KELOMPOK 7 : ANGGOTA :
MATA KULIAH: SOSIOLOGI LINGKUNGAN
Permasalahan sampah yang sering berserakkan di suatu lingkungan perumahan sering kali dianggap sepele oleh beberapa anggota masyarakat. Padahal, permasalahan sampah dapat
dikatakan sebagai permasalahan yang krusial bagi masyarakat bahkan telah menjadi permasalahan kultural yang sampai sekarang sepertinya susah untuk terpecahkan. Definisi
sampah itu sendiri adalah sisa aktivitas dari manusia dan hewan yang berbentuk zat padat dan dibuang, karena sudah tidak bernilai bagi pemiliknya. Sedangkan, Undang-Undang Pengelolaan Sampah Nomor 18 tahun 2008 mendefinisikan sampah sebagai sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau dari proses alam yang berbentuk padat.
Sudah seharusnya, suatu lingkungan perumahan memiliki apa yang disebut sebagai sistem pembuangan sampah yang khusus untuk mengumpulkan sampah dari tiap-tiap rumah tangga secara kolektif sebagai wujud dari tata kelola lingkungan yang sehat. Biasanya, ketika suatu developer akan membangun suatu komplek perumahan mereka pasti akan memikirkan tentang hal tersebut sehingga dibangunlah sebuah tempat pembuangan sementara (TPS) yang dapat menjadi solusi bagi anggota masyarakat yang bermukim di lingkungan perumahan tersebut. Namun, seringkali TPS di lingkungan perumahan tersebut sepertinya tidak berfungsi dengan baik karena masih banyaknya sampah yang berserakkan diluar TPS tersebut. Lalu, pertanyaannya “apakah yang menjadi penyebab sering berserakkannya sampah di suatu
lingkungan perumahan padahal sudah terdapat sebuah TPS di wilayah tersebut?”. Mungkin
terbersit dalam benak, hal tersebut diakibatkan karena TPSnya sudah penuh atau mungkin karena tingkat pendidikan anggota masyarakat yang bermukim disitu rendah. Sekali lagi
anggapan tersebut dapat dikatakan belum tentu benar jika kita belum melihat fakta dilapangan secara langsung. Sebagai contoh kasus dari permasalahan tersebut dapat
dilihatnya sampah-sampah yang berserakkan di sepanjang Jl. Yos Sudarso dekat komplek Perumahan Dosen. Jika dilihat bahwa daerah tersebut sebenarnya sudah memiliki apa yang disebut sebagai TPS dan sampah-sampah di TPS tersebut pun rutin diangkut setiap jam 6 pagi sehingga TPS tersebut tidak penuh, dan jika dilihat tingkat pendidikan rata-rata anggota masyarakat yang bermukim diwilayah komplek perumahan tersebut dapat dikatakan tidak
rendah karena gelar jabatan sebagai dosen telah disematkan kepada anggota-anggota masyarakat yang bermukim di komplek perumahan tersebut. Lantas, apa yang menyebabkan sampah di wilayah dekat permukiman tersebut masih berserakkan? Nah, disini kuncinya kita harus bisa melihat kondisi wilayah tersebut secara keseluruhan dan buka sepotong saja untuk mendapatkan gambaran yang tepat pada saat menganalisis. Di sepanjang Jl. Yos Sudarso yang berada dekat dengan komplek Perumahan Dosen itu terdapat berbagai ruko, asrama
mahasiswa, dan tempat kost sehingga dapat dikatakan bahwa anggota masyarakat yang bermukim di sekitar Yos Sudarso dekat komplek Perumahan Dosen itu sendiri termasuk
heterogen karena terdiri dari berbagai macam latar belakang pendidikan, jenis pekerjaan dan tabiat atau kebiasaan yang beragam jenis pula. Melihat kondisi wilayah yang seperti ini, tentu kita mulai mendapatkan gambaran bahwa ada satu faktor tertentu yang dapat menjadi penyebab utama berserakkannya sampah di wilayah permukiman „terpelajar‟ tersebut karena persoalan sampah bukan hanya terkait dengan masalah teknis seperti TPS tetapi harus ditinjau pula dari berbagai aspek dan salah satunya aspek sosial budaya masyarakat yang bermukim di wilayah tersebut. Ada 3 teori yang dapat digunakan untuk menganalisa permasalahan tersebut yaitu teori konsensus sosial, teori tindakan, dan teori antroposentrisme. Jika ditinjau dari teori konsensus sosial, permasalahan sampah ini diakibatkan karena adanya beberapa aktor yang melanggar konsensus tersebut karena memiliki „kepentingan' yang berbeda dengan anggota masyarakat lainnya contohnya seperti perilaku malas sebagian anggota masyarakat yang bermukim dekat komplek Perumahan Dosen tersebut untuk membuang sampah ke TPS dapat menimbulkan kerugian pada kesepakatan nilai yang dibangun sebelumnya sehingga dalam penerapannya kesepakatan untuk tidak membuang
sampah secara sembarangan ini seringkali dilanggar oleh sebagian anggota masyarakat yang bermukim di wilayah tersebut. Perbedaan kepentingan dan pemahaman terhadap persoalan
sampah tersebutlah yang dapat melahirkan pelanggaran konsensus yang sebelumnya sudah disepakati sebagai nilai dan norma kolektif dalam masyarakat tersebut, sehingga perlu adanya aturan tegas yang dapat mengikat masyarakat untuk menjaga konsensus itu.
wilayah permukiman tersebut karena lemahnya daya tekan dari aturan yang terlahir dari konsensus tersebut. Jika ditinjau dari segi teori antroposentrisme, tindakan pembuangan sampah secara sembarangan tersebut terjadi karena sesuatu yang dianggap sampah atau bukan itu tergantung dari subyektivitas anggota masyarakat itu sendiri sehingga anggota masyarakat itu mungkin beranggapan bahwa tindakan membuang sampah secara sembarangan yang dilakukannya itu tidak mungkin memberikan dampak yang berarti kepada lingkungannya karena menganggap bahwa sampah tersebut dapat „hilang‟ dengan sendirinya. Dapat disimpulkan bahwa faktor utama munculnya sampah berserakkan di sekitar Jl. Yos