaat untuk mempertahankan fiksasi karbon dioksida, pembukaan stomata, pertumbuhan daun dan akar pada kondisi kekeringan (Karyudi et al., 2004).
Kehilangan air pada tingkat seluler menyebabkan perubahan konsentrasi senyawa osmotik terlarut, perubahan volume sel dan bentuk membran, perubahan gradien potensial air dan kehilangan turgor. Pada kondisi cekaman kekeringan, stomata daun menutup atau menutup sebagian mengurangi aktivitasnya, sehingga menghambat masuknya CO2, keadaan ini dapat menurunkan tekanan parsial CO2
Cendawan Mikoriza Arbuskular (CMA)
didalam ruang interseluler daun, secara langsung mengurangi aktivitas fotosintesis. Kekurangan air dapat menghambat proses fisiologi yang lain, selain fotosintesis seperti sintesis dinding sel (Mapegau, 2006).
Pada lingkungan alami, hampir 80% akar tanaman membentuk asosiasi mikoriza. Terdapat dua tipe utama mikoriza yang umum ditemukan yaitu:
endomikoriza dan ektomikoriza. Kelompok tumbuhan yang membentuk arbuskula mikoriza antara lain Graminae, Leguminosa, Solanaceae, Liliaceae, Compoceae, tanaman pertanian dan hortikultura (Hanafiah et al., 2009).
Cendawan mikoriza merupakan kelompok fungi tanah yang bersimbiosis dengan berbagai tanaman. Kelompok ini dapat dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu endomikoriza dan ektomikoriza. Fungi mikoriza arbuskular adalah salah satu dari sub kelompok dari endomikoriza yang jauh lebih luas penyebarannya dibandingkan dengan ektomikoriza. Saat ini diketahui ada enam genera fungi mikoriza arbuskular yang bersimbiosis dengan tanaman yaitu :
Acaulospora, Antrophospora, Gigaspora, Glomus, Sclerocystis, dan Scutellospora.
Ektomikoriza dapat bersimbiosis dengan sekurang-kurangnya 19 famili (Damanik et al., 2011).
Akar tanaman yang mempunyaimikoriza dapat menyerap unsurhara dalam bentuk terikat dan yang tidak tersedia bagi tanaman. Hifa eksternal pada mikoriza dapat menyerap unsur fosfatdari dalam tanah, dan segera diubah menjadi senyawa polifosfat.Mikoriza mengeluarkan enzim fosfatase dan asam asam organik, khususnya oxalat, yang dapat membantu membebaskan fosfat.
Peran ini sangat penting mengingat sebagian besar tanah-tanah di Indonesia bersifat asam, dimana fosfat diikat oleh Aldan Fe. Pada tanah-tanah kapur, fosfat diikat oleh Ca sehingga tidak tersedia bagi tanaman.Istianto (1993) mengemukakan bahwa inokulasi mikoriza pada tanaman karet dapat meningkatkan diameter batang, bobot kering bagian atas tanaman, kadar fosfor daun, dan serapan fosfor.
Tanaman yang mempunyai mikoriza cenderung lebih tahan terhadap kekeringan dibandingkan dengantanaman yang tidak mempunyai mikoriza.Sedikitnya terdapat lima manfaat mikoriza bagi perkembangan tanaman yang menjadi inangnya, yaitu meningkatkan absorbsi hara dari dalam tanah, sebagai penghalang biologis terhadap infeksi patogen akar, meningkatkan ketahanan inang terhadap kekeringan, meningkatkan hormon pemacu tumbuh, dan menjamin terselenggaranya siklus biogeokimia.Hasil penelitian Neliyati (2010), diperoleh bahwa pemberian cendawan mikoriza dan frekuensi pemberian air memberikan pengaruh nyata terhadap tinggi bibit, diameter batang, berat kering pupus, berat kering akar, luas daun dan persentase infeksi mikoriza. Terdapat
interaksi antara kedua perlakuan pada variabel luas daun, berat kering akar dan berat kering pupus.
Rusaknya jaringan kortek akibat kekeringan dan matinya akar, tidak permanen pengaruhnya pada akar yang bermikoriza. Setelah periode kekurangan air, akar yang bermikoriza akan cepat kembali normal. Hal ini disebabkan karena hifa jamur mampu menyerap air yang ada pada pori–pori tanah saat akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air. Penyerapan hifa yang sangat luas di dalam tanah menyebabkan jumlah air yang diambil akan meningkat (Dewi, 2007).
Wright dan Uphadhyaya (1998) menyatakan bahwa CMA mengasilkan senyawa glycoprotein glomalin yang sangat berkorelasi dengan peningkatan kemantap anagregat. Glomalin dihasilkan dari sekresi hifaeksternal bersama enzim-enzim dan senyawa polisakarida lainnya.Sekresi senyawa-senyawa poli sakarida, asam organik dan lendir oleh jaringan hifaeksternal mampu mengikat butir-butir primer menjadi agregat yang mantap.
Diketahui juga bahwa Mikoriza dapat mengurangi perkembangan penyakit busuk akar yang disebabkan oleh Phytopthora cinamomidan dapat juga menekan serangan nematoda bengkak akar.Akar tanaman yang terbungkus oleh mikoriza akan mengurangi serangan hama dan penyakit. Infeksi patogen akar akan terhambat, disamping itu mikoriza akan menggunakan semua kelebihan karbohidrat dan eksudat akar lainnya, sehingga tercipta lingkungan yang tidak cocok bagi pertumbuhan patogen (Dewi, 2007).
Peranan KomposTandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS)
TKKS merupakan limbah padat yang dihasilkan pabrik/industri pengolahan minyak kelapa sawit. TKKS yang merupakan 23 % dari tandan buah segar mengandung bahan lignoselulosa sebesar 55-60 % berat kering (Rahmalia et al., 2006).
Kompos TKKS dapat berperan sebagai pengikat butiran primer menjadi butir sekunder tanah dalam pembentukan agregat yang mantap. Keadaan ini besar pengaruhnya pada porositas, penyimpanan dan penyediaan air, aerasi tanah, dan suhu tanah. Kompos juga berperan sebagai sumber energi bagi mikroba tanah sehingga dapat meningatkan aktivitas mikroba tersebut dalam penyediaan hara tanaman. Jadi, penambahan kompos pada bahan pembawa mikoriza, di samping sebagai sumber hara tanaman, sekaligus sebagai sumber energi bagi mikroba (Tian et al., 1997).
Keunggulan kompos TKKS yang lain meliputi: kandungan kalium yang tinggi,tanpa penambahan starter dan bahan kimia, memperkaya unsur hara yang ada di dalam tanah, dan mampu memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi. Selain itu kompos TKKS memiliki beberapa sifat yang menguntungkan antara lain :(1) Memperbaiki struktur tanah; (2) Membantu kelarutan unsur-unsur hara yang diperlukan bagi pertumbuhan tanaman; (3) Bersifat homogeny dan mengurangi risiko sebagai pembawa hama tanaman; (4) Merupakan pupuk yang tidak mudah tercuci oleh air yang meresap ke dalam tanah; dan (5) Dapat diaplikasikan pada sembarang musim (Pasaribu, 2010).
BAHAN DAN METODE Tempat Dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan di perkebunan milik warga di Desa Aek Godang, Kecamatan Hulu Sihapas, Kabupaten Padang Lawas Utara, Provinsi Sumatera Utara.
Bahan Dan Alat
Bahan tanaman yang di gunakan adalah karet klon PB 260 berpayung dua ( berumur ± 4 bulan) berasal dari balai penelitian Sei putih. Inokulum mikoriza yang digunakan diperoleh dari Laboratorium Biologi Tanah, Universitas Sumatera Utara yaitu Glomus danAcaulospora. Kompos TKKS diperoleh dari.
Adapun bahan-bahan untuk pengamatan persentase derajat mikoriza meliputi;
KOH, HCl, gliserin, staining (pewarnaan), aquadest, larutan nitrogen, serta bahan- bahan lain yang mendukung penelitian.
Alat yang digunakan antara lain; ayakan, cangkul, ember, pisau, timbangan, hand sprayer, alat-alat ukur seperti; meteran, kertas, gelas ukur, jangka sorong, alat-alat tulis, alat-alat laboratorium untuk pengamatan persentase infeksi derajat mikoriza dan potensial daun seperti; kaca objek, cover glass, mikroskop, microvoltmeter, Psychrometer Wescor C-30, oven, termos serta peralatan lain yang mendukung penelitian.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok Non-faktorial dengan perlakuan mikoriza dengan simbol M yang terdiri dari 3 taraf yaitu:
M0 = Tanpa mikoriza
M1 = Acaulospora100 g/tananaman
M2 = Glomus + Acaulospora (1:1) 100g/tanaman
Dengan demikian terdapat 3 taraf perlakuan dan setiap taraf perlakuan terdapat 20 ulangan sehingga diperoleh 60 Tanaman.
Jumlah ulangan : 10
Jarak Tanam : 6 x 3 m
Jumlah tanaman seluruhnya : 30 tanaman
Dari hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan sidik ragam berdasarkan model linear sebagai berikut :
Yij =μ +άi + βj + εij I = 1,2,3 j = 1,2,3...20 Dinama :
Yij : Hasil pengamatan perlakuan ke-i dalam ulangan ke-j μ : Nilai tengah perlakuan
ά : Pengaruh ulangan ke-i
β : Pengaruh perlakuan mikoriza ke-j
ε : Galat dari blok ke-i, perlakuan mikoriza ke-j
Jika analisis data nyata, maka dilanjutkan dengan uji beda rataan yaitu uji Duncan dengan taraf 5%(Gomez dan Gomez, 1995).
PELAKSANAAN PENELITIAN Perbanyakan Mikoriza
Perbanyakan mikoriza di laksanakan di Rumah Kasa dan Laboratorium Biologi Tanah Fakultas Pertanian Sumatera Utara dari Agustus - November 2015.
Tanaman inang yang digunakan untuk perbanyakan mikoriza adalah tanaman jagung. Media tanah yang digunakan di sterilkan dengan alat pensteril tanahguna memusnahkan mikroorganisme yang hidup pada media perbanyakan sehingga mengurangi kompetisi antara mikoriza dan mikroorganisme jenis lainnya serta agar tanaman inang tidak terserang hama penyakit. Setelah sterilisasi kemudian media tanam dimasukan kedalam polybag.
Inokulum mikoriza dimasukkan kedalam lubang tanam sebanyak 150 g /polybag. Masing-masing jenis mikoriza dipisahkan polybag G berisi inokulum yang mengandung glomus dan polybag A mengandung inokulum mikoriza Acaulospora. Kemudian jagung ditanam 2 tanaman/polybag. Tanaman jagung disiram setiap hari pada kondisi yang lembab. Tanaman dipanen pada saat berumur 2 bulan dan diamati persentase infeksi mikorizanya. Setelah pengamatan, tanah+akar tanaman jagung dicampur dan digunakan sesuai perlakuan.
Persiapan Pembibitan dan Pemberian Perlakuan
Persiapan pertama yang dilakukan adalah tanah yang sudah diayak dimasukkan kedalam polybag sebanyak 5 kg, kemudian dimasukkan mikoriza sesuai perlakuan di bawah perakaran karet, lalu bibit dimasukkan ditengah lubang tanaman, dan yang terakhir tanah diisi dan dipadatkan. pemadatan tanah dilakukan dengan hati-hati mulai dari bagian pinggir ke arah tengah.
Persiapan Lahan
Lahan dibersihkan dari tanaman gulma berdaun lebar, sempit, pohon- pohon kecil dan sisa-sisa akar tanaman, kemudian tanah diratakan dengan menggunakan cangkul.
Pemancangan dan Pembuatan Lubang Tanam
Setelah lahan dibersihkan, dilakukan pemancangan untuk mengatur jarak tanam tanaman Karet. Jarak tanam yang digunakan adalah 6 x 3 m, Jarak antar baris 6 m diletakkan mengikuti arah utara ke selatan, sedangkan jarak antar tanaman karet dalam satu barisan 3 m dibuat mengikuti arah barat ke timur.
Setelah pemancangan maka dilakukan pembuatan lubang tanam, Lubang digali dengan ukuran 40 x 40 x 60 cm.
Penanaman Bibit Karet
Bibit karet yang telah diberi perlakuan sebelumnya dimasukan kedalam lubang tanam yang telah dibuat. Sebelumnya dimasukan bahan organik sebanyak 1 kg kesetiap lubang tanam. Bibit di letakkan di tengah-tengah lubang, lalu plastik polybag dibuka dengan hati-hati agar struktur tanah di sekitar perakaran tidak rusak dan terganggu.
Pemeliharaan Tanaman Penyiraman
Penyiraman dilakukan setiap hari pada sore hari selama 2 minggu pertama setelah penanaman, setelah itu penyiraman dihentikan dan tanaman Karet dibiarkan bergantung pada keadaan cuaca pada daerah pertanaman tersebut.
Penyiangan
Penyiangan gulma dilakukan secara manual dengan tangan ataupun dengan cangkul. Penyiangan dilakukan jika dianggap perlu sesuai dengan kondisi lapangan.
Pengendalian Hama dan Penyakit
Pengendalian hama dan penyakit dilakukan tergantung pada kondisi lapangan. Bila terjadi serangan hama dan penyakit yang dianggap perlu dikendalikan maka dilakukan penyemprotan dengan pestisida, yang bertujuan untukmembunuh hama dan penyakit yang menyerang tanaman karet.
Pemupukan
Pemupukan dilapangan berupa pemberian pupuk dasar yaitu pupuk majemuk NPK sebanyak 400g/tanaman. Pemberian pupuk ini dilakukan sebanyak dua kali yaitupertama pada saat dua minggu setelah pindah tanam dan yang kedua dilakukan 2 bulan setelah pemupukan pertama. Pupuk diberikan secara tugal disekeliling tanaman.
Parameter Pengamatan Parameter yang diamati adalah:
Potensial Air Daun (ᴪ)
Potensial air daun diukur sesuai dengan metode yang dikembangkan oleh Karyudi (2001). Contoh daun diambil pada bagian tengah helaian daun berukuran 1,2 x 3,4 cm. Pelaksanaan pengambilan sampel dilakukan pada pukul 09:00-10:00 wib. Setelah itu potongan daun diletakkan pada Wescor chamber C-30 dan ditutup rapat. Chamber yang berisi daun tadi direndam dalam waterbath pada suhu konstan 25 0C. Setelah 3 jam, psychrometer dialiri arus listrik selama 30 menit
kemudian thermocouple dibaca dengan microvoltmeter. Potensial air daun dihitung dari thermocouple output dengan mengunakan kurva regresi hasil kalibrasi
Tekanan Osmotik (π)
Pengukuran tekanan osmotik daun dilakukan dengan teknik yang sama dengan pengukuran potensial air daun daun setelah contoh daun dibekukan dalam larutan nitrogen. Pengukuran tekanan osmotik daun dan potensial air dilakukan 3 minggu sebelum panen.
Tekanan Turgor (MPa)
Dihitung berdasarkan metode yang dikembangkan Karyudi dengan persamaan P = ᴪ - π
P = Tekanan Turgor ᴪ = potensial air daun π = tekanan osmotik
HASIL DAN PEMBAHASAN Potensial Air Daun (ψ)
Data hasil pengamatan pada Tabel 1 dan sidik ragam yang dapat dilihat pada Lampiran menunjukkan pemberian mikoriza sangat berpengaruh nyata pada peningkatan potensial air daun tanaman.
Tabel 1.Rata-Rata Potensial Air Daun Tanaman Karet Pada Lahan Dengan Cekaman Kekeringan Yang Telah Diberi Bahan Organik
PERLAKUAN RATAAN NOTASI
Kontrol (M0) 2,79 b
Acaulospora(M1) 3,65 a
Glomus+Acaulospora(M2) 3,83 a
Dari Tabel 1 dapat dilihat nilai rataan potensial air daun tanaman karet tertinggi terdapat pada perlakuan M2 (Glomus+Acaulospora) yakni sebesar 3,83 yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan M1 (Acaulospora) namun sangat berbeda nyata dengan perlakuan M0 (kontrol). Nilai rataan potensial air daun tanaman karet terendah terdapat pada perlakuan M0 (kontrol) yakni sebesar 2,79 yang sangat berbeda nyata dengan perlakuan lainnya.
Tekanan Osmotik Daun
Data hasil pengamatan pada Tabel 2 dan sidik ragam yang dapat dilihat pada Lampiran menunjukkan pemberian mikoriza sangat berpengaruh nyata pada peningkatan tekan osmosis daun tanaman.
Tabel 2.Rata-Rata Tekanan Osmosis Daun Tanaman Karet Pada Lahan Dengan Cekaman Kekeringan Yang Telah Diberi Bahan Organik
PERLAKUAN RATAAN NOTASI
Kontrol (M0) 1,86 b
Acaulospora(M1) 2,57 a
Glomus+Acaulospora(M2) 2,65 a
Dari Tabel 1 dapat dilihat nilai rataan tekan osmosis daun tanaman karet tertinggi terdapat pada perlakuan M2 (Glomus+Acaulospora) yakni sebesar 2,65yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan M1 (Acaulospora) namun sangat berbeda nyata dengan perlakuan M0 (kontrol). Nilai rataan tekanan osmosis daun tanaman karet terendah terdapat pada perlakuan M0 (kontrol) yakni sebesar 1,86 yang sangat berbeda nyata dengan perlakuan lainnya.
Tekanan Turgor (Mpa)
Data hasil pengamatan pada Tabel 2 dan sidik ragam yang dapat dilihat pada Lampiran menunjukkan pemberian mikoriza tidak berpengaruh nyata pada peningkatan tekanan turgor tanaman.
Tabel 3.Rata-Rata Tekanan Turgor Daun Tanaman Karet Pada Lahan Dengan Cekaman Kekeringan Yang Telah Diberi Bahan Organik
PERLAKUAN RATAAN NOTASI
Kontrol (M0) 0,93 a
Acaulospora(M1) 1,08 a
Glomus+Acaulospora(M2) 1,18 a
Dari Tabel 3 dapat dilihat nilai rataan tekan turgor daun tanaman karet tertinggi terdapat pada perlakuan M2 (Glomus+Acaulospora) yakni sebesar 1,18yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan M1 (Acaulospora) dan M0 (Kontrol). Nilai rataan potensial air daun tanaman karet terendah terdapat pada perlakuan M0 (kontrol) yakni sebesar 0,93.
Pembahasan
Potensial Air Daun (ψ)
Hasil pada Tabel 1 menunjukan bahwa pemberian mikoriza baik jenis Acaulospora maupun campuran Glomus+Acaulosporamampu meningkatkan ratan potensial air daun tanaman karet. Hal ini disebabkan karena pemberian mikoriza dapatmeningkatkan pergerakan air kedalam tanaman melaluli hifa jamur yang mampu menyerap air pada pori–pori tanah saat akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air. Penyebaran hifa yang sangat luas di dalam tanah menyebabkan jangkauan menyerap air semakin luas sehingga jumlah air yang diambil akan meningkat dibandingkan tanaman tanpa pemberian mikoriza sehinga akan meningkatkan nilai potensial air daun tanaman tersebut, selain itu pemberian kompos TKKS juga berperan dalam membantu menyimpan air.
Hasil penelitian menunjukan perlakuan tanpa mikoriza adalah perlakuan yang memiliki potensial air daun terendah yakni sebesar 2,79ψ. Hal ini diduga karena meskipun seluruh perlakuan diberikan tambahan bahan organik berupa TKKS dalam jumlah yang sama namun tanpa adanya interaksi dengan mikoriza hasilnya tidak akan terlalu baik. Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Santa (2015) yang menyatakan bahwa Interaksi kompos TKKS denganmikoriza merupakan perlakuan yang tahan pada cekaman kekeringan yang ditandai tinginya tekanan potensial daun.
Hasil penelitianmenunjukan bahwa pemberian mikoriza jenis Glomus+Acaulospor adalah perlakuan yang memiliki nilai rataan tertingi yakni sebesar 3,83ψ meskipun tidak berbeda nyata dengan pemberian mikoriza Acaulospora yakni sebesar 3,65ψ . Hal ini menunjukan perbedaan jenis mikoriza
tidak terlalu berpengaruh terhadap peningkatan potensial airdaun tanaman karet.
Hal ini diduga dikarenkan derajat infeksi kedua jenis mikoriza sebelum diaplikasikan juga tidak terpaut cukup jauh.
Tekanan Osmotik Daun
Hasil pada Tabel 2 menunjukan bahwa pemberian mikoriza baik jenis Acaulospora maupun campuran Glomus+Acaulospora meningkatkan ratan tekanan osmosis daun tanaman karet. Hal ini terjadi diduga dikarenkanmikoriza memerlukan kondisi air dalam kapasitas lapang pada awal perkembangannya sementara pada pelaksaan penelitian dilapangan perlakuan penyiraman secara rutin hanya dilakukan dalam kurun waktu 2 minggu dan selanjutnya dibiarkan mengikuti kondisi iklim dilapangan yang didominasi oleh hari tanpa hujan.
Sehingga perkembangan awal mikoriza yang masih membutuhkan air dalam kapasitas lapang yang seharusnya dibiarkan hingga mencapai beberapa minggu menjadi terganggu.
Peningkatan tekanan osmosis pada perlakuan pemberian mikoriza baik jenis Acaulospora maupun campuran Glomus+Acaulospora juga diduga dikarenakan perkembangan mikoriza yang kurang optimal. Hal ini dapat terjadi disebabkan oleh pengaruh lingkungan yaitu suhu, dimana suhu yang optimal bagi perkembangan mikoriza menurut Smith & Read( 1997) dalah 25-300C.
Namun kondisi suhu didaerah selama penelitian berlangsungberada diatas 300
Hasil penelitian menunjukan perlakuan tanpa mikoriza adalah perlakuan yang memiliki nilai rataan tekanan osmosis terendah yakni sebesar 1,86. Hal ini C sehingga mempengaruhi perkembangan mikoriza terutama diakhir-akhir masa penelitian yaitu pada bulan juni hingga agustus.
terjadi diduga dikarenakan seluruh perlakuan termasuk kontrol diberi penambahan bahan organik berupa TKKS, sehingga tidak terjadi peningkatan tekanan osmosis yang terlalu tinggi meskipun tanpa perlakuan mikoriza. Hal ini didukung penelitian sebelumnya oleh Santa (2015) yang menyatakan bahwa pemberian perlakuan TKKS 600 g/tanaman dapat menurunkan jumlah rataan osmosis daun dibandingkan dengan kontrol (tanpa TKKS) dengan persentase penurunan senilai 24%.
Tekanan Turgor (Mpa)
Hasil pada Tabel 3 menunjukan bahwa pemberian mikoriza baik jenis Acaulospora maupun campuran Glomus+Acaulospora mampu meningkatkan ratan tekanan turgor daun meskipun tidak nyata secara statistik . Meningkatnya tekanan turgor tidak lepas dari peningkatan yang juga terjadi pada potensial air daun tanaman bermikoriza. Hal ini menunjukan bahwa pada kondisi kekeringan pemberian mikoriza mampu membantu penyerapan air pada tanaman karet dengan mikoriza jenis campuran Glomus+Acaulospora adalah yang terbaik disusul jenis mikoriza Acaulospora.
Peningkatan ini baik bagi prtumbuhan tanaman sehingga tanaman tidak mengalami kehilangan air yang berlebihan. Pada kondisi cekaman kekeringan, tanaman mengalami penurunan pembukaan stomata yang kemudian dapat menurunkan potensial air daun. Tekanan Turgor berpengaruh terhadap pembesaran sel tanaman, membuka dan menutupnya stomata, serta perkembangan daun, sehingga tekanan turgor yang terganggu juga dapat menggangu pertumbuhan tanaman akibat terhambatnya proses-proses fisiologis di dalam tubuh tanaman.
Hasil penelitian menunjukan perlakuan tanpa mikoriza adalah perlakuan yang memiliki nilai rataan tekanan turgor terendah yakni sebesar 0,93. Hal ini dikarenakan meskipun tanaman kontrol memiliki tekanan osmosis yang rendah namun juga memiliki potensial air yang rendah pula sebagai akibat dari kurangnya daya serap akar terhadap air menuju tanaman sehingga menyebabkan terjadinya penurunan tekanan turgor daun.
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Pemberian mikoriza campuran jenis Glomus+Acaulospora Acaulospora merupakan perlakuan yang paling tahan pada cekaman kekeringan yang ditandai dengan tinginya potensial air daun dan tekanan turgor tanaman diikuti pemberian mikoriza jenis Acaulospora. Sementara perlakuan Kontrol (tanpa Pemberian Mikoriza) adalah peralakuan yang paling rendah nilai potensial air daun dan tekanan turgornya.
Saran
Disarankan setelah penanaman dan aplikasi mikoriza serta bahan organik dilakukan dilakukan penyiraman selama 1-2 bulan awal untuk meingkatkan efektifitas hasil yang didapat.
DAFTAR PUSTAKA
Anggraini, E. 2009. Pemanfaatan Mikoriza Untuk Meningkatkan Pertumbuhan Dan Produksi Tembakau Deli (Nicotiana tabacum L.) Pada Kondisi Cekaman Kekeringan. Tesis. Universitas Sumatera Utara. Medan.
Anwar, C. 2006. Manajemen dan Teknologi Budidaya Karet. Pusat Penelitian Karet. Medan.
Budiman, H. 2012. Budidaya Karet Unggul. Pustaka Baru Press, Yogyakarta.
Damanik, M.M.B, B.E. Hasibuan, Fauzi, Sarifuddin, H, Hanum. 2011. Kesuburan Tanah dan Pemupukan. USU Press. Medan.
Dewi, A.I.R. 2007. Peran, Prospek dan Kendala Dalam Pemanfaatan Endomikoriza. Program Studi Agronomi, UNPAD. Jatinangor.
Direktorat Jenderal Perkebunan. 2013. Produksi dan produktivitas karet di Indonesia. http/:www.dirjenbun.go.id, di akses 7 juni 2015.
Fisher R.A and turner, N.C. 1978. Plant Productivity In The Arid And Semi Arid Zones. An. Rev. Plant Phys. 29 : 277-317
Hanafiah, A. S., T. Sabrina dan Diana Sofia. 2014. Peningkatan Ketahanan Tanaman Karet Terhadap Cekaman Kekeringan dengan Pemberian FAM di Rumah Kasa. Laporan Penelitian Hibah Bersaing. Lembaga Penelitian USU. Medan
Hanafiah, A. S.,Deni Elfiati dan Diana Sofia. 2015. Peningkatan Ketahanan Tanaman Karet Terhadap Cekaman Air Melalui Pemberian Mikoriza dan Bahan Organik. Laporan Penelitian Hibah Bersaing. Lembaga Penelitian USU. Medan
Hanafiah, A. S., T. Sabrina dan H Guchi. 2009. Biologi dan Ekologi Tanah.
Fakultas Pertanian USU. Medan
Istianto, 1993. Potensi dan Kompatibilitas Mikoriza Vesikular Arbuskular (MVA) dengan Bibit Tanaman Karet (Hevea Brasiliensis Muell Arg.) Klon PB 260. Tesis. Universitas Sumatera Utara
Karyudi, Siagian, N., dan Hanafiah, A., 2004. Osmoregulasi Tanaman Karet (Hevea BrasiliensisMull.Arg) Sebagai Respon Terhadap Cekaman Air.II.
Hubungan Antara Kapasitas Osmoregulasi dengan Pertumbuhan Tanaman dan Status Hara Daun. Jurnal Penelitian Karet 22(1), 69-80
Karyudi. 2004. Osmoregulasi Tanaman Karet (Hevea BrasiliensisMull.Arg) Sebagai Respon Terhadap Cekaman Air.III. Akumulasi Solut.Jurnal Penelitian Karet 23(1), 47-57
Santa, M. 2015. Efektifitas Pemberian Mikoriza dan Bahan Organik Terhadap Pertumbuhan Dan Serapan Hara Tanaman Karet yang Mengalami Cekaman Kekeringan di Rumah Kasa. Tesis.Universitas Sumatera Utara.
Medan
Neliyati. 2010. Pertumbuhan Batang Bawah Bibit Karet (Hevea brasiliensis Mull.Arg) Dengan Pemberian Mikoriza Arbuskula Pada Beberapa Kondisi Air Polybag. Jurnal Karet, 14(2)
Noli, Z. A., Netty, W.S., E.M. Sari. 2011. Eksplorasi Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) Indigenous yang Berasosiasi dengan Begonia resectadi Hutan Pendidikan dan Penelitian Biologi (HPPB). Prosiding Seminar Nasional Biologi : Meningkatkan Peran Biologi dalam Mewujudkan National Achievment with Global Reach. Departemen Biologi FMIPA Universitas Sumatera Utara, Medan. hlm.538-539.
Nurhayati. 2007. Seleksi Mekanisme Toleransi Tanaman Tembakau (Nicotiana Tabacum .L) Terhadap Kekeringan. Disertasi. Universitas Sumatera Utara.
Medan
Pangaribuan, Y. 2001. Studi Karakter Morfofisiologi Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis Guineensis Jaq) di Pembibitan Terhadap Cekaman Kekeringan.
Tesis. Istitut Pertanian Bogor. Bogor
Pasaribu, M. 2010. Pemanfaatan Kompos Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) dan Mikoriza Sebagai Media Tumbuh Anakan Gaharu (Aquilaria malaccensis Lamk) Universitas Sumatera Utara. Medan
Purnamayani, 2014. Kombinasi Kompos Tandan Kosong Kelapa Sawit Dan Pupuk Kandang Sebagai Subtitusi Pupuk Kalium Terhadap Produksi Gambas (Lufaacutangula) di Kabupaten Merangin. Prosiding Seminar Nasional Lahan Supoptimal. Palembang
Rahmalia,W., Yulistira, F. Ningrum. J. Qurbaniah. M. dan Ismadi. M. 2006.
Pemanfaatan potensi tandan kosong kelapa sawit (Elais guineensis Jacq) sebagai bahan dasar c-aktif untuk adsorpsi logam perak.
Setyamidjaja, D., 1993. Karet Budidaya Dan Pengolahan. Kanisius, Yogyakarta.
Setiawan, D. H. dan A. Andoko., 2005. Petunjuk Lengkap Budidaya Karet.
AgroMedia Pustaka, Jakarta.
Sianturi, H. S. D., 2001. Budidaya Tanaman Karet. USU Press. Medan
Sutoro, N. Dewi dan M. Setyowati. 2008. Hubungan Sifat Morfofisiologis Tanaman dengan Hasil Kedelai. Jurnal Penelitian Tanaman Pangan Vol.
27 ( 3) : 185-190
Syamsulbahri. 1996. Bercocok Tanam Tanaman Perkebunan Tahunan. UGM Press. Yogyakarta.
Tian, G,L Brussard, B T., Kang and M. J. Swift.1997. Soil Fauna-Mediated Decomposition Of Plant Residues Under Contrined Environtmental And Residue Quality Condition. In Driven by Nature Plant Litter Quality And Decompotion, Departmen of Biological Sciences. (Ed G. Cadish. and K.E.
GILLER.),. Weycollege, University of London, UK.pp 125-134
Toruan, N,J. Mathius,. K. Santoso. Dediwan dan E. Tresnawati,. 2007.
Pemanfaatan Bioteknologi Untuk Pengembangan Kina Di Indonesia.
Makalah Lokakarya Kina Nasional. Bandung.1-18.
Wright, S.F. and A. Upadhyaya, 1998.A Survey Of Soils For Aggregate Stability And Glomalin, A Glycoprotein Produced By Hyphae Of Arbuscular Mycorrhizal Fungi. Plant and Soil 198 : 97 –100
LAMPIRAN Lampiran 1. Bagan Percobaan
Lampiran 2. Deskripsi Tanaman Karet Klon PB260 Deskripsi klon PB 260
1.Helaian daun
a. Warna : Hijau tua
b. Kilauan : Mengkilap
c. Tekstur : Halus
d. Kekakuan : Kaku
e. Bentuk : Bulat telur
f. Pinggiran daun : Agak bergelombang g. Penampang memanjang : Lurus
h. Penampang melintang : Bentuk V
i. Posisi helaian daun : Terpisah bersinggungan j. Simetris daun pinggir : Simetris
k. Ukuran daun : 2,4: 1
l. Ujung daun : Sedang
2.Anak tangkai daun
a. Posisi : Agak terkulai
b. Bentuk : Lurus
c. Panjang : Agak panjang
d. Sudut : Sempit(≤ 600
3. Tangkai daun
C)
a. Posisi : Mendatar
b. Bentuk : Lurus
C. Panjang :Sedang
D. Ukuran kaki : Sedang
E. Bentuk kaki : Rata
4. Tangkai daun
A. Payung : Kerucut
Besar : Sedang
Panjang : Sedang
Kerapatan permukaan : Terbuka Jarak antar payung : Sedang 5. Mata
A. Letak mata : Rata
B. Bekas tangkai daun : Rata 6. Kulit batang
A. Corak kulit gabus : Bentuk jala terputus-putus B. Warna kulit gabus : Coklat tua
7. Warna lateks : Putih kekuningan
Lampiran 3. Hasil Analisis Potensial Air Daun Tanaman Karet
Lampiran 4. Analisis Sidik Ragam Potensial Air Daun Tanaman Karet
SK DB JK KT FH Ftabel 5%
M 2 5,609 2,804544 12,6017 3,633723 **
BLOK 8 3,445 0,430658 1,935084 2,591096 tn
GALAT 16 3,561 0,222553
TOTAL 26 12,615
KK = 13,78 %
Lampiran 5. Hasil Analisis Tekanan Osmosis Daun Tanaman Karet
PERLAKUAN ULANGAN
TOTAL RATAAN I II III IV V VI VII VIII IX
M0 1,96 1,55 1,54 1,83 1,17 2,43 1,53 2,88 1,81 16,70 1,86 M1 3,09 2,19 2,92 2,50 2,28 2,43 2,39 2,82 2,50 23,12 2,57 M2 2,47 2,38 3,51 1,85 2,90 3,45 2,37 2,60 2,31 23,84 2,65
Lampiran 6. Analisis Sidik Ragam Tekanan Osmosis Daun Tanaman Karet
SK DB JK KT Fhit Ftabel 5%
M 2 3,434 1,716933 9,377879 3,633723 **
Ulangan 8 2,362 0,295283 1,612836 2,591096 tn
Galat 16 2,929 0,183083
Total 26 8,725
KK = 18,14 %
PERLAKUAN ULANGAN
TOTAL RATAAN I II III IV V VI VII VIII IX
M0 2,72 2,41 2,69 2,79 1,91 3,40 3,26 3,65 2,25 25,08 2,79 M1 3,30 2,44 4,24 3,40 3,37 3,82 4,24 3,62 4,46 32,89 3,65 M2 3,62 3,31 4,24 3,20 4,30 4,18 3,67 4,13 3,81 34,46 3,83
Lampiran 7. Nilai Tekanan Turgor Daun Tanaman Karet
Lampiran 8. Analisis Sidik Ragam Tekanan Turgor Daun Tanaman Karet
SK DB JK KT FH Ftabel 5%
M 2 0,288 0,143797 0,783958 3,633723 tn BLOK 8 1,943 0,242935 1,324444 2,591096 tn GALAT 16 2,935 0,183424
TOTAL 26 5,166
KK = 40,22 % PERLAKUAN
ULANGAN
TOTAL RATAAN I II III IV V VI VII VIII IX
M0 0,76 0,85 1,15 0,96 0,74 0,97 1,73 0,77 0,44 8,39 0,93 M1 0,21 0,25 1,32 0,90 1,09 1,39 1,85 0,80 1,96 9,76 1,08 M2 1,15 0,94 0,73 1,35 1,40 0,73 1,30 1,54 1,50 10,64 1,18
Lampiran 10. Data Curah Hujan Bulanan (mm)
Tahun Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des
2005 181 109 47 135 9 97 32 182 182
2006 143 308 53 77 56 36 10 146 273 282 204 204 2007 320 78 182 186 155 78 272 147 132 164 126 126 2008 216 108 324 176 90 142 90 216 104 285 142 142 2009 241 124 146 192 45 37 23 147 76 100 332 359 2010 358 370 95 223 269 162 143 69 184 30 328 127 2011 288 163 177 187 79 14 4 65 82 240 382 292 2012 58 394 93 329 67 103 120 47 75 260 277 457 2013 384 147 0 135 140 77 48 116 113 208 259 355 2014 326 10 149 316 300 16 15 173 137 378 598 204 Sumber : Stasiun Aek Godang, BMKG Sampali Medan
Lampiran 11. Data Kelembapan Udara (%)
Tahun Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des 2007 83 85 78 81 79 80 78 76 78 79 79 82 2008 83 80 82 80 76 80 77 79 77 82 79 83 2009 86 78 81 79 74 74 73 78 77 77 81 85 2010 85 85 81 83 81 78 78 75 77 72 80 79 2011 83 78 79 80 77 72 71 78 78 79 84 85 2012 80 83 78 79 77 76 76 77 76 82 80 83 2013 81 84 80 78 76 73 73 74 76 80 82 84 2014 85 79 83 81 83 75 73 76 80 82 84 83 Sumber : Stasiun Aek Godang, BMKG Sampali Medan