IBM KELOMPOK GURU MATA PELAJARAN MATEMATIKA DAN IPA SEKOLAH LUAR BIASA BAGIAN B (SLB.B).

115 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

LAPORAN AKHIR

IPTEKS BAGI MASYARAKAT (I

b

M)

I

b

M KELOMPOK GURU MATA PELAJARAN MATEMATIKA

DAN IPA SEKOLAH LUAR BIASA BAGIAN B (SLB/B)

Tahun ke 1 dari rencana 1 tahun

Desak Putu Eka Nilakusmawati, S.Si., M.Si., NIDN. 0011067113 I Wayan Sumarjaya, S.Si., M.Stats., NIDN. 0021047705 Dra. Ni Made Puspawati, M.Phil., Ph.D., NIDN. 0019036502

(4)
(5)

RINGKASAN

Tujuan dari pelaksanaan program IbM ini adalah mengenalkan cara-cara

pengembangan media pengajaran matematika dan IPA berupa media audiovisual bagi kelompok guru mata pelajaran matematika dan IPA di Sekolah-sekolah Luar Biasa Bagian B yang menjadi mitra program IbM ini. Solusi yang ditawarkan untuk

menyelesaikan persoalan mitra adalah model pelatihan In House Training sebagai suatu alternatif pemecahan masalah mitra terbaik.

Tahapan pelaksanaan In House Training secara umum dapat dibagi menjadi dua tahapan. Tahap pertama, merupakan persiapan pembelajaran dan tahap kedua adalah tahap pengamatan dan diskusi. Pada tahap persiapan pembelajaran, kegiatan yang dilaksanakan adalah: Pelaksanaan pelatihan; Menyiapkan, mengembangkan, dan mengoperasionalkan lesson plan dan perangkat pembelajaran; Menyamakan konsep dasar matematika dan IPA yang akan dipakai dalam pembelajaran terkait media pembelajaran audiovisual untuk siswa tuna tungu; Melakukan simulasi/peer teaching dengan guru sebelum pelaksanaan (real teaching) di kelas; Mendiskusikan dan refleksi hasil real teaching; dan Menindak lanjuti hasil diskusi dan refleksi.

Pelaksanaan pelatihan Pengembangan Media Pembelajaran Audiovisual di ketiga sekolah mitra dilaksanakan dengan materi yang disajikan meliputi: (1) Tujuan program, manfaat bagi sekolah mitra, teknis pelaksanaan program pendampingan, dan evaluasi program; (2) Prinsip perancangan media audiovisual untuk siswa tuna rungu, meliputi materi prinsip komunikasi total dan prinsip desain media audiovisual; dan (3) Penyajian contoh media audiovisual, dengan mengambil materi mata pelajaran matematika untuk SDLB.B pokok bahasan pecahan senilai.

Kegiatan menyiapkan dan mengembangkan perangkat pembelajaran berupa penyusunan bahan ajar matematika dan IPA Kelas IV SDLB. Materi-materi yang disajikan dalam bahan ajar ini disesuaikan dengan karakteritik siswa yang berkebutuhan khusus di SDLB dan dibuat diupayakan di bawah standar dari siswa normal. Disesuaikan dengan silabus dan RPP yang dipergunakan di SLB.B, materi Matematika Kelas IV SDLB.B dan IPA Kelas IV SDLB.B.

Simulasi/peer teaching dengan guru sebelum pelaksanaan (real teaching) di kelas, dilakukan dengan simulasi mengajar dengan media pembelajaran audiovisual. Dalam simulasi ini guru-guru diarahkan untuk selama penayangan media audiovisual, guru membantu dengan komunikasi total dalam menjelaskan materi. Setelah real teaching

dilakukan diskusi dan refleksi terhadap hasil real teaching dan selanjutnya menindaklanjuti hasil diskusi dan refleksi.

Dalam kegiatan pendampingan guru-guru di tiga sekolah mitra didampingi oleh pelaksana kegiatan membuat media audiovisual mata pelajaran matematika dan IPA siswa kelas IV SDLB. Pendampingan dalam membuat media pembelajaran diharapkan dapat meningkatkan kompetensi guru dalam memanfaatkan TI untuk mengembangkan media pembelajaran yang lebih inovatif di masa mendatang. Pendampingan juga dilakukan dalam rangka membantu guru-guru dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK), dan penyusunan karya tulis ilmiah hasil PTK.

(6)

Hasil evaluasi pelaksanaan pelatihan di tiga sekolah mitra, berdasarkan hasil analisis data skor pre test dan post test dapat dijelaskan bahwa pelatihan yang diberikan memberikan manfaat bagi peningkatan pemahaman guru-guru di ketiga sekolah mitra kegiatan (SLB.B Tabanan, SLB.B Sidakarya, dan SLB.B Jimbaran) tentang cara-cara mengembangkan media pembelajaran audiovisual berbasis IT untuk pengajaran Matematika dan IPA siswa tuna rungu di Sekolah Luar Biasa Bagian B.

(7)

PRAKATA

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa penulis panjatkan, karena perkenan-Nya maka program “IbM Kelompok Guru Mata Pelajaran Matematika dan IPA

Sekolah Luar Biasa Bagian B (SLB/B) ” dapat dilaksanakan dengan baik dan laporan akhir kegiatan ini dapat terselesaikan.

Terlaksananya kegiatan ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, untuk itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada:

1. Dirjen Dikti yang telah mendanai program IbM ini, sehingga kegiatan ini bisa terlaksana

2. Bapak Prof. Dr. Ir. I Nyoman Gde Antara, M.Eng, sebagai Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Udayana, atas dukungannya dalam kegiatan penelitian ini.

3. Bapak Ir. A.A.G. Raka Dalem, M.Sc. (Hons), selaku dekan FMIPA Universitas Udayana, atas dukungannya.

4. Bapak/Ibu Kepala Sekolah dan guru-guru di SLB.B Sidakarya Denpasar, SLB.B Jimbaran, dan SLB.B Tabanan atas dukungan dan peran sertanya dalam kegiatan pelatihan dan pendampingan program IbM ini dari awal sampai akhir kegiatan. 5. Teman-teman sejawat di FMIPA Universitas Udayana, yang turut memberikan

sumbang saran dan dukungan.

Laporan akhir ini masih jauh dari sempurna, untuk itu kritik dan saran dari berbagai pihak diterima dengan senang hati, demi perbaikan dimasa mendatang.

Bukit Jimbaran, 24 November 2014

(8)

DAFTAR ISI

3.2 Metode Pendekatan yang Ditawarkan ... 7

3.3 Prosedur Kerja dan Rencana Kegiatan ... 8

3.4 Jenis Luaran yang Akan Dihasilkan ... 10

BAB IV. KELAYAKAN PERGURUAN TINGGI ... 11

BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 13

5.1 Persiapan Pelaksanaan Pelatihan ... 13

5.2 Hasil Pelaksanaan Program... 32

5.3 Hasil Evaluasi Pelaksanaan Program ... 36

5.4 Luaran yang Dihasilkan dari Pelaksanaan Program ... 44

BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN ... 46

6.1 Kesimpulan ... 46

6.2 Saran ... 47

DAFTAR PUSTAKA ... 48

(9)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

(10)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1 Pertemuan awal dengan pihak sekolah SLB/B Denpasar

Tanggal 16 Juni 2014 ………...

15

2 Pertemuan Awal dengan Pihak SLB/B Denpasar untuk

Membahas Jadwal Pelatihan, Pendampingan, dan Jumlah Peserta… 15

3 Pertemuan Awal dengan Pihak SLB/B Jimbaran pada Tanggal 24 Juni 2014 untuk Membahas Jadwal Pelatihan

dan Pendampingan………... 16

4 Pertemuan Awal dengan Pihak SLB/B Jimbaran pada Tanggal 24 Juni 2014 untuk Membahas Materi dan Jumlah

Peserta……….. 16

5 Peserta Pelatihan Sedang Mengerjakan Pre Test………... 17

6 Pemberian Materi Prinsip Perancangan Media Audiovisual………. 17

7 Pelaksana sedang Menjelaskan tentang Prinsip Komunikasi Total.. 18

8 Presentasi Teknis Pelaksanaan Kegiatan Pendampingan Pengembangan Media Pembelajaran Audiovisual di SLB/B

Sidakarya-Denpasar………... 18

9 Guru-guru SLB.B Sidakarya Denpasar dengan Tekun

Mendengarkan Penjelasan Materi Tentang Prinsip Perancangan

Media Audiovisual ………... 19

10 Dokumentasi Selama Kegiatan Pelatihan Berlangsung di SLB.B

Denpasar……….. 20

11 Diskusi dengan Kepala SLB/B Jimbaran……… 20

12 Guru-guru SLB.B Jimbaran sedang Mergerjakan Pre Test………… 21

13 Peserta Pelatihan Sedang Mengerjakan Pre Test……… 21

14 Pengerjaan Pre Test oleh Peserta Pelatihan……… 22

15 Presentasi Teknis Pelaksanaan Kegiatan Penyusunan Materi

Audiovisual di SLB/B Jimbaran………. 22

(11)

17 Pelaksana Kegiatan sedang Menjelaskan Materi Prinsip

Perancangan Media Audiovisual……… 23

18 Tanya Jawab dengan Peserta Pelatihan Mengenai Mekanisme

Pendampingan Pengembangan Media Pembelajaran Audiovisual…. 24

19 Peserta pelatihan sedang mengerjakan pre test... 24

20 Peserta pelatihan sedang mendengarkan pemaparan materi... 25

21 Penyajian contoh media audiovisual mata pelajaran biologi……….. 25

22 Penyajian contoh media audiovisual mata pembelajaran matematika 26

(12)

LAMPIRAN

Lampiran

1 Personalia Tenaga Pelaksana Beserta Kualifikasinya

2 Instrumen

3 Draft Artikel Ilmiah Hasil Pengabdian Masyarakat

4 Borang Capaian Hasil Program IbM

(13)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Analisis Situasi

Tuna rungu, sama halnya dengan penyandang cacat yang lain yang merupakan warga negara Indonesia berhak memperoleh pendidikan. Undang-undang Dasar 1945 pasal 31 ayat (1) menyebutkan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan, dan ayat (2) menjelaskan bahwa pemerintah wajib menyelenggarakan pendidikan untuk setiap warga negara. Oleh karena itu didirikanlah sekolah-sekolah luar biasa sebagai bentuk penyelenggaraan wajib belajar dari bunyi UUD 1945 tersebut, mulai dari satuan pendidikan SD, SMP, hingga SMA. Di samping itu, hak penyandang tuna rungu dalam pendidikan tertuang dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1997 tentang penyandang cacat Pasal 11, yang berbunyi setiap penyandang cacat mempunyai kesamaan untuk mendapat pendidikan pada satuan, jalur, dan jenjang pendidikan sesuai jenis dan derajat kecacatan, dan Pasal 12 menekankan bahwa setiap lembaga pendidikan memberikan kesempatan dan perlakuan yang sama kepada penyandang cacat sebagai peserta didik pada satuan, jalur, dan jenis pendidikan sesuai dengan jenis dan derajat kecacatan serta kemampuannya. Sehingga hak para penyandang cacat untuk memperoleh kesempatan yang sama dalam pendidikan dijamin oleh undang-undang.

Sekolah Luar Biasa adalah salah satu jenis sekolah yang bertanggung jawab melaksanakan pendidikan untuk anak-anak yang berkebutuhan khusus (Hansen, 1980). Sekolah luar biasa menurut Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1991 merupakan sekolah khusus yang diselenggarakan bagi peserta didik yang menyandang kelainan fisik dan atau mental cacat.

Secara umum, anak tuna rungu memerlukan fasilitas pendidikan yang relatif sama dengan anak normal. Namun, karena anak tuna rungu mempunyai hambatan dalam mendengar dan berbicara maka mereka memerlukan alat bantu khusus seperti

(14)

Siswa tuna rungu mengalami masalah dalam pendengaran sehingga guru mengalami kesulitan dalam proses penyampaian materi, hal ini berlaku bagi seluruh mata pelajaran termasuk matematika dan IPA. Seorang guru luar biasa dalam penyampaian materi ajarnya harus jelas dan konsisten dalam menggunakan kosa kata, karena latar belakang anak tuna rungu yang sangat kekurangan kosa kata dalam berkomunikasi. Menurut Khaer (2008), pengajaran akan lebih efektif apabila objek pengajaran dapat divisualisasikan secara realistis menyerupai keadaan sebenarnya. Melalui visualisasi, materi/isi ajar akan lebih mudah dipahami sehingga akan meningkatkan kuantitas perolehan belajar siswa.

Pemanfaatan media pembelajaran untuk mengajaran siswa tuna rungu merupakan hal yang sangat bermanfaat untuk menunjang proses belajar di sekolah luar biasa. Hal ini dikuatkan oleh penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Khaer (2008), mengenai ‖Video Pembelajaran untuk Siswa Berkebutuhan Khusus Upaya Menemukan Suatu Model‖. Visualisasai hasil video pembelajaran tersebut berisi tentang materi ajar, berupa visualisasai teks, drama yang menggunakan bahasa isyarat, animasi dan teks, sehingga lebih mudah dipahami siswa. Selama proses pemutaran, guru yang mengendalikan video tersebut berperan serta menjelaskan isi dari video dengan menggunakan bahasa isyarat.

Penelitian Effendi, et al. (2006) mengenai ‖Penggunaan Media Cerita Bergambar Berbasis Pendekatan Komunikasi Total untuk Meningkatkan Kemampuan Bahasa Anak Tuna Rungu Kelas Rendah di SLB Bagian B YPTB Malang‖ menjelaskan penggunaan media cerita bergambar melalui komunikasi total dalam meningkatkan kemampuan bahasa anak tuna rungu. Dalam memahami informasi dari lingkungannya, anak tuna rungu sebagian besar mengandalkan kemampuan indera penglihatannya, sehingga hal ini membuat para peneliti menggunakan media cerita bergambar dalam meningkatkan kemampuan bahasa anak tuna rungu. Penggunaan media gambar yang dikombinasikan dengan komunikasi total dalam pelajaran bahasa anak tuna rungu, berpeluang memberikan hasil yang baik. Pemberian materi pembelajaran yang menggunakan ilustrasi gambar yang relevan sangat membantu anak tuna rungu dalam meningkatkan kemampuan bahasa, terutama memahami kosa kata yang terdapat dalam materi ajarnya.

(15)

mendekati nyata, sehingga para siswa dapat memahami dengan jelas tentang materi yang dijelaskan.

Fasilitas pendidikan merupakan sarana penunjang dalam mencapai tujuan pendidikan, dan merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam mencapai efektifitas belajar. Dengan fasilitas yang memadai diharapkan siswa akan lebih mudah mamahami materi pelajaran yang diberikan oleh gurunya, terutama bagi siswa yang mempunyai kelainan seperti tuna rungu. Dalam proses pembelajaran, media pembelajaran yang mendukung proses belajar sangat berperan penting dalam pencapaian standar minimal proses pembelajaran.

(16)

dengan memanfaatkan media audiovisual merupakan jalan tengah yang baik dan tepat, khususnya untuk mata pelajaran matematika dan IPA, karena dengan metode yang tepat anak tuna rungu dapat diharapkan memperoleh hasil belajar yang sama dengan anak normal.

Mengingat terbatasnya penguasaan inovasi pembelajaran dengan media audiovisual di satu sisi dan pentingnya penguasaan media audiovisual tersebut di sisi lain, maka perlu dikembangkan inovasi metode pembelajaran matematika dan IPA dengan media audiovisual yang dapat mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut, agar pembelajaran menjadi optimal.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penekanan perhatian terhadap pengembangan derajat pengusaan kompetensi guru SLB/B yang memadai, khususnya pengembangan metode pengajaran Matematika dan IPA dengan media audiovisual sangatlah penting untuk ditindaklanjuti. Usulan program IbM ini bermaksud untuk

mengatasi permasalahan rendahnya pengusaan guru-guru dalam pengembangan media pembelajaran, khususnya media pembelajaran audiovisual untuk pengajaran matematika dan IPA siswa tuna rungu di SLB/B dan pengajaran yang berbasis IT.

1.2 Permasalahan Mitra

Keterbatasan media alat bantu yang tepat untuk mengajar anak tuna rungu menjadi masalah bagi para guru untuk mampu menjelaskan materi pelajaran yang diajarkan kepada siswa. Apalagi dengan standar kurikulum yang disetarakan dengan anak normal, namun tidak menyesuaikan dengan kebutuhan khusus anak tuna rungu dalam memahami materi suatu pelajaran. Jika anak normal dapat memahami seluruh materi dalam waktu satu semester dengan bobot materi yang sama, anak tuna rungu membutuhkan waktu yang lebih lama daripada anak normal untuk dapat memahaminya. Karena menjelaskan suatu materi pelajaran pada anak tuna rungu membutuhkan metode dan media penyampaian yang berbeda dengan anak normal.

(17)

yang tidak dapat menggambar, sehingga penjelasan materi hanya dijelaskan dalam bentuk tulisan dan dalam bentuk verbal (oral).

Kurangnya alat peraga dan adanya kesulitan guru-guru di SLB/B dalam menjelaskan materi dari buku pelajaran yang digunakan dari bahasa verbal ke dalam bentuk visual, serta kurangnya kemampuan guru-guru dalam pengembangan media pembelajaran audiovisual merupakan kendala bagi guru-guru dalam pengajaran Matematika dan IPA pada siswa tuna rungu di SLB/B.

Berdasarkan beberapa permasalahan mitra yang diuraikan di atas, pelaksana program dan mitra IbM (SLB/B Negeri Tabanan, SLB/B Negeri Denpasar, SLB/B Negeri Jimbaran) telah menyepakati persoalan prioritas yang akan diselesaikan melalui program IbM ini adalah masalah kurangnya kemampuan kelompok guru mata pelajaran

Matematika dan IPA Sekolah Luar Biasa Bagian B (SLB/B) dalam pengembangan media pengajaran Matematika dan IPA dengan media Audiovisual dan pengajaran berbasis TI.

(18)

BAB II

TARGET DAN LUARAN

Jenis luaran yang akan dihasilkan sesuai dengan rencana kegiatan, adalah berupa: 1. Metode pengajaran Matematika dan IPA dengan media audiovisual yang efektif

dan sesuai dengan kebutuhan siswa tuna rungu;

2. Produk berupa media audiovisual untuk pembelajaran Matematika dan IPA siswa tuna rungu;

3. Bahan Ajar mata pelajaran Matematika dan IPA untuk SLB/B;

4. Artikel Ilmiah yang dipublikasikan melalui Jurnal Nasional Terakreditasi.

Luaran di atas diharapkan mampu memberikan dampak pada up-dating ipteks di masyarakat, peningkatan produktivitas mitra, peningkatan atensi akademisi terhadap kelompok masyarakat, dan peningkatan kegiatan pengembangan ilmu, teknologi, seni di perguruan tinggi.

Up-dating ipteks di masyarakat dan peningkatan produktivitas mitra nantinya akan bisa dilihat pada akhir kegiatan program IbM ini, diharapkan para guru mampu:

1. mengembangkan dan mengoperasionalkan rencana pembelajaran, bahan ajar dan media pembelajaran, serta materi-materi lainnya terkait dengan pembelajaran Matematika dan IPA dengan media audiovisual;

2. menggunakan media yang sesuai dalam pembelajaran matematika dan IPA untuk siswa tuna rungu;

3. merancang media pembelajaran audiovisual yang tepat untuk keperluan pembelajaran Matematika dan IPA untuk siswa tunarungu;

4. mengembangkan perangkat evaluasi pencapaian hasil belajar; 5. merancang bahan ajar matematika dan IPA untuk siswa tuna rungu. Bagi siswa, pada akhir kegiatan siswa diharapkan:

1. dapat meningkatkan pemahamannya tentang materi yang diajarkan, khususnya peningkatan penguasaan konsep dasar pada mata pelajaran Matematika dan IPA. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya nilai ketuntasan siswa pada mata pelajaran tersebut;

(19)

BAB III

METODE PELAKSANAAN

3.1 Solusi yang Ditawarkan

Persoalan prioritas mitra yang telah disepakati bersama untuk diselesaikan selama pelaksanaan program IbM adalah masalah kurangnya kemampuan kelompok guru mata

pelajaran Matematika dan IPA Sekolah Luar Biasa Bagian B (SLB/B) dalam pengembangan media pengajaran Matematika dan IPA dengan media Audiovisual dan pengajaran berbasis TI.

Penanganan persoalan prioritas mitra tersebut disepakati berupa penanganan yang bersifat langsung, sinambung, sesuai dengan kebutuhan guru, dan bersifat khas untuk masing-masing sekolah, disesuaikan dengan kondisi sekolah yang berbeda dan kemampuan guru yang berbeda pula di masing-masing sekolah, sehingga proses penanganan bisa lebih terarah dan terukur.

Solusi yang ditawarkan untuk menyelesaikan persoalan mitra program adalah model pelatihan In House Training sebagai suatu alternatif pemecahan masalah mitra terbaik. In House Training yang dimaksud dalam kemitraan ini adalah ―pelatihan‖ yang pelaksanaannya bertempat di sekolah masing-masing, tempat guru-guru melaksanakan program pembelajaran Matematika dan IPA dengan media audiovisual dilakukan, bekerja sama dengan pelaksana program IbM yang merupakan dosen-dosen MIPA dari

Universitas Udayana. Kunjungan secara periodik ke masing-masing sekolah akan dilakukan oleh dosen-dosen untuk melakukan pengarahan dan pendampingan terhadap segala aktivitas guru terkait dengan pelaksanaan program, dari tahap persiapan, pengembangan, pengoperasionalan, sampai pada tahap evaluasi. Dengan kegiatan seperti ini diharapkan masalah berupa hambatan atau kendala terkait pelaksanaan program dapat diatasi secara langsung, yaitu dengan melibatkan guru pelaksana program, siswa, kepala sekolah, atau komite sekolah.

3.2 Metode Pendekatan yang Ditawarkan

(20)

pendampingan secara langsung di kelas kepada guru pelaksana program pembelajaran Matematika dan IPA dengan media audiovisual, yaitu membantu guru dalam:

1. mempersiapkan, mengembangkan, dan mengopersionalkan rencana pembelajaran, bahan ajar mata pelajaran matematika dan IPA untuk siswa tuna rungu, media pembelajaran audiovisual seperti (Power Point, Macromedia Flash, software

lainnya), dan materi-materi terkait yang berhubungan dengan pembelajaran Matematika dan IPA Untuk Sekolah Luar Biasa bagian B (SLB/B);

2. mengembangkan dan menggunakan secara optimal media sesuai dengan materi Matematika dan IPA untuk siswa tuna rungu;

3. Mengatasi kesulitan atau hambatan secara langsung di dalam kelas atau di luar kelas sesuai dengan substansinya;

4. meningkatkan kemahiran guru-guru dalam merancang media pembelajaran audiovisual untuk pembelajaran siswa tuna rungu;

5. mengembangkan perangkat evaluasi pencapaian hasil belajar siswa;

6. merancang pengembangan pembelajaran Matematika dan IPA dengan media audiovisual di masing-masing sekolah sesuai dengan kebutuhan guru.

3.3 Prosedur Kerja dan Rencana Kegiatan

Prosedur kerja untuk mendukung realisasi dari metode yang ditawarkan adalah sebagai berikut:

1. Kegiatan ini dilaksanakan di sekolah-sekolah mitra program (SLB/B Negeri Tabanan, SLB/B Negeri Denpasar, SLB/B Negeri Jimbaran) yang akan mengembangkan program pembelajaran Matematika dan IPA dengan media pembelajaran audiovisual bagi siswa tuna rungu.

2. Waktu pelaksanaan kunjungan ke sekolah diatur antara pihak sekolah dengan pelaksana program (dosen) disesuaikan dengan jadwal pembelajaran Matematika dan IPA di masing-masing sekolah. Frekuensi pendampingan secara umum dilakukan 2 kali dalam seminggu selama 3 jam pertemuan (3 x 40 menit), selama 4 minggu x 6 bulan selama 2 semester. Apabila ada hal-hal khusus seperti sekolah minta lebih dari dua kali seminggu dapat diatur sesuai dengan kebutuhan di sekolah masing-masing.

(21)

Pelaksanaan In House Training secara umum dapat dibagi menjadi dua tahapan setiap minggunya. Tahap pertama, merupakan persiapan pembelajaran dan tahap kedua adalah tahap pengamatan dan diskusi.

Tahap persiapan pembelajaran terdiri dari: (1) Pelaksanaan workshop bertempat di sekolah masing-masing untuk mendiskusikan permasalahan yang mungkin muncul berkaitan dengan program pengembangan media pembelajaran audiovisual untuk pembelajaran matematika dan IPA siswa tuna rungu di SLB/B mitra; (2) Menyiapkan, mengembangkan, dan mengoperasionalkan lesson plan dan perangkat pembelajaran yang sudah ada disesuikan dengan kondisi masing-masing sekolah sehingga menjadi skenario yang dapat dengan mudah diimplementasikan oleh guru di kelas; (3) Menyamakan konsep dasar matematika dan IPA yang akan dipakai dalam pembelajaran (terkait dengan Lembar Kerja Siswa (LKS) dan buku siswa); (4) Melakukan simulasi/peer teaching

dengan guru sebelum pelaksanaan (real teaching) di kelas. Pendamping atau dosen bertindak sebagai model untuk mensimulasikan pembelajaran yang akan dilaksanakan; (5) Mendiskusikan dan refleksi hasil real teaching; dan(6) Menindak lanjuti hasil diskusi dan refleski.

Tahap Pengamatan dan Diskusi: pendamping dalam hal ini dosen melakukan pengamatan pembelajaran dengan media audiovisual yang dilakukan oleh guru SLB/B. Lingkup pengarahan dan pendampingan adalah sebagai berikut:

1. Membantu menyiapkan, mengembangkan dan mengoperasionalkan lesson plan

dan perangkat pembelajaran yang sudah ada, disesuaikan dengan kondisi masing-masing sekolah.

2. Pendamping memberikan masukan yang bersifat positif dan membangun kepada guru sehubungan dengan optimalisasi memanfaatan media audiovisual dalam mengajar di kelas.

3. Mengatasi kesulitan-kesulitan guru yang terkait dengan substansi bidang studi Matematika dan IPA

4. Membantu meningkatkan kompetensi guru dalam memanfaatkan TI untuk mengembangkan media pembelajaran yang lebih inovatif, terutama dalam program ini media audiovisual untuk mata pelajaran Matematika dan IPA.

5. Membantu guru dalam merancang media pembelajaran audiovisual dengan pemanfaatan Software Microsoft Office Power Point dan Macromedia Flash, dan

(22)

6. Membantu guru dalam mengoptimalkan perangkat multimedia yang sudah ada di masing-masing sekolah

7. Membantu guru dalam penelitian, seperti Penelitian Tindakan Kelas atau penelitian dalam lingkup pendidikan lainnya.

8. Membantu mengarahkan hal-hal terkait dengan kebutuhan yang diperlukan kedepannya dalam program pengembangan media pembelajaran audiovisual. Selama pelaksanaan program, mitra akan terlibat secara aktif dan bersama-sama dengan pelaksana program IbM dalam mengatasi persoalan prioritas yang telah disepakati bersama.

3.4 Jenis Luaran yang Akan Dihasilkan

Sesuai dengan rencana kegiatan program ini, luaran yang akan dihasilkan adalah: 1. Metode pengajaran Matematika dan IPA dengan media audiovisual yang efektif

dan sesuai dengan kebutuhan siswa tuna rungu;

2. Produk berupa media audiovisual untuk pembelajaran Matematika dan IPA siswa tuna rungu;

3. Bahan Ajar mata pelajaran Matematika dan IPA untuk SLB/B;

(23)

BAB IV

KELAYAKAN PERGURUAN TINGGI

Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Udayana dalam satu tahun terakhir telah melaksanakan Program Pengabdian kepada Masyarakat Mono dan Multi Tahun. Usulan proposal program Ipteks bagi Masyarakat (IbM) tahun 2011 yang diterima oleh DIKTI untuk didanai pada tahun 2012 adalah

sebanyak 13 usulan. Usulan Program Pengabdian kepada Masyarakat Multi Tahun (IbW,

IbIKK, IbW), yang didanai DIKTI pada tahun 2012 sebanyak 7 usulan. Hasil seleksi

Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Ditjen Pendidikan Tinggi terhadap proposal yang diajukan oleh Universitas Udayana untuk pendanaan tahun anggaran 2013, dinyatakan sebanyak 19 proposal IbM dinyatakan lolos untuk didanai

tahun 2013 dan untuk Program Pengabdian kepada Masyarakat Multi Tahun sebanyak 10 usulan, baik usulan baru maupun lanjutan.

Cukup banyaknya Program Pengabdian kepada Masyarakat (mono dan multi tahun) yang telah didanai pelaksanaannya oleh DIKTI maupun yang akan didanai tahun 2013 ini, menunjukkan bahwa kinerja Universitas Udayana dalam bidang Pengabdian kepada Masyarakat cukup baik. Berdasarkan pengalaman tersebut, untuk kedepannya Universitas Udayana yakin mampu melaksanakan program Pengabdian kepada Masyarakat dengan kuantitas yang lebih banyak tanpa mengurangi kualitas hasil pelaksanaan program tersebut.

Jenis kepakaran yang diperlukan dalam menyelesaikan persoalan dan kebutuhan mitra dalam usulan Program IbM ini adalah berupa kepakaran dalam pengembangan

media pembelajaran matematika dan IPA yang berbasis TI (media audiovisual), disamping diperlukan juga kepakaran pada bidang ilmu Matematika dan IPA itu sendiri (matematika, biologi, kimia, fisika, dan ilmu komputer). Tim pelaksana program ini, baik ketua maupun anggota memiliki jenis kepakaran yang diperlukan dalam program ini.

(24)

program ini sudah memadai dan sesuai dengan program yang akan dikerjakan, karena pada kurikulum di FMIPA sangat didukung oleh mata kuliah Matematika Dasar, Fisika, Kimia, Biologi, dan Komputasi.

Ketua pelaksana program mempunyai bidang keahlian matematika, pernah melakukan kegiatan pengabdian masyarakat yang relevan dengan masalah pembelajaran Matematika dan IPA serta kegiatan pengabdian masyarakat yang terkait dengan memanfaataan TI untuk inovasi pembelajaran di beberapa sekolah di Kota Denpasar. Disamping itu, ketua dan anggota tim pelaksana program secara rutin setiap tahun sebagai pembina olimpiade matematika dan IPA tingkat provinsi yang diselenggarakan oleh masing-masing jurusan di Fakultas MIPA Universitas Udayana. Pengalaman tim pelaksana program seperti uraian di atas akan sangat membantu dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh mitra, dalam hal ini guru-guru Matematika dan IPA di masing-masing sekolah mitra.

Ketua pelaksana kegiatan, dalam Tahun 2011 telah melakukan kegiatan pengabdian masyarakat berupa Pelatihan Penggunaan TeX-Word dan Visio 2007 untuk Mempercepat Penulisan Rumus Matematika bagi Guru-guru di SMPN 2 Kuta, serta Pelatihan Pengajaran Matematika dan Sains dalam Bahasa Inggris bagi Guru-guru Sekolah Kategori Mandiri Menuju RSBI di SMPN 10 Denpasar yang merupakan kegiatan dalam bentuk rintisan. Pada tahun 2012 melakukan kegiatan pengabdian masyarakat berupa Pelatihan Pemrograman Komputer Berbasis Analitika dan Logika bagi Siswa SMA 5 Denpasar (anggota), Pengenalan Konsep Kombinatorial untuk Mendorong Pola Berpikir Kreatif Siswa SMAN 5 Denpasar dalam Menyelesaikan Problem Solving (anggota), dan Pengenalan Metode Inquiri pada Pembelajaran IPA di SDN 6 Ubung Denpasar (anggota). Pada tahun 2013 telah menjadi anggota pelaksana pada Program Ipteks bagi Masyarakat (IbM) Kelompok Guru Mata Pelajaran Matematika dan Ilmu

Pengetahuan Alam (MIPA).

(25)

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Pelaksanaan Program IbM

Metode pelaksanaan dari program IbM ini berupa model pelatihan In House Training. In House Training yang dimaksud dalam kemitraan ini adalah ―pelatihan‖ yang pelaksanaannya bertempat di sekolah masing-masing, bekerja sama dengan pelaksana program IbM yang merupakan dosen-dosen MIPA dari Universitas Udayana. Kunjungan

secara periodik ke masing-masing sekolah dilakukan oleh dosen-dosen untuk melakukan pendampingan terkait dengan pelaksanaan program, dari tahap persiapan, pengembangan, pengoperasionalan, sampai pada tahap evaluasi.

Tahapan pelaksanaan In House Training secara umum dapat dibagi menjadi dua tahapan. Tahap pertama, merupakan persiapan pembelajaran dan tahap kedua adalah tahap pengamatan dan diskusi.

A. Tahap Persiapan Pembelajaran

Pada tahap persiapan ini, kegiatan yang telah dilaksanakan adalah: Pelaksanaan pelatihan; Menyiapkan, mengembangkan, dan mengoperasionalkan lesson plan dan perangkat pembelajaran; Menyamakan konsep dasar matematika dan IPA yang akan dipakai dalam pembelajaran terkait media pembelajaran audiovisual untuk siswa tuna tungu; Melakukan simulasi/peer teaching dengan guru sebelum pelaksanaan (real teaching) di kelas; Mendiskusikan dan refleksi hasil real teaching; dan Menindak lanjuti hasil diskusi dan refleksi.

1. Persiapan Pelaksanaan Pelatihan

Persiapan pelaksanaan pelatihan meliputi pengumpulan referensi tambahan untuk bahan pelatihan di 3 sekolah mitra. Tambahan referensi yang dikumpulkan berhubungan dengan materi komunikasi total, prinsip-prinsip dan teori-teori yang berhubungan dengan perancangan media audiovisual untuk siswa tuna rungu. Kendala yang ditemui di lapangan adalah kesulitan mendapatkan referensi yang khusus membahas tentang media audiovisual untuk siswa tuna rungu. Referensi pendukung yang diperoleh dan yang dianggap paling relevan adalah:

(26)

- Cory, Patricia Blair. 1960. School Library Services for Deaf Children. Audio-Visual Material. The Alexander Graham Bell Association For The Deaf, Inc. Pengumpulan referensi berupa contoh-contoh media pembelajaran audiovisual dari sumber internet berupa video, animasi, dan lain-lain juga telah dilakukan. Kumpulan video dan animasi edukasi ini dipergunakan sebagai acuan dan tambahan referensi untuk pembuatan media audiovisual disesuaikan dengan kebutuhan siswa tuna rungu di sekolah mitra. Contoh-contoh video yang menunjang diantaranya berupa video pembelajaran matematika tentang Pecahan Senilai, Fruit Fractions-Animated Math Lesson, Fast Math to Multiply Number - 2 Digit Number. Contoh video pembelajaran untuk pembelajaran IPA tentang Five Kingdom dan Time-lapse Batterfly Life Cycle, Animasi perubahan iklim, American Farm Life-1950’s Educational Film, Making Glass From Sand, dan

Glass Making Demonstration at Corning Museum of Glass.

Materi pelatihan yang akan diberikan kepada guru-guru di 3 sekolah mitra, adalah: (1) sosialisasi tentang pelaksanaan program IbM di sekolah mitra, meliputi tujuan program IbM, manfaat bagi sekolah mitra, pelaksanaan program, dan evaluasi program. Materi ini disajikan dengan maksud agar guru-guru di ketiga sekolah mitra mengetahui dengan jelas tujuan dan target dari pelaksanaan program yang akan dilaksanakan, sehingga diharapkan para guru akan mempunyai motivasi yang tinggi untuk terlibat selama program pendampingan berlangsung. Materi presentasi tentang prinsip perancangan media audiovisual untuk siswa tuna rungu, meliputi materi prinsip komunikasi total dan prinsip desain media audiovisual. Contoh media audiovisual untuk pelatihan mengambil materi mata pelajaran matematika untuk SDLB.B, pokok bahasan pecahan senilai. Materi ini disajikan sebagai salah satu contoh media audiovisual.

Sebelum pelaksanaan pelatihan, dilakukan pertemuan awal dengan pihak sekolah mitra yaitu SLB.B Denpasar, SLB.B Jimbaran, dan SLB.B Denpasar, dengan jadwal pertemuan yang berlainan untuk ketiga sekolah mitra. Pertemuan awal ini membahas jadwal pelatihan dan pendampingan. Pada pertemuan awal disepakati jadwal pelaksanaan pelatihan dan mengenai jadwal pelaksanaan pendampingan berdasarkan kesepakatan antara pihak sekolah dan pelaksana program.

(27)

Gambar 1. Pertemuan awal dengan pihak sekolah SLB/B Denpasar tanggal 16 Juni 2014

(28)

Gambar 3. Pertemuan Awal dengan Pihak SLB/B Jimbaran pada Tanggal 24 Juni 2014 untuk Membahas Jadwal Pelatihan dan Pendampingan.

Gambar 4. Pertemuan Awal dengan Pihak SLB/B Jimbaran pada Tanggal 24 Juni 2014 untuk Membahas Materi dan Jumlah Peserta.

(29)

2. Pelaksanaan Pelatihan

Pelaksanaan pelatihan Pengembangan Media Pembelajaran Audiovisual di SLB.B Denpasar dilaksanakan pada tanggal 17 Juli 2014. Materi yang disajikan meliputi: (1) Tujuan program, manfaat bagi sekolah mitra, teknis pelaksanaan program pendampingan, dan evaluasi program; (2) Prinsip perancangan media audiovisual untuk siswa tuna rungu, meliputi materi prinsip komunikasi total dan prinsip desain media audiovisual; dan (3) Penyajian contoh media audiovisual, dengan mengambil materi mata pelajaran matematika untuk SDLB.B pokok bahasan pecahan senilai. Hasil dokumentasi kegiatan pelatihan di SLB.B Negeri Sidakarya Denpasar pada Tanggal 17 Juli 2014, disajikan pada gambar-gambar berikut:

Gambar 5. Peserta Pelatihan Sedang Mengerjakan Pre Test

(30)

Gambar 7. Pelaksana sedang Menjelaskan tentang Prinsip Komunikasi Total

(31)
(32)

Gambar 10. Dokumentasi Selama Kegiatan Pelatihan Berlangsung di SLB.B Denpasar

Pelaksanaan pelatihan di SLB.B Jimbaran berlangsung pada tanggal 9 Agustus 2014. Materi yang diberikan sama dengan materi pelatihan di SLB.B Denpasar. Hasil dokumentasi kegiatan pelatihan di SLB.B Jimbaran disajikan pada gambar-gambar berikut:

(33)

Gambar 12. Guru-guru SLB.B Jimbaran sedang Mergerjakan Pre Test

(34)

Gambar 14. Pengerjaan Pre Test oleh Peserta Pelatihan

(35)

Gambar 16. Presentasi Teknis Pelaksanaan Kegiatan Pendampingan Pengembangan Media Pembelajaran Audiovisual di SLB/B Jimbaran

(36)

Gambar 18. Tanya Jawab dengan Peserta Pelatihan Mengenai Mekanisme Pendampingan Pengembangan Media Pembelajaran Audiovisual

Pelaksanaan pelatihan di SLB.B Tabanan berlangsung pada tanggal 27 September 2014. Hasil dokumentasi kegiatan pelatihan di SLB.B Tabanan disajikan pada gambar-gambar berikut:

(37)

Gambar 20. Peserta pelatihan sedang mendengarkan pemaparan materi

(38)

Gambar 22. Penyajian contoh media audiovisual mata pembelajaran matematika

Gambar 23. Pembukaan Pelatihan oleh Wakil Kepala Sekolah SLB.B Tabanan

3. Menyiapkan dan mengembangkan Perangkat Pembelajaran

(39)

Kegiatan menyiapkan dan mengembangkan perangkat pembelajaran yang dilakukan berupa penyusunan bahan ajar matematika dan IPA Kelas IV SDLB. Materi-materi yang disajikan dalam bahan ajar ini disesuaikan dengan karakteritik siswa yang berkebutuhan khusus di SDLB. Bahan ajar yang dibuat diupayakan di bawah standar dari siswa normal.

Berdasarkan kunjungan-kunjungan pendampingan yang telah dilakukan selama program berlangsung di 3 sekolah mitra disepakati perangkat pembelajaran berupa bahan ajar yang akan dipakai dalam pembelajaran terkait dengan pemanfaatan media pembelajaran audiovisual yang akan dikembangkan, disesuai dengan silabus dan RPP yang dipergunakan di SLB.B. Hasil diskusi dan penyamaan konsep, diperoleh kesepakatan untuk mengambil materi Matematika Kelas IV SDLB.B dan IPA Kelas IV SDLB.B. Penyusunan bahan ajar Matematika dan IPA Kelas IV SDLB.B dikerjakan selama satu bulan oleh tim penyusun yaitu guru-guru di SLB.B Denpasar dengan didampingi oleh pelaksana program. Bahan ajar Matematika dan IPA Kelas IV SDLB.B ini merupakan luaran dari program ini.

(40)

4. Melakukan simulasi/peer teaching

Simulasi/peer teaching dengan guru sebelum pelaksanaan (real teaching) di kelas, dilakukan dengan simulasi mengajar dengan media pembelajaran audiovisual. Dalam simulasi ini guru-guru diarahkan untuk selama penayangan media audiovisual, guru membantu dengan komunikasi total dalam menjelaskan materi. Setelah real teaching

dilakukan diskusi dan refleksi terhadap hasil real teaching dan selanjutnya menindaklanjuti hasil diskusi dan refleksi.

(41)
(42)

Gambar 24. Kegiatan simulasi/peer teaching

B. Tahap Pengamatan dan Diskusi.

Pendamping dalam hal ini pelaksana program melakukan pengamatan pembelajaran dengan media audiovisual yang dilakukan oleh guru SLB/B, dengan lingkup pendampingan: (1) Membantu meningkatkan kompetensi guru dalam memanfaatkan TI untuk mengembangkan media pembelajaran yang lebih inovatif; (2) Membantu guru dalam merancang media pembelajaran audiovisual dengan pemanfaatan

Software Microsoft Office Power Point dan Macromedia Flash, dan software lainnya; dan (3) Membantu guru dalam mengoptimalkan perangkat multimedia yang sudah ada di masing-masing sekolah.

1. Pendampingan dalam Merancang Media Pembelajaran Audiovisual

(43)

Gerak Suatu Benda & Gaya Dapat Mengubah Bentuk Suatu Benda; (9) Energi dan Penggunaannya, sub pokok bahasan: Energi Panas, Energi Bunyi, dan Energi Alternatif.

Media audiovisual yang sudah dibuat untuk mata pelajaran Matematika kelas IV SDLB adalah materi dengan pokok bahasan: (1) Operasi Hitung Bilangan; (2) Faktor dan Kelipatan; (3) Pengukuran Sudut, panjang, dan Berat; (4) Keliling dan Luas Jajarangenjang & Segitiga; (5) Operasi Hitung Bilangan Bulat; (5) Pecahan; (6) Laambang Bilangan Romawi; dan (7) Bangun Ruang dan Bangun Datar.

Media audiovisual yang merupakan luaran hasil kegitan pendampingan ini diunggah ke dalam sim-litabmas dalam bentuk softcopy kompilasi luaran. Pendampingan dalam membuat media pembelajaran diharapkan dapat meningkatkan kompetensi guru dalam memanfaatkan TI untuk mengembangkan media pembelajaran yang lebih inovatif di masa mendatang. Khususnya media audiovisual untuk mata pelajaran Matematika dan IPA, maupun mata pelajaran lainnya secara umum. Kegiatan pendampingan ini juga berdampak pada dapat dioptimalkannya perangkat multimedia yang sudah ada di masing-masing sekolah mitra seperti i-chat (metode visual bahasa isyarat) yang sebenarnya sudah dimiliki sebelumnya oleh ketiga sekolah mitra.

2. Membantu guru dalam Penelitian Tindakan Kelas

(44)

dalam publikasi karya tulis ilmiah hasil Penelitian Tidakan Kelas maupun bentuk karya tulis yang lainnya.

5.2 Hasil Pelaksanaan Program

Kegiatan yang dilakukan dalam upaya meneningkatkan kompetensi guru dalam memanfaatkan TI untuk mengembangkan media pembelajaran yang lebih inovatif, dan dalam rangka membantu guru merancang media pembelajaran audiovisual untuk siswa tuna rungu dengan pemanfaatan Software Microsoft Office Power Point dan Macromedia Flash, maka pelaksana kegiatan memandang sangat perlu adanya buku panduan yang dapat menjadi panduan bagi guru dalam merancang media pembelajaran audiovisual.

Penyusunan buku Panduan Perancangan Media Pembelajaran Audiovisual untuk Siswa Tuna Rungu dilakukan oleh pelaksana program dan merupakan salah satu luaran program IbM ini. Kendala yang dihadapi selama proses penyusunan, adalah sangat terbatasnya referensi maupun hasil penelitian yang mengupas tentang prinsip-prinsip perancangan media pembelajaran audiovisual yang khusus untuk siswa tuna rungu. Dengan referensi yang terbatas ini, disusun buku panduan untuk guru-guru di SLB.B dalam pengembangan media pembelajaran audiovisual. Materi yang disajikan dalam buku ini meliputi: Bab I. Prinsip Komunikasi Total Latar Belakang, Contoh-Contoh Bentuk Komunikasi Total, Kelemahan dan Kelebihan Komunikasi Total, Media Pembelajaran Audiovisual); Bab II. Prinsip Desain Audio Visual (Latar Belakang, Subjudul (Subtitle), Keterbacaan (Readability), Huruf/Font, Warna, Kecepatan Teks, Animasi, Tata Letak Jendela (Window Layout), Fokus, Penyajian Teks, Komponen Verbal, Komponen Nonverbal); Bab III. Panduan Memanfaatkan Fasilitas Microsoft Powerpoint 2013 untuk Perancangan Media Audiovisual; dan Bab IV. Membuat Animasi Sederhana Dengan Marcomedia Flash. Buku panduan ini merupakan salah satu luaran dari program IbM ini. Beberapa referensi yang dipakai dalam buku panduan ini, sebagai berikut:

1. Blatto-Vallee, G., Kelly, R. R., Gaustad, M. G., Porter, J., and Fonzi, J. (2007). Visual-Spatial Representation in Mathematical Problem Solving by Deaf and Hearing Students. Journal of Deaf Studies and Deaf Education. 12, 1—17

2. Cavender, A. C., Bigham, J. P., and Ladner, R. E. (2009). Class In Focus: Enabling Improved Visual Attention Strategies for Deaf and Hard of Hearing Students.

(45)

3. Easterbrooks, S. R. (2008). Knowledge and Skills for Teachers of Individuals Who Are Deaf or Hard of Hearing. Communication Disorders Quarterly. 30 (1), 12— 36.

4. Gentry, M. M., Chinn, K. M., and Moulton, R. D. 2005. Effectiveness of Multimedia Reading Materials When Using With Childrean Who Are Deaf. 149 (5): 394-403. 5. Hawkins, L and Brawner, J. 1997. Educating Children Who are Deaf or Hard of

Hearing: Total Communication. ERIC Digest #559

6. Jensema, C. (1998). Viewer Reacation to Different Television Captioning Speeds.

American Annals of the Deaf, 143(4): 318—324.

7. Jensema, C., El Sharkawy, S., Danturthi, R. S., Burch, R., and Hsu, D. (2000). Eye Movement Patterns of Captioned Television Viewers. American Annals of the Deaf, 145 (3):275—285.

8. Ju, J-M. (2009). The Effects of Multimedia Stories of Deaf or Hard-of-Hearing Celebrities on Reading Comprehension and English Words Learning of Taiwanese Students with Hearing Impairment. Asian Journal of Management and Humanity Sciences. 4(2/3): 91-105.

9. Neves, J. (2005). Audiovisual Translation: Subtitling for the Deaf and Hard-of-Hearing. PhD Thesis, Roehampton University.

10. Williams, K, Matthews, A., and Skelhorn, L. (2011). Total Communication: Person Centred Thinking, Planning, and Practice. Alamat

http://www.hsapress.co.uk/TotalCommunication/ diakses tanggal 9 April 2014. Komunikasi Total mempunyai peranan penting sebagai upaya berkomunikasi dengan anak tuna rungu. Salah satu bentuk komunikasi total dalam penyusunan media pembelajaran adalah penggunaan multimedia (audio visual) dalam mengajarkan mata pelajaran kepada anak tuna rungu.

Berdasarkan seluruh rangkaian kegiatan program ini dan berdasarkan teori-teori dan hasil penelitian sebelumnya mengenai media audiovisual untuk tuna rungu dapat dijelaskan bahwa secara umum metode pengajaran dengan media audiovisual yang efektif dan sesuai dengan kebutuhan siswa tuna rungu harus mempertimbangkan: subjudul, keterbacaan (huruf/fon, warna, kecepatan teks, animasi, tata letak jendela, dan focus), penyajian teks, komponen verbal, dan komponen nonverbal.

(46)

kaya-bahasa (language-rich) seperti isyarat (signing) dan keterangan gambar (caption) menyulitkan dalam melihat perubahan di luar pusat perhatian saat itu (Cavender, et al., 2009).

Ada beberapa fitur yang relevan dalam subjudul menurut Gambier dalam Neves (2005). Fitur-fitur ini berupa keberterimaan (acceptability), legibilitas, keterbacaan (readability), sinkronisitas (synchronicity), dan relevansi (relevance). Legibilitas berhubungan dengan huruf, posisi subjudul, dan kecepatan subjudul. Keberterimaan berhubungan dengan norma bahasa, pemilihan gaya, dan pola retorika. Keterbacaan berhubungan dnegan kecepatan baca, kompleksitas teks, kepadatan informasi, dan lain-lain. Sinkronisitas berhubungan dengan kecepatan pergerakan bibir. Selanjutnya relevansi berhubungan dengan informasi yang disampaikan, dihapus, atau diklarifikasi. Lebih lanjut, fitur lain yang relevan menurut Gambier dalam Neves (2005) adalah strategi domestic (bagaimana menerima moda narasi) dan profil penerima.

Aspek penting yang harus diperhatikan dalam keterbacaan adalah aspek isi (content) dan bentuk. Dalam hal ini harus memperhatikan karakteristik siswa tuna rungu pada umumnya tidak menikmati/menyukai membaca dan umumnya kurang dalam keahlian membaca yang merupakan keahlian dasar dalam membaca subjudul. Selain itu tuna rungu belum mengembangkan keahlian yang memungkinkan untuk maju dari langkah sederhana dalam pengolahan kata menuju proses yang lebih tinggi seperti pengambilan kesimpulan dan prediksi, perencanaan, pemantauan, pertanyaan ke diri sendiri (self questioning), dan peringkasan. Aspek penting yang berhubungan dengan keterbacaan adalah isi (content) dan bentuk.

(47)

1. Huruf/Fon. Salah satu faktor penting dalam membaca subjudul adalah ukuran huruf/fon dan kualitas gambar. Untuk menjamin legibilitas pemilihan fon yang tepat akan membantu orang/tuna rungu untuk membaca teks. Contoh huruf yang dapat membantu legibilitas ini adalah Tiresias Screenfont.

2. Warna. Selain pemilihan huruf/fon, pemilihan warna juga berperan penting. Teks dengan warna putih dan latar belakang hitam lebih dipilih oleh sebagian besar orang diikuti oleh posisi kedua diikuti oleh teks putih pada latar belakang biru gelap (Silver dalam Neves (2005)).

3. Kecepatan Teks. Isu penting lain yang berhubungan dengan legibilitas adalah kecepatan teks. Luyken et al dalam Neves (2005) mengatakan bahwa kecepatan baca pada subjudul adalah antara 150—180 kata per menit. Penelitian kecepatan baca juga telah dilakukan oleh Jensema (1998) dan Jensema (2000). Lebih lanjut Neves (2005) mengatakan bahwa aturan enam detik secara luas diterima sebagai aturan standar untuk subjudul yang mudah dibaca. Implementasi aturan ini adalah tiga detik per baris dan lima sampai enam detik untuk dua baris. Namun D’Ydewalle dalam Neves (2005) menegaskan bahwa aturan enam detik ini seharusnya diganti menjadi aturan sembilan detik karena orang tuna rungu biasanya/cenderung lambat membaca.

4. Animasi. Animasi yang berlebihan dapat mengganggu fokus. Cavender (2009) menyarankan menggunakan animasi tertentu (anchored ancimation) yang hanya muncul pada atau dekat jendela target (target window) untuk menekankan bahwa pesan yang disampaikan pada dasarnya hanya merupakan saran dan tidak menuntut perhatian segera.

5. Tata Letak Jendela (window layout). Mengubah tata letak jendela (window layout) dapat membingungkan dan merusak suasana kelas (lihat Cavender, 2009). Lebih lanjut, Cavender (2009) mencontohkan perubahan tata letak dengan merotasi jendela seperti merupakan solusi yang baik, padahal bersifat mengganggu.

(48)

Penyajian Teks. Neves (2005) menegaskan bahwa penyajian teks memegang peranan penting dalam kualitas subjudul. Presentasi teks ini meliputi jenis huruf, warna, dan tata letak. Pemilihan huruf untuk subjudul biasanya adalah jenis huruf sans serif. Lebih lanjut subjudul menggunakan huruf balok cenderung susah dibaca dan orang yang suka subjudul dengan huruf capital tidak menyukai subjudul dengan kombinasi huruf kapital dan kecil. Hal penting selanjutnya adalah pemilihan warna. Warna putih pada kotak teks hitam merupkan warna paling legible dari semua kombinasi warna diikuti oleh warna kuning, cyan, dan hijau. Baker dalam Neves (2005) menyarankan bahwa warna magenta, merah, dan biru harus dihindari. Tata letak menyangkut banyak baris, posisi, dan penjajaran (alignment). Banyak baris misalkan dua sampai tiga baris. Selanjutnya posisi bias di tengah-tengah, rata kiri, atau rata kanan.

Komponen Verbal. Komponen verbal meliputi transposisi dari oral ke mode tulis. Menurut Neves (2005) orang yang mengalami susah pendengaran (hard-of-hearing) akan selalu melihat subjudul sebagai perwujudan ujaran oral (oral speech), namun orang tuna rungu yang tidak pernah menggunakan bahasa dalam bentuk oral hanya menganggap sebagai pesan tertulis.

Komponen nonverbal meliputi informasi tentang efek suara dan musik. Neves (2005) menegaskan bahwa cendikiawan dan professional menjustifikasi pengunaan informasi tentang efek suara dan music dengan harapan bahwa orang tuna rungu akan kehilangan informasi aural yang penting.

5.3 Hasil Evaluasi Pelaksanaan Program

1. Hasil Evaluasi Efektivitas Media Audiovisial yang Telah Dibuat

(49)

test terdiri dari sepuluh soal pecahan senilai. Metode analisis yang digunakan adalah metode analisis kualitatif.

Berdasarkan hasil analisis diperoleh bahwa peningkatan hasil belajar siswa dengan metode konvensional berbeda dengan metode pembelajaran dengan bantuan media visual. Kelompok siswa yang memperoleh perlakuan metode konvensional mempunyai rata-rata 10 pada skor pre test dan 21,25 pada nitai post test. Nilai skor pre test dan post test dalam penelitian ini dengan skala 0 – 100. Sedangkan untuk kelompok siswa yang memperoleh perlakuan pembelajaran dengan bantuan media audiovisual mempunyai rata-rata skor post test 50, mengalami peningkatan dari rata-rata skor pre test 11,43. Rata-rata persentase peningkatan hasil belajar siswa untuk kelompok memperoleh pembelajaran dengan metode konvensional sebesar 112,5%, sedangkan metode dengan media audiovisual terjadi peningkatan hasil belajar sebesar 337,4%. Berdasarkan peningkatan hasil belajar dengan kedua metode, disimpulkan bahwa pembelajaran dengan bantuan media audiovisual lebih efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa dibandingkan dengan metode pembelajaran konvensional, untuk siswa tuna tungu pada pokok bahasan pecahan senilai. Hasil observasi selama pembelajaran dengan kedua metode, diketahui bahwa pembelajaran dengan media visual lebih bisa dimengerti oleh peserta didik tuna rungu karena karakter siswa tuna rungu lebih mengerti dengan materi yang bersifat kongkrit dan sulit mengerti hal yang bersifat abstrak.

(50)

2. Hasil Evaluasi Pelaksanaan Pelatihan

Pengetahuan awal peserta pelatihan tentang media audiovisual dilihat dari jawaban peserta pelatihan terhadap pre test yang diberikan. Pengetahuan awal peserta pelatihan mengenai perlunya dikembangkan inovasi metode pembelajaran untuk mengoptimalkan pembelajaran di kelas khususnya SLB.B. Seluruh peserta pelatihan menjawab ―perlu‖ dengan alasan-alasan antara lain: (1) karena siswa mengalami kekurangan audionya sehingga perlu inovasi metode pembelajaran; (2) karena hasil belajar siswa akan lebih baik dan lebih optimal jika dilakukan inovasi metode pembelajaran; (3) karena anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus lebih cepat menyerap dengan metode pembelajaran yang inovatif; (4) inovasi metode pembelajaran perlu untuk meningkatkan pemahaman siswa yang mengalami keterbatasan; (5) agar siswa tidak bosan dengan metode pembelajaran yang diberikan oleh guru dan karena ilmu pengetahuan itu berkembang seiring kemajuan teknologi; (6) perlu karena inovasi metode pembelajaran memudahkan siswa maupun guru dalam kegiatan belajar mengajar; (7) karena siswa akan lebih semangat belajar jika metodenya inovatif, dan juga anak tidak akan cepat bosan; (8) untuk menggugah minat belajar siswa sehingga mereka tertantang untuk ingin tahu lebih jauh (9) dengan inovasi metode pembelajaran akan mempermudah pencapaian pembelajaran sesuai karakteristik kekhususan siswa; (10) karena siswa tuna rungu sangat sulit memahami hal-hal yang bersifat abstrak, sehingga sangat diperlukan inovasi agar hal-hal yang abstrak menjadi nyata; (11) semestinya semua penyampaian materi pembelajaran dibantu alat/media audiovisual agar tidak terlalu panjang waktu yang diperlukan mengingat keterbatasan siswa tuna rungu.

(51)

cepat mengerti materi yang disampaikan oleh guru; (6) siswa, khususnya yang bagian B tidak mampu berimajinasi, jadi sangat diperlukan media audiovisual disamping melatih pendengaran dan melihat materi; (7) media audiovisual membantu siswa menerima informasi melalui indera yang masih berfungsi normal; dan (8) untuk kasus dimana siswa total hilang pendengarannya lebih optimal menggunakan media visual saja.

Soal pre test untuk pertanyaan apakah pernah memanfaatkan media audiovisual untuk proses pembelajaran di kelas dan pada pembelajaran apa diberikan, sebagain besar (79,2%) dari 72 orang peserta pelatihan menyatakan ―tidak‖ dan sebagian kecil saja menjawab ―ya‖ (20,8 %). Diantara peserta pelatihan yang menjawab tidak pernah memanfaatkan media audiovisual, mereka menggunakan media kartu gambar untuk pembelajaran Bahasa Indonesia dan matematika, media gambar, dan software paint dalam pembelajaran . Sedangkan untuk sebagian kecil peserta yang menyatakan pernah menggunakan media audiovisual, mereka memanfaatkan: (1) VCD tentang baca tulis dan hitung, dengan isyarat, ucapan, tulisan dan gambar; (2) Microsoft powerpoint untuk: penjelasan materi mengenal huruf, benda, dan angka; menjelaskan tentang bagian-bagian tubuh hewan & manusia; (3) Memanfaatkan YouTube untuk pelajaran Penjasorkes, atletik (lompat jauh, cakram, dan tolak peluru); (4) Video interaktif untuk mengenal membaca, menulis, berhitung.

Post test diberikan pada akhir kegiatan, setelah pemberian materi pelatihan selesai diberikan. Beberapa pertanyaan yang diberikan hampir sama dengan pretest, dan ditambah dengan pertanyaan baru mengenai minat para guru kedepannya untuk menggunakan media audiovisual dalam pembelajaran siswa di SLB.B. Skor jawaban peserta pada pre test dan post test disajikan pada table 2.

Analisis statistika inferensial untuk data pre test dan post test peserta pelatihan SLB.B Tabanan bertujuan untuk melihat apakah pelatihan media audiovisual efektif meningkatkan pemahaman guru-guru dalam merancang media pembelajaran audiovisual. Misalkan pretest adalah nilai rata-rata guru sebelum mendapatkan pelatihan (nilai pre test)

dan post test adalah nilai rata-rata guru setelah mendapat pelatihan (nilai post test). Secara

(52)

dengan statistik uji yang akan digunakan adalah statistik uji t untuk data berpasangan (paired samples).

Tabel 2. Skor Pre Test dan Post Test Peserta Pelatihan di SLB.B Tabanan

(53)

berhasil apabila selisih nilai sebelum pelatihan (pre test) dan setelah pelatihan (post test) negatif. Dengan kata lain selisih nilai pascauji dan prauji lebih besar daripada nol. Hasil pengujian dengan uji peringkat bertanda Wilcoxon diperoleh p-value = 0,0001053. Pada tingkat signifikansi 0,05 diperoleh pvalue0,05. Berikut ini adalah luaran R untuk uji peringkat bertanda Wilcoxon untuk SLB.B Tabanan.

>wilcox.test(tbn$pre.tbn,tbn$pos.tbn,paired=TRUE,alternative="less")

Wilcoxon signed rank test with continuity correction

data: tbn$pre.tbn and tbn$pos.tbn V = 0, p-value = 0.0001053

alternative hypothesis: true location shift is less than 0

Jadi dapat disimpulkan pada tingkat signifikansi 0,05 hipotesis null diterima. Dengan kata lain, pelatihan efektif meningkatkan pemahaman guru-guru SLB. B Tabanan dalam merancang media audiovisual.

Selanjutnya analisis data dilakukan terhadap data SLB.B Denpasar (Tabel 3). Hipotesis untuk data di SLB.B Denpasar juga seperti pada persamaan (1). Namun, terlebih dahulu akan dilakukan uji kenormalan. Uji kenormalan menggunakan uji Shapiro-Wilk diperoleh p-value untuk skor pre test dan post test masing-masing

-8

10 ×

3,601 dan 1,203×10-5. Hal ini mengindikasikan tidak cukup bukti untuk menerima hipotesis null tentang kenormalan. Dengan kata lain, data tidak menyebar normal. Selanjutnya akan dilakukan pengujian dengan metode nonparametric yaitu uji peringkat bertanda Wilcoxon (Wilcoxon signed ranks test). Untuk melakukan uji peringkat bertanda Wilcoxon diasumsikan beda atau selisih data simetrik dan data diukur pada skala ordinal, interval, atau rasio. Uji peringkat bertanda Wilcoxon menguji median selisih data. Untuk melihat apakah pelatihan berpengaruh secara positif (meningkatkan) pemahaman guru hipotesisnya adalah sebagai berikut seperti pada persamaan (2). Hasil pengujian dengan uji peringkat bertanda Wilcoxon diperoleh p-value = 2,522×10-7.

Berikut ini adalah luaran R untuk uji peringkat bertanda Wilcoxon untuk SLB.B Sidakarya.

>wilcox.test(sdk$pre.sid,sdk$pos.sid,paired=TRUE,alternative="less")

Wilcoxon signed rank test with continuity correction

data: sdk$pre.sid and sdk$pos.sid V = 0, p-value = 2.522e-07

(54)

Pada tingkat signifikansi 0,05 diperoleh pvalue0,05. Jadi dapat disimpulkan

pada tingkat signifikansi  0,05 hipotesis null diterima. Dengan kata lain, pelatihan efektif meningkatkan pemahaman guru-guru di SLB.B Denpasar dalam merancang media audiovisual.

Tabel 3. Skor Pre Test dan Post Test Peserta Pelatihan di SLB.B Denpasar

No terlebih dahulu akan dilakukan uji kenormalan. Uji kenormalan menggunakan uji Shapiro-Wilk diperoleh p-value untuk skor pre test dan post test masing-masing

-8 10 ×

(55)

kenormalan. Dengan kata lain, data tidak menyebar normal. Selanjutnya akan dilakukan pengujian dengan metode nonparametric yaitu uji peringkat bertanda Wilcoxon (Wilcoxon signed ranks test).

Tabel 4. Skor Pre Test dan Post Test Peserta Pelatihan di SLB.B Jimbaran

No

(56)

Berikut ini adalah luaran R untuk uji peringkat bertanda Wilcoxon untuk SLB.B Jimbaran.

>wilcox.test(jim$pre.jim,jim$pos.jim,paired=TRUE,alternative="less")

Wilcoxon signed rank test with continuity correction

data: jim$pre.jim and jim$pos.jim V = 0, p-value = 1.02e-07

alternative hypothesis: true location shift is less than 0

Pada tingkat signifikansi  0,05 diperoleh pvalue0,05. Jadi dapat disimpulkan

pada tingkat signifikansi  0,05 hipotesis null diterima. Dengan kata lain, pelatihan efektif meningkatkan pemahaman guru-guru di SLB.B Jimbaran dalam merancang media audiovisual.

Berdasarkan hasil analisis tersebut di atas dapat dijelaskan bahwa pelatihan yang diberikan memberikan manfaat bagi peningkatan pengetahuan guru-guru di ketiga sekolah mitra kegiatan (SLB.B Tabanan, SLB.B Sidakarya, dan SLB.B Jimbaran) tentang cara-cara mengembangkan media pembelajaran audiovisual berbasis IT untuk pengajaran Matematika dan IPA siswa tuna rungu di Sekolah Luar Biasa Bagian B.

5.4 Luaran yang Dihasilkan dari Pelaksanaan Program

Keseluruhan kegiatan, dari awal sampai akhir menghasilkan luaran berupa: 1. Buku Panduan Perancangan Media Pembelajaran Audiovisual untuk Siswa Tuna

(57)

4. Artikel Ilmiah hasil Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan oleh guru di SLB.B Denpasar yang merupakan hasil pendampingan dari Pelaksana kegiatan program IbM ini. Artikel ini sudah dipresentasikan pada siding paralel Seminar Nasional Matematika 2014, yang diselenggarakan oleh Jurusan Matematika FMIPA Universitas Udayana, di Kampus Jl. PB Sudirman pada tanggal 6 November 2014. 5. Media Audiovisual untuk pembelajaran IPAKelas IV SDLB

6. Media Audiovisual untuk pembelajaran Matematika Kelas IV SDLB 7. Draft Artikel Ilmiah hasil kegiatan program IbM

8. Poster

9. Laporan Akhir Program IbM (IbM Kelompok Guru Mata Pelajaran Matematika

(58)

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan pada pelaksanaan kegiatan dari awal sampai akhir, bebrapa hal yang dapat disimpulkan adalah sebagai berikut:

1. Tahapan pelaksanaan In House Training secara umum dapat dibagi menjadi dua tahapan. Tahap pertama, merupakan persiapan pembelajaran dan tahap kedua adalah tahap pengamatan dan diskusi. Pada tahap persiapan pembelajaran, kegiatan yang dilaksanakan adalah: Pelaksanaan pelatihan; Menyiapkan, mengembangkan, dan mengoperasionalkan lesson plan dan perangkat pembelajaran; Menyamakan konsep dasar matematika dan IPA yang akan dipakai dalam pembelajaran terkait media pembelajaran audiovisual untuk siswa tuna tungu; Melakukan simulasi/peer teaching dengan guru sebelum pelaksanaan (real teaching) di kelas; Mendiskusikan dan refleksi hasil real teaching; dan Menindak lanjuti hasil diskusi dan refleksi.

2. Pelaksanaan pelatihan Pengembangan Media Pembelajaran Audiovisual di ketiga sekolah mitra dilaksanakan dengan materi yang disajikan meliputi: (1) Tujuan program, manfaat bagi sekolah mitra, teknis pelaksanaan program pendampingan, dan evaluasi program; (2) Prinsip perancangan media audiovisual untuk siswa tuna rungu, meliputi materi prinsip komunikasi total dan prinsip desain media audiovisual; dan (3) Penyajian contoh media audiovisual, dengan mengambil materi mata pelajaran matematika untuk SDLB.B pokok bahasan pecahan senilai. 3. Kegiatan menyiapkan dan mengembangkan perangkat pembelajaran berupa

penyusunan bahan ajar matematika dan IPA Kelas IV SDLB. Materi-materi yang disajikan dalam bahan ajar ini disesuaikan dengan karakteritik siswa yang berkebutuhan khusus di SDLB dan dibuat diupayakan di bawah standar dari siswa normal. Disesuaikan dengan silabus dan RPP yang dipergunakan di SLB.B, materi Matematika Kelas IV SDLB.B dan IPA Kelas IV SDLB.B.

(59)

Setelah real teaching dilakukan diskusi dan refleksi terhadap hasil real teaching

dan selanjutnya menindaklanjuti hasil diskusi dan refleksi.

5. Dalam kegiatan pendampingan guru-guru di tiga sekolah mitra didampingi oleh pelaksana kegiatan membuat media audiovisual mata pelajaran matematika dan IPA siswa kelas IV SDLB. Pendampingan dalam membuat media pembelajaran diharapkan dapat meningkatkan kompetensi guru dalam memanfaatkan TI untuk mengembangkan media pembelajaran yang lebih inovatif di masa mendatang. Pendampingan juga dilakukan dalam rangka membantu guru-guru dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK), dan penyusunan karya tulis ilmiah hasil PTK. 6. Berdasarkan seluruh rangkaian kegiatan program ini dan berdasarkan teori-teori

dan hasil penelitian sebelumnya mengenai media audiovisual untuk tuna rungu dapat dijelaskan bahwa secara umum metode pengajaran dengan media audiovisual yang efektif dan sesuai dengan kebutuhan siswa tuna rungu harus mempertimbangkan: subjudul, keterbacaan (huruf/fon, warna, kecepatan teks, animasi, tata letak jendela, dan focus), penyajian teks, komponen verbal, dan komponen nonverbal.

7. Hasil evaluasi pelaksanaan pelatihan, berdasarkan hasil analisis data skor pre test dan psot test dapat dijelaskan bahwa pelatihan yang diberikan memberikan manfaat bagi peningkatan pemahaman guru-guru di ketiga sekolah mitra kegiatan (SLB.B Tabanan, SLB.B Sidakarya, dan SLB.B Jimbaran) tentang cara-cara mengembangkan media pembelajaran audiovisual berbasis IT untuk pengajaran Matematika dan IPA siswa tuna rungu di Sekolah Luar Biasa Bagian B.

8. Keseluruhan kegiatan, dari awal sampai akhir menghasilkan luaran berupa: Buku Panduan Perancangan Media Pembelajaran Audiovisual untuk Siswa Tuna Rungu; Bahan Ajar Matematika dan IPA Kelas IV SDLB.B; Artikel Ilmiah hasil Penelitian Tindakan Kelas; Media Audiovisual untuk pembelajaran Matematika dan IPAKelas IV SDLB; Draft Artikel Ilmiah hasil kegiatan program IbM; dan Laporan Akhir Program IbM.

6.2 Saran

(60)

DAFTAR PUSTAKA

Blatto-Vallee, G., Kelly, R. R., Gaustad, M. G., Porter, J., and Fonzi, J. (2007). Visual-Spatial Representation in Mathematical Problem Solving by Deaf and Hearing Students. Journal of Deaf Studies and Deaf Education. 12, 1—17

Cavender, A. C., Bigham, J. P., and Ladner, R. E. (2009). Class In Focus: Enabling Improved Visual Attention Strategies for Deaf and Hard of Hearing Students.

ASSETS’09, October 25—28.

Cory, Patricia Blair. 1960. School Library Services for Deaf Children. Audio-Visual Material. The Alexander Graham Bell Association For The Deaf, Inc.

Easterbrooks, S. R. (2008). Knowledge and Skills for Teachers of Individuals Who Are Deaf or Hard of Hearing. Communication Disorders Quarterly. 30 (1), 12—36. Effendi, Mohammad, Esni Triaswati, Hariyanto & Pujiati. 2006. Penggunaan Media

Ceritera Bergambar Berbasis Pendekatan Komunikasi Total untuk Meningkatkan Kemampuan Bahasa Anak Tunarungu Kelas Rendah di SLB Bagian B YPTB Malang, (Diunduh dari

http://www.ditnaga-dikti.org/ditnaga/files/sari_penelitian_ppkp_pips.pdf, tgl 2 Desember 2012). Gentry, M. M., Chinn, K. M., and Moulton, R. D. 2005. Effectiveness of Multimedia

Reading Materials When Using With Childrean Who Are Deaf. 149 (5): 394-403. Hansen, B. 1980. Aspects of Deafness and Total Communication in Denmark.

Copenhagen: The Center for Total Communication.

Hawkins, L and Brawner, J. 1997. Educating Children Who are Deaf or Hard of Hearing: Total Communication. ERIC Digest #559

Jensema, C. (1998). Viewer Reacation to Different Television Captioning Speeds.

American Annals of the Deaf, 143(4): 318—324.

Jensema, C., El Sharkawy, S., Danturthi, R. S., Burch, R., and Hsu, D. (2000). Eye Movement Patterns of Captioned Television Viewers. American Annals of the Deaf, 145 (3):275—285.

Ju, J-M. (2009). The Effects of Multimedia Stories of Deaf or Hard-of-Hearing Celebrities on Reading Comprehension and English Words Learning of

Taiwanese Students with Hearing Impairment. Asian Journal of Management and Humanity Sciences. 4(2/3): 91-105.

Khaer, Abu. 2008. Video Pembelajaran untuk Siswa Berkebutuhan Khusus Upaya Menemukan Suatu Model, (Diunduh dari

http://ssmkn2.dispendik.surabaya.go.id/download.php?id=35, tgl 12 Januari 2013) Neves, Joselia. 2005. Audiovisual Translation: Subtitling for the Deaf and

Hard-of-Hearing. Dissertations from the School of Arts, Roehampton University, University of Surrey. http://rrp.roehampton.ac.uk/artstheses/1;

Nugroho, Topiq. 2009. Metode Pembelajaran Matematika di Sekolah Luar Biasa

Tunarungu Melalui Komputer untuk Peningkatan Hasil Belajar Siswa, (Diunduh dari http://etd.eprints.ums.ac.id/3437/2/A410050094.pdf, tgl 25 Desember 2012) Williams, K, Matthews, A., and Skelhorn, L. (2011). Total Communication: Person

Centred Thinking, Planning, and Practice. Alamat

(61)

IbM KELOMPOK GURU MATA

PELAJARAN MATEMATIKA

DAN IPA SEKOLAH LUAR

BIASA BAGIAN B (SLB/B)

by

Desak Putu Eka Nilakusmawati

FILE

T IME SUBMIT T ED 23- JAN- 2016 08:52PM

SUBMISSION ID 623159049

WORD COUNT 9863

CHARACT ER COUNT 64308

Figur

Tabel 1. Klasifikasi SDM Perguruan Tinggi Pelaksana
Tabel 1 Klasifikasi SDM Perguruan Tinggi Pelaksana . View in document p.24
Gambar 1. Pertemuan awal dengan pihak sekolah SLB/B Denpasar tanggal 16 Juni 2014
Gambar 1 Pertemuan awal dengan pihak sekolah SLB B Denpasar tanggal 16 Juni 2014 . View in document p.27
Gambar 2. Pertemuan Awal dengan Pihak SLB/B Denpasar untuk Membahas Jadwal Pelatihan, Pendampingan, dan Jumlah Peserta
Gambar 2 Pertemuan Awal dengan Pihak SLB B Denpasar untuk Membahas Jadwal Pelatihan Pendampingan dan Jumlah Peserta. View in document p.27
Gambar 3. Pertemuan Awal dengan Pihak SLB/B Jimbaran pada Tanggal 24 Juni 2014  untuk Membahas Jadwal Pelatihan dan Pendampingan
Gambar 3 Pertemuan Awal dengan Pihak SLB B Jimbaran pada Tanggal 24 Juni 2014 untuk Membahas Jadwal Pelatihan dan Pendampingan. View in document p.28
Gambar 4. Pertemuan Awal dengan Pihak SLB/B Jimbaran pada Tanggal 24 Juni 2014  untuk Membahas Materi dan Jumlah Peserta
Gambar 4 Pertemuan Awal dengan Pihak SLB B Jimbaran pada Tanggal 24 Juni 2014 untuk Membahas Materi dan Jumlah Peserta. View in document p.28
Gambar 5. Peserta Pelatihan Sedang Mengerjakan Pre Test
Gambar 5 Peserta Pelatihan Sedang Mengerjakan Pre Test . View in document p.29
gambar-gambar berikut:
gambar-gambar berikut: . View in document p.29
Gambar 7. Pelaksana sedang Menjelaskan tentang Prinsip Komunikasi Total
Gambar 7 Pelaksana sedang Menjelaskan tentang Prinsip Komunikasi Total . View in document p.30
Gambar 8. Presentasi Teknis Pelaksanaan Kegiatan Pendampingan Pengembangan                          Media Pembelajaran Audiovisual di SLB/B Sidakarya-Denpasar
Gambar 8 Presentasi Teknis Pelaksanaan Kegiatan Pendampingan Pengembangan Media Pembelajaran Audiovisual di SLB B Sidakarya Denpasar . View in document p.30
Gambar 10. Dokumentasi Selama Kegiatan Pelatihan Berlangsung di SLB.B Denpasar
Gambar 10 Dokumentasi Selama Kegiatan Pelatihan Berlangsung di SLB B Denpasar . View in document p.32
Gambar 11.  Diskusi dengan Kepala SLB/B Jimbaran
Gambar 11 Diskusi dengan Kepala SLB B Jimbaran . View in document p.32
Gambar 12. Guru-guru SLB.B Jimbaran sedang Mergerjakan Pre Test
Gambar 12 Guru guru SLB B Jimbaran sedang Mergerjakan Pre Test . View in document p.33
Gambar 13. Peserta Pelatihan Sedang Mengerjakan Pre Test
Gambar 13 Peserta Pelatihan Sedang Mengerjakan Pre Test . View in document p.33
Gambar 14. Pengerjaan Pre Test oleh Peserta Pelatihan
Gambar 14 Pengerjaan Pre Test oleh Peserta Pelatihan . View in document p.34
Gambar 15.  Presentasi Teknis Pelaksanaan Kegiatan Penyusunan Materi Audiovisual                       di SLB/B Jimbaran
Gambar 15 Presentasi Teknis Pelaksanaan Kegiatan Penyusunan Materi Audiovisual di SLB B Jimbaran . View in document p.34
Gambar 16. Presentasi Teknis Pelaksanaan Kegiatan Pendampingan Pengembangan                           Media Pembelajaran Audiovisual di SLB/B Jimbaran
Gambar 16 Presentasi Teknis Pelaksanaan Kegiatan Pendampingan Pengembangan Media Pembelajaran Audiovisual di SLB B Jimbaran . View in document p.35
Gambar 17.  Pelaksana Kegiatan sedang Menjelaskan Materi Prinsip                                        Perancangan Media Audiovisual
Gambar 17 Pelaksana Kegiatan sedang Menjelaskan Materi Prinsip Perancangan Media Audiovisual . View in document p.35
Gambar 18. Tanya Jawab dengan Peserta Pelatihan Mengenai Mekanisme                      Pendampingan Pengembangan Media Pembelajaran Audiovisual
Gambar 18 Tanya Jawab dengan Peserta Pelatihan Mengenai Mekanisme Pendampingan Pengembangan Media Pembelajaran Audiovisual . View in document p.36
gambar berikut:
gambar berikut: . View in document p.36
Gambar 20. Peserta pelatihan sedang mendengarkan pemaparan materi
Gambar 20 Peserta pelatihan sedang mendengarkan pemaparan materi . View in document p.37
Gambar 22. Penyajian contoh media audiovisual mata pembelajaran matematika
Gambar 22 Penyajian contoh media audiovisual mata pembelajaran matematika . View in document p.38
Gambar 23.  Pembukaan Pelatihan oleh Wakil Kepala Sekolah SLB.B Tabanan
Gambar 23 Pembukaan Pelatihan oleh Wakil Kepala Sekolah SLB B Tabanan . View in document p.38
gambar berikut:
gambar berikut: . View in document p.40
Gambar 24. Kegiatan simulasi/peer teaching
Gambar 24 Kegiatan simulasi peer teaching . View in document p.42
Tabel 2. Skor Pre Test dan Post Test Peserta Pelatihan di SLB.B Tabanan
Tabel 2 Skor Pre Test dan Post Test Peserta Pelatihan di SLB B Tabanan . View in document p.52
Tabel 3. Skor Pre Test dan Post Test Peserta Pelatihan di SLB.B Denpasar
Tabel 3 Skor Pre Test dan Post Test Peserta Pelatihan di SLB B Denpasar . View in document p.54
Tabel 4. Skor Pre Test dan Post Test Peserta Pelatihan di SLB.B Jimbaran
Tabel 4 Skor Pre Test dan Post Test Peserta Pelatihan di SLB B Jimbaran . View in document p.55

Referensi

Memperbarui...