PAPER SEJARAH SENI RUPA INDONESIA
PENGARUH KEBUDAYAAN CINA
Dosen Pembimbing: Drs. Putut H. Pramono, M.Si
Disusun Oleh:
Ari Wibowo (C0714003) Galang Pinandita (C0714015) Panji Anggoro Putro (C0714032) Yosia Enggar K. (C0714041) Yunior Susanto (C0714042)
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA FAKULTAS SENI RUPA DAN DESAIN
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sejarah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia dan menjadi suatu rangkaian yang erat sepanjang kehidupan manusia. Sejarah memberikan pelajaran dan pengalaman untuk manusia di masa sekarang dan di masa yang akan datang.
Dari sejarah akan dapat diketahui kegagalan dan keberhasilan yang dialami oleh manusia dan memberikan suatu pedoman bagi manusia di masa yang akan datang untuk lebih berhati-hati dalam melakukan segala sesuatu agar dapat mencapai keberhasilan dan peningkatan kualitas kehidupan. Kebudayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia merupakan kebudayaan yang majemuk dan sangat kaya ragamnya. Perbedaan yang terjadi dalam kebudayaan Indonesia dikarekan proses pertumbuhan yang berbeda dan pengaruh dari budaya lain yang ikut bercampur di dalamnya.
Kebudayaan Cina atau Tionghoa merupakan kebudayaan yang cukup kuat pengaruhnya di Indonesia, terutama di jawa. Ini dapat dilihat dengan banyaknya orang-orang tioghoa maupun orang-orang keturunan tionghoa yang begitu banyak tersebar di kota-kota besar di Jawa.
Salah satu kota besar yang bayak dihuni oleh kaum orang-orang tionghoa atau orang-orang keturunan tionghoa adalah Surakarta. Ini dapat dibuktikan dengan banyaknya komunitas-komunitas tionghoa yang ada di solo dan yang paling mencolok adalah adanya lampion-lampion yang ada di sekitar kawasan pasar gede yang tampak begitu indah menghiasi saat sebelum dan sesudah hari raya imlek.
Rumusan Masalah
Apakah klenteng itu?
Apakah klenteng Tien Kok Sie itu?
Bagaimana asal mula klenteng Tien Kok Sie?
Tujuan Penulisan
Memberikan pengertian singkat klenteng kepada pembaca
Memberikan pengenalan singkat kepada pembaca mengenai salah satu klenteng di Solo, yaitu klenteng Tien Kok Sie.
PEMBAHASAN
Pengertian Klenteng.
Klenteng atau kelenteng (bahasa Hokkian) adalah sebutan untuk tempat ibadah penganut kepercayaan tradisional Tionghoa di Indonesia pada umumnya. Dikarenakan di Indonesia, penganut kepercayaan tradisional Tionghoa sering disamakan sebagai penganut agama Konghucu, maka klenteng dengan sendirinya disamakan sebagai tempat ibadah agama Konghucu. Di beberapa daerah, klenteng juga disebut dengan istilah tokong. Istilah ini diambil dari bunyi suara lonceng yang dibunyikan pada saat menyelenggarakan upacara. Klenteng bagi masyarakat
Tionghoa tidak hanya berarti sebagai tempat ibadah saja. Selain Gong-guan
(Kongkuan), Klenteng mempunyai peran yang sangat besar dalam kehidupan komunitas Tionghoa dimasa lampau.
Mengenal Klenteng Tien Kok Sie dan Sejarahnya.
Kawasan Pasar Gede Solo dikenal sebagai kawasan di kota Solo yang mayoritas penduduknya adalah keturunan Tionghoa. Maka tak heran bila setiap tahunnya, perayaan Imlek di kota Solo selalu dipusatkan di kawasan ini.
Klenteng Pasar Gede Solo mempunyai nama asli Klenteng Tien Kok Sie, sebagai rumah ibadah tempat memuja Awalokiteswara (bodhisatwa yang merupakan perwujudan sifat welas asih dari semua Buddha.). Klenteng ini awalnya berada di Kartasura, sebuah wilayah di sebelah barat kota Solo, yang kemudian dipindah seiring pembangunan Keraton Surakarta pada tahun 1745.
Klenteng Tien Kok Sie menempati lahan seluas kurang lebih 250 meter persegi. Sebenarnya klenteng ini mempunyai beberapa bagian yang hilang karena sempat tak diketahui sejarahnya, dan termakan bagian sekitarnya. Namun, demikian masih ada beberapa bagian yang masih bisa disaksikan sampai sekarang, yaitu ruangan pelataran depan, Ruang Thia, Ruang Sien Bing dan bangunan rumah tangga penjaga klenteng. Ruang Thia dan Ruang Sien Bing merupakan ruang pemujaan. Dalam ruang pemujaan terdapat beberapa altar dan meja untuk persembahan kepada dewa.
Awalnya klenteng ini dibangun sebagai rumah ibadah golongan Tionghoa pribumi dari keluarga keraton, dan sistem kepengurusannya pun diwariskan secara turun-temurun. Namun setelah pada generasi ke-3 merasa kewalahan dalam mengurusnya, maka kepengurusan klenteng pun diperbantukan pada Yayasan Sangha.
Klenteng Tien Kok Sie seperti layaknya bangunan klenteng yang lain, juga memiliki ciri khas bentuk bangunan, ornamen, maupun arsitekturnya dan klenteng ini pun masuk dalam daftar Benda Cagar Budaya (BCB). Sampai saat ini, para pengurus klenteng belum pernah mengganti bentuk klenteng, hanya saja ada penggantian cat yang telah using dimakan cuaca. Namun, keberadaan bangunan tinggi di kanan dan kiri klenteng membuat keindahannya seolah-olah tertelan kemajuan zaman.
Kelenteng Tien Kok Sie berada tepat di sebelah selatan Pasar Gede Hardjonegoro, Solo, ternyata mempunyai kisah unik tersendiri. Karena ternyata umur klenteng itu sebaya dengan usia kota Surakarta itu sendiri. Nama Tien Kok Sie sendiri berarti sang penjaga negara. Disebut sang penjaga negara, karena diwajibkan bagi umat yang bersembahyang di Tien Kok Sie, untuk ikut mendoakan keselamatan negara dan rakyat Keraton Kasunanan Surakarta. Bahkan kebiasaan itu pun masih ada yang melakukannya hingga sekarang.
Dulunya luas Tien Kok Sie tercatat hingga tiga kali lipat luas sekarang. Dari situ menjadi jelas jika keberadaan klenteng Tien Kok Sie, menjadi bukti adanya toleransi dan kerukunan antar umat beragama. Karena pada saat itu Keraton Surakarta sendiri, adalah sebuah pemerintahan yang berbentuk kerajaan Islam.
Di klenteng yang sudah berusia hampir tiga abad tersebut, Nyonya rumah atau Kiem Sien yang dihormati adalah Kwan She Im Pho Sat atau kerap disebut sebagai Makco Kwan Im. Dia adalah simbol mahadewi cinta kasih Bodhisatva Avalokitesvara yang berarti yang melihat dan mendengar penderitaan mahkluk.
PENUTUP
Kesimpulan
Tidak dapat dipungkiri bahwa eksistensi kebudayaan tionghoa di Kota Surakarta ini masih terasa. Hal ini dibuktikan dengan adanya Klenteng Tien Kok Sie yang berada ditengah-tengah keramaian Pasar Gede dengan segala konsekuensi-konsekuensi yang harus dihadapi.
Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa klenteng ini menjadi bukti, jika keharmonisan dan toleransi antar etnis dan umat sudah berlangsung sejak ratusan tahun silam.
Saran
Hendaknya kita sebagai masyarakat Indonesia yang baik haruslah menjaga warisan-warisan para pendahulu kita entah bagaimana latar belakang budaya, agama, ataupun yang lainnya. Kita juga haruslah menghargai perbedaan yang terjadi diantara kita. Karena perbedaan itulah yang akan menimbulkan persatuan diantara kita.
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN