• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS KEPUTUSAN KONSUMEN DALAM MENGKONSUMSI KOPI SUSU INSTAN ( Study Kasus Mahasiswa Fisip UPN “Veteran” Jatim.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ANALISIS KEPUTUSAN KONSUMEN DALAM MENGKONSUMSI KOPI SUSU INSTAN ( Study Kasus Mahasiswa Fisip UPN “Veteran” Jatim."

Copied!
89
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Sebagai Persyaratan Dalam Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Administrasi Bisnis pada FISIP UPN "Veteran" Jawa Timur

Oleh :

YANUAR FERDINAND PAH

NPM : 0642010040

YAYASAN KESEJAHTERAAN PENDIDIKAN DAN PERUMAHAN UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL ”VETERAN ” JAWA TIMUR

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK JURUSAN ILMU ADMINISTRASI BISNIS

(2)

Dengan mengucapkan puji syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa atas

segala rahmat dan karunianya yang diberikan kepada penulis untuk menyelesaikan

Skripsi Penelitian dengan judul Analisis Keputusan Konsumen Dalam

Mengkonsumsi Kopi Susu Instan (Studi Kasus Mahasiswa Fisip UPN

“Veteran” Jatim)

Penulisan Skripsi ini dimaksudkan untuk memenuhi persyaratan guna

menyelesaikan studi program S-1 program studi Ilmu Administrasi Bisnis,

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Pembangunan Nasional

“Veteran”, Jawa Timur.

Tak lupa ucapan terima kasih kepada Bapak Drs. Nurhadi, M.Si selaku

dosen pembimbing yang selalu meluangkan waktu guna membantu memberikan

bimbingan dan pengarahan, sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi ini.

Hasil Skripsi ini bukanlah kemampuan dari penulis semata, namun

terwujud berkat bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis ingin

mengucapkan terima kasih kepada :

1. Ibu Dra.Ec.Hj.Suparwati. M.Si., selaku dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu

Politik Universitas Pembangunan Nasional ”Veteran” Jawa Timur.

2. Bapak Drs. Nurhadi, M.Si., selaku PLH Ketua Progdi Ilmu Administrasi

Bisnis Universitas Pembangunan Nasional ”Veteran” Jawa Timur.

3. Bapak dan ibu dosen Progdi Ilmu Administrasi Bisnis yang telah memberikan

(3)

Penulis menyadari dengan segala kerendahan hati bahwa penulisan Skripsi

ini masih jauh dari sempurna dan masih banyak kekurangan, sehingga penulis

mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Harapan penulis semoga

dengan terselesainya Skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak.

Surabaya, Juni 2011

(4)

iii

Daftar Isi………...iii

Daftar Gambar……….…vi

Daftar Tabel ……….… viii

Abstraksi ……….…….. ix

BAB I PENDAHULUAN 1.1Latar belakang masalah………...1

1.2Perumusan masalah ...………...………5

1.3Tujuan penelitan...…………..…………..……….…...6

1.4Manfaat penelitian…………..………..……….…….6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan teori………….………..…………...8

2.2 Pengertian Pemasaran………..………...8

2.2.1 Manajemen Pemasaran……….….9

2.2.2. Strategi pemasaran……….…………...11

2.2.3. Bauran Pemasaran………..……...………..………….13

2.3. Perilaku konsumen………....14

2.3.1 Pengertian Perilaku konsumen...…..…………...14

(5)

iv

2.3.2.1.3 Faktor pribadi………...20

2.3.2.2 Perbedaan individu………...22

2.3.2.3 Faktor psikologis………..23

2.4 Keputusan pembelian……….23

2.4.1 Pengertian keputusan pembelian……….…….23

2.4.2 Faktor yang mempengaruhi keputusan membeli ………….25

2.4.3 Macam situasi pembelian……….26

2.4.4 Pengertian proses pengambilan keputusan………...27

2.4.5 Proses pengambilan keputusan konsumen………28

2.4.6 Tipe-tipe pengambilan keputusan konsumen………...30

2.4.7 Struktur keputusan membeli……….……31

2.4.8 Tipe-tipe perilaku membeli………..33

2.4.9 Tipe, perilaku dan peranan pelanggan……….34

2.5 Kerangka Berpikir……….35

2.6 Hipotesis……….…...37

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Definisi Operasional dan Penelitian Variabel………...38

(6)

v

3.3 Teknik pengumpulan data……….43

3.3.1 Jenis data………..43

3.3.2 Sumber data ……….44

3.3.3 Pengumpulan data ………44

3.4 Teknik analisis dan uji hipotesis………44

3.4.1. Uji validitas………..44

3.4.2. Uji Realibilitas………...45

3.4.3. Teknik analisis data…..………...46

3.4.3.1 Uji Asumsi klasik……….………....46

3.4.3.1 Uji Normalitas..………..……...46

3.4.3.3 Uji multikolinieritas ……….48

3.4.3.4 Uji heterokesdastisitas ……….49

3.5. Uji Hipotesis……….………...49

3.5.1 Uji F……….49

3.5.2 Uji t statistik ………51

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1Gambaran Umum Objek Penelitian dan Penyajian Data………...53

(7)

vi

4.2Analisis Data ……….61

4.2.1 Hasil uji validitas dan reliabilitas ………...61

4.2.1.1Uji validitas ……….62

4.2.1.2Uji realibilitas ……….63

4.2.2 Uji Asumsi Klasik ………..64

4.2.2.1Multikolinieritas ……….64

4.2.2.2Heterokedastisitas ………..65

4.2.2.4Normalitas ………..66

4.2.3 Analisis Statistik Regresi Linear Berganda …………67

4.2.4 Pengujian Hipotesis ………69

4.2.4.1 Pembuktian hipotesis pengaruh variabel bebas secara simultan ……….69

4.2.4.2 Pembuktian hipotesis pengaruh variabel bebas secara partial (t) ………..71

(8)

vii

mengkonsumsi Kopi Susu Instan

(Y) ………..72

4.2.4.2.3 Pengaruh secara parsial antara

Faktor Pribadi (X3) terhadap

Keputusan Konsumen dalam

mengkonsumsi Kopi Susu Instan

(Y) ………..74

4.3.4 Pembahasan ………75

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1Kesimpulan ………..77

5.2Saran ………78

DAFTAR PUSTAKA KUESIONER

(9)

INSTAN ( Study Kasus Mahasiswa Fisip UPN “Veteran” Jatim Disusun oleh:

YANUAR FERDINAND PAH 0642010040

Perkembangan dunia usaha yang semakin cepat dan laju pertumbuhan penduduk yang semakin padat mendorong pertumbuhan ekonomi semakin meningkat pula, hal ini menyebabkan persaingan antar perusahaan semakin tajam terutama dalam menjual dan memasarkan produk-produknya baik yang berupa barang atau jasa kepada masyarakat atau konsumen.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh secara simultan dan parsial variabel faktor kebudayaan (X1), faktor sosial (X2) dan faktor pribadi (X3) terhadap keputusan konsumen (Y). Teknik pengambilan sampel ini menggunakan purposive sampling adalah elemen populasi yang dipilih sebagai dibatasi pada elemen-elemen yang dapat memberikan informasi berdasarkan pertimbangan tersebut. Jumlah sampel yang diambil adalah 74 responden yang merupakan Mahasiswa Fisip UPN “VETERAN” Jatim yang pernah mengkonsumsi kopi susu instan.

Teknik analisis data yang digunakan regresi linier berganda. Berdasarkan Uji F terbukti bahwa secara simultan faktor kebudayaan, faktor sosial, faktor pribadi berpengaruh signifikan terhadap keputusan konsumen dalam mengkonsumsi kopi susu instant. Hasil Uji T menunjukkan bahwa faktor kebudayaan dan faktor sosial secara parsial berpengaruh signifikan terhadap keputusan konsumen dalam mengkonsumsi kopi susu instant. Sedangkan faktor pribadi secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap keputusan konsumen dalam mengkonsumsi kopi susu instan.

Kata kunci :

(10)

1.1 Latar Belakang.

Perkembangan dunia usaha yang semakin cepat dan laju pertumbuhan

penduduk yang semakin padat mendorong pertumbuhan ekonomi semakin

meningkat pula, hal ini menyebabkan persaingan antar perusahaan semakin

tajam terutama dalam menjual dan memasarkan produk-produknya baik yang

berupa barang maupun jasa kepada masyarakat atau konsumen.

Dalam keadaan demikian terjadi perubahan sifat pasar dari seller’s market

yaitu penjual yang menentukan apa yang harus dibeli konsumen dimana

produsen berorientasi pada produksi yang sebanyak-banyaknya tanpa

memperdulikan apakah produk tersebut sesuai dengan keinginan dan

kebutuhan pasar, menjadi buyer’s market yaitu produsen tidak lagi

menekankan pada produksi tetapi harus lebih dulu mengetahui apa yang

sebenarnya dibutuhkan oleh konsumen dan berusaha untuk menyesuaikan

produknya sehingga bisa memberikan kepuasan kepada konsumen.

Mengingat pentingnya pemahaman kebutuhan dan keinginan konsumen

serta tujuan perusahaan dapat tercapai sebelum rencana pemasaran

dikembangkan, perlu diadakan pemahaman pasar lebih dulu, terhadap pasar

konsumen mengenai perilaku konsumen.

Analisa tentang perilaku konsumen sangat penting bagi perusahaan

(11)

kelangsungan hidup perusahaan tersebut sebagai lembaga yang berusaha

memenuhi kebutuhan dan keinginan, sangat tergantung pada perilaku

konsumennya, sehingga dapat menimbulkan suatu kepuasan dan dapat

mendorong konsumen selalu menggunakan atau melakukan pembelian, selain

itu juga dapat menambah pelanggan baru, sehingga dapat meningkatkan

produk yang ditawarkan.

Perilaku konsumen ditimbulkan oleh adanya bentuk interaksi antara faktor

lingkungan dan individu. konsumen yang telah melakukan suatu pembelian

mayoritas didorong oleh berbagai motif yaitu motif sosiologi, agama, biologis,

dan sebagainya. Perilaku konsumen itu sendiri adalah proses pengambilan

keputusan dan aktivitas fisik dalam mengevaluasi, memperoleh, menggunakan

dan menghabiskan barang atau jasa.

Perilaku konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian yang

dilakukan oleh konsumen melewati lima tahapan antara lain pengenalan

kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi informasi, tahap pembelian dan

pasca pembelian. Pengenalan kebutuhan yang pada hakikatnya bergantung

pada berapa banyak ketidak sesuaian yang ada di antara keadaan aktual

(situasi konsumen sekarang) dengan keadaan yang diinginkan. Ketika ketidak

sesuaian ini melebihi tingkat atau ambang tertentu, kebutuhan pun dikenali.

Pengenalan kebutuhan tidak secara otomatis mengaktifkan suatu tindakan. Hal

ini bergantung pada beberapa faktor. Pertama, kebutuhan yang dikenali harus

cukup penting. Kedua, konsumen percaya bahwa solusi bagi keputusan

(12)

Pencarian informasi didefinisikan sebagai aktifitas termotivasi dari

pengetahuan yang tersimpan di dalam ingatan atau pemerolehan informasi

yang diinginkan. Pencarian informasi dapat bersifat internal dan eksternal.

Pencarian internal melibatkan pemerolehan kembali pengetahuan dari ingatan.

Pencarian eksternal terdiri atas pengumpulan informasi dari pasar. Proses

pencarian informasi ini lebih dahulu menggunakan pencarian internal lalu jika

masih belum berhasil dapat menggunakan pecarian eksternal. Motivasi utama

dibalik pencarian pra pembelian adalah keinginan untuk membuat pilihan

konsumsi yang lebih baik.

Evaluasi informasi merupakan tahap setelah konsumen mendapatkan

informasi yaitu konsumen mengevaluasi berbagai alternatif pilihan dan

memilih alternatif untuk memenuhi kebutuhan. Pada tahap ini, konsumen

menggunakan kriteria evaluasi sebagai atribut yang digunakan dalam menilai

alternatif-alternatif pilihan, sehingga dapat memberikan manfaat yang dicari

dan memuaskan kebutuhan tersebut. Kriteria evaluasi dapat berbeda-beda

bergantung pada karakteristik produk yang dibutuhkan oleh konsumen. Ketika

pengambilan keputusan bersifat kebiasaan, evaluasi alternatif hanya akan

melibatkan konsumen yang membentuk niat untuk membeli kembali produk

yang sama seperti sebelumnya.

Tahap pembelian jika menggunakan model perilaku konsumen,

ditunjukkan sebagai fungsi dari dua faktor yaitu niat pembelian dan pengaruh

lingkungan. Hal ini dapat diartikan bahwa seringkali pembelian direncanakan

(13)

lain kali, niat hanya mencakup produk, dengan pilihan merek dicadangkan

untuk pertimbangan yang lebih mendalam di tempat penjualan.

Perilaku pasca pembelian dapat terlihat dari adanya tingkat kepuasan atau

ketidak puasan yang dialami konsumen setelah pembelian terhadap suatu

produk dilakukan, kepuasan berfungsi mengukuhkan loyalitas pembeli,

sementara ketidak puasan dapat menyebabkan keluhan, komunikasi lisan yang

negatif, dan upaya untuk menuntut ganti rugi melalui sarana hukum.

Sesudah terjadinya pembelian terhadap suatu produk, konsumen akan

mengalami kepuasan atau ketidak puasan. Konsumen mendasarkan

harapannya kepada informasi yang diterima tentang produk. Jika konsumen

mendapatkan kenyataan yang ternyata berbeda dengan harapannya, maka

konsumen merasa tidak puas.

Dalam rentang waktu tak terlalu lama, perusahaan mulai memproduksi

kopi dengan merk “Kapal Api” yang secara langsung mengaspirasikan simbol

teknologi tertinggi dan kemewahan pada zaman tersebut. Lebih dari itu,

inspirasi untuk senantiasa mengacu pada kualitas, menjadikan perusahaan

mengalami kemajuan yang pesat dan berkelanjutan.

Pada tahun 1970, perusahaan melakukan perkembangan sekaligus

perubahan. Generasi kedua mulai tampil untuk memastikan kelanjutan dan

kesuksesan usaha dengan memperkenalkan mesin dan peralatan mutakhir,

mengembangkan manajemen, meningkatkan keterampilan tenaga kerja serta

(14)

Tahun 1980 kami membangun pabrik yang sekarang berada di

Sepanjang, Sidoarjo, Jawa timur. Pada tahap ini, merk Kapal Api telah

menjadi penyangga utama perusahaan yang tersebar rata di seluruh Indonesia

sekaligus menjadi pemimpin pasar dengan rangkaian produk lengkapnya.

Dengan semakin banyaknya kopi instan yang ada di pasaran berarti

memberikan keleluasaan bagi konsumen untuk memilih merk yang sesuai

dengan keinginannya. Hal ini akan membuat persaingan usaha akan semakin

ketat sehingga perusahaan harusalah berusaha mempertahankan dan

mengembangkan pangsa pasar yang ada. Beberapa hal yang dapat

mempengaruhi keputusan konsumen dalam mengkonsumsi produk kopi instan

diantaranya adalah faktor kebudayaan, sosial, pribadi dan psikologis.

Dari uraian latar belakang masalah di atas maka judul penelitian ini

adalah: Analisis Keputusan Konsumen Dalam Mengkonsumsi Kopi Susu

Instan (Studi Kasus Mahasiswa Fisip UPN “Veteran” Jatim).

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas dapat ditarik

perumusan masalah sebagai berikut:

1. Apakah faktor kebudayaan, sosial dan pribadi. berpengaruh secara

simultan terhadap keputusan konsumen dalam mengkonsumsi produk

(15)

2. Apakah faktor kebudayaan, sosial, dan pribadi secara parsial

berpengaruh terhadap keputusan konsumen dalam mengkonsumsi

produk kopi instan?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah tersebut maka dapat disusun tujuan

dari penelitian ini adalah untuk mengetahui:

1. Untuk menganalisis pengaruh faktor kebudayaan, sosial dan pribadi

secara simultan terhadap keputusan konsumen dalam mengkonsumsi

produk kopi instan

2. Untuk menganalisis Pengaruh faktor kebudayaan, sosial dan pribadi

secara parsial terhadap keputusan konsumen dalam mengkonsumsi

produk kopi instan.

1.4 Manfaat Penelitian

1. Bagi Teoritis

Diharapkan dapat dijadikan bahan masukan produsen kopi instan

sehingga lebih meningkatkan kualitas merek dengan berbagai inovasi

baru dimasa yang akan datang dan untuk mengembangkan ilmu

(16)

2. Bagi Praktisi

Sebagai referensi bagi peneliti selanjutnya, khususnya yang

mengambil topik sejenis dengan memberikan variabel-variabel selain

yang telah dibahas pada penelitian ini.

(17)

2.1 Landasan Teori

2.2 Pengertian Pemasaran

Pengertian pemasaran mengandung pengertian yang lebih luas dari

sekedar penjualan dan periklanan. Tjiptono (2002:7) memberikan definisi

pemasaran adalah Suatu proses sosial dan manajerial dimana individu atau

kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui

penciptaan, pewarnaan dan pertukaran segala sesuatu yang bernilai dengan

orang atau kelompok lain.

Menurut Stanton dikutip oleh Rismiati dan Suratno (2006 : 18)

Pemasaran adalah sebagai suatu sistem keseluruhan dari kegiatan usaha yang

ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan, dan

mendistribusikan barang dan jasa yang dapat memuaskan kebutuhan pembeli

yang ada maupun pembeli potensial.

Dari definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pemasaran

merupakan serangkaian prinsip untuk memilih pasar sasaran (target market),

mengevaluasi kebutuhan konsumen, mengembangkan barang dan jasa,

pemuas keinginan, memberikan nilai kepada konsumen dan laba bagi

(18)

2.2.1 Manajemen Pemasaran

Manajemen pemasaran merupakan suatu tindakan yang dilakukan

oleh perusahaan yang ditujukan untuk mengatur proses pertukaran. Menurut

Tjiptono (2002:16) adalah: Manajemen pemasaran adalah proses

perencanaan dan pelaksanaan konsepsi penentuan harga, promosi dan

distribusi barang, jasa dan gagasan untuk menciptakan pertukaran dengan

kelompok sasaran yang memenuhi tujuan pelanggan dan organisasi.

Sedangkan menurut Rismiati (2001:33) adalah: Sebagai analisis,

perencanaan, implementasi, dan pengendalian atas program-program yang

dirancang untuk menciptakan, membangun dan menjaga pertukaran yang

menguntungkan dengan pembeli sasaran untuk mencapai tujuan

organisasional.

Menurut Angipora (2002 : 65) terdapat 5 (lima) konsep berdasarkan

perusahaan dan organisasi lainnya melakukan kegiatan pemasaran, antara

lain:

1. Konsep Produksi

Konsep produksi merupakan salah satu konsep yang paling tua dalam

menuntun para penjual. Konsep ini menyatakan bahwa konsumen akan

menyukai produk yang tersedia dan selaras dengan kemampuan, dan oleh

karenanya manajemen harus berkonsentrasi pada peningkatan efisien

(19)

2. Konsep Produk

Menyatakan bahwa konsumen akan menyangi produk yang menawarkan

kualitas dan prestasi yang paling baik serta keistimewaan yang menonjol

dan oleh karena itu organisasi harus mencurahkan usaha terus- menerus

dalam perbaikan produk.

3. Konsep Penjualan

Konsep menyatakan bahwa konsumen tidak akan membeli cukup banyak

produk, terkecuali organisasi menjalankan suatu promosi dan penjualan

yang kokoh.

4. Konsep Pemasaran

Konsep Pemasaran adalah suatu falsafah atau gagasan yang lebih baru

dalam sejarah hubungan pertukaran sebgai usaha untuk menantang

konsep-konsep sebelumnya. Konsep ini berpendapat bahwa kunci

untuk mencapai tujuan organisasi terdiri dari penentuan kebutuhan

keinginan pasar sasaran serta memberikan kepuasan yang diharapkan

secera lebih efektif dan efisien dibanding dengan para pesaingnya.

5. Konsep Pemasaran Kemasyarakatan

Berpendapat bahwa tugas organisasi adalah menentukan kebutuhan,

keinginan dan kebutuhan pasar sasaran, serta memberikan kepuasan yang

diharapkan dengan cara lebih efektif dan efisien dari para pesaing dengan

tetap melestarikan atau meningkatkan kesejahteraan konsumen dan

(20)

Dari ketiga pendapat para ahli di atas maka dapat ditarik kesimpulan

bahwa manajemen pemasaran adalah proses yang melibatkan

penganalisaan, perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, dan pengawasan

yang mencakup barang, jasa gagasan yang tergantung pertukaran dan

dengan tujuan menghasilkan kepuasan bagi pihak-pihak yang terlibat.

2.2.2 Strategi Pemasaran

Dalam menentukan strategi pemasaran yang untuk digunakan pada

perusahaan akan sangat menentukan keberhasilan dari dunia usaha pemasaran

dari suatu produk perusahaan itu sendiri, terutama dalam iklim usaha yang

sangat ketat pada saat ini.

Menurut Kotler (2001 : 110) strategi pemasaran adalah terdiri dari

prinsip-prinsip yang kuat dimana manajemen pemasaran terhadao untuk

mencapai tujuan pemasaran maupun tujuan usahanya dalam satu pasar

sasaran. Prinsip-prinsip tersebut melalui keputusan-keputusan dasar

pengeluaran pemasaran, bauran pemasaran, dan alokasi pemasaran.

Menurut Guiltiman dan paul (2000 : 157) strategi pemasaran adalah

suatu rencana yang menunjukkan dan melaksanakan tindakan-tindakan yang

akan membantu sasaran-sasaran penjualan, bagian pasar dan laba untuk suatu

produk.

Menurut Chandra (2002 : 93) strategi pemasaran merupakan

(21)

aktifitas atau program pemasaran terhadap permintaan produk atau lini

produknya di pasar sasaran tertentu.

Dengan demikian pada dasarnya strategi pemasaran memberikan arah

dalam kaitannya dengan varabel-variabel sepeti segmentasi pasar, identifikasi

pasar positioning, elemen bauran pemasaran, biaya bauran pemasaran

sehingga sebuah strategi pemasaran merupakan bagian integral dari bisnis

yang memberi arah pada semua fungsi manajemen suatu organisasi.

Titik berat strategi pemasaran adalah memenuhi kebutuhan dan

keinginan pasar serta menentukan harga, mengadakan komunikasi serta

distribusi yang efektif untuk memberitahu, mendorong individu maupun

organisasi.

Terdapat empat tipe dari strategi pemasaran yaitu :

1. Merancang primary demand (permintaan terhadap bentuk atau kelas

produk) dengan meningkatkan jumlah, misalnya dengan mengurangi

harga, menunjukkan manfaat produk yang ditawarkan dan sebagainya.

2. Merancang primary demand dengan meningkatkan derajat pembelian

misalnya dengan menawarkan manfaat-manfaat baru, menghasilkan

produk-produk pelengkap dan sebagainya.

3. Merancang selective demand (permintaan terhadap merek produk

penjualan tertentu) dengan cara mempertahankan langganan yang

sudah ada, misalnya dengan cara selalu memberikan kepuasan kepada

(22)

4. Merancang sumber daya dengan menarik pelanggan baru yang dapat

dilakukan dengan cara, yaitu :

a. bersaing secara langsung (head to head position)

b. meluncurkan produk yang berbeda dengan pesaing (differentation

positioning)

Kesimpulan yang dapat diambil bahwa pemilihan strategi pemasaran

yang tepat memberikan arah dalam kaitannya dengan variabel-variabel seperti

segmentasi pasar, identifikasi pasar positioning, elemen bauran pemasaran

sehingga sebuah strategi pemasaran merupakan bagian integral dari bisnis

yang memberikan arah pada semua fungsi manajemen arah pada semua fungsi

menajemen suatu organisasi.

2.2.3 Bauran Pemasaran

Bauran pemasaran adalah marketing mix merupakan faktor yang sangat

penting dalam dunia usaha untuk mencapai tujuan yang diinginkan bagi suatu

perusahaan, karena dalam pengambilan keputusan yang menyangkut dibidang

pemasaran hampir selalu berkaitan dengan variabel-variable bauran pemasaran

atau marketing mix.

Beberapa pendapat dari para ahli : Menurut Kotler (2000 : 18)

marketing mix adalah “Seperangkat alat pemasaran yang digunakan

perusahaan untuk terus-menerus mencapai tujuan pemasarannya dipasar

(23)

Menurut Rismiati dan Suratno (2001 : 190) marketing mix dapat juga

diartikan sebagai kombinasi dari empat kegiatan perusahaan yang merupakan

inti dari sistem pemasaran perusahaan, yakni produk, struktur harga, sistem

distribusi, dan kegiatan promosi. Marketing mix merupakan suatu perangkat

penentu keberhasilan pemasaran perusahaan.

Menurut Angipora (2002 : 24) Marketing mix adalah kombinasi dari

strategi produk, harga, promosi dan distribusi dalam mencapai tujuan

pemasaran dinamakan “marketing mix” atau “bauran pemasaran”.

Dari ketiga pendapat para ahli di atas maka dapat ditarik kesimpulan

bahwa marketing mix adalah sebagai kombinasi dari keempat kegiatan

perusahaan yang merupakan inti dari sistem pemasaran perusahaan yakni

produk, struktur harga, saluran distribusi dan kegiatan promosi.

2.3 Perilaku Konsumen

2.3.1 Pengertian Perilaku Konsumen

Perilaku konsumen ditimbulkan oleh adanya bentuk interaksi antara

faktor lingkungan dan individu. konsumen yang telah melakukan suatu

pembelian mayoritas didorong oleh berbagai motif yaitu : motif sosiologi,

agama, biologis, dsb.

Menurut Nugroho (2003 : 3) Perilaku konsumen adalah tindakan yang

langsung terlibat dalam mendapatkan, mengkonsumsi, dan menghabiskan

(24)

tindakan.

Pengertian perilaku konsumen seperti diungkapkan oleh Mowen

(2002:6) mengatakan: “Studi tentang unit pembelian (buying unit) dan

proses pertukaran yang melibatkan perolehan, konsumsi dan pembuangan,

barang, jasa, pengalaman serta ide-ide”.

Swastha dan Handoko (2000:10) mengatakan: Perilaku konsumen

(consumer behavior) dapat didefinisikan sebagai kegiatan-kegiatan

individuyang secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan

mempergunakan barang-barang dan jasa-jasa, termasuk didalamnya proses

pengambilan keputusan pada persiapan dan menentukan kegiatan-kegiatan

tertentu.

Dari ketiga pendapat para ahli di atas maka dapat ditarik kesimpulan

bahwa perilaku konsumen adalah tindakan-tindakan yang dilakukan oleh

individu, kelompok atau organisasi yang berhubungan dengan proses

pengambilan keputusan dalam mendapatkan, menggunakan barang dan jasa

yang dapat dipengaruhi lingkungan.

2.3.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen

Dalam memahami perilaku konsumen perlu dipahami siapa

konsumen, sebab dalam suatu lingkungan yang berbeda akan memiliki

(25)

Menurut Kotler (2001:144): Faktor-faktor yang mempengaruhi

perilaku konsumen adalah kebudayaan, faktor sosial, pribadi, psikologis.

Sebagian faktor-faktor tersebut tidak diperhatikan oleh pemasar tetapi

sebenarnya harus diperhitungkan untuk mengetahui seberapa jauh

faktor-faktor perilaku konsumen tersebut mempengaruhi pembelian konsumen

Gambar 2.1

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Minat Beli Konsumen

(26)

Perilaku konsumen menurut Engel et al. (2000: 278) adalah tindakan

yang langsung terlibat dalam mendapatkan, mengkonsumsi, dan

menghabiskan produk dan jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului

dan menyusuli tindakan ini. Menurut Engel et al. model perilaku konsumen

dalam pengambilan keputusan pembelian dipengaruhi oleh pengaruh

lingkungan, perbedaan individu, dan proses psikologis.

Gambar 2.2. Model Perilaku Pengambilan Keputusan Konsumen

Sumber Engel et.al (2000)

2.3.2.1 Pengaruh Lingkungan 2.3.2.1.1. Faktor Kebudayaan

Kebudayaan merupakan penentu keinginan dan perilaku yang paling

(27)

lembaga-lembaga penting lainnya. Faktor kebudayaan memberikan pengaruh

paling luas dan dalam pada tingkah laku konsumen. Pemasar harus

mengetahui peran yang dimainkan oleh:

a). Budaya

Budaya adalah kumpulan nilai-nilai dasar, persepsi, keinginan dan tingkah

laku yang dipelajari oleh seorang anggota masyarakat dari keluarga dan

lembaga penting lainnya. Menurut Kotler dan Amstrong (1997:144)

termasuk dalam budaya ini adalah pergeseran budaya serta nilai nilai

dalam keluarga.

b). Sub budaya

Sub budaya adalah sekelompok orang dengan sistem nilai terpisah

berdasarkan pengalaman dan situasi kehidupan yang umum.

Sub budaya termasuk nasionalitas, agama, kelompok ras, dan wilayah

geografis.

c). Kelas sosial

Kelas sosial adalah divisi masyarakat yang relatif permanen dan teratur

dengan para anggotanya menganut nilai-nilai, minat dan tingkah laku

yang serupa.

d). Nilai-nilai

Unsur budaya yang paling menentukan adalah nilai-nilainya,

kepercayaan yang bertahan lama yang ditinggalkan oleh suatu

(28)

2.3.2.1.2. Faktor Sosial

Kelas sosial merupakan Pembagian masyarakat yang relatif homogen

dan permanen yang tersusun secara hierarkis dan yang anggotanya menganut

nilai-nilai, minat, dan perilaku yang serupa.

Kelas sosial ditentukan oleh satu faktor tunggal, seperti pendapatan,

tetapi diukur sebagai kombinasi dari pekerjaan, pendapatan, pendidikan,

kekayaan dan variabel lain. Dalam beberapa sistem sosial, anggota dari kelas

yang berbeda memelihara peran tertentu dan tidak dapat mengubah posisi

sosial mereka. Tingkah laku konsumen juga dipengaruhi oleh faktor-faktor

sosial, yaitu:

a). Kelompok

Kelompok adalah dua orang atau lebih yang berinteraksi untuk mencapai

sasaran individu atau bersama. Beberapa merupakan kelompok primer

yang mempunyai interaksi reguler tapi informal-seperti keluarga, teman,

tetangga dan rekan sekerja. Beberapa merupakan kelompok sekunder,

yang mempunyai interaksi lebih formal dan kurang reguler. Ini mencakup

organisasi seperti kelompok keagamaan, asosiasi profesional dan serikat

pekerja.

b). Keluarga

Keluarga adalah organisasi pembelian konsumen yang paling penting

(29)

dalam peran dan pengaruh suami, istri dan anak-anak pada pembelian

berbagai produk dan jasa.

c). Peran dan status

Peran terdiri dari aktivitas yang diharapkan dilakukan seseorang menurut

orang-orang yang ada disekitarnya. Setiap peran membawa status yang

mencerminkan penghargaan yang diberikan oleh masyarakat. Orang

seringkali memilih produk yang menunjukkan statusnya dalam

masyarakat.

2.3.2.1.3. Faktor Pribadi

Faktor pribadi didefinisikan sebagai karakteristik psikologis seseorang

yang berbeda dengan orang lain yang menyebabkan tanggapan yang relatif

konsisten dan bertahan lama terhadap lingkungan.

Keputusan membeli juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi, yaitu:

a). Umur dan tahap daur hidup

Orang mengubah barang dan jasa yang mereka beli selama masa

hidupnya. Selera akan makanan, pakaian, perabot dan rekreasi sering kali

berhubungan dengan umur. Membeli juga dibentuk oleh tahap daur hidup

keluarga, tahap-tahap yang mungkin dilalui oleh keluarga sesuai dengan

kedewasaannya. Pemasar seringkali menentukan sasaran pasar dalam

bentuk tahap daur hidup dan mengembangkan produk yang sesuai serta

(30)

b). Pekerjaan

Pekerjaan seseorang mempengaruhi barang dan jasa yang dibelinya.

Pemasar berusaha mengenali kelompok pekerjaan yang mempunyai minat

di atas rata-rata akan produk dan jasa mereka. Sebuah perusahaan bahkan

dapat melakukan spesialisasi dalam memasarkan produk menurut

kelompok pekerjaan tertentu.

c). Situasi ekonomi

Situasi ekonomi sekarang akan mempengaruhi pilihan produk.

Pemasar produk yang peka terhadap pendapatan mengamati kecenderungan

dalam pendapatan pribadi, tabungan dan tingkat minat. Bila indicator

ekonomi menunjukkan resesi, pemasar dapat mengambil

langkah-langkah untuk merancang ulang, memposisikan kembali dan mengubah

harga produknya.

d). Gaya hidup

Pola kehidupan seseorang yang diwujudkan dalam aktivitas

(pekerjaan, hobi, berbelanja, olahraga, kegiatan sosial), minat (makanan,

mode, keluarga, rekreasi) dan opini yang lebih dari sekedar kelas sosial dan

kepribadian seseorang, gaya hidup menampilkan pola bereaksi dan

berinteraksi seseorang secara keseluruhan di dunia.

e). Kepribadian dan Konsep Diri

Kepribadian setiap orang jelas mempengaruhi tingkah laku

(31)

menyebabkan respons yang relatif konsisten dan bertahan lama terhadap

lingkungan dirinya sendiri. Kepribadian biasanya diuraikan dalam arti

sifat-sifat seperti rasa percaya diri, dominasi, kemudahan bergaul,

otonomi, mempertahankan diri, kemampuan menyesuaikan diri, dan

keagresifan. Kepribadian dapat bermanfaat untuk menganalisis tingkah

laku konsumen untuk pemilihan produk atau merek tertentu.

2.3.2.2 Perbedaan Individu

Masing-masing individu diciptakan oleh Tuhan berbeda-beda dan unik. Dengan adanya perbedaan tersebut, tentu saja akan mempengaruhi bagaimana individu membuat keputusan. Hal ini juga sejalan dengan keputusan pembelian yang dipengaruhi oleh perbedaan individu sebagai faktornya. Ada lima hal yang membuat masing-masing individu konsumen berbeda satu sama lainnya, yaitu sumber daya konsumen, keterlibatan dan motivasi, pengetahuan, sikap, kepribadian, serta gaya hidup dan demografi.

(32)

Bila keterlibatan tinggi, ada motivasi untuk memperoleh dan mengolah informasi dan kemungkinan yang jauh lebih besar dari pemecahan masalah yang diperluas. Terdapat dua jenis keterlibatan yaitu langgeng dimana keterlibatan ada sepanjang waktu karena peningkatan konsep diri dan keterlibatan situasional yaitu keterlibatan sementara yang distimulasikan oleh risiko yang didasari, tekanan konformitas, atau pertimbangan lain. Pengetahuan konsumen merupakan informasi yang disimpan di dalam ingatan.

Kepribadian dapat diartikan sebagai respon yang konsisten terhadap stimulus lingkungan. Gaya hidup adalah pola dimana orang hidup dan menghabiskan waktu serta uang. Gaya hidup juga merupakan hasil dari jajaran total ekonomi budaya dan kekuatan kehidupan sosial yang menyokong kualitas manusia seseorang. Demografi adalah karakteristik yang dimiliki oleh masyarakat, dapat berupa umur, jenis kelamin, pekerjaan, dan pendapatan.

2.4 Keputusan Pembelian

2.4.1 Pengertian Keputusan Pembelian

Keputusan pembelian yang dilakukan oleh para pembeli didasari oleh

bermacam-macam faktor. Keputusan pembelian konsumen berdasarkan

tahap-tahap pembelian.

Engel et al. (2000) menjelaskan bahwa setiap orang memiliki model

perilaku konsumen sendiri, yaitu suatu konsepsi bagaimana perilaku ini terjadi

(33)

yang efektif untuk mempengaruhi perilaku tersebut dan sebaliknya. Lebih

lanjut pula dijelaskan beberapa hal yang dijadikan sebagai bahan diagnosis

pada proses pengambilan keputusan konsumen, yaitu motivasi dan

pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan

pembelian, dan hasil atau perilaku pasca pembelian.

Menurut Rismiati dan Suratno (2003 : 220) keputusan pembelian

adalah setelah konsumen menentukan kebutuhan dan mempunyai keinginan

akan produk tertentu, konsumen diharapkan memunculkan keputusan untuk

membeli.

Menurut Kotler (2007 : 240) keputusan membeli adalah tahap

evaluasi, para konsumen membentuk preferensi atas merek yang ada di dalam

kumpulan pilihan. konsumen juga dapat membentuk niat untuk membeli

merek yang paling disukai. Dalam melaksanakan maksud pembelian

konsumen bisa mengambil lima subkeputusan : merek, deller, kuantitas,

waktu, dan metode pembayaran. Dalam pembelian produk sehari-hari

keputusannya lebih kecil dan kebebasannya juga lebih kecil.

Dari pendapat para ahli di atas maka dapat ditarik kesimpulan

bahwa keputusan pembelian adalah keputusan membeli konsumen pada

(34)

2.4.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Membeli

Menurut Kotler (2002 : 153) Faktor-faktor yang mempengaruhi

keputusan membeli sebagai berikut :

Gambar 2.3

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Membeli

Rangsangan Rangsangan Karakteristik Proses Keputusan Keputusan Pemasaran Lain Pembeli Pembeli Pembeli

Produk Ekonomi Budaya -Pengenalam -Pilihan Harga Teknologi Sosial masalah produk Promosi Politik Pribadi - Pencarian -Pilihan Merek Distribusi Budaya Psikologi Informasi -Pilihan

- Evaluasi penyalur

- Keputusan -Waktu

Perilaku Pembelian

- Pasca Pembelian -Jumlah

membeli

(Sumber : Kotler , 2002 : 153)

Model keputusan membeli ini adalah :

1. Produk adalah kebuthan dan keinginan suatu barang, meliputi model

produk, harga produk, mutu produk, dan sebagainya.

2. Harga adalah biaya bagi pembeli.

3. Distribusi adalah saluran yang dugunakan oleh produsen untuk

menyalurkan barang-barang tersebut dari produsen sampai ke konsumen

(35)

4. Promosi adalah arus informasi atau persuasi satu arah yang dibuat untuk

mengarahkan seseorang atau organisasi kepada tindakan yang

menciptakan pertukaran dalam pemasaran.

2.4.3 Macam-macam Situasi Pembelian

Pembelian konsumen dapat ditinjau sebagai kegiatan penyelesaian

suatu masalah. Konsumen dalam membeli mempunyai beberapa pilihan

situasi pembelian.

Menurut Swastha (2000 : 117) Macam-macam situasi pembelian

sebagai berikut :

1. Perilaku responsi rutin

Pembeli sudah memahami merek-merek beserta atributnya. Pada

umumnya kegiatan pembelian dilakukan secara rutin tidak memerlukan

banyak pikiran, tenaga dan waktu.

2. Penyelesaian masalah tebatas

Pembelian akan lebih kompleks jika pembeli tidak mengetahui sebuah

merek dalam satu jenis produk yang disukai sehingga membutuhkan

informasi lebih banyak lagi sebelum memutuskan untuk membeli.

3. Penyelesaian masalah ekstensif

Pembelian akan sangat kompleks jika pembeli mempunyai jenis produk

yang kurang dan tidak mengetahui kegiatan pengumpulan informasi dan

(36)

atribut-atribut kelompok tersebut. Macam-macam penyelesaian masalah

ekstensif sebagai berikut :

a)keputusan tentang jenis produk

b)keputusan tentang bentuk produk

c)keputusan tentang merek produk

d)keputusan tentang penjualan

e)keputusan tentang jumlah produk

f) keputusan tentang waktu pembelian

g)keputusan tentang cara pembayaran

2.4.4 Pengertian Proses Pengambilan Keputusan Konsumen

Proses pengambilan keputusan konsumen melewati kelima tahap

seluruhnya pada setiap pembelian. Keputusan pembelian adalah tahap

evaluasi para konsumen membentuk preferensi atas merek yang ada di dalam

kumpulan pilihan.

Menurut Nugroho (2003 : 16) proses pengambilan keputusan

konsumen adalah proses pembelian yang spesifik terdiri dari urutan kejadian

sebagai berikut : pengenalan masalah kebutuhan, pencarian informasi,

evaluasi alternatif, keputusan pembelian dan keputusan pasca pembelian.

Menurut Alma (2004 : 105) proses pengambilan keputusan adalah

membagi kedalam tiga jenis yaitu pengambilan keputusan yang luas

(37)

decision making), dan pengambilan keuputusan yang bersifat kebiasaan

(habitual decision making).

Menurut Tjiptono (2005 : 43) proses pengambilan keputusan adalah

tahap-tahap dalam proses kegiatan suatu pembelian dimulai dengan

identifikasi kebutuhan, pencarian informasi, evalusi alternatif, pembelian

alternatif, dan evaluasi purnabeli.

Dari ketiga pendapat para ahli di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa

proses keputusan pembelian adalah sebuah proses pengambilan keputusan

tidak hanya berakhir dengan terjadinya transaksi pembelian, akan tetapi

diikiuti pula oleh tahap perilaku purna beli atau pasca pembelian.

2.4.5 Proses Pengambilan Keputusan Konsumen

Proses pengambilan keputusan konsumen terdiri dari tahap-tahap yang

dimulai dengan pengenalan kebutuhan dan keinginan serta tidak berhenti

setelah pembelian dilakukan.

Menurut Tjiptono (2005 : 43) tahap-tahap dalam proses pengambilan

keputusan konsumen yaitu :

Gambar 2.4

Proses Pengambilan Keputusan Konsumen

(38)

1. Identifikasi kebutuhan

Identifikasi kebutuhan muncul ketika konsumen menghadapi suatu

masalah yaitu suatu keadaan dimana terdapat perbedaan antara keadaan

yang diinginkan dan keadaan yang sebenarnya terjadi. Kebutuhan harus

diaktifkan terlebih dahulu sebelum ia bisa terkenal.

2. Pencarian informasi

pencarian informasi mulai dilakukan ketika konsumen memandang

bahwa kebutuhan tersebut bisa dipenuhi dengan membeli dan

mengkonsumsi suatu produk. Konsumen akan mencari suatu informasi

yang tersimpan didalam ingatan (pencarian internal) dan mencari

informasi dari luar (pencarian eksternal).

3. Evaluasi alternatif

adalah proses mengevaluasi piliha produk dan merek. Pada proses

evaluasi alternatif, konsumen membandingkan berbagai pilihan yang

dapat memecahkan masalah yang dihadapi konsumen.

4. Pembelian konsumsi

Diman konsumen membentuk preferensi terhadap merek-merek yang

terdapat pada perangkat pilihan. Konsumen juga membentuk tujuan

membeli untuk merek yang akan dipilih.

5. Evaluasi pembeli

Sesudah pembelian terhadap suatu produk yang dilakukan konsumen

(39)

2.4.6 Tipe-tipe Pengambilan Keputusan Konsumen

Situasi pembelian yang berbeda menyebabkan konsumen tidak

melakukan langkah atau tahapan pengambilan keputusan yang sama.

Menurut Swastha (2000 : 117) tipe-tipe pengambilan keputusan

konsumen yaitu :

1. Pemecahan masalah yang diperluas

Ketika konsumen tidak memiliki kreteria untuk mengevaluasi sebuah

kategori produk atau meek tertentu pada kategori tersebut atau tidak

membatasi jumlah merek yang akan dipertimbangkan ke dalam jumlah

yang mudah dievaluasi, maka proses pengambilan keputusan konsumen

bisa disebut sebagai pemecahan masalah yang diperluas. Konsumen

membutuhkan informasi yang banyak untuk menetapkan kreteria dalam

menilai merek tertentu. Konsumen juga membutuhkan informasi yang

cukup mengenai masing-masing merek yang akan dipertimbangkan.

2. Pemecahan masalah yang terbatas

Konsumen telah memiliki kreteria dasar untuk mengevaluasi kategori

produk dan berbagai merek pada kategori tersebut. Namun konsumen

belum memiliki preferensi tentang merek tersebut. Konsumen hanya

membutuhkan tambahan informasi untuk bisa membedakan antara

berbagai merek tertentu. Konsumen menyederhanakan proses

(40)

3. Pemecahan masalah rutin

Konsumen telah memiliki pengalaman terhadap produk yang akan

dibeli konsumen. Konsumen juga telah memiliki standart untuk

mengevaluasi merek. Konsumen seringkali hanya mereview apa yang

telah diketahui konsumen. Konsumen hanya membutuhkan informasi

yang sedikit.

2.4.7. Struktur Keputusan Membeli

Menurut Rismiati dan Suratno (2006 : 79-80), struktur keputusan

membeli penting untuk diketahui karena sesudah menentukan kebutuhan dan

mempunyai keinginan atau produk tertentu, konsumen diharapkan untuk

memunculkan keputusan untuk membeli. Ada tujuh struktur keputusan

membeli yang mempengaruhi konsumen.

1. Keputusan tentang jenis produk

konsumen dapat memutuskan untuk membelanjakan uangnya untuk

membeli produk X atau untuk tujuan lain selain melakukan pembelian.

Para pemasar harus memutuskan perhatian pada konsumen yang

diharapkan untuk memutuskan untuk membeli prosduk X dari alternatif

lain yang mereka pertimbangkan.

(41)

konsumen memutuskan unyuk membeli produk X dengan bentuk tertentu

(ukuran, mutu, corak, dan sebagainya). Perusahaan harus menggunakan

riset pemasaran untuk mengetahui kesukaan konsumen.

3. Keputusan tentang merek

konsumen memutuskan merek yang akan dibeli. Perusahaan harus

mengetahui bagaimana konsumen memilih sebuah merek.

4. Keputusan tentang penjualan

konsumen memutuskan dimana akan membeli (toko serba ada, toko

elektronik, dll). Perusahaan termasuk (pedagang besar, kecil, pengecer)

harus mengetahui bagaimana konsumen memilih penjual tertentu

5. Keputusan tentang waktu pembelian

konsumen memutuskan jumlah produk yang akan dibeli (kapan

uang/kesempatan tersedia). Perusahaan harus mengetahui faktor-faktor

yang mempengaruhi konsumen dalam penentuan waktu pembelian.

6. Keputusan tentang jumlah produk

konsumen memutuskan jumlah produk yang akan dibeli. Perusahaan

harus mempertimbangkan banyaknya produk tersedia untuk konsumen.

7. Keputusan tentang tata cara pembayaran

konsumen memutuskan metode pembayaran yang disukainya. Perusahaan

harus mengetahui hal ini yang akan mempengaruhi dalam penawaran dan

(42)

2.4.8 Tipe-tipe perilaku Membeli

Setiap konsumen dalam membuat keputusan pembelian berbeda-beda

sesuai dengan tipe-tipe keputusan pembeli.

Menurut Amir (2005 : 63) tipe-tipe perilaku pembeli yaitu :

1. Perilaku membeli yang kompleks

Para konsumen menjalani atau menempuh suatu perilaku pembeli yang

kompleks bila mereka semakin terlibat dalam kegiatan membeli dan

menyadari perbedaan penting diantara beberapa merek produk yang

ada.

2. Perilaku pembeli yang mengurangi ketidakcocokan

Kadang-kadang konsumen sangat terlibat dalam kegiatan membeli

sesuatu tetapi dia hanya melihat sedikit perbedaan dalam merek.

3. Perilaku pembeli berdasarkan kebiasaan

Banyak produk yang dibeli dalam keadaan konsumen terlibat dan tidak

terlibat perbedaan nyata antara merek.

4. Perilaku pembeli yang mencari keragaman dalam beberapa situasi

Membeli keterlibatan konsumen rendah tetapi ditandai oleh perbedaan

(43)

2.4.9 Tipe, Perilaku, dan Peranan Pelanggan

Secara sistematis, dimensi perilaku konsumen meliputi tiga aspek utama

yaitu tipe, perilaku, dan peranan pelanggan. Menurut Tjiptono (2005 : 40)

tipe, perilaku, dan peranan palanggan yaitu :

1. Tipe pelanggan terdiri dari hal-hal sebagai berikut :

a. Konsumen akhir atau konsumen rumah tangga adalah konsumen

yang melakuakan pembelian untuk kepentingan diri sendiri,

keluarga maupun keperluan harian dengan teman maupun

saudaratanpa maksud memperjualbelikannya.

b. Konsumen bisnis adalah konsumen yang melakukan pembelian untuk

keperluan pemrosesan lebih lanjut, kemudian dijual, disewakan

kepada orang lain, dijual kepada pihak lain, dipergunakan untuk

keperluan layanan sosial dan kepentingan publik.

2. Peranan konsumen terdiri dari hal-hal sebagai berikut :

a. User

orang yang benar-benar mengkonsumsi atau menggunakan produk

maupun mendapatkan manfaat dari produk atau jasa yang dibeli.

b. Payer

orang yang mendanai atau membiayai pembeli.

c. Buyer

(44)

3. Perilaku pelanggan terdiri dari hal-hal sebagai berikut :

a. aktivitas mental seperti menilai kesesuaian merek produk, menilai

kualitas produk berdasarkan informasi yang diperoleh dari iklan, dan

mengevaluasi pegalaman aktual dari konsumsi produk maupun jasa.

b. aktivitas fisik meliputi mengunjungi toko, membaca panduan

konsumen atau katalog dengan wiraniaga, dan memasarkan produk

2.5Kerangka Berfikir

Analisa tentang perilaku konsumen sangat penting bagi perusahaan Dengan

memahami perilaku konsumen pada pasar sasaranya, maka kelangsungan hidup

perusahaan tersebut sebagai lembaga yang berusaha memenuhi kebutuhan dan

keinginan, sangat tergantung pada perilaku konsumennya. Perilaku konsumen itu

sendiri adalah proses pengambilan keputusan dan aktivitas fisik dalam

mengevaluasi, memperoleh, menggunakan dan menghabiskan barang atau jasa.

Perilaku konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian yang dilakukan

oleh konsumen melewati lima tahapan antara lain pengenalan kebutuhan,

pencarian informasi, evaluasi informasi, tahap pembelian dan pasca pembelian.

Dengan pemahaman kebutuhan dan proses pembelian konsumen adalah sangat

penting dalam membangun strategi pemasaran yang efektif.

Dengan mengerti bagaimana pembeli melalui proses pengenalan masalah,

(45)

Keputusan Konsumen

(Y)

setelah membeli, para pemasar dapat mengambil isyarat-isyarat penting

bagaimana memenuhi kebutuhan pembeli. Juga dengan mengerti berbagai

partisipan dalam proses pembelian dan pengaruh-pengaruh utama dalam perilaku

membeli mereka, para pemasar dapat merancang program pemasaran yang lebih

efektif bagi pemasaran mereka.

Tidak dapat diragukan lagi bahwa pemasar yang memahami konsumen akan

memiliki kemampuan bersaing yang lebih baik. Model perilaku konsumen dalam

pengambilan keputusan pembelian dipengaruhi oleh Pengaruh kebudayaan, faktor

sosial, pribadi dan psikologis

Dari uraian tersebut dapat disusun karangka pikir dalam penelitian ini sebagai

berikut :

Gambar 2.5

Kerangka Berpikir Analisis Keputusan Konsumen dalam mengkonsumsi produk kopi susu instan

(46)

2.6 Hipotesis

Dari perumusan masalah, tujuan penelitian, landasan teori dan telah

dituangkan dalam kerangka pikir, maka dapat ditarik hipotesis sebagai

berikut:

1. Secara simultan faktor kebudayaan,sosial, pribadi dan psikologis

berpengaruh signifikan terhadap keputusan konsumen dalam

mengkonsumsi produk kopi susu instan.

2. Secara parsial faktor kebudayaan, sosial, pribadi dan psikologis

berpengaruh terhadap keputusan konsumen dalam mengkonsumsi produk

(47)

3.1 Definisi Operasi dan Pengukuran Variabel

Yang dimaksud definisi operasional adalah suatu definisi yang

memberikan arti atau menspesifikasikan kegiatan atau memberikan suatu

operasional yang diperlukan untuk mengukur variabel tersebut sesuai

dengan perumusan masalah dan tujuan dari penelitian

Dalam penelitian ini variabel yang digunakan adalah faktor

kebudayaan (X1), faktor sosial (X2),faktor pribadi (X3) sebagai variabel

bebas atau variabel independen dan keputusan membeli (Y) sebagai

variabel terikat atau variabel dependen.

a. Variabel Bebas (X) terdiri dari :

1. Faktor kebudayaan (X1) merupakan penentu keinginan dan perilaku

yang paling mendasar untuk mendapatkan nilai, persepsi, preferensi

dan perilaku dari lembaga-lembaga penting lainnya. Faktor

kebudayaan memberikan pengaruh paling luas dan dalam pada

tingkah laku konsumen dalam mengkonsumsi kopi Instan. Indikator

yang digunakan yaitu :

a. Kebiasan (X1.1)

(48)

Skala pengukuran digunakan adalah skala likert, sedangkan teknik

pengukuran yang digunakan adalah skala interval dengan

menggunakan skor sebagai berikut :

Sangat setuju = 5

Setuju = 4

Ragu-ragu = 3

Tidak setuju = 2

Sangat tidak setuju = 1

2. Faktor sosial (X2) merupakan pembagian masyarakat yang relatif

homogen dan permanen yang tersusun secara hierarkis dan yang

anggotanya menganut nilai-nilai, minat, dan perilaku yang serupa.

Dimana kelas sosial mempengaruhi perilaku konsumen dalam

mengkonsumsi kopi merk InstanKopi Susu. Indikator dari kelas

sosial adalah:

a. Kelompok Teman(X2.1)

b. Keluarga (X2.2)

c. Peran dan status (X2.3)

Skala pengukuran digunakan adalah skala likert, sedangkan teknik

pengukuran yang digunakan adalah skala interval dengan

menggunakan skor sebagai berikut :

Sangat setuju = 5

Setuju = 4

(49)

Tidak setuju = 2

Sangat tidak setuju = 1

3. Faktor pribadi (X3) didefinisikan sebagai karakteristik psikologis

seseorang yang berbeda dengan orang lain yang menyebabkan

tanggapan yang relatif konsisten dan bertahan lama terhadap

lingkungan. Dimana keputusan mengkonsumsi kopi susu intan juga

dipengaruhi oleh karakteristik pribadi

Adapun indikator dari variabel tersebut adalah:

a. Umur (X3.1)

b.Pekerjaan (X3.2)

c.Gaya hidup (X3.3)

Skala pengukuran digunakan adalah skala likert, sedangkan teknik

pengukuran yang digunakan adalah skala interval dengan

menggunakan skor sebagai berikut :

Sangat setuju = 5

Setuju = 4

Ragu-ragu = 3

Tidak setuju = 2

(50)

b. Variabel Terikat (Y) terdiri dari :

Keputusan mengkonsumsi merupakan tahap dari proses keputusan

pembeli yaitu ketika konsumen benar-benar membeli. Pada umumnya

keputusan membeli konsumen adalah membeli merek yang paling disukai.

Keputusan mengkonsumsi merupakan pilihan konsumen memilih

membeli dan mengkonsumsi kopi susu instan dalam jumlah tertentu.

Adapun indikator dari variabel tersebut adalah:

a. Keputusan konsumen dalam mengkonsumsi Kopi Susu Instan

berdasarkan kebiasan (Y1.1)

b.Keputusan konsumen dalam mengkonsumsi Kopi Susu Instan

berdasarkan pengaruh di dalam masyarakat (Y2.2)

c. Keputusan konsumen dalam mengkonsumsi Kopi Susu Instan

berdasarkan status dan gaya hidup (Y3.3)

Skala pengukuran digunakan adalah skala likert, sedangkan teknik

pengukuran yang digunakan adalah skala interval dengan menggunakan

skor sebagai berikut :

1. Sangat setuju = 5

2. Setuju = 4

3. Ragu-ragu = 3

4. Tidak setuju = 2

(51)

Populasi, Sampel dan Teknik Penarikan Sampel

3.2.1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau

subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan

oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian di tarik kesimpulannya.

(Sugiyono 2008 ; 61). Populasi dalam penelitian ini adalah Mahasiswa

Fisip UPN “Veteran” Jatim yang masih aktif dalam perkuliahan.

3.2.2 Sampel

Sampel adalah bagian dari populasi yang menjadi ciri – ciri tertentu atau

keadaan tertentu yang akan diteliti ( Riduwan 2004 : 56 ). Dan sampel yang digunakan

dalam penelitian ini adalah mahasiswa Fisip UPN “ VETERAN” Jatim yang

mengkonsumsi kopi Instan (konsumen)

Dan untuk mendapatkan hasil yang representative, maka digunakan

(52)

3.2.3 Teknik Penarikan Sampel

Penelitian ini diambil dengan cara menyebarkan kuesioner kepada

responden, dengan menggunakan teknik purposive sampling. yaitu teknik

pengambilan sampel berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan sehingga

membatasi ruang lingkup penelitian dari jenis sampel yang ada.

Pengambilan sampel dilakukan oleh peneliti dengan tujuan atau target

tertentu (Indrianto, 2002: 93). Adapun kriteria yang digunakan dalam

pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

a.Mahasiswa UPN “Veteran” Jatim yang masih aktif dalam perkuliahan

b. Pernah membeli dan mengkonsumsi produk Kopi instan

3.3 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan suatu cara yang digunakan untuk

mengumpulkan data dalam suatu penelitian. Adapun perolehan data tersebut

dibagi dalam tiga bagian yaitu :

3.3.1 Jenis Data

Jenis data data dalam penelitian ini adalah Data primer yang

merupakan data yang dikumpulkan atau diperoleh secara langsung di tempat

yang menjadi obyek penelitian dan di olah sendiri dalam melakukan analisis.

Data primer berupa hasil jawaban responden. Dalam hal ini Mahasiswa UPN

(53)

3.3.2 Sumber Data

Data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah data berdasarkan

jawaban yang diberikan oleh Mahasiswa Fisip UPN Veteran Jatim yang

mengkonsumsi Kopi InstanKopi Susu

3.3.3 Pengumpulan Data

Dalam pengumpulan data penelitian menggunakan metode

pengumpulan data sebagai berikut :

Kuisioner

Kuisioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan

cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada

responden untuk dijawab.

3.4 Teknik Analisis dan Uji hipotesis 3.4.1 Uji Validitas

Uji validitas yang digunakan adalah validitas konstnuksi. Validitas ini

untuk mengetahui apakah kuesioner dapat mengukur variabel yang diteliti

secara tepat. Menurut Pabundu (2006:65), arti validitas adalah kebenaran

dan keabsahan instrumen penelitian yang digunakan. Setiap penelitian

selalu dipertanyakan mengenai validitas alat yang digunakan. Suatu alat

pengukur dikatakan valid jika alat itu dipakai untuk mengukur sesuai

dengan kegunaannya. Menurut Pabundu (2006:66), untuk mengetahui nilai

korelasi faktor, digunakan rumus Product Moment Karl Pearson sebagai

(54)

Keterangan:

……(Pabundu, 2006 ; 66)

R = koefisien korelasi antara skor butir dengan skor total.

X = skor pernyataan tiap butir.

Y = skor total.

N = Jumlah responden

3.4.2 Uji Reliabilitas

Uji ini untuk menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat

dipercaya atau diandalkan. Menurut Umar (2003 : 86), suatu pengukur bisa

dikatakan reliabel sepanjang pengukur tersebut mencapai suatu hasil-hasil

yang konsisten. Apabila suatu alat ukur yang berupa kuesioner dipakai dua

kali untuk mengukur gejala yang sama dan hasil pengukuran yang diperoleh

relatif konsisten, maka alat pengukur tersebut reliabel, dengan kata lain,

reliabel menunjukkan konsisten alat pengukur di dalam mengukur gejala

yang sama.

Masing-masing variabel dalam penelitian ini dihitung dengan

menggunakan alpha croanbach, untuk mengetahui reliabilitas skala

pengukurannya. Rurnus yang digunakan adalah alpha sebagai berikut:

r11 = …. (Riduwan, 2007: 115)

Dimana :

= nilai reliabilitas

(55)

= jumlah varians skor tiap-tiap item pertanyaan

= varians total

= jumlah item pertanyaan

Menurut Riduwan (2007 : 118), pengujian reliabilitas akan memenuhi

syarat jika :

1. Jika r11 positif, serta r11 > r tabel, maka pernyataan tersebut reliabel.

2. Jika r11 negatif, serta r11 < r tabel, maka pemyataan tersebut tidak reliabel

3.4.3 Teknik Analisis Data

3.4.3.1Uji asumsi klasik

Uji ini bertujuan untuk menguji apakah model analisis yang

digunakan baik atau tidak didalam penelitian. Hasil analisis regresi

dianggap valid jika hasil analisis tersebut memenuhi pengujian asumsi

klasik dan tidak boleh dilanggar. Pengujian asumsi klasik yang digunakan

antara lain uji asumsi linear berganda autokorelasi, uji asumsi linear

berganda heterokedastisitas, dan uji asumsi linear berganda

multikolinieritas. Jika salah satu dari ketiga asumsi tesebut dilanggar maka

persamaan regresi yang diperoleh tidak lagi bersifat BLUE (Best Linear

Unbiased Estimator ) sehingga pengambilan keputusan melalui uji t dan

uji F menjadi bias.

3.4.3.1.2 Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi

variable dependen dan variabel independen, keduanya mempunyai distribusi t

s

(56)

normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah memiliki distribusi data

normal atau mendekati normal. Pada prinsipnya normalitas dapat dideteksi

dengan melihat penyebaran data (titik) pada sumbu diagonal dari grafik atau

dengan melihat histogram dari residualnya. Hasil perhitungan normalitas data

pada lampiran menunjukkan bahwa penyebaran plot berada di sekitar dan

sepanjang garis 45° , dengan demikian menunjukkan bahwa data-data pada

variabel penelitian berdistribusi normal. Lebih jelasnya penyebaran plot

tersebut dapat dilihat pada gambar di berikut ini:

Gambar 3.1

(57)

3.4.3.1.3 Uji Multikolineritas

Salah satu asumsi klasik adalah tidak terjadinya multikolinieritas di antara

variabel-variabel bebas yang berada dalam satu model, artinya antara variable

independen yang terdapat dalam model tidak memiliki hubungan yang

sempurna (koefisien tinggi atau bahkan satu). Apabila hal ini terjadi berarti

antara variable bebas itu sendiri saling berkorelasi, sehingga dalam hal ini sulit

diketahui variable bebas mana yang mempengaruhi variabel terikat.

Salah satu cara untuk mendeteksi multikolinieritas dilakukan dengan

mengorelasikan antar variable bebas dan apabila korelasinya tinggi yaitu lebih

besar dari 0,8 maka antar variable bebas tersebut terjadi multikolinieritas.

Untuk mendeteksi problem Multikolineritas dapat dilihat ciri-ciri sebagai

berikut :

a. Koefisien determinasi berganda (R square) tinggi.

b. Koefisien korelasi sederhana tinggi.

c. Nilai F hitung tinggi (signifikan)

d. Tak satupun atau sedikit sekali variable bebas yang signifikan.

Cara yang digunakan untuk mendeteksi problem multikolenieritas

dilakukan dengan melihat besaran VIF (variance inflation factor). Pedoman

suatu model regresi yang bebas multikolinieritas adalah :

a. Mempunyai nilai VIF ≤ 10

1

VIF =

1-R²

(58)

3.4.3.1.4 Uji Heteroskedastisitas

Maksud dari penyimpangan Heterokedastisitas adalah variable bebas

adalah tidak konstan (berbeda) untuk setiap nilai tertentu variable bebas. Pada

regresi linear nilai residual tidak boleh ada hubungan dengan veriabel bebas.

Hal ini bisa diidentifikasi dengan menghitung korelasi rank sperman antara

seluruh variable bebas.

Menurut Singgih Santoso (2002:301) deteksi adanya heteroskedastisitas

adalah :

1) Nilai probabilitas ≥ 0,05 berarti tidak terdapat Heterokedastisitas.

2) Nilai probabilitas < 0,05 berarti terdapat Heterokedastisitas

3.5. Uji Hipotesis

Pengujian terhadap hipotesis penelitian ini dilakukan dengan uji t dan uji

F. Pengujian terhadap hipotesis penelitian dilakukan dengan cara sebagai

berikut :

1. Uji F

Uji ini digunakan untuk menguji besarnya pengaruh dari seluruh variable

bebas (X1 dan X2) secara bersama-sama atau simultan terhadap variable terikat

(Y).

a. Merumuskan Hipotesis untuk uji F :

(59)

artinya tidak ada pengaruh secara simultan antara variable bebas dan

variabel terikat.

H1 : b1 b2 b3 b4 0

artinya terdapat pengaruh secara simultan antara variable bebas dan

variabel terikat.

b. Menghitung Level of significant (α) sebesar 5% dari derajat bebas (degree

of freedom)= n-k-1 dimana n = jumlah pengamatan, k = jumlah variable

bebas.

c. Menentukan Nilai F dapat dicari dengan rumus :

R² / k Fhit =

( 1- R² ) / ( n-k-1)

Dimana :

R² = koefisien determinasi

k = jumlah variable bebas

n = jumlah sampel

Sulaiman (2004 : 1987)

d. Kriteria pengujian sebagai berikut :

1. Bila Fhit ≤ Ftab, maka Ho diterima dan H1 ditolak

berarti faktor kebudayaan (X1), sosial (X2) dan pribadi (X3) secara

simultan tidak berpengaruh signifikan terhadap Keputusan Konsumsi

Konsumen (Y)

(60)

berarti faktor kebudayaan (X1), sosial (X2) dan pribadi (X3) secara

simultan berpengaruh signifikan terhadap Keputusan Konsumsi

Konsumen (Y)

e. Daerah kritis Ho melalui kurva distribusi f

Gambar 3.2

Daerah tolak Ho

Daerah

Terima Ho

ftab

Sumber : Metodologi Penelitian Bisnis, 2008

2. Uji t statistik

Digunakan untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel bebas (X)

secara parsial terhadap variabel terikat (Y).

a. Merumuskan Hipotesis untuk uji t :

Ho : b1 = 0, artinya tidak ada pengaruh secara parsial variable bebas

terhadap variabel terikat.

H1 : b1 0, artinya terdapat pengaruh secara parsial variable bebas

terhadap variabel terikat.

b. Menghitung Level of significant (α) sebesar 5% dari derajat bebas (degree

of freedom)= n-k-1 dimana n = jumlah pengamatan, k = jumlah variable

bebas.

(61)

bj

t

hit =

Se (bj) Dimana :

bj = koefisien regresi

Se = standart eror

Sulaiman (2004 : 87)

d. Kriteria pengujian sebagai berikut :

1. Bila thitung≤ ttabel, maka Ho diterima dan H1 ditolak

berarti faktor kebudayaan (X1), sosial (X2) dan pribadi (X3) secara

parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap Keputusan Konsumsi

Konsumen (Y)

2. Bila thitung≥ ttabel, maka Ho ditolak dan H1 diterima

Berarti faktor kebudayaan (X1), sosial (X2) dan pribadi (X3) secara

parsial berpengaruh signifikan terhadap Keputusan Konsumsi

Konsumen (Y)

e. Daerah kritis Ho melalui kurva distribusi t

Gambar 3.3

Daerah tolak Ho Daerah tolak Ho

Daerah terima Ho

-t

tab

t

tab

(62)

4.1 Gambaran Umum Objek Penelitian dan Penyajian Data 4.1.1 Gambaran Umum Perusahaan

a. Sejarah Perusahaan

PT Santos Jaya Abadi mewarisi tradisi sekental kopinya. Sebagai

usaha keluarga pemilik merk kopi terbesar di Indonesia, akar perusahaan ini

mulai tumbuh dari sebuah industri rumah tangga sederhana di Surabaya, di

mana lebih dari 79 tahun silam pada tahun 1927, Sang Pelopor Go Soe Loet

memproduksi kopi terkenalnya.

Dalam rentang waktu tak terlalu lama, perusahaan mulai memproduksi

kopi dengan merk “Kapal Api” yang secara langsung mengaspirasikan simbol

teknologi tertinggi dan kemewahan pada zaman tersebut. Lebih dari itu,

inspirasi untuk senantiasa mengacu pada kualitas, menjadikan perusahaan

mengalami kemajuan yang pesat dan berkelanjutan.

Pada tahun 1970, perusahaan melakukan perkembangan sekaligus

perubahan. Generasi kedua mulai tampil untuk memastikan kelanjutan dan

(63)

mengembangkan manajemen, meningkatkan keterampilan tenaga kerja serta

memperluas penyebaran produk hingga tersedia di seluruh Jawa Timur.

Tahun 1980 kami membangun pabrik yang sekarang berada di

Sepanjang, Sidoarjo, Jawa timur. Pada tahap ini, merk Kapal Api telah

menjadi penyangga utama perusahaan yang tersebar rata di seluruh Indonesia

sekaligus menjadi pemimpin pasar dengan rangkaian produk lengkapnya.

b. Lokasi Perusahaan PT Santos Jaya Abadi

Jl. Taman Jatibaru Barat no. 1-3 Email: [email protected]

No Telepon.(021) 78836000

Jakarta Pusat 10150,Indonesia

c. Produk perusahaan

Melanjutkan sukses merk Kapal Api dan demi kepuasan pelanggan,

PT Santos Jaya Abadi memperkenalkan beberapa merk kopi lain yang juga

berhasil meraih sukses di pasaran, yaitu Excelso, ABC, Good Day, Ya dan

Kapten.

Hingga kini, PT Santos Jaya Abadi dengan rangkaian produknya telah

(64)

generasi. Kami yakin bahwa keberhasilan ini merupakan buah dari

manajemen yang prima, dedikasi menyeluruh dari seluruh staff dan tentu saja

layanan serta kualitas tinggi dari produk kami sendiri.

4.1.2 . Penyajian Data

4.1.2.1. Karakteristik Responden.

a. Deskripsi Karakteristik Mahasiswa Berdasarkan Jenis Kelamin

Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner kepada 74 mahasiswa

Fisip UPN “Veteran” Jatim yang masih aktif dalam perkuliahan diperoleh

gambaran mahasiswa berdasarkan jenis kelamin adalah sebagai berikut :

Tabel 4.1 Karakteristik Mahasiswa Berdasarkan Jenis Kelamin

No. Jenis Kelamin

Jumlah (Orang)

Persentase (%)

1. Laki-laki 56 75.6 %

2. Perempuan 18 24.4 %

Total 74 100 %

(Sumber : Lampiran)

Berdasarkan tabel 4.1 dapat dijelaskan bahwa sebagian besar

mahasiswa UPN “Veteran” Jatim Jurusan Ilmu Administrasi Bisnis dalam

penelitian ini berdasarkan jenis kelamin untuk laki-laki sebanyak 56 orang

atau sebesar 75.6% dan sisanya untuk jenis kelamin perempuan sebanyak 18

Gambar

Gambar 2.1 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Minat Beli Konsumen
Gambar 2.2. Model Perilaku Pengambilan Keputusan Konsumen
Gambar 2.3 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Membeli
Gambar 2.4
+7

Referensi

Dokumen terkait

Faktor kebudayaan, faktor sosial, faktor pribadi, faktor psikologi berpengaruh positif simultan terhadap keputusan pembelian laptop Acer pada Mahasiswa Universitas

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa variabel citra merek (X1), kualitas produk (X2), dan kepuasan pelanggan (X3) secara

Hasil penelitian menunjukkan bahwa indikator persepsi (X1),pembelajaran (X2), keyakinan &amp; sikap (X3) dan motivasi (X4) berpengaruh secara simultan dan secara parsial yaitu

Analisa tentang perilaku konsumen sangat penting bagi perusahaan Dengan memahami perilaku konsumen pada pasar sasaranya, maka kelangsungan hidup perusahaan tersebut sebagai

Artinya bahwa secara simultan variabel Empathy x1, Persuasion x2, Impact x3, Communication x4 berpengaruh signifikan terhadap variabel Keputusan Pembelian Konsumen Pembahasan dan

Hasil penelitian menunjukkan variabel motivasi berpengaruh terhadap pengambilan keputusan dan secara simultan variabel motivasi X1, pengetahuan X2 dan sikap X3 berpengaruh signifikan

Berdasarkan hasil analisis data untuk uji signifikansi Uji T menunjukan bahwa variabel sosial X1, pribadi X2 secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa secara simultan bersama- sama variabel Faktor Internal Konsumen X yang terdiri atas Faktor Budaya X1, Faktor Sosial X2, Faktor Pribadi X3