E-ISSN: 2621-4695 Jurnal EK&BI, Volume 5, Nomor 1 Juni 2022 ISSN: 2620-7443 DOI 10.37600/ekbi.v5i1.452
KONSEP KEPEMILIKAN DAN DISTRIBUSI DALAM EKONOMI ISLAM
Nuri Aslami1), Sri Sudiarti2)
1Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Email: [email protected]
2Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Email : [email protected]
Abstract
Since the time of the Prophet, the issue of ownership has existed and resurfaced. However, the meaning of the phrase, also known as "Al-Milkiyyah," shifted at this time, from property, which was initially only utilized for the requirements of life, to power and power. Islamic economics aspires to create a fair distribution of income and riches in people's lives. This article aims to examine from an Islamic perspective the concept of ownership and distribution of wealth for human welfare. Because humans born on earth do not have anything. This research method uses qualitative methods with library research data analysis techniques. The results and discussion in this study include that property - according to Islam - is not private property (capitalism) nor is it shared property (socialism) but belongs to Allah, this is mentioned in the Qur'an and Sunnah. Allah SWT gives power to humans to own and use these assets. In Islam, it is stated that ownership has three types, namely individual, public, and state ownership. In terms of the object's context, ownership is divided into two, namely: Al Milk At Tamm (Perfect Ownership) and Al Milk An Naqish (Imperfect Ownership). The concept of distribution of wealth offered by Islamic economics in this case, among others, by creating an economic balance in society. Islamic economics offers priority steps that need to be taken by the competent authority which in this case is the government, namely: (1) Zakat;
(2) The state must regulate the equal distribution of natural resources; (3) The wealth of the community must be managed by the state in the context of optimizing maximum results; (4) Community services that generate profits must be managed; and (5) non-profitable public services must be subsidized by the state.
Keyword : Ownership, Distribution , Islamic Economy
1. PENDAHULUAN
Pada umumnya kehidupan manusia di dunia ini erat kaitannya dengan garis hubungan manusia dengan Tuhan (garis vertikal) dan garis interaksi manusia (garis horizontal). Salah satu bidang kehidupan yang berdampingan adalah Muamalah, yaitu kebutuhan masyarakat akan transaksi. Tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu bentuk kegiatan yang berkaitan dengan masalah ekonomi adalah masalah harta (Al Milkiyyah).
Islam selalu memberikan ruang dan kesempatan bagi manusia untuk mengakses semua sumber kekayaan yang telah diberikannya kepada bumi ini, memenuhi semua tuntutan hidup, memerangi kemiskinan dan dalam setiap aspek kehidupan manusia.
Secara historis, masalah kepemilikan sebenarnya sudah ada dan muncul sejak manusia pertama kali mendunia. Saat itu, kepemilikan hanya berarti menggunakan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Karena orang tidak berpikir untuk melestarikan apa yang mereka miliki. Pada waktu itu, penduduk bumi hanya sedikit, dan kebutuhan sehari-hari sangat melimpah. Saat itu, kepemilikan sesuatu hanya berguna untuk memenuhi kebutuhan saya.
Namun karena perkembangan zaman dan tuntutan masyarakat, jumlah manusia berangsur-angsur bertambah dan memenuhi setiap sudut bumi. Data BPS menunjukkan bahwa jumlah penduduk Indonesia menempati posisi keempat terbesar di dunia dengan total 270 juta jiwa tercatat pada September 2021.[1]
E-ISSN: 2621-4695 Jurnal EK&BI, Volume 5, Nomor 1 Juni 2022 ISSN: 2620-7443 DOI 10.37600/ekbi.v5i1.452
Sehingga kompetisi untuk mencapai tujuan menjadi tinggi sebab semua orang ingin mencapai tujuan mereka. Dengan demikian, perubahan makna harta yang semula hanya berfungsi untuk memenuhi kebutuhan hidup, mulai berubah menjadi kekuasaan, dan dewasa ini muncul istilah harta (harta) atau dikenal juga dengan istilah “al milkiyyah”.
Dilihat dari kondisi sistem perekonomian yang telah berkembang saat ini merupakan dua system ekonomi yang paling berpengaruh di dunia yaitu system ekonomi kapitalis dan sistem ekonomi sosialis. Sistem ekonomi kapitalis lebih memprioritaskan individu daripada kelompok, sedangkan system ekonomi sosialis lebih memprioritaskan kepentingan Negara daripada kepentingan individu. Dari sini muncul masalah ekonomi, menurut mazhab Baqir berpendapat bahwa hal ini muncul karena adanya distribusi yang tidak merata dan adil sebagai akibat sistem ekonomi yang membolehkan eksploitasi pihak yang kuat terhadap pihak yang lemah.[2]
Eksistensi ekonomi Islam bertujuan untuk membangun mekanisme kepemilikan dan distribusi kekayaan yang adil dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, Islam melarang keras praktek penyimpanan dan monopoli sumber daya alam secara berkelompok. Dalam hal ini, ekonomi Islam menawarkan konsep distribusi kekayaan, antara lain dengan menciptakan keseimbangan ekonomi dalam masyarakat. Keseimbangan ekonomi dicapai hanya jika kekayaan tidak berputar di sekitar sekelompok orang. Untuk mencegah praktik monopoli, ekonomi Islam memberikan prioritas yang harus diambil oleh otoritas yang berwenang, dalam hal ini pemerintah.
Mengingat pentingnya aspek kepemilikan dan distribusi dalam pembangunan ekonomi, artikel ini menyajikan konsep kepemilikan dalam ekonomi Islam dan bagaimana kekayaan didistribusikan dengan cara yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dari perspektif ekonomi Islam.
2. METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan dalam artikel ini adalah metode kualitatif yang menggunakan teknik analisis data survei perpustakaan (library research). Studi perpustakaan memainkan peran penting dalam setiap penelitian. Setiap penelitian memerlukan tinjauan pustaka untuk mendapatkan data yang dibutuhkan untuk melaksanakan penelitian. Studi literatur adalah jenis studi yang digunakan untuk mengumpulkan informasi dan data secara rinci melalui berbagai penelitian yang berhubungan dengan literatur. Studi sastra dikaitkan dengan kajian teoritis dan berbagai referensi yang tidak dapat dipisahkan dari literatur ilmiah [3].
Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian kepustakaan terdiri dari empat tahap. 1) menyiapkan peralatan, 2) menyusun direktori kerja, 3) mengatur waktu, 4) membaca dan membuat catatan penelitian [4].
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari berbagai literatur terkait, antara lain buku, jurnal, memo, esai, dan artikel yang berkaitan dengan fokus penelitian. Analisis data dilakukan dalam beberapa tahap, dimulai dengan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan, dan validasi data. Data dan informasi yang dikumpulkan dianalisis untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam survei.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN Definisi Kepemilikan
Kata “kepemilikan” dalam bahasa Indonesia berasal dari kata “milik”. Ini adalah kata serapan dari bahasa Arab “al-milk”.
Secara etimologi kata “al-milku” diambil dari
akar kata yang artinya
memiliki [5].Dalam bahasa Arab kata “
“ berarti memelihara dan menguasai sesuatu secara bebas [6]. Ini adalah penguasaan (barang atau jasa) yang membuatnya tersedia dengan segala cara yang diizinkan oleh syara`, sehingga orang lain dapat menggunakan barang hanya sesuai dengan format Muamalah yang diizinkan sesuai ketentuan syara’.
E-ISSN: 2621-4695 Jurnal EK&BI, Volume 5, Nomor 1 Juni 2022 ISSN: 2620-7443 DOI 10.37600/ekbi.v5i1.452
Definisi "kepemilikan" sesuai dengan istilah yang digunakan dalam berbagai istilah, tetapi pada dasarnya semua definisi pada dasarnya sama. Pengertian harta menurut ulama Wahbah al-Zuhaily dan Ahmadal- Zarqa adalah menekankan hak untuk menjalankan kekuasaan atas pemiliknya, kecuali ada halangan hukum tertentu. [7].
Muhammad Mushthafa al- Salaby mendefinisikan al-Milk sebagai
“Pengkhususan (keistimewaan) atas sesuatu benda yang menghalangi orang lain bertindak atasnya dan memungkinkan pemiliknya melakukan tindakan secara langsung terhadap benda itu, selama tidak ada halangan syara.” [8]
Abdul Karim Zaidan mendefinisikan
dengan “Pengkhususan (keistimewaan) atas sesuatu benda yang memungkinkan pemiliknya secara pribadi untuk menggunakan atau melakukan suatu tindakan terhadap harta tersebut tanpa ada sesuatu yang mencegah menurut syariat Islam”.
Dari pengertian di atas, kepemilikan adalah penguasaan atas sesuatu yang berupa barang atau milik, baik secara nyata maupun secara hukum, dan pemiliknya harus melakukan perbuatan hukum sebagai berikut:
Saya dapat. B. Jual beli, subsidi, wakaf, dll. Ini mencegah orang lain menggunakan atau menggunakan produk ini, baik secara pribadi maupun sistematis. Pada dasarnya, atas dasar harta, seseorang memiliki keistimewaan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu, kecuali ada halangan tertentu yang diakui oleh syara'.
Macam dan Bentuk Kepemilikan (Al-Milk) Menurut Syaikh Taqiyuddin an- Nabhani ada tiga macam kepemilikan yaitu [9]:
1. Kepemilikan Individu (Milkiyah Fardhiah): adalah idzin Syariah bagi seorang individu untuk menggunakan suatu objek melalui lima penyebab kepemilikan, yaitu [10]:
a. Bekerja (Al-’Amal): Pekerjaan produktif diberikan dalam ibadah
menerima imbalan, imbalan, dan sumber nilai sejati peluang dengan menentukan posisi dan posisi seseorang dalam hidup untuk menerima imbalan. Cara kerja yang ditentukan termasuk merevitalisasi tanah mati, menggali isi tanah, berburu, mediasi, bagi hasil (mudharabah), bagi dua kebun (musaqat), kontrak kerja (ijarah), dan sebagainya.
b. Warisan (Al-Irts): Memindahkan harta seseorang (almarhum) kepada orang lain (warisan) untuk hubungan kekerabatan atau
perkawinan dengan
menggunakan tata cara dan aturan yang ditetapkan Islam (warisan) berdasarkan QS An-Nisa' :11-12.
c. Kebutuhan akan harta benda untuk menopang kehidupan merupakan bagian mendasar dari kehidupan, terutama kehidupan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup.
d. Pemberian negara (i’thau al- daulah) dari hartanya untuk kesejahteraan rakyat berupa tanah pertanian, barang dan uang modal.
e. Harta yang dapat diperoleh dengan mudah oleh individu, seperti hibah, hadiah, wasiat, diet, mahar, penemuan, kompensasi khalifah, atau pemegang pejabat pemerintah.
2. Kepemilikan Umum (Milkiyah
‘Ammah): adalah idzin syariah masyarakat untuk membagi kekayaan dalam bentuk komoditas yang mutlak diperlukan bagi kehidupan manusia dalam kehidupan sehari-hari, seperti air, sumber energi (listrik, gas, batu bara, tenaga nuklir, dll), hasil hutan, komoditas, dll. . Anda tidak boleh memiliki barang-barang yang mempengaruhi kehidupan individu seperti sungai, pelabuhan, danau, laut,
E-ISSN: 2621-4695 Jurnal EK&BI, Volume 5, Nomor 1 Juni 2022 ISSN: 2620-7443 DOI 10.37600/ekbi.v5i1.452
jalan, jembatan, bandara, masjid, dan banyak orang seperti emas, perak, dan minyak.
3. Kepemilikan Negara (Milkiyah Daulah): idzin syariah untuk menggunakan semua properti di tangan Khalifah sebagai Kepala Negara. Kategori ini meliputi harta ghanima (pembayaran perang), fa'i, kharaj, jizyah, 1/5 harta rikaz (harta yang ditemukan), ushr, harta murtad, harta tak berwaris, dan tanah milik negara.
Para ulama fiqh membagi kepemilikan kepada dua bentuk melihat konteks bendanya, yaitu [11]:
1. Al Milk At Tamm (Milik Sempurna): artinya, kepentingan dan kepentingan kepemilikan sepenuhnya dimiliki oleh satu orang, sehingga segala hak yang berkaitan dengan kepemilikan berada di bawah penguasaan orang tersebut. Kepemilikan jenis ini bersifat mutlak, tidak memiliki batas waktu, dan tidak dapat dicabut oleh siapapun.
Fitur-fiturnya adalah sebagai berikut:
a. Sejak awal, kepemilikan material dan utilitas sudah sempurna.
b. Materi dan manfaatnya sudah ada sejak pemiliknya memilikinya.
c. Kepemilikan tidak memiliki batas waktu.
d. Kepemilikan tidak bisa digagalkan.
2. Al Milk An Naqish (Kepemilikan Tidak Sempurna): yaitu jika seorang hanya menguasai materi harta itu, namun keuntungannya dikuasai orang lain. Adapun ciri- cirinya adalah:
a. Waktu, tempat dan sifatnya bias dibatasi.
b. Tidak dapat diwariskan.
c. Pengguna harus membayar biaya perawatan
Pandangan Islam Terhadap Kepemilikan Islam memiliki pandangan tersendiri tentang harta benda yang berbeda dengan pandangan kapitalisme dan sosialisme [12].
Harta benda - menurut Islam, itu bukan milik pribadi (kapitalisme) atau milik bersama (sosialisme), tetapi milik Allah, sebagaimana dibuktikan oleh Al-Qur'an dan Sunnah. Konsep harta dalam ajaran Islam menyimpang dari pandangan bahwa manusia memiliki kecenderungan dasar untuk memiliki harta secara pribadi, tetapi pihak lain juga membutuhkannya dalam kehidupan sosialnya [13]. Harta atau kekayaan yang dianugerahkan- Nya di alam semesta ini merupakan pemberian Tuhan kepada manusia yang menurut kehendak Allah SWT secara ekonomis digunakan dengan cara yang sebaik-baiknya untuk kesejahteraan seluruh umat manusia. Dia adalah pencipta, pengatur dan pemilik seluruh alam semesta ini.
Pernyataan ini disebutkan dalam firman-Nya surah al-Ma’idah ayat 120:
Artinya : “Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Selain itu, Allah SWT juga mengatur hak milik (istikhlaf) tersebut dan memberdayakan manusia untuk memberikan izin kepemilikan kepada orang-orang tertentu yang benar-benar asli. Allah SWT berfirman:
Artinya : “dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan- Nya kepadamu” (QS. An-Nur: 33)
Manusia adalah pihak yang diberi wewenang oleh Allah SWT untuk memiliki dan menggunakan harta tersebut.
Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:
Artinya : “Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya” (QS. Al- Hadid : 7)
E-ISSN: 2621-4695 Jurnal EK&BI, Volume 5, Nomor 1 Juni 2022 ISSN: 2620-7443 DOI 10.37600/ekbi.v5i1.452
Orang yang memperoleh properti pada dasarnya hanya menerima titipan yang dibagikan dan digunakan atas kehendak pemiliknya sebagai perintah untuk pengembangan dan penggunaan properti.
“Pertama” katanya adalah orang-orang yang diberi wewenang untuk menggunakan aset- aset ini dengan cara yang sah, secara proporsional sebagai milik pribadi, kolektif, dan nasional, tergantung pada kepentingan dan urgensinya. Tetapi tidak berlebihan untuk mengatakannya. Karena sejak awal, Allah SWT telah menyatakan bahwa kekayaan yang telah dia berikan adalah untuk manusia di bumi untuk mewujudkan kepentingannya.
Firman Allah SWT dalam surah al-Baqarah ayat 29:
Artinya : “Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi”
Sistem ekonomi Islam mengakui kepemilikan individu dan publik pada saat yang sama, dan setiap properti memiliki keberadaannya sendiri, dan tidak ada yang lebih baik dari properti lainnya. Akan tetapi, hak milik pada hakikatnya bersifat ilahi dan oleh karena itu harus digunakan secara bertanggung jawab, sehingga baik milik pribadi maupun milik umum harus digunakan untuk kepentingan umum. Semua individu memiliki hak untuk mengembangkan properti mereka dengan cara yang dibenarkan di bawah Syariah Islam. Islam melarang pengikutnya menjadi malas karena sifat-sifat ini membuat mereka miskin, tetapi Islam juga membenarkan menjadi kaya hanya dengan uang tanpa melakukan bisnis tertentu. Dalam hal harta, individu, masyarakat, dan negara sebagai pelaku ekonomi memiliki hak milik sendiri yang ditentukan berdasarkan syariah.
Konsep properti dijelaskan dengan sangat jelas oleh Hizbut Tahrir dalam bukunya tentang sistem ekonomi Islam [14].
Islam mencakup seperangkat prinsip dan ajaran yang membimbing dan mengatur hubungan antara Islam dan Tuhan dan masyarakat. Dalam hal ini, Islam bukan hanya pengabdian kepada Tuhan, tetapi juga merupakan pedoman perilaku yang mengatur dan mengatur umat manusia baik dalam
kehidupan spiritual maupun material. Menurut Islam, Allah SWT adalah pemilik asli dari segala macam kekayaan, sebagaimana semua pencipta, pengatur dan pemilik alam semesta ini. "Kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi dan apa yang diantara keduanya. Dia menciptakan apa yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu".
Manusia adalah pihak yang diberi wewenang oleh Allah SWT untuk memiliki dan menggunakan harta tersebut.
"Berimanlah kamu kepada Allah dan RasulNya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya...". Mereka yang beruntung memperoleh harta itu pada dasarnya hanya menerima titipan sebagai titipan, yang dibagikan menurut kehendak pemilik yang sebenarnya (Allah SWT) baik untuk pengembangan maupun penggunaan harta itu.
Sejak awal, Allah telah menetapkan bahwa harta benda harus digunakan untuk kepentingan umum. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa masyarakat “perkenalan”
diberi hak untuk menggunakan harta secara keseluruhan, dan Allah memberikan sebagian kepada individu (dan lembaga) yang berusaha memperolehnya sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
Oleh karena itu, kepemilikan atas harta seseorang hanya dapat dianggap sah dengan izin kepemilikan dari Allah SWT. Artinya pemilikan dan penggunaan harta itu harus berdasarkan ketentuan syara, yang termaktub dalam al-Qur'an, al-Sunnah, ijma' sahabat dan al-Qiyas. Sebagai sistem lain, ekonomi Islam, melalui ketentuan hukumnya, menjelaskan segala sesuatu yang berkaitan dengan mekanisme perolehan properti, tata cara pengelolaan dan pengembangan properti, dan distribusi kekayaan ini di antara orang-orang.
Hukum-hukum kepemilikan atau hal-hal yang bisa membuat kita berkuasa atas barang milik orang lain, di antaranya [15]:
a. Aqad, yaitu hak untuk menguasai suatu barang diberikan kepada kami (pihak kedua) ketika kami menandatangani kontrak dengan orang yang memiliki hak untuk
E-ISSN: 2621-4695 Jurnal EK&BI, Volume 5, Nomor 1 Juni 2022 ISSN: 2620-7443 DOI 10.37600/ekbi.v5i1.452
membuang barang tersebut (pihak pertama) dan pihak pertama menyetujuinya. Seperti contoh: aqad jual beli.
b. Penggantian, yaitu suatu bentuk nadzar atau ucapan yang dilontarkan pemilik barang (pihak pertama) kepada penerima barang (pihak kedua). Misalnya, kita memberikan sesuatu kepada orang yang kita cintai.
c. Pengertian ini diturunkan dari apa yang dimiliki seseorang dan hampir sama dengan pengertian kedua, yaitu sumpah dari pemilik barang (pihak pertama) kepada penerima barang (pihak kedua). yang mempunyai hak atas barang dari pihak pertama.
Contoh : seorang ayah memberikan harta warisnya kepada anak-anaknya.
Distribusi Kekayaan Diantara Manusia (Al-Tawzi' Al-Tharwah Bayna Al-Nas)
Dari sudut pandang Islam, merupakan persyaratan bahwa setiap orang memiliki kemampuan dan keterampilan yang berbeda.
Namun, perbedaan tersebut tidak dibenarkan sebagai alat untuk mengeksploitasi kelompok lain. Dalam hal ini, keberadaan ekonomi Islam bertujuan untuk membangun mekanisme distribusi kekayaan yang adil dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, Islam secara tegas melarang praktik penimbunan dan monopoli sumber daya alam secara berkelompok [16].
Dalam hal ini, ekonomi Islam menawarkan konsep distribusi kekayaan, antara lain dengan menciptakan keseimbangan ekonomi dalam masyarakat.
Keseimbangan ekonomi hanya akan dapat terwujud jika kekayaan tidak berputar di sekelompok masyarakat. Oleh karena itu, dalam rangka menciptakan keseimbangan ekonomi, Islam memerintahkan sirkulasi kekayaan haruslah merata tidak boleh hanya berputar di sekelompok kecil masyarakat saja.
Sistem ekonomi Islam, melarang individu mengumpulkan harta secara berlebihan.
Sebab, dengan adanya pengumpulan harta
secara berlebihan berakibat pada mandegnya roda perekonomian. Oleh karena itu, penimbunan merupakan prilaku yang dilarang dalam ajaran Islam.
Hal ini ditegaskan oleh Allah SWT dalam al-Qur’an Surah at-Taubah: 34 yang artinya “dan orang-orang yang menimbun emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, beritakanlah kepada mereka bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih”.
Di sisi lain, untuk mencegah praktik monopoli, ekonomi Islam memberikan otoritas yang kompeten, dalam hal ini prioritas yang harus diambil pemerintah. Langkah- langkah tersebut meliputi [17]:
1. Zakat sebagai mekanisme pendistribusian kekayaan dari si kaya kepada si miskin.
2. Negara harus mengawasi dan mengatur pemerataan sumber daya alam.
3. Aset masyarakat harus dikelola oleh negara untuk mengoptimalkan hasil yang maksimal.
4. Pelayanan publik yang menguntungkan seperti kereta api, pos, telegram, listrik, air dan gas harus dikelola oleh negara untuk memastikan pengelolaan yang efisien dan hasil terbaik.
5. Pelayanan publik yang tidak menguntungkan seperti jalan raya, air mancur umum dan tempat parkir harus disubsidi oleh negara.
Sementara itu, para ahli lain juga berpendapat bahwa tujuan ekonomi Islam tidak lain adalah untuk mendorong tercapainya kemakmuran dan kesuksesan di dunia dan akhirat. Hal ini diungkapkan oleh Amin Aktar, yang menyatakan bahwa "tujuan ekonomi Islam hanya dapat dipahami dalam konteks pandangan dunia Islam secara keseluruhan." Oleh karena itu, ekonomi Islam pada hakikatnya adalah suatu sistem yang didasarkan pada nilai-nilai keadilan, kedermawanan, kemanfaatan dan keutamaan, serta kemakmuran.
Konsep keadilan dalam Islam mencakup tiga aspek utama: keadilan dalam
E-ISSN: 2621-4695 Jurnal EK&BI, Volume 5, Nomor 1 Juni 2022 ISSN: 2620-7443 DOI 10.37600/ekbi.v5i1.452
produksi (al-intaj), keadilan dalam konsumsi (al-istihlaq), dan keadilan dalam distribusi (al- Tauzi’). Keadilan produksi didasarkan pada pengakuan hak orang untuk mencari nafkah sesuai dengan kemampuan, keterampilan, dan bakat alami mereka, tetapi tanpa mengorbankan moralitas atau tatanan sosial.
Keadilan konsumen ditujukan untuk melarang semua pengeluaran yang dapat merugikan moral dan masyarakat, termasuk alkohol, perzinahan, dan semua pengeluaran yang dapat mencelakakan jiwa. Keadilan distributif, di sisi lain, didasarkan pada kebutuhan untuk mencapai distribusi kekayaan dan faktor- faktor produksi yang adil.
Ada beberapa kebijaksanaan yang didefinisikan oleh kepemilikan menurut Islam, yaitu:
a. Menciptakan rasa damai dan tentram dalam kehidupan bermasyarakat.
b. Perlindungan yang baik atas hak-hak pribadi.
c. Menumbuhkan sikap kepedulian terhadap institusi publik.
d. Memunculkan kesadaran sosial semakin tinggi.
4. KESIMPULAN
Islam mengakui bahwa sifat manusia mencintai dan memiliki kekayaan. Harta yang ada di tangan manusia tidak lain adalah titipan dan titipan yang dipenuhi atas permintaan pemiliknya. Konsep harta dalam Islam begitu luas sehingga Islam tidak hanya mengatur bagaimana harta itu diperoleh secara sah, bagaimana ia dikembangkan dan digunakan, tetapi juga bagaimana ia digunakan untuk kemaslahatan umat. Pemilik mendistribusikan kekayaan dan kekayaan untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Islam mengakui hak milik pribadi, milik umum, dan milik negara. Ketiga jenis aset tersebut diberdayakan sesuai fungsinya masing- masing. Pada dasarnya menjaga keseimbangan kesejahteraan pribadi, masyarakat dan bangsa.
Oleh karena itu, Islam secara lengkap menjelaskan pengertian hak milik yang tidak dapat dipisahkan dari Islam sebagai agama, begitu pula dengan harta, pembagian harta, dan
berbagai hal yang berkaitan dengan harta, dan manusia mempunyai cara untuk memperoleh harta. batas. Sesungguhnya segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah titipan atau titipan dari Allah SWT yang dimaksudkan agar manusia dapat menggunakannya dengan baik untuk beribadah kepada Allah SWT.
5. REFERENCE
[1] BPS, “Statistik Kependudukan,” 2021.
[Online]. Available: BPS.go.id.
[2] A. J. T, “KONSEP HARTA DAN KEPEMILIKAN DALAM PRESPEKTIF ISLAM,” Cent. Res. Islam. Econ. Bus., 2018.
[3] Sugiono, “Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&K,” in Alfabeta, Bandung: Alfabeta, 2012.
[4] M. Zed, “Metode Penelitian Kepustakaan,” in Yayasan Obor Indonesia, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2004.
[5] A. ibn U. A. al-H. al-B. Al-Daruquthny,
“Sunan al-Daruquthny,” in Dar al- Ma’rifat, Juz III., Beirut: Dar al-Ma’rifat, 1966.
[6] S. bin A. Abu Daud, “Sunan Abi Daud,”
in Dar Al-Fikr, Beirut: Dar Al-Fikr, 1994.
[7] P. Ambok, “No TitleKepemilikan Ekonomi Kapitalis Dan Sosialis (Konsep Tauhid Dalam Sistem Islam),” J. Kaji.
Ekon. Islam Dan Kemasyarakatan, vol.
IV, no. 2, pp. 1–19, 2011.
[8] M. B. H. Anto, “Pengantar Ekonomi Mikro Islami,” in Ekonisia, Yokyakarta:
Ekonisia, 2003.
[9] T. An-Nabhani, “Membangun Sistem Ekonomi Alternatif, Perspektif Islam,” in Risalah Gusti, Surabaya: Risalah Gusti, 1996.
[10] N. Haroen, “Fiqh Muamalah,” in Gaya Media Pratama, 1st ed., Gaya Media Pratama, 2000.
[11] T. Redaksi, “Ensiklopedi Hukum Islam,”
in PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta:
PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 1997.
[12] F. Badroen, “Etika Bisnis Dalam Islam,”
in Kencana Prenada Media Group, II., Jakarta: Kencana Prenada Media Group,
E-ISSN: 2621-4695 Jurnal EK&BI, Volume 5, Nomor 1 Juni 2022 ISSN: 2620-7443 DOI 10.37600/ekbi.v5i1.452
2006.
[13] G. A. Mas’adi, “Fiqh Muamalah Konteskstual,” in PT.Raja Grafindo Persada, 1st ed., Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, p. 2002.
[14] T. An-Nabhani, “Sistem Ekonomi Islam,”
in Hizbut Tahrir Indonesia, Jakarta:
Hizbut Tahrir Indonesia, 2010.
[15] Yusdani, “Sumber Hak Milik Dalam Perspektif Hukum Islam,” J. Fak. Ilmu Agama Islam UII Yogyakarta, 2003.
[16] Al-Badri, “Bentuk Distribusi Harta,” in Pustaka Setia, Bandung: Pustaka Setia, 1992.
[17] M. A. M. Affar, “Al-Takhtith Wa Al- Tanmiyah fi Al-Islam,” in Dar al-bayan al-Arabi, Jeddah: Dar al-bayan al-Arabi, 1985.