• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS PROSES REKONSILIASI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB IV ANALISIS PROSES REKONSILIASI"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

76 BAB IV

ANALISIS PROSES REKONSILIASI

4.1. Peranan Badan Pelaksana Klasis Sragen

Pasca perpecahan jemaat di Gereja Jawa A, Badan Pelaksana Klasis (Bapelklas) Sragen Bidang Keesaan mengusulkan hal rekonsiliasi antara Keluarga Besar Sinode GKJ dengan Gereja Jawa D. Usulan tersebut diangkat, mengemban amanat Akta Sidang Sinode XXV artikel 99 dan Akta Sidang Sinode XXVI artikel 28 tentang permasalahan Gereja Jawa A agar diselesaikan dengan jalan dialog. Melanjutkan amanat Sidang Sinode, Bapelklas mengangkat hal tersebut sebagai materi dalam Sidang Klasis IX Gereja-gereja Kristen Jawa Sragen, di GKJ Jambeyan, pada 28 Januari 2013. Persidangan menyetujui usulan itu dan memutuskan membentuk Tim Penyusun Draf Rekonsiliasi. Pada akhirnya buah pergumulan materi rekonsiliasi tersebut menjadi keputusan bersama dan dimuat dalam artikel 16 Akta Sidang Klasis IX Gereja-gereja Kristen Jawa Sragen.

Anggota Tim Penyusun Draf Rekonsiliasi yang ditunjuk oleh persidangan adalah: Pdt. HPW, Pdt. AHS, dan Pdt. G. Dua orang; Pdt. HPW dan Pdt. AHS adalah pelaku sejarah, mereka terlibat dalam proses penyelesaian masalah Gereja Jawa A dan dipandang memiliki kemampuan untuk membangun dialog dengan Jemaat B. Sementara Pdt. G adalah Pendeta Gereja Jawa A yang baru saja ditahbiskan pascakonflik dan perpecahan jemaat, diharapkan bisa memposisikan diri secara netral dan menjembatani komunikasi antara Jemaat Gereja Jawa A dengan Jemaat B, pertimbangannya karena yang bersangkutan

(2)

77

sama sekali tidak pernah terlibat dalam pergulatan Gereja Jawa A pada waktu konflik terjadi. Tim yang ditunjuk, bertugasas membuat grand design rekonsiliasi antara Keluarga Besar Sinode GKJ dengan Gereja Jawa D yang berisi tentang tahapan-tahapan rekonsiliasi, dan pada akhirnya akan ditawarkan kepada kedua belah pihak yang berkonflik, sehingga ada penyelesaian konflik yang berujung pada rekonsiliasi di antara keduanya.

Tim Penyusun Draf Rekonsiliasi mulai menggodhog isi draf rekonsiliasi sebagai usulan untuk dinegosiasikan dengan pihak Gereja Jawa D. Tim mendiskusikannya secara aktif dalam forum ministerium (Forum Pendeta-pendeta Aktif se-Klasis Sragen). Buah dari pergumulan di ministerium salah satunya tentang terminologi rekonsiliasi itu sendiri. Dalam draf disebutkan apa yang dimaksud dengan rekonsiliasi. Dalam salah satu penyataan isinya disebutkan106:

Rekonsiliasi yang benar adalah di mana masing-masing pihak yang bersengketa sebagai subyek untuk mencari kesepakatan bersama untuk rukun kembali, didasari peraturan yang berlaku dalam kehidupan bersama tersebut (dalam hal ini Alkitab, Pokok- Pokok Ajaran Gereja, Tata Gereja/Tata Laksana dan produk gerejawi lainnya). Ini penting karena dalam rekonsiliasi, bukan untuk menciptakan tata kehidupan yang baru, melainkan hidup di dalam tata kehidupan yang telah ada dan telah disepakati bersama.

Di sini penulis menemukan ada keterbatasan pemahaman tentang terminologi rekonsiliasi juga keterampilan berrekonsiliasi. Forum ministerium masih belum dapat menghilangkan pijakan legal formal (Tata Gereja/Tata Laksana tahun 2005)107 terhadap masalah Gereja Jawa A. Jadi pemahaman

106 Draf Rekonsiliasi yang disusun oleh Tim Rekonsiliasi

107 Setelah Persidangan Sinode XXVII GKJ di Lembang, Bandung, 16-20 November 2015, telah disepakati bahwa per Januari 2016 akan digunakan Tata Gereja/Tata Laksana GKJ Tahun 2015 hasil Sidang Istimewa

(3)

78

terhadap masalah masih terbatas pada benar dan salah menurut Tata Gereja/Tata Laksana. Menyoal hal tersebut sudah diingatkan oleh Visitator Sinode XXIV GKJ, Bapak Pdt. YTP pada pelaksanaan Sidang Istimewa Klasis Gereja-gereja Kristen Jawa, 28 Agustus 2015:

“Ketika Tata Gereja/Tata Laksana, Pokok-pokok Ajaran dan sekian banyak tradisi gereja tidak lagi memadai sebagai rujukan bagi pemecahan masalah kita, maka sekaranglah saatnya dalam kasih, dalam ketaatan, dalam kerelaan terhadap panggilan dan kehendak Tuhan dalam sidang ini kita merumuskan dan menyatakan. Bukan kehendak kita, tetapi kehendak Tuhan yang jadi.”

Rekonsiliasi dalam bahasa Kraybill108 menunjukkan adanya perubahan atau transformasi. Bukan saja hanya sekadar mengakhiri konflik, akan tetapi ada sesuatu yang baru yang dilakukan berdasakan kesadaran di antara para pihak yang berkonflik. Rekonsiliasi terjadi bila para pihak yang berkonflik membuat pengakuan yang jujur akan kondisi masing-masing. Pengakuan sejatinya adalah proses penyembuhan.109

Rekonsiliasi merupakan perjalanan panjang untuk menuju kepada transformasi. Bukan sekadar mengucapkan kata-kata manis, rekonsiliasi membutuhkan kesiapan hati untuk mendengar amarah dan kebencian.110

Rekonsiliasi bukan hanya sekadar hitam di atas putih. Seperti apa yang dipahami oleh Tim Rekonsiliasi Klasis Sragen dalam terminologi rekonsiliasi yang dibuat. Mereka menitikberatkan pada kesepakatan bersama sesuai dengan

Sinode XXVI di Prambanan, Klaten. Tata Gereja/Tata Laksana GKJ Tahun 2015 ini menggunakan “pisau bedah” pastoral transformatif.

108 Bandingkan, Ronald S. Kraybill, Alice Fracer Evans & Robert A. Evans, Peace Skill, Panduan Mediator, Terampil Membangun Perdamaian. Penerjemah:A. Supratiknya, (Yogyakarta:Kanisius, 2004), hlm. 26

109 Ibid, hlm. 135

110 Ibid

(4)

79

Tata Gereja/Tata Laksana GKJ. Oleh sebab itu, sampai kapan pun tawaran rekonsiliasi ini tidak ada diterima oleh pihak Jemaat B. Karena menurut mereka ini bukan win-win solution. Tim Rekonsiliasi Sragen dianggap hanya membela kepentingan Gereja Jawa A saja.

Karena melihat masalah menjadi semakin kompleks, Tata Gereja/Tata Laksana menjadi sangat terbatas jika dipaksakan sebagai payung hukum penyelesaiannya. Sementara, Gereja Jawa D melihat masalah yang terjadi secara substansial bukan prosedural. Perbedaan pijakan pemahaman tersebut menjadi salah satu kendala tercapainya kesepakatan bersama, antara Gereja Jawa A dengan pihak Gereja Jawa D yang mengampu Jemaat B.

Benar apa yang diungkapkan oleh Lederach, bahwa ada dua pemahaman yang berbeda tentang mengupayakan rekonsiliasi. Ada kelompok yang memiliki asumsi bahwa yang paling penting adalah bagaimana memperbaiki hubungan.

Namun, ada kelompok juga yang menyatakan bahwa rekonsilisi dapat terwujud bila titik epicentrum conflict ditemukan, kemudian diuraikan satu persatu.111 Selama masing-masing pihak masih memiliki cara pandang yang berbeda akan terwujudnya rekonsiliasi, tentulah sulit untuk mengambil langkah selanjutnya.

Sehingga, wajar ketika ada wacana yang beredar di kalangan Gereja- gereja Kristen Jawa, Gereja Jawa D dianggap inkonsisten terhadap tata kehidupan bersama GKJ. Gereja Jawa D tidak memiliki keinginan untuk tunduk dan melaksanakan kesepakatan yang telah diputuskan oleh Gereja-gereja, yang tertuang dalam Akta Sidang Sinode XXV artikel 99 yang menyatakan bahwa

111 Lihat John Paul Lederach, dalam Jurnal, William Nordenbrock, C.PP.S, The Ministry of

Reconciliation:Methods Rooted in Spirituality (Orlando, FL:Missionaries of La Salette, October 2010) dalam www.cppsmissionaries.org (Kamis, 23 Maret 2017, 08.50

(5)

80

menerima penanggalan Pdt. Em. Drs. IS sesuai dengan keputusan Sidang Istimewa Klasis Sragen tanggal 28 Agustus 2009, tidak mengakui keberadaan kelompok yang menamakan Jemaat B dan majelis termasuk Drs. IS yang diteguhkan kembali kependetaannya oleh Gereja Jawa D. Bagian inilah yang ditolak oleh Gereja Jawa D, sementara isi dari Akta Sidang Sinode XXV terus dipakai sebagai pijakan Gereja Jawa A dan Klasis Sragen. Ada perbedaan tentang apa yang diyakini, sekaligus menjadi standing point para pihak yang berkonflik, ini yang semsestinya terus didialogkan hingga, ada titik temu/pemahaman yang sama mengenai kedudukan ini.

Namun, Gereja Jawa D menganggap itu bukan masalah, yang paling penting adalah bagaimana membangun hubungan kembali. Gereja Jawa D bersikukuh bahwa keberadaan Pdt. Drs. IS dan jemaatnya adalah sah. Logika yang dipakai oleh Gereja Jawa D, seperti yang dikemukakan oleh Bapak IS112:

“Pendeta itu dilegitimasi oleh keberadaan jemaatnya. Jika sekumpulan orang yang mengatasnamakan jemaat mengakui keberadaan seseorang sebagai Pendeta, maka sahlah orang tersebut sebagai Pendeta.”

Rupa-rupanya, persoalan kependetaan Bapak IS inilah yang memicu polemik bukan hanya di kalangan internal Jemaat Gereja Jawa A melainkan juga pada jemaat di Gereja-gereja Klasis Sragen. Bagi Jemaat Gereja Jawa A inilah akar permasalahannya, keberadaan Bapak IS yang sudah tanggal kependetaannya tetapi masih melayani dan memenuhi tugas-tugas kependetaannya.

Tentu saja, hal tersebut memunculkan polemik di kalangan Gereja Jawa A dan Klasis Sragen. Polemik tersebut menyoal pelayanan-pelayanan yang

112 Dalam dialog pada tanggal, 2 Oktober 2015, di Kantor Klasis Sala

(6)

81

dilakukan oleh Bapak IS, seperti Peneguhan Nikah dan Pemberkatan Perkawinan, pendampingan pengambilan sumpah jabatan yang dilakukan oleh instansi pemerintah. Di satu sisi publik mengetahui bahwa Bapak IS telah tanggal kependetaannya, di sisi lain Bapak IS diakui kependetaannya oleh komunitasnya, Jemaat B. Sehingga ada pemahaman citra yang tidak baik terhadap gereja oleh orang-orang di lingkungan Sragen.

Melihat masalah tersebut, Tim Penyusun Draf Rekonsiliasi berupaya dengan mengusulkan beberapa hal113:

Jika rekonsiliasi ini terjadi maka hasil yang ideal adalah di mana masing-masing pihak benar-benar mau menerima dan mengakui eksistensi pihak yang lain. Oleh sebab itu, sebelum proses itu terjadi, ada hal yang perlu dipahami :

1. Rekonsiliasi sudah merupakan kebutuhan bersama pihak- pihak yang bersengketa.

2. Adanya pengakuan dari satu pihak ke pihak lain bahwa yang lain adalah subyek dari proses rekonsiliasi.

3. Adanya pengakuan kesetaraan dari pihak satu ke pihak lain dalam proses rekonsiliasi

4. Adanya kesanggupan dari masing-masing untuk mendasari proses ini dengan dasar Alkitab, Pokok-Pokok Ajaran Gereja, Tata Gereja/Tata Laksana dan produk gerejawi lainnya.

5. Adanya kesepakatan bahwa jika telah terjadi kesepakatan, maka wujud dari rekonsiliasi adalah menyeluruh yaitu sikap saling menerima dan mengakui.

Mencermati poin keempat dalam draf rekonsiliasi, akan sulit untuk diwujudkan oleh karena ada beda pemahaman dalam melihat masalah yang terjadi. Gereja Jawa D sebagai pengampu Jemaat B melangkah sudah melampaui apa yang ada dalam Tata Gereja/Tata Laksana, sementara Majelis Gereja Jawa A tetap berpijak pada apa yang benar menurut Tata Gereja/Tata Laksana. Hal

113Isi dari Draf Rekonsiliasi yang disusun oleh Tim Rekonsiliasi

(7)

82

tersebut akan sulit untuk dipertemukan. Apalagi menyikapi tentang kependetaan Drs. IS, tidak akan mencapai titik temu sampai kapan pun114. Hal tersebut merupakan perkara yang bertolak belakang di antara keduanya bila terus dinegosiasikan tidak akan menemui kesepahaman.

Sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Cohen tentang konstruksi simbolik kelompok ditentukan oleh karakter oposisinya. Ada perbedaan idealisme yang diperjuangkan oleh para pihak yang berkonflik. Dua hal yang berbeda tersebut menghasilkan suatu konstruksi kelompok dengan kekhasannya.

Mengapa hal pemaafan tidak ditawarkan sebagai kerangka rekonsiliasi.

Seharusnya Tim Rekonsiliasi dan kedua pihak yang berkonflik ini menyadari bahwa konteks konflik ini terjadi di suatu jemaat yang adalah milik Tuhan. Di mana seharusnya di situ tersemai benih-benih cinta kasih dan pengampunan.

Desmon Tutu pernah menyatakan dalam rangka rekonsiliasi di Afrika Selatan; mengapa orang-orang lebih memilih memaafkan daripada menuntut balas. Mereka menyadari ada hal baik di dalam diri mereka yang mereka sebut dengan ubuntu. Desmond Tutu menyatakan115:

Bagi kami umat Kristiani, kematian dan kebangkitan Yesus Kristus adalah bukti yang memastikan bahwa cinta lebih kuat dari kebencian, hidup lebih kuat dari kematian, cahaya lebih kuat daripada kegelapan, tawa, kenikmatan, kasih sayang, kelembutan dan kebenaran...

Pernyataan ini menjadi suatu refleksi diri dan spirit rekonsiliasi kala itu di Afrika Selatan. Dalam konteks kehidupan orang Jawa disebut mulat sarira

114 Sampai sekarang sekalipun kependetaan IS sudah diakui secara sinodal dan dituangkan dalam Akta Sidang Sinode XXVIII GKJ artikel 14, Klasis Sragen masih belum bisa menerima. Hal itu dinyatakan dalam Bahasa masih berproses untuk menerima keputusan Sinode.

115 Desmond Tutu, Tiada Masa Depan Tanpa Pengampunan, Pengalaman Nelson Mandela Membangun Rekonsiliasi Afrika Selatan. Pengantar Ma’arif Jamuin, (Kartasura:Ciscore, 2001), hlm. 111

(8)

83

hangrasa wani (Berani mengoreksi diri sendiri, melihat hal baik dari pada hal

buruk). Penyadaran diri ini menjadi titik awal dari rekonsiliasi terjadi, daripada meributkan tentang hal-hal yang bertentangan di antara mereka. Bahwa ada kebaikan-kebaikan yang bisa dikembangkan dalam diri mereka daripada hal-hal yang negatif, yang akan semakin merusak hubungan.

Kebaikan-kebaikan itu menurut Kriesberg menjadi indikator terjadinya rekonsiliasi. Kebaikan-kebaikan tersebut di antaranya adalah; mengakui adanya kesalahan/kejahatan yang pernah dilakukan di masa lalu, adanya penerimaanya (sedikit demi sedikit hubungan pulih), kedua belah pihak saling memberikan ungkapan welas asih, munculnya rasa hormat di antara kedua pihak.116 Misalnya pihak Gereja Jawa A merasa bahwa kami pernah memutuskan sesuatu yang salah, dan pihak Jemaat B juga demikian, kami dulu telah bertindak arogan, dan memaksakan kehendak.

Dalam upaya negosiasi yang dilakukan oleh Tim Rekonsiliasi dengan pihak Gereja Jawa A, terungkap bahwa ada hal yang menjadi ganjalan bagi mereka, yaitu soal kependetaan Drs. IS. Dalam pertemuan di Gereja Jawa A, tanggal 13 November 2015 membahas rencana rekonsiliasi keumatan dan usulan pendewasaan Jemaat B oleh Gereja Jawa D, salah satu anggota majelis Gereja Jawa A, Bapak RESPONDEN 5 menyatakan117:

“Pendewasaan Jemaat B oleh siapapun asal itu prosedural kami tidak ada masalah, kami bisa menerima. Namun kami tidak akan bisa menerima jika Pendetanya masih Bapak IS, atau mungkin

116 Kriesberg, Louis, Constructive Conflict:From Escalation to Resolution (Lanham, Md:Rowman &

Littlefield, 1998), hlm. 384

117 Pertemuan pada tanggal 13 November 2015, di Klasis Sragen

(9)

84

isterinya. Barangkali kalau mereka bisa mengangkat Pendeta baru, itu lain soal.”

Ini menandakan bahwa kebaikan-kebaikan itu belum dikembangkan.

Setiap kali ada pernyataan yang ada melulu ungkapan-ungkapan negatif, menyoal hal yang saling bertolak belakang. Sama sekali belum menunjukkan adanya indikator menuju rekonsiliasi, seperti yang dijelaskan oleh Kriesberg.

Pernyataan Bapak RESPONDEN 5 juga digaris bawahi oleh sesepuh Gereja Jawa A Bapak RESPONDEN 6118:

“Sebenarnya soal pendewasaan itu adalah rencana kami sejak awal sebelum terjadi perpecahan. Kami tidak ada persoalan dengan pendewasaan. Pokok permasalahannya adalah pada Keluarga IS. Pendewasaan monggo lah, asal prosedural.”

Pernyataan ini hendak menunjukkan adanya pembenaran terhadap proses yang sudah diambil oleh Gereja Jawa A dan menganggap proses yang di dijalani Jemaat B itu salah, utamanya soal kependetaan Bapak IS. Jika proses demi proses tidak dijalani secara prosedural, maka itu tidak akan disebut dengan hasil final atau malah memunculkan polemik baru. Dari pernyataan tokoh sebagai representasi jemaat Gereja Jawa A tersebut, belum terjadi penerimaan dari pihak Gereja Jawa A dengan apa yang sudah berjalan selama ini di Jemaat B. Jadi belum ada indikator mengarah kepada rekonsiliasi seperti yang dijelakan oleh Kriesberg.

Sebenarnya ada dua hal yang perlu didialogkan untuk mencapai kepada kesepahaman. Pertama, pendewasaan secara prosedural, kedua, keberadaan Bapak IS sebagai Pendeta yang diakui oleh Jemaat B namun ditolak keabsahannya oleh

118 Pertemuan pada tanggal 13 November 2015, di Kantor Klasis Sragen.

(10)

85

Sinode GKJ. Poin ini, terus menerus didialogkan di antara kedua belah pihak yang berkonflik, supaya ada alternatif dalam penyelesaiannya, dan menguntungkan kedua pihak.

Kondisi riil menjelaskan bahwa sebenarnya belum ada kesepahaman/penerimaan di antara pihak Gereja Jawa A dengan Jemaat B dalam melihat penyelesaian konflik. Seperti pendapat Kriesberg bahwa adanya penerimaan merupakan salah satu syarat terwujudnya rekonsiliasi. Gereja Jawa A tidak mempermasalahkan soal pendewasaan akan tetapi masih tidak dapat menerima kependetaan Bapak IS mengingat keputusan dalam Akta Sidang Sinode XXV artikel 99 tentang tanggalnya jabatan pendeta Drs. IS. Sementara Jemaat B menawarkan dua poin119 terkait pendewasaan dan penerimaan kependetaan Bapak IS sebagai satu paket dalam skema relasi ke depan:

1) Program Pendewasaan:

a) Didewasakan oleh Gereja Jawa D

b) Dalam Persidangan Klasis Sala pada bulan Januari 2016 memohon kepada Majelis Gereja Jawa D untuk mengusulkan pendewasaan Jemaat B

c) Pelaksanaan Pendewasaan sepakat dilaksanakan 28 Juni 2016

d) Membuka diri untuk berdialog dengan pihak manapun yang akan memperlengkapi menjadi gereja dewasa

e) Menyusun kepanitian dan time schedule

f) Untuk memenuhi syarat gereja yang dewasa secara administrasi, keuangan, sumber daya dll, siap diproses sesuai ketentuan yang berlaku

g) Setelah didewasakan oleh Gereja Jawa D dan menjadi bagian Klasis Sala, Gereja Jawa B bersedia diserahkan ke Klasis Sragen.

2) Penerimaan Kependetaan

119 Buku Materi Majelis GKJ Dagen Palur Jemaat Taman Murni Untuk Dialog antara Klasis Sragen, Tim Dialog Sinode GKJ dan Klasis Sala

(11)

86

a) Mengawal buah pelayanan Pdt. IS selama ini (baptisan, pernikahan dll)

b) Berpegang pada SK Gereja Jawa D

c) Pdt. IS siap untuk mengikuti proses yang dirancang oleh Klasis Sala/Sinode untuk menuju kepada pengakuan kependetaan yang lebih luas.

Proses yang tidak menceraikan Pdt. IS dan Jemaat B akan menghasilkan jemaat yang kokoh di masa depan

Dengan melihat kondisi riil serta harapan kedua jemaat yang berkonflik, tampak jelas bahwa fokus penyelesaian permasalahan menjadi semakin mengerucut. Tugas Tim Rekonsiliasi bekerjasama dengan para pihak yang ada untuk terus menegosiasikan untuk mencapai kesepahaman demi terwujudnya rekonsiliasi. Negosiasi dalam mediasi menjadi penentu keberhasilan rekonsiliasi.

Mediasi bukan hanya menjadi instrumen komunikasi belaka, di dalamnya perlu ada spirit membangun dialog yang mutualistik agar proses demi proses bermuara pada hasil yang sejalan dengan tujuan rekonsiliasi. Bahasa dalam bermediasi para pihak yang berkonflik sangat penting dipelajari dengan baik oleh mediator. Tidak berat sepihak, harus spesifik dalam kerangka keadilan untuk kedua belah pihak.120

Kalau pun Jemaat B bersikukuh dengan pengajuannya tentang penerimaan kependetaan Drs. IS, maka perlu ada pendekatan kepada Jemaat Gereja Jawa A untuk melihat kemungkinan usulan tersebut akhirnya bisa diterima dan maklumi oleh mereka. Di sinilah peran dari para mediator, untuk melakukan pendekatan-pendekatan. Karena, tidak dapat dipungkiri sebagian besar aktor konflik masih memendam luka di masa lalu. Penyelesaian konflik belum menyelesaikan akar dari konflik di Gereja Jawa A. Apa yang menjadi sumber

120 Ronald S. Kraybill, Alice Fracer Evans & Robert A. Evans, Peace Skill, Panduan Mediator, Terampil Membangun Perdamaian. Penerjemah:A. Supratiknya, (Yogyakarta:Kanisius, 2004), hlm. 151-156

(12)

87

konflik belum tertangani dengan baik, konflik laten terus berkembang. Terlebih saat jemaat Gereja Jawa A mendengar bahwa akan ada rencana pendewasaan yang disertai dengan penerimaan dan pemulihan kependetaan Drs. IS. Mereka semua bersuara lantang; tidak dapat menerima121.

Perkembangan masalah sampai dengan saat ini, membuktikan bahwa peranan Badan Pelaksana Klasis Sragen dalam resolusi konflik di Gereja Jawa A relatif amat kurang. Kurangnya keseriusan dalam menangani permasalahan ini, koordinasi yang kurang intens, dan minimnya pendekatan kepada kedua belah pihak yang berkonflik. Hal tersebut menunjukkan lemahnya peran mediator.

Menurut Kraybill dkk; seorang mediator harus bersikap jujur, fair, teguh memegang prinsip, dan memiliki komitmen yang tinggi untuk membela kebutuhan semua pihak yang bertikai dengan adil. Meskipun pada saat awal konflik keterlibatan Bapelklas Sragen sangat intens, namun belum dapat dikatakan berhasil. Menurut penulis, peran mediator yang tidak fair membuat masalah semakin melebar.

Bapelklas berupaya untuk mengambil tindakan cepat dalam menyentuh sumber konflik, namun dalam kenyataannya pemulihan relasi Bapak IS dengan beberapa jemaat hanya sebatas mengikuti jadwal yang sudah ditentukan oleh Tim Pendampingan dan tidak menyelesaikan masalah. Seperti yang diungkapkan oleh Ibu RESPONDEN 7, salah satu jemaat Gereja Jawa A122:

Pada waktu itu saya termasuk jemaat yang direkonsiliasi dengan keluarga Pastori, namun rekonsiliasi tidak berjalan baik, yang datang ke rumah saya itu hanya Pak Bari, sementara isterinya

121 Sekalipun sekarang semuanya telah terwujud dan telah sah diakui secara Sinodal. Pihak GKJ Tamanasri serta Klasis Sragen masih dalam proses untuk dapat menerima.

122 Percakapan pada tanggal 13 November 2015, di Kantor Klasis Sragen

(13)

88

Bu Emi, tidak bisa datang dengan alasan sakit. Begitu terus sampai 1 bulan proses berjalan Bu Emi tidak pernah mau datang, dengan alasan yang sama; sakit. Asumsi saya berarti Bu Emi sakit keras. Tapi mengapa pada saat retreat keluarga Pendeta pada waktu itu di Malang Bu Emi kog ikut? Katanya sakit? Saya menyimpulkan berarti tidak ada niat yang baik dari keluarga Pastori utamanya Bu Emi untuk membangun pemulihan.

Bapelklas Sragen tidak berhasil memediasi para pihak berkonflik. Hal itu nyata terlihat dalam proses sosialisasi rencana pendewasaan Jemaat B. Menurut penilaian Jemaat B, Bapelklas tidak berempati kepada pihak Jemaat B pada waktu itu dan Bapelklas tidak bisa menempatkan sebagai pihak yang netral dan mendampingi secara fair para pihak berkonflik. Persoalan tempat visitasi untuk meninjau kesiapan Jemaat B pada tanggal 28 Februari 2009, menjadi klimaks dari konflik dan akhirnya terjadi pemisahan jemaat. Saat pemisahan terjadi, beberapa sumber konflik dibiarkan begitu saja, tidak tertangani dengan baik. Bapak RESPONDEN 2 (Majelis Jemaat B) mengungkapkan demikian:

“Mengapa pada waktu itu Majelis Gereja Jawa A tidak bisa mengalah sedikit saja. Utusan Klasis mengunjungi kami di Tawang karena menuruti undangan dari pihak Majelis, sementara kami menunggu di gedung Gereja Jawa A, karena kami menganggap kami masih memiliki hak untuk memakai gedung gereja, kami sudah menjelaskan bahwa kami menunggu di Gereja, namun Utusan dari Klasis tidak menanggapi, sampai pada akhirnya menjadikan proses pendewasaan tidak jelas, dan kami harus mengambil sikap.”

Dalam kasus ini, semestinya mediator bisa menjembatani. Hanya karena hal yang sepele; yaitu masalah tempat, membuat semua yang sudah disusun baik- baik tidak dapat terwujud. Pada akhirnya, tidak bisa dikendalikan, jemaat menjadi pecah. Kraybill menjelaskan hal tersebut sebagai satu kelalaian mediator. Karena

(14)

89

seorang mediator haruslah mempersiapkan secara detail beberapa langkah dalam proses rekonsiliasi.

Bapelklas belum berhasil dalam memainkan peranan jangka pendek terhadap penyelesaian konflik, yang seharusnya tidak berakhir pada perpecahan jemaat Gereja Jawa A. Rencana pendewasaan Gereja Jawa A II sebenarnya menjadi tahap de-eskalasi konflik menuju kepada proses negosiasi, jika hal tersebut terlewati dengan baik. Sayangnya proses tersebut tercederai oleh undurnya jemaat, bergabungnya sebagian jemaat Gereja Jawa A ke Gereja Jawa D, dan menjadikan penyelesaian konflik terbengkelai.

Setelah kurun waktu 3 (tiga) tahun, Bapelklas Sragen kembali menggulirkan rencana rekonsiliasi, diajukan dalam Sidang Klasis IX, di GKJ Jambeyan. Masalah yang terpendam dan belum terselesaikan dengan baik kembali diungkapkan. Mencermati 3 (tiga) tahun perkembangannya, ada tiga hal kondisi yang dicatat oleh Tim Penyusun Draf Rekonsiliasi123:

1. Masing-masing pihak mengklaim pihaknya yang paling benar dan menganggap yang lain yang salah.

2. Adanya klaim tersebut masing-masing tidak saling mengakui atau tidak menghargai eksistensi yang lain.

3. Hubungan keduanya menjadi beku, kalau ada komunikasi itu hanya formalitas saja dan saling mencurigai.

Untuk mengatasi kebuntuan komunikasi, Tim yang dipimpin oleh Pdt.

HPW mencoba menawarkan tahap-tahap rekonsiliasi, yang terdiri dari:

pemaafan/pengampunan, relasi keumatan (pemahaman rekonsiliasi melalui Pemahaman Alkitab, Pengajuan proposal rekonsiliasi kepada para pihak yang

123 Draf Rekonsiliasi yang disusun oleh Tim Rekonsiliasi

(15)

90

berkonflik, dialog-dialog yang menghadirkan para pihak yang berkonflik). Tim Rekonsiliasi Klasis Sragen sebenarnya memotret kondisi riil yang ada.

Jika dipetakan dalam skema rekonsiliasi Kriesberg124, tahap de-eskalasi konflik Gereja Jawa A sudah dilewati. Konflik sudah dapat diredam. Selanjutnya perlu mengupayakan negoisiasi, sehingga dimungkinkan membuka diplomasi antara keduanya. Perlu diupayakan peluang adanya dialog antar elit/tokoh-tokoh gereja yang mempunyai pengaruh di Gereja Jawa A dan Jemaat B. Pada tahap negosiasi ini, menurut Kriesberg orientasinya adalah mencari kesepakatan antara pihak-pihak yang berkonflik. Seperti draf yang sudah dipaparkan oleh Tim Rekonsiliasi. Selanjutnya tinggal mengatur tahapan problem-solving/pemecahan masalah, seperti; kebuntuan dalam memahami keinginan dari masing-masing para pihak yang berkonflik. Adanya perbedaan kepentingan; Gereja Jawa A ingin fokus kepada persoalan Bapak IS, sementara Jemaat B menganggap itu bukanlah masalah. Tahap terakhir dari resolusi konflik adalah peace building, tahap ini merupakan tahap transisi dari rekonsiliasi menuju konsolidasi. Tahap ini dianggap tahap terberat dan memakan waktu terlama, karena memiliki orientasi struktural dan kultural, dalam arti pendekatan struktural dan kultural merupakan suatu alternatif yang mungkin dapat diambil, dengan memahami konteks kehidupan kedua jemaat yang berkonflik.

Akan tetapi setelah draf tersusun lalu diajukan kepada persidangan Klasis X Gereja-gereja Kristen Jawa Sragen di GKJ Sragen, tanggal 6 Desember 2015

124 Louis Kriesberg, Constructive Conflict:From Escalation to Resolution, (Lanham, Md:Rownman &

Littlefield, 1998), Bab II

(16)

91

dan pada akhirnya disetujui, nyaris tahapan rekonsiliasi yang diajukan dalam draf itu juga tidak tergarap sama sekali. Sangat disayangkan, bahwa tahapan yang sudah memasuki negosiasi, tidak ada tindak lanjutnya sama sekali.

Tampaknya anggota tim terlibat secara emosi sehingga tidak bisa melangkah secara fair. Anggota tim masih terjebak dalam pemahaman legal formal dalam melihat masalah Gereja Jawa A. Upaya untuk menembus Gereja

Jawa D serta melakukan dialog melalui Jemaat B tidak pernah terwujud, karena dihantui pemahaman; jika tim terlibat dialog atau hadir dalam satu event tertentu yang diselenggarakan oleh Jemaat B akan disalahartikan oleh Jemaat B sebagai bentuk dukungan/legitimasi keberadaan Jemaat B. Situasi itu tidak sejalan dengan apa yang dijelaskan oleh Kriesberg125 bahwa semakin tinggi tingkat interaksi dan saling ketergantungan antara pihak-pihak yang tadinya berkonflik, akan semakin membatasi munculnya konflik baru. Yang terjadi justru sebaliknya, nihil interaksi.

Forum ministerium terpecah menjadi dua; ada yang menyikapi luwes dalam membangun relasi dengan Jemaat B, ada yang sama sekali tidak mau merespon setiap undangan pelayanan khotbah maupun event khusus lainnya.

Di lain pihak ada sikap kontra dari beberapa Pendeta GKJ di Klasis Sragen atau pun di luar Klasis Sragen yang mau melayani khotbah di Jemaat B, mereka beralasan bahwa kehadiran dalam melayani khotbah adalah wujud penggembalaan sekaligus sebagai jembatan untuk dialog.126 Karena dengan kehadiran di tengah Jemaat B, para Pendeta dapat mengetahui harapan dan

125 Kriesberg, Louis, Constructive Conflict:From Escalation to Resolution (Lanham, Md:Rowman &

Littlefield, 1998), hlm. 384

126Soal penggembalaan juga diputuskan dalam artikel 99 Akta Sidang Sinode XXV

(17)

92

kerinduan jemaat dan akhirnya bisa dijadikan sebagai pedoman bagi Sinode GKJ untuk melihat secara jeli persoalan yang terjadi.

Sementara, bagi para Pendeta yang tidak pernah mau menerima permohonan untuk berkhotbah di Jemaat B, berpendapat bahwa keberadaan Jemaat B tidak diakui, jika mereka datang untuk melayani khotbah di sana itu berarti sama saja dengan menciderai kebersamaan, melukai Jemaat Gereja Jawa A, kehadiran itu sama dengan pengakuan keberadaan mereka secara sah.

Situasi tersebut ditangkap jeli oleh Jemaat B, dan ditulis menjadi salah satu dasar pertimbangan pendewasaan poin ketiga127:

Untuk menghindari pro dan kontra gereja-gereja Klasis Sragen yang secara psikologis belum sepenuhnya dapat menerima kami, beberapa contoh yang pernah kami lakukan:

a) Permohonan Khotbah:

- Ada yang berkenan hadir dengan senang hati

- Ada yang tidak berkenan, sehingga kami menghentikan untuk menghindari konflik

b) Kami mengundang peresmian gereja, ada yang hadir ada pula yang tidak berkenan

c) Kami mengundang sosialisasi undang-undang pernikahan oleh Catatan Sipil ada yang hadir dan ada yang tidak berkenan.

d) Dalam Pekan Pendidikan Kristen 2015 dan juga penyelenggaraan di tahun-tahun sebelumnya Jemaat B berperan aktif dengan mengunjungi TK dan SD Kristen.

Perkembangan situasi yang terjadi saat itu, berdampak pada penambahan anggota Tim Rekonsiliasi. Namun dengan penambahan anggota Tim Rekonsiliasi belum menjadi penanda keberhasilan capaiannya. Upaya dialog-dialog masih terus dilakukan oleh Tim Rekonsiliasi dengan beberapa pihak yang terkait.

127 Buku Materi Majelis GKJ Dagen Palur Jemaat Taman Murni untuk Dialog Antara Klasis Sragen, Tim Dialog Sinode GKJ dan Klasis Sala

(18)

93

Sampai dengan Tesis ini ditulis, Tim Rekonsiliasi sudah diberhentikan dari tugasasnya, sesuai dengan keputusan Sidang Klasis XIII di Gereja Jawa A, 2 Desember 2016128. Sepenuhnya masalah Gereja Jawa A ini diserahkan kepada Tim Bersama; kerjasama Klasis Sragen dengan Klasis Sala, dan juga Sinode GKJ.

4.2. Peranan Badan Pelaksana Sinode

Pada tahap awal konflik yang terjadi di Jemaat Gereja Jawa A, Badan Pelaksana Klasis Sragen meminta tolong kepada Pdt. DEN129, beliau dianggap sebagai orang yang dekat dengan keluarga Siswomartoyo dan mengetahui duduk perkara yang terjadi juga terkait dengan sejarah masa lalu Bapak IS dengan (Almh.) Ibu KESS130. Selanjutnya Pdt. DEN ditetapkan sebagai mediator antara Bapak IS dengan keluarga Siswomartoyo di Wonogiri juga antara Bapak IS dengan beberapa Jemaat Gereja Jawa A.

Mediasi melalui dialog dan juga perkunjungan telah dilakukan, untuk mengantisipasi konflik menjadi meluas dengan ketegangan tinggi. Namun, sikap tidak akomodatif dari Bapak IS dan Ibu ER menyebabkan mediasi dengan keluarga Siswomartoyo di Wonogiri dan juga dengan beberapa jemaat Gereja Jawa A tidak berhasil. Eksesnya, Bapak IS dan Ibu ER dilaporkan ke Kapolsek Karangmalang oleh keluarga Siswomartoyo dan sikap kontra sebagian jemaat Gereja Jawa A yang tidak menyetujui segera dilaksanakan pelayanan pertobatan bagi Bapak IS dan isteri.

128 Namun persoalan itu kembali diangkat pada Persidangan Klasis Sragen XV di GKJ Sidomulyo

129 Mantan Ketua Lembaga Pengembangan dan Pengaderan Sinode GKJ dan GKI Se-Wilayah Jateng, sekarang sudah Emeritus.

130 Pdt. DEN yang memberkati perkawinan mereka di GKJ Baturetno, Wonogiri.

(19)

94

Dalam hal ini, mediator sudah berperan sebagaimana mestinya. Mediator memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada para pihak yang didampingi untuk dapat memecahkan konflik mereka sendiri serta bertanggung jawab atas kehidupan mereka sendiri. Namun tampaknya pihak Bapak IS dan Ibu ER kurang merespon dengan baik, kurang kooperatif. Mereka bersikukuh dengan “keakuan”

mereka. Hingga akhirnya tidak terwujud negosiasi aneka opsi ke arah pemecahan masalah.131 Dampak dari ketidakberhasilan proses mediasi tersebut adalah meluasnya konflik serta melibatkan jemaat, memunculkan pihak pro dan kontra.

Setelah konflik meluas, jemaat terbagi menjadi dua, Majelis Gereja Jawa A dan Tim Pendamping meminta kepada Pdt. AUW untuk bersedia membantu proses mediasi antara Majelis Gereja, Warga Jemaat yang pro dan kontra terhadap keputusan pensiun dini Pdt. IS. Menurut catatan Pdt. AUW132 jemaat yang kontra133 terhadap keputusan Emeritasi Pdt. IS menyatakan bahwa sebenarnya komunitas yang mereka bangun bertujuan untuk mewadahi jemaat yang tercerai berai agar jangan sampai terpecah. Komunitas juga tidak menginginkan pindah dari Gereja Jawa A. Ada persyaratan yang mereka ajukan kepada Majelis; supaya Pdt. IS dipulihkan pelayanannya dan dipenuhi kesejahteraannya. Komunitas juga meminta untuk dapat menyelenggarakan ibadah sendiri dan mengelola persembahannya sendiri. Akan tetapi jika Majelis tidak mau mengakomodir permintaan mereka, komunitas akan berpikir mencari solusi lain. Tentang penolakan keputussan Sidang Istimewa Klasis terkait keputusan Emeritasi dini

131 Ronald S. Kraybill, Alice Fracer Evans & Robert A. Evans, Peace Skill, Panduan Mediator, Terampil Membangun Perdamaian. Penerjemah:A. Supratiknya, (Yogyakarta:Kanisius, 2004), hlm. 29-30

132 Laporan Pdt. AUW kepada Majelis GKJ Tamanasri dan Tim Pendamping tanggal 10 Desember 2015

133 Mereka menyebut diri Komunitas Peduli GKJ Tamanasri

(20)

95

Pdt. IS, Komunitas Peduli Gereja Jawa A akan tetap menempuhnya melalui proses banding ke Sidang Sinode XXV.

De-eskalasi konflik sedang berlangsung pada saat itu, namun tanpaknya cara-cara yang dilakukan oleh Majelis gereja pada justru memperkeruh situasi.

Menurut, Kriesberg134 ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi tahapan de- eskalasi; yaitu: sikap simpati dan empati terhadap pihak lain sebagai proses sosial psikologikal yang dapat menjadi kontribusi signifikan untuk menurunkan konflik dan ketegangan. Rupa-rupanya yang berkembang pada waktu itu di tengah-tengah jemaat adalah stigma negatif tentang Pdt. IS dan Isteri. Sehingga penilaian yang ada tidaklah obyektif, melainkan berdasar pada like and dislike.

Dalam kesimpulan sementara Pdt. AUW memberikan cacatan berupa gagasan demikian:

Apa yang terjadi di GKJTA jelas bukanlah yang pertama kali terjadi di lingkungan Sinode GKJ. Ini mengindikasikan perlunya segera dilakukan “penyempurnaan” sistem bergereja kita.

Belajar dari kasus GKJTA dan kasus-kasus sejenis di lingkungan Sinode GKJ, terbukti bahwa:

a. Kasus pendeta bermasalah pada gilirannya dapat menyebabkan jemaat bingung, tercerai berai, bahkan terpaksa pecah.

b. Tidak semua GKJ memiliki kelembagaan majelis yang kuat sehingga mampu mengelola potensi-potensi konflik yang ada dalam gereja. Dalam banyak hal warga jemaat bingung, tercerai berai, bahkan kemudian pecah karena sikap para anggota majelis sendiri yang juga terpecah.

Rupa-rupanya, saat gereja sudah berkonflik, dan konfliknya berdampak bagi jemaat, akan sangat sulit untuk menyelesaikannya. Mediasi, negosiasi dalam

134 Louis Kriesberg, Constructive Conflict:From Escalation to Resolution, (Lanham, Md:Rownman &

Littlefield, 1998), Bab II

(21)

96

bentuk dialog-dialog tidak menghasilkan penyelesaian yang berarti. Seperti yang dialami oleh Jemaat B, masing-masing pihak mengambil posisi bertahan pada pemahamannya sendiri, sulit untuk melunak bahkan sulit untuk sedikit mencoba berempati kepada pihak lawan. Lalu mereka mengambil sikap memisahkan diri.

Oleh sebab itu Screither menyatakan tentang perlunya kesadaran spiritual.

Menurutnya, pelayanan rekonsiliasi dimulai dengan apa yang Tuhan lakukan bagi kita, bahwa Tuhan telah mengasihi kita seorang berdosa. hal tersebut terwujud jika ada kesadaran akan kasih karunia Allah dan melalui kasih karunia dalam hidup kita, memanggil setiap orang percaya untuk menjadi duta Allah. Tanpa kesadaran spiritual, tanpa peneGan pribadi dalam hubungannya dengan penebusan dengan Kristus, kita tidak dapat secara efektif mewujudkan misi perdamaian Kristus. Rekonsiliasi yang seutuhnya menurut Schreiter adalah pekerjaan Allah, mendamaikan dunia dalam Kristus.135Dalam konteks Gereja Jawa A hal ini adalah sebuah paradoksal. Yang terjadi, konflik berkepanjangan terjadi dalam institusi yang seharusnya menghidupi perdamaian dan pengampunan.

Gagasan kedua yang dinyatakan oleh Pdt. AUW; harus disadari oleh gereja-gereja GKJ. Ketika gereja bergumul dengan masalah yang akhirnya memicu konflik; jemaat terpecah, dalam upaya penanganan sebab-sebab konflik dan pengelolaan konflik di antara kelompok-kelompok berkonflik, ada pra syarat utama yang dipenuhi yaitu; kepemimpinan gereja yang berwawasan visioner.

Kegagalan pengelolaan konflik Gereja Jawa A, yang berakibat pada pemisahan jemaat, juga terletak pada kegagalan Majelis mewujudkan kebersamaannya saat

135 http://newtheologyreview.org/index.php/ntr/article/download/397/574 (Kamis, 23 Maret 2016, 6:51)

(22)

97

menggumuli masalah tersebut. Majelis pecah menjadi dua, dan rentetan dari pecahnya kubu kemajelisan adalah pecahnya Gereja Jawa A. Eskalasi konflik meluas, menguras emosi dan seluruh pikiran. Hampir seluruh gereja-gereja di Sragen perhatiannya tertuju pada masalah Gereja Jawa A.

Senada dengan Kraybill dkk; bahwa harus ada orang yang memiliki visi untuk lebih sekadar mengupayakan kesepakatan, mengikis perasaan dendam di antara kedua belah pihak, meningkatkan sikap hormat dan toleran terhadap orang lain, mampu memulihkan hubungan-hubungan yang pecah, menata ulang bangunan-bangunan ketidakadilan.136

Mediasi yang ketiga oleh Bapelsin XXV diwakili oleh Pdt. Em. DR. KH, Pdt. DEN, dan Pdt. YTP, pada waktu itu tanggal 15 Maret 2009, mempertemukan pihak Majelis Gereja Jawa A dan Gereja Jawa A II untuk menerima setiap keluhan dan masukan itu pun juga tidak menghasilkan kesepakatan yang berarti untuk kemajuan penyelesaian konflik yang terjadi. Tampaknya pendekatan berbasis kekuasaan tidak membawa pengaruh terhadap perubahan sikap dari kedua belah pihak yang berkonflik. De-eskalasi konflik tidak terlewati dengan baik dan negosiasi yang menghasilkan kesepakatan tidak pernah terwujud demi sebuah penyelesaian masalah (problem solving). Terbukti, jemaat terpecah dengan meninggalkan masalah/sumber masalah yang tidak pernah diselesaikan. Skema rekonsiliasi terputus. Jika tidak terputus, akan ada kesinambungan proses rekonsiliasi, seperti skema rekonsiliasi yang ditawarkan oleh Kriesberg. Berikut, penulis mencoba memetakan skema rekonsiliasi tersebut:

136 Ronald S. Kraybill, Alice Fracer Evans & Robert A. Evans, Peace Skill, Panduan Mediator, Terampil Membangun Perdamaian. Penerjemah:A. Supratiknya, (Yogyakarta:Kanisius, 2004), hlm. 29

(23)

98 Kebijakan Sinode Kebijakan Klasis

Penyelesaian Konflik

Sumber Konflik

Rekonsiliasi

Rekonsiliasi Kebijakan Sinode,

Klasis Mekanisme Kelembagaan

Kepentingan Jemaat

Pihak yang Berkonflik Jemaat Lain De-eskalasi Negosiasi Problem

Solving

Peace Building

Analisis Kendala dan Peluang Resolusi Konflik

Gambar 1. Skema Rekonsiliasi menurut Kriesberg

Namun karena proses yang tersendat, akhirnya membawa kepada proses naik banding Jemaat B ke Sidang Sinode XXV. Oleh persidangan, naik banding Jemaat B tentang pemulihan kependetaan Drs. IS pada persidangan Sinode XXV, tidak diterima. Dalam artikel 99 Akta Sidang Sinode XXV diputuskan:

Menerima Keputusan Sidang Istimewa Klasis Sragen tanggal 28 Agustus 2009 yang menetapkan penanggalan Pdt.Em. Drs. IS, dengan demikian Drs. IS tidak berhak lagi melayanankan sakramen dan pelayanan kependetaan lainnya.

Dengan hasil keputusan yang demikian, semakin menambah kekecewaan pihak Gereja Jawa A II yang merasa permohonannya tidak diperhatikan sungguh- sungguh oleh gereja-gereja Sinode GKJ. Menurut mereka artikel 99 Akta Sidang Sinode XXV adalah bentuk ketidakadilan sekaligus “penzoliman” kepada diri

(24)

99

Drs. IS. Melihat perkembangan situasi yang tidak akomodatif menurut mereka, maka mereka bersepakat untuk mundur dan memulai perjuangan dengan menganalogikan perjuangan Musa keluar dari tanah Mesir. Dalam bahasa mereka menyebutnya dengan perjalanan peziarahan. Akhirnya, keputusan mereka bulat;

bergabung dengan Gereja Jawa D.

Melewati daur persidangan Sinode XXVI, 4 (empat) tahun berikutnya, pada tahun 2012 masalah terkait artikel 99 keputusan Sidang Sinode XXV kembali diangkat. Namun, tampaknya keputusan persidangan Sinode XXVI memberikan penekanan yang berbeda mengenai masalah Gereja Jawa A serta kaitannya dengan Gereja Jawa D. Dalam artikel 28 perihal: Tindak Lanjut Akta Sidang XXV GKJ, Artikel 99 diputuskan demikian:

Menugasi Bapelsin XXVI GKJ bersama dengan Bapelklas Sala dalam semangat rekonsiliasi untuk bersama-sama melanjutkan proses dialog dengan Gereja Jawa D dan Pdt. NCH, S.Th, MA untuk mencari solusi bagi masalah Gereja Jawa A.

Persidangan menunjuk Tim Dialog yang terdiri dari personalia Bapelklas Sala; diantaranya: Pdt. ES, Pdt. UCSL, Pdt. NI, Pdt. WP untuk persoalan yang menyangkut Gereja Jawa D dengan beberapa gereja di beberapa Klasis.137

Tim Dialog ini menjadi mediator keempat bagi masalah Gereja Jawa A.

Dalam pelaksanaan tugasasnya, Tim Dialog ini tidak berimbang mencari informasi terkait permasalahan Gereja Jawa A. Hal tersebut terlihat dalam laporan Tim Dialog138 yang belum pernah sama sekali mengajak berdialog dengan Jemaat Gereja Jawa A namun sangat intens dengan Jemaat B. Ternyata, kiprah dari Tim

137 Campur tangan GKJ Dagen Palur terhadap persoalan jemaat, terjadi di Klasis Sragen, Klasis Kebumen, dan Klasis Yogyakarta Selatan.

138 Dalam Buku Materi Sidang Sinode XXVII, 16-20 November 2015 di Lembang, Bandung

(25)

100

Dialog ini sangat diperhatikan oleh Majelis dan Jemaat Gereja Jawa A. Dalam percakapan dengan Bapelklas Sala, Bapak RESPONDEN 7 (wakil pemuda Gereja Jawa A) mengatakan139:

“Kami kecewa terhadap Tim Dialog, karena kami tidak pernah dilibatkan dalam percakapan-percakapan guna penyelesaian masalah Gereja Jawa A. Mereka tidak pernah menanyakan bagaimana keadaan kami. Jujur, kami tertatih-tatih dan ibarat seperti anjing; kami menjilati luka-luka kami sendiri, dengan cara kami sendiri. Mengapa kami dilibatkan baru saat ini?”

Bapak RESPONDEN 1 pun menandaskan140:

“Kami menduga-duga, ada upaya politisasi terhadap keputusan Sidang Sinode XXVI, yang mengubah arah menjadi dialog dan tidak pernah sama sekali kami dilibatkan. Padahal persoalan itu antara kami dengan Gereja Jawa D, tetapi kami tidak pernah dikunjungi sama sekali oleh Tim Dialog.”

Mendapati respon yang seperti itu, Tim Dialog meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada pihak Majelis dan Jemaat Gereja Jawa A dan akan mengakomodir apa yang menjadi kerinduan Jemaat Gereja Jawa A serta akan menjadikan sebagai rekomendasi kepada Badan Pelaksana Sinode dalam kelanjutan penyelesaian masalah Gereja Jawa A. Namun, pihak Gereja Jawa A sudah terlanjur kecewa, dan menyatakan lebih memilih Bapelklas Sala Harian sebagai mediator bagi kelanjutan penyelesaian masalah Gereja Jawa A terkait dengan Gereja Jawa D.

Harapan baru muncul ketika Tata Gereja/Tata Laksana GKJ tahun 2015 diberlakukan dengan semangat pastoral transformatif, hal itu akan menolong

139 Percakapan dengan Bapelklas Sala di GKJ Tamanasri pada tanggal 13 November 2015

140 Percakapan dengan Tim Dialog Sinode, Bapelklas Sala dan Tim Rekonsiliasi pada tanggal 9 Oktober 2015

(26)

101

kepada para pihak untuk berpikir terbuka, berdialog dan berproses demi perubahan situasi yang lebih baik serta terciptanya rekonsiliasi keumatan yang utuh.

Rekonsiliasi terus diupayakan intens dengan melakukan dialog dan mengurai masalah bersama dengan Bapelklas Sala dan Tim Rekonsiliasi Klasis Sragen untuk hubungan baik yang terjalin pasca perpecahan jemaat. Hingga pada penghujung tahun 2019 dalam persidangan Sinode XXVIII GKJ di Magelang, materi tentang rekonsiliasi dan permasalahan pengakuan kependetaan IS diangkat kembali. Klasis Sragen dan Klasis Purworejo sebagai pengusul materi. Pada akhirnya diputuskan bahwa Sinode mengakui keberadaan Gereja Jawa B dan juga kependetaan IS. Keputusan tersebut dituangkan dalam Akta Sidang Sinode XXVIII GKJ artikel 14.

4.3. Keadaan Jemaat Pasca Pemisahan

Sekarang ini Gereja Jawa B telah berdiri sebagai gereja dewasa dengan dilayani oleh dua (2) orang Pendeta, serta secara administratif tergabung di wilayah Klasis Sala (sekalipun keberadaannya di Kab. Sragen). Klasis Sragen dan Gereja Jawa A masih berproses untuk menerima keberadaan Gereja Jawa B seutuhnya.

Apa yang diperjuangkan oleh Gereja Jawa B selama ini, yakni menjadi gereja dewasa dan diakui secara sinodal telah terwujud. Bagi mereka rekonsiliasi sudah selesai. Hal yang jauh lebih penting untuk terus menerus dilakukan adalah membangun kehidupan jemaat. Gereja Jawa B menata kehidupan kebersamaan

(27)

102

baik aras klasikal, sinodal juga kerukunan umat beragama di Kabupaten Sragen.

Gereja Jawa B sudah terlibat dalam forum-forum kebersamaan umat dan dalam kegiatan lintas iman. Mereka semakin percaya diri membangun komunitasnya.

Dalam bahasa Cohen141 dijelaskan bahwa mereka sudah merasa aman dengan batas-batas tertutup yang telah mereka bangun.

Sekalipun dari Klasis Sragen dan Gereja Jawa A masih belum bisa menerima dan masih berproses untuk menerima, hal itu menjadi sebuah peluang untuk tercapainya proses rekonsiliasi yang utuh. Penulis mencoba untuk memotret kendala dan peluang yang ada. Kendala dan peluang itu bisa dinegoisasikan menjadi alat rekonsiliasi.

4.3.1. Kendala Terwujudnya Rekonsiliasi

Kendala dalam proses menuju tercapainya rekonsiliasi:

1. Adanya pemahaman keyakinan/standing point yang berbeda dalam memandang masalah di antara para pihak yang berkonflik. Pihak Gereja Jawa A memandang penyelesaian masalah dengan prosedural/legal formal, sementara pihak Gereja Jawa B memandang penyelesaian masalah secara substansial.

2. Mandegnya dialog di antara kedua belah pihak yang berkonflik.

Kurangnya kesadaran untuk meminta maaf/memaafkan dan sikap berempati kepada pihak lain. Sehingga masing-masing pihak merasa

141 Anthony P. Cohen, The Symbolic Construction of Community, (London & New York: Routhledge, 1985), hal. 62

(28)

103

pada posisi yang benar untuk setiap sikap maupun keputusan-keputusan yang diambil.

3. Mediator dalam hal ini Tim Dialog Sinode, Bapelklas Sala, Tim Rekonsiliasi Klasis Sragen terlibat secara emosi dalam penyelesaian masalah Gereja Jawa A, sehingga tidak bisa menempatkan diri secara merdeka/fair melihat permasalahan ini.

4. Terbatasnya pemahaman penguasaan manajemen konflik dan penguasaan terminologi rekonsiliasi bagi para pemangku jabatan gerejawi.

5. Terbatasnya pemahaman wawasan ke-GKJ-an bagi para pemangku jabatan gerejawi yang berimbas pada lemahnya sistem kemajelisan

4.3.2. Peluang Terwujudnya Rekonsiliasi

Tidak berimbang jika penulis hanya mengemukakan kendala tanpa melihat peluang-peluang yang ada. Selama mengikuti proses pergumulan permasalahan penulis melihat adanya beberapa peluang:

1. Ketegangan konflik yang sudah menurun, para pihak konflik sudah melebur dalam relasi di tengah masyarakat ataupun kebersamaan umat Kristiani di Kabupaten Sragen.

2. Majelis dan Jemaat Gereja Jawa A bisa menerima rencana pendewasaan yang diusulkan oleh Gereja Jawa D kepada Bapelklas Sala, meskipun tanpa poin penerimaan kependetaan Bapak IS.

(29)

104

3. Beberapa di antara jemaat Gereja Jawa A dan Jemaat GKJ Jemaat B menjalin relasi kekerabatan, hubungan sebagai: besan, menantu, dan saudara hal ini dapat menjadi media untuk pemulihan hubungan secara natural dalam setiap hubungan mereka.

4. Kemauan berdialog secara intens untuk penyelesaian masalah, meskipun masih didampingi oleh mediator serta harapan kedua belah pihak yang berkonflik untuk tidak mewariskan konflik kepada anak cucu.

5. Diberlakukannya Tata Gereja/Tata Laksana GKJ tahun 2015 dengan jiwa pastoral transformatif untuk melihat setiap masalah yang terjadi di lingkup GKJ.

6. Akta Sidang Sinode XXVIII GKJ tahun 2019 artikel 14 tentang rekonsiliasi dan pengakuan kependetaan IS

Dari tahapan de-eskalasi sampai dengan negosiasi yang sudah bisa terlampaui, masing-masing pihak sebenarnya tinggal mendialogkan problem solving dengan melihat kepentingan jemaat yang lebih luas dan melihat

keberadaan diri sebagai jemaat milik Kristus sehingga bangunan peace building terwujud. Kesabaran kedua belah pihak masih diuji dengan beberapa langkah lagi.

Penting bagi para pihak berkonflik untuk menegosiasikan secara terus menerus kendala dan peluang yang ada.

Referensi

Dokumen terkait

Jenis sumbu dan media tanam yang paling baik untuk hasil dan pertumbuhan tanaman seledri terdapat pada perlakuan jenis sumbu wol dan 50% kompos daun bambu dengan

CARA URUTAN KERJA STANDAR KUALITAS ALAT FREK PIC KET 2.2 Pemadaman balik/penggunaan api Bertujuan untuk mengarahkan api pembakaran balik ke arah api utama sehingga bertemu

Selain itu, pembayaran non tunai menggunakan fasilitas yang diberikan oleh bank sebagai alat pembayaran, seperti kartu ATM, kartu debit maupun uang elektronik ( e-money

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah instrumen tes yang berupa tes hasil belajar seni budaya dan instrumen non tes yang berupa angket persepsi

Untuk melakukan hal ini, system CDMA menggunakan sustu system komunikasi yang dikenal dengan nama Spread Spectrum, dimana setiap user diberikan kode yang menyebar bandwidth sinyalnya

Subclass hanya boleh meng-override method superclass satu kali saja, tidak boleh ada lebih dari satu method pada kelas yang sama yang sama persis.. Java is willing to coerce to

indeks 3229, maka dapat dinyatakan bahwa penyebutan perawi hadis mulai dari pertama sampai terakhir seluruhnya sanadnya bersambung (muttas{il) baik mulai dari awal sampai

A: Untuk harapan pemerintahan yang baru pasti kita punya harapan yang lebih baik dari pemerintahan sebelumnya, atau paling tidak tetap bisa mempertahankan perekonomian di