BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Penelitian Terdahulu
Sebelum melakukan penelitian ini, ada penelitian yang terlebih dahulu dilakukan oleh peneliti sebelumnya, Adapun penelitiannya sebagai berikut:
1. Miftakhul Hidayah “Efektivitas Kegiatan Ekstrakurikuler Muhadharah untuk Meningkatkan Kecakapan Public Speaking Siswa Kelas VII Madrasah Tsanawiyah Pondok Pesantren As-Salam Rimbo Bujang Kabupaten Tebo Provinsi Jambi”. Skripsi UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi Tahun 2021. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, teknik pengambilan sampling menggunakan snow ball sampling serta teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa kegiatan ekstrakurikuler muhadharah sangat efektif untuk melatih siswa yang belum memiliki keberanian berbicara dan tampil di depan publik kemudian menjadi berani dan yang sudah mempunyai bakat semakin ditingkatkan dan dikembangkan.
2. Abdul Manan Nasution “Pengaruh Organisasi Kemahasiswaan Ekstra Kampus terhadap Kemampuan Berkomunikasi Mahasiswa IAIN Padangsimpuan (Studi Kasus HMI,PMII,KAMMI). Skripsi IAIN Padangsimpuan Tahun 2018. Menggunakan pendekatan kuantitatif, serta teknik pengumpulan data dengan menggunakan angket (kuesioner).
Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa kemampuan berkomunikasi mahasiswa IAIN Padangsimpuan yang mengikuti organisasi kemahasiswaan ekstra kampus tergolong sangat baik. Terrlihat dari hasil perrhitungan kumulatif yang menunjukan bahwa kemampuan berkomunikasi mahasiswa IAIN Padang simpuan adalah sebesar 81,12%.
3. Muhammad Yusuf “Hubungan antara Fungsi Rekreatif Kegiatan Ekstrakurikuler dengan Kemampuan Public Speaking”. Idea Nursing Journal Vol. VIII No. 1 2017. Jenis penelitiannya adalah deskriptif korelatif melalui pendekatan cross sectional, teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling, serta teknik pengumpulan data dengan menggunakan angket (kuesioner). Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa terdapat hubungan antara fungsi rekreatif dengan kemampuan public speaking pada mahasiswa Kurikulum Berbasis Kompetensi Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala.
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
Nama Peneliti Judul Penelitian Tujuan Penelitian Perbedaan Miftakhul
Hidayah
Efektivitas Kegiatan Ekstrakurikuler
Muhadharah untuk Meningkatkan
Kecakapan Public Speaking Siswa Kelas
VII Madrasah
Tsanawiyah Pondok Pesantren As-Salam
Rimbo Bujang
Kabupaten Tebo Provinsi Jambi.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ekstrakurikuler
muhadharah efektif untuk meningkatkan kecakapan public speaking siswa kelas
VII Madrasah
Tsanawiyah Pondok Pesantren As-Salam
Rimbo Bujang
Kabupaten Tebo Provinsi Jambi.
Penelitian terdahulu memfokuskan
kegiatan
muhadharah untuk mengembangkan kemampuan
berbahasa siswa, sedangkan penulis ingin mengetahui
apakah ada
hubungan antara keaktifan mahasiswa dalam
berkomunikasi dengan kemampuan public speaking, perbedaan
berikutnya adalah penulis
menggunakan
pendekatan kuantitatif
korelasional, serta teknik pengambilan sampling dengan teknik sampling jenuh.
Abdul Manan Nasution
Pengaruh Organisasi Kemahasiswaan Ekstra Kampus terhadap Kemampuan
Berkomunikasi
Mahasiswa IAIN Padangsimpuan (Studi Kasus
HMI,PMII,KAMMI)
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui
kemampuan berkomunikasi
Mahasiswa IAIN Padangsimpuan yang mengikuti organisasi kemahasiswaan ekstra
kampus serta
pengaruh organisasi kemahasiswaan ekstra kampus terhadap kemampuan berkomunikasi
Mahasiswa IAIN
Perbedaan pada penelitian ini terletak
pada subjek
penelitiannya, serta metode penelitian yang digunakan.
Padangsimpuan.
Muhammad Yusuf
Hubungan antara Fungsi Rekreatif Kegiatan
Ekstrakurikuler dengan Kemampuan Public Speaking
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan fungsi rekreatif dengan kemampuan public speaking pada mahasiswa Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) Fakultas Keperawatan
Univesitas Syiah Kuala.
Perbedaan pada penelitian ini terletak pada jenis penelitan serta pendekatan penelitiannya.
Sumber: Olahan Peneliti 2022
2.2 Tinjauan Pustaka 2.2.1 Pengertian Keaktifan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online, aktif berarti giat.
Sedangkan keaktifan berarti kegiatan atau kesibukan. Keaktifan juga dapat diartikan dengan partisipasi atau keikutsertaan. Keaktifan dalam berorganisasi merupakan peran aktif atau keikutsertaan individu terhadap suatu organisasi yang dapat memberikan dampak baik itu bagi organisasi itu sendiri maupun memberikan tingkah laku yang positif. Semakin tinggi keaktifan mengikuti organisasi kemahasiswaan, maka semakin tinggi pula kecenderungan untuk
melibatkan diri secara aktif dalam kegiatan organisasi kemahasiswaan.
Keterlibatan tersebut antara lain ditandai dengan tingkah laku seperti (Lenny & P.
Tommy Y. S. Suyasa 2006:83) :
1. Sering melibatkan diri menjadi ketua organisasi, ketua panitia, koordinator, maupun anggota panitia dalam berbagai kegiatan kampus.
2. Mengenal dan dikenal oleh berbagai lembaga dan pihak yang ada di lingkungan kampus.
3. Selalu menyempatkan diri untuk datang ke sekretariat organisasi.
4. Sering memberikan arahan maupun pandangan kepada teman-teman mengenai kondisi sosial yang diharapkan.
5. Sering menanggapi permasalahan sosial yang ada secara lisan maupun tulisan.
6. Sering berkomunikasi, berdiskusi, dan berkoordinasi dengan teman mengenai urusan organisasi.
7. Sering mengemukakan pendapat dalam suatu forum pertemuan maupun rapat organisasi.
8. Sering menggunakan sebagian besar waktu yang dimiliki untuk mengurus kegiatan organisasi.
9. Memiliki lebih banyak informasi mengenai permasalahan yang terjadi di lingkungan sekitar.
10. Sering mendiskusikan dan memberikan ide-ide untuk mengembangkan organisasi.
11. Memiliki waktu yang sangat terbatas untuk melakukan kewajiban perkuliahan.
12. Sering memberikan kontribusi atau bantuan yang bersifat materi maupun non-material (waktu, tenaga, dan pemikiran).
13. Menyukai tantangan dan pengalaman baru.
2.2.2 Ciri Keaktifan Mahasiswa dalam Mengikuti Organisasi
Menurut Priambodo dan Sarwono dalam Leny & Tommy Y. Suyasa (2006:75) terdapat beberapa ciri yang melekat dalam diri mahasiswa yang aktif dalam organisasi kemahasiswaan. Salah satu cirinya adalah senang menghabiskan waktu dengan mengikuti berbagai kegiatan kemahasiswaan baik itu sebagai kepengurusan harian maupun sebagai panitia di berbagai kegiatan yang diadakan oleh organisasinya.
Ciri berikutnya yaitu cenderung sering duduk-duduk dan berbincang- bincang dengan sesama anggota organisasi lainnya untuk membahas mengenai hal-hal yang berkaitan dengan organisasi maupun isu-isu yang sedang beredar di lingkungan luar atau di masyarakat. Kemudian, mahasiswa yang aktif dalam organisasi kemahasiswaan, khususnya yang memegang jabatan sebagai pemimpin, cenderung memiliki wawasan yang luas, lebih peka, dan lebih kritis terhadap perkembangan kejadian-kejadian di lingkungan luar, misalnya perkembangan keadaan politik baik di dalam maupun di luar negeri. Selain itu, mahasiswa yang aktif dalam kegiatan organisasi kemahasiswaan juga cenderung mempunyai kemampuan untuk berkomunikasi serta menyampaikan pendapat
secara efektif dan memiliki keberanian yang lebih untuk berprakarsa dan mengambil resiko dalam bertindak.
Adapun menurut Suryosubroto (2009:301) ciri keaktifan mahasiswa dalam mengikuti organisasi, yaitu :
1. Tingkat kehadiran dalam pertemuan 2. Jabatan yang dipegang
3. Pemberian saran, usulan, kritik, dan pendapat bagi peningkatan organisasi
4. Kesediaan anggota untuk berkorban 5. Motivasi anggota
Menurut paparan pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri keaktifan mahasiswa dalam mengikuti organisasi dapat di ukur dari berbagai hal, salah satunya menurut Suryosubroto yaitu tingkat kehadiran dalam pertemuan, jabatan yang dipegang, pemberian saran, usulan, kritik dan pendapat bagi peningkatan organisasi, kesediaan anggota untuk berkorban dan motivasi anggota.
2.2.3 Pengertian Organisasi
Organisasi adalah suatu bentuk kerjasama untuk mencapai tujuan bersama-sama secara efisien dan efektif dengan kegiatan yang telah ditentukan secara sistematis, dimana di dalamnya terdapat pembagian tugas, wewenang, serta tanggung jawab yang jelas. Pengertian organisasi secara umum adalah, organisasi merupakan sebuah wadah atau tempat berkumpulnya orang-orang untuk bekerja sama secara rasional dan sistematis, terkendali, terpimpin, dalam memanfaatkan sumber daya baik material maupun non-material, sarana dan prasarana, dan
sebagainya yang digunakan secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan dari organisasi tersebut.
Sementara itu, Sondang Siagian dalam Sesra Budiono (2018:25) cenderung menelaah organisasi dari sudut pandang yang berbeda, yaitu dengan pendekatan struktural serta sudut pandang keprilakuan. Pendekatan yang sifatnya struktural menunjukan organisasi sebagai tempat atau wadah, hal ini berarti :
1. Organisasi dipandang sebagai gambaran jaringan hubungan kerja yang sifatnya formal serta tergambar dalam “kotak-kotak” yang menunjukan kedudukan dan jabatan yang diduduki oleh orang-orang.
2. Organisasi merupakan sebuah rangkaian kedudukan yang menggambarkan kewenangan dan tanggung jawab secara jelas.
3. Organisasi dipandang sebagai alat untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya, dimana strukturnya bersifat permanen, namun tidak menutup kemungkinan adanya reorganisasi apabila hal tersebut dianggap perlu untuk mempercepat pencapaian tujuan maupun dalam usaha peningkatan efisiensi, efektivitas, serta produktivitas kerja.
Dalam berorganisasi, tentunya setiap mahasiswa dapat berinteraksi secara efektif dengan cara berpartisipasi pada organisasi tersebut, karena dengan berpartisipasi, setiap mahasiswa dapat lebih mengetahui hal-hal apa saja yang harus dilakukan.
Pada dasarnya, keterlibatan untuk dapat aktif dalam berpartisipasi bukan hanya berarti keterlibatan jasmaniah semata. Melainkan keterlibatan mental, pikiran, emosi atau perasaan dalam situasi kelompok yang mendorongnya untuk
mampu memberikan kontribusi atau bantuan yang bersifat materi maupun non material, seperti waktu, tenaga dan pemikiran. Serta bagaimana mahasiswa tersebut dapat bertanggung jawab di dalamnya.
Dalam membentuk atau menentukan sebuah organisasi harus memperhatikan ciri-ciri yang ada. Ciri-ciri organisasi merupakan hal yang harus ada dalam sebuah organisasi.
Adapun ciri-cirinya adalah :
1. Mempunyai tujuan dan sasaran.
2. Mempunyai keterikatan format dan tata tertib yang harus ditaati.
3. Adanya kerja sama dari sekelompok orang.
4. Mempunyai koordinasi tugas dan wewenang.
2.2.4 Manfaat Organisasi
Bagi sebagian mahasiswa, berorganisasi dianggap sebagai kegiatan yang bisa mengganggu aktivitas perkuliahan, hal ini dapat disebabkan oleh mahasiswa yang aktif dalam organisasi dan tidak bisa mengatur jadwal kuliah, sehingga kuliahnya menjadi terbengkalai, tugas-tugas tidak dapat dikerjakan dengan baik, sehingga menyebabkan mahasiswa tersebut di DO dari kampus. Namun, hal tersebut tergantung dari mahasiswa itu sendiri, jika mahasiswa tersebut lebih memprioritaskan organisasi, maka resikonya adalah dia akan sedikit tertinggal dalam perkuliahan. Padahal, tujuan masuk kampus adalah untuk kuliah. Jalan terbaik adalah menjadikan organisasi sebagai pendukung prestasi di kampus, sarana untuk mengembangkan diri dan memperluas wawasan, sehingga waktunya harus disesuaikan dengan kuliah. Meski begitu, sebagai mahasiswa, kita harus
bisa meningkatkan kemampuan hardskill dan softskill, salah satunya adalah dengan mengikuti organisasi karena organisasi memiliki beberapa manfaat.
Adapun manfaat organisasi adalah : 1. Menambah pengetahuan
Pengetahuan mahasiswa tidak hanya diperoleh dengan cara membaca buku atau mengikuti perkuliahan di kelas saja, namun juga lewat organisasi. Membaca buku dan mengikuti perkuliahan mungkin hanya mempelajari teori saja, tetapi dengan mengikuti organisasi pengetahuan yang diperoleh dapat dirasakan secara langsung karena orang-orang di organisasi biasanya sering menyusun kegiatan yang berhubungan dengan masyarakat.
2. Memperluas jaringan
Dengan berorganisasi berarti bergabung dalam sebuah jaringan. Biasanya mereka yang tergabung dalam suatu wadah organisasi yang sama, persaudaraanya kuat. Pada saat mengikuti dan menjadi panitia acara tertentu, seorang anggota organisasi bisa saja terhubung dengan pihak lain yang berkompeten. Tak jarang, orang-orang yang aktif dalam berorganisasi memiliki banyak relasi dari yang sekelas mahasiswa hingga pejabat dan politisi.
3. Mempunyai banyak teman
Manfaat paling umum yang dapat dirasakan mahasiswa ketika mengikuti organisasi adalah mempunyai banyak teman, baik dari organisasi itu sendiri maupun dari organisasi lain. Jika hanya mengikuti perkuliahan di
kelas saja, mungkin teman yang dikenal hanya teman satu jurusan saja.
Tetapi dengan mengikuti organisasi, mahasiswa bisa mengenal lebih banyak orang, baik yang satu kampus maupun dari kampus yang berbeda.
4. Meningkatkan kemampuan berkomunikasi
Organisasi memungkinkan mahasiswa untuk bertemu dan berdiskusi dengan banyak orang, yang secara tidak langsung dapat meningkatkan keterampilan berkomunikasi. Mahasiswa yang sibuk dengan kuliah saja dan tertutup mungkin akan cerdas secara intelektual namun tidak pandai dalam segi berkomunikasi dengan orang lain. Berorganisasi adalah cara untuk mengasah dan meningkatkan hubungan dengan banyak orang yang mempunyai karakter berbeda.
5. Belajar kepemimpinan
Mengikuti organisasi merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengembangkan dasar-dasar kepemimpinan di dalam diri seseorang. Meskipun di dalam kelas terdapat pembagian kinerja seperti ketua kelas, sekertaris, bendahara dan sebagainya. Sedikit berbeda dengan organisasi yang ruang lingkupnya luas. Dengan pembagian kerja berdasarkan tim, setiap anggota organisasi menjadi terasah kepercayaan diri dan dalam mempengaruhi orang lain pada sebuah tujuan.
2.2.5 Mahasiswa
Mahasiswa merupakan salah satu komponen penting dari suatu perguruan tinggi. Menjadi mahasiswa tentunya bukanlah hal yang mudah, tapi dengan menjadi mahasiswa, seseorang mempunyai kesempatan untuk dapat
belajar lebih banyak sekaligus mengembangkan potensi yang dimilikinya.
Mahasiswa tidak sama dengan siswa. Sebagai mahasiswa, kita dituntut untuk lebih mandiri baik di dalam lingkungan kampus, maupun di luar lingkungan kampus. Di lingkungan kampus misalnya dalam bidang akademis, seorang mahasiswa dituntut untuk tidak hanya memperoleh pengetahuan pada saat perkuliahan di kelas saja, namun seorang mahasiswa harus mempunyai kesadaran sendiri untuk menambah wawasan serta pengetahuan tanpa harus diperintah oleh dosen.
Di luar lingkungan kampus, misalnya di lingkungan tempat tinggal, kita bisa menjadi penghubung masyarakat dengan lembaga-lembaga yang dibutuhkan olehnya. Karena salah satu salah satu isi dari Tri Dharma Perguruan Tinggi adalah pengabdian kepada masyarakat. Pengertian mahasiswa dalam Peraturan Pemerintah RI NO. 30 tahun 1990 adalah peserta didik yang terdaftar dan belajar di perguruan tinggi tertentu.
Sedangkan menurut Sarwono (dalam Harun Gafur 2015:17) mahasiswa adalah setiap orang yang secara resmi terdaftar untuk mengikuti pelajaran di perguruan tinggi dengan batas usia sekitar 18-30 tahun. Mahasiswa merupakan suatu kelompok dalam masyarakat yang memperoleh statusnya karena ikatan dengan perguruan tinggi. Mahasiswa juga merupakan calon intelektual atau cendikiawan muda dalam suatu lapisan masyarakat yang sering kali syarat dengan berbagai predikat.
2.2.6 Peran Mahasiswa
Ada beberapa peranan yang melekat pada diri mahasiswa diantaranya : 1. Direct Of Change, mahasiswa bisa melakukan perubahan langsung
karena SDM-nya yang banyak.
2. Agent Of Change, mahasiswa adalah agen perubahan, maksudnya adalah sumber untuk melakukan perubahan.
3. Iron Stock, sumber daya manusia dari mahasiswa itu tidak akan pernah habis.
4. Moral Force, mahasiswa merupakan kumpulan orang yang memiliki moral yang baik.
5. Social Control, mahasiswa merupakan pengontrol kehidupan social.
Namun secara garis besar, setidaknya ada 3 peran mahasiswa dalam masyarakat, yaitu :
1. Agent of Change, dalam hal ini, mahasiswa sebagai Agent of Change adalah orang-orang yang dapat bertindak sebagai pemicu terjadinya perubahan. Mahasiswa yang merupakan sekumpulan orang-orang terdidik dengan berbagai disiplin ilmu akan menjadi kekuatan sosial yang sangat besar dalam melakukan berbagai perubahan. Perubahan tersebut dapat dilakukan dengan terjun langsung ke masyarakat serta membantu menyelesaikan permasalahan yang mereka hadapi.
2. Social Control, peran mahasiswa sebagai Sosial Control adalah dengan mengamati serta mengkritisi apa yang terjadi di masyarakat. Mahasiswa dituntut untuk dapat peka terhadap lingkungan dengan segala
permasalahannya. Baik itu permasalahan yang ada di lingkungan kampus maupun lingkungan masyarakat
3. Iron Stock, mahasiswa merupakan generasi terpelajar yang memiliki pengetahuan serta keterampilan yang diharapkan mampu menjadi garda terdepan yang kuat dan tangguh tidak hanya dari segi fisik, melainkan dari segi kemampuan intelektual yang memiliku kemampuan berpikir secara cepat, mengambil tindakan secara tepat serta menentukan keputusan yang dapat dipertanggung jawabkan.
2.3 Kemampuan Public Speaking 2.3.1 Pengertian Public Speaking
Berbicara merupakan sebuah kebutuhan bagi semua orang. Disadari atau tidak, kita tidak akan bisa jika tidak berkomunikasi dengan orang lain. Entah itu sebagai tuntutan dari profesi untuk dapat berbicara di depan umum, melakukan presentasi, maupun aktivitas keseharian kita sebagai makhluk sosial. Karena dengan menulis saja tidak cukup kuat untuk berkata-kata, maka kemampuan berbicara merupakan sesuatu yang sangat penting karena dapat menguatkan makna dari sebuah tulisan sederhana. Namun, kemampuan berbicara di depan umum atau yang lebih sering disebut dengan public speaking tidaklah dimiliki oleh setiap orang, karena kemampuan tersebut merupakan hasil dari latihan atau praktik dan digunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain, kelompok dan masyarakat.
Di dalam sejarahnya yang panjang, pada awalnya istilah public speaking lebih populer dengan istilah retorika atau dalam bahasa Inggris rhetoric bersumber dari bahasa Yunani rhet yang berarti orang yang terampil dan tangkas dalam berbicara. Kemudian pengertian retorika berkembang meliputi kemahiran melahirkan suatu gagasan, pandangan, pendapat, kelancaran berbicara, kepiawaian mempengaruhi orang banyak dengan kata-kata, daya kreasi dan improvisasi. Menurut Cleanth Broos dan Roberts Penn Wareen dalam bukunya Modern Rhetoric, seperti dikemukakan oleh Onong Uchjana Effendy dalam Komunikasi-Teori dan Praktek, mendefinisikan retorika sebagai the art of using language effectively atau seni penggunaan bahasa secara efektif. Definisi ini menunjukan bahwa retorika mempunyai pengertian sempit yaitu berbicara, dan pengertian luas yaitu penggunaan bahasa, bisa lisan bisa juga tulisan. Oleh karena itu, ada sementara orang yang mengartikan retorika sebagai public speaking atau berbicara di depan umum atau pidato. (M.S. Hidajat 2013:23-24).
Secara umum, pengertian dari public speaking adalah kemampuan berbicara di depan umum. Kemampuan atau keahlian tersebut sebenarnya lebih kepada kemampuan individu, sehingga diperlukannya latihan yang cukup banyak agar bisa mempunyai dan meningkatkan kemampuan tersebut. Selain latihan, diperlukan juga praktek dan pengalaman dari individu itu sendiri. Namun meskipun begitu, mempelajari teori juga merupakan suatu hal yang sangat diperlukan, untuk dijadikan sebagai dasar, supaya kita mengetahui bagaimana langkah awal dalam berkomunikasi dengan baik. Adapun ciri-ciri berbicara di
depan umum yang baik menurut Gunadi (dalam Nurul Atieka dkk 2019:3) menyebutkan bahwa berbicara di depan umum yang baik adalah sebagai berikut :
1. Memiliki daya tarik
2. Memiliki kepercayaan diri yang baik 3. Tidak pernah merasa takut dan ragu 4. Dinamis dan aktif.
Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa berbicara di depan umum atau public speaking merupakan sebuah seni penggunaan bahasa secara efektif. Kemampuan berbicara di depan umum dapat diperoleh dengan latihan yang cukup banyak agar dapat mempunyai dan meningkatkan kemampuan tersebut. Selain latihan, diperlukan juga praktek dan pengalaman dari individu itu sendiri. Namun, mempelajari teori juga merupakan suatu hal yang penting untuk dijadikan dasar dan supaya kita mengetahui bagaimana langkah awal dalam berkomunikasi dengan baik.
Tetapi, masih banyak orang yang merasa bahwa berbicara di depan umum merupakan suatu hal yang sulit, patut untuk dihindari dan ditakuti dengan alasan grogi, tidak percaya diri dan sebagainya, sehingga mereka enggan untuk melakukannya. Padahal, kemampuan berbicara di depan umum seperti melakukan presentasi, berpidato, memberikan motivasi dan sebagainya merupakan suatu kebutuhan bagi setiap orang baik itu untuk pelajar, mahasiswa, pengusaha, karyawan, pimpinan perusahaan bahkan pimpinan negara.
Berikut ini adalah beberapa cara sederhana yang dapat dilakukan untuk mengendalikan rasa takut ketika berbicara di depan umum :
1. Tanamkan sugesti bahwa kita mampu melakukannya. Hal ini merupakan langkah awal yang sangat penting untuk dapat mengendalikan diri sendiri.
Karena, tanpa adanya keberanian dan kepercayaan pada diri sendiri, kita tidak mungkin dapat mengalahkan rasa takut yang ada di dalam pikiran kita.
2. Mempersiapkan materi. Berbicara di depan umum sebenarnya sama halnya dengan kita berbicara atau bercerita dengan teman, namun ini dilakukan secara formal dengan kita berada dihadapan lebih dari satu orang. Dengan mempersiapkan materi yang matang, hal tersebut mampu menambah kepercayaan diri ketika kita sedang berbicara di depan umum, sehingga kita tidak merasa kebingungan dengan apa yang akan kita sampaikan kepada audiens.
3. Latihan berbicara di depan cermin. Apabila kita ingin mengalahkan rasa takut berbicara di depan orang lain, maka kita harus terlebih dahulu mengalahkan ketakutan berbicara di depan diri sendiri. Latihan berbicara di depan cermin dengan kita sebagai pembicara dan bayangan dihadapan kita sebagai audiens merupakan simulasi yang dapat menambah kepercayaan diri ketika kita berbicara di depan umum.
4. Anggaplah diri kita lebih tahu dari audiens. Hal ini berbeda sekali dengan sombong, tetapi cara ini dapat dilakukan untuk mengalihkan gambaran kita tentang audiens yang akan menertawakan, membantai kita dengan kritikan, dan gambaran-gambaran menakutkan lainnya yang dapat membuat nyali kita semakin ciut ketika berbicara di depan umum. Dengan
berpikir kita lebih tahu dari audiens, akan membuat diri kita lenih santai ketika berbicara di depan umum.
5. Lakukan exercise. Ketika kita akan tampil di depan umum, biasanya rasa takut mulai menjalar dari ujung kepala sampai sekujur tubuh. Ada beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk meminimalisir hal-hal tersebut :
Minum air putih secukupnya.
Tarik napas dalam-dalam kurang lebih tiga kali.
Lompat atau lari-lari kecil untuk mengurangi rasa grogi dan tubuh yang mulai gemetar.
Selalu tanamkan sugesti bahwa kita mampu melakukannya.
Melakukan banyak latihan dan praktik. Jika kita
mempunyai kesempatan untuk berbicara di depan umum, maka jangan pernah menolaknya. Jadikan itu sebagai sarana untuk semakin mengasah kemampuan dan menambah jam terbang kita.
2.3.2 Dasar-Dasar Public Speaking
Di bawah ini adalah dasar-dasar public speaking menurut M.S Hidajat (2013:24) yang terkait dengan :
1. Pendengar (Listener). Tujuan dari berbicara di depan umum adalah untuk memperoleh tanggapan yang bermanfaat dari pendengar (audiens), bagaimana mereka berpikir, merasakan dan bertindak sesuai dengan yang diharapkan oleh pembicara. Untuk dapat mencapai tujuan pembicaraan,
pembicara harus memperoleh sebanyak mungkin informasi tentang pendengar. Bagaimana faktor kerangka kehidupan atau kerangka referensi (frame of reference) pendengar yang terbentuk dalam dirinya sebagai hasil dari paduan pengalaman, pendidikan, penampang usia (age profile), gender, latar belakang suku atau etnis, agama, budaya, status sosial dan ekonomi, gaya hidup, norma hidup, kecenderungan dalam aliran politik, cita-cita dan sebagainya. Apabila pembicara telah menganalisis mengenai pendengar, maka sesuaikanlah isi pembicaraan dengan kebutuhan dan keinginan para pendengar.
2. Pembicara (speaker). Pada saat mempersiapkan isi pembicaraan, pembicara akan menganalisis para pendengar dan mencoba untuk memenuhi hal-hal apa saja yang diinginkan atau diharapkan oleh pendengar secara tepat. Selain itu, tanggapan pendengar ketika pembicaraan berlangsung, yang ditandai dengan kerutan dahi, gelengan kepala, tampak bingung seperti sedang bermain “puzzle”, mengharuskan pembicara untuk memodifikasi bagaimana agar kunci dari butir-butir pembicaraan dapat diorganisasi, disusun, dan dicoba untuk menanggapi keinginan pendengar. Untuk dapat menjadi seorang komunikator yang sukses, pembicara harus mampu memberikan kesempatan yang sama untuk semua keberagaman pendengar tadi, tidak hanya kepada mereka yang mempunyai keinginan yang sama dengan pembicara.
3. Umpan balik (feedback). Sebagaimana diketahui, pendengar tidaklah pasif ketika menerima pesan. Mereka bahkan membuat penilaian (judgement)
mengenai pembicara pada saat pidato sedang berlangsung, dan mereka komunikasikan penilaian tersebut melalui umpan balik (feedback).
Tanggapan pendengar sebagai umpan balik, biasanya sebagian besar adalah berbentuk non verbal, seperti mengerutkan dahi sebagai tanda keraguan atau mengangguk dan senyum sebagai tanda persetujuan. Umpan balik dapat bersifat positif dan dapat pula bersifat negatif. Umpan balik positif merupakan sebuah tanggapan atau respons dari komunikan yang dapat menyenangkan komunikator. Sebaliknya, umpan balik negatif merupakan tanggapan dari komunikan yang tidak menyenangkan komunikator. Namun, ada pula umpan balik yang bersifat netral, dimana pendengar tidak menanggapi pesan pembicara secara positif maupun negatif.
2.3.3 Faktor-Faktor Public Speaking
Menurut beberapa pakar public speaking, antara lain Dale Carnegie, H.N Casson, Struart Turner, David Zarefsky, Hamilton Gregory, Larry King, seorang pembicara di depan umum perlu memperhatikan faktor-faktor di bawah ini (M.S Hidajat 2013:90) :
1. Pendekatan dan Permulaan
Saat dipersilahkan untuk berbicara, tinggalkan tempat duduk dan berjalan dengan percaya diri menuju mimbar. Gunakan waktu berdiri sejenak dengan sangat tenang (suasana hening ini merupakan waktu yang baik untuk meletakkan catatan dan mendapatkan kalimat pertama yang
meyakinkan untuk diucapkan). Kemudian, lihatlah langsung ke pendengar begitu mulai berbicara.
2. Mengatasi Kegugupan dan Demam Panggung
Kegugupan dan demam panggung bisa diatasi dengan membangun sikap positif pada diri sendiri, pembicaraan, dan pendengar. Sebagai pembicara, harusnya mempunyai sikap percaya diri (self-confidence). Berdirilah dengan tegak, tenang, dan selalu perhatian kepada pendengar. Hindarkan bersandar pada podium atau duduk membungkuk di kursi.
3. Membuat Ketertarikan Pendengar
Pendengar selalu tertarik akan hal-hal baru dan akan mendengarkan setiap pembicaraan, sekalipun yang menjemukan dan melelahkan dengan sabar selama berjam-jam. Pembicaraan yang menarik akan membuat pendengar terkesan dan memberikan penghargaan kepada pembicara karena ucapannya. Selain itu, dengan menyajikan pembicaraan yang segar dan aktual yang kadang-kadang diselingi humor, pendengar akan menyambut dengan penuh kegembiraan dan ketertarikan.
4. Menjaga Ketepatan Berbicara, Kejernihan dan Volume Suara
Ucapkanlah kata-kata dengan jelas dan bicara dengan suara yang cukup kuat agar semua pendengar dapat mendengar suara Anda dengan jelas.
Bicara secara tepat, tidak terlalu lambat dan tidak terlalu cepat akan memudahkan pendengar untuk menerima ide yang Anda berikan.
5. Mempercayai Kemampuan
Menghilangkan semua keraguan mengenai kemampuan yang dimiliki, merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mempercayai kemampuan pada diri sendiri. Berbicara di depan umum merupakan suatu hal yang dapat dipelajari dan harus dipelajari. Mahir berbicara di depan umum membutuhkan keahlian dan latihan. Kemampuan ini bukanlah naluriah, melainkan merupakan suatu ilmu, seseuatu yang diperoleh dengan mempelajarinya.
6. Memperbanyak Perbendaharaan Kata-Kata
Penguasaan perbendaharaan kata-kata yang banyak dan pemilihan kata- kata yang tepat, mampu meningkatkan kelancaran dan ketepatan pada saat berbicara. Dengan banyak membaca buku, surat kabar, majalah, dan sering mengikuti diskusi atau seminar, dapat sangat memperbanyak perbendaharaan kata. Selain itu, kemampuan berpikir juga akan mudah berkembang dengan ilustrasi-ilustrasi yang menyegarkan. Isi pembicaraan pun bertambah variatif, sehingga tidak membosankan.
7. Memberi Tekanan dalam Pembicaraan dan Bersemangat (Enthusiasm) Semua gerakan yang meliputi mata (eye contact), ekspresi wajah, gerakan tubuh, dan suara, haruslah ditunjukan dengan penuh semangat kepada pendengar. Bicaralah dengan penuh energi, bergairah, dan tidak ragu.
Jangan berbicara setengah-setengah, bimbang, apalagi dengan mulut yang setengah terbuka.
8. Menepati Waktu
Rentetan kata yang bertele-tele atau bertubi-tubi tanpa mengingat terbatasnya waktu bukanlah sebuah pembicaraan yang efektif dan efisien.
Berbicaralah dengan singkat, tetepi padat, dan tepat. Tepatilah waktu yang telah ditetapkan (know when to stop talking).
9. Memiliki Kelancaran Berbicara dan Rasa Humor
Kelancaran merupakan hal terpenting untuk dapat berbicara secara efisien.
Seseorang yang mempunyai pengalaman, imajinasi, teknik berbicara dan suara yang baik, serta rasa humor, namun tidak memiliki kelancaran, maka akan menghambat dirinya sebagai seorang pembicara. Berbicara dengan santai, rileks dan tidak kaku merupakan cara agar dapat berbicara dengan lancar. Ketidaklancaran dalam berbicara sering disebabkan oleh cara berbicara yang membosankan, kering, dan tidak ada variasi. Dalam hampir setiap pembicaraan yang efektif, harus ada unsur sedikit humor, yaitu sesuatu yang lucu atau menggelikan hati sehingga dapat menimbulkan tertawa.
10. Berbicaralah dengan Menyenangkan
Hindarilah kata-kata yang dapat membuat pendengar menjadi tersinggung.
Berbicaralah dengan sopan, tetapi tetap menyenangkan dengan menyapa audiens terlebih dahulu.
11. Berbicaralah dengan Wajar
Jangan bersikap berlebihan, sombong atau menganggap diri sendiri paling penting dan paling mengetahui segala permasalahan.
12. Menggerakan Tubuh Secara Alamiah
Gunakan gerakan isyarat dengan mengikuti kata-kata yang diucapkan dan biarkan gerakan ini secara alami dan anggun (gracefully), sehingga dapat membantu memberi tekanan pada pengertian yang diucapkan tanpa mengalihkan pesan. Lakukanlah gerakan selama pembicaraan, sepanjang gerakan itu berguna dan meyakinkan, bukan karena gugup atau secara sembarangan. Pandanglah ke semua sudut dari pendengar pada saat pembicaraan sedang berlangsung, dan melihat catatan kecil hanya apabila sangat dibutuhkan. Hindari tatapan pada satu dinding atau lantai, melihat keluar jendela, dan hindarkan membetulkan kancing baju atau kerah dasi, atau melakukan sesuatu yang tidak relevan yang akan mengalihkan perhatian pendengar.
13. Memakai Pakaian yang Serasi
Pendengar akan menaruh hormat (respect) kepada pembicara yang memakai pakaian yang serasi dalam hal potongan, warna, ikat pinggang, sepatu, dasi atau scarf dan sebagainya. Sesuaikanlah pakaian dengan karakteristik pendnegar dan tempat diadakan pembicaraan.
14. Menggunakan Catatan Kecil
Gunakan catatan-catatan kecil (speaking notes) seperlunya untuk memindahkan pembicaraan pada bagian berikutnya.
15. Penutup dan Pengakhiran
Berilah kesimpulan dari pembicaraan yang disampaikan. Berhentilah sekejap untuk menggunakan transisi, sampaikan ucapan terima kasih dan tinggalkan tempat dengan senyuman manis.
2.4 Kerangka Berfikir
Tabel 2.2 Kerangka Berfikir
Sumber: Olahan Peneliti (2022) Public Speaking
Seni penggunaan bahasa secara efektif. menunjukan bahwa retorika mempunyai pengertian sempit yaitu berbicara, dan pengertian luas yaitu penggunaan bahasa, bisa lisan bisa juga
tulisan. Oleh karena itu, ada sementara orang yang mengartikan retorika sebagai public speaking atau berbicara
di depan umum atau pidato.
(Onong Uchjana Effendy dalam M.S. Hidajat 2013:22-24)
Keaktifan Mahasiswa dalam Berorganisasi
1. Tingkat kehadiran dalam pertemuan.
2. Jabatan yang dipegang.
3. Pemberian saran, usulan dan kritik bagi peningkatan organisasi.
4. Kesediaan anggota untuk berkorban.
5. Motivasi anggota.
(Menurut Suryosubroto dalam Ahmad Sulaeman 2017:31) 2009:301)
Kemampuan Public Speaking
1. Memiliki daya tarik.
2. Memiliki kepercayaan diri yang baik.
3. Tidak pernah merasa takut dan ragu.
4. Dinamis dan aktif.
(Menurut Gunadi dalam Nurul Atieka dkk 2019:3)
Hubungan Keaktifan Mahasiswa dalam Berorganisasi dengan Kemampuan Public Speaking
2.5 Hipotesis
1. Terdapat hubungan antara keaktifan mahasiswa dalam berorganisasi dengan kemampuan public speaking.
2. Tidak terdapat hubungan antara keaktifan mahasiswa dalam berorganisasi dengan kemampuan public speaking.