Teks penuh

(1)

Interaksi Sosial

Pada saat kita bertemu pertama kali dengan seseorang terutama belum pernah kita kenal, kita cenderung memberikan penilaian baik itu baik atau buruk. Selain itu, kita pasti penasaran bagaimana sebenarnya pemikiran orang itu, apakah akan sesuai dengan apa yang kita pikirkan, bagaiman ia akan menilai kita. Terkadang pula kita juga mengharapkan orang yang belum kita kenal, akan memiliki perilaku-perilaku yang sesuai dengan apa yang kita inginkan atau pikirkan. Misalnya, saat kita mengetahui bahwa orang yang akan berkenalan dengan kita adalah orang yang menyenangkan maka pikiran kita akan menyimpulkan kalau dia adalah orang yang bersahabat, baik, mudah bergaul, mudah beradaptasi dan sifat-sifat menyenangkan lainnya, begitu pula sebaliknya. Memang, pikiran-pikiran semacam itu belum tentu benar bahkan kebanyakan tidak tepat. Namun, terlepas dari segala penilaian dan akurasinya, secara tidak langsung pikiran kita telah melakukan proses kognisi sosial atau lebih detailnya termasuk ke dalam proses persepsi sosial. Persepsi sendiri meliputi semua sinyal dalam sistem saraf yang berasal dari stimulasi fisik atau kimia dari organ pengindra.

Saat kita bertemu dengan seseorang pertama kali, secara otomatis kita akan menilai seseorang melalui wajahnya. Bagaimana cara kita melakukannya? Saat kita melihat wajah seseorang, otak kita akan melakukan berbagai proses penilaian. Beruntungnya, kita semua dapat membedakan wajah semua orang. Bahkan kita bisa membedakan wajah lebih dari 6 milyar wajah manusia. Coba bila tidak? Itu akan menjadi masalah yang sangat membingungkan dan akan memusingkan bagi kita.

(2)

Hal ini terjadi karena neuron-neuron yang ada di dalam otak bayi sedang berkembang hingga jumlahnya 1 1

2 kali lebih banyak dari manusia biasa. Sehingga akan muncul fungsi-fungsi yang tidak mereka butuhkan seperti membedakan wajah dari para hewan. Namun sayangnya, seiring tumbuh kembang sang bayi, kemampuan spesial seperti ini akan mulai hilang karena mereka mulai fokus untuk berhubungan dengan manusia. Sehingga neuron-neuron yang tadinya digunakan untuk membedakan wajah para binatang, beralih fungsi menjadi fokus terhadap fungsi-fungsi untuk melakukan hubungan dengan manusia.

Semakin kita mulai dewasa, maka kita mulai terbiasa untuk membedakan wajah-wajah dari manusia. Namun, semua itu belumlah cukup. Saat kita sudah terbiasa untuk membedakan wajah dari para manusia, maka kita cenderung untuk memikirkan bagaimana pemikiran orang tersebut. Saat itu terjadi otak kita tidak saja melakukan pengenalan wajah, tetapi juga membaca wajah.

Membaca wajah bisa menjadi salah satu cara untuk membentuk kesan pertama bagi kita. Untuk menjadi terkesan dengan sesuatu atau seseorang bukanlah hal yang mudah bahkan prosesnya cenderung rumit. Karena banyaknya faktor yang mempengaruhi munculnya kesan tertentu. Kita cenderung berkenalan kepada orang yang memiliki kesan yang baik terhadap kita. Dalam proses pembentukan kesan, raut muka, bahasa tubuh, cara berperilaku, cara berpakaian menjadi aspek-aspek penilaian kita terhadap seseorang. Faktor tersebut termasuk ke dalam isyarat nonverbal. Walaupun kesan antara satu orang dengan orang yang lain akan berbeda, namun isyarat nonverbal juga penting dalam langkah awal untuk melakukan kontak dan berkomunikasi dengan seseorang. Persepsi yang awalnya terbentuk pun akan terpecahkan oleh kesan yang pertama kali terbentuk saat bertemu. Dan dengan berlangsungnya kesan pertama, maka proses saling mengenal antar individu pun dimulai.

(3)

dilalui oleh sinyal tersebut lebih panjang dan kompleks. Ketika indera kita terangsang oleh hal-hal atau kenangan yang bersifat menyenangkan, maka sinyal ini akan berjalan melalui bagian otak yang memproses mengenai perasaan, dan sinyal tersebut diperkuat. Sehingga ketika sampai di bagian yang menggerakan gerakan fisik maka ada bagian fisik lain yang ikut bergerak, yaitu otot di sekitar mata. Pada orang yang melakukan senyuman asli, alis mata mereka akan menjadi sedikit menurun dan terlihat garis pada samping matanya. Jadi untuk memutuskan apa yang terjadi pada orang lain, hal-hal semacam ini dapat membantu kita untuk menilai kesan pertama yang lebih akurat dari segi senyuman mereka.

Saat kita merasakan kesan yang baik dari orang lain. Kita cenderung untuk berani mulai melakukan kontak dengan orang tersebut. Baik kontak secara langsung seperti mengajak berbicara atau sekedar ngobrol ringan dengan orang tersebut atau kontak tidak langsung seperti kontak mata dan kontak batin. Dengan melakukan kontak, kita akan mengerti apa sebenarnya yang sedang dipikirkan oleh orang tersebut terhadap kita.

Namun sekali lagi, kesan yang kita dapat belum tentu benar adanya. Setelah melakukan kontak, seringkali berpikir dan berprasangka buruk terhadap orang tersebut, seperti apakah saya bisa mempercayai orang ini? Prasangka juga akan sangat menentukan dan mempengaruhi perilaku seseorang. Ada kecenderungan kita berpikiran negatif pada orang tersebut. Terutama bagi orang-orang yang trauma karena pernah dikhianati oleh seseorang di masa lalunya. Pada dasarnya di dalam otak kita ada sebuah bagian yang dapat menstimulasi rasa ketidakpercayaan terhadap seseorang. Bagian ini sama dengan bagian dimana kita merasakan ketakutan. Walau kita tahu orang itu dapat dipercaya, namun apabila otak menangkap rangsang yang menyatakan orang itu tidak dapat dipercaya maka kita akan cenderung menganggap orang tersebut tidak dapat dipercaya.

(4)

Setelah munculnya kesan pertama dan melakukan kontak, maka munculah prasangka dan stereotip. Prasangka cenderung kepada penilaian secara negatif. Maka stereotip cenderung mengarah pada pemberian atribut tertentu pada sekelompok orang-orang tertentu. Stereotip sendiri, bisa berupa prasangka positif dan negatif bahkan terkadang dijadikan alasan oleh seseorang atau sekelompok untuk melakukan tindakan diskriminasi terhadap seseorang atau suatu kelompok. Pemberian atribut disini biasanya pendapat yang general mengenai sebuah kelompok misalnya orang Indonesia itu umumnya ramah, sedangkan orang Tiongkok itu biasanya pelit. Namun anggapan-anggapan seperti itu belum tentu benar, karena kurangnya keakuratan data dari kelompok tersebut. Pada tahap ini, biasanya seseorang akan melontarkan kata-kata yang kurang nyaman bagi pendengarnya. Bisa jadi akan muncul hal-hal yang kurang mengenakan seperti perbedaan pendapat, atau munculnya kesalahpahaman dan lain sebagainya.

Selain itu, sebelum pengenalan semakin mendalam, tak sedikit orang merasa kurang cocok bahkan tidak suka dengan kita karena seringnya berbeda pandangan atau hal-hal mutlak lainnya. Ada beberapa gerakan yang dapat dinilai sebagai gerakan yang menunjukkan apa yang ada di dalam pikirannya, termasuk salah satunya adalah gerakan yang menunjukkan bahwa orang tersebut kurang atau bahkan tidak menyukai kita, seperti menatap kita secara sinis, menggunakan nada yang sinis atau tinggi saat berbicara dengan kita atau melakukan hal-hal lainnya yang akhirnya membuat kita kurang merasa nyaman berada di situasi itu. Atau orang tersebut enggan untuk menyampaikan pendapatnya dan cenderung untuk menyimpan sendiri apa yang menjadi pikirannya seperti menutupi mulutnya dengan tangan, dan lain sebagainya. Bahkan para ilmuwan juga mulai menemukan bahwa gerakan-gerakan tersebut dapat mengungkap apakah mereka suka dengan kita atau tidak.

(5)

berkembangnya topik pembicaaan, para sukarelawan yang berbincang dengan tuan baik mengikuti gerakan yang dilakukan oleh tuan baik, dan sukarelawan yang berbicara dengan si tuan jahat sama sekali tidak menirukan gerakan yang dilakukan oleh si tuan jahat. Hal ini terjadi karena pikiran para sukarelawan telah merasa nyaman dengan si tuan baik sehingga pikiran mereka pun ikut terdorong untuk mengikuti gerakan-gerakan yang dibuat oleh si tuan baik. Reaksi ini tanpa disadari memperkuat ikatan diantara mereka.

Belum lama ini, para ilmuwan mengetahui bahwa bahwa pikiran kita secara otomatis memperhatikan seseorang dan cenderung untuk meniru apa yang dilakukan oleh orang tersebut. Lalu bagaimana otak melakukannya? Menurut para peneliti, cara kita dapat mengetahui apa yang dipikirkan oleh orang lain berhubungan dengan suatu proses yang terjadi di otak kita ketika melihat orang lain melakukan sesuatu. Rahasia dari membaca pikiran seseorang adalah terletak pada saat kita melihat orang tersebut bergerak. Pada saat itu, salah satu bagian dari otak kita akan mengotrol setiap gerakan fisik yang orang tersebut lakukan. Ada sebuah kumpulan sel neuron kecil yang mempersiapkan orang tersebut untuk melakukan gerakan berikutnya, seperti saat kita melihat seseorang yang sedang lomba berenang, tanpa kita sadari kita akan memikirkan apa yang akan mereka lakukan. Pada dasarnya setiap gerakan yang orang tersebut lakukan telah memiliki pola unik tersendiri. Para ilmuwan percaya bahwa, proses itu merupakan sebuah kunci untuk manusia saling berhubungan. Karena sel-sel neuron ini bukan hanya memicu para perenang, tetapi juga orang-orang yang melihatnya. Jadi sel-sel ini selain membantu para perenang untuk melakukan gerakan selanjutnya, ia juga menstimulasi otak kita untuk merasakan apa yang para peserta lomba rasakan dan seolah kita juga terlibat dalam perlombaan itu. Proses ini termasuk ke dalam neuron cermin. Meskipun secara tidak langsung merasakannya, namun bila orang tersebut menang, kita juga akan dapat merasakan kebahagiaan atas kemenangannya, dan sebaliknya. Jika kita dapat merasakan ini, maka kita baru saja melakukan proses empati terhadap seseorang. Rasa empati juga termasuk kemampuan seseorang untuk merasa simpatik, merasakan keadaan emosional orang lain, mencoba menyelesaikan masalah dan mencoba untuk mengambil perspektif dari orang lain. Neuron cermin memudahkan kita untuk dapat membaca pikiran yang dimiliki oleh seseorang dan merasakan apa yang dirasakan oleh orang itu atau empati terhadap seseorang.

(6)

memudahkan seseorang untuk berfikir apa yang seharusnya ia lakukan kepada orang lain tanpa harus melukai perasaan dari orang tersebut. Selain neuron cermin, ada beberapa bagian lain yang terpancing untuk ikut membantu proses ini seperti area pada identifikasi ekspresi wajah seseorang, area yang membantu kita untuk mengingat pengalaman dan kenangan di masa lalu dan beberapa lain yang bergabung. Semua bagian-bagaian tersebut bekerja sama dan menggabungkan semua informasi ini serta memutuskan apa arti dari semua informasi itu. Semua proses ini terjadi secara langsung.

Apabila kita dapat membaca pikiran dari seseorang dan tahu apa yang seharusnya kita lakukan, maka kita dapat menentukan sikap dan cara berkomunikasi yang sepantasnya dan baik pada orang tersebut. Selain itu dengan dapat membaca pikiran orang lain, setidaknya akan meminimalisir kesalahapahaman dalam berkomunikasi dan bersikap apa yang menurut mereka kurang atau tidak menyenangkan. Komunikasi sendiri dapat dilakukan secara lisan maupun verbal, dan harusnya informasi yang disampaikan dapat dimengerti oleh kedua belah pihak.

Membaca pikiran seseorang juga akan sangat memudahkan kita untuk bergaul dengan orang baru kita temui. Kita jadi mengerti bagaimana seharusnya kita bersikap tanpa menyinggung perasaan dari orang yang baru kita temui. Sikap dapat merujuk pada suatu maksud untuk berperilaku dalam cara tertentu terhadap seseorang. Seperti ketika kita membeli sebuah baju, walaupun sebenarnya baju itu kurang atau tidak cocok digunakan oleh orang tersebut, namun karena kita dapat membaca pikiran dari orang tersebut, kita cenderung meng-iya-kan apa yang menjadi keinginan dari pikiran orang tersebut. Kenapa seperti itu? Karena kita takut untuk mengecewakan dan cenderung untuk menjaga perasaan orang itu dengan pendapat kita, terlebih jika kita baru pertama kali bertemu dengannya. Hal ini menunjukkan betapa seringnya kita melakukan hal semacam ini untuk mulai bergaul dengan seseorang secara baik, terutama apabila orang tersebut baru pertama kali kita jumpai.

Semua proses yang telah dijelaskan di atas, seringkali kita tidak terlalu sering untuk menyadarinya. Namun, semua itu telah mendarah daging dalam kehidupan kita. Dan telah membentuk suatu budaya di kehidupan bermasyarakat dan hal-hal lain yang berhubungan dengan berkomunikasi dan sosial. Baik dalam kita bergaul dengan rekan bisnis, teman, tetangga, keluarga dan lain sebagainya.

(7)

lain tanpa kita harus mengenalnya secara mendalam, yang pada akhirnya dapat memunculkan sebuah karya seni, sastra, hiburan serta dapat menghargainya.

Makna yang paling penting dari semua ini adalah kita dapat menemukan kedekatan dengan orang-orang yang terdekat dengan kita. Sehingga kita dapat menyayangi, mencintai, menjaga orang tersebut dari berbagai hal yang mengancam mereka. Dengan mengetahui apa yang mereka pikirkan, apa yang mereka rasakan tentunya akan memudahkan kita menentukkan sikap apa yang baik untuk mereka.

PSIKOLOGI PERPUSTAKAAN DAN

INFORMASI

(8)

Irsalina Almas

13040113140124 / D

Ilmu Perpustakaan

Fakultas Ilmu Budaya

Universitas Diponegoro

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Unduh sekarang (8 Halaman)
Related subjects : Lembaga Sosial