• Tidak ada hasil yang ditemukan

SURVEY KONDISI SOSIAL EKONOMI RUMAH TANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "SURVEY KONDISI SOSIAL EKONOMI RUMAH TANG"

Copied!
60
0
0

Teks penuh

(1)

S

SU

UR

RV

VE

E

Y

Y

K

KO

ON

ND

DI

IS

SI

I

S

SO

O

SI

S

IA

AL

L

E

E

KO

K

ON

NO

OM

MI

I

RU

R

U

MA

M

AH

H

T

TA

AN

NG

GG

GA

A

K

K

U

U

L

L

I

I

A

A

H

H

K

K

E

E

R

R

J

J

A

A

L

L

A

A

P

P

A

A

N

N

G

G

A

A

N

N

I

I

I

I

P

PR

RO

O

GR

G

RA

AM

M

S

ST

TU

UD

DI

I

P

PE

EN

ND

DI

ID

DI

IK

K

AN

A

N

G

GE

EO

OG

GR

RA

AF

FI

I

I

I

K

K

I

I

P

P

P

P

G

G

R

R

I

I

P

P

O

O

N

N

T

T

I

I

A

A

N

N

A

A

K

K

P

P

R

R

O

O

G

G

R

R

A

A

M

M

S

S

T

T

U

U

D

D

I

I

P

P

E

E

N

N

D

D

I

I

D

D

I

I

K

K

A

A

N

N

G

G

E

E

O

O

G

G

R

R

A

A

F

F

I

I

I

INNSSTTIITTUUTT KKEEGGUURRUUAANN DDAANN IILLMMUU PPEENNDDIIDDIIKKAANN P

PEERRSSAATTUUAANN GGUURRUU RREEPPUUBBLLIIKK IINNDDOONNEESSIIAA

I

I

K

K

I

I

P

P

P

P

G

G

R

R

I

I

P

P

O

O

N

N

T

T

I

I

A

A

N

N

A

A

K

K

2

2

0

0

1

1

6

6

/

/

2

2

0

0

1

1

7

7

(2)

SURVEY KONDISI SOSIAL EKONOMI RUMAH TANGGA

KULIAH KERJA LAPANGAN II

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI

IKIP PGRI PONTIANAK

Oleh:

Galuh Bayuardi

Dian Equanti

Dan Kawan-Kawan

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI

INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA

(3)

DAFTAR ISI

Halaman

1. Pendahuluan 2

2. Objek Kajian KKL II 3

3. Kerangka Berpikir 5

4. Tujuan KKL II 6

5. Pelaksanaan KKL II 7

6. Teknik Pengumpulan Data 7

7. Data 9

8. Sumber Data 9

9. Metode Penelitian Survei 16

10. Definisi Operasional 19

11. Analisis dan Pengolahan Data 29

12. Menyimpulkan Hasil Penelitian 32

Daftar Pustaka 33

(4)

1. Pendahuluan

Kuliah Kerja Lapangan (KKL) merupakan bagian dari mata kuliah wajib dalam kurikulum pendidikan sarjana di Program Studi Pendidikan Geografi IKIP PGRI Pontianak. KKL dikemas dalam 2 mata kuliah wajib, yaitu KKL I dan KKL II masing-masing berbobot 2 SKS. KKL bertujuan memberi pengalaman lapangan dalam proses pengamatan dan pengumpulan data berbagai fenomena keruangan di permukaan bumi. KKL I bertujuan mengamati fenomena bentanglahan hasil interaksi komponen-komponen fisik di permukaan bumi, sedangkan KKL II mempelajari fenomena wilayah sebagai interaksi keruangan antara faktor manusia, lingkungan fisik yang membentuk keunikan suatu angan, kelingkungan dan kompleks wilayah.

(5)

2. Objek Kajian KKL II

Objek kajian KKL II secara umum bertema identifikasi kondisi sosial ekonomi dan potensi wilayah. Dasar pemilihan tema ini secara obyektif, bahwa identifikasi kondisi sosial ekonomi dan potensi wilayah merupakan dalam pengenalan gejala geosfer yang merupakan perhatian utama kajian geografi.

(6)

adalah gejala geosfer yang mampu mengancam eksistensi manusia dalam jumlah besar dan dalam waktu yang pendek.

Apabila dalam suatu wilayah muncul gejala tersebut maka gejala tersebut merupakan permasalahan penelitian yang sangat mendesak untuk dicarikan jawaban ilmiahnya sehingga dapat ditindaklanjuti dengan solusi atas gejala tersebut. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa permasalahan penelitian merupakan permasalahan wilayah. Oleh karena ancaman terhadap perikehidupan manusia di suatu wilayah dapat terjadi langsung maupun tidak langsung, maka seorang peneliti dapat meneliti penggalan dari proses panjag deteriorisasi lingkungan yang terjadi dalam upayanya mencari jawaban terhadap permasalahan wilayah. Hal ini mungkin disebabkan oleh keterbatasan waktu, biaya dan tenaga yang tersedia, sehingga peneliti harus membatasi wacana ilmiah yang akan dibangun. Hal ini sebabnya dikatakan bahwa suatu penelitian bersifat siklik, menimbulkan permasalahan baru yang perlu ditindaklanjuti oleh peneliti-peneliti lainnya.

(7)

multidimensional maka sangat tidak mungkin peneliti dapat meneliti keseluruhan aspek kehidupan manusia yang ada di suatu wilayah, maka peneliti dapat memfokuskan pada penggala permasalahan wilayah atau sub-problem. Misalnya, hanya menyoroti kerusakan lahan saja dengan meneliti (1) penyebab terjadinya kerusakan lahan, (2) proses terjadinya kerusakan lahan dan (3) dampak sosial-ekonomi kerusakan lahan sampai saat penelitian berlangsung. Penelitian lain mungkin lebih tertarik pada survival strategy yang menekankan pada kiat manusia dalam mengatasi penghasilan yang sangat rendah untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari yang semakin tinggi di wilayah yang mengalami kerusakan lahan. Selain contoh di atas masih banyak lagi sub-permasalahan wilayah yang dapat dikemukakan dalam kaitannya dengan munculnya ancaman terhadap eksistensi manusia dalam jangka panjang di wilayah yang bersangkutan. Dalam contoh di atas jelas terlihat bahwa permasalahan penelitian yang dikemukakan sekaligus juga merupakan permasalahan wilayah, karena gejala yang ada mungkin sudah, sedang atau diperkirakan akan menimbulkan dampak negatif terhadap perikehidupan manusia baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

(8)

panjang. Sumbangan mana akan berwujud sebagai temuan baru model baru, konsep baru, rumus baru, definisi baru, metode baru atau sumbangan lain yang berkaitan dengan pengembangan ilmu pengetahuan dan juga memberikan inspirasi baru bagi perumus dan penentu kebijakan pembangunan wilayah. Hal inilah sebabnya mengapa dalam setiap rancangan penelitian selalu diharapkan adanya rumusan mengenai kegunaan penelitian yang terkait dengan sumbangan teoretis dan sumbangan praktis pragmatis.

(9)

berkembang maka apa yang terjadi di USA belum tentu juga berlaku di negara berkembang.

Permasalahan penelitian dapat saja bukan merupakan permasalahan wilayah, namun merupakan permasalahan penelitia topical yang sangat menarik. Munculnya permasalahan peelitian yang memerlukan jawaban tersebut dilandasi oleh ketertarikan ilmiah peneliti terhadap suatu topik kajian tertentu (dapat merupakan teori, model, definisi, dalil atau konsep tertentu yang telah diuji kesahihannya di tempat lain/negara lain dengan latar belakang tertentu yang berbeda) dan ingin mengujinya di tempat lain yang berbeda. Jelas sekali bahwa temuan determinan perkembangan fisik kekotaan tersebut bukan merupakan permasalahan wilayah. Temuan yang dihasilkan sangat bermanfaat bagi para pemerhati perkotaan pada umumnya dan para perencana kota dan wilayah pada khususnya.

3. Kerangka Berpikir

(10)

kurangnya pemahaman mengenai perbedaan antara kerangka teori/pemikiran dengan landasan teori.

Kerangka teori adalah suatu bentuk scientific image yang diperoleh seorang peneliti terhadap konsep, variabel penelitian yang kemudian disusunnya dalam bentuk jalinan antar konsep, antar variabel dan antara variabel dan konsep dalam upayanya memberi jawaban ilmiah terhadap permasalahan penelitian yang telah dirumuskan. Konsep-konsep dan variabel-variabel mana telah diperolehnya setelah peneliti memperkaya pengetahuannya dari membaca buku-buku teks maupun hasil penelitian terdahulu. Suatu sistem yang di dalamnya terdiri dari konsep dan variabel yang terjalin sedemikian rupa sebagai suatu kesatuan yang utuh tersebut dianggap sebagai sebuah kerangka teori (theoretical framework). Penguasaan materi/substansi pengetahuan seorang peneliti dapat diketahui dari kerangka teori yang dibangunnya. Apakah jalinan antarvariabel, antarkonsep dan antara variabel dengan konsep benar-benar memenuhi persyaratan logis?

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa suatu kerangka teori/kerangka pemikiran harus memenuhi beberapa persyaratan, antara lain:

1) Suatu kerangka teori harus mencerminkan kesatuan sistem ilmiah yang solid (concise)

(11)

konsep dengan variabel yang diciptakan merupakan tanggung jawab ilmiah peneliti sepenuhnya.

3) Suatu kerangka teori menggambarkan jalinan antarkonsep, antarvariabel dan atau antara konsep dengan variabel;

4) Jalinan antarkonsep, antarvariabel dan antara konsep dengan variabel harus mencerminkan urutan cara berpikir yang sistematik;

5) Suatu kerangka pemikiran harus mencerminkan upaya untuk mencapai sasaran-sasaran penelitian baik sasaran antara maupun sasaran akhir, sehingga bentuk sistem kerangka berpikir yang diciptakan akan merupakan flow-chart.

4. Tujuan KKL II

Tujuan khusus dari kegiatan ini adalah melatih mahasiswa melakukan tahap penelitian survey untuk melakukan identifikasi kondisi sosial, ekonomi dan kebudayaan penduduk, yaitu dengan cara mengumpulkan data mengenai keadaan sosial, ekonomi, dan kebudayaan penduduk. Menyusun kuesioner; wawancara/pengumpulan data; data entry; editing; koding; tabulasi data; membuat tabel sampai pada analisis jika data yang tersedia memungkinkan atau memenuhi syarat untuk dianalisis lebih lanjut.

(12)

ilmu, dan pengetahuan.

5. Pelaksanaan KKL II

KKL II dijadwalkan pelaksanaannya setiap semester Ganjil menurut kurikulum berlaku di Program Studi Pendidikan Geografi IKIP PGRI Pontianak 2016/2017. Secara klasikal, KKL II diberikan dalam bentuk kuliah yang diisi materi pengenalan konsep, tujuan KKL, dan tema KKL pada periode pelaksanaan. Tema KKL dirumuskan bersamaan dengan penentuan lokasi KKL. Dengan alasan praktis pragmatis, lokasi KKL disesuaikan dengan kemampuan anggaran, aksessibilitas dan sumber daya peserta dan penyelenggara, baik mahasiswa maupun dosen pengampu. Setelah tema KKL II dan lokasi penelitian diputuskan, dosen pengampu menyusun instrumen pengambilan data. Penyelenggaraan KKL II diserahkan kepada mahasiswa sebagai panita sekaligus pelaksana. Panitia dengan berkonsultasi kepada dosen koordinator KKL II, bertanggungjawab atas teknis pelaksanaan KKL II, mulai dari alokasi anggaran, akomodasi, kebutuhan logistik, perlengkapan, alat ukur yang dibawa, izin penggunaan lokasi, dan lain sebagainya.

(13)

6. Teknik Pengumpulan Data

Penelitian selalu berkaitan dengan data. Data ini diperlukan sebagai bahan yang dianalisis untuk mencapai tujuan penelitian atau menjawab permasalahan penelitian. Dalam bahasan mengenai penelitian dikenal dua macam data, yaitu (1) data primer dan (2) data sekunder. Keduanya mempunyai peranan menentukan dalam setiap analisis penelitian dalam rangka menyusun penjelasan ilmiah terkait permasalahan penelitian yang telah dirumuskan. Penjelasan mengenai dua macam data ini dari sisi cara memperolehnya, dan ada juga yang menjelaskannya dari sisi kedekatannya dengan sumber data.

(14)

wartawan. Keterangan yang diperoleh wartawan berdasarkan wawancara dengan sopir adalah data primer, sementara itu keterangan yang diperoleh pembaca dari membaca laporan wartawan merupakan data sekunder. Ditinjau dari kedekatan sumber data, keterangan yang diperoleh dari wartawan adalah keterangan langsung dari sumbernya dan dianggap merupakan keterangan yang paling dekat dengan sumbernya, berupa fakta yang melekat pada pelakunya sendiri, sedangkan keterangan yang diperoleh pembaca berasal dari koran yang sangat mungkin terajdi distorsi pemahaman antara apa yang diketahui oleh wartawan dengan apa yang dicerna oleh pembaca. Keterangan yang diperoleh pembaca merupakan data sekunder karena apa yang diperoleh berasal dari sumber bukan pelakunya. Ditinjau dari segi cara memperoleh, pengetahuan yang diperoleh dari wartawan adalah keterangan yang diperoleh secara langsung dari sumber pertama (sopir yang mengalami kecelakaan) sedangkan keterangan yang diperoleh oleh pembaca diperoleh dari tulisan dalam surat kabar (sumber tidak langsung) dan disebut sebagai data sekunder. Dua pandangan tersebut melengkapi satu sama lain dalam menjelaskan perbedaan antara data primer dan data sekunder.

(15)

interpretasi model, (14) interpretasi berita surat kabar, (15) mempelajari buku teks, (16)mempelajari artikel majalah ilmiah, (17) interpretasi berita media elektronik, (18) mengakses internet, (19) mencatat laporan statistical, (20) metode triangulasi, (21) traversing, (22) mempelajari laporan pembangunan/penelitian.

7. Data

Jenis data yang akan dikumpulkan dalam kegiatan ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh dengan kegiatan survey yang dilakukan pada saat KKL II tersebut, yaitu yang diperoleh dari hasil wawancara kepada responden dengan menggunakan daftar pertanyaan atau kuesioner yang telah dipersiapkan (daftar kuesioner terlampir). Sementara itu, selain data primer dibutuhkan pula data sekunder yang diperoleh diperoleh dari catatan-catatan instansi terkait.

Data sekunder tersebut merupakan data yang sudah ada, yang sebelumnya dikumpulkan oleh instansi-instansi terkait. Data sekunder berupa data jumlah penduduk, komposisi, ataupun data monografi desa/kelurahan. Termasuk di dalamnya dat mengenai data tentang letak/lokasi; luas dan batas daerah; data penggunaan lahan; selain peta dan data lain yang diperlukan yang dari catatan kantor/instansi terkait.

(16)

Data primer diperoleh dari kepala rumah tangga ataupun kepala keluarga, yang menjadi sample responden survey KKL II ini, mengingat unit analisis dari Survei KKL II ini adalah satuan Rumah Tangga. Data Sekunder diperoleh dari dokumen, arsip-arsip kantor desa ataupun kecamatan di lokasi di mana KKL II tersebut dilakukan. Dalam wujud monografi desa/kelurahan, peta-peta lain, serta data yang relevan dari dokumen publikasi hasil pendataan penduduk yang dilakukan oleh Badan Statistik Indonesia atau BPS.

Data dikumpulkan dilapangan oleh peserta KKL II, dengan mengunjungi rumah tangga- rumah tangga di lokasi KKL II. Dengan kuesioner, peserta KKL II mewawancarai responden yang dijumpai. Selain data yang terkumpul dari data kuesioner, peserta juga mencatat wawancara jika data yang relevan tidak dapat diperoleh dari daftar pertanyaan dalam kuesioner. Selain itu dapat ditambahkan deskripsi keadaan, fenomena ataupun peristiwa yang “observable” (dilihat, didengar, dan dirasakan oleh peserta) yang kemudian dicatat dalam catatan lapangan. Dengan demikian, peserta akan menggunakan teknik pengumpulan data dengan cara komunikasi langsung dengan responden, dan observasi langsung di lokasi KKL tersebut.

Sebelum melakukan wawancara, peserta KKL II diharapkan mempelajari etika wawancara berikut agar tujuan memperoleh informasi dari responden dapat tercapai. Berikut diuraikan persiapan dan pelaksanaan wawancara bagi peneliti.

(17)

Wawancara adalah kegiatan pengumpulan data yang dilakukan peneliti dengan cara menanyakan secara langsung pada sumber informasi. Dalam hal ini, sumber informasi adalah penduduk yang dapat memberikan keterangan melalui media oral. Hal ini dapat dilakukansecara langsung dalam pengertian bahwa pewawancara (interviewer) dan yang diwawancara bertatap muka secara langsung, namun dapat dilakukan pula secara tidak langsung melalui media telekomunikasi (telepon, televisi). Dalam melakukan kegiatan wawancara ada dua hal penting yang perlu dipahami oleh pewawancara, yaitu (1) persiapan wawancara dan (2) pelaksanaan wawancara. Keduanya akan dijelaskan secara komprehensif dalam paragraph selanjutnya.

1.a)Persiapan wawancara

Wawancara adalah komunikasi dua arah antara pewawancara dan diwawancara secara langsung. Dalam melakukan kegiatan wawancara ada tata krama/ sopan santun yang harus dilakukan oleh pewawancara agar data yang diperoleh benar-benar dapat dipercaya atau sesuai dengan fakta yang sesuai dengan pemahaman diwawancara.

(18)

(1)memperkenalkan diri, (2) menjelaskan maksud kedatangan, (3)menjelaskan materi pokok wawancara dan (4) mengajukan pertanyaan. 1.b) Memperkenalkan Diri

Pada saat pewawancara bertemu dengan diwawancara tugas pertama adalah memperkenalkan diri disertai dengan menunjukkan kartu identitas diri yang dalam hal ini dapat menggunakan KTP, Kartu Mahasiswa atau kartu keterangan lainnya. Di samping itu adalah menunjukkan surat izin penelitian yang telah dilegalisir/diketahui/disetujui oleh pejabat yang berwenang untuk itu.

1.c) Menjelaskan Maksud Kedatangan

(19)

1.d) Menjelaskan Substansi Wawancara

Hal-hal yang berkaitan dengan materi wawancara perlu dikemukakan terlebih dahulu, agar diwawancara benar-benar siap secara psikologis menghadapi pertanyaan yang akan diajukan. Sebagai contoh adalah keadaan keluarga seperti pendidikan, pekerjaan, penghasilan, kepemilikan lahan, pertanian, perilaku mobilitas, keadaan rumah dan keadaan lingkungan. Dengan mengetahui materi pokok wawancara, diwawancara akan memperoleh gambaran umum dan diharapkan tidak muncul perasaan yang membebaninya seperti perasaan takut tidak bisa menjawab.

1.e) Mengajukan Pertanyaan

(20)

Teknik mengajukan pertanyaan juga harus diperhatikan agar kenyamanan diwawancara tetap terjaga. Mengajukan pertanyaan dalam hal penelitian ilmiah tidak boleh disamakan dengan cara polisi menginterograsi tersangka. Hal yang tidak boleh dilakukan adalah membebani diwawancara dengan hitung-hitungan yang terkadang sulit. Sebagai contoh apabila pewawancara menanyakan jumlah hasil pertanian yang diperoleh petani dalam satu musim pada diwawancara yang memiliki beberapa petak lahan dan salah satu petak untuk per satu kali tanam, misalnya 500 pikul untuk lahan seluas 1.850 meter persegi. Ditanyakan pula tentang ongkos pengolahan lahan, tanam, pemeliharaan, panen per kali tanam dan kemudian pewawancara menanyakan seberapa besar penghasilan bersih diwawancara dalam satu tahun untuk seluruh lahan-lahan yang dimilikinya. Hal-hal seperti ini tidak boleh dilakukan oleh pewawancara karena sangat membebani diwawancara, dan merupakan kewajiban peneliti untuk mengeditnya setelah berada di basecamp.

2) Pelaksanaan wawancara

Tiga hal penting yang perlu dipahami pewawancara dalam melaksanakan wawancara yaitu: (1) pemakaian bahasa yang dipahami diwawancara, (2) kepekaan pewawancara membaca situasi diwawancara dan lingkungannya, dan (3) kesantunan wawancara

2.a)Pemakaian Bahasa yang Dipahami

(21)

substansi yang ditanyakan. Untuk melaksanakan wawancara pada lingkungan etnis tertentu, sangat diharapkan bahwa pewawancara menguasai bahasa etnis yang bersangkutan. Penguasaan bahasa etnis sangat membantu dalam menjelaska materi pertanyaan dan peristilahan tertentu yang ditanyakan dan tidak dipahami sepenuhnya oleh diwawancara. Apabila hal ini sulit dipenuhi, ada baiknya pewawancara didampingi oleh orang lain yang dapat menjembatani antara pewawancara dan diwawancara.

2.b)Kepekaan Pewawancara terhadap Situasi Diwawancara

Dalam melaksanakan wawancara diharapkan bahwa pewawancara dapat bertatap muka secara langsung dengan diwawancara agar (a) dapat melihat situasi fisik diwawancara, (b) dapat mengamati situasi kejiwaan diwawancara dan (c) dapat mengamati lingkungan diwawancara. Ketiga hal tersebut memegang peranan yang menentukan terhadap validitas data yang diperoleh oleh peneliti. Kegiatan wawancara dapat berhasil apabila diwawancara berada dalam kondisi nyaman, tidak tertekan, rela, senang, bebas dalam situasi lingkungan yang menyenangkan.

2.b.1) Kondisi Fisik Diwawancara

(22)

2.b.2) Situasi Kejiwaan Diwawancara

Walaupun kondisi diwawancara dalam kondisi fisik-ragawi yang sehat, namun pada saat itu salah satu anggota keluarganya sedang mengalami musibah kecelakaan maka situasi kejiwaan diwawancara jelas tidak berada dalam kondisi yang baik untuk diwawancara. Dalm situasi ini pewawancara harus peka dan mengurungkan niatnya untuk melakukan wawancara, karena dapat mengakibatkan munculnya kesa kurang baik terhadap pewawancara pada khususnya, institusi asal pewawancara dan rekan-rekan pewawancara lainnya. Apabila wawancara dilakukan bukan oleh peneliti sendiri, tetapi oleh tenaga khusus (mahasiswa atau tenaga lain), maka peneliti harus melakukan pengarahan sebelum wawancara dilaksanakan baik mengenai materi wawancara maupun perilaku sebelum, sedang dan sesudah melaksanakan wawancara.

2.b.3) Situasi Lingkungan Diwawancara

(23)

sebenarnya, padahal suatu data adalah merupakan fakta lapangan berdasarkan persepsi seseorang yang terpilih sebagai diwawancara.

Apabila peneliti meminta pihak lain untuk melakukan wawancara maka peneliti harus memerhatikan kualifikasi pewawancara dalam tiga hal, yaitu: (1) latar belakang pendidikan, (2) pengalaman wawancara dan (3) relevansi latar belakang pewawancara dengan bidang yang diteliti.

Latar belakang pendidikan mempunyai peranan yang menentukan terhadap hasil wawancara seseorag ditentukan oleh tingkat pendidikan. Kemampuan memahami/menginterpretasikan kalimat-kalimat yang telah dirumuskan dalm questionnaire bagi mereka yang telah pernah mengenyam pendidikan tinggi jelas akan jauh lebih mapan.

Seorang pewawancara yang berpengalaman akan memiliki pengetahuan yang banyak terkait dengan diwawancara dan teknik-teknik mengatasi permasalahan yang dihadapi di lapangan selama kegiatan wawancara. Apabila memungkinkan, sebaiknya pewawancara memiliki latar belakang pendidikan yang relevan dengan objek kajian. Misalnya wawancara dengan masyarakat dalam bidang kajian konservasi lahan. Sangat mungkin terjadi bahwa masyarakat tidak memahami istilah konservasi lahan dan pewawancara mempunyai kewajiban untuk menjelaskannya dalam bahsa yang dapat dimengerti oleh diwawancara. Hal ini hanya mungkin dilaksanakan oleh mereka yang mempelajarinya.

(24)

penelitian keduanya merupakan sumber data karena memberikan keterangan yang diperlukan oleh peneliti, keduanya menjawab pertanyaan yang diajukan peneliti. Responden dipilih berdasarkan pertimbangan metodologis yang secara khusus mencerminkan derajat keterwakilan terhadap populasi, sedangkan informan dipilih berdasarkan derajat keterwakilannya dengan objek kajian dan bukan berdasarkan derajat keterwakilan terhadap populasi. Keduanya dibedakan karena terkait dengan substandi penelitian (dari tinjauan metodologis) dan permasalahan penelitian. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pada responden terkait langsung dengan upaya untuk memberikan jawaban ilmiah terhadap permasalahan penelitian sedangkan pertanyaan yang diajukan pada informan adalah hal-hal yang bersifat member kejelasan yang lebih baik, konfirmatif terhadap jawaban yang diberikan oleh responden.

2.b.4) Kesantunan Wawancara

Seorang pewawancara harus berlaku santun. Sangat tidak dibenarkan pewawancara bertindak menggurui dalam segala hal walaupun latar belakang jenjang pendidikan dan pemahaman mengenai hal yang ditanyakan jauh lebih tinggi dari pada diwawancara. Menciptakan suasana kekeluargaan dan keakraban serta cara mengajukan pertanyaan dan komentar yang santun adalah modal utama untuk memperoleh jawaban yang benar.

3) Daftar Pertanyaan (Questionaires)

(25)

dalam upayanya memberikan jawaban ilmiah terhadap permasalahan yang telah dirumuskan. DP perlu dibedakan dengan apa yang disebut dengan pedoman wawancara (interview guide). Dalam penelitian mendalam (indepth interview) suatu pedoman wawancara sangat diperlukan, agar pewawancara tidak kehilangan orientasi wawancaranya sendiri. Hal Ini sangat sering terjadi karena saking asyiknya seseorang melakukan wawancara, kemudian terseret pada masalah-masalah actual yang sebenarnya bukan merupakan substansi penelitian.

Dalam DP semua pertanyaan telah dirumuskan sedemikian rupa dan pewawancara tinggal melaksanakannya sesuai dengan rumusan yang telah ada. Beberapa literatur membedakan DP ini menjadi dua macam, yaitu apabila DP tersebut diisi oleh responden sendiri disebut sebagai questionnaires namun apabila DP tersebut diisi oleh bukan responden disebut schedule. Petugas yang mengisi daftar pertanyaan tersebut disebut enumerator. Oleh karena kedua macam pembedaan DP tersebut kurang memberikan kejelasan makna

9. Metode Penelitian Survei

(26)

dengan karakteristik objek yang dicerminkan dari karakteristik data akan dibahas pada paragraph awal. Untuk lebih memahami makna keduanya dengan lebih mendalam maka beberapa peristilahan utama dalam metode ini akan dikemukakan terlebih dahulu.

(27)

methods (especially questionnaires) from sample surveys to full censuses. The aim is to supply information of descriptive, explanatory, predictive or evaluative nature which is not available from other sources. Ada dua catatan penting yang dapat dikemukakan yaitu berkenaan dengan alat pengumpul data dan keterkaitannya dengan populasi.

(28)

sebagainya. Kuesioner maupun dafatr isian merupakan alat untuk mengumpulkan data dalam koridor keajegan dan pada umumnya meliputi jumlah item dan variabel yang banyak. Validitas data sangat tergantung pada kemampuan pengumpul data di lapangan baik untuk objek manusia maupun objek benda. Kemampuan memperoleh data yang akurat ditentukan oleh latar belakang ilmu dan pengalamannya.

(29)
(30)

masa kini adalah menggabungkan teknik deskriptif-kualitatif dan analitik-kuantitatif (Whynne-Hammond, 1985; Brannen, 2005 dalam Yunus, 2010 : 312). Penelitian yang menggabungkan dua macam teknik analisis ini membutuhkan pengetahuan yang memadai mengenai teknik-teknik statistik dan matematik serta pengetahuan yang luas dan referensi yang banyak berkenaan dengan objek kajian. Bahan bacaan pendukung yang banyak benar-benar dibutuhkan oleh peneliti agar analisisnya menjadi komprehensif dan tajam. Berdasarkan hal tersebut dalam metode survey dikenal dua macam metode yaitu metode survey deskriptif (descriptive survey method) dan metode survey analitis (analytical survey method).

10. Definisi Operasional

Definisi operasional merupakan batasan penggunaan istilah-istilah yang digunakan atau dioperasionalkan dalam penelitian. Tujuan pembatasan ini agar peneliti dapat memfokuskan penelitian pada tujuan yang ingin dicapai, yang oleh karenanya perlu memilih data, serta metode analisis yang sesuai.

Berikut ini definisi operasional yang digunakan dalam pengumpulan data sosial ekonomi KKL II Program Studi Pendidikan Geografi IKIP PGRI Pontianak. Penambahan definisi baru dimungkinkan sesuai dengan tujuan penelitian KKL II.

(31)

Lokasi diartikan sebagai suatu tempat di mana terjadi berbagaimacam aktivitas, baik itu aktivitas ekonomi, dan aktivitas interaksi manusia dengan sesamanya ataupun dengan lingkungannya.

Unit analisis dalam survey ini adalah rumah tangga. Kuesioner ini digunakan mahasiswa sebagai instrumen pengumpulan data sosial ekonomi. Data yang dikumpulkan terdiri dari 3 macam, yaitu data sosial demografi, ekonomi, kondisi tempat tinggal, dan akses informasi. Data demografi yang dikumpulkan dalam survey sosial ekonomi ini menggambarkan jumlah anggota rumah tangga, komposisi anggota rumah tangga, lama tinggal, beban tanggungan, dan anggota rumah tangga yang bekerja.

b) Rumah Tangga. Definisi rumah tangga diambil dari konsep BPS sebagai berikut:

Rumah tangga dibedakan menjadi dua, yaitu :

- Rumah Tangga Biasa (Ordinary Household) adalah seorang atau sekelompok orang yang mendiami sebagian atau seluruh bangunan fisik, dan biasanya tinggal bersama dan makan dari satu dapur.

(32)

Rumah tangga : seseorang atau sekelompok orang yang biasanya tinggal bersama dalam suatu bangunan serta pengelolaan makan dari satu dapur. Satu dapur dapat terdiri dari hanya satu anggota rumah tangga. Yang dimaksud makan dari satu dapur adalah jika pengurusan kebutuhan sehari-harinya dikelola bersama-sama menjadi satu. Ada bermacam-macam bentuk rumah tangga biasa, di antaranya :

 Orang yang tinggal bersama istri dan anaknya;

 Orang yang menyewa kamar atau sebagian bangunan sensus dan mengurus makannya sendiri;

 RT yang menerima pondokan dengan makan (indekos) yang pemondoknya kurang dari 10 orang.

 Pengurus asrama, panti asuhan, lembaga permasyarakatan dan sejenisnya yang tinggal sendiri maupun bersama anak, istri, serta anggota rumah tangga lainnya, makan dari satu dapur yang terpisah dari lembaga yang diurusnya;

 Masing-masing orang yang bersama-sama menyewa kamar atau sebagian bangunan sensus tetapi mengurus makannya sendiri-sendiri.

(33)

tempat tinggal lebih dari satu, hanya dicatat di salah satu tempat tinggalnya di mana ia berada paling lama. Khusus untuk krt yang mempunyai kegiatan/usaha di tempat lain dan pulang ke rumah istri dan anak-anaknya secara berkala (setiap minggu, setiap bulan, setiap 3 bulan) tetapi kurang dari 6 bulan, tetap dicatat sebagai krt di rumah istri dan anak-anaknya.

d) Anggota Rumah TanggaAnggota rumah tangga (art) adalah semua orang yang biasanya bertempat tinggal di suatu rumah tangga (krt, suami/istri, anak, menantu, cucu, orang tua/mertua, famili lain, pembantu rumah tangga atau art lainnya), baik yang berada di rumah tangga responden

maupun sementara tidak ada pada waktu pencacahan.

Orang yang telah tinggal di rumah tangga responden 6 bulan atau lebih atau yang telah tinggal kurang dari 6 bulan tetapi berniat pindah/bertempat tinggal di rumah tangga tersebut 6 bulan atau lebih

dianggap sebagai art.

Pembantu rumah tangga atau sopir yang hanya makan atau tinggal saja di

rumah majikannya dianggap bukan art majikannya.

Istri/suami adalah istri/suami dari krt. Anak mencakup anak kandung, anak tiri, dan anak angkat krt. Menantu adalah suami/istri dari anak kandung, anak tiri, atau anak angkat.

Mantan menantu yang ada hubungan famili dicatat sebagaimana status

hubungan dengan krt sebelum menikah.

(34)

Orang tua/mertua adalah bapak/ibu dari krt atau bapak/ibu dari

istri/suami krt.

Famili lain adalah mereka yang ada hubungan famili dengan krt atau dengan istri/suami krt, misalnya adik, kakak, bibi, paman, kakek, atau nenek.

Pembantu rumah tangga adalah orang yang bekerja sebagai pembantu yang menginap/ tinggal dan makan di rumah tangga responden tersebut dengan menerima upah/gaji baik berupa uang/barang, misalnya famili yang dipekerjakan sebagai pembantu (diberi upah/gaji), anak pembantu rumah tangga yang ikut tinggal dalam rumah tangga responden dan diperlakukan sebagai pembantu rumah tangga. Art lainnya adalah orang yang tidak ada hubungan famili dengan krt atau istri/suami krt yang berada/berniat tinggal di rumah tangga responden tersebut lebih dari 6 bulan, misalnya tamu, teman dan orang yang mondok dengan makan (indekos), mantan menantu yang tidak ada hubungan famili dengan krt, anak pembantu rumah tangga yang ikut tinggal dalam rumah tangga responden tetapi tidak diperlakukan sebagai pembantu rumah tangga, sopir yang makan dan menginap di rumah majikannya. Bukan art adalah art yang telah bepergian 6 bulan atau lebih, dan art yang bepergian kurang dari 6 bulan tetapi dengan tujuan pindah/akan meninggalkan rumah 6 bulan atau lebih.

(35)

dan kewirausahaan. Rumah tangga menjual atau mengelola faktor-faktor produksi tersebut untuk memperoleh balas jasa. Balas jasa atau imbalan tersebut adalah upah, sewa, bunga dividen, dan laba yang merupakan

komponen penerimaan atau pendapatan rumah tangga.

Penerimaan lain yang mungkin diperoleh rumah tangga adalah transfer (pemberian cuma-cuma), perkiraan pendapatan (imputasi) dari rumah milik rumah tangga tersebut yang ditempati sendiri atau ditempati pihak lain dengan bebas sewa, dan hasil produksi barang/jasa dari kegiatan yang tidak digolongkan sebagai kegiatan usaha rumah tangga. Transfer yang diterima berasal dari pemerintah, badan usaha, lembaga nirlaba, rumah

tangga lain, maupun dari luar negeri.

Ada dua cara penggunaan pendapatan. Pertama, membelanjakannya untuk barang-barang konsumsi. Kedua, tidak membelanjakannya seperti ditabung. Pengeluaran konsumsi dilakukan untuk mempertahankan taraf hidup. Pada tingkat pendapatan yang rendah, pengeluaran konsumsi umumnya dibelanjakan untuk kebutuhan-kebutuhan pokok guna memenuhi kebutuhan jasmani. Konsumsi makanan merupakan faktor terpenting karena makanan merupakan jenis barang utama untuk mempertahankan kelangsungan hidup. Akan tetapi terdapat berbagai macam barang konsumsi (termasuk sandang, perumahan, bahan bakar, dan sebagainya) yang dapat dianggap sebagai kebutuhan untuk menyelenggarakan rumah tangga. Keanekaragamannya tergantung pada tingkat pendapatan rumah tangga. Tingkat pendapatan yang berbeda-beda

(36)

Apabila penerimaan rumah tangga dikurangi dengan pengeluaran untuk konsumsi dan untuk transfer, maka diperoleh nilai tabungan rumah tangga. Kalau perilaku konsumsi memperlihatkan dasar pendapatan yang dibelanjakan, maka tabungan adalah merupakan unsur penting dalam proses pertumbuhan dan pembangunan ekonomi. Tabungan memungkinkan terciptanya modal yang dapat memperbesar kapasitas produksi perekonomian. Untuk dapat melihat apa yang dilakukan rumah tangga responden atas tabungannya dibutuhkan data tabungan seperti yang disimpan di bank atau koperasi, jumlah investasi, serta transaksi

keuangan lainnya.

Kenyataannya, selisih penerimaan dengan pengeluaran rumah tangga responden ada yang negatif (defisit), sehingga dalam membiayai pengeluaran dan investasinya diperlukan pinjaman (hutang), maka rumah tanggapun ada yang berhutang, dan ada yang meminjamkan uang (piutang). Jadi selain dari tabungan, sumber dana investasi dapat berasal dari pinjaman. Disamping itu, ada pula rumah tangga responden yang melakukan kegiatan di pasar uang atau di pasar modal sehingga terjadi transaksi finansial (keuangan) antar rumah tangga maupun dengan sektor ekonomi lain. Investasi finansial dapat berupa uang tunai, simpanan di

bank, dan pemilikan surat berharga.

(37)

Sedangkan dalam hal pendapatan, ada rumah tangga responden yang pendapatannya dari upah/gaji saja, dari usaha saja, atau dari gabungan keduanya. Bahkan ada yang dari selain keduanya, misalnya dari pensiun, bagi hasil, dan sebagainya. Hal ini tergantung dari keaktifan krt/art dalam kegiatan ekonomi. Sehubungan dengan hal-hal yang disebutkan tadi, maka untuk mengukur penerimaan dan pengeluaran rumah tangga responden secara lengkap perlu diperhatikan bahwa:

a. Selain data komponen pengeluaran bersama di rumah tangga, juga harus ikut dicatat pengeluaran masing-masing art.

b. Selain data pendapatan dari usaha bersama, juga harus ikut dicatat penerimaan masing-masing art yang telah berpenghasilan.

Penerimaan maupun pengeluaran dari transaksi keuangan, misal: tabungan, utang, pinjaman uang tidak dicatat.

f) Referensi Waktu

(38)

Caranya antara lain dengan memperkirakan konsumsi yang biasanya, atau dihitung sama dengan pengeluaran art lainnya. Perkiraan konsumsi krt/art yang bepergian dicatat sebagai konsumsi makanan jadi.

Referensi waktu konsumsi bukan makanan Pengeluaran sebulan terakhir adalah pengeluaran konsumsi yang betul-betul dikeluarkan selama sebulan terakhir, bukan pengeluaran selama 12

bulan/setahun terakhir dibagi 12.

Pengeluaran 12 bulan terakhir adalah betul-betul dikeluarkan selama 12 bulan terakhir yang berakhir pada sehari sebelum pencacahan atau 12

bulan kalender.

Pengeluaran 12 bulan terakhir berarti mencakup pengeluaran sebulan terakhir, sebaliknya pengeluaran 12 bulan terakhir belum tentu

dikeluarkan dalam periode sebulan terakhir.

Untuk pembelian barang atau jasa yang sudah dikonsumsi tetapi pembayaran belum dilakukan, tetap dicatat sebagai pengeluaran. Sebaliknya bila pembelian dan pembayaran sudah dilakukan tetapi barang atau jasa belum dikonsumsi, maka pembayaran tersebut jangan dicatat

sebagai pengeluaran.

Dalam kasus tertentu seperti rumah tangga yang menyewa rumah atau rumah tangga yang berkewajiban membayar pajak, mungkin sebulan terakhir belum melakukan pembayaran, maka pengeluaran tersebut tetap diperhitungkan, baik untuk pengeluaran sebulan terakhir maupun 12 bulan terakhir.

(39)

konsumsi

Sebulan terakhir adalah jangka waktu sebulan yang berakhir sehari

sebelum tanggal pencacahan.

Setahun atau 12 bulan terakhir adalah jangka waktu setahun atau 12 bulan kalender yang berakhir sehari sebelum tanggal pencacahan. Pengeluaran rata-rata per kapita adalah biaya yang dikeluarkan untuk konsumsi semua anggota rumah tangga selama sebulan baik yang berasal dari pembelian, pemberian maupun produksi sendiri dibagi dengan banyaknya anggota rumah tangga dalam rumah tangga tersebut.. Konsumsi rumah tangga dibedakan atas konsumsi makanan maupun bukan makanan tanpa memperhatikan asal barang dan terbatas pada pengeluaran untuk kebutuhan rumah tangga saja, tidak termasuk konsumsi/pengeluaran untuk keperluan usaha atau yang diberikan kepada

pihak lain.

Pengeluaran untuk konsumsi makanan dihitung selama seminggu yang lalu,sedangkan untuk bukan makanan dihitung selama sebulan dan 12 bulan yang lalu. Baik konsumsi makanan maupun bukan makanan selanjutnya dikonversikan ke dalam pengeluaran rata-rata sebulan. Angka-angka konsumsi/pengeluaran rata-rata per kapita yang disajikan dalam publikasi ini diperoleh dari hasil bagi jumlah konsumsi seluruh rumah tangga (baik mengkonsumsi makanan maupun tidak) terhadap jumlah penduduk.

(40)

adalah tempat berlindung yang mempunyai dinding, lantai, dan atap baik tetap maupun sementara, baik digunakan untuk tempat tinggal maupun bukan tempat tinggal. Bangunan yang luas lantainya kurang dari 10 m2 dan tidak digunakan untuk tempat tinggal dianggap bukan bangunan fisik. h) Status Penguasaan Tempat Tinggal

Milik sendiri, jika tempat tinggal tersebut pada waktu pencacahan betul-betul sudah milik krt atau salah satu seorang art. Rumah yang dibeli secara angsuran melalui kredit bank atau rumah dengan statussewa beli dianggap sebagai rumah milik sendiri.

Kontrak, jika tempat tinggal tersebut disewa oleh krt/art dalam jangka waktu tertentu berdasarkan perjanjian kontrak antara pemilik dan pemakai, misalnya 1 atau 2 tahun. Cara pembayarannya biasanya sekaligus di muka atau dapat diangsur menurut persetujuan kedua belah pihak.  Sewa, jika tempat tinggal tersebut disewa oleh krt atau salah seorang art

dengan pembayaran sewanya secara teratur dan terus menerus tanpa batasan waktu tertentu.

Bebas sewa milik orang lain, jika tempat tinggal tersebut diperoleh dari pihak lain (bukan famili/orang tua)dan ditempati/didiami oleh rt tanpa mengeluarkan suatu pembayaran apapun.

(41)

Rumah dinas, jika tempat tinggal tersebut diperoleh dari pihak lain (bukan famili/orang tua) dan ditempati/didiami oleh rt tanpa mengeluarkan suatu pembayaran apapun.

Lainnya, jika tempat tinggal tersebut tidak dapat digolongkan ke dalam salah satu kategori di atas, misalnya tempat tinggal milik bersama, rumah adat.

i) Atap

adalah penutup bagian atas suatu bangunan sehingga krt/art yang mendiami di bawahnya terlindung dari terik matahari, hujan dan sebagainya. Untuk bangunan bertingkat, atap yang dimaksud adalah bagian teratas dari bangunan tersebut.

Beton adalah atap yang terbuat dari campuran semen, kerikil, dan pasir yang dicampur dengan air.

Genteng adalah tanah liat yang dicetak dan dibakar. Termasuk pula genteng beton (genteng yang terbuat dari campuran semen dan pasir), genteng fiber cement, dan genteng keramik.

Sirap adalah atap yang terbuat dari kepingan kayu yang tipis dan biasanya terbuat dari kayu ulin atau kayu besi.

Seng adalah atap yang terbuat dari bahan seng. Atap seng berbentuk seng rata, seng gelombang, termasuk genteng seng yang lazim disebut decrabond (seng yang dilapisi epoxy dan acrylic).

(42)

Ijuk/rumbia adalah atap yang terbuat dari serat pohon aren/enau atau sejenisnya yang umumnya berwarna hitam.

Lainnya adalah atap selain jenis atap di atas, misalnya papan, bambu, dan daun-daunan.

j) Dinding adalah sisi luar/batas dari suatu bangunan atau penyekat dengan bangunan fisik lain.

Tembok adalah dinding yang terbuat dari susunan bata merah atau batako biasanya dilapisi plesteran semen. Termasuk dalam kategori ini adalah Dinding yang terbuat dari pasangan batu merah dan diplester namun dengan tiang kolom berupa kayu balok, yang biasanya berjarak 1 - 1,5 m;  Kayu adalah dinding yang terbuat dari kayu;

Bambu/rumbia adalah dinding yang terbuat dari bambu atau rumbia. Termasuk dalam kategori ini adalah dinding yang terbuat dari anyaman bambu dengan luas kurang lebih 1 m x 1 m yang dibingkai dengan balok, kemudian diplester dengan campuran semen dan pasir.

Lainnya adalah selain kategori 1-3.

k) Lantai adalah bagian bawah/dasar/alas suatu ruangan, baik terbuat dari marmer, keramik, granit, tegel/teraso, semen, kayu, tanah dan lainnya seperti bambu.

l) Sumber Penerangan terbagi menjadi:

 Listrik PLN adalah sumber penerangan listrik yang dikelola oleh PLN.  Listrik non-PLN adalah sumber penerangan listrik yang dikelola oleh

(43)

penerangan dari accu (aki), generator, dan pembangkit listrik tenaga surya (yang tidak dikelola oleh PLN).

 Petromak/aladin adalah sumber penerangan dari minyak tanah seperti petromak/lampu tekan, dan aladin (termasuk lampu gas).

 Pelita/sentir/obor adalah lampu minyak tanah lainnya (lampu teplok, sentir, pelita, dan sejenisnya)

 Lainnya seperti Lampu karbit, lilin, biji jarak, dan kemiri.

m) Akses Informasi

Mendengarkan radio adalah kegiatan meluangkan waktu dan perhatian untuk mendengarkan atau mengikuti siaran radio dari salah satu atau beberapa acara yang disajikan.

Membaca Surat Kabar/Majalah adalah pernah membaca setidak-tidaknya satu artikel di surat kabar atau majalah dan biasanya mengetahui/mengerti isi artikel tersebut.

Menonton Televisi adalah kegiatan meluangkan waktu dan perhatian untuk menonton salah satu atau beberapa acara yang disajikan dalam televisi sehingga mengerti dan menikmatinya

11. Analisis Dan Pengolahan Data 11.a. Tahap Pengolahan Data

(44)

jelas, (apabila peneliti menggunakan kuesioner) membuat tabel-tabel yang diperlukan dalam bentuk gambar atau peta. Oleh karena data penelitian pada umumnya sangat banyak maka diharapkan tersedia ruangan khusus untuk penyimpanan data dan pengolahannya. pekerjaan yang terkait dengan pengolahan data terkadang memerlukan banyak asisten penelitian sehingga peneliti dituntut untuk mampu mengelola kegiatan dengan baik agar pelakasanaannya dapat dilakukan dengan lancer dan tepat waktu.

Pengolahan data minimal meliputi tahap editing, koding, dan tabulasi. Penjelasan masing-masing tahap diuraikan sebagai di bawah ini. 1) Editing

Editing yaitu meneliti kembali data yang telah diperoleh dari kuesioner, dengan cara menilai apakah data tersebut cukup baik dan relevan untuk diproses lebih lanjut. Hal yang perlu dicermati adalah : kelengkapan pengisian kuesioner, keterbacaan tulisan, relevansi jawaban dengan pertanyaan, dan keseragaman satuan.

2) Koding

Data yang telah diedit kemudian diklasifikasi menurut macamnya. Sebelum data diproses dengan program komputer, data tersebut harus diubah ke dalam bentuk numerik/angka. Proses pengubahan data kualitatif menjadi data angka atau numerik ini yang dinamakan koding (Santoso dan Tjiptono, 2004).

3) Tabulasi

(45)

berisikan data sesuai analisa yang dibutuhkan. Tujuannya adalah mengelompokkan data ke dalam tabel frekuensi yaitu untuk memperoleh gambaran yang jelas dan sistematis mengenai peristiwa yang dinyatakan dalam angka.

Secara garis besar bentuk tabel ada dua macam, yaitu : a) Tabel searah

Jenis tabel ini mengelompokkan data berdasarkan satu informasi atau satu kriteria tertentu. Contoh :

Tabel 1. Contoh Tabel Searah

Frekuensi Persentase (%) variabel

b) Tabel silang

Jenis tabel ini digunakan untuk mengelompokkan data berdasarkan dua kriteria atau lebih

Contoh

Tabel 2. Contoh Tabel Silang

Variabel Y Variabel X

(46)

Tahap analisis adalah kegiatan yang tidak dapat diwakilkan pada orang lain, tetapi harus dilakukan oleh peneliti sendiri karena hal ini menyangkut validitas hasil penelitian, yang didasarkan pada data yang telah diolah, semuanya merupakan tanggung jawab sendiri. Dalam hal ini seorang peneliti tidak boleh mengemukakan alasan bahwa kesalahan interpretasi ilmiah yang dikemukakan karena kesalahan pengetik naskah, kesalahan asisten, kesalahan laboran dan sebagainya.

(47)

setiap perumusan hipotesis atau pertanyaan penelitian harus dilandasi oleh satu atau lebih teori.

Dalam analisis penelitian wilayah, pemilihan kata berikut diperhatikan. Pertama, pemakaian istilah pengaruh  dalam suatu wilayah yang merupakan wilayah sistem dan sistem wilayah, semua elemen wilayah yang ada selalu terkait satu sama lain baik dalam hubungan aksial maupun interaksial, dependensial maupun interdependensial  semua elemn yang ada saling mempengaruhi sehingga rumusan kalimat di atas bukan sebuah hipotesis namun merupakan sebuah tesis / kebenaran yang tidak perlu dibuktikan. Kedua, untuk sebuah penelitian wilayah, yang menjadi tekanan adalah bukan ada atau tidaknya pengaruh, namun upaya menjawab pertanyaan how dan why atau bagaimana dan mengapa elemen-elemen wilayah tersebut berpengaruh satu sama lain dan dalam jalinan hubungan seperti apa? Jadi hipotesis yang bertujuan untuk memperoleh jawaban mengenai keterkaitan hubungan antara elemen-elemen wilayah harus ditekankan pada upaya menjawab pertanyaan how dan why di atas. Pemakaian kata pengaruh, memengaruhi, berpengaruh, dipengaruhi tanpa ada keterangan lain sebaiknya dihindari.

12. Menyimpulkan Hasil Penelitian

(48)
(49)

Daftar Pustaka BPS.

https://www.bps.go.id/Subjek/view/id/29#subjekViewTab1|accordion-daftar-subjek1 diakses 26 November 2016.

Goodall, B. 1987. Dictionary of Human Geography. New York: Penguin Books.

Santoso, S & Tjiptono, F. 2004. Riset Pemasaran: Konsep Aplikasi Dengan SPSS. Jakarta: Elex Media Komputindo.

West, M. 1970. An International Reader’s Dictionary. London: Longman Group Ltd.

Whynne-Hammond, C. 1985. Elements of Human Geography. London: George Allen and Unwin Ltd.

(50)
(51)

KUESIONER KKL II

SURVEY KONDISI SOSIAL EKONOMI RUMAH TANGGA

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi,

IKIP PGRI Pontianak

Semester Ganjil Tahun Akademik 2016/2017

51 | Survey Kondisi Sosial Ekonomi Rumah Tangga

Kuliah Kerja Lapangan (KKL) II

Pendidikan Geografi

IKIP PGRI Pontianak

Identitas Surveyor

Nama Surveyor : ... No.Mahasiswa. Surveyor : ... Kelas Surveyor : ...

Wilayah Penelitian

Lokasi Pengambilan Data : ... RT : ... RW : ... Kelurahan : ... Kecamatan : ...

I. Kondisi Demografi

1. Hubungan responden dengan kepala keluarga a. Kepala keluarga

g. Orang lain bukan keluarga (sebutkan……. )

2. Pendidikan terakhir responden (ijazah terakhir yang diperoleh)

a. SD

b. SMP

c. SLTA

d. Perguruan Tinggi (diploma, sarjana)

(52)

KUESIONER KKL II

SURVEY KONDISI SOSIAL EKONOMI RUMAH TANGGA

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi,

IKIP PGRI Pontianak

Semester Ganjil Tahun Akademik 2016/2017

52 | Survey Kondisi Sosial Ekonomi Rumah Tangga

Kuliah Kerja Lapangan (KKL) II

Pendidikan Geografi

IKIP PGRI Pontianak

a. Kurang dari 5 tahun b. Lebih dari lima tahun

4. Jumlah orang yang tinggal serumah a. sendirian

6. Jumlah tanggungan kepala keluarga a. 1 orang

b. 2 orang c. 3 – 4 orang

7. Jumlah anggota rumah tangga yang bekerja (memiliki penghasilan)

a. 1 orang (hanya kepala keluarga) b. 2 orang

c. 3 orang atau lebih

(53)

KUESIONER KKL II

SURVEY KONDISI SOSIAL EKONOMI RUMAH TANGGA

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi,

IKIP PGRI Pontianak

Semester Ganjil Tahun Akademik 2016/2017

53 | Survey Kondisi Sosial Ekonomi Rumah Tangga

Kuliah Kerja Lapangan (KKL) II

Pendidikan Geografi

f. Penyedia jasa (penyewaan, pemilik kontrakan sebutkan…..) g. Lainnya (sebutkan….)

II. Kondisi Ekonomi Rumah Tangga

9. Pekerjaan sampingan kepala keluarga adalah a. Petani

b. Pedagang c. Wirausaha

d. Penyedia jasa (sebutkan…...) e. Lainnya (sebutkan ... )

10. Rata-rata penghasilan per bulan dari pekerjaan utama kepala keluarga

11. Rata-rata penghasilan per bulan dari pekerjaan sampingan kepala keluarga

a. Kurang dari Rp 1 juta b. 1 – 2,5 juta

(54)

KUESIONER KKL II

SURVEY KONDISI SOSIAL EKONOMI RUMAH TANGGA

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi,

IKIP PGRI Pontianak

Semester Ganjil Tahun Akademik 2016/2017

54 | Survey Kondisi Sosial Ekonomi Rumah Tangga

Kuliah Kerja Lapangan (KKL) II

Pendidikan Geografi

IKIP PGRI Pontianak

d. 3,7 – 4,5 juta

e. Lebih dari Rp 4,5 juta

12. Rata-rata sumbangan pendapatan per bulan dari anggota keluarga yang lain

13. Berapa rata-rata pengeluaran rumah tangga untuk makanan sebulan?

a. Kurang dari Rp 600.000 b. Rp. 600.000 - Rp. 1000.000 c. Rp. 1.000.000 - Rp. 2. 000.000 d. Lebih dari Rp. 2.000.0000

14. Berapa rata-rata pengeluaran rumah tangga untuk listrik dan gas? a. Kurang dari 150.000

b. Rp. 150.000 – 200.000 c. Rp. 200.000 – 300.000 d. Lebih dari Rp. 300.000

15. Berapa rata-rata pengeluaran untuk biaya pendidikan anak sebulan?

(55)

KUESIONER KKL II

SURVEY KONDISI SOSIAL EKONOMI RUMAH TANGGA

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi,

IKIP PGRI Pontianak

Semester Ganjil Tahun Akademik 2016/2017

55 | Survey Kondisi Sosial Ekonomi Rumah Tangga

Kuliah Kerja Lapangan (KKL) II

Pendidikan Geografi

IKIP PGRI Pontianak

b. Rp. 150.000 – Rp. 200.000 c. Rp. 200.000 – Rp. 300.000 d. Lebih dari Rp. 300.000

16. Berapa rata-rata pengeluaran untuk biaya transportasi sebulan? a. Kurang dari Rp. 50.000

b. Rp. 50.000- Rp. 100.000 c. Rp. 100. 000 – Rp. 200.000 d. Lebih dari Rp. 200.000

III. KEADAAN TEMPAT TINGGAL

17. Status rumah yang Bapak/Saudara diami ? a. Milik sendiri

b. Menyewa /kontrak

c. Menumpang famili/orang tua d. Lainnya

18. Jika milik sendiri, jumlah rumah yang dimiliki a. 1 unit

b. 2 unit c. 3 unit

d. Lebih dari 3 unit

19. Luas lantai bangunan yang ditempati a. Kurang dari 10 m²

b. 10-20 m² c. 20-25 m² d. Lebih dari 25 m²

(56)

KUESIONER KKL II

SURVEY KONDISI SOSIAL EKONOMI RUMAH TANGGA

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi,

IKIP PGRI Pontianak

Semester Ganjil Tahun Akademik 2016/2017

56 | Survey Kondisi Sosial Ekonomi Rumah Tangga

Kuliah Kerja Lapangan (KKL) II

Pendidikan Geografi

17. Lantai rumah sebagian besar terbuat dari apa ? (observasi)

a. Tanah b. Kayu c. Semen

d. Tegel/ Porcelein

18. Atap rumah sebagian besar terdiri dari a. Daun/ jerami

20. Sumber air minum yang digunakan a. Sungai

b. Mata air

c. Sumur

d. Air PAM

(57)

KUESIONER KKL II

SURVEY KONDISI SOSIAL EKONOMI RUMAH TANGGA

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi,

IKIP PGRI Pontianak

Semester Ganjil Tahun Akademik 2016/2017

57 | Survey Kondisi Sosial Ekonomi Rumah Tangga

Kuliah Kerja Lapangan (KKL) II

Pendidikan Geografi

IKIP PGRI Pontianak

b. Mata air

c. Sumur

d. Air PAM

22. Tempat membuang kotoran manusia ? a. Sungai

b. WC tanpa septik tank c. WC dengan septik tank

23. Pembuangan limbah domestik (cuci, mandi)

a. Dibuang dialirkan pekarangan tanpa selokan b. Selokan terbuka

c. Selokan tertutup

d. Selokan tertutup dialirkan ke peresapan

24. Pembuangan sampah rumah tangga a. dibuang di mana pun tempat b. dibakar

c. dibuang ke depo sampah terdekat

d. sampah dipilah menurut jenis organik dan anorganik kemudian dibuang ke depo sampah

e. Sampah anorganik bernilai (kertas, botol bekas, kaleng) dijual ke penampung, sedangkan sampah organik diolah menjadi kompos

25. Jika terjadi hujan dalam durasi 30 menit intensitas deras bagaimana kondisi drainase (pengatusan/aliran air) di lingkungan permukiman?

a. air segera mengalir dan tidak tergenang

(58)

KUESIONER KKL II

SURVEY KONDISI SOSIAL EKONOMI RUMAH TANGGA

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi,

IKIP PGRI Pontianak

Semester Ganjil Tahun Akademik 2016/2017

58 | Survey Kondisi Sosial Ekonomi Rumah Tangga

Kuliah Kerja Lapangan (KKL) II

Pendidikan Geografi

IKIP PGRI Pontianak

c. tergenang lebih dari 30 menit tinggi lebih dari 15 cm

d. Tergenang lebih dari 1 jam

IV. Akses Informasi (boleh pilih lebih dari 1 jawaban)

26. Sumber informasi apa saja yang Bapak/Ibu akses ?

a. koran (Tribun, Pontianak Post, Kompas, Media Indonesia, dll) b. tabloid

c. majalah

d. TV

e. Radio

f. Media dalam jaringan (on line, seperti detik.com, viva.com, dll) g. Media sosial (facebook, twitter, instagram, dll)

27. Apa sarana komunikasi yang Anda gunakan? a. Surat pos

b. Telepon seluler

c. SMS

d. Aplikasi pengirim pesan seperti BBM, WhatsApp, line, messenger e. Tidak menggunakan

(59)

KUESIONER KKL II

SURVEY KONDISI SOSIAL EKONOMI RUMAH TANGGA

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi,

IKIP PGRI Pontianak

Semester Ganjil Tahun Akademik 2016/2017

59 | Survey Kondisi Sosial Ekonomi Rumah Tangga

Kuliah Kerja Lapangan (KKL) II

Pendidikan Geografi

IKIP PGRI Pontianak

29. Berapa biaya komunikasi rata-rata dalam sebulan? a. Kurang dari Rp25.000

b. Rp 26.000 – Rp 50.000 c. Rp 51.000 – Rp 75.000 d. Di atas Rp 75.000

30. Apakah Bapak/Ibu atau anggota rumah tangga gemar membaca buku (selain buku pelajaran sekolah)?

a. ya b. Tidak

31. Jika No. 30 dijawab Ya, berapa kali membaca dalam seminggu

a. Satu kali b. Dua kali c. Tiga kali

d. Empat kali e. Tiap kali

32. Berita apa yang dibaca/ disenangi ? a. Hiburan

34. Jika ya, acara apa yang paling bapak sukai ? a. Berita

b. Hiburan

(60)

KUESIONER KKL II

SURVEY KONDISI SOSIAL EKONOMI RUMAH TANGGA

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi,

IKIP PGRI Pontianak

Semester Ganjil Tahun Akademik 2016/2017

60 | Survey Kondisi Sosial Ekonomi Rumah Tangga

Kuliah Kerja Lapangan (KKL) II

Pendidikan Geografi

IKIP PGRI Pontianak

d. Teknologi e. Olah Raga

35. Apakah bapak mendengarkan radio ?

a. Ya b. Tidak (ke No.8)

36. Jika ya, acara apa yang paling bapak sukai ? a. Hiburan

b. Musik dan Lagu c. Berita

d. Olah raga

37. Sebutkan manfaat berita radio/TV/koran bagi Bapak dan keluarga ? a. Mendapatkan kabar terbaru

b. Mendapatkan pengetahuan baru

c. Mendapatkan informasi barang konsumsi terbaru d. Mengisi waktu luang

e. Lainnya ...

38. Apakah media tersebut di atas (TV, radio, koran) berpengaruh bagi lingkungan keluarga bapak mengenai : (dilingkari)

1. Kebersihan dan kesehatan 2. Pertanian

3. ketrampilan

4. Pendidikan/pengetahuan 5. Keresahan

Gambar

Tabel 2. Contoh Tabel Silang

Referensi

Dokumen terkait