• Tidak ada hasil yang ditemukan

ARAH BARU KURIKULUM BAHASA ARAB DI LEMBAGA FORMAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ARAH BARU KURIKULUM BAHASA ARAB DI LEMBAGA FORMAL"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

ARAH BARU KURIKULUM

BAHASA ARAB DI LEMBAGA FORMAL

Oleh :

Nuruddin

Abstrak

Waktu sembilan tahun untuk belajar bahasa arab, adalah waktu yang sangat panjang, oleh karena itu, kalau seandainya mampu dikelola dengan baik dalam hal kurikulum, pendidik serta aspek penunjang yang lain, maka pembelajaran bahasa arab di lembaga formal akan mencapai hasil yang maksimal. Akan tetapi realitasnya berlainan, lembaga formal telah dianggap tidak berdaya untuk mengantarkan peserta didik mampu atau menguasai bahasa arab, anggapan ini sedikit banyak tercermin dari kegelisahan Dosen Bahasa Arab STAIN Jember pada Mahasiswanya yang notabene banyak berasal dari Madrasah Aliyah.

Kata Kunci: Arah Baru, Kurikulum Bahasa Arab

A. Pengantar

Bahasa adalah sarana komunikasi untuk menyampaikan maksud dan tujuan kita, kadang karena bahasa, kita sibuk manafsirkan maksud yang disampaikan oleh orang lain yang berbentuk oral maupun tulisan, dan karena bahasa pula

wacana suatu kejadian akan

menggelinding kemasyarakat dan menjadi konsumsi publik, kadang obyektif dan kadang pula subyektif, kadang sesuai kejadian dan kadang pula

ditambah-tambahi.

Bahasa memiliki peran penting dalam menangkap maksud dan keinginan seseorang sehingga tidak salah tafsir dan sesuai dengan keinginan sipembuat pesan. Dalam konteks agama Islam bahasa arab yang digunakan sebagai media untuk menyampaikan pesan Tuhan kepada kita akan tepat sasaran dan cenderung tidak didistorsikan ketika kemampuan bahasa arab kita baik dan benar.

Dengan demikian, maka belajar bahasa arab merupakan kemampuan penting yang harus dimiliki oleh generasi muslim, karena tanpa kemampuan ini seseorang akan sulit untuk menggali lebih dalam khazanah keilmuan Islam yang mayoritas tertuliskan dengan menggunakan bahasa arab. Kesadaran ini yang melatar belakangi diwajibkannya materi bahasa arab untuk diajarakan dalam pendidikan formal dibawah naungan Kementerian Agama dari Madrasah Ibtidaiyyah hingga sampai Perguruan tinggi.

Dalam kurikulum 2004 yang dikeluarkan oleh Departemen Agama dapat diketahui bahwa pembelajaran bahasa Arab untuk tingkat Madrasah Ibtida’iyah dimulai sejak peserta didik menginjak kelas 4. Hal ini berarti, kalau peserta didik secara berurutan menempuh jalur Madrasah Ibtidaiyyah, Madrasah Tsanawiyyah, dan Madrasah Aliyyah, maka ketika peserta didik itu lulus dari Madrasah Aliyah, mata pelajaran

(2)

bahasa Arab sudah dipelajari sekitar 9 tahun; tiga tahun di tingkat Madrasah Ibtida’iyah, tiga tahun di tingkat Madrasah Tsanawiyah dan tiga tahun yang terakhir di tingkat Madrasah Aliyah. Waktu sembilan tahun untuk belajar bahasa arab, adalah waktu yang sangat panjang, oleh karena itu, kalau seandainya mampu dikelola dengan baik dalam hal kurikulum, pendidik serta aspek penunjang yang lain, maka pembelajaran bahasa arab di lembaga formal akan mencapai hasil yang maksimal.

Akan tetapi realitasnya berlainan, lembaga formal telah dianggap tidak berdaya untuk mengantarkan peserta didik mampu atau menguasai bahasa arab, anggapan ini sedikit banyak tercermin dari kegelisahan Dosen Bahasa Arab STAIN Jember pada Mahasiswanya yang notabene banyak berasal dari Madrasah Aliyah.

Dari diskripsi diatas inilah tulisan ini bermula, dengan harapan tulisan ini akan memberikan kontribusi pada praktisi Bahasa Arab, sehingga akan ditemukan paradigma baru kurikulum Bahasa Arab dilembaga formal.

B. Konsepsi Singkat Tentang Kurikulum

Kurikulum adalah jalan terang yang dilalui oleh pendidik atau guru

dengan peserta didik untuk

mengembangkan pengetahuan,

keterampilan dan sikap serta nilai-nilai.

Sehingga kalau kemudian di

akomodasikan, kurikulum dalam konteks materi bahasa arab memiliki arti subuah system cara atau metode yang mengarah pada pengembangan pengetahuan, ketrampilan, sikap serta nilai-nilai yang berkaitan dengan materi bahasa arab.

Untuk mengembangkan

pengetahuan, keterampilan dan sikap serta nilai-nilai yang dimiliki oleh siswa di bidang Bahasa Arab, maka perlu ada dua unsur yang harus terlibat yaitu Kepala Sekolah sebagai penentu kebijakan serta

guru yang bersinggungan langsung dengan siswa, dua unsur yang terlibat itu masing-masing mengatur dua model kurikulum yaitu kurikulum sebagai satuan pendidikan dan kurikulum sebagai satuan bidang studi.

1. Kurikulum Sebagai Satuan Pendidikan

Kurikulum sebagai satuan pendidikan adalah kurikulum dimana segala kegiatan dirancang oleh lembaga pendidikan untuk disajikan kepada peserta didik guna mencapai tujuan

pendidikan. Pengertian ini

menggambarkan segala bentuk aktivitas sekolah yang sekiranya mempunyai efek bagi pengembangan peserta didik, adalah termasuk kurikulum, dan tidak terbatas pada kegiatan belajar mengajar saja.

Hal ini sangat relevan untuk dipahami dan dilakukan oleh kepala sekolah sebagai top leader beserta para staf wakil kepala sekolah disatuan

lembaga pendidikan, karena

menggambarkan cakupan pemikiran, perencanaan dan tanggung jawabnya dalam pelaksanaan guna mencapai tujuan yang ditetapkan serta menjadikan satuan pendidikan yang kualifaid.

Ada beberapa hal yang menjadi wilayah pengelolaan kurikulum sebagai satuan pendidikan diantaranya penetapan tujuan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan lokal, kalender pendidikan, Jadwal pelajaran, penetapan jumlah jam dalam materi pelajaran.

2. Kurikulum Sebagai Satuan Bidang Studi

Kurikulum sebagai satuan bidang studi, adalah kurikulum yang bersinggungan langsung dengan guru bidang studi, jenis kurikulum ini misalnya adalah Seperangkat rencana pengaturan tentang isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di

(3)

sekolah. Pengertian ini menggaris bawahi adanya beberapa komponen pokok yang harus dipersiapkan oleh guru bidang studi terkait dengan peglolaan kurikulum yang menjadi tanggung jawabnya diantaranya, penetapan tujuan pembelajaran, isi/bahan materi, metode, serta evaluasi.

C. Problem Kurikulum Bahasa Arab.

Ada sesuatu yang salah sehingga peserta didik dilembaga formal tidak

berdaya untuk menguasai bahasa arab,

kesalahan itu paling tidak disebabkan karena tidak berjalannya fungsi dan tanggung jawab sistem pengelolaan dua model kurikulum diatas, berikut penulis akan diskripsikan kurikulum bahasa arab yang menjadi problem ketidak berdayaan peserta didik untuk menguasai bahasa arab.

1. Target yang Ambisional

Dalam kurikulum bahasa arab, ada empat kemampuan yang hendak dicapai, yaitu kemampuan muhadatsah, kitabah, qiroah, dan kemampuan istima’, keemapat kemampuan ini dalam kurikulum bahasa arab hendak di capai, sementara sarana dan prasana, waktu tidak mendukung pada pencapaian target empat maharah tersebut.

Untuk kemampuan muhadatsah dibutuhkan sarana asrama untuk menciptakan lingkungan berbahasa arab, kemampuan istima’ akan bisa terwujud bila di setiap satuan pendidikan terdapat laboratorium bahasa, oleh karena itu pencapain empat maharoh dalam kurikulum bahasa arab adalah pecapaian target yang ambisional tidak mempertimbangkan waktu serta fasilitas dalam setiap satuan pendidikan.

2. Sedikitnya Waktu yang tersedia

Didalam kurikulum bahasa arab, jumlah jam untuk materi bahasa arab dalam satu minggu mungkin hanya berkisar 4-6 jam pelajaran yang setara

dengan 2 atau 3 kali tatap muka, hal ini akan sulit bagi pendidik untuk bisa menghantarkan peserta didik mampu belajar bahasa arab, karena materi bahasa arab adalah materi yang kompleks, materi yang membutuhkan penanganan dan pengawalan khusus oleh penentu kebijakan serta oleh pendidik, karena bahasa (termasuk juga bahasa arab) itu adalah kebiasaan, semakin orang terbiasa menggunakan bahasa, maka kesempatan untuk menguasai bahasa akan semakin terbuka.

3. Tingkat kesadaran

Ketersediaan waktu yang sedikit ini, disebabkan karena ketidaksadaran

dari penentu kebijakan termasuk juga siswa, penentu kebijakan lebih terlena kepada penanganan Ujian Nasional ketimbang materi bahasa arab. Realitas ketidaksadaran itu tercermin di beberapa lembaga formal yang memberikan kebijakan untuk memfokuskan materi Ujian Nasional ketika siswa berada di kelas tiga, kebijakan semacam ini menjadikan siswa efektif hanya menerima materi bahasa arab ketika kelas satu dan dua saja, sementara pada waktu kelas tiga fokus dari siswa menjadi terpecah.

Akhirnya yang terjadi adalah siswa menganggap bahwa materi bahasa arab adalah materi yang tidak penting, sehingga siswa tidak lagi memperhatikan materi bahasa arab sebagai materi yang urgen bagi bekal mereka sebagai generasi muslim.

4. Hetrogenitas Kemampuan

Kalau kita mengamati kurikulum bahasa arab mulai dari Madrasah Ibtidaiyyah, Madrasah Tsanawiyyah, dan Madrasah Aliyah, bahwa kurikulum Bahasa Arab ini adalah kurikulum lanjutan mulai dari Madrasah Ibtidaiyyah hingga Madrsah Aliyyah. Dan lembaga formal tidak pernah memperhatikan tingkat kemampuan siswa dalam bidang bahasa

(4)

Arab, serta tidak pernah memperhatikan latar belakang siswa, apakah dia ketika di Madrasah Tsanawiyyah, dia berasal dari SD, ataukah ketika dia di Madrsah Aliyah sebelumnya dia berasal dari SMP.

Tidak adanya pertimbangan ini menyebabkan terjadinya hetrogenitas

kemampuan di dalam satu kelas, dan ini adalah problem tersendiri dalam pembelajaran bahasa arab.

5. Materi Kurikulum

Materi kurikulum yang penulis analisa diambil dari kurikulum Bahasa Arab di tingkat Madrasah Aliyah, dari analisa penulis materi kurikulum Bahasa

Arab kurang memenuhi aspek

ketercakupan dan aspek sistematis. Berikut akan ditampilkan materi qowaid yang ada dalam materi Bahasa Arab di tingkat madrsah Aliyah :

(5)

No Materi yang ditawarkan

Kelas I Kelas II Kelas III

1

فﺮ او ﻞﻌﻔﻟاو ﻢﺳ

ﻞﻌﻓ

+

نا

ﺲ ﻟ نﻮ ﻳ

,

نﺎ

2

ﺚﻧﺆﳌا و ﺮﻛﺬﳌا

ﮫﺑ لﻮﻌﻔﳌاو ﻞﻋﺎﻔﻟا

او أﺪﺘﺒﳌا

:

تﺎﻋﻮﻓﺮﳌا

عﻮﻓﺮﳌا ﻋ فﻮﻄﻌﳌاو ﻞﻋﺎﻔﻟاو

3

عﻮﻤ او دﺮﻔﳌا

)

ﺴﻜﺘﻟا ﻊﻤﺟ

,

ﺮﻛﺬﳌا ﻊﻤﺟ

ﻢﻟﺎﺴﻟا

,

ﻊﻤﺟ

ﻢﻟﺎﺴﻟا ﺚﻧﺆﳌا

(

واﻮﻟﺎﺑ ﻒﻄﻌﻟاو ﺖﻌﻨﻟا

تﺎ ﻮﺼﻨﳌا

:

ﻢﺳاو ﮫﺑ لﻮﻌﻔﳌا

دﺮﻔﳌا نﺎ ﺧو ناو نا

بﻮﺼﻨﳌا ﻋ فﻮﻄﻌﳌاو

4

عاﻮﻧاو ةﺮﻜﻨﻟا عﻮﻤ او دﺮﻔﳌا

ﺮﺋﺎﻤﻀﻟاﻮﻟﺎﺑ فﺮﻌﳌا ﺔﻓﺮﻌﳌا

لﻮﺻﻮﳌاو

(

ﺔ ﻮﻨﻌﳌا ﺔﻓﺎﺿ

ﺮ ا فوﺮﺤﺑ

ﺖﻌﻨﻟاو ﺔﻓﺎﺿ و

:

تاروﺮﺠﳌا

5

عرﺎﻀﳌا ﻞﻌﻔﻟاو

ﺎﳌا ﻞﻌﻔﻟا

رﺪﺼﳌاو

عرﺎﻀﻣاو

ﺎﳌا ﻞﻌﻔﻟا

فﺮﺤﺑ ﺪ ﺰﳌا ﻲ ﻼﺜﻠﻟ رﺪﺼﳌاو

نﺄﺑ بﻮﺼﻨﳌا عرﺎﻀﳌا ﻞﻌﻔﻟا

ﻞﻴﻠﻌﺘﻟا مﻻو

6

دورﻮﻟا ة ﺜﻜﻟا ﺮ ا تاودا

ﺎ ﻧﺎﻌﻣو

عرﺎﻀﳌاو

ﺎﳌا ﻞﻌﻔﻟا

ﺔﺛﻼﺜ و ن ﻓﺮﺤﺑ ﺪ ﺰﳌارﺪﺼﳌاو

فﺮﺣا

ﻻو ﻢﻠﺑ موﺰﺠﳌا عرﺎﻀﳌا ﻞﻌﻔﻟا

ﺔﻴ ﺎﻨﻟا

7

ﮫﺒﺷو دﺮﻔﳌا

:

او أﺪﺘﺒﳌا

ﺔﻴﻠﻌﻔﻟا ﺔﻠﻤ او ﺔﻠﻤ ا

ﺮﻣ ﻞﻌﻓ

ﻞﻋﺎﻔﻟا ﺐﺋﺎﻧو لﻮ ﺠﳌا ﻞﻌﻔﻟا

8

مﺪﻘﳌا

ا

ﻲ ﻼﺜﻠﻟ لﻮﻌﻔﳌاو ﻞﻋﺎﻔﻟا ﺎﻤﺳا

ﻲ ﻼﺜﻟا ﻏو

دﺪﻌﻟا

:

ﺔﺋﺎﳌاو ﻒﻄﻌﻟاو ﺐﻛﺮﳌا

ﻒﻟ و

(6)

Pada aspek ketercakupan materi qoidah bahasa arab yang terdapat dalam kurikulum bahasa arab tidak mewakili nilai urgensitas, hal itu bisa tergambar sebagaimana berikut ini :

a. Materi inti yang menjadi target kurikulum hanya berkisar jumlah ismiyah (mubtada’ dan khabar) dan jumlah fi’liyah (fi’il + fa’il + maf’ul bih atau fi’il + na’ib al-fa’il). Dari sisi ini dapat dipastikan bahwa siswa-siswa madrasah Aliyah dengan hanya mencukupkan diri pada materi-materi yang diajarkan di sekolah tidak

memungkinkan untuk dapat

membaca teks-teks Arab, karena realitasnya, kaidah-kaidah yang tidak ditawarkan di dalam kurikulum yang jelas tidak dipahami oleh para siswa seringkali muncul juga di dalam teks-teks berbahasa Arab, seperti konsep tentang hal, tamyiz, istitsna’, badal dan lain sebagainya.

b.

Pembahasan yang ditawarkan seringkali tidak tuntas. Hal ini dapat dicontohkan sebagai berikut :

o Pada saat membahas tentang pembagian isim dari sisi kwantitas, konsep tentang isim tastniyah tidak disebutkan.

o Pada saat membahas tentang konsep isim ma’rifat, yang disebutkan hanya isim + لا , isim dlamir dan isim maushul, padahal masih ada isim ma’rifat lain yang seharusnya juga disebutkan. o Pada saat membahas tentang

khobar, yang diterangkan hanya khobar mufrod, sementara khobar khoiru jumlah yang terdiri dari khobar jumlah dan ghoiru jumlan tidak diuraikan.

o Pada saat pembahasan tentang athof, yang disebutkan hanya huruf athof wawu

o Pada saat pembahasan tentang amil yang menashobkan fiil mudhorik yang disebutkan hanya

(an) dan lam ta’lil, padahal masih banyak amil nashob yang lain, yang juga perlu disebutkan.

o Pada saat pembahasan tentang amil-amil yang menjazemkan fi’il mudlari, yang disebutkan hanya ﻢﻟ dan ﺔﯿھﺎﻨﻟا ﻻ, padahal masih banyak amil-amil jazem yang lain yang juga perlu disebutkan.

c. Konsep-konsep tentang isim dan fi’il

tidak secara utuh ditawarkan. Konsep

tentang isim yang mutlak harus mendapatkan kajian adalah ; 1) mufrad, tatsniyah, jama’, 2) mudzakkar, muannats, 3) ma’rifat, nakirah, dan 4) mabni, mu’rab, 5) munsharif, ghairu munsharif. Sedangkan konsep tentang fi’il yang mutlak harus mendapatkan kajian adalah; 1) madli, mudlari’, amar, 2) mabni, mu’rab, 3) ma’lum, majhul , 4) lazim, mutaaddi.

d. Konsep tentang tanda-tanda I’rab

tidak sama sekali disebutkan. Dari

analisa dan uraian di atas dapat dipastikan bahwa dari aspek

Syumuliyah, kurikulum yang

ditawarkan oleh Departemen Agama masih dianggap bermasalah, karena tidak mencakup keseluruhan kaidah yang dibutuhkan oleh para peserta didik untuk sampai pada kemampuan membaca kitab.

Sementara pada aspek

sistematisasi dalam konteks kaidah bahasa Arab dapat dilihat dari dua dimensi, yang pertama mendahulukan pelajaran yang sederhana, mudah dan simple dan mengakhirkan pelajaran lebih rumit dan kompleks. Yang kedua, memberikan materi yang bersifat prasyarat sebelum memberikan materi inti. Dalam kajian pustaka, hal ini secara hirarkis ditegaskan dalam bentuk proses berpikir sebagai berikut :

1) Berpikir tentang kalimah 2) Berpikir tentang I’rab 3) Berpiki tentang jumlah

(7)

Materi tentang kalimah merupakan prasyarat untuk masuk pada materi tentang I’rab. Seseorang tidak mungkin mampu berpikir tentang I’rab ketikan kemampuan yang bersangkutan tentang kalimah masih lemah, begitu juga seterusnya.

Bahwa kurikulum yang

ditawarkan oleh Departemen Agama tidak didasarkan pada pijakan yang kuat, sehingga tidak sistematis dan terkesan bahwa pemilihan materi qawaid hanya sekedar asal comot, hal itu dapat dibuktikan dari alasan-alasan sebagai berikut :

a. Pembahasan tentang jumlah ismiyah lebih didahulukan dibandingkan dengan pembahasan tentang jumlah fi’liyah. Jumlah fi’liyah merupakan prasyarat untuk masuk pada pembahasan jumlah ismiyah, karena bagaimanapun juga ketika seseorang membahas tentang khabar, pasti pada akhirnya akan menjumpai salah satu dari pembagian khabar, yaitu khabar jumlah fi’liyah. Ketika konsep tentang jumlah fi’liyah belum diajarkan, maka pada akhirnya akan berdampak pada kebingungan peserta didik dalam menangkap konsep khabar secara utuh, karena pintu masuk dan prasyarat untuk memahami konsep, yaitu berupa pemahaman tentang jumlah fi’liyah masih belum dikenal oleh para peserta didik.

b. Pembahasan tentang fa’il tidak didahului oleh pembahasan tentang konsep fi’il ma’lum dan fi’il majhul, dan bahkan konsep tentang fi’il majhul

baru dibahas pada saat peserta didik ada di kelas tiga akhir

Harus diakui bahwa materi qawaid dalam bahasa Arab secara umum dibedakan menjadi dua yaitu materi prasyarat dan materi inti. Materi prasyarat harus terlebih dahulu diajarkan sebelum masuk pada materi

inti. Dari sisi ini dapat ditegaskan bahwa sebelum mengajarkan tentang fa’il, seorang guru harus mengajarkan terlebih dahulu tentang konsep fi’il ma’lum dan fi’il majhul. Ketika konsep tentang fi’il ma’lum dan fi’il majhul tidak dikuasai oleh peserta didik, maka pasti seorang peserta didik akan kebingungan untuk membedakan bahwa isim yang dibaca rafa’ yang jatuh setelah fi’il disebut sebagai fa’il atau na’ib fa’il. Isim yang dibaca rafa’ yang jatuh setelah fi’il disebut sebagai fa’il apabila fi’il yang mendahuluinya adalah fi’il ma’lum, sedangkan apabila fi’il yang mendahuluinya adalah fi’il majhul, maka isim yang dibaca rafa’ yang jatuh sesudahnya disebut sebagai na’ib fa’il.

c. Pembahasan tentang maf’ul bih tidak didahului oleh pembahasan tentang konsep fi’il lazim dan mutaaddi. Sama dengan analisa di atas, seorang peserta didik tidak mungkin memahami secara utuh tentang konsep maf’ul bih, apabila tidak terlebih dahulu dikenalkan pada konsep tentang fi’il lazim dan mutaaddi. Pembahasan tentang konsep fi’il lazim dan mutaaddi merupakan prasyarat untuk masuk pada pembahasan tentang materi maf’ul bih. Sulit dibayangkan peserta didik menyadari bahwa sebuah kalimat isim yang dibaca nashab disebut sebagai maf’ul bih ketika sejak awal yang bersangkutan tidak menyadari bahwa fi’il yang dijumpainya adalah fi’il mutaaddi.

D. Gagasan Baru Kurikulum Bahasa Arab

Dalam pengembangan kurikulum pembelajaran ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan yaitu prinsip relevansi, prinsip Fleksibilitas, prinsip kontinuitas, Prinsip efektifitas, Prinsip efesiensi, serta yang terakhir adalah prinsip kemanfaatan.

(8)

Beberapa prinsip diatas kalau seandainya di gunakan prinsip dalam pengelolaan kurikulum, maka problem kurikulum bahasa arab di lembaga formal relatif bisa teratasi.

Langkah pertama yang harus di benahi dalam kurikulum bahasa arab yaitu menentukan tujuan pembelajaran, dalam menentukan tujuan pembelajaran

penentu kebijakan harus

mempertimbangkan asas kemanfaatan serta sarana yang dimiliki, dalam konteks kurikulum bahasa arab, sulit untuk merealisasikan empat kemampuan sekaligus sementara sarana dan prasarana serta waktu yang tersedia kurang mendukung, oleh karena itu perlu penyempitan target pembelajaran yang mencerminkan kemanfaatan serta realistis pada sarana dan prasarana yang ada.

Langkah kedua yang harus di benahi adalah, penambahan waktu belajar atau tatap muka antara guru dan siswa, langkah ini di perlukan guna untuk membiasakan siswa dalam berbahasa arab, sekaligus untuk menanamkan pada siswa bahwa pelajaran bahasa arab adalah pelajaran yang penting, sehingga siswa akan semakin sadar dan serius dalam belajar bahasa arab.

Langkah yang ketiga adalah, untuk madrasah yang memiliki kelas pararel. Hendaknya perlu untuk mengelompokkan siswa berdasarkan tingkat kemampuan bahasa arab, jadi paradigma pengelompokan kelas harus dirubah, yaitu madrasah jangan lagi memperhatikan standart pengelompokan pada ranah materi ujian nasional, tapi

sudah harus memperhatikan

pengelompokan berdasarkan

kemampuan bahasa arab, atau mengelompokan berdasarkan latar belakang sekolah, yang berasal dari SD atau yang berasal dari SMP.

Langkah yang keempat adalah merubah materi kurikulum bahasa arab,

yang tidak lagi mencerminkan sifat sistematis, serta kurang adanya ketercakupan khususnya pada materi qowaid, dan format materi kurikulum bahasa arab yang penulis tawarkan adalah dalam tabel berikut :

(9)

TAWARAN SISTEMATIKA MATERI QOWAID

Tingkat MI Tingkat MTS Tingkat MA

1. Fiil  Definisi  Tanda-tanda  Pembagian 1. Isim  Definisi isim  Tanda-tanda isim  Pembagian isim Pembagian I’rob

2. Fiil madli, mudlori dan amar  Definisi masing-masing

pembagian

 Pembahasan huruf mudloro’ah  Terbentuknya fiil

 amar

2. Isim mufrad, tatsniyah dan jamak  Definisi masing-masing  Pembagian jamak Mrafuatul Asma’ dan bagia-bagian nya

3. Fiil mujarrad dan mazid  Definisi dan karakter

masing-masing pembagian

 Wazan-wazan fiil mujarrad dan fiil mazid

 Pembahasan huruf ziyadah  Manfaat pembahasan fiil

mujarrad dan mazid

3. Isim mudzakkar dan muannats  Definisi masing-masing  Tanda-tanda muannats  Macam-macam muannats Majrurotul Asma’ dan bagian-bagiannya

4. Fiil shohih dan mu’tal  Definisi masing-masing

pembagian

 Pembagian masing-masing fiil shahih dan mu’tal

 Manfaat pembahasan shohih dan mu’tal

4. Isim ma’rifat dan isim nakirah a) Definisi masing-masing b) Pembagian isim ma’rifat

1) Isim dlomir a. Definisi b. Pembagian c. Marji’ al-dlomir 2) Isim isyarah a. Definisi b. Pembagian c. Pengenalan konsep musyar ilaihi 3) Isim maushul a. Definisi b. Pembagian

c. Yang dibutuhkan oleh sebuah isim maushul 4)Isim alam

5) Isim + لا

6) Al-mudlof ila al-ma’rifat a. Konsep idlofah b. Syarat-syarat mudlof c. Syarat mudlof ilaihi

Mahrurotul Asma’ dan bagian-bagiannya

5. Fiil Ma’lum dan majhul  Definisi masing-masing

pembagian

 Qaidah-qaidah majhul

 Manfaat pembahasan ma’lum dan majhul

5. Isim munshorif dan isim ghairu munshorif

a) Definisi

b) Pembagian Isim ghairu munshorif

6. Fiil lazim dan mutaadi  Definisi masing-masing

pembahasan

 Standart untuk membedakan fiil lazim dan mutaaddi

 Manfaat pembahasan lazim dan mutaaddi

 Macam-macam fi’il mutaaddi

6. Isim mabni dan isim mu’rab a) Definisi masing-masing b) Pembagian isim mabni

7. Fiil mabni dan fiil mu’rab  Definisi masing-masing

pembahasan

 Pembagian fiil mabni dan fiil mu’rab serta alasan alasan masing-masing.

 Manfaat pembahasan mabni dan mu’rab

7. Isim manqush dan isim maqshur

a) Definisi masing-masing b) Hukum penulisan isim

(10)

8. 8. Isim-isim sifat 1) Isim fail

a. Definisi b. Pembagian

c. Proses pembentukan isim fail yang berasal dari fiil mazid 2) Isim maf’ul

a. Definisi b. Pembagian

c. Proses pembentukan isim maf’ul yang berasal dari fiil mazid 3) Isim sifat musyabbah bi

ismi al-fail a. Definisi b. Perbedaannya dengan isim fail 4) Sighat mubalaghah a. Definisi b. Proses terbentuknya 5) Isim tafdlil a. Definisi b. Perbedaan wazannya untuk mudzakkar dan muannats

c. Kapan harus diartikan paling dan lebih 6) Isim manshub a. Pengertian b. Proses pembentukannya 7) Isim adad a. Pengertian b. Dua klasifikasi Isim

adad

c. Hukum adad dan ma’dud 8) Isim maushul 9) Isim isyarah 9. Huruf a. Pengertian huruf b. Macam-macam huruf

(11)

E. Penutup

Demikian makalah yang berjudul arah baru kurikulum Bahasa Arab ini penulis buat semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin

DAFTAR PUSTAKA

Efendi, Ahmad Fuad. Metodologi Pengajaran Bahasa Arab. Misyak.Malang.

2003

Hamid Hasan. Evaluasi Kurikulum, PT Remaja Rosda Karya, Bandung, 2008 Hidayat Komaruddin. Memahami Bahasa

Agama, Penerbit Paramadina, Jakarta,

1996

Muhaimin. Wacana Pengembanagan Pendidikan Islam. Surabaya: Pusat

Studi Agama, Politik dan Masyarakat, 2003

Rusman. Manajemen Kurikulum, PT Rajagrafindo Persada, 2009

Syaikh Yusuf bin Abdu Qadir al-Barnawiy. Nahmu Qawa’id al-I’rab, Semarang, Toha Putra, tt

Tim Penyusun Depag. Kurikulum Bahasa

Arab 2004, Departemen Agama 2004

Al-Ghulayaini, Syaikh Mushthafa. Jami’

al-durus al-Arabiyah Bairut, al-Maktabah

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Earning Per Share, Return On Equity, dan Debt To Equity ratio terhadap harga saham pada sub sektor Farmasi yang terdaftar

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa sesar Cimandiri dan Sesar Baribis diduga berhubungan di daerah Subang selatan (Gambar 3), dengan demikian kedua sesar

Kadar testosteron dan LH plasma juga dilaporkan menurun selama periode klaster; tetapi penurunan serupa juga terjadi di kalangan penderita neuralgia trigeminal dan di

Dari hasil analisis data diperoleh thitung (4.16) > ttabel (1.771), artinya terdapat pengaruh yang signifikan oleh media video terhadap peningkatan Ketepatan Smash

19660505 1987032002 Pokjar b Labuhan Batu Selatan Jumlah Total. Jumlah Uang # Sembilan juta rupiah

Paduan aluminium merupakan matriks yang sering digunakan untuk pembuatan komposit matrik logam, pemilihan aluminium dan paduannya digunakan sebagai matriks karena

Berdasarkan latar belakang permasalahan yang dikemukakan di atas, maka secara umum masalah yang pokok yang akan diteliti adalah “ Apakah terdapat perbedaan hasil

1) Kepedulian tinggi untuk pekerjaan dan kepedulian tinggi untuk manusia. Kepedulian tinggi untuk pekerjaan dan kepedulian tinggi untuk manusia digunakan ketika pemimpin