• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN DAN KEPUASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN DAN KEPUASAN"

Copied!
39
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN DAN KEPUASAN

KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN

PADA PT XXX

PROPOSAL

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Mencapai

Derajat Sarjana (S1) Pada Program Studi Manajemen

OLEH :

Nama

: Erika Lismawarni

N.I.M

: 13.11.0379

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI

INTERNATIONAL BUSINESS MANAGEMENT INDONESIA

MEDAN

(2)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah

memberikan kesehatan, kesempatan pada penulis sehingga mampu menyelesaikan

seminar proposal ini dengan baik.

Seminar Proposal ini berjudul Pengaruh Gaya Kepemimpinan dan

kepuasan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Pada PT. XXX ,yang dimana

bertujuan sebagai salah satu syarat menyelesaikan pendidikan Program Studi

Manajemen (S1) pada jurusan Manajemen di Sekolah Tinggi Ilmu International

Business Management Indonesia.

Dalam penulisan seminar proposal ini, penulis banyak mendapatkan

pengalaman berupa bimbingan, dorongan dan pengarahan dari berbagai pihak,

sehingga dengan segala keterbatasan yang ada pada akhirnya seminar proposal ini

dapat terselesaikan dengan baik.

Pada kesempatan ini, penulis juga ingin menyampaikan ucapan

terimakasih kepada :

1. Bapak DR. Dede Ruslan, M.Si selaku ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi

International Business Management Indonesia

2. Ibu Nurhasanah SE,MM selaku ketua jurusan STIE IBMI Medan yang

selalu memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun kepada

penulis.

3. Direktur kantor PT. XXX dan seluruh pegawai yang telah membantu

(3)

4. Ayahanda dan Ibunda tercinta serta seluruh keluarga besar, yang sudah

banyak mendo’akan dan memberikan motivasi kepada penulis selama ini,

sehingga penulis skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik dan tepat

waktu.

5. Dan seluruh rekan – rekan mahasiswa STIE IBMI, yang telah memberikan

bantuan dan dukungan kepada penulis di dalam menyelesaikan penulisan

seminar proposal ini.

Medan, 6 Januari 2017

(4)

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN

KATA PENGANTAR... i

DAFTAR ISI... iii

DAFTAR TABEL... v

DAFTAR GAMBAR... vi

BAB I PENDAHULUAN... 1

1.1 Latar Belakang Masalah... 1

1.2 Rumusan Masalah... 5

1.3 Tujuan Penelitian... 5

1.4 Manfaat Penelitian... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA

PEMIKIRAN TEORITIS... 7

2.1 Gaya Kepemimpinan... 7

2.1.1 Definisi Gaya Kepemimpinan... 7

2.1.2 Macam-Macam Gaya Kepemimpinan... 8

2.1.3 Jenis Gaya Kepemimpinan... 8

2.1.4 Indikator Gaya Kepemimpinan...10

2.2 Kepuasan Kerja...10

2.2.1 Definisi Kepuasan Kerja...10

2.2.2 Teori Kepuasan Kerja...11

(5)

2.2.4 Indikator Kepuasan Kerja...14

2.3 Kinerja Karyawan...15

2.3.1 Definisi Kinerja Karyawan...15

2.3.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja...16

2.3.3 Indikator Kinerja Karyawan...17

2.4 Kerangka Pemikiran Teoritis...18

2.5 Hipotesis...19

BAB III METODE PENELITIAN...21

3.1 Tempat Penelitian...21

3.2 Waktu Penelitian...21

3.3 Populasi dan Sampel...22

3.4 Sumber Data Penelitian...22

3.5 Teknik Pengumpulan Data...23

3.5.1 Kuesioner...23

3.5.2 Wawancara/Interview Langsung...24

3.5.3 Dokumentasi...24

3.6 Uji Validitas dan Reliabilitas...24

3.6.1 Uji Validitas...24

3.6.2 Uji Reliabilitas...25

3.7 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional...25

3.7.1 Gaya Kepemimpinan...26

3.7.2 Kepuasan Kerja...27

(6)

DAFTAR TABEL

Keterangan

Hal

3.2 Jadwal Kegiatan Penelitian

21

(7)

DAFTAR GAMBAR

Keterangan

Hal

(8)

LEMBAR PENGESAHAN PROPOSAL

PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN DAN KEPUASAN

KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN

PADA PT XXX

OLEH :

Nama : Erika Lismawarni

Nim : 13.11. 0379

Dinyatakan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Mencapai

Derajat Sarjana (S1) Pada Program Studi Manajemen

Medan, 6 Januari 2016

Disetujui Oleh :

Dosen Pembimbing I

Dosen Pembimbing II

( ) ( )

Diketahui :

Ketua STIE IBMI

(9)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Perubahan lingkungan organisasi yang semakin kompleks dan kompetitif, menuntut setiap organisasi dan perusahaan untuk bersikap lebih responsif agar sanggup bertahan dan terus berkembang. Untuk mendukung perubahan organisasi tersebut, maka diperlukan adanya perubahan individu. Proses menyelaraskan perubahan organisasi dengan perubahan individu ini tidaklah mudah. Pemimpin sebagai panutan dalam organisasi, sehingga perubahan harus dimulai dari tingkat yang paling atas yaitu pemimpin itu sendiri. Maka dari itu, organisasi memerlukan pemimpin reformis yang mampu menjadi motor penggerak yang mendorong perubahan organisasi.

Peran kepemimpinan sangat strategis dan penting dalam sebuah organisasi sebagai salah satu penentu keberhasilan dalam pencapaian misi, visi dan tujuan suatu organisasi. Maka dari itu, tantangan dalam mengembangkan strategi organisasi yang jelas terutama terletak pada organisasi di satu sisi dan tergantung pada kepemimpinan.

Setiap pemimpin berkewajiban untuk memberikan perhatian sungguh-sungguh dalam membina, menggerakkan dan mengarahkan seluruh potensi karyawan di lingkungannya agar dapat mewujudkan stabilitas organisasi dan peningkatan produktivitas yang berorientasi pada tujuan organisasi.

(10)

bawahannya untuk bertindak sesuai dengan visi, misi dan tujuan perusahaan. Pemimpin harus mampu memberikan wawasan, membangkitkan kebanggaan, serta menumbuhkan sikap hormat dan kepercayaan dari bawahannya.

Pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang mengakui kekuatan-kekuatan penting yang terkandung dalam individu. Setiap individu memiliki kebutuhan dan keinginan yang beda. Setiap individu memiliki tingkat keahlian yang berbeda-beda pula. Pemimpin harus fleksibel dalam pemahaman segala potensi yang dimiliki oleh individu dan berbagai permasalahan yang dihadapai individu tersebut. Sehingga pemimpin nantinya dapat meningkatkan kepuasan karyawan terhadap pekerjaannya serta dapat meningkatkan kinerja karyawan dengan lebih efektif. Pada dasrnya karyawan yang puas terhadap pekerjaanya akan cenderung memiliki kinerja yang tinggi pula.

Gaya kepemimpinan mempunyai hubungan yang positif terhadap kepuasan kerja para pegawai. Hubungan yang akrab dan saling tolong-menolong dengan teman kerja adalah sangat penting dan memiliki hubungan kuat dengan kepuasan kerja dan tidak ada kaitannya dengan keadaan tempat kerja serta jenis pekerjaan.

Kepuasan kerja merupakan sikap dari seseorang berkaitan dengan apa yang diterimanya sebagai akibat pekerjaan yang telah dilakukan. Maka dari itu semakin tinggi komitmen seorang karyawan terhadap organisasinya maka akan semakin tinggi pula kinerjanya dan kepuasan seseorang terhadap pekerjaannya.

(11)

Salah satu faktor yang menyebabkan ketidakpuasan kerja ialah sifat yang tidak mau mendengar keluhan dan pandangan pekerja dan mau membantu apabila diperlukan. Sumber ketidakpuasan kerja yang lain adalah sistem imbalan yang dianggap tidak adil menurut persepsi pegawai. Gaji yang diterima oleh setiap karyawan mencerminkan perbedaan tanggung jawab, pengalaman, kecakapan maupun senioritas. Selain itu, sistem karir yang tidak jelas serta perlakuan yang tidak sama dalam reward maupun punishment juga merupakan sumber ketidakpuasan pegawai.

Kinerja pegawai tidak lepas dari peran pemimpinnya. Peran kepemimpinan atasan dalam memberikan kontribusi pada karyawan untuk pencapaian kinerja yang optimal dilakukan melalui lima cara, yaitu : (1) pemimpin mengklarifikasi apa yang diharapkan dari karyawannya, secara khusus tujuan dan sasaran dari kinerja mereka, (2) pemimpin menjelaskan bagaimana memenuhi harapan tersebut, (3) pemimpin mengemukakan kriteria dalam melakukan evaluasi dari kinerja secara efektif, (4) pemimpin memberikan umpan balik ketika karyawan telah mencapai sasaran, dan (5) pemimpin mengalokasikan imbalan berdasarkan hasil yang telah mereka capai.

(12)

Kantor-kantor cabang perusahaan ini merupakan pengelompokan kerja dalam bentuk unit kerja dan masing-masing unit kerja itu dipimpin oleh seorang kepala cabang. Di dalamnya terdapat beberapa staf dalam bidang administrasi dan gudang, sales supervisor dan salesman. Para salesman dan sales supervisor inilah yang terjun langsung dan bertatap muka dengan konsumen, mereka menjadi ujung tombak penjualan dari PT. XXX.

Gaya kepemimpinan yang efektif dalam mengelola sumber daya manusia dalam suatu unit kerja akan berpengaruh pada perilaku kerja yang diindikasikan dengan peningkatan kepuasan kerja individu dan kinerja unit itu sendiri, yang pada akhirnya akan mempengaruhi kinerja perusahaan secara keseluruhan. Seorang pemimpin juga harus mampu menciptakan komitmen organisasi pada karyawannya dengan menanamkan visi, misi, dan tujuan dengan baik untuk membangun loyalitas dan kepercayaan dari karyawannya. Mengingat pentingnya masalah tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan telaah ilmiah yang berjudul “PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN DAN KEPUASAN KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN PADA PT XXX”.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas maka yang menjadi rumusan masalah pada penelitian ini adalah:

1. Apakah ada pengaruh gaya kepemimpinan terhadap kepuasan kerja Pada PT. XXX ?

(13)

3. Apakah ada pengaruh gaya kepemimpinan dan kepuasan kerja terhadap kinerja karyawan Pada PT. XXX ?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan uraian di atas maka yang menjadi tujuan penelitian pada penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui apakah ada pengaruh gaya kepemimpinan terhadap kepuasan kerja Pada PT. XXX.

2. Untuk mengetahui apakah ada pengaruh gaya kepemimpinan terhadap kinerja karyawan Pada PT. XXX.

3. Untuk mengetahui apakah ada pengaruh gaya kepemimpinan dan kepuasan kerja terhadap kinerja karyawan Pada PT. XXX.

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagi peneliti

Penelitian ini merupakan suatu kesempatan bagi penulis untuk menerapkan

teori-teori dan literature yang diperoleh dari bangku kuliah dan untuk

menambah wawasan dan pengetahuan dibidang manajemen sumber daya

manusia.

(14)

Sebagai masukan dan bahan pertimbangan serta solusi pemecahan masalah

yang berkaitan dengan gaya kepemimpinan dan kepuasan kerja terhadap

kinerja karyawan.

3. Bagi STIE IBMI

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi International Business Management

Indonesia di Medan.

4. Bagi Pengembangan Ilmu Pengetahuan

Sebagai panduan apabila mengadakan penelitian dengan permasalahan yang

(15)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN TEORITIS

2.1 Gaya Kepemimpinan

2.1.1 Definisi Gaya Kepemimpinan

Kepemimpinan memegang peranan yang sangat penting dalam manajemen organisasi. Kepemimpinan dibutuhkan manusia karena adanya keterbatasan tertentu pada diri manusia. Dari sinilah timbul kebutuhan untuk memimpin dan dipimpin. Kepemimpinan didefinisikan ke dalam ciri-ciri individual, kebiasan, cara mempengaruhi orang lain, interaksi, kedudukan dalam oragnisasi dan persepsi mengenai pengaruh yang sah.

Menurut Kartini Kartono (2008:34) “Gaya kepemimpinan adalah sifat, kebiasaan, tempramen, watak dan kepribadian yang membedakan seorang pemimpin dalam berinteraksi dengan orang lain”

Menurut Miftah Thoha (2010:49) “Gaya kepemimpinan merupakan norma prilaku yang digunakan oleh seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi prilaku orang lain atau bawahan”

Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa gaya kepemimpinan adalah kemampuan seseorang pemimpin dalam mengarahkan, mempengaruhi, mendorong dan mengendalikan orang bawahan untuk bisa melakukan sesuatu pekerjaan atas kesadarannya dan sukarela dalam mencapai suatu tujuan tertentu.

(16)

Gaya kepemimpinan merupakan cara seorang pemimpin mempengaruhi, mengarahkan, memotivasi, dan mengendalikan bawahan dengan cara tertentu sehingga bawahan dapat menyelesaikan tugas secara efektif dan efisien.

Menurut Horse yang di kutip oleh H.Suwanto (2011:157) macam -macam gaya kepemimpinan antara lain :

1. Gaya Kepemimpinan Direktif

Gaya kepemimpinan ini membuat bawahan agar tau apa yang diharapkan pimpinan dari mereka, menjadwalkan kerja untuk dilakukan, dan member bimbingan khusus mengenai bagaimana menyelesaikan tugas.

2. Gaya Kepemimpinan Yang Mendukung

Gaya kepemimpinan ini bersifat ramah dan menunjukan kepedulian akan kebutuhan bawahan.

3. Gaya Kepemimpinan Partisipatif

Gaya kepemimpinan ini berkonsultasi dengan bawahan dan menggunakan saran mereka sebelum mengambil suatu keputusan. 4. Gaya Kepemimpinan Berorientasi Prestasi

Gaya kepemimpinan ini menetapkan tujuan yang menantang dan mengharapkan bawahan untuk berprestasi pada tingkat tertinggi mereka.

2.1.3 Jenis Gaya Kepemimpinan

Dengan karakter yang dimiliki, maka setiap pemimpin cenderung memiliki gaya atau cara yang tersendiri dalam memimpin perusahaannya.

Menurut Tohardi dikutip oleh Edy Sutrisno (2010:242) menyatakan bahwa Gaya-gaya kepemimpinan yaitu :

1. Gaya persuasive

(17)

Yaitu gaya kepemimpinan dengan cara memberikan tekanan-tekanan, ancaman-ancaman, sehingga bawahan merasa keatakutan.

3. Gaya partispatif

Yaitu gaya kepemimpinan dengan cara memberikan kesempatan kepada bawahan untuk itu secara aktif baik menata, spiritual, fisik maupun material dalam kiprahnya dalam perusahaan.

4. Gaya Inovatif

Yaitu pemimpin yang selalu berusaha dengan keras untuk mewujudkan usaha-usaha pembaruan didalam segala bidang, baik bidang politik, ekonomi, sosial, budaya atau setiap produk terkait dengan kebutuhan manusia.

5. Gaya investigative

Yaitu gaya pemimpin yang selalu melakukan penelitian yang disertai dengan rasa penuh kecurigan tehadap bawahannya menimbulkan yang menyebabkan kreatifitas, inovasi, serta insisiatif dari bawahan kurang berkembang karena bawahan takut kesalahan-kesalahan.

6. Gaya Inspektif

Yaitu pemimpin yang suka melakukan acara-acara yang sifatnya protokoler, kepemimpinan dengan gaya inspektif menuntut penghormatan bawahan, atau pemimpin yang senang apabila dihormati. 7. Gaya Motivasif

Yaitu pemimpin yang dapat menyampaikan informasi mengenai ide-idenya, program-program dan kebijakan-kebijakan kepada bawahan dengan baik. Komunikasi tersebut membuat segala ide bawahan-bawahan dan kebijakan dipahami oleh bawahan-bawahan sehingga bawahan-bawahan mau. 8. Gaya Naratif

Pemimpin yang bergaya naratif merupakan pemimpin yang banyak bicara namun tidak disesuiakan dengan apa yang ia kerjakan, atau dengan kata lain pemimpin yang banyak bicara sedikit bekerja.

9. Gaya Edukatif

(18)

10. Gaya Retrogresif

Yaitu pemimpin yang tidak suka melihat maju, apalagi melebihi dirinya, untuk itu pemimpin yang bergaya restrogresif selalu menghalangi bawahan untuk mengembangkan pengetahuan dan keterlamiplan. Sehingga dengan kata lain pemimpin yang bergaya restrogresif sangat senang melihat bawahan selalu terbelakang bodoh dan sebagainya.

2.1.4 Indikator Gaya Kepemimpinan

Menurut Kartini Kartono (2008:34) menyatakan sebagai berikut : 1. Sifat

Sifat seorang pemimpin sangat berpengaruh dalam gaya kepemimpinan untuk menentukan keberhasilanannya menjadi seorang pemimpin yang berhasil, serta ditentukan oleh kemampuan pribadi pemimpin. Kemampuan pribadi yang dimaksud adalah kualitas seseorang dengan berbagai sifat, perangai atau ciri-ciri di dalamnya.

2. Kebiasaan

Kebiasaan memegang peranan utama dalam gaya kepemimpinan sebagai penentu pergerakan perilaku seorang pemimpin yang menggambarkan segala tindakan yang dilakukan sebagai pemimpin baik.

3. Tempramen

Temperamen adalah gaya perilaku seorang pemimpin dan cara khasnya dalam memberi tanggapan dalam berinteraksi dengan orang lain. Beberapa pemimpin bertemperamen aktif, sedangkan yang lainnya tenang. Deskripsi ini menunjukkan adanya variasi temperamen.

4. Watak

Watak seorang pemimpin yang lebih subjektif dapat menjadi penentu bagi keunggulan seorang pemimpin dalam mempengaruhi keyakinan (determination), ketekunan (persistence), daya tahan (endurance), keberanian (courage).

5. Kepribadian

Kepribadian seorang pemimpin menentukan keberhasilannya yang ditentukan oleh sifat-sifat/ krakteristik keperibadian yang dimilikinya

(19)

2.2.1 Definisi Kepuasan Kerja

Setiap karyawan secara individual mempunyai kepuasan kerja yang berbeda, sekalipun berada dalam tipe pekerjaan yang sama hal ini tergantung tingkat kebutuhannya dan sistem yang berlaku pada dirinya.

Menurut Husain Umar ( 2008 : 213 ) ”Kepuasan kerja adalah perasaan dan penilaian seorang atas pekerjaannya, khususnya menegenai kondisi kerjanya, dalam hubungannya dengan apakah pekerjaannya mampu memenuhi harapan, kebutuhan, dan keinginannya”.

Menurut Marihot Tua Effendi Hariandja (2009:290) ”Kepuasan kerja adalah merupakan salah satu elemen yang cukup penting dalam organisasi. Hal ini di sebabkan kepuasan kerja dapat mempengaruhi perilaku kerja seperti malas, rajin, produktif, dan lain – lain, atau mempunyai hubungan beberapa jenis perilaku yang sangat penting dalam organisasi”.

Menurut T.Hani Handoko ( 2007:193 ) ” Kepuasan kerja adalah keadaan emosional yang menyenangkan atau tidak menyenangkan dimana para karyawan memanadang pekerjaan mereka. ”

Dari definisi – definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa kepuasan kerja adalah keadaan psikis yang menyenangkan yang dirasakan oleh pekerja dalam suatu lingkungan pekerjaan karena terpenuhinya kebutuhan secara memadai.

2.2.2 Teori Kepuasan Kerja

Menurut A. A. Prabu Mangkunegara (2009:117), berpendapat bahwa ada lima teori kepuasan kerja, antara lain :

(20)

Teori ini dikemukakan oleh Wexley dan yukl, mengaatakan bahwa semua nilai yang diterima pegawai yang dapat menunjang pelaksanaan kerja. Misalnya, pendidikan, pengalaman, skill, usaha, perlatan pribadi, dan jam kerja.

2. Teori perbedaan

Teori ini pertama kali dipelopori oleh Proter yang berpendapat bahwa mengukur kepuasan dapat dilakukan dengan cara menghitung selisih anatara apa yang seharusnya dengan kenyataan yang dirasakan pegawai. Sedangkan Locke megemukakan bahwa kepuasan kerja pegawai bergantung pada perbedaan antara apa yang didapat dan apa yang diharapkan oleh pegawai.

3. Teori pemenuhan kebutuhan

Menurut teori ini, kepuasan kerja pegawai bergantung pada terpenuhi atau tidaknya kebutuhan pegawai. Pegawai akan meras puas apabila ia mendapatkan apa yang dibutuhkannya. Makin besar kebutuhan pegawai terpenuhi, makin puas pula pegawai tersebut. Begiti pula sebaliknya apabila kebutuhan pegawai tidak terpenuhi , pegawai akan merasa tidak puas.

4. Teori pandangan kelompok

Menurut teori ini, kepuasan kerja pegawai bukanlah bergantung pada pemenuhan kebutuhan saja, tetapi sangat bergantung pada pandangan dan pendapat kelompok yang oleh para pegawai dianggap sebagai kelompok cuan. Kelompok acuan tersebut dijadikan tolak ukur untuk menilai dirinya maupun lingkungannya. Jadi, pegawai akan lebih merasa puas apabila hasil kerjanya sesuai dengan minat dan kebutuhan yang diharapkan oleh kelompok acuan.

5. Teori dua faktor

Teori ini dikembangkan oleh Frederick Herzberg yang menggunakan teori A. Maslow sebagai acuannya dimana Hezberg melakukan wawancara terhadap subjek insinyur dan akuntan. Masing – masing subjek diminta menceritakan kejadian yang dialami oleh mereka baik yang menyenangkan ( memberikan kepuasan ) maupun yan tidak menyenangkan atau tidak memberikan kepuasan. Kemudian dianalisis dengan analisis isi ( content analisis ) untuk menentukan faktor – faktor yang menyebabkan kepuasan atau ketidak puasan.

(21)

Karyawan memerlukan interaksi dengan teman kerjanya dan atasan, mengikuti aturan dan kebijakan perusahaan, mencapai standar kinerja, hidup dengan kondisi kerja yang sering tidak ideal. Hal ini berarti bahwa penilaian karyawan tentang kepuasan dan ketidak puasan terhadap pekerjaannya merupakan sejumlah ciri – ciri elemen pekerjaan yang kompleks.

Menurut Wibowo ( 2007 : 309 ), menyatakan bahwa Terdapat dua macam pendekatan yang secara luas dipergunakan untuk melakukan pengukuran kepuasan kerja, yaitu :

1. Single global rating

yaitu tidak lain dengan minta individu merespon atas satu pertanyaan seperti dengan memepertimbangkan semua hal, seberapa puas anda dengan pekerjaan anda? Responden menjawab antara Higly statisfied dan higly Dissatisfied.

2. Summation score

yaitu mengidentifikasikan elemen kunci dalam pekerjaan dan menanyakan perasaan pekerja tentang masing – masing elemen. Faktor spesifik yang diperhitungkan adalah sifat pekerjaan, supervisi, upah sekarang, kesempatan promosi, dan hubungan dengan teman sekerja. Faktor ini diperingkat pada skala yang distandarkan dan ditambahkan untuk menciptakan job statisfication score secara menyeluruh.

Greebberg dan Baron yang dikutip oleh Wibowo ( 2007 : 310), menyatakan bahwa :

Ada tiga cara untuk mengukur Kepuasan Kerja, yaitu : 1. Rating scales dan kuesioner

(22)

2. Critical incident

Disini individu menjelaskan kejadian yang menghubungkan pekerjaan yang mereka rasakan terutama memuaskan atau tidak memuaskan. Jawaban mereka dipelajari untuk mengungkap tema yang mendasari. Sebagai contoh misalnya apabila banyak pekerja menyebutkan situasi di pekerjaan dimana mereka diperlakukan kasar oleh supervisor atau apabila pekerja memuji supervisor atas sensitivitas yang ditunjukkan pada masa yang sulit, gaya pengawasan memainkan peranan penting dalam kepuasan kerja mereka. Dengan mengajukan pertanyaan secara berhati – hati kepada pekerja dan mencatat jawabannya secara sintematis, hubungan pekerjaan dengan sikap dapat dipelajari.

Dari penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa kepuasan kerja adalah fenomena yang subjektif dan individual, mungkin kuesioner merupakan ukuran yang paling sesuai. Meskipun demikian penting sekali menyadari adanya keterbatasan tertentu dari cara ini dalam mendapatkan data tentang kepuasan kerja. Sejumlah masalah yang timbul oleh pengukuran melaui kuesioner tersebut berkaitan dengan ketepatan tanggapan. Walaupun karyawan tidak memberikan jawaban yang menyesatkan secara sengaja, sejumlah variabel situasional dapat mempengaruhi, baik sejauh mana karyawan mau memahami pertanyaan tersebut maupun sejauh mana karyawan mau benar – benar berterus terang dalam menjawab.

(23)

Menurut Malayu S.P Hasibuan ( 2008 : 202 ), ”Kepuasan kerja adalah Sikap emosional yang menyenangkan dan mencintai pekerjaanya. Sikap ini di cerminkan oleh moral kerja, kedisiplinan, dan prestasi kerja. ”

Berdasarkan definisi diatas, indikator kepuasan kerja adalah :

1. Menyenangi pekerjaannya

Orang yang menyadari betul arah kemana ia menjurus, mengapa ia menempuh jalan itu, dan bagaimana caranya ia harus menuju sasarannya. Ia menyenangi pekerjaannya karena ia bisa mengerjakannya dengan baik.

2. Mencintai pekerjaannya

Memberikan sesuatu yang terbaik mencurahkan segala bentuk perhatian dengan segenap hati yang dimiliki dengan segala daya upaya untuk satu tujuan hasil yang terbaik bagi pekerjaannya. Karyawan mau mengorbankan dirinya walaupun susah, walaupun sakit, dengan tidak mengenal waktu, dimanapun karyawan berada selalu memikirkan pekerjaannya.

3. Moral kerja

Kesepakatan batiniah yang muncul dari dalam diri seseorang atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan tertentu sesuai dengan baku mutu yang ditetapkan.

4. Kedisiplinan

(24)

5. Prestasi kerja

Hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan dan kesungguhan serta waktu.

2.3 Kinerja Karyawan

2.3.1 Definisi Kinerja Karyawan

Kinerja berasal dari kata job performance atau actual performance yang berarti prestasi kerja atau prestasi sesungguhnya yang dicapai oleh seseorang. Pengertian kinerja (prestasi kerja) adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan fungsinya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.

Mathis dan Jackson (2006:65) menyatakan bahwa “kinerja pada dasarnya adalah apa yang dilakukan atau tidak dilakukan pegawai. Manajemen kinerja adalah keseluruhan kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan kinerja perusahaan atau organisasi, termasuk kinerja masing-masing individu dan kelompok kerja di perusahaan tersebut”.

Menurut Byars dan Rue dalam Harsuko (2011) “kinerja merupakan derajat penyusunan tugas yang mengatur pekerjaan seseorang. Jadi, kinerja adalah kesediaan seseorang atau kelompok orang untuk melakukan kegiatan atau menyempurnakannya sesuai dengan tanggung jawabnya dengan hasil seperti yang diharapkan”.

(25)

diharapkan.

2.3.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja

Tinggi rendahnya kinerja seorang pegawai tentunya ditentukan oleh faktor-faktor yang mempengaruhinya baik secara langsung ataupun tidak langsung.

Anwar Prabu Mangkunegara (2009:67) menyatakan “Faktor yang mempengaruhi pencapaian kinerja adalah faktor kemampuan (ability) dan faktor motivasi (motivation)”.

Sedangkan menurut Keith Davis dalam Anwar prabu Mangkunegara (2009:67) dirumuskan bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kinerja adalah :

1. Faktor Kemampuan

Secara psikologis, kemampuan (Ability) pegawai terdiri dari kemampuan potensi (IQ) dan kemampuan reality (knowledge + Skill). Artinya, pegawai yang memiliki IQ rata-rata (IQ 110 – 120) dengan pendidikan yang memadai untuk jabatannya dan terampil dalam mengerjakan pekerjaannya sehari-hari, maka ia akan lebih mudah mencapai prestasi kerja yang diharapkan. Oleh karena itu, pegawai perlu ditempatkan pada pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya (the right man on the right place, the right man on the right job).

2. Faktor Motivasi

Motivasi terbentuk dari sikap seorang pegawai dalam menghadapi situasi kerja. Motivasi merupakan kondisi yang menggerakkan diri pegawai yang terarah untuk mencapai tujuan organisasi (tujuan kerja). seorang pegawai harus siap mental, mampu secara fisik, memahami tujuan utama dan target kerja yang akan dicapai serta mampu memanfaatkan dan menciptakan situasi kerja.

(26)

faktor eksternal adalah faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja seseorang yang berasal dari lingkungan. Seperti perilaku, sikap, dan tindakan-tindakan rekan kerja, bawahan atau pimpinan, fasilitas kerja, dan iklim organisasi.”

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi kinerja dapat bersumber dari dalam individu pegawai maupun dari luar individu. Tinggal bagaimana kebijakan organisasi mampu menyelaraskan antara faktor-faktor tersebut.

2.3.3 Indikator Kinerja Karyawan

Indikator untuk mengukur kinerja karyawan secara individu ada lima indikator, yaitu (Robbins, 2006:260):

1. Kualitas. Kualitas kerja diukur dari persepsi karyawan terhadap kualitas pekerjaan yang dihasilkan serta kesempurnaan tugas terhadap keterampilan dan kemampuan karyawan.

2. Kuantitas. Merupakan jumlah yang dihasilkan dinyatakan dalam istilah seperti jumlah unit, jumlah siklus aktivitas yang diselesaikan.

3. Ketepatan waktu. Merupakan tingkat aktivitas diselesaikan pada awal waktu yang dinyatakan, dilihat dari sudut koordinasi dengan hasil output serta memaksimalkan waktu yang tersedia untuk aktivitas lain.

4. Efektivitas. Merupakan tingkat penggunaan sumber daya organisasi (tenaga, uang, teknologi, bahan baku) dimaksimalkan dengan maksud menaikkan hasil dari setiap unit dalam penggunaan sumber daya. 5. Kemandirian. Merupakan tingkat seorang karyawan yang nantinya akan

(27)

tingkat dimana karyawan mempunyai komitmen kerja dengan instansi dan tanggung jawab karyawan terhadap kantor.

2.4 Kerangka Pemikiran Teoritis

kerangka berfikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebgai masalah yang penting.

Menurut Menurut Kartini Kartono (2008:34) “Gaya kepemimpinan adalah sifat, kebiasaan, tempramen, watak dan kepribadian yang membedakan seorang pemimpin dalam berinteraksi dengan orang lain”

Menurut Husain Umar ( 2008 : 213 ), ”Kepuasan kerja adalah perasaan dan penilaian seorang atas pekerjaannya, khususnya menegenai kondisi kerjanya, dalam hubungannya dengan apakah pekerjaannya mampu memenuhi harapan, kebutuhan, dan keinginannya”

Mathis dan Jackson (2006:65) menyatakan bahwa “kinerja pada dasarnya adalah apa yang dilakukan atau tidak dilakukan pegawai. Manajemen kinerja adalah keseluruhan kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan kinerja perusahaan atau organisasi, termasuk kinerja masing-masing individu dan kelompok kerja di perusahaan tersebut”.

Berikut ini dapat digambarkan kerangka pemikiran yang dijadikan dasar pemikiran dalam penelitian ini. Kerangka tersebut merupakan dasar pemikiran dalam melakukan analisis pada penelitian ini.

(28)

Gambar II.4

Kerangka Pemikiran Penelitian

2.5 Hipotesis

Sugiyono ( 2008 : 64 ) menjelaskan bahwa “ Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan bahwa dalam bentuk kalimat pertanyaan”.

Adapun hipotesis penelitian yang diajukan adalah :

1. Ada pengaruh Gaya Kepemimpinan terhadap Kepuasan Kerja. 2. Ada pengaruh Gaya Kepemimpinan terhadap kinerja Karyawan.

3. Ada pengaruh Gaya Kepemimpinan dan Kepuasan Kerja terhadap kinerja karyawan.

Berdasarkan pada landasan teori dan kerangka pemikiran di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

Gaya Kepemimpinan

(29)

1. Ho

1

: Tidak ada pengaruh Gaya Kepemimpinan terhadap Kepuasan Kerja

Ha

1

: Ada pengaruh Gaya Kepemimpinan terhadap Kepuasan Kerja.

2. Ho

2

:Tidak ada pengaruh Gaya Kepemimpinan terhadap kinerja Karyawan

Ha

2

: Ada pengaruh Gaya Kepemimpinan terhadap kinerja Karyawan.

3. Ho

3

:Tidak ada pengaruh Gaya Kepemimpinan dan Kepuasan Kerja

terhadap kinerja karyawan.

Ha

3

: Ada pengaruh Gaya Kepemimpinan dan Kepuasan Kerja terhadap

(30)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan

di PT. XXX adalah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang penerbitan dan percetakan.

3.2 Waktu Penelitian

Aktivitas penelitian ini secara keseluruhan dilaksanakan selama sejak bulan

(31)

6.

Pengolahan data dan penyusunan bab IV

– V dan bimbingan

V

7.

Pelaporan hasil penelitian dan ujian

siding

V

3.3 Populasi dan Sampel

Populasi didefinisikan sebagai keseluruhan subyek penelitian. Dalam

penelitian ini populasi adalah seluruh pegawai dan karyawan PT. XXX. Pada

penelitian ini jumlah sampel sebanyak 100 karyawan PT. XXX.

Menurut Suharsimi Arikunto ( 2006 : 107 ), “apabila subjek

penelitian kurang dari 100 orang lebih baik diambil semua sehingga

penelitian merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika jumlahnya

lebih dari 100 orang maka dapat diambil antara 10 – 15 % atau 20 –

25 % atau tergantung dari kemampuan penelitiannya dilihat dari segi

waktu, tenaga dan dana”.

Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah dengan

menggunakan

stratified

random sampling

yaitu sekelompok subyek secara acak

berdasar ciri atau sifat tertentu yang dianggap memiliki hubungan erat dengan

sifat-sifat populasi.

3.4 Sumber Data Penelitian

(32)

1. Data Primer, adalah data mengenai pendapat responden tentang gaya

kepemimpinan, budaya organisasi, kepuasan kerja karyawan dan kinerja

karyawan.

2. Data Sekunder, adalah data yang diperoleh secara tidak langsung melalui

perantara (diperoleh dan dicatat pihak lain). Dalam penelitian ini, data

sekunder hanya mendukung pengumpulan data awal sebagai output

penelitian.

3.5 Teknik Pengumpulan Data

3.5.1 Kuesioner

Dalam penelitian ini data diperoleh dengan menggunakan kuesioner.

Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk

memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya

atau hal-hal yang ia ketahui. Kuesioner didesain sedemikian rupa sehingga

diharapkan semua responden dapat menjawab semua pertanyaan. Kuesioner

yang dibagikan disertai surat permohonan pengisian kuesioner dan penjelasan

(33)

Skala yang digunakan dalam kuesioner adalah skala likert dengan

jawaban bertingkat dalam lima kategori mulai dari penilaian sangat setuju

sampai penilaian yang sangat tidak setuju. Selain itu dalam kuesioner penelitian

ini juga terdapat pertanyaanpertanyaan yang berkaitan dengan data diri serta

data-data demografis responden.

Tabel III.5.1

Tabel Kuesioner

PERNYATAAN

BOBOT

Sangat Setuju

5

Setuju

4

Kurang Setuju

3

Tidak Setuju

2

Sangat Tidak Setuju

1

Sumber : Sugiyono ( 2008 : 93 )

3.5.2 Wawancara/Interview Langsung

.

Wawancara merupakan alat re-cheking atau pembuktian terhadap

informasi, data atau keterangan yang belum didapat atau sudah diperoleh

sebelumnya. Proses wawancara diawali dengan pengantar yaitu secara terbuka

dan jujur peneliti memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan dari

(34)

Peneliti lebih menekankan pada obyektivitas dan kejujuran yang

diwujudkan dengan menjelaskan tujuan penelitian kepada informan. Persiapan

yang harus peneliti lakukan sebelum menemui informan adalah menyediakan

kelengkapan wawancara dan merencanakan kegiatan apa yang perlu dilakukan.

3.5.3 Dokumentasi

Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau

variasi yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti,

notulen rapat, agenda dan sebagainya. Metode ini digunakan untuk melengkapi

data yang berhubungan dengan gambaran umum perusahaan/ obyek yang

diteliti.

3.6 Uji Validitas dan Reliabilitas

3.6.1 Uji Validitas

Menurut Supardi dalam Gusti Riza Rahman (2008)

“Validitas merupakan tingkat dimana suatu alat pengukur mengukur

apa yang seharusnya diukur”.

Sehingga peneliti dapat mengetahui seberapa jauh responden

menjawab sesuai yang diinginkan peneliti. Data penelitian tidak akan berguna

apabila instrument yang digunakan untuk mengumpulkan data penelitian itu

tidak memiliki validitas yang tinggi. Alat analisis yang digunakan untuk

(35)

bantuan

software

SPSS 15.0. Korelasi setiap item pertanyaan dengan total nilai

setiap variabel dilakukan dengan uji korelasi

Pearson.

3.6.2 Uji Reliabilitas

Supardi dalam Gusti Riza Rahman (2008) “Reliabilitas adalah

indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu relatif konsisten apabila

pengukuran diulangi dua kali atau lebih”.

Dalam setiap penelitian, sering terjadi adanya kesalahan pengukuran

yang cukup besar. Suatu penelitian dapat dipercaya apabila dalam beberapa kali

pengukuran terhadap suatu kelompok dengan subyek yang sama akan

menghasil kan hasil yang sama.

Pengujian reliabilitas setiap variabel dilakukan dengan

Cronbach Alpha

Coeficient

menggunakan bantuan

software

SPSS 15.0

.

Data yang diperoleh akan

dapat dikatakan

reliable

apabila nilai

Cronbach’s Alpha

lebih besar atau sama

dengan 0,6 (Nunnaly (1967).

3.7 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

Menurut Sugiono, (2011:38). “Variabel penelitian adalah

suatu atribut atau sifat-sifat atau nilai dari seseorang, obyek, atau

kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh

(36)

Dalam penelitian ini, variabel yang digunakan adalah gaya

kepemimpinan (X1) dan Kepuasan kerja (X2) sebagai variabel intervening, Kinerja

(Y1) sebagai variabel dependen. Variabel-variabel tersebut dapat dijelaskan

sebagai berikut :

3.7.1 Gaya Kepemimpinan

Menurut Menurut Kartini Kartono (2008:34) “Gaya

kepemimpinan adalah sifat, kebiasaan, tempramen, watak dan

kepribadian yang membedakan seorang pemimpin dalam berinteraksi

dengan orang lain”

Menurut Kartini Kartono (2008:34) menyatakan bahwa indikator gaya

kepemimpianan adalah sebagai berikut :

6. Sifat

Sifat seorang pemimpin sangat berpengaruh dalam gaya

kepemimpinan untuk menentukan keberhasilanannya menjadi

seorang pemimpin yang berhasil, serta ditentukan oleh kemampuan

pribadi pemimpin. Kemampuan pribadi yang dimaksud adalah

kualitas seseorang dengan berbagai sifat, perangai atau ciri-ciri di

dalamnya.

7. Kebiasaan

Kebiasaan memegang peranan utama dalam gaya kepemimpinan

sebagai penentu pergerakan perilaku seorang pemimpin yang

menggambarkan segala tindakan yang dilakukan sebagai pemimpin

baik.

8. Tempramen

(37)

9. Watak

Watak seorang pemimpin yang lebih subjektif dapat menjadi

penentu bagi keunggulan seorang pemimpin dalam mempengaruhi

keyakinan (determination), ketekunan (persistence), daya tahan

(endurance), keberanian (courage).

10.

Kepribadian

Kepribadian seorang pemimpin menentukan keberhasilannya yang

ditentukan oleh sifat-sifat/ krakteristik keperibadian yang

dimilikinya

3.7.2 Kepuasan Kerja

Menurut Malayu S.P Hasibuan ( 2008 : 202 ), ”Kepuasan

kerja adalah Sikap emosional yang menyenangkan dan mencintai

pekerjaanya. Sikap ini di cerminkan oleh moral kerja, kedisiplinan, dan

prestasi kerja. ”

Berdasarkan definisi diatas, indikator kepuasan kerja adalah :

6. Menyenangi pekerjaannya

Orang yang menyadari betul arah kemana ia menjurus, mengapa ia

menempuh jalan itu, dan bagaimana caranya ia harus menuju sasarannya. Ia

menyenangi pekerjaannya karena ia bisa mengerjakannya dengan baik.

7. Mencintai pekerjaannya

Memberikan sesuatu yang terbaik mencurahkan segala bentuk perhatian

dengan segenap hati yang dimiliki dengan segala daya upaya untuk satu

tujuan hasil yang terbaik bagi pekerjaannya. Karyawan mau mengorbankan

dirinya walaupun susah, walaupun sakit, dengan tidak mengenal waktu,

(38)

8. Moral kerja

Kesepakatan batiniah yang muncul dari dalam diri seseorang atau

sekelompok orang untuk mencapai tujuan tertentu sesuai dengan baku mutu

yang ditetapkan.

9. Kedisiplinan

Kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dari serangkaian perilaku

yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan dan

atau ketertiban.

10.

Prestasi kerja

Hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang

dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan dan kesungguhan

serta waktu.

3.7.3 Kinerja

Gomes (1995: 142) dalam Eko Numiarto dan Nurhadi

Siswanto (2006), “menyatakan kinerja sebagai catatan atas hasil

produksi dan sebuah pekerjaan tertentu dalam periode tertentu”.

Dari dimensi kinerja menurut maka kinerja dapat diukur melalui

indikator-indikator sebagai berikut :

1.

Kuantitas kerja dalam suatu periode yang ditentukan (quantity of work)

2.

Kualitas kerja berdasarkan syarat kesesuaian dan kesiapannya (quality of

work)

(39)

4.

Keaslian gagasan yang muncul dan tindakan untuk menyelesaikan

permasalahan (creativeness)

5.

Kesetiaan bekerja sama dengan orang lain (cooperation)

6.

Kesadaran dan kepercayaan dalam hal kehadiran dan penyelesaian kerja

(dependability)

7.

Semangat dalam melaksanakan tugas-tugas baru dan dalam memeperbesar

tanggung jawab (initiative)

8.

Kepribadian, kepemimpinan, keramah-tamahan dan integritas pribadi

Gambar

Tabel 3.2 Jadwal Kegiatan Penelitian
Tabel III.5.1

Referensi

Dokumen terkait

terdapat pengaruh yang positif dan signifikan dari variabel gaya kepemimpinan dan kinerja karyawan secara bersama-sama atau simultan terhadap kepuasan kerja di BLK

Untuk menganalisa adanya pengaruh yang signifikan antara upah insentif, gaya kepemimpinan atasan dan komunikasi atasan bawahan terhadap kepuasan kerja karyawan pada PT..

Dharma Satya Nusantara Lumajang, (b) untuk mengetahui pengaruh gaya kepemimpinan dan iklim komunikasi organisasi secara tidak langsung terhadap kinerja karyawan melalui

Maksud dari penelitian ini adalah untuk mengumpulkan data, fakta, dan informasi yang berkaitan dengan pencapaian kinerja karyawan melalui kepemimpinan transformasional dan

Masalah internal yang meliputi kepuasan kerja karyawan, gaya kepemimpinan atasan serta efektifitas manajemen sumber daya manusia dapat menjadi batu ganjalan bagi roda

Berdasarkan uji statistik bahwa faktor masa kerja tidak berpengaruh terhadap gaya kepemimpinan, kepuasan kerja dan kinerja karyawan, hal ini dibuktikan dengan

Pengujian hipotesis dalam penelitian bertujuan untuk membuktikan pengaruh kompensasi, kepuasan kerja, motivasi kerja, dan gaya kepemimpinan terhadap kinerja karyawan

Besarnya kontribusi variabel independen gaya kepemimpinan demokratis terhadap variabel dependen kinerja karyawan dapat dilihat dari hasil koefisen determinan (KD)