POLA ASUH ANAK DI DESA PERLIS
(Studi Kasus di Desa Perlis, Kecamatan Berandan Barat, Kabupaten Langkat)
SKRIPSI
Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sosial Dalam Bidang Antropologi Sosial
Oleh
FARADILLA APRILIANA 150905007
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ANTROPOLOGI SOSIAL
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2020
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
PERNYATAAN ORIGINALITAS
POLA ASUH ANAK DI DESA PERLIS
(Studi Kasus di P.Berandan, Kecamatan Berandan Barat, Kabupaten Langkat, Desa Perlis)
SKRIPSI
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebut dalam daftar pustaka.
Apabila dikemudian hari terbukti lain atau tidak seperti yang saya nyatakan disini, saya bersedia diproses secara hukum dan siap meninggalkan gelar kesarjanaan saya.
Medan, Januari 2020 Penulis
Faradilla Apriliana
ABSTRAK
Faradilla Apriliana, 2020, Judul Skripsi Didikan Pola Asuh Anak di Desa Perlis (studi kasus di Desa Perlis, Kecamatan Brandan Barat, Kabupaten Langkat). Skripsi ini terdiri dari 6 Bab, 82 Halaman, 2 Gambar, 6 Tabel dan daftar Pustaka.
Peranan didikan pola asuh anak merupakan hal terpenting dalam pembentukan sikapdan tingkah laku anak, juga menentukan arah masa depan anak di kemudian hari. Tulisan ini mengkaji tentang gambaran didikan pola asuh di Desa Perlis, Kecamatan Brandan Barat, kabupaten Langkat. Selain itu, tulisan ini juga mendeskripsikan karakteristik masyarakat atau keluarga nelayan di Desa Perlis, dan kendala yang dihadapi keluarga Nelayan Desa Perlis dalam Mendidik Anak. Tujuan dalam penulisan ini adalah untuk mengetahui cara didikan anak di desa Perlis dan untuk mengetahu kendala dan hambatan yang dihadapi dalam mendidik dan mengasuh anak di desa Perlis.
Penulisan ini menggunakan metode pendekatan deskriptif kualitatif untuk mengungkap secara mendalam bagaimana pola didik Orang tua di Desa Perlis.
Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari 1) Subjek Penelitian yaitu 10 keluarga yang bekerja sebagai nelayan di Desa Perlis dan memiliki anak berusia 1 – 18 tahun; 2) Sumber Pustaka; dan 3) Wawancara dan Dokumentasi di lapangan.
Teknik analisis data menggunakan teknik analisis interaktif yang terdiri dari empat tahap yaitu: pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (verifikasi).
Hasil penelitian menggambarkan bahwa 1) Didikan pola asuh orang tua yang diterapkan pada anak nelayan tradisional di Desa Perlis Kecamatan Brandan Barat, Kabupaten Langkat adalah pola asuh otoriter dan pola asuh permisif dikarenakan rata – rata orang tua di Desa Perlis tidak terlalu membatasi anak dalam melakukan sesuatu dan tidak ada aturan-aturan khusus yang orang tua terapkan untuk anak dan 2) Kendala yang dihadapi keluarga nelayan Desa Perlis dalam mengasuh anak diantaranya adalah faktor lingkungan, pengetahuan orang tua dan keadaan ekonomi orang tua serta kurangnya waktu yang tersedia untuk mengasuh anak dikarenakan kesibukan yang dialami oleh orangtua pada keluarga nelayan Desa Perlis.
UCAPAN TERIMA KASIH
Alhamdulillah penulis ucapkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya berupa kesehatan, kemudahan, dan kelancaran dalam proses mengerjakan skripsi ini sehingga penulis dapat menyelesaikannya. Dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih Kepada Bapak Dr.
Muriyanto Amin, S.Sos, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara Medan, berkat bantuan dan fasilitas yang penulis peroleh di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, maka penulis dapat menyelesaikan studinya. Terima kasih kepada Bapak Dr.
Fikarwin Zuska sebagai Ketua Departemen Antropologi Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara Medan yang telah banyak memberikan bimbingan, nasehat dan juga motivasi kepada penulis baik selama kuliah maupun pada saat penulis menyelesaikan penulisan skripsi ini. Terima kasih kepada Bapak Drs. Agustrisno, M.SP sebagai Sekretaris Departemen Antropologi Sosial dan selaku Dosen Pembimbing dan Dosen Pembimbing Akademik, penulis mengucapkan terima kasih atas segala arahan, bimbingan, motivasi dan bantuan yang telah diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Saran dan kritik membangun yang diberikan kepada penulis sangat membantu dalam penyelesaian penulisan skripsi ini. Terima kasih Kepada seluruh staf pengajar Departemen Antropologi Sosial yang telah memberikan penulis banyak pengetahuan, pengalaman, pemahaman serta wawasan selama penulis menjadi mahasiswa. Terima kasih Kepada staf TU Departemen Antropologi Sosial, Kak Nur dan Kak Sri yang telah banyak membantu penulis
terutama masalah administrasi selama penulis menjadi mahasiswa. Terima kasih kepada kedua orang tua penulis, Ayahanda tercinta Haidir Spd dan Ibunda tercinta Nurhaida yang telah memberikan kasih dan sayangnya yang tiada henti kepada penulis selama ini. Motivasi, arahan dan pengorbanan yang telah Ayahanda dan Ibunda berikan sangat berarti bagi penulis dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini. Semoga Ayahanda dan Ibunda selalu dalam lindungan Allah SWT. Terima kasih kepada sahabat-sahabat terbaikku Aulia Rohani, Nurul Fadilla, Wela Sustika S,sos, dan Rahimah. Terima kasih kepada Teman-teman seperjuangan Penulis khususnya Mahasiswa Antropologi Sosial Angkatan 2015 yang telah melewati kebersamaan yang tak dapat dilupakan selama masa perkuliahan. Terima kasih kepada Riska maulana Indah dan Sri Widya Lestari yang selalu mendengarkan keluh kesah selama pengerjaan skripsi ini. Dan Terima kasih untuk Reza Fauzi yang selalu menemani dan mensuport dalam pengerjaan skripsi ini.
Akhirnya dengan kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih kepada semua yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini. Kiranya hanya Allah SWT yang dapat membalas segala kebaikan dan bantuan kalian.
Medan, Januari 2020 Penulis
Faradilla Apriliana
RIWAYAT HIDUP
Faradilla Apriliana lahir di P. Berandan pada tanggal 12 April 1998, anak ketiga dari pasangan suami istri Haidir S.Pd dan Nurhaida.
Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SD Muhammadiyah pada tahun 2004-2009, kemudian penulis menyelesaikan pendidikan menengah pertama di SMP Negeri 2 Babalan pada tahun 2010-2012, dan setelah itu penulis menyelesaikan pendidikan menengah atas di SMA Negeri 1 Babalan pada tahun 2013-2015, serta melanjutkan pendidikan strata satu dan lulus di Departemen Antropologi Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara pada tahun 2015 melalui jalur SNMPTN
Alamat email penulis: [email protected]
Berbagai kegiatan yang dilakukan selama masa kuliah adalah sebagai berikut:
1. Peserta inisiasi dalam kegiatan penyambutan Mahasiswa baru Departemen Antropologi Sosial FISIP USU tahun 2015
2. Terdaftar sebagai Anggota Himpunan Mahasiswa Departemen Antropologi (INSAN) tahun 2015
3. Peserta Seminar Sosialisasi Pilkada Kota Medan „‟Mahasiswa Sebagai Agen Pensukses Pesta Demokrasi‟‟ pada tanggal 24 November 2015
4. Mengikuti Pelatihan „‟Training Of Facilitator‟‟ (TOF) Pengembangan Masyarakat Angkatan ke X oleh Departemen Antropologi Sosial FISIP USU yang dilaksanakan di Hotel Grand Central pada tanggal 21 Mei 2017 5. Peserta Seminar dan Talkshow „‟Generasi Milenial Unggul dan
Berprestasi Tanpa Narkoba‟‟ pada tanggal 21 Oktober 2018
6. Melakukan PKL/Magang di Badan Lingkungan Hidup selama satu setengah bulan yang diikuti seluruh Mahasiswa Antropologi Sosial stambuk 2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini. Shalawat beriring salam senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabatnya. Penulisan skripsi ini adalah salah satu syarat yang harus dipenuhi mahasiswa untuk mendapatkan gelar Sarjana pada Program Studi Antropologi Sosial Departemen Antropologi Sosial Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
Adapun judul dalam penulisan skripsi ini adalah „‟ POLA ASUH ANAK DI DESA PERLIS (Studi Kasus di Pangkalan Berandan, Kecamatan Berandan Barat, Kabupaten Langkat, Desa Perlis) dalam penulisan skripsi ini penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kata kesempurnaan, maka dari itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari para pembaca agar skripsi ini dapat lebih baik lagi. Penulis mengharapkan semoga skripsi ini memberikan manfaat bagi kita semua. Amin.
Medan, Januari 2020
Penulis
Fardilla Apriliana
DAFTAR ISI
HALAMAN PENGESAHAN HALAMAN PERSETUJUAN
PERNYATAAN ORIGINALITAS ... i
ABSTRAK ... ii
UCAPAN TERIMAKASIH ... iii
RIWAYAT HIDUP ... iv
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR GAMBAR ... vii
DAFTAR TABEL ... viii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Tinjauan Pustaka ... 8
1.2.1 Pola Asuh Orang Tua ... 8
1.2.2 Pengasuhan Anak ... 10
1.2.3 Peranan Keluarga dalam Membentuk Kepribadian Anak ... 12
1.2.4 Gambaran Pola Asuh Pada Masyarakat Pesisir (Nelayan) ... 13
1.2.5 Kendala yang dihadapi Keluarga Nelayan Dalam Mendidik dan Mengasuh Anak ... 15
1.3 Rumusan Masalah ... 18
1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 18
1.5 Metode Penelitian ... 19
1.5.1 Jenis Penelitian ... 19
1.5.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 20
1.5.3 Sumber Data ... 21
1.5.4 Definisi Operasional... 22
1.6 Metode Pengumpulan Data ... 23
1.7 Metode Pengolahan Data dan Analisa Data ... 24
1.7.1 Pengolahan Data ... 24
1.7.2 Analisa Data ... 25
BAB II GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN ... 26
2.1 Sejarah Desa Perlis ... 26
2.2 Kondisi Geografis Desa Perlis ... 29
2.3 Jumlah Penduduk Desa Perlis ... 30
2.4 Kondisi Rumah di Desa Perlis ... 31
2.5 Mata Pencaharian di Desa Perlis ... 32
2.6 Pendidikan di Desa Perlis... 34
2.7 Kebiasaan atau Tradisi Sosial Budaya Desa Perlis ... 35
BAB III KARAKTERISTIK KELUARGA NELAYAN DI DESA PERLIS ... 38
4.1 Pola Konsumsi di Desa Perlis ... 41
4.2 Cara Berpakaian di Desa Perlis ... 45
BAB IV DIDIKAN POLA ASUH ANAK DI KELUARGA DESA PERLIS ... 47
4.3 Didikan Pola Asuh Anak di Desa Perlis ... 47
4.4 Larangan Anak di Desa Perlis ... 52
4.5 Gaya Komunikasi di Desa Perlis... 55
4.6 Kondisi Sosial Budaya Terkait Pendidikan Anak Nelayan Di Desa Perlis ... 59
4.7 Kendala yang dihadapi keluarga Nelayan Desa Perlis dalam Mendidik Anak ... 68
BAB V ANALOGI POLA ASUH KELUARGA NELAYAN DESA PERLIS ... 73
BAB VI PENUTUP ... 77
6.1 Kesimpulan ... 77
6.2 Saran ... 78
DAFTAR PUSTAKA ... 81
DAFTAR GAMBAR
Halaman 1. Kondisi Lingkungan dan Rumah di Desa Perlis ... 31 2. Kondisi beberapa Anak di Desa Perlis ... 41 3. Sebagian Anak ikut orang tua mencari ikan dan beberapa informan yang
akan diwawancarai di Desa Perlis ... 41
DAFTAR TABEL
Halaman
1. Jumlah Penduduk Desa Perlis ... 30
2. Jumlah Penduduk Desa Perlis Menurut Mata Pencaharian... 32
3. Komposisi Nelayan Desa Perlis Menurut Tingkat Pendidikan ... 34
4. Kualitas Angkatan Kerja Desa Perlis ... 35
5. Perbedaan Pola Asuh Keluarga Nelayan Desa Perlis ... 78
6. Persamaan Pola Asuh Keluarga Nelayan Desa Perlis ... 79
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Keluarga merupakan pendidikan primer sebelum seorang anak mendapatkan pendidikan di lembaga lain. Pada institusi atau kelompok primer primer inilah seorang anak mengalami pengasuhan. Menurut Cooley (dalam Soekanto, 2002:125), kelompok primer adalah kelompok – kelompok yang ditandai dengan ciri – ciri kenal mengenal. Keluarga sebagai kelompok pertama yang dikenal individu sangat berpengaruh secara langsung terhadap perkembangan individu sebelum maupun sesudah terjun langsung secara individu dalam masyarakat. Oleh karena itu, keluarga mempunyai beberapa fungsi yang sangat penting dalam diri individu yang meliputi pemberian afeksi atau respon;
dukungan dan hubungan untuk bereproduksi dan membesarkan keturunannya (anak); meneruskan dan melestarikan nilai – nilai dan norma – norma budaya yang ada di dalam masyarakat.
Keluarga1 sebagai salah satu dari tri pusat pendidikan bertugas membentuk kebiasaan-kebiasaan (habits formation) yang positif sebagai fondasi yang kuat dalam pendidikan informal. Dengan pembiasaan tersebut anak – anak akan mengikuti dan menyesuaikan diri bersama keteladanan orang tuanya. Dengan demikian anak bersosialisasi yang positif di dalam keluarga (Gunawan, 2000:45).
1 Pengertian keluarga berdasarkan asal-usul kata yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara (Abu & Nur, 2001:176), bahwa keluarga berasal dari bahasa Jawa yang terbentuk dari dua kata yaitu kawula dan warga.
Pengertian keluarga berdasarkan asal – usul kata yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara (Abu & Nur, 2001:176), adalah bahwa keluarga berasal dari bahasa Jawa yang terbentuk dari dua kata yaitu kawula dan warga. Di dalam bahasa Jawa kuno kawula berarti hamba dan warga artinya anggota. Secara bebas dapat diartikan bahwa keluarga adalah anggota hamba atau warga saya. Artinya setiap anggota dari kawula merasakan sebagai satu kesatuan yang utuh sebagai bagian dari dirinya dan dirinya juga merupakan bagian dari warga yang lainnya secara keseluruhan.
Keluarga adalah lingkungan dimana beberapa orang yang masih memiliki hubungan darah dan bersatu. Keluarga didefinisikan sebagai sekumpulan orang yang tinggal dalam satu rumah yang masih mempunyai hubungan kekerabatan/hubungan darah karena perkawinan, kelahiran, adopsi dan lain sebagainya. Keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak anak yang belum menikah disebut keluarga batih. Sebagai unit pergaulan terkecil yang hidup dalam masyarakat, keluarga batih mempunyai peranan – peranan tertentu, yaitu (Soekanto Soerjono, 2004:23): (a) Sebagai pelindung bagi pribadi – pribadi yang menjadi anggota, dimana ketentraman dan ketertiban diperoleh dalam wadah tersebut; (b) Merupakan unit sosial – ekonomis yang secara materil memenuhi kebutuhan anggotanya; (c) Menumbuhkan dasar – dasar bagi kaidah – kaidah pergaulan hidup; (d) Merupakan wadah dimana manusia mengalami proses sosialisasi awal, yakni suatu proses dimana manusia mempelajari dan mematuhi kaidah – kaidah dan nilai – nilai yang berlaku dalam masyarakat.
Keluarga pada dasarnya merupakan suatu kelompok yang terbentuk dari suatu hubungan biologis yang tetap, untuk menyelenggarakan hal – hal yang berkenaan dengan keorangtuaan dan pemeliharaan anak. Adapun ciri-ciri umum keluarga yaitu: (a) Keluarga merupakan hubungan perkawinan; (b) Susunan kelembagaan yang berkenaan dengan hubungan perkawinan yang sengaja dibentuk dan dipelihara; (c) Suatu sistim tata nama, termasuk perhitungan garis keturunan; (d) Ketentuan – ketentuan ekonomi yang dibentuk oleh anggota – anggota kelompok yang mempunyai ketentuan khusus terhadap kebutuhan – kebutuhan ekonomi yang berkaitan dengan kemampuan untuk mempunyai keturunan dan membesarkan anak dan (e) Merupakan tempat tinggal bersama, rumah atau rumah tangga yang walau bagaimanapun, tidak mungkin menjadi terpisah terhadap kelompok kelompok keluarga.
Hubungan keluarga merupakan suatu ikatan dalam keluarga yang terbentuk melalui masyarakat. Ada tiga jenis hubungan keluarga yang dikemukakan oleh Robert R. Bell (Ihromi, 2004: 91), yaitu:
a. Kerabat dekat (conventional kin) yaitu terdiri dari individu yang terikat dalam keluarga melalui hubungan darah, adopsi dan atau perkawinan, seperti suami istri, orang tua – anak, dan antar – saudara (siblings).
b. Kerabat jauh (discretionary kin) yaitu terdiri dari individu yang terikat dalam keluarga melalui hubungan darah, adopsi dan atau perkawinan, tetapi ikatan keluarganya lebih lemah daripada keluarga dekat. Anggota kerabat jauh kadang – kadang tidak menyadari adanya hubungan keluarga tersebut. Hubungan yang terjadi di antara mereka biasanya karena kepentingan pribadi dan bukan karena
adanya kewajiban sebagai anggota keluarga. Biasanya mereka terdiri atas paman dan bibi, keponakan dan sepupu.
c. Orang yang dianggap kerabat (fictive kin) yaitu seseorang dianggap anggota kerabat karena ada hubungan yang khusus, misalnya hubungan antar teman akrab.
Erat – tidaknya hubungan dengan anggota kerabat tergantung dari jenis kerabatnya dan lebih lanjut dikatakan Adams, bahwa hubungan dengan anggota kerabat juga dapat dibedakan menurut kelas sosial (Ihromi, 2004:99). Hubungan dalam keluarga bisa dilihat dari (1) Hubungan suami – istri, hubungan ini pada keluarga yang institusional ditentukan oleh faktor – faktor di luar keluarga seperti:
adat, pendapat umum, dan hukum; (2) Hubungan orangtua – anak, secara umum kehadiran anak dalam keluarga dapat dilihat sebagai faktor yang menguntungkan orangtua dari segi psikologis, ekonomis dan sosial; (3) Hubungan antar – saudara (siblings) yang bisa dipengaruhi oleh jenis kelamin, umur, jumlah anggota keluarga, jarak kelahiran, rasio saudara laki – laki terhadap saudara perempuan, umur orang tua pada saat mempunyai anak pertama, dan umur anak pada saat mereka ke luar dari rumah.
Hubungan keluarga yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah hubungan orang tua dan anaknya. Secara umum kehadiran anak dalam keluarga dapat dilihat sebagai faktor yang menguntungkan orang tua dari segi psikologis, ekonomis dan sosial. Secara psikologis orang tua akan bangga dengan prestasi yang di miliki anaknya, secara ekonomis, orang tua menganggap anak adalah
masa depan bagi mereka, dan secara sosial mereka telah dapat dikatakan sebagai orang tua.
Keberhasilan seorang anak dalam hubungan sosialnya tergantung dari pola pengasuhan 2 yang diterapkan orang tua dalam keluarga. Pada umumnya pengasuhan diwujudkan dalam bentuk merawat, memelihara, mengajar, dan membimbing anak (Ahmadi, 2009:239). Mendidik dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk mengantarkan anak didik ke arah kedewasaan baik secara jasmani maupun rohani. Oleh karena itu mendidik dikatakan sebagai upaya pembinaan pribadi,sikap mental dan akhlak anak didik. Merawat/Memelihara memiliki satu arti, merawat berasal dari kata dasar rawat dan memiliki arti dalam kelas verba atau kata kerja sehingga merawar dapat menyatakan suatu tindakan, keberadaan, pengalaman, atau pengertian dinamis lainnya. Mengajar adalah menyampaikan pengetahuan pada anak didik yang pada dasarnya merupakan kegiatan akademik yang berupa interaksi komunikasi antara pendidik dan peserta didik. Membimbing jika ditinjau dari segi isi, maka membimbing berkaitan dengan norma dan tata tertib.
Sa‟diyah (2014:51) mengemukakan bahwa pola didikan/pengasuhan anak dalam sebuah keluarga dipengaruhi oleh umur Kepala Keluarga (KK) dan istri, usia saat menikah, status pekerjaan istri, jenis pekerjaan utama, besarnya keluarga, pendapatan keluarga, usia anak, jenis kelamin anak dan nomor urut anak dalam keluarga. Salah satu kebiasaan – kebiasaan yang sering kali dilakukan orang tua
2 Casmini (2007:3) menyebutkan bahwa: Pola asuh sendiri memiliki definisi bagaimana Orang tua memperlakukan anak, mendidik, membimbing, dan mendisiplinkan serta melindungi anak dalam mencapai proses kedewasaan, hingga kepada upaya pembentukan norma-norma yang diharapkan oleh masyarakat pada umumnya.
dan diajarkan ke anak adalah seperti menjaga kebersihan, makan makanan sehat, mandiri, senyum dan bersalaman, menabung, berdoa (beribadah) dan menyapa atau menghormati orang yang lebih tua.
Gunarsa (2000:6) menyebutkan bahwa tingkat pendidikan Orang tua akan berpengaruh terhadap cara, pola dan kerangka berfikir, persepsi, pemahaman dan kepribadian Orang tua tersebut yang secara langsung atau tidak akan mempengaruhi pola komunikasi antara Orang tua dan anak dalam lingkungan keluarga.
Seorang anak 3 di sebuah keluarga akan dididik menurut nilai budaya dan agama yang diyakini oleh kedua Orang tuanya. Proses sosialisasi nilai budaya dan agama tersebut dapat dilakukan melalui komunikasi verbal maupun komunikasi non verbal antara Orang tua dan anak. Gunarsa (2000:4) menunjukkan bahwa dalam berinteraksi dengan anak, Orang tua dengan tidak sengaja atau tanpa disadari mengambil sikap tertentu. Anak melihat dan menerima sikap Orang tuanya dan memperhatikan suatu reaksi dalam tingkah lakunya yang dibiasakan, sehingga akhirnya menjadi suatu pola kepribadian.
Seorang ibu juga bisa menjadi salah satu pembentuk pribadi anak, dalam artian bahwa ia mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap pembentukan pola tingkah laku dan penanaman moral pada anak. Sudah menjadi tradisi bahwa tiap kali seorang anak bertindak salah, maka masyarakat pertama kali akan menimpakan kesalahan tersebut pada ibunya, bagaimana cara ibunya mendidik
3 Pengertian anak berdasarkan Pasal 1 ayat (1) UU No 23 Tahun 2002 tentang
anak. Memang dari gambaran di atas terlihat jelas bahwa tugas seorang ibu cukup berat, dan lebih berat lagi apabila anak – anaknya telah menginjak dewasa.
Dalam kehidupan keluarga, ayah dan ibu mempunyai peranan yang sangat penting dalam mendidik anak. Namun, jika ayah sibuk bekerja, ibulah yang menjadi pendidik utama di dalam keluarga. Di masa depan setiap anak akan tergantung pada ibunya, sebagian nasib anak ditentukan oleh keputusan ibu selama membesarkannya. Dengan kata lain, seorang ibu mempunyai peranan yang dominan dalam membentuk karakter atau kepribadian anaknya. Oleh karena itu, seorang ibu harus mempunyai pengetahuan yang cukup tentang bagaimana cara mendidik anak dengan mempertimbangkan dan memperhatikan perkembangan jiwa anak secara baik dan tepat.
Mayoritas Orang tua di desa Perlis bekerja sebagai nelayan, sedangkan ibu-ibu di desa Perlis bekerja sebagai buruh cuci, pembuat terasi dan buruh nelayan guna untuk menambah pendapatan keluarga. Secara geografis, masyarakat nelayan adalah masyarakat yang hidup, tumbuh dan berkembang di kawasan pesisir, yakni suatu kawasan transisi antara wilayah darat dan laut (Kusnadi, 2009). Menurut Imron dalam Mulyadi (2005), nelayan adalah suatu kelompok masyarakat yang kehidupanya tergantung langsung pada hasil laut, baik dengan cara melakukan penangkapan ataupun budidaya. Seperti masyarakat pesisir yang lainnya, masyarakat di desa Perlis menghadapi sejumlah masalah antara lain pendidikan, kesenjangan sosial dan tekanan – tekanan ekonomi yang datang setiap saat. Oleh karena itu rata – rata keluarga nelayan di Desa perlis mengaharapkan sumber pendapatan hanya dari hasil laut.
Berdasarkan informasi dari Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Desa perlis, waktu yang dibutuhkan seorang nelayan untuk mencari ikan bervariasi, ada yang melau dalam waktu satu hari, tiga hari, dan bahkan lebih.
Tetapi sebagian masyarakat nelayan di desa Perlis melaut satu hari sudah cukup, mereka berangkat dari pukul 05.00 WIB dan pulang pukul 16.00 WIB. Pada kondisi demikian mengharuskan ibu atau istri mengerjakan pekerjaan rutinitas rumah dan ada juga yang bekerja sebagai profesi tambahan untuk membantu pendapatan suami. Maka dari kesibukannya hilanglah peranan yang sangat penting dalam mengelola, membina rumah tangga dan sekaligus mengasuh anak, karena tidak mempunyai banyak waktu luang untuk berkumpul dengan keluarga bahkan dengan anak. Ditambah lagi dengan minimnya pengetahuaan Orang tua dalam pembentukan karakter, jasmani dan perkembangan anak.
Rata – rata nelayan memiliki waktu 13 jam di rumah, dikarenakan pukul 05.00 WIB mereka sudah berangkat melaut, hal inilah yang menjadi faktor kebersamaan Orang tua terhadap keluarga khususnya anak mereka menjadi kurang. Anggapan Orang tua yang penting materi tercukupi berarti Orang tua sudah melaksanakan kewajibannya. Masalah pendidikan dan kebutuhan psikis lainnya kurang diperhatikan, hal ini menyebabkan rata – rata pendidikan anak nelayan masih relatif rendah dan mereka lebih suka mengikuti jejak ayahnya sebagai nelayan.
Berdasarkan uraian tersebut di atas maka penulis mengambil judul skripsi
“Didikan Pola Asuh Anak di Desa Perlis (studi kasus di Desa Perlis, Kecamatan Brandan Barat, Kabupaten Langkat)”. Dengan fokus penelitian cara mendidik anak dalam keluarga. Karena mendidik itu mempengaruhi kepribadian diri seseorang.
1.2 Tinjauan Pustaka 1.2.1 Pola Asuh Orang tua
Pada zaman ini menuntut manusia tidak hanya cerdas dalam intelektual namun juga berkarakter. Sebab karakter sebagai kepribadian khusus yang menjadi pendorong dan penggerak dan yang membedakan dengan individu yang lain.
Adapun terbentuknya suatu karakter tidak semudah membalikkan telapak tangan, memerlukan proses yang relatif lama dan terus – menerus. Karakter seseorang dibentuk melalui pendidikan karakter.4 Pendidikan karakter yang utama dan pertama bagi anak adalah lingkungan keluarga. Di dalam lingkungan keluarga, seorang anak akan mempelajari dasar – dasar perilaku yang penting bagi kehidupannya kemudian karakter dipelajari anak melalui model para anggota keluarga yang ada disekitar terutama Orang tua.
Model perilaku Orang tua secara langsung maupun tidak langsung akan dipelajari dan ditiru anak. Orang tua sebagai lingkungan terdekat yang selalu mengitarinya dan sekaligus menjadi figur idola anak yang paling dekat. Bila anak melihat kebiasaan baik dari Orang tuanya maka dengan cepat mencotohnya,
4 Menurut Kementerian Pendidikan Nasional (2010:4) pendidikan karakter dimaknai sebagai pendidikan yang mengembangkan dan karakter bangsa pada diri peserta didik sehingga mereka memiliki nilai dan karakter sebagai karakter dirinya, menerapkan nilai – nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota masyarakat, dan warganegara yang religius, nasionalis, produktif dan kreatif
demikian sebaliknya bila Orang tua berperilaku buruk maka akan ditiru perilaku oleh anak – anak. Anak meniru bagaimana Orang tua bersikap, bertutur kata, mengekspresikan harapan, tuntutan dan kritikan satu sama lain, menanggapi dan memecahkan masalah dan mengungkapkan perasaan dan emosinya. Model perilaku yang baik akan membawa dampak baik bagi perkembangan anak demikian juga sebaiknya.
Pola asuh/Pola didik terdiri dari dua kata yaitu pola dan asuh/ddik.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pola berarti corak, model, sistem, cara kerja, bentuk (struktur) yang tepat. Sedangkan kata asuh/didk memiliki arti menjaga (merawat dan mendidik) anak kecil, membimbing (membantu, melatih, dan sebagainya), dan memimpin (mengepalai dan menyelenggarakan) satu badan atau lembaga. Pola asuh juga bisa dikatakan dengan pola didik.
Menurut Habibah Toha (dalam Mahmud, 2013:150) menyebutkan bahwa Pola Asuh atau Pola didik merupakan sikap orang tua dalam berhubungan dengan anak – anaknya dengan metode atau cara yang dipilih orang dalam mendidik anak – anaknya. Pola asuh/pola didik pada prinsipnya parental control yaitu bagaimana orang tua mengontrol, membimbing, dan mendampingi anak – anaknya untuk melaksanakan tugas – tugas perkembangannya menuju pada proses pendewasaan”. Maksudnya adalah bahwa orang tua memiliki peranan yang penting dalam membimbing dan mendampingi anak – anaknya agar dapat tumbuh kembang sesuai dengan perkembangannya. Dalam penelitian Baumrind (dalam Agoes Dariyo, 2007:214) ditemukan bahwa pola asuh/pola didik yang efektif
untuk mengembangkan kepribadian diri ditandai dengan komunikasi dua arah antara orang tua dan anak – anaknya.
1.2.2 Peranan Keluarga dalam Membentuk Kepribadian Anak
Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi anak untuk membentuk kepribadian dan mencapai tugas – tugas perkembangannya, bahkan peranan orang tua mempunyai peran penting dalam mempengaruhi anak sejak awal (Dagun, 2002:98) “ayah dan ibu sejak awal dapat mempengaruhi perkembangan mental bayinya. Salah satu ungkapan penting dalam hal ini adalah melalui rangsangan langsung, seperti membelai, mengajak berbicara, dan bermain”. Jadi keluarga sebagai lingkungan pertama dan utama, dimana anak berinteraksi dalam mengembangkan kepribadian anak, merupakan faktor yang sangat mendukung untuk mempersiapkan anak menjadi pribadi dan anggota masyarakat yang baik.
Sebagai orang tua harus memahami benar apa yang dimaksud dengan polaasuh karena dengan pola asuh yang benar anak akan dibentuk menjadi karakter yang diinginkan atau diharapkan, seperti tokoh sebagai berikut Dorothy Law Nolte dengan judul “Anak Belajar dari Kehidupannya”(2009:34):
“Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia akan belajar memaki / Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia akan belajar rendah diri / Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia akan belajar menahan diri / Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia akan belajar menghargai / Jika anak dibesarkan dengan sebaik – baiknya perlakuan, ia akan belajar keadilan / Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia akan belajar menaruh kepercayaan / Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia akan belajar menghargai dirinya / Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, maka ia akan belajar menemukan cinta dalam kehidupan”.
Jadi dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa ada hubungan timbal balik, antara bagaimana orang tua mengasuh anak dengan apa yang diperbuat anak. Atau ibaratnya apa yang orang tua tabur itulah yang nanti akan dituai. Peran keluarga dalam mengasuh anak mempunyai peranan yang besar karena dengan keluarga, anak dibentuk menjadi karakter yang kelak akan dibawa ke lingkungan masyarakat dan sekolah. Keluarga merupakan tempat pertama dan utama bagi pendidikan karakter anak. Apabila keluarga gagal melakukan pendidikan karakter pada anak-anaknya, maka akan sulit bagi institusi – institusi lain di luar keluarga (termasuk sekolah) untuk memperbaikinya. Kegagalan keluarga dalam membentuk karakter anak akan berakibat pada tumbuh perkembangan anak di masyarakat. yang tidak berkarakter.
1.2.3 Gambaran Pola Asuh Pada Masyarakat Pesisir (Nelayan)
Pola asuh merupakan rencana awal kegiatan pendidikan dan penentuan karakter seseorang guna mencapai tujuan hidup, dan diharapkan melalui perencanaan awal tersebut maka perjalanan untuk memperoleh pendidikan dan karakter anak menjadi lebih baik sesuai norma di lingkungan masyarakat. Di lingkungan keluarga nelayan memerintah atau menyuruh anaknya untuk berbicara sopan, menghormati orang yang lebih tua, ramah dan baik kepada semua orang merupakan sebagai modal penanaman nilai – nilai moral yang merupakan bekal untuk si anak kelak agar berkelakuan baik.
Masyarakat pesisir yang identik dengan nelayan merupakan bagian dari masyarakat terpinggirkan yang masih terus bergulat dengan berbagai persoalan kehidupan, baik ekonomi, sosial, pendidikan, kesehatan, maupun budaya. Kondisi
kehidupan mereka selalu dalam kondisi yang memprihatinkan, terutama secara ekonomi. Dengan penghasilan yang selalu tergantung pada kondisi alam. Kondisi alam tersebut yang membuat sulit bagi mereka untuk merubah kehidupannya menjadi lebih baik. Kondisi yang memprihatinkan tersebut yang menyebabkan rendahnya kemampuan dan ketrampilan masyarakat pesisir sehingga membuat mereka hidup dalam kemiskinan (Winengan, 2007).
Orangtua yang hidup dalam kemiskinan yaitu rumah kumuh, kehilangan pekerjaan, susah cari makan, dan yang merasa tidak dapat mengontrol kehidupan cendrung menjadi cemas, tertekan dan lekas marah. Orangtua akan menjadi kurang mengasihi dan mendidik anak – anaknya, kurang responsif, kasar yang berlebihan. Mereka juga cenderung mengabaikan perilaku yang baik dan hanya memperhatikan perilaku yang salah. Dampaknya, sang anak akan tertekan, kesulitan bermain dengan teman sabayanya, kurang percaya diri, memiliki masalah perilaku, dan terlibat dalam tindakan antisosial (Brooks – Gunn et al, 1998 dalam Papalia dkk, 2008). Akan tetapi, gambaran suram tersebut tidak baku, ada juga orangtua yang mengalami kemiskinan namun ia merawat anaknya dengan baik, mengasuh anak secara efektif (Ackerman dkk, 1999 dalam Papalia, 2008).
Fenomena keseharian masyarakat pesisir yang terlihat yaitu anak lelaki maupun wanita secara lebih dini terlibat dalam proses pekerjaan nelayan dari mulai persiapan orangtua mereka untuk ke laut sampai dengan menjual hasil tangkapan. Hal ini tentunya berimplikasi kepada kelangsungan pendidikan anak- anaknya (Pengemanan, 2002). Pada umumnya rumah tangga nelayan tidak
memiliki perencanaan yang matang untuk pendidikan anak – anaknya. Pendidikan bagi sebagian besar rumah tangga masyarakat pesisir masih menjadi kebutuhan nomor sekian dalam rumah tangga. Dapat dikatakan bahwa antusias terhadap pendidikan di masyarakat nelayan relatif masih rendah (Anggraini, 2000).
Di kalangan keluarga nelayan tradisional, mempekerjakan anak – anak untuk ikut membantu orang tua mencari nafkah dalam usia dini adalah hal yang biasa, sehingga jangan kaget jika anak – anak mereka pun rata – rata tidak sempat menyelesaikan pendidikan hingga jenjang yang setinggi – tingginya (Sudarso, 2005). Anak – anak di tuntut untuk ikut mencari nafkah, menanggung beban kehidupan rumah tangga, dan mengurangi beban tanggung jawab orang tuannya (Fathul, 2002). Di lingkungan komunitas masyarakat pesisir pantai, peran istri dan anak – anak dalam membantu ekonomi keluarga umumnya besar, dan bahkan tidak jarang menjadi sumber utama pemasukan keluarga (Sudarso, 2005).
1.2.4 Kendala yang dihadapi Keluarga Nelayan Dalam Mendidik dan Mengasuh Anak
Pada umumnya, masyarakat nelayan atau masyarakat pesisir merupakan kelompok masyarakat yang relatif tertinggal secara ekonomi, sosial (khususnya dalam hal akses pendidikan dan layanan kesehatan), dan kultural dibandingkan dengan kelompok masyarakat lain. Kegiatan usaha perikanan tangkap merupakan aktivitas ekonomi yang kompleks karena melibatkan banyak pihak yang saling terkait secara fungsional dan substansial. Sekurang – kurangnya pihak – pihak tersebut adalah (1) nelayan juragan (pemilik perahu dan alat tangkap), (2) nelayan pekerja/miskin (belah), (3) pedagang ikan, (4) pemilik toko, yang menjadi
pemasok kebutuhan hidup nelayan atau kebutuhan melaut, seperti bahan bakar, jaring, lampu, dan peralatan teknis lainnya. 5
Di antara mereka terikat oleh jaringan patronklien karena mereka saling bergantung dan saling membutuhkan. Individu – individu yang hidup di dalam masyarakat tertentu akan mengalami proses pendewasaan diri yang berbeda dengan individu yang hidup dalam masyarakat lain, karena proses sosialisasi dan enkulturasi ditentukan oleh susunan kebudayaan dan lingkungan sosial dari individu yang bersangkutan. Hal di atas sesuai dengan teori Koenjaraningrat (1997:43) yang mengatakan bahwa keluarga batih merupakan kelompok di mana individu, waktu masih kanak-kanak, masih belum berdaya, mendapat pengasuhan dan permulaan dari pendidikannya. Masyarakat manapun, keluarga merupakan jembatan antara individu dengan budayanya. Fungsi utama pengasuhan anak adalah mempersiapkan seorang anak untuk menjadi warga masyarakat.
Secara umum Orang tua terutama pada keluarga nelayan (nelayan buruh) dituntut memahami arti pentingnya pembagian peran orangtua dalam mengasuh dan mendidik anak dimana orangtua dituntut untuk bekerja keras memenuhi kebutuhan keluarga sehingga orangtua harus pandai – pandai membagi waktu antara waktu untuk bekerja dengan waktu untuk anak. Istri nelayan juga terpaksa harus ikut pula bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari – hari, karena jika hanya mengandalkan dari penghasilan suami tentu saja masih sangat kurang.
Penghasilan suami yang hanya sebagai nelayan (nelayan buruh) sangat kecil dengan cara kerja yang sulit yaitu suami berangkat melaut pada sore hari dan
5 Agung Wahyudin dan Pambudi. H, Pola Asuh Orang Tua Nelayan dalam Membimbing Anak di Desa Campurejo Kecamatan Panceng Kabupaten Gresik. (Surabaya: Universitas Negeri Surabaya, 2014), Jurnal Volume 02 Nomor 01. hlm. 4.
baru pulang pada pagi hari, bahkan kadangkala sampai berminggu – minggu menjadikan masalah tersendiri bagi mereka. Orang tua dan masyarakat menganggap biasa jika seorang anak bekerja pada masyarakat nelayan karena menurut mereka sudah tradisi kalau orang tuanya nelayan maka anaknya pun akan menjadi nelayan kelak. Jadi menurut orang tua biarlah sejak kecil anak terbiasa bekerja dilaut agar nantinya anak lebih terampil lagi. Tak bisa dipungkiri, anak nelayan menjadi nelayan adalah realitas kehidupan komunitas nelayan.
Namun sebagai orangtua, tentu saja mereka mengusahakan yang terbaik untuk anak – anak mereka agar semua kebutuhan mereka dapat tercukupi. Seiring dengan berjalannya waktu, tidak selamanya akan berjalan mulus dan lancar. Tidak jarang juga dalam setiap keluarga mengalami masalah, demikian juga yang terjadi pada keluarga nelayan. Tidak jarang pula mereka kadang kadang bertengkar dan hal yang mereka debatkan kadang hanyalah masalah masalah kecil. Namun, tidak jarang pula kadang sampai membesar. Masalah yang umumnya mereka ributkan biasanya masalah ekonomi dan anak. Dalam hal ekonomi biasanya istri meminta kejujuran dari suami mengenai penghasilan harian yang mereka dapatkan hari itu.
Hal ini biasanya dikarenakan ketidakjujuran suami dalam memberikan sebagian penghasilan.
1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas, maka permasalahan yang dirumuskan adalah:
1. Bagaimana cara orang tua di Desa Perlis dalam mendidik anak-anaknya?
2. Bagaimana kendala atau hambatan yang dihadapi dalam mendidik dan mengasuh anak di desa Perlis?
1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian
Adapaun tujuan penelitian yang ingin dicapai adalah:
1. Untuk mengetahui cara didikan anak di desa Perlis.
2. Untuk mengetahui kendala dan hambatan yang dihadapi dalam mendidik dan mengasuh anak di desa Perlis.
Selain tujuan di atas, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan informasi umum bagi masyarakat, terutama masyarakat nelayan tentang arti pentingnya peran Orang tua dalam mendidik anak, sehingga ada saling pengertian dari Orang tua mengenai pembagian peran dalam mendidik dan mengasuh anak. Dengan pembagian peran dan kerja yang telah disepakati bersama, diharapkan anak akan tetap mendapatkan perhatian, pengawasan dan bimbingan dari Orang tua. Hal ini dapat dijadikan sebagai masukan bagi Orang tua, masyarakat dan instansi terkait sebagai bahan pertimbangan untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi perkembangan ilmu pengetahuan sosial, khususnya bidang antropologi,
menambah pengetahuan dan wawasan, serta dapat memberikan informasi untuk penelitian selanjutnya. Selain itu hasil penelitian ini juga dapat digunakan untuk menambah referensi bagi yang tertarik dengan kajian – kajian mengenai keluarga, terutama pada keluarga nelayan dalam pola pengasuhan anak khususnya mahasiswa FISIP Universitas Sumatera Utara.
1.5 Metode Penelitian 1.5.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk mengungkap secara mendalam bagaimana pola didik Orang tua di Desa Perlis.
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif, penelitian deskriptif bertujuan mendiskrisipkan atau menjelaskan tentang suatu hal seperti apa adanya.
Penelitian deskriptif dapat dikategorikan sebagai suatu penelitian yang menelaah atau menggambarkan tentang suatu objek, keadaan sosial, dan masalah yang lebih umum dan luas (Sugiyono, 2013:3).
Metode kualitatif ini digunakan karena beberapa pertimbangan. Pertama menyesuaikan metode kualitatif lebih mudah apabila berhadapan dengan kenyataan. Kedua, metode ini menyajikan secara langsung hakekat hubungan antara peneliti dengan informan dan ketiga, metode ini lebih peka dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan banyak penajaman pengaruh bersama dan pola-pola nilai yang dihadapi. Bogdan dan Taylor dalam Moleong (2004:3) penelitan kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata – kata tertulis atau lisan dari orang – orang dan perilaku yang dapat diamati.
kata, gambar, dan bukan angka. Sesuai dengan latar belakang di atas, maka peneliti menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk mengungkap secara mendalam pola asuh yang diterapkan dalam mendidik anak dan keluarga di Desa Perlis.
1.5.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penentuan lokasi penelitian dimaksudkan untuk memperjelas perumusan yang akan diteliti. Metode yang digunakan dalam penentuan lokasi penelitian ini adalah purposive sampling dengan asumsi, di dalam penentuan sample penelitian didasarkan pada tujuan yang hendak dicapai. Adapun penelitian ini dilakukan di Desa Perlis, Kecamatan Brandan Barat, Kabupaten Langkat, Propinsi Sumatera Utara. Sedangkan waaktu penelitian direncanakan akan dilaksanakan pada bulan Juni 2019 – Agustus 2019. Penulis memilih lokasi tersebut dengan peertimbangan sebagai berikut:
1. Mayoritas masyarakat Desa Perlis adalah nelayan tradisional;
2. Tersedianya data dan fakta yang diperlukan dalam penelitian di Desa Perlis;
3. Di dalam Pola Asuh terdapat Pendidikan Keluarga dan Pendidikan Keluarga adalah lingkup Pendidikan Luar Sekolah diantaranya anak- anak dididik oleh orang tuanya sesuai dengan pekerjaan sebagai nelayan tradisional.
1.5.3 Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari:
a. Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah keluarga yang bekerja sebagai nelayan di desa Perlis yang memiliki anak berusia 1 – 18 tahun. Subjek Penelitian diambil sebanyak 3 keluarga nelayan di desa Perlis dan 2 tokoh masyarakat di Desa Perlis. Pemilihan subjek penelitian didasarkan pada tujuan penelitian, dengan harapan untuk memperoleh informasi yang sebanyak – banyaknya, dengan demikian peneliti mengobservasi terlebih dahulu situasi lokal penelitian.
b. Sumber Pustaka
Selain data yang diperoleh dari subjek penelitian, penelitian juga diperoleh dari sumber pustaka lain, misalnya buku, arsip – arsip, dan dokumen yang terkait dengan hal yang akan di teliti. Sumber pustaka ini digunakan sebagai referensi tambahan untuk melengkapi data – data yang tidak dapat diperoleh dari subjek penelitian.
c. Dokumentasi
Dokumentasi digunakan sebagai sumber data tambahan pendukung penelitian.
Penggunaan Dokumentasi sebagai pelengkap dari data – data yang telah diperoleh dari hasil observasi, wawancara dan sumber tertulis lainnya.
Dokumentasi digunakan untuk mengabadikan peristiwa – peristiwa yang terjadi di lokasi penelitian yang terkait dengan objek penelitian.
1.5.4 Definisi Operasional
Definisi operasional adalah uraian yang terbatas pada setiap istilah atau frasa kunci yang digunakan dalam penelitian dengan makna tunggal dan terukur (Sugiyono, 2014:15). Definisi operasional bukan berarti menjelaskan kata demi kata yang terdapat dalam judul secara harfiah, melainkan memberikan gambaran variabel – variabel yang akan diukur dan bagaimana cara pengukurannya serta indikator-indikator sebagai penjelas variabel. Definisi Operasional dalam penelitian ini adalah:
1. Pola Didik
Pola adalah bentuk (struktur) yang tetap. Pola yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu suatu bentuk, cara mengasuh anak dan suatu struktur yang diperlukan dalam pembagian peran antara ayah dan ibu untuk saling bergantian dalam mengasuh dan memperhat ikan anak.
2. Anak
Menurut Undang – Undang No. 3 tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia, pengertian anak adalah setiap manusia yang berusia dibawah 18 (delapan belas) tahun dan belum menikah, termasuk anak yang masih berada di kandungan apabila hal tersebut adalah kepentingannya. Yang dimaksud anak dalam penelitian ini adalah anak nelayan dengan usia 1 – 18 tahun.
3. Keluarga
Keluarga merupakan kelompok terkecil yang umumnya terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari ayah, ibu yang terkait dalam perkawinan yang sah serta anak-anaknya. Dalam penelitian ini adalah keluarga nelayan yang ada di Desa Perlis.
1.6 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data6 yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
a. Metode Wawancara, Menurut Sugiyono (2013:85) mengatakan bahwa wawancara adalah percakapan yang dilakukan oleh dua pihak yaitu wawancara yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai yang memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut. Dalam metode ini ada beberapa teknik yang digunakan untuk pengumpulan data dengan angket (daftar pertanyaan) yaitu membuat daftar pertanyaan sesuai dengan tujuan penelitian untuk diberikan kepada masyarakat yang mata pencariannya sebagai nelayan yang umurnya 30 tahun keatas sebanyak 50 orang di desa Perlis. Wawancara ini dilakukan pada saat informan memiliki waktu luang, yaitu setelah datang dari melaut sembari beristirahat. Selain menggunakan pedoman wawancara, penulis juga menggunakan wawancara spontan, agar informan tidak merasa canggung dan informasi mengenai tujuan masalah penelitian didapat.
6
b. Metode Observasi 7, Istilah observasi berasal dari bahasa latin yang berarti
“melihat” dan “memperhatikan”. Istilah observasi diarahkan pada kegiatan memperhatikan secara akurat, mencatat fenomena yang muncul, dan mempertimbangkan hubungan antar aspek dalam fenomena tertentu 8. Metode ini digunakan sebagai metode pendahuluan, artinya dalam penelitian ini menggunakan metode observasi sebagai pengamatan awal untuk mengetahui situasi dan kondisi yang akan diteliti. Dalam penelitian ini pengamatan dilakukan secara langsung ke lokasi penelitian yaitu di desa Perlis, dan dari kegiatan observasi ini diharapkan diperoleh gambaran tentang diskripsi pola asuh Orang tua dalam mendidik anak pada keluarga nelayan di Desa Perlis.
c. Metode Dokumentasi, Metode ini merupakan metode tambahan dalam melengkapi pengumpulan data yang berkaitan dengan permasalahan. Metode dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data sekunder yang diperlukan untuk menunjang data primer yang telah diperoleh. Data sekunder dapat diperoleh dengan teknik dokumentasi yaitu pengumpulan data dengan cara pengumpulan sumber – sumber data yang berasal dari buku, majalah, internet, foto, dan dokumen.
7 Suharsimi Arikunto (2013, hlm. 199) berpendapat bahwa: Orang seringkali mengartikan observasi sebagai suatu aktiva yang sempit, yakni memperhatikan sesuatu dengan mengunakan mata. Di dalam pengertian psikologik, observasi atau yang disebut pula dengan pengamatan, meliputi kegiatan pemuatan penelitian terhadap sesuatu objek dengan menggunakan seluruh alat indra.
8 http://mastarmudi.pdf.com/2010/07/pengertianobservasi.html.diakses 20 Mei 2019
1.7 Metode Pengolahan Data dan Analisa Data 1.7.1 Pengolahan Data
Setelah data dikumpulkan, selanjutnya perlu diikuti kegiatan pengolahan data (processing). Menurut Sugiyono (2014:243) pengolahan data mencakup kegiatan mengedit (editing) data dan mengkode (ecoding) data. Mengedit data ialah kegiatan memeriksa data yang terkumpul. Sedangkan mengkode data berarti memberikan kode kode tertentu kepada masing – masing kategori atau nilai dari setiap variabel yang dikumpulkan datanya.
1.7.2 Analisa Data
Pada penelitian kualitatif, analisis data dilakukan secara induktif, yaitu suatu analisis berdasarkan data yang diperoleh, selanjutnya dikembangkan pola hubungan tertentu atau menjadi hipotesis (Sugiyono, 2013:244). Cara untuk menganalisis data, yaitu:
a. Reduksi data, adalah proses pemilihan informasi yang relevan dan layak untuk disajikan dari informasi yang telah terkumpul demikian banyak yang komplek. Data – data yang telah direduksi memberikan gambaran yang lebih tajam tentang hasil pengamatan dan mempermudah peneliti untuk mencarinya jika sewaktu – waktu diperlukan. Reduksi dapat pula membantu dalam memberikan kode – kode pada aspek – aspek tertentu.
b. Display data, adalah menyajikan data dalam bentuk matrix, network, chart, atau grafik, dan sebagainya. Dengan demikian peneliti dapat menguasai data dan tidak terbenam dengan setumpuk data.
c. Pengambilan keputusan dan verifikasi, pada tahapan ini peneliti selalu melakukan uji kebenaran setiap makna yang muncul dari data. Disamping menyadarkan pada klarifikasi data, peneliti juga memfokuskan pada abstraksi data. Setiap data yang menunjang komponen, diklarifikasi kembali dengan informan dilapangan. Apabila hasil klarifikasi memperkuat kesimpulan atas data, maka pengumpulan data untuk komponen tersebut siap dihentikan.
BAB II
GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN
2.1 Sejarah Desa Perlis
Pada permulaan abad ke – 19, tepatnya tahun 1826, terbit sebuah buku hasil penjelajahan seorang pegawai East India Company di Penang yang bernama John Anderson. Buku tersebut berjudul Mission to the East Coast of Sumatra (Asnan, 2016:2). Anderson mengunjungi tiap – tiap sungai yang terbentang di pantai timur Sumatera, mulai dari Tamiang (Aceh) hingga Siak (Riau). Bukan hanya menginventarisir nama-nama sungai, Anderson juga menghimpun populasi masyarakat, kebudayaan setempat, komoditi hasil bumi, aktivitas perdagangan hingga kegiatan politik.
Salah satu sungai yang dikunjungi oleh Anderson ialah Sungai Babalan.
Sungai ini mengalir di wilayah Langkat. Saat ini, aliran sungai tersebut melintasi tiga kecamatan di Kabupaten Langkat, yakni Sei Lepan, Brandan Barat dan Babalan. Sungai tersebut memiliki ekosistem mangrove di muara yang menjadi tempat nelayan setempat menangkap ikan. Anderson menyebut nama sungai ini dalam bukunya dengan penulisan “Sungei Bubalan” (Anderson, 1971: 237). Dari pernyataan singkat Anderson diperoleh informasi bahwa di tepi Sungai Babalan terdapat desa nelayan yang dihuni sekitar 50 orang. Desa nelayan yang berada di Sungai Babalan seperti dikatakan Anderson, diyakini masih ada hingga saat ini.
Desa nelayan yang terdapat di sekitar Sungai Babalan berdiri dekat pasar Pangkalan Brandan, yaitu Desa Perlis, Desa Kelantan dan Desa Sei Bilah. Di sisi
sungai itu juga berdiri kilang minyak Pangkalan Brandan yang pernah dioperasikan oleh BPM (Bataafsche Petroleum Maatschappij) sejak tahun 1885 sampai 1942, kemudian pengelolaannya diambil alih oleh Pertamina (Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara) sejak awal kemerdekaan Indonesia hingga kilang itu ditutup pada tanggal 7 Maret 2007 (Daryono, 2013: 240).
Desa – desa nelayan itu yang mayoritas penduduknya suku Melayu memiliki keunikan, khususnya Desa Perlis yang menjadi kajian penelitian. Desa Perlis terletak di Kecamatan Brandan Barat. Wilayahnya terdiri dari sebuah pulau hasil endapan lumpur yang seolah – olah terpisah dari pulau Sumatera dengan luas 611 Ha. Penduduk desa ini mendirikan pemukimannya di pinggir sungai, bahkan ada rumah yang berdiri di atas air dan bagian depannya menghadap langsung ke aliran utama sungai. Penduduk Desa Perlis tidak hanya terdiri dari nelayan saja, tetapi juga petani yang digeluti oleh pendatang Jawa dan peternakan oleh komunitas Cina. Kelompok etnis lain seperti Banjar, Mandailing dan Minangkabau juga membentuk komposisi penduduk desa ini.
Sumber tertulis yang menguraikan adanya pemukiman lama di Sungai Babalan hanya didapati dalam laporan perjalanan John Anderson berjudul Mission to the East Coast of Sumatra yang terbit tahun 1826. Pada tahun 1823, EastIndia Company memerintahkan Anderson untuk mengunjungi beberapa “pelabuhan lada” di pantai timur Sumatera. Ia ditugaskan untuk meyakinkan raja – raja di sana mengenai manfaat meneruskan perdagangan bebas dengan Penang. Saat melakukan perjalanan, Anderson membuat laporan tertulis tentang kondisi geografi dan kehidupan masyarakat di pantai timur Sumatera. Dalam laporan
Anderson terdapat uraian tentang kehidupan masyarakat di Sungai Babalan.
Menurut Anderson, “di Sungai Babalan terdapat sebuah pemukiman nelayan dengan jumlah penduduk sekitar 50 orang” (Anderson, 1971). Namun, nama dari pemukiman tersebut tidak diuraikan lebih lanjut. Hasil tangkapan para nelayan diperkirakan dijual di pasar – pasar terdekat seperti Pulau Kampai untuk dibarter dengan beras, pakaian, kayu, bahan pangan dan kebutuhan lainnya. Pulau Kampai sendiri sudah sejak lama menjadi salah satu bandar dagang yang penting di pantai timur Sumatera (Koestoro dan Oetomo, 2016: 97). Pemukiman nelayan di tepi Sungai Babalan diperkirakan berdiri sebelum tahun 1823.
Demikian pula hubungan dagang dengan daerah – daerah sekitarnya sudah terjalin pada saat itu. Pembukaan pemukiman ini berkaitan dengan kehadiran pelarian politik dari Tamiang yang mendirikan pemukiman awal bernama Kampung Tanjung Balai (saat ini bernama Desa Perlis). Kampung Tanjung Balai atau Kampung Perlis masuk wilayah otorita Kesultanan Langkat. Oleh karena itu, pada masa Sultan Abdul Aziz bertahta di Kesultanan Langkat, diutus Datuk Komdan Abdul Jalil Indera Wangsa dari Tanjung Pura sebagai Penghulu Balai di Kampung Perlis. Di bawah kesultanan dan asisten residen, struktur pemerintahan disebut luhak dan di bawah luhak disebut kejuruan dan distrik secara berjenjang disebut Penghulu Balai yang berada di kampung. Tugas penghulu di Kampung Perlis adalah sebagai perwakilan sultan dan mengutip upeti dari hasil alam dan perdagangan di Kampung Perlis untuk dikirim ke Tanjung Pura (Wawancara dengan Ruslan Adek, 18 April 2018). Setelah Datuk Komdan Jalil wafat pada tahun 1320 H (1898 M), kedudukan Penghulu Kampung Perlis diteruskan kepada
anak sulungnya yang bernama OK. Sahyan. Kepemimpinan Sahyan sebagai Penghulu Kampung Perlis berlangsung hingga masa revolusi sosial tahun 1946.
Setelah itu, penghulu Kampung Perlis dijabat oleh Yahya yang merupakan keturunan pendatang dari Semenanjung Malaya (Wawancara dengan Ruslan Adek, 18 April 2018). Ketika Republik Indonesia telah berdiri, Kampung Perlis dalam perkembangannya dijadikan suatu desa administratif sendiri yang bernama Desa Perlis.
2.2 Kondisi Geografis Desa Perlis
Desa Perlis merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Brandan Barat Kabupaten Langkat, Propinsi Sumatera Utara. Secara geografis Desa Perlis merupakan dataran rendah yang dikelilingi oleh Sungai Babalan di daerah pesisir yang cukup dekat dengan laut. Luas daratan Desa Perlis sekitar 7,89 km2. Desa Perlis ini terletak pada ketinggian 2 – 5 meter di atas permukaan laut dengan curah hujan rata – rata 100 mm per tahun dengan suhu rata-rata 300C – 370C.
Desa Perlis secara Administrasi terbagi menjadi 9 (sembilan) Dusun yang terdiri dari: Dusun I Aman, Dusun II Damai, Dusun III Mawar, Dusun IV Melati, Dusun V Melur, Dusun VI Kenanga, Dusun VII Rukun, Dusun VIII Sejahtera dan Dusun IX Karya. Untuk sampai ke Desa Perlis, sekitar 42 Kilometer dari Stabat Ibukota Kabupaten Langkat, dan 84 Kilometer dari Medan ibu kota Provinsi Sumatera Utara.
Batas – batas wilayah Desa Perlis dengan wilayah lain yang ada di sekitarnya adalah sebagai berikut:
Sebelah Utara : Desa Pangakalan Batu
Sebelah Selatan : Desa Babalan, Desa Puraka – I, dan Desa Sei Bilah Sebelah Barat : Desa Lubuk Kasih
Sebelah Timur : Desa Lubuk Kertang
Laut merupakan faktor yang sangat penting bagi masyarakat Desa Perlis, karena sebagian besar penduduknya menggantungkan hidupnya sebagai nelayan dari usaha menangkap ikan di laut. Dari hasil melautlah mereka dapat memenuhi segala kebutuhannya dan kebutuhan keluarga mereka mulai dari mencukupi kebutuhan keluarga sampai menyekolahkan anak sehingga bagi masyarakat perlis laut adalah tempat untuk kelangsungan hidupnya dan keluarga mereka.
2.3 Jumlah Penduduk di Desa Perlis
Secara demografis wilayah Desa Perlis, jumlah penduduk di desa tersebut adalah 5128 orang dan 1469 KK. Jumlah tersebut dapat dilihat pada tabel 1 di bawah ini:
Tabel 1. Jumlah penduduk Desa Perlis No Jenis
Kelamin
Dusun Total
(orang)
I II III IV V VI VII VIII IX
1 Laki-laki 283 260 270 320 293 241 285 260 263 2475 2 Perempuan 312 281 291 341 314 261 306 271 276 2653
Total 5128
Sumber: Dinas Kependudukan Kabupaten Langkat, 2017
2.4 Kondisi Rumah di Desa Perlis
Mayoritas kondisi rumah penduduk di Desa Perlis terdiri dari berbahan papan yang dipasang secara rapat dengan kwalitas bahan sedang (40,28%), kemudian tembok rumah permanen dengan bahan berupa batako/bata dan diplester (38,89%) serta bahan papan tidak rapat dengan kwalitas jelek (18,05%).
Sedangkan rumah penduduk dengan jenis bahan lain cukup kecil (hanya sekitar 2,78%). Untuk atap rumah tinggal penduduk di Desa Perlis (54,17%) berbahan atap seng/asbes, selanjutnya disusul berbahan atap rumbia/sirap/alang – alang sebesar 25% dan kombinasi antara rumbia/sirap/alang – alang dengan plastik/seng/asbes sebanyak 12,50%. Mayoritas bentuk rumah di Desa Perlis berukuran 6 x 12 dan pada umumnya terdiri dari 2 kamar. Berdasarkan hasil observasi penulis, kebanyakan rumah di Desa Perlis banyak yang sudah hampir rusak dan bahkan mereka hanya melakukan penempelan rumah dengan bahan bangunan yang ada atau bahan bekas, hal ini dikarenakan faktor ekonomi yang masih rendah, bahkan hampir sebagian dari masyarakat Desa Perlis tidak memperhatikan kondisi rumah mereka, mereka berpendapat lebih baik uang yang ada untuk makan dan biaya pendidikan anak daripada untuk memperbaiki rumah.
Gambar 1. Kondisi lingkungan dan Rumah di Desa Perlis 2.5 Mata Pencaharian di Desa Perlis
Mata pencaharian penduduk Dusun Perlis secara keseluruhan beragam, tetapi mayoritas penduduk di desa ini bekerja di sektor kelautan, yaitu sebagai nelayan. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas, berikut tabel 2 mengenai keadaan penduduk di Desa Perlis menurut mata pencahariannya.
Tabel 2. Jumlah Penduduk Desa Perlis Menurut Mata Pencaharian
No Mata Pencaharian Jumlah (orang) Persentase (%)
1 Nelayan 1980 80%
2 Pedagang 74 3%
3 Wirasawasta 173 7%
4 Guru 99 4%
5 PNS 25 1%
6 Buruh 74 3%
7 Petani 50 2%
Jumlah 2475 100%
Sumber: Dinas Kependudukan Kabupaten Langkat, 2017
Dari tabel di atas dapat disimpulkan rata – rata masyarakat Desa Perlis bermata pencaharian sebagai nelayan, dengan sistem nelayan tradisional yang
daerah Nelayan Desa Perlis hanya berjarak tempuh dari ibu kota ± 42 km. Namun situasi kondisi pendidikannya sangatlah tertinggal, faktor penghambat dari kondisi tersebut yakni ekonomi keluarga yang sangat minim dan orang tua mereka yang selalu bekerja di laut. Jadi perhatian kepada anaknya sangatlah berkurang terutama kaum laki – laki, untuk mendidik anak – anaknya rata – rata yang bertugas atau yang menjalankan adalah kaum perempuan (ibu).
Mata pencaharian secara tidak langsung berpengaruh terhadap pola asuh atau pola didik anak dalam suatu keluarga. Kesibukan keluarga dalam bekerja mengakibatkan orang tua sering mengabaikan perkembangan anak baik perkembangan mental maupun perkembangan psikisnya. Dalam keluarga nelayan di Desa Perlis, seorang ibu mempunyai peran ganda yaitu bekerja dan mengurus rumah tangga. Ketika seorang ibu sedang bekerja, maka peran ibu dalam keluarga terutama dalam mengurus anak menjadi terabaikan. Kondisi ini tentu berbeda dengan keluarga dimana seorang ibu tidak ikut bekerja. Seorang ibu yang tidak disibukkan dengan bekerja tentu mempunyai waktu yang lebih banyak untuk mengurus rumah tangga sehingga dapat berperan dan bertanggungjawab terhadap perkembangan anak. Dalam keluarga nelayan di Desa Perlis seorang ibu sering membawa anaknya ke tempat mereka bekerja tanpa memikirkan pendidikan bagi anak-anak mereka. Sebagai contoh yaitu banyaknya anak nelayan di Desa Perlis yang memandang pendidikan bukan sebagai hal yang penting. Menurut mereka bekerja lebih baik daripada sekolah karena dengan bekerja dapat membantu meringankan beban hidup orang tua.
2.6 Pendidikan di Desa Perlis
Berdasarkan data yang diperoleh dari monografi Desa Perlis tiap RW, penduduk Desa Perlis sebagian masih berpendidikan rendah, yaitu rata - rata hanya sampai dijenjang sekolah dasar, dan sedikit ke jenjang SMP dan SMA.
Untuk lebih jelasnya penggolongan/komposisi pendidikan bagi Nelayan di Desa Perlis dapat dilihat pada tabel 3 berikut:
Tabel 3. Komposisi Nelayan di Desa Perlis Menurut Tingkat Pendidikan
No Tingkat pendidikan Jumlah Orang %
1 2 3 4 5
Tidak Sekolah Tidak tamat SD Tamat SD
Tidak tamat SMP Tamat SMP
287 138 279 72 98
20,57 9,89 20,00
5,16 7,02 6
7 8 9 10 Jumlah
Tidak tamat SMA Tamat SMA Diploma Sarjana (S1) Buta Huruf
35 58 - - 428 1395
2,50 4,15 - - 30,6
100 Sumber: Dinas Kependudukan Kabupaten Langkat, 2017
Berdasarkan data penelitian mengenai pendidikan nelayan pada masyarakat Desa Perlis, Kecamatan Brandan Barat, Kabupaten Langkat, sebagian besar masyarakat nelayan desa Perlis masih buta huruf (30, 6 %), sementara itu yang tidak mengenyam bangku sekolah sebanyak (20,5 %), sedangkan yang tamat sekolah dasar hanya (20,00 %), selebihnya adalah tidak tamat SMP (5, 16 %), dan yang tamat SMA sebanyak (4,15 %).
Rendahnya tingkat pendidikan formal yang dimiliki oleh para nelayan di Desa perlis menyebabkan mereka hanya bekerja pada sektor informal. Mereka sulit bersaing untuk mendapatkan pekerjaan pada sektor formal. Karena
daerahnya dekat dengan laut, akhirnya mereka memilih bekerja sebagai nelayan yang tidak memerlukan modal besar dan keterampilan khusus. Mata pencaharian penduduk yang sebagian besar hanya sebagai nelayan mengakibatkan pendapatan penduduk juga rendah. Kondisi ini memaksa seluruh anggota keluarga untuk bersama – sama bekerja dalam usaha mencukupi kebutuhan sehari – hari, tidak terkecuali seorang ibu. Kualitas angkatan kerja di Desa Perlis dapat dilihat pada tabel 4 berikut:
Tabel 4. Kualitas Angkatan Kerja di Desa Perlis
No Angkatan Kerja Laki – laki Perempuan
1 Penduduk usia 18 – 56 Tahun yang buta aksara dan huruf/angka latin
2 orang 5 orang 2 Penduduk usia 18 – 56 Tahun yang
tamat SD
900 orang 800 orang 3 Penduduk usia 18 – 56 Tahun yang
tamat Perguruan Tinggi
10 orang 8 orang
Jumlah 912 orang 813 orang
Sumber: Dinas Kependudukan Kabupaten Langkat, 2018.
2.7 Kebiasaan atau Tradisi Sosial Budaya di Desa Perlis
Desa Perlis sebagai suatu organisasi sosial yang terdiri dari penduduk dengan latar belakang etnis yang beragam tentu mengalami dinamika perubahan dalam kehidupan bermasyarakat. Kemajuan zaman telah menggeser pola pikir tradisional ke modern yang berakibat beberapa tradisi dianggap tidak relevan sehingga tidak dilestarikan. Peningkatan pemahaman agama juga menjadi faktor perubahan sosial budaya. Tradisi yang dianggap bertentangan dengan hukum – hukum agama mau tidak mau ditinggalkan dan hilang di kemudian hari.
Upacara atau ritual Jamu Laut merupakan tradisi yang berlaku pada masyarakat nelayan. Ritual ini dilaksanakan pada masa sulit mendapatkan