• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Fenologi merupakan ilmu yang mempelajari mengenai masa dan fase-fase yang terjadi secara alami pada suatu tumbuhan, dan termasuk salah satu ilmu yang perlu untuk dikaji dalam budidaya tanaman. Tahapan-tahapan yang terjadi sangat dipengaruhi oleh faktor internal dari tumbuhan tersebut dan faktor eksternal dari lingkungan sekitar tumbuhan itu sendiri. Menurut Agustin, et al, (2021: 83) fenologi pembungaan yang terjadi secara berkala pada setiap tumbuhan memiliki ciri-ciri dan perilaku yang berbeda-beda, serta dipengaruhi dari faktor lingkungan yaitu cahaya matahari, suhu dan kelembapan udara.

Menurut Trimanto et al, (2020: 78-79) fenologi pembungaan adalah karakter terpenting di dalam siklus hidup tanaman dikarenakan pada masa tersebut berlangsungnya awal dari proses perkembangbiakan tanaman. Proses fenologi pembungaan terjadi pada organ reproduktif sebagai alat perkembangbiakan generatif pada bunga yang merupakan tahap awal terjadinya reproduksi seksual.

Proses tersebut memerlukan bantuan polinator sebagai penyerbuk, karena penyerbukan memiliki peranan yang sangat penting pada rentetan proses fenologi yang terjadi. Pengamatan fenologi dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan keunggulan kualitas bunga yang dapat dilihat dari waktu dan lama mekarnya suatu bunga.

Pembungaan adalah tahapan yang dimulai dari fase inisiasi dengan terbentuknya tunas bunga hingga bunga mekar, sebagian ada yang rontok, tetapi kebanyakan mengering berwarna kecoklatan hingga rontok. Perkembangan bunga

(2)

merupakan kuncup yang telah termodifikasi, dikatakan berkembang karena menunjukkan beberapa perubahan dari yang belum terbentuk dan terlihat hingga yang bisa dilihat secara jelas dan lengkap. Menurut Triastinurmiatiningsih et al, (2021: 154) pembungaan adalah suatu proses awal terbentuknya buah. Langkah pertama dari perkembangan bunga merupakan proses induksi yaitu suatu langkah yang menyebabkan perubahan masa vegetatif menjadi masa reproduksi. Induksi bunga adalah langkah awal dari proses pembungaan, pada saat itu meristem vegetatif secara langsung berubah menjadi meristem generatif, atau disebut juga dengan perubahan transisi dari remaja menuju dewasa.

Suatu tumbuhan akan mempunyai perilaku yang beragam pada pola pembungaan dan pembuahannya. Fase-fase tersebut umumnya diawali dengan kemunculan kuncup muda atau kecil hingga rontok dan diakhiri dengan kematangan buah (Yulia, 2007: 58). Fase-fase perkembangan bunga merupakan salah satu dasar penting untuk proses pemuliaan tanaman, selain itu informasi pembungaan pada saat mekarnya dapat digunakan sebagai acuan mengenai waktu yang tepat untuk melakukan hibridasi tanaman, serta dimanfaatkan untuk mengetahui kondisi lingkungan yang optimal untuk masa pembungaan dan tanaman berkembang (Trimanto, 2020: 79-83).

Menurut Amiarsiah et al, (2003: 285) bunga mawar adalah salah satu jenis tanaman hias yang diprioritaskan perkembangannya, dikarenakan mempunyai nilai ekonimis yang tinggi dan banyak digemari oleh masyarakat konsumen serta mempunyai nilai keindahan yang tinggi, dan memiliki berbagai manfaat baik untuk bahan kosmetik, mawar tabur, mawar taman maupun bunga potong. Serta masa pembungaannya yang tidak mengenali waktu maupun musim dan dapat

(3)

berbunga secara terus menerus, sehingga berdampak pada tingginya permintaan jumlah tanaman yang dihasilkan.

Permintaan jumlah tanaman bunga mawar potong dikalangan masyarakat cenderung meningkat yang dapat dilihat dari meningkatnya hasil panen bunga mawar. Tingginya permintaan jumlah tanaman yang dihasilkan tidak hanya terjadi di negara Indonesia melainkan telah memasuki pasar Internasional, yaitu di negara Australia, Eropa, Afrika dan Asia. Dilihat dari beberapa negara yang mengimport bunga mawar potong, negara Australia telah mengimport bunga mawar sebanyak 6,46 juta mawar, dan di negara Uni Eropa masih didominasi oleh bunga mawar potong (Purnawanti, 2002:8).

Menurut pusat promosi bunga dan tanaman hias rawang belong, kebutuhan pasar domestik terhadap bunga potong terus meningkat, dengan laju pertumbuhannya 15%-25% pertahun. Mawar potong sempat sebagai suppiler terbesar kedua setelah bunga gladiol dengan komposisi yaitu 55% dari florist, 30% dari hotel dan 15% dari masyarakat konsumen (Supriadi & Nurmalinda, 2008: 361). Berdasarkan tingginya permintaan tersebut maka berpengaruh terhadap produksi tanaman yang dihasilkan, sehingga harus memahami cara yang tepat dalam pembudidayaan dan pengelolaannya serta memahami kendala-kendala yang terjadi selama proses perkembangan bunga berlangsung. Kendala yang terjadi selama proses perkembangan dan produksi bibit tanaman mawar yaitu dari cara pembudidayaan dan teknik perbanyakan yang digunakan.

Teknik yang digunakan untuk perbanyakan tanaman mawar umumnya yaitu teknik vegetatif yang dilakukan dengan cara stek pada batang. Stek sering digunakan dalam perbanyakan tanaman karena stek dapat menghasilakan tanaman

(4)

yang mempunyai kesamaan dengan induknya baik dari segi umur, tinggi, dan ketahanan terhadap penyakit serta dapat memproduksi bibit tanaman dengan jumlah yang banyak (Sylviana et al, 2019: 169).

Banyak dari masyarakat terutama pekebun atau penjual tanaman hias yang membudidayakan tanaman mawar (R. hybrida L.), namun mereka belum memahami cara pembudidayaan dan teknik perbanyakan yang tepat, agar tanaman mawar dapat tumbuh dan berkembang. Berdasarkan survey yang dilakukan dari beberapa toko bunga yang ada di kota Jambi, bahwa pembudidayaan tanaman mawar masih kurang dilakukan, bahkan beberapa penjual tanaman mawar dan yang membudidayakannya juga belum mengetahui secara detail mengenai pembudiyaan dan pemuliaan tanaman serta pembungaan tanaman mawar (R.

hybrida L.) dan juga belum mengetahui ciri-ciri perbedaan dari masing-masing

warna yang dihasilkan sebelum bunga mekar, yang disebabkan karena minimnya informasi mengenai fenologi pembungaan. Sehingga berpengaruh terhadap kelestarian dan hasil produksi tanaman mawar (R. hybrida L.). Oleh karena informasi yang didapatkan mengenai pembungaan mawar yang dihubungkan dengan faktor lingkungan dibutuhkan sebagai dasar dalam pembudidayaan, hybridasi dan pemulian tanaman, agar diperoleh varietas unggulan. Selain itu didapatkan informasi mengenai waktu yang dibutuhkan tanaman dari mulai berbunga hingga rontok, serta perubahan-perubahan morfologi yang terjadi selama fase perkembangan bunga.

Fase-fase perkembangan bunga suatu tanaman dipelajari pada matakuliah struktur dan perkembangan tumbuhan adalah salah satu mata kuliah wajib yang dikontrak oleh mahasiswa semester dua Program Studi Pendidikan Biologi

(5)

Universitas Jambi. Materi yang dipelajari pada mata kuliah tersebut tentang organ bunga khususnya struktur dan perkembangan bunga.

Pembelajaran mengenai fase-fase perkembangan bunga tidak hanya dibahas secara teori saja, tetapi juga disertakan dengan praktiknya dalam kegiatan praktikum. Praktikum tentang fase perkembangan bunga telah dilaksanakan oleh mahasiswa yang sudah mengontrak mata kuliah struktur dan perkembangan tumbuhan, tetapi pengamatan mengenai fase perkembangan bunga mawar (R.

hybrida L.) yang dihubungkan dengan faktor lingkungan beserta karakterisasi

morfologi dan kisaran waktu masing-masing fase perkembangan bunga belum dilakukan oleh mahasiswa. Oleh karena itu pengamatan mengenai fenologi pembungaan penting untuk dilakukan, dikarenakan dapat memberikan tambahan informasi baru mengenai fenologi pembungaan, dan juga menambah pengetahuan bagi masyarakat, pekebun atau penjual tanaman hias khususnya tanaman mawar (R. hybrida L.), agar diketahui cara yang tepat dalam membudidayaaannya serta dapat menghasilkan bunga dengan kondisi yang subur, sehat, tidak mengalami kerusakan pada organ tubuhnya serta memiliki motif dan warna yang berbeda, sehingga kelestariannya tetap terjaga. Selain itu dapat menambah khazanah keilmuan yang dijadikan sebagai pengayaan materi praktikum berupa penuntun praktikum.

Penuntun praktikum merupakan sumber belajar yang bisa digunakan sebagai panduan dalam melakukan praktik di lapangan maupun di laboratorium untuk mempermudah dalam melakukan suatu kegiatan praktik sesuai langkah- langkah dan arahan yang ada dalam penuntun praktikum untuk melakukan praktik tersebut, sehingga penuntun praktikum penting untuk dikembangkan dalam proses

(6)

pembelajaran. Menurut Prayitno et al, (2017: 36) pentingnya mengembangkan penuntun praktikum dapat dimanfaatkan sebagai pendorong siswa juga membentuk pengembangan kreatifitas siswa lewat aktivitas yang terdapat dalam penuntun praktikum yang sudah dikembangkan. Berdasarkan permasalah- permasalahan tersebut, maka peneliti merasa penelitain ini penting untuk dilakukan yaitu mengenai “ Fenologi pembungaan mawar (R. hybrida L.) sebagai materi praktikum struktur dan perkembangan tumbuhan”.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana fenologi pembungaan mawar ? 2. Bagaimana karakter morfologi bunga mawar ?

3. Bagaimana produk penuntun praktikum yang dihasilkan ?

1.3 Tujuan Penelitian

1. Memperoleh gambaran dari fenologi pembungaan mawar.

2. Karakterisasi morfologi bunga mawar.

3. Menghasilkan pengayaan materi praktikum struktur dan perkembangan tumbuhan berupa penuntun praktikum.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Secara Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambahkan ilmu pengetahuan mengenai fenologi pembungaan mawar (R. hybrida L.) untuk peneliti selanjutnya, dan dapat menambah wawasan dan pengetahuan tentang pertumbuhan dan perkembangan bunga mawar (R. hybrida L.). Selain itu dapat digunakan untuk menambah khazanah keilmuan dan sebagai tambahan referensi untuk

(7)

pembelajaran bagi mahasiswa biologi khususnya mengenai fenologi pembungaan dan karakterisasi morfologi bunga mawar.

1.4.2 Manfaat Secara Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambahkan ilmu penting tentang fenologi pembungaan khususnya bunga mawar (R. hybrida L.) yang dijadikan sebagai kegiatan praktikum struktur dan perkembangan tumbuhan, dan diharapkan dapat dimanfaatkan oleh petani atau penjual tanaman hias dalam membudidayakan dan teknik pemuliaan serta hibridisasi tanaman hias untuk menghasilkan varietas unggulan khususnya bunga mawar.

Referensi

Dokumen terkait

Analisis mengenai arus migrasi (dalam hal ini migrasi internal) dari waktu ke waktu sangat penting untuk dilakukan, karena pengamatan terhadap naik-turunnya arus migrasi

Masalah ini penting untuk diketahui agar guru dapat mengetahui aktivitas abstraksi yang dilakukan oleh siswa dalam memahami konsep barisan bilangan dan memberikan gambaran

Dalam system akuntansi, file voucher adalah sebuah bagian penting dari jejak audit, menyediakan informasi mengenai sumber seluruh entri yang dibuat untuk memperbaharui

Penelitian ini dapat memberikan tambahan pengetahuan mengenai pengaruh kebijakan dividen, kebijakan hutang dan kepemilikan institusional terhadap nilai perusahaan dalam

Data hasil penelitian yang diperoleh dapat memberikan informasi tambahan mengenai kelimpahan dan faktor bioekologi tumbuhan eceng gondok (Eichhornia crassipes) di

Penelitian ini penting untuk dilakukan agar guru dapat memperoleh informasi tentang pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan RME sebagai salah satu alternatif untuk

Hasil kajian mengenai pemrosesan citra ALOS PALSAR untuk tutupan lahan diharapkan dapat memberikan informasi bagi pengguna citra penginderaan jauh mengenai kemampuan

Penelitian ini dilakukan dengan maksud untuk menyediakan fitur tambahan berupa Book Recommender System pada Sistem Informasi Perpustakaan Universitas Widyatama dan