i | P a g e
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat e yelesaika pe yusu a tugas akhir ya g erjudul Identifikasi Keunggulan Komparatif dan Kompetitif Sebagai Strategi Pengembangan Kabupaten Sampang”. Penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu penyelesaian tugas Metodelogi Penelitian ini, khususnya kepada:
1. Dr. Ir. Eko Budi Santoso, Lic.rer.reg. selaku dosen pengajar dan pembimbing di matakuliah Perencanaan Wilayah.
2. Vely Kukinul Siswanto, ST,MT,MSc. selaku dosen pengajar matakuliah Perencanaan Wilayah. Penulis mengharapkan dapat memberikan berbagai informasi dan data yang bermanfaat bagi perkembangan wilayah dan kota khususnya yang berhubungan dengan mata kuliah Perencanaan Wilayah.
Surabaya, 25 Mei 2015
ii | P a g e
1.3 Sistematika Pembahasan ... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 3
2.1 Teori Keunggulan Komparatif ... 3
2.1.1 Konsep Keunggulan Komparatif ... 3
2.1.2 Upaya Optimasi Keunggulan Komparatif di Indonesia ... 5
2.1.3 Kelemahan Teori Keunggulan Komparatif ... 5
2.2 Teori Keunggulan Kompetitif ... 6
2.2.1 Konsep Keunggulan Kompetitif ... 6
2.2.2 Sumber-Sumber Keunggulan Kompetitif ... 7
2.2.3 Strategi Keunggulan Kompetitif ... 11
2.2.4 Kelemahan Teori Keunggulan Kompetitif ... 12
2.3 Analisis Location Quotient (LQ) ... 13
BAB III GAMBARAN UMUM ... 22
3.1 Kondisi Geografis dan Iklim ... 22
3.2 Pendudukan dan Ketenagakerjaan ... 23
3.3 Sosial ... 24
3.4 Ekonomi ... 25
3.5 Infrasruktur ... 27
3.6 Industri ... 29
BAB IV ANALISA DAN STRATEGI ... 30
4.1 Identifikasi Sektor Basis di Kabupaten Sampang ... 30
4.3 Identifikasi Keunggulan Komparatif dan Kompetitif ... 36
4.3.1 Identifikasi Keunggulan Komparatif ... 36
4.3.2 Identifikasi Keunggulan Kompetitif ... 37
4.4 Analisis SWOT ... 38
iii | P a g e
5.1 Kesimpulan ... 41
5.2 Rekomendasi ... 41
DAFTAR TABEL
Tabel 1 : Tahap-Tahap dari Pembangunan Kompetitif Nasional ... 7Tabel 2 : Matriks Sektor Unggulan ... 16
Tabel 3 : Banyaknya Pencari Kerja Menurut Tingkat Pendidikan yang Ditamatkan dan Jenis Kelamin di Kabupaten Sampang 2013 ... 24
Tabel 4 : Tabel PDRB Tahun 2013 ... 25
Tabel 5 : Tabel Panjang Jalan Berdasarkan Kondisi Jalan ... 27
Tabel 6 : Daya Terpasang, Produksi & Listrik Terjual PT.PLN Sampang ... 28
Tabel 7 : Tabel Jumlah Industri Berdasarkan Jenis Industri ... 29
Tabel 8 : Hasil Perhitungan Analisis Location Quetient (LQ)... 30
Tabel 9 : Hasil Perhitungan LQ Sub Sektor dalam Sektor Pertambangan dan Penggalian ... 37
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 : David Ricardo ... 3Gambar 2 : Michael Porter ... 7
Gambar 3 : Model lima kekuatan Porter ... 11
1 | P a g e
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perencanaan wilayah merupakan perencanaan yang ruang lingkupnya di delineasi sesuai dengan kebutuhan pembangunan atau pengembangan. Menurut Glasson perencanaan wilayah mencakup sebuah benua atau hanya sebesar sebuah kota [CITATION: John Glasson, 2006, Regional Development]. Perencanaan wilayah pada umumnya mengkonsentrasikan diri pada bidang perencanaan ekonomi-sosial wilayah yang lazim disebut perencanaan pembangunan ekonomi wilayah dan perencanaan tata ruang wilayah dari tingkat nasional hingga tingkat kecamatan atau desa ditambah dengan beberapa perencanaan khusus seperti perencanaan permukiman dan perencanaan transportasi (Tarigan, R., 2009).
Perencanaan wilayah biasanya dilakukan untuk mencapai kepentingan ekonomi, sosial, dan lingkungan dengan melakukan berbagai pertimbangan dengan menyesuaikan kondisi wilayah yang direncanakan. Pertimbangan yang diberikan dalam pengembangan wilayah menghasilkan arahan pengembangan wilayah dan pendekatan pengembangan wilayah. Basis pengembangan wilayah terbagi atas pengembangan berbasis ekonomi, teknologi, lingkungan, isu global, dan lain sebagainya. Basis pengembangan wilayah tersebutlah yang menjadi dasar dalam pelaksanaan kegiatan pengembangan wilayah.
Ekonomi merupakan salah satu basis pengembangan wilayah yang cukup sering digunakan. Hal ini dikarenakan setiap wilayah dianggap memiliki potensi yang mempunyai nilai ekonomi sehingga setiap wilayah pasti mempunyai daya saing atau keunggulan. Keunggulan yang dimaksud merupakan keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif dimana keduanya merupakan faktor penentu dalam pengembangan suatu wilayah.
2 | P a g e
dalam mengembangkan Kabupaten Sampang sehingga kesenjangan pengembangan antarwilayah dapat diminimalisasi.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah:
1. Mengetahui gambaran umum permasalahan pengembangan wilayah di Kabupaten Sampang 2. Menganalisa keunggulan komparatif & kompetitif Kabupaten Sampang
3. Memberikan rekomendasi konsep pengembangan wilayah pada Kabupaten Sampang
1.3 Sistematika Pembahasan
BAB I Pendahuluan
BAB I berisi latar belakang penulisan makalah, tujuan serta sistematikan pembahasan yang digunakan pada bab selanjutnya.
BAB II Tinjauan Pustaka
BAB II berisi review literature terkait dengan pembahasan yang akan dipaparkan pada bab-bab selanjutnya meliputi konsep keunggulan komparatif dan kompetitif.
BAB III Gambaran Umum
BAB III berisi gambaran umum Kabupaten Sampang terkait dengan aspek kondisi geografi, kependudukan, social, ekonomi, infrastruktur serta kegiatan industri.
BAB IV Analisa dan Strategi
BAB IV berisi analisis keunggulan komparatif dan kompetitif yang dimiliki Kabupaten Sampang sebagai bahan perumusan strategi pengembangan.
BAB V Penutup
3 | P a g e
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Teori Keunggulan Komparatif
2.1.1 Konsep Keunggulan Komparatif
Konsep perdagangan bebas pertama kali dirumuskan oleh Adam Smith yang kemudian dikembangkan oleh David Ricardo pada tahun 1887 (Pressman, 1999). Masa itu adalah zaman negara-negara Eropa melakukan penjajahan dan ahli-ahli ekonomi di Negara tersebut sedang berdebat sengit antara pro dan kontra tentang peran pemerintah dalam perdagangan. Ricardo adalah salah seorang ekonom yang tidak menyetujui kebijakan pemerintah dalam pembatasan perdagangan. Menurut Ricardo, alasan utama yang mendorong perdagangan internasional adalah perbedaan keunggulan komaparatif relatif antar Negara dalam menghasilkan suatu komoditas.
Suatu Negara akan mengekspor komoditas yang dihasilkan lebih murah dan mengimpor komoditas yang dihasilkan lebih mahal dalam penggunaan sumber daya (Lindert and Kindleberger, 1983). Perdagangan internasional semacam itu akan mendorong peningkatan konsumsi dan keuntungan. Sebaliknya kebijakan pembatasan perdagangan oleh pemerintah justru memberikan kerugian yang lebih besar bagi masyarakat dalam negeri dibandingkan manfaat yang diperoleh.
Gambar 1 : David Ricardo
Sumber: www.google.com
Berdasarkan hal-hal di atas, munculnya Teori Keunggulan Komparatif yang digagas oleh David Ricardo. Keunggulan komparatif ini oleh Ricardo dan Viner disebabkan oleh adanya perbedaan dalam kepemilikan atas faktor-faktor produksi seperti: sumber daya alam, modal, tenaga kerja dan kemampuan dalam penguasaan teknologi(Anderson,1995:71-73). Adapun asumsi yang dikemukakan oleh David Ricardo adalah sebagai berikut :
4 | P a g e
3. Masing-masing negara hanya mempunyai 1 faktor produksi (tenaga kerja)
4. “kala produksi ersifat constant return to scale , artinya harga relative barang-barang tersebut adalah sama pada berbagai kondisi produksi.
5. Berlaku labor theory of value (teori nilai tenaga kerja) yang menyatakan bahwa nilai atau harga dari suatu barang (komoditi) dapat dihitung dari jumlah waktu (jam kerja) tenaga kerja yang dipakai dalam memproduksi barang tersebut.
6. Tidak memperhitungkan biaya pengangkutan dan lain-lain dalam pemasaran.
Melalui spesialisasi sesuai dengan keungggulan komparatifnya, maka jumlah produksi yang dihasilkan bisa jauh lebih besar dengan biaya yang lebih murah dan pada akhirnya bisa mencapai skala ekonomi yang diharapkan. Pemikiran ini kemudian berkembang bahwa akan lebih menguntungkan jika arus perdagangan antara negara dibebaskan, tidak terhambat oleh kebijakan atau peraturan negara baik berupa proteksi, tarif maupun non-tarif seperti pada penjelasan paragraph di atas.
Berdasarkan pemikiran ini, dirumuskan aturan perdagangan multilateral yang kemudian menjadi satu produk hukum internasional. Namun demikian negara-negara tersebut akan terikat dengan kepentingan nasionalnya yang menurut Morgenthau merujuk pada hal-hal yang dianggap penting bagi suatu negara, sehingga merujuk pada sasaran-sasaran politik, ekonomi, atau social yang ingin dicapai suatu negara.(Viooti,1993:584). Sehingga negara perlu memberikan prioritasnya yang diformulasikan dalam sasaran dan indikator bagi tercapainya kepentingan tersebut.
Untuk mewujudkan kepentingan nasionalnya suatu negara harus memanfaatkan keunggulan komperatif guna meraih peluang dan mengurangi atau meniadakan kendala yang timbul sebagai konsekuensi logisnya. Keunggulan komparatif yang harus dimiliki suatu negara untuk dapat memenangkan dan memperoleh manfaat dari perdagangan internasional antara lain
1. Jumlah tenaga kerja yang relatif banyak. 2. Sumber daya alam yang melimpah. 3. Sumber modal yang besar.
4. Kemampuan dan penguasaan ilmu pengetahuan teknologi yang tinggi 5. Letak geografis yang cukup strategis.
5 | P a g e
2.1.2 Upaya Optimasi Keunggulan Komparatif di Indonesia
Pemerintah perlu mengoptimalkan keunggulan komparatif Indonesia untuk menumbuh kembangkan industri berbasis sumber daya lokal yang berdaya saing tinggi di pasar internasional. Kecepatan dan ketepatan pemerintah mengidentifikasi industri yang kompetitif dan memfasilitasi perkembangannya dapat memacu pertumbuhan jangka panjang ekonomi nasional.
Kepala Ekonom Bank Dunia Justin Yifu Lin menyampaikan hal itu di Jakarta, Selasa (28/6), saat bertemu Menteri Keuangan, Menteri Perdagangan, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, pengusaha, dan Komite Ekonomi Nasional dalam kunjungan dua hari di Indonesia.Indonesia dapat menjadi pusat pertumbuhan besar tahun 2025. Bahkan, Indonesia diprediksi menjadi salah satu dari enam negara dengan kontribusi separuh pertumbuhan ekonomi global.
Akan tetapi, sebelum mencapai titik tersebut, pemerintah harus lebih intens membenahi upaya dala e apai target ya g di uat dala sektor de ga keu tu ga ko paratif itu. I do esia adalah negara dengan banyak keuntungan, misalnya, sumber daya alam, angkatan kerja berpendidikan yang besar, sektor swasta yang bergairah, dan pasar domestik yang besar. Kemampuan Indonesia membangun industri otomotif adalah contoh keberhasilan Indonesia mengelola potensinya sehi gga isa e gekspor ke egara lai , ujar ya.
Contoh lainnya adalah Indonesia mengimpor kapas dari Amerika Serikat untuk diproduksi menjadi tekstil dan produk tekstil. Produk tersebut kemudian diekspor kembali ke Amerika Serikat. Angkatan kerja yang besar menjadikan Indonesia memiliki keunggulan komparatif di industri padat karya. Pe eri tah perlu e e ahi er agai persoala ya g menyelimuti iklim investasi industri padat karya untuk mengembangkan industri lokal, menjaga pertumbuhan pendapatan, dan e gura gi ke iski a , ujar Justi . I do esia adalah egara de ga er agai keu ggula , di antaranya angkatan kerja yang besar dan cukup terdidik, komunitas bisnis yang dinamis, dan secara geografis dekat dengan beberapa sentra pertumbuhan. Industri otomotif adalah contoh baik agai a a se ua keu ggula terse ut ke udia e duku g satu sektor ya g tepat, kata Justi . Me gikuti keu ggulan komparatif adalah cara terbaik untuk memperluas industri lokal,
e pertaha ka pertu uha pe dapata , da e gura gi ke iski a , kata ya HAM .
2.1.3 Kelemahan Teori Keunggulan Komparatif
Beberapa kelemahan teori klasik comparative advantage :
6 | P a g e
2. Akibat perbedaan fungsi produksi (tenaga kerja) menimbulkan perbedaan produktivitas ataupun perbedaan efisiensi diantara Negara-negara sehingga terjadilah perbedaan harga. 3. Perdagangan internasional tidak akan terjadi jika faktor produksi atau efisiensi di kedua
negara sama karena harga barang yang sejenis akan menjadi sama pula di kedua negara. Kenyataannya, walaupun fungsi faktor produsi sama di kedua negara, ternyata harga barang sejenis dapat berbeda, sehingga perdagangan internasional tetap dapat terjadi. Dalam hal ini teori klasik tidak dapat menjelaskan mengapa dapat terjadi perbedaan harga diantara kedua negara walaupun fungsi faktor produksi sama.
4. Teori modern dari Heckscher - Ohlin dapat menjelaskan mengapa perdagangan internasional tetap dapat terjadi walau terdapat kesamaan dalam faktor produksi diantara kedua negara.
2.2 Teori Keunggulan Kompetitif
2.2.1 Konsep Keunggulan Kompetitif
Teori Porter tentang daya saing nasional berangkat dari keyakinannya bahwa teori ekonomi klasik yang menjelaskan tentang keunggulan komparative tidak mencukupi, atau bahkan tidak tepat. Menurut Porter, suatu negara memperoleh keunggulan daya saing / competitive advantage (CA) jika perusahaan (yang ada di negara tersebut) kompetitif. Daya saing suatu negara ditentukan oleh kemampuan industri melakukan inovasi dan meningkatkan kemampuannya. Perusahaan memperoleh (CA) karena tekanan dan tantangan. Perusahaan menerima manfaat dari adanya persaingan di pasar domestik, supplier domestik yang agresif, serta pasar lokal yang memiliki permintaan tinggi. Perbedaaan dalam nilai-nilai nasional, budaya, struktur ekonomi, institusi, dan sejarah semuanya memberi kontribusi pada keberhasilan dalam persaingan. Perusahaan menjadi kompetitif melalui inovasi yang dapat meliputi peningkatan teknis proses produksi atau kualitas produk. Selanjutnya Porter mengajukan Diamond Model (DM) yang terdiri dari empat determinan (faktor – faktor yang menentukan) National Competitive Advantage (NCA). Empat atribut ini adalah: factor conditions, demand conditions, related and supporting industries, dan firm strategy, structure, and rivalry.
7 | P a g e
Gambar 2 : Michael Porter Sumber: www.google.com
Berikut pendapat para pakar mengenai Teori Keunggulan Kompetitif sebagai berikut : 1. Setiawan, 2006
Keunggulan kompetitif adalah merujuk pada kemampuan sebauh organisasi untuk memformulakan strategi yang menempatkan pada suatu posisi yang menguntungkan berkaitan dengan perusahaan lainnya. Keunggulan kompetitif muncul bila pelanggan merasa bahwa mereka menerima nilai lebih dari transaksi yang dilakukan dengan sebuah organisasi pesaingnya.
2. KBBI
Keunggulan kompetitif bersifat kompetisi dan bersifat persaingan.
3. Tangkilisan (dalam bukunya Strategi Keunggulan Pelayanan Publik Manajemen SDM, 2003) Keunggulan Kompetitif adalah merujuk pada kemampuan sebuah organisasi untuk memformulasikan strategi yang menempatkannya pada suatu posisi yang menguntungkan berkaitan dengan perusahaan lainnya. Keunggulan Kompetitif muncul bila pelanggan merasa bahwa mereka menerima nilai lebih dari transaksi yang dilakukan dengan sebuah organisasi pesaingnya.
2.2.2 Sumber-Sumber Keunggulan Kompetitif
Ada empat tahapan dan ciri-ciri proses pengembangan menurut Porter, sebagaimana terdapat dalam tabel berikut ini :
Tabel 1 : Tahap-Tahap dari Pembangunan Kompetitif Nasional Penggerak
8 | P a g e
Kondisi-kondisi Faktor
Faktor-faktor produksi dasar (seperti, SDA, lokasi, geografis, tenaga kerja tidak terampil)
Kanada, Australia, Singapura, Korea Selatan sebelum tahun 1990
Investasi
Investasi dalam peralatan modal, dan transfer teknologi dari luar negeri, juga diperlukan adanya dan konsensus nasional yang lebih memilih investasi daripada konsumsi yang maju menjadi lamban, persaingan menurun, dan motivasi “Strategic Management Journal, 12(1991), Table 1, p. 540.
9 | P a g e
tinggi melalui diferensiasi produk dan jasa. Perusahaan-perusahaan ini memusatkan perhatiannya pada kegiatan ilmu pengetahuan di luar negeri.
Pada tahap lebih lanjut bangsa tersebut beralih ke inovasi sebagai pengendali utama kekayaan nasionalnya. Apabila berhasil, bangsa tersebut akan bergerak ke tahap berikutnya lagi yang ditandai oleh upaya untuk mengelola dan memelihara kekayaan yang ada. Kegiatan investasi dan inovasinya bisa mengendur dan keunggulan kompetitif bangsa tersebut mulai terkikis.
Daya saing nasional ini tidak terlepas dari daya saing perusahaan-perusahaan atau industri yang ada di dalam negara atau wilayah yang bersangkutan dalam berkompetisi dan menggerakkan kegiatan ekonominya. Kompetisi dalam suatu industri ditentukan oleh struktur dari masing-masing industri. Struktur industri mengarah pada hubungan antara lima kekuatan yang mengendalikan perilaku perusahaan dalam berkompetisi di suatu industri. Bagaimana perusahaan berkompetisi dengan industri lainnya secara langsung berhubungan dengan lima kunci kekuatan yang dikembangkan oleh Michael Porter sebagai berikut :
a. Ancaman Pendatang Baru dalam Industri
Profitabilitas perusahaan cenderung tinggi ketika perusahaan lainnya terhalangi untuk memasuki industri. Pendatang baru dapat mengurangi profitabilitas industri karena mereka menambah jumlah produksi dan dapat secara substansial mengikis posisi keberadaan pasar yang sudah ada. Oleh karena itu, untuk mengurangi pendatang baru, perusahaan yang ada dapat membangun halangan untuk memasuki industri, yakni dalam bentuk : (1) persyaratan modal untuk masuk dalam industri, (2) skala ekonomi industri yang ada saat ini, (3) diferensiasi produk yang dilakukan oleh industri yang ada saat ini, (4) biaya pengganti untuk mempengaruhi pembeli beralih dari industri yang ada saat ini, (5) indentitas merek dari produk atau jasa yang ditawarkan oleh perusahaan yanga ada saat ini di benak konsumen, (6) Ketersediaan akses untuk saluran distribusi, (7) Keyakinan untuk mendapatkan kemanfaatan yang berlanjut dari produk atau jasa yang ditawarkan kepada konsumen oleh industri yang ada saat ini.
b. Posisi Tawar Pelanggan
10 | P a g e
atau jasa yang ditawarkan), (3) kurang dirasakannya fungsi produk bagi pelanggan (kemanfaatan produk), (4) jumlah pelanggan lebih terkonsentrasi daripada jumlah penyedia produk atau jasa (oligopsoni). Pelanggan juga memiliki posisi tawar lebih kuat ketika produk dan jasa yang dtawarkan oleh industri cenderung homogen atau standar (tidak ada perbedaan antara satu dan yang lainnya) sehingga membutuhkan biaya yang rendah untuk mengganti ke pemasok lain, dan ketika pelanggan juga dapat masuk ke dalam industri dimana mereka biasanya melakukan pembelian (membuat sendiri produk yang biasa dibelinya).
c. Posisi Tawar Pemasok (supplier)
Pemasok dapat mempengaruhi posisi tawar apabila: (1) produk mereka krusial (penting) bagi pelanggan, (2) mereka dapat memasang harga tinggi untuk biaya penggantian (peralihan ke pemasok lain), (3) Mereka lebih terkonsentrasi dariapada jumlah pelanggan. Pemasok juga memiliki posisi tawar yang tinggi ketika dengan mudah mereka dapat masuk ke dalam industri dimana mereka biasanya memasok produk atau jasa mereka (membuat industri untuk menjual produk yang dihasilkannya sendiri).
d. Intensitas Persaingan Antara Perusahaan dalam Industri
Tingkat persaingan antar perusahaan yang sudah ada saat ini adalah determinan penting ketertarikan industri dan profitabilitas. Intensitas persaingan dapat mempengaruhi biaya pasokan, distribusi dan ketertarikan pelanggan, dan kemudian secara langsung mempengaruhi profitabilitas. Persaingan antar perusahaan cenderung saling mematikan dan profitabilitas industri rendah apabila: (1) Tidak adanya pemimpin yang jelas dalam pasar (keseimbangan kekuatan antara perusahaan dalam pasar), sehingga dapat terjadinya perang harga antara industri yang satu dengan yang lainnya, (2) jumlah pesaing yang terlalu banyak, (3) Pesaing beroperasi dengan biaya tetap yang tinggi yang dapat memberikan motivasi untuk memaksimalkan kapasitas mereka dan cenderung memotong harga ketika mereka memiliki kelebihan kapasitas. (4) Sulitnya untuk keluar dari industri, (5) pesaing memiliki sedikit peluang untuk bisa melakukan diferensiasi produk, (6) Pertumbuhan penjualan yang rendah sehingga tingkat persaingan untuk merebut pasar sangat tinggi.
e. Potensi untuk Produk atau Jasa Pengganti
11 | P a g e
Model lima kekuatan Porter ini merupakan salah satu konsep yang paling efektif digunakan untuk menilai kondisi lingkungan yang kompetitif dan untuk menggambarkan sebuah struktur industri dalam suatu wilayah yang berdaya saing. Model lima kekuatan Porter ini dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 3 : Model lima kekuatan Porter Sumber : Balzan, 2012, McGraw-Hill
2.2.3 Strategi Keunggulan Kompetitif
1. Menurut Balzan, 2012 strategi merupakan sebuah rencana untuk mencapai tujuan yang spesifik, seperti :
a. Mengembangkan produk atau jasa baru b. Meningkatkan loyalitas pelanggan c. Memasuki pasar baru
d. Menarik konsumen baru e. Meningkatkan penjualan
2. Menurut Porter, strategi utamanya adalah :
a. Kepemimpinan Biaya (cost leadership) yaitu keuntungan yang besar dengan biaya yang rendah. Keunggulan kompetitif dicapai dengan memangkas biaya sekecil mungkin. Perusahaan yang menerapkan strategi kepemimpinan biaya adalah Walmart, Suzuki, Overstock.com, dll.
12 | P a g e
c. Fokus strategi adalah berkonsentrasi pada pasar yang terbatas. Perusahaan yang menerapkan strategi focus adalah Ritz Carlton, marriot, dan lain-lain.
2.2.4 Kelemahan Teori Keunggulan Kompetitif
Dalam penerapan keunggulan kompetitif dalam dunia perdagangan tidak selalu berjalan baik-baik saja, akan tetapi akan selalu mengalami hambatan-hambatan. Hambatan-hambatan tersebut yang menjadi kelemahan dalam penerapa teori ini, penjelasannya sebagai berikut :
1. Ancaman dari produk-produk pengganti
Produk pengganti secara fungsional mempunyai manfaat yang serupa dengan produk utama (asli), namun memiliki kualitas produk dan harga yang lebih rendah. Umumnya, produk pengganti disenangi oleh orang yang berpenghasilan rendah, tetapi ingin tampil dengan status lebih tinggi dari keadaan sebenarnya. Ancaman dari produk-produk pengganti yang dimaksud di sini adalah seberapa mudah pelanggan/konsumen produk kita dapat berpindah ke produk pengganti. 2. Ancaman dari pendatang baru
Pendatang baru yang dimaksud di sini adalah perusahaan yang memasuki industri, dengan membawa kapasitas baru dan ingin memperoleh pangsa pasar yang baik dan keuntungan. Masuknya pesaing baru ke pasar juga akan melemahkan kekuatan kita.
3. Persaingan Industri
Persaingan konvensional terjadi di mana setiap perusahaan selalu berusaha sekeras mungkin untuk merebut pangsa pasar perusahaan lain. Konsumen merupakan obyek persaingan dari perusahaan sejenis yang bermain di pasar. Perusahaan yang dapat memikat hati konsumen akan dapat memenangkan persaingan, namun akan ada perusahaan yang kalah dalam persaingan. 4. Kekuatan Tawar dari pihak Pemasok
13 | P a g e
5. Kekuatan tawar dari pihak pembeli
Pembeli akan selalu berusaha mendapatkan produk dengan kualitas yang baik dan harga murah. Sikap pembeli semacam ini berlaku universal dan memainkan peran yang cukup menentukan bagi perusahaan. Jika harga suatu produk dinilai jauh lebih tinggi dari kualitasnya (harganya tidak mencerminkan kualitas yang sepantasnya) maka pembeli atau konsumen tidak akan membeli produk perusahaan kita.
2.3 Analisis
Location Quotient
(LQ)
Logika dasar Location Quotient (LQ) adalah teori basis ekonomi yang intinya adalah karena industri basis menghasilkan barang-barang dan jasa untuk pasar di daerah maupun di luar daerah yang bersangkutan, maka penjualan keluar daerah akan menghasilkan pendapatan bagi daerah. (Widodo, 2006). Pada dasarnya teknik ini menyajikan perbandingan relatif antara kemampuan suatu sektor di daerah yang diselidiki dengan kemampuan sektor yang sama pada daerah yang menjadi acuan atau biasanya secara nasional. Satuan yang digunakan sebagai ukuran untuk menghasilkan koefisien LQ tersebut nantinya dapat berupa jumlah tenaga kerja per-sektor ekonomi, jumlah produksi atau satuan lain yang dapat digunakan sebagai kriteria.
Teknik analisis location quotient (LQ) merupakan cara permulaan untuk mengetahui kemampuan suatu daerah dalam sektor kegiatan tertentu. Cara ini tidak atau belum memberi kesimpulan akhir. Kesimpulan yang diperoleh baru merupakan kesimpulan sementara yang masih harus diteliti dan dianalisis kembali melalui teknik analisis lain yang dapat menjawab apakah kesimpulan sementara di atas terbukti kebenarannya, karena dalam penentuan sektor basis atau unggulan masih terdapat beberapa alat analisis lain yang dapat memperkuat hasil yang merupakan sektor basis dari suatu wilayah. Walaupun teknik ini tidak memberikan kesimpulan akhir, namun dalam tahap pertama sudah cukup memberi gambaran akan kemampuan daerah yang bersangkutan dalam sektor yang diamati.
Teknik LQ ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu LQ statis (static Location Quotient) dan LQ dinamis (Dynamic Location Quitient), yang akan dijelaskan sebagai berikut :
1. Static Location Quotient (SLQ)
Pada dasarnya teknik ini menyajikan perbandingan relatif antara kemampuan suatu sektor di daerah yang diselidiki dengan kemampuan sektor yang sama pada daerah yang lebih luas. Satuan yang digunakan sebagai ukuran untuk menghasilkan koefisien dapat menggunakan satuan jumlah buruh atau hasil produksi atau satuan lainnya yang dapat digunakan sebagai kriteria. Perbandingan relatif ini dinyatakan secara matematika sebagai berikut :
14 | P a g e
Vik = Nilai output (PDRB) sektor i pada daerah studi k (kabupaten/ kota) dalam pembentukkan Produk Domestik Regional Riil (PDRB) daerah studi k
Vk = PDRB total semua sektor di daerah k
Vip = Nilai output (PDRB) sektor I daerah referensi p (provinsi misalnya) Vp = PDRB total disemua sektor daerah referensi p
Berdasarkan hasil perhitungan Static Location Quotient (LQ), dapat diketahui konsentrasi suatu kegiatan pada suatu wilayah dengan kriteria sebagai berikut:
1. Nilai LQ di sector i=1. Ini berarti bahwa laju pertumbuhan sektor i di daerah studi k adalah sama dengan laju pertumbuhan sektor yang sama dalam perekonomian daerah referensi p; 2. Nilai LQ di sector lebih besar dari 1. Ini berarti bahwa laju pertumbuhan sektor i di daerah
studi k adalah lebih besar dibandingkan dengan laju pertumbuhan sektor yang sama dalam perekonomian daerah referensi p. Dengan demikian, sektor i merupakan sektor unggulan daerah studi k sekaligus merupakan basis ekonomi untuk dikembangkan lebih lanjut oleh daerah studi k; dan
3. Nilai LQ di sector lebih kecil dari 1. Ini berarti bahwa laju pertumbuhan sektor i di daerah studi k adalah lebih kecil dibandingkan dengan laju pertumbuhan sektor yang sama dalam perekonomian daerah referensi p. Dengan demikian, sektor i bukan merupakan sektor unggulan daerah studi k dan bukan merupakan basis ekonomi serta tidak propektif untuk dikembangkan lebih lanjut oleh daerah studi k.
Menurut Arsyad (2010), ada tiga asumsi yang digunakan dalam teknik LQ ini:
1. Semua penduduk di setiap daerah mempunyai pola permintaan yang sama dengan pola permintaan pada tingkat nasional (pola pengeluaran secara geografis sama).
2. Produktivitas tenaga kerja sama antara daerah dan nasional.
3. Setiap industri menghasilkan barang yang homogen pada setiap sektor.
2. Dynamic Location Quitient (DLQ)
15 | P a g e
memasukkan laju pertumbuhan rata - rata terhadap masing-masing nilai tambah sektoral maupun PDRB untuk kurun waktu antara tahun 0 sampai tahun t. berikut adalag persamaan yang digunakan dalam DLQ
Dimana :
IPPSij = indeks potensi perkembangan sektor i didaerah j
IPPSi = indeks potensi perkembangan sektor i di wilayah referensi Gij = laju pertumbuhan sektor i didaerah j
Gi = laju pertumbuhan sektor i di wilayah referensi Gj = rata-rata laju pertumbuhan di daerah j
G = rata-rata laju pertumbuhan di wilayah referensi
Dalam persamaan di atas dapat diketahui potensi perkembangan sektor i adalah sebagai berikut :
JIka DLQ > 1, maka potensi perkembangan sektor I di suatu regional lebih cepat dibandingkan sektor yang sama di nasional.
Jika DLQ < 1, maka potensi perkembangan sektor i di suatu regional lebih rendah dibandingkan nasional secara keseluruhan.
3. Gabungan SLQ dan DLQ
16 | P a g e
Tabel 2 : Matriks Sektor Unggulan
Kriteria SLQ > 1 SLQ < 1
DLQ > 1 Sektor Unggulan Sektor Andalan
DLQ < 1 Sektor Prospektif Sektor Tertinggal
Sektor unggulan (DLQ > 1 & SLQ > 1)
sektor yang pada saat ini merupakan sektor unggulan dan tetap berpotensi unggul pada beberapa tahun ke depan.
Sektor andalan (DLQ > 1 & SLQ < 1)
sektor yang pada saat ini belum unggul tapi dalam beberapa waktu ke depan berpotensi unggul.
Sektor prospektif (SLQ > & DLQ < 1)
sektor yang pada saat ini merupakan sektor unggulan tetapi tidak berpotensi unggul pada beberapa waktu ke depan.
Sektor tertinggal (SLQ < 1 & DLQ < 1)
sektor yang dinyatakan tidak unggul untuk saat ini dan pada beberapa waktu ke depanpun belum berpotensi untuk menjadi sektor unggulan.
2.4 Analisis Shift-Share
Analisis Shift Share dikembangkan oleh Daniel B. Creamer (1943). Analisis Shift Share adalah suatu teknik yang digunakan untuk menganalisa data statistik regional baik berupa pendapatan per kapita, output, tenaga kerja maupun data lainnya. Dalam analisis ini akan diperlihatkan bagaimana keadaan pertumbuhan di daerah dengan dibandingkan pada pertumbuhan nasional. Tujuan dari analisis Shift Share adalah untuk melihat dan menentukan kinerja atau produktivitas kerja perekonomian daerah dengan membandingkan dengan wilayah yang lebih luas (wilayah referensi).
Menurut New York Economic Development , analisis Shift Share merupakan metode lanjutan dari analisis Location Quotient (LQ) dimana LQ hanya melihat potensi basis namun tidak menjelaskan kinerja secara time series. Sedangkan analisis Shift Share menjelaskan perubahan perekonomian dengan membagi menjadi national share, industry share dan regional share.
17 | P a g e
Menurut EMSI Resource Library, analisis Shift Share adalah standar metode analisis regional untuk menentukan sejauhmana kinerja pertumbuhan perekonomian wilayah terhadap trend nasional dan seberapa besar pengaruhnya terhadap sektor tertentu.
Variabel dalam analisis Shift Share meliputi tenaga kerja, nilai tambah, pendapatan, Pendapatan Regional Domestik Bruto (PDRB), jumlah penduduk, dan variabel lain dalam kurun waktu tertentu.
Dari beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa analisis Shift Share digunakan untuk mengestimasi perubahan struktur ekonomi suatu wilayah dalam periode tertentu dibandingkan dengan struktur ekonomi pada wilayah yang lebih luas.
2.4.1 Komponen Analisis Shift Share
Dalam analisis Shift Share diasumsikan bahwa perubahan produksi/kesempatan kerja dipengaruhi oleh tiga komponen pertumbuhan wilayah yakni Komponen Pertumbuhan Nasional (KPN), Komponen Pertumbuhan Proporsional (KPP), dan Komponen Pertumbuhan Pangsa Wilayah (KPPW).
Komponen Pertumbuhan Nasional (KPN)
Merupakan komponen share dan sering disebut dengan national share. KPN adalah perubahan produksi atau kesempatan kerja suatu wilayah yang disebabkan oleh perubahan produksi, kebijakan ekonomi nasional, dan kebijakan lain yang mampu mempengaruhi sektor perekonomian dalam suatu wilayah. Sehingga dalam komponen ini dapat dilihat bagaimana pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi nasional terhadap daerah. Contoh kebijakan yang dimaksud adalah kebijakan kurs, pengendalian inflasi, dan masalah pengangguran serta kebijakan dalam perpajakan.
Apabila KPN > 0 maka pertumbuhan sektor i di wilayah memberikan kontribusi positif dalam penyerapan tenaga kerja nasional.
Apabila KPN < 0 maka pertumbuhan sektor i di wilayah tidak memberikan kontribusi positif dalam penyerapan tenaga kerja nasional.
Komponen Pertumbuhan Proporsional (KPP)
Merupakan komponen propotional shift yaitu penyimpangan (deviation) dari national share dalam pertumbuhan wilayah. KPP adalah perubahan produksi atau kesempatan kerja suatu wilayah yang disebabkan oleh komposisi sektor dalam permintaan produk akhir, serta perbedaan dalam struktur dan keragaman pasar. Sehingga penerapan KPP ini dapat mengukur perubahan relatif (naik/turun) suatu sektor daerah terhadap sektor yang sama di tingkat nasional atau dalam hal ini disebut juga pengaruh bauran industri (industry mix).
18 | P a g e
Apabila KPP bernilai negatif (KPP<0) pada wilayah yang berspesialisasi dalam sektor yang secara nasional tumbuh lambat.
Komponen Pertumbuhan Pangsa Wilayah (KPPW)
Merupakan komponen lokasional atau regional atau sisa lebihan. KPPW adalah perubahan produksi atau kesempatan kerja suatu wilayah yang disebabkan oleh keunggulan komparatif wilayah tersebut, adanya dukungan kelembagaan, prasarana sosial ekonomi, serta kebijakan lokal di wilayah tersebut.
Apabila KPPW bernilai positif (KPPW>0) pada sektor yang mempunyai keunggulan komparatif di wilayah tersebut sebagai keuntungan lokasional.
Apabila KPPW bernilai negatif (KPPW<0) pada sektor yang tidak mempunyai keunggulan kompatif/tidak dapat bersaing.
2.4.2 Model Analisis Shift Share
Keterangan:
PE : Pertumbuhan ekonomi
KPN : Komponen pertumbuhan nasional KPP : Komponen pertumbuhan proporsional KPPW : Komponen pertumbuhan pangsa wilayah
Keterangan:
PE : Pertumbuhan ekonomi wilayah lokal
Yt : Indikator ekonomi wilayah nasional (akhir tahun analisis) Yo : Indikator ekonomi wilayah nasional (awal tahun analisis)
Yit : Indikator ekonomi wilayah nasional sektor i (akhir tahun analisis) Yio : Indikator ekonomi wilayah nasional sektor i (awal tahun analisis)
19 | P a g e
yit : Indikator ekonomi wilayah lokal sektor i (akhir tahun analisis) yio : Indikator ekonomi wilayah lokal sektor i (awal tahun analisis) Jika PB ≥ 0 maka sektor tersebut progresif.
Jika PB < 0 maka sektor mundur.
2.4.3 Kelebihan dan Kelemahan Analisis Shift Share
Menurut Steve BH dan Moore dalam Modul Isian Daerah, berikut adalah kelebihan dan kelemahan analisis Shift Share:
1) Kelebihan
a. Analisis Shift Share tergolong sederhana namun dapat memberikan gambaran mengenai struktur ekonomi yang terjadi.
b. Memungkinkan seorang pemula mempelajari struktur perekonomian dengan cepat. c. Memberikan gambaran pertumbuhan ekonomi dan perubahan struktur dengan cukup
akurat. 2) Kelemahan
a. Analisis Shift Share tidak dapat menjelaskan mengapa dan bagaimana proses perubahan di setiap sektor tersebut terjadi. Analisis ini hanya memberikan gambaran bagi para pengambil keputusan untuk menentukan mengapa suatu sektor tertentu dalam perekonomian memiliki kekuatan yang lebih baik dibandingkan dengan sektor yang sama di wilayah referensinya dan sektor lainnya tidak.
b. Masalah yang berkenaan dengan homothetic change tidak dapat dijelaskan dengan baik. c. Analisis ini tidak cukup signifikan sebagai alat proyeksi mengingat bahwa regional shift tidak
konstan dari suatu periode ke periode lainnya.
d. Tidak dapat dipakai untuk melihat keterkaitan antarsektor.
e. Tidak ada keterkaitan antar daerah.
2.5 Analisis SWOT
SWOT adalah akronim untuk kekuatan (Strenghts), kelemahan (Weakness), peluang (Opportunities), dan ancaman (Threats) dari lingkungan eksternal perusahaan. Menurut Jogiyanto (2005:46), SWOT digunakan untuk menilai kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan dari sumber-sumber daya yang dimiliki perusahaan dan kesempatan-kesempatan eksternal dan tantangan-tantangan yang dihadapi.
20 | P a g e
area bisnis. Kekuatan/kelemahan internal, digabungkan dengan peluang/ancaman dari eksternal dan pernyataan misi yang jelas, menjadi dasar untuk penetapan tujuan dan strategi.Tujuan dan strategi ditetapkan dengan maksud memanfaatkan kekuatan internal dan mengatasi kelemahan. Berikut ini merupakan penjelasan dari SWOT (David,Fred R.,2005:47) yaitu :
1. Kekuatan (Strenghts)
Kekuatan adalah sumber daya, keterampilan, atau keungulan-keungulan lain yang berhubungan dengan para pesaing perusahaan dan kebutuhan pasar yang dapat dilayani oleh perusahaan yang diharapkan dapat dilayani. Kekuatan adalah kompetisi khusus yang memberikan keunggulan kompetitif bagi perusahaan di pasar.
2. Kelemahan (Weakness)
Kelemahan adalah keterbatasan atau kekurangan dalam sumber daya, keterampilan, dan kapabilitas yang secara efektif menghambat kinerja perusahaan. Keterbatasan tersebut daoat berupa fasilitas, sumber daya keuangan,kemampuan manajemen dan keterampilan pemasaran dapat meruoakan sumber dari kelemahan perusahaan.
3. Peluang (Opportunities)
Peluang adalah situasi penting yang mengguntungkan dalam lingkungan perusahaan. Kecendrungan – kecendrungan penting merupakan salah satu sumber peluang, seperti perubahaan teknologi dan meningkatnya hubungan antara perusahaan dengan pembeli atau pemasokk merupakan gambaran peluang bagi perusahaan.
4. Ancaman (Threats)
Ancaman adalah situasi penting yang tidak menguntungan dalam lingkungan perusahaan. Ancaman merupakan pengganggu utama bagi posisi sekarang atau yang diinginkan perusahaan. Adanya peraturan-peraturan pemerintah yang baru atau yang direvisi dapat merupakan ancaman bagi kesuksesan perusahaan.
2.5.1 Fungsi SWOT
21 | P a g e
2.5.2 Matriks SWOT
Menurut Rangkuti (2006), Matriks SWOT dapatmenggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman eksternalyang dihadapi perusahaan dapat disesuaikan dengan kekuatan dankelemahan yang dimilikinya. Matriks ini dapat menghasilkan empat set kemungkinan altenatif strategis.
Berikut ini adalah keterangan dari matriks SWOT diatas :
1. Strategi SO (Strength and Oppurtunity). Strategi ini dibuat berdasarkan jalan pikiran perusahaan, yaitu dengan memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut dan memanfaatkan peluang sebesar – besarnya.
2. Strategi ST (Strength and Threats). Strategi dalam menggunakan kekuatan yang dimiliki perusahaan untuk mengatasi ancaman.
3. Strategi WO (Weakness and Oppurtunity). Strategi ini diterapkan berdasarkan pemanfaatan peluang yang ada dengan cara meminimalkan kelemahan yang ada.
22 | P a g e
BAB III
GAMBARAN UMUM
3.1
Kondisi Geografis dan Iklim
Secara keseluruhan Kabupaten Sampang memiliki luas sebesar 1.233,30 Km2 yang terdiri dari 14 kecamatan yang terdiri dari 6 kelurahan dan 180 Desa. Kecamatan Banyuates merupakan kecamatan terbesar dengan luas 141,03 Km2, sedangkan Kecamatan Pangarengan merupakan kecamatan terkecil dengan luas hanya 42,7 Km2. Secara administrasi batas-batas wilayah Kabupaten Sampang adalah sebagai berikut:
Sebelah utara : Laut Jawa Sebelah selatan : Selat Madura
Sebelah timur : Kabupaten Pamekasan Sebelah barat : Kabupaten Sampang
23 | P a g e
di Kecamatan Kedungdung, sedang yang terendah terdapat di Kecamatan Torjun. Curah hujan tinggi terjadi pada Januari, Pebruari dan Maret, sedang bulan dengan curah hujan paling rendah terjadi pada Agustus dan September. Irigasi area persawahan di Kabupaten Sampang mengandalkan tiga jenis sumber air yaitu air hujan, air sungai dan air tanah. Pengairan areal sawah menggunakan air hujan seluas 11.082 Ha, air sungai seluas 5.712 Ha dan air tanah seluas 226,70 Ha. Kecamatan yang menggunakan sumber pengairan air tanah adalah Kecamatan Sampang, Ketapang, Torjun.
3.2 Pendudukan dan Ketenagakerjaan
Pada akhir tahun 2013, jumlah penduduk Kabupaten Sampang mencapai 884.804 jiwa dimana 434.784 jiwa merupakan penduduk pria sendagkan 435.195 jiwa sisanya adalah penduduk wanita. Kecamatan dengan jumlah penduduk terbanyak adalah Kecamatan Sampang dan Kedungdung, sedangkan kecamatan dengan kepadatan penduduk tertinggi adalah Kecamatan Sampang. Kabupaten Sampang memiliki piramida penduduk berbentuk limas sehingga hal ini menunjukkan bahwa jumlah penduduk usia muda lebih banyak dari pada usia dewasa maupun tua, sehingga pertumbuhan penduduk sangat tinggi. Untuk lebih jelasnya berikut piramida penduduk kabupaten sampan:
Gambar 4 : Piramida Penduduk Kabupaten Sampang Sumber : Kabupaten Sampang Dalam Angka 2014
24 | P a g e
Tabel 3 : Banyaknya Pencari Kerja Menurut Tingkat Pendidikan yang Ditamatkan dan Jenis Kelamin di
Kabupaten Sampang 2013
Sumber : Kabupaten Sampang Dalam Angka 2014
Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa jumlah pencari kerja cenderung mengalami kenaikan pada tiap tahunnya. Kenaikan yang cukup signifikan terjadi antara tahun 2011 dan 2012 khususnya untuk perncari kerja dengan bekal ijazah diploma atau sarjana. Hal ini menunjukkan peningkatan kualitas SDM Kabupaten Sampang ditinjau dari kenaikan pencari kerja dengan bekal ijazah diploma atau sarjana. Kenaikan kualitas SDM ini merupakan keuntungan yang dapat meningkatkan laju pertumbuhan Kabupaten Sampang jika saja SDM tersebut dikelola dengan baik.
3.3 Sosial
25 | P a g e
sedangkan angka putus sekolah menunjukkan kecenderungan yang berbeda yakni terus meninggi seiring tingginya jenjang pendidikan.
3.4 Ekonomi
Kegiatan ekonomi yang terdapat pada Kabupaten Sampang didominasi oleh kegiatan di sektor pertanian; perdagangan, hotel, dan restoran; pertambangan dan penggalian; serta jasa-jasa. Namun, kontribusi tertinggi di Kabupaten Sampang adalah sektor pertanian. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4 : Tabel PDRB Tahun 2013
Sektor Tahun 2013
PERTANIAN 1,378,135.20
Tanaman Bahan Makanan 873,158.71
Tanaman Perkebunan 96,379.11
Peternakan dan Hasil - hasilnya 66,810.64
Kehutanan 6,456.34
Perikanan 335,330.39
PERTAMBANGAN & PENGGALIAN 316,150.07
Minyak dan Gas Bumi 0
Pertambangan tanpa Migas 0
Penggalian 316,150.07
INDUSTRI PENGOLAHAN 36,240.54
Industri Migas 0
Industri Tanpa Migas **) 36,240.54
Makanan, Minuman dan Tembakau 15,405.14
Tekstil, Barang Kulit & Alas Kaki 1,264.90 Barang Kayu & Hasil Hutan Lainnya 6,371.00
Kertas dan Barang Cetakan 284.51
Pupuk, Kimia, & Barang dari Karet 420.81 Semen & Barang Galian bukan logam 11,495.27
Logam Dasar Besi & Baja 0.00
Alat Angkutan, Mesin & Peralatannya 651.59
Barang lainnya 347.32
26 | P a g e
Listrik 11,312.67
Gas 0
Air Bersih 2,619.45
BANGUNAN 81,863.85
PERDAGANGAN, HOTEL, & RESTORAN 1,001,954.41 Perdagangan Besar & Eceran 988,802.05
Hotel 1,012.10
Restoran 12,140.25
PENGANGKUTAN & KOMUNIKASI 92,456.73
Pengangkutan 66,903.12
Angkutan Rel 0.00
Angkutan Jalan Raya 47,481.93
Angkutan Laut 18,917.17
Angkutan Sungai, Danau & Penyeberangan 331.12
Angkutan Udara 0.00
Jasa Penunjang Angkutan 172.9
Komunikasi 25,553.61
KEUANGAN, PERSEWAAN, & JASA
PERUSAHAAN 132,641.12
Bank 10,651.55
Lembaga Keuangan tanpa Bank 2,583.21
Jasa Penunjang Keuangan 0
Sewa Bangunan 110,529.94
Jasa Perusahaan 8,876.43
JASA - JASA 406,051.71
Pemerintahan Umum 333,902.84
Swasta 72,148.87
Sosial Kemasyarakatan 7,583.74
Hiburan & Rekreasi 2,001.91
Perorangan & Rumah Tangga 62,563.22
PDRB dengan MIGAS 3,459,425.75
PDRB tanpa MIGAS 3,459,425.75
27 | P a g e
Sebaran endapan fosfat di daerah Madura tersebar setempat setempat mengisi rekahan, dolina dan gua - gua, dalam jumlah yang kecil - kecil, umumnya terdapat pada batugamping terumbu Formasi Madura (Tpm) sebagian kecil pada batugamping lempungan Formasi Pasean (Tmp) dan batugamping berlapis Formasi Bulu (Tmb). Endapan fosfat di Kabupaten Sampang sebagian besar dapat digunakan sebagai pupuk alam dan sebagian kecil lagi dapat digunakan sebagai bahan baku pupuk super fosfat (SP36). Kegiatan pertambangan ini merupakan salah satu potensi Kabupaten Sampang yang bisa dikembangkan mengingat jumlah sumberdaya fosfat di daerah Kabupaten, Sampang sekitar 5.000.000 m3. Selain fosfat, potensi bahan galian di Kabupaten Sampang adalah batu kapur dan BallClay.
3.5 Infrasruktur
Pada tahun 2012 kondisi permukaan jalan kabupaten yang mengalami kerusakan sepanjang 144,69 km dimana besaran tersebut telah mengalami pengurangan sebesar 12,72 dari tahun sebelmunya. Perbaikan jaringan jalan juga terlihat melalui penurunan panjang jalan rusak dari tahun ke tahun sehingga prasarana jalan megalami perkembangan yang baik. untuk lebih jelasnya, perkembangan prasarana jalan dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 5 : Tabel Panjang Jalan Berdasarkan Kondisi Jalan
28 | P a g e
Untuk prasarana air bersih pada Kabupaten Sampang dapat dibilang kurang memadai. Hal ini dikarenakan 80 desa mengalami krisis air bersih jika musim kemarau panjang tiba. Kekeringan dan krisis air terparah terjadi di dua kecamatan, yaitu Kecamatan Kedungdung dan Kecamatan Robatal pada bulan september tahun 2011 sehingga warga terpaksa mencari air sisa di sungai yang bersifat kotor, tidak sehat, serta mulai kering untuk keperluan memasak dan mencuci. Selain mendapatkan sisa air sungai, warga juga membuat lubang kecil di sekitar lokasi sungai kering, yang dinamakan air sorok, untuk kebutuhan air minum. Krisis air bersih tersebut telah terjadi selama empat bulan.
Kebutuhan prasarana listrik pada Kabupaten Sampang mengalami kenaikan antara tahun 2011 dan 2012 dimana peningkatan terjadi pada besaran daya terpasang dan energi listrik terjual. Namun sayangnya hal tersebut tidak diimbangi dengan peningkatan produksi listrik yang sama sekali tidak mengalami peningkatan walaupun listrik yang terjual mengalami kenaikan secara signifikan. Untuk lebih jelasnya daoat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 6 : Daya Terpasang, Produksi & Listrik Terjual PT.PLN Sampang
29 | P a g e
3.6 Industri
Perkembangan industri di Kabupaten Sampang selalu mengalami kenaikan dari tahun ke tahun sehingga hal tersebut berdampak pula pada kenaikan kebutuhan tenaga kerja dan kegiatan investasi. Kegiatan industri yang berkaitan dengan potensi Kabupaten Sampang merupakan industri pupuk. Industri pupuk merupakan industri pengolahan dari hasil galian berupa fosfat. Adapun jumlah industri pupuk yang terdapat pada Kabupaten Sampang antara lain:
Tabel 7 : Tabel Jumlah Industri Berdasarkan Jenis Industri
30 | P a g e
BAB IV
ANALISA DAN STRATEGI
4.1 Identifikasi Sektor Basis di Kabupaten Sampang
Data yang digunakan untuk mengetahui sektor basis di Kabupaten Sampang adalah data PDRB Kabupaten Sampang tahun 2009-2013 dengan dibandingkan data PDRB Jawa Timur tahun 2009-2013. Metode analisis yang digunakan adalah LQ. Metode analisis Location Quotient (LQ) digunakan untuk mengetahui sektor-sektor ekonomi dalam PDRB yang dapat digolongkan ke dalam sektor basis dan non basis. LQ merupakan suatu perbandingan tentang besarnya peranan suatu sektor di Kabupaten Sampang terhadap besarnya peranan sektor tersebut di tingkat Provinsi Jawa Timur.
Nilai LQ > 1 berarti bahwa peranan suatu sektor di kota lebih dominan dibandingkan sektor ditingkat provinsi dan sebagai petunjuk bahwa kota surplus akan produk sektor tersebut. Sebaliknya bila nilai LQ < 1 berarti peranan sektor tersebutlebih kecil di kota dibandingkan peranannya di tingkat provinsi, lalu jika LQ = 1 berarti laju pertumbuhan sektor i di daerah studi k adalah sama dengan laju pertumbuhan sektor yang sama dalam perekonomian daerah referensi/provinsi.
Nilai LQ dapat dikatakan sebagai petunjuk untuk dijadikan dasar untukmenentukan sektor yang potensial untuk dikembangkan. Karena sektor tersebut tidaksaja dapat memenuhi kebutuhan di dalam daerah, akan tetapi dapat juga memenuhikebutuhan di daerah lain atau surplus. Berikut ini hasil perhitungan sektor basis di Kabupaten Sampang.
Tabel 8 : Hasil Perhitungan Analisis Location Quetient (LQ)
No. Sektor LQ Keterangan
1. Pertanian 3,02 Basis
2. Pertambangan dan Penggalian 4,407 Basis
3. Industri Pengolahan 0,042 Non Basis
4. Listrik, Gas, dan Air Bersih 0,308 Non Basis
5. Bangunan 0,709 Non Basis
6. Perdagangan, Hotel, dan Restoran 0,871 Non Basis
31 | P a g e 8.
Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan
0,689 Non Basis
9. Jasa-jasa 1,38 Basis
Sumber : Hasil Analisa, 2015
Dari hasil analisis LQ di atas, sektor basis di Kabupaten Sampang teridir dari sektor pertanian, pertambangan dan penggalian, dan jasa-jasa. Sektor pertambangan dan penggalian mempunyai nilai LQ tertinggi yaitu sebesar 4,407 dibandingkan dua sektor basis lainnya.
4.1.1 Analisis Komponen Pertumbuhan Wilayah
Untuk mengetahui sumber atau komponen pertumbuhan suatu wilayah maka selanjutnya digunakan analisis Shift Share. Analisis Shift-share digunakan untuk mengetahui proses pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sampang dikaitkan dengan perekonomian daerah yang menjadi referensi, yaitu Provinsi Jawa Timur. Analisis Shift-Share dalam penelitian ini menggunakan variabel pendapatan, yaitu PDRB untuk menguraikanpertumbuhan ekonomi Kabupaten Sampang. Dalam analisis shift-share, perubahan ekonomi ditentukan oleh dua komponen, yaitu:
a. Komponen Pertumbuhan Proporsional (Proportional or Industrial Mix Growth Component/PP) b. Komponen Pertumbuhan Pangsa Wilayah (Regional Share Growth Component/PPW)
4.1.1.1 Proporsional Shift (PP)
Proporsional Shift sebuah nilai untuk mengukur perubahan relatif (naik/turun) suatu sektor
daerah terhadap sektor yang sama ditingkat nasional. Dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Apabila PP > 0 berarti suatu daerah berspesialisasi dalam sektor-sektor yang secara nasional tumbuh secara cepat
2. Apabila PP < 0 berarti suatu daerah tidak memiliki spesialisasi dalam sektor-sektor yang secara nasional tumbuh secara cepat
Adapun hasil analisa Proporsional Shift Kabupaten Sampang dapat dilihat melalui tabel berikut.
Tabel x. Nilai KPP Shift Share di Kabupaten Sampang
No. Sektor KPP (%) Keterangan
1. Pertanian -20,51 Spesialisasi dalam sektor yang secara
32 | P a g e
2. Pertambangan dan Penggalian -8,3 Spesialisasi dalam sektor yang secara nasional tumbuh lambat
3. Industri Pengolahan -6,47 Spesialisasi dalam sektor yang secara nasional tumbuh lambat
4. Listrik, Gas, dan Air Bersih -4,92 Spesialisasi dalam sektor yang secara nasional tumbuh lambat
5. Bangunan 5,15 Spesialisasi dalam sektor yang secara
nasional tumbuh cepat
6. Perdagangan, Hotel, dan Restoran 14,54 Spesialisasi dalam sektor yang secara nasional tumbuh cepat
7. Pengangkutan dan Komunikasi 17,81 Spesialisasi dalam sektor yang secara nasional tumbuh cepat
8. Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan
4,11 Spesialisasi dalam sektor yang secara nasional tumbuh cepat
9. Jasa-jasa -9,41 Spesialisasi dalam sektor yang secara
nasional tumbuh lambat
Sumber: Analisis Penulis, 2015
Berdasarkan tabel diatas, didapatkan bahwa Kabupaten Sampang memiliki nilai PP tertinggi dan menjadi sektor dengan nilai PP positif adalah Pengangkutan dan Komunikasi, sehingga sektor ini merupakan sektor berspesialisasi yang secara nasional tumbuh secara cepat pada Kabupaten ini. Sementara sektor-sektor lainnya memiliki spesialisasi yang secara nasional tumbuh secara lambat.
4.1.1.2 Differential Shift (PPW)
Differential Shift adalah nilai untuk mengetahui seberapa komparatif sektor tertentu daerah
dibanding nasional. Pengukuran nilai Differential Shift/PPW ini dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu:
a. Jika PPW > 0, maka kota/kabupaten x memiliki daya saing yang baik di sektor i apabila dibandingkan dengan wilayah lain, atau dapat dikatakan kota/kabupaten x memiliki comparative advantage untuk sektor i dibandingkan dengan wilayah yang lain.
33 | P a g e
Berikut merupakan hasil perhitungan Differential Shift pada Kabupaten Sampang.
Tabel x. Hasil Perhitungan KPPW pada Kabupaten Sampang
No. Sektor KPPW (%) Keterangan
1. Pertanian 0,65 Mempunyai daya saing
2. Pertambangan dan Penggalian 4,34 Mempunyai daya saing
3. Industri Pengolahan 1,37 Mempunyai daya saing
4. Listrik, Gas, dan Air Bersih 1,49 Mempunyai daya saing
5. Bangunan 7,26 Mempunyai daya saing
6. Perdagangan, Hotel, dan Restoran 2,01 Mempunyai daya saing 7. Pengangkutan dan Komunikasi -13,62 Tidak mempunyai daya saing 8. Keuangan, Persewaan, dan Jasa
Perusahaan
-1,25 Tidak mempunyai daya saing
9. Jasa-jasa 4,74 Mempunyai daya saing
Sumber : Analisis Penulis, 2015
Dari tabel diatas didapatkan bahwa sektor bangunan memiliki daya saing tinggi apabila dibandingkan dengan wilayah lainnya. Sedangkan sektor pengangkutan dan komunikasi, dan keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan tidak memiliki daya saing jika dibandingkan dengan wilayah lainnya di Jawa Timur.
4.1.2 Analisa Persoalan Ekonomi Wilayah
Berdasarkan analisis PP maka sektor-sektor di Kabupaten Sampang yang secara nasional tumbuh secara cepat didominasi oleh sektor pengangkutan dan komunikasi dengan nilai PP tertinggi, namun juga diikuti oleh sektor-sektor lainnya yang secara nasional tumbuh secara cepat pula yaitu sektor bangunan, perdagangan, hotel, dan restoran, dan keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan
Sementara itu, untuk mengetahui potensi perkembangan masing-masing sub sektor maka berikut ini adalah peta klasifikasi sub sektor maka dilakukan perhitungan dengan kriteria:
34 | P a g e
4. LQ < 1; PP + PPW < 0, Sektor non basis dengan pertumbuhan lambat
KRITERIA KPPW (+) KPPW (-)
KPP (+) Sektor tersebut secara Nasional
tumbuh cepat dan memiliki daya saing keunggulan komparatif
Sektor tersebut secara Nasional tumbuh cepat tetapi tidak memiliki daya saing keunggulan komparatif.
KPP (-) Sektor tersebut secara Nasional
tumbuh lambat tetapi memiliki daya saing keunggulan komparatif
Sektor tersebut secara Nasional tumbuh lambat dan tidak memiliki daya saing keunggulan komparatif.
Berdasarkan pemetaan diatas, didapatkan hasil sebagai berikut.
No Sektor KPP (%) KPPW (%) PB Keterangan
1 Pertanian -20,51 0,65 -19,86 Mundur
2 Pertambangan & Penggalian -8,3 4,34 -3,95 Mundur
3 Industri Pengolahan -6,47 1,37 -5,09 Mundur
4 Listrik Gas dan Air Bersih -4,92 1,49 -3,42 Mundur
5 Bangunan/Konstruksi 5,15 7,26 11,42 Maju
6 Perdagangan, Hotel & Restoran 14,54 2,01 16,56 Maju 7 Angkutan & Komunikasi 17,81 -13,62 4,19 Maju 8 Keuangan Persewaan & Js Per 4,11 -1,25 2,86 Maju
9 Jasa-jasa -9,41 4,74 -4,66 Mundur
Sumber : Hasil Analisa, 2015
Dan peta klasifikasi sektor berdasarkan hasil analisis LQ dan PB sebagai berikut.
35 | P a g e
1 Pertanian 3,02 -19,86
2 Pertambangan & Penggalian 4,407 -3,95
3 Industri Pengolahan 0,042 -5,09
4 Listrik Gas dan Air Bersih 0,308 -3,42
5 Bangunan/Konstruksi 0,709 11,42
6 Perdagangan, Hotel & Restoran 0,871 16,56
7 Angkutan & Komunikasi 0,331 4,19
8 Keuangan Persewaan & Js Per 0,689 2,86
9 Jasa-jasa 1,38 -4,66
Sumber : Hasil Analisa, 2015
KRITERIA PB >0 PB<0
LQ <1 Merupakan sektor non basis
dengan pertumbuhan cepat.
(Listrik, Gas dan Air Bersih)
Merupakan sektor non basis dengan dan pertumbuhan lambat.
(Pertanian, Pertambangan dan Penggalian)
LQ ≥ Merupakan sektor basis dengan
dan pertumbuhan cepat.
(Bangunan/Konstruksi)
Merupakan sektor basis dengan dan pertumbuhan lambat.
(Industri Pengolahan,Agkutan dan Komunikasi, Keuangan Persewaan dan Jasa Perusahaan)
36 | P a g e
4.3 Identifikasi Keunggulan Komparatif dan Kompetitif
4.3.1 Identifikasi Keunggulan Komparatif
Ukuran bagi suatu daerah agar dapat melakukan interaksi ekonomi serta dapat mengembangkan perekonomian daerah ialah pada keunggulan komparatif. Keunggulan komparatif seringkali melekat pada produk unggulan daerah yang juga merupakan sektor basis yaitu sektor yang memiliki kontribusi paling signifikan pada peningkatan perekonomian daerah terutama bagi pendapatan masyarakat dan juga sebagai dasar membangun daya saing daerah. Berdasarkan analisis LQ yang telah dilakukan sebelumnya sektor basis di Kabupaten Sampang terdiri dari sektor pertanian; pertambangan dan penggalian; dan jasa-jasa. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa keunggulan komparatif di Kabupaten Sampang terletak pada sektor pertanian; pertambangan dan penggalian; dan jasa-jasa.
Hal ini berarti sektor-sektor tersebut yang nantinya akan dapat membantu Kabupaten Sampang dalam mengembangkan perekonomian daerahnya. Dalam studi kasus ini akan difokuskan untuk membahas sektor basis yaitu sektor pertambangan dan penggalian terutama pada sub sektor penggalian. Berikut hasil analisis LQ untuk sub sektor pada sektor pertambangan dan penggalian.
37 | P a g e
Tabel 9 : Hasil Perhitungan LQ Sub Sektor dalam Sektor Pertambangan dan Penggalian
No. Sub Sektor LQ Keterangan
1. Minyak dan Gas Bumi 0 Non Basis
2. Pertambangan Tanpa Migas 0 Non Basis
3. Penggalian 1,4277 Basis
Sumber: Analisis Penulis, 2015
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa sub sektor basis pada sektor pertambangan dan penggalian adalah sub sektor penggalian. Namun, pada analisis Shift-Share yang telah dilakukan, diketahui bahwa sektor pertambangan dan penggalian dalam tipologi Klassen termasuk ke dalam sektor potensial yang artinya sektor tersebut memang merupakan sektor basis akan tetapi pertumbuhannya masih lambat, sehingga masih perlu dikembangkan lagi.
4.3.2 Identifikasi Keunggulan Kompetitif
Berdasarkan sumber-sumber keunggulan kompetitif seperti SDA, lokasi geografis, investasi, inovasi, kekayaan, dan lain-lain. Adanya sektor basis yaitu sektor pertambangan dan penggalian harus didukung dengan sumber-sumber keunggulan kompetitif tersebut agar sektor tersebut dapat terus bertahan dan dapat bersaing secara global. Adanya sumber daya alam berupa bahan galian yaitu endapan fosfat di Bira Timur, Kecamatan Sokabanah, Kabupaten Sampang merupakan salah satu sumber keunggulan kompetitif karena tidak semua daerah mempunyai sumber daya tersebut. Perbedaan sumber daya dan kemampuan mengelola sumber daya tersebut akan memberikan keuntungan bagi Kabupaten Sampang terhadap pengembangan perekonomiannya. Selain itu, jumlah sumber daya maupun variasi kandungan fosfat yang paling banyak terdapat di Kabupaten Sampang dibanding dengan kabupaten-kabupaten lainnya di Pulau Madura. Hal tersebut juga dapat menjadi salah satu sumber keunggulan kompetitif dan dapat memberikan keuntungan tersendiri bagi Kabupaten Sampang.
38 | P a g e
4.4
Analisis SWOT
Tahapan SWOT berasumsi strategi yang efektif adalah dengan memaksimalkan kekuatan dan peluang dan meminimalkan kelemahan dan ancaman. Faktor-faktor eksternal dan faktor-faktor internal merupakan pembentuk matriks SWOT (Karo karo,2006).
Langkah dalam analisis ini akan menerangkan bagaimana analisis dilakukan, mulai dari data mentah yang ada sampai pada hasil penelitian yang dicapai. Dalam penelitian ini, langkah-langkah analisis data dilakukan sebagai berikut:
1. Melakukan pengklasifikasian data, faktor apa saja yang menjadi kekuatan dan kelemahan sebagai faktor internal organisasi, peluang dan ancaman sebagai faktor eksternal organisasi. Pengklasifikasian ini akan menghasilkan tabel informasi SWOT.
2. Melakukan analisis SWOT yaitu membandingkan dengan cara pembobotan antara faktor eksternal Peluang (Opportunities) dan Ancaman (Threats) dengan faktor internal Kekuatan (Strengths) dan Kelemahan (Weakness).
3. Dari hasil analisis kemudian diinterpretasikan dan dikembangkan menjadi keputusan pemilihan strategi yang memungkinkan untuk dilaksanakan. Strategi yang dipilih biasanya hasil yang paling memungkinkan (paling positif) dengan resiko dan ancaman yang paling kecil.
39 | P a g e
2. Kondisi sumber daya alam berupa endapan fosfat yang
40 | P a g e 2. Eksploitasi sumber daya
41 | P a g e
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Permasalahan utama kabupaten sampang merupakan kabupaten yang memiliki laju pertumbuhan ekonomi yang paling lambat diantara kabupaten - kabupaten lainnya di pulau madura. Hal ini menyebabkan kesenjangan pengembangan antar wilayah. Jumlah pencari kerja cenderung mengalami kenaikan setiap tahunnya khususnya dengan bekal ijazah diploma dan sarjana yang apabila dioptimalkan, maka akan meningkatkan sumber daya manusia. Dalam hal ekonomi, kabupaten sampang di dominasi oleh pertambangan fosfat yang digunakan untuk pupuk dan bahan baku. Namun, infrastruktur yang mendukung potensi di wilayah perencanaan masih kurang terawat. Contohnya adalah banyaknya jalan yang rusak, kurang merata nya sumber air bersih, dan sebagainya.
Berdasarkan analisis LQ, sektor basis di kabupaten sampang terdiri atas sektor pertanian, pertambangan dan penggalian, dan jasa, sehingga dapat disimpulkan bahwa sektor - sektor tersebut merupakan keunggulan komparatif di kabupaten sampang. Adanya sektor pertambangan dan penggalian yang menjadi sektor basis maka harus didukung dengan sumber keunggulan kompetitif agar sektor tersebut dapat terus bertahan dan bersaing secara global. Nakun, untuk sumber keunghulan kompetitif seperti iklim investasi, inovasi, dan kekayaan masih belum terlihat sehingga diperlukan strategi pengembangan. Strategi yang dapat dilakukan untuk mengembangkan kabupaten sampang dari hasil analisis SWOT adalah mengembangkan kegiatan industri pengolahan endapan fosfat sebagai salah satu daya tarik investor, mengoptimalkan jumlah penduduk yanh produktif,
5.2 Rekomendasi
Adapun rekomendasi yang diperoleh dari pembahasan pada pemaparan sebelumnya antara lain: Mengembangkan kegiatan industri pengolahan endapan fosfat sebagai salah satu daya tarik
investor di Kabupaten Sampang.
Mengoptimalkan jumlah penduduk produktif yang banyak untuk mengelola potensi endapan fosfat yang melimpah sebagai salah satu daya tarik investor di Kabupaten Sampang.
Mengoptimalkan penggunaan infrastruktur berupa jalan untuk mendukung kegiatan di sektor pertambangan dan penggalian.
42 | P a g e
Pengoptimalan pemanfaatan teknologi dalam proses pengolahan hasil galian.
Menjalin hubungan kerja sama dengan distributor-distributor di tempat-tempat lain untuk memperluas pemasaran hasil produksi ataupun hasil industri pengolahan.
Promosi tentang hasil galian Kabupaten Sampang guna menarik investor.
Pengolahan limbah industri fosfat dengan bijak agar tidak meningkatkan jumlah limbah industri. Membenahi sarana dan prasarana yang kurang memadai.
43 | P a g e
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik. 2014. Kabupaten Sampang Dalam Angka 2014.
Badan Pusat Statistik. 2013. Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Sampang Tahun 2009-2013.
Yusuf, Fatah. _. Endapan Fosfat di Daerah Madura.
http://psdg.bgl.esdm.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=332&Itemid=3
69. Diakses pada tanggal 26 Mei 2015 pada pukul 21.00 WIB.
Grafitasari, Adelia. 2011. Perancangan Sistem Informasi Geografis Untuk Inventarisasi Data Air Tanah dan Pertambangan Umum di Jawa Timur.
Kalensang, Golfinger; dkk. _. Kajian Keunggulan Komparatif dan Daya Saing Daerah Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro Pasca Otonomi.
Widjajani, Gatot Yudoko. 2008. Keunggulan Kompetitif Industri Kecil di Klaster Industri Kecil Tradisional dengan Pendekatan Berbasis Sumber Daya: Studi Kasus Pengusaha Industri Kecil Logam Kiara
Condong, Bandung. Bandung. Jurnal Teknik Industri ITB.
Saptana, dkk. _. Analisis Keunggulan Komparatif dan Kompetitif Komoditas Kentang dan Kubis di Wonosobo Jawa Tengah. Bogor. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian.
YUsdja, Yusmichad. 2004. Tinjauan Teori Perdagangan Internasional dan Keunggulan Kooperatif. Bogor. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian.