• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI PADI DENGAN MEMANFAATKAN SISTEM RESI GUDANG STUDI KASUS GAPOKTAN JAYA TANI INDRAMAYU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI PADI DENGAN MEMANFAATKAN SISTEM RESI GUDANG STUDI KASUS GAPOKTAN JAYA TANI INDRAMAYU"

Copied!
102
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI PADI DENGAN

MEMANFAATKAN SISTEM RESI GUDANG STUDI KASUS

GAPOKTAN JAYA TANI INDRAMAYU

SKRIPSI

ADI FEBRIAN H34070072

DEPARTEMEN AGRIBISNIS

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2011

(2)

2 RINGKASAN

ADI FEBRIAN. Analisis Pendapatan Usahatani Padi dengan Memanfaatkan

Sistem Resi Gudang Studi Kasus Gapoktan Jaya Tani Indramayu. Skripsi.

Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manejemen, Institut Pertanian Bogor (Di bawah bimbingan YUSALINA).

Salah satu sasaran utama pembangunan pertanian dewasa ini adalah peningkatan produksi pertanian dan pendapatan petani, karena itu kegiatan di sektor pertanian diusahakan agar dapat berjalan lancar dengan peningkatan produk pangan yang baik. Padi adalah tanaman pangan utama di Indonesia karena Indonesia adalah negara dengan penduduk yang mengonsumsi beras sebagai makanan utama. Dengan demikian, padi merupakan salah satu komoditi yang mempunyai prospek menambah pendapatan para petani. Untuk memperoleh pendapatan yang memadai, maka petani dituntut kecermatannya dalam mempelajari perkembangan harga agar dapat menentukan pilihan dalam memutuskan untuk menjual atau menahan hasil produksinya.

Untuk membantu petani dalam meningkatkan pendapatan usahatani pemerintah mengeluarkan sistem pemasaran, yaitu Sistem Resi Gudang (SRG) untuk membantu peningkatan posisi tawar petani dan Pasar Lelang Resi Gudang. Sistem Resi Gudang merupakan dokumen yang membuktikan bahwa suatu komoditas dengan jumlah dan kualitas tertentu telah disimpan dalam suatu gudang. Salah satu gudang yang dibangun pemerintah adalah gudang SRG di Indramayu Jawa Barat, karena Jawa Barat merupakan provinsi dengan produksi padi tertinggi di Indonesia dengan Indramayu sebagai salah satu sentra padi di Jawa Barat. Berdasarkan skema SRG, petani tidak lagi terpaksa harus menjual hasil panennya dengan harga yang rendah, melainkan dapat melakukan tunda jual dengan menyimpan hasil panennya di gudang, memperoleh resi gudang, dan memanfaatkan sebagai agunan untuk memperoleh pinjaman dari perbankan atau lembaga keuangan non bank. Pinjaman tersebut dapat dimanfaatkannya untuk membiayai kebutuhan hidup sehari-hari, atau membeli bibit melanjutkan kegiatan usahanya, sambil menunggu harga komoditas membaik. Saat harga komoditas membaik, petani dapat menjual atau mengalihkan SRG miliknya, sehingga petani dapat merasakan dan memperoleh keuntungan optimal dari usahanya.

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi manfaat dari penerapan Sistem Resi Gudang bagi petani dan membandingkan tingkat pendapatan usahatani padi yang menerapkan Sistem Resi Gudang dan yang tidak memanfaatkannya. Informasi dan data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari hasil pengisian kuesioner oleh petani responden baik yang telah memanfaatkan SRG maupun belum memanfaatkannya. Data sekunder diperoleh melalui beberapa literatur berupa data pemanfaatan SRG yang pernah dilakukan berkaitan dengan kegiatan penelitian dan data lain yang diperoleh dari perpustakaan dan instansi-instansi terkait seperti Dinas Pertanian Kabupaten Indramayu, PT. Pertani selaku pengelola gudang, dan instansi-instansi terkait lainnya. Penentuan petani responden dilakukan dengan menggunakan dua metode yaitu pengambilan contoh secara acak (sstratified sampling) untuk petani yang belum memanfaatkan Sistem

(3)

3

Resi Gudang sebanyak 29 petani dan metode teknik sensus untuk petani yang sudah memanfaatkan SRG sebanyak empat petani.

Sistem Resi Gudang yang disediakan pemerintah untuk membantu petani dalam upaya meningkatkan pendapatan petani memiliki beberapa manfaat, yaitu manfaat secara non ekonomi dan manfaat ekonomi. Manfaat non ekonomi yang dirasakan oleh petani yang memanfaatkan SRG adalah manfaat penyimpanan, manfaat jaminan mutu, manfaat pemasaran dan manfaat pembiayaan

Manfaat ekonomi yang dirasakan oleh petani adalah petani yang memanfaatkan SRG memperoleh harga jual yang lebih baik dibandingkan petani yang tidak memanfaatkan sistem resi gudang. Pendapatan atas biaya tunai per hektar per tahun yang diterima petani yang memanfaatkan SRG yaitu Rp 10.727.502,11 lebih besar daripada pendapatan atas biaya tunai per hektar per tahun yang diterima petani penyewa lahan yaitu Rp 7.626.303,5. Berdasarkan perhitungan pendapatan atas biaya total dapat disimpulkan pula bahwa pendapatan atas biaya total per hektar per tahun yang diterima petani yang memanfaatkan SRG yaitu sebesar Rp 9.815.895,51 lebih besar daripada pendapatan atas biaya total per hektar per tahun yang diterima petani konvensional yaitu sebesar Rp 6.864.010,22. Kegiatan usahatani yang dilakukan oleh petani yang memanfaatkan SRG lebih baik bila dibandingkan dengan petani konvensional.

Nilai rasio R/C atas biaya tunai petani yang memanfaatkan SRG adalah 2,31 sedangkan nilai rasio R/C atas biaya tunai petani konvensional adalah 2,01. Untuk rasio R/C atas biaya total petani yang memanfaatkan SRG adalah 2,08 sedangkan nilai rasio R/C atas biaya total petani konvensional adalah 1,83.

Berdasarkan hasil penelitian, maka saran yang dapat diberikan untuk meningkatkan pendapatan usahatani petani di Gapoktan Jaya Tani di Desa Mangunjaya, Kecamatan Anjatan, Kabupaten Indramayu yaitu: (1) Mengikuti anjuran penyuluh pertanian lapang (PPL) agar mendapat kualitas padi yang baik, (2) Petani yang belum memanfaatkan SRG beralih memanfaatkan SRG, (3) meningkatkan peran pemerintah daerah Indramayu dalam mensosialisasikan program SRG, dan (4) Meningkatkan peran gapokttan dalam penerapan SRG agar petani kecil mampu memnuhi quota penyimpanan.

(4)

4

ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI PADI DENGAN

MEMANFAATKAN SISTEM RESI GUDANG STUDI KASUS

GAPOKTAN JAYA TANI INDRAMAYU

ADI FEBRIAN H34070072

Skripsi ini merupkana salah satu syarat untuk Memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada

Departemen Agribisnis

DEPARTEMEN AGRIBISNIS

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2011

(5)

5

Judul Skripsi : Analisis Pendapatan Usahatani Padi dengan Memanfaatkan Sistem Resi Gudang Studi Kasus Gapoktan Jaya Tani Indramayu

Nama : Adi Febrian NIM : H34070072

Disetujui, Pembimbing

Dra. Yusalina M.Si NIP 19650115 199003 2 001

Diketahui

Ketua Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen

Institut Pertanian Bogor

Dr. Ir. Nunung Kusnadi. MS NIP 19580908 198403 1 002

(6)

6 RIWAYAT HIDUP

Adi Febrian lahir di Kota Palembang, Sumatera Selatan pada tanggal 7 Februari 1989 merupakan anak kedua dari dua bersaudara pasangan Bapak Irpan Ganda Putra dan Ibu Muasriyah. Penulius enyelesaikan pendidikan di Sekolah Dasar Negeri Pedurungan Tengah 02 Semarang pada tahun 2001. Lalu, melanjutkan pendidikan di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri 6 Bogor dan kemudian di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Bogor. Pada tahun 2007, diterima di Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI). Pada tahun 2008, diterima pada mayor Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen.

Selama masa perkuliahan, penulis aktif dalam kegiatan kemahasiswaan \DLWXVHEDJDL6WDI'LYLVL /RJLVWLNGDQ7UDQVSRUWDVL³nd (635(662´,3% Staf Divisi Logistik dan Transportasi Agrimeet 2008 dan Staf Divisi Pubdekdok MPF FEM dan MPD Agribisnis 2009. Aktif di Organisasi Himpunan Profesi Mahasiswa Peminat Agribisnis (HIPMA) pada tahun 2008-2009 sebagai Staf Divisi MHD. Pernah mengikuti Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional di Bali pada tahun 2010 dan mendapat medali perak. Selain itu, pernah mendapatkan pengalaman kerja pada CIRUS SURVEYOURS GROUP sebagai petugas quick

count pemilu 2009 dan PT Bina Inti Muda Utama sebagai asisten outbond management training manajer Garuda Indonesia 2009.

(7)

7 KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji senantiasa dipanjatkan hanya kepada Allah SWT yang telah memberikan Rahmat dan Karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi berjudul Analisis Pendapatan Usahatani Padi dengan

Memanfaatkan Sistem Resi Gudang Studi Kasus Gapoktan Jaya Tani Indramayu

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.

Bogor, November 2011 Adi Febrian H34070072

(8)

8 UCAPAN TERIMA KASIH

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas rahmat dan hidayah Nya yang senantiasa mengiringi perjalanan hidup penulis, terutama dalam penyelesaian skripsi ini. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penyelesaian skripsi ini tidak terlepas dari bantuan, motivasi, dan kerjasama dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :.

1. Dra. Yusalina, M.Si sebagai pembimbing skripsi yang telah memberikan bimbingan, saran, motivasi dan pengarahan dengan penuh kesabaran kepada penulis.

2. Dr. Ir. Nunung Kusnadi, MS selaku Ketua Departemen Agribisnis, FEM IPB. 3. Ir. Narni Farmayanti, MSc dan Arif Karyadi, Sp selaku dosen penguji pada

ujian siding penukis yang telah meluangkan waktunya serta memberi kritik dan saran demi perbaikan skripsi ini.

4. Kedua orang tua tercinta (Bapak Irpan Ganda Putra dan Ibu Muasriyah), dan kakak tersayang (Dian Asriani) yang selalu mendoakan, memberikan motivasi tiada henti, bantuan moril dan materiil selama penyusunan skripsi. 5. Bapak Aming, Bapak Warsim dan seluruh petani di Gapoktan Jaya Tani yang

telah banyak memberikan bantuan dan kesempatan dalam penelitian.

6. Bapak Kadir dan Bapak Khaerudin dan seluruh petugas di Gudang SRG di Indramayu yang telah memberikan banyak bantuan selama penelitian.

7. Seluruh staf pendidik dan staf kependidikan Departemen Agribisnis FEM IPB yang sangat membantu terlaksananya perolehan ilmu dan penelitian penulis. 8. Seluruh keluarga besar dari orangtua atas segala perhatian, doa dan dorongan

semangat yang diberikan.

9. Sahabat sekaligus saudara terdekat bagi saya (Yodia dan Arlan) atas nasihat, bimbingan, cerita, pengalaman dan waktu yang kalian luangkan untuk saya yang selalu menjadi pendorong disaat saya terpuruk.

10. Sahabat dan teman-teman di Lacoste ( Mamat Sani, Chris, Uki, Dhani, Duta, Fikhy, Celi, Upeh, Ima, Keken, Gema, Ira, dan Una) yang selalu bisa

(9)

9

memberikan tawa serta menjadi tempat untuk menemani dalam suka maupun duka.

11. Sahabat-sahabat di Pohom (Hans, Awan, Agra, Roy, Topan, Damar, Kinan dan Fauzi) yang selalu bisa membantu menghilangkan kepenatan saya dan selalu memberikan semangat dalam melakukan penelitian.

12. Teman-teman satu bimbingan (Tia, Mega, dan Leni) atas dukungan, semangat, motivasi dan kerjasamanya.

13. Seluruh teman-teman Agribisnis 44 dan Mahasiswa IPB lain yang selalu mendoakan dan memberikan semangat.

14. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan yang telah diberikan oleh semua pihak baik yang tersebutkan maupun yang tidak tersebut hingga penyusunan skripsi ini selesai pada waktunya. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak kekurangan dan kelemahan dalam penyusunan skripsi ini, semoga penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang memerlukannya.

Bogor, November 2011 Adi Febrian

(10)

10

DAFTAR ISI

Halaman DAFTAR TABEL ... ix DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 5

1.3. Tujuan Penelitian ... 6

1.4. Manfaat Penelitian ... 6

1.5. Ruang Lingkup Penelitian ... 6

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Perkembangan Usahatani di Indonesia ... 7

2.2. Sistem Resi Gudang ... 9

2.3. Kajian Empiris Mengenai Usahatani ... 15

III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis ... 16

3.1.1 Konsep Usahatani ... 16

3.1.2 Keuntungan Usahatani ... 19

3.2. Kerangka Pemikiran Operasional ... 21

IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi Penelitian ... 24

4.2. Jenis dan Sumber Data ... 24

4.3. Metode Pengumpulan Data ... 25

4.3. Teknik Analisa Data... 25

V. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1. :LOD\DKGDQ7RSRJUDIL«««««««««««««« . 28 5.2. 6RVLDO(NRQRPL0DV\DUDNDW«««««««««««« . 28 5.3. Gudang Sistem Resi Gudang Indramayu ... 30

5.4. Profil Gabungan Kelompok Tani Jaya Tani ... 31

5.5. Karakteristik Petani Responden ... 33

VI. ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI 6.1. .HUDJDDQ8VDKDWDQL3DGL««««««««««««« .. 38 6.1.1. Pola Tanam ... 38 6.1.2. Input Produksi ... 38 6.1.2.1. Bibit ... 39 6.1.2.2. Pupuk ... 39 6.1.2.3. Pestisida ... 40 6.1.2.4. Tenaga Kerja ... 41 6.1.2.5. Alat-alat Pertanian ... 42 6.1.3.Teknik Budidaya ... 43 6.1.3.1. Persiapan Lahan ... 43

(11)

11

6.1.3.2. Penanaman ... 43

6.1.3.3. Pemupukan ... 44

6.1.3.4. Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman .... 44

6.1.3.5. Pemanenan ... 44

6.2. Analisis Penerimaan Usahatani Padi... 45

6.3. Analisis Biaya Usahatani ... 47

6.4 Analisis Pendapatan Usahatani ... 51

6.5. Analisis R/C Rasio ... 53

VII. MANFAAT RESI GUDANG BAGI PETANI 7.1. Manfaat Sistem Resi Gudang ... 56

7.2. Kendala Pemanfaatan Sistem Resi Gudang ... 58

VIII. KESIMPULAN DAN SARAN 8.1. Kesimpulaan ... 60

8.2. Saran ... 60

DAFTAR PUSTAKA ... 62

(12)

12

DAFTAR TABEL

Nomor

Halaman 1. Lima Besar Provinsi Pengahasil Padi di Indonesia dengan Luas

Lahan, Produktivitas dan Total Produksinya Tahun 2009 ... 2 2. Daftar Pengelola Gudang SRG yang Mendapat Persetujuan

BAPPEBTI ... 11 3. Daftar Lembaga Penilai Kesesuaian yang mendapat persetujuan

dari BAPPEBTI ... . 12 4. Standar Mutu Komoditi Gabah Seperti Tercantum dalam

SNI 01-0224-1987 ... 14 5. Contoh Perhitungan Pendapatan Usahatani dan R/C Rasio per

Hektar per Tahun Tanaman Tahunan ... 27 6. Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Pekerjaan Warga Desa

MangunjayaBerdasarkan Lokasi Dusun Tahun 2010 (Orang) ... 29 7. Data Usia Sekolah Warga Desa Mangunjaya Berdasarkan

Lokasi Dusun Tahun 2010 (Orang) ... 30 8. Nama Kelompok Tani, Luas Lahan Garapan dan Jenis Tanaman

yang Diusahakan Gapoktan Jaya Tani Tahun 2011 ... 32 9. Sebaran Usia Responden ... 34 10. Sebaran Tingkat Pendidikan Responden... 34 11. Sebaran Tingkat Pengalaman Usahatani Padi Petani

Responden .. ... 35 12. Sebaran Penguasaan Luas Lahan Padi ... 36 13. Sebaran Jenis Pengairan Lahan Padi ... 37 14. Rata-Rata Penggunaan Input Usahatani Padi Petani SRG dan

Konvensional per Hektar Periode Januari-April 2011 ... 39 15. Jenis Pupuk, Harga Pupuk dan Penggunaan Pupuk Rata-rata

Petani Berdasar Sistem Penjualan Periode Januari-April 2011 ... 40 16. Penerimaan Rata-rata per hektar Petani yang Memanfaatkan

Sistem Resi gudang Periode Januari-April 2011 ... 46 17. Penerimaan Rata-rata per hektar Petani dengan Metode Penjualan

Konvensional Periode Januari-April 2011 ... 46 18. Biaya Rata-rata Usahatani Padi Petani SRG per Hektar di

(13)

13

Nomor Halaman

19. Biaya Rata-rata Usahatani Padi Petani Konvensional per Hektar

di Desa Mangunjaya Bulan Januari ± April 2011 ... 50 20. Perhitungan Penerimaan dan Pendapatan Rata-rata Usahatani

Petani SRG di Desa Mangunjaya periode Januri±April 2011 ... 52 21. Perhitungan Penerimaan dan Pendapatan Rata-rata Usahatani

Petani yang Belum Memanfaatkan Sistem Resi Gudang di

Desa Mangunjaya Periode Januari±April 2011 ... 53 22. Penerimaan, Biaya, Pendapatan, dan R/C Rasio Usahatani Padi

(14)

14

DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

1. Kerangka Pemikiran Operasional Analisis Usahatani Gabah dengan Memanfaatkan Sistem Resi Gudang Studi Kasus Gapoktan

Jayatani Indramayu ... ... 23 2. Struktur Organisasi Gapoktan Jaya Tani Tahun 2010... .. 33

(15)

15

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor

Halaman

1. Profil Responden Berdasarkan Metode Penjualan (SRG) ... 64

2. Profil Responden Berdasarkan Metode PEnjualan (Konvensional) ... 65

3. Penggunaan Tenaga Kerja Petani Padi SRG di Gapoktan Jaya Tani Periode Januari-April 2011 ... 68

4. Tenaga Kerja Petani Padi Konvensional di Gapoktan Jaya Tani Periode Januari-April 2011 ... 69

5. Jumlah Penjualan Padi oleh Petani yang Memanfaatkan Sistem Resi Gudang ... 71

6. Jumlah Pendapatan Diperhitungkan oleh Petani yang Memanfaatkan Sistem Resi Gudang ... 71

7. Jumlah Penjualan Padi oleh Petani Konvensional ... 72

8. Jumlah Pendapatan Diperhitungkan oleh Petani yang Memanfaatkan Sistem Resi Gudang ... 74

9. Pengeluaran Usahatani Padi Petani SRG ... 76

10. Pengeluaran Usahatani Padi Petani Konvensional ... 77

11. Contoh Dokumen Resi Gudang ... 78

12. Kondisi Fisik Gudang Sistem Resi Gudang Indramayu ... 79

(16)

16 I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pembangunan nasional dewasa ini salah satunya diprioritaskan pada bidang ketahanan pangan, sehingga pemerintah selalu berusaha untuk menerapkan kebijakan dalam peningkatan hasil produksi pertanian1. Hal ini didukung oleh kenyataan bahwa negara kita dikenal sebagai negara agraris yang mempunyai areal pertanian yang cukup luas, dengan sumber daya alam yang masih perlu digali, dan dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan manusia.

Sasaran utama pembangunan pertanian dewasa ini adalah peningkatan produksi pertanian dan pendapatan petani, karena itu kegiatan di sektor pertanian diusahakan agar dapat berjalan lancar dengan peningkatan produk pangan yang baik. Berbagai upaya dilakukan untuk mencapai sasaran tersebut, antara lain melalui intensifikasi, ekstensifikasi, dan diversifikasi pertanian yang diharapkan dapat meningkatkan taraf hidup petani.

Tingkat pendapatan petani secara umum dipengaruhi oleh beberapa komponen yaitu jumlah produksi, harga jual, dan biaya-biaya yang dikeluarkan petani dalam usahataninya. Biaya-biaya tersebut banyak dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah di bidang pertanian, sehingga diharapkan pemerintah dapat memberikan perhatian yang lebih intensif terhadap sektor pertanian dalam usaha untuk memperbaiki taraf kehidupan petani.

Pendapatan petani di Indonesia secara umum masih rendah, tetapi petani masih melakukan usaha di bidang petanian seperti sayuran ataupun tanaman pangan, salah satunya adalah padi. Alasan padi masih diusahakan oleh petani di Indonesia karena Indonesia adalah negara dengan penduduk yang mengkonsumsi beras sebagai makanan utama. Dengan demikian, usahatani padi merupakan salah satu komoditi yang mempunyai prospek menambah pendapatan para petani. Hal tersebut dapat memberi motivasi tersendiri bagi petani untuk lebih mengembangkan dan meningkatkan produksinya, dengan harapan pada saat panen dapat memperoleh hasil penjualan tinggi guna memenuhi kebutuhannya. Setiap

1

www.batan.go.id/.../ARNBabIIFokusAreaPembangunanNasionalIptek.pdf. Kebijakan Strategis Pembangunan Nasional IPTEK 2005-2009 [8 Desember 2010]

(17)

17

musim panen petani sering menghadapi masalah yang sama yaitu anjloknya harga komoditi di pasaran, padahal mereka membutuhkan uang untuk menutupi modal dan pinjaman yang telah dikeluarkan sebelumnya serta untuk memenuhi kebutuhannya.

Untuk memperoleh pendapatan yang memadai, maka petani dituntut kecermatannya dalam mempelajari perkembangan harga agar dapat menentukan pilihan dalam memutuskan untuk menjual atau menahan hasil produksinya. Selain itu, petani juga harus memahami fungsi penyimpanan, fungsi standarisasi mutu dan grading pada produk pertanian agar mampu meningkatkan posisi tawar petani yang akan berdampak pada meningkatnya pendapatan petani.

Jawa Barat merupakan salah satu provinsi yang berhasil menjadi lumbung padi yang mampu memenuhi kebutuhan akan konsumsi beras dalam negeri setiap tahunnya. Pada tahun 2009, Jawa Barat menjadi provinsi penghasil padi terbanyak di Indonesia sebesar 11.322.681 ton, dengan luas lahan 1.950.203 hektar. Sebagaimana yang ditunjukkan pada Tabel 1, dari segi produktivitas, Jawa Barat berada di atas rata±rata produktivitas provinsi di Indonesia, yaitu sebesar 58,06 kuintal per hektar, sedangkan produktivitas rata± rata provinsi di Indonesia hanya 49,99kuintal per hektar. Berdasarkan luas lahan yang digunakan secara produktif untuk usahatani padi, Provinsi Jawa Barat adalah provinsi yang memiliki luas lahan terbesar jika dibandingkan dengan provinsi lain di Indonesia.

Tabel 1. Lima Besar Provinsi Penghasil Padi di Indonesia dengan Luas Lahan,

Produktivitas, dan Total Produksinya Tahun 2009

No Provinsi Luas Lahan(Ha) Produktivitas(Kuintal/Ha) Produksi (Ton) 1 Sumatera Utara 768.407 45,91 3.527.899 2 Jawa Barat 1.950.203 58,06 11.322.681 3 Jawa Tengah 1.725.034 55,65 9.600.415 4 Jawa Timur 1.904.830 59,11 11.259.085 5 Sulawesi Selatan 862.017 50,16 4.324.178

Sumber : Badan Pusat Statistik, 20102

(18)

18

Berdasarkan data BPS, Indramayu merupakan salah satu wilayah sentra padi di Jawa Barat dengan produksi sekitar 1,03 juta ton atau sekitar 11 persen total produksi padi di Jawa Barat pada tahun 2006. Indramayu selama ini dikenal dengan lumbung padi Jawa Barat. Tingginya produksi padi di Indramayu ini disebabkan oleh luasnya lahan sawah yang ada. Berdasarkan luas wilayah Indramayu yang mencapai 204 ribu ha, sekitar 114 ribu ha (55 persen) di antaranya adalah lahan sawah. Indramayu menempati urutan pertama untuk luas lahan dan produksi padi di Jawa Barat.

Sektor pertanian merupakan salah satu pilar penting penggerak perekonomian Indramayu. Pada tahun 2006 menunjukkan kontribusi sektor ini mencapai 13,37 persen dari total Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Indramayu3. Pembangun sektor ini, selain akan meningkatkan pendapatan perkapita, juga akan memperbaiki distribusi pendapatan masyarakat.

Dalam usahatani padi, harga jual menjadi salah satu masalah bagi petani untuk meningkatkan kesejahteraannya. Selama ini petani dihadapkan dengan permasalahan harga yang mereka terima dirasa lebih rendah dibandingkan dengan harga pasaran yang berlaku. Hal ini dikarenakan informasi harga yang mereka terima terkadang tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Selain itu petani tidak memiliki posisi tawar yang tinggi karena petani harus langsung menjual gabahnya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Hal ini menyebabkan petani tidak memiliki pilihan selain menjual hasil taninya tanpa bisa menunggu sampai mendapatkan tawaran harga yang menurut mereka menguntungkan.

Dalam rangka peningkatan posisi tawar petani dan untuk melindungi kepentingan konsumen, pemerintah saat ini mencoba menawarkan suatu sistem pemasaran baru yaitu melalui Sistem Resi Gudang (SRG) dan Pasar Lelang. Sistem Resi Gudang berdasarkan UU No. 9 Tahun 2006 memiliki fungsi penyimpanan dalam sistem pemasaran komoditi pertanian. Resi Gudang

(warehouse receipt) merupakan dokumen yang membuktikan bahwa suatu

komoditas (contoh : gabah) dengan jumlah dan kualitas tertentu telah disimpan dalam suatu gudang.

3

http://bpmpindramayu.or.id/index.php?module=articles&func=display&ptid=18&aid=16 5. Profil Perekonomian Indramayu. [23 Februari 2011]

(19)

19

Berdasarkan skema SRG, petani tidak lagi terpaksa harus menjual hasil panennya dengan harga yang rendah, melainkan dapat melakukan tunda jual dengan menyimpan hasil panennya di gudang, memperoleh resi gudang, dan memanfaatkan sebagai agunan untuk memperoleh pinjaman dari perbankan atau lembaga keuangan non bank. Pinjaman tersebut dapat dimanfaatkannya untuk membiayai kebutuhan hidup sehari-hari, atau membeli bibit melanjutkan kegiatan usahanya, sambil menunggu harga komoditas membaik. Saat harga komoditas membaik, petani dapat menjual atau mengalihkan SRG miliknya, sehingga petani dapat merasakan dan memperoleh keuntungan optimal dari usahanya.

Dalam pelaksanaan skema SRG, cara untuk memanfaatkan SRG tersebut adalah dengan mengikuti beberapa proses terlebih dahulu sebelum dikeluarkan surat dokumen SRG atas komoditas tertentu. Pertama pemilik barang mengajukan permohonan penyimpanan barang kepada pengelola gudang. Jika masih ada ruang yang tersedia untuk meletakkan barang di gudang, maka pengelola gudang akan mengkonfirmasi untuk kepada pemohon SRG. Tahap selanjutnya adalah pembuatan surat perjanjian yang isinya adalah waktu pengujian mutu barang. Setelah disepakati waktu pengujian maka barang diuji oleh Lembaga Penilaian Kesesuaian (LPK). Jika hasil uji mutu sudah sesuai standar yang ditentukan maka barang tersebut siap untuk dimasukkan ke gudang dengan terlebih dahulu sudah mendapat kepastian waktu untuk memasukkan barang. Setelah barang masuk ke gudang, pihak pengelola akan membantu menerbitkan polis asuransi untuk barang yang dititipkan ke gudang. Setelah polis asuransi telah diterbitkan, dokumen SRG akan diterbitkan dan diberikan kepada penyewa gudang.

Pada tahun 2008 di Indramayu telah diresmikan dua buah gudang Sistem Resi Gudang yang dikelola oleh PT. Pertani. Pemilihan Indramayu sebagai percontohan pelaksanaan SRG berdasarkan pertimbangan luas lahan, sehingga Indramayu memiliki potensi yang besar di bidang pertanian yang sangat tepat sebagai prototype penerapan SRG. Pelaksanaan SRG ini dilakukan Menteri Perdagangan bekerjasama dengan Menteri Negara BUMN, Menteri Pertanian dan PT Pertani.

(20)

20 1.2 Rumusan Masalah

Salah satu desa yang berdekatan dengan lokasi gudang SRG adalah Desa Mangunjaya yang diharapkan memanfaatkan skema SRG tersebut. Bertani di Desa Mangunjaya merupakan mata pencaharian utama penduduk desa. Seiring dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk Indonesia maka permintaan konsumsi akan beras juga akan meningkat. Meskipun demikian, pendapatan yang diterima oleh petani belum cukup untuk memenuhi kehidupan mereka. Hal ini dikarenakan rata-rata petani di Desa Mangunjaya merupakan petani kecil dengan luas lahan rata-rata kurang dari 0,4 ha.

Petani-petani di Desa Mangunjaya ini kemudian tergabung dalam Gapoktan Jaya Tani untuk mengatasi kendala-kendala yang muncul dalam menjalankan usahatani mereka. Salah satu kendala yang muncul adalah masalah pendanaan usahatani. Di lokasi penelitian petani yang menggunakan metode tebas dalam penjualannya, terkadang tidak mendapat hasil yang sesuai dengan keadaan sebenarnya dari jumlah padi yang dipanen. Hal ini dikarenakan padi petani dalam penjualannya hanya dikira-kira oleh pembeli. Penjualaan kepada tengkulak juga dirasakan petani kurang membantu petani dalam pembiayaan usahatani karena seringnya keterlambatan pembayaran dari waktu yang dijanjikan. Berdasarkan kondisi tersebut, pembangunan SRG yang dikelola oleh PT Pertani diharapkan mampu menjadi salah satu instrumen penting dan efektif sebagai solusi dalam sistem pembiayaan usahatani, khususnya dengan memberikan payung hukum pemberian kredit bagi petani atau pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) terkait dengan kesulitan yang dialami petani dalam pendanaan usahataninya.

Pada tahun 2010 beberapa petani yang tergabung dalam Gapoktan Jaya Tani sudah memanfaatkan SRG dengan mendapatkan harga yang lebih baik daripada petani yang tidak memanfaatkan SRG. Meskipun begitu masih banyak petani lain yang belum mau memanfaatkan SRG karena menurut petani yang belum memanfaatkan SRG mereka tidak melihat perbedaan yang signifikan dari petani yang telah memanfaatkan SRG.

Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan tersebut, maka permasalahan yang dapat diangkat adalah apakah ada manfaat bagi petani dalam penerapan Sistem Resi Gudang?

(21)

21 1.3. Tujuan Penelitian

Berkaitan dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian adalah : 1. Membandingkan tingkat pendapatan usahatani padi yang menerapkan Sistem

Resi Gudang dan yang tidak memanfaatkannya.

2. Mengidentifikasi manfaat dari penerapan Sistem ResiGudang bagi petani.

1.4. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian tersebut diharapkan dapat memberi manfaat sebagai berikut : 1. Sebagai sumbangan pemikiran bagi pemerintah daerah khususnya dalam hal ini

adalah Pemerintah Daerah Indramayu untuk meningkatkan kesejahteraan petani melalui peningkatan posisi tawar petani.

2. Untuk menambah pengalaman dan pengetahuan penulis tentang masalah pertanian khususnya sektor tanaman padi.

3. Sebagai bahan referensi dan perbandingan bagi peneliti berikutnya yang akan melakukan pengkajian masalah yang relevan.

1.5. Ruang Lingkup

Penelitian ini dilakukan dengan lingkup regional yaitu di Desa Mangunjaya, Kecamatan Anjatan, Kabupaten Indramayu dengan gabah sebagai komoditi yang diteliti. Petani yang dijadikan responden dalam penelitian ini adalah petani yang sudah memanfaatkan SRG dan petani yang belum memanfaatkan SRG yang tergabung dalam Gapoktan Jayatani. Analisis kajian dibatasi untuk melihat perbandingan tingkat pendapatan usahatani padi yang belum dan yang sudah memanfaatkan Sistem Resi Gudang dan melihat manfaat yang diperoleh petani yang telah memanfaatkan SRG.

(22)

22 II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Perkembangan Usahatani di Indonesia

Sektor pertanian merupakan salah satu sektor ekonomi yang tidak terpengaruh oleh krisis ekonomi pada tahun 1998 karena dalam kondisi krisis, sektor ini masih memberikan pertumbuhan yang positif. Menurut data BPS 1999 pertumbuhan nilai ekspor komoditi hasil sektor pertanian mengalami pertumbuhan positif sebesar 0,22 persen di tahun 1998. Sementara pertumbuhan sektor lain negatif, misalnya pertumbuhan sektor pertambangan dan migas negatif 4,16 persen, dan pertumbuhan sektor industri negatif 12,74 persen (BPS, 1999). Hal ini mengindikasikan bahwa sektor pertanian mampu bertahan dalam menghadapi krisis ekonomi.

Pengembangan sektor pertanian termasuk pengembangan industri yang berbasis pertanian merupakan andalan potensial untuk membangkitkan dinamika ekonomi masyarakat di tengah penurunan ekonomi dewasa ini. Pengembangan sektor pertanian beserta program lanjutannya, dalam hal ini agroindustri, memiliki nilai strategis untuk keluar dari krisis ekonomi.

Salah satu sasaran dari pengembangan sektor pertanian adalah untuk meningkatkan kesejahteraan petani yang sebagian besar masih tergolong penduduk miskin. Berbagai cara telah dilakukan dalam upaya memperbaiki kesejahteraan petani. Beberapa upaya yang telah dilakukan baik dari segi teknis usahatani, seperti sistem bertani organik, penggunaan bibit ungul dan sistem penjualan hasil usahatani. Upaya tersebut dilakukan agar terjadi peningkatan pendapatan petani. Salah satu cara untuk meningkatkan pendapatan petani adalah dengan menerapkan konsep sistem pertanian terpadu, yaitu mengkombinasikan berbagai macam spesies tanaman dan hewan dan penerapan beraneka ragam teknik untuk menciptakan kondisi yang cocok untuk melindungi lingkungan juga membantu petani menjaga produktivitas lahan mereka dan meningkatkan pendapatan mereka dengan adanya diversifikasi usaha tani. Penggunaan bibit berkualitas bersertifikat juga dapat membantu petani dalam usaha peningkatan pendapatan petani.

(23)

23

6DKHGD   GDODP SHQHOLWLDQQ\D \DQJ EHUMXGXO ³3UHIHUHQVL dan Kepuasan Petani Terhadap Benih Padi Varietas Lokal Pandan Wangi di .DEXSDWHQ &LDQMXU´ \DQJ EHUWXMXDQ XQWXN PHQJLGHQWLILNDVL SURVHV SHQJDPELODQ keputusan para petani terhadap penggunaan benih padi pandan wangi, menganalisis kepuasan para petani terhadap atribut-atribut benih padi pandan wangi, dan menentukan alternatif strategi dalam rangka pencapaian tujuan kepuasan terhadap atribut-atribut benih padi pandan wangi.

Berdasarkan analisis tahap proses pengambilan keputusan petani terhadap pembelian benih bersertifikat dan penggunaan benih tidak bersertifikat padi pandan wangi, diketahui bahwa yang menjadi motivasi para petani untuk menanam benih bersertifikat padi pandan wangi adalah karena harga jual yang tinggi, dan para petani menganggap bahwa penggunaan benih bersertifikat penting untuk digunakan. Sedangkan para petani yang tidak menggunakan benih bersertifikat menganggap bahwa penggunaan benih bersertifikat biasa saja dan sebagian besar petani mengetahui informasi benih padi pandan wangi dan sumber yang dipercaya untuk penggunaan benih berasal dari kelompok tani, diri sendiri dan lainnya yaitu keluarga. Atribut harga jual gabah dijadikan dasar dalam pertimbangan untuk pembelian dan penggunaan benih tidak tidak bersertifikat.

Keputusan dalam cara penjualan hasil usahatani juga menjadi salah satu faktor yang berpengaruh dalam pendapatan usahatani. Pratama (2008) melakukan penelitian yang berjudul Efektivitas Dana Penguatan Modal Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan (DPM-LUEP) (Kasus Petani Padi Pandan Wangi di Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur) dengan tujuan menganalisis efektivitas program DPM-LUEP terhadap stabilitas harga gabah di tingkat petani di Provinsi Jawa Barat, menganalisis dampak kebijakan program DPM-LUEP terhadap tingkat pendapatan petani di Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat, dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan petani dalam menjual gabahnya ke LUEP. Dengan membandingkan perkembangan harga yang diterima petani di kecamatan yang mendapat DPM-LUEP dan yang tidak mendapat program diketahui bahwa harga GKP pada kecamatan yang mendapatkan program DPM-LUEP lebih tinggi daripada kecamatan yang tidak mendapatkan program DPM-LUEP.

(24)

24

Indrayani (2008) dalam penelitiann\D \DQJ EHUMXGXO ³$QDOLVLV 3ROD .HPLWUDDQ 'DODP 3HQJDGDDQ %HUDV 3DQGDQZDQJL %HUVHUWLILNDW´ PHQ\HEXWNDQ bahwa salah satu contoh kegiatan kemitraan agribisnis dibidang pertanian khususnya tanaman pangan adalah antara Gapoktan Citra Sawargi dengan CV. Quasindo. Kemitraan yang terjalin merupakan kemitraan dalam pengadaan beras pandan wangi brsertifikat. Kemitraan ini terjalin sejak April 2007, dengan melibatkan tiga pelaku utama yakni Gapoktan, CV. Quasindo serta Lembaga Sertifikasi Beras.

2.2. Sistem Resi Gudang

Resi Gudang (warehouse receipt) adalah surat berharga berupa dokumen bukti kepemilikan atas barang yang di simpan di gudang yang diterbitkan oleh pengelola gudang yang dapat diperdagangkan, dipertukarkan dalam sistem pembiayaan perdagangan suatu negara. Selain itu, resi gudang juga dapat digunakan sebagai jaminan atau diterima sebagai bukti penyerahan barang dalam rangka pemenuhan kontrak deribatf yang jatuh tempo, sebagaimana terjadi dalam kontrak berjangka. Dengan demikian, SRG dapat memfasilitasi pemberian kredit bagi dunia usaha dengan agunan inventori atau barang yang disimpan di gudang. Resi gudang dapat digunakan sebagai agunan karena resi gudang dijamin dengan komoditas tertentu yang berada dalam pengawasan pihak ketiga (Pengelola Gudang) yang terakreditasi. Sistem ini telah dipergunakan secara luas di negara-negara maju atau di negara-negara-negara-negara dimana pemerintah telah mulai mengurangi perannya dalam menstabilisasi harga komoditi, terutama komoditi agribisnis. Beberapa negara yang telah menerapkan SRG antara lain adalah India, Malaysia, Filipina, Ghana, Mali, Turki, Polandia, Meksiko dan Uganda.

Di Indonesia, dalam hal ini Departemen Perdagangan yang diwakili oleh Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI) telah menyusun rencana Undang-undang (RUU) tentang Sistem Resi gudang. Pada tanggal 20 Juni 2006, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia telah menyetujui RUU tersebut menjadi Undang-undang (UU). Presiden RI telah mensahkan UU tersebut sebagai UU nomor 9 tahun 2006 tentang SRG pada tanggal 14 Juli 2006.

(25)

25

Tujuan diberlakukannya UU tentang SRG adalah untuk memberikan dan meningkatkan akses masyarakat terhadap kepastian hukum, melindungi masyarakat dan memperluas akses mereka untuk memanfaatkan fasilitas pembiayaan usaha. UU Sistem Resi Gudang memberikan manfaat terutama bagi pengusaha kecil dan menengah, petani dan kelompok tani, perusahaan pengelola gudang, perusahaan pemberi pinjaman dan bank untuk mengakses permodalan guna meningkatkan usahanya.

SRG merupakan terobosan instrument penjamin pengganti fixed asset. Hal ini dikarenakan resi gudang dapat dialihkan, dijadikan jaminan utang dan dapat digunakan sebagai dokumen penyerahan barang, sebagai document of title, maka resi gudang dapat dijadikan sebagai jaminan utang sepenuhnya tanpa perlu dipersyaratkan adanya jaminan lain. Ketentuan ini diharapkan akan sangat membantu usaha kecil dan menengah, petani serta kelompok tani yang selama ini mengalami kesulitan dalam mendapatkan akses kredit, karena pada umumnya mereka tidak memiliki fixed asset untuk dijadikan sebagai agunan.

Dalam penerapan SRG, terdapat beberapa pihak yang terkait dalam penerbitan resi gudang. Lembaga pertama adalah pengelola gudang. Pengelola gudang adalah pihak yang melakukan usaha perdagangan, baik gudang milik sendiri maupun milik orang lain yang melakukan penyimpanan, pemeliharaan dan pengawasan yang disimpan oleh pemilik barang. Lembaga ini dipersyaratkan harus berbentuk badan usaha hukum dan telah mendapat persetujuan dari BAPPEBTI. Dalam pelaksanaanya, pengelola gudang wajib membuat perjanjian pengelolaan secara tertulis baik dengan pemilik barang, yang sekurang-kurangnya memnuat identitas serta hak dan kewajiban para pihak, jangka waktu penyimpanan, deskripsi barang dan asuransi. Daftar pengelola SRG yang telah mendapat persetujuan dari BAPPEBTI dapat dilihat di Tabel 2.

(26)

26 Tabel 2. Daftar Pengelola Gudang SRG yang Mendapat Persetujuan BAPPEBTI.

No Pengelola Gudang Alamat Kantor Pusat

1. PT. Bhanda Ghara Reksa (BGR)

Jalan Kali Besar Timur Nomor 5-7, Jakarta 11110.

2. PT. Pertani Jalan Pertani Nomor 1 ± 7 Durentiga Pancoran Jakarta Selatan 12760

3. PT. Petindo Daya Mandiri Jalan Cempaka Putih Timur No. 3 Jakarta Pusat 10510.

4. PT. Sucofindo Graha Sucofindo, Jl. Raya Pasar Minggu Kav. 34 DKI Jakarta 12780

5. PT. Reksa Guna Interservice

Gd. Dana Graha Lt. 2 Jl. Gondangdia Kecil No. 12-14 Jakarta Pusat 10350

6. Koperasi Tani Bidara Tani Jalan A. Yani Nomor 84, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur

Sumber : BAPPEPTI 2008

Lembaga kedua adalah Lembaga Penilaian Kesesuaian (LPK). LPK adalah suatu lembaga terakreditasi yang melakukan kegiatan penilaian untuk membuktikan bahwa persyaratan tertentu mengenai produk, sistem, proses, dan atau sumber daya manusia yang dimiliknya telah terpenuhi dan sesuai dengan standar. Kegiatan penilaian kesesuaian ini mencakup lembaga inspeksi, laboratorium penguji dan lembaga sertifikasi sistem mutu. LPK yang mendapat persetujuan dari BAPPEBTI seluruhnya diakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN). Kegiatan penilaian kesesuaian yang dilakukan mencakup kegiatan sertifikasi, inspeksi dan pengujian yang berkaitan dengan barang, gudang dan pengelola gudang.

Penyimpanan barang di gudang sangat erat kaitannya dengan konsistensi mutu barang yang disimpan, sehingga perlu disiapkan sistem penilaian kesesuaian yang dapat menjamin konsistensi mutu barang yang disimpan. Sertifikat yang diterbitkan oleh LPK memuat nomor dan tanggal penerbitan, identitas pemilik barang, jenis dan jumlah barang, sifat barang, metode pengujian mutu barang, tingkat mutu dan kelas barang, jangka waktu mutu barang dan tanda tangan pihak yang berhak mewakili lembaga. Daftar Daftar Lembaga Penilaian Kesesuaian yang telah mendapat persetujuan dari BAPPEBTI bisa dilihat pada Tabel 3.

(27)

27 Tabel 3. Daftar Lembaga Penilai Kesesuaian yang mendapat persetujuan dari

BAPPEBTI. NO LPK Alamat 1 Inspeksi Gudang (Penunjukan Kabappebti) a. PT. Bhanda Ghara Reksa (Persero)

Jalan Kali Besar Timur Nomor 5-7, Jakarta 11110.

b. PT. SUCOFINDO Graha Sucofindo, Jl. Raya Pasar Minggu Kav. 34 Jakarta 12780 2. Sertifikat

Manajemen Mutu

PT. SUCOFINDO Graha Sucofindo, Jl. Raya Pasar Minggu Kav. 34 Jakarta 12780 3. Uji Mutu Komoditi a. PT. SUCOFINDO (Lada, Kopi, Kakao) Graha Sucofindo, Jl. Raya Pasar Minggu Kav. 34 Jakarta 12780

b. BPSMB

&TEMBAKAU SURABAYA

(Kopi, Lada, Kakao dan Karet)

Jl. Gayung Kebonsari Dalam No. 12 A Surabaya

c. BPSMB

MAKASSAR (Kopi, dan Lada)

Jl. A. Pattarani Makassar 90222 4. Uji Mutu Komoditi Penunjukan Kabappebti a. BPSMB &TEMBAKAU SURABAYA (Gabah) Jl. Gayung Kebonsari Dalam No. 12 A Surabaya b. UJASTASMA PROBIS PERUM BULOG SUBDIVRE KAB. BANYUMAS (Gabah)

Jl. Jend. Sudirman No. 829 Purwokerto ± Jateng

Sumber : BAPPEBTI 2008

Lembaga ketiga adalah pusat registrasi yang melakukan penatausahaan Resi Gudang dan Derivatif resi Gudang yang meliputi pencatatan, penyimpanan, pemindah bukuan kepemilikan, pembebanan hak jaminan, pelaporan, seta penyediaan sistem dan jaringan informasi. Penatausahaan dilakukan untuk menjamin keamanan dan keabsahan setiap pengalihan dan pembebanan hak jaminan atas Resi gudang, karena setiap pihak yang menerbitkan, mengalihkan dan melakukan pembebanan hak jaminan atas resi gudang wajib melaporkannya kepada Pusat Registrasi. Berdasarkan sistem ini, pemerintah melalui Pusat

(28)

28

Registrasi dapat memantau pengalihan dan pembebanan hak jaminan atas resi gudang, mencegah terjadinya penjaminan ganda dan melakukan tersediannya stok nasional untuk komoditi tertentu. Pusat Registrasi yang telah mendapat Persetujuan dari BAPPEBTI adalah PT. Kliring Berjangka Indonesia.

Lembaga terakhir adalah Badan Pengawas Resi Gudang. Badan ini merupakan unit organisasi di bawah Menteri Perdagangan yang diberi wewenang untuk melakukan pembinaan, pengaturan dan pengawasan terhadap kegiatan yang berkaitan dengan SRG. Badan ini antara lain berwenang memberikan persetujuan sebagai Pengelola Gudang, Lembaga Penilaian Kesesuaian dan Pusat Registrasi. Saat ini tugas, fungsi dan kewenangan tersebut dilaksanakan oleh BAPPEBTI.

Adapun syarat komoditi yang dapat diresi gudangkan antara lain memiliki daya tahan simpan minimal tiga bulan, memilik standar mutu nasional dan memiliki struktur pasar terbuka. Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan No. 26/M-DAG/PER/6/2007 tentang Barang Yang Dapat Disimpan di Gudang Dalam Penyelenggaraan Sistem Resi Gudang hingga saat ini baru terdapat delapan komoditi yang dapat diresi gudangkan yaitu: Gabah, Beras, Jagung, Kopi, Kakao, Lada, Karet, dan Rumput Laut. Setiap komoditi yang akan disimpan di gudang harus memenuhi persyaratan standar mutu tertentu yang berlaku untuk komoditi yang bersangkutan untuk memperoleh Resi Gudang. Contoh nilai standar mutu gabah berdasarkan SNI bisa dilihat pada Tabel 4.

(29)

29 Tabel 4. Standar Mutu Komoditi Gabah Seperti Tercantum dalam SNI

01-0224-1987.

No Jenis Uji Satuan

Persyaratan

MUTU I MUTU II MUTU III

1 Kadar Air % maks. 14.0 14.0 14.0

2. Gabah Hampa % maks. 1.0 2.0 3.0

3. Butir Rusak + Butir Kuning

% maks. 2.0 5.0 7.0

4. Butir Mengapur + Gabah Muda

% maks. 1.0 5.0 10.0

5. Butir Merah % maks. 1.0 2.0 4.0

6. Benda Asing % maks. - 0.5 1.0

7. Gabah Varietas lain % maks. 2.0 5.0 10.0

Sumber : BAPPEBTI 2008

Untuk mendapatkan Resi Gudang Petani terlebih dahulu mendatangi Pengelola Gudang dengan membawa komoditi yang akan diresigudangkan. Sebelum masuk gudang, komoditi tersebut terlebih dahulu diuji mutu dan kuantitasnya oleh LPK yang ada di Gudang atau Kantor Pengelola Gudang. Sementara itu Pengelola Gudang akan membuat perjanjian pengelolaan barang yang berisi deskripsi barang dan asuransi. Diskripsi barang dibuat berdasarkan sertifikat hasil uji mutu yang dikeluarkan oleh LPK.

Surat perjanjian pengelolaan barang yang telah ditandatangani, selanjutnya Pengelola Gudang akan menghubungi Pusat Registrasi untuk meminta kode registrasi. Pengelola Gudang dapat langsung menerbitkan Dokumen Resi Gudang tepat setelah menerima kode registrasi dari Pusat Registrasi. Dokumen Resi Gudang yang sah akan mencantumkan informasi antara lain judul dan jenis komoditi, nama pemilik komoditi, lokasi gudang, tanggal penerbitan, nomor penerbitan, nomor registrasi, deskripsi barang (kuantitas dan kualitas), waktu jatuh tempo, biaya simpan, nilai barang dan harga pasar.

2.3. Kajian Empiris Mengenai Usahatani

Rachmawati (2003) dan Gandhi (2008) dalam penelitiannya mengemukakan bahwa usahatani padi yang dilakukan oleh petani pemilik lahan lebih menguntungkan jika dibandingkan dengan petani penggarap. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai rasio R/C atas biaya tunai maupun biaya total petani

(30)

30

pemilik (3,14 dan 1,35) yang lebih besar dari petani penggarap (1,19 dan 1,18) pada penelitian Rachmawati dan nilai rasio R/C atas biaya tunai maupun biaya total petani pemilik (2,42 dan 1,19) yang lebih besar dari petani penggarap (1,07 dan 1,88) pada penelitian Gandhi. Berdasarkan hasil analisis tersebut, dapat diketahui bahwa usahatani yang dilakukan, baik oleh petani pemilik maupun petani penggarap, masih menguntungkan karena rasio R/C atas biaya tunai maupun biaya totalnya lebih besar dari satu.

Hidayat (2010) dalam penelitiannya mengemukakan bahwa pendapatan usahatani jambu getas merah di Kelurahan Sukaresmi dikelompokkan berdasarkan status penguasaan lahan yaitu petani pemilik lahan dan petani penyewa lahan. Pendapatan atas biaya tunai per hektar per tahun yang diterima petani pemilik lahan yaitu Rp 12.727.000,00 lebih besar daripada pendapatan atas biaya tunai per hektar per tahun yang diterima petani penyewa lahan yaitu Rp 9.056.000,00. Begitu pula berdasarkan perhitungan pendapatan atas biaya total, maka pendapatan atas biaya total per hektar per tahun yang diterima petani pemilik lahan yaitu Rp 8.146.666,67 lebih besar daripada pendapatan atas biaya total per hektar per tahun yang diterima petani penyewa lahan yaitu Rp 8.047.333,33. Kegiatan usahatani yang dilakukan oleh petani pemilik lahan dan petani penyewa lahan menguntungkan. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai rasio R/C atas biaya tunai maupun biaya total petani pemilik lahan yang lebih tinggi (2,69 dan 1,67) dari biaya tunai petani maupun biaya total penyewa lahan (1,81dan 1,66).

Terdapat beberapa persamaan dan perbedaan pada penelitian Rachmawati, Gandhi dan Hidayat. Persamaan penelitian yang diteliti oleh Rachmawati, Gandhi dan Hidayat adalah analisis usahatani dengan rasio R/C petani pemilik lahan lebih besar daripada rasio R/C petani penggarap baik atas biaya tunai maupun biaya total. Perbedaan penelitian ini adalah jenis komoditi yang diteliti yaitu jambu merah yang diteliti oleh Hidayat, dan padi yang diteliti oleh Rachmawati dan Gandhi.

Terdapat beberapa persamaan dalam metode penelitian yang digunakan pada beberapa studi terdahulu seperti pada Rachmawati (2003) dan Murdani (2008). Pada Rachmawati (2003) menggunakan metode analisis R/C rasio, margin tataniaga, dan IDUPHU¶V 6KDUH dalam menganalisis penelitiannya mengenai topik

(31)

31

penelitian usahatani dan tataniaga. Pada penelitian mereka tidak menggunakan analisis lembaga dan fungsi tataniaga, sehingga kurang memberikan gambaran kondisi tataniaga karena penelitian lebih kuantitatif. Begitu pula pada penelitian Murdiani (2008) yang menggunakan metode analisis yang sama dalam menganalisis penelitiannya yaitu analisis pendapatan usahatani, rasio R/C, marjin tataniaga,dan IDUPHU¶V VKDUH Walaupun pada kedua penelitian tersebut analisis

usahatani lebih dalam karena menambahkan analisis pendapatan usahatani, namun analisis tataniaga terutama kondisi kualitatif seperti fungsi tataniaga dan analisis lembaga tataniaga kurang dibahas secara komperhensif.

Pada penelitian Gandhi (2008) dan Hidayat (2010), merupakan penelitian yang menggunakan metode analisis yang paling lengkap dalam menganalisis penelitian untuk topik usahatani dan tataniaga. Keduanya melakukan analisis kuantitatif yang baik dalam analisis usahatani dan tataniaga, juga melakukan analisis kualitatif tataniaga dengan baik.

Persamaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu adalah alat analisis yang digunakan sama dengan yang digunakan oleh Gandhi (2008) dan Hidayat (2010). Perbedaan ini dengan penelitian terdahulu adalah jenis komoditas yang dianalisis yaitu gabah, dan juga metode penjualan yang digunakan yaitu metode tunda jual dengan memanfaatkan Sistem Resi Gudang. Penelitian ini berusaha menganalisis perbandingan tingkat pendapatan usahatani petani yang tidak memanfaatkan Sistem Resi Gudang dan yang sudah memanfaatkannya, pendapatan usahatani dengan pendekatan penerimaan dan biaya usahatani, dan R/C rasio untuk melihat tingkat efisiensi usahatani padi yang sudah memanfaatkan Sistem Resi Gudang dan sistem konvensional. Melalui analisis efisiensi dapat diketahui metode mana yang memberikan lebih banyak keuntungan bagi petani.

(32)

32 III. KERANGKA PEMIKIRAN

3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis

3.1.1. Konsep Usahatani

Menurut Hernanto (1989) mendefinisikan usahatani sebagai organisasi dari alam, kerja, dan modal yang ditujukan kepada produksi di lapangan pertanian. Organisasi ini ketatalaksanaanya berdiri sendiri dan sengaja diusahakan oleh seorang atau sekumpulan orang, segolongan sosial, baik yang terikat genologis, politis, maupun teritorial sebagai pengelolanya. Menurut Soeharja dan Patong (1973), usahatani adalah proses pengorganisasian faktor-faktor produksi yaitu alam, tenaga kerja, modal dan pengelolaan yang diusahakan oleh perorangan atau sekumpulan orang untuk menghasilkan output yang dapat memenuhi kebutuhan keluarga ataupun orang lain disamping bermotif mencari keuntungan. Menurut Hernanto (1989) ada empat unsur pokok dalam usahatani yang sering disebut sebagai faktor-faktor produksi yaitu :

1. Tanah

Tanah merupakan faktor produksi yang relatif langka dibanding dengan faktor produksi lain, distribusi penguasaannya tidak merata di masyarakat. Oleh karena itu, tanah memiliki beberapa sifat yaitu : (1) luasnya relatif tetap atau dianggap tetap, (2) tidak dapat dipindah-pindahkan dan (3) dapat dipindahtangankan atau diperjualbelikan. Tanah usahatani dapat berupa tanah pekarangan, tegalan dan sawah. Tanah tersebut dapat diperoleh dengan cara membuka lahan sendiri, membeli, menyewa, bagi hasil (menyakap), pemberian negara, warisan atau wakaf. Penggunaan tanah dapat diusahakan secara monokultur maupun polikultur atau tumpangsari.

2. Tenaga Kerja

Tenaga kerja dalam usahatani digolongkan kedalam tiga jenis yaitu tenaga kerja manusia, tenaga kerja ternak dan tenaga kerja mekanik. Tenaga kerja manusia dibedakan menjadi tenaga kerja pria, wanita dan anak-anak. Tenaga kerja manusia dapat mengerjakan semua jenis pekerjaan usahatani berdasarkan tingkat kemampuannya. Kerja manusia dipengaruhi oleh umur, pendidikan,

(33)

33

ketrampilan, pengalaman, tingkat kecukupan, tingkat kesehatan, dan faktor alam. Oleh karena itu dalam prakteknya, digunakan satuan ukuran yang umum untuk mengatur tenaga kerja yaitu jumlah jam dan hari kerja total. Ukuran ini menghitung seluruh pencurahan kerja mulai dari persiapan hingga pemanenan dengan menggunakan inventarisasi jam kerja (1 hari = 7 jam kerja) lalu dijadikan hari kerja total (HK total). Dalam teknis perhitungan, dapat dipakai konversi tenaga kerja dengan cara membandingkan tenaga pria sebagai ukuran baku, yaitu : 1 pria = 1 hari kerja pria (HKP) ; 1 wanita = 0,7 HKP ; 1 ternak = 2 HKP dan 1 anak = 0,5 HKP. Tenaga kerja usahatani dapat diperoleh dari dalam dan luar keluarga.

3. Modal

Modal merupakan barang atau uang yang bersama-sama dengan faktor produksi lain dan tenaga kerja serta manajemen menghasilkan barang-barang baru yaitu produksi pertanian. Dalam usahatani, yang dimaksud dengan modal adalah tanah, bangunan, alat-alat pertanian, tanaman, ternak, ikan di kolam, bahan-bahan pertanian, piutang di bank, serta uang tunai. Menurut sifatnya, modal dibedakan menjadi dua yakni modal tetap yang meliputi tanah bangunan dan modal tidak tetap yang meliputi alat-alat, bahan, uang tunai, piutang di bank, tanaman, ternak, ikan di kolam. Modal dalam usahatani digunakan untuk membeli sarana produksi serta pengeluaran selama kegiatan usahatani berlangsung. Sumber modal diperoleh dari milik sendiri, pinjaman atau kredit (kredit bank, pelepas uang/keluarga/tetangga), hadiah, warisan, usaha lain ataupun kontrak sewa.

4. Manajemen

Manajemen usahatani adalah kemampuan petani untuk menentukan, mengorganisir, dan mengkoordinasikan faktor-faktor produksi dengan sebaik-baiknya sehingga mampu memberikan produksi pertanian sedemikian rupa sebagaimana yang diharapkan. Pengenalan pemahaman terhadap prinsip teknik dan ekonomis perlu dilakukan untuk dapat menjadi pengelola yang berhasil. Prinsip teknis tersebut meliputi : (a) perilaku cabang usaha yang diputuskan; (b) perkembangan teknologi; (c) tingkat teknologi yang dikuasai; (d) daya dukung faktor yang dikuasai dan (e) cara budidaya dan alternatif cara lain berdasar pengalaman orang lain. Prinsip ekonomis antara lain : (a) penentuan

(34)

34

perkembangan harga; (b) kombinasi cabang usaha; (c) pemasaran hasil; (d) pembiayaan usahatani; (e) penggolongan modal dan pendapatan dan (f) ukuran-ukuran keberhasilan yang lazim.

Pengelolaan usahatani pada dasarnya terdiri dari pemilihan antara berbagai alternatif penggunaan sumberdaya yang terbatas yang terdiri dari lahan, kerja, modal, waktu dan pengelolaan. Hal ini dilakukan agar ia dapat mencapai tujuan sebaik²baiknya dalam lingkungan yang penuh resiko dan kesukaran-kesukaran lain yang yang dihadapi dalam melaksanakan usahataninya (Soekartawi, 1986). Seorang penyuluh pertanian memiliki peran yang penting dalam memberikan petunjuk kepada petani dengan cara membantu petani melihat permasalahannya, menganalisis permasalahan tersebut dan mengambil keputusan dengan benar.

Lebih lanjut Soekartawi (1986) menambahkan bahwa terdapat kaitan yang sangat erat antara ilmu usahatani dengan ilmu ekonomi. Hal ini dikarenakan ilmu usahatani pada dasaranya memperhatikan cara-cara petani dalam memperoleh dan memadukan sumberdaya (lahan, kerja, modal, waktu dan pengelolaan) yang terbatas untuk mencapai tujuannya, maka disiplin induknya adalah ekonomi. Penelitian usahatani dianggap mempunyai sifat multi disiplin karena harus memperhatikan informasi, prinsi dan teori dari ilmu yang sangat erat kaitannya, seperti sosiologi dan psikologi maupun berbagai bidang ilmu tanaman dan ilmu hewan. Menurut Soekartawi (1986) umumnya penelitian usahatani merupakan penelitian terapan dan mempunyai salah satu atau kedua tujuan umum di bawah ini:

1. Menyediakan informasi yang dapat membantu petani dalam mengelola usahataninya sehingga mereka lebih mampu mencapai tujuannya.

2. Memberikan informasi kepada pemerintah mengenai petani dan pengelolaannya sehingga membantu di dalam perumusan kebijsanaan dan perencanaan pembangunan yang lebih baik.

3.1.2. Keuntungan Usahatani

Terdapat dua jenis keuntungan suatu usahatani, yaitu yang dapat dihitung secara ekonomi (tangible) dan yang tidak dapat dihitung ke dalam satuan uang

(35)

35

(intangible). Keuntungan ekonomi adalah keuntungan berupa besar atau tidaknya pendapatan dan efisien atau tidaknya suatu penelitian yang digambarkan oleh nilai rasio R/C nya. Keuntungan non ekonomi terdiri dari kesuburan lingkungan, pemandangan yang menjadi indah dan sebagainya.

Keberhasilan suatu usahatani dapat dilihat dari besarnya pendapatan yang diperoleh petani dalam mengelola usahataninya. Pendapatan itu sendiri dapat didefinisikan sebagai selisih pengurangan dari nilai penerimaan dengan biaya yang dikeluarkan dalam proses usahatani. Pendapatan usahatani mengukur imbalan yang diperoleh dari penggunaan faktor-faktor produksi, karena itu pendapatan usahatani merupakan ukuran keuntungan usahatani yang dipakai untuk membandingkan keragaan beberapa usahatani (Mariani, 2007).

Analisis pendapatan usahatani memerlukan dua komponen pokok yaitu penerimaan dan pengeluaran selama jangka waktu yang ditentukan. Kegunaan anailisi ini adalah untuk menggambarkan keadaan sekarang dari suatu kegiatan dan menggambarkan keadaan di masa yang akan datang dari perencanaan atau tindakan (Soeharjo dan Patong, 1973)

Menurut Soekartawi (1986), penerimaan usahatani adalah suatu nilai produk total dalam jangka waktu tertentu baik untuk dijual maupun untuk dikonsumsi sendiri. Penerimaan usahatani mencakup semua produk yang dijual, dikonsumsi rumah tangga petani, untuk pembayaran dan yang disimpan. Penerimaan dinilai berdasarkan perkalian antara total produk dengan harga pasar yang berlaku, sedangkan pengeluaran atau biaya usahatani merupakan nilai penggunaan sarana produksi dan lain-lain yang dibebankan kepada produk yang bersangkutan. Selain biaya tunai yang harus dikeluarkan ada pula biaya yang diperhitungkan, yaitu nilai pemakaian barang dan jasa yang dihasilkan dan berasal dari usahatani itu sendiri. Biaya yang diperhitungkan digunakan untuk memperhitungkan berapa sebenarnya pendapatan kerja petani jika modal dan nilai kerja keluarga diperhitungkan.

Penerimaan usahatani adalah nilai produk total usahatani dalam jangka waktu tertentu, sedangkan pengeluaran usahatani adalah nilai semua input yang habis terpakai dalam proses produksi tetapi tidak termasuk biaya tenaga kerja kerluarga. Pengeluaran tunai adalah pengeluaran yang dibayar dengan uang,

(36)

36

seperti biaya pembelian saran produksi, biaya untuk membayar tenaga kerja. Pengeluaran yang diperhitungkan digunakan untuk menghitung berapa sebenarnya pendapatan kerja petani jika bunga modal dan nilai kerja kerluarga diperhitungkan (Soeharjo dan Patong, 1973).

3.2. Kerangka Pemikiran Operasional

Salah satu masalah yang dihadapi negara Indonesia sekarang ini adalah bagaimana meningkatkan kesejahteraan masyarakat, yang dilakukan melalui pembangunan di berbagai bidang, salah satunya adalah bidang pertanian. Hal ini bisa dilihat dengan semakin banyak digalakkannya pembangunan di bidang pertanian utamanya sub sektor pangan. Salah satu sub sektor pangan adalah usahatani padi. Petani padi dalam melakukan proses produksi untuk menghasilkan output, diperlukan biaya pengeluaran-pengeluaran yang digunakan dalam mempertahankan kelangsungan proses produksi tersebut.

Dalam usahatani padi diharapkan adanya peningkatan pendapatan sekaligus peningkatan kesejahteraan masyarakat pada umumnya dan petani padi pada khususnya. Hal ini menjadi salah satu ukuran kesejahteraan masyarakat yaitu adanya peningkatan pendapatan dari petani tersebut.

Dalam usaha meningkatkan pendapatan usaha tani padi, pemerintah mengeluarkan salah satu kebijakan baru yaitu Sistem Resi Gudang (SRG). Namun pada pelaksanaannya belum banyak petani di Indonesia yang sudah memanfaatkan peraturan ini. Salah satu Resi Gudang tersebut berada di daerah Indramayu, Jawa Barat. Tujuan dibangunnya Gudang tersebut di Indramayu karena Indramayu merupakan sentra penghasil padi di Jawa Barat, dimana Jawa Barat merupakan wilayah penghasil padi terbanyak di Indonesia.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apakah terdapat perbedaan pendapatan usahatani petani padi di Kecamatan Anjatan Indramayu yang telah memanfaatkan SRG dengan petani yang belum memanfaatkannya. Oleh karena itu, dengan adanya penelitian yang membandingkan konsep usahatani konvensional dan yang memanfaatkan Resi Gudang ini diharapkan dapat membantu pihak terkait khususnya petani dalam pengambilan keputusan untuk menjalankan atau menerapkan sistem usahatani yang mana yang lebih

(37)

37

menguntungkan bagi petani. Adapun bagan kerangka operasional dapat dilihat pada Gambar 1.

(38)

38 Gambar 1. Kerangka Pemikiran Operasional Analisis Usahatani Gabah

dengan Memanfaatkan Sistem Resi Gudang Studi Kasus Gapoktan Jayatani Indramayu

Pendapatan yang diperoleh petani gapoktan Jayatani rendah.

Petani SRG

Manfaat non ekonomis Manfaat ekonomis

Analisis Pendapatan Usahatani

x Analisis keragaan usahatani

x Analisis pendapatan usahatani

- Penerimaan usahatani

- Biaya usahatani

x Analisis efisiensi usahatani

Rekomendasi kepada petani dan pemerintah tentang pemanfaatan Sistem Resi Gudang dalam usahatani di Desa Mangunjaya Indramayu

x Upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

x Pembangunan di bidang pertanian sub sektor pertanian pangan.

x Peraturan pemerintah tentang Sistem Resi Gudang.

x Jawa Barat merupakan sentra penghasil padi di Indonesia.

x Pembangunan Gudang di Indramayu

J B t

(39)

39 IV. METODE PENELITIAN

4.1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Mangunjaya, Kecamatan Anjatan, Kabupaten Indramayu, Propinsi Jawa Barat dengan responden para petani yang sudah memanfaatkan Sistem Resi Gudang dan para petani yang belum memanfaatkan sitem tersebut yang tergabung dalam Gapoktan Jayatani. Pemilihan lokasi ditentukan atas dasar pertimbangan bahwa daerah tersebut dekat dengan letak Gudang Resi Gudang yang ada di Indramayu. Penelitian lapang dilakukan selama tiga bulan, dimulai pada bulan April 2011 sampai bulan Juli 2011 untuk pengumpulan data. Karena pada saat tersebut di wilayah Desa Mangunjaya dalam musim panen dan menunggu hasil penjualan gabah yang ada di gudang SRG.

4.2. Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang akan digunakan sebagai sumber data dan informasi adalah sebagai berikut :

1. Data Primer

Data primer adalah data yang didapat dari pengamatan langsung ke lapangan, yaitu hasil wawancara dengan petani responden yang belum dan sudah memanfaatkan SRG dengan menggunakan daftar pertanyaan (kuisioner).

2. Data Sekunder

Data sekunder merupakan pendukung data primer yang diperoleh dari instansi-instansi terkait seperti Dinas Pertanian Kabupaten Indramayu, PT. Pertani selaku pengelola gudang, dan instansi-instansi terkait lainnya. Data sekunder juga diperoleh melalui beberapa literatur berupa data pemanfaatan SRG yang pernah dilakukan berkaitan dengan kegiatan penelitian.

(40)

40 4.3. Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data primer dilakukan dengan cara wawancara melalui pengisian kuisioner yang pertanyaanya disampaikan kepada petani responden. Penentuan petani responden dilakukan dengan menggunakan dua metode yaitu pengambilan contoh secara acak (stratified sampling) untuk petani yang belum memanfaatkan SRG dan metode teknik sensus untuk petani yang sudah memanfaatkannya.

Pengambilan petani responden didasarkan pada petani yang tergabung didalam suatu gabungan kelompok tani. Jumlah responden yang diambil sebanyak 33 orang petani responden yang terdiri dari 29 petani yang belum memanfaatkan SRG dan empat orang petani responden yang sudah memanfaatkan SRG. Jumlah responden untuk petani yang belum memanfaatkan SRG diambil berdasarkan kelompok tani yang tergabung dalam Gapoktan Jaya Tani yang menanam padi. Kemudian setelah dibagi menjadi lima kelompok tani, untuk menentukan contoh di tiap kelompok tani dilakukan dengan cara acak dan didapat 29 orang petani responden. Sementara itu pemilihan petani yang telah memanfaatkan SRG sebanyak empat petani karena dalam Gapoktan tersebut hanya empat petani tersebut saja yang memanfaatkan SRG dengan menggunakan metode teknik sensus.

4.4. Teknik Analisa Data

Penelitian ini menggunakan metode analisis kualitatif dan kuantitatif, kemudian dilalanjutkan dengan pengolahan dan analisis data. Analisis kualitatif dilakukan bertujuan untuk menganalisis keragaan usahatani gabah di Desa Cipancuh sedangkan analisis kuantitatif bertujuan untuk menganalisis pendapatan usahatani yang sudah memanfaatkan Sistem Resi Gudang dan yang belum memanfaatkanya berdasarkan penerimaaan dan biaya usahatani yang dikeluarkan, sedangkan R/C rasio digunakan untuk mengetahui tingkat efisiensi usahatani.

Penerimaan total usahatani (total farm revenue) merupakan nilai produk dari usahatani yaitu harga produk dikalikan dengan total produksi periode tertentu. Total biaya atau pengeluaran adalah semua nilai faktor produksi yang dipergunakan untuk menghasilkan suatu produk dalam periode tertentu. Pendapatan total usahatani merupakan selisih antara penerimaan total dengan

(41)

41

pengeluaran total. Rumus penerimaan, total biaya dan pendapatan adalah (Soekartawi, 1986) :

TR = P x Q

TC = biaya tunai + biaya diperhitungkan ʌDWDVELD\DWXQDL = TR - biaya tunai

ʌDWDVELD\DWRWDO = TR ± TC Keterangan :

TR : total penerimaan usahatani yang dijual dalam bentuk gabah (Rp) TC : total biaya usahatani (Rp)

P : harga output (Rp/Kg) Q : jumlah output (Kg)

ʌ : pendapatan atau keuntungan (Rp)

Pendapatan dianalisis berdasarkan biaya tunai dan biaya tidak tunai atau biaya yang diperhitungkan. Biaya tunai digunakan untuk melihat seberapa besar likuiditas tunai yang dibutuhkan petani untuk menjalankan kegiatan usahataninya. Biaya tidak tunai digunakan untuk menghitung berapa sebenarnya pendapatan kerja petani jika penyusutan, sewa lahan dan nilai kerja keluarga diperhitungkan.

Salah satu ukuran efisiensi penerimaan untuk tiap rupiah yang dikeluarkan (revenue cost ratio) adalah analisis R/C. Analisis R/C rasio dalam usahatani menunjukkan perbandingan antara nilai output terhadap nilai inputnya yang bertujuan untuk mengetahui kelayakan dari usahatani yang dilaksanakan. Selain itu R/C rasio juga merupakan perbandingan antara penerimaan dengan pengeluaran usahatani. Rasio R/C yang dihitung dalam analisis ini terdiri dari R/C atas biaya tunai dan R/C atas biaya total. Rasio R/C atas biaya tunai dihitung dengan membandingkan antara penerimaan total dengan biaya tunai dalam satu periode tertentu. Rasio R/C atas biaya total dihitung dengan membandingkan antara penerimaan total dengan biaya total dalam satu periode tertentu. Rumus analisis imbangan penerimaan dan biaya usahatani adalah sebagai berikut (Soekartawi, 1986) :

R/C rasio atas biaya tunai = TR / biaya tunai R/C rasio atas biaya total = TR / TC

(42)

42

Keterangan :

TR : total penerimaan usahatani (Rp) TC : total biaya usahatani (Rp)

Secara teoritis R/C menunjukkan bahwa setiap satu rupiah biaya yang dikeluarkan akan memperoleh penerimaan sebesar nilai R/C. Suatu usaha dapat dikatakan menguntungkan dan layak untuk diusahakan apabila nilai R/C rasio lebih besar dari satu (R/C > 1), makin tinggi nilai R/C menunjukkan bahwa penerimaan yang diperoleh semakin besar. Namun apabila nilai R/C lebih kecil dari satu (R/C < 1), usaha ini tidak mendatangkan keuntungan sehingga tidak layak untuk diusahakan (Soekartawi, 1986).

Tabel 5. Contoh Perhitungan Pendapatan Usahatani dan R/C Rasio per Hektar per

Tahun Tanaman Tahunan

No Keterangan Jumlah Harga per

Satuan (Rp) Total (Rp) A Penerimaan B Biaya tunai 1 Bibit 2 Pupuk 3 Obat-obatan

4 Tenaga kerja luar keluarga 5 Irigasi

Total biaya tunai

C Biaya yang diperhitungkan 1 Penyusutan

2 Sewa lahan

3 Tenaga kerja keluarga

Total biaya yang diperhitungkan D Total biaya (B+C)

E Pendapatan atas biaya tunai (A-B) F Pendapatan atas biaya total (A-D) G R/C atas biaya tunai (A/B)

(43)

43

V. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

5.1. Wilayah dan Topografi

Desa Mangunjaya memiliki wilayah administratif dengan batas wilayah yaitu sebelah utara berbatasan dengan Desa Cilandak, sebelah selatan dengan Desa Bugis Tua, sebelah barat dengan Mekarjaya Kabupaten Subang, dan sebelah timur dengan Desa Bugis. Desa Mangunjaya memiliki luas wilayah sebesar 11.063,37 hektar dan dihuni oleh 6.428 jiwa penduduk (Monografi Desa Mangunjaya, 2010).

Topografi Desa Mangunjaya memiliki rata-rata ketinggian 200 meter dari permukaan laut. Desa Mangunjaya memiliki kondisi iklim yang cukup tinggi dengan suhu rata-rata tiap bulan mencapai 29,5°C dengan suhu terendah 25°C dan suhu tertinggi 34°C. Tingkat kelembaban udara yang dimiliki yaitu sebesar 70 persen dengan curah hujan rata-rata setiap tahun sekitar 2000 mm dan curah hujan tertinggi berada pada bulan Januari dan Februari. Kondisi alam tersebut mendukung potensi agribisnis pada Desa Mangunjaya, seperti padi dan tanaman palawija.

Padi merupakan salah satu potensi agribisnis yang sangat potensial untuk dikembangkan di Desa Mangunjaya dimana luas lahan sawah di Desa Mangun jaya yang mencapai 480 hektar atau sekitar 4,3 persen dari total luas wilayah. Selain padi, hortikultura merupakan salah satu potensi agribisnis yang dapat dikembangkan lagi untuk meningkatkan pendapatan masyarakat.

5.2 Sosial Ekonomi Masyarakat

Berdasarkan Tabel 6 diketahui bahwa persebaran jumlah penduduk berdasarkan jenis pekerjaan di Desa Mangunjaya terdapat 12 jenis pekerjaan, dimana sektor pertanian menempati peringkat pertama dengan total 4.213 penduduk atau 65,64 persen dari total penduduk Desa Mangunjaya. Hal ini menunjukkan bahwa bidang pertanian memiliki potensi yang besar dari sisi Sumber Daya Manusia (SDM) untuk dapat berkembang lagi. Jumlah penduduk paling banyak terdapat pada tingkat usia kerja di bidang pertanian dan diikuti dengan penduduk di usia sekolah.

(44)

44 Tabel 6. Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Pekerjaan Warga Desa Mangunjaya

Berdasarkan Lokasi Dusun Tahun 2010 (Orang)

Jenis Pekerjaan

Lokasi

Persentase (%)

No Mangunsari Bodas Karangjaya Jumlah

1 PNS 7 9 6 22 0,37 2 TNI/Polri 0 0 2 2 0,04 3 Pensiunan 0 0 1 1 0,02 4 Wiraswasta 2 31 41 73 1,14 5 Industri kecil 7 1 5 13 0,20 6 Pedagang 14 51 50 115 1,80 7 Nelayan 0 0 0 0 0 8 Petani 708 644 699 2.051 31,94 9 Buruh tani 793 674 695 2.162 33,70 10 Pelajar 362 504 491 1.357 21,20 11 Mahasiswa 16 12 11 39 0,64 12 Lain-lain 294 129 152 575 8,95 Total 6.428 100

Sumber: Badan Keswadayaan Masyarakat Desa Mangunjaya 2010

Berdasarkan Tabel 7 diketahui bahwa di Desa Mangunjaya masih banyak warga yang tidak bersekolah, yaitu sebanyak 444 orang (20,96 persen). Jumlah penduduk paling banyak terdapat pada tingkat pendidikan SD, yaitu sebanyak 706 orang (33,33) warga. Tingkat pendidikan paling tinggi adalah perguruan tinggi sebanyak 139 orang (6,56 persen). Hal ini menunjukkan bahwa di Desa Mangunjaya kesadaraan akan pentingnya pendidikan masih rendah.

Gambar

Tabel 5. Contoh Perhitungan Pendapatan Usahatani dan R/C Rasio per Hektar per   Tahun Tanaman Tahunan
Tabel 9 menunjukkan jenjang usia petani responden. Usia rata-rata  responden dari hasil penelitian dikelompokkan dalam tiga kelompok yaitu   responden berusia 21-30 tahun, 31-40 tahun, 41-50 tahun dan usia lebih dari 50  tahun
Tabel 15. Jenis Pupuk, Harga Pupuk dan Penggunaan Pupuk Rata-rata Petani  Berdasar Sistem Penjualan Periode Januari-April 2011
Tabel 16. Penerimaan Rata-rata per hektar Petani yang Memanfaatkan Sistem  Resi gudang Periode Januari-April 2011
+2

Referensi

Dokumen terkait

Jika di kemudian hari terbukti melakukan kecurangan/penyimpangan baik dalam pelaksanaan kerja magang maupun penulisan laporan kerja magang, maka saya bersedia menerima sanksi

dengan judul Perancangan Sistem Informasi Akuntansi Berbasis Komputer Pada Toko Listrik HTS Jaya Dengan Menggunakan Metode Rapid Application Development

Perairan Bantayan, Kota Dumaguete dan perairan Tanjung Merah berbeda letak geografis, tetapi sama-sama memiliki padang lamun, sehingga perlu dilakukan penelitian

pengujian rangkaian electromagnetic harvesting yang dilakukan terhadap Access Point didapatkan kesimpulan, bahwa pada jarak tertentu tegangan keluaran dari

KIMIA *terkontaminasi sanitizer pada tangan pekerja *dilakukan pengecekan secara berkala kualitas daging ayam *konta minasi penyi mpana n terlalu lama dan kondisi

Dari hasil penelitian dapat disarankan bahwa: (a) bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk mengkombinasikan antara Mind Mapping dengan variabel lain seperti model

penelitian ini dilakukan pengujian kekuatan geser restorasi resin komposit pada email gigi tetap setelah aplikasi asam fosfat 37% dengan durasi 5, 15 dan 25 detik. Alasan

S : ibu klien mengatakan anaknya tidak terlalu rewel O : kesadaran klien compos metris, GCS E4M5V5, klien dapat menjawab pertanyaan yang ditanyakan oleh perawat