• Tidak ada hasil yang ditemukan

THESIS. Oleh : Amalliah ( )

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "THESIS. Oleh : Amalliah ( )"

Copied!
385
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

KONTRUKSI MAKNA DEMOKRASI DALAM KEBEBASAN BERAGAMA DI INDONESIA

(ANALISIS WACANA KRITIS PEMBERITAAN PERISTIWA TOLIKARA DAN SINGKIL PADA HARIAN KOMPAS DAN REPUBLIKA PERIODE JULI 2015 DAN

OKTOBER 2015)

THESIS

Oleh :

Amalliah (55213120011)

UNIVERSITAS MERCU BUANA PROGRAM PASCASARJANA PROGRAM ILMU KOMUNIKASI

2016

(3)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, teriring tunduk jiwa kehadirat Allah SWT, atas jalan kemudahan dan kekuatan jiwa dari Allah semata yang menyertai selesainya proposal tesis ini serta sholawat serta salam untuk nabi Muhammad SAW .

Kontruksi makna demokrasi dalam kebebasan beragama di Indonesia dengan pemberitaan peristiwa di Tolikara dan di Singkil di media harian Kompas dan Republika, dengan penggunaan paradigma kritis dan analisis tesk Analisis Wacana Kritis Van Dijk dan teori hirarki pengaruh isi media , dimana penelitian ini untuk mengungkap makna di balik teks pemberitaan , menjadi hal yang menarik bagi penulis untuk menganalisa sebagai tugas akhir.

Tesis ini disusun sebagai syarat kelulusan Pascasarjana Komunikasi, dalam penyusunan tesis ini masih banyak kekurangan di dalamnya, karena itu penyempurnaan dari pembaca atas tesis saya sangat diharapkan demi kemajuan peneliti.

Penyelesaian tesis ini semoga tetap membawa manfaat kepada teman- teman mahasiswa pascasarjana UMB , juga kepada Media Massa, Politisi, Pengamat Media dan juga seluruh masyarakat. Meski demikian, saya sangat menghargai proses yang berlangsung sebelum, selama ataupun beberapa hari setelah tulisan ini disusun dan diujikan.

Selama proses pembuatan proposal ini, banyak pihak yang membantu mendorong dan membimbing penulis dalam menyelesaikan tesis ini, oleh karna itu dalam kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada :

(4)

1. Rektor Universitas Mercu Buana Jakarta beserta staf yang telah memberikan fasilitas kepada penulis selama mengikuti perkuliahan di Program Pascasarjana (S2) Magister Ilmu komunikasi.

2. Direktur Program Pascasarjana beserta staf yang telah memberikan pelayanan dan pembinaan kepada penulis sejak dari awal perkuliahan hingga selesainya penyusunan tesis ini.

3. Dr. Nur Kholisoh, M.Si Ketua Program Studi Magister ilmu Komunikasi yang telah memberikan arahan dan bimbingan kepada penulis dalam penyelesaian penulisan tesis ini.

4. Dr. Henni Gusfa, M.Si selaku dosen pembimbing yang telah memberikan arahan dan bimbingan kepada penulis, dengan penuh kesabaran tanpa mengenal lelah serta mencurahkan pemikirannya untuk penulis dalam rangka menyelesaikan tesis ini.

5. Dr. Elly Yuliawati, M.Si selaku dosen penguji ahli yang telah memberikan saran dan kritik kepada penulis , sehingga tesis ini menjadi lebih baik

6. My beloved Bapak dan Ibu (Achmad dan Asmani), atas didikan dan kasih sayang selama ini yang akan selalu saya syukuri dan saya ambil hikmahnya. Terima kasih dan mohon maaf atas segala kesalahan.

Kekuatan Njenengan menghadapi masalah walau sampai titik nol menginspirasi saya untuk lebih kuat dan ihklas.

7. Keluarga besar saya yang selalu mendukung dan mendoakan , terimakasih atas ketulusannya.

8. Seluruh Informan penelitian saya, yang terhormat Tri Agung Kristanto mewakili harian Kompas, Fitriyan Zamzami mewakili harian Republika , H. Amiruddin Shaleh mewakili tokoh agama Indonesia Maria Dessy, Onto dan Fahmi yang membantu pelaksaan penelitian di Kompas dan Republika, terimakasih atas segala dukungannya.

(5)

9. Seluruh dosen MKOM UMB terhormat, terimakasih atas ilmu yang dibagi.

10. Sahabat-sahabat tercinta, mahasiswa Program Pascasarjana Magister Imu Komunikasi angkatan tahun 2014 yang telah memberikan motivasi dan dorongan kepada penulis dalam menyelesaikan penulisan tesis ini.

11. Para Akademik kru, kru Perpustakaan, OB dan lainnya yang belum saya sebut. Terimakasih banyak atas segala dukungannya

12. Semua pihak yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam penyelesaian penulisan tesis ini.

Semoga Allah SWT memberikan balasan yang berlipat ganda kepada semua pihak yang telah membantu sehingga selesainya penulisan tesis ini dengan balasan pahala yang berlipat ganda, amin.

Jakarta, 4 Juni 2016 Penulis

A M A L L I A H NIM : 55213120011

(6)
(7)
(8)
(9)
(10)

ABSTRAK

Tesis ini membahas kontruksi makna demokrasi dalam kebebasan beragama di Indonesia pada pemberitaan insiden di Tolikara dan Singkil pada harian Kompas dan Republika pada periode pemberitaan Juli 2015 dan Oktober 2015. Untuk mendapatkan analisis mendalam dan komprehensif mengenai hal tersebut digunakan paradigma kritis dengan pendekatan analisis wacana kritis Teun A. van Dijk terhadap pemberitaan harian Kompas dan Republika. Penelitian ini bertujuan menganalisis wacana teks pemberitaan insiden Tolikara dan Singkil menggunakan metoda analisis wacana kritis van Dijk melalui tahapan analisis teks, kognisi sosial, dan konteks terhadap sampel 19 artikel Harian Kompas dan Republika periode Juli 2015 dan Oktober 2015 yang memuat fakta media, politik, sosial, fakta hukum, dan tanggung-jawab serta peran Pemerintah, Negara dan Pemerintah Daerah terkait demokrasi di Indonesia pada insiden di Tolikara dan Singkil. Analisis wacana kritis Van Dijk terhadap teks berita yang terkait masalah demokrasi terhadap kebebasan beragama di Indonesia pada peristiwa di Tolikara dan Singkil pada harian Kompas dan Republika dapat disimpulkan bahwa Pertama, demokrasi yang semu di daerah-daerah di Indonesia, dengan terlihatnya kekuasaan di pegang kelompok mayoritas terhadap minoritas terutama dalam kebebasan beragama. Kedua demokrasi dalam kebebasan beragama di Indonesia adalah peluang yang di ciptakan oleh berita, media berupaya berada di posisi tengah tanpa memihak dan membantu perdamaian dengan pemberitaan yang positif serta mendorong pemerintah untuk lebih tegas dan peka terhadap konflik yang berbau SARA. Ketiga , demokrasi yang belum terimplementasikan dengan baik karena masih rapuhnya pelaksanaan peraturan serta hukum di daerah-daerah di Indonesia karena peran negara belum sepenuhnya hadir dalam penyelesaian kebebasan beragama.

Kata kunci:

Kontruksi , demokrasi kebebasan beragama, wacana kritis, media

(11)

ABSTRACT

This thesis discusses the construction of democracy within the meaning of religious freedom in Indonesia on incident reporting in Tolikara and Singkil in the daily Kompas and Republika reporting period in July 2015 and October 2015. To get in-depth analysis and comprehensive information on the terms used by the critical paradigm of critical discourse analysis approach Teun A. van Dijk to the preaching of the Kompas and Republika. This study aimed to analyze the discourse of the text reporting the incident Tolikara and Singkil using the method of critical discourse analysis van Dijk through the stages of text analysis, social cognition, and the context of a sample of 19 articles Kompas and Republika period July 2015 and October 2015 which contains fact media, politics, social , legal facts, and the responsibilities and role of the Government, State and Local Governments of democracy in Indonesia related to an incident in Tolikara and Singkil. Critical discourse analysis Van Dijk of the text of news related issue of democracy against religious freedom in Indonesia on events in Tolikara and Singkil in the daily Kompas and Republika it can be concluded that the First, democracy is apparent in areas in Indonesia, with the invisibility of power in the grasp of the majority against minorities, especially religious freedom. Both democracy in religious freedom in Indonesia is the opportunity created by the news, the media seek to be in the middle position impartially and promote peace with positive news and to encourage governments to be more assertive and sensitive to conflict redistributed. Third, democracy has not properly implemented because of a still fragile implementation of the laws and regulations in areas in Indonesia because of the state's role is not yet fully present in the settlement of religious freedom.

Keywords: Construction, democracy religious freedom, critical discourse, media

(12)

DAFTAR ISI

Halaman

Kata Pengantar ... i

Abstrak ... iv

Daftar Isi ...vi

Daftar Tabel... vii

BAB I PENDAHULUAN... 1

1.1. Latar Belakang Penelitian... 1

1.2. Identifikasi dan Rumusan Masalah ... 13

1.2.1 Rumusan Masalah ……… ... 13

1.2.2 Indentifikasi Masalah ……….. ... 15

1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian ... 15

1.3.1 Maksud Penelitian ……….. ... 15

1.3.2 Tujuan Penelitian ……… ... 15

1.4. Manfaat Penelitian ... 16

1.4.1 Manfaat Akademis ………. ... 16

1.4.2 Manfaat Praktis ………. ... 16

BAB II TINJAUAN PUSTAKA & KERANGKA PEMIKIRAN ... 18

2.1. Studi Penelitian Terdahulu ... 18

2.2. Kajian Pustaka ... 30

(13)

2.2.1. Komunikasi Massa ... 30

2.2.2. Teori Hirarki ... 36

2.2.3. Kontruksi …. ... 50

2.2.4. Media Dan Kontruksi ... 52

2.2.5. Berita sebagai Kontruksi ... 59

2.2.6. Demokrasi ………. ... 62

2.2.6.1 Pengertian Demokrasi ……… ... 62

2.2.6.2 Ruang Lingkup Demokrasi …………. ... 65

2.2.6.3 Pemikiran Politik Plato……… ... 68

2.2.6.4 Bentuk Pemerintah Ideal ……….. ... 70

2.2.7. Analisis Wacana kritis ………. ... 73

2.2.8. Analisis Wacana kritis Van Dijk………. ... 77

2.3. Kerangka Alur Pemikiran ... 88

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 91

3.1. Paradigma Penelitian ... 91

3.2. Metode Penelitian ……… ... 96

3.3. Subyek Dan Obyek Penelitian ... ... 98

3.4. Teknik Pengumpulan Data... 98

3.5. Teknik Analisis Data ... 101

3.6. Unit Analisis Data ... 104

3.7. Uji Keabsahan Data ... ... 10

(14)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN……… ... 108

4.1. Gambaran Umum Objek Penelitian ………. ... 108

4.1.1 Kompas……….. ... 108

4.1.2 Republika…… ... 114

4.2. Hasil Penelitian…. ... 117

4.3 Pembahasan. ... 318

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan. ... 357

5.2 Saran. ... 359

Daftar Pustaka ………. ... 362

Lampiran-lampiran ……… ... 365

(15)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Matrik Penelitian Sejenis... .26.

Tabel 2.2 Elemen Analisis Van Dijk…...81

Tabel 2.3 Kerangka Analisis Van Dijk……….………..………..…87

Tabel 2.4 Paradigma Kritis ……….……….………...94

Tabel 2.5 Rangkuman Perkembangan Kompas………..………….………. 110

Tabel 4.2.1.1 Pemberitaan Tolikara………...……….119

Tabel 4.2.1.2 Pemberitaan Singkil………..…..………...120

(16)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 . Latar Belakang Masalah

Dimasa reformasi dan transisi ini hampir semua wacana tertuju pada upaya perbaikan ekonomi, hukum dan politik yang memang mendesak di bicarakan.

Sebaliknya persoalan yang menyangkut upaya perbaikan keagamaan, baik yang bersifat pemahaman dan penghayatan nilai keagamaan, hubungan intra dan antar agama, maupun solusi baru kehidupan keagamaan pasca Orde Baru kurang mendapatkan proporsi pembicaraan yang selayaknya. Jika di kaji lebih lanjut, inti masalah yang kita hadapi sekarang ini bermuara pada adanya kemerosotan penghayatan dan pengalaman nilai serta etika agama. Menginggat 100%

penduduk Indonesia adalah masyarakat beragama dan sekitar 90 % adalah penganut agama Islam, namun ironinya tingkat korupsi-kolusi-nepotisme dan tingkat pelanggaran HAM menempati salah satu rangking tertinggi yang melanggar semua itu.

Berangkat dari politik keagamaan Orde Baru , maka bagi Pemerintah yang akan datang sudah seharusnya mendirikan masyarakat termasuk didalamnya lembaga-lembaga keagamaan. Bagi lembaga keagamaan upaya ini dilakukan lewat independensi dan otonominya guna menyeimbangkan peran dan partisipasi nya terhadap Negara . Pemerintah tidak selayaknya lagi melakukan strategy of containment ke dalam lembaga-lembaga agama pada khusunya dan lembaga-

(17)

lembaga kemasyarakatan lain pada umumnya. Sehingga peran agama yang lebih berdimensi social, demokratis, emansipatif, egaliter, pembebas dari belunggu kezaliman dan pembodohan serta ketidakadilan secara maksimal dapat dijalankan.

Mengingat berbagai kerusuhan yang ada selama ini seperti kasus ketapang, Kupang dan Ambon lebih banyak disebabkan karena kecemburuan sosial yang dilatarbelakangi kecemburuan. Menempatkan agama sebagai sebuah sistem kepercayaan pada dasarnya menentukan pijakan hidup seorang manusia pada sebuah keyakinan akan kebutuhan fitrawi manusia itu sendiri atas kepercayaan yang dianutnya. Unsur ajaran dan tata nilai menjadi sebuah bangunan postulat yang termaktub dalam esensi ajaran dari sebuah agama. Ajaran dan tata nilai tersebut memberikan sebuah bangunan tradisi yang menjadikan aktifitas kehidupan memiliki aturan dalam proses interaksi sosial-keagamaan. Dari sini bisa kita asumsikan bahwa manusia pada dasarnya memerlukan kepercayaan, kepercayaan yang dianut oleh seseorang pasti memiliki bangunan kebenaran yang membentuk keyakinan masing-masing individu untuk meyakininya.

Konflik keagamaan hadir di kehidupan kita searah tarikan nafas. Setiap jengkal langkah yang di tempuh, acapkali untuk tak menyebut sering jumpai konflik berlatar agama. Padahal semua agama mengajarkan kebaikan dan kedamaian, bukan keburukan dan konflik berkepanjangan, penyebabnya tentu banyak hal. Bisa jadi satu hal menjadi irisan bagi hal lain, jika dikaji lebih jauh, konflik ini pun tidak semata-mata murni terkait agama dan di dalamnya juga terdapat unsur-unsur perebutan kekuasaan, aneka sumber daya, dan sumber sekuler lainnya.

(18)

Kekerasan agama seperti kesulitan mendirikan rumah ibadah tak hanya dialami satu agama saja, hampir seluruh agama di Indonesia pernah mengalami sulitnya mendirikan rumah ibadah. Biasanya, persoalan yang muncul dalam sulitnya pendirian rumah ibadah adalah masalah penerimaan masyarakat di sekitar rumah ibadah. Bila mayoritas warga di sekitar rumah ibadah beragama yang sama dengan jamaah rumah ibadah itu, pendiriannya tak akan terlalu sulit. Namun bila jamaah rumah ibadah itu beragama minoritas dengan masyarakat sekitar, pendirian rumah ibadah bisa lebih sulit. Konflik akibat pendirian rumah ibadah kerap kali berujung pada kekerasan, penyerangan dan penyegelan rumah ibadah oleh masyarakat sekitar atau aparat setempat.

Insiden Tolikara peristiwa yang masih hangat terjadi Papua dengan peristiwa pembakaran Masjid dimana minoritas agama Islam berada di mayoritas agama Kristen, begitu juga konflik Singkli Aceh pembakaran Gereja dimana agama Kristen sebagai minoritas berada di daerah mayoritas Islam, membuktikan bahwa daerah yang mayoritas merupakan pemegang kekuasaan dan mereka membuat aturan sendiri yang nyata tetapi tak tertulis didalam undang-undang, padahal peraturan pendirian rumah ibadah telah diatur oleh pemerintah.

Menurut Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 dan 8 Tahun 2006 tentang Kerukunan Umat Beragama dan Pendirian Rumah Ibadah, mendirikan rumah ibadah memang harus memenuhi persyaratan administrasi dan teknis bangunan gedung serta beberapa persyaratan khusus.

Dalam Pasal 14 peraturan itu disebutkan pendirian rumah ibadah harus menyertakan daftar nama dan Kartu Tanda Penduduk (KTP) pengguna rumah

(19)

ibadah paling sedikit 90 orang, adanya dukungan dari masyarakat setempat paling sedikit 60 orang yang disahkan lurah atau kepala desa, serta mendapatkan rekomendasi tertulis dari kantor departemen agama kabupaten atau kota dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) kabupaten atau kota. Selain rumah ibadah, regulasi itu juga mengatur tentang pemanfaatan bangunan bukan rumah ibadah sebagai rumah ibadah sementara. Pasal 18 peraturan itu menyebutkan pemanfaatan sementara bangunan sebagai rumah ibadah harus mendapatkan izin dari bupati atau wali kota. Izin dari bupati atau wali kota dapat dikeluarkan bila memenuhi persyaratan laik fungsi dan pemeliharaan kerukunan umat beragama serta ketenteraman dan ketertiban masyarakat. Persyaratan pemeliharaan kerukunan umat beragama serta ketenteraman dan ketertiban masyarakat meliputi izin tertulis pemilik bangunan, rekomendasi tertulis lurah atau kepala desa, pelaporan tertulis kepada FKUB kabupaten atau kota dan kantor departemen agama kabupaten atau kota. (Suara Pembaruan,9/6/2014:6)

Masyarakat saat ini hanya memahami bahwa rumah ibadah adalah untuk beribadah, perbedaan istilah di antar umat beragama menjadikan kesalahpahaman atau miskomunikasi, seperti halnya gereja selain tempat beribadah juga merupakan tempat bentuk kegiatan-kegiatan agama, begitu juga dengan Islam dengan mengumandangkan Adzan yang biasanya dilakukan dengan menggunakan pengeras suara. Hal ini menjadi seringkali menjadi dasar, sehingga berpotensi menimbulkan kekerasan antarumat beragama, perbedaan pemahaman dan tafsir itu, seringkali menjadi pemicu kekerasan agama. Dan itu terjadi pada peristiwa di Tolikara dan Singkil Aceh, dimana daerah tersebut memiliki aturan-aturan yang

(20)

harus ditaati oleh kaum minoritas yang dinyatakan oleh kaum mayoritas tanpa ada campur tangan pemerintahan yakni secara adat setempat.

Ikatan adat yang kuat dan melampaui batas agama itu sebetulnya juga muncul di banyak tempat di Indonesia. Sebagian besar meyakini bahwa modal sosial yang berakar kuat dalam sejarah itu sebetulnya masih ada. Namun, dan ini adalah juga fenomena yang muncul di banyak tempat, ikatan adat itu dalam perkembangannya dapat kalah oleh kekuatan-kekuatan sosial-politik-ekonomi baru yang mencari bahan-bahan tambahan dalam menciptakan konflik; modal sosial itu dapat habis tergerus, jika tak dirawat. Dalam tekanan seperti itu, potensi agama dapat berubah dari modal sosial untuk perdamaian menjadi potensi konflik.

Lebih dari itu, sebagaimana dinyatakan Dr KH Hasyim Muzadi bahwa Tujuh puluh persen (70%) konflik keagamaan terjadi karena faktor non agama yang diagamakan. Ia mengatakan: ―Berbagai masalah, terutama politik, pemberontakan, perebutan kekuasaan, masalah sosial, ekonomi, budaya dan lain sebagainya, disulap dan dibelokkan menjadi masalah agama‖ (6/4/2013). Bahkan mantan wapres Jusuf Kalla (JK) menegaskan, tak pernah ada konflik atas nama agama yang terjadi di Indonesia. Yang ada, kata dia, agama hanya dijadikan alat untuk menggalang solidaritas massa demi kepentingan tertentu dari konflik tersebut. Ia mengatakan: “Tidak ada. Yang ada agama seringkali hanya dijadikan alat dalam setiap perselisihan,” ujarnya di Jakarta, Selasa (23/4/2013). Ia mencontohkan apa yang terjadi di Indonesia. Jusuf Kalla mencatat ada 15 konflik horizontal yang pernah terjadi di Indonesia. Dari semua itu, 10 konflik berakar pada ketidak adilan ekonomi. Sementara lima konflik terjadi karena kepentingan

(21)

politik, akan tetapi beberapa konflik yang terjadi tadi kemudian menggunakan alat agama untuk mendapatkan solidaritas massa. Maka yang terjadi adalah konflik melibatkan antar-umat beragama. Padahal itu bukan berdasar pada agama.(hizbert-tharir,2013/05/28)

Jika dilihat dari pernyataan dua tokoh tersebut yakni Hasyim Muzadi dan Jusuf Kalla dapat simpulkan bahwa konflik rumah ibadah bukanlah hal murni yang menyebabkan konflik antar umat beragama, ada unsur lain yang mengatas namakan agama, karena dengan menggunakan agama peristiwa konflik menjadi pusat perhatian yang lebih banyak mendapatkan reaksi masyarakat. Dalam hal ini politik yang merujuk kepada kekuasaan yang menjadikan agama menjadi alat konflik yang paling tepat.

Dalam permasalahan kekerasan agama merupakan isu atau berita yang selalu menjadi konsumsi publik yang disajikan dengan berbagai perspektif oleh media-media yang meliput. Media menjadi bukan hanya semata deretan huruf maupun gambar tanpa makna, lebih dari itu ia pun bertindak sebagai pembawa pesan. Tidak hanya sebagai medium, media juga dapat menempatkan diri sebagai pelaku dalam mendefinisikan realitas sosial dan memilih isu apa yang dianggap penting dan relevan. Fenomena ini dapat kita lihat secara kasat mata dengan makin beragam dan canggihnya industri media komunikasi dengan sajian berbagai macam informasi yang melimpah ruah. Media mengalami perubahan karakter mengikuti perubahan politik yang terjadi di negara ini. sebagai salah satu kekuatan sosial, media tidak lagi menyampaikan realitas, namun bekerja

(22)

berdasarkan kecenderungan, kepentingan, dan keberpihakan yang dianggapnya penting.

Di era reformasi, media menyajikan produk-produk jurnalistiknya dengan cara yang lebih lugas dan terang-terangan. Media semakin berani menulis dan membangun sebuah realitas sosial di luar sumber-sumber formal kekuasaan.

Tidak ada lagi syarat ketat dalam mengelola dan menerbitkan media massa seperti yang terjadi di masa lalu, dengan kata lain, siapa yang memiliki modal dan kemampuan berhak mengelola penerbitan media massa sebanyak yang diizinkan.

Pemberitaan oleh media menjadi subjektif, karena isi media ditentukan oleh pemodal, bukan fakta-fakta di lapangan. Media menjadi corong kepentingan- kepentingan tertentu (terkadang bisnis atau bahkan politik) sehingga muatannya cenderung tidak netral, dan berpotensi menimbulkan konflik di masyarakat (Yursak,2007, hal. xix-xxi) .

Media massa mempunyai agenda yang tersirat dan tersurat yang diartikulasikan dalam wacana (discourse) dimana gagasan dan informasi didefinisikan dan direpresentasikan serta membentuk makna lebih di luar dari apa yang disajikannya.(waston,1998). Dibandingkan dengan topik-topik lain, para wartawan menganggap krisis, konflik, dan perang sebagai hal yang memenuhi banyak kriteria jurnalistik untuk membuat peristiwa menjadi berita. Karena menarik perhatian tentu saja peristiwa konflik tidak akan luput dari perhatian dan pemberitaan media massa. Pemberitaan media mengenai konflik dapat membawa pengaruh pada dua hal, Pertama pemberitaan media justru memperluas eskalasi konflik. Kedua, pemberitaan media mengenai konflik dianggap sebagai wacana

(23)

yang dapat membantu meredakan dan menyelesaikan konflik (Siebert, et al.1986).

Mencermati kedua kemungkinan tersebut tampaknya kemungkinan pertama lebih terbuka terjadi melalui pemberitaan suatu konflik oleh media massa (Ritonga dan Iskandar, 2002). Apalagi kondisi masyarakat Indonesia yang masih sangat heterogen mulai dari suku, agama, dan bahasanya, fenomena ini dapat dicermati pada konflik Ambon, yang semula hanya terjadi di Pulau Ambon. Perkembangan berikutnya konflik meluas hingga ke Kepulauan Maluku. Perluasan konflik yang awalnya merupakan masalah lokal kemudian meluas menjadi isu nasional. Dalam kaitan ini media massa menjadi arena wacana mengenai berbagai hal, dan dalam arena tersebut menjadi pertarungan untuk menguasai makna dari banyak partisipan, termasuk dari lingkungan media itu sendiri. Perbincangan media sebagai wacana tidak bisa di pisahkan dari saling keterkaitan antara bahasa yang digunakan di dalamnya, pengetahuan (knowledge) yang melandasinya, serta bentuk-bentuk kepentingan dan kekuasaan (power) yang beroperasi di balik bahasa dan pengetahuan tersebut. Dalam konteks ini wacana dimaknai sebagai pernyataan-pernyataan yang tidak hanya mencerminkan atau merepresentasikan melainkan juga mengkonstruksi dan membentuk entitas dan relasi sosial.

Sebagaimana dijelaskan oleh Peter L Berger dan Thomas Luckmann bahwa pada dasarnya sajian berita dalam surat kabar merupakan bagian dari proses konstruksi realitas dalam benak masyarakat, yaitu secara rinci masuk dalam konstruksi realitas obyektivasi. Isi berita pada dasarnya menunjukkan realitas subyektif sebagaimana dikonstruksi oleh komunikator atau sumber berita.

Maka sajian realitas yang tergambar dalam media massa dapat dibaca sebagai

(24)

wacana yang dibangun oleh komunikator; akan tetapi dapat pula dibaca sebagai wacana yang dibangun oleh media, dalam hal ini Harian Kompas dan Republika, yang memediasi pemberitaan insiden rumah ibadah pada kasus Tolikara dan Singkil sebagai wacana yang dibangun media dengan masyarakat sebagai pembaca Harian Kompas dan Republika.

Insiden Tolikara Papua dan Singkil Aceh merupakan peristiwa yang masih hangat terjadi di tahun 2015, dan kedua peristiwa tersebut terjadi memiliki waktu yang tidak jauh berbeda di mana peristiwa itu terjadi didaerah mayoritas agama Islam dan Kristen , disini dapat dilihat rumah ibadah merupakan masalah yang kompleks walaupun sudah ada peraturan yang di keluarkan oleh pemerintah tetapi peraturan tersebut tidak berlaku di masyarakat tetapi peraturan adat dan kekuasaan mayoritas yang berlaku. Dan memilih harian Kompas dan Republika dengan alasan kedua tersebut memiliki latar belakang history pendirian yang berbeda.

Harian Kompas dan Republika, kedua harian tersebut mempunyai sudut pandang yang berbeda dalam menyeleksi suatu peristiwa atau isu dan menulis berita mengenai konflik rumah ibadah pada kasus Tolikara dan Singkil . Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan cara pandang wartawan masing-masing media, antara harian Kompas dan Republika dalam mempersepsikan kasus tersebut yang kemudian membingkainya ke dalam bentuk susunan berita. Selain itu perbedaan cara pandang kedua harian tersebut dalam mengemas dan menyajikan berita dapat juga disebabkan adanya perbedaan suatu kebijakan redaksi serta perbedaan visi dan misi dari masing-masing media

.

Surat kabar harian Kompas merupakan representasi dari suara Katholik. (Sudibyo, 2001 : 8). Kompas juga memilki

(25)

kerajaan bisnis yang terdiri dari 38 perusahaan, yang dikenal sebagai Kompas Gramedia Group. Melalui berbagai buku, majalah, surat kabar, kompas Gramedia Group Harian Kompas memiliki visi manusia dan kemanusiaan, sehingga harian ini berusaha untuk senantiasa peka akan nasib manusia dan berpegang pada ungkapan klasik dalam jurnalistik, yaitu menghibur yang papan dan mengingatkan yang mapan. (Oetama, 2001 : 147).

Surat kabar harian Republika merupakan koran nasional yang dilahirkan oleh kalangan komunitas muslim bagi publik Indonesia. Penerbitan tersebut merupakan puncak dari upaya panjang kalangan umat, khususnya para wartawan profesional muda yang telah menempuh berbagai langkah. Kehadiran Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) se-Indonesia yang dapat menembus pembatasan ketat pemerintah untuk izin penerbitan saat itu memungkinkan upaya- upaya tersebut berubah. (republika.co.id/default,asp) Surat kabar yang terbit perdana pada 4 Januari 1993 ini, mengesankan membawa aspirasi mayoritas jurnalis serta intelektual Islam yang liberal dan sekuler dalam mengangkat isu maupun peristiwa. Tapi secara ideologis menginformasikan nilai-nilai Islam dan secara terbuka menyatakan sebagai media Islam. (Fathurozy, 2005 : 8)

Berdasarkan hal tersebut menjadikan topik yang menarik untuk diteliti, dengan alasan media memiliki kuasa dalam wacana dalam pemberitaan dan karena sifat dan faktanya bahwa tugas redaksional media massa adalah menceritakan peristiwa-peristiwa, maka tidak berlebihan bila dikatakan bahwa seluruh isi media adalah realitas yang telah di kontruksikan (constructed reality).

Laporan-laporan jurnalistik di media pada dasarnya tak lebih dari hasil

(26)

penyusunan realitas-realitas dalam bentuk sebuah cerita. Berita adalah realitas yang telah di kontruksikan (Tuchman,Geye,1980: Bab 9). Media massa dituntut memberikan informasi yang akurat dan netral dalam hal konflik agama di Indonesia, karena pemberitaan konflik agama merupakan hal yang sangat sensitif dan dapat menimbulkan konflik yang meluas dan berkepanjangan, tetapi media massa dalam kuasa wacananya tidak terlepas dari ideology dan latar belakang media tersebut dalam memberikan wacananya. Dalam studi ideologi dan relasi kekuasaan kita sering harus mempersoalkan wacana yang berkembang agar dapat memahami ideologi tersebut secara maksimal. Menurut Van Dijk (Dijk,2000) ideologi membawa pengaruh terhadap wacana, dan wacana berperan penting dalam pembentukan ideologi. Pemahaman terhadap ideologi dengan demikian harus disertai dengan pemahaman terhadap wacana seperti apa yang telah berperan dalam membangun ideologi tersebut.

Dalam penelitian ini media massa Kompas dan Republika berusaha untuk memberikan informasi atau memuat berita yang akurat dan terpercaya berdasarkan kenyataan dilapangan dengan visinya masing-masing dalam kasus pemberitaan pada kasus Torikala-Papua dan Singkli-Aceh yang masing-masing daerah tersebut adalah minoritas dan mayoritas, dengan menampilkan pendapat ataupun argument dari tokoh-tokoh yang terkait seperti tokoh agama,pemerintah, politik,keamanan maupun intelejen agar informasi mengenai pemberitaan konflik agama yang sensitif ini dapat di berikan realita kepada masyarakat yang tentunya telah kontruksikan sedemikian rupa oleh kedua media tersebut, karena media mempunyai kuasa terhadap wacana pemberitaan seperti yang di kutip didalam

(27)

didalam buku Analisis Framing oleh Eriyanto,bahwa menuliskan bahwa media massa menuliskan bahwa media massa bukanlah sekedar alat untuk menyalurkan pesan saja, sekedar alat untuk menyalurkan pesan saja, didalamnya ia juga subjek yang saja, didalamnya ia juga subjek yang mengkonstruksi realitas, lengkap dengan mengkonstruksi realitas, lengkap dengan pandangan, bias, dan pemihakannya pandangan, bias, dan pemihakannya (Eriyanto, 2005:23). Disini berita dihasilkan (Eriyanto, 2005:23). Disini berita dihasilkan bukan hanya menggambarkan realitas dihasilkan bukan hanya menggambarkan realitas saja, tetapi juga merupakan hasil realitas saja, tetapi juga merupakan hasil dari konstruksi media itu sendiri. Media dari konstruksi media itu sendiri. Media massa dipandang sebagai agen konstruksi massa dipandang sebagai agen konstruksi yang mendefinisikan realitas. Lewat yang mendefinisikan realitas. Lewat berbagai instrumen yang dimilikinya, media ikut berbagai instrumen yang dimilikinya, media ikut membentuk realitas yang tersaji media ikut membentuk realitas yang tersaji dalam pemberitaan. Karena itulah, fakta tersaji dalam pemberitaan. Karena itulah, fakta yang terkandung didalamnya sudah fakta yang terkandung didalamnya sudah mengalami penyaringan dari media itu mengalami penyaringan dari media itu sendiri.

sendiri.

Konflik kerapkali diawali oleh pandangan etnosentrisme yang beranggapan bahwa etnisnyalah yang paling unggul dan menjadi pusat dari etnis lainnya,hal serupa terjadi pada kasus agama. selama ini keterlibatan pemerintah dalam hal agama relatif terbatas dan hanya dalam bentuk pengaturan-pengaturan yang sifatnya normatif begitu juga dengan pembangunan rumah ibadah akan tetapi

(28)

pemerintah tidak memiliki kuasa ketika suatu adat setempat memiliki aturan sendiri terhadap pendirian rumah ibadah seperti di daerah Papua dan Aceh.

Disinilah diperlukan tidak hanya pengaturan dan undang-undang yang terlibat tetapi komunikasi dan toleransi yang di ikut sertakan dalam menjaga keharmonisan beragama yang melibatkan tidak hanya pemerintah tetapi masyrakat Indonesia dan tentunya peran media dalam memberikan informasi dan wacana yang mendukung dalam toleransi beragama.

1.2. Rumusan Masalah Dan Identifikasi

1.2.1. Rumusan Masalah

Media tidak hanya berfungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan dan control social, sebagai di nyatakan Straubhaar dan La Rose (1999:46) tetapi memiliki dua karakter yang tak terpisahkan yakni karakter ekonomi dan politik.

Sementara Jurgen Habermas dalam buku The Theory of Communicative Action (Kasong 2009 : 5-6) menyebutkan media sebagai institusi social politik sekaligus sebagai institusi ekonomi. Media dewasa ini semakin memiliki peranan yang penting dalam demokrasi, karena kini kehidupan politik diera mediasi, terutama media massa. Selain itu media massa digunakan oleh para wartawan memproduksi berbagai pesan politik karena peristiwa-peristiwa politik selalu memiliki nilai berita yang tinggi (Mc Nair 1995:15). Kenyataan ini menyebabkan politik menjadi sorotan media, peristiwa politik selalu menarik untuk di beritakan seperti

(29)

peristiwa kekerasan agama yang menjadi sorotan dunia dikarenakan konflik agama tidak saja murni tentang agama tetapi banyak unsure yang dapat diangkat dalam pemberitaan tersebut seperti unsur ekonomi, masyarakat, adat, kekuasaan dan politik.

Dilihat dari pemberitaan yang terjadi di Tolikara dan Singkli terdapat otoritas kekuasaan , dimana penganut agama minoritas terdapat di wilayah penganut agama mayoritas yang harus mengikuti aturan bahkan seringkali adanya diskriminasi baik dalam menjalankan ibadahnya mapun tempat melakukan ibadah.

Dalam pemberitaan ini juga dimuat oleh media yang memiliki latar belakang sejarah yang berbeda, sehingga menarik bagaimana mereka yakni Kompas dan Republika melihat insiden di Tolikara dan Singkli melalui wacana teks pemberitaan yang di muat di surat kabar harian kedua media tersebut.

Untuk mengungkapkan wacana teks mengenai konflik di kedua daerah tersebut di media Kompas dan Republika dalam penelitian ini yakni menggunakan analisis wacana kritis Van Dijk. Analisis wacana kritis, dimana memiliki agenda untuk mengungkap makna yang tersembunyi didalam atau di balik wacana atau diskursus yang secara sosial dominan dalam masyarakat, misalnya dalam sistem kepercayaan, agama, peraturan-peraturan adat dan interpretasi atau cara pandang masyarakat tentang dunia dan kekuasaan termasuk didalamnya. Percaturan atau aktivitas yang dilakukan berdasarkan hasil pengungkapan tersebut diharapkan menjadi lebih bermutu karena lepas dari kekaburan atau pengelabuan. Analisis wacana kritis juga memiliki agenda untuk mengkoreksi bias-bias yang terjadi akibat politisasi dan mengikut sertakan

(30)

minoritas yang biasanya tersingkirkan atau bahkan disingkirkan dari wacana , peneliti berusaha mengungkap kontruksi berita yang disajikan oleh media Kompas dan Republika, baik itu unsur politik, ideologi, pandangan yang berada di balik argumen-argumen yang membela atau menentang suatu metode, pengetahuan, nilai, atau ajaran tertentu dalam pemberitaan kontruksi makna demokrasi dalam kebebasan beragama di Indonesia pada insiden di Singkli-Aceh dan di Torikala- Papua .

Dengan latar belakang kedua media tersebut dan penayangan berita insiden ibadah di Tolikara dan Singkil dianalisis dengan analisis wacana kritis, menjadi latar belakang penulis merumuskan penelitian: Bagaimana Kontruksi Makna Demokrasi Dalam Kebebasan Beragama Di Indonesia (Analisis Wacana Kritis Pemberitaan Peristiwa Torikala dan Singkli Pada Harian Kompas Dan Republika Periode Juli 2015 Dan Oktober 2015)

1.2.2. Identifikasi Masalah

1. Bagaimana kontruksi makna demokrasi kebebasan beragama di Indonesia pada pemberitaan peristiwa Tolikara dan Singkil Aceh di Kompas dan Republika?

2. Apakah makna demokrasi dalam kebebasan beragama pada pemberitaan peristiwa Torikala dan Singkli dimedia Kompas dan Republika ?

1.3. Maksud Dan Tujuan Penelitian

1.3.1 Maksud Peneliti

(31)

Maksud dari penelitian ini adalah untuk menilik pemberitaan yang disajikan oleh media cetak Kompas dan Republika dalam kerangka analisis wacana kritis Van Dijk sehingga bisa terlihat makna dan ideologi melalui wacana teks tentang pemberitaan rumah ibadah , dan juga melihat apakah pemberitaan insiden Tolikara dan Singkil oleh kedua media yaitu Kompas dan Republika dapat dipetakan menjadi pola tertentu, apakah hanya menyajikan berita atau hanya mengarahkan kepada hal-hal tertentu.

1.3.2. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui kontruksi realitas demokrasi kebebasan beragama pada pemberitaan peristiwa Tolikara dan Singkil Aceh di Kompas dan Republika . 2. Untuk mengetahui makna demokrasi dalam kebebasan beragama pada

pemberitaan peristiwa Torikala dan Singkli dimedia Kompas dan Republika

1.4. Manfaat Penelitian

Kegunaan tesis dalam penelitian ini secara akademis dan praktis adalah sebagai berkut :

1.4.1. Manfaat Akademis

Secara akademis, diharapkan dapat bermanfaat menjadi sumbangan pemikiran bagi perkembangan ilmu komunikasi khususnya komunikasi massa yang berkaitan dengan kajian analisis wacana di media cetak.

(32)

Penelitian analisis wacana kritis ini bermanfaat dalam mengungkapkan pandangan surat kabar dalam hal ini Kompas dan Republika mengenai demokrasi pada kebebasan beragama pada perisristiwa di Torikala-Papua dan Singkli-Aceh serta cara kedua surat kabar tersebut merealisasikan pandangan secara implicit kedalam wujud-wujud kebahasan sebagai sebuah strategi pemberitaan. Disamping itu penelitian ini juga dapat memperkaya bidang kajian analisis wacana kritis.

1.4.2. Manfaat Praktis

Manfaat penelitian secara praktis bisa diperuntuhkan untuk beberapa pihak : 1. Penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan bagi para pembaca dari hasil

penelitian ini maupun bagi peneliti secara pribadi, yaitu untuk menambah pengetahuan dan kepekaan para pembaca yang juga terarik mengkaji atau meneliti wacana media massa secara kritis.

2. Hasil dari penelitian ini diharapakan dapat bermanfaat bagi pers sendiri, sebagai pelaku jurnalisme sehingga dapat menyajikan berita secara tepat dan berguna bagi bangsa Indonesia.

3. Pengelola media dan khalayak mampu mengembangkan dan memanfaatkan media sebagai bagian dari ruang public

4. Pemilik media diharapkan bisa mengembangkan berbagai pendekatan kontruksi, sementara khalayak bisa dengan cerdas dan lebih memahami proses kontruksi yang tidak bisa dilepaskan dari kepentingan-kepentingan golongan tertentu untuk mempengaruhi opini public.

(33)

5. Kepada masyarakat guna mengetahui dan memahami karakteristik media massa, khususnya media-media cetak nasional, dalam mewancanakan sebuah masalah atau peristiwa.

6. Kepada pemerintah agar dapat lebih peka dan dapat mengambil kebijakan yang tepat dan tegas dalam permasalahan kebebasan beragama di Indonesia.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

(34)

2.1. Penelitian Terdahulu

Dalam teks pemberitaan Harian Kompas dan Republika pada bulan Juli 2015 dan Oktober 2015 diketahui bahwa telah terjadi peningkatan isu konflik rumah ibadah dalam kehidupan antar umat beragama di Indonesia. Dari teks pemberitan terlihat bahwa surat kabar harian Kompas dan Republika mengupas peristiwa dengan hati-hati karena hal ini merupakan peristiwa yang sangat rawan dan media merupakan mediasiasi informasi kepada masyarakat luas. Untuk membedah pemahaman mengenai wacana teks pemberitaan di balik komunikasi pemberitaan peristiwa konflik rumah ibadah yang di muat di Kompas dan Republika tersebut penelitian ini menggunakan paradigma kritis dan analisis wacana kritis Van Dijk. Hal yang sama terdapat dalam beberapa terbitan atau publikasi dari penelitian terdahulu yang relevan dengan topik yang diangkat dalam penelitian ini, yaitu tentang wacana kritis mengenai pemberitaan konflik di media cetak.

Berikut ini dipaparkan beberapa penelitian terdahulu dengan konsep yang sama atau focus kajian yang hampir sama yaitu tentang kajian wacana kritis yang telah banyak dilakukan :

1. Analisis Wacana Terhadap Teks Berita Tuntutan Pembubaran FPI pada SKH Kompas Edisi Februari 2012. Khuriyati UIN Sunan Kalijaga.

Dalam penelitian ini, mengambil analisis tentang pemberitaan SKH Kompas terkait pembubaran organisasi masyarakat FPI (Front Pembela

(35)

Islam) . Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Data- data akan dianalisa menggunakan model analisis wacana yang diperkenalkan oleh Theo Van Leeuwen. Analisis Van Leeuwen secara umum menampilkan bagaimana pihak-pihak dan aktor (seseorang atau kelompok) ditampilkan dalam pemberitaan. Ada dua pusat perhatian.

Pertama, exclusion (eksklusi) , Apakah dalam suatu teks berita, ada kelompok atau aktor yang dimunculkan dalam pemberitaan dan strategi wacana apa yang dipakai untuk itu. Kedua. Inclusion ( inklusi ) , yakni aktor yang disebut ( seseorang atau kelompok masukkan dan digambarkan dalam pemberitaan. Meskipun aktor tidak dihilangkan, proses marjinalisasi seseorang atau kelompok tertentu tetap bisa dilakukan.

Dalam teorinya Model analisis Theo Van Leeuwen menggunakan teknik eksklusi dan inklusi memiliki strategi untuk mengetahui proses pemarjinalan yang terjadi pada pemberitaan tersebut, teknik eksklusi terbagi menjadi pasivasi, nominalisasi dan penggantian anak kalimat, sedangkan teknik inklusi terbagi menjadi tujuh yakni, diferensiasi- indiferensias-abstraksi, nominasi kategoresasi, nominasi-identifikasi, determinasi-indeterminasi, asimilasi-individualisasi dan asosiasi- disasosiasi. Hasil dari penelitian tersebut mengungkapkan bahwa Kompas terkesan berhati-hati dalam setiap berita yang dipublikasikannya, pemarjinalan yang terjadi pada pemberitaan Kompas tidak secara langsung memojokan FPI, strategi eksklusi tidak terlalu digunakan, hal ini menunjukan bahwa Kompas cenderung tidak mengeluarkan aktor yang bersangkutan (FPI) . Pemberitaan pada Kompas sering melakukan strategi inklusi dimana FPI juga ditampilkan sebagai ormas yang hanya bertindak anarkis dalam melakukan aksinya, kompas tidak menyebutkan kegiatan FPI yang bersikap positif seperti kegiatan sosial. Dalam pemberitaan ini terkait dengan teknik inklusi, Kompas cenderung menyoroti sikap aparat yang bertindak aktif dan sigap.

2. Analisis Wacana Rencana Pembakaran Al-Qur‘an oleh Terry Jones Dalam Surat Kabar Harian Republika Edisi September 2010. Zuni Indana Zulfa IAIN Walisongo tahun 2011.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana konstruksi Harian Republika dalam pemberitaan Rencana Pembakaran Al-Qur‘an yang marak diberitakan di berbagai media massa selama bulan September 2010.

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan metode analisis wacana Teun A Van Dijk. Metode ini memiliki tiga tahapan penelitian yaitu tahapan teks, kognisi sosial, dan konteks sosial. Tiap berita akan penulis teliti dengan tiga tahapan tersebut kemudian akan

(36)

ditarik suatu kesimpulan yang sesuai dengan penelitian. Maka di setiap berita akan dikemukakan hasil simpulan yang berbeda karena didasari oleh analisis teks, kognisis sosial, dan konteks sosial. Adapun hasil analisis yang didapatkan oleh penulis adalah sebagai berikut: pertama pada berita berjudul ‗Umat Islam Jangan Terprofokasi‘, hasil penelitian menyebutkan bahwa berita ini bersifat reaktif. Dalam berita kedua, berjudul ‗FUI Kecam Rencana Pembakaran Al-Qur‘an‘ juga menyebutkan bahwa berita ini juga bersifat reaktif karena kedua berita tersebut dibangun oleh konteks sosial masyarakat saat itu. Berita ketiga dengan judul ‗Pemuka Agama AS Mengutuk‘penulis menyatakan bahwa berita tersebut bersifat mendukung atas ungkapan para nara sumber yang diwawancarai. Dalam berita ketiga berjudul ‗AS Tak Perangi Islam‘ berita ini bersifat netralisasi karena memberitakan keadaan masyarakat AS saat ulang tahun ke 10 WTC di Amerika. Sedangkan dalam berita terakhir Pembakaran Al-Qur‘an Dikecam‘ berita ini bersifat kontra karena memberitakan efek lain dari rencana Terry Jones yaitu terjadinya pembakaran serta perobekan Al- Qur‘an yang dilakukan oleh orang lain. Maka hasil analisis yang didapatkan oleh penulis adalah koran Republika mencoba mengkonstruksi kepada pembacanya untuk turut menolak rencana Terry Jones yaitu membakar Al-Qur‘an karena menganggap bahwa umat Islam adalah teroris yang harus diperangi.

3. Kontruksi Berita Larangan Pemakaian jilbab Pada Situs www.Republika.co.id. UIN Sunan Kalijaga, Ita Septiyani.

Republika online mencoba membongkar dan mengkonstruksi kasus larangan pemakaian jilbab di SMA Negeri Bali dilihat dari kacamata Islam. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif yakni penelitian yang berusaha mengetahui konstruksi berita yang dibangun oleh media Republika online mengenai kasus pelarangan jilbab di SMA Negeri Bali.

Setelah melakukan analisis dengan menggunakan konsep Critical Discourse Analysis (CDA) yang diterapkan oleh Teun Van Dijk pada tingkat teks maka diperoleh kesimpulan bahwa Republika online menggunakan struktur makro, superstruktur, dan struktur mikro. Pada struktur mikro semantik, sintaksis, stilistik, dan retoris digunakan semua meskipun detil pada semantik lebih ditonjolkan. Ditinjau dari analisis konsep Van Dijk, secara garis besar kecenderungan berita yang di konstruksi oleh Republika online dalam pemberitaan kasus larangan pemakaian jilbab di SMA Negeri Bali pertama, melanggar Hak Asasi Manusia (HAM), tidak seharusnya pihak sekolah memberlakukan tidak

(37)

adil terhadap siswa yang beragama minoritas. Kedua, otonomi sekolah bertentangan dengan UU Sisdiknas Nomor 23 Bab 5, SK Dirjen Dikdasmen Nomor 100 Tahun 1991 dan UUD 1945. Ketiga, semestinya dalam menjaga kearifan lokal tidak boleh ada pelarangan pemakaian jilbab untuk menjaga kedamaian umat.

4. Kontruksi Media Cetak Terhadap Radikalisme (Analisis Wacana Kritis Terhadap Pemberitaan Pelarangan Guru Agama Asing Di Indonesia Dalam SKH Republika Edisi Januari 2015) UIN Sunana Kalijaga Yogyakarta.

Lulus Novita tahun 2015.

Berawal dari sejak Menteri Ketenaga kerjaan, Muhammad Hanif Dhakiri memberikan keputusan terkait larangan guru agama asing untuk tidak mengajar di Indonesia menuai beragam polemik. Pemerintah khawatir adanya radikalisme yang marak di semua agama di Indonesia. Dari kekhawatiran itulah media cetak seperti SKH Republika dalam mengkonstruksikan wacana radikalisme pada pemberitaan larangan guru agama asing, sebagaimana menyampaikan pesan terkait radikalisme Islam kepada pembaca terutama umat muslim. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, melihat SKH Republika mengkonstruksikan wacana radikalisme pada pelarangan guru agama asing, peneliti menggunakan analisis wacana model Norman Fairlough, untuk menganalisis berita media cetak dengan memakai analisis wacana kritis (Cricitical Discourse Analysis/CDA). Pada level analisis data model Norman Fairclough dibagi menjadi tiga elemen yaitu text, Discourse practice news room, dan sociocultural practice. analisis wacana kritis Norman Fairclough pada elemen tersebut mengungkapkan wacana yang dibentuk oleh SKH Republika. Hasil dari penelitian ini adalah Dari hasil analisis wacana pada kasus pelarangan guru agama asing pada SKH Republika wacana yang ingin dibentuk adalah sebagaimana dan sejauh mana media membentuk persepsi masyarakat atau pembaca dalam memunculkan opini publik, terutama dalam hal menyikapi, mengerti, memahami, dan sebagai pembelajaran tentang makna radikalisme dalam hal lebih ke kewaspadaan di setiap agama, terutama agama Islam di Indonesia. Radikalisme yang dimaksudkan di sini merupakan paham atau aliran yang menuju kepada gerakan-gerakan kekerasan yang mempunyai tujuan dan politik tertentu dengan mengatasnamakan agama. Selain itu konstruksi wacana radikalisme dalam teks, Discourse practice news room, dan sociocultural practice dari segi wartawan yang menulis berita serta redaktur membuat jelas bahwa peran media dalam pemberitaannya menunjukkan bagaimana ideologi dianut oleh sebuah media.

(38)

5. Analisis Konflik Pembangunan Rumah Ibadat Di Provinsi Nusa Tenggara Timur (Studi Kasus Pembangunan Masjid Pembangunan Masjid Di Kota Kupang Dan Kabupaten TTU) Reynold Uran

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yaitu hasil wawancara dengan pihak-pihak yang terlibat atau mengetahui konflik ini.

Selain dari pihak-pihak ini, data primer juga penulis dapatkan dari dokumen-dokumen penting yang dikeluarkan pemerintah yang berkaitan dengan konflik ini, dokumen dari pihak pembangun masjid, dokumen dari karang taruna dan masyarakat. Data sekunder juga penulis gunakan dalam penelitian ini seperti kliping koran lokal ; Pos Kupang dan Timor Express, media online, buku-buku referensi terkait konflik pembangunan rumah ibadat dan beberapa aturan terkait kebebasan beragama dan beribadah seperti UUD 1945, UU No.12 Tahun 2005 tentang Kovenan Internasional Hak-hak Sipil dan Politk dan KB 2 Menteri tahun 2006 yang mengatur tentang pendirian rumah ibadat dan penyelesaian konflik akibatnya. Data yang terkumpul ini kemudian diproses dengan metode analisa deskripsi kualitatif, yang bersifat menjabarkan, menerangkan dan mendeskripsikan secara terperinci mengenai fenomena yang ada dan juga disertai pandangan para pakar terkait kejadian atau fenomena tersebut. Hasil dari penelitian ini adalah ditemukannya faktor-faktor yang menginisiasi konflik maupun faktor yang kemudian bisa menyelesaikan konflik yang muncul di tiap fase konflik seperti faktor prosedur atau teknis yang berfungsi paradoks untuk kedua konflik, faktor isu yang menyertai konflik yang membuat konflik makin kompleks, faktor aksi masyarakat dalam berkonflik, tipe konflik yang berbeda antara dua konflik, dimensi lokalitas konflik, faktor peran pemerintah daerah dan polisi, FKUB, Media Massa dan bagaimana hasil akhir yang bervariasi dari kedua konflik.

6. Analisis Wacana Kritis terhadap Pemberitaaan Kasus Sampang (Aliran Sunni dan Syiah) dalam Harian Suara Merdeka (edisi Agustus – September 2012) Filayati, Citra Nita (2013) , IAIN Walisongo.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana konstruksi Harian Suara Merdeka dalam pemberitaan kasus di Sampang Madura yang melibatkan warga Sunni dan Syiah edisi Agustus sampai September 2012.

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis wacana kritis. Adapun model wacana yang dipilih adalah model wacana yang dikembangan oleh Norman Fariclough.

Dalam meneliti dengan menggunakan model ini, digambarkan memiliki

(39)

tiga bagian ; teks, discourse practice, dan sociocultural practice.

Kesimpulan yang dapat diambil dalam penelitian ini adalah Harian Suara Merdeka lebih menampilkan pendapat masyarakat yang meminta agar kasus kekerasan mendapat penyelesaian yang tuntas. Dalam kasus ini, Suara Merdeka tidak menyudutkan salah satu pihak antara Sunni dan Syiah. Suara Merdeka juga menghimbau kepada pemerintah untuk lebih meningkatkan intelijennya dalam menanggapi kasus serupa agar tidak terulang kembali.

7. Wacana Keagamaan Syiah-Sunni Dalam Majalah Tempo Dan Suara Hidayatullah , Dadang S. Anshori 2012

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penggunaan bahasa sebagai representasi sikap media massa terhadap masalah konflik Syiah-Suni.

Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis wacana kritis Fowler. Sumber data adalah pemberitaan konflik Syiah- Sunni di Sampang dalam Majalah Tempo dan Suara Hidayatullah. Hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, konflik Syiah-Sunni digambarkan dalam judul-judul dan sudut pandang pemberitaan. Kasus konflik Syiah- Sunni diberitakan Tempo dengan sudut pandang serangan laknat sedangkan Suara Hidayatullah menyajikan pertentangan substansi pemahaman keagamaan. Kedua, penggunaan kosakata, seperti memaksakan keyakinan, pembersihan Syiah, serangan laknat, intoleransi dapat mewakili sikap Tempo sedangkan sikap Suara Hidayatullah diwakili dengan kosakata sesat, menyesatkan, pembajakan, syirik, dan kafir.

Ketiga, berdasarkan penggunakan kosakata dan kalimat, Tempo bersikap cenderung berpihak terhadap kelompok Syiah, sedangkan Suara Hidayatullah cenderung bersikap memihak kelompok Sunni Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan kritis.

8. Kontruksi Berita Konflik Mesuji dan Lampung Selatan Di TV One (Analisis Framing Berita Konflik Mesuji dan Berita Konflik Lampung Selatan dalam Siaran Tv One 2011-2012) Shinta Paramita.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana konstruksi pemberitaan konflik Mesuji dan Lampung Selatan yang disiarkan TV One dalam kurun waktu 2011 sampai 2012. Berita yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 33 berita. 18 berita membahas tentang konflik Mesuji dan 15 berita membahas tentang konflik Lampung Selatan.

Menggunakan metode framing model Dahinden dan Robert Etnam.

Metode framing yang diterapkan Dahinden berupa basic frame untuk melihat posisi dan pandangan tersendiri terhadap media dan teks berita.

Kemudian framing Entman menjelaskan bahwa dalam membuat kerangka

(40)

framing dengan cara menyeleksi dan memberi perlakukan tertentu terhadap aspek dari sebuah peristiwa yang akan diteliti dalam teks berita.

Lebih lanjut Entman menjelaskan bahwa framing merupakan kegiatan pemberi definisi, penjelasan, evaluasi, dan rekomendasi terhadap peristiwa yang diwacanakan. Konsepsi mengenai framing dari Entman tersebut menggambarkan secara luas bagaimana peristiwa dimaknai dan ditandakan oleh wartawan. Dari penjelasan di atas maka didapat frame-frame yang membentuk pola dalam konflik Mesuji dan Lampung Selatan. Frame tersebut adalah motif konflik, dinamika konflik, dan penyelesaian konflik.

Hasil penelitian dalam konflik Mesuji TV One lebih memusatkan perhatian kepada kebrutalan dan tidak anarki yang dilakukan masyrakat Mesuji. Sedangkan dalam Lampung Selatan TV One lebih memusatkan perhatian kepada masyarakat Lampung yang mudah terprovokasi dan mudah emosinal. Dalam frame dinamika konflik perbedaan mulai terlihat dalam konflik Mesuji frame lebih dipusatkan kepada kritik terhadap kinerja pemerintah, sedangkan dalam konflik Lampung Selatan frame lebih mengangkat menderitanya masyarakat etnis Bali di pengungsian.

Dalam frame penyelesaian konflik dari ke kedua konflik tersebut mempunyai kesamaan bahwa konflik hanya bisa diselesaikan oleh pemerintah. Dari temuan di atas menunjukan bahwa wartawan tidak kritis dalam melihat fenomena yang terjadi di Mesuji dan Lampung Selatan.

Sehingga mereka menciptakan kualitas berita yang rendah. Kualitas berita yang rendah itulah yang diserap audien dan akhirnya persepsi mereka akan kedua konflik tersebut akan bergeser.

9. Konflik Agama dalam Media Berita Online (Kajian Kritis Pemberitaan Konflik Cikeusik Dalam Portal VIVA.CO.ID Pada Periode Bulan Februari 2011) M. Fikri. Ar 2012

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana konstruksi berita- berita konflik Ahmadiyah di Cikeusik yang diberitakan media berita online VIVA.co.id, pada periode bulan Februari 2011. Satu masalah pokok tersebut dikaji dan diteliti berdasarkan data-data 170 berita konflik Cikeusik, dan dilengkapi wawancara mendalam dengan pengelola media berita online VIVA.co.id tersebut, hingga dihasilkan kesimpulan dan temuan-temuan yang bersifat spesifik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Critical Discourse Analysis (CDA) model Norman Fairclough yang secara garis besar mencakup analisis multilevel, dari level mikro (teks), level meso (praktik wacana), dan level makro (sosiokultural) yang secara bersama-sama diterapkan untuk membaca, menganalisis dan menginterpretasi teks-teks berita konflik Cikeusik yang sudah ditetapkan sebelumnya. Di dalamnya, peneliti menemukan kecenderungan bahwa masing- masing pihak yang terikut dalam konflik Cikeusik memiliki pengaruh dan peran yang berbeda. Hasil penelitian menemukan kecenderungan bahwa massa penyerang dikonstruksikan sebagai pihak agresor yang brutal, sementara di lain pihak, korban konflik Cikeusik

(41)

dikonstruksikan menjadi pihak yang mengalami trauma psikologis. Model konstruksi konflik yang terbangun di dalamnya adalah spiral konflik, sedangkan konstruksi ideologi di dalamnya adalah ideologi liberal yang bergerak bebas, terbuka, dengan menjadikan insiden konflik sebagai bahan utama pemberitaan.

10. Relasi antara Pengetahuan Agama dan Kekerasan Atas Nama Agama.

Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama pada tahun 2009 dan dipublikasikan pada 2010.

Penelitian tersebut memiliki tujuan untuk mengetahui lima hal, pertama, ada tidaknya hubungan antara pemahaman agama dengan tindak kekerasan atas nama agama; kedua ada tidaknya hubungan antara aktualisasi ajaran agama dengan tindak kekerasan atas nama agama, ketiga, ada tidaknya perbedaan tindak kekerasan atas nama agama antara orang yang memiliki pemahaman agama yang tingggi dengan yang memiliki pemahaman agama yang rendah, keempat adalah ada tidaknya perbedaan tindak kekerasan atas nama agama antara orang yang kuat keinginan melakukan aktualisasi agama dengan yang kurang kuat, dan terakhir adalah ingin mengetahui alternatif solusi untuk mengurangi atau meredam munculnya tindak kekerasan atas nama agama. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode gabungan kuantitatif dan kualitatif. Metode kuantitatif menggunakan survei yang dilakukan pada 6 propinsi di Indonesia yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, NTB, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan dan Kalimantan Barat. Teknik pengambilan sampel menggunakan Multistage Random Sampling. Hasil menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara pengetahuan agama dengan tindak kekerasan atas nama agama.

Makin baik pengetahuan agama seseorang, maka makin tidak terdorong orang tersebut untuk melakukan tindak kekerasan atas nama agama; dan sebaliknya makin kurang pengetahuan agama seseorang, maka kecenderungan kekerasan atas nama agama akan meningkat. Berdasarkan persamaan regresi antara variabel pengetahuan agama dengan tindak kekerasan atas nama agama, diketahui bahwa jika pengetahuan agama meningkat satu unit, maka kekerasan atas nama agama akan berkurang sebesar 0,366 unit. Penelitian ini juga menemukan bahwa tidak ada kaitan antara keinginan aktualisasi ajaran agama dengan kekerasan atas nama agama. Kesimpulan ini ditunjang oleh data deskriptif jawaban responden, yang mayoritas tidak ingin atau tidak setuju jika ajaran Islam diterapkan secara paksa; dan mayoritas responden menolak jika agama Islam dijadikan agama negara. Ketiga diperoleh data bahwa terdapat perbedaan pemahaman keagamaan responden berdasarkan propinsi, dan akibat

(42)

perbedaan pemahaman ini dapat menimbulkan konflik antar umat sesama agama. Sementara temuan keempat menunjukan bahwa tidak terdapat perbedaan tindak kekerasan atas nama agama lantaran perbedaan aktualisasi ajaran agama.

Tabel 2.1. Matrik Penelitian Sejenis

No Nama Judul Metedologi Hasil Analisis

1. Khuriyati UIN Sunan Kalijaga Tahun 2012.

Analisis Wacana Terhadap Teks Berita Tuntutan Pembubaran FPI

pada SKH

Kompas Edisi Februari 2012.

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif.

Data-data akan dianalisa menggunakan model analisis wacana yang diperkenalkan oleh Theo Van Leeuwen. Ada dua pusat perhatian.

Pertama, exclusion (eksklusi)

Hasil dari penelitian tersebut mengungkapkan bahwa Kompas terkesan berhati-hati dalam setiap berita yang dipublikasikannya,

pemarjinalan yang terjadi pada pemberitaan Kompas tidak secara langsung memojokan FPI, strategi eksklusi tidak terlalu digunakan, hal ini menunjukan bahwa Kompas cenderung tidak mengeluarkan aktor yang bersangkutan (FPI) . Pemberitaan pada Kompas sering melakukan strategi inklusi dimana FPI juga ditampilkan sebagai ormas yang hanya bertindak anarkis dalam melakukan aksinya, kompas tidak menyebutkan kegiatan FPI yang bersikap positif seperti kegiatan sosial.

Dalam pemberitaan ini terkait dengan teknik inklusi, Kompas cenderung menyoroti sikap aparat yang bertindak aktif dan sigap.

Dalam penelitian ini media bersikap atau berupaya netral dan juga mendorong pemerintah agar lebih tegas dengan pemberitaan-pemberitaan kinerja pemerintah atau aparat

2. Zuni Indana Zulfa IAIN Walisongo 2011

Analisis Wacana Rencana Pembakaran Al- Qur‘an oleh Terry Jones Dalam Surat Kabar Harian Republika Edisi September 2010.

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan metode analisis wacana Teun A Van Dijk

Maka hasil analisis yang didapatkan oleh penulis adalah koran Republika mencoba mengkonstruksi kepada pembacanya untuk turut menolak rencana Terry Jones yaitu membakar Al-Qur‘an karena menganggap bahwa umat Islam adalah teroris yang harus diperangi.

Dalam penelitian ini Republika secara tegas memperlihatkan sebagai media umat muslim.

(43)

3. UIN Sunan Kalijaga, Ita Septiyani

Kontruksi Berita Larangan Pemakaian jilbab Pada Situs www.Republika.

co.id..

Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif yakni penelitian yang berusaha mengetahui konstruksi berita yang dibangun oleh media menggunakan konsep Critical Discourse Analysis (CDA)

Ditinjau dari analisis konsep Van Dijk, secara garis besar kecenderungan berita yang di konstruksi oleh Republika online dalam pemberitaan kasus larangan pemakaian jilbab di SMA Negeri Bali pertama, melanggar Hak Asasi Manusia (HAM), tidak seharusnya pihak sekolah memberlakukan tidak adil terhadap siswa yang beragama minoritas. Kedua, otonomi sekolah bertentangan dengan UU Sisdiknas Nomor 23 Bab 5, SK Dirjen Dikdasmen Nomor 100 Tahun 1991 dan UUD 1945. Ketiga, semestinya dalam menjaga kearifan lokal tidak boleh ada pelarangan pemakaian jilbab untuk menjaga kedamaian umat.

Dalam penelitian ini Republika juga memperlihatkan sebagai media muslim.

4. UIN Sunana Kalijaga Yogyakarta.

Lulus Novita tahun 2015.

Kontruksi Media Cetak Terhadap Radikalisme (Analisis Wacana Kritis Terhadap Pemberitaan Pelarangan Guru Agama Asing Di Indonesia Dalam SKH Republika Edisi Januari 2015)

Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, analisis wacana model Norman Fairlough

Hasil dari penelitian ini adalah Dari hasil analisis wacana pada kasus pelarangan guru agama asing pada SKH Republika wacana yang ingin dibentuk adalah sebagaimana dan sejauh mana media membentuk persepsi masyarakat atau pembaca dalam memunculkan opini publik, terutama dalam hal menyikapi, mengerti, memahami, dan sebagai pembelajaran tentang makna radikalisme dalam hal lebih ke kewaspadaan di setiap agama, terutama agama Islam di Indonesia. Radikalisme yang dimaksudkan di sini merupakan paham atau aliran yang menuju kepada gerakan-gerakan kekerasan yang mempunyai tujuan dan politik tertentu dengan mengatasnamakan agama. Selain itu konstruksi wacana radikalisme dalam teks, Discourse practice news room, dan sociocultural practice dari segi wartawan yang menulis berita serta redaktur membuat jelas bahwa peran media dalam pemberitaannya menunjukkan bagaimana ideologi dianut oleh

Penelitian ini menunjukan bahwa Republika berpihak kepada muslim

5. Reynold

Uran 2012 Analisis Konflik Pembangunan Rumah Ibadat Di

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan

1. Hasil dari penelitian ini adalah ditemukannya faktor- faktor yang menginisiasi

Dalam penelitian ini menekankan pada konflik beragama.

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa: 1 Pertama Melalui keteladanan, dalam pelaksanaan pembinaan akhlak guru memberikan contoh yang baik berupa perkataan maupun perbuatan

Agar dalam proses pendataan di sekolah ini bisa bekerja lebih efektif dan menggunakan sistem informasi sesuai dengan perkembangan teknologi yang dapat membantu mempercepat

Menurut pernyataan Lofland yang dikutip oleh Moeloeng, “sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata, dan tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti

Jika Anda tidak akan menggunakan perangkat untuk sementara waktu, Anda bisa menekan tombol Daya selama sekitar 1 detik untuk menonaktifkan layar.. Perangkat Anda kemudian akan

Setelah itu, bermunculan permohonan untuk mendirikan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dari seluruh Indonesia yaitu BPR Berkah Amal Sejahtera, dan BPR Dana Mardhatillah yang mendapat

Adapun tujuan dari penelitian yang dilakukan adalah mengetahui pengaruh dari penambahan bahan limbah botol plastik atau sering disebut PET

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Tingkat pengetahuan

Tujuan dari penelitian ini adalah memetakan parameter penentuan jalur pendakian baru, membuat rute calon jalur pendakian baru menggunakan analisis least cost path,