ANALISIS EFISIENSI EKONOMI DALAM PENGGUNAAN FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI IKAN MAS : Studi Pada Budidaya Ikan Mas Kolam Jaring Apung di Waduk Cirata Kabupaten Cianjur.

Teks penuh

(1)

Firman Feisal, 2012

Analisis Efisiensi Ekonomi Pada Penggunaan Faktor Faktor Produksi Ikan Mas DAFTAR ISI

ABSTRAK i

KATA PENGANTAR ii

UCAPAN TERIMA KASIH iii

DAFTAR ISI v

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS 2.1 Tinjau Pustaka………... 7

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian……….. 57

3.2 Metode Penelitian……… 57

3.3 Populasi Dan Sampel……….. 57

3.4 Operasionalisasai Variabel………..…… 59

(2)

Firman Feisal, 2012

Analisis Efisiensi Ekonomi Pada Penggunaan Faktor Faktor Produksi Ikan Mas

3.6 Teknik Pengumpulan Data……….…… 62

3.7 Teknik Analisis……….……….…. 62

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian……… 76

4.2 Pembahasan Hipotesis... 98

4.3 Implikasi Pendidikan... 101

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan... 103

5.2 Saran... 103

(3)

Firman Feisal, 2012

Analisis Efisiensi Ekonomi Pada Penggunaan Faktor Faktor Produksi Ikan Mas DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 PDRB Provinsi Jawa Barat Atas Harga Dasar Berlaku Menurut

Lapangan Usaha Pertanian Tahun 2005 –2009 ……….. 2

Tabel 1.2 PDRB Kabupaten Cianjur Atas Harga Dasar Berlaku Menurut Lapangan Usaha Pertanian Tahun 2005 – 2009... 3 Tabel 1.3 Produksi Ikan Mas Kolam Jaring Apung di Waduk Cirata 4 Kabupaten Cianjur Bulan Januari – Desember 2010 ... Tabel 2.1 Hasil Penelitian Sebelumnya... 49

Tabel 3.1 Daftar Jumlah Sampel Penelitian………. 59

Tabel 3.2 Operasionalisasi Variabel………... 59

Tabel 4.1 Responden Berdasarkan Kelompok Pembudidaya... 77

Tabel 4.2 Responden Berdasarkan Jenis Kelamin... 78

Tabel 4.3 Responden Berdasarkan Umur... 79

Tabel 4.4 Tingkat Pendidikan Responden... 79

Tabel 4.5 Pengalaman Usaha Responden... 80

Tabel 4.6 Hasil Produksi Ikan Mas Kolam Jaring Apung (Kg)... 81

Tabel 4.7 Hasil Produksi Ikan Mas Kolam Jaring Apung (Rp)... 82

Tabel 4.8 Modal Keseluruhan budidaya Ikan Mas Kolam Jaring Apung.... 82

Tabel 4.9 Jumlah Tenaga Kerja pada Budidaya Ikan Mas………... 83

Tabel 4.10 Biaya Tenaga Kerja pada Budidaya Ikan Mas………. 84

Tabel 4.11 Jumlah Bibit pada Budidaya Ikan Mas………. 85

Tabel 4.12 Biaya Bibit pada Budidaya Ikan Mas………...…………... 85

Tabel 4.13 Jumlah Pakan pada Budidaya Ikan Mas………... 86

Tabel 4.14 Biaya Pakan pada Budidaya Ikan Mas…………...………. 86

Tabel 4.15 Hasil Regresi Data Budidaya Budidaya Ikan Mas ……… 87

Tabel 4.16 Elastisitas produksi, Produk Marginal, Efisiensi teknik, Efisiensi harga, dan Efisiensi ekonomi dari faktor produksi... 88

Tabel 4.17 Efisiensi Teknik Produksi Ikan Mas... 89

Tabel 4.18 Efisiensi Harga Produksi Ikan Mas…………...………... 90

Tabel 4.19 Efisiensi Ekonomi Produksi Ikan Mas... 91

Tabel 4.20 Pengujian Hipotesis ...………... 94

Tabel 4.21 Pengujian Regresi Parsial ……… 96

Tabel 4.22 Pengujian White Heteroskedastis ……… 97

(4)

Firman Feisal, 2012

Analisis Efisiensi Ekonomi Pada Penggunaan Faktor Faktor Produksi Ikan Mas DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Kurva Produksi Total, Produksi Rata-rata dan Produksi

Marginal... 12

Gambar 2.2 Tahap-tahap Produksi... 15

Gambar 2.3 Kurva Isoquant... 17

Gambar 2.4 Kurva Isocost... 20

Gambar 2.5 Persinggungan kurva isoquan dan isocost kurva keseimbangan produsen... 21

Gambar 2.6 Kemungkinan skala produksi……….. 37

(5)

1

Firman Feisal, 2012

Analisis Efisiensi Ekonomi Pada Penggunaan Faktor Faktor Produksi Ikan Mas BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Indonesia memiliki potensi pembangunan ekonomi kelautan dan perikanan

yang sangat besar dan beragam, mulai dari sumberdaya yang dapat diperbaharui

seperti perikanan, terumbu karang, rumput laut, dan hutan sampai pada

sumberdaya yang tidak dapat diperbaharui seperti migas dan bahan tambang serta

mineral lainnya,

Sementara itu, seiring dengan terus meningkatnya jumlah penduduk dunia

dan kesadaran umat manusia akan kebaikan gizi ikan, maka dapat dipastikan

permintaan terhadap produk dan jasa kelautan serta perikanan akan terus

mengalami meningkatan. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), pada

tahun 2007 produksi ikan mencapai 8.028.800 ton dan mengalami kenaikan dari

tahun sebelumnya sekitar 7,18 %, yang terdiri dari produksi budidaya dan

produksi penangkapan.

Budidaya Perikanan di Indonesia merupakan salah satu komponen yang

penting di sektor perikanan. Hal ini berkaitan dengan perannya dalam menunjang

persediaan pangan nasional, penciptaan pendapatan dan lapangan kerja serta

mendatangkan penerimaan negara dari ekspor. Di samping itu, perikanan

budidaya dianggap sebagai sektor penting untuk mendukung perkembangan

ekonomi pedesaan.

Kemajuan di sektor kelautan dan perikanan secara faktual dapat kita

(6)

2

Firman Feisal, 2012

Analisis Efisiensi Ekonomi Pada Penggunaan Faktor Faktor Produksi Ikan Mas

Indonesia mencapai 4 juta ton, yang menempatkan kita sebagai produsen ikan

terbesar ketujuh di dunia, maka sampai pada tahun 2007 posisi produksi perikanan

Indonesia di dunia berada pada urutan ke-4 dengan kenaikan rata-rata produksi

pertahun sejak 2003 mencapai 8,79% (FAO, 2008).

Dalam perkembangannya di Jawa Barat, sektor peternakan terus

mengalami peningkatan. Pada tahun 2005, PDRB atas dasar harga berlaku di

bidang perikanan sebesar 3,739 triliun, sedangkan pada tahun 2009 PDRB sudah

mencapai 6,934 triliun, berarti telah mengalami peningkatan sebesar 85,45%

selama kurun waktu 2005-2007. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel

dibawah ini:

Tabel 1.1

PDRB Provinsi Jawa Barat Atas Harga Dasar Berlaku Menurut Lapangan Usaha Pertanian

Tahun 2005 – 2009 (Miliar Rupiah)

No Bidang Tahun

2005 2006 2007 2008 2009

1. Tanaman Bahan Makanan 32.209 36.747 45.560 47.232 55.319

2. Tanaman Perkebunan 3.671 3.638 3.900 4.538 4.942

3. Peternakan 6.171 7.642 8.074 9.852 11.903

4. Kehutanan 641 710 894 911 799

5. Perikanan 3.739 3.850 4.465 5.517 6.936

Jumlah 46.431 52586 62.895 67.894 79.896

Sumber : Badan Pusat Statistik,

Berdasarkan tabel 1.1, peningkatkan produksi perikanan budidaya sangat

dimungkinkan. Beberapa faktor yang mendukung, diantaranya: (1) ketersediaan

lahan untuk budidaya (laut, dan waduk), (2) beberapa spesies ikan komersial telah

(7)

3

Firman Feisal, 2012

Analisis Efisiensi Ekonomi Pada Penggunaan Faktor Faktor Produksi Ikan Mas

peningkatan permintaan pasar domestik dan internasional terhadap produk

perikanan.

Jika dilihat dari perkembangan PDRB Jawa Barat, tentu tidak terlepas dari

perkembangan PDRB kabupaten atau kota yang ada di Jawa Jarat, khususnya

Kabupaten Cianjur. Pada tahun 2005 – 2009, PDRB Kabupaten Cianjur dibidang

perikanan nilanya tiap tahun rata-rata mengalami peningkatan. Hal tersebut

berdampak positif terhadap meningkatan PDRB pada lapangan usaha pertanian.

Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 1.2

PDRB Kabupaten Cianjur Atas Harga Dasar Berlaku Menurut Lapangan Usaha Pertanian

Tahun 2005 – 2009 (Juta Rupiah)

No Bidang Tahun

2005 2006 2007 2008 2009

1. Tanaman Bahan Makanan 3.896.716,65 4.191.358,82 4.507.113,74 4.695.798,02 4.976.089,74

2. Tanaman Perkebunan 93.106,15 107.533,52 123.966,03 142.337,45 146.906,49

3. Peternakan 734.790,20 794.189,74 854.029,58 928.384,51 911.318,85

4. Kehutanan 26.188,67 29.970,38 34.191,17 38.597,15 39.797,53

5. Perikanan 237.791,36 287.777,19 303.280,74 364.931,69 379.637,85

Jumlah 4.988.593,03 5.390.829,65 5.822.581,26 6.170.048,83 6.483.750,46

Sumber : Badan Pusat Statistik

Berdasarkan data pada tabel 1.2, pada tahun 2005 PDRB menurut

lapangan usaha pertanian dibidang perikanan sebesar Rp. 237,79 miliar dan tiap

tahunnya mengalami peningkatan sampai dengan tahun 2009 sudah mencapai Rp.

379,63 miliar.

Salah satu bentuk perairan yang dapat dijadikan tempat budidaya

perikanan adalah waduk. Di kabupaten Cianjur, Waduk Cirata merupakan tempat

potensial untuk pemenuhan kepentingan berbagai sektor dan sub-sektor. Tujuan

(8)

4

Firman Feisal, 2012

Analisis Efisiensi Ekonomi Pada Penggunaan Faktor Faktor Produksi Ikan Mas

Bali, namun seiring perkembangannya, selain fungsi utama yang lebih terasa oleh

masyarakat Kabupaten Cianjur adalah fungsi tambahan yaitu sebagai areal

budidaya perikanan khususnya budidaya pada Kolam Jaring Apung (KJA).

Dampak dari besarnya potensi ekonomi Waduk Cirata ini adalah semakin

berkembangnya bidang budidaya perikanan khususnya budidaya ikan pada KJA

dan sektor lain yang menggunakan waduk sebagai sumberdaya alam yang dapat

meningkatkan kesejahteraan, sehingga Jumlah Rumah Tangga Perikanan (RTP)

dan KJA terus bertambah. Pada tahun 2007, berdasarkan sensus Badan Pengelola

Waduk Cirata (BPWC) terdapat 1.385 RTP dan 22.800 petak KJA.

Budidaya ikan mas menjadi usaha yang menggiurkan, hal ini terbukti

dalam jangka 3 bulan saja pembudidaya sudah dapat memanen ikan hasil

budidaya. Sebagai informasi awal dalam penelitian ini, jumlah produksi ikan mas

yang di hasilkan oleh 10 responden pembudidaya ikan mas di Waduk Cirata

dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 1.3

Produksi Ikan Mas Kolam Jaring Apung

di Waduk Cirata Kabupaten Cianjur Bulan Januari – Desember 2010 ( dalam Kg )

No Panen

Ke-1 Ke-2 Ke-3 Ke-4

1 2.850 2.460 2.680 2.250

2 1.860 1.620 1.750 2.040

3 1.650 1.750 1.450 1.820

4 2.140 1.840 2.150 2.250

5 2.280 2.450 2.340 2.240

6 1.850 1.650 1.600 1.840

7 2.450 2.240 2.250 2.180

8 2.050 1.850 1.860 2.150

9 2.180 2.380 2.250 2.050

10 1.850 2.070 1.640 2.240

jumlah 21.160 20.310 19.970 21.060

(9)

5

Firman Feisal, 2012

Analisis Efisiensi Ekonomi Pada Penggunaan Faktor Faktor Produksi Ikan Mas

Berdasarkan tabel 1.3, jumlah produksi ikan mas pada panen ke-1 sebesar

21,160 kg, tiap masa panennya berfluktuasi, hingga pada panen ke-4 mencapai

21,060 kg. Permasalahan yang dihadapi saat ini adalah bagaimana menentukan

cara yang paling tepat untuk meningkatkan hasil produksi Ikan Mas dengan

efisiensi yang optimum sehingga hasil produksi dapat optimal. Oleh karena itu

salah satu cara untuk mencapai keuntungan optimal adalah dengan

mengoptimalkan penggunaan faktor-faktor produksi seperti modal, tenaga kerja,

bibit dan pakan.

Melihat permasalahan yang dikemukakan di atas maka permasalahan

tersebut coba ditelaah dengan membatasi masalah efisiensi penggunaan

faktor-faktor produksi. Diantara faktor-faktor-faktor-faktor produksi yang akan diteliti adalah modal,

tenaga kerja, pakan dan bibit. Pertimbangan lain bahwa faktor-faktor produksi di

atas dapat dengan mudah diukur secara ekonomis. Adapun judul penelitian yang

penulis ambil adalah; “ANALISIS EFISIENSI EKONOMI DALAM

PENGGUNAAN FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI IKAN MAS (Studi Pada

Pembudidaya Ikan Mas Kolam Jaring Apung di Waduk Cirata Kabupaten

Cianjur)”.

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

1. Apakah penggunaan faktor produksi modal, tenaga kerja, bibit dan pakan

pada produksi ikan mas kolam jaring apung di Waduk Cirata Kabupaten

(10)

6

Firman Feisal, 2012

Analisis Efisiensi Ekonomi Pada Penggunaan Faktor Faktor Produksi Ikan Mas

2. Bagaimana skala ekonomi pada budidaya ikan mas kolam jaring apung di

Waduk Cirata Kabupaten Cianjur?

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui apakah penggunaan faktor produksi modal, tenaga kerja,

bibit dan pakan pada produksi ikan mas kolam jaring apung di Waduk Cirata

Kabupaten Cianjur telah mencapai efisiensi optimum.

2. Untuk mengetahui bagaimana skala ekonomi pada budidaya ikan mas kolam

jaring apung di Waduk Cirata Kabupaten Cianjur.

1.4 Kegunaan Penelitian

Kegunaan penelitian ini sebagai berikut:

1. Manfaat teoritis.

Memberikan sumbangsih terhadap perkembangan ilmu pengetahuan,

terutama ilmu ekonomi mikro dalam pembahasan efisiensi produksi.

2. Manfaat praktis

a. Memberikan informasi bahwa efisiensi faktor produksi berpengaruh

terhadap hasil produksi ikan mas kolam jaring apung di Waduk Cirata

Kabupaten Cianjur.

b. Sebagai bahan atau masukan bagi para pembudidaya ikan mas kolam

jaring apung di Waduk Cirata Kabupaten Cianjur dalam produksinya

(11)

Firman Feisal, 2012

Analisis Efisiensi Ekonomi Pada Penggunaan Faktor Faktor Produksi Ikan Mas BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Objek Penelitian

Objek penelitian ini berkaitan dengan efisiensi dalam menggunakan

faktor-faktor produksi pada ikan mas. Objek penelitian merupakan sumber

diperolehnya data dalam penelitian. Adapun objek dalam penelitian ini adalah

pembudidaya ikan mas kolam jarring apung di Waduk Cirata Kabupaten Cianjur.

Ruang lingkup penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi Modal, Tenaga Kerja,

Bibit, dan Pakan terhadap hasil produksi ikan mas.

3.2 Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskritif

analitik. Suharsimi Arikunto (2006:136) mengemukakan bahwa metode deskriptif

adalah suatu cara penelitian yang tertuju pada pemecahan masalah yang ada pada

masa sekarang pada masalah aktual, data yang terkumpul mula-mula disusun,

dijelaskan dan kemudian dianalisa yang menekankan pada studi untuk

memperoleh informasi mengenai gejala yang muncul pada saat penelitian

berlangsung.

3.3 Populasi dan Sampel

Menurut Suharsimi Arikunto (2006 : 130) populasi adalah keseluruhan

(12)

Firman Feisal, 2012

Analisis Efisiensi Ekonomi Pada Penggunaan Faktor Faktor Produksi Ikan Mas

gejala, pendapat, peristiwa-peristiwa, benda dan lain-lain. Dalam penelitian ini

yang menjadi populasi adalah pembudidaya ikan mas kolam jaring apung di

Waduk Cirata Kabupaten Cianjur sebanyak 296 orang dari 12 kelompok

pembudidaya. (Laporan Kegiatan Tahunan Dinas Peternakan. Perikanan dan

Kelautan Kabupaten Cianjur Tahun 2010).

Menurut Arikunto (2006:110) sampel adalah sebagian atau wakil populasi

yang diteliti. Agar sampel yang diambil mewakili data penelitian, maka perlu

adanya perhitungan besar kecilnya populasi. Sedangkan banyaknya sampel yang

diambil dalam penelitian ini menggunakan rumus Taro Yamane sebagai berikut:

Sehingga besarnya sampel yang diambil dalam penelitian ini berjumlah 75

orang. Adapun teknik pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan

teknik Sampel Random, oleh karena itu setiap pembudidaya mempunyai

(13)

Firman Feisal, 2012

Analisis Efisiensi Ekonomi Pada Penggunaan Faktor Faktor Produksi Ikan Mas

Adapun besarnya sampel untuk masing kelompok pembudidaya dapat

diamati melalui tabel berikut:

Tabel 3.1

Daftar Jumlah Sampel Penelitian

No. Nama Kelompok Populasi Sampel

1. Sari Mukti 40 10

3.4 Operasionalisasi Variabel

Dalam penelitian ini terdapat 5 variabel yang akan diteliti. Untuk

memberikan arah dalam pengukurannya variabel-variabel tersebut dijabarkan

dalam konsep teoritis, konsep empiris, dan konsep analitis sebagai berikut:

Tabel 3.2

Operasionalisasi Variabel

(14)

Firman Feisal, 2012

Analisis Efisiensi Ekonomi Pada Penggunaan Faktor Faktor Produksi Ikan Mas

terakhir di tahun 2011

pada 3 kali panen terakhir tahun 2011 dalam satuan rupiah. tenaga kerja pada 3 kali panen terakhir tahun 2011.

2.Jumlah efektif hari kerja pada 3 kali 1.Jumlah tenaga kerja

pada 3 kali panen terakhir tahun 2011 dalam satuan orang. 2.Jumlah efektif hari

kerja pada 3 kali panen terakhir tahun 2011 dalam satuan hari. 3.Besarnya upah tenaga

kerja tiap hari kerja pada 3 kali panen terakhir tahun 2011 dalam satuan rupiah. 4.Jumlah rata-rata upah

tenaga kerja tiap produksi pada 3 kali panen terakhir tahun 2011 dalam satuan rupiah

Rasio

Bibit (X3) Bibit ikan adalah

fase atau tingkatan benih ikan yang berumur 4 hari sejak telur menetas sampai mencapai umur 90 hari serta mempunyai kriteria yang berbeda dengan ikan dewasa

1.Jumlah bibit yang digunakan pada 3 kali panen terakhir tahun 2011.

2.Harga bibit yang digunakan pada 3 1. Jumlah bibit yang

digunakan pada 3 kali panen yang terakhir

3. Jumlah rata-rata harga bibit yang digunakan

(15)

Firman Feisal, 2012

Analisis Efisiensi Ekonomi Pada Penggunaan Faktor Faktor Produksi Ikan Mas

organisme. 2. Harga pakan yang

digunakan pada 3

2011 dalam satuan kg. 2. Harga pakan /kg yang

digunakan pada 3 kali panen terakhir tahun 2011 dalam satuan rupiah.

3. Jumlah rata-rata harga pakan yang digunakan

Produksi adalah hasil akhir dari proses atau aktivitas ekonomi dengan memanfaatkan beberapa masukan atau input produksi.

1.Jumlah produksi 1. Jumlah produksi ikan

mas pada 3 kali panen 3. Jumlah rata-rata harga

ikan mas tiap produksi pada 3 kali panen

data sekunder. Data primer diperoleh melalui penyebaran angket kepada

pembudidaya yang menjadi sampel penelitian, sedangkan data sekunder diperoleh

dari Dinas Perikanan Kabupaten Cianjur, BPS dan berbagai artikel dalam

(16)

Firman Feisal, 2012

Analisis Efisiensi Ekonomi Pada Penggunaan Faktor Faktor Produksi Ikan Mas 3.6 Teknik Pengumpulan Data

Adapun pengumpulan data dalam penelitian dilakukan melaui:

1. Angket, yaitu pengumpulan data melalui penyebaran seperangkat pertanyaan

maupun pernyataan tertulis kepada responden yang menjadi sampel dalam

penelitian.

2. Studi literatur, yaitu teknik pengumpulan data dengan memperoleh data-data

dari buku-buku, laporan ilmiah, media cetak dan lain-lain yang berhubungan

dengan masalah yang diteliti.

3.7 Teknik Analisis Data

Analisis data dalam penelitian ini menggunakan Analisis Regresi Linear

Berganda (multiple regression) melalui fungsi Cobb- Douglas. Sedangkan untuk

membantu analisis, digunakan program komputer Econometric Views (EViews)

versi 6.

Model fungsi Cobb-Douglas adalah:

Y=aX1b1, X2b2, X3b3, X4b4

Dimana :

Y = hasil produksi sandal

a = konstanta (intersep)

X1 = modal

X2 = tenaga Kerja

X3 = bibit

X4 = pakan

(17)

Firman Feisal, 2012

Analisis Efisiensi Ekonomi Pada Penggunaan Faktor Faktor Produksi Ikan Mas

Persamaan tersebut dapat dengan mudah diselesaikan dengan cara regresi

berganda pada persamaan tersebut terlihat bahwa nilai b1 dan b2 adalah tetap

walaupun variabel yang terlihat telah dilogaritmakan. Hal ini dapat dimengerti

karena b1 dan b2 pada fungsi Cobb-Douglas adalah sekaligus menunjukan

elastisitas X terhadap Y, sehingga ada tiga kemungkinan fase yang akan terjadi:

Jika b < 1 maka decreasing returns to scale

Jika b > 1 maka increasing returns to scale

Jika b = 1 maka constant returns to scale

Proses alur analisis data dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar

3.1.

Gambar 3.1 Alur analisis data LAMPIRAN C

MENGHITUNG EFISIENSI DAN SKALA EKONOMI DESKRIPSI VARIABEL

PENELITIAN

UJI HIPOTESIS LAMPIRAN D

LAMPIRAN E

PEMBAHASAN DAN HASIL ANGKET PENELITIAN

DATA VARIABEL PENELITIAN

(18)

Firman Feisal, 2012

Analisis Efisiensi Ekonomi Pada Penggunaan Faktor Faktor Produksi Ikan Mas 3.7.1 Menghitung Efisiensi Produksi

1. Efisiensi Teknik

Secara matematis, efisiensi teknik dapat diketahui melalui elastisitas

produksinya (Ep) :

�� = Δ Y/Y ΔX/X

atau

�� = Δ Y/X ΔX/Y

ΔY/ΔX adalah Marginal Psysical Product (MPP)

Y/X adalah Average Psysical ProductI (APP).

Efisiensi teknis akan tercapai pada Ep = 1, yaitu :

�� = MPP

APP

Atau MPP = APP

2. Efisiensi Harga

Untuk menghitung efisiensi harga, dapat dianalisis dengan memenuhi

syarat kecukupan sebagai berikut :

MPX1 MPX2 MPX 3 MPX4

= = = =1 PX1 PX2 PX3 PX4

Keterangan :

MP = Marginal Product masing- masing faktor produksi P = Harga masing – masing faktor produksi

X1 = Modal

X2 = Tenaga Kerja

X3 = Bibit

(19)

Firman Feisal, 2012

Analisis Efisiensi Ekonomi Pada Penggunaan Faktor Faktor Produksi Ikan Mas

Secara matematis ditulis dengan persamaan sebagai berikut :

Efisiensi Harga = MP

PX

Produk Marginal =�� . Y

X1

Keterangan:

MP = Tambahan hasil Produksi (Marginal Product) bi = Elastisitas produksi

Y = Rata-rata hasil produksi Xi = Rata-rata faktor produksi

Px = Harga Faktor Produksi

Efisiensi akan tercapai apabila perbandingan antara Produk Marginal (PM)

dengan Harga Faktor Produksi (Px) = 1. (Sudarsono, 1995:131)

3. Efisiensi Ekonomi

Efisiensi ekonomi merupakan perbandingan antara nilai marjinal dengan

harga faktor produksi, dari masing-masing faktor produksi yang digunakan.

Secara matematis efisiensi ekonomi dapat dirumuskan sebagai berikut :

MVPx1 MVPx2 MVPx3 MVPx4

= = =

Px1 Px2 Px3 Px4

Keterangan :

MVP = Marginal Value Product

P = Harga masing-masing faktor produksi X1 = Modal

X2 = Tenaga Kerja

X3 = Bibit

X4 = Pakan

Kemudian rumus dari efisiensi ekonomi adalah

MVP =�� Y

(20)

Firman Feisal, 2012

Analisis Efisiensi Ekonomi Pada Penggunaan Faktor Faktor Produksi Ikan Mas

Jika MVPx1 / Px1 > 1 artinya penggunaan input X belum mencapai efisiensi

optimum. Untuk mencapai efisien input X perlu ditambah.

Jika MVPx1 / Px1 = 1 artinya penggunaan input X sudah mencapai efisiensi

optimum. Maka input X harus dipertahankan.

Jika MVPx1 / Px1 < 1 artinya penggunaan input X sudah melebihi titik

optimum (tidak efisien). Untuk mencapai efisien input X

perlu dikurangi. (Soekartawi, 1994:42)

3.7.2 Menghitung Skala Produksi

Untuk menguji skala kenaikan hasil sama dengan satu atau tidak sama dengan

satu yang dicapai dalam proses produksi maka digunakan jumlah elastisitas

produksi (∑bi). Dari hasil penjumlahan tersebut ada tiga kemungkinan yang

terjadi, yaitu :

1. Jika Σbi > 1, berarti sistem produksi jangka panjang berada dalam kondisi

skala output yang meningkat (Increasing Returnss to Scale).

2. Jika Σbi = 1, berarti sistem produksi jangka panjang berada dalam kondisi

skala output yang konstan (Constant Returnss to Scale).

3. Jika Σbi < 1, berarti sistem produksi jangka panjang berada dalam kondisi

(21)

Firman Feisal, 2012

Analisis Efisiensi Ekonomi Pada Penggunaan Faktor Faktor Produksi Ikan Mas 3.8 Pengujian Hipotesis

3.8.1 Uji t

Pengujian secara parsial dilakukan untuk menguji rumusan hipotesis

dengan langkah sebagai berikut :

1. Membuat hipotesis melalui uji satu sisi

H0 : β1, β2, β3, β4, = 0, artinya masing-masing variabel Xi tidak memiliki

pengaruh terhadap variabel Y, dimana i =1,2,3,4

Ha : β1,β2,β3,β4 > 0, artinya masing-masing variabel Xi memiliki pengaruh

positif terhadap variabel Y, dimanai =1,2,3,4

2. Untuk menguji hipotesis secara parsial dapat dihitung dengan

menggunakan rumus:

t =β 1−β1

se β1 (Gujarati, 2003: 249)

2. Setelah diperoleh t statistik atau t hitung, selanjutnya bandingkan

dengan t tabel dengan  disesuaikan.

4. Kriteria uji t:

Ho diterima jika t statistik < t tabel, df [k;(n-k)]

Ho ditolak jika t statistik  t tabel, df [k;(n-k)]

Artinya : apabila t statistik  t tabel maka koefisien korelasi parsial

tersebut signifikan dan menunjukkan adanya pengaruh secara parsial antara

variabel terikat (dependent) dengan variabel bebas (independent), atau

(22)

Firman Feisal, 2012

Analisis Efisiensi Ekonomi Pada Penggunaan Faktor Faktor Produksi Ikan Mas

tidak signifikan dan menunjukan tidak ada pengaruh secara parsial antara

variabel terikat (dependent) dengan variabel bebas (independent). Dalam

pengujian hipotesis melalui uji t derajat kesalahan yang digunakan adalah

5% atau 0,05 pada taraf signifikasi 95%.

3.8.2 Uji F

Pengujian hipotesis secara keseluruhan merupakan penggabungan variabel

X terhadap variabel terikat Y untuk diketahui seberapa besar pengaruhnya.

Pengujian dapat dilakukan dengan langkah sebagai berikut :

1. Mencari F hitung dengan formula sebagai berikut :

F = β 2 yix2i+β 3 yix3i ∕2 ui2∕ n−4 =

ESS∕df

RSS∕df (Gudjarati,2003:255)

2. Setelah diperoleh F hitung, selanjutnya bandingkan dengan F tabel

berdasarkan besarnya  dan df dimana besarnya ditentukan oleh numerator

(k-1) dan df untuk denominator (n-k).

3. Kriteria Uji F

Jika Fhitung < Ftabel maka H0 diterima dan Ha ditolak (keseluruhan

variabel bebas X tidak berpengaruh terhadap variabel terikat Y).

Jika Fhitung > Ftabel maka H0 ditolak dan Ha diterima (keseluruhan

(23)

Firman Feisal, 2012

Analisis Efisiensi Ekonomi Pada Penggunaan Faktor Faktor Produksi Ikan Mas 3.8.3 Uji R2

Menurut Gujarati (2003:98) dijelaskan bahwa koefisien determinasi (R2)

yaitu angka yang menunjukkan besarnya derajat kemampuan menerangkan

variabel bebas terhadap variabel terikat dari fungsi tersebut. Koefisien determinasi

sebagai alat ukur kebaikan dari persamaan regresi yaitu memberikan proporsi atau

presentase variasi total dalam variabel tidak bebas Y yang dijelaskan oleh variabel

bebas X. Rumus yang digunakan adalah:

R2 = β 2 yix2i+β 3 yix3i

yi2 (Gujarati, 2003: 93)

Nilai R2 berkisar antara 0 dan 1 (0 < R2 < 1), dengan ketentuan sebagai

berikut :

- Jika nilai semakin mendekati angka 1, maka hubungan antara variabel

semakin erat atau baik

- Jika nilai semakin menjauhi angka 1, maka hubungan antara variabel kurang

erat atau baik.

3.9 Uji Asumsi Klasik

Parameter persamaan regresi linier berganda dapat ditaksir dengan

menggunakan metode kuadrat terkecil biasa atau ordinary least square (OLS).

Sebelum melakukan pengujian hipotesis terlebih dahulu dilakukan pengujian

mengenai ada tidaknya pelanggaran terhadap asumsi-asumsi klasik. Hasil

pengujian hipotesa yang baik adalah pengujian yang tidak melanggar tiga asumsi

klasik yang mendasari model regresi linier berganda. Ketiga asumsi tersebut

(24)

Firman Feisal, 2012

Analisis Efisiensi Ekonomi Pada Penggunaan Faktor Faktor Produksi Ikan Mas 3.9.1 Uji Multikolinearitas

Pada mulanya multikolinearitas berarti adanya hubungan linier yang

sempurna atau pasti diantara beberapa atau semua variabel yang menjelaskan dari

model regresi. Dalam hal ini variabel-variabel bebas ini bersifat tidak orthogonal.

Variabel-variabel bebas yang bersifat orthogonal adalah variabel bebas yang nilai

korelasi diantara sesamanya sama dengan nol.

Jika terdapat korelasi yang sempurna diantara sesama variabel-veriabel

bebas sehingga nilai koefisien korelasi diantara sesama variabel bebas ini sama

dengan satu, maka konsekuensinya adalah:

1. nilai koefisien regresi menjadi tidak dapat ditaksir

2. nilai standard error setiap koefisien regresi menjadi tak terhingga.

Apabila terjadi multikolinearitas maka koefisiensi regresi dari variabel X

tidak dapat ditentukan (interminate) dan standard error-nya tak terhingga

(infinite). Jika multikolinearitas terjadi akan timbul akibat sebagai berikut:

1. Walaupun koefisiensi regresi dari variabel X dapat ditentukan (determinate),

tetapi standard error-nya akan cenderung membesar nilainya sewaktu tingkat

kolinearitas antara variabel bebas juga meningkat.

2. Oleh karena nilai standard error dari koefisiensi regresi besar maka interval

keyakinan untuk parameter dari populasi juga cenderung melebar.

3. Dengan tingginya tingkat kolinearitas, probabilitas untuk menerima hipotesis,

(25)

Firman Feisal, 2012

Analisis Efisiensi Ekonomi Pada Penggunaan Faktor Faktor Produksi Ikan Mas

4. Bila multikolineartas tinggi, seseorang akan memperoleh R2 yang tinggi

tetapi tidak ada atau sedikit koefisiensi regresi yang signifikan secara statistik.

Ada beberapa cara untuk medeteksi keberadaan multikolinieritas dalam

model regresi OLS, yaitu:

1. Mendeteksi nilai koefisien determinasi (R2) dan nilai thitung. Jika R2 tinggi

(biasanya berkisar 0,7 – 1,0) tetapi sangat sedikit koefisien regresi yang

signifikan secara statistik, maka kemungkinan ada gejala multikolinieritas.

2. Melakukan uji kolerasi derajat nol. Apabila koefisien korelasinya tinggi, perlu

dicurigai adanya masalah multikolinieritas. Akan tetapi tingginya koefisien

korelasi tersebut tidak menjamin terjadi multikolinieritas.

3. Menguji korelasi antar sesama variabel bebas dengan cara meregresi setiap Xi

terhadap X lainnya. Dari regresi tersebut, kita dapatkan R2 dan F. Jika nilai

Fhitung melebihi nilai kritis Ftabel pada tingkat derajat kepercayaan tertentu,

maka terdapat multikolinieritas variabel bebas.

4. Regresi Auxiliary. Kita menguji multikolinearitas hanya dengan melihat

hubungan secara individual antara satu variabel independen dengan satu

variabel independen lainnya.

5. Variance inflation factor dan tolerance.

Apabila terjadi Multikolinearitas menurut Gujarati (2006:45) disarankan

untuk mengatasinya dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :

(26)

Firman Feisal, 2012

Analisis Efisiensi Ekonomi Pada Penggunaan Faktor Faktor Produksi Ikan Mas

2. Menghubungkan data cross sectional dan data urutan waktu, yang dikenal

sebagai penggabungan data (pooling the data)

3. Mengeluarkan satu variabel atau lebih.

4. Transformasi variabel serta penambahan variabel baru.

Multikolinearitas merupakan kejadian yang menginformasikan terjadinya

hubungan antara variabel-variabel bebas Xi dan hubungan yang terjadi cukup

besar. Hal ini senada dengan pendapat yang dikemukakan oleh Mudrajad Kuncoro

(2004: 98) bahwa uji multikolinearitas adalah adanya suatu hubungan linear yang

sempurna (mendekati sempurna) antara beberapa atau semua variabel bebas. Ini

suatu masalah yang sering muncul dalam ekonomi karena in economics,

everything depends on everything else.

3.9.1 Uji Heteroskedastisitas

Heteroskedastisitas adalah keadaan dimana faktor gangguan tidak

memiliki varian yang sama. Heteroskedastisitas merupakan suatu fenomena

dimana estimator regresi bias, namun varian tidak efisien (semakin besar populasi

atau sampel, semakin besar varian). Uji heteroskedasitas bertujuan untuk menguji

apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual satu

pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika varian residual satu pengamatan ke

pengamatan yang lain tetap, maka disebut homokesdasitas dan jika berbeda

disebut heteroskedasitas. Keadaan heteroskedastis tersebut dapat terjadi karena

beberapa sebab, antara lain :

(27)

Firman Feisal, 2012

Analisis Efisiensi Ekonomi Pada Penggunaan Faktor Faktor Produksi Ikan Mas

2. Sifat data yang digunakan dalam analisis. Pada penelitian dengan

menggunakan data runtun waktu, kemungkinan asumsi itu mungkin benar

Ada beberapa cara yang bisa ditempuh untuk mengetahui adanya

heteroskedastisitas, yaitu:

1. Metode grafik, kriteria yang digunakan dalam metode ini adalah :

a. Jika grafik mengikuti pola tertentu misal linier, kuadratik atau

hubungan lain berarti pada model tersebut terjadi heteroskedastisitas.

b. Jika pada grafik plot tidak mengikuti pola atau aturan tertentu maka

pada model tersebut tidak terjadi heteroskedastisitas.

2. Uji Park (Park test), yakni menggunakan grafik yang menggambarkan

keterkaitan nilai-nilai variabel bebas (misalkan X1) dengan nilai-nilai

taksiran variabel pengganggu yang dikuadratkan (^u2).

3. Uji Glejser (Glejser test), yakni dengan cara meregres nilai taksiran absolut

variabel pengganggu terhadap variabel Xi dalam beberapa bentuk,

korelasi rank spearman tersebut dapat digunakan untuk mendeteksi

heteroskedastisitas berdasarkan rumusan berikut :

(28)

Firman Feisal, 2012

Analisis Efisiensi Ekonomi Pada Penggunaan Faktor Faktor Produksi Ikan Mas

5. Uji White (White Test). Pengujian terhadap gejala heteroskedastisitas dapat

dilakukan dengan melakukan White Test, yaitu dengan cara meregresi

residual kuadrat dengan variabel bebas, variabel bebas kuadrat dan perkalian

variabel bebas. Ini dilakukan dengan membandingkan χ2hitung dan χ2tabel,

apabila χ2

hitung > χ2tabel maka hipotesis yang mengatakan bahwa terjadi

heterokedasitas diterima, dan sebaliknya apabila χ2hitung < χ2tabel maka

hipotesis yang mengatakan bahwa terjadi heterokedasitas ditolak. Dalam

metode White selain menggunakan nilai χ2

hitung, untuk memutuskan apakah

data terkena heteroskedasitas, dapat digunakan nilai probabilitas Chi

Squares yang merupakan nilai probabilitas uji White. Jika probabilitas Chi

Squares < α, berarti Ho ditolak jika probabilitas Chi Squares > α, berarti Ho

diterima.

Heteroskedastisitas muncul apabila kesalahan atau residual dari model

yang diamati tidak memiliki varians yang konstan dari satu observasi ke observasi

lainnya artinya setiap observasi mempunyai reliabilitas yang berbeda akibat

perubahan dalam kondisi yang melatarbelakangi tidak terangkum dalam

spesifikasi model.

3.9.1 Uji Autokorelasi

Dalam suatu analisa regresi dimungkinkan terjadinya hubungan antara

variabel-variabel bebas atau berkorelasi sendiri, gejala ini disebut autokorelasi.

Istilah autokorelasi dapat didefinisikan sebagai korelasi antara anggota

(29)

Firman Feisal, 2012

Analisis Efisiensi Ekonomi Pada Penggunaan Faktor Faktor Produksi Ikan Mas

Autokorelasi merupakan suatu keadaan dimana tidak adanya korelasi

antara variabel penganggu (disturbance term) dalam multiple regression.

Faktor-faktor penyebab autokorelasi antara lain terdapat kesalahan dalam menentukan

model, penggunaan lag dalam model dan tidak dimasukkannya variabel penting.

Konsekuensi adanya autokorelasi menyebabkan hal-hal berikut:

1. Parameter yang diestimasi dalam model regresi OLS menjadi bias dan varian

tidak minim lagi sehingga koefisien estimasi yang diperoleh kurang akurat

dan tidak efisien.

2. Varians sampel tidak menggambarkan varians populasi, karena diestimasi

terlalu rendah (underestimated) oleh varians residual taksiran.

3. Model regresi yang dihasilkan tidak dapat digunakan untuk menduga nilai

variabel terikat dari variabel bebas tertentu.

4. Uji t tidak akan berlaku, jika uji t tetap disertakan maka kesimpulan yang

diperoleh pasti salah.

Adapun cara untuk mendeteksi ada atau tidaknya autokorelasi pada model

regresi, melalui:

1. Graphical method, metode grafik yang memperlihatkan hubungan residual

dengan trend waktu.

2. Runs test, uji loncatan atau uji Geary (geary test).

3. Uji Breusch-Pagan-Godfrey untuk korelasi berordo tinggi

4. Uji d Durbin-Watson, yaitu membandingkan nilai statistik Durbin-Watson

(30)

103

Firman Feisal, 2012

Analisis Efisiensi Ekonomi Pada Penggunaan Faktor Faktor Produksi Ikan Mas BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis yang telah dijelaskan sebelumnya, maka

kesimpulan mengenai analisi efisiensi ekonomi dalam penggunaan faktor-faktor

produksi ikan mas kolam jaring apung di Waduk Ciarata Kabupaten Cianjur

diantaranya:

1. Penggunaan faktor-faktor produksi oleh pembudidaya ikan mas kolam jaring

apung di Waduk Ciarata Kabupaten Cianjur belum mencapai efisiensi

optimum.

2. Skala produksi ikan mas kolam jaring apung di Waduk Ciarata Kabupaten

Cianjur berada pada tahap yang meningkat (increasing returns to scale).

5.2 Saran

Saran yang dapat penulis rekomendasikan selanjutnya adalah:

1. Untuk meningkatkan hasil produksi dan pendapatan pemudidaya ikan mas

kolam jaring apung di Waduk Cirata Kabupaten Cianjur, perlu dilakukan

penambahan faktor-faktor produksi hingga mencapai efisiensi optimum

dalam peggunaan faktor produksi. Faktor produksi modal harus ditambah

sampai pada tingkat Marginal Value Product modal optimum sebesar 105,54.

Faktor produksi tenaga kerja harus ditambah sampai pada tingkat Marginal

Value Product tenaga kerja optimum sebesar 20,41. Faktor produksi bibit

(31)

104

Firman Feisal, 2012

Analisis Efisiensi Ekonomi Pada Penggunaan Faktor Faktor Produksi Ikan Mas

sebesar 43,50. Faktor produksi pakan harus ditambah sampai pada tingkat

Marginal Value Product pakan optimum sebesar 6,44.

2. Untuk mencapai efisiensi optimum faktor produksi modal harus ditambah

sebesar Rp 7.011.790,5. Untuk mencapai efisiensi optimum faktor produksi

tenaga kerja harus ditambah sebesar Rp 1.355.984,8. Untuk mencapai

efisiensi optimum faktor produksi bibit harus ditambah sebesar Rp

2.890.021,7. Untuk mencapai efisiensi optimum faktor produksi pakan harus

ditambah sebesar Rp 427.856,1.

3. Mengadakan forum komunikasi kelompok pembudidaya ikan secara rutin,

agar memperoleh informasi dalam meningkatkan hasil produksi ikan mas dan

upaya-upaya untuk menyelesaikan masalah-masalah budidaya ikan mas.

4. Dalam menambah jumlah faktor-faktor produksi yang untuk mencapai

efisiensi optimum, pembudidaya tentunya memerluakan modal tambahan.

Ada pun beberapa pilihan untuk mendapatkan modal tersebut diantaranya:

a. Mengajukan Kredit Usaha Rakyat kepada bank yang ditunjuk pemerintah

dalam program tersebut, seperti; BRI, BTN, BNI, dan Bank Mandiri.

b. Mengajukan proposal ke Kementrian KUKM guna mendapatkan dan

hibah yang bisa digunakan untuk tambahan modal.

c. Ikut serta dalam Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM)

yang berkaitan dengan mengembangan usaha.

5. Mengingat dalam usaha meningkatkan produksi ikan mas tidak hanya

dipengaruhi oleh faktor ekonomi, tetapi juga dipengaruhi oleh

(32)

105

Firman Feisal, 2012

Analisis Efisiensi Ekonomi Pada Penggunaan Faktor Faktor Produksi Ikan Mas

ekonomi yang belum penulis teliti, diantaranya dapat memasukan variabel

teknologi, perilaku kewirausahaan, manajerial, sedangkan untuk faktor

diluar ekonomi dapat memasukan variabel kebijakan harga pemerintah dan

sosial ekonomi sehingga dapat memberikan gambaran yang menyeluruh

terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi produksi ikan mas di waduk

(33)

Firman Feisal, 2012

Analisis Efisiensi Ekonomi Pada Penggunaan Faktor Faktor Produksi Ikan Mas Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

DAFTAR PUSTAKA

Ahman, Eeng & Rohmana, Yana (2007). Pengantar Teori Ekonomi Mikro. Laboratorium Ekonomi dan Koperasi. Bandung

Arsyad Lincolin. (2000). Ekonomi Manajerial. BPFE. Yogyakarta

Badan Pusat Statistik. (2010). PDRB Kabupaten/Kota di Indonesia

_________________ (2010). PDRB Provinsi di Indonesia

Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan dan Kabupaten Cianjur. (2010).

Laporan Kerja Tahunan Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan dan

Kabupaten Cianjur Tahun 2010. Cianjur, Tidak diterbitkan.

Dumairy (1996), Perekonomian Indonesia. Erlangga: Jakarta

Gujarati, Damodar dan Sumarno Zain. (2003). Ekonometrika Dasar. Erlangga: Jakarta.

Gusrina. (2008). Budidaya Ikan Jilid 1. Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta

Mubyarto. (1989). Pengantar Ekonomi Pertanian. LP3ES. Jakarta.

Mudrajat Kuncoro. (2000). Ekonomi Pembangunan. Yogyakarta : UPP AMP

YKPN

Nazir Mohamad. (2005). Metode Penelitian. Ghalia Indonesia. Jakarta.

Richard A. Billas.(1992). Teori Ekonomi Mikro. Erlangga. Jakarta.

Salvatore Dominick, (2005). Ekonomi Manajerial. Salemba Empat. Jakarta.

Samuelson, Paul A dan Nordhaus, William D. (2003). Ilmu Mikro Ekonomi. PT

Media Global Edukasi. Jakarta.

Soekirno Sadono. (2005). Pengantar Teori Mikro Ekonomi. Bima Grafika.

(34)

Firman Feisal, 2012

Analisis Efisiensi Ekonomi Pada Penggunaan Faktor Faktor Produksi Ikan Mas Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Soekartawi. (1994). Teori Ekonomi Produksi. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Sudarsono. (1995). Pengantar Ekonomi Mikro. Jakarta : Lembaga Penelitian,

Pendidikan dan Penerapan Ekonomi

Sudjana. (1996). Metode Statistika. Bandung: Tarsito

Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta

Suharsimi Arikunto. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.

Rineka Cipta. Jakarta.

Suhartati Tati. (2003). Teori Ekonomi Mikro. Salemba Empat. Jakarta.

Widarjono, Agus. (2007). Ekonometrika Teori dan Aplikasi. Ekonisia: Yogyakarta.

Vincent Gasperesz. (2005). Ekonomi Manajerial. PT. Gramedia Pustaka Utama.

Jakarta.

INTERNET

http://www.bps.go.id /brsfile/pdb.html

http://benihikan.net/category/perikanan-budidaya.html

http://www.lestarimandiri.org/id/perikanan.html

TESIS, SKRIPSI

Dwi Arie Putranto (2007). Analisis Efisiensi Produksi Kasus Pada Budidaya

Penggemukan Kepiting Bakau Di Kabupaten Pemalang. Tesis Pada

(35)

Firman Feisal, 2012

Analisis Efisiensi Ekonomi Pada Penggunaan Faktor Faktor Produksi Ikan Mas Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Warsana (2007). Analisis Efisiensi Dan Keuntungan Usaha Tani Jagung (Studi

Di Kecamatan Randublatung Kabupaten Blora) Tesis Pada PASCASARJANA

UNDIP tidak diterbitkan.

Rita Yunus (2009). Analisis Efisiensi Produksi Usaha Peternakan Ayam Ras

Pedaging Pola Kemitraan Dan Mandiri Di Kota Palu Provinsi Sulawesi Tengah.

Tesis Pada PASCASARJANA UNDIP tidak diterbitkan.

Siti Fatimah (2009). Analisis Penggunaan Penggunaan Faktor-Faktor Produksi

Pada Petani Tambak Udang Windu (Studi kasus di Desa Bungko, Kecamatan

Kapetakan, Kabupaten Cirebon). Skripsi pada FPEB UPI tidak diterbitkan.

Dani Ramdani (2010) Analisis Efisiensi Penggunaan Faktor-Faktor Produksi

Pada Industri Senapan Angin (Suatu Kasus Pada Sentra Produksi Senapan Angin

Cikeruh Kabupaten Sumedang, Skripsi pada FPEB UPI tidak diterbitkan.

Kinanti Geminastiti Hilmiatussadiah (2010). Analisis Efisiensi Ekonomi Dalam

Penggunaan Faktor-Faktor Produksi Budidaya Tanaman Hias (Kasus Pada

Tanaman Hias Mawar Pot Di Desa Cihideung Kecamatan Parongpong

Figur

Gambar 2.1 Kurva Produksi Total, Produksi Rata-rata dan Produksi Marginal.............................................................................

Gambar 2.1

Kurva Produksi Total, Produksi Rata-rata dan Produksi Marginal............................................................................. p.4
Tabel 1.1 PDRB Provinsi Jawa Barat Atas Harga Dasar Berlaku

Tabel 1.1

PDRB Provinsi Jawa Barat Atas Harga Dasar Berlaku p.6
Tabel 1.2 PDRB Kabupaten  Cianjur Atas Harga Dasar Berlaku

Tabel 1.2

PDRB Kabupaten Cianjur Atas Harga Dasar Berlaku p.7
Tabel 1.3 Produksi Ikan Mas Kolam Jaring Apung

Tabel 1.3

Produksi Ikan Mas Kolam Jaring Apung p.8
Tabel 3.2 Operasionalisasi Variabel

Tabel 3.2

Operasionalisasi Variabel p.13
Gambar 3.1 Alur analisis data

Gambar 3.1

Alur analisis data p.17

Referensi

Memperbarui...