• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI. Disusun oleh CHRISTOPEL SIAHAAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SKRIPSI. Disusun oleh CHRISTOPEL SIAHAAN"

Copied!
83
0
0

Teks penuh

(1)

STRATEGI POLITIK KEPALA DESA TERPILIH DESA SILALAHI PAGAR BATU TAHUN 2019 (Studi pada: Kepala Desa terpilih Patar Sabungan Nadapdap di Desa Silalahi Pagar Batu Kecamatan Balige Kabupaten Toba)

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Pada Program Studi Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik

Universitas Sumatera Utara

Disusun oleh

CHRISTOPEL SIAHAAN 130906101

DEPARTEMEN ILMU POLITIK

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2020

(2)
(3)
(4)
(5)

ABSTRAK

STRATEGI POLITIK KEPALA DESA TERPILIH DESA SILALAHI PAGAR BATU TAHUN 2019 (Studi pada: Kepala Desa terpilih Patar Sabungan Nadapdap di Desa Silalahi Pagar Batu, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU POLITIK

CHRISTOPEL SIAHAAN ( 130906101 )

Penelitian ini mencoba menguraikan strategi pemenangan Patar Sabungan Nadapdap dalam Pemilihan Kepala Desa di Desa Silalahi Pagar Batu, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba Tahun 2019. Strategi politik yang dilakukan Patar Sabungan Nadapdap membuahkan hasil pada pemilihan Kepala Desa di Desa Silalahi Pagar Batu Tahun 2019. Visi-Misi dan Program Kerja serta prestasi Patar Sabungan Nadapdap menjadi senjata politik yang diapresiasi oleh masyarakat untuk kesejahteraan Desa Silalahi Pagar Batu. Teori yang digunakan dalam menjelaskan permasalahan ini yakni teori marketing politik, teori branding politik, posisioning politik, serta teori komunikasi politik, menjadi suatu konsep untuk menjawab sebuah permasalahan dalam strategi politik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini dengan wawancara sebagai teknik utama pengumpulan data, penelitian ini mengandalkan hasil analisis dari data wawancara yang diperoleh dan relevasinya dengan teori yang digunakan. Strategi politik digunakan untuk mewujudkan cita-cita politik dalam mendapatkan kekuasaan, sehingga marketing politik, branding politik, positioning politik dan komunikasi politik menjadi suatu konsep dalam proses pemilihan Kepala Desa.

Kata Kunci: Strategi Politik, Marketing Politik, Pemilihan Kepala Desa.

(6)

ABSTRACT

POLITICAL STRATEGY OF ELECTED HEAD VILLAGE IN DESA SILALAHI PAGAR BATU 2019

(Study: The Ellected Head Village Patar Sabungan Nadapdap in Desa Silalahi Pagar Batu, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba)

UNIVERSITY OF NORTH SUMATERA

FAKULTY OF SOCIAL SCIENCE AND POLITICAL SCIENCE DEPARTMENT OF POLITICAL SCIENCE

CHRISTOPEL SIAHAAN ( 130906101 )

This research focused on the strategy of winning of Patar Sabungan Nadapdap in village election at Desa Silalahi Pagar Batu, Kecamatan Balige, Kabupten Toba 2019. The political strategy of Patar Sabungan Nadapdap is successful. His visions, programs and achievements become a gun politics that very welcomed by people of Desa Silalahi Pagar Batu. There are four theory used in this case, they are; Marketing political, branding political, positioning political, and communication political. The theories to be a concept to respond the political problem. The Interview is a method that used to collect the data. This research used the result analysis from interview. Political strategy used to get the auhority.

So, marketing political, branding political, positioning political, and communication political are the concept in a village election.

Keywords: Polititical Strategy, Political Marketing, Village Election.

(7)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya ucapkan kepada Tuhan atas segala limpahan kasih, berkat dan karunia-Nya yang telah memberikan penulis kesehatan, kesempatan dan kemudahan untuk dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “STRATEGI POLITIK KEPALA DESA TERPILIH DESA SILALAHI PAGAR BATU TAHUN 2019 (Studi pada Kepala Desa Terpilih Patar S Nadapdap di Desa Silalahi Pagar Batu, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba, Provinsi Sumatera Utara)”. Penyusunan skripsi ini bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan pendidikan pada program studi Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tanpa dukungan sari berbagai pihak, skripsi ini tidak akan terselesaikan. Untuk itu penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah membantu dengan sepenuh hati, baik berupa ide, kritik, saran, dukungan semangat, doa, bantuan moril maupun materil sehingga skripsi ini dapat diselesaikan pada waktu yang tepat.

Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada semua pihak yang telah membantu menyelesaikan skripsi ini.

Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Dr. Muryanto Amin, S.Sos, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Warjio Ph.D selaku Ketua Program Studi Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Tonny P. Situmorang M.Si selaku Dosen pembimbing skripsi yang telah bersedia meluangkan waktu ditengah kesibukannya untuk membimbing jalannya penelitian ini. Terima kasih atas saran dan masukan yang diberikan terhadap penelitian ini sehingga skripsi ini jauh lebih baik dari sebelumnya.

4. Dosen dan Staff Pengajar Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

(8)

Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan Ilmu yang bermanfaat.

5. Kak Emma dan Bang Burhan yang selalu membantu penulis dalam pengurusan administrasi.

6. Bapak Patar Sabungan Nadapdap selaku Kepala Desa Silalahi Pagar Batu yang telah membantu penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.

7. Bapak Januardy Silalahi selaku Ketua Tim Pemenangan Patar Sabungan Nadapdap yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi dan sarannya yang membangun penulis.

8. Bapak Jonsi Silalahi sebagai Direktu BumDes Silalahi Pagar batu yang telah membantu penulis untuk menyelesaikan skropsi ini.

9. Penghargaan yang tertinggi saya berikan kepada kedua orang tua saya yaitu Bapak P. Siahaan dan Ibu N. Simanjuntak yang telah merawat dan mendidik saya dengan sepenuh hati. Terimakasih untuk kasih sayang, pengorbaan, dan doa-doanya selama ini. akhirnya inilah salah satu persembahan yang dapat saya berikan sebagai tanda ucapan terimakasih dan tanda bakti saya kepada kedua orang tua.

10. Saya ucapkan terimakasih kepada saudari-saudari saya yaitu kakak saya Mamak Chelsea, kakak saya Mamak Athalia, dan adik saya Oktapin Siahaan atas segala dukungannya kepada saya.

11. Saya ucapkan terimakasih kepada yang terkasih Eklesya Nurcahaya Simatupang yang telah menemani penulis dalam penulisan skripsi ini, terimakasih sudah selalu ada menemani saya serta sabar dan selalu memberi motifasi kepada saya.

12. Terimakasih banyak kepada teman-teman angkatan 2013 Ilmu Politik, terkhusus kepada teman terdekat penulis yang telah banyak berbagi pengalaman bersama selama menempuh pendidikan, yakni kepada M.Nur Fachri, Daniel Siahaan, Bambang Laksana Silaen, dan adik saya Hotdy Parjono Sihombing, semoga semangat melamar kerjanya dan dapat bertemu kembali dalam kondisi yag lebih baik.

(9)

Akhirnya untuk semua pihak yang mendukung yang tidak dapat saya tuliskan satu persatu, demikianlah penulis mengucapkan banayak terimakasih kepada seluruh pihak yang mendukung. Penullis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan, untuj itu penulis mengharapkan masukan dan saran-saran yang bersifat membangun. Demikianlah yang dapat penulis sampaikan semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan kepada penulis khususnya. Dan akhir kata dengan kerendahan hati, penulis mengucapkan terimakasih banyak kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam membantu penulis menyelesaikan skripsi ini.

Medan, September 2020

Penulis,

Christopel Siahaan 130906101

(10)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR TABEL DAN GAMBAR ... vi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 9

1.3 Batasan Masalah ... 9

1.4 Tujuan Penelitian ... 9

1.5 Manfaat Penelitian ... 10

1.6 Penelitian Terdahulu ... 10

1.7 Kerangka Konseptual dan Teori ... 11

1.7.1 Strategi Politik ... 11

1.7.2 Strategi Kampanye Politik ... 13

1.8 Metodelogi Penelitian ... 19

1.8.1 Jenis Penelitian ... 19

1.8.2 Lokasi Penelitian ... 20

1.8.3 Teknik Pengumpulan Data ... 20

1.8.4 Teknik Analisis Data ... 20

I.9. Sistematika Penulisan ... 21

BAB II PROFIL DESA SILALAHI PAGAR BATU 2.1 Sejarah Desa Silalahi Pagar Batu... 22

2.1.1 Visi-Misi Desa Silalahi Pagar Batu ... 23

2.1.2 Keadaan Geografis ... 25

2.1.3 Keadaan Demografis dan Kependudukan ... 26

2.1.4 Tingkat Pendidikan ... 27

2.1.5 Keadaan Sosial Ekonomi ... 28

2.1.6 Sarana dan Prasarana Desa Silalahi Pagar Batu ... 30

2.2 Profil Kepala Desa Terpilih Patar S Nadapdap ... 32

2.3 Rekapitulasi Jumlah DPT Pilkades Desa Silalahi Pagar Batu ... 33

(11)

2.4 Tata Tertib Pencalonan dan Tahapan Pilkades ... 32

2.5 Rekapitulasi Perolehan Suara Pilkades Silalahi Pagar Batu 2019 ... 47

BAB III STRATEGI KAMPANYE POLITIK KEPALA DESA TERPILIH PATAR SABUNGAN NADAPDAP PADA PILKADES DI DESA SILALAHI PAGAR BATU TAHUN 2019 3.1 Marketing Politik Kepala Desa Terpilih Patar Nadapdap ... 48

3.2 Branding dan Positioning Patar Sabungan Nadapdap... 50

3.2.1 Pembentukan dan Penempatan Tim Pemenangan ... 51

3.2.2 Survey Terhadap Masyarakat ... 52

3.2.3 Menyusun Visi-Misi dan Program kerja ... 53

3.2.4 Mengubah Opini Masyarakat ... 54

3.2.5 Menciptakan Personal Branding ... 56

3.2.6 Kampanye Langsung ... 59

3.3 Komunikasi Politik Tim Pemenangan Patar S Nadapdap ... 60

BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan ... 63

4.2 Saran ... 64 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(12)

DAFTAR

TABEL DAN GAMBAR

TABEL

Tabel 1. Nama-nama Kepala Desa Silalahi Pagar Batu ... 23

Tabel 2. Komposisi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin ... 26

Tabel 3. Komposisi Penduduk Berdasarkan ETNIS ... 27

Tabel 4. Komposisi Penduduk Berdasar Tingkat Pendidikan ... 28

Tabel 5. Komposisi Penduduk Berdasar Mata Pencaharian Pokok ... 29

Tabel 6. Komposisi Penduduk Berdasar Agama... 29

Tabel 7 . Sarana dan Prasarana Bidang Pendidikan ... 30

Tabel 8. Sarana dan Prasarana Bidang Kesehatan ... 31

Tabel 9. Sarana dan Prasarana Kesejahteraan Masyarakat ... 32

Tabel 10.Rekapitulasi Daftar Pemilih Tetap (DPT) ... 33

Tabel 11.Tahapan Pemilihan Kepala Desa ... 44

Tabel 12.Hasil Rekapitulasi Perolehan Suara ... 47

GAMBAR Gambar 1.Proposal/kliping Visi-Misi dan Program Kerja ... 53

Gambar 2.Struktur Kepengurusan BumDes ... 57

(13)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Desa atau sebutan lainnya yang sangat beragam di Indonesia pada awalnya merupakan organisasi komunitas lokal yang mempunyai batas-batas wilayah, dihuni oleh sejumlah penduduk dan mempunyai adat istiadat untuk mengelola wilayahnya sendiri. Menurut data yang ada di Kementerian Dalam Negeri, Indonesia memiliki jumlah desa hingga tahun 2017 mencapai 74.957 desa.1 Ini artinya bahwa wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia begitu banyak memiliki pemerintahan desa.

Keberadaan Desa secara yuridis formal diakui dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemeritahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa. Berdasarkan ketentuan tersebut Desa diartikan sebagai desa dan desa adat atau yang disebut dengan nama lain. Selanjutnya disebut Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.2

Desa atau sebutan lainnya seperti nagari, marga, kampong, dusun, dati dan sebagainya merupakan sebuah komunitas adat dan sebagai unit pemerintahan terendah dalam struktur pemerintahan Indonesia. Secara etimologi kata desa berasal dari bahasa sansekerta, desa yang berarti tanah air, tanah asal, atau tanah kelahiran.3 Dari perspektif geografis, desa atau village diartikan sebagai desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan untuk mengurus rumah tangganya sendiri berdasarkan hak asal-usul dan adat istiadat yang diakui dalam pemerintahan nasional dan berada di daerah kabupaten.

1 Peraturan Menteri Dalam Negeri No 137 Tahun 2017 Tentang Kode dan Data Wilayah

2 Undang-undang No.6 Tahun 20014 Tentang desa

3 Maschab Mashuri. Politik Pemerintahan Desa di Indonesia. Yogyakarta: PolGov, 2013. Hal. 2

(14)

Desa merupakan suatu sistem sosial dengan lembaga sendiri dimana desa memiliki lembaga politik, ekonomi, peradilan, dan sosial-budaya yang dikembangkan oleh masyarakatnya sendiri. Misalnya dalam lembaga politik, desa mempunyai Kepala desa dan Perangkat desa yang tata cara dan pengaturan tugas pokok dan fungsinya dikembangkan sendiri berdasarkan inisiatif masyarakat desa sendiri, bukan berdasarkan instruksi dari pemerintah diatasnya.4

Berdasarkan ketentuan Pasal 202 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dijelaskan bahwa Pemerintah Desa terdiri atas kepala desa dan perangkat desa. Perangkat desa terdiri dari sekretaris desa dan perangkat desa lainnya. Sekretaris desa diisi dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi persyaratan. Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Desa dan Badan Permusyawaratan Desa yaitu untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam Sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Adapun urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan desa mencakup:5 a)Urusan pemerintahan yang sudah ada berdasarkan hak asal-usul desa,

b)Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Kabupaten/Kota yang diserahkan pengaturannya kepada Desa disertai pembeayaannya; yang secara langsung dapat meningkatkan pelayanan dan pemberdayaan masyarakat.

c)Tugas pembantuan dari pemerintah, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabipaten/Kota yang disertai dengan pembiayaan, sarana dan prasarana, serta sumberdaya manusia dengan berpedoman pada peratuan perundang-undangan.

d)Urusan pemerintahan lainnya yang oleh peraturan perundang- undangan disertai kepada Desa.

Pemerintah Desa merupakan struktur yang paling bawah dalam sistem Pemerintahan Nasional. Pemerintah Desa mempunyai kedekatan dengan masyarakat dari berbagai lapisan, golongan, kepentingan dan berbagai persoalan dalam masyarakat. Hal ini menunjukan bahwa jika Pemerintahan Desa berfungsi

4 Hanif Nurcholist, 2011. Pertumbuhan dan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa. Jakarta:

Airlangga. Hal. 12.

5 Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah

(15)

dengan baik, maka akan sangat memberikan pengaruh signifikan terhadap kemajuan berbagai bidang dalam masyarakat.

Pemerintah Desa atau yang disebut dengan nama lain adalah Kepala Desa dan Perangkat Desa sebagai unsur penyelenggara pemerintahan desa. Badan Permusyawaratan Desa (BPD) yang disebut dengan nama lain adalah lembaga yang merupakan perwujudan demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan desa sebagai unsur penyelenggara pemerintahan desa.

Pemerintahan desa dipimpin oleh seorang Kepala Desa. Kepala desa atau sebutan lain sesuai Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 84 Tahun 2015 Tentang Struktur Organisasi dan Tata Kerja Pemerintah Desa, adalah pejabat Pemerintah Desa yang mempunyai wewenang, tugas dan kewajiban untuk menyelenggarakan rumah tangga Desanya dan melaksanakan tugas dari Pemerintah dan Pemerintah Daerah. Kepala desa bertanggung jawab atas penyelenggarakan Pemerintahan Desa, pelaksanakan Pembangunan Desa, pembinaan kemasyarakatan Desa, dan pemberdayaan masyarakat Desa.

Kepala Desa merupakan representasi pemerintah desa. Ia menjadi aktor penting dalam pembangunan desa. Oleh karena itu, penentuan Kepala Desa dilakukan dengan cara pemilihan langsung oleh seluruh masyarakat desa. Kepala Desa adalah seorang tokoh di desa yang memenuhi berbagai persyaratan dan berhasil memenangkan pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Kepala desa dipilih oleh masyarakat desa yang telah memiliki hak memilih secara langsung. Syarat dan tata cara pemilihannya diatur dalam peraturan daerah yang berpedoman oada UU No. 6 Tahun 2014 pasal 34. Kepala Desa terpilih dilantik oleh Bupati/Walikota paling lama 30 hari terhitung tanggal penerbitan keputusan Bupati/Walikota.

Berdasarkan ketentuan pasal 203 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dijelaskan bahwa:

1. Kepala desa dipilih langsung oleh dan dari penduduk desa warga negara Republik Indonesia yang syarat selanjutnya dan tata cara pemilihannya diatur dengan perda yang berpedoman kepada Peraturan Pemerintahan.

(16)

2. Calon kepala desa yang memperoleh suara terbanyak dalam pemilihan kepala desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ditetapkan sebagai kepala desa.

3. Pemilihan kepala desa dalam kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan yang diakui keberadaanya berlaku ketentutan hukum adat setempat yang ditetapkan dalam Perda dengan berpedoman pada Peraturah pemerintah.

Pemilihan Kepala Desa merupakan hak mengurus dan mengatur politik rakyat lokal pedesaan dan proses pensejahteraan rakyat dalam konsep penyelenggaraan otonomi desa. Berlakunya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah dan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 tentang desa telah menciptakan suasana baru dalam proses pilkades dan tidak dapat dipungkiri bahwa keterlibatan masyarakat dalam pemilihan kepala desa ini telah menambah semaraknya peran mereka dalam mengembangkan kehidupan berdemokrasi.6

Berdasarkan ketentuan umum penjelasan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa dijelaskan bahwa Pemerintahan Desa adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh Pemerintah Desa dan Badan Permusyawaratan Desa dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.7

Badan Permusyawaratan Desa atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disingkat (BPD) adalah lembaga yang merupakan perwujudan demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan desa sebagai unsur penyelenggara pemerintahan desa. Lembaga penyelenggara Pilkades adalah Badan Permusyawaratan Desa (BPD). BPD membentuk Panitia Pemilihan yang diisi oleh perangkat desa, pengurus lembaga desa dan tokoh masyarakat desa.

Penyelenggaraan pemilihan Kepala Desa yang berperan sebagai pengawas adalah para anggota BPD yang bertujuan untuk mencapai hasil pemilihan yang lebih baik, penting untuk mendorong munculnya pengawasan mandiri dari unsur-

6 Riko Hardiono, Strategi Keoala Desa Terpilih Desa Tengganau Tahun 2017, Skripsi.Fakultas Ilmu Sosial da Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara. 2018.

7 Undang-undang No 6 Tahun 2014 Tentang Desa.

(17)

unsur masyarakat seperti karang taruna, kelompok perempuan, kelompok tani dan sebagainya.

Panitia pemilihan Kepala Desa memegang peranan yang strategis pada semua tahapan pemilihan. Mulai dari pendataan calon pemilih, penjaringan bakalcalon kepala desa, melaksanakan pemungutan suara, menghitung perolehansuara, dan melaporkan seluruh hasil pemilihan kepala desa berdasarkan Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa.

Pemilihan Kepala Desa juga merupakan pesta rakyat, dimana pemilihan kepala desa dapat diartikan sebagai suatu kesempatan untuk menampilkan orang- orang yang dapat melindungi kepentingan masyarakat desa. Masyarakat desa memiliki kesempatan untuk memilih secara langsung siapa yang akan menjadi pemimpin di desanya.

Pemilihan Kepala Desa secara langsung merupakan mekanisme demokratis dalam rangka rekrutmen pemimpin di desa, dimana rakyat secara menyeluruh memiliki hak dan kebebasan untuk memilih calon-calon yang akan didukungnya, sehingga calon-calon tersebut harus berusaha untuk mendapatkan dukungan penuh dari masyarakat dengan cara menggunakan strategi politik.

Menurut Arnold Steinberg, strategi adalah rencana atau tindakan.

Penyusunan dan pelaksanaan strategi mempengaruhi sukses atau gagalnya strategi pada akhirnya. Jadi dengan kata lain strategi adalah suatu rencana yang dibuat oleh para pemimpin agar dapat mencapai tujuan yang diinginkan.8

Strategi adalah ilmu tentang teknik atau taktik, cara atau kiat muslihat untuk mencapai sesuatu yang diinginkan.9 Politik adalah interaksi antara pemerintah dan masyarakat dalam rangka proses pembuatan dan pelaksanaan keputusan yang mengikat tentang kebaikan bersama masyarakat yang tinggal dalam wilayah tertentu.10 Jadi Strategi Politik adalah ilmu tentang teknik, taktik, cara, kiat yang dikelola politisi untuk mendapatkan dan mempertahankan sumber-sumber

8 Pito Andrianus, Toni. Mengeal Teori-teori Politik. Uasa Bandung, 2006. Hal. 196

9 Tim Prima Pena, Kamus Ilmia Populer (Surabaya: Gitamedia Press, 2006) Hal 448

10 Ramlan Surbakti, Memahami Ilmu Politik (Jakarta: PT Gramedia Widisuasarana, 1992) Hal 10

(18)

kekuasaan, merumuskan dan melaksanakan keputusan politik sesuai yang di inginkan.11

Strategi politik itu sendiri adalah sebuah cara yang telah dipahami dan disusun terlebih dahulu untuk merealisasikan cita-cita politik. Contohnya adalah dalam hal mendapatkan maupun mempertahankan sebuah kekuasaan, seorang politisi harus menggunakan strategi untuk berkampanye. Menurut Peter Scrooder, Strategi kampanye adalah bentuk khusus dari strategi politik.12

Pemilihan Kepala Desa tidak terlepas dari partisipasi politik masyarakat desa. Menurut Harbert McClosky Partisipasi Politik adalah Kegiatan-kegiatan sukarela dari warga masyarakat melalui mana mereka mengambil bagian dalam proses pemilihan penguasa, dan secara langsung atau tidak langsung, dalam proses pembentukan kebijakan umum.13

Partisipasi politik masyarakat desa akan berjalan dengan lancar apabila ada perilaku politik dari masyarakat desa dan sosialisasi politik secara komunikasi politik yang baik dari para bakal calon kepala desa mengenai visi dan misi atau program kerja yang akan dilaksanakan. Umumnya, praktek politik identitas kerap terjadi di indonesia mengingat pluralitas masyarakat indonesia, sehingga para calon kepala desa yang memiliki jaringan kekeluargaan yang sangat kuat, solid dan kompak paling memiliki potensi yang besar untuk memenangkan sebagai kepala desa.

Namun jaringan kekeluargaan, persamaan identitas, etnis, agama maupun mayoritas ataupun politik identitas itu sendiri tidak semata-mata menjadi jaminan kemenangan, dalam beberapa kasus kaum minoritas muncul sebagai pemenang dalam pelaksaan pemiliha umum. Seperti halnya di Desa Silalahi Pagar Batu yang telah menyelenggarakan pemilihan kepala desa sebagai wujud pesta rakyat dalam pemilihan Kepala Desa Silalahi Pagar Batu untuk periode 2019-2025.

Desa Silalahi Pagar Batu merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan Balige, Kabupaten Toba, Sumatera Utara. Desa tersebut memiliki jumlah penduduk 1323 jiwa dimana terdiri dari jumlah penduduk laki-laki 683 jiwa dan

11 Peter Scrooder, Strategi Politik (Jakarta: FNS, 2009) Hal 5-6

12 Ibid Hal 29

13 Miriam Budiarjo. Dasar-dasar ilmu politik. Jakarta: PT. Ikrar Mandiriabadi, 2008. Hal. 367

(19)

penduduk perempuan 640 jiwa. Penduduk yang berjumlah 1323 jiwa di Desa Silalahi Pagar Batu ini memiliki luas 6,14 km2.14 Desa ini dihuni oleh mayoritas marga Silalahi sebagai penduduk asli ataupun pembuka peradaban di perkampungan tersebut, hal ini dibuktikan dari total 331 Kepala Keluarga (KK) terdapat 175 KK Laki-laki yang bermarga silalahi, 14 KK Perempuan boru silalahi dan 71 KK yang di isi oleh boru silalahi dengan status sebagai istri.15

Pada Pemiliham Kepala Desa di Silalahi Pagar Batu Pada Tahun 2019, terdapat Dua Calon yang mengikuti Pencalonan Kepala Desa. Di antara para calon kepala desa bersaing dalam pilkades di desa Sialalahi Pagar Batu yaitu Edward Sutejo Silalahi dan Patar Sabungan Nadapdap.

Calon kepala desa ini tentunya memiliki visi dan misi yang berbeda guna kemajuan masyarakat di desa Silalahi pagar Batu. Untuk itu, para calon kepala desa mempersiapkan cara atau strategi politiknya untuk meraup dukungan sebanyak-banyaknya dari masyarakat. Strategi yang dapat memenangkan posisi sebagai kepala desa, antara lain kampanye melalui visi-misi para calon kepala desa yang akan dilaksanakan dalam pembangunan di desa Sialalahi Pagar Batu.

Strategi ini diharapkan mampu memenangkan pilkades di Desa Sialalahi Pagar Batu.

Calon Kepala, Desa Edward Sutejo Silalahi merupakan Putra Daerah asli pada desa Silalahi Pagar Batu yang memang didirikan oleh marga Silalahi dan dihuni oleh keturunan marga silalahi itu sendiri, sedangkan Patar S Nadapdap merupakan penduduk Desa Silalahi Pagar Batu, namun bukan penduduk asli melainkan sebagai marga pendatang.

Sebagai Marga pendatang pendatang, Patar Sabungan Nadapdap terpilih untuk memimpin desa Silalahi Pagar Batu untuk periode 2019-2025. Pada Pemilihan Kepala Desa Silalahi Pagar Batu, Patar S Nadapdap mendapatkan perolehan suara sebanyak 376 suara, sedangkan Pesaingnya Edward S Silalahi Memperoleh suara sebanyak 297 suara dari 832 DPT dan 72 Pemilih Tambahan..

14 BPS Kecamatan Balige

15 Rekapitulasi Kepala Keluarga Desa Silalahi Pagar Batu Kecamatan Balige

(20)

Fakta lain yang di temukan penulis, ternyata Patar S Nadapdap dan Edwar Sutejo sama-sama telah pernah memimpin Desa Silalahi Pagar Batu di periode sebelumnya. Edwad sutejo memimpin desa Silalahi Pagar Batu pada tahun 2000- 2013 yakni 2 periode, dan Patar Sabungan Nadapdap memimpin setelahnya yakni tahun 2013-2019 (1 Periode) dengan mengalahkan lawan politiknya pada masa itu.

Kemenangan Patar S Nadapdap di periode sebelumnya mengantarkan Patar S Nadapdap sebagai Kepala Desa pertama di desa Silalahi Pagar Batu yang bukan merupakan marga Silalahi. Diketahui selama kepemimpinan di Desa Silalahi Pagar Batu selalu di pimpin oleh marga Silalahi di periode-periode sebelumnya.

Dan kemenangan Patar S Nadapdap pada pemilihan Kepala Desa untuk periode 2019-2025 menhantarkan Patar S Nadapdap sebagai Kepala Desa pertama di Desa Silalahi Pagar Batu yang bukan merupakan marga Silalahi dan memimpin 2 (dua) periode secara berurut.

Tentunya, Patar Sabungan Nadapdap bersama Tim Pemenangannya sudah mempersiapkan strategi politik untuk memenangkan pilkades dari calon lainnya Edward Sutejo Silalahi yang memang putra daerah di desa Silalahi Pagar Batu, dibandingkan Patar S Nadapdap yang merupakan marga pendatang.

Oleh karena itu, dilihat dari fakta diatas diatas, maka penelitian ini bermaksud melakukan kajian mengenai Strategi Politik Kepala Desa Terpilih Desa Silalahi Pagar Batu Tahun Kecamatan Balige Kabupaten Toba Tahun 2019.

Melihat adanya Strategi Politik yang dilakukan Calon Kepala Desa Terpilih, Patar S Nadapdap, yang mengalahkan Edward Sutejo Silalahi sebagai Putera Desa Asli, artinya menimbulkan pertanyaan bagaimana proses Strategi Politik di dalamnya.

Berdasarkan uraian tersebut, maka peneliti tertarik untuk meneliti “Strategi Politik Kepala Desa Terpilih Desa Silalahi Pagar Batu Tahun 2019 (Studi pada kepala desa terpilih Patar S Nadapdap di desa Silalahi Pagar Batu Kecamatan Balige, Kabupaten Toba).

(21)

1.2 Rumusan Masalah

Agar penelitian dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, maka penulis harus merumuskan masalahnya sehingga jelas dari mana harus memulai, kemana harus pergi dan dengan apa ia melakukan penelitian. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pentingnya perumusan masalah adalah agar diketahui arah jalan suatu penelitian.16

Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas, maka penulis merumuskan masalah penelitian yang akan dilakukan sebagai berikut:

1. Bagaimana Strategi politik Kepala Desa terpilih Patar S Nadapdap Pada Pilkades di Desa Silalahi Pagar Batu Tahun 2019.

2. Program kerja apakah yang ditawarkan oleh Patar S Nadapdap dalam kampanye Pilkades di Desa Silalahi Pagar Batu?

1.3 Batasan Masalah

Dalam pembuatan penelitian, peneliti memerlukan batasan. Batasan masalah berguna untuk memperjelas dan membatasi ruang lingkup terhadap hal-hal apa saja dari masalah yang akan di teliti dan dibahas agar masalah yang diangkat tidak menyimpang dari tujuan yang akan dicapai.

Adapun batasan masalah dalam penelitian ini adalah, melihat Bagaimana Strategi politik Kepala Desa terpilih Patar S Nadapdap Pada Pilkades Serentak di Desa Silalahi Pagar Batu, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba, Provinsi Sumatera Utara Tahun 2019 dan Program kerja apakah yang ditawarkan oleh Patar S Nadapdap dalam kampanye Pilkades di Desa Silalahi Pagar Batu.

1.4 Tujuan Penelitian

Setiap penelitian yang dilakukan terhadap suatu masalah tentunya mempunyai tujuan yang hendak dicapai. Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

16 Suharsimi, Arikunto. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Prakte. Jakarta: Rineka Cipta, 1993. Hal. 170

(22)

1. Untuk mengetahui Strategi politik Kepala Desa terpilih Patar S Nadapdap Pada Pilkades Langsung di Desa Silalahi Pagar Batu, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba Samosir, Provinsi Sumatera Utara Tahun 2019.

2. Melihat Program kerja apakah yang ditawarkan oleh Patar S Nadapdap dalam kampanye Pilkades di Desa Silalahi pagar Batu.

1.5 Manfaat Penelitian 1. Manfaat akademik:

a. Sebagai tambahan literatur atau bahan kajian dalam studi ilmu politik.

b. Sebagai bahan informasi ilmiah bagi peneliti-peneliti yang ingin mengetahui strategi politik pilkades Desa Silalahi Pagar Batu tahun 2019.

2. Manfaat praktis

a. Sebagai bahan pertimbangan bagi masyarakat dalam memilih dan menentukan kepala daerah guna terciptanya interaksi politik yang memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat selanjutnya.

b. Memberikan pendidikan politik kepada masyarakat sehingga kehidupan berpolitik masyarakat lebih baik kedepannya, terutama dalam membentuk sikap dan tingkah laku politik mereka.

c. Sebagai masukan bagi para kompetitor pilkades di Kecamatan Balige, Desa Silalahi Pagar Batu pada periode berikutnya agar menjalankan amanah konstitusi dan menjunjung nilai-nilai demokrasi serta merealisasikan visi misi yang disosialisaikan kepada masyarakat agar terciptanya sebuah keseimbangan sistem politik yang baik di Desa Silalahi Pagar Batu.

1.6 Penelitian Terdahulu

Sejauh pengamatan dan pengetahuan peneliti, sudah banyak di temukan penelitian berupa skripsi yang membahas tentang pemilihan kepala desa. Namun belum ada yang membahas mengenai strategi politik pemilihan kepala desa di desa Silalahi Pagar Batu, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba. Untuk itu peneliti melakukan review terhadap beberapa penelitian terdahulu, yang ada kaitannya

(23)

atau ada relevansinya terhadap penelitian yang akan di jadikan objek dalam penelitian berikutnya.

Adapun penelitian atau skripsi yang terdahulu membahas tentang strategi politik pemilihan kepala desa diantaranya adalah skripsi Riko Hardiono Padang yang membahas tentang Strategi Politik Kepala Desa Tengganau Tahun 2017 (Studi Pada Kepala Desa Terpilih Rumbin Sitio di Desa Tengganau Kecamatan Pinggir Kabupaten Bengkalis Provinsi Riau) Universitas Sumatera Utara 2018.

1.7 Kerangka Konseptual dan Teori

Teori dapat kita pahami sebagai generalisasi sebuah fenomena dari interaksi yang muncul yang menarik untuk dipahami secara konsep yang terukur, menjadi sebuah alat kajian terhadap suatu peristiwa guna membantu kita dalam melihat dan menganalisis sebuah fenomena, dimana akan dipahami sebagai sebuah sebab- akibat terhadap fenomena tersebut.

Teori selalu memakai konsep-konsep, konsep lahir dari dalam pikiran manusia dan karena itu bersifat abstrak, sekalipun fakta-fakta dapat dipakai sebagai batu loncatan.17 Tentunya teori sangat membantu penelitian dalam menganalisis masalah yang menjadi objek penelitiannya.

1.7.1 Strategi Politik A. Pengertian Strategi

Kata Strategi pada mulanya sangat akrab di kalangan militer, secara etimologi berasal dari kata majemuk bahasa yunani, yaitu Strategos yang berarti pasukan dan agein yang berarti memimpin atau Strategia yang berarti kepemimpinan atas pasukan, seni memimpin pasukan. (Schrooder:2009)

Dalam Wikipedia Indonesia, pengertian strategi adalah rencana jangka panjang dengan diikuti tindakan-tindakan yang di tunjukkan untuk mencapai tujuan tertentu, yang umumnya adalah “kemenangan”.

Menurut Arnold Steinberg, strategi adalah rencana atau tindakan.

Penyusunan dan pelaksanaan strategi mempengaruhi sukses atau gagalnya strategi

17 Miriam Budiarjo. Op.Cit. Hal. 43.

(24)

pada akhirnya. Jadi dengan kata lain strategi adalah suatu rencana yang dibuat oleh para pemimpin agar dapat mencapai tujuan yang diinginkan.

Henry Mintzberg mendefinisikan strategi sebagai 5P, yaitu: strategi sebagai perspectif, strategi sebagai posisi, strategi sebagai perencanaan, strategi sebagai pola kegiatan, strategi sebagai penipuan (Ploy) yaitu muslihat rahasia.

Sebagai perspektif, dimana strategi dalam pembentukan misi, misi menggambarkan perspectif kepada semua aktifitas, sebagai posisi, dimana dicari pilihan untuk bersaing, sebagai perencanaan, dalam hal strategi menentukan tujuan performansi perusahaan, sebagai pola kegiatan, dimana dalam strategi dibentuk suatu pola, yaitu umpan balik dan penyesuaian.

B. Pengertian Strategi Politik

Strategi adalah ilmu tentang teknik atau taktik, cara atau kiat muslihat untuk mencapai sesuatu yang diinginkan. Politik adalah interaksi antara pemerintah dan masyarakat dalam rangka proses pembuatan dan pelaksanaan keputusan yang mengikat tentang kebaikan bersama masyarakat yang tinggal dalam wilayah tertentu. Jadi Strategi Politik adalah ilmu tentang teknik, taktik, cara, kiat yang dikelola politisi untuk mendapatkan dan mempertahankan sumber- sumber kekuasaan, merumuskan dan melaksanakan keputusan politik sesuai yang di inginkan.

Strategi Politik adalah strategi yang digunakan untuk merealisasikan cita- cita politik. Strategi politik biasa digunakan dalam usaha merebut atau mempertahankan kekuassaan, terutama saat pemilihan umum. Strategi ini berkaitan dengan strategi kampanye, dengan tujuan untuk memperoleh maupun mempertahankan kekuasaan dan pengaruh sebanyak mungkin debnan cara meraih hasil (suara) yang maksimal di pemilu, guna mendorong kebijakan-kebijakan yang dapat mengarah pada perubahan masyarakat (Schrooder:2009).

(25)

1.7.2 Strategi Kampanye Politik

Strategi kampanye adalah bentuk khusus dari strategi politik. Tujuannya adalah untuk memperoleh kekuasaan dan pengaruh sebanyak mungkin dengan cara memperoleh hasil yang baik dalam pemilu, agar dapat mendorong kebijakan- kebijakan yang dapat mengarah pada perubahan masyarakat (Schrooder 2009).

Dalam masyarakat demokratis, pengambil-alihan kekuasaan dan peluang untuk merebut pengaruh dilakukan melalui pemilu yang demokratis dalam berbagai bentuk. Tujuannya adalah untuk memperoleh bagian suara yang cukup dalam pasar pemilu. Hal ini sangat bervariasi antara satu sistem dengan sistem lainnya, sistem parlementer sistem presidensil dan berbagai bentuk campuran lainnya sangatlah berbeda. Oleh karena itu, pertempuran untuk memperoleh suara pemilih untuk partai-partai maupun kandidat yang mencalonkan diri sangatlah terbatas, sehingga harus direncanakan secara hati-hati dan untuk itu diperlukan strategi.

Dalam strategi kampanye politik terdapat berbagai macam strategi yang dapat dilakukan oleh partai politik atau kandidat politik untuk mencari dan mengembangkan dukungan selama proses kampanye politik. Adapun teori strategi kampanye politik yang penulis gunakan untuk meneliti strategi kampanye politik Kepala Desa Terpilih Patar Sabungan Nadapdap adalah sebagai berikut:

A. Marketing Politik ( Political Marketing )

Secara sederhana marketing politik adalah aplikasi kegiatan marketing di dalam ruang politik yang umumnya terkonsentrasi pada saat pemilu atau pilkada.

Dalam kajian ilmu politik, Political Marketing menurut Firmanzah merupakan penerapan ilmu Marketing dalam kehidupan politik. Dalam Political Marketing, yang ditekankan adalah penggunaan pendekatan dan metode Marketing dalam menyusun produk politik, distribusi politik kepada publik serta menyakinkan bahwa produk politiknya lebih unggul dibandingkan dengan pesaing, sehingga membantu politikus dan partai politik untuk membangun hubungan dua arah dengan konstituen dan masyarakat.18

18 Firmanzah, 2007, Marketing Politik, Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, hal, 140

(26)

Pandangan Political marketing menurut Adam Nursal adalah strategi kampanye politik untuk membentuk serangkaian makna politis yang tertentu di dalam pemikiran para pemilih untuk memilih konstestan tertentu. Makna politis inilah yang menjadi output penting Political marketing yang menentukan, pihak mana yang akan dicoblos pemilih.19

Sedangkan menurut Hafied Cangara, Pemasaran politik (Political Marketing) merupakan konsep yang diintroduksi dari penyebab ide-ide sosial di bidang pembangunan dengan meniru cara-cara pemasaran komersial, tetapi orientasinya lebih banyak pada tataran penyadaran, sikap dan perubahan perilaku untuk menerima hal-hal baru. Dari konteks aktifitas politik, Political Marketing yang dimaksud adalah penyebarluasan informasi tentang kandidat, partai dan program yang dilakukan oleh aktor-aktor politik melalui saluran-saluran komunikasi tertentu yang ditujukan kepada segmen (sasaran) tertentu dengan tujuan mengubah wawasan, pengetahuan, sikap dan perilaku para calon pemilih sesuai dengan keinginan pemberi informasi.

Menurut O’Shaughnessy, marketing politik berbeda dengan marketing komersial. Marketing politik bukanlah konsep untuk “menjual” partai politik (parpol) atau kandidat kepada pemilih, namun sebuah konsep yang menawarkan bagaimana sebuah parpol atau seorang kandidat dapat membuat program yang berhubungan dengan permasalahan aktual. Di samping itu, marketing politik merupakan sebuah teknik untuk memelihara hubungan dua arah dengan publik.20

Dari definisi tersebut terkandung pesan; Pertama, marketing politik dapat menjadi “teknik” dalam menawarkan dan mempromosikan parpol atau kandidat.

Kedua, menjadikan pemilih sebagai subjek, bukan objek. Ketiga, menjadikan permasalahan yang dihadapi pemilih sebagai langkah awal dalam penyusunan program kerja. Keempat, marketing politik tidak menjamin sebuah kemenangan, tapi menyediakan tools untuk menjaga hubungan dengan pemilih sehingga dari hal itu akan terbangun kepercayaan yang kemudian diperoleh dukungan suara pemilih.

19 Adam Nursal, 2004, Political Marketing Strategi Memenangkan Pemilu Sebuah Pendekatan Baru Kampanye Pemilihan DPR, DPD, Presiden, Jakarta : PT. Gramedia, hal.156

20 Firmanzah Op.Cit hal 142

(27)

Menurut Aron O’Cass marketing politik adalah analis, perencanaan, implementasi dan kontrol terhadap politik dan program-program pemilihan yang dirancang untuk menciptakan, membangun, dan memelihara pertukaran hubungan yang mengutungkan antara kandidat dan pemilih demi tujuan untuk mencapai marketers objectives.

Dengan demikian, yang dimaksud dengan marketing politik dalam penelitian ini adalah keseluruhan tujuan dan tindakan strategis dan taktis yang dilakukan oleh aktor politik untuk menawarkan dan menjual produk politik kepada kelompok-kelompok sasaran. Dalam prosesnya, marketing politik tidak terbatas pada kegiatan kampanye politik menjelang pemilihan, namun juga mencakup even-even politik yang lebih luas dan -jika menyangkut politik pemerintahan- bersifat sustainable dalam rangka menawarkan atau menjual produk politik dan pembangunan simbol, citra, platform, dan program-program yang berhubungan dengan publik dan kebijakan politik.

B. Branding Politik dan Positioning Politik (Political Branding and Political Positioning)

Brand dapat diasosiasikan sebagai nama, terminologi, simbol atau logo spesifik atau juga kombinasi berbagai elemen yang bisa digunakan sebagai identitas suatu produk dan jasa. Dalam hal ini brand tidak harus terkait dengan hal-hal yang bersifat fisik. Brand adalah simbolisasi dari imajinasi yang diciptakan dan ditanamkan dalam benak konsumen. Jadi branding adalah semua aktivitas untuk menciptakan brand yang unggul.

Realitas yang ada saat ini adalah persaingan yang tidak hanya terjadi pada partai politik saja tetapi persaingan juga terjadi pada kandidat yang turut ambil bagian pada pemilihan umum ini. Oleh karena itu agar para calon kandidat ini dapat menarik simpati masyarakat tak jarang mereka melakukan branding diri atau yang lebih lazim dikenal dengan personal branding. Personal branding sebenarnya adalah upaya membangun dan menanamkan persepsi positif untuk mendapatkan dukungan. Banyaknya kandidat individual peserta pemilu membuat masing-masing kandidat harus bersaing untuk menanamkan citra atau image yang

(28)

baik demi memperoleh dukungan dari masyarakat/konstituen. Citra atau image tersebut haruslah sesuatu yang berbeda satu dengan yang lainnya agar mudah diingat. Diperlukan strategi komunikasi khusus agar citra atau image tersebut terpatri dalam benak masyarakat/konstituen.

Positioning adalah istilah marketing yang di defenisikan sebagai segala aktifitas untuk menanamkan kesan di benak konsumen atau masyarakat agar mereka bisa membedakan produk dan jasa yang di hasilkan. Dalam konteks positioning politik, produk dan jasa yang di maksudkan pengertian di atas berupa pesan dan janji-janji politik, visi misi kandidat, dan ideologi kandidat itu sendiri.

Personal branding merupakan proses penamanan citra seseorang sehingga terbentuk sebuah persepsi positif tentang seseorang tersebut. Sedangkan citra itu sendiri menurut Kotler didefinisikan sebagai jumlah dari keyakinan, gambaran, dan kesan yang dipunyai seseorang dalam suatu objek (orang, organisasi, kelompok orang).

Menurut Roberts, citra menunjukkan keseluruhan informasi tentang dunia ini yang telah diolah, diorganisasikan dan disimpan individu.21 Seperti dinyatakan Ruslan, pengertian tentang citra pada dasarnya merupakan hal yang abstrak dan tidak bisa diukur secara matematis tetapi wujudnya bisa dirasakan dari hasil penilaian baik atau buruk yang berasal dari khalayak sasaran khususnya dan masyarakat secara luas.22 Menurut Nimmo citra kandidat terbentuk dari atribut politik dan gaya personal seorang kandidat politik, seperti yang dipersepsikan oleh pemberi suara.

Positioning kandidat atau partai politik telah berhasil jika ia menjadi dominan dan menguasai benak masyarakat. Posisi yang kuat dalam benak masyarakat membuat seorang kandidat selalu diingat dan menjadi referensi bagi masyarakat ketika mereka dihadapkan pada serangkaian pilihan politik. Untuk itulah kandidat/partai politik harus memiliki pernyataan positioning yang

21 Jalaludin Rakhmat. 2001. Psikologi Komunikasi. Edisi Revisi. Bandung: Remaja Rosdakarya.hal.223

22Rosady Ruslan.2002. Manajemen Humas dan Komunikasi. Konsep dan Aplikasi. Jakarta:Raja Grafindo Persada. Hal.74

(29)

memiliki hubungan erat dengan strategi merebut konsumen dan harus bisa mewakili citra atau image yang hendak dicetak dalam benak konsumen.

Penyataan positioning berupa kata-kata yang menunjukkan segi-segi keunggulan atau kelebihan kandidat. Biasanya pernyataan yang dibentuk cukup singkat, mudah diulang-ulang dalam iklan atau bentuk-bentuk promosi lainnya.

Pernyataan positioning yang baik dan efektif harus mengandung dua unsur yaitu klaim yang unik dan bukti-bukti yang mendukung.23

Menurut definisi, untuk political marketing, positioning adalah tindakan untuk menerapkkan citra tertentu ke dalam benak para pemilih agar tawaran produk politik dari suatu kontestan memiliki posisi khas, jelas dan meaningful.

Positioning yang efektif akan menunjukkan perbedaan nyata dan keunggulan sebuah kontestan dibandingkan kontestan pesaing, bahwa pesaing tidak dapat mewujudkan tawaran-tawaran tertentu sebaik pihak yang mencanangkan positioning tersebut.

Jadi, positioning harus memiliki peran sentral dalam political marketing.

Produk-produk seperti partai, kandidat, platform program dan sebagainya haruslah sebangun dengan positioning. Pengatur strategi harus berusaha melalui strategi branding bahwa kebijakan, ide-ide, isu-isu, gaya, dan mansa yang diluncurkan merupakan hal otentik milik sendiri.

Mengacu pada Butler dan Collins24, positioning dimulai dengan mendefinisikan nilai-nilai inti. Nilai-nilai inti dapat dikembangkan dari identitas kelas, agama, etnis, atau kelompok-kelompok sosial lainnya.

Ada empat pilihan strategi positioning yang ditawarkan, yaitu sebagai berikut.

1. Reinforcement strategy (strategi penguatan)

Strategi ini dapat digunakan oleh sebuah kontestan yang dipilih karena mempunyai citra tertentu dan citra tersebut dibuktikan oleh kinerja politik selama mengemban jabatan politik tertentu. Komunikasi difokuskan kepada orang-orang yang dulu memilih kontestan ini dengan pesan bahwa pilihan

23 Morissan.2007.Periklanan dan Komunikasi Pemasaran, Jakarta: Ramdina Prakarsa Terpadu.

Hal.55

24 Butler & Collins. 1996. A Conceptual Framework of Political Marketing. California: Sage Publication.

(30)

Anda dulu itu sudah tepat dan tetaplah membuat pilihan yang sama untuk pemilihan saat ini.

2. Rationalization strategy (strategi rasionalisasi)

Strategi ini dilakukan kepada kelompok pemilih yang sebelumnya telah memilih kontestan tertentu karena kontestan tersebut berhasil mengemban citra tertentu yang disukai pemilih akan tetapi kinerjanya kemudian tidak sesuai dengan citra tersebut. Strategi rasionalisasi ini dilakukan untuk mengubah sikap para pemilih dan harus dilakukan dengan hati-hati.

3. Inducement Strategy (strategi bujukan)

Strategi ini dapat diterapkan oleh kandidat yang dipersepsikan memiliki citra tertentu tapi juga memiliki kinerja atau atribut-atribut yang cocok dengan citra lainnya.

4. Confrontation strategy (strategi konfrontasi)

Strategi ini diterapkan kepada para pemilih yang telah memiliki kontestan dengan citra tertentu yang dianggap tidak cocok dengan citra tertentu yang dianggap tidak cocok oleh pemilih dan kemudian kontestan tersebut tidak menghasilkan kinerja yang memuaskan pemilih.

Positioning pada dasarnya adalah strategi untuk memasuki jendela otak konsumen (dalam konteks politik, konsumen adalah voters). Positioning biasanya tidak menjadi masalah dan tidak dianggap penting selama kandidat politik yang bertarung dalam pemilu tidak banyak dan persaiangan belum menjadi sesuatu yang penting. Positioning baru akan menjadi penitng bila mana persaingannya sudah sangat sengit.25

Positioning adalah sesuatu yang dilakukan terhadap pikiran calon voters, yakni menempatkan produk (partai politik atau kandidat) pada pikiran para calon voters. Dalam ungkapan konsultan strategi pemasaran, positioning adalah bagaimana anda membedakan diri anda sendiri dalam pikiran calon konsumen anda. Dengan melakukan positioning maka partai politik atau kandidat berusaha untuk menjaga fokus pikiran, orientasi dan kesadaran voters atau masyarakat

25 Firmanzah. Op.cit. Hal. 193.

(31)

untuk tetap mengingat serta mengarahkan referensi utama tentang partai politik atau kandidat yang akan mereka pilih.

C. Komunikasi Politik

Membangun suatu image politik tidak dapat dilakukan tanpa adanya komunikasi politik. Komunikasi politik adalah suatu proses komunakasi yang memiliki implikasi atau konsekuensi terhadap aktivitas politik. Komunikasi politik yang dimaksud dalam hal ini adalah semua hal yang dilakukan oleh kandidat kepala daerah untuk mentransfer sekaligus menerima umpan balik tentang isu-isu politik yang berdasarkan semua aktivitas yang dilakukannya terhadap masyarakat.

Isu politik ini dilihat dalam perpektif yang sangat luas dan sangat terkait dengan usaha kandidat untuk memposisikan dirinya dan membangun identitas dalam rangka memperkuat image-nya dalam benak masyarakat, isu politik tersebut dapat berupa ideologi partai, program kerja, figur pemimpin, latar belakang personal, visi dan misi serta permasalahan yang diungkapkannya.

Komunikasi dalam hal ini diartikan sebagai komunikasi dua arah. Dua arah berarti komunikasi yang tidak hanya dilakukan oleh kandidat kepala daerah kepada masyarakat, tetapi juga dari masyarakat kepada kandidat tersebut.

Karena kondisi dari masyarakat yang beraneka ragam, tersebar dan terkadang tidak terorganisir, akan sulit membayangkan adanya sistematisasi komunikasi pesan yang dilakukan masyarakat kepada kandidat kepala daerah. Hal ini membuat kandidat kepala daerah dan tim pemenangannya harus mengambil inisiatif untuk mentransfer sekaligus merumuskan signal-signal atau pesan yang disampaikan oleh masyarakat. Seringkali pesan-pesan tersebut harus melalui analisis dan pemahaman atas data dan fakta yang terbesar dalam banyak peristiwa.

Kekecewaan, kebahagiaan, impian, kesedihan, tangisan, dan penderitaan masyarakat, baik yang sedang terjadi ataupun yang sedang kemungkinan akan terjadi harus ditemukan dan dianalisis berdasarkan data dan peristiwa yang tercerai berai.

(32)

Dalam hal ini, kandidat kepala daerah dan tim pemenangannya bertugas merangkum dan menganalisis pesan-pesan tersembunyi dibalik peristiwa yang terjadi. Tidak semua masyarakat memiliki kapasitas untuk merumuskan apa yang menjadi permasalahan mereka yang sebenarnya, seringkali umpan balik yang mereka berikan lebih banyak tersirat dibandingkan tersurat.

Menurut Gabriel Almond, komunikasi politik adalah salah satu fungsi yang selalu ada dalam setiap sistem politik. Adapun komunikasi politik terdiri dari berbagai unsur, antara lain :

a) Komunikator Politik

Komunikator politik adalah mereka yang diposisikan sebagai pemberi informasi, maupun isu-isu tentang hal-hal yang mengandung makna mengenai politik yang dapat memengaruhi situasi politik.

b) Pesan Politik

Pesan politik ialah pernyataan yang disampaikan, baik secara tertulis maupun tidak tertulis, baik secara verbal maupun nonverbal, tersembunyi maupun terang-teranga, baik yang disadari maupun tidak disadari yang isinya mengandung politik. Misalnya pidato politik, pernyataan politik, buku, brosur, dan berita mengenai politik.

c) Saluran atau Media Politik

Saluran atau media politik ialah alat atau sarana yang digunakan oleh para komunikator dalam menyampaikan pesan-pesan politiknya. Misalnya media cetak, media elektronik, media online, sosialisasi, komunikasi kelompok yang dilakukan partai atau organisasi masyarakat.

d) Sasaran atau Target Politik

Sasaran adalah anggota masyarakat yang diharapkan dapat memberikan dukungan dalam bentuk penberian suara kepada partai atau kandidat dalam pemilihan umum.

e) Pengaruh atau Efek Komunikasi politik

Terciptaya pemahaman terhadap sistem pemerintahan, keaktifan masyarakat dalam partisipasi politik, dimana nantinya akan berdampak pada pemberian suara dalam pemilihan umum.

(33)

Teori-teori yang sudah dipaparkan diatas, akan digunakan untuk menganalisis strategi politik pemilihan kepala desa yang digunakan oleh Patar S Nadadap dalam memenangkan pilkades Desa Silalahi Pagar Batu, Kecamatan Balige Tahun 2019.

1.8 Metodologi Penelitian

Berangkat dari uraian di atas serta penjelasan tujuan penelitian maupun kerangka teori diatas, penelitian ini memiliki tujuan metodologis yaitu deskriptif (melukiskan, menggambarkan). Penelitian desktiptif yang digunakan akan membantu peneliti dalam menjawab pertanyaan mengenai keadaan objek penelitian secara terperinci.26

1.8.1 Jenis Penelitian

Sebagaimana yang dinyatakan oleh Conny R. Semiawan, bahwa penelitian yang tujuannya untuk memberikan gambaran tentang suatu masalah, gejala, fakta, peristiwa, dan realita secara luas dan mendalam sehingga diperoleh suatu pemahaman baru, maka metode ini lebih tepat digunakan. Dalam metode kualitatif metode yang biasa digunakan adalah wawancara, pengamatan, dan pemanfaatan dokumen. Penelitian kualitatif lebih banyak mementingkan segi proses daripada hasil. Hal ini disebabkan oleh hubungan bagian-bagian yang sedang diteliti akan jauh lebih jelas diamati dalam proses. Dengan maksud meneliti sesuatu secara mendalam. Selain itu, keunggulan dari alat penelitian kualitatif adalah bahwa alat penelitian dalam hal ini peneliti, dapat dapat berbicara dan berpikir.27

1.8.2 Lokasi Penelitian

Pada penelitian ini, lokasi peneliti yang akan di jadikan sebagai sumber penelitian yaitu di Desa Silalahi Pagar Batu, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba, Provinsi Sumatera Utara.

26 Bagong Suyanto dan Sutinah. Metode Penelitian Sosial. Jakarta: Kencana Prenada, 2005. Hal.17

27 Lexy J. Moelang. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset, 2006. Hal. 7

Referensi

Dokumen terkait

1. Badaruddin, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. Ketua Departemen Ilmu Komunikasi Dra. Fatma Wardy Lubis, MAserta Ibu Dra.

Muhammad Zarlis dan Bapak Syahriol Sitorus, S.Si, MIT., Dekan dan Pembantu Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara serta semua

1. Badaruddin, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. Ketua Departemen Ilmu Komunikasi Dra. Fatma Wardy Lubis, MAserta Ibu Dra.

MT selaku Dekan Fakultas Teknik Universitas Islam Sumatera Utara, Bapak Ir.H.Raja Harahap,MT selaku Ketua Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas

Muhammad Zarlis dan Bapak Syariol Sitorus, S.Si., MIT, Dekan dan Pembantu Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara, semua dosen pada

Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dekan dan Pembantu Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara, Ketua dan

Seluruh kerabat angkatan 2013 Departemen Antropologi sosial Fakultas Ilmu sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara yang penulis sayangi, telah menjadi

Penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada Rektor Universitas Sumatera Utara, Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Ketua dan Sekretaris Departemen Etnomusikologi Fakultas