AWAL MULA WALI DI TANAH JAWA
Semua berjumlah delapan disebut Walisana yang berarti Dununganing Wali (tempatnya Wali) (Bandingkan antara kalimat Walisana dengan Wali Songo sekarang, barang kali karena ditelan masa dari kalimat Walisana
berubah menjadi Wali Songo. Sedangkan Jumlahnya yang sembilan disesuaikan dengan keadaan, yaitu di jawa timur ada 5,
jawa tengah ada 3 dan jawa barat ada 1, dimana angka ini dan angka 9 sangat erat hubungannya dalam syarat laku dalam ilmu
jawa,. Pen.)
TERJEMAHAN BEBAS SULUK WALI SANA YANG MENCERITAKAN ASAL MULA WALI DI TANAH JAWA
Sumber penulisan ini adalah menyadur bebas dari Suluk Walisana karangan Kangjeng Susuhunan Giri ke II, yang dikarang pada tahun Suryasangkala 1414 atau tahun Candra Sangkala 1450, berbentuk Tembang Macapat berbahasa Jawa Kuna, Naskah Aslinya menggunakan huruf jawa, dan sadurannya diterbitkan oleh Penerbit Tan Khoen Swie – Kediri pada tahun 1938.
Ngalim Abuhurerah. Ketiganya yaitu Raden Santri, Raden Rahmat dan Ngalim Abu Hurerah ingin pergi ke Pulau Jawa menengok Bibi-nya yang menjadi Istri Prabu Brawijaya V yang berjuluk Putri Cempa. (Mengenai Silsilah para wali didalam kisah ini dan selanjutnya dalam terjemahan ini sangat jauh berbeda dengan silsilah kisah Wali Songo yang lain. Ini bisa dibandingkan dengan Buku Jejak Kanjeng Sunan Perjuangan Wali Songo yang dibuat oleh Yayasan Festifal Wali songo dimana buku ini adalah yang paling banyak menngunakan Daftar Pustaka dibanding dengan buku tentang kisah Wali Songo yang lain. Pen).
Dalam perjalanan ke Pulau jawa ketiganya menumpang kapal milik seorang Saudagar dan setelah kapal sampai di Kamboja kapal pecah dan terdampar yang pada akhirnya dittolomg oleh Saudagar yang lain sehingga sampailah di Palembang untuk menemui dan mengislamkan Arya Damar, dimana Arya Damar adalah Ayah dari Raden Patah yang juga mempunyai saudara lain yaitu Raden Kasan dan Yusup. Selanjutnya ketiganya melanjutkan perjalanan ke Majapahit dan bertemu dengan Patih Gajah Mada di Kepatihan. Ketiganya kemudian diantar untuk menemui Brabu Brawijaya V. Dalam pertemuannya dengan Raja, ketiganya berusaha untuk mengislamkan Raja dimana Raja tetap tidak mau masuk Islam. Akhirnya Raden Santri, Raden Rahmat dan Ngalim Abu Hurerah tidak senang tinggal di Majapahit dan ingin pulang ke negri Cempa walaupun Raja Brawijaya V menginginkan agar ketiganya tetap tinggal di Majapahit. Pada saat itu kebetulan ada Saudagar dari Cempa yang mengabarkan bahwa Kerajaan Kijan di negri Cempa sudah hancur yang diakibatkan oleh perang, sehingga ketiganya tidak jadi kembali ke negri Cempa dan tetap tinggal di Majapahit. Pada akhirnya oleh Prabu Prawijaya V ketiganya dikawinkan dengan anak dari Aryo Tejo seorang Adipati di Tuban.
Raden Santri mendapatkan Retno Maninjong, Raden Rahmat dengan Siti Manila sedangkan Ngalim abuhurerah dengan Retno Sadasar. Kemudian Ketiganya pindah ke Suraswati atau Surabaya wilayah Aryo Lembusuro. Raden Santri bertempat tinggal di Gresik dan berjuluk Ngalimurtala. Sedangkan Raden Rahmat ke Suraprinngo dan berjuluk Sunan Ngampel Dento. Sedangkan Ngalim Abuhurerah bertempattinggal di Majagung (sekarang bernama Mojoagung di Mojokerto) dan kawin lagi dengan Rara Siti Kantum anak dari Aryo Baribin madura.
Blambangan kawin dengan Dewi Sabodi, dan diberi nama Pangeran Lanang. Pangeran Lanang kemudian diusir oleh Prabu Blambangan disebabkan kerena menyiarkan Agama Islam. Selanjutnya Pangeran Lanang pergi ke Ngampeldento dan menjadi imam di Tukangan.
Alkisah Dewi Sabodi pada saat ditinggal oleh Pangeran Lanang sedang mengandung, dan melahirkan bayi laki-laki yang selanjutnya dilarung oleh Prabu Blambangan yang kebetulan pada saat itu di Blambangan terjadi Pageblug atau wabah penyakit dan dikiranya penyebabnya adalah bayi tersebut. Kendaga yang berisi bayi pada akhirnya ditemukan oleh Juragan Kamboja yang tidak disebutkan namanya di Gesik dan dirawat, karena usianya yang sudah lanjut akhirnya juragan tersebut meninggal dunia sedangkan bayinya dipelihara oleh Nyai Juragan yang kemudian diberi nama Raden Satmata.
Lanjutnya cerita, Janda Juragan Kamboja di Gresik meninggal dunia. Semua hartanya menjadi milik Raden Satmata , akan tetapi berhubung Raden Satmata belum dewasa sehingga hartanya dititipkan kepada Saudara dari Janda Juragan Kamboja tadi. Pada suatu hari Raden Satmata sedang bermain di pinggir laut, dan kebetulan pada saat itu ada Juragan Layar yang lewat karena tertarik pada Raden Satmata kemudian mendatangi Raden Satmata dan menawarkan kepada Raden Satmata agar mau untuk menjadi anaknya. Raden Satmata tidak keberatan, selanjutnya Raden Satmata di ajak ke rumah Juragan tersebut yang berada di Benang. Pada akhirnya karena usianya yang sudah lanjut, Juragan tersebut meninggal dunia dan semua harta warisannya menjadi hak milik Raden Satmata. Raden Satmata kemudian menjadi Saudagar layar dan berlayar menuju ke pulau Bali dengan membawa barang dagangan berupa Penjalin dan bermacam-macam kayu. Keuntungannya dalam berdagang sangat banyak akan tetapi karena di Bali banyak orang miskin dan pengemis, maka semua uang keuntungan dari hasil berdagang dibagi-bagikan semuanya sambil berdakwah sampai habis tanpa tersisa.
inten dan sesampainya di Benang semua barang tersebut dibagi-bagikankan, sedangkan Tukang Prahu mendapat bagian paling banyak yang kemudian dijadikan modal berdagang. Raden Satmata pergi menggembara lagi.
Lanjut cerita, Raden Satmata di Benang ingin pergi ke Mekah dan mampir dulu di Malaka untuk menemui Maulana Iskak untuk berguru. Setelah Maulana Iskak bertanya ternyata Raden Satmata adalah cucunya sendiri anak dari Wali Lanang. Raden Satmata kemudian minta diajari tentang ilmu sejatinya Pangeran, ilmu sejatinya Allah Muhammad, nama tujuh dan perbuatannya sampai tamat. (Karena Sulit diterjemahkan inti ajaran tidak diuraikan, demikian pula untuk inti ajaran selanjutnya hanya pokok-pokoknya saja)
Setelah merasa cukup berguru, Raden Satmata tidak jadi pergi ke Mekah, tetapi kembali ke Benang. Tidak lama kemudian pindah ke Jipang terus ke Tandes dengan menumpang kapal milik Ki Panangsang, untuk menemui Pangeran di Nitih. Setelah bertemu akhirnya Raden Satmata diangkat anak serta dijadikan Imam Agama bergelar Pangeran Kalifah. Tidak lama kemudian pindah ke Girigajah untuk bertafakur. Selanjutnya pergi ke Ngampel dan bertemu dengan Sunan Ngampel untuk berguru. Sunan Ngampel mengajarkan manunggalnya makhluk dengan Tuhan (Manunggaling Kawulo Gusti). Kemudian Raden Satmata yang telah berjuluk Pangeran Kalipah diambil manantu oleh Sunan Ngampel kemudian pulang ke Tandes untuk menjadi Raja Pandita dan menjadi Imam Agama dan akhirnya menetap di Girigajah.
Syech Walijoelislam (nak sanak Sunan Ngampel) pergi ke tanah jawa menuju Ngampel. Terus menetap di Pasuruan dan diambil menantu oleh Dipati Pasuruan kawin dengan Rara Satari. Kemudian pindah menjadi Imam Agama di Pandanaran – Semarang dan dijadikan adipati oleh Prabu Brawijaya.
Syech Maulana Iskak, Kakek Sunan Ngampel (Anak Syech Yunus) pergi ke Jawa bersama dengan anaknya yang bernama Kalipah Kusen dengan tujuan ke Ngampel. Setelah sampai di Ngampel kemudian meneruskan perjalanan ke Madura. Di Madura diambil menantu ipe oleh Prabu Lembupeteng kawin dengan anak dari Aya Baribin.Setelah agak lama mengajarkan Agama Islam di Madura, akan tetapi Sang Parabu tetap tidak mau masuk Islam yang pada akhirnya keduanya diusir dan Maulana Iskak kembali ke Malaka sedangkan Kalipah Koesen kembali ke Ngampel.
Sumenep menemui Sri Djaran Panolih, kemudian pergi ke Baliga untuk mengislamkan keduanya dan akhirnya kembali ke wilayah Lemboepeteng.
Maulana Machribi dan Maulana Gaibbi saudara muda dari Maulana Koesen pergi ke Jawa menuju ke Ngampel Dento. Maulana Machribi kawin dengan Retna Marakis anak dari Arja Tedja di Tuban. Maulana Gaibbi kawin dengan Niken Soedara anak dari Gadjah Maodara. Kemudian keduanya menetap di Banten, akan tetapi Maulana Machribi kembali ke Ngegri Cempa dikarenakan di Banten tidak kerasan.
Sajid Djen juga ke Jawa, menuju ke Ngampel terus menetap di Cirebon dan terkenal dengan nama Soenan Goenoengdjati.
Alkisah, Sang Syech Walijoel Islam di Semarang sudah mempunyai tiga orang anak masing-masing bernama Syech Kalkoem bertempat di Pekalongan, Syech Ngabdullah bertempat di Kendal, Ngabdoelrachman bertempat di Kaliwungu.
Syech Djamhoerngali (Nak sanak dari Maulana Machribi) juga pergi ke Jawa menuju ke Ngampel, kawin dengan anak dari Dipati Padjarakan yang bernama Rara Sampoersari dan menjadi Imam di Padjarakan, juga kawin lagi dengan Putri Kebontjandi.
Syech Samsoetabarit, adalah Paman Misanan dari Sunan Ngampel pergi ke Jawa, dan menjadi Imam di Panaraga.
Alkisah Prabu Dajaningrat dari Pengging menyerbu Semarang sehinga terjadi perang besar. Syech Wali’oelislam gugur dalam perang. Syech Soetamaharadja mengungsi ke Demak dan meninggal dunia. Syech Kaklkoem mengungsi ke Benggala. Syech Djatiswara mengungsi ke Gunung Merbabu. Syech Abdoerrachman kembali ke Atasangin.
Siti Oemikasoem, anak dari Syech Wali’oelislam dengan anak dari Syech Soetamaharadja yang bernama Siti Djenab mengungsi ke Cirebon berlindung kepada Soenan Goenoengdjati.
Cerita selanjunta Arja Damar di Palembang mempunyai 2 orang anak, yang pertama bernama Raden Patah dan Raden Koesen putra Majapahit dari seorang ibu yang bernama Dewi Soebantji. Keinginan Arja Damar agar Raden Patah mau untuk menjadi Ratu, akan tetapi Raden Patah tidak berkenan, sehingga Arja Damar memberikan nasihat syarat laku seorang ratu (tidak diterjemahkan)
dan akhirnya melarikan diri bersama Raden Koesen. Dalam perjalanan, keduanya berjumpa dengan Syech Sabil untuk bersama-sama meneruskan perjalanan menuju ke Pulau Jawa. Dalam perjalanan madapatkankan rintangan dirampok, akan tetapi ketiganya selamat dan melanjutkan perjalanan menuju Gunung Rasamuko. Pada akhirnya ketiganya ditolong oleh Juragan Layar sehingga sampai ke Pulau Jawa. Raden Patah berguru kepada Soenan Ngampel, Raden Koesen dan Syech Sabil mengabdi kepada Prabu Brawijaya. Raden Koesen diangkat menjadi Dipati Teroeng. Syech Sabil diutus ke Ngampel, di situ diperintahkan ke Ngudung, sehingga Syech Sabil terkenal dengan nama Sunan Ngudung.
Oleh Sunan Ngampel Raden Patah diambil menantu dan dikawinkan dengan Ratoe Panggoeng. Anak Sunan Ngampel yag bernama Makdoem Ibrahim diutus ke Wilayah Benang sehingga terkenal dengan sebutan Sunan Benang.
Alkisah Tumenggung Wilatikta di Jepara mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Raden Sahit yang sangat nakal, pekerjaannya judi dan merapok. Pada suatu hari kebetulan yang dirampok adalah Sunan Benang. Di situ Sunan Benang menunjukan kelebihannya memasang tanda arah Utara, Timur, Selatan dan Barat, sehingga Raden Sahit terbalik penglihatannya dan sama sekali tidak bisa bergerak. Akhirnya memohon maaf kepada Sunan Benang dan berjanji tidak akan mengulangi lagi segala perbuatannya. Sunan Benang memberikan petuah dan menancapkan tongkatnya yang kemudian menyuruh Raden Sahid untuk menunggunya sampai beliau kembali. Sunan Benang meneruskan langkah menuju ke Cirebon.
Pada saat yang lain, Raden Patah meminta tempat tinggal kepada Sunan Ngampel, dan akhirnya diperintah untuk menetap di Bintara yang ada tumbuhannya bernama Glagah Wangi
Anak Sunan Ngampel (Saudara Sunan Benang) yang bernama Masakehmahmoet, diperintahkan bertempat tinggal di Gunung Moerja untuk menjadi Imam Agama dan bergelar Sunan Daradjat, sehingga di situ menjadi ramai.
Soenan Benang kembali menemui Raden Sahid di hutan Jatisari yang sedang menunggu tongkat.(Pada kisah yang lain makna tongkat adalah kayu yang mengandung arti pohon kehidupan atau Pohon Tuba atau Sajartul Qoyum, dimana Raden sahit disuruh mengamalkan kalimat Ya kayumu yakuyuku atau Ya Hayyu Ya Qoyum. Tambahan Penerjemah). Di situ setelah Raden Sahid terbukti setia, terus diwisik atau diajari ilmu rahasia oleh Sunan Benang. Setelah sempurna akhirnya Sunan Benang pulang. Raden Sahid terus merenung tentang Kebesaran Tuhan yang berada pada diri manusia.
Alkisah, Sang Prabu Brawijaya mendengar kabar bahwa di Bintara ada seseorang yang akan memberontak, sehingga Prabu Brawijaya memerintahkan untuk menyerang lebih dahulu sebelum menjadi besar. Sebelum terlaksana Dipati Petjatanda memberitahukan bahwa yang berada di Bintoro adalah Saudaranya lain ayah, dari putri Cina. Prabu Brawijaya ingat bahwa Putri Cina yang dianugerahkan kepada Arja Damar dahulu sudah dalam keadaan mengandung (Sebetulnya adalah anak dari Prabu Brawijaya). Pada akhirnya Prabu Brawijaya memanggil Raden Patah. Yang diutus Dipati Patjatanda dan apabila tidak mau dipanggil Dipati Patjatanda diperintahkan untuk membunuhnya. Singkat cerita, atas dasar keterangan dan diplomasi yang sangat baik sehingga Raden Patah mau menghadap Prabu Brawijaya. Disitu akhirnya Raden Patah diangkat menjadi Dipati di Bintoro dengan dibekali Prajurit sebanyak 10.000. Dipati bintoro terus kembali ke Bintoro.
palsu sangat banyak. Guru yang sejati adalah bukan guru yang hanya mengajar ngaji, bukan guru yang mengajarkan ngidung atau nembang jawa, bukan guru yang mengajarkan tulis, bukan guru yang mengajarkan kesaktian, bukan guru yang mengajarkan dzikir. (bagi orang jawa kesemuanya itu disebut guru yang hanya mengajarkan Ilmu (hanya sebatas teori dimana yang mengajarkan belum tentu mampu menjalankan) atau disebut juga Paguron bukan guru yang mengajarkan Ngelmu) Sedangkan guru yang sejati adalah guru yang mengajarkan ilmu sejati. Nabi Musa menguasai Syari’at agung dan juga menjadi Raja, sedangkan Nabi Khidir tidak menguasai Ilmu Syari’at atau telah meninggalkan syariat dan tidak dikenal banyak orang. Nabi Khidir hanya menggunakan ketenangan batin atau dalam bahasa jawa “mung mungkul sareh ing lakon”. Akan tetapi Nabi Khidir lebih tinggi derajatnya di Hadapan Allah, dimana orang awam menganggap Nabi Musa lebih tinggi derajatnya. Sebab Ilmu itu tidak tentu berada pada orang yang luhur, tidak tentu pada orang biasa, tidak tentu pada orang tua ataupun orang muda. Sebab apabila telah mendapat Ridho Allah, walaupun belum masanya, tentu akan mendapat ilmu yang sangat tinggi dibanding ulama besar yang bagaimanapun. Setelah jelas, Sunan Kalijaga menanyakan dimana tempat Nabi Khidir.Sunan Gunungjati memberitahu bahwa tempat Nabi Khidir adalah di Boeral Akbar bertempat di Lutmat Goib. Setelah mendengar itu, Sunan Kalijaga mohon ijin untuk berangkat mencari Nabi Khidir. Sunan Gunungjati termangu-mangu melihat tekad dari Sunan Kalijaga.
Sunan Kalijaga berjalan ke arah Utara sehingga sampai di tepi laut. Sunan Kalijaga menemui kebingungan yang sangat dalam karena tidak bisa menyebarangi lautan, sehingga Sunan Kalijaga bertafakur. Pada akhirnya Nabi Khidir datang menemui Sunan Kalijaga dan mengajarkan Ilmu yang sangat banyak. (tidak diterjemahkan) Untuk cerita tersebut bisa dibandingkan dengan kisah Dewa Rutji yang dibuat oleh Kapunjanggan Surakarta pada abad 19 M. Dan juga hampir sama dengan Suluk Linglung Sunan Kalijaga/Syech Malaya, karangan Imam Anom pada tahun 1086 Caka/1884 Masehi. Atau dalam Wayang ceritanya mirip dengan Lakon Bima Suci (Tambahan Pen).
Setelah Sunan Kalijaga ditinggal oleh Nabi Khidir, Sunan Kalijaga termangu di tepi laut. Setelah agak lama Sunan Kalijaga Pulang dan semenjak itu Sunan Kalijaga terkenal dengan nama Sunan Kalijaga.
pergi ke Tanah Jawa menuju ke Ngampel. Oleh Sunan Ngampel disuruh menetap di Mejagung sehingga terkenal dengan nama Pangeran Mejagung (berbeda dengan Sunan Mejagung), akan tetapi beliau tidak termasuk golongan Wali, hanya termasuk Wali Nukba yang artinya Wali tututan atau sambungan Wali, atau disebut juga Wali Anakan. Sedangkan yang termasuk Wali di Tanah Jawa adalah yang disebut Sinuwun dalam arti sebagai panutan, yaitu :
1. Sunan Ngampel (Raden Rahmat) 2. Sunan Gunungjati ( Sayid Zen) 3. Sunan Ngudung (Seh Sabil)
4. Sunan Giri (Raden Santri Ngali bergelar Ngalimurtala) 5. Sunan Benang (Makdum Ibrahim)
6. Sunan Ngalim Abu Hurerah di Majagung
7. Sunan Drajat di Murya (Seh Masakeh Mahmut)
8. Sunan Kali / Raden Sahit berjuluk Seh Malaya (Wali Pamungkas).
Kesemuanya berjumlah delapan disebut Walisana yang berarti Dununganing Wali (tempatnya Wali) (Bandingkan antara kalimat Walisana dengan Wali Songo sekarang, barang kali karena ditelan masa dari kalimat Walisana berubah menjadi Wali Songo. Sedangkan Jumlahnya yang sembilan disesuaikan dengan keadaan, yaitu di jawa timur ada 5, jawa tengah ada 3 dan jawa barat ada 1, dimana angka ini dan angka 9 sangat erat hubungannya dalam syarat laku dalam ilmu jawa,. Pen.)
Yang termasuk Wali Nukba atau Wali Tututan di Tanah Jawa adalah, sebagai berikut :
1. Sunan Tembayat 2. Sunan Giri Parapen 3. Sunan Kudus
4. Sultan Sah Ngalam Akbar 5. Pangran Wijil di Kadilangu 6. Pangran Ngewongga
7. Ke Gede Kenanga Pengging 8. Pangeran Konang
9. Pangeran Cirebon
10. Pangeran Karanggayam 11. Ki Ageng Sela
15. Kyai Ageng Pamanahan 16. Buyut Ngerang
17. Ki Gede Wanasaba 18. Panembahan Palembang 19. Ki Buyut di Banyubiru 20. Ki Ageng Majasta 21. Ki Ageng Gribig
22. Ki Ageng di Karotangan 23. Ki Ageng Toyajene 24. Ki Ageng Toyareka
25. Pamungkas Wali Raja Soeltan Agung.
Lanjut cerita, Sunan di Girigajah mempunyai murid dari daerah Sitijenar yang bernama Kasan Ngali Ansar (Pada buku-buku Kisah Wali Songo dan di semua Serat Siti Jenar tidak ada yang menyebutkan nama aslinya) yang lebih dikenal dengan nama Sitijenar atau Syech
Lemahbang, Juga disebut Lemah Kuning, sangat ingin diajari ilmu rahasia. Akan
tetapi Sunan Giri belum mau mengajarkan ilmu itu karena belum saatnya, sehingga menyebabkan Syeh Lemahbang sangat kecewa dan marasa tidak ada artinya pergi ke Tanah Jawa. Syech Lemahbang sudah mengetahui tempat dimana Sunan Giri biasa mengajarkan Ilmu Rahasia kepada murid-muridnya. Syech Lemahbang ingin mencuri dengar ajaran tersebut dengan cara merobah dirinya menjadi Bangau putih, lalu mendekat ke arah dimana Sunan Giri akan mengajarkan Ilmu. Akan tetapi Sunan Giri dengan mangunahnya sudah mengetahui, sehingga pada waktu itu tidak jadi menurunkan ilmunya kepada murid-muridnya dan ditunda pada malam jum’at yang lain.
Pada hari jum’at yang telah ditentukan, jadilah Sunan Giri akan mengajarkan Ilmu Rahasia kepada murid-muridnya. Syech Lemahbang segera merobah dirinya menjadi cacing kalung dan menyusup di bawah perahu yang digunakan oleh Sunan Giri untuk mengajarkan Ilmu Rahasia. Sunan Giri sebetulnya sudah tau bahwa ada penyusup, akan tetapi tetap dibiarkan, sehingga Syech Lemahbang bisa mendengar semua ajaran Ilmu Rahasia-nya Sunan Giri. Setelah dikuasinya semua Ilmu Rahasia, Syech Lemahbang pergi dari Giri dan mendirikan Padepokan sendiri serta menjadi Guru Besar dalam oleh Ilmu bathin sehingga terkenal dengan sebutan Pangeran Sitijenar.
banyak yang menjadi santrinya. Lama kelamaan Sunan Giri mendengar ketenaran Sitijenar dan berniat memanggil Sitijenar atau dengan nama lain Lemahbang. Sunan Giri mengutus dua ulama yang tidak disebutkan namanya dan singkat cerita dua ulama telah sampai di padepokan Lemahbang.
Dua ulama menyampaikan pesan Sunan Giri bahwa Lemahbang dipanggil oleh Sunan Giri untuk bermusyawarah masalah Ilmu Ketuhanan. Setelah pesan disampaikan, Lemahbang menjawab bahwa di sini tidak ada Lemahbang, yang ada adalah Pangeran Sejati. Setelah mendengar ucapan Lemahbang seperti tersebut di atas, dua ulama tadi pulang meninggalkan padepokan Lemahbang tanpa pamit. Sesampainya di Giri dua ulama utusan, menyampaikan kepada Sunan Giri apa yang telah diucapkan oleh Lemahbang. Setelah mendengar laporan dua ulama tadi, Sunan Giri sangatlah marah, akan tetapi setelah dinasehati oleh Para Wali, Sunan Giri akhirnya sadar. Sunan Giri kemudian menyuruh kepada dua ulama utusan untuk kembali memanggil Lemahbang dengan menuruti apasaja kemauan Lemahbang atau pengakuan nama Pangeran Sejati.
Setelah sampai di Padepokan Lemahbang, dua ulama utusan menyampaikan pesan Sunan Giri bahwa Pangeran Sejati dipanggil menghadap Sunan Giri. Pangeran Lemahbang menjawab bahwa Pangeran Sejati tidak ada yang ada dipadepokan adalah Lemahbang, sedangkan Lemahbang adalah Wajah dari Pangeran Sejati dan apabila Pangeran Sejati tidak mengijinkan Lemahbang untuk berangkat, maka tidak mungkin Lemahbang akan berangkat. Akhirnya dua ulama utusan mengatakan bahwa Pangeran Sejati dan Lemahbang dipanggil menghadap Sunan Giri. Setelah itu barulah Lemahbang mau menghadap Sunan Giri.
Singkat cerita, sampailah dua ulama utusan dan Lemahbang di Giri. Lemahbang dan Delapan Wali akhirnya bermusyawarah mengenai Ma’rifat kepada Allah, dan masing-masing wali mengemukakan pendapatnya masing-masing (tidak diterjemahkan). Setelah ke delapan Wali menguraikan pendapatnya, Syeh Lemahbang membantah dan mengatakan jangan banyak ibarat sesungguhnya
Akulah Allah. Sudah nyata bahwa Ingsun kang sejati, bergelar Prabu Satmata dan
tidak ada yang lain. Dan masih banyak uraian yang disampaikan oleh Lemahbang. Ke delapan wali hanya tersenyum setelah mendengar ucapan Lemahbang. Setelah Lemahbang pulang, ke delapan wali menyimpulkan bahwa ajaran Lemahbang sesat, akan tetapi karena belum waktunya, maka para wali yang dipimpin oleh Sunan Giri akan mengadili Lemahbang setelah Kerajaan Demak berdiri.
karangan Al Halaj terjemahan terbitan Risalah Gusti, dimana akulah kebenaran tercantum dalam Thasin bab VI Kitab tentang Adam, AS. Pada Nomor 23 yang berisi “ Dan Aku berkata, jika engkau tidak mengenal Dia, maka lihat tanda abadi-Nya. Tanda yang kekal; dan tanda itu adalah aku dan
Akulah Kebenaran itu (Ana Al Haqq) dan pada hakikatnya aku selamanya bersama dengan kebenaran itu”. Pernyataan Al Halaj ini juga menjadi polemik para Ulama, walaupun Al Halaj menyatakan pada akhir Kitab Thowasin pada Thasin XI, Kitab Kebun Ma’rifat, nomor 16 menyatakan sebagai berikut, “Yang benar tetaplah yang benar. Pencipta sebagai Kholiq, dan segala apa yang termasuk diciptakan tetaplah mahluk. Ini akan tetap selalu demikian”. Sedangkan kisah Sitijenar yang dikenal masyarakat sekarang ini kebanyakan bersumber pada Serat Siti Djenar karangan R.P. Natarata (1810 -1890 M) seorang Panji di Distrik Ngijon Jogjakarta yang lebih dikenal dengan ajaran Wahdatul Wujudiyah atau ajaran Nataratanan dimana jasadnya digantai dengan bangkai anjing berpenyakit kudis).(Tambahan Penerjemah)
Kedelapan wali kemudian mengadakan perundingan, merencanakan menghancurkan Majalengka atau majapahit. Yang dijagokan adalah Raden Patah, Lembu Peteng Madura dan keluarganya yang sudah masuk Islam. Sunan Ngampel berusaha menghalangi dengan alasan Raja Brawijaya memberi kemerdekaan
para wali dalam menyebarkan agama Islam. Akan tetapi Raden Patah memberi
alasan bahwa Raja Brawijaya belum masuk islam dan mengharapkan jangan sampai di Jawa ada percampuran agama dan mengharapkan di jawa hanya ada satu agama yaitu Agama Islam.
Lanjut cerita Sunan Ngampel meninggal dunia dan dimakamkan di sebelah utara masjid Ngampel. Sedangkan yang menggantikan menjadi Imam adalah Sunan Ratugiri dan Sunan Benang. Sunan Ratu Giri mengangkat dirinya menjadi Raja di Giri dan bergelar Sunan Ratu dan sangat dihormati oleh rakyatnya. Yang menjadi patih adalah anaknya Adipati Terung yang berada di Tandes, bergelar Pangeran Palembang.
Wali, mengapa mau menjadi Raja.
Jawaban Patih bahwa sudah tidak kurang-kurang mengingatkan, akan tetapi karenan Sunan Giri Gajah dalam keadaan sedang mendapat wahyu dan besar mengunahnya, sehingga mengakibatkan peringatan Sang Patih tidak dihiraukan. Oleh Sang Patih, Sunan Benang dimohon untuk menghadap Sunan Giri sendiri dan Sunan Benang Sudah bertemu langsung dengan Sunan Giri.
Sunan Benang menanyakan kepada kakaknya yaitu Sunan Giri tetang bagaimana jalan ceritanya sehingga Sunan Giri mengangkat dirinya menjadi Raja di Giri. Sunan Giri menjawab bahwa dirinya menjadi raja adalah sudah Kehendak Tuhan. Sunan Benang tidak percaya, dan meminta saksi. Sunan Giri menyanggupinya. Sunan Benang akhirnya diajak oleh Sunan Giri untuk pergi ke Mekah guna meminta saksi kepada Yang Maha Suci, dengan jalan Tafakur di Rumah Allah. Sunan Benang mengikuti saja kehendak Sunan Giri.
Dalam perjalanan keduanya singgah di Malaka untuk menghadap Kakeknya yang bernama Syech Maulana Iskak. Setelah sampai, Sunan Giri ditanya oleh Maulana Iskak tentang apa keperluanya. Sunan Giri menjawab apa adanya. Pada akhirnya Maulana Iskak memerintahkan kepada keduanya kembali saja ke tanah jawa, dan tidak usah mengambil saksi ke Mekah. Cukup hanya Maulana Iskak saja yang menjadi saksi, dengan penjelasan bahwa mengapa sunan Giri mengangkat dirinya menjadi Raja, adalah sekedar sebagai syarat agar selamat siapa saja yang akan mengganti raja di belakang hari. Artinya yang akan menjadi raja pengganti nantinya jangan sampai langsung menggantikan seorang raja yang bukan dari raja yang beragama Islam. Sunan Giri dan Sunan Benang sangat puas atas keterangan Maulana Iskak. Pada saat itu pula Sunan Benang meminta ijin untuk menjadi raja menyamai Sunan Giri. Syech Maulana Iskak juga menyetujui. Sunan Giri diperintahkan menjadi raja Para Ulama. Sunan Benang diperintahkan menjadi raja dalam soal agama dan ilmu. Keduanya akhirnya kembali ke Jawa. Sunan Benang Menjadi raja di Ngampel, bergelar Prabu Nyakra Kusuma, juga mempunyai nama lain sebagai julukan yaitu Ratu Wahdat.
sudah waktunya dipindahkan ke Giri.
Kyai Bubak setelah mendengar ucapan sunan Giri segera menyampaikan kepada Prabu Brawijaya tentang apa yang telah diucapkan oleh Sunan Giri. Sedangkan Djenal Ngabidin masih tetap tinggal di Giri. Singkat cerita Prabu Brawijaya sangat marah dan memerintahkan untuk menyerang Giri. Dalam penyerangan tersebut Pasukan Majapahit dipimpin oleh Arya Lekan. Awalnya Arya Lekan menang perang. Akhirnya Sunan Giri menyipta kalam dijadikan sebuah keris untuk digunakan melawan Arya Leka sendiri. Keris tersebut diberi nama Keris Kalamunyeng. Dalam perang tanding antara Arya Leka dengan Sunan Giri, Arya Leka kalah dan kembali pulang ke Majapahit, melapor kepada Prabu Brawijaya. Keris Kalamunyeng kemudian dicipta kembali menjadi kalam lagi oleh Sunan Giri.
Lanjut cerita, Prabu Anom di Palembang yaitu anak dari Adipati Pecatonda yang dahulu diangkat menjadi patih oleh Sunan Giri, pada saat itu sedang berada di Tandes dengan membawa prajurit. Setelah Sunan Giri mendengar kabar tersebut, maka Sunan Giri menyuruh untuk memanggil Prabu Anom. Akan tetapi Prabu Anom tidak berkenan, bahkan jawabannya mau menghadap Sunan Giri dengan syarat diperbolehkan duduk sama tinggi dengan Sunan Giri. Sunan Giri marah, akan tetapi ditutupi kemarahannya itu. Akhirnya Prabu anom diperkenankan duduk sama tinggi dengan Sunan Giri.
Singkat cerita Prabu Anom sudah menghadap dan duduk sama tinggi dengan Sunan Giri. Pada saat itu Sunan Giri menunjukan kemarahannya. Prabu Anom dimarahi oleh Sunan Giri sehingga Prabu Anom sangat ketakutan dan tidak bisa berkata apa-apa, malahan badannya lemas dan turun dari tempat duduk sambil menyembah kepada Sunan Giri. Akhirnya Prabu Anom dimaafkan dan diambil anak angkat oleh Sunan Giri. Sunan Giri sangat menyayangi Prabu Anom, bahkan Prabu anom dianggap sebagai anak kandungnya sendiri dan dianggap sebagai anak yang paling tua dan diberi gelar Prabu Anom Suradiraja. Prabu Anom menyatakan kepada ayah angkat sanggup menyerang orang yang bukan Islam, akan tetapi Sunan Giri tidak menyetujuinya yang disebabkan Prabu Anom kedudukanya bukan sebagai ahli waris. Sunan Giri takut pada kutukan Tuhan Yang Maha Esa. Prabu Anom mohon ijin pulang ke Palembang. Sunan Giri menyetujuinya dan memberi pendaping seorang yang bernama Pecantanda seorang sesepuh di Surabaya. Pecantanda di Palembang diberi penghargaan tanah di Maospura dan di Balitung. Pada saat itu Adipati Terung ayah dari Prabu Anom mendengar kabar tentang keadaan putranya sehingga Adipati Terung sangat bahagia.
menyimpang dari aturan syariat Agama Islam. Sunan Giri mengutus Ki Panangsang untuk meredam. Akan tetapi Ki Panangsang kalah perang dan kembali ke Giri. Sunan Giri memerintahkan agar yang membikin onar di Pati dibiarkan dahulu, sebab pada saat itu belum tiba pada hari naasnya, yang bisa mengakibatkan tanpa hasil.
Pada saat yang lain, Adipati Tuban dan Daha menyimpang juga dari ajaran syariat Islam. Ki Panagsang mendapat tugas dari Sunan Giri untuk menyerbu ke Tuban dan Daha. Pasukan Tuban karena merasa kalah kuat tidak mau melawan, bahkan Adipati Tuban mengutus utusan menyatakan menyerah kepada Sunan Giri. Sunan Giri sangat bahagia dan mengutus Ki Panagsang menggagalkan penyerangan dan diperintahkan kembali ke Giri. Atas jasa Ki Pangsang maka Sunan Giri mengangkat Ki Panangsang menjadi Ariya, sehingga namanya menjadi Ariya Panangsang.
Lanjut cerita, Sunan Giri meninggal dunia dan dimakamkan di Giri. Atas kehendak Sunan Benang, sepeninggal Sunan Giri, yang diangkat menjadi raja adalah anak yang tertua yang bernama Pangeran Dalem, kemudian bergelar Sunan Giri ke II.
Prabu Brawijaya mendengar bahwa Sunan Giri telah meninggal dunia, sedangkan yang menggantikannya adalah anaknya. Prabu Brawijaya marah, karena merasa tidak dianggap oleh Sunan Giri. Sebagai tandanya adalah pengangkatan raja tidak sepengetahuan dirinya, sehingga dianggap bahwa Giri akan memberontak. Sebelum menjadi besar Prabu Brawijaya memerintahkan menyerang lebih dahulu. Yang diutus adalah arya Gajahpramada. Singkat cerita Giri kalah dan Sunan Giri II melarikan diri ke pinggir laut bersama dengan kerabatnya, juga bersama sahabat yang bernama Wanapala dan melajutkan pelarian ke hutan Krendawaha guna mendirikan desa.
Kerajaan dikosongkan.
Setelah Majapahit kosong, Sunan Giri II kembali ke Giri. Akan tetapi karena rumah-rumah di Giri telah habis terbakar, maka Sunan Giri II memerintahkan untuk mengambil rumah-rumah yang kosong di Majapahit untuk dibawa ke Giri. Singkat cerita Giri sudah kembali seperti sedia kala.
Setelah lebah sudah hilang, Prabu Bwawijaya juga kembali ke Majapahit. Semua rumah yang sudah dibawa ke Giri diganti, sehingga di Majapahit sudah kembali seperti sediakala.
Pawa Wali beserta Putra Mapajapit, Prabu Jaran Panolih dari Sumenep, Sri Lembupeteng dari Madura, Dewa Ketut dari Bali, Batara Katong dari Panaraga, berkumpul di Bintara bermusyawarah akan menghancurkan Majapahit. Yang dijadikan Senopati adalah Sunan Benang. Dipati Bintara hanya dipersiapkan sebagai Raja. Dipati Bintara memerintahkan duta dengan mambawa surat yag ditujukan kepada Dipati Terung. Duta sudah berangkat. Sepeninggal pembawa surat, para wali berniat membuat sebuah Masjid. Dalam pembuatan masjid para Wali berbagi tugas. Sunan Kali ditugasi membuat satu tiang, akan tetapi belum siap yag akhirnya Sunan Kali mengumpulkan Tatal dan disabda menjadi tiang. Singkat cerita Masjid sudah selesai dibangun. Akan tetapi Para Wali ragu dan kuatir barangkali arah kiblat tidak sesuai. Sunan Kali kemudian membentangkan tangannya, tangan yang satu memegang Ka’bah, dan tangan yang satunya lagi memegang pengimaman masjid. Kemudian dibetulkan arah kiblatnya. Setelah sempurna barulah Para Wali Sholat. Setelah pagi di dalam masjid ada sebuah benda tergantung tanpa gantungan yang kemudian diambil oleh Para Wali. Setelah dibuka benda tadi adalah sebuah pakaian taqwa yang ada tandanya, bahwa pakaian tersebut adalah untuk Sunan Kalijaga. Selanjutnya pakaian tersebut oleh Para Wali diserahkan kepada Sunan Kalijaga, sehingga sangat bersyukurlah beliau kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sunan Benang mengatakan bahwa baju tersebut adalah bekas dipakai sholat oleh Kanjeng Nabi Muhammad, SAW. dan baju tersebut bernama antakusuma. Sedangkan yang pantas memiliki dan memakainya adalah yang akan menjadi Ratu di Tanah Jawa.
sehingga Prabu Brawijaya memerintahkan kepada Patih Gajahmada untuk menghadapinya.
Lanjut cerita, Dipati Terung sudah mendapat surat dari kakaknya yang berisi rencana penyerangan ke Majapahit. Dipati Terung juga menyetujui, akan tetapi dalam memberangkatkan pasukan dengan cara menyamar agar tidak diketahui. Rencana Dipati Terung sangat menggembirakan Sunan Benang, sehingga Sunan Benang memberangkatkan pasukannya dari Demak.
Dipati Terung mendapat perintah Prabu Brawijaya supaya menghadapi penyerang, dengan didampingi oleh anak sulung dari Prabu Brawijaya yang bernama Prabu Anom Atmawijaya. Singkat cerita Sunan Ngudung sudah perang tanding melawan Dipati Terung. Sunan Ngudung kalah dan meninggal serta dimakamkan di sebelah barat Masjid Demak. Dan yang menggantikan pimpinan perang adalah Sunan Kudus.
Dipati Bintara beserta kerabatnya pergi ke Surabaya untuk menyiapkan diri guna menyerang Majapahit. Dipati Bintara mendapat tugas menjaga pantai utara. Sunan Benang beserta para Auliya bertugas menjaga di sebelah barat. Batara Katong dari Panaraga beserta Raja Dewaketut dari Bali menjaga di sebelah selatan. Sri Lembupeteng dari Madura beserta Prabu Jaran Panolih dari Madura mendapat tugas di sebelah Timur.
masuk Islam, dan apabila tidak berkenan, maka terserah Prabu Brawijaya. Setelah surat dibaca, Prabu Brawijaya sangat marah. Singkat cerita terjadi perang kembali. Pasukan Majaphit kalah perang. Prabu Brawijaya melarikan diri dan terpisah dengan Istri dan kerabatnya yang berlari tanpa arah mencari hidup sendiri-sendiri.
Sedangkan runtuhnya Kerajaan Majapahit menurut fersi Serat Darmagandul dalam bentuk tembang Macapat Dandanggula sebagai pembanding adalah sebagai berikut : 1. Mula tjrita Madjapahit, nora timbang sahambaning
pradja, ja ambane djadjahane, tjinekak tjaritanipun, sabab buka wadining Hadji, putra prang lawan bapa, sakalangkung saru, ing nganggit para pudjangga, anjemoni bedahe ing Madjapahit, pinatjak lajang babat. 2. Marga saking kramating pra wali, kerisira Sunan
Giripura, tinarik metu tawone, ngentup wong Madjalangu, Sunan Tjerbon badonge midjil, tikus jutan awendran, mangsa sakeh sangu, miwah bekakas turangga, bubar giris wong Madjalengka sru miris, tikus jutan awendran.
3. Peti saking Palembang nagari, dipun bukak madyanign paprangan, djumedul metu demite, neluh wong Madjalangu, bubar giris tineluh demit, Sang Prabu Brawidjaja, mekrat sedanipun, iku pasemon sadaja bedahira, ing Madjapahit sajekti kadya kang kotjap ngarsa.
4. Madjalengka iku wudjud nagri, nora kaja sindjang kena rusak, rusak dikrikiti bahe, lan malih lumrahipun, tawon bubar den manusa djanmi, wana kerkeh demitnya, rusake ginempur, mring wadya kang mamrih bangga, among lagja bedahe ing Madjapait, pradja gung bedahira.
5. Marga saking tawon tikus demit, iku kanda ing tjaritanira, pralambang pasemon bae, sapa pertjaja iku, tanda djalma uteke isi, tletong babi lan sona, jen djalma satuhu, kang simpen utek mardika, tan pratjaja nalare aneh kapati, tan tepung lawan nalar.
mila pasemon kewala, pasemone pralambangira asami, mangkene tegesira.
7. Tikus iku watek krikit-krikit, lama-lama jen den umbar ngrebda, pangane angentekake, Para Ngulama Ngarbun, praptanira ing tanah djawi, among badan sapata, sowan mring Sang Prabu, pada njuwun panguripan, diparingi bareng wus lemu kang paring, urip nulja dirusak.
8. Tawon iku gawa raga manis, gegamane aneng silitira, tala gowok paturone, puniku semonipun, pan sanjata wong Islam iku, mung manis rembug ngarsa, ngentup saking pungkur, akolu angrusak pradja, Madjalengka Ratu ingkang ngurip-urip, weh gawok kang miharsa. 9. Dene demit den wadahi pethi, gja binukak neng
madyeng ranangga, djumeglug metu demite, tegese pralambang niku, nglimbang galih ganti agami, pethi punika wadah, simpenan kang brukut, demit niku makna samar, tukang teluh bedah nagri Madjapahit, den teluh primpen samar.
10
. Nora ana tjritane kawidjil, samudana seba ngestupada,lakune kimagetake, mulane pra nung-anung, Madjalengka tan wikan masih, durung nganti sadija. Kaprabon prang pupuh, Dipati Terung nagara, wus bijantu mring demak dipati, ambedah Madjalengka.
11
. Ambijantu ngrajah djroning puri, buku-buku betuwakkaradjan, sarak buda pikukuhe, dipun obong sadarum, dimen sirna agama budi, supaja mituhuwa, marang sarak rasul, iku tjritane kang njata, ing bedahe ija nagri Madjapahit, timbang kalawan nalar.
12 .
Nora ana tjrita dingin-dingin, nagri agung kaja Madjalengka, bedahe den tupi tawon, lan den krikiti tikus, bubar sarta den teluh demit, bedahe Madjalengka, apan amisuwur, djumeglug swara lir gelap, suwarane warata satanah indi, wong Islam watakira.
13 .
14
. Wali wolu sanga kang tinari, den mumule mring sagungwong djawa, udjar puniku tegese, tegese wali wolu sunan wolu mbalela mbalik, sangane Raden Patah, tinari ing kewuh, ing ngangkat djumeneng Nata, sarta ngrusak karaton ing Madjapait, mungsuh bapa tur radja.
15 .
Dst. (Pen)
Setelah pemakaman kemudian para Wali bermusyawarah. Dipati Bintara diangkat menjadi Raja di Demak dan bergelar Ngawantipura. Akan tetapi dengan syarat, Sunan Giri II dinobatkan menjadi Raja terlebih dahulu selama 40 hari. Tujuannya adalah untuk memberi jarak bahwa dalam pengangkatan Dipati Bintara menjadi raja bukan menggantikan seorang raja yang bukan beragama Islam. Setelah genap 40 hari Sunan Giri II meletakan jabatannya sebagai raja dan digantikan oleh Dipati Bintara. Dipati Bintara bergelar Sultan Syah Ngalam Akbar Brawijaya Sir’ullah Kalipati Rosulillah Waha Amiril Mukminin Tajuddin Ngabdul Kamitchan. Sedangkan yang diangkat menjadi patih adalah putra dari Ki Ageng Wanapala yang bernama Patih Mangkurat. Sedangkan yang menjadi Penghulu adalah Sunan Benang. Untuk Wali yang lain diangkat menjadi Pujangga. Ki Ageng Wanapala diangkat menjadi Jaksa.
Cerita selanjutnya, Istri Prabu Brawijaya yang bernama Dewi Erawati, karena tidak kuat menahan kesedihan, akhirnya meninggal dunia. Oleh para Wali, dimakamkan di Dusun Karangkajenar.
Selanjutnya, Prabu Anom Atmawijaya Putra Prabu Brawijaya, berniat mengadakan pemberontakan bergabung dengan Dipati Terung. Dalam pemberontakan ini yang menghadapi adalah Sunan Kudus. Prabu Anom Atmawijaya kalah perang dan melarikan diri ke Gunung Lawu bergelar Ki Ageng Gugur. Sedangkan Dipati Pecatanda di Terung menyerahkan diri dengan dikawal oleh Sunan Kudus menghadap ke Bintara, kemudain diangkat menjadi Dipati di Terung, juga ikut menyiarkan agama Islam. Anak Dipati Terung yang bernama Ayulinuwih diambil oleh Sultan, kemudian diberikan kepda Sunan Kudus.
Cerita selanjutnya Ki Ageng di Sela yang lebih dikenal dengan Nama Ki Ageng Sela, adalah anak dari Syech Ngabdullah di Getaspandawa, Ki Getaspandawa anak dari Lembupeteng di Tarub. Sedangkan Lembupeteng anak dari Prabu Brawijaya dengan Pandan Kuning, sehingga Ki Ageng Sela baru turun ke 4 dari Prabu Brawijaya. Ki Ageng Sela mempunyai saudara kandung sebanyak 12 orang, masing-masing bernama :
1. Ki Ageng Ngabdullah di Terub; 2. Ki Ageng Sela (Panenggak). 3. Nyai Ageng Amadanom di Purna;
4. Laki-laki meninggal dunia saat muda (lain Ibu yaitu dari Sukowati dan nomor selanjutnya)
7. Nyai Ageng Sampudin di Bongkang; 8. Nyai Ageng Wangsaprana di Bali; 9. Nyai Nirawangsa di Bongkang; 10.Meninggal dunia saat bayi; 11.Nyi Ageng Mukmin di Ngadibaya.
(Yang disebutkan hanya 11 Saudara)
Saudara sebanyak tersebut di atas semua ikut Ki Ageng Sela, dimana Ki Ageng Sela penghasilannya hanyalah bertani.
Pada suatu hari Ki Ageng Sela menangkap pencuri di sawahnya. Pencuri tersebut seorang nenek-nenek. Setelah diadili oleh Sultan Demak, kemudian dipenjara. Tidak lama dalam penjara kemudian ada seorang nenek-nenek mendatangi nenek-nenek yang ada di dalam penjara sambil membawa air. Tidak berapa lama terdengar suara ledakan yang sangat keras. Bersamaan dengan itu musnahlah kedua nenek-nenek tersebut. Sejak saat itu Ki Ageng Sela terkenal bisa memegang kilat atau halilintar.
Cerita selanjutnya, ada seseorang dalang dari Demak yang bernama Kyai Becak. Mempunyai seorang istri yang sangat cantik, datang ke Tarub untuk mengadakan pertunjukan wayang. Istri dalang yang cantik sangat diinginkan Ki Ageng Sela. Dalang tersebut oleh Ki Ageng Sela dibunuh, sehingga semua peralatan wayang dan istri Ki Dhalang menjadi milik Ki Ageng Sela. Ki Ageng Sela sangat menyukai alat musik wayang yang bernama Kempul Saking senangnya terhadap kempul tadi, Ki Ageng Sela sampai lupa terhadap istri Ki Dhalang. Kempul tersebut kemudian diberi nama Kyai Becak, yang oleh Sunan Kalijaga diberi syarat sehingga kempul tersebut mempunyai kekuatan magis bisa sebagai pertanda perang. Apabila kempul atau bende tersebut dibunyikan dan suaranya nyaring menandakan akan menang perang. Dan siapapun yang memilikinya, di belakang hari akan menurunkan raja-raja di tanah jawa.
Anak Ki Ageng Sela ada sebanyak 14 oarng, masing-masing bernama : 1. Nyai Ageng Lurungtengah di Wanasaba;
2. Nyai Ageng Sungeb di Wanasaba, kemudian pindah ke Pakeringan sehingga terkenal dengan nama Nyi Ageng Pakeringan;
3. Nyai Ageng Mondalika di Bangsri;
4. Nyai Nur Muhammad di Jati, terkenal dengan nama Nyai Ageng Jati;
5. Nyai Ageng Suleman di Patanen, terkenal dengan nama Nyi Ageng Patanen; (Nomor 1 s/d 5 dari istri sepuh asli Wanasaba).
7. Nyai Ageng Jakariya di Pakisdadu; 8. Nyi Amatkahar di Pakiskidul; 9. Nyi Ageng Mukibat di Pakisaji; 10.Bagus Anis
(Nomor 6 s/d 10 dari istri nomor 2). 11.Perempuan meninggal saat muda; 12.Meninggal saat muda;
13.Meninggal saat muda;
14.Bagus Baji, lebih terkenal dengan nama Kyai Ageng Pasuson. ( Nomor 11 s/d 14 dari istri nomor 3).
Ganti yang diceritakan, ada salah seorang wali yang sangat ahli dalam ilmu ma’rifat. Syariat sudah ditinggalkan. Dia bernama Pangeran Panggung saudara nomor dua dengan Sunan Ngudung. Sedangkan Sunan Ngudung adalah anak dari Kalifah Kusen pada jaman dahulu. Pangeran Panggung mendirikan perguruan yang hanya mengajarkan ilmu batin yang sudah meninggalkan Sholat. Para murid hanya diajari Sholat Daim, yaitu sholat hanya di dalam batin. Pangeran panggung mempunyai binatang piaraan berupa 2 ekor anjing yang masing-masing diberi nama
Iman dan Tauchid. Kuduanya dapat berbicara layaknya manusia. Ketenaran ajaran Pangeran Panggung terdengar sampai ke Demak sehingga Pangeran Panggung dipanggil menghadap sultan. Singkat cerita Pangeran Panggung sudah menghadap Sultan Demak dan ditanya oleh Sultan Bintara tentang kebenaran bahwa Pangeran Panggung hanya mengajarkan Sholat daim, yang berakibat merusak Rukun Islam dan Syari’at Nabi. Sambil menyembah Pangeran Panggung menjawab bahwa hal tersebut benar adanya. Sebab apabila hanya berbicara soal syariat pasti terjadi perbedaan pendapat yang pada akhirnya akan terjadi pertentangan Padahal Tuhan itu Maha Benar yang tidak mungkin untuk dipertentangkan.
(Timbulnya banyak Madzab dalam Islam dikarenakan terjadi perbedaan dalam menafsirkan). Sebuah teori, bahwa yang namanya yakin adalah tidak perlu tau,tidak perlu penafsiran, tidak perlu mengerti, tidak perlu ada Tanya tidak perlu pemikiran ataupun teori. Sebagai contoh dalam Wudlu jika kentut maka batal dan setelah wudlu lagi maka kembali suci padahal yang untuk kentut tidak dibasuh sama sekali, jika dipikir malah menjadi bingung tapi jika yakin malah menjadi tenang. Akal dan pikiran hanya bisa menyelesaikan urusan dunia, sedangkan keyakinan hanya bisa diselesaikan oleh hati tanpa akal dan pikiran. – Pen.).
Sultan Bintara meminta keterangan mengenai rasa dari ilmu sejati yang terkandung dalam Al Qur’an, agar dijelaskan yang sejelas-jelasnya. Pangeran Panggung menjawab dengan sopan bahwa masalah tersebut adalah mudah dan sukar. Mudah bagi yang sudah terbuka dan sukar bagi yang belum terbuka. Ilmu yang paling sempurna adalah ilmu yang bisa mengenal dirinya sendiri yang menghantarkan untuk mengenal Tuhan-nya. Pertama mengetahui kematian diri dengan tujuan kepada keselamatan. Yang kedua mengetahui diri berasal dari mana. Adanya berasal dari tiada atau mengada karena dicipta oleh Sang Pencipta. Setiap diri adalah kosong belaka yang bernilai angka 0. Sedangkan Tuhan yang bersifat Esa bernilai angka 1(isi) sehingga apabila digabung pada mungkin ajaran manunggaling kawula gusti akan menjadi angka 10 (kosong tapi isi, isi tapi kosong Sun Go Kong) yang berarti sempurna. Adanya setiap diri karena ada yang menciptakan. Setiap orang yang berada di dunia hanya satu permasalahannya yaitu tidak berhak mempunyai kehendak. Hanya Allah sajalah yang Maha Berkehendak atas segala sesuatu. Dan setiap diri yang berada di dunia tidak mungkin ada dengan sendirinya. Raga beserta sukma, badan beserta nyawa semuanya adalah sebagai tandanya dari yang maha sempurna. Yang tidak mengetahui hal tersebut akan tersesat hidup didunia. Roh berasal dari Tuhan sebagai daya hidup yang menghidupi Nyawa. Roh itu urusan tuhan. Sedangkan nyawa adalah benih hidup yang mengandung daya hidup dari roh. Roh bergabung dengan nyawa menjadi sukma yang masih bersifat pasif. Sedangkan sukma bergabung dengan hawa nafsu dan keinginan diri akan menjadi jiwa yang bersifat aktif. (tambahan penerjemah dinukil dari Buku Sangkan Paraning Dumadi).
Setelah mendengar penuturan Pangeran Panggung, Sultan Bintara agak kesulitan memahaminya. Dengan suara pelan Sultan Bintara minta dijelaskan mengenai simbul Sholat yang berada dalam tubuh manusia yang ada hubungannya dengan ilmu chak
Pangeran panggung pelan menjawab tentang hubungan sholat dengan badan manusia, sebagai berikut :
2. Sholat Asar 4 roka’at, karena manusia mendapat anugrah sepasanga telaga kalkautsar dan punggung kanan kiri.
3. Sholat Maghrib 3 roka’at, karena manusia mendapat anugrah 2 lobang hidung dan satu buah mulut.
4. Sholat “Isya 4 roka’at, karena manusai mendapat anugrah dua telinga dan dua mata.
5. Sholat Shubuh 2 roka’at, karena manusia mendapat anugrah Roh dan Jasad. 6. Sedangkan Sholat Witir adalah sebagai perlambang dari dua buah alis manusia.
Sedangkan perbedaan waktu sholat karena disebabkan oleh beberapa kisah, sebagai berikut :
1. Sholat Subuh yang mempunyai kisah adalah Nabi Adam pada saat diturunkan dari Sorga berpisah dengan Siti Hawa, sehingga Nabi Adam sangat menderita karena tidak ada temannya. Nabi Adam bertobat, dan atas kemurahan Sang Maha Pencipta, Malaikat Jibril mengemban tugas dari Tuhan memerintahkan Nabi Adam untuk menjalankan Sholat dua roka’at. Nabi Adam menjalankan sholat dua roka’at bersamaan dengan waktu fajar. Ketika uluk salam kanan dan kiri, Siti Hawa sudah berada di sampingnya dan menjawab salam Nabi Adam.
2. Sholat Dhuhur yang mempunyai kisah adalah Nabi Ibrahim pada saat dibakar. Nabi Ibrahim bertobat sehingga diperintah Tuhan agar menjalankan Sholat 4 roka’at. Nabi Ibrahim Sholat sehingga mengakibatkan api padam.
3. Sholat Ashar yang mempunyai kisah adalah Nabi Yunus pada waktu berada di di dalam perut ikan paus. Setelah bertobat, Nabi Yunus mendapat perintah Tuhan agar menjalankan sholat 4 roka’at. Setelah Nabi Yunus menjalankan sholat, ikan paus tidak kuat dan hancurlah tubuhnya sehingga Nabi Yunus bisa keluar dari dalam perut ikan paus tersebut.
4. Sholat Maghrib yang mempunyai kisah adalah Nabi Nuh ketika dilanda banjir dan topan yang sangat besar. Nabi Nuh merasa salah dan bertobat, sehinnga Nabi Nuh diperintahkan menjalankan Sholat tiga roka’at sehingga air menjadi surut dan badai sirna.
5. Sholat Isha yang mempunyai kisah adalah Nabi Musa ketika kalah perang dengan Raja Arkiya. Setelah Nabi Musa Sholat Khajat. Nabi Musa mendapat perintah menjalankan Sholat empat roka’at sehingga Nabi Musa menang perang.
Panggung mengatakan dengan sopan kepada Sunan Bintara, bahwa anasir yang berjumlah 4, yang pertama adalah Anasir Allah terdiri dari Zat, Sifat, Asma dan Afngal. Zat adalah Wujud dari Allah sendiri. Dari segala sesuatu yang mengada adalah wujud dari Allah. Yang besar maupun yang kecil dari suatu wujud semuanya adalah milik Allah. Semua diri tidak mempunyai daya hidup. Hanya Allah-lah yang Maha Hidup. Sedangkan semua mahluk yang mempunyai daya hidup semuanya berasal dari Allah.
Yang ke dua adalah Sifat, yaitu segala bentuk yang nampak. Bentuk yang besar maupun yang kecil. Segala bentuk isi bumu dan langit hakekatnya tidak memiliki bentuk. Hanya Allah yang memiliki segala bentuk.
Sedangkan Asma adalah nama segala sesuatu. Isi bumi dan langit berbeda namanya akan tetapi hanya Allah-lah yang mempunyai nama yang sempurna.
Arti dari Afngal adalah perbuatan yang nampak. Semua isi bumi dan langit berbeda pekerjaannya. Semuanya tanpa gerak. Hanya Allah-lah yang kuasa atas segala gerak.
Telah habis anasirnya Allah, ganti yang dibicarakan yaitu mengenai anasir Roh yang juga berjumlah 4, masing-masing yaitu Wujud, Ilmu, Nur dan Suhud. Wujud adalah hidup yaitu hidup yang sejati. Sedangkan Ilmu adalah penegrtian atau pemahaman batin. Nur adalah Roh Illapi yaitu cahaya yang sangat terang. Sedangkan Suhud itu adalah cita-citanya batin.
Sedangkan anasir Kawula juga berjumlah 4, terdiri dari Bumi, Api, Angin dan air. Bumi menjadi Jasad. Api menjadi cahaya yang memancar. Angin menjadi napas. Sedangkan air menjadi darah dan cairan tubuh.
segala tingkah laku Pangeran Panggung, sehingga seluruh para wali tidak sadar bahwa Pangeran Panggung bersama kedua anjingnya pergi meninggalkan negeri Demak.
Sepeninggal Pangeran Panggung, Para Wali mempelajari isi dari Suluk Malangsumirang yang dipadukan dengan bermacam-macam ilmu, dan ternyata isi ajaran yang terkandung di dalam Suluk Malangsumirang benar adanya. Kemudian Sultan Bintara memerintahkan para prajuritnya untuk mencari Pangeran Panggung sampai ketemu agar diajak kembali ke keraton Demak. Setelah Pangeran Panggung bisa ditemukan dan mau diajak ke Demak, kemudian Pangeran Panggung mendapat julukan Sunan Geseng dikarenakan ketika Pangeran Panggung dibakar, dirinya tidak terbakar.
Cerita selanjutnya, Sultan Bintara memerintahkan para Wali agar membuat Kidung Kakawin dan menghimpun cerita jaman dahulu. Yang pertama kali membuat kidung adalah Sunan Giri yaitu membuat tembang Asmaradana. Kemudian Sultan Bintara memerintahkan agar tembang Asmaradana disebarluaskan kepada masyarakat banyak untuk dijadikan tetembangan. Dan semua hasil karya para Wali diberi nama Suluk Walisana atau Serat Walisana.
Sedangkan hitungan wuku pada jaman kuna masih tetap dilestarikan. Untuk penanggalan, nama hari dan pasaran, wuku dan dewanya, pandangon, paringkelan, widadari, petung paarasan, semuanya dirobah. Termasuk juga sengkala nabi pitu yang diberi nama panaasan. Kesemuanya bertujuan menyamai hitungan jaman dahulu. Termasuk juga hitungan pasangaran, pasangatan lima mengikuti saat waktu setiap hari. Sedangkan Dewa ari panca dicocokan dengan kitab nujum ramal, walaupun beda akan tetapi sama-sama mempunyai tanda baik ataupun buruknya hari yang berguna dalam ilmu filasat dan piyafat.
Sedangkan hitungan bayi lahir, wuku dan dewanya, termasuk kayu dan hitungan burung, candra perlambang serta pangapesan dan tulak paliyasan dirobah menjadi do’a agar lebih bermanfaat dalam keselamatan hidup sang bayi, termasuk tulak condong dan puji hari.
Masing-masing windu mempunyai watak sendiri-sendiri, yaitu Windu Adi yang berwatak api shingga dalam kurun waktu windu adi sering terjadi kecelakaan. Yang kedua windu Kuntara berwatak Angin, sehingga dalam kurun waktu ini banyak menimbulkan badai dan angin kencang. Yang ketiga Windu Sangara yang bersifat air, sehingga dalam kurun waktu windu ini sangat murah air. Yang ke empat windu Sancaya yang bersifat tanah, sehingga bisa menyebabkan banyak gempa karena bumi sering bergetar.
Sedangkan nama bulan juga dirobah dengan mengambil dari bahasa arab menjadi Mucharam, Sapar, Rabingulawal, Rabingulakir, Jumadilawal, Jumadilakir, Rajab, Sakban, Ramadhan, Sawal, Dulkangidah, Dulkijah, yang kesemuanya dicocokan dengan hari, wuku dan pasaran, pada setiap awal windu untuk mengetahui kejadian dalam kurun waktu satu windu.
Sedangkan untuk nama hari yang membuat adalah Sunan Ngampel mengambil dari bahasa arab, berawal dari Akhad (Minggu/Sun/Matahari), sebagai patokan awal hari, kemudain Sabtu, Jumungah, Kemis, Rebu, Salasa, dan Senen. Sunan Giri juga membuat hitungan dalam mencari rejeki, panjang dan pendeknya umur, Pal Nabi, Sri Sedana yang bergilir setiap 4 tahun sekali. Kemudain juga menghitung akibat dari terjadinya Gerhana Bulan dan Matahari, banjir, gempa dan peredaran komet. Setelah sempurna kemudian disebar kepada masyarakat untuk digunakan sebagai patokan.
Sebagai pembanding : Nama Wuku; 1. Shinta 2. Landhep 3. Wukir 4. Kuranthil 5. Tolu 6. Gumbreg 7. Warigalit 8. Warigagung 9. Julungwangi 10. Sungsang 11. Dangulan 12. Kuningan 13. Langkir 14. Mandhasia 15. Julungpujud 16. Pahang 17. Kuruwelut 18. Merakih 19. Tambir 20. Madangkungan 21. Maktal 22. Wuye 23. Prangbakat 24. Menail 25. Bala 26. Wugu 27. Wayang 28. Kulawu 29. Dhukut 30. Watugunung.
Sedangkan nama hari sebelum dirubah wali adalah : Aditya (ahad) Soma (Senin) Anggara (Selasa) Buddha (Rebo) Brehaspati (Kemis) Cukra (Jumungah) Sanaiccara (Sabtu).
Sedangkan nama bulan sebelum wali, menggunakan nama : Crawana, Bhadra, Asuji, Kartika, Magacira, Pocya, Magha, Phalguna, Cetra, Wecaka, Jestha dan Asadha. Setelah jaman Wali Nama Bulan pernah juga memakai Pranata Mangsa.
berikut : 1
.
Tithi : menurut hitungan kuna, satu bulan dibagi menjadi 2 yaitu tanggal 1 s/d 15 dinamakan Cuklapaksa, tanggal 16 s/d 30 Kresnapaksa. Tanggal 16 menurut hitungan kita sekarang ini jaman dahulu disebut tanggal 1 kresnapaksa, sedangkan tanggal 1 jaman sekarang , pada jama dahulu tetap tanggal 1 akan tetapi ditambahi dengan kata cuklapaksa. Hitungan tersebut dinamakan Tithi.
2 .
Sadwara hari, banyaknya 6 yaitu : Tunglai, Uwas, Mawulu, Paningron, Aryang dan Warukung.
3
. Triwara hari : banyaknya 3 yaitu : Dora, Wahya danByantara. 4
. Dwiwara hari, banyaknya 2 yaitu : Menga dan Pepet. 5
. Sangawara hari, banyaknya 9 yaitu : Dangu, Jangur,Gigis, Nohan, Wogan, Erangan, Urungan, Tulus dan dadi. Kesemuanya menunjukan bahwa ilmu Astronomi jawa pada jaman dahulu sudah sangat tinggi, sehingga para Astronom Barat dahulu menyebut bahwa di jawa sistim penanggalan sudah menggunakan system galaksi sedangkan syatem penanggalan yang ada didunia selain di jawa menggunakan system Bintang, atau menurut perederan matahri dan bulan berdasarkan kedudukan poros bumi kutub urata dan selatan yang miring sebesar 23 deraja, yang oleh para wali menjadi dasar perhitungan Pasaran, jumlah hari dalam satu tahun, dll yang berdasar pada peredaran bulan mengelilingi bumi. Dalam membuat hitungan hari dan Weton, para wali juga memakai dasar menggabungkan jumlah huruf arab ditambah satu huruf alif rahasia dan jumlah huruf jawa ditambah huruf ho rahasia dimana huruf arab berjumlah 30 ditambah 1 dan huruf jawa 20 ditambah 1 sehingga jumlahnya menjadi 52, dimana 5 hitungan weton dan nada dalam nada jawa, 2 adalah mahluk dan Tuhan, 5 ditambah 2 menjadi 7 menjadi jumlah hari dan seterusnya (Pen).
1. Sunan Giri
Mengarang tembang Asmarandana, mengandung maksud asmara kepada Nama-Nya Tuhan, Dana berarti memberi sehingga bermakna Sembah puji yang tiada henti kepada Tuhan.
2. Sunan Giri juga Mengarang tembang Sinom, mengandung maksud Nur Cahyaning urip yaitu sinar cahayanya hidup yang tidak pernah tua atau selamanya muda.
3. Sunan Majagung
Mengarang tembang Maskumambang, mengandung maksud sebagai lambangnya ilmu yang mengarahkan tekad dan kemantapan manusia kepada akhir tujuan hidupnya atau ilmu yang membuka gelap menjadi terang.
4. Sunan Kalijaga
Mengarang tembang Dandanggula, mengandung maksud yang bersifat menyenangkan sebagai lambang Pancaindra yaitu : mata yang pramana mengadakan kebijaksanaan dalam perbuatan, Telinga menjadikan kebebasan, hidung menjadikan kekuatan, Bibir menjadikan tercapainya kehidupan yang sempurna, yang terakhir (Bodya paliwaraning karsa) yang menjadikan manunggalnya Kawula dengan Gusti.
Sunan Kalijaga juga mengarang Suluk Kidung Pujian sebagai pralambang ilmu sejati, juga mengarang cerita jaman Majapahit, dengan tokoh Ki Sutakara sebagai simbul dusun Jombang. Juga mengarang Jaka Sumantri Pengging, Yang terakhir mengarang hitungan hubungan antara hari dengan siapa yagn mencuri bila ada orang kehilangan barang.
5. Sunan Benang mengarang tembang Durma yang bermakna macan/harimau. Yaitu sebagai lambang dari hawa nafsu manusia yang berjumlah 4. Yang pertama nafsu amarah berwarna merah. Yang kedua nafsu Luwamah yang berwana hitam. Yang ketiga nafsu Supiyah yang berwana kuning dan nafsu Mutmainah yang berwarna putih.
Sunan Benang juga mengarang cerita jaman majapahit dengan tokoh Damarwulan kawin dengan Ratuayu sehingga bisa muksa.
6. Sunan Muryapada
Mengarang tembang Pangkur yang berarti ekor, melambangkan ilmu yang berguna untuk membersihkan batin yang bersifat jelek atau nafsu amarah. 7. Sunan Giri Parapen dan Sunan Giri Kadaton
Mengarang tembang Megatruh, mengandung maksud ilmu tentang kematian yang sempurna.
8. Senan Gunungjati
Mengarang tembang Pucung, mengandung maksud panunggaling Kawula dengan Gusti.
dengan rajanya Sri Maesa Tandreman sampai berdirinya Majapahit. 9. Sunan Geseng
Mengarang tembang Mijil, mengandung maksud tajali dengan gusti.
Sunan Geseng juga mengarang cerita tentang Majapahit mulai Jaka Sujanma sampai dengan Brawijaya Katong yang bertempat di Dusun Dadapan.
Kesemuanya itu desebut tembang Macapat yang berasal dari tembang kawi yang pertama Sekar Ageng, kedua Slisir, ketiga Tengahan, ini yang asli dan yang terakhir murni karangan wali adalah macapat.. Macapat yang dimaksud adalah Mancarpat, dalam arti Manca adalah lima arpat Sumaos sehingga menghasilkan 5 nada dalam nada jawa, dimana tangga nada ini adalah penyempurnaan dari nada melayu yang digabung dengan nada Arab.
Sedang wali yang meninggalkan ajaran, sebagai berikut : 1.
Sunan Giri Kedaton ajarannya adalah Wisikan Ananing Dzat. Sunan di Tandes ajarannya adalah Wedaran Wahananing Dzat. Sunan Majagung ajarannya adalah Gelaran Kahananing Dzat.
Sunan Benang ajarannya adalah Pambukaning Tatamaghliga di dalam Bait al Makmur.
Sunan Muryapada ajarannya adalah Pambukaning Tata Maghliga di dalam Bait al Muaharram.
Sunan di Kalinyamat ajarannya adalah Pambukaning Tata Maghliga di dalam Bait al Mukadas.
Sunan Gunungjati ajarannya adalah Santosaning Iman. Sunan di Kajenar ajarannya adalah Sasahidan.
Kesemuanya yang tersebut di atas pada awal berdirinya Kerajaan Demak atau ajaran yang pertama. Sedangkan pada akhir kerajaan Demak para wali juga ada delapan yang meninggalkan ajaran. Yang termuat di dalam Wirid Hidayat Jati karangan Ronggo Warsito pada Bab Warahing Hidayat Jati, Perinciannya sebagai berikut : (Sebagai Pembanding)
1.
2.
Sunan Giri Perapen ajarannya adalah Wisikan Ananing Dzat. Yang berbunyi :
“Sejatine ora ana apa-apa, awit duk maksih awang uwung durung ana sawiji-wiji, kang ana dingin iku ingsun, ora ana Pangeran, anging Ingsun Sejatining Dzat Kang Amaha Suci anglimputi ing sifat ingsun, anartani ing ananingsun, amrantandani ing Af’alingsun”.
3.
“Sejati Ingsun Dzat Kang Amurba Amisesa Kang Kawasa anitahake sawiji-wiji dadi pada sanalika sampurna saka ing kudratingsun, ing kana wus kanyatahan pratandaning af’alingsun minangka bebukaning iradatingsun, kang dingin ingsun anitahake kayu, aran Sajaratu’lyakin, tumuwuh ing sajroning ‘alam ‘Adam makdum azali; nuli cahya, aran Nur Muhammad, nuli kaca, aran Miratu’lkayai; nuli nyawa, aran Roh Idlofi, nuli diyan aran kandil; nuli sesotya, aran darah, nuli dingdin jalal aran kijab, kang minangka warananing khadratingsun”.
Sunan Atasangin ajarannya adalah Gelaran Kahaning Dzat, yang berbunyi :
“Sejatine manusa iku rahsaningsun, lan ingsun iki rahsaning manusa Karana ingsun anitahake Adam, asal saking anasir patang prakara, 1. Bumi, 2. Geni, 3. Angin, 4. Banyu, iku dadi kawujudaning sifatingsun ing kono ingsun panjingi mudah limang prakara, 1. Nur, 2. Rahsa, 3. Roh, 4. Napsu, 5. Budi, iya iku minangka warananing Wajahingsun Kang Maha Suci”. sirah iku dimak, iya iku utek, kang ana ing antaraning utek iku manik, sajroning manik iku budi, sajroning budi iku napsu, sajroning nafsu iku sukma, sajroning sukma iku rahsa, sajroning rahsa iku Ingsun, ora ana Pangeran, Anging Ingsun Dzat kang anglimputi ing kahanan jati”.
Sunan Tembayat ajarannya adalah Pambukaning Tata Maghliga di dalam Bait al Muharram, atas ijin gurunya yaitu Sunan Kalijaga, yang berbunyi :
dada iku budi, sajronign budi iku jinem, iya iku angen angen, sajroning angen-angen iku suksma, sajroning suksma iku rahsa, sajroning rahsa iku Ingsun, ora ana Pangeran anging Ingsun Dzat kang anglimputi ing kahanan Jati”.
Sunan Padusan ajarnnya adalah Tata Maghliga di dalam Bait al Mukaddas, yang berbunyi :
“Sejatine Ingsun anata maghliga ana sajroning Bait al Mukaddas iku, omah enggoning pasuceningsun, jumeneng ana ing Kontoling Adam, kang ana ing sajroning kontol iku pringsilan, kang ana ing antaraning pringsilan iku nutfah, iya iku mani, sajroning mani iku madi, sajroning madi iku wadi, sajroning wadi iku manikem, sajroning manikem iku rahsa, sajroning rahsa iku Ingsun, Ora Ana Pangeran, anging Ingsun Dzat kang anglimputi ing kahanan jati, jumeneng nukat gaib tumurun dadi johar awal, ing kono wahaning ‘alam achadiyat, ‘alam wahdat, ‘alam wachidiyat, ‘alam warwah, ‘alam missal, ‘alam ajsam, ‘alam insane kamil, dadining manusa kang sampurna, iya iku sajatining sifatingsun”,
Sunan Kudus ajarannya adalah Panetep Santosaning Iman, yang berbunyi :
“Ingsun anakseni, satuhune ora ana Pangeran, anging Ingsun, lan anekseni Ingsun, satuhune Muhammad iku utusaningsun”.
Sunan Geseng ajarannya adalah Sasahidan, yang berbunyi :
apa-apa, mung Ingsun kang anglimputi ing alam kabeh kalawan kodratingsun”.
(Tamabahan penerjemah, dinukil dari Kitab Wirid Hidayat Jati karangan Ronggo Warsito).
Semua ajaran yang tersebut di atas makna yang hakiki adalah sama, sebab kesemuanya berasal dari Sunan Ngampel. Dan kesemuanya hanya untuk mempermudah dalam perinciannya berdasarkan Dalil, Khadis, Kiyas dan Ijmak. Kesemuanya disebabkan karena apabila menguraikan Dzat-Nya Tuhan, tidak ada kalimat yang bisa menguraikannya, sebab baik huruf, kata maupun kalimat adalah ciptaan-Nya sebagai Hijab bagi Tuhan Yang Maha Esa, termasuk juga semua nama adalah sebagai hijab bagi yang dinamai. Sebab Tuhan Sangat-sangat rahasia, tanpa warna tanpa bentuk, tidak laki-laki, tidak perempuan, dan tidak pula banci, serta tidak dibatasi oleh ruang, waktu ataupun masa, tidak bertempat, hanya ada di dalam cipta dan sasmita pada diri manusia yang waskita. Atau juga ajaran tersebut di atas bisa dipahami apabila, paling tidak sudah mengenal ilmu ma’rifat. Lebih mudah lagi apabila sudah mengenal ilmu di atas ilmu ma’rifat dimana ilmu ini dalam teori bisa dipelajari dari buku yang dikarang oleh Imam An Nafri yang berjudul Al Mawaqif Wa Muqothobat yang isinya sudah melampaui tingkat ilmu ma’rifat. Sebab dalam Islam orang ahli ilmu disebut Ulama, orang ahli ma’rifat disebut Arifin, sedangkan orang yang ahli melampau ilmu ma’rifat disebut Waqif. Buku-buku teori yang mengajarkan ilmu tingkat ma’rifat bisa dipelajari dari Buku peninggalan Ulama besar seperti; Syech Abdul Qadir Jilani, (Fat Al Rabbani, Fat Al Ghoib), Al Qusyairiyah dengan Risalahnya, Ibnu Abad dengan Surat-suratnya, Abnu Atha Illah dengan Kitab Al Hikamnya, Surahwardi Maqtul dengan empat Kitabnya, Al Halaj, Al Kalabazi dengan Risalahnya, Abu Tholib Maqi, dengan Qut Al Qulubnya, Fariduddin Al Atar dengan kisah para Sufinya, Jalaladin Rumi, Al Muhasysyibi dll, yang sudah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Sedangkan dalam ilmu jawa ajaran tersebut bisa dipahami bagi orang yang paling tidak telah mengenal Teori Ilmu Rasa atau Ilmu Sejati. Sebagian teorinya bisa dipelajari di Serat Jatimurti, Kaca Wiranggi, Madurasa dll.. Atau juga bisa dipahami bagi yang telah mengenal Teori Aqidah diatas Aqidah Tingkat Pertama. Tingkatan Aqidah dasar adalah Laaillaahaillallh. Tingkatan kedua adalah Laaillahaillahuwa (QS. Al Hasyir : 22-24, dll). Tingkatan ke tiga adalah Laaillahailla Anta (Qs. Al Ambiya : 87). Tingkatan ke empat adalah Rahasia. Tingkatan ke lima adalah Rahasia di atas Rahasia.
Kedelapan ajaran Wali di atas akan menimbulkan pertentangan dan permasalahan besar apabila diajarkan pada orang yang masih dalam tingkat ilmu Syari’at. (Tambahan penerjemah sendiri).
umatnya, yaitu Nabi Adam meninggalkan kitan 10 buah, Nabi Esis meninggalkan kitab 50 buah, Nabi Idris meninggalkan kitab 30 buah, Nabi Ibrahim meninggalkan kitab 10 buah, Nabi Musa meninggalkan kitab 1 buah yang benama Taurat, Nabi Dawud meninggalkan kitab 1 buah yang bernama Kitab Jabur, Nabi Isya meninggalkan kitab 1 buah yang bernama Injil, yang terakhir Nabi Muhammad meninggalkan kitab 1 buah yang bernama Al Qur’an.
Sedangkan Nabi yang meninggalkan ajaran syariat adalah sebagai berikut, yaitu Nabi Adam syairatnya menghalalkan menikahi saudara kandung, Nabi Nuh syariatnya menghalalkan memakan daging anjing, Nabi Ibrahim syariatnya menghalalkan minuman keras, Nabi Musa syariatnya membunuh harus dibunuh, Nabi Isya syariatnya dihukum mati tidak mati, Nabi Muhammad syariatnya laki-laki diperbolehkan menikahi wanita sampai berjumlah empat.
Nabi yang ajarannya menjadi agama berjumlah 6 yaitu, Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isya dan Nabi Muhammad, SAW.
Nabi Muhammad meninggalkan Kitab Al Qur’a, yang trdiri dari 30 jus, 114 ayat, Hatinya Al Qur’an 112, jumlah ayatnya 6.217 ayat, jumlah kalimatnya sebanyak 3.006.217.
Syurat yang bernama Al Fatihah mempunyai kepala yang terletak di Bismillah, sedangkan Kepalanya Bismillah ada di huruf Alif. Huruf Alif adalah sebagai sumber dari semua huruf yang berada di dalam Al Qur’an, yang bisa disebut juga sebagai Nur Muhammad.
Alif yang termuat di dalam Kitab Taurat disebut Alif Tamsur yang dalam Kitab Qur’an menjadi Jabar yang menunjukan Muhammadiyati. Di dalam Kitab Injil bernama Alif Istibah yang di dalam Qur’an menjadi Jer yang menunjukan Johar Muhammad, Di dalam Kitab Jabur bernama Mutakalimunwakit yang di dalam Qur’an menjadi Epes yang menunjukan penegasan Nabi Muhammad, di dalam Kitab Ambiya bernama Alif Kurupul yang di Qur’an menjadi Tanwin yang menunjukan Muhammadan Adan Sarpin. Kepalanya huruf Alif tempatnya ada di Iman, sebagai huruf gaib Sirullah.
Sedangkan Tatakrama aturan membaca Al Qur’an terbagi menjadi 1. Kiro’at, 2. Jais, 3. Matlajim, 4. Emat, 5. Jaka, 6. Hatartil, 7. Matmupasil, 8. Matmutamsil, 9. Billaghonah, 10. Mangaghonah, 11. Ilham, 12. Ilhar, 13. Ikhar, 14. Iklab, 15. Ilpa, 16. Ikpa, 17. Itikla, 18. Kalkalah. Kesemuanya itu disebut ilmu tata suara.
sebagai berikut :
ﺍ Terletak pada lekukan antara hidung dan mulut. Hanya manusia yang mempunyai lekukan tersebut, lainya tidak. Sehingga Imam yang tertinggi terletak pada manusia. Sedangkan makna huruf alif adalah bisa bermakna menguasai lahir dan batin
ﺐ Bibir bawah awal mula pembicaraan
ﺖ Lidah sampai sentil sehingga bertitik 2 sebagai sarana masuknya makanan dan minuman.
ﺚ Simbul dari Triloka yaitu Baital Makmur, Baital Mukharam dan Baital Mukadas. ﺝ Jantung awal mula keinginan tempatnya budi
ﺡ Hidup (urip) cahaya yang menghidupi budi juga berarti atma.. ﺥ Geraknya hidup yang menggerakan raga tempat panca indra yang
disebabkan oleh keinginan hati. ﺪ Dada sebelah kiri
ﺫ Dada sebelah kanan ﺮ Punggung Kiri ﺯ Punggung Kanan ﺱ Nafas yang suci ﺶ Rasa yang sejati
ﺺ Penglihatan inti mata (Pramana ening) ﺽ Penglihatan mata hati
ﻁ Hati yang terbuka
ﻆ Dambaan atau harapan suci (angen-angen jatining eling) ﻉ Lambung kiri
ﻍ Lambung tengen ﻑ Hati putih
ﻕ Mutmainah yang asli ﻙ Dada yang terang ﻞ - (Sawelah rehing kapti) ﻢ Kakinya sukma
ﻦ Tidak sirik ﻭ Pemberi rejeki
ﻫ Hidup yang tenang (Mungkul ing ngurip) ﻻ Tonggaknya badan
ﻪ Roh
ﻱ Djasad yang sejati.